Gimai Seikatsu Jilid 10 Epilog Bahasa Indonesia

Epilog Asamura Yuuta

 

Aku berdiri sambil menatap keluar jendela dari kereta yang bergoyang dengan barang-barang bawaan di dalam koper diletakkan di dekat kakiku.

Cuaca hari ini sangat cerah tanpa awan.

Pada hari terakhir pembelajaran intensif, jam pelajaran hanya dilaksanakan pada pagi hari, dan setelah selesai upacara penutupan, para peserta langsung pulang dari lokasi. Aku kemudian kembali ke Shibuya dengan kereta langsung dari sana.

Itu adalah kursus pembelajaran intensif yang bagus...

Aku merasakan kepuasan yang mendalam di dalam hatiku.

Sejak malam itu - malam ketika aku tertidur sambil mendengarkan musik yang direkomendasikan Ayase-san, rasanya seolah-olah beban yang ada di pundakku tiba-tiba terlepas semuanya.

Aku bisa berkonsentrasi sepenuhnya selama bagian kedua dari kursus.

Percakapan tentang rasa percaya diri yang dijelaskan oleh Fujinami-san benar-benar membuatku tersadar.

Dikombinasikan dengan penilaian diri yang rendah, aku telah kehilangan kepercayaan diri. Dan demi tidak kehilangan kasih sayang dari Ayase-san, aku bersikeras dan berusaha mati-matian untuk mendapatkan nilai bagus.

Meskipun aku tidak pernah diminta oleh Ayase-san untuk melakukan itu.

Seolah-olah untuk membenarkannya, kata pertama dalam pesan yang dia kirimkan kepadaku adalah ucapan perhatian terhadap kesehatanku. Namun aku terus memaksakan diri tanpa memperhatikan kondisi tubuhnya sendiri. Sungguh memalukan.

Lebih dari segalanya...

“Hidup untuk dirimu sendiri, ya...

Bahkan Fujinami-san yang bersikeras mengatakan demikian, dia sendiri mencoba memilih universitas demi membalas budi orang tua angkatnya dan oran-oran yang berada dalam situasi yang sama dengannya.

Hanya saja, dia tidak menggunakan alasan untuk orang lain saat memilih jalannya.

Mengapa dan untuk apa kita belajar?

Aku juga memutuskan untuk berhenti menggunakan orang lain sebagai alasan.

Kemudian (dan aku bahkan tidak ingin memikirkannya), jika aku kehilangan Ayase-san, itu berarti aku akan berhenti belajar untuk ujian masuk. Mau dipikirkan bagaimanapun juga, itu pasti tidak masuk akal.

Hal baik dan buruk pasti terjadi dalam hidup.

Dan kehidupan akan terus berlanjut setelah segala sesuatu berakhir.

Meskipun suatu hari nanti aku akan menua, jatuh, dan hancur, lebih baik untuk memikirkan bahwa hidupku sejauh ini pertama-tama adalah untuk diriku sendiri. Jika aku kehilangan pandangan ini dan mulai mengatakan kalau itu demi orang lain, aku akan mulai menggunakan kegagalan pribadiku sebagai alasan dan menyalahkan orang lain.

Aku ahirnya menyadari hal tersebut.

Itulah yang dilakukan oleh ibu kandungku dulu.

Dia menganggap kegagalan ujianku sebagai kecacatan dirinya sendiri. Padahal akulah yang mengikuti ujian itu, dan kegagalan itu milikku.

Pada malam itu. Ketika aku bangun dari tidur yang nyenyak, aku merasa begitu segar seolah-olah sesuatua yang menghantuiku telah terangkat dari diriku.

Keesokan harinya, aku bisa berkonsentrasi pada suara pengajar dan tidak lagi terganggu oleh perilaku teman-teman sekelas saat ujian simulasi.

Malam itu, ketika Ayase-san mengajakku ke festival kembang api, aku langsung menjawab, 'Aku ingin pergi.'

Seandainya aku masih terus menggunakan alasan 'untuk Ayase-san' tanpa menyadari keanehan dalam perilaku diriku, mungkin aku malah menolak ajakannya.

Festival kembang apinya akan berlangsung malam ini. Aku harus segera bersiap-siap begitu tiba di rumah. Meskipun tak ada waktu istirahat, aku merasakan semangat dan kegembiraan yang berbeda dari kelelahan saat matahari senja menyinari melalui jendela kereta.

Aku ingin menciptakan kenangan musim panas berduaan bersama Ayase-san untuk diriku sendiri.

 

◇◇◇◇

 

Festival Kembang Api Komae Tamagawa.

Acara yang diadakan setiap tahun pada awal Agustus ini memiliki area penonton dari sisi Komae dan Kawasaki. Aku dan Ayase-san memilih untuk pergi ke sisi Komae.

Dari Shibuya, jika naik kereta dari Stasiun Shinjuku dan berganti ke Jalur Odakyu, kami bisa sampai di Komae dalam waktu sekitar 40 menit.

Ketika aku kembali ke rumah, Ayase-san sudah menungguku dalam balutan yukata.

Begitu ya, jika bicara tentang festival musim panas pasti menggunakan yukata—aku sedikit terlambat menyadari hal itu. Meskipun sebenarnya aku punya yukata, tapi karena aku tipe orang yang suka malas, aku hampir tidak pernah mengenakannya. Saat aku berpikir di mana aku menyimpannya, Ayase-san sudah menyiapkannya untukku setelah mendengarnya dari Ayah.

Aku kemudian buru-buru berganti pakaian.

Meskipun sudah seminggu sejak terakhir kali aku bertemu dengan Ayase-san, aku tidak punya waktu untuk merasa terharu dengan perjumpaan kami. Aku begitu sibuk sehingga bahkan tidak punya waktu untuk melihat motif yukata-nya.

Ketika kami tiba di tepi Tamagawa, tempat itu sudah dipadati oleh banyak orang dan kami harus mencari tempat untuk melihat kembang api sambil berjalan di sepanjang sungai. Kemungkinan tempat yang bagus sudah diambil orang lain, tapi jika kembang api ditembakkan ke langit penuh, kembang apinya pasti akan terlihat dari mana saja.

Sambil mendengarkan suara getaran dari kincir angin yang berputar, kami berdua berjalan mengelilingi sepanjang area festival.

Kami berkeliling ke gerai makanan sambil menunggu waktu kembang api dimulai.

Setelah pukul 6 sore, matahari mulai tenggelam dan suasana perlahan menjadi gelap. Pemandangan mulai kehilangan warna seperti dilukis dengan tinta pucat. Gaun hitam Ratu Malam perlahan-lahan menutupi langit.

Kerumunan orang semakin padat, dan langkah kami pun semakin lambat. Suara jual-beli bercampur dengan bising. Aku bahkan harus meninggikan suaraku agar Ayase-san yang berjalan di sampingku bisa mendengar.

Ayase-san, pegang tanganku. Bisa-bisa kita nanti akan terpisah.

Ayase-san meraih tanganku yang terulur, dan aku meremas tangannya erat.

Sambil meremas tangannya yang merespons dengan erat, aku berjalan perlahan menyusuri langkahnya.

Suara gemerincing terdengar dari speaker yang terpasang di sana-sini di kedua sisi jalan, diikuti dengan pengumuman. Pengumuman itu mengumumkan bahwa kembang api akan segera dinyalakan.

Tidak lama kemudian, tembakan pertama langsung meluncur ke udara.

Dengan suara bergemuruh seperti meriam, bola cahaya melesat naik ke langit. Meledak dengan gemuruh, bunga cahaya bermekaran di langit malam.

Uwahhhh, sorak-sorai para penonton mulai terdengar meriah.

Di suatu tempat ada seorang pria yang meneriakkan panggilan kuno 'tamayaa'.

Suara tawa anak-anak, dan terdengar suara decak kagum dari sana-sini, Cantik!, Luar biasa!

Seolah menjadi isyarat, rangkaian bunga cahaya berbagai ukuran dan warna mulai mekar di langit malam.

Bau mesiu menyelimuti udara, dan partikel-partikel asap terlihat memantulkan cahaya dari tanah dan mengalir ke permukaan sungai sesuai dengan arah angin.

Aku merasa tanganku ditarik mendekat.

Ayase-san sepertinya sedang mengatakan sesuatu.

Suasana sekitar begitu ramai sehingga membuatku kesulitan untuk mendengarnya. Aku mendekatkan telingaku ke arahnya.

“Umm begini. Maafin aku ya. Aku sudah melakukan beberapa hal yang egois.

“Eh?

"Aku terburu-buru dan lupa memberitahumu...

Ayase-san berbisik ke telingaku setelah mengatakan itu.

Dia mengaku bahwa dia telah menceritakan hubungan kami kepada Kozono-san dan membuat komentar yang mencurigakan kepada Akiko-san. Dia tidak berkonsultasi denganku sebelumnya, katanya.

Setelah mengucapkan itu, dia menundukkan kepalanya.

Maaf.

Dia bergumam pelan sambil menghadap ke tanah.

Kali ini, aku mendekatkan mulutku ke telinganya dan berkata,

Jika kamu mengatakannya seperti itu, aku juga begitu.

Eh? wajahnya tampak terkejut.

Aku juga menceritakan hubungan kita kepada Yomiuri-senpai. Aku lupa mengatakannya, maaf.

“Jadi begitu ya.

Tapi mungkin kami sudah berada pada titik di mana tidak mungkin lagi untuk mengatakan bahwa kami harus merahasiakan hubungan kami.

Mungkin ini bukan yang terakhir. Jadi, aku harus membuat keputusan yang tepat.

Aku sama sekali tidak keberatan dengan apa yang kamu beberkan, Ayase-san. Kurasa suatu saat nanti kita harus membicarakan hal ini pada Akiko-san dan ayahku.

Ditambah lagi, itu mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Yeah... Aku juga tidak keberatan dengan apa yang dibeberkan Asamura-kun. Tapi, mungkin aku akan melakukan sesuatu yang egois lagi. Jadi... jika kamu tidak menyukainya, katakan saja.”

“Jika kamu bilang begitu, aku juga begitu.

Ah, sekarang aku merasakannya secara nyata. Dia melakukan sesuatu yang egois dan sepertinya merasa telah merepotkan orang lain. Namun, keegoisan itu masih dapat diterima bagiku.

Paling tidak saat ini aku tidak merasa terganggu oleh hal seperti itu. Oh, bukan—

Kata-kata yang harus diucapkan untuk berkomunikasi pada situasi seperti ini bukanlah seperti itu.

Kata-kata yang tepat. Kata-kata yang hanya terdiri dari dua huruf.

Menuliskannya dengan sengaja terasa kurang sopan, dan bagi kami berdua, mengucapkan kata-kata tersebut sudah menjadi hal yang biasa.

Dia tiba-tiba menoleh setelah merenung sejenak.

Sekuntum bunga cahaya bermekaran di mata Ayase-san saat dia menatapku. Wajahku tercermin di matanya, seolah-olah menghalangi cahaya bunga yang bersinar di langit malam.

Aku menatap balik ke mata yang menerima kehadiranku, dengan maksud menerima kehadirannya di sini.

Tepat sebelum musim panas berakhir, aku dan Ayase-san menikmati momen keabadian yang singkat.



 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama