Gimai Seikatsu Volume 15 Prolog Bahasa Indonesia

 

Bisakah aku tetap menjadi karakter di dalam duniamu yang mempesona?

 

Prolog Asamura Yuuta 

 

Aku berjalan pulang bersama dirinya. Kami memutuskan untuk mengambil jalan sedikit lebih jauh dari biasanya. Karena kami menjauh dari jalan utama, jadi tidak ada keramaian orang yang berlalu-lalang dan suara mobil yang melintas. 

Waktunya sudah mencapai tengah malam. Malam hari ketika Saki menghadapi hari terakhirnya bekerja di toko buku. Kami pulang dengan satu tekad di hati dan semangat yang membara. Demi mencapai tujuan itu, kami perlu mampir ke apotek atau minimarket. 

Di sudut persimpangan, ada papan tanda bergaris warna-warni. Salah satu minimarket besar. Tentu saja, aku sengaja memilih jalan ini karena tahu minimarket itu ada di sana. Toko yang lebih besar seperti itu lebih baik. Karena banyaknya pelanggan, pihak toko tidak terlalu memperhatikan setiap pelanggan yang datang. Dan ada satu hal penting lainnya. Toko itu memiliki mesin kasir mandiri. Jadi kami bisa berbelanja tanpa perlu khawatir akan tatapan kasir. 

Mengapa kami perlu menyembunyikan diri hanya cuma buat berbelanja saja? Karena barang yang ingin kami beli—seriusan, aku harus berani mengakuinya—adalah alat kontrasepsi. 

Setelah berbelanja di minimarket, kami pulang ke apartemen kami sambil berbicara sedikit. Bangunan tinggi yang menghadap ke langit malam sudah kehilangan cahaya di sekitar sepertiga jendelanya. Jam 12:30 malam. Akhirnya kami tiba di rumah. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya membuatku merasa gugup dan merasa haus. Sialan, seharusnya aku membeli setidaknya satu botol minuman. 

Aku membuka pintu rumah dengan hati-hati. Aku tahu bahwa ibu tiriku, Akiko-san, sudah pergi bekerja sebagai bartender. Masalahnya adalah ayahku. Sambil berjalan pelan di lorong, aku mengintip ke dalam kamar tidur mereka agar tidak menimbulkan suara. Lampu ruang tamu sudah mati, dan dari ruangan yang terlihat di balik lampu malam, tidak terdengar suara sedikit pun. Mungkin dirinya sedang tidur. Aku berharap ia sudah tidur. Kumohon, semoga saja memang demikian. Mungkin kami harus menggunakan fasilitas penginapan seperti itu, meskipun harganya sedikit lebih mahal? Siapa yang bisa memberitahuku tentang norma pasangan mahasiswa yang seharusnya? 

Tidak ada suara dari kamar ayahku. Aku menarik napas dalam-dalam dengan tekad. 

“Baiklah, aku akan mandi dulu.” 

“Ya. Aku juga akan mandi nanti. Aku akan meletakkan tas ini dulu.” 

Dalam situasi seperti ini, untung saja kamar mandi tempat kami berada jauh dari ruang tamu. 

Aku harus melakukan segala sesuatunya dengan tenang. Aku menyalakan pancuran dengan pengaturan paling rendah. Aku membasuh tubuhku hingga bersih dan perlahan-lahan berendam. Aku tersentak mendengar suara langkah kakiku sendiri yang menggesek lantai, dan aku kembali ke ruangan dengan uap yang masih mengepul. Aku segera menggunakan ponselku untuk mengirim pesan kepada Saki. Dia juga masuk ke dalam kamar mandi untuk menggantikanku

Waktu menunggu terasa begitu lama.

Terdengar suara ketukan pelan. Pintu terbuka secara perlahan, dan Saki muncul dalam balutan piyama dan memegang handuk mandi di tangannya. Pipinya tampak memerah, mungkin karena baru saja mandi atau karena sedang memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Rambutnya masih basah. Mungkin dia mengeringkannya dengan suhu minimal karena takut suara pengering rambut yang keras. Setelah mengunci pintu dari dalam, dia duduk di tempat tidur di sampingku. Saat itu, jantungku berdebar sangat kencang. Setelah menelan ludah, aku dengan hati-hati memeluk tubuh Saki. Saki juga mendekatkan tubuhnya padaku.

Aku bisa merasakan panas tubuhnya saat tubuh kami saling menempel. 

“Hangat............... ya,”

Saki berbisik dengan suara pelan. 

“Kita harus hati-hati supaya tidak kena masuk angin.” 

Sambil berkata demikian seolah-olah memberi alasan, aku menarik selimut lebih dekat. Aku menurunkan cahaya hingga hanya menyisakan cahaya remang-remang seperti lampu tidur. Kemudian, kami pun berbaring bersamaan. Tubuh kami tetap saling dekat. Dalam cahaya redup itu, hanya wajah Saki yang terlihat samar-samar. Aku ingat kami pernah tidur bersama di penginapan pemandian air panas dan kami saling berpelukan erat sehari sebelum hasil penerimaan kampus diumumkan. Kalau diingat-ingat kembali, kami juga pernah tidur bersama di meja kotatsu. Kalau dipikir-pikir lagi, kami selalu punya kesempatan melakukannya, tapi entah bagaimana kami selalu menundanya begitu saja.

Kehangatan tubuh kami yang terasa melalui pakaian tidur perlahan-lahan mengurangi ketegangan. Saat aku bisa mendengar napas kami yang pelan, aku khawatir jantungku berdetak begitu kencang hingga Saki mungkin bisa mendengarnya. 

Pipiku bersentuhan dengan pipinya. Aku lalu berbisik di dekat telinganya. 

“Apa yang harus kita lakukan? Hanya begini saja sudah cukup membuatku bahagia.” 

“Ya. Tapi, aku tidak ingin berhenti di sini. Aku sudah memikirkannya terus-menerus, sejak aku menyadari bahwa aku menyukaimu.” 

“Saki......?” 

Aku menyadari bahwa tangannya yang memelukku terlihat sedikit tegang dan bergetar. 

“Tapi, aku merasa kita sudah pada titik di mana kita tidak bisa kembali lagi seperti dulu.” 

Mungkin itu sebabnya dia tidak mengambil risiko dan melangkah lebih jauh? 

“Aku juga merasakan hal yang sama, Saki.” 

“Yuuta-niisan........ eh, bukan, maksudku, Yuuta. Padahal aku sendiri yang sudah berjanji, tapi aku sendiri yang mengatakannya.” 

———Aku tidak akan memanggilmu Nii-san lagi, jadi ketika kamu memanggilku Saki, aku berharap kamu tidak memanggilku sebagai adik perempuanmu

Di jalanan Dogenzaka tempat di mana semuanya berawal, dia—Saki mengatakan itu. 

Dipanggil Nii-san di sini terasa berat.” 

“Maaf.” 

Dia tersenyum kecil, dan aku menghela napas.

Bukannya aku tidak pernah mempertimbangkan hubungan seperti ini akan terjadi. Justru sebaliknya, aku sudah memikirkannya berkali-kali. Setiap kali merenungkannya, mau tak mau aku jadi bertanya-tanya mengapa ayahku dan ibu tiri Akiko-san, memutuskan untuk menikah lagi. Seperti benang kusut yang perlahan-lahan terurai, alasannya jadi semakin jelas seiring berjalannya waktu.

Mungkin ayah dan ibu tiriku juga sudah memikirkannya berkali-kali dan meresahkan hal yang sama. Mana mungkin mereka tidak mempertimbangkan bahwa pria dan wanita yang sedang beranjak dewasa akan tinggal di bawah atap yang sama. 

———Dalam hal usia dan fisik, mungkin tahun ini atau tahun depan adalah batasnya

Begitulah yang dikatakan ibu tiriku, Akiko-san, jika dia ingin memiliki anak dengan ayahku

Kehidupan memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. 

Misalnya, jika aku dan Saki masih lebih muda—sekitar awal-awal masuk SD—mungkin mereka akan menikah tanpa khawatir. Jika kami dibesarkan sebagai kakak dan adik sejak kecil, mungkin perasaan kami saat ini tidak akan berkembang. Atau jika kami sudah lebih dewasa, seperti sudah mahasiswa atau pekerja, pasti tidak ada masalah dengan pernikahan itu.

Dan, ya, bagaimana seandainya jika ayahku dan Akiko-san lebih muda? Mereka mungkin bisa menunggu sampai kami mandiri, sebaliknya, jika mereka bertemu lima tahun kemudian, memiliki anak baru mungkin sudah tidak terpikirkan sejak awal. 

Dalam kehidupan, kita tidak bisa memilih kapan kita bertemu dengan jodohmu sendiri. Dan dari saat mereka bertemu, konflik mulai muncul. 

“Jika aku ingin tetap menjadi kakak, seharusnya aku sudah mengubah prinsipku sejak awal.” 

“Apa maksudnya?” 

Sambil masih berbaring, Saki memiringkan kepalanya dengan cara yang lucu. Dia terlihat menggemaskan. 

Tanpa sadar, aku memeluknya lebih erat. Perlahan, tubuh kami saling bersentuhan melalui pakaian tidur. Ketika aku menatap matanya, pandangan kami bertemu selama satu atau dua detik. Kami perlahan-lahan berciuman. Ketika wajah kami terpisah, aku berkata dengan nada yang sedikit bercanda. 

“Kenyataan buatku saat aku bertemu denganmu di kelas 2 SMA dulu.” 

“Hmm?” 

“Keberadaan adik tiri hanyalah orang asing.” 

“Eh?” 

“Jika kita ingin tetap menjadi kakak beradik, mungkin seharusnya aku memanggilmu seperti itu dari awal. ‘Saki-chan’.” 

Begitu aku mengucapkannya, badan Saki bergetar sedikit dalam pelukanku. 

Enggak mau ih. Apa-apaan itu?” 

Kamu tidak perlu merinding juga kali…” 

Kedengarannya tidak seperti dirimu.” 

“Begitu, ya? Kupikir panggilan Saki-chan’ dan Nii-san seharusnya terdengar seperti kakak dan adik.”

Aku tidak tahu bagaimana saudara-saudara di dunia ini saling memanggil. Kurasa mungkin perasaan jaraknya saja yang berbeda. PanggilanAyase-san dan Asamura-kun tetap memiliki jarak seperti orang asing. 

Asamura-kun tetaplah Asamura-kun. 

“Tapi sekarang berbeda, kan?

Yuuta.

“Iya.

Saki,” bisikku di dekat telinganya

Yuuta, jawabnya

Setiap kali kami bertukar kata, aku merasakan ketegangan awal mulai mereda. Tanpa sadar, tangan kami saling meluncur ke dalam pakaian satu sama lain, perlahan-lahan mengusap kulit yang hangat setelah mandi. Kami saling menatap, wajah kami mendekat dan bibir kami pun secara alami semakin dekat. Ketika bibir kami terpisah, aku merasa seolah kami sudah mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. 

Aku berbisik di telinga Saki. 

“Apa boleh?

Aku mengamati reaksinya dengan seluruh tubuhku yang menegang seperti batu

Aku memastikan dia mengangguk pelan. 

Saat aku mengeluarkan napas lega, kata-kata yang tak terduga tiba-tiba masuk ke telingaku. 

“Mau terus?

Saki juga bertanya padaku

Aku terkejut, lalu seketika mengerti. Oh, begitu. Tentu saja. Karena aku bukan satu-satunya yang merasakannya. Kami berdua memutuskan untuk melewati ini bersama. 

Aku mengangguk kecil sebagai balasan. Mata Saki memancarkan cahaya lembut saat aku menjawab. 

Dan akhirnya, dengan malu-malu, aku mengulurkan tangan untuk melepas pakaiannya. Dorongan yang membuncah dari dalam tubuhku sudah begitu kuat hingga aku tak lagi merasa mampu menghentikannya. Dan sebenarnya, tidak perlu untuk menghentikannya. 

Setelah itu, semuanya berjalan lancar———atau begitulah pemikiran naifku

Ada perbedaan besar antara melepas pakaian sendiri dan melepas pakaian orang lain, apalagi jika jenis kelamin berbeda, jadi ada banyak hal yang tidak kumengerti. Menyedihkannya, aku terpaksa melepas pakaianku sendiri, dan akhirnya kami bisa saling merasakan kulit kami secara langsung, tenggelam dalam rasa nyaman satu sama lain. 

Aku bisa merasakan detak jantungnya melalui dada kami yang saling bersentuhan, tapi berdampingan dengan detak jantungku yang berdebar, aku hampir tidak bisa membedakan mana yang milikku dan mana yang miliknya. Aku terombang-ambing antara keinginan untuk tetap seperti ini selamanya dan hasrat yang menggebu-gebu untuk terus menikmati kehangatan yang manis selamanya. Namun, demi melangkah ke tahap berikutnya, ada tanggung jawab yang harus dipenuhi... Aku menyesali tidak pernah berlatih sebelumnya. Ini terlalu sulit. 

Tanganku gemetaran karena panik, detak jantungku berdegup kencang seolah-olah akan meledak, dan sebenarnya, aku sudah berada dalam keadaan panik sampai-sampai tidak bisa mengingat semua kejadian sebelum kami akhirnya melakukannya. Aku baru menyadari bahwa Saki yang menunggu dengan sabar juga pasti tidak kalah cemasnya.

Meski begitu, napas kami cukup untuk meningkatkan gairah satu sama lain. Setelah itu, kami terus saling memperhatikan reaksi masing-masing sambil menyatukan tubuh kami, dan malam yang sunyi pun berlalu. Dalam kegelapan yang hanya diterangi cahaya redup, kami saling menjelajahi perasaan satu sama lain. Ketegangan dan kebahagiaan bercampur aduk menjadi satu, dan setelah semuanya berakhir, aku akhirnya merasa lega. Namun, aku tidak tahu bagaimana perasaan Saki. Aku takut untuk bertanya padanya. Suara napas panjangnya yang keluar setelah itu terasa sangat membekas di telingaku

“Begini... 

Setelah kami selesai membereskan semuanya, Saki bergumam kepadaku sambil berpelukan, menikmati sisa-sisa kegiatan tadi

“Aku merasa bersyukur karena tidak mengalaminya waktu itu. 

Ketika Saki mengatakan waktu itu, mungkin dia merujuk pada kejadian saat kami masih baru bertemu, ketika ada insiden kunjungan malam untuk pekerjaan paruh waktu yang dibayar tinggi. 

Memang, situasi saat itu bisa saja berujung pada hal seperti itu

“Karena ini pengalaman pertamaku, aku jadi merasa senang... mungkin.

...Aku juga merasakan hal yang sama. 

Aku bersyukur bahwa hari ini adalah hari pertama kami saling menyentuh tubuh, bukan karena beberapa kesempatan sebelumnya. Karena ini tindakan yang dihasilkan dari kesepakatan antara Asamura Yuuta dan Ayase Saki, bukan karena sesuatu yang terjadi begitu saja tanpa kami sadari. Kami pulang dengan niatan seperti itu, mempersiapkan diri, dan memastikan bahwa niat kami tidak berubah hingga saat terakhir saat kami saling bercinta

Aku merasa bahwa interaksi semacam ini, yang mungkin dianggap orang lain sebagai merepotkan, sangat diperlukan antara aku dan Saki. 

Setelah liburan Golden Week berakhir besok, kehidupan universitasku akan dimulai secara serius. Kebiasaan hidupku akan berubah dibandingkan dengan masa SMA. Jika kami tidak menyatukan perasaan saat ini, mungkin kami akan kehilangan momen atau memulai dengan sembarangan. 

Jadi— 

Terima kasih, Saki.

Ya. Terima kasih juga, Yuuta.

Dengan begini, alasan bahwa kami adalah kakak beradik tidak bisa dijadikan pembenaran lagi

Namun, apa yang akan berubah? 

Mungkin tidak ada yang berubah, atau mungkin akan berubah secara dramatis. Mungkin jawabannya akan terungkap di masa depan—. 

Aku mendengar suara napasnya yang pelan. 

Saki sudah tertidur pulas dalam pelukanku. Apa aku harus membangunkannya? Aku mendengarkan secara saksama, tapi yang kudengar hanyalah suara lembut dari perangkat elektronik yang beroperasi terus-menerus. Sepertinya ayahku juga tidak akan bangun, jadi mungkin tidak masalah jika aku membiarkannya tidur sedikit lebih lama. 

Saat aku memikirkan itu, kelopak mataku juga terpejam... dan tanpa kusadari, rasa kantuk menyelimuti dan aku terlelap dalam tidur nyenyak.

 

  


Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama