Butterfly Effect Syndrome
“Benar juga. Kamu tetangganya Yosuga, ‘kan?”
Guru wali
kelasku berkata demikian seolah-olah baru mengingatnya, memanggilku
dengan raut wajah senang. Ia
biasanya bertingkah seolah-olah aku tidak pernah ada di
kelas, jadi ini sesuatu yang tidak biasa.
“Apa kamu
bisa mengantarkan hadiah peringatan hari jadi ke-40
sekolah ke rumah Yosuga? Mumpung sekalian pulang,
jadi takkan merepotkan, ‘kan?”
Hadiah
yang dibagikan setelah pertemuan beberapa hari lalu adalah sebuah benda yang sama
sekali tidak menyenangkan, yaitu penjepit kertas. Di zaman sekarang, mana mungkin ada murid kelas lima SD yang merasa senang menerima penjepit
kertas. Yosuga-san juga
pasti tidak ingin menerima barang seperti itu.
Namun,
jarak antara rumahku dan rumah Yosuga-san
terlalu dekat untuk menolak permintaan tersebut.
Rumah kami berdua hanya berjarak beberapa
langkah. Jarak yang sangat tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak.
“Selain
itu, tolong sekalian melihat keadaan Yosuga
juga. Dia anak yang sangat baik. Jika dia menunjukkan tanda-tanda ingin pergi
ke sekolah, tolong dorong dia dengan lembut.”
Guru itu
berkata seolah-olah memberi peringatan padaku yang berniat hanya memasukkan
hadiah itu ke dalam kotak pos. Yosuga-san
belum pernah berangkat sekolah
sejak dia naik kelas lima. Tentu saja, dia juga tidak pernah berbicara
denganku.
Dengan
demikian, aku memutuskan untuk pergi
menemui seorang gadis yang tidak bersekolah itu.
Alasanku
tidak mengabaikan kata-kata guru dan tidak berusaha
memasukkan hadiah itu ke dalam kotak pos bukan karena aku serius, tetapi karena
aku pengecut. Aku juga berpikir jika aku tidak menjelaskannya dengan benar, Yosuga-san tidak akan mengerti tujuan
pemberat kertas itu. Aku bergumam seperti mantra, “Aku akan menjelaskannya dengan
cepat lalu pergi.”
Ketika
aku menekan bel interkom, beberapa detik kemudian pintu tiba-tiba terbuka.
“Iya?”
Di sana
berdiri seorang gadis ramping yang
seumuran denganku.
Rambutnya, yang panjangnya hingga dada, tampak sangat indah dan anggun sampai-sampai membuatku
terpesona. Mungkin karena dia jarang keluar, kulitnya sangat putih, berkilau
terkena sinar matahari. Aku merasa seolah-olah pernah merasakan kesan yang
menyilaukan dan menakutkan ini di suatu tempat. Kira-kira
di mana ya aku pernah melihatnya?
Aku tahu kalau ini kedengarannya aneh,
tetapi aku tidak pernah membayangkan
bahwa gadis yang tidak bersekolah adalah gadis seperti Yosuga-san. Aku membayangkan gadis yang
lebih muram yang tampaknya kesulitan bergaul
dengan orang lain. Jika ada gadis seperti Yosuga-san
di kelas, semua orang pasti ingin
berteman dengannya. Aku berpikir demikian. Bahkan sekarang aku, yang baru saja melihat Yosuga-san, ingin berteman dengannya.
“Eh?
Jangan-jangan…”
Yosuga-san mulai mengucapkan sesuatu.
Sebelum dia selesai, entah kenapa aku buru-buru berkata.
“Namaku
Miyamine Nozomu. Kamu…?”
“Yosuga
Kei. Terima kasih sudah mau datang.
Meskipun rumah kita bersebelahan, tetap saja merepotkan, ya?"
“…Kamu
tahu? Aku tinggal di rumah sebelah?”
“Aku tahu.
Aku selalu melihatmu saat pulang. Aku diam-diam mengucapkan 'selamat datang'
di dalam kamar.”
Dia
mengatakannya dengan senyuman
manis, membuatku merasa canggung. Dengan begini, siapa yang sebenarnya datang
berkunjung? Aku hanya melihat Yosuga-san
dan langsung kehilangan kata-kata.
“Ayo,
masuklah. Tidak enakan mengobrol di
luar begini.”
“Eh?”
“Aku
ingin berbicara lebih banyak. Aku ingin berbicara denganmu.”
Rumah Yosuga-san sangat indah, seperti rumah yang
muncul di drama atau film. Ibu Yosuga-san
juga cantik seperti model.
“Terima
kasih telah datang jauh-jauh untuk Kei. Jika mau, silakan tinggal lebih lama lagi.”
Walaupun
putrinya tidak pergi ke sekolah, tapi ibu Yosuga-san tampak tidak khawatir sama
sekali dan tersenyum lebar. Yosuga-san
juga terlihat senang, menerima nampan yang berisi piring penuh cemilan dan dua gelas kalpis, sambil
berkata, “Terima
kasih, Bu!” dengan
senyuman riang. Pemandangan yang terlalu akrab
ini membuatku sedikit bingung.
Kamar Yosuga-san dipenuhi dengan buku. Rak bukunya dipenuhi buku
anak-anak yang sedang populer saat ini, serta kamus untuk anak-anak. Meskipun
aku belum pernah membacanya, ada banyak buku misteri terkenal juga. Mungkin Yosuga-san menghabiskan waktu dengan
membaca buku-buku ini alih-alih pergi ke sekolah.
Di tengah
ruangan terdapat meja lipat, dengan dua bantal berdesain feminin yang
diletakkan di atasnya. Sepertinya, tempat itu
disiapkan khusus untuk menyambutku.
“Yuk, ayo duduk sini. Camilannya dimakan juga. Karena
tidak pergi ke sekolah, aku merasa bosan, jadi aku memilih berbagai cemilan yang enak untuk dicoba.”
Meskipun
sedikit ragu, aku mengikuti sarannya dan duduk.
Cemilan
yang ada di piring itu semuanya merupakan
hal-hal yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sambil berpikir bahwa dia memang
anak yang berbeda, aku mencoba kue yang dilapisi mengkilap. Rasanya enak.
“Jadi,
kenapa Miyamine datang untuk mengantarkan hadiah? Apa kamu diminta oleh Sensei?”
Yosuga-san
bertanya dengan nada seolah-olah tahu segalanya. Karena aku
merasa tidak bisa berbohong padanya, aku hanya mengangguk diam.
“Maaf
ya. Dirinya bukan orang jahat, tapi tipe
yang pelupa. Sepertinya Sensei
hanya bisa ingat bahwa aku baik-baik saja di rumah saat dia datang. Meskipun dirinya sudah pulang dengan tenang, dia
tetap merasa cemas."
Nada
bicara Yosuga-san
terdengar seperti sedang membicarakan anak yang bermasalah, dan tidak terdengar
seperti cara bicara seorang siswa SD. Hal itu
juga salah satu hal aneh tentang Yosuga-san.
“Aku
tetap bisa bersenang-senang setiap hari meskipun tidak berangkat ke sekolah. Jadi, tidak ada yang
perlu dikhawatirkan. Miyamine juga bisa pulang setelah menikmati cemilan yang enak. Terima kasih sudah
datang, sampaikan salamku untuk Sensei,
ya.”
Setelah
mengatakan itu, Kei menghentikan pembicaraan dan tampak bersiap-siap untuk membaca buku yang ada di
tangannya. Melihat itu, aku buru-buru berbicara
padanya.
“Tunggu,
kenapa kamu tidak berangkat
ke sekolah? Sebelum kamu mulai
membaca, aku ingin berbicara sedikit denganmu.”
Mungkin
karena pernyataanku yang tiba-tiba, Yosuga-san
jelas-jelas terlihat terkejut. Ekspresinya
sama seperti gadis-gadis lain, wajah anak biasa. Setelah sedikit ragu dan
memiringkan kepalanya, dia berkata,
“Apa
Miyamine ingin aku berangkat
ke sekolah?”
“Eh?”
“Kupikir itu
yang kamu maksud, tapi apa aku salah?"
“Tidak, yah maksudku… jika kamu mau datang…
aku akan senang…”
“Aku senang
kamu menjawabnya dengan jujur.”
Yosuga-san tersenyum lebar.
“Kalau
Miyamine bilang begitu, mungkin aku jadi ingin berangkat.”
“Itu
maksudnya... bagaimana...?”
“Sebelum
itu, bisakah kamu
memberitahuku sesuatu?”
“Soal apa?”
“Mengenai
dirimu, Miyamine.”
Dia memandangku dengan serius, dan aku
terkesiap. Berbeda dengan saat guru
mendorongku, aku mulai mengeluarkan kata-kataku sendiri.
Pada awalnya,
aku tidak bisa bercerita banyak. Kemampuan
akademisku biasa-biasa. Aku cukup baik dalam ilmu
pengetahuan dan sosial, tetapi sedikit kesulitan dengan matematika. Bahasa
Jepangku bervariasi tergantung tes. Aku tidak terlalu percaya diri dengan
kemampuan olahragaku, tapi
setidaknya aku tidak yang paling buruk di kelas. Aku berusaha untuk tidak
menunjukkan bahwa aku pilih-pilih makanan di kantin, karena sering diejek,
padahal sebenarnya aku tidak suka manisnya wortel yang disajikan di sana. Di
hari libur, aku membaca manga atau bermain game. Di kamarku juga ada banyak
buku ensiklopedia. Meskipun ada orang yang bisa diajak bicara di sekolah, aku
tidak punya teman dekat yang bisa disebut sahabat. Aku tidak suka sendirian,
jadi aku bersama mereka, tetapi kurasa teman-temanku juga berpikir hal yang
sama tentangku. Karena aku memang anak laki-laki yang membosankan dan biasa-biasa saja.
Aku menceritakan banyak hal kepada Yosuga-san tentang hal-hal yang bahkan
tidak aku ceritakan kepada ibuku. Membicarakan
tentang teman-temanku, yang sebenarnya membuatku sedikit
canggung dan malu, karena biasanya aku tidak akan membicarakannya dengan gadis.
Namun, saat Yosuga-san
menatapku dan memberikan tanggapan, kata-kataku mengalir begitu saja. Aku tidak bisa berhenti berbicara. Yosuga-san tidak menginterupsi atau
tertawa, dia hanya memberikan tanggapan dan
memintaku untuk melanjutkan.
“Miyamine,
apa ada sesuatu yang kamu sukai sekarang?”
“Sesuatu
yang kusukai? Hmm... apa ya...”
“Apa
saja tidak masalah. Misalnya, sesuatu yang
sedang kamu gemari saat ini.”
Usai mendengar
itu, aku teringat pada kandang hewan
pemeliharaan di dalam kamarku. Meskipun aku berpikir ini mungkin cerita yang
membosankan untuk gadis, aku memberanikan diri untuk berbicara.
“…Sebenarnya,
aku suka kupu-kupu.”
“Kupu-kupu?”
“Sekarang,
ayah sedang menyiapkan akuarium dan aku sedang membesarkan larva kupu-kupu.
Jika pergi ke kebun jeruk, kita bisa menemukan larva, dan aku berpikir untuk
membesarkannya sampai menjadi kepompong dan kemudian kupu-kupu. Dulu, aku hanya
menyukai kupu-kupu dan tidak tertarik
sama sekali pada ulat.”
Larva
mungkin terasa menjijikkan bagi anak-anak yang takut serangga. Aku juga merasa
sedikit jijik saat pertama kali melihatnya dan
berpikir itu makhluk yang aneh. Tapi
setelah membesarkannya, aku
semakin dekat dengan mereka, dan sekarang aku bahkan mulai menyukainya. Dengan
latar belakang itu, aku terus berbicara sambil mengamati reaksi Yosuga. Sejauh
ini, dia tidak tampak jijik.
“Begitu
ya. Kira-kira berapa lama larva itu akan menjadi
kepompong?”
“Kurasa mungkin
dalam waktu kurang dari seminggu, larva itu
akan menjadi kepompong. Setelah itu, aku berencana untuk melepaskannya ke luar,
jadi aku merasa sedikit sedih.”
“Begitu
ya. Miyamine memang baik
hati.”
“Aku
bukannya baik hati sih... karena sayang sekali kalau dia
sudah berjuang untuk bisa terbang tetapi mati tanpa pernah terbang.”
“Benar.
Dia sudah bertahan dalam kepompong untuk bisa bebas terbang.”
Yosuga-san menyipitkan matanya. Ekspresinya
memang berbeda dari teman-teman sekelasku,
parasnya terlihat sangat istimewa dan
cantik.
“Kapan
kamu mulai tertarik pada kupu-kupu?”
“…Ayahku
sering bepergian untuk pekerjaan… dia pergi ke berbagai tempat dan setiap kali
kembali, dia membawakan banyak oleh-oleh. Saat dia pergi ke luar negeri, dia
membelikanku spesimen kupu-kupu Blue Morpho.”
“Blue
Morpho itu apa?”
“Itu
kupu-kupu yang sangat cantik bersayap
biru. Saat pertama kali melihatnya, aku mengira itu buatan. Aku bertanya pada
ayah bagaimana cara membuat kupu-kupu itu, dan dia tertawa. Dia bilang itu
adalah kupu-kupu istimewa yang lahir seperti itu.”
Aku masih
mengingat betapa bersemangatnya diriku saat melihat kupu-kupu itu untuk
pertama kali. Blue Morpho yang muncul dari tas ayahku bersinar di bawah cahaya
lampu ruangan. Aku penasaran dari mana datangnya cahaya biru itu dan terus
menatapnya melalui kaca spesimen. Kilau itu tidak pernah pudar, dan kini
menjadi satu-satunya cahaya di kamarku.
Aku
akhirnya mengingat kembali perasaan yang kualami saat melihat Yosuga-san, seolah-olah aku pernah
merasakannya sebelumnya. Perasaan saat melihat Yosuga-san mirip dengan saat aku pertama
kali melihat Blue Morpho.
“Begitu
ya. Aku penasaran itu kupu-kupu yang seperti apa ya, aku jadi ingin melihatnya.”
“Kalau
mau, aku bisa membawanya. Spesimennya cukup kecil. Oh, meskipun besar untuk
ukuran kupu-kupu, tapi… tentu saja, aku bisa membawanya.”
“Itu
barang berharga, kan? Tidak apa-apa. Aku akan sedih jika itu sampai rusak.”
Setelah ditolak
dengan tegas, aku merasa mungkin telah mengatakan sesuatu yang aneh. Mungkin Yosuga-san hanya berpura-pura tertarik
karena baik hati. Namun, dia melanjutkan dengan senyuman yang seolah-olah bisa
menghilangkan semua pikiranku.
“Mungkin aku
harus pergi ke kamar Miyamine dan melihatnya.”
“Eh?”
“Habisnya
rumah kita berdekatan. Kupu-kupu itu akan segera
menjadi kepompong, ‘kan? Aku
juga ingin melihat kepompongnya, dan saat kepompong itu menjadi kupu-kupu, aku
ingin melihatnya juga. Asalkan Miyamine tidak keberatan sih.”
“Tentu
saja… aku tidak keberatan.”
“Benarkah? Kalau begitu, aku benar-benar
akan pergi. Aku sangat menantikannya.”
Yosuga-san tersenyum dan menyesap minuman Calpis
dengan nikmat. Rumah kami
memang berdekatan, tetapi
aku tidak menyangka dia akan mengatakannya seperti itu, dan aku merasa sedikit gelisah di dalam hati. Karena kegelisahan itu, aku bahkan mengatakan
hal yang tidak perlu.
“Kamu yakin?
Kamu tidak perlu berpura-pura tertarik, melihatmu
mendengarkan ceritaku saja sudah membuatku merasa senang…”
“Aku tidak
berpura-pura kok. Sembarangan saja kalau menuduh. Aku
sebenarnya suka makhluk hidup. Aku tidak benci serangga, malahan suka. Saat melihat kupu-kupu, menurutku itu sangat indah, dan aku juga
menganggap ulat itu pekerja keras."
“Begitu
ya… itu mengejutkan.”
“Miyamine,
kamu tidak tahu banyak tentang aku.”
Yosuga-san tertawa. Memang benar. Namun, meskipun ini
pertemuan pertama kami, aku merasa lebih senang berbicara dengan Yosuga-san daripada dengan siapa pun di
sekolah. Aku bahkan ingin membaca semua buku yang ada di kamar Yosuga-san. Aku ingin tahu tentang hal-hal
yang disukai Yosuga-san.
“Tapi,
Miyamine, kamu memiliki duniamu
sendiri, ya. Rasanya sangat
menakjubkan. Memangnya kamu
tidak pernah bercerita tentang kupu-kupu
kepada teman-teman di sekolah?”
“Mana
mungkin aku bisa menceritakannya. Banyak orang yang tidak menyukai serangga… meskipun mereka tidak
sampai menganggapnya menjijikkan, mereka pasti berpikir itu tidak menarik.”
“Sayang
sekali. Jika orang-orang tahu tentang Miyamine yang sebenarnya, pasti banyak
yang ingin berteman lebih dekat denganmu.”
“Satu-satunya
orang yang akan mengatakan itu hanya kamu saja, Yosuga-san.”
“Itu
tidak benar.”
Yosuga-san mengerucutkan bibirnya dan
mengernyitkan alis dengan tampang tidak puas. Lalu, dia tiba-tiba berkata seolah-olah
baru menyadari sesuatu.
“Tapi,
mungkin semua orang memang
seperti itu. Semua orang menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya, jadi tidak
ada kesempatan untuk saling akrab. Padahal, sebenarnya semua orang memiliki
hal-hal yang mereka sukai dan sesuatu yang penting, tetapi karena tidak ada
yang saling memberitahu, jadi mereka tidak
bisa saling memahami. Jika setiap orang bisa menunjukkan dunia mereka, mungkin
kita semua bisa lebih akrab.”
“Entahlah,
aku meragukannya…”
Aku
membayangkan wajah teman-teman
sekelasku dalam pikiranku. Saat istirahat, aku tidak bisa membayangkan
bagaimana bisa akrab dengan orang-orang yang berisik dan bermain sepak bola di
dalam kelas. Namun, saat mendengarkan cerita Yosuga-san, aku merasa jika aku berbicara
dengan setiap dari mereka, mungkin aku bisa menjadi akrab… aneh sekali. Saat
mendengarkan cerita Yosuga-san, aku merasa seolah-olah sedikit
demi sedikit dikeluarkan dari kepompongku.
“Tadi
Miyamine bilang tidak bisa akrab dengan anak laki-laki yang kasar di kelas,
tapi aku rasa tidak semua orang seperti itu. Mungkin, anak-anak itu hanya
terpengaruh oleh lingkungan mereka. Jika kita akrab dengan masing-masing dari mereka,
mungkin kita akan menemukan bahwa mereka jauh berbeda dari yang kita pikirkan,
dan hanya ada satu orang yang benar-benar kasar dan tidak semuanya orang mempunyai sifat begitu.”
Meskipun
aku mendengarkan dengan serius, aku mulai bingung dengan apa yang dikatakan Yosuga-san. Setidaknya, Kobayashi dan Nezuhara di kelas
adalah anak-anak yang kasar dan egois, jadi mana
mungkin orang semacam mereka tidak ada. Namun,
aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak mengerti, jadi aku mengangguk
seperti anak burung yang mendengarkan induknya. Kemudian, jari Yosuga-san yang putih dan ramping menyentuh
dahiku.
“Wah,
apa?”
“Jadi,
Miyamine juga terpengaruh oleh kata-kataku, kan?”
“…Ketimbang dibilang terpengaruh,
lebih tepatnya aku setuju sih… Aku, mendengarkan
cerita Yosuga-san dengan
serius, jadi aku berpikir, iya juga…"
Semakin banyak aku
berbicara, aku merasakan kalau
wajahku semakin memerah. Rasanya seperti saat
mendapatkan nilai buruk di ujian. Namun, perasaan ini lebih buruk daripada saat
mendapat nilai jelek. Aku khawatir jika Yosuga-san
menganggapku orang yang membosankan atau tidak perlu diajak bicara. Tapi, Yosuga-san tersenyum dan melanjutkan.
“Aku
senang kamu mendengarkannya dengan
serius. Aku yakin Miyamine benar-benar mendengarkan ceritaku dan benar-benar
memahaminya.”
Aku merasa ragu untuk mengatakan bahwa itu
tidak benar, jadi aku hanya membiarkannya. Yosuga-san
tidak lagi menggodaku dan kali ini hanya menatapku dalam diam. Rasanya ruangan
yang sunyi itu mencoba menghancurkanku, dan aku tidak tahan dengan kesunyian tersebut.
Kemudian,
Yosuga-san tiba-tiba tersenyum lagi.
“Aku
senang Miyamine datang ke sini. Karena kurasa tak ada orang lain selain kamu yang akan mengerti perasaanku.”
“…Apa iya? Entahlah. Aku merasa tidak terlalu
pandai berbicara, jadi aku merasa
sedikit bersalah.”
“Ceritamu
menarik kok.”
“Benarkah?”
“Ini
benar, setidaknya aku tidak mengusirmu dari ruangan ini.”
Aku
terkejut mendengar itu dan tubuhku menjadi kaku. Yosuga-san berkata dengan nada nakal, meskipun
aku tidak diusir. Aku merasa seolah-olah sepenuhnya berada dalam ritme Yosuga-san, seperti aku sedang menari di telapak tangannya.
“Kalau
begitu, aku mungkin akan memberitahumu rahasiaku.”
“Rahasia?”
“Alasan
kenapa aku tidak berangkat sekolah.”
Aku
merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungku. Karena sebelumnya dia menghindari pertanyaan itu,
kupikir dia tidak ingin membahas hal
itu. Namun, Yosuga-san
melanjutkan dengan sikap yang sama sekali tidak berubah.
“Aku
bilang kepada guru wali kelas bahwa aku lemah di pagi hari dan sulit untuk
bangun, jadi aku tidak bisa berangkat
sekolah. Ibuku juga mengakui bahwa aku mengalami anemia.
Aku juga menjelaskan kepada beberapa gadis lain bahwa ibuku membantuku belajar
untuk ujian masuk SMP. Ada juga yang berpikir bahwa aku pergi audisi untuk
masuk dunia hiburan tanpa pergi ke sekolah. Meskipun sebenarnya aku tidak
pernah mengatakan apa-apa tentang itu.”
“Buat Yosuga-san sih,
alasan itu terdengar jauh lebih
masuk akal. Maksudku, banyak teman sekelas yang percaya dengan hal itu.”
“Benarkah?
Itu keterlaluan… Tapi, apa kamu benar-benar menganggap itu masuk akal?
Miyamine.”
“…Bukan
hanya aku saja, tapi semua orang juga mengatakannya.”
“Ya,
ya. Sekarang itu sudah cukup.”
Yosuga-san meregangkan tubuhnya seperti
kucing dan menguap sambil berbicara. Dia terlihat sangat santai hingga
membuatku merasa bodoh karena merasa gugup.
“Aku
tuh sebenarnya takut.”
Karena perkataannya terlalu mendadak, jadi aku tidak bisa langsung
bereaksi.
“Takut?
Apa kamu sedang dibully?”
“Aku
tidak dibully. Kurasa semua
orang di kelas baik padaku, aku yakin mereka akan baik padaku saat aku kembali
ke kelas, dan aku akan menjalani hidup yang menyenangkan. Aku percaya diri
tentang itu.”
“…Lalu
apa yang membuatmu takut…”
“Aku
tuh memiliki kekuatan untuk
memengaruhi orang lain.”
Yosuga-san tidak lagi tersenyum. Suasana
lembut yang sebelumnya terpnacar darinya seolah-olah menghilang, digantikan dengan
ekspresi dingin dan serius. Badanku terasa kaku dan
tidak bisa bergerak, aku merasa seperti katak yang ditatap
ular.
“Saat
aku meminta sesuatu, semua orang akan mendengarkanku. Jika aku berharap sesuatu
terjadi, semua orang akan melakukannya. Jika aku ingin kelas seperti ini, kelasnya akan menjadi seperti itu. Kelas
yang baik di mana semua orang mendengarkan guru, atau kelas yang akrab dengan
ikatan yang kuat. Sebaliknya, jika aku ingin keadaan kelas menjadi kacau di
mana tidak ada yang mendengarkan guru, maka itu juga bisa terjadi. Jika aku
menginginkannya, maka itu akan terjadi.”
Gambaran yang
terlintas di kepalaku adalah pemimpin hewan. Ada banyak contoh seperti itu di alam bebas. Setiap orang mengikuti seorang
pemimpin, dan kelompok bergerak sesuai arahan pemimpin. Jika arahan pemimpin
benar, kelompok akan bertahan. Namun, jika pemimpin melakukan kesalahan,
kelompok akan mengalami kemunduran. Aku pernah melihat video tentang ratu semut
yang tidak bisa memimpin semut-semutnya dengan baik, dan sarangnya dihancurkan
oleh kelompok semut lain.
“Itulah
sebabnya aku berpikir kalau sebaiknya aku tidak terlalu sering pergi. Jika
semua orang mendengarkan apa yang kukatakan, mereka akan menganggapnya salah.”
“…Karena itulah kamu tidak pergi ke
sekolah?”
“Kamu
tidak mempercayainya? Kamu
pikir ada alasan lain?"
“Aku
mempercayainya kok. Menurutku Yosuga-san memang memiliki
kekuatan seperti itu.”
“Kupikir
kamu akan menertawakannya dan
mengatakan itu seperti sihir.”
“Aku
tidak akan tertawa. Mungkin, kurasa aku
akan mendengarkan jika Yosuga-san
memintaku melakukannya.”
Nyatanya,
aku baru saja menerima apa adanya mengenai hal yang
dikatakan Yosuga-san
dan langsung setuju. Tentu saja, aku merasa ada kebenaran dalam ucapannya, tapi daya tarik misteriusnya dan pesonanya untuk meyakinkan juga sangat
berpengaruh.
“Tentu
saja, ada kalanya aku mencoba untuk tidak melakukannya. Tapi sepertinya itu
bukan sesuatu yang bisa kuubah hanya dengan perasaanku. Aku secara tidak sadar
melakukannya pada semua orang. Itulah sebabnya, aku mengurung diriku di sini.”
“Begitu?”
“Aku
menempatkan diriku di sini agar tidak ada yang mengikuti kehendakku. Berkat
itu, semua orang bisa menjalani kehidupan
mereka dengan bebas dan bahagia setiap hari. Semoga
semuanya baik-baik saja.”
Yosuga-san berbicara seolah-olah seperti
penyihir jahat dalam dongeng. Itulah sebabnya Yosuga-san tidak berangkat ke sekolah. Dia tidak ingin
memaksa semua orang untuk mendengarkannya. Meskipun sulit dipercaya, mungkin
itulah memang alasan sebenarnya.
“Aku
senang bisa berbicara denganmu, Miyamine, dan aku akan senang
jika kamu datang bermain lagi. Aku benar-benar ingin melihat kepompong dan
spesimen kupu-kupu Morfo biru. Jadi,
aku berharap kita bisa tetap berteman.”
Karena Yosuga-san kelihatan
ingin mengakhiri pembicaraan begitu saja, jadi aku buru-buru berkata.
“Tunggu dulu sebentar. Tapi… kalaupun memang begitu, itu masih belum menjelaskan mengapa Yosuga-san tidak boleh pergi ke sekolah.”
“Mengapa?”
Untuk
pertama kalinya sejak aku datang ke ruangan ini, Yosuga-san mengerutkan keningnya. Ekspresinya seolah ingin
mengatakan bahwa dia tidak mengerti ucapanku. Namun, aku terus
melanjutkan.
“Habisnya,
meskipun semua orang mendengarkan apa yang kamu katakan…
itu sama sekali bukan hal yang buruk.”
Mata Yosuga-san seketika melebar. Matanya
yang sudah besar itu semakin bersinar dan berkilau saat terbuka seperti ini.
Seolah-olah ada sayap
kupu-kupu yang baru saja
menetas.
“Sejujurnya…
semua orang tidak secerdas Yosuga-san,
mereka masih anak-anak, dan tidak begitu baik…tapi jika
Yosuga-san bisa membuat semua orang
mendengarkan, itu pasti akan menjadi kelas yang lebih baik. Pasti.”
Aku yakin
di kelas itu, tidak akan ada yang mengolok-olok atau menyusahkan orang lain. Persis seperti yang dikatakan Yosuga-san, kelas itu pasti akan
menyenangkan di mana setiap orang bisa berbagi kelebihan dan minat mereka yang
tidak diketahui orang lain dan menjadi teman. Sekeras apa pun Yosuga-san menyangkalnya, aku tetap
berpikir begitu.
Yosuga-san terdiam sejenak, tetapi kemudian
dia berkata dengan tenang.
“Apa
kamu benar-benar berpikir begitu?”
“Iya.
Jadi, menurutku Yosuga-san… kurasa boleh berangkat ke sekolah jika kamu menginginkannya.
Semua orang pasti akan senang jika kamu datang, dan kelas pasti… akan menjadi
kelas yang baik.”
Aku merasa malu karena suaraku
menjadi ragu di akhir.
Sebenarnya, ada banyak hal lain yang ingin kukatakan—sebenarnya, aku sangat
senang jika Yosuga-san datang
ke sekolah, dan aku yakin hari-hari yang membosankan ini akan menjadi lebih
menyenangkan. Namun, aku tidak bisa mengungkapkan hal itu.
“Miyamine
tuh baik sekali ya.”
Yosuga-san berkata dengan tenang.
“Tapi
Miyamine, kamu mengatakan hal yang luar biasa. Mungkin saja aku tuh orang yang sangat jahat dan
bagian dari organisasi jahat yang diam-diam berusaha mengendalikan semua orang.”
“Kalau
kamu bagian dari organisasi jahat, mana
mungkin kamu berhenti sekolah hanya karena alasan itu dan menghabiskan waktu
sendirian membaca buku.”
“Bagus
sekali, perkataanmu cukup nyelekit. Tapi,
mungkin aku hanya bosan dengan rencana menguasai dunia.”
Yosuga-san tertawa terbahak-bahak dengan
ekspresi seolah itu hanya lelucon biasa. Aku juga tertawa. Saat bersamanya,
perasaanku semakin tenang dan meleleh, seolah-olah
aku mulai melihat sisi diriku yang tidak kuketahui sebelumnya.
“Kalau
begitu, aku mungkin akan mencoba berangkat
ke sekolah.”
Setelah
tertawa sejenak, Yosuga-san berkata
seolah-olah baru saja mengingat sesuatu.
“Aku
yakin akan ada banyak hal menyenangkan yang bisa kulakukan kalau aku berangkat sekolah.”
"Benarkah?"
“Benar.
Menghabiskan waktu dengan Miyamine juga kedengarannya menyenangkan.”
“…Kamu
tidak perlu mengatakan hal itu.”
“Miyamine
yang kehilangan kepercayaan diri di saat-saat penting itu lucu banget. Tadi kamu begitu bersemangat
meyakinkanku. Tapi, itulah yang membuatku menyukaimu.”
Kata “suka” langsung
menembus hatiku, dan meskipun hal itu seharusnya membuatku senang,
rasanya seperti tertekan. Entah kenapa, meskipun
aku sangat senang, ada sesuatu yang seolah-olah mengganggu di dalam
dadaku.
“Jadi…
aku ingin kamu berjanji padaku
satu hal.”
“Janji?
Tentu. Aku rela melakukan apa saja demi Yosuga-san.”
“Seandainya
saja… aku melenceng dari jalan
yang benar, bisakah kamu memberitahuku? Mengatakan kalau itu salah, dan kamu akan
menghentikanku? Apa kamu bersedia menjadi pahlawan yang menghentikanku?”
Usulannya
benar-benar diluar perkiraanku. Namun, keseriusan Yosuga-san memberitahuku bahwa dirinya sedang tidak bercanda. Aku
merasa seolah-olah berdiri di persimpangan jalan dalam hidupku. Persimpangan
jalan di mana semua yang telah kujalani hingga saat ini mulai tak berarti lagi.
“Baiklah, aku mengerti.”
Suaraku
entah bagaimana terdengar seperti suara orang lain. Yosuga-san menunjukkan senyum lembut. Aku
merasa mungkin aku telah melakukan hal yang benar.
“Semuanya
akan baik-baik saja. Aku yakin Yosuga-san
takkan membuat kesalahan. Aku akan selalu menjaga dan
mengawasimu. Aku akan menjadi satu-satunya
pahlawanmu."
“Terima
kasih, Miyamine. Hei, coba panggil
aku Kei. Menurutku panggilan begitu
lebih cocok untukmu.”
Aku menuruti permintaannya dan mengucapkan namanya.
Kei.
Bayangan
kupu-kupu yang bersinar terang dan proses metamorfosisnya muncul di dalam benakku.
Sebelumnya | Daftar isi |
