Yamai ni Itaru Koi Chapter 4 Bahasa Indonesia

 Butterfly Effect Syndrome

 

Benar juga. Kamu tetangganya Yosuga, kan?

Guru wali kelasku berkata demikian seolah-olah baru mengingatnya, memanggilku dengan raut wajah senang. Ia biasanya bertingkah seolah-olah aku tidak pernah ada di kelas, jadi ini sesuatu yang tidak biasa. 

“Apa kamu bisa mengantarkan hadiah peringatan hari jadi ke-40 sekolah ke rumah Yosuga? Mumpung sekalian pulang, jadi takkan merepotkan, kan?

Hadiah yang dibagikan setelah pertemuan beberapa hari lalu adalah sebuah benda yang sama sekali tidak menyenangkan, yaitu penjepit kertas. Di zaman sekarang, mana mungkin ada murid kelas lima SD yang merasa senang menerima penjepit kertas. Yosuga-san juga pasti tidak ingin menerima barang seperti itu. 

Namun, jarak antara rumahku dan rumah Yosuga-san terlalu dekat untuk menolak permintaan tersebut. Rumah kami berdua hanya berjarak beberapa langkah. Jarak yang sangat tidak bisa dijadikan alasan untuk menolak. 

Selain itu, tolong sekalian melihat keadaan Yosuga juga. Dia anak yang sangat baik. Jika dia menunjukkan tanda-tanda ingin pergi ke sekolah, tolong dorong dia dengan lembut.

Guru itu berkata seolah-olah memberi peringatan padaku yang berniat hanya memasukkan hadiah itu ke dalam kotak pos. Yosuga-san belum pernah berangkat sekolah sejak dia naik kelas lima. Tentu saja, dia juga tidak pernah berbicara denganku. 

Dengan demikian, aku memutuskan untuk pergi menemui seorang gadis yang tidak bersekolah itu

Alasanku tidak mengabaikan kata-kata guru dan tidak berusaha memasukkan hadiah itu ke dalam kotak pos bukan karena aku serius, tetapi karena aku pengecut. Aku juga berpikir jika aku tidak menjelaskannya dengan benar, Yosuga-san tidak akan mengerti tujuan pemberat kertas itu. Aku bergumam seperti mantra, Aku akan menjelaskannya dengan cepat lalu pergi. 

Ketika aku menekan bel interkom, beberapa detik kemudian pintu tiba-tiba terbuka. 

“Iya? 

Di sana berdiri seorang gadis ramping yang seumuran denganku. 

Rambutnya, yang panjangnya hingga dada, tampak sangat indah dan anggun sampai-sampai membuatku terpesona. Mungkin karena dia jarang keluar, kulitnya sangat putih, berkilau terkena sinar matahari. Aku merasa seolah-olah pernah merasakan kesan yang menyilaukan dan menakutkan ini di suatu tempat. Kira-kira di mana ya aku pernah melihatnya

Aku tahu kalau ini kedengarannya aneh, tetapi aku tidak pernah membayangkan bahwa gadis yang tidak bersekolah adalah gadis seperti Yosuga-san. Aku membayangkan gadis yang lebih muram yang tampaknya kesulitan bergaul dengan orang lain. Jika ada gadis seperti Yosuga-san di kelas, semua orang pasti ingin berteman dengannya. Aku berpikir demikian. Bahkan sekarang aku, yang baru saja melihat Yosuga-san, ingin berteman dengannya. 

Eh? Jangan-jangan

Yosuga-san mulai mengucapkan sesuatu. Sebelum dia selesai, entah kenapa aku buru-buru berkata. 

“Namaku Miyamine Nozomu. Kamu…?

Yosuga Kei. Terima kasih sudah mau datang. Meskipun rumah kita bersebelahan, tetap saja merepotkan, ya?" 

…Kamu tahu? Aku tinggal di rumah sebelah? 

“Aku tahu. Aku selalu melihatmu saat pulang. Aku diam-diam mengucapkan 'selamat datang' di dalam kamar. 

Dia mengatakannya dengan senyuman manis, membuatku merasa canggung. Dengan begini, siapa yang sebenarnya datang berkunjung? Aku hanya melihat Yosuga-san dan langsung kehilangan kata-kata. 

“Ayo, masuklah. Tidak enakan mengobrol di luar begini. 

Eh?

Aku ingin berbicara lebih banyak. Aku ingin berbicara denganmu.

Rumah Yosuga-san sangat indah, seperti rumah yang muncul di drama atau film. Ibu Yosuga-san juga cantik seperti model. 

Terima kasih telah datang jauh-jauh untuk Kei. Jika mau, silakan tinggal lebih lama lagi.

Walaupun putrinya tidak pergi ke sekolah, tapi ibu Yosuga-san tampak tidak khawatir sama sekali dan tersenyum lebar. Yosuga-san juga terlihat senang, menerima nampan yang berisi piring penuh cemilan dan dua gelas kalpis, sambil berkata, Terima kasih, Bu! dengan senyuman riang. Pemandangan yang terlalu akrab ini membuatku sedikit bingung. 

Kamar Yosuga-san dipenuhi dengan buku. Rak bukunya dipenuhi buku anak-anak yang sedang populer saat ini, serta kamus untuk anak-anak. Meskipun aku belum pernah membacanya, ada banyak buku misteri terkenal juga. Mungkin Yosuga-san menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku ini alih-alih pergi ke sekolah. 

Di tengah ruangan terdapat meja lipat, dengan dua bantal berdesain feminin yang diletakkan di atasnya. Sepertinya, tempat itu disiapkan khusus untuk menyambutku. 

Yuk, ayo duduk sini. Camilannya dimakan juga. Karena tidak pergi ke sekolah, aku merasa bosan, jadi aku memilih berbagai cemilan yang enak untuk dicoba. 

Meskipun sedikit ragu, aku mengikuti sarannya dan duduk. 

Cemilan yang ada di piring itu semuanya merupakan hal-hal yang belum pernah kulihat sebelumnya. Sambil berpikir bahwa dia memang anak yang berbeda, aku mencoba kue yang dilapisi mengkilap. Rasanya enak. 

Jadi, kenapa Miyamine datang untuk mengantarkan hadiah? Apa kamu diminta oleh Sensei?

Yosuga-san bertanya dengan nada seolah-olah tahu segalanya. Karena aku merasa tidak bisa berbohong padanya, aku hanya mengangguk diam. 

Maaf ya. Dirinya bukan orang jahat, tapi tipe yang pelupa. Sepertinya Sensei hanya bisa ingat bahwa aku baik-baik saja di rumah saat dia datang. Meskipun dirinya sudah pulang dengan tenang, dia tetap merasa cemas." 

Nada bicara Yosuga-san terdengar seperti sedang membicarakan anak yang bermasalah, dan tidak terdengar seperti cara bicara seorang siswa SD. Hal itu juga salah satu hal aneh tentang Yosuga-san

Aku tetap bisa bersenang-senang setiap hari meskipun tidak berangkat ke sekolah. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Miyamine juga bisa pulang setelah menikmati cemilan yang enak. Terima kasih sudah datang, sampaikan salamku untuk Sensei, ya. 

Setelah mengatakan itu, Kei menghentikan pembicaraan dan tampak bersiap-siap untuk membaca buku yang ada di tangannya. Melihat itu, aku buru-buru berbicara padanya.

Tunggu, kenapa kamu tidak berangkat ke sekolah? Sebelum kamu mulai membaca, aku ingin berbicara sedikit denganmu.

Mungkin karena pernyataanku yang tiba-tiba, Yosuga-san jelas-jelas terlihat terkejut. Ekspresinya sama seperti gadis-gadis lain, wajah anak biasa. Setelah sedikit ragu dan memiringkan kepalanya, dia berkata, 

Apa Miyamine ingin aku berangkat ke sekolah?

Eh?

“Kupikir itu yang kamu maksud, tapi apa aku salah?" 

Tidak, yah maksudku… jika kamu mau datang… aku akan senang…

“Aku senang kamu menjawabnya dengan jujur.

Yosuga-san tersenyum lebar. 

Kalau Miyamine bilang begitu, mungkin aku jadi ingin berangkat. 

Itu maksudnya... bagaimana...?

Sebelum itu, bisakah kamu memberitahuku sesuatu?

“Soal apa?

“Mengenai dirimu, Miyamine. 

Dia memandangku dengan serius, dan aku terkesiap. Berbeda dengan saat guru mendorongku, aku mulai mengeluarkan kata-kataku sendiri. 

Pada awalnya, aku tidak bisa bercerita banyak. Kemampuan akademisku biasa-biasa. Aku cukup baik dalam ilmu pengetahuan dan sosial, tetapi sedikit kesulitan dengan matematika. Bahasa Jepangku bervariasi tergantung tes. Aku tidak terlalu percaya diri dengan kemampuan olahragaku, tapi setidaknya aku tidak yang paling buruk di kelas. Aku berusaha untuk tidak menunjukkan bahwa aku pilih-pilih makanan di kantin, karena sering diejek, padahal sebenarnya aku tidak suka manisnya wortel yang disajikan di sana. Di hari libur, aku membaca manga atau bermain game. Di kamarku juga ada banyak buku ensiklopedia. Meskipun ada orang yang bisa diajak bicara di sekolah, aku tidak punya teman dekat yang bisa disebut sahabat. Aku tidak suka sendirian, jadi aku bersama mereka, tetapi kurasa teman-temanku juga berpikir hal yang sama tentangku. Karena aku memang anak laki-laki yang membosankan dan biasa-biasa saja. 

Aku menceritakan banyak hal kepada Yosuga-san tentang hal-hal yang bahkan tidak aku ceritakan kepada ibuku. Membicarakan tentang teman-temanku, yang sebenarnya membuatku sedikit canggung dan malu, karena biasanya aku tidak akan membicarakannya dengan gadis. Namun, saat Yosuga-san menatapku dan memberikan tanggapan, kata-kataku mengalir begitu saja. Aku tidak bisa berhenti berbicara. Yosuga-san tidak menginterupsi atau tertawa, dia hanya memberikan tanggapan dan memintaku untuk melanjutkan. 

Miyamine, apa ada sesuatu yang kamu sukai sekarang? 

“Sesuatu yang kusukai? Hmm... apa ya... 

Apa saja tidak masalah. Misalnya, sesuatu yang sedang kamu gemari saat ini. 

Usai mendengar itu, aku teringat pada kandang hewan pemeliharaan di dalam kamarku. Meskipun aku berpikir ini mungkin cerita yang membosankan untuk gadis, aku memberanikan diri untuk berbicara. 

…Sebenarnya, aku suka kupu-kupu.

Kupu-kupu?

Sekarang, ayah sedang menyiapkan akuarium dan aku sedang membesarkan larva kupu-kupu. Jika pergi ke kebun jeruk, kita bisa menemukan larva, dan aku berpikir untuk membesarkannya sampai menjadi kepompong dan kemudian kupu-kupu. Dulu, aku hanya menyukai kupu-kupu dan tidak tertarik sama sekali pada ulat.

Larva mungkin terasa menjijikkan bagi anak-anak yang takut serangga. Aku juga merasa sedikit jijik saat pertama kali melihatnya dan berpikir itu makhluk yang aneh. Tapi setelah membesarkannya, aku semakin dekat dengan mereka, dan sekarang aku bahkan mulai menyukainya. Dengan latar belakang itu, aku terus berbicara sambil mengamati reaksi Yosuga. Sejauh ini, dia tidak tampak jijik. 

Begitu ya. Kira-kira berapa lama larva itu akan menjadi kepompong? 

“Kurasa mungkin dalam waktu kurang dari seminggu, larva itu akan menjadi kepompong. Setelah itu, aku berencana untuk melepaskannya ke luar, jadi aku merasa sedikit sedih. 

Begitu ya. Miyamine memang baik hati.

“Aku bukannya baik hati sih... karena sayang sekali kalau dia sudah berjuang untuk bisa terbang tetapi mati tanpa pernah terbang. 

Benar. Dia sudah bertahan dalam kepompong untuk bisa bebas terbang.

Yosuga-san menyipitkan matanya. Ekspresinya memang berbeda dari teman-teman sekelasku, parasnya terlihat sangat istimewa dan cantik. 

Kapan kamu mulai tertarik pada kupu-kupu? 

…Ayahku sering bepergian untuk pekerjaan… dia pergi ke berbagai tempat dan setiap kali kembali, dia membawakan banyak oleh-oleh. Saat dia pergi ke luar negeri, dia membelikanku spesimen kupu-kupu Blue Morpho.

Blue Morpho itu apa?

Itu kupu-kupu yang sangat cantik bersayap biru. Saat pertama kali melihatnya, aku mengira itu buatan. Aku bertanya pada ayah bagaimana cara membuat kupu-kupu itu, dan dia tertawa. Dia bilang itu adalah kupu-kupu istimewa yang lahir seperti itu.

Aku masih mengingat betapa bersemangatnya diriku saat melihat kupu-kupu itu untuk pertama kali. Blue Morpho yang muncul dari tas ayahku bersinar di bawah cahaya lampu ruangan. Aku penasaran dari mana datangnya cahaya biru itu dan terus menatapnya melalui kaca spesimen. Kilau itu tidak pernah pudar, dan kini menjadi satu-satunya cahaya di kamarku. 

Aku akhirnya mengingat kembali perasaan yang kualami saat melihat Yosuga-san, seolah-olah aku pernah merasakannya sebelumnya. Perasaan saat melihat Yosuga-san mirip dengan saat aku pertama kali melihat Blue Morpho. 

Begitu ya. Aku penasaran itu kupu-kupu yang seperti apa ya, aku jadi ingin melihatnya. 

Kalau mau, aku bisa membawanya. Spesimennya cukup kecil. Oh, meskipun besar untuk ukuran kupu-kupu, tapi… tentu saja, aku bisa membawanya.

Itu barang berharga, kan? Tidak apa-apa. Aku akan sedih jika itu sampai rusak. 

Setelah ditolak dengan tegas, aku merasa mungkin telah mengatakan sesuatu yang aneh. Mungkin Yosuga-san hanya berpura-pura tertarik karena baik hati. Namun, dia melanjutkan dengan senyuman yang seolah-olah bisa menghilangkan semua pikiranku. 

“Mungkin aku harus pergi ke kamar Miyamine dan melihatnya.

Eh?

“Habisnya rumah kita berdekatan. Kupu-kupu itu akan segera menjadi kepompong, kan? Aku juga ingin melihat kepompongnya, dan saat kepompong itu menjadi kupu-kupu, aku ingin melihatnya juga. Asalkan Miyamine tidak keberatan sih. 

Tentu saja… aku tidak keberatan.

Benarkah? Kalau begitu, aku benar-benar akan pergi. Aku sangat menantikannya.

Yosuga-san tersenyum dan menyesap minuman Calpis dengan nikmat. Rumah kami memang berdekatan, tetapi aku tidak menyangka dia akan mengatakannya seperti itu, dan aku merasa sedikit gelisah di dalam hati. Karena kegelisahan itu, aku bahkan mengatakan hal yang tidak perlu. 

“Kamu yakin? Kamu tidak perlu berpura-pura tertarik, melihatmu mendengarkan ceritaku saja sudah membuatku merasa senang…

“Aku tidak berpura-pura kok. Sembarangan saja kalau menuduh. Aku sebenarnya suka makhluk hidup. Aku tidak benci serangga, malahan suka. Saat melihat kupu-kupu, menurutku itu sangat indah, dan aku juga menganggap ulat itu pekerja keras." 

Begitu ya… itu mengejutkan.

Miyamine, kamu tidak tahu banyak tentang aku.

Yosuga-san tertawa. Memang benar. Namun, meskipun ini pertemuan pertama kami, aku merasa lebih senang berbicara dengan Yosuga-san daripada dengan siapa pun di sekolah. Aku bahkan ingin membaca semua buku yang ada di kamar Yosuga-san. Aku ingin tahu tentang hal-hal yang disukai Yosuga-san

Tapi, Miyamine, kamu memiliki duniamu sendiri, ya. Rasanya sangat menakjubkan. Memangnya kamu tidak pernah bercerita tentang kupu-kupu kepada teman-teman di sekolah?

“Mana mungkin aku bisa menceritakannya. Banyak orang yang tidak menyukai serangga… meskipun mereka tidak sampai menganggapnya menjijikkan, mereka pasti berpikir itu tidak menarik.

Sayang sekali. Jika orang-orang tahu tentang Miyamine yang sebenarnya, pasti banyak yang ingin berteman lebih dekat denganmu.

“Satu-satunya orang yang akan mengatakan itu hanya kamu saja, Yosuga-san.

Itu tidak benar.

Yosuga-san mengerucutkan bibirnya dan mengernyitkan alis dengan tampang tidak puas. Lalu, dia tiba-tiba berkata seolah-olah baru menyadari sesuatu. 

Tapi, mungkin semua orang memang seperti itu. Semua orang menyembunyikan diri mereka yang sebenarnya, jadi tidak ada kesempatan untuk saling akrab. Padahal, sebenarnya semua orang memiliki hal-hal yang mereka sukai dan sesuatu yang penting, tetapi karena tidak ada yang saling memberitahu, jadi mereka tidak bisa saling memahami. Jika setiap orang bisa menunjukkan dunia mereka, mungkin kita semua bisa lebih akrab. 

“Entahlah, aku meragukannya

Aku membayangkan wajah teman-teman sekelasku dalam pikiranku. Saat istirahat, aku tidak bisa membayangkan bagaimana bisa akrab dengan orang-orang yang berisik dan bermain sepak bola di dalam kelas. Namun, saat mendengarkan cerita Yosuga-san, aku merasa jika aku berbicara dengan setiap dari mereka, mungkin aku bisa menjadi akrab… aneh sekali. Saat mendengarkan cerita Yosuga-san, aku merasa seolah-olah sedikit demi sedikit dikeluarkan dari kepompongku. 

Tadi Miyamine bilang tidak bisa akrab dengan anak laki-laki yang kasar di kelas, tapi aku rasa tidak semua orang seperti itu. Mungkin, anak-anak itu hanya terpengaruh oleh lingkungan mereka. Jika kita akrab dengan masing-masing dari mereka, mungkin kita akan menemukan bahwa mereka jauh berbeda dari yang kita pikirkan, dan hanya ada satu orang yang benar-benar kasar dan tidak semuanya orang mempunyai sifat begitu.

Meskipun aku mendengarkan dengan serius, aku mulai bingung dengan apa yang dikatakan Yosuga-san. Setidaknya, Kobayashi dan Nezuhara di kelas adalah anak-anak yang kasar dan egois, jadi mana mungkin orang semacam mereka tidak ada. Namun, aku tidak ingin dianggap sebagai orang yang tidak mengerti, jadi aku mengangguk seperti anak burung yang mendengarkan induknya. Kemudian, jari Yosuga-san yang putih dan ramping menyentuh dahiku. 

Wah, apa?

Jadi, Miyamine juga terpengaruh oleh kata-kataku, kan?

Ketimbang dibilang terpengaruh, lebih tepatnya aku setuju sih… Aku, mendengarkan cerita Yosuga-san dengan serius, jadi aku berpikir, iya juga…" 

Semakin banyak aku berbicara, aku merasakan kalau wajahku semakin memerah. Rasanya seperti saat mendapatkan nilai buruk di ujian. Namun, perasaan ini lebih buruk daripada saat mendapat nilai jelek. Aku khawatir jika Yosuga-san menganggapku orang yang membosankan atau tidak perlu diajak bicara. Tapi, Yosuga-san tersenyum dan melanjutkan. 

Aku senang kamu mendengarkannya dengan serius. Aku yakin Miyamine benar-benar mendengarkan ceritaku dan benar-benar memahaminya. 

Aku merasa ragu untuk mengatakan bahwa itu tidak benar, jadi aku hanya membiarkannya. Yosuga-san tidak lagi menggodaku dan kali ini hanya menatapku dalam diam. Rasanya ruangan yang sunyi itu mencoba menghancurkanku, dan aku tidak tahan dengan kesunyian tersebut

Kemudian, Yosuga-san tiba-tiba tersenyum lagi. 

Aku senang Miyamine datang ke sini. Karena kurasa tak ada orang lain selain kamu yang akan mengerti perasaanku. 

Apa iya? Entahlah. Aku merasa tidak terlalu pandai berbicara, jadi aku merasa sedikit bersalah.

Ceritamu menarik kok.

Benarkah?

Ini benar, setidaknya aku tidak mengusirmu dari ruangan ini.

Aku terkejut mendengar itu dan tubuhku menjadi kaku. Yosuga-san berkata dengan nada nakal, meskipun aku tidak diusir. Aku merasa seolah-olah sepenuhnya berada dalam ritme Yosuga-san, seperti aku sedang menari di telapak tangannya. 

Kalau begitu, aku mungkin akan memberitahumu rahasiaku.

Rahasia?

Alasan kenapa aku tidak berangkat sekolah.

Aku merasakan sesuatu yang dingin menjalar di punggungku. Karena sebelumnya dia menghindari pertanyaan itu, kupikir dia tidak ingin membahas hal itu. Namun, Yosuga-san melanjutkan dengan sikap yang sama sekali tidak berubah. 

Aku bilang kepada guru wali kelas bahwa aku lemah di pagi hari dan sulit untuk bangun, jadi aku tidak bisa berangkat sekolah. Ibuku juga mengakui bahwa aku mengalami anemia. Aku juga menjelaskan kepada beberapa gadis lain bahwa ibuku membantuku belajar untuk ujian masuk SMP. Ada juga yang berpikir bahwa aku pergi audisi untuk masuk dunia hiburan tanpa pergi ke sekolah. Meskipun sebenarnya aku tidak pernah mengatakan apa-apa tentang itu. 

“Buat Yosuga-san sih, alasan itu terdengar jauh lebih masuk akal. Maksudku, banyak teman sekelas yang percaya dengan hal itu. 

Benarkah? Itu keterlaluan… Tapi, apa kamu benar-benar menganggap itu masuk akal? Miyamine.

…Bukan hanya aku saja, tapi semua orang juga mengatakannya. 

Ya, ya. Sekarang itu sudah cukup.

Yosuga-san meregangkan tubuhnya seperti kucing dan menguap sambil berbicara. Dia terlihat sangat santai hingga membuatku merasa bodoh karena merasa gugup. 

Aku tuh sebenarnya takut.

Karena perkataannya terlalu mendadak, jadi aku tidak bisa langsung bereaksi. 

Takut? Apa kamu sedang dibully?

Aku tidak dibully. Kurasa semua orang di kelas baik padaku, aku yakin mereka akan baik padaku saat aku kembali ke kelas, dan aku akan menjalani hidup yang menyenangkan. Aku percaya diri tentang itu.

…Lalu apa yang membuatmu takut…

Aku tuh memiliki kekuatan untuk memengaruhi orang lain.

Yosuga-san tidak lagi tersenyum. Suasana lembut yang sebelumnya terpnacar darinya seolah-olah menghilang, digantikan dengan ekspresi dingin dan serius. Badanku terasa kaku dan tidak bisa bergerak, aku merasa seperti katak yang ditatap ular. 

“Saat aku meminta sesuatu, semua orang akan mendengarkanku. Jika aku berharap sesuatu terjadi, semua orang akan melakukannya. Jika aku ingin kelas seperti ini, kelasnya akan menjadi seperti itu. Kelas yang baik di mana semua orang mendengarkan guru, atau kelas yang akrab dengan ikatan yang kuat. Sebaliknya, jika aku ingin keadaan kelas menjadi kacau di mana tidak ada yang mendengarkan guru, maka itu juga bisa terjadi. Jika aku menginginkannya, maka itu akan terjadi.

Gambaran yang terlintas di kepalaku adalah pemimpin hewan. Ada banyak contoh seperti itu di alam bebas. Setiap orang mengikuti seorang pemimpin, dan kelompok bergerak sesuai arahan pemimpin. Jika arahan pemimpin benar, kelompok akan bertahan. Namun, jika pemimpin melakukan kesalahan, kelompok akan mengalami kemunduran. Aku pernah melihat video tentang ratu semut yang tidak bisa memimpin semut-semutnya dengan baik, dan sarangnya dihancurkan oleh kelompok semut lain. 

“Itulah sebabnya aku berpikir kalau sebaiknya aku tidak terlalu sering pergi. Jika semua orang mendengarkan apa yang kukatakan, mereka akan menganggapnya salah.

Karena itulah kamu tidak pergi ke sekolah?

“Kamu tidak mempercayainya? Kamu pikir ada alasan lain?" 

Aku mempercayainya kok. Menurutku Yosuga-san memang memiliki kekuatan seperti itu.

“Kupikir kamu akan menertawakannya dan mengatakan itu seperti sihir.

Aku tidak akan tertawa. Mungkin, kurasa aku akan mendengarkan jika Yosuga-san memintaku melakukannya.

Nyatanya, aku baru saja menerima apa adanya mengenai hal yang dikatakan Yosuga-san dan langsung setuju. Tentu saja, aku merasa ada kebenaran dalam ucapannya, tapi daya tarik misteriusnya dan pesonanya untuk meyakinkan juga sangat berpengaruh. 

Tentu saja, ada kalanya aku mencoba untuk tidak melakukannya. Tapi sepertinya itu bukan sesuatu yang bisa kuubah hanya dengan perasaanku. Aku secara tidak sadar melakukannya pada semua orang. Itulah sebabnya, aku mengurung diriku di sini.

Begitu? 

Aku menempatkan diriku di sini agar tidak ada yang mengikuti kehendakku. Berkat itu, semua orang bisa menjalani kehidupan mereka dengan bebas dan bahagia setiap hari. Semoga semuanya baik-baik saja. 

Yosuga-san berbicara seolah-olah seperti penyihir jahat dalam dongeng. Itulah sebabnya Yosuga-san tidak berangkat ke sekolah. Dia tidak ingin memaksa semua orang untuk mendengarkannya. Meskipun sulit dipercaya, mungkin itulah memang alasan sebenarnya. 

Aku senang bisa berbicara denganmu, Miyamine, dan aku akan senang jika kamu datang bermain lagi. Aku benar-benar ingin melihat kepompong dan spesimen kupu-kupu Morfo biru. Jadi, aku berharap kita bisa tetap berteman. 

Karena Yosuga-san kelihatan ingin mengakhiri pembicaraan begitu saja, jadi aku buru-buru berkata. 

Tunggu dulu sebentar. Tapi… kalaupun memang begitu, itu masih belum menjelaskan mengapa Yosuga-san tidak boleh pergi ke sekolah.

Mengapa?

Untuk pertama kalinya sejak aku datang ke ruangan ini, Yosuga-san mengerutkan keningnya. Ekspresinya seolah ingin mengatakan bahwa dia tidak mengerti ucapanku. Namun, aku terus melanjutkan. 

“Habisnya, meskipun semua orang mendengarkan apa yang kamu katakan… itu sama sekali bukan hal yang buruk.

Mata Yosuga-san seketika melebar. Matanya yang sudah besar itu semakin bersinar dan berkilau saat terbuka seperti ini. Seolah-olah ada sayap kupu-kupu yang baru saja menetas. 

Sejujurnya… semua orang tidak secerdas Yosuga-san, mereka masih anak-anak, dan tidak begitu baik…tapi jika Yosuga-san bisa membuat semua orang mendengarkan, itu pasti akan menjadi kelas yang lebih baik. Pasti. 

Aku yakin di kelas itu, tidak akan ada yang mengolok-olok atau menyusahkan orang lain. Persis seperti yang dikatakan Yosuga-san, kelas itu pasti akan menyenangkan di mana setiap orang bisa berbagi kelebihan dan minat mereka yang tidak diketahui orang lain dan menjadi teman. Sekeras apa pun Yosuga-san menyangkalnya, aku tetap berpikir begitu. 

Yosuga-san terdiam sejenak, tetapi kemudian dia berkata dengan tenang. 

Apa kamu benar-benar berpikir begitu?

“Iya. Jadi, menurutku Yosuga-sankurasa boleh berangkat ke sekolah jika kamu menginginkannya. Semua orang pasti akan senang jika kamu datang, dan kelas pasti… akan menjadi kelas yang baik.

Aku merasa malu karena suaraku menjadi ragu di akhir. Sebenarnya, ada banyak hal lain yang ingin kukatakan—sebenarnya, aku sangat senang jika Yosuga-san datang ke sekolah, dan aku yakin hari-hari yang membosankan ini akan menjadi lebih menyenangkan. Namun, aku tidak bisa mengungkapkan hal itu. 

Miyamine tuh baik sekali ya. 

Yosuga-san berkata dengan tenang. 

Tapi Miyamine, kamu mengatakan hal yang luar biasa. Mungkin saja aku tuh orang yang sangat jahat dan bagian dari organisasi jahat yang diam-diam berusaha mengendalikan semua orang.

Kalau kamu bagian dari organisasi jahat, mana mungkin kamu berhenti sekolah hanya karena alasan itu dan menghabiskan waktu sendirian membaca buku.

Bagus sekali, perkataanmu cukup nyelekit. Tapi, mungkin aku hanya bosan dengan rencana menguasai dunia.

Yosuga-san tertawa terbahak-bahak dengan ekspresi seolah itu hanya lelucon biasa. Aku juga tertawa. Saat bersamanya, perasaanku semakin tenang dan meleleh, seolah-olah aku mulai melihat sisi diriku yang tidak kuketahui sebelumnya. 

Kalau begitu, aku mungkin akan mencoba berangkat ke sekolah.

Setelah tertawa sejenak, Yosuga-san berkata seolah-olah baru saja mengingat sesuatu

Aku yakin akan ada banyak hal menyenangkan yang bisa kulakukan kalau aku berangkat sekolah. 

"Benarkah?" 

Benar. Menghabiskan waktu dengan Miyamine juga kedengarannya menyenangkan.

…Kamu tidak perlu mengatakan hal itu.

Miyamine yang kehilangan kepercayaan diri di saat-saat penting itu lucu banget. Tadi kamu begitu bersemangat meyakinkanku. Tapi, itulah yang membuatku menyukaimu.

Kata suka langsung menembus hatiku, dan meskipun hal itu seharusnya membuatku senang, rasanya seperti tertekan. Entah kenapa, meskipun aku sangat senang, ada sesuatu yang seolah-olah mengganggu di dalam dadaku. 

Jadi… aku ingin kamu berjanji padaku satu hal.

Janji? Tentu. Aku rela melakukan apa saja demi Yosuga-san.

“Seandainya sajaaku melenceng dari jalan yang benar, bisakah kamu memberitahuku? Mengatakan kalau itu salah, dan kamu akan menghentikanku? Apa kamu bersedia menjadi pahlawan yang menghentikanku?

Usulannya benar-benar diluar perkiraanku. Namun, keseriusan Yosuga-san memberitahuku bahwa dirinya sedang tidak bercanda. Aku merasa seolah-olah berdiri di persimpangan jalan dalam hidupku. Persimpangan jalan di mana semua yang telah kujalani hingga saat ini mulai tak berarti lagi

Baiklah, aku mengerti.

Suaraku entah bagaimana terdengar seperti suara orang lain. Yosuga-san menunjukkan senyum lembut. Aku merasa mungkin aku telah melakukan hal yang benar. 

Semuanya akan baik-baik saja. Aku yakin Yosuga-san takkan membuat kesalahan. Aku akan selalu menjaga dan mengawasimu. Aku akan menjadi satu-satunya pahlawanmu." 

Terima kasih, Miyamine. Hei, coba panggil aku Kei. Menurutku panggilan begitu lebih cocok untukmu.

Aku menuruti permintaannya dan mengucapkan namanya

Kei. 

Bayangan kupu-kupu yang bersinar terang dan proses metamorfosisnya muncul di dalam benakku.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama