Chapter 8 — Strategi Perubahan Amane
Amane bukanlah
orang yang terlalu peduli dengan penampilannya. Tentu saja, ia cukup
memperhatikan kebersihan dan melakukan perawatan minimal, tapi dirinya tidak
berpikir untuk melakukan lebih dari itu. Dirinya tidak terlalu gemuk atau
terlalu kurus, dan selama dirinya bersih dan tidak mengganggu orang lain, dirinya
merasa baik-baik saja menjalani kehidupan sebagai pelajar. Amane tidak pernah kepikiran
untuk menarik perhatian orang lain.
Segalanya
langsung berubah setelah dirinya jatuh cinta pada Mahiru. Sejak mulai ingin
berdiri di samping Mahiru, Amane merasakan bahwa jika ia tetap seperti
sebelumnya, keberadaannya hanya akan mempermalukan Mahiru. Amane merasa tidak
berdaya dan malu. Oleh karena itu, demi menjadi sosok yang tidak memalukan, Amane
mulai berolahraga dan memperhatikan perawatan kulitnya. Dirinya juga mulai
memilih pakaian yang lebih layak.
Ia tidak
melakukan semuanya hanya demi Mahiru. Semua upayanya semata-mata demi dirinya
sendiri, agar bisa merasa bangga berada di sampingnya. Meskipun sekarang mereka
sudah berpacaran, usaha tersebut terus berlanjut, bahkan semakin giat. Selain
ingin tidak memalukan dirinya sendiri, ada juga keinginan untuk membuat Mahiru
senang.
“Apa kamu
tertarik dengan majalah seperti itu?”
Saat
melihat-lihat di bagian majalah setelah membeli buku referensi, Amane mengambil
majalah dengan sampul fashion pria. Itsuki yang datang bersamanya untuk membeli
buku, terlihat terkejut. Karena Amane dikenal tidak peduli dengan
penampilannya, wajar saja jika Itsuki merasa keheranan.
Ketika dirinya
membolak-balik halaman majalah, ada berbagai macam koordinasi mode yang sedang
tren dan juga fitur tentang gaya rambut yang belum pernah dicobanya. Amane jadi
berpikir, “Jadi, gaya yang rumit seperti ini sedang tren sekarang, ya? Apa
Mahiru suka gaya rambut seperti apa?” Melihat Itsuki mulai tersenyum, Amane
menutup majalah itu.
“Ini bukan
soal ketertarikan sih, tapi Mahiru itu sangat menyukaiku, ‘kan?”
“Uwahh,
lagi-lagi muncul, membual hubunganmu.”
“Tidak, aku
hanya menyatakan fakta. Lagipula, kamu juga tahu bahwa Mahiru menyukaiku.”
Meskipun
terasa memalukan untuk diakui, Mahiru memang menyukai Amane. Dirinya sangat
disukai dan dicintai, dan itu diakui oleh semua orang.
“Aku tahu
Mahiru menyukaiku. Ketika sampai pada pertanyaan di mana dia menyukainya,
mungkin dia menyukai diriku dari segi kepribadian, dan itulah yang sering
dikatakannya. Namun, selain itu, dia juga menyukai penampilanku.”
“Ya, ada
kesan bahwa jika seseorang jatuh cinta pada Shiina-san, dia akan jatuh cinta
pada segalanya."
“Kurasa ada
bias karena cinta, tetapi tetap saja, senang mendengar bahwa dia menyukaiku.”
Meskipun
merasa sedikit, bahkan cukup, terkesan berlebihan, tampaknya Mahiru juga
menyukai penampilan Amane. Sejak Amane mulai memperhatikan penampilannya,
ketertarikan Mahiru terhadapnya semakin meningkat. Ketika Amane mengenakan
pakaian yang lebih rapi, Mahiru mulai tersenyum dan mengambil foto, menunjukkan
bahwa dia memang menghargai penampilan Amane.
Jika Mahiru
mengatakan bahwa dia menyukai penampilan Amane, tidak ada salahnya bagi Amane
untuk berusaha agar Mahiru semakin menyukainya dalam batas kemampuannya.
“Apa aneh
jika aku ingin mewujudkan apa yang disukai Mahiru?”
“Tidak, sama
sekali tidak. Aku hanya berpikir kamu orang yang rajin.”
“Syukurlah kalau
begitu. Aku tidak berpikir Mahiru akan menyukaiku tanpa usaha. Lagipula, aku
ingin menjadi pria yang bisa berdiri dengan percaya diri di samping Mahiru dan
membuatnya senang.”
Meskipun
Mahiru mungkin menyukai Amane dalam penampilan santainya, dia tidak akan terus
menyukainya dengan semangat yang sama jika Amane tidak berusaha. Dia mungkin
akan mulai merasa jenuh terhadap sifat-sifat tersebut.
Selain itu,
jika dirinya berdiri di samping Mahiru dengan penampilan yang sembarangan, Amane
tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Yang terpenting, Amane suka melihat
Mahiru bahagia, jadi usaha kecil ini tidak terasa berat baginya, bahkan tidak
dianggap sebagai usaha.
“Uwah~”
“Apa-apaan
dengan ‘uwah~’ itu?”
“Bukan
apa-apa kok~, aku hanya merasa dipenuhi cinta saja~.”
“Jika orang
lain bisa merasakannya, maka sepertinya Mahiru juga bisa merasakannya.”
Amane
berusaha untuk menyampaikan perasaan suka kepada Mahiru baik dengan kata-kata
maupun sikap, tetapi seberapa banyak yang sebenarnya tersampaikan hanya bisa
diketahui dengan bertanya langsung kepada Mahiru. Namun, setidaknya jika orang
lain melihatnya seperti itu, Amane merasa bahwa perasaannya mungkin sudah tersampaikan
kepada Mahiru, jadi dirinya bisa merasa tenang.
Saat Amane
mengabaikan komentar Itsuki yang setengah bercanda, Itsuki mengerutkan alisnya
sedikit, mengarahkan tatapan campuran antara keheranan dan sedikit dingin
padanya.
“Apa-apaan
dengan raut wajahmu yang kelihatan tidak terhibur dan tidak tertarik pada
lelucon?”
“Kamu tahu
sendiri, ‘kan?”
“’Jangan
berpikir aku akan terus-menerus dijadikan bahan lelucon’ maksudmu begitu?”
Jika ada
orang yang selalu mengolok-olok hubungannya dengan Mahiru, lama-kelamaan Amane
akan terbiasa.
“Jadi, aku
ingin mencari penampilan yang sangat disukai Mahiru. Aku tidak selalu mengubah
gaya rambutku, jadi aku berpikir untuk belajar dari hal-hal seperti ini.”
Amane
awalnya tidak memiliki selera fashion yang baik dan hanya memiliki pengetahuan
serta keterampilan untuk menyesuaikan gaya rambut sesuai dengan situasi. Oleh
karena itu, dirinya berpikir untuk mencoba sesuatu yang baru.
Dirinya
ingin mencoba gaya rambut yang sesuai dengan panjang dan ketebalan rambutnya,
dan jika berhasil, ia ingin menunjukkan hasilnya kepada Mahiru. Namun, usai mendengar
itu, Itsuki menyipitkan matanya dan menunjukkan ekspresi yang sedikit penuh iba.
“Aku jadi
merasa kasihan dengan Shiina-san.”
“...Apa kamu
ingin mengatakan kalau seharusnya aku memberi perhatian padanya langsung
daripada mengkhawatirkan hal seperti ini?"
“Tidak, aku
hanya berpikir itu pasti sulit baginya, karena pacarnya sedang mencoba
menghentikan jantungnya.”
“Itu agak berlebihan.”
Amane merasa
bahwa Mahiru takkan begitu terkejut hanya karena ia mengubah gaya rambutnya,
tetapi tampaknya Itsuki tidak setuju dengan pandangannya.
“Meski aku
tahu Shiina-san sangat menyukaimu, rasanya seperti kamu ingin mengejutkannya,”
kata Itsuki.
“Jadi itu
buruk?”
“Itu bukan
hal yang buruk, mungkin itu hal yang baik, tapi… entah bagaimana, kamu memang
orang yang jika sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, kamu pasti
melakukannya.”
“Ya, tentu
saja. Jika aku melakukannya, aku akan melakukannya dengan baik.”
“Jika kamu
benar-benar merawat penampilanmu, kurasa Shiina-san bakalan kerepotan.”
“Memangnya sampai
segitunya? Kurasa dengan penampilan yang biasa saja sudah cukup.”
Amane tahu
bahwa Mahiru mencintainya dengan tulus dan menyukai penampilannya, jadi
pendapatnya ini berasal dari kesadaran itu, namun ia tetap tidak percaya bahwa
perubahan penampilan Amane akan begitu signifikan. Ia berpikir bahwa hanya
dengan memotong rambutnya saja tidak akan mengubah kesan yang terlalu besar.
Sambil menyisir rambutnya yang sudah dirawat dengan baik berkat bantuan Mahiru,
Amane mendengar Itsuki bergumam “Cowok ini...” dengan erangan kecil.
“Apa?”
“…Tidak, aku
hanya ingin bilang. Kamu, sebenarnya wajahmu cukup ganteng, tau? Tapi jangan
bandingkan dengan Yuuta. Ia mirip seperti orang dari Universitas Tokyo.”
“Kalau kamu
yang bilang, aku jadi merinding, tapi terima kasih. Itu semua berkat gen orang
tuaku.”
Walaupun Amane
jarang menempatkan dirinya di kategori tampan, dirinya sadar bahwa ia mewarisi
darah Shuuto dan Shihoko yang berpenampilan menarik, jadi ia merasa
penampilannya lumayan. Namun, Amane tetap merasa bahwa dirinya tidak berada di
level yang sama dengan Yuuta, dan sebenarnya Itsuki juga orang yang bisa
dianggap tampan, jadi wajar jika Amane merasa tidak nyaman dengan komentarnya.
Itsuki
sepertinya menangkap keraguan Amane dan berkata, “Inilah sebabnya kenapa kamu
disebut enggak pekaan.”
“Jadi, jika
kamu merawat dirimu sesuai dengan selera Shiina-san dan dia sangat menyukainya,
dia akan meledak.”
“Meledak?”
“Dia mungkin
akan terdiam sejenak dan tidak bergerak. Sepertinya dia sangat rentan terhadap
kejutan.”
“Dia memang
sangat rentan terhadap kejutan.”
Meskipun Amane
tidak ingin membahas tentang penilaian wajahnya, Mahiru memang sangat lemah
ketika dihadapkan pada kejutan, meskipun dia biasanya sangat menjaga pertahanan
diri. Ketika terkejut, dia bisa langsung menjadi lemah dan tidak berdaya.
Inilah kelemahan yang muncul karena cinta Mahiru yang begitu dalam terhadap Amane,
dan itu membuat Amane sedikit khawatir.
“Kadang-kadang
aku merasa kasihan pada Shiina-san… memiliki pacar seperti ini...”
“Maaf banget
ya. Aku berusaha membuatnya bahagia dengan caraku sendiri.”
“Asal jangan
berlebihan saja… Shiina-san itu orang yang rendah hati, jadi sedikit saja bisa
membuatnya meledak.”
“Dibilang
meledak begitu rasanya agak bagaimana...”
“Dan kamu
harusnya lebih sadar akan hal itu.”
“Aku sudah
cukup paham tentang apa yang disukai Mahiru, jadi aku akan lebih berhati-hati.”
“Itu memang benar,
tapi tidak sepenuhnya."
“Eh…?”
Amane
mengarahkan tatapan bingung ke arah Itsuki, tetapi Itsuki hanya mengangkat bahu
dengan ekspresi yang jelas menunjukkan keheranan. Amane pun memutuskan untuk
mengambil beberapa majalah yang ingin dibelinya dan menuju kasir sambil
menendang bagian tumit sepatu Itsuki dengan ujung jari kakinya.
✧ ₊ ✦ ₊ ✧
“Jadi, aku
sudah melakukan beberapa penyelidikan.”
Beberapa
hari kemudian, dengan Chitose yang entah kenapa menjadi sangat bersemangat
setelah mendengar cerita dari Itsuki dan berkata, “Itu menarik! Ayo lakukan!”,
berhasil mendapatkan informasi tentang gaya rambut yang disukai Mahiru. Hari
ini adalah hari libur, dan Amane tidak ada kerjaan, jadi dirinya bisa
istirahat. Mahiru telah memesan salon kecantikan di pagi hari, jadi mereka
berpisah untuk sementara. Mereka berencana untuk bertemu di sore hari dan pergi
bersama.
Selama
kepergian Mahiru, Itsuki dan Chitose datang mengunjungi rumah Amane, atau lebih
tepatnya, mereka setengah memaksakan diri untuk datang, tetapi karena ia
meminta bantuan mereka, jadi Amane tidak bisa mengeluh.
“Kerja
bagus, aku memuji kerja kerasmu.”
Itsuki duduk
di sofa dengan santai, menyilangkan tangan dan mengangguk dengan bangga,
mungkin terlihat seperti tuan rumah bagi orang yang tidak mengenalnya. Padahal
dirinya jelas-jelas adalah tamu.
"Kenapa
malah Ikkun yang terlihat songong begitu....menurutku tidak baik jika orang
yang mengusulkan ini malah tidak melakukan apa-apa.”
“Kalau aku
yang bertanya, bukannya itu juga bakal kedengaran aneh?”
“Ya, memang
benar sih. Meskipun aku cukup dicurigai karena bertanya begituan, tapi aku
berhasil membuatnya terlihat alami. Aku melakukan pekerjaan yang baik.”
Chitose yang
bangga dengan tugasnya memang telah melakukannya dengan baik, jadi Amane tidak
bisa banyak berkomentar.
“Aku punya
banyak hal yang ingin kukatakan, tapi terima kasih. …Apa kamu benar-benar akan
melakukannya?”
Alasan
mengapa kedua orang ini repot-repot datang ke rumahnya di pagi hari hari libur
untuk merencanakan kejutan untuk Mahiru. Amane tidak tahu apa motivasi mereka
untuk melakukan ini, tetapi yang jelas mereka tampak bersemangat.
“Kami akan
melakukannya, demi melihat wajah bahagia Mahiru. Dan aku juga ingin melihat
penampilan Amane yang keren.”
“Kamu pasti
sedang bersenang-senang.”
“Bagaimana
mungkin aku tidak bersenang-senang? Aku tahu bagaimana rasanya tidak peduli
dengan penampilan dan hidup sembarangan. Sekarang semuanya berubah… Mama jadi senang.”
“Mana
mungkin aku memiliki orang tua seperti Chitose."
“Eh? Tapi
aku dan Shihoko-san cukup nyambung, lho.”
“…Oh, gitu
ya.”
“Jangan buat
wajah terkejut seperti itu.”
Memang benar
kepribadian riang Shihoko dan Chitose itu mirip, dan keduanya sama-sama sangat
menyukai Mahiru. Namun, jika Chitose mengklaim sebagai ibunya, tentu saja Amane
akan merasa tidak nyaman dan terganggu.
Amane memang
telah diperhatikan oleh Itsuki dan Chitose saat tumbuh dewasa, tapi itu
terpisah dari situasi ini. Ketika Amane mengisyaratkan untuk menghentikan
suasana itu, Chitose tampaknya mengerti bahwa jika dia terlalu berlebihan, Amane
akan mengusirnya, jadi dia berkata, “Baiklah, baiklah,” dengan nada pasrah.
“Jadi begini,
Mahirun bilang dia menyukai gaya rambut Amane yang sekarang, tapi dia juga suka
jika dahi Amane bisa terlihat.”
“Ah, begitu.”
Setelah
mendengar preferensi Mahiru yang diungkapkan oleh Chitose, Amane merasa anehnya
setuju. Memang, sepertinya Mahiru sering bereaksi terhadap penampilan Amane
yang menunjukkan dahi. Ketika dirinya menyisir rambut depan yang basah setelah
olahraga, atau saat mengangkat rambut setelah mandi, mungkin ada sesuatu yang
menarik ketika bagian yang biasanya tidak terlihat menjadi terlihat.
“Tapi jika
semua rambut ditarik ke belakang, itu akan terlihat terlalu kaku dan mungkin
keluar dari selera, jadi kurasa gaya rambut yang menunjukkan dahi lebih baik. Karena
wajahmu bisa terlihat jelas, jadi kesannya lebih cerah dan ceria.”
“Saat ini,
rambut depanku agak berat, jadi lebih terkesan dingin atau tenang daripada
cerah.”
“Kamu bisa
bilang itu gelap.”
“Kenapa kamu
jadi merendahkan diri di situ? …Ngomong-ngomong, apa Amane sengaja mempertahankan
rambut yang panjang karena tidak ingin dilihat orang?”
“…Mungkin
itu salah satu alasanku membiarkannya panjang. Mungkin aku ingin ada sesuatu
yang memisahkan.”
Sejak dulu, Amane
memang merawat rambutnya agak panjang, tetapi mulai mencoba menyembunyikan
matanya setelah insiden dengan Toujo. Pada waktu itu, dirinya mulai merasa
takut dan menghindari melihat orang lain, jadi ia berusaha untuk tidak
memasukkan orang lain ke dalam pandangannya. Akibatnya, rambut depannya jatuh
menutupi wajahnya.
Namun,
sekarang tidak ada masalah seperti itu dan dirinya sudah biasa berinteraksi dengan
orang lain, meskipun masih mempertahankan rambut panjangnya karena kebiasaan.
Selain itu, orang tuanya juga mengatakan bahwa penampilan wajahnya tidak cocok
dengan rambut yang terlalu pendek.
Melihat
wajah Chitose dan Itsuki tiba-tiba muram, Amane buru-buru menambahkan, “Itu
hanya cerita lama”. Meskipun mereka adalah teman yang saling peduli, tentu saja
mereka akan peduli jika mendengar hal-hal seperti itu, jadi Amane merasa kurang
peka.
“Apa
sekarang kamu sudah tidak merasa keberatan lagi?”
“Tidak, tapi…
apa ada gunanya menunjukkannya seperti ini? Pikirku begitu.”
“Bukankah
keuntungan terbesarnya adalah membuat Mahirun bahagia?”
“Kalau itu
sih benar.”
“Amane,
ketika alasan itu melibatkan Mahirun, penilaianmu langsung jadi tidak
konsisten, ya?”
“Diam.”
Amane tahu
betul bahwa dirinya terlalu bersikap lembut terhadap Mahiru, jadi rasanya
sedikit memalukan jika orang lain selalu mengingatkannya tentang hal itu.
“Oleh karena
itu, aku ingin Amane mencoba gaya rambut seperti ini."
Kemudian,
Chitose mengeluarkan foto seorang idola pria muda yang tampak sangat tampan.
Meskipun Amane tidak terlalu tertarik dengan dunia hiburan, ia memiliki
kenangan samar bahwa dirinya pernah melihatnya di televisi, menunjukkan bahwa
idola tersebut cukup terkenal.
Rambut yang
tampak lembut dengan pembagian tengah membentuk gaya yang segar, membuat wajah
terlihat jelas dan memberikan kesan yang cerah. Meskipun belum tentu cocok
untuk Amane, dirinya merasa gaya rambut seperti ini terasa baru dan menarik.
“Ah,
sepertinya ini sedang tren ya.”
“Aku sering melihatnya
di televisi. Aku memang belum pernah menggunakan gaya rambut seperti ini sebelumnya.”
“Karena
belum pernah dilihat sebelumnya, mungkin ada kesan yang berbeda dan bagus.
Selain itu, gaya rambut begini juga sesuai dengan selera Mahirun. Aku sudah
mendengarnnya langsung kalau dia ingin melihat gaya seperti ini.”
“…Aku
mengerti, tapi apa bakalan cocok?”
“Sepertinya
cocok, mungkin? Meskipun aku tidak tahu sih.”
“Kedengarannya
seperti taruhan saja.”
“Habisnya, kita
tidak akan tahu sampai mencobanya, ‘kan? Lagipula, kamu harus siap sebelum
waktu janjian dengan Mahirun, jadi mari kita kerjakan secepatnya. Aku
menyerahkan koordinasi pakaiannya pada Ik-kun. Lagian, aku merasa tidak nyaman
masuk ke dalam kamarnya.”
“Aku akan
mengurusnya.”
Dengan
dorongan lembut dari Itsuki, Amane dibawa ke dalam kamarnya dan mulai
mencari-cari di lemari pakaiannya. Meskipun dirinya bukan tipe yang terlalu
peduli dengan pakaian, setelah mulai memperhatikan penampilannya, Amane sudah
memiliki beberapa koleksi. Meskipun tidak sebanyak orang yang sangat suka
berbelanja, tapi standar jumlah minimalnya sudah meningkat.
Itsuki
membuka penyimpanan pakaian musim dingin dan melihat-lihat sambil sesekali
menoleh untuk memastikan ekspresi Amane saat memeriksa pilihan pakaian.
“Jika kamu
ingin memakai gaya rambut itu, sepertinya pakaian yang rapi kelihatan lebih
baik. …Apa ada stok pakaiannya?”
“Setidaknya
ada sih. Ibuku juga sering mengirimkan pakaian yang menurutnya cocok untukku. Penilaiannya
tidak pernah salah… sampai-sampai aku tidak mengerti lagi.”
Bagian yang
menakutkannya ialah Obunya benar-benar mengirimkan pakaian yang pas dan cocok
untuknya. Mungkin karena pekerjaannya, tetapi Shihoko selalu memilih ukuran
yang menonjolkan bentuk tubuh, jadi sebagai anaknya, itu cukup menakutkan.
Secara umum,
sebagian besar anak jarang sekali memaki pakaian yang dipilih orang tua mereka
karena sering kali dianggap memalukan atau tidak sesuai dengan selera. Namun,
karena penilaian orang tuanya yang berprofesi di bidang serupa, biasanya mereka
memiliki selera yang baik, jadi Amane merasa bersyukur dan menerima pakaian
tersebut.
“Kurasa Shihoko-san
mungkin lebih mirip Kido daripada Chii?”
“Hmm…
mungkin lebih ke arah yang tidak bisa dibagi."
“Sangat
mencolok.”
“Memang
mencolok… serius.”
Saat pertama
kali Itsuki memperkenalkan Chitose, apa itu karena Shihoko atau justru karena salah
Shihoko? Keadaan mental Amane saat itu yang dapat menerima Chitose sebagai
teman mungkin berkat ketahanan yang telah terbentuk, jadi bisa dibilang ada
rasa terima kasih di situ.
“Yah, mari
kita anggap sebagai ibu yang luar biasa. Tapi, sungguh, apa ya..."
“Apa?”
“Yah, hmm. Nyebelin
benget.”
“Hah?”
“Karena
tinggi badannya bertambah dan ototnya juga lebih banyak, jadi apapun yang kamu pakai
terlihat cukup bagus, sialan.”
“Oi, bukannya
sedari tadi kamu selalu menghinaku terus?”
Meskipun
Itsuki yang mengusulkan koordinasi pakaian, tapi Amane masih merasa sedikit
kesal dengan caranya mengatakan itu.
“Tinggi
badan adalah sesuatu yang tidak bisa kumiliki.”
“Kamu tidak
sependek itu kali...”
Memang benar
kalau badan Amane lebih tinggi, tetapi Itsuki tidak bisa dibilang pendek juga.
Justru, dirinya termasuk pria yang tinggi.
“Aku butuh
tambahan tiga sentimeter lagi!”
“Itu sih tidak
mungkin.”
“Sialan...”
Sepertinya
ia sudah hampir tidak bisa tumbuh lagi, jadi menambah tiga sentimeter dari sini
akan menjadi tantangan yang cukup sulit, jadi Amane sendiri tidak tahu apa itu
mungkin.
Sebagai
seseorang yang cukup tinggi, Amane merasa tidak ada gunanya terlalu besar,
tetapi jika mengatakannya bisa memicu perang, ia memutuskan untuk diam dan
hanya mengamati Itsuki yang memilih pakaian dengan wajah cemberut.
✧ ₊ ✦ ₊ ✧
Jika
berbicara tentang gaya, jelas Itsuki lebih unggul, jadi Amane yang tidak
percaya diri dengan seleranya memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada
Itsuki dan berperan sebagai manekin selama beberapa belas menit, lalu ia
mengganti pakaian yang disetujui oleh Itsuki.
Meskipun
demikian, ia tidak memiliki banyak pilihan pakaian, jadi dirinya hanya berusaha
memilih yang terbaik dari yang terbatas.
Setelah
merasa cukup dengan pakaian yang dikenakannya, Amane hanya perlu merapikan
rambut... dan saat keluar dari kamar, ia ditangkap oleh Itsuki dan Chitose yang
sudah menunggu.
“Chii,
giliranmu.”
“Ya ya.”
“…Apa yang
akan kamu lakukan? Kamu cuma akan menata rambutku seperti ini saja, ‘kan?”
“Yah? Meriasmu
lah.”
“Pantes saja
kamu membawa banyak barang bawaan...”
Amane merasa
tas Chitose terlalu besar saat dia mengunjungi rumahnya. Ternyata itu adalah perlengkapan
riasan dan bukan hanya untuk menata rambut. Meskipun Amane tidak keberatan
dengan makeup, ia bingung karena hampir tidak pernah melakukannya sendiri.
Saat Chitose
membalas tatapannya, dia mengedipkan mata nakal yang penuh keceriaan.
“Mumpung ada
kesempatan begini, mari kita berusaha lebih. Sedikit riasan saja bisa
memberikan kesan yang baik. Aku akan memberikan riasan yang memanfaatkan karakteristik
bahan.”
“Yah, tidak
apa-apa sih... tapi memangnya wajahku bisa berubah sebanyak itu?”
“Kamu
meremehkan riasan, ya. Kurasa Amane adalah tipe yang cocok dengan riasan, atau
lebih tepatnya, kamu sudah pernah melakukannya.”
“Bukannya
itu karena kamu yang melakukannya tanpa izin...?”
Amane
berusaha untuk tidak mengingat kembali kenangan yang tidak ingin diingat,
sementara Chitose menunjukkan senyuman yang sama sekali tidak menunjukkan
penyesalan.
“Rasanya
imut banget ya, kan?”
“Aku ingin
menghapusnya dari ingatanku.”
“Jangan,
jangan coba-coba menangkap wajahku seperti itu. Aku ikut terlibat, loh.”
Saat Amane
mengulurkan tanganku untuk menghapus ingatan Itsuki demi bagian Chitose juga,
Itsuki melawan dengan meraih lengannya dan menarik Amane ke sofa untuk duduk.
Mungkin
karena tidak suka dengan cengkeraman yang kuat, tetapi juga untuk mencegah Amane
melarikan diri.
Amane sudah
memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada mereka, jadi dirinya tidak berniat
untuk kabur, tetapi tetap saja, ia bersikap waspada. Chitose mengeluarkan
alat-alat dari tasnya dengan riang, dan Amane pun akhirnya menyerah dan melepas
ketegangan dari tubuhnya.
✧ ₊ ✦ ₊ ✧
“Hmm, tidak
ada kesan anak introvert sama sekali.”
Dan begitulah
tanggapan Itsuki saat melihat Amane yang sudah selesai dengan gaya rambut dan riasannya
yang rapi.
“Itu pujian?”
“Ya iyalah,
aku sedang memujimu, kok.”
Meskipun pujiannya
tidak bisa dipercayai, tapi kedua temannya hanya tersenyum lebar.
“Karena penampilanmu
memberikan santai, rasanya jadi membuat orang yang mengenalmu pasti akan
keheranan dengan ‘siapa sih orang ini’? Amane yang biasanya ceria dan
segar tiba-tiba muncul.”
“Ngakak
banget.”
“Kamu malah
menikmati ini, ya?”
“Ya, karena
aku tahu Amane yang biasanya sih. Kalau kamu menunjukkan senyuman menawan
kepada Shiina-san, itu akan sempurna.”
“Aku tidak
akan menunjukkan itu kepada kalian.”
Senyuman itu
bukan sesuatu yang sengaja dikeluarkan, dan jika senyuman itu muncul, Amane
bisa melihat masa depan di mana dirinya akan diejek habis-habisan, jadi Amane
tidak ingin menunjukkan itu kepada kedua orang ini.
Namun, dua
sejoli itu justru berseru, “waduduh” sambil tertawa serempak, membuat Amane
merasa sangat terganggu dan menghela napas dengan jelas.
“Sudahlah,
itu tidak penting. Terima kasih atas bantuannya. Aku tidak tahu apa Mahiru akan
senang, tetapi sesekali mengganti suasana tidak ada salahnya, kan?"
“Aku yakin
dia akan senang.”
“Setidaknya
dia akan senang mengetahui pacarnya berusaha untuk tampil menarik untuknya.
Dari situ, kamu sudah bisa mendapatkan tambahan poin.”
“Semoga
sesuai dengan seleranya.”
Seperti yang
dikatakan Itsuki, Mahiru pasti akan senang mengetahui bahwa Amane berusaha
untuk tampil menarik demi dirinya. Poin tambahan setelah itu juga penting, dan Amane
ingin membuat Mahiru semakin bahagia.
Amane tidak
sepenuhnya memahami preferensi Mahiru terhadap penampilan, tetapi berkat
bantuan kedua temannya, ia merasa penampilannya sudah cukup baik. Yang tersisa
hanyalah apakah itu sesuai dengan selera Mahiru.
Sambil
berusaha menjaga gaya rambutnya, Amane mencubit poni dan Chitose yang tampaknya
puas dengan hasilnya berkata, “Daripada merasa bimbang, lebih baik bertindak!
Ayo, berangkat!" Amane tersenyum kecil dan berterima kasih atas
dorongannya sebelum berdiri.
✧ ₊ ✦ ₊ ✧
Setelah
berpisah dengan Itsuki dan Chitose yang dengan sukarela membantu membawakan
barang berat di hari libur, Amane menuju tempat ketemuan.
Ngomong-ngomong,
Itsuki dan yang lainnya sepertinya akan pergi berkencan setelah menaruh
barang-barang mereka di rumah. Amane merasa sedikit bersalah karena mengganggu
rencana mereka, tetapi dirinya sangat senang atas bantuan yang diberikan dan
berencana untuk mentraktir mereka lain kali.
Karena masih
ada waktu sebelum pertemuan dengan Mahiru, jadi Amane tidak terburu-buru,
tetapi rasa ingin segera menunjukkan penampilannya mempengaruhi langkahnya,
sehingga ia berjalan lebih cepat dari biasanya.
Meskipun Amane
sudah berhati-hati agar gaya rambutnya tidak rusak, ia masih tetap merasa
khawatir dan kadang-kadang berhenti sejenak untuk memeriksa bayangannya di
etalase toko sebelum melanjutkan, jadi secara keseluruhan, dirinya tidak
berjalan terlalu cepat.
Amane
menyadari bahwa ia merasa gelisah lebih dari biasanya dan tertawa pada dirinya
sendiri, tetapi dirinya juga menyadari bahwa ia tidak membenci perasaannya yang
seperti ini, yang membuatnya tertawa lagi.
Ingin
terlihat lebih baik di hadapan orang yang disukai adalah hal yang wajar, tetapi
tetap saja, itu membuatnya merasa geli. Namun, Amane tidak merasa
terganggu.
Amane
merenungkan seberapa banyak dirinya telah berubah, mengingat dirinya yang dulu
tidak suka bergaul dengan orang lain, dan tersenyum pahit saat tiba di tempat
pertemuan, di mana Mahiru sudah menunggu dengan punggung menghadapnya, mungkin
karena sudah selesai dari salon. Dia tidak mungkin salah mengenali tubuhnya
yang ramping dan rambut pirang keemasan yang lebih berkilau dari biasanya.
Setelah
berhenti sejenak untuk melihat jam tangannya, Amane menyadari bahwa mereka
masih punya waktu tiga puluh menit lebih awal dari waktu janjian. Merasa
sedikit bersalah karena Mahiru datang lebih awal, Amane berpikir keras tentang
cara untuk menyapa.
Karena ingin
sedikit mengejutkan Mahiru, jadi Amane memikirkan sebuah lelucon kecil yang
mungkin bisa dilakukannya.
Amane
berpikir bahwa Mahiru mungkin bisa melihat melalui leluconnya, jadi dirinya
mendekati dengan hati-hati agar tidak membuat suara, dan melihat rambut
pirangnya yang tertiup angin dengan dekat. Ia kemudian perlahan membuka
mulutnya.
“Hei, Nona
yang cantik di sana, sepertinya kamu sedang tidak sibuk nih. Jika tidak
keberatan, maukah kamu minum teh bersamaku?”
Dengan suara
yang berbeda dari biasanya, lebih manis dan ringan, Amane menyapa punggung
kecil Mahiru, yang kemudian berbalik.
Mahiru
menampilkan senyuman yang jelas-jelas formal, senyuman indah yang
menyembunyikan perasaan terganggu, dan sebelum dia bisa mengucapkan kata
penolakan, dia terdiam.
Tatapannya
terfokus pada wajah Amane.
“Sepertinya
kamu masih punya waktu sekitar tiga puluh menit. Jika kamu mau, bisakah kamu
meluangkan waktu untukku?”
Kali ini, Amane
bertanya dengan suara lembutnya yang seperti biasanya.
Mahiru yang
terdiam hanya membuka bibirnya sedikit, melihat Amane dengan tatapan bingung,
bahkan bisa dibilang menatapnya lekat-lekat.
Melihat
reaksinya yang begitu, Amane menyadari bahwa ini adalah perubahan yang cukup
signifikan bagi Mahiru, dan senyuman pun muncul di wajahnya.
“Hari ini
aku sedikit dibantu oleh Itsuki dan Chitose untuk berdandan. Kamu pasti melihat
perbedaannya, ‘kan?”
Di bawah
pengawasan Itsuki dan Chitose yang memperhatikan penampilan, jadi penampilan Amane
terlihat lebih baik hari ini.
Rambutnya
yang biasanya disisir lurus ke depan, dibelah di tengah sehingga dahinya
terlihat, memberikan tampilan yang lembut dan lapang sekaligus memberikan kesan
bulat pada keseluruhannya, menciptakan kesan ringan dan elegan tanpa terlalu
berlebihan.
Wajahnya
yang semakin terlihat jelas, kemudian dipoles semakin menarik dengan teknik riassan
Chitose.
Meski
begitu, sepertinya Chitose tidak terlalu mengubah wajahnya; dia hanya
menyembunyikan pori-pori dan melakukan sedikit highlight dan shading,
yang membuatnya terlihat lebih bersih dan memiliki wajah yang lebih tirus.
Untuk
pakaiannya, Amane mengenakan mantel wol panjang yang berkualitas baik dengan turtleneck,
serta celana lebar yang disesuaikan agar tidak terlalu sempit, menciptakan
kesan yang nyaman dan stylish. Meskipun ia mengenakan warna monokrom, warnanya tidak
terlalu gelap, dirinya juga menambahkan warna pada celana dan syal untuk
memberikan sedikit kecerahan pada penampilannya.
Itsuki
mengatakan bahwa saat ini trennya adalah jaket bomber dan pakaian kasual,
tetapi karena Amane memiliki postur yang tinggi, mantel panjang sangat cocok
untuknya. Justru inilah yang membuatnya terlihat lebih stylish, jadi Amane
menyerahkan sepenuhnya pilihan ini kepada Itsuki.
Hasilnya,
penampilan yang sederhana namun menggabungkan elemen kasual dan rapi, sehingga
jika hanya dilihat dari pakaian, Amane merasa tidak akan terlihat kalah jika
berdiri di samping Mahiru. Ia merasa penampilannya cukup cocok, tetapi Amane
tidak yakin apakah itu sesuai dengan selera Mahiru. Lagipula, saat ini Mahiru
tampak terdiam, jadi sulit untuk menilai seberapa cocok penampilannya
menurutnya.
“...Apa ini...
kelihatan aneh?”
“Tentu saja
tidak!”
“Whoa, aku
terkejut.”
Saat Amane
semakin cemas dan bertanya dengan hati-hati, tampaknya Mahiru yang sebelumnya
kaku kini mulai bergerak dan dengan semangat menggelengkan kepala menandakan
penolakannya, sehingga membuat Amane terkejut.
“Kamu
kelihatan sangatttttttt cocok sekali! Siapa yang menyarankan ini? Chitose-san,
ya? Pasti Chitose-san, ‘kan? Kalau dipikir-pikir lagi, dia sudah banyak
menanyaiku sebelumnya!”
“Tenang,
tenang. Lagipula, aku yang memutuskan untuk berdandan ini karena aku ingin
mengenakan pakaian yang disukai Mahiru. Aku ingin melihat wajah bahagiamu,
tapi... apa itu enggak boleh?”
Amane
mengamati Mahiru, dan setelah mengeluarkan suara manis “uuuu”, Mahiru mengeluh,
“Bagian yang begitu curang...”
“Kenapa kamu
tidak bilang sebelumnya? Jika kamu bilang, aku juga bisa berdandan lebih
baik...”
“Aku pikir
kamu sudah cukup berdandan.”
“Usahanya
saja yang berbeda! Seharusnya aku memakai yang lebih imut... Padahal ada baju
yang baru kubeli...”
“Kupikir
yang kamu pakai hari ini juga imut. Kamu selalu imut.”
Hari ini
sepertinya Mahiru memilih pakaian yang mudah dikenakan untuk pergi ke salon,
tetapi tetap saja, yang imut tetaplah imut. Sebenarnya, tidak ada hari di mana
Mahiru tidak terlihat imut, jadi bisa dibilang dia selalu imut.
Tapi karena dia
pergi ke salon hari ini, jadi ada sedikit perubahan dalam penampilannya yang
imut.
“Apa kamu
memotong ponimu sedikit? Cocok sekali. Lebih halus dari biasanya dan sedikit
keriting juga terlihat imut.”
Sepertinya Mahiru
tidak memotong rambutnya secara drastis, hanya merapikannya, tetapi Amane yang
melihatnya setiap hari bisa merasakan perubahannya. Dirinya ingat bahwa Mahiru
pernah bilang ingin memotong poninya, dan sekarang poni yang sedikit panjang
itu terlihat lebih rapi, memberikan kesan yang lebih cerah.
Rambutnya
yang indah berkat perawatan yang teliti, kini lebih halus dan kutikulanya bisa
terlihat sempurna. Meskipun biasanya sudah halus dan berkilau, hasil dari salon
membuatnya terlihat lebih cantik, dan Amane menyadari betapa hebatnya salon
tersebut.
Ketika Amane
mengungkapkan pikirannya dengan tulus, Mahiru dengan malu-malu memukul lengan Amane,
tetapi dia kembali terdiam saat melihat wajah Amane, terjebak dalam siklus
mengeluarkan suara.
Setidaknya,
dirinya bisa menganggap bahwa Mahiru senang.
“Maaf, aku
tidak menyangka kamu akan begitu senang.”
“Tentu saja aku
merasa sangat senang!”
“Ya, aku
senang mendengarnya. Aku jadi mengerti perasaanmu saat berdandan, dan aku jadi
sadar betapa kerasnya kamu berusaha. Tentu saja aku tahu kamu melakukannya
untuk dirimu sendiri, tetapi tetap saja, itu membuatku senang.”
Amane tidak
berpikir bahwa Mahiru melakukan semuanya hanya untuknya saja. Dirinya tahu
bahwa Mahiru memperhatikan penampilannya untuk menjaga harga diri dan minat
pribadinya. Namun, ketika memikirkan bahwa usaha tersebut juga diperuntukkan
bagi Amane, rasa sayangnya terhadap Mahiru semakin dalam, dan ia merasa sangat
senang karena merasa diperhatikan seperti itu.
Meskipun
Amane tidak terlalu tertarik pada mode dibandingkan orang lain, tapi melihat
Mahiru yang senang membuatnya ingin berusaha lebih keras. Amane merasa seolah
mendapatkan motivasi baru.
“Terima
kasih selalu,” katanya sambil tersenyum kepada Mahiru yang berusaha tampil imut
hari ini. Mahiru segera menempel pada lengan Amane dan mulai bergetar.
“Ugh, uuuuh.”
“Emosimu
tampaknya tidak stabil hari ini ya.”
“Memangnya
itu salah siapa coba?”
“Salahku. Apa
aku kelihatan cocok?”
“Cocok
banget... uuuuh.”
"Hari
ini getaran Mahiru sangat kuat, ya.”
“Siapa yang
menyebabkan ini?"
“Salahku.
Oh, mungkin juga berkat Chitose dan yang lainnya?”
Mahiru yang
sangat senang seperti ini berkat bantuan Itsuki dan Chitose, dan Amane merasa
berutang budi kepada mereka.
“...Aku
harus berterima kasih kepada mereka nanti.”
“Benar,
mereka begitu peduli pada kita. ...Meskipun setengahnya mungkin karena mereka
menganggap ini lucu, tetap saja aku berterima kasih pada mereka.”
Amane sangat
terbantu oleh niat baik mereka, jadi ia benar-benar menghargainya. Meskipun
begitu, dirinya berharap mereka tidak terus-menerus mengganggunya, tapi Amane merasa
bahwa mengatakan itu kepada mereka jua bakalan sia-sia.
Sebenarnya, Amane
tidak membencinya, dan meskipun begitu, dirinya merasa cukup senang, tapi ia
masih merasa sulit untuk mengatakannya kepada mereka.
“Mungkin
lain kali kita harus mentraktir Chitose-san makanan super pedas.”
“Tergantung
bagaimana kamu melihatnya, ini lebih seperti hukuman.”
“Fufufu,
tapi itu hadiah bagi Chitose-san. Lalu, bagaimana dengan Akazawa-san?”
Sambil
berpikir tentang cara berterima kasih kepada para pahlawan hari ini, Amane
mengulurkan tangan untuk memulai kencan lebih awal, dan kali ini Mahiru
tersenyum malu-malu tanpa ragu, mengaitkan jari-jemarinya dengan jari Amane.
