Otonari no Tenshi-sama Volume 11.5 Chapter 8 Bahasa Indonesia

 

Chapter 8 — Strategi Perubahan Amane

 

Amane bukanlah orang yang terlalu peduli dengan penampilannya. Tentu saja, ia cukup memperhatikan kebersihan dan melakukan perawatan minimal, tapi dirinya tidak berpikir untuk melakukan lebih dari itu. Dirinya tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus, dan selama dirinya bersih dan tidak mengganggu orang lain, dirinya merasa baik-baik saja menjalani kehidupan sebagai pelajar. Amane tidak pernah kepikiran untuk menarik perhatian orang lain.

Segalanya langsung berubah setelah dirinya jatuh cinta pada Mahiru. Sejak mulai ingin berdiri di samping Mahiru, Amane merasakan bahwa jika ia tetap seperti sebelumnya, keberadaannya hanya akan mempermalukan Mahiru. Amane merasa tidak berdaya dan malu. Oleh karena itu, demi menjadi sosok yang tidak memalukan, Amane mulai berolahraga dan memperhatikan perawatan kulitnya. Dirinya juga mulai memilih pakaian yang lebih layak.

Ia tidak melakukan semuanya hanya demi Mahiru. Semua upayanya semata-mata demi dirinya sendiri, agar bisa merasa bangga berada di sampingnya. Meskipun sekarang mereka sudah berpacaran, usaha tersebut terus berlanjut, bahkan semakin giat. Selain ingin tidak memalukan dirinya sendiri, ada juga keinginan untuk membuat Mahiru senang.

“Apa kamu tertarik dengan majalah seperti itu?”

Saat melihat-lihat di bagian majalah setelah membeli buku referensi, Amane mengambil majalah dengan sampul fashion pria. Itsuki yang datang bersamanya untuk membeli buku, terlihat terkejut. Karena Amane dikenal tidak peduli dengan penampilannya, wajar saja jika Itsuki merasa keheranan.

Ketika dirinya membolak-balik halaman majalah, ada berbagai macam koordinasi mode yang sedang tren dan juga fitur tentang gaya rambut yang belum pernah dicobanya. Amane jadi berpikir, “Jadi, gaya yang rumit seperti ini sedang tren sekarang, ya? Apa Mahiru suka gaya rambut seperti apa?” Melihat Itsuki mulai tersenyum, Amane menutup majalah itu.

“Ini bukan soal ketertarikan sih, tapi Mahiru itu sangat menyukaiku, ‘kan?”

“Uwahh, lagi-lagi muncul, membual hubunganmu.”

“Tidak, aku hanya menyatakan fakta. Lagipula, kamu juga tahu bahwa Mahiru menyukaiku.”

Meskipun terasa memalukan untuk diakui, Mahiru memang menyukai Amane. Dirinya sangat disukai dan dicintai, dan itu diakui oleh semua orang.

“Aku tahu Mahiru menyukaiku. Ketika sampai pada pertanyaan di mana dia menyukainya, mungkin dia menyukai diriku dari segi kepribadian, dan itulah yang sering dikatakannya. Namun, selain itu, dia juga menyukai penampilanku.”

“Ya, ada kesan bahwa jika seseorang jatuh cinta pada Shiina-san, dia akan jatuh cinta pada segalanya."

“Kurasa ada bias karena cinta, tetapi tetap saja, senang mendengar bahwa dia menyukaiku.”

Meskipun merasa sedikit, bahkan cukup, terkesan berlebihan, tampaknya Mahiru juga menyukai penampilan Amane. Sejak Amane mulai memperhatikan penampilannya, ketertarikan Mahiru terhadapnya semakin meningkat. Ketika Amane mengenakan pakaian yang lebih rapi, Mahiru mulai tersenyum dan mengambil foto, menunjukkan bahwa dia memang menghargai penampilan Amane.

Jika Mahiru mengatakan bahwa dia menyukai penampilan Amane, tidak ada salahnya bagi Amane untuk berusaha agar Mahiru semakin menyukainya dalam batas kemampuannya.

“Apa aneh jika aku ingin mewujudkan apa yang disukai Mahiru?”

“Tidak, sama sekali tidak. Aku hanya berpikir kamu orang yang rajin.”

“Syukurlah kalau begitu. Aku tidak berpikir Mahiru akan menyukaiku tanpa usaha. Lagipula, aku ingin menjadi pria yang bisa berdiri dengan percaya diri di samping Mahiru dan membuatnya senang.”

Meskipun Mahiru mungkin menyukai Amane dalam penampilan santainya, dia tidak akan terus menyukainya dengan semangat yang sama jika Amane tidak berusaha. Dia mungkin akan mulai merasa jenuh terhadap sifat-sifat tersebut.

Selain itu, jika dirinya berdiri di samping Mahiru dengan penampilan yang sembarangan, Amane tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri. Yang terpenting, Amane suka melihat Mahiru bahagia, jadi usaha kecil ini tidak terasa berat baginya, bahkan tidak dianggap sebagai usaha.

“Uwah~”

“Apa-apaan dengan ‘uwah~’ itu?”

“Bukan apa-apa kok~, aku hanya merasa dipenuhi cinta saja~.”

“Jika orang lain bisa merasakannya, maka sepertinya Mahiru juga bisa merasakannya.”

Amane berusaha untuk menyampaikan perasaan suka kepada Mahiru baik dengan kata-kata maupun sikap, tetapi seberapa banyak yang sebenarnya tersampaikan hanya bisa diketahui dengan bertanya langsung kepada Mahiru. Namun, setidaknya jika orang lain melihatnya seperti itu, Amane merasa bahwa perasaannya mungkin sudah tersampaikan kepada Mahiru, jadi dirinya bisa merasa tenang.

Saat Amane mengabaikan komentar Itsuki yang setengah bercanda, Itsuki mengerutkan alisnya sedikit, mengarahkan tatapan campuran antara keheranan dan sedikit dingin padanya.

“Apa-apaan dengan raut wajahmu yang kelihatan tidak terhibur dan tidak tertarik pada lelucon?”

“Kamu tahu sendiri, ‘kan?”

“’Jangan berpikir aku akan terus-menerus dijadikan bahan lelucon’ maksudmu begitu?”

Jika ada orang yang selalu mengolok-olok hubungannya dengan Mahiru, lama-kelamaan Amane akan terbiasa.

“Jadi, aku ingin mencari penampilan yang sangat disukai Mahiru. Aku tidak selalu mengubah gaya rambutku, jadi aku berpikir untuk belajar dari hal-hal seperti ini.”

Amane awalnya tidak memiliki selera fashion yang baik dan hanya memiliki pengetahuan serta keterampilan untuk menyesuaikan gaya rambut sesuai dengan situasi. Oleh karena itu, dirinya berpikir untuk mencoba sesuatu yang baru.

Dirinya ingin mencoba gaya rambut yang sesuai dengan panjang dan ketebalan rambutnya, dan jika berhasil, ia ingin menunjukkan hasilnya kepada Mahiru. Namun, usai mendengar itu, Itsuki menyipitkan matanya dan menunjukkan ekspresi yang sedikit penuh iba.

“Aku jadi merasa kasihan dengan Shiina-san.”

“...Apa kamu ingin mengatakan kalau seharusnya aku memberi perhatian padanya langsung daripada mengkhawatirkan hal seperti ini?"

“Tidak, aku hanya berpikir itu pasti sulit baginya, karena pacarnya sedang mencoba menghentikan jantungnya.”

“Itu agak berlebihan.”

Amane merasa bahwa Mahiru takkan begitu terkejut hanya karena ia mengubah gaya rambutnya, tetapi tampaknya Itsuki tidak setuju dengan pandangannya.

“Meski aku tahu Shiina-san sangat menyukaimu, rasanya seperti kamu ingin mengejutkannya,” kata Itsuki.

“Jadi itu buruk?”

“Itu bukan hal yang buruk, mungkin itu hal yang baik, tapi… entah bagaimana, kamu memang orang yang jika sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu, kamu pasti melakukannya.”

“Ya, tentu saja. Jika aku melakukannya, aku akan melakukannya dengan baik.”

“Jika kamu benar-benar merawat penampilanmu, kurasa Shiina-san bakalan kerepotan.”

“Memangnya sampai segitunya? Kurasa dengan penampilan yang biasa saja sudah cukup.”

Amane tahu bahwa Mahiru mencintainya dengan tulus dan menyukai penampilannya, jadi pendapatnya ini berasal dari kesadaran itu, namun ia tetap tidak percaya bahwa perubahan penampilan Amane akan begitu signifikan. Ia berpikir bahwa hanya dengan memotong rambutnya saja tidak akan mengubah kesan yang terlalu besar. Sambil menyisir rambutnya yang sudah dirawat dengan baik berkat bantuan Mahiru, Amane mendengar Itsuki bergumam “Cowok ini...” dengan erangan kecil.

“Apa?”

“…Tidak, aku hanya ingin bilang. Kamu, sebenarnya wajahmu cukup ganteng, tau? Tapi jangan bandingkan dengan Yuuta. Ia mirip seperti orang dari Universitas Tokyo.”

“Kalau kamu yang bilang, aku jadi merinding, tapi terima kasih. Itu semua berkat gen orang tuaku.”

Walaupun Amane jarang menempatkan dirinya di kategori tampan, dirinya sadar bahwa ia mewarisi darah Shuuto dan Shihoko yang berpenampilan menarik, jadi ia merasa penampilannya lumayan. Namun, Amane tetap merasa bahwa dirinya tidak berada di level yang sama dengan Yuuta, dan sebenarnya Itsuki juga orang yang bisa dianggap tampan, jadi wajar jika Amane merasa tidak nyaman dengan komentarnya.

Itsuki sepertinya menangkap keraguan Amane dan berkata, “Inilah sebabnya kenapa kamu disebut enggak pekaan.”

“Jadi, jika kamu merawat dirimu sesuai dengan selera Shiina-san dan dia sangat menyukainya, dia akan meledak.”

“Meledak?”

“Dia mungkin akan terdiam sejenak dan tidak bergerak. Sepertinya dia sangat rentan terhadap kejutan.”

“Dia memang sangat rentan terhadap kejutan.”

Meskipun Amane tidak ingin membahas tentang penilaian wajahnya, Mahiru memang sangat lemah ketika dihadapkan pada kejutan, meskipun dia biasanya sangat menjaga pertahanan diri. Ketika terkejut, dia bisa langsung menjadi lemah dan tidak berdaya. Inilah kelemahan yang muncul karena cinta Mahiru yang begitu dalam terhadap Amane, dan itu membuat Amane sedikit khawatir.

“Kadang-kadang aku merasa kasihan pada Shiina-san… memiliki pacar seperti ini...”

“Maaf banget ya. Aku berusaha membuatnya bahagia dengan caraku sendiri.”

“Asal jangan berlebihan saja… Shiina-san itu orang yang rendah hati, jadi sedikit saja bisa membuatnya meledak.”

“Dibilang meledak begitu rasanya agak bagaimana...”

“Dan kamu harusnya lebih sadar akan hal itu.”

“Aku sudah cukup paham tentang apa yang disukai Mahiru, jadi aku akan lebih berhati-hati.”

“Itu memang benar, tapi tidak sepenuhnya."

“Eh…?”

Amane mengarahkan tatapan bingung ke arah Itsuki, tetapi Itsuki hanya mengangkat bahu dengan ekspresi yang jelas menunjukkan keheranan. Amane pun memutuskan untuk mengambil beberapa majalah yang ingin dibelinya dan menuju kasir sambil menendang bagian tumit sepatu Itsuki dengan ujung jari kakinya.

 

 

“Jadi, aku sudah melakukan beberapa penyelidikan.”

Beberapa hari kemudian, dengan Chitose yang entah kenapa menjadi sangat bersemangat setelah mendengar cerita dari Itsuki dan berkata, “Itu menarik! Ayo lakukan!”, berhasil mendapatkan informasi tentang gaya rambut yang disukai Mahiru. Hari ini adalah hari libur, dan Amane tidak ada kerjaan, jadi dirinya bisa istirahat. Mahiru telah memesan salon kecantikan di pagi hari, jadi mereka berpisah untuk sementara. Mereka berencana untuk bertemu di sore hari dan pergi bersama.

Selama kepergian Mahiru, Itsuki dan Chitose datang mengunjungi rumah Amane, atau lebih tepatnya, mereka setengah memaksakan diri untuk datang, tetapi karena ia meminta bantuan mereka, jadi Amane tidak bisa mengeluh.

“Kerja bagus, aku memuji kerja kerasmu.”

Itsuki duduk di sofa dengan santai, menyilangkan tangan dan mengangguk dengan bangga, mungkin terlihat seperti tuan rumah bagi orang yang tidak mengenalnya. Padahal dirinya jelas-jelas adalah tamu.

"Kenapa malah Ikkun yang terlihat songong begitu....menurutku tidak baik jika orang yang mengusulkan ini malah tidak melakukan apa-apa.”

“Kalau aku yang bertanya, bukannya itu juga bakal kedengaran aneh?”

“Ya, memang benar sih. Meskipun aku cukup dicurigai karena bertanya begituan, tapi aku berhasil membuatnya terlihat alami. Aku melakukan pekerjaan yang baik.”

Chitose yang bangga dengan tugasnya memang telah melakukannya dengan baik, jadi Amane tidak bisa banyak berkomentar.

“Aku punya banyak hal yang ingin kukatakan, tapi terima kasih. …Apa kamu benar-benar akan melakukannya?”

Alasan mengapa kedua orang ini repot-repot datang ke rumahnya di pagi hari hari libur untuk merencanakan kejutan untuk Mahiru. Amane tidak tahu apa motivasi mereka untuk melakukan ini, tetapi yang jelas mereka tampak bersemangat.

“Kami akan melakukannya, demi melihat wajah bahagia Mahiru. Dan aku juga ingin melihat penampilan Amane yang keren.”

“Kamu pasti sedang bersenang-senang.”

“Bagaimana mungkin aku tidak bersenang-senang? Aku tahu bagaimana rasanya tidak peduli dengan penampilan dan hidup sembarangan. Sekarang semuanya berubah… Mama jadi senang.”

“Mana mungkin aku memiliki orang tua seperti Chitose."

“Eh? Tapi aku dan Shihoko-san cukup nyambung, lho.”

“…Oh, gitu ya.”

“Jangan buat wajah terkejut seperti itu.”

Memang benar kepribadian riang Shihoko dan Chitose itu mirip, dan keduanya sama-sama sangat menyukai Mahiru. Namun, jika Chitose mengklaim sebagai ibunya, tentu saja Amane akan merasa tidak nyaman dan terganggu.

Amane memang telah diperhatikan oleh Itsuki dan Chitose saat tumbuh dewasa, tapi itu terpisah dari situasi ini. Ketika Amane mengisyaratkan untuk menghentikan suasana itu, Chitose tampaknya mengerti bahwa jika dia terlalu berlebihan, Amane akan mengusirnya, jadi dia berkata, “Baiklah, baiklah,” dengan nada pasrah.

“Jadi begini, Mahirun bilang dia menyukai gaya rambut Amane yang sekarang, tapi dia juga suka jika dahi Amane bisa terlihat.”

“Ah, begitu.”

Setelah mendengar preferensi Mahiru yang diungkapkan oleh Chitose, Amane merasa anehnya setuju. Memang, sepertinya Mahiru sering bereaksi terhadap penampilan Amane yang menunjukkan dahi. Ketika dirinya menyisir rambut depan yang basah setelah olahraga, atau saat mengangkat rambut setelah mandi, mungkin ada sesuatu yang menarik ketika bagian yang biasanya tidak terlihat menjadi terlihat.

“Tapi jika semua rambut ditarik ke belakang, itu akan terlihat terlalu kaku dan mungkin keluar dari selera, jadi kurasa gaya rambut yang menunjukkan dahi lebih baik. Karena wajahmu bisa terlihat jelas, jadi kesannya lebih cerah dan ceria.”

“Saat ini, rambut depanku agak berat, jadi lebih terkesan dingin atau tenang daripada cerah.”

“Kamu bisa bilang itu gelap.”

“Kenapa kamu jadi merendahkan diri di situ? …Ngomong-ngomong, apa Amane sengaja mempertahankan rambut yang panjang karena tidak ingin dilihat orang?”

“…Mungkin itu salah satu alasanku membiarkannya panjang. Mungkin aku ingin ada sesuatu yang memisahkan.”

Sejak dulu, Amane memang merawat rambutnya agak panjang, tetapi mulai mencoba menyembunyikan matanya setelah insiden dengan Toujo. Pada waktu itu, dirinya mulai merasa takut dan menghindari melihat orang lain, jadi ia berusaha untuk tidak memasukkan orang lain ke dalam pandangannya. Akibatnya, rambut depannya jatuh menutupi wajahnya.

Namun, sekarang tidak ada masalah seperti itu dan dirinya sudah biasa berinteraksi dengan orang lain, meskipun masih mempertahankan rambut panjangnya karena kebiasaan. Selain itu, orang tuanya juga mengatakan bahwa penampilan wajahnya tidak cocok dengan rambut yang terlalu pendek.

Melihat wajah Chitose dan Itsuki tiba-tiba muram, Amane buru-buru menambahkan, “Itu hanya cerita lama”. Meskipun mereka adalah teman yang saling peduli, tentu saja mereka akan peduli jika mendengar hal-hal seperti itu, jadi Amane merasa kurang peka.

“Apa sekarang kamu sudah tidak merasa keberatan lagi?”

“Tidak, tapi… apa ada gunanya menunjukkannya seperti ini? Pikirku begitu.”

“Bukankah keuntungan terbesarnya adalah membuat Mahirun bahagia?”

“Kalau itu sih benar.”

“Amane, ketika alasan itu melibatkan Mahirun, penilaianmu langsung jadi tidak konsisten, ya?”

“Diam.”

Amane tahu betul bahwa dirinya terlalu bersikap lembut terhadap Mahiru, jadi rasanya sedikit memalukan jika orang lain selalu mengingatkannya tentang hal itu.

“Oleh karena itu, aku ingin Amane mencoba gaya rambut seperti ini."

Kemudian, Chitose mengeluarkan foto seorang idola pria muda yang tampak sangat tampan. Meskipun Amane tidak terlalu tertarik dengan dunia hiburan, ia memiliki kenangan samar bahwa dirinya pernah melihatnya di televisi, menunjukkan bahwa idola tersebut cukup terkenal.

Rambut yang tampak lembut dengan pembagian tengah membentuk gaya yang segar, membuat wajah terlihat jelas dan memberikan kesan yang cerah. Meskipun belum tentu cocok untuk Amane, dirinya merasa gaya rambut seperti ini terasa baru dan menarik.

“Ah, sepertinya ini sedang tren ya.”

“Aku sering melihatnya di televisi. Aku memang belum pernah menggunakan gaya rambut seperti ini sebelumnya.”

“Karena belum pernah dilihat sebelumnya, mungkin ada kesan yang berbeda dan bagus. Selain itu, gaya rambut begini juga sesuai dengan selera Mahirun. Aku sudah mendengarnnya langsung kalau dia ingin melihat gaya seperti ini.”

“…Aku mengerti, tapi apa bakalan cocok?”

“Sepertinya cocok, mungkin? Meskipun aku tidak tahu sih.”

“Kedengarannya seperti taruhan saja.”

“Habisnya, kita tidak akan tahu sampai mencobanya, ‘kan? Lagipula, kamu harus siap sebelum waktu janjian dengan Mahirun, jadi mari kita kerjakan secepatnya. Aku menyerahkan koordinasi pakaiannya pada Ik-kun. Lagian, aku merasa tidak nyaman masuk ke dalam kamarnya.”

“Aku akan mengurusnya.”

Dengan dorongan lembut dari Itsuki, Amane dibawa ke dalam kamarnya dan mulai mencari-cari di lemari pakaiannya. Meskipun dirinya bukan tipe yang terlalu peduli dengan pakaian, setelah mulai memperhatikan penampilannya, Amane sudah memiliki beberapa koleksi. Meskipun tidak sebanyak orang yang sangat suka berbelanja, tapi standar jumlah minimalnya sudah meningkat.

Itsuki membuka penyimpanan pakaian musim dingin dan melihat-lihat sambil sesekali menoleh untuk memastikan ekspresi Amane saat memeriksa pilihan pakaian.

“Jika kamu ingin memakai gaya rambut itu, sepertinya pakaian yang rapi kelihatan lebih baik. …Apa ada stok pakaiannya?”

“Setidaknya ada sih. Ibuku juga sering mengirimkan pakaian yang menurutnya cocok untukku. Penilaiannya tidak pernah salah… sampai-sampai aku tidak mengerti lagi.”

Bagian yang menakutkannya ialah Obunya benar-benar mengirimkan pakaian yang pas dan cocok untuknya. Mungkin karena pekerjaannya, tetapi Shihoko selalu memilih ukuran yang menonjolkan bentuk tubuh, jadi sebagai anaknya, itu cukup menakutkan.

Secara umum, sebagian besar anak jarang sekali memaki pakaian yang dipilih orang tua mereka karena sering kali dianggap memalukan atau tidak sesuai dengan selera. Namun, karena penilaian orang tuanya yang berprofesi di bidang serupa, biasanya mereka memiliki selera yang baik, jadi Amane merasa bersyukur dan menerima pakaian tersebut.

“Kurasa Shihoko-san mungkin lebih mirip Kido daripada Chii?”

“Hmm… mungkin lebih ke arah yang tidak bisa dibagi."

“Sangat mencolok.”

“Memang mencolok… serius.”

Saat pertama kali Itsuki memperkenalkan Chitose, apa itu karena Shihoko atau justru karena salah Shihoko? Keadaan mental Amane saat itu yang dapat menerima Chitose sebagai teman mungkin berkat ketahanan yang telah terbentuk, jadi bisa dibilang ada rasa terima kasih di situ.

“Yah, mari kita anggap sebagai ibu yang luar biasa. Tapi, sungguh, apa ya..."

“Apa?”

“Yah, hmm. Nyebelin benget.”

“Hah?”

“Karena tinggi badannya bertambah dan ototnya juga lebih banyak, jadi apapun yang kamu pakai terlihat cukup bagus, sialan.”

“Oi, bukannya sedari tadi kamu selalu menghinaku terus?”

Meskipun Itsuki yang mengusulkan koordinasi pakaian, tapi Amane masih merasa sedikit kesal dengan caranya mengatakan itu.

“Tinggi badan adalah sesuatu yang tidak bisa kumiliki.”

“Kamu tidak sependek itu kali...”

Memang benar kalau badan Amane lebih tinggi, tetapi Itsuki tidak bisa dibilang pendek juga. Justru, dirinya termasuk pria yang tinggi.

“Aku butuh tambahan tiga sentimeter lagi!”

“Itu sih tidak mungkin.”

“Sialan...”

Sepertinya ia sudah hampir tidak bisa tumbuh lagi, jadi menambah tiga sentimeter dari sini akan menjadi tantangan yang cukup sulit, jadi Amane sendiri tidak tahu apa itu mungkin.

Sebagai seseorang yang cukup tinggi, Amane merasa tidak ada gunanya terlalu besar, tetapi jika mengatakannya bisa memicu perang, ia memutuskan untuk diam dan hanya mengamati Itsuki yang memilih pakaian dengan wajah cemberut.

 

 

Jika berbicara tentang gaya, jelas Itsuki lebih unggul, jadi Amane yang tidak percaya diri dengan seleranya memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada Itsuki dan berperan sebagai manekin selama beberapa belas menit, lalu ia mengganti pakaian yang disetujui oleh Itsuki.

Meskipun demikian, ia tidak memiliki banyak pilihan pakaian, jadi dirinya hanya berusaha memilih yang terbaik dari yang terbatas.

Setelah merasa cukup dengan pakaian yang dikenakannya, Amane hanya perlu merapikan rambut... dan saat keluar dari kamar, ia ditangkap oleh Itsuki dan Chitose yang sudah menunggu.

“Chii, giliranmu.”

“Ya ya.”

“…Apa yang akan kamu lakukan? Kamu cuma akan menata rambutku seperti ini saja, ‘kan?”

“Yah? Meriasmu lah.”

“Pantes saja kamu membawa banyak barang bawaan...”

Amane merasa tas Chitose terlalu besar saat dia mengunjungi rumahnya. Ternyata itu adalah perlengkapan riasan dan bukan hanya untuk menata rambut. Meskipun Amane tidak keberatan dengan makeup, ia bingung karena hampir tidak pernah melakukannya sendiri.

Saat Chitose membalas tatapannya, dia mengedipkan mata nakal yang penuh keceriaan. 

“Mumpung ada kesempatan begini, mari kita berusaha lebih. Sedikit riasan saja bisa memberikan kesan yang baik. Aku akan memberikan riasan yang memanfaatkan karakteristik bahan.”

“Yah, tidak apa-apa sih... tapi memangnya wajahku bisa berubah sebanyak itu?” 

“Kamu meremehkan riasan, ya. Kurasa Amane adalah tipe yang cocok dengan riasan, atau lebih tepatnya, kamu sudah pernah melakukannya.” 

“Bukannya itu karena kamu yang melakukannya tanpa izin...?”

Amane berusaha untuk tidak mengingat kembali kenangan yang tidak ingin diingat, sementara Chitose menunjukkan senyuman yang sama sekali tidak menunjukkan penyesalan. 

“Rasanya imut banget ya, kan?”

“Aku ingin menghapusnya dari ingatanku.” 

“Jangan, jangan coba-coba menangkap wajahku seperti itu. Aku ikut terlibat, loh.”

Saat Amane mengulurkan tanganku untuk menghapus ingatan Itsuki demi bagian Chitose juga, Itsuki melawan dengan meraih lengannya dan menarik Amane ke sofa untuk duduk. 

Mungkin karena tidak suka dengan cengkeraman yang kuat, tetapi juga untuk mencegah Amane melarikan diri. 

Amane sudah memutuskan untuk menyerahkan semuanya kepada mereka, jadi dirinya tidak berniat untuk kabur, tetapi tetap saja, ia bersikap waspada. Chitose mengeluarkan alat-alat dari tasnya dengan riang, dan Amane pun akhirnya menyerah dan melepas ketegangan dari tubuhnya.

 

 

“Hmm, tidak ada kesan anak introvert sama sekali.”

Dan begitulah tanggapan Itsuki saat melihat Amane yang sudah selesai dengan gaya rambut dan riasannya yang rapi. 

“Itu pujian?”

“Ya iyalah, aku sedang memujimu, kok.” 

Meskipun pujiannya tidak bisa dipercayai, tapi kedua temannya hanya tersenyum lebar. 

“Karena penampilanmu memberikan santai, rasanya jadi membuat orang yang mengenalmu pasti akan keheranan dengan ‘siapa sih orang ini’? Amane yang biasanya ceria dan segar tiba-tiba muncul.”

“Ngakak banget.”

“Kamu malah menikmati ini, ya?” 

“Ya, karena aku tahu Amane yang biasanya sih. Kalau kamu menunjukkan senyuman menawan kepada Shiina-san, itu akan sempurna.”

“Aku tidak akan menunjukkan itu kepada kalian.”

Senyuman itu bukan sesuatu yang sengaja dikeluarkan, dan jika senyuman itu muncul, Amane bisa melihat masa depan di mana dirinya akan diejek habis-habisan, jadi Amane tidak ingin menunjukkan itu kepada kedua orang ini. 

Namun, dua sejoli itu justru berseru, “waduduh” sambil tertawa serempak, membuat Amane merasa sangat terganggu dan menghela napas dengan jelas. 

“Sudahlah, itu tidak penting. Terima kasih atas bantuannya. Aku tidak tahu apa Mahiru akan senang, tetapi sesekali mengganti suasana tidak ada salahnya, kan?" 

“Aku yakin dia akan senang.”

“Setidaknya dia akan senang mengetahui pacarnya berusaha untuk tampil menarik untuknya. Dari situ, kamu sudah bisa mendapatkan tambahan poin.” 

“Semoga sesuai dengan seleranya.”

Seperti yang dikatakan Itsuki, Mahiru pasti akan senang mengetahui bahwa Amane berusaha untuk tampil menarik demi dirinya. Poin tambahan setelah itu juga penting, dan Amane ingin membuat Mahiru semakin bahagia.

Amane tidak sepenuhnya memahami preferensi Mahiru terhadap penampilan, tetapi berkat bantuan kedua temannya, ia merasa penampilannya sudah cukup baik. Yang tersisa hanyalah apakah itu sesuai dengan selera Mahiru. 

Sambil berusaha menjaga gaya rambutnya, Amane mencubit poni dan Chitose yang tampaknya puas dengan hasilnya berkata, “Daripada merasa bimbang, lebih baik bertindak! Ayo, berangkat!" Amane tersenyum kecil dan berterima kasih atas dorongannya sebelum berdiri. 

 

 

Setelah berpisah dengan Itsuki dan Chitose yang dengan sukarela membantu membawakan barang berat di hari libur, Amane menuju tempat ketemuan. 

Ngomong-ngomong, Itsuki dan yang lainnya sepertinya akan pergi berkencan setelah menaruh barang-barang mereka di rumah. Amane merasa sedikit bersalah karena mengganggu rencana mereka, tetapi dirinya sangat senang atas bantuan yang diberikan dan berencana untuk mentraktir mereka lain kali. 

Karena masih ada waktu sebelum pertemuan dengan Mahiru, jadi Amane tidak terburu-buru, tetapi rasa ingin segera menunjukkan penampilannya mempengaruhi langkahnya, sehingga ia berjalan lebih cepat dari biasanya. 

Meskipun Amane sudah berhati-hati agar gaya rambutnya tidak rusak, ia masih tetap merasa khawatir dan kadang-kadang berhenti sejenak untuk memeriksa bayangannya di etalase toko sebelum melanjutkan, jadi secara keseluruhan, dirinya tidak berjalan terlalu cepat. 

Amane menyadari bahwa ia merasa gelisah lebih dari biasanya dan tertawa pada dirinya sendiri, tetapi dirinya juga menyadari bahwa ia tidak membenci perasaannya yang seperti ini, yang membuatnya tertawa lagi. 

Ingin terlihat lebih baik di hadapan orang yang disukai adalah hal yang wajar, tetapi tetap saja, itu membuatnya merasa geli. Namun, Amane tidak merasa terganggu. 

Amane merenungkan seberapa banyak dirinya telah berubah, mengingat dirinya yang dulu tidak suka bergaul dengan orang lain, dan tersenyum pahit saat tiba di tempat pertemuan, di mana Mahiru sudah menunggu dengan punggung menghadapnya, mungkin karena sudah selesai dari salon. Dia tidak mungkin salah mengenali tubuhnya yang ramping dan rambut pirang keemasan yang lebih berkilau dari biasanya. 

Setelah berhenti sejenak untuk melihat jam tangannya, Amane menyadari bahwa mereka masih punya waktu tiga puluh menit lebih awal dari waktu janjian. Merasa sedikit bersalah karena Mahiru datang lebih awal, Amane berpikir keras tentang cara untuk menyapa. 

Karena ingin sedikit mengejutkan Mahiru, jadi Amane memikirkan sebuah lelucon kecil yang mungkin bisa dilakukannya.

Amane berpikir bahwa Mahiru mungkin bisa melihat melalui leluconnya, jadi dirinya mendekati dengan hati-hati agar tidak membuat suara, dan melihat rambut pirangnya yang tertiup angin dengan dekat. Ia kemudian perlahan membuka mulutnya. 

“Hei, Nona yang cantik di sana, sepertinya kamu sedang tidak sibuk nih. Jika tidak keberatan, maukah kamu minum teh bersamaku?”

Dengan suara yang berbeda dari biasanya, lebih manis dan ringan, Amane menyapa punggung kecil Mahiru, yang kemudian berbalik. 

Mahiru menampilkan senyuman yang jelas-jelas formal, senyuman indah yang menyembunyikan perasaan terganggu, dan sebelum dia bisa mengucapkan kata penolakan, dia terdiam. 

Tatapannya terfokus pada wajah Amane. 

“Sepertinya kamu masih punya waktu sekitar tiga puluh menit. Jika kamu mau, bisakah kamu meluangkan waktu untukku?”

Kali ini, Amane bertanya dengan suara lembutnya yang seperti biasanya. 

Mahiru yang terdiam hanya membuka bibirnya sedikit, melihat Amane dengan tatapan bingung, bahkan bisa dibilang menatapnya lekat-lekat. 

Melihat reaksinya yang begitu, Amane menyadari bahwa ini adalah perubahan yang cukup signifikan bagi Mahiru, dan senyuman pun muncul di wajahnya. 

“Hari ini aku sedikit dibantu oleh Itsuki dan Chitose untuk berdandan. Kamu pasti melihat perbedaannya, ‘kan?”

Di bawah pengawasan Itsuki dan Chitose yang memperhatikan penampilan, jadi penampilan Amane terlihat lebih baik hari ini. 

Rambutnya yang biasanya disisir lurus ke depan, dibelah di tengah sehingga dahinya terlihat, memberikan tampilan yang lembut dan lapang sekaligus memberikan kesan bulat pada keseluruhannya, menciptakan kesan ringan dan elegan tanpa terlalu berlebihan.

Wajahnya yang semakin terlihat jelas, kemudian dipoles semakin menarik dengan teknik riassan Chitose. 

Meski begitu, sepertinya Chitose tidak terlalu mengubah wajahnya; dia hanya menyembunyikan pori-pori dan melakukan sedikit highlight dan shading, yang membuatnya terlihat lebih bersih dan memiliki wajah yang lebih tirus. 

Untuk pakaiannya, Amane mengenakan mantel wol panjang yang berkualitas baik dengan turtleneck, serta celana lebar yang disesuaikan agar tidak terlalu sempit, menciptakan kesan yang nyaman dan stylish. Meskipun ia mengenakan warna monokrom, warnanya tidak terlalu gelap, dirinya juga menambahkan warna pada celana dan syal untuk memberikan sedikit kecerahan pada penampilannya. 

Itsuki mengatakan bahwa saat ini trennya adalah jaket bomber dan pakaian kasual, tetapi karena Amane memiliki postur yang tinggi, mantel panjang sangat cocok untuknya. Justru inilah yang membuatnya terlihat lebih stylish, jadi Amane menyerahkan sepenuhnya pilihan ini kepada Itsuki.

Hasilnya, penampilan yang sederhana namun menggabungkan elemen kasual dan rapi, sehingga jika hanya dilihat dari pakaian, Amane merasa tidak akan terlihat kalah jika berdiri di samping Mahiru. Ia merasa penampilannya cukup cocok, tetapi Amane tidak yakin apakah itu sesuai dengan selera Mahiru. Lagipula, saat ini Mahiru tampak terdiam, jadi sulit untuk menilai seberapa cocok penampilannya menurutnya. 

“...Apa ini... kelihatan aneh?”

“Tentu saja tidak!”

“Whoa, aku terkejut.”

Saat Amane semakin cemas dan bertanya dengan hati-hati, tampaknya Mahiru yang sebelumnya kaku kini mulai bergerak dan dengan semangat menggelengkan kepala menandakan penolakannya, sehingga membuat Amane terkejut. 

“Kamu kelihatan sangatttttttt cocok sekali! Siapa yang menyarankan ini? Chitose-san, ya? Pasti Chitose-san, ‘kan? Kalau dipikir-pikir lagi, dia sudah banyak menanyaiku sebelumnya!”

“Tenang, tenang. Lagipula, aku yang memutuskan untuk berdandan ini karena aku ingin mengenakan pakaian yang disukai Mahiru. Aku ingin melihat wajah bahagiamu, tapi... apa itu enggak boleh?”

Amane mengamati Mahiru, dan setelah mengeluarkan suara manis “uuuu”, Mahiru mengeluh, “Bagian yang begitu curang...” 

“Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya? Jika kamu bilang, aku juga bisa berdandan lebih baik...”

“Aku pikir kamu sudah cukup berdandan.”

“Usahanya saja yang berbeda! Seharusnya aku memakai yang lebih imut... Padahal ada baju yang baru kubeli...” 

“Kupikir yang kamu pakai hari ini juga imut. Kamu selalu imut.”

Hari ini sepertinya Mahiru memilih pakaian yang mudah dikenakan untuk pergi ke salon, tetapi tetap saja, yang imut tetaplah imut. Sebenarnya, tidak ada hari di mana Mahiru tidak terlihat imut, jadi bisa dibilang dia selalu imut. 

Tapi karena dia pergi ke salon hari ini, jadi ada sedikit perubahan dalam penampilannya yang imut. 

“Apa kamu memotong ponimu sedikit? Cocok sekali. Lebih halus dari biasanya dan sedikit keriting juga terlihat imut.” 

Sepertinya Mahiru tidak memotong rambutnya secara drastis, hanya merapikannya, tetapi Amane yang melihatnya setiap hari bisa merasakan perubahannya. Dirinya ingat bahwa Mahiru pernah bilang ingin memotong poninya, dan sekarang poni yang sedikit panjang itu terlihat lebih rapi, memberikan kesan yang lebih cerah. 

Rambutnya yang indah berkat perawatan yang teliti, kini lebih halus dan kutikulanya bisa terlihat sempurna. Meskipun biasanya sudah halus dan berkilau, hasil dari salon membuatnya terlihat lebih cantik, dan Amane menyadari betapa hebatnya salon tersebut. 

Ketika Amane mengungkapkan pikirannya dengan tulus, Mahiru dengan malu-malu memukul lengan Amane, tetapi dia kembali terdiam saat melihat wajah Amane, terjebak dalam siklus mengeluarkan suara. 

Setidaknya, dirinya bisa menganggap bahwa Mahiru senang. 

“Maaf, aku tidak menyangka kamu akan begitu senang.”

“Tentu saja aku merasa sangat senang!”

“Ya, aku senang mendengarnya. Aku jadi mengerti perasaanmu saat berdandan, dan aku jadi sadar betapa kerasnya kamu berusaha. Tentu saja aku tahu kamu melakukannya untuk dirimu sendiri, tetapi tetap saja, itu membuatku senang.”

Amane tidak berpikir bahwa Mahiru melakukan semuanya hanya untuknya saja. Dirinya tahu bahwa Mahiru memperhatikan penampilannya untuk menjaga harga diri dan minat pribadinya. Namun, ketika memikirkan bahwa usaha tersebut juga diperuntukkan bagi Amane, rasa sayangnya terhadap Mahiru semakin dalam, dan ia merasa sangat senang karena merasa diperhatikan seperti itu. 

Meskipun Amane tidak terlalu tertarik pada mode dibandingkan orang lain, tapi melihat Mahiru yang senang membuatnya ingin berusaha lebih keras. Amane merasa seolah mendapatkan motivasi baru. 

“Terima kasih selalu,” katanya sambil tersenyum kepada Mahiru yang berusaha tampil imut hari ini. Mahiru segera menempel pada lengan Amane dan mulai bergetar. 

“Ugh, uuuuh.”

“Emosimu tampaknya tidak stabil hari ini ya.”

“Memangnya itu salah siapa coba?” 

“Salahku. Apa aku kelihatan cocok?”

“Cocok banget... uuuuh.”

"Hari ini getaran Mahiru sangat kuat, ya.” 

“Siapa yang menyebabkan ini?" 

“Salahku. Oh, mungkin juga berkat Chitose dan yang lainnya?”

Mahiru yang sangat senang seperti ini berkat bantuan Itsuki dan Chitose, dan Amane merasa berutang budi kepada mereka. 

“...Aku harus berterima kasih kepada mereka nanti.”

“Benar, mereka begitu peduli pada kita. ...Meskipun setengahnya mungkin karena mereka menganggap ini lucu, tetap saja aku berterima kasih pada mereka.” 

Amane sangat terbantu oleh niat baik mereka, jadi ia benar-benar menghargainya. Meskipun begitu, dirinya berharap mereka tidak terus-menerus mengganggunya, tapi Amane merasa bahwa mengatakan itu kepada mereka jua bakalan sia-sia. 

Sebenarnya, Amane tidak membencinya, dan meskipun begitu, dirinya merasa cukup senang, tapi ia masih merasa sulit untuk mengatakannya kepada mereka. 

“Mungkin lain kali kita harus mentraktir Chitose-san makanan super pedas.”

“Tergantung bagaimana kamu melihatnya, ini lebih seperti hukuman.” 

“Fufufu, tapi itu hadiah bagi Chitose-san. Lalu, bagaimana dengan Akazawa-san?” 

Sambil berpikir tentang cara berterima kasih kepada para pahlawan hari ini, Amane mengulurkan tangan untuk memulai kencan lebih awal, dan kali ini Mahiru tersenyum malu-malu tanpa ragu, mengaitkan jari-jemarinya dengan jari Amane.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama