Chapter 5 — Tahun Pertama Perkuliahan, Bulan Juli, Asamura Yuuta
Menjelang bulan
Juli, suhu mulai memecahkan rekor tertinggi setiap hari. Tiada hari tanpa suhu
di atas 30℃,
tiada malam yang tidak menjadi malam tropis, dan tiada siang tanpa peringatan
tentang kemungkinan terkena sengatan panas.
Di sela-sela
aku bolak-balik antara kuliah di universitas dan kerja paruh waktu di toko buku,
aku pergi ke tempat kursus mengemudi. Jika semuanya berjalan lancar, aku
seharusnya bisa mendapatkan SIM pada pertengahan bulan ini. Saat liburan musim
panas, Saki bilang ingin diajak naik mobil, tetapi aku tahu bahwa risiko
kecelakaan di kursi penumpang depan itu sangat tinggi... Aku merasa masih perlu
banyak berlatih dan memperkuat mentalku supaya bisa dengan percaya diri
mengajaknya duduk di sampingku.
Meski
begitu, meskipun sulit, kesenangan selalu datang lebih dulu ketika aku menerima
tantangan baru karena berpikir, “Inilah yang ingin kulakukan”. Rasanya
seperti selama masa SMA, aku hanya menghadapi berbagai acara yang datang tanpa
henti. Suasana positif seperti ini mungkin dirasakan oleh temanku, Maru, ketika
dia sangat bersemangat dalam bermain bisbol. Namun, ada kalanya aku merasa
tidak ada kemajuan dan suasana hatiku bisa berubah drastis.
Dalam
perjalanan pulang setelah ujian praktik mengemudi, aku melihat awan
cumulonimbus mengapung di langit biru. Bentuknya kelihatan aneh, mirip seperti gulali
putih yang seolah-olah bagian kanannya habis digigit. Sambil berpikir betapa
langkanya pemandangan ini, aku berjalan di jalan aspal menuju halte bus ketika
suara dering ponsel terdengar dari saku aku. Melodi deringnya terdengar seperti
suara robot, jadi aku tahu itu dari Maru. Meskipun tidak terlalu penting,
dering ini bukan seleraku. Percayalah. Maru sangat ngotot agar aku menggunakan
nada dering ini untuk telepon darinya.
Seharusnya
suara dering untuk orang yang menelepon tidak terdengar oleh mereka yang
menelepon, kan? “Jika dibayangkan, itu membuat semangatku jadi membara,”
katanya. Aku tidak mengerti maksudnya. Tapi yah, aku tidak punya alasan untuk
menolak, jadi aku mengatur sesuai yang diinginkannya.
“Ya, ya. Aku
akan menjawabnya sekarang, jadi tunggu sebentar,” gumamku tanpa ditujukan pada
siapa pun sambil mengetuk ikon panggilan.
“Ayo main
bisbol!”
“......”
“Hmm? Ada
apa, Asamura? Halo? Apa kamu mendengarku?”
“Aku bisa mendengarnya.
Aku sedang berpikir, sejak kapan temanku ini menjadi anak SD dalam acara anime
keluarga di hari Minggu?”
“Apa yang
kamu bicarakan?”
Seharusnya
aku yang bilang begitu.
Meskipun aku
mengenal Maru sebagai laki-laki yang aktif di bidang olahraga, aku ingin dirinya
merasakan bagaimana rasanya mendapat ucapan dari teman yang sudah jadi
mahasiswa, “Ayo main bisbol!”.
“Kalau bisa,
aku akan senang jika kamu bisa menjelaskan semuanya dulu secara berurutan.”
“Hmm. Jika
dijelaskan secara berurutan, ceritanya mungkin akan panjang...”
“Selama
tidak mulai dari penciptaan alam semesta, aku akan sabar mendengarkannya.”
“Aku
diundang oleh senior dari klubku.”
Oh, itu
mudah dimengerti. Dan sangat singkat.
Selama SMA,
Maru adalah anggota tim bisbol.
Dia serius
mengejar impiannya untuk masuk Koshien. Namun kenyataannya sangat keras, dan
tidak semua impian bisa terwujud. Mimpinya untuk ke Koshien tidak tercapai, dan
selama di universitas, tidak ada tawaran dari tim profesional atau tim sejenis.
Belakangan ini dirinya bahkan membanggakan diri dengan berkata, “Dengan ini,
aku bisa fokus pada kegiatan otaku”. Dan di kampusnya, dia bergabung dengan
klub otaku—sampai di situ aku sudah mendengarnya...
Apa ini
berarti ada genre baru, yaitu organisasi otaku yang berkaitan dengan olahraga?
Menurutku pemain e-sports sudah cukup dianggap sebagai atlet.
“Salah satu
alumni klubku ada yang mengikuti tim bisbol amatir.”
“Oh, begitu.”
“Aku
diundang untuk ikut pertandingan hari Minggu depan. Jadi, aku bilang padanya
kalau aku bisa saja ikutan kalau boleh mengajak temanku juga.”
“Itulah
sebabnya kamu bilang 'Ayo main bisbol'... Tunggu! Teman yang dimaksud itu
jangan-jangan...”
“Aku sudah mengiklankannya
sebagai orang yang bernama Asamura Yuuta.”
“Iklan semacam
itu tidak perlu!”
“Mengapa!?”
Meskipun dia
terkejut, aku tidak bisa membayangkan reaksinya.
“Tantangan
itu terlalu sulit bagi seseorang yang bahkan belum pernah melakukan lempar bola
dengan baik, tapi malah tiba-tiba diajak bertanding.”
“Memang
benar bahwa selama itu pertandingan, kita harus mengejar kemenangan. Mengingat
kemungkinan Asamura tidak bisa menangkap bola dan menyebabkan pelari keluar,
mungkin memang ada baiknya aku tidak mengundangmu jika kita ingin menang.”
Aku
sebenarnya tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk itu.
“Tapi sejak
kita bertanding di turnamen olahraga, aku selalu ingin bermain bersamamu dalam
olahraga yang sama.”
“Bolehkah aku
bertanya, mengapa memilih aku?”
Ketika aku
bertanya demikian, Maru menjawab dengan nada yang agak terkejut.
“Karena sepertinya
menyenangkan. Sewaktu kita merencanakan perjalanan kelulusan, dia pernah bilang,
‘kan? Yang terpenting bukan di mana kita bermain, tetapi dengan siapa kita
bermain.”
Dia—maksudnya
Narasaka-san?
Ngomong-ngomong,
aku merasa pernah dia memang pernah bilang begitu.
“Asamura. Tujuan
dari pertandingan memang biasanya untuk menang, tapi aku tidak bertanding hanya
untuk menang—ini adalah kalimat yang aku sesuaikan dengan kata-kata favoritku.”
Ucap Maru.
Mungkin kutipan ini berasal dari manga atau anime. Menurutnya, bermain bisbol
dengan teman-teman di liga amatir sama seperti saat dia di tim bisbol
sekolah.
“Rasanya
takkan menyenangkan kalau menang hanya karena motivasi, ‘kan? Karena kita sudah
memotivasi diri untuk menang.”
“Apa itu
tidak membuatmu senang?”
“Tidak, aku
senang kok. Jika menang, rasanya seperti perayaan. Baik itu pemain reguler,
cadangan, manajer, atau pelatih, semuanya akan memberikan yang terbaik demi
satu kemenangan. Mereka yang bermain di lapangan membawa banyak harapan dan
semangat. Mana mungkin tidak merasa senang.”
Setelah
menarik napas, Maru melanjutkan.
“Aku cuma
bilang itu tidak menarik.”
“Tidak
menarik...?”
“Begini,
Asamura, yang namanya pertandingan pada dasarnya adalah sesuatu yang berulang.
Sesuatu yang hanya terjadi sekali bukanlah sebuah permainan. Kalau itu sesuatu
yang berakhir sekali, menang adalah segalanya. Pada akhirnya, aturan bisa
diabaikan tergantung situasinya, dan permainan yang adil hanyalah penghalang.”
Aku
merenungkan apa yang dikatakannya.
Memang, jika
sebuah permainan tidak pernah dimainkan lagi seumur hidup, maka logika bahwa “yang
menang adalah yang benar” bisa berlaku. Namun, sebagai gantinya, lawan
permainan itu tidak akan mau bermain lagi seumur hidup.
“Hal seperti
itu disebut duel. Ketika ada penyelesaian, salah satu dari kita harus mati.
Namun, jika kita terus-menerus mati, itu tidak akan berjalan sebagai sebuah
pertunjukan.”
“Ad-Ada
benarnya juga.”
Aku sadar
kalau itu argumen yang ekstrem, tapi aku bisa memahami logikanya.
“Jadi,
meskipun tujuannya adalah untuk menang, kita tidak boleh menjadikan motivasi
kita untuk menang. Motivasi seperti itu tidak pantas untuk sebuah permainan.
Nah, ini hanya pendapat pribadiku saja sih.”
Aku merasa
dirinya mengatakan sesuatu yang mendalam.
Namun, aku
juga merasa seolah-olah sedang dibohongi.
“Dan juga,”
Maru di
sebelah telepon tersenyum lebar, meskipun aku tidak bisa melihatnya. Suaranya
terdengar berubah.
“Alasan
terbesarku ingin memasukkanmu sebagai anggota adalah karena mungkin pada hari
itu tidak akan ada sembilan orang yang berkumpul.”
“Tunggu.”
“Salah satu
dari mereka akan melahirkan.”
Sungguh
anggota yang aneh!?
“Dan
katanya, Marie-chan adalah yang pertama.”
“Marie-chan?”
Apa dia
orang asing?
“Induk
anjing Toy Poodle. Marie-chan. Dia anak kesayangannya keluarga Suzuki.”
“Oi.”
“Dan sepertinya
mereka sangat menyayanginya. Apalagi, hewan peliharaan dianggap sebagai
keluarga belakangan ini. Mereka tidak bisa mengabaikannya. Selain itu, ada juga
Yama-san yang memiliki masalah punggung dan tidak bisa ikut jika sakit, atau
Kurumi-san yang tidak bisa datang karena ada acara sekolah anaknya.”
“Tim bisbol
amatir itu tampaknya berjalan dengan baik.”
“Itulah
sebabnya, mereka tidak henti-hentinya mencari bantuan.”
Dan, sebagai
cadangan, aku juga terpilih.
“Sekarang,
sepertinya aku bisa menjamin kamu mendapat posisi reguler.”
“Itu terlalu
berat harapannya!”
Meskipun
begitu—.
Meskipun aku
sudah memberinya peringatan, “Jangan terlalu banyak berharap dengan
kemampuanku,” tapi aku tetap menjawab “ya, aku mau saja,” mungkin karena aku
sedang berpikir mungkin aku perlu sedikit lebih proaktif..
Bagi diriku
yang lebih suka bermain sendiri, memilih untuk melakukan sesuatu bersama
seseorang merupakan hal yang langka. Aku percaya bahwa sifat dasar seseorang
tidak akan banyak berubah. Namun, aku mulai berpikir bahwa jika aku tidak
berusaha untuk mengulurkan tangan dengan orang yang tidak ingin kulepaskan,
maka hubungan itu akan terputus.
Suara Maru
di telepon yang terdengar sedikit senang mengatakan “Terima kasih” bergema di
telingaku.
Rasanya itu
membantu untuk mengurangi peningkatan indeks ketidaknyamanan akibat panas.
◇◇◇◇
Tiga hari
kemudian, saat pelajaran mengemudi di jalanan. Jalur yang kulalui tampak
menghilang sekitar seratus meter di depan.
Ada jalur panjang
akselerasi yang ditentukan oleh hukum untuk bergabung dengan jalan tol, dan
panjangnya ditentukan sesuai dengan kecepatan desain jalur utama yang akan kumasuki.
Misalnya, batas
kecepatan jalan yang akan kumasuki saat ini ialah 80 km/jam. Dalam hal ini,
panjang jalur akselerasinya berkisar antara 150 hingga 200 meter. Bisa
dikatakan, jika mobil melaju dengan kecepatan 80 km/jam, panjang ini bisa
dilalui dalam waktu kurang dari 10 detik.
Ada dua
jalur yang menyatu menjadi satu di hadapanku. Di jalan yang akan kumasuki,
mobil terus melaju dengan kecepatan 80 km/jam. Dari jalur akselerasi tempatku
berada, aliran mobil terlihat sangat cepat, dan aku merasa takut untuk memotong
jalur.
Instruktur
di sebelahku berseru, “Injak pedal gasnya sedikit lagi!”
Aku
menginjak pedal gas dengan kaki kananku sesuatu intruksi. Kecepatan mobil mulai
meningkat pesat.
Jalur
pertemuan semakin dekat.
“Lebih cepat
lagi. Injak pedal gasnya!”
Aku menambah
tekanan pada pedal gas sesuai instruksi instruktur. Getaran dari ban yang
berputar lebih cepat mengalir lebih langsung di tubuhku.
“Nyalakan
lampu sein kananmu, dan lihat kaca spion.”
Aku
mengoperasikan tuas yang menonjol di sisi kanan kemudi. Lampu sein
menyala.
“Kita akan
masuk setelah mobil merah yang datang dari belakang.”
Mobil merah
yang disebut instruktur melintas di samping mobilku. Instrukturku memberi perintah seolah-olah menyuruhku
untuk menabrak bagian belakang mobil itu.
“Sekarang! Percepat!”
“Ba-Baik!”
Dengan
mengikuti arahan instruktur dan menginjak gas, mobil pengajaran yang aku
kendalikan meluncur dengan cepat dari jalur akselerasi menuju jalur utama,
hampir menyentuh bagian belakang mobil merah yang lewat. Aku merasa jantungku
berdebar karena takut terjadi tabrakan, tapi kecepatan kami masih belum cukup
untuk menyamai kecepatan di jalur utama, dan mobil merah itu semakin menjauh
dariku. Aku akhirnya menghela napas lega.
“Jangan
lengah. Ayo, akselerasi lagi!”
Mobil di
belakangku semakin mendekat.
Namun,
karena aku terus mempercepat sesuai instruksi, mobil pengajaranku
perlahan-lahan mendekati kecepatan di jalur utama. Seiring dengan kecepatan
yang sesuai dengan mobil lain yang melaju, jarak antar mobil juga bisa dijaga
dengan baik.
“Bagus!
Pertahankan kecepatan ini.”
“Baik.”
Tanganku
yang memegang kemudi berkeringat cukup deras. Jantungku masih berdebar, sekaligus
takjub dengan diriku sendiri karena berhasil masuk ke dalam jalan raya.
Namun—.
“Ma-Maafkan
aku. Aku terlalu lambat.”
Saat aku
meminta maaf padanya, instrukturku beralih dari suara tegang sebelumnya menjadi
nada yang lebih lembut untuk memberi semangat kepadaku.
“Tidak,
tidak. Wajar-wajar saja jika awalnya Anda merasa ragu untuk mempercepat hingga
bisa masuk jalan tol. Tidak masalah, tidak masalah.”
“Ya.”
Aku merasa
beruntung memiliki instruktur yang baik dan kembali memusatkan semangat.
Sebelum
mulai, aku memiliki kesan menakutkan terhadap kata “instruktur”, tetapi
sepertinya saat ini, sekolah mengemudi juga merupakan bisnis dan siswa dianggap
sebagai pelanggan, sehingga memperlakukan mereka dengan baik menjadi hal yang
umum. Berkat itu, mereka dengan sabar menghadapi kesalahanku, dan nada
bicaranya pun sopan.
“Mari kita pertahankan
kecepatan 80 km/jam.”
“Ba-Baik!”
Aku terus
memperhatikan speedometer yang terlihat di sudut pandangku sambil
berusaha menjaga jarum tetap di sekitar angka 80. Jika aku menginjak pedal gas
sedikit lebih dalam, kecepatan mobil akan dengan mudah melewati 80, tetapi jika
kecepatan menurun, mobil di belakang akan segera mendekat.
Sebenarnya,
meskipun aku sudah berkendara dengan kecepatan batas 80 km/jam, entah kenapa
jarak antara mobilku dan mobil di belakang terasa semakin dekat...
“Anda tidak
perlu terburu-buru. Batas kecepatan di jalan ini adalah 80 km/jam. Anda tidak
salah. Namun, meskipun Anda tidak salah, bukan berarti hal seperti ini tidak
terjadi.”
Aku
menyadari hal itu. Jika semua orang berkendara persis sesuai batas, maka konsep
pengaturan tidak akan diperlukan.
Pada
kenyataannya, pasti ada sedikit kelonggaran dalam operasional. Baik atau buruk
itu cerita yang berbeda.
“Untuk saat
ini, mari kita coba pertahankan sampai area layanan peristirahatan berikutnya.
Semangat!”
“I-Iya.”
Aku tidak
memiliki waktu untuk mengagumi pemandangan yang melintas, aku mati-matian
berusaha menjaga kecepatan sambil memperhatikan kiri dan kanan serta depan dan
belakang. Batinku dipenuhi desahan.
Setelah
sampai di area layanan berikutnya, aku berhenti di tempat parkir. Akhirnya, aku
bisa tenang dan berbicara dengan instruktur yang duduk di samping.
Instruktur
mulai berbicara.
“Hmm.
Sepertinya Anda tidak masalah berkendara di jalan tol. Bagus sekaliSatu-satunya
kelemahanku sejauh ini ialah memasuki jalur. Mungkin Anda perlu sedikit lebih
banyak latihan di sana.”
“...Ya.”
“Begini
triknya untuk penggabungan, Asamura-san. Saat penggabungan, bayangkan itu
sebagai 'masuk', bukan 'meminta ijin untuk lewat’.”
“Masuk...?”
“Ya. Mungkin
Anda tidak bisa menangkapnya dengan baik jika mendengarnya dari teori saja.”
“'Meminta
ijin lewat' dan 'masuk', apa bedanya?”
Hmm, instruktur menggaruk dagunya sambil berpikir.
Kemudian,
dengan suara lembut seolah menjelaskan kepada anak kecil, dia berkata,
“Begini. Kurasa
perbedaannya terletak pada seberapa sering Anda mengungkapkan niat Anda.”
Mungkin
dirinya melihat wajahku yang menunjukkan kebingungan, instrukturku kemudian
menjelaskan perbedaan di antara keduanya.
“Intinya,
jika Anda hanya menunggu saja tanpa melakukan apa-apa, orang-orang di sekitar
Anda tidak akan tahu apa yang ingin Anda lakukan. Manusia tidak secara otomatis
dapat memahami pikiran orang lain. Jika Anda, Asamura-san, tidak menunjukkan
keinginan Anda lebih jelas, pengemudi yang ingin memberi jalan pun akan kebingungan.
Mereka tidak memiliki petunjuk tentang Anda itu tipe pengemudi seperti apa dan
kapan Anda ingin masuk.”
Kata-kata
instruktur itu cukup menusuk hatiku.
Jika aku
tidak menunjukkan niat terlebih dahulu, orang lain tidak akan mengetahuinya...
“Dengan
menunjukkan niat Anda untuk masuk ke jalan tol, orang yang menerima juga
akhirnya dapat mengatur waktu dengan baik.”
“Ah, kurasa aku
mulai sedikit mengerti.”
Dengan kata
lain, instrukturku ingin mengatakan bahwa aku bisa menyesuaikan diri dengan
lingkungan, tetapi aku kesulitan untuk membuat orang lain “menyesuaikan
diri” denganku. Bisa dibilang, aku tidak pandai bersikap menonjol. Aku
memang sadar akan hal itu. Aku bukan tipe orang yang suka menuntut.
Namun, hal itu
berbeda dengan tidak mengajukan pendapat.
“Namun,
meskipun Anda ingin masuk, ada pengemudi yang tidak akan membiarkan Anda
masuk.”
“Apa ada
juga yang seperti itu?”
“Setiap
orang pasti memiliki alasan mereka sendiri. Itu bukanlah sesuatu yang bisa dipersalahkan.
Namun, baik menerima atau menolak, itu semua harus dimulai dengan Anda yang
menunjukkan niat Anda. Jika Anda tidak mengekspresikan niat, maka tidak akan
ada komunikasi.”
Meskipun
begitu, instrukturku tetap memberikan semangat bahwa aku cukup baik dalam hal
selain bergabung.
“Jika Anda
semakin terbiasa, Anda juga pasti bisa melakukannya, Asamura-san.”
Apa iya?
Aku tidak
bisa membayangkan hari di mana aku bisa melakukannya.
“Tidak
apa-apa, semuanya akan berjalan lancar. Baiklah, hari ini mari kita
pulang.”
Kami keluar
dari area layanan dan keluar dari jalan tol. Perjalanan pulang menggunakan
jalan umum.
Pemandangan
yang terlihat dari jendela mobil melaju ke belakang. Meskipun aku memperhatikan
jarak antar mobil, berkendara seperti ini tidak terlalu berat bagiku...
Semuanya
berjalan relatif baik sampai kami memulai pelajaran di kelas dan mengikuti
kursus sekolah mengemudi.
Namun,
begitu aku memulai praktik langsung di jalanan, semuanya langsung berubah Saat kamu
berpisah setelah pelajaran, instrukturku tiba-tiba membuka pembicaraan.
“Asamura-san,
apa Anda tahu pepatah 'Seratus pemikiran tidak sebanding dengan satu
tindakan'?”
Aku hampir saja
mengiyakan, tapi aku berusaha menahan diri.
“Satu
tindakan... bukan 'Seratus mendengar tidak sebanding dengan melihatnya
secara langsung'?”
“Pepatah
yang begitu mungkin lebih dikenal. Artinya, melihat lebih mudah dipahami.
Namun, pepatah 'Seratus pemikiran tidak sebanding dengan satu tindakan' mengajarkan
kita bahwa 'jangan hanya memikirkannya saja, tetapi mencoba melakukan
sesuatu juga penting'.”
Jangan hanya
memikirkannya...
Untuk
pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasakan ketegangan yang sama di
perutku, rasanya seperti ada seseorang menyentuh titik sensitifku.
“Itulah yang
dimaksud dengan seseorang akan semakin mahir setelah terbiasa. Menurut saya,
hal yang kurang dari Asamura-san ialah pengalaman nyata. Seperti yang mereka
katakan, pengalaman harus dihayati secara langsung dengan pengalaman fisik, atau
istilah baru zaman sekarang sih merasakannya langsung dengan tubuh.”
“Pengalaman
fisik? Apa itu tentang bagaimana tindakan dan pemikiran terbentuk melalui
tubuh?”
“Ya, tepat
sekali. Meskipun belakangan ini pengalaman virtual sedang populer, aku percaya
bahwa ada pengetahuan yang disimpan dengan menggerakkan tubuh.”
Memang, jika
aku melihat kembali situasi di mana aku tidak bisa menerapkan keterampilan
mengemudi yang aku kuasai di simulator sederhana, apa yang dikatakan instruktur
terasa sangat masuk akal. Aku benar-benar menyadari seberapa besar perbedaan
antara pengalaman virtual dan pengalaman nyata.
Realitas
jauh lebih beragam dan kompleks.
“Mungkin
Anda harus lebih menghargai tubuh Anda, Asamura-san. Mari kita coba tantangan
ini dari pelatihan di jalan.”
Walaupun aku
merasa senang dengan dorongan instruktur, tetapi aku sedikit merasa murung di
dalam hatiku.
Kurasa tidak
ada salahnya membaca buku untuk memperluas wawasanku. Meskipun begitu, aku
merasa bahwa hanya itu saja tidak cukup. Aku merasa seolah-olah itu ditunjukkan
kepadaku secara langsung.
Dalam
perjalanan pulang, dari jendela kereta di jalur Yamanote menuju Shibuya, aku
melihat jalan tol 4 Shinjuku yang diterangi lampu.
Aku
membayangkan berkendara di sana bersama Saki di sampingku.
Aku
penasaran, apa itu bisa beneran terjadi?
Meskipun
liburan musim panas sudah semakin dekat, rasanya janji untuk berkendara bersama
Saki semakin jauh.
Jalan tol
yang terlihat dari jendela kereta itu menghilang dalam sekejap, dan kereta
melaju menuju Shibuya yang sudah akrab bagiku, dengan Stasiun Selatan Shinjuku
di belakang.
◇◇◇◇
Bersamaan
dengan datangnya bulan Juli dan berakhirnya musim hujan, sinar matahari menjadi
semakin terik.
Pada hari
Sabtu di akhir pekan. Pagi-pagi sekali, aku bersama Saki sedang dalam
perjalanan kereta menuju Taman Shakujii.
Hari ini
adalah hari yang telah kami janjikan. Ya, yang itu, permintaan untuk ikut serta
dalam pertandingan bisbol amatir.
Kami harus
bertemu di taman cukup pagi, pukul 08.00. Sebagian alasannya karena lapangan
dibuka pukul 09.00, tetapi alasan lainnya karena, di bulan Juli, berolahraga di
luar ruangan pada siang hari hampir mustahil karena risiko sengatan panas.
Saki yang
sedang mencari informasi di ponselnya memberi tahu bahwa suhu tertinggi
diperkirakan akan mencapai 27°C pada pukul 2 siang.
Mempertimbangkan
bahwa suhu tertinggi terus meningkat setiap tahun, mungkin beberapa tahun ke
depan kita akan disarankan untuk tidak keluar rumah saat musim panas. Jika suhu
luar ruangan melebihi 35°C, olahraga pada prinsipnya akan dibatalkan.
“Panas
sekali...”
“Tapi cuaca
hari ini sepertinya lebih baik daripada besok. Besok suhu tertinggi
diperkirakan 31°C.”
Aku
bersandar pada pegangan kereta sambil mengerutkan dahi. Aku ingat bahwa jika
indeks panas melebihi 25°C, risiko terkena sengatan panas akan berubah dari “waspada”
menjadi “siaga”.
“Di stadion
bisbol tidak ada tempat teduh, ya?”
“Entahlah.
Tapi, aku ingat tahun lalu saat pergi mendukung Maru, hampir tidak ada tempat
teduh di sana.”
“Benar
juga.”
“Tapi aku
sudah membawa botol air.”
Saki memberi
sedikit tepukan pada tas olahraga yang dibawa di bahunya.
“Apa
isinya?”
“Minuman
olahraga. Dan juga, bekal makan siang.”
“Bagus. Sebenarnya,
maafkan aku karena sudah merepotkan.”
“Tidak
apa-apa. Ini saja sudah cukup. Kamu juga pasti sibuk mempersiapkan banyak hal,
kan? Tidak ada yang terlupakan?”
Aku balas mengangguk.
Aku telah menyiapkan perlengkapan bisbolku khusus untuk hari ini. Setelah
menanyakan barang-barang yang diperlukan kepada Maru, aku mencari toko yang
menjual perlengkapan bisbol.
Meskipun
begitu, bisbol adalah olahraga yang populer di Jepang, jadi kupikir aku bisa
menemukannya dengan mudah...
Namun, di
Shibuya, aku hanya menemukan satu toko kecil yang tidak memiliki banyak
pilihan. Tapi, pelayan di sana sangat ramah. Ketika aku mengatakan bahwa aku
ingin perlengkapan untuk bisbol amatir, mereka merekomendasikan sarung tangan,
bola lunak, dan sepatu spikes, dengan mengatakan bahwa itu sudah cukup.
Itulah saran
dari seorang ahli, jadi aku pun membeli perlengkapan sesuai rekomendasi.
Maru juga
bilang kalau dirinya bisa meminjamkan jika ada yang diperlukan, jadi meskipun aku
sudah membeli perlengkapan secara resmi, rasanya menyedihkan jika semuanya
hanya teronggok di sudut kamar karena bosan.
Pada hari
itu, aku disarankan untuk mengenakan pakaian yang nyaman dan tidak masalah jika
kotor, jadi aku tidak membeli pakaian olahraga khusus.
Aku dengan
santai memasukkan jersey yang kugunakan saat pelajaran olahraga SMA ke dalam
tas olahraga, berpikir bahwa semuanya sudah siap untuk hari ini, tetapi aku
merasa ragu. Meskipun sudah terlambat untuk merasa cemas di dalam kereta menuju
lokasi.
“Mungkin seharusnya
aku main tangkap bola di taman dekat sini.”
“Tapi,
bukannya itu berarti kamu harus bermain dengan seseorang, ‘kan?”
“Begitulah.”
Sambil
berkata demikian, aku melirik wajah Saki.
Dia
menggelengkan kepalanya dengan cepat. Sepertinya tidak mungkin.
“Mustahil,
aku enggak sanggup. Lagipula, bola bisbol itu keras dan kecil.”
“Kecil...?”
“Kalau bola
softball, aku pernah memegangnya. Saat pelajaran olahraga.”
“Benar juga.”
Jadi, dia
sudah berpengalaman dengan softball saat pelajaran olahraga. Memang, bola
softball yang digunakan di pelajaran olahraga lebih besar dan lebih lunak.
Sementara bola bisbol lebih kecil dan keras. Pada malam hari setelah membeli
perlengkapan, aku mencoba melempar bola lunak ke langit-langit kamar sambil
mengenakan sarung tangan, yang bahkan lebih mudah dari sekedar main tangkap
bola.
Aku berharap
ini tidak membuat orang tertawa, tapi aku tetap merasakan kerasnya bola. Selain
itu, bola yang kubeli adalah bola lunak, sedangkan Maru dan yang lainnya
menggunakan bola keras di klub mereka. Ketika aku bertanya, “Apa tanganmu
tidak sakit?” dirinya menjawab, “Sakit, sih.” Dan melanjutkan, “Tidak
apa-apa. Nanti juga terbiasa.”
Setelah menceritakan
itu padanya, Saki tiba-tiba berkata, “Cowok atlet memang luar biasa, ya.”
Aku juga
setuju. Sulit dipercaya bahwa mereka bisa berlatih sampai terbiasa.
Namun, jika
dipikir-pikir, jika ini bukan tentang olahraga, ceritanya akan berbeda. Bagi
orang yang tidak suka membaca, sulit untuk percaya bahwa mereka bisa menjadikan
membaca sebagai kebiasaan, sama seperti halnya dengan hal-hal yang disukai bisa
menjadi kebiasaan.
Tingkat
antusiasme sampai sejauh itu terlihat sangat mengesankan bagi orang awam yang
tak mengetahuinya.
“Memang
benar. Aku juga berpikir bahwa Yuuta yang setiap hari membaca buku itu luar
biasa,” kata Saki sambil mengangguk.
“Ya, mungkin
aku sedikit cemas karena aku tidak memiliki tingkat antusiasme seperti
itu.”
Bukan hanya
aku kurang pengalaman, tapi ini pertandingan olahraga tim dengan banyak orang
asing. Hal-hal yang aku kurang suka berkumpul dan menyerangku dalam bentuk
bisbol amatir...
“Sudah
kuduga, aku merasa gugup jika tiba-tiba disuruh langsung bertanding.”
“Tapi, kita
sudah sejauh sini, ‘kan?”
“Benar juga
sih.”
Kami turun
di Stasiun Taman Shakuji dan bertemu Maru di tempat pertemuan.
Narasaka-san juga tiba beberapa saat kemudian. Kedua gadis itu terlihat memegang payung di tangan mereka.
“Jadi, kita
hanya perlu menunggu di sini?”
“Ya. kurasa
perwakilannya akan segera datang, jadi aku akan memperkenalkan kalian.”
Perwakilan
yang dimaksud adalah perwakilan dari tim bisbol amatir tempat Maru
berpartisipasi. Akhirnya, aku diberi tahu nama timnya. Ternyata, nama timbya
adalah [Raimei Sisters].
“Raimei
Sisters... Sisters?”
Dari namanya
saja, tim ini kedengarannya seperti hanya terdiri dari wanita. Padahal itu
tidak mungkin (sebenarnya, Maru berpartisipasi di dalamnya).
“Perwakilan
itu menyukai karakter adik perempuan.”
“Karakter...
adik perempuan?”
Apa boleh
kalau aku mengasumsikan kalau karakter adik perempuan yang dimaksud adalah
karakter yang muncul dalam light novel yang berposisi sebagai adik?
“Ah, mungkin
aku belum bilang? Asamura juga pasti tahu tentang 'Raimei'.”
“Raimei?”
Aku merasa bingung
dengan pernyataan Maru, dan kebingungan itu semakin bertambah ketika Narasaka-san
yang berdiri di samping Maru mengangkat tangan dan berkata, “Aku tahu!” Narasaka-san
mengetahuinya? Dia menunjuk topi yang dia kenakan.
Lebih
tepatnya, dia menunjuk pada pin besar yang terpasang di topi bisbol yang dia
kenakan dengan miring di kepalanya. Wajah seorang gadis dengan potongan rambut
pendek yang imut digambarkan dengan besar.
Sepertinya aku
mengenalnya...?
“Satu-satunya
alasan kau tahu adalah karena aku sudah memberitahumu, iya ‘kan?”
Maru menyela
pembicaraannya, dan Narasaka-san menatap Maru dengan tajam. Suara dingin
terdengar, “Tomo-kun?” Maru tampak terkejut seolah menyadari sesuatu.
“Kamu?”
“Ah, tidak,
maksudku... yah...”
“Yah?”
“Yah, yah,
cuacanya bagus hari ini, kan?”
“Cuacanya
sangat cerah sampai-sampai perlu tabir surya. Ini bukan sekadar 'yah'!”
“Padahal aku
cuma ingin membicarakan tentang 'Raimei'.”
“Aku juga
ingin membahasnya. Tomo-kun? Hei, Tomo-kun! Kita sudah berjanji, kan, Tomo-kun!”
“Yah...
yah...”
“Ya,
ya!”
Senyum lebar
Narasaka-san menyinari Maru dengan sinar matahari yang tak terhindarkan.
Mengesampingkan
sahabatku yang tampak kesu dan kelelahan hanya dengan memanggil kasar nama
pacarnya, aku akhirnya menyadari karakter yang digambarkan di pin yang
dikenakan Narasaka-san.
“Ah, itu
adalah adik perempuan Rai dari protagonis 'Raimei'.”
“Yup, betu;
banget! Hebat, Asamura-kun, kamu tahu banyak, ya!”
“Maru sudah
lama merekomendasikannya kepadaku, dan aku ingat itu cukup unik dan menarik meskipun
ada beberapa elemen yang aneh.”
Karakter
yang ada di pin Narasaka-san adalah karakter adik perempuan dari manga berjudul
'Raimei'. Sepertinya penulisnya sangat teliti dan menghabiskan banyak
waktu untuk menulis, sehingga serialnya terhenti setelah empat volume
dirilis.
Ceritanya
adalah tentang...
Kekuatan
supernatural kakak beradik yang berasal dari petir, di mana sang kakak
menggunakan sihir cahaya dan sang adik menggunakan sihir suara untuk melawan
musuh, seperti manga pertarungan pada umumnya. Jika hanya sampai di sini, aku
takkan terlalu tertarik.
Namun,
ketika mereka mulai mengatakan “alam semesta sebenarnya terdiri dari suara
dan cahaya,” aku mulai merasa “oh?” dan ketika mereka menambahkan beberapa elemen
aneh seperti “petir yang memiliki kehendak untuk memiliki nama” atau “entitas
kosmik yang menghancurkan dimensi”, aku mulai merasa itu menarik. Beberapa
penggemar yang sedikit aneh, termasuk diriku, mulai menyukainya. Meskipun alur
ceritanya sedikit menyimpang, tapi aku cukup menyukai gaya penulisannya yang
unik.
Dan yang
paling penting, karakter adik perempuan dari protagonis sangat terkenal karena
sifat dan desainnya yang imut, sehingga Maru tampaknya benar-benar terpesona
dan menjadi penggemarnya.
“Aku paham
banget~. Mei-chan. Dia imut banget, iya kan?”
Narasaka-san
yang memegang topinya mengelus pin tersebut.
“Benarkah?”
Di antara
kami berempat, cuma Saki yang belum membacanya dan dia terlihat bingung.
“Asli! Kecantikan
Mei-chan itu nyata. Saki, kamu juga harus membacanya. Kalau ceritanya tentang
adik perempuan, kamu pasti akan terpikat!”
“Be-Begitu
ya.”
Saki tampak
sedikit terganggu dengan rekomendasi Narasaka-san yang agak memaksa.
Yah, kurasa
adik perempuan asli di dunia nyata mungkin tidak terlalu tertarik pada cerita
tentang adik perempuan, tetapi karena itu bukan urusanku, aku memutuskan untuk
diam saja.
“Yah, memang
dia imut, sih. Gambar biasanya juga begitu, dan versi deformatnya juga imut. Sepertinya
sudah populer sejak awal serialnya dimulai. Selain itu, sihir suara mungkin
sulit untuk diekspresikan dalam manga, tetapi mereka berhasil
mengekspresikannya dengan baik—”
Ketika kami
sedang asyik membahas topik yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan
bisbol, tiba-tiba ada suara yang datang dari belakang.
“Aku senang
mendengarnya. Terima kasih.”
Aku terkejut
dengan kata-katanya. Aku tidak pernah membayangkan bahwa pendapatku akan
mendapatkan tanggapan dari orang lain selain Maru.
Seketika aku
menoleh, dan seorang pria berusia sekitar empat puluhan dengan janggut
tersenyum di depanku. Dirinya mengenakan kaos lengan pendek. Di tengah kaosnya
tercetak besar wajah seorang gadis, yang ternyata adalah wajah gadis di pin
yang dikenakan Narasaka-san. Logo 'Raimei Sisters' juga terpampang di
dadanya. Hah?
“Selamat
pagi, Tori-san!”
“Yo,
Maru-kun, selamat pagi juga.”
Karena Maru
menyapa “Tori-san” dengan akrab, mungkin orang ini adalah...
“Ini Asamura,
pemain tambahan yang pernah kurekomendasikan. Asamura, ini Tori-san, eh,
maksudku Torigoe-san.”
Maru menepuk
bahuku dan memperkenalkanku kepada pria berjanggut di depanku. Aku secara
refleks membungkuk.
“Namaku
Asamura. Ah, aku... teman Maru.”
“Ya, aku
sudah mendengarnya. Senang bertemu denganmu. Aku Torigoe, perwakilan dari
'Raimei Sisters'. Rasanya senang sekali mendengarmu penggemar Mei-chan.”
“Ah,
ya.”
Kalau
dirinya merasa senang, apa itu berarti ia juga penggemar 'Raimei'?
Aku berpikir
sesederhana itu, tapi perkiraanku benar-benar terbantahkan oleh kata-kata Maru
berikutnya.
“Asamura,
Torigoe-san adalah editor yang bertanggung jawab atas Beradonna-sensei, penulis
Raimei.”
Hah? ...
Editor?
“Terima
kasih,” Torigoe-san tersenyum.
“Ah, ya.
Terima kasih.”
Terima
kasih? Apa sih yang sedang kukatakan? Kebingunganku semakin parah.
Namun, tanpa
memperhatikan kebingunganku, Maru mulai menyapa teman-teman tim bisbol yang
mulai berkumpul dan memperkenalkanku satu per satu. Setiap kali, aku
mengucapkan, “Senang bertemu. Namaku Asamura. Senang bertemu hari ini,”
dan ketika latihan di lapangan dimulai, aku merasa diterima oleh orang-orang di
sekitarku, tetapi misteri awalnya semakin dalam.
Apa
maksudnya dengan....editor yang bertanggung jawab?
Namun, aku
tidak punya waktu untuk bertanya, karena latihan sebelum pertandingan sudah
dimulai. Masing-masing dari kami mulai bermain lempar tangkap sendiri, tetapi
karena ini partisipasiku yang pertama, aku tidak memiliki pasangan
tertentu...
“Aku akan
menjadi pasanganmu, Asamura. Kamu bisa melakukan lempar tangkap, kan?”
Maru berkata
demikian sambil menepuk bola ke sarung tangan sendiri dengan satu tangan.
“Aku hampir
tidak pernah melakukannya, tapi boleh aku minta tolong?”
“Jangan
terlalu tegang. Ini bukan tentang menang atau kalah.”
Maru
mengatakan itu sambil tersenyum, tapi rasanya sulit untuk tidak merasa
tegang.
Setelah
melakukan pemanasan ringan di pinggir lapangan, aku belajar cara melempar,
menangkap, dan memukul bola. Situasi di mana aku melakukan lempar tangkap
pertama 30 menit sebelum pertandingan dimulai, menurutku, jelas meremehkan
bisbol amatir.
Dan
kenyataannya, dunia tidak segampang itu.
Hampir
sepanjang waktu latihan 30 menit, aku menghabiskannya hanya untuk menangkap
bola yang dilemparkan Maru.
Dari luar, ia
tampaknya cuma melempar dengan ringan, tetapi bola itu terasa sangat cepat, dan
aku sama sekali tidak bisa menangkapnya. “Apa-apaan ini, menakutkan,”
pikirku. Selama 30 menit latihan, yang berhasil kulakukan hanyalah membanting
sarung tanganku ke bola dan menjatuhkannya.
Pelemparan
kembali jauh lebih buruk. Bola yang kulempar melambung terbang ke arah yang
salah.
Rasanya
wajar saja. Selama 18 tahun, aku tidak pernah berurusan dengan olahraga bola. Selama
masa SMP dan SMA, aku tidak pernah dipaksa bermain bisbol, dan meskipun ada
sedikit pengalaman lempar tangkap dengan softball, aku tidak memiliki
pengalaman lebih dari itu. Sebenarnya, aku sudah menghindari olahraga tim
sebisa mungkin, jadi ketika ada pertandingan kecil di kelas, aku hanya menunggu
di pinggir dan berusaha tidak menarik perhatian.
Mana mungkin
orang sepertiku bisa mahir hanya dengan latihan selama 30 menit. Jika bisa
langsung jago, aku pasti sudah bergabung dengan klub bisbol dari dulu.
Setelah
waktu latihan berakhir, tibalah waktunya pertandingan.
Namun,
dengan latihan seperti tadi, mana mungkin aku bisa tampil baik di
pertandingan...
Meskipun aku
bertahan di posisi lapangan kanan, aku bahkan tidak bisa menangkap bola yang
melambung (aku tidak tahu di mana titik jatuhnya). Untuk bola yang
terbang lurus, aku bahkan menghindar dengan canggung. Ketika akhirnya aku
berhasil menangkap bola yang bergulir di luar lapangan, aku melemparkannya
sekuat tenaga ke arah rekan setim, tetapi karena jalurnya melambung, pelari
justru terus maju. Ketika kami kebobolan tiga poin dalam putaran pertama, aku
merasa sangat bersalah dan ingin melarikan diri.
Bisbol
amatir ini terlalu sulit! Aku hampir putus asa.
Akhirnya,
setelah tiga pemain out, aku kembali ke bangku tim dengan langkah lesu.
Kaki terasa berat.
Namun, saat
kembali ke bangku, aku terkejut. Anggota tim dan Narasaka-san serta Saki tidak
menunjukkan tanda-tanda kekecewaan, mereka malah tampak senang dan memberikan
semangat dengan ucapan “Jangan dipikirin!” atau “Sayang sekali!”
Ah, jadi inilah maksudnya “tidak perlu khawatir tentang menang atau
kalah.”
Di tim ini,
hasil tidak menjadi prioritas. Mungkin ada berbagai jenis tim bisbol amatir di
luar sana, tetapi setidaknya di sini beginilah mereka.
“Hey,
Asamura. Saatnya giliranmu.”
Suara Maru
membuatku mendongak ke arahnya saat aku sedang meneguk minuman olahraga yang
diberikan Saki.
“Hah? Aku
nomor delapan, ‘kan?”
Aku sama
sekali tidak memiliki waktu untuk melihat pertandingan dan hanya berfokus untuk
mengatur napas, tapi bukannya giliranku datang terlalu cepat?
“Ya, nomor
delapan, tetapi kamu juga akan memukul sebagai nomor dua dan lima.”
“Apa?”
“Yoshida-san
sepertinya mengalami masalah bahu sejak kemarin. Dia berhasil mengatasi di
posisi pertama, tetapi sepertinya tidak bisa memegang pemukul lagi. Selain itu,
Daitokuji-san yang nomor lima juga tidak mau jadi pemukul karena takut.”
“Tunggu. Memangnya
itu diperbolehkan?”
“Bersyukurlah,
kamu akan mendapatkan tiga kali giliran lebih banyak, jadi akan banyak
kesempatan untuk berlatih. Dan kamu tidak perlu khawatir jika strike out.”
Tidak,
tidak, tidak. Meskipun ini bisbol amatir, apa aturannya bisa begitu
longgar?
Maksudku,
jika aku berhasil memukul lemparan bola dan keluar ke base, bukannya giliran
berikutnya akan datang sebelum aku kembali ke home? Ketika aku mengatakannya,
Maru menjawab, “Saat itu, orang lain sudah berdiri di kotak pemukul, jadi tidak
perlu khawatir.”
Aturannya
longgar sekali. Memangnya aturannya bisa selonggar ini meskipun ini bisbol
amatir?
“Jika ini
pertandingan latihan, begini lah adanya. Aturan khusus untuk pertandingan kali
ini sudah disepakati kedua belah pihak sebelum pertandingan. Jadi, jangan ragu
untuk strike out, eh, maksudku, ayunkan pemukulmu!”
Itu adalah
cara memberi semangat yang mengasumsikan bahwa aku tidak akan bisa mengenai
bola. Tentu saja, jika sudah sampai pada titik itu, aku jadi ingin mencoba
memukul bola setidaknya sekali.
“Batter,
out!”
... Aku
beneran strike out tiga kali.
“Sayang
sekali, sayang sekali. Jangan khawatir, Asamura.”
“Ya, pemukul
dan bolanya semakin dekat, kok.”
Kata-kata
Saki paling menyentuh hatiku. Huh... jika aku mendapatkan giliran sebanyak itu,
aku akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa memukul.
Namun, semuanya
tidak berjalan semudah itu, dan dua jam setelah pertandingan berakhir, hasilnya
adalah 12-9 yang cukup mencolok untuk bisbol amatir, sementara aku sendiri
berakhir tanpa berhasil memukul bola.
“Tapi kurasa
Asamura-kun hampir saja memukul di pukulan terakhirnya.”
Torigoe-san
mengatakan itu setelah pertandingan selesai.
Meskipun aku
tidak mendapatkan satu pukulan sama sekali, dengan banyaknya giliran yang
datang, aku perlahan-lahan mulai terbiasa dengan kecepatan bola dan akhirnya
bisa mengenai bola pada pukulan terakhir, bahkan bisa mengarahkannya ke luar
lapangan. Sayangnya, bola itu malah melayang ke kiri lapangan.
“Kurasa lain
kali kamu bisa mengenainya. Asamura-kun, kamu punya potensi yang baik.”
“Terima
kasih.”
Meskipun aku
merasa itu hanya sanjungan semata, aku tidak merasa buruk mendapat dukungan
seperti itu. Torigoe-san yang mengatakan aku punya potensi baik memberikan
kartu namanya saat kami berpisah. Melihat kartu nama tersebut, akhirnya aku
menyadari bahwa Torigoe-san adalah editor yang bertanggung jawab dari seri
manga 'Raimei' seperti yang dikatakan Maru.
“Aku akan
mengajakmu lagi lagi.”
Begitu
katanya saat kami berpisah.
Setelah
bertanya kepada Maru, aku mengetahui bahwa awalnya Torigoe-san dan 'Beradonna'-sensei
yang membuat tim 'Raimei Sisters' bersama. Ada juga ide untuk mengajak
para komikus yang cenderung kurang bergerak untuk berolahraga dan berinteraksi
di dalam industri. Itulah sebabnya nama karya dijadikan nama tim, tetapi karena
'Beradonna'-sensei tidak bisa mempertahankan ritme serialnya dan tidak
pernah mengirimkan naskah, bisbol harus ditangguhkan sampai naskahnya siap...
Jadi, bisa saja aku bertemu dengan komikus melalui bisbol ini jika salah
langkah. Badanku bergetar membayangkannya.
Ngomong-ngomong,
Kami kembali
ke Stasiun Taman Shakuji—aku, Saki, Maru, dan Narasaka-san-san—dan mengadakan
perayaan, atau lebih tepatnya pengarahan, di restoran cepat saji terdekat.
“Lihat,
lihat. Asamura-kun!”
Narasaka-san-san
berkata demikian sambil mengarahkan layar smartphone-nya ke wajahku. Di layar
tersebut ada fotoku yang berdiri di kotak pemukul dengan gerakan canggung yang
jelas menunjukkan bahwa aku seorang pemula, bersama dengan penangkap dan wasit
yang terlihat dari samping. Sepertinya itu bukan gambar, melainkan video, dan
waktu terus berjalan di dalamnya.
“Uwa, kapan
kamu merekam ini?”
“‘Kan sudah kubilang
sebelumnya kalau aku akan merekam.”
“... Apa
kamu pernah bilang begitu?”
“Aku sudah
bilang kok. Iya ‘kan, Tomo-kun?”
“Ah, dia
memang bilang begitu. Mungkin kedengarannya aneh jika dia yang bilang, tapi aku
takkan membiarkan tindakan merekam tanpa izin.”
“... Yah, sejujurnya,
aku terlalu tegang saat menghadapi pertandingan. Kemungkinan besar aku
melewatkan beberapa detail.”
“Apakah itu
buruk? Haruskah kita menghapusnya?”
Narasaka-san-san
tampak menyesal tetapi tetap peka. Aku menggelengkan kepala.
“Tidak,
tidak apa-apa. Aku hanya sedikit malu, tapi aku tidak membencinya. ... Melihat
diriku sendiri berolahraga secara objektif itu, entahlah, terasa aneh.”
“Eh? Aku
pikir itu keren kok. Iya ‘kan, Saki?”
“Kenapa aku
yang disuruh melanjutjkan? ... Yah, memang sih.”
“Kenapa kamu
mengalihkan pandanganmu dan menjawab dengan dingin? Saki, bukannya kamu
memotret Asamura-kun dengan ekspresi serius sepanjang waktu!!”
“Ugh.”
...
Saki?
Saki sempat
mengalihkan pandangannya sejenak, tetapi setelah beberapa saat, dia dengan
canggung dan malu-malu mengulurkan layar smartphone-nya padaku.
“Maaf, aku
juga mengambilnya. Meski cuma foto saja sih.”
Di layar smartphone-nya, ada jepretan fotoku saat aku sedang mengayunkan tingkat pemukul dengan jelas.
Namun,
berbeda dengan video Narasaka-san, foto itu tidak menampilkan sosok penangkap
bola atau wasit, melainkan hanya fokus pada diriku dengan kamera yang mendekat.
Saki yang belakangan ini mengatakan sedang mencari cara untuk mengambil foto
yang bagus, menunjukkan bahwa semua sudut, waktu, dan pencahayaannya sangat
indah. Meskipun subjeknya adalah diriku sendiri, rasanya masih kelihatan aneh
untuk menggambarkannya sebagai sesuatu yang indah.
“Jangan-jangan
itu akan diunggah ke Instagram...”
“Tentu saja tidak.
Jika kamu mengira aku akan melakukan hal seperti itu, itu sangat
menyakitkan.”
“Ya, aku
tahu. Tapi, aku cuma ingin memastikan saja.”
Aku merasa
lega sekaligus sedikit kecewa.
Instagramku
yang kosong melompong dan Instagram Saki yang penuh. Meskipun aku tidak bisa
menguasai media sosial itu, aku merasa senang jika bisa ada di dunia Saki
sebagai salah satu karakternya.
... Tapi, meskipun
begitu, memperlihatkan wajahku dengan berani ke seluruh dunia sebagai pacarnya
Saki rasanya masih terlalu berlebihan. Ayahku pasti tidak menggunakan
Instagram, tetapi ibuku mungkin akan memeriksanya.
Setelah
melihat foto dan video untuk mengingat kembali pertandingan, kami berempat
mengobrol.
“Jadi,
Asamura-kun. Bagaimana pertandingan bisbolnya?”
Narasaka-san
tiba-tiba bertanya begitu dengan senyum lebar, dan mataku bertemu dengan Maru.
Dirinya tampak sedikit khawatir.
“Rasanya seru
banget.”
Saat aku
menjawanya, raut lega terpancar di mata Maru. Itu bukanlah kebohongan yang
kukatakan demi menghibur Maru. Pertandingan itu memang menyenangkan. Meskipun aku sangat lelah. Torigoe-san
bilang dia akan mengajakku lagi, dan jika ada kesempatan, aku pikir tidak ada
salahnya untuk ikut berpartisipasi lagi.
Dalam perjalanan
pulang setelah perayaan, aku berjalan bersama Saki sambil mengenang hari
itu.
“Sepertinya
seru ya. Ayo, kita main lempar tangkap berdua lain kali.”
“Kalau
begitu, kita harus beli sarung tangan untukmu juga, Saki.”
“Ya. Tapi, seriusan,
yang pukulan terakhir itu hampir saja, ‘kan?”
“Sejujurnya,
saat aku mengenai bola, aku berpikir itu bisa jadi home run.”
Aku
mengatakannya dengan nada bercanda.
“Aku juga
begitu. Rasanya seperti tersedot ke langit biru, plop! Saat itu, aku tidak
sengaja berteriak ‘berhasil!’”
“Begitu? Wah,
aku tidak mendengarnya.”
“Kenapa kamu
malah kelihatan kecewa begitu? Bagian itu tidak masalah, ‘kan?”
Saki
berkata demikian sambil memanyunkan bibirnya karena malu.
Tapi
sebenarnya, saat berdiri di kotak pemukul, suara-suara para penonton terdengar jauh. Suara
dukungan Saki dan reaksi kecil lainnya, tentu saja, serta semua kebisingan lain
seolah menghilang. Aku sangat berkonsentras
pada bola di depanku sampai-sampai
mengejutkan diriku sendiri. Dengan begitu seringnya giliran datang, aku tidak
punya waktu untuk memikirkan setiap kesalahan, dan hanya berusaha untuk tidak
mengulangi kesalahan dari pukulan
sebelumnya.
Mungkin
itu hal yang baik.
“Satu tindakan jauh lebih baik daripada seribu
kali berpikir.”
Entah
bagaimana aku teringat sesuatu yang pernah dikatakan instruktur sekolah
mengemudiku.
◇◇◇◇
Universitas
sudah memasuki liburan musim panas.
Pada waktu
yang hampir bersamaan, aku menyelesaikan semua pelajaran
di jalan dan teori, serta lulus ujian kelulusan. Sekolah mengemudi mengeluarkan
“surat keterangan kelulusan” untukku. Setelah ini, aku harus pergi ke
pusat SIM untuk mengikuti ujian teori dan ujian kelayakan, dan jika semuanya berjalan lancar, aku bisa mendapatkan
SIM.
Untuk mendapatkan
SIM, aku pergi ke tempat ujian SIM di Samesu.
Samesu... di mana itu?
Ah, aku
memeriksa peta dan menyadari bahwa lokasinya
berada di dekat Shinagawa.
Setelah perjalanan selama sekitar 40 menit dengan kereta, aku sampai di sana.
Setelah melewati ujian teori dan ujian kelayakan, akhirnya aku bisa mendapatkan
SIM. Aku menghabiskan setengah hari untuk menerima SIM tersebut.
Meskipun
tidak tepat sebelum liburan musim panas, tapi
aku berhasil mendapatkan SIM hampir sesuai rencana awal.
Saat
menerimanya, aku merasa lega, tetapi sekaligus merasakan sedikit
kehilangan.
Ah,
sepertinya aku tidak punya hal yang ingin dilakukan lagi.
Ketika
aku melihat kembali 18 tahun hidupku, aku merasa bahwa sebelum masuk SMP, aku
sangat jarang ingin memulai sesuatu sendiri. Baik ujian masuk SD maupun SMP
ditentukan oleh ibuku, bukan olehku. Memilih SMA juga karena alasan yang pasif,
yaitu yang paling dekat dengan rumah. Bahkan setelah masuk SMA, aku tidak
terlibat dalam kegiatan ekstra kurikuler, dan berusaha sebisa mungkin untuk
tidak ikut serta dalam acara sekolah (karena tidak ada waktu untuk membaca),
dan aku tidak merasa perlu memiliki teman atau pacar, jadi hubungan yang ada
pun minimal.
Keputusan
pertamaku... mungkin bekerja paruh waktu di toko buku?
Aku tidak
bisa mengingat apa yang menjadi pemicunya.
Mungkin karena itu toko yang sudah kukunjungi sejak kecil. Aku menyukai buku. Ketertarikanku pada buku membuat pengeluaran
untuk buku menjadi membengkak. Hanya karena faktor-faktor kecil seperti itu,
aku akhirnya memutuskan untuk mulai bekerja paruh waktu.
Namun,
berkat senior di tempat kerja yang cerdas,
Yomiuri-senpai, aku menyadari bahwa ada alasan di balik buku
yang tadinya kupikir kubeli dengan santai.
Setelah beberapa waktu bekerja dan mulai terbiasa dengan pekerjaan, aku membawa
buku yang menarik perhatianku ke kasir setelah selesai bekerja, dan ketika aku
ingin membelinya, Yomiuri-senpai yang berdiri
di belakang meja kasir tersenyum lebar padaku.
Itu
adalah senyuman yang bisa dibilang “senyum licik.”
Meski wajahnya
tersenyum, tapi matanya tidak tersenyum, dan aku, karena tidak ada pelanggan lain, tanpa sadar bertanya.
“Buku
ini... memangnya ada yang
salah?”
“Tidak,
tidak. Tapi, Kouhai-kun, kamu tidak
menyadarinya? Buku itu bukanlah buku baru.”
Ketika
aku memeriksa halaman penerbit, aku terkejut karena tanggal terbitnya sudah
tiga tahun yang lalu. Karena buku itu diletakkan di samping buku ekonomi
perilaku terbaru, aku mengira itu baru saja diterbitkan...
“Aku sengaja meletakkannya di saja karena kupikir jika itu
pelanggan seperti dirimu,
buku itu pasti akan menarik perhatian.
Itu adalah buku terkait. Hehehe. Yah, aku tidak menyangka kamu akan membelinya.”
Yomiuri-senpai
menyuruhku membaca buku itu lagi. Di situ tertulis
“Apa itu Jalur Pergerakan - Strategi Penjualan Toko Ritel.” Kalau dipikir-pikir, Yomiuri-senpai adalah orang yang pertama kali
mengajariku tentang istilah “jalur pergerakan” — rute yang dilalui
pelanggan saat bergerak di dalam toko.
Jadi,
bisa dibilang aku terpaksa membeli buku ini berkat fungsi rekomendasi yang
ditunjukkan oleh senior Yomiuri.
...
Begitulah pengalamanku.
Sejak
saat itu, aku mulai tertarik pada alasan orang lain mendapatkan motivasi untuk
memulai tindakan. Mungkin inilah cerminan dari kesulitan yang aku alami dalam
menemukan pemicu untuk memulai tindakan dalam diriku sendiri.
Pada
dasarnya, aku memang orang yang jarang memiliki keinginan
untuk melakukan banyak hal.
Aku
berpikir kalau aku tidak perlu memaksakan sesuatu
yang tidak ada, tetapi aku juga ingin menghindari situasi di mana aku ragu
untuk meraih sesuatu sehingga akhirnya tidak bisa dijangkau selamanya.
Sama seperti ketika aku bertemu
Profesor Mori dan menjadi tertarik pada sosiologi ilmiah, yang membawaku untuk
memasuki Universitas Ichinose. Atau seperti pertemuanku dengan Maru
yang mengarahku untuk ikut serta dalam pertandingan bisbol.
Koneksi
dengan orang lain sering kali membawa kita ke arah yang tidak terduga.
Karena
itulah, lebih baik jika ada pemicu
untuk bertemu orang baru. Karena aku mulai pergi ke sekolah mengemudi, aku bisa
bertemu instruktur itu.
── Apa Anda tahu pepatah “Satu tindakan jauh lebih baik daripada seribu
kali berpikir”?
── Aku
berpikir bahwa apa yang kurang dari Asamura-san adalah pengalaman nyata.
Aku
merasa bersyukur bisa mendengar hal seperti itu. Namun, pelajaran mengemudiku sudah berakhir, dan tantangan
baru ini juga telah mencapai titik akhir. Aku berhasil mendapatkan SIM,
tetapi aku tidak memikirkan apa yang akan terjadi setelah itu.
Tujuanku
telah tercapai.
Namun,
apa yang perlu kuhadapi sekarang?
Bagaimana aku bisa memperluas dunia ini lebih jauh...
Atau
lebih tepatnya, mengapa aku memiliki motivasi untuk mendapatkan SIM sejak
awal?
Aku kembali teringat, awal mulanya karena
aku pernah bermimpi. Mimpi yang mulai
memudar dari ingatan. Dalam
mimpi itu, aku memikirkan ke mana aku akan pergi bersama Saki dan
anak-anak.
Ah,
iya.
Ke
laut.
Aku ingin
pergi ke laut.
Jika aku
tiba-tiba mengajak Saki pergi ke laut saat liburan musim panas, kira-kira bagaimana reaksinya? Apa dia akan
merasa tidak nyaman?
Apa yang
memotivasi orang untuk mengambil tindakan?
Selalu
saja, itu dimulai dari hal kecil yang tidak ada artinya. Dan aku cenderung menutupi
perasaan kecil yang muncul dalam hatiku. Sekarang aku mengerti
alasannya.
Aku
penasaran, jika aku tiba-tiba mengajak Saki, bagaimana
reaksinya? Apa dia akan merasa aneh?
Aku
berpikir seperti itu. Karena itulah aku lebih suka bermain sendiri. Karena aku bisa menyelesaikan perasaanku
sendiri. Orang lain tidak bisa memahami. Aku tidak bisa memprediksi bagaimana tanggapan orang lain terhadap tindakanku.
Meskipun mereka tersenyum, mungkin saja di dalam hati mereka merasa
terganggu.
Ketakutan
seperti itu selalu ada.
Tapi──.
──Baik
menerima atau menolak, semua itu baru bisa terjadi setelah kamu menunjukkan
niatmu.
Ya, persis seperti yang dikatakan
instruktur.
Ah, itu
sama seperti saat masuk ke jalan tol.
Aku
pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan, tapi kesulitan untuk membuat orang
lain menyesuaikan diri denganku. Karena
ditolak terasa seperti penolakan terhadap diriku sendiri. Sekarang aku mengerti
bahwa aku takut terluka.
Tiba-tiba,
aku teringat percakapanku dengan
Maru. Ketika aku bertanya, “Kamu tidak pernah merasa sakit tangan?” dia
menjawab, “Sakit, sih.” Lalu dia berkata, “Tapi tidak apa-apa. Aku sudah
terbiasa.”
Ah, begitu rupanya, mustahil bagi
seseorang untuk belajar berlari tanpa terjatuh satu kali pun.
──Mungkin
Asamura-san perlu lebih menghargai aspek fisik.
Ya, jika
aku berani menginjak gas, jika aku bergabung, mungkin aku bisa melaju jauh
dengan mengikuti arus.
Aku ingin
pergi ke laut, bersamamu.
Tanpa
takut untuk mengambil langkah pertama, aku akan
mencoba mengajukan saran padanya.

