Gimai Seikatsu Volume 15 Chapter 4 Bahasa Indonesia

Chapter 4 — Tahun Pertama Perkuliahan, Bulan Juni, Ayase Saki

 

Sudah sebulan aku mulai melakukan pekerjaan magang di kantor desain milik Ruka-san. Aku pergi ke sana hampir setiap hari, membuka PC, dan menyelesaikan pekerjaan. Di sela-sela itu, aku meminta pengajaran dari para senior tentang dasar-dasar desain, menanyakan bahan ajar yang sebaiknya dijadikan referensi, dan meskipun belajar secara otodidak, aku perlahan-lahan mulai belajar. Aku melakukan semuanya di antara jam perkuliahan di kampus, jadi belakangan ini aku sedikit sibuk.

Aku ingin mengatakannya begitu sih, tapi...

Tidak, aku memang sibuk, kok?

Aku sendiri merasa hal ini pekerjaan berat. Seharusnya memang berat. Namun, aku merasa ragu untuk mengatakannya karena beban kerja bosku, Ruka-san, sangat luar biasa.

Karena aku yang mengatur jadwalnya, aku merasakannya lebih dalam.

Berapa banyak pekerjaan yang dibutuhkan untuk mencukupi semua itu, aku tidak tahu, karena jumlah proyek yang ditanganinya sangat banyak—ini adalah istilah yang digunakan untuk menyebut unit pekerjaan.

Karena kami kantor kecil, jadi sebagian proyek yang ditangani juga kecil, dan seringkali pekerjaan nyata dilakukan oleh karyawan lain, tetapi pengelolaan dan pembagian proyek harus dilakukan oleh Ruka-san sebagai presiden perushaan. Selain itu, tanggung jawab akhirnya berada di tangan Ruka-san, jadi dia harus terus memeriksa kemajuan dan kualitas pekerjaan.

Pekerjaan tersebut menjadi sangat besar...

Hanya itu saja sudah cukup berat, tetapi...

Saat ini, dirinya juga menangani proyek yang tidak bisa dibilang kecil.

Yaitu proyek 'Roppongi Art Festa'.

Meskipun konsepnya segar dan merupakan upaya baru, penyelenggaraan acara seni besar di Roppongi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kami tidak bisa menghancurkan kesan baik yang telah terbangun di Roppongi. Sementara itu, kami juga harus berusaha agar orang-orang yang berpartisipasi tidak merasa kecewa dengan pengalaman yang biasa-biasa saja, jadi kami harus mencoba hal-hal baru.

Hal ini semakin sulit seiring dengan besarnya acara. Hal baru membutuhkan energi. Mereka cenderung menjadi konservatif. Oleh karena itu, desain konsep keseluruhan sangat penting, dan bagaimana kami dapat menunjukkan perbedaan di sana—kata Ruka-san.

Nah, jadi, apa konsep (atau “tujuan”) 'Roppongi Art Festa'?

Dunia seni yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari.

Itulah konsepnya.

Sejujurnya, aku tidak mengerti apa maksudnya hanya dengan mendengarnya saja. Aku telah membaca log ruang kerja di PC dan akan mencoba menjelaskan apa yang kupahami dengan kata-kataku sendiri.

Pameran seni kali ini tampaknya bertujuan untuk menciptakan “seni yang tidak diperlakukan secara istimewa”.

Ketika kita ingin berinteraksi dengan seni, apa yang biasanya kita lakukan? Biasanya, kita pasti akan mengunjungi museum, gedung konser, atau teater. Artinya, kita pergi ke tempat khusus untuk mendapatkan pengalaman yang istimewa.

Kegiatan tersebut memiliki makna tersendiri. Jika ingin benar-benar meresapi seni, lebih mudah dan pasti untuk pergi ke tempat khusus yang memungkinkan kita tidak memikirkan hal-hal lain, dan di tempat seperti itu, kita juga dapat dengan mudah melupakan hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari.

Aku sendiri pun jika berkencan dengan Yuuta, aku akan pergi ke tempat seperti itu. Rasanya seperti kita bisa menghabiskan waktu yang istimewa. Namun, hal ini juga pasti menciptakan hambatan yang tinggi terhadap [seni].

Aku ingin orang-orang bisa merasa lebih nyaman dalam menikmati. Aku ingin menurunkan hambatan tersebut dan meningkatkan peluang bagi banyak orang untuk merasakan hal-hal yang artistik. Banyak seniman juga berpikir demikian.

Baiklah, mari kita sediakan tempat di mana seni dapat diekspresikan dengan santai.

—Aku tidak tahu apakah inilah urutan pemikiran yang tepat, tetapi tampaknya dengan cara itulah kebijakan kali ini terbentuk, yaitu “Mari kita tampilkan berbagai seni dengan cara yang secara alami menyatu dengan pemandangan kota Roppongi.”

Kita akan menempatkan seni di tengah pemandangan sehari-hari tanpa menciptakan ketidaksesuaian, sehingga ketika orang yang lewat menyadarinya, mereka bisa merasakan seni sedikit saja dan terkejut. Mari kita adakan pameran seni seperti itu. Begitulah kira-kira kurang lebihnya. Ya, ide yang menarik.

Sekarang aku tahu bahwa yang namanya kejutan bisa menyenangkan.

Ruka-san sudah terlibat sejak tahap perencanaan proyek ini. Sampai penentuan konsep perencanaan, semuanya sudah selesai sebelum aku masuk ke kantor pada bulan Mei kemarin.

Pertemuan dengan para pengelola tempat di mana seni akan dipamerkan, yaitu National Art Center, Tokyo Midtown, Mori Building, dan Asosiasi Promosi Toko Roppongi, serta penyesuaian lokasi seperti ruang publik dan taman juga telah diselesaikan bulan lalu.

Artinya, pedoman umum tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara melakukannya sudah ditentukan. Saat ini, kami sedang merinci hal-hal konkretnya.

Misalnya, negosiasi dan konfirmasi kemajuan dengan para seniman yang akan berpartisipasi. Di antara para seniman yang berpartisipasi, (yang mengejutkan) ada juga orang-orang dari luar negeri.

Ada yang merupakan pelukis, ilustrator, dan pematung, dengan berbagai genre.

Tampaknya ada juga seniman muda yang sedang diperhatikan dalam industri ini, dan aku merasa senang bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat karya-karya para seniman baru dari luar negeri yang sulit dijangkau di Jepang.

Tugas Ruka-san juga mengurus visa dan akomodasi bagi para seniman (ini cara sopan untuk mengundang profesional), yang berarti aku, sebagai sekretarisnnya, harus membaca dan menulis email dalam bahasa Inggris agar tetap berhubungan dengan mereka.

“Aku merasa tenang karena emailnya ditulis lebih baik dari yang aku kira. Seperti yang diharapkan dari anak kampus Tsukinomiya.”

Saat Ruka-san berkata demikian, aku merasa lega karena usahaku untuk belajar bahasa Inggris dengan positif membuahkan hasil. Namun, saat itu, Ruka-san segera menambahkan.

“Ah, tapi ingat, kamu diminta sebagai sekretaris karena kamu tidak bisa melakukan pekerjaan desain. Itu bukan pekerjaan utamamu. Kupikir menulis email dalam bahasa Inggris dan mengatur jadwal akan berguna di masa depan, tetapi jika kamu tidak berniat menjadi sekretaris, jangan lupa untuk belajar pekerjaan desain selama masa magang ini.”

“Ya. Aku mengerti.”

Aku tanpa sadar mengangguk mendengar perkataan Ruka-san. Sebenarnya, alasanku bisa tertarik dengan pekerjaan Ruka-san adalah karena aku tertarik dengan poster konser Melissa yang dibuatnya, bukan karena pekerjaan yang dilakukannya berskala besar. Bagiku, itu tidak penting.

Jika aku memiliki sifat yang menilai orang berdasarkan besar kecilnya pekerjaan, aku takkan bisa menghormati ibuku. Apa salahnya menjadi bartender di toko kecil—aku berpikir begitu.

Pembicaraan ini sedikit melenceng. Meskipun karya-karya Roppongi Art Festa berskala besar, tapo seperti yang dikatakan Ruka-san, karya tersebut tidak cocok untuk mempelajari desain.

Karena skalanya terlalu besar. Akibatnya, sebagian besar pekerjaan Ruka-san lebih banyak dihabiskan untuk bagaimana menggerakkan orang-orang yang terlibat daripada pada pekerjaan nyata untuk mewujudkan konsep desain.

Itulah peran yang sering dimainkan oleh para pemimpin. Aku mengerti bahwa itu pekerjaan yang sulit, tapi acara tersebut menjadi tidak membantu ketika seorang pemula ingin mempelajari desain.

Oleh karena itu, sejauh ini, hal yang paling banyak kupelajari adalah pekerjaan nyata yang dikerjakan oleh para karyawan setiap hari.

Misalnya, ada Higashide Yume-san yang duduk di kursi depan meja. Dia dipanggil “Yume-chan” oleh semua orang. Dia berbadan mungil. ramah, dan selalu tersenyum. Usianya tampaknya sekitar enam tahun lebih tua dariku.

Hari ini juga, dia sedang melakukan sesuatu, tetapi...

Ketika Higashide-san yang kecil itu membungkuk di atas meja untuk bekerja, dia memberikan kesan seperti hewan kecil yang sedang makan di sarangnya.

Ketika aku mengintip dari atas bahunya, dia menggunakan meja sebagai meja kerja dan sedang menempelkan kertas berbentuk aneh yang dipotong dengan cutter ke papan dasar. Apa yang sedang dia lakukan? Aku menunggu momen ketika ketegangannya mereda dan berusaha mengajaknya bicara.

“Itu, apaan?”

“Sampul,” jawabnya singkat, membuatku semakin kebingungan... Kelihatannya seperti hanya anak-anak yang bermain dengan kertas tempel.

Menyadariku yang kebingungan, Higashide-san mengatakan mari kita istirahat kopi dan kemudian mulai bercerita banyak hal.

Jika dirangkum, pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Higashide Yume-san saat ini adalah desain penutup kertas untuk membungkus buku di toko buku. Meskipun toko itu dikelola secara pribadi, sepertinya toko buku tersebut mempunyai karakter maskotnya sendiri.

“Itu yang ini,” katanya sambil mengangkat siluet merah yang dipotong di depanku. Itu adalah potongan kertas yang terlihat seperti hewan yang memiliki tiga atau empat bola yang menempel, seperti ulat.

“Itu apaan?”

“Karakter populer di kawasan toko. Maskot yang lucu, Shimi-chan si kutu buku.”

“Shimi-chan...”

“Dia membutuhkan kacamata karena terlalu banyak membaca, jadi dia memakai kacamata bulat retro yang besar.”

Aku mulai ingin mengajukan banyak pertanyaan.

“Ngomong-ngomong, ada juga label buku yang menjadikan panda sebagai maskot. Selain itu, sepertinya ada situs web novel yang menggunakan burung bulat sebagai maskot. Mungkin buku dan hewan memang memiliki kecocokan yang baik.”

“Hee~, kamu tahu banyak ya~. Ternyata Saki-chan suka buku, ya.”

“Ah, tidak, aku pernah bekerja paruh waktu di toko buku...”

Higashide-san yang sebelumnya bersandar pada sandaran kursi tiba-tiba bangkit dan mencondongkan badannya ke arahku.

“Ayo ceritakan lebih banyak tentang hal itu”

Loh, loh, loh, eh? Aku tidak menyangka akulah yang akan dijadikan sebagai pembicara. Begitu mengetahui bahwa aku memiliki pengalaman kerja paruh waktu di toko buku, Higashide-san langsung bertanya tentang penutup kertas yang bisa didapatkan di toko buku, kapan digunakan, bagaimana cara menggunakannya, dan apa aku pernah memperhatikan hal-hal tertentu saat menggunakan penutup buku. Meskipun aku merasa kalau Yuuta lebih tahu tentang hal ini, aku mulai menceritakan berbagai pengalaman yang kudapatkan selama satu setengah tahun bekerja paruh waktu.

Tapi, apa cerita dari orang awam sepertiku ini benar-benar berguna?

“Tentu saja. Pendapat dari orang yang benar-benar menggunakannya di lapangan sangat berharga. Sebenarnya, mungkin tidak ada pendapat yang tidak berguna. Pendapat dari orang yang tidak tertarik memiliki karakteristik karena ketidakpedulian mereka. Ada juga orang yang setelah mendapatkan penutup buku langsung melepasnya, kan?”

Ah, memang benar.

“Penutup buku bukanlah sesuatu yang disimpan, dan bagi kebanyakan orang, itu hanya sesuatu yang terlihat sekejap. Dan itu sudah cukup. Jadi, pendapat dari orang yang tidak peduli pun tetap berguna.”

“Padahal mereka membuatnya dengan begitu serius.”

“Desain yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari memang seperti itu. keberadaannya tidak boleh mengganggu. Tidak boleh terlalu menonjol. Secara pribadi, aku berpikir demikian. Selain itu, seperti alat, benda itu harus benar-benar berguna. Desain industri memang seperti itu.”

Ketika Higashide-san mengatakan itu, karyawan lain yang sedang duduk di meja yang membangun pulau juga mengangguk-angguk.

...Sepertinya mereka tetap mendengarkan meskipun terlihat tidak memperhatikan.

Meski demikian, semua orang tetap melakukan pekerjaan mereka sesuai jadwal, jadi 'Lucca Design Studio' adalah tempat kerja yang aneh.

“Jadi, toko buku ini sebenarnya cukup populer di kawasan toko kecil di kota itu. Terutama Shimi-chan tampaknya populer di kalangan semua usia, dan dia bahkan digambar di papan besar yang ada di depan toko.”

Berarti, dia benar-benar mengunjungi toko itu.

Usai mendengar cerita Higashide-san, aku teringat pada Ruka-san ketika kami menghadiri rapat 'Roppongi Art Festa'. Ruka-san juga sudah beberapa kali mengunjungi tempat yang akan menjadi lokasi acara.

Atau lebih tepatnya, karena Ruka-san yang merupakan presiden perusahaan melakukan itu, karyawan di sekitarnya tentu merasa itu merupakan hal yang wajar.

“Jadi, Yume-san berpikir untuk menggunakan maskot itu dalam desain penutup buku, ya.”

Ketika aku merangkum seperti itu, Higashide-san mengangguk dan berkata, “Panggil aku Yume saja, tidak masalah kok.”

“Rasanya aneh memanggil senior dengan nama saja...”

“Kalau begitu, setidaknya tulis dengan katakana. Tadi kamu memanggilnya dengan kanji, kan?”

Bagaimana dia bisa mengetahuinya?

“Aku mengerti. Yume-san.”

“Itu sudah oke.”

Yume-san membuat lingkaran dengan jarinya dan berkata demikian. Aku menghela napas lega. Aku pikir keterbukaan adalah salah satu kekuatan perusahaan kami, tetapi bagiku yang masih baru, idealisme itu masih sedikit berat.

“Jadi, kembali ke pembicaraan, sangat disayangkan jika kita tidak menggunakan karakter yang sudah memiliki identitas hanya dengan siluet seperti ini. Penutup buku kertas mungkin sekali pakai, tetapi sepertinya anak-anak juga bisa menikmatinya, kan?”

Dia tersenyum lebar. Sepertinya Yume-san menyukai anak-anak.

“Selain itu, karena gambarnya menunjukkan kedua tangan memegang buku, jadi jelas ada buku di sini, kan?”

“Memang benar?”

Lengan tipis Shimi-chan yang sedang membuka buku besar dengan kedua tangan terlihat jelas bahkan dalam siluet bayangan.

“Menurutku, tampilannya akan menarik jika kita mengubah ukuran dan menyebarkan pola kamuflase di penutup kertas seperti ini. Bagaimana?”

Saat berkata demikian, dia mengangkat kertas yang sudah setengah jadi dan menunjukkan kepada semua orang di ruang kerja. Karyawan lain hanya melirik sekilas. “Bukannya itu sudah bagus, ‘kan?” kata seorang pria muda berambut dicat pink yang duduk di sebelah Yume-san, seolah mewakili semua orang. Orang ini kalau tidak salah namanya Tatsumi Shou-san.

Semua orang di sekitaran mereka juga mengangguk-angguk setuju.

“Terima kasih.”

Ucap Yume-san sambil meletakkan papan dasar di atas meja.

“Yume-san tidak menggunakan PC, ya?”

“Aku menggunakannya, kok~. Sebenarnya, aku juga awalnya menggunakannya. Tapi, entah kenapa, rasanya ada yang kurang. Aku merasa lebih mudah berpikir dengan cara analog seperti saat aku di sekolah seni. Ternyata aku orang yang agak kuno. Lagian aku juga sudah tua, sih.”

“Tua? Mana mungkin, usia kita tidak jauh berbeda, ‘kan?”

“Tidak, tidak, duduk seharian membuat punggungku sakit, dan melakukan pekerjaan yang membosankan membuat mataku kabur, dan bahuku kaku. Aku tidak tahan lagi... ah, aku ingin pergi ke pemandian air panas.”

Dia mulai memijat area di sekitar matanya saat mengatakannya.

“Terima kasih atas kerja kerasnya...”

“Terima kasih. Nah, kembali ke topik pembicaraan. Ukuran papan ini adalah ukuran asli penutup kertas. Ukuran buku itu bervariasi, jadi kurasa ini akan dipotong atau dilipat untuk digunakan. Benar, kan?”

Aku mengangguk. Di tempat pekerjaan paruh waktuku yang sebelumnya, aku memang menggunakan kertas dengan ukuran seperti ini dan melipat tepinya.

“Kurasa kertas untuk buku saku dan buku baru ukurannya sedikit lebih kecil.”

“Ya. Kami berencana membuat dua ukuran. Itulah yang diminta. Aku mendengar ada buku besar dan kecil.”

“Jika begitu, ukuran itu untuk buku tunggal... mungkin untuk sampul keras, ya. Menurutku begitu.”

Tentu saja, ukuran buku tidak selalu dijual dengan ukuran standar, karena terkadang ada buku dengan ukuran yang aneh. Buku-buku seperti itu memang bisa menyulitkan toko buku. Ketika diletakkan di rak, tingginya tidak sejajar, jadi sulit untuk menatanya. Penutup kertas yang digunakan juga tidak bisa dilipat sesuai ukuran sebelumnya, jadi harus dilipat di tempat sesuai dengan buku. Namun, mungkin ada alasan bagi pembuat buku untuk memilih ukuran tersebut.

“Kurasa aku lebih cocok membuatnya secara realistis seperti ini dengan tanganku. Setelah sketsa kasarnya selesai, aku akan melakukan penyesuaian akhir di PC. Aku ingin melakukan penyesuaian yang lebih detail.”

Ketika melihat meja Yume-san, aku melihat ada potongan siluet Shimi-chan yang berserakan dengan berbagai warna dan ukuran. Hanya menempatkan siluet dengan ukuran dan warna yang sama akan membuatnya terlihat seperti pola biasa dan tidak menyerupai kamuflase.

Meskipun itu gambar sederhana, tapi ada tonjolan dan alur halus, jadi hanya memotongnya saja tampaknya sudah cukup sulit.

Tapi tunggu dulu. Bagaimana cara mereka membuat siluet dengan ukuran yang berbeda? Dan bagaimana mereka mengubah kecerahan warnanya? Sebenarnya, mereka hanya menggunakan warna merah, memangnya itu sudah cukup?

Karena merasa penasaran, aku jadi bertanya.

“Warna yang bisa digunakan untuk kertas pembungkus hanya satu atau paling banyak dua warna. Kamu pasti pernah melihat kertas pembungkus dari Mitsukoshi di department store, ‘kan? Yang memiliki pola merah di latar putih. Sederhana, tetapi sudah digunakan sejak tahun 1950. Itu keren banget, ‘kan? Pola mawar dari Takashimaya juga hanya merah dan hijau. Takashimaya sudah menggunakan pola mawar itu sejak 1952. Desainnya telah diperbarui, tetapi kombinasi warna merah dan hijau tidak berubah. Eh? Kalau tidak salah cuma ada yang merah saja mungkin? Ya, begitulah.”

Yume-san menjelaskan. Jika dia bisa berbicara panjang lebar dengan lancar, itu berarti dia telah banyak meneliti dan mengingatnya.

“Jika jumlah warna terlalu banyak, biaya cetaknya akan meningkat. Jadi, jumlah warna harus dibatasi. Karena mereka toko buku kecil di kota, memiliki biaya cetak yang kecil itu penting. Meskipun menggunakan warna yang sama, kita bisa mengubah kecerahannya. Jadi, untuk Shimi-chan ini, aku juga membuat beberapa variasi kecerahan di PC sebelum mencetaknya. Untuk ukuran, setelah membuat beberapa dengan memperbesar dan memperkecil, jika ingin mengubah ukuran sedikit lagi, lihat saja, di mesin fotokopi di sana.”

Dia menunjuk ke arah mesin fotokopi di dekat dinding.

“Kita bisa sedikit memperbesar atau memperkecilnya dengan menggunakan mesin fotokopi. Meskipun, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kita bisa melakukan hal-hal lebih detail di PC, tetapi entah kenapa, aku merasa kurang paham dengan itu.”

“Jadi, itulah sebabnya kamu memotong dan menempel seperti itu, ya?”

“Begitulah.”

Dan meskipun sederhana, siluet Shimi-chan yang memiliki ketidakteraturan yang cukup kompleks ini dipotong, ditempel, dilepas, dan ditempel lagi dengan hati-hati. Selain itu, bukan hanya satu. Di atas meja Yume-san, ada banyak prototipe yang ditumpuk. Dia terus-menerus melakukan pekerjaan detail seperti ini. Itu pasti membuat matanya sakit dan bahunya kaku. Istilah ‘pengrajin’ terlintas di pikiranku. Mungkin terdengar aneh jika diucapkan untuk seorang desainer, tetapi melihat pekerjaan Yume-san, istilah tersebut rasanya sangat tepat. Sebenarnya, pengrajin juga bisa menjadi desainer dan seniman.

Dan hal-hal seperti ini harus bisa dilakukan jika seseorang ingin menjadi desainer.

“Ngomong-ngomong, makasih atas informasi berharganya dari mantan pegawai toko buku.”

“Aku senang bisa membantu.”

Setelah menjawab demikian, aku kembali melanjutjan pekerjaanku, sementara Yume-san kembali lagi ke pekerjaannya mendesain penutup buku dengan pola kamuflase Shimi-chan.

Tampaknya, dia membutuhkan waktu tiga hari untuk membuat tiga konsep dasar. Ketika dia mengajukan ketiga konsep itu kepada pihak terkait, sepertinya dia mendapatkan tanggapan positif dari toko buku.

Saat ini, penutup buku buatan Yume-san sudah masuk ke tahap penyesuaian halus dan pengujian warna.

Seiring aku belajar tentang dasar-dasar desain dari para senior, cara pandangku terhadap dunia juga perlahan-lahan mulai berubah. Seolah-olah aku mendapatkan kacamata baru untuk melihat dunia. Bahkan pemandangan saat pulang kerja pun tidak terlihat seperti dulu lagi.

Padahal baru dua bulan yang lalu, aku tidak lagi tertarik dengan pemandangan kota yang sudah familiar, dan satu-satunya yang menarik perhatianku adalah perubahan pakaian musiman para manekin yang berdiri dengan pose angkuh di balik kaca.

Menjelang musim panas, para manekin itu mengenakan pakaian berwarna cerah dengan sedikit bahan, berdiri dengan dada disodorkan dan pinggul diputar ke arah orang-orang yang lewat. Dulu, aku hanya melihat pakaian boneka-boneka itu. Aku tidak tertarik pada etalase yang menyimpan boneka-boneka tersebut.

Sekarang sudah berbeda. Aku tidak bisa berhenti memikirkan berbagai hal yang diletakkan di dalam kandang transparan itu.

Warna pencahayaannya. Aksesoris-aksesoris kecil yang diletakkan di bawah kaki manekin. Jarak antara manekin, serta poster yang dihiasi dengan pohon palem yang ditempel sebagai latar belakang. Segala sesuatu yang ada di dalam kotak etalase transparan itu memiliki makna dan alasan untuk berada di sana.

Desain memiliki niat.

Misalnya, ada alasan mengapa manekin dengan bikini di etalase toko sebelah kanan berdiri dengan pose seperti itu. Bikini itu berwarna trendi dan ditekan ke dadanya, tetapi potongan yang dalam di garis leher jelas-jelas menarik perhatian. Belahan dada yang indah tampak terpampang jelas.

Di sini, aku biasanya akan menghentikan pemikiranku seperti yang kulakukan di masa lalu.

Tapi sekarang aku mengerti. Aku tidak bisa dikatakan sebagai orang yang pendek, tapi aku adalah seorang wanita. Artinya, pandanganku lebih rendah dibandingkan pria. Sebagai perbandingan, rata-rata tinggi badan orang dewasa Jepang adalah sekitar 171 cm untuk pria dan sekitar 158 cm untuk wanita, jadi mungkin aku sekitar 10 cm lebih pendek.

Namun, belahan dada manekin itu terlihat jelas. Artinya, dari sudut pandang wanita, bikini tersebut dipajang sedemikian rupa sehingga sudut pandangnya sama dengan sudut pandang rata-rata pria saat melihat dada wanita rata-rata.

Bukannya cukup bagus jika kelihatannya begitu?

Penyesuaian tinggi badan manekin dan pose atau sudutnya dirancang agar bisa membuat penilaian seperti itu. Hanya dengan menempatkan boneka dengan tinggi rata-rata dan mengenakan pakaian takkan memberikan pengalaman visual yang menarik bagi pria yang berjalan di jalan, dan sebenarnya, wanita tidak akan tahu bagaimana penampilan mereka di mata pria.

Tapi, yang membeli bikini itu adalah para wanita.

Oh, tentu saja, jika bikini itu dibeli untuk ditunjukkan kepada teman atau untuk diri sendiri, penempatannya di ruang juga akan berubah. Selain itu, pakaian yang dipromosikan sebagai hadiah untuk wanita biasanya dibeli oleh pria, jadi cara memajangnya juga berbeda...

Tapi terlepas dari hal-hal kecil itu, ketika aku melihat kota dengan sudut pandang begini, aku menyadari bahwa setiap papan tanda di jalan, poster, papan neon, dan bahkan ketinggian serta kecerahan lampu jalan memiliki “niat” di baliknya. Bisa juga disebut “tujuan”.

Desain setiap toko dan papan tanda memiliki tujuannya masing-masing.

Aku baru menyadari hal ini sekarang.

Setiap hari, aku merasa bersemangat mempelajari hal-hal baru dan mencoba berbagai alat baru. Begitulah gambaran diriku dua bulan setelah mulai bekerja magang di 'Lucca Design. Studio'.

Namun, aku seolah-olah mendadak disiram air dingin pada diriku yang seperti itu.

Aku melakukan kesalahan yang sangat besar setelah menghadiri rapat kedua 'Roppongi Art Festa' yang kuhadiri bersama Ruka-san.

 

◇◇◇◇

 

Minggu terakhir bulan Juni. Ada rapat rutin untuk proyek 'Roppongi Art Festa'. Karena Ruka-san memberitahuku kalau ada makan malam seusai rapat, jadi aku diberitahu untuk datang tanpa makan, dan pulangnya juga akan terlambat. Teman yang akan menemani kami rupanya perwakilan dari agensi iklan yang terkait dengan festival seni tersebut.

Rapat berakhir pada pukul 21.00. waktunya sudah cukup larut malam. Perutku sudah keroncongan. Aku dan Ruka-san yang menuju ke arah Azabu akhirnya tiba di toko yang dituju setelah memasuki jalan sempit di antara gedung-gedung yang dipenuhi restoran.

“Oh, ini dia tempatnya.”

Ruka-san yang sedang melihat peta di smartphone-nya menemukan papan nama toko yang tertulis kecil dan terlihat lega.

“Di bawah tanah, ya... hanya nama toko saja?”

“Ya, benar. Ah, tidak masalah. Ini restoran khusus daging kuda yang bagus. Hanya saja menunya tidak dipajang di luar.”

Dengan kata lain, tempat ini mungkin restoran yang mahal, ya?

Aku pernah mendengar hal semacam ini sebelumnya. Restoran semacam ini tidak menerima pengunjung tanpa undangan. “Kami hanya melayani pelanggan yang memiliki rekomendasi”. Itulah sebabnya tidak ada papan nama mencolok di luar, dan tidak ada menu yang dipajang.

Ini bukan tempat yang bisa dimasuki secara sembarangan; ini adalah restoran yang hanya melayani orang-orang yang tahu bahwa tempat ini ada.

Setelah menuruni tangga sempit, sebuah pintu bergaya Jepang muncul di depanku.

Ketika aku membuka pintu geser dan melangkah masuk, seorang pelayan yang mengenakan kimono elegan—mungkin dia adalah pemilik restoran—muncul dan menyapa, “Selamat datang”. Wow, cara dia mengenakan kimono sangat menawan. Leher dan kerahnya terlihat rapi, dan obinya tidak terlalu tinggi atau rendah, gerakannya juga elegan sehingga aku secara otomatis merasa lebih tegak. Ini luar biasa. Dia tersenyum ramah, tetapi aku merasa seolah-olah sedang dinilai apakah aku merupakan pelanggan yang pantas untuk restoran ini.

Kami melepas sepatu dan masuk. Setelah melewati lorong dengan warna gelap, kami lalu diarahkan ke ruang pribadi di bagian belakang.

Kami membuka pintu geser dan mendapati seorang pria berusia sekitar empat puluhan dan seorang wanita berusia dua puluhan sudah menunggu kami.

“Selamat malam. Maaf atas keterlambatannya.”

Ruka-san menundukkan kepala. Tentu saja, dia sudah datang lebih awal dari waktu yang dijadwalkan, tetapi karena pihak mereka sudah datang, cara berbicara seperti ini menjadi wajar.

“Tidak apa-apa. Kami saja yang datang terlalu awal.”

Nah, jawaban yang kuduga pun muncul. Ini adalah interaksi yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak.

Aku melepas jaket dan menggantungnya. Karena ini ruangan bergaya Jepang, tentu saja aku harus duduk dengan posisi seiza. Dalam situasi seperti ini, pria bisa duduk bersila, jadi lebih nyaman. Meskipun aku mengenakan celana panjang, aku tidak bisa duduk bersila. Sudah lama sekali aku tidak duduk dalam posisi seiza. Kakiku takkan kesemutan, kan? Semoga saja baik-baik saja. Aku tidak punya pilihan lain selain bertahan.

Kedua belah pihak kembali saling menyapa.

Karena ini pertemuan pertama kami, kami melakukan pertukaran kartu nama di sini. Sambil memberikan kartu namaku yang baru selesai dibuat, aku juga menerima kartu nama dari lawan bicara. Rupanya, si pria bernama Takahashi-san, dan si wanita bernama Maeda-san.

Takahashi-san dan Maeda-san, baiklah, aku mengingatnya. Setelah mencatatnya di memo dalam kepalaku, aku menyimpan kartu nama itu ke dalam tempat kartu nama. Ruka-san mengatakan bahwa jika aku tidak bisa mengingatnya, lebih baik dikeluarkan di atas meja agar terlihat. Salah menyebut nama orang itu lebih tidak sopan.

“Selain itu, masih ada satu orang lagi. Dia akan datang sedikit terlambat. Ketika aku menolak ajakan untuk minum karena ada urusan lain malam ini, dia bilang, 'Bagaimana pun itu juga pasti acara minum, biarkan aku ikut.' Dia tidak terlibat dalam acara kali ini, tetapi aku ingin memperkenalkannya karena ini bisa menjadi kesempatan yang baik.”

“Baiklah.”

Ternyata, ada tiga orang dari pihak agensi iklan yang hadir. Oh, satu nama bertambah. Tapi, kurasa aku bisa mengingat sampai lima orang. Tidak masalah.

Ngomong-ngomong, acara pertemuan hari ini diorganisir oleh pihak agensi iklan. Perusahaan kami baru pertama kali bekerja sama di Roppongi untuk proyek besar, jadi tampaknya kami ingin menjaga hubungan baik dengan agensi iklan yang telah mengelola acara di sekitar Roppongi selama bertahun-tahun. Karena itulah, aku diundang, dan Ruka-san dengan cepat setuju untuk makan malam malam ini. Dia menjelaskan situasi itu sebelum kami sampai di restoran.

Makan malam dimulai tanpa menunggu orang yang akan datang terlambat. Apa ini baik-baik saja?

Sepertinya sudah dipesan dari awal dalam bentuk set menu, jadi yang ditanyakan hanya apa yang ingin diminum. Karena aku masih di bawah umur, tentu saja aku memilih minuman non-alkohol, tapi tampaknya ada berbagai jenis jus. Untuk sementara, aku memilih jus jeruk yang sepertinya aman. Orang-orang lain memesan bir dan sake. Aku tidak tahu apa yang mereka pesan karena aku tidak begitu paham tentang sake. Aku mendengar seorang wanita memesan sesuatu yang terdengar seperti ‘Dassai,’ tetapi aku penasaran, bagaimana cara menulisnya? Apa sebaiknya aku mengingat merek meskipun tidak meminumnya? Ibuku pasti tahu banyak tentang itu.

Minuman pun dihidangkan, dan kami mulai dengan bersulang. Kami hanya mengangkat gelas sedikit dengan anggun. Karena aku yang paling muda, gelas yang aku angkat juga paling rendah. Sementara lawan bicara mengangkat gelas lebih tinggi. Dalam hal etika seperti ini, di Jepang, dasar dari sopan santun adalah mengangkat orang lain lebih tinggi. Aku sebenarnya tidak terlalu suka hal-hal yang terlalu formal, tetapi aku berusaha untuk mengingat etika dasar.

Karena menunjukkan kelemahan juga bukanlah strategi yang baik.

Aku menyesap jus melalui sedotan yang dimasukkan ke dalam gelas, berusaha untuk tidak membuat suara. Aku sangat gugup sampai-sampai kupikir aku tidak akan bisa merasakan rasanya, tetapi wow, apa-apaan ini? Manis! Kental! Aku biasanya menganggap jus sebagai ‘cairan yang manis’, tetapi ini benar-benar terasa seperti terbuat dari buah jeruk murni! Oh, jadi inilah yang disebut jus.

Aku merasakan sedikit keharuan yang aneh. Kira-kira berapa harga jus ini, ya? Yang lebaih menakutkan justru aku tidak melihat ada harga yang tertera di menu sama sekali...

Karena sepaket dengan hidangan utama, hidangan pembuka disajikan terlebih dahulu. Lauk musiman yang dihiasi sayuran liar dan hidangan berbumbu cuka. Mangkuknya kecil, dan isinya hanya sedikit, tapi kurasa begitulah hidangan utama kelas atas.

Kemudian, disajikan sashimi daging kuda. Ini adalah daging kuda yang disajikan mentah.

Aku sangat terkejut. Ketika aku berpikir tentang daging, aku membayangkan daging yang kenyal dan ketika digigit, lemaknya akan keluar... Namun sashimi daging kuda ini meleleh! Begitu aku memasukkannya ke dalam mulut dan menggigit satu atau dua kali, dagingnya yang tipis hancur dan meleleh. Meskipun ini daging, ada sedikit rasa manis dan sama sekali tidak ada bau. Kurasa aku cuma bisa menggambarkannya sebagai rasa daging merah segar yang tersisa di lidah.

Dan fakta bahwa hanya ada dua potong saja terasa terlalu mewah.

“Sashimi daging kudanya enak sekali, ya!”

Setelah aku mengatakannya tanpa pikir panjang, aku menyadari kalau mungkin Ruka-san dan yang lainnya sudah terbiasa dengan ini. Jika iya, mungkin aku terlihat seperti orang udik.

“Memang enak. Dari usia muda seperti ini sudah mengenal kuliner. Lidahmu akan semakin mahal,” kata Ruka-san sambil mendukung. Takahashi-san dan Maeda-san juga mengangguk dengan senyum. Yup, mereka orang-orang yang baik.

Suasana tetap baik dan kami bercakap-cakap ringan saat hidangan terus disajikan. Mungkin sudah sekitar 15 menit sejak acara dimulai. Tiba-tiba, pintu geser terbuka dan seorang pria seusia Takahashi-san masuk sambil berkata, “Maaf, maaf.”

“Oh, akhirnya datang juga.”

“Maaf aku terlambat. Rapatnya berlangsung lama dari yang kubayangkan.”

“Ah, tidak masalah, tidak masalah. Kami baru saja mulai. Terima kasih atas kerja kerasnya. Oh, pria ini namanya Iwamoto.”

Iwamoto-san, seorang pria bertubuh besar dengan janggut di sekitar mulutnya, duduk di sebelah Maeda-san yang ada di depan kami dan menarik dasinya sedikit untuk melonggarkannya. Akhirnya, ia mengangkat wajahnya dan melihat kami dengan jelas. Begitu dirinya melihat kami, ekspresinya langsung berubah.

“Lah, rupanya Ruka-chan, toh?”

Hmm... Apa dia baru saja memanggil Ruka-san dengan ‘Ruka’ dan bukan ‘Ruka-san’?

Begitu ya. Aku bisa mengetahui. Terlebih lagi, cara ia memanggilnya saat itu adalah ‘cara bicara yang sangat sepihak dan ramah’. Yang artinya “terlalu akrab.”

Aku tidak melewatkan bagaimana mulut Ruka-san berkedut saat ia menyapanya dengan panggilan demikian.

“Senang bertemu kembali, aku senang melihat Anda baik-baik saja.”

“Ya, sudah lama. Oh, aku mendengar bahwa ada anak muda yang menjanjikan yang ditunjuk sebagai direktur kreatif untuk Roppongi Art Festa, ternyata orangnya itu kamu ya, Ruka-chan.”

“Terima kasih,” jawabnya dengan senyuman. Oh, ternyata itu bukan senyuman yang tulus.

Namun, tampaknya Ruka-san dengan cepat menyembunyikan perasaan tidak nyamannya terhadap Iwamoto-san di balik senyumnya, dan menggantinya dengan senyum tenang di permukaan.

“Owalah, jadi Iwa-chan, kamu kenal dengan Ruka-san?” tanya Takahashi-san kepada Iwamoto-san sebelum Ruka-san menyela.

“Beliau banyak membantuku di pekerjaanku sebelumnya sebelum aku bekerja mandiri.”

“Benar banget~, benar banget. Aku sangat membantunya. Sejak dia datang ke perusahaan kami, aku membimbingnya dengan penuh perhatian. Oh, tunggu, aku tidak membimbingnya dalam hal tarian, oke? Haha. Tapi Ruka-chan itu cantik, jadi banyak yang ingin mengajarinya di kantor. Namun, karena dia adalah murid didikan kesayanganku, aku tidak membiarkan mereka mengganggunya!”

...Apa yang sedang ia bicarakan? Apa ia menyadari bahwa cara bicaranya bisa diartikan seolah-olah cuma dirinya yang boleh menyentuhnya?

Aku merasa sedikit pusing dan tidak menyangka bakalan mendengar pernyataan yang terasa sangat kuno dan tidak pantas, terutama dari seseorang yang lebih muda dari Wada-san, yang merupakan yang tertua di kantor dan sangat serius. Aku membayangkan wajah tenang Wada-san yang digambarkan sebagai sosok yang patut dicontoh. Pada saat yang sama, aku teringat komentar dari Tatsumi Shou-san yang berambut pink, “Menyalahkan generasi itu tidak baik”.

Wada-san juga pernah berbicara dengan nada merendahkan tentang dirinya yang lahir di era Showa, tetapi itu mungkin karena dirinya merasa bahwa pernyataannya akan terdengar kuno bagi generasi muda.

Namun, orang ini...

“Aku berterima kasih atas semua bantuan sebelum aku mandiri,” ucap Ruka-san sambil sedikit menundukkan kepala.

“Ya, ya. Kamu sudah menjadi orang yang hebat.”

“Terima kasih,” jawabnya sambil menambahkan beberapa kanji dan tersenyum. Nada suaranya sekitar 20% lebih dingin dari sebelumnya. Apa ia tidak menyadarinya? Ruka-san mengambil botol bir yang ada di meja dan menuangkannya ke dalam gelas Iwamoto-san.

“Ah, terima kasih, terima kasih.”

“Setelah ini Anda akan minum sake juga, kan?”

“Ah, ya. Tapi pertama-tama bir! Ini sudah mulai panas, jadi ini enak!"

Dia langsung meneguk birnya.

Begitu gelasnya kosong, Ruka-san segera menuangkan lagi. Seolah-olah dia tidak ingin memberi kesempatan untuk berbicara. Atau mungkin memang ada niat seperti itu. Namun, Iwamoto-san langsung menghabiskan bir yang baru saja dituangkan. Sepertinya ia mempunyai ntoleransi yang kuat dalam hal alkohol. Wajahnya tidak menunjukkan perubahan sama sekali.

“Begitu ya. Ruka-chan yang merancang konsep untuk Art Festa, ya? Kamu melakukannya dengan baik.”

Hmm. Apa maksudnya ‘melakukannya dengan baik’?

Meskipun itu mungkin hasil dari kemampuannya, tapi ungkapan seperti itu bisa memiliki makna tersirat—seolah-olah dia mendapatkan posisinya bukan hanya karena kemampuannya.

Entah kenapa, sejak tadi, Iwamoto-san ini terus mengucapkan kalimat yang sedikit mengganggu. Dia yang membuat aku merasa tertekan, mengambil sumpit kayu yang terlihat elegan di tangannya, lalu dengan cepat memasukkan dua potong sashimi daging kuda ke dalam mulutnya. Sepertinya dia menelan sebelum sempat mengunyah. Rasanya agak sangat disayangkan jika dilakukan seperti itu. Meskipun cara makan merupakan hak pribadi, tapi aa kembali meneguk birnya dengan cepat.

“Seperti biasa, kamu memang kuat, Senpai,” ucap Ruka-san.

“Berkat itu, liverku masih berfungsi dengan baik,” jawab Iwamoto-san.

“Apa keluargamu tidak khawatir kalau kau minum terlalu banyak?”

Dia memiringkan botol birnya sambil mengatakan ini. Ini yang kedua.

“Angka-angka kesehatanku terdeteksi tidak normal pada pemeriksaan terakhir. Mungkin karena kurang tidur, tetapi aku diberi peringatan untuk mulai mengurangi.”

“Iwamoto-san sangat diperhatikan, ya,” kata Ruka-san yang terus menuangkan bir. Iwamoto-san meneguk lagi. Rasanya agak menakutkan.

“Yah, tapi...”

Dia meletakkan gelasnya dan akhirnya melepaskan genggamannya dari gelas.

“Ruka-chan ‘kan masih muda. 'Roppongi Art Festa' adalah acara besar yang menarik perhatian seniman dari luar negeri. Aku pikir prestasi besar ini luar biasa, tetapi pada usiamu, menjalani proyek sebesar ini pasti sulit. Orang-orang pasti akan meremehkanmu jika seorang wanita Jepang muda yang memimpin.”

Kemudian, ia kembali memegang gelas dan menghabiskan bir yang tersisa.

"Jika kamu merasa kesulitan, jangan ragu untuk mengandalkan om ini. Hahaha. Aku sudah terbiasa dengan proyek besar, dan aku akan selalu siap membantu Ruka-chan.”

Ruka-san melepaskan botol bir yang dia pegang dan menjawab dengan suara tertekan, “Ya.”

Saat itu, aku menyadari aku mulai kehilangan ketenangan.

Jadi ketika kata-kata itu terucap, butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari bahwa aku telah mengucapkannya tanpa sadar.

“Akihiro-san sekarang sudah bukan bawahan Anda lagi, ‘kan?”

Sekejap, suasana menjadi hening.

Takahashi-san dan Maeda-san yang sebelumnya berbicara pelan di samping Iwamoto-san, kini terdiam dengan ekspresi beku. Aku bahkan bisa mendengar suara Ruka-san menahan napas.

Iwamoto-san jelas menunjukkan wajah marah.

“Kamu...”

“Aku minta maaf baru memperkenalkan diri. Namaku Ayase Saki.”

"Kamu karyawan baru di tempat Ruka-chan? Oh, jadi mungkin kamu tidak tahu. Aku adalah mentornya Ruka-chan. Aku adalah atasan di perusahaan sebelumnya.”

“Tapi sekarang dirinya sudah mandiri, jadi seharusnya Anda berdua setara sebagai desainer.”

Begitu aku mengucapkan kalimat itu, Iwamoto-san seolah terkejut dan menarik napas sejenak. 

“…………” 

Ia menghembuskan napas dari hidungnya dan membentuk mulutnya menjadi garis. Meskipun tidak mengucapkan kata-kata, tapi bisa kelihatan jelas kalau suasana hatinya langsung memburuk. 

Ketika Iwamoto-san hendak mengatakan sesuatu, Takahashi-san segera berdiri dengan cepat. Ia meletakkan tangannya ringan di bahu Iwamoto-san dan berkata, “Iwamoto-san, mari kita keluar sebentar.” 

Keduanya kemudian keluar dari ruangan. 

Begitu pintu geser tertutup, ketegangan di ruangan itu langsung menghilang. 

...Ah. 

Aku telah melakukan kesalahan besar──… 

Otot-otot wajahku terasa kaku, dan aku mungkin tampak seperti topeng Noh. Ya, pada saat itu aku sudah menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan besar. 

Di dalam ruangan hanya tersisa aku, Ruka-san, dan Maeda-san, tiga wanita. 

Aku mendengar suara desahan dan akhirnya terasa seperti belenggu aku terlepas. Aku perlahan-lahan melihat ke arah Ruka-san. 

“Aku benar-benar minta maaf, sudah membuat suasananya menjadi buruk.” 

Ruka-san menghela napas. 

Dia menggaruk bagian belakang kepalanya, lalu menyandarkan pipinya dengan satu tangan dan menatapku. 

“Kamu benar-benar melakukan kesalahan, ya?” 

“……Ya.”

Ruka-san mengalihkan pandangannya dariku dan menatap dinding. 

Maeda-san tertawa kecil. 

“Tidak apa-apa, Ruka-san. Ayase-san juga. Tadi itu jelas-jelas kesalahan Iwamoto-san.”

“Aku membuatmu harus membantuku. Semoga Maeda-chan tidak merasa terganggu.”

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku juga akhir-akhir ini terlalu banyak bicara tentang politik. Sudah lama aku tidak melihat sesuatu dengan jelas, jadi rasanya sedikit menyegarkan.” 

Aku berpikir seberapa baik dirinya karena bisa mengekspresikan bahwa dia tidak keberatan dengan senyuman dan gerak tubuhnya. 

Namun, aku tidak boleh terlalu mempercayai kata-katanya. 

...Eh? Tunggu, Maeda-chan...? Ruka-san, apa tadi kamu memanggil Maeda-san dengan imbuhan ‘chan’? 

“Ah, aku juga perlu ke toilet sebentar. Sake yang aku minum sudah mulai terasa.” 

Sambil berbicara dengan nada bercanda, Maeda-san mengusap perutnya dan keluar dari ruangan. 

Begitu pintu geser tertutup, hanya menyisakan aku dan Ruka-san. 

Saat suasana di depan ruangan benar-benar sepi, aku tidak bisa menahan diri lagi dan membuka mulut. 

“Ehm... maafkan aku. Aku benar-benar...”

“Kamu menyesalinya?”

“……Ya.”

“Begitu. Kalau begitu, aku akan menerima permintaan maaf itu.” 

“Eh... tapi, kamu pasti masih marah, kan...?”

Ruka-san menghela napas. 

“Yah, mungkin di masa lalu, aku akan mengatakan ini. 'Itu tidak boleh dilakukan. Mulai sekarang, jangan mengulanginya lagi.'”

“Apa kamu tidak akan mengatakannya?”

Sebenarnya, aku sudah yakin akan dikatakan seperti itu. 

“Jika kamu mengatakannya di era Reiwa, kamu akan dicap sebagai atasan yang buruk dan selesai. Aku yang membawa Saki ke sini. Jadi, aku harus bertanggung jawab atas tindakanmu. Menghindari risiko adalah tugasku.” 

“Itu...”

“Tindakan yang kamu ambil sangat manusiawi, dan jika itu tidak manusiawi atau tidak etis, maka tidak ada alasan untuk menghentikannya jika tidak ada yang memberitahukan sebelumnya. Seharusnya aku sudah memprediksi dan memberi tahu Saki. Dalam situasi seperti ini, terkadang perlu untuk menahan emosi dan tidak menampilkannya.”

“Kamu sudah memprediksi... Yah, mungkin itu benar jika memungkinkan. Apa itu berarti kamu bisa memprediksi bahwa aku akan marah?” 

Karena aku merasa hal semacam itu mana mungkin bisa dilakukan, aku akhirnya mengatakannya, tetapi Ruka-san mengangguk dengan tegas. 

“Aku bisa. Maksudku, aku sudah bisa. Saki, kamu membaca ekspresiku saat dia masuk ke ruangan, kan?”

“Ugh.”

Ruka-san membenamkan kepalanya di atas meja. 

“Sudah kuduga~. Ah, sialab. Itu tidak bisa diperbaiki. Ini kesalahanku. Seharusnya aku tersenyum tulus. Jika aku menganggapnya sebagai orang yang aku sukai, kamu pasti tidak akan membalas sampai sejauh itu.” 

“Itu...” 

Memang bisa jadi demikian. 

“Kurasa aku juga meremehkan kemampuan observasimu, Saki.” 

“Tidak, aku yang tidak memikirkan hal itu. Aku minta maaf. Aku akan berusaha agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.”

Setelah mengatakannya, aku menundukkan kepala. Ruka-san melirik ke arahku sebelum kembali bersandar pada pipinya. 

“Ya. Baiklah, jika kamu bisa melakukannya, aku akan sangat berterima kasih. Tapi, itu mungkin mustahil.” 

Setelah mendengar itu, aku merasa seolah-olah jantungku dicengkeram erat-erat. 

“Mustahil?” 

“Habisnya kamu, pasti ini bukan yang pertama kali, kan? Pasti ada pengalaman sebelumnya, bukan? Mengatakan hal seperti itu kepada orang yang lebih tinggi posisinya.” 

Aku terdiam. 

Aku memiliki terlalu banyak pengalaman. Ada Profesor Kudo, ayah kandungku, Ito Fumiya, dan mungkin Kozono-san juga terlibat. Kozono-san lebih dulu menunjukkan perasaannya kepada Yuta. Jadi dalam konteks cinta, dia pasti lebih tinggi posisinya. Di saat perasaanku sendiri dibuat terguncang, aku merasa takjub karena bisa membalas dengan kalimat “meskipun kedengarannya penuh percaya diri, tapi itu cuma 'mungkin'.” Sekarang, aku berpikir betapa mengerikannya diriku yang cepat marah. 

“Aku akan memperbaikinya.”

“Tidak mungkin. Karakter anak terbentuk sejak usia tiga tahun. Menurut penilaianku, kamu adalah orang yang sangat tidak suka kalah. Orang seperti itu seharusnya tidak melelahkan diri dalam negosiasi seperti ini. Meskipun pekerjaan sekretaris mungkin berguna di masa depan, tujuanmu mungkin bukan di sini.”

Pernyataan yang tegas itu sangat nyelekit di hari. Mungkin lebih mudah jika aku dimarahi secara langsung, tetapi Ruka-san bukanlah atasan yang akan membiarkanku melarikan diri begitu saja. 

“Ya, tapi untuk kejadian kali ini, maafin aku ya. Kesalahan terbesarku adalah ketidakdewasaanku. Karena ada Maeda-chan, seharusnya aku lebih siap. Aku seharusnya tidak memberi Saki kesempatan untuk merasa khawatir." 

“Karena ada Maeda-san... eh?” 

“Nanti kamu akan memahaminya. Bukan posisi atau jabatan yang membuatmu ketakutan...”

Saat dia mengucapkan kalimat yang bermakna itu, pintu geser dibuka lagi. Pertama, Takahashi-san kembali. 

Kemudian, Maeda-san dan Iwamoto-san masuk. Maeda-san seharusnya di toilet, tapi kenapa dia bersama Iwamoto-san? Mungkin toilet itu hanya alasan, dan dia pergi untuk berbicara dengan Iwamoto-san. Tentu saja, aku tidak berpikir untuk memeriksa hal itu, karena aku tidak ingin mengikuti pepatah “mulutmu harimaumu”. 

Iwamoto-san duduk dengan wajah masam dan tidak berbicara. Makan malam pun berjalan seolah tidak ada yang terjadi, tetapi setelah itu, Iwamoto-san tidak pernah mengeluarkan kata-kata keras sampai akhir. Dia tampak menyusut, dan Takahashi-san melihatnya dengan tatapan penuh simpati. 

Hanya Maeda-san yang tersenyum ceria dan berbicara dengan Ruka-san. 

Aku merasa seperti duduk di atas jarum, jadi mungkin masakan daging kuda yang seharusnya lezat itu sudah tidak terasa lagi. 

Saat aku merenungkan tindakanku dan terjebak dalam refleksi mental, tiba-tiba aku menyadari sesuatu. 

Ruka-san memujiku karena bisa membaca ekspresi wajahnya, tapi mungkin pengamatanku yang disebut tajam itu gagal menemukan orang di ruangan ini yang merupakan satu-satunya orang yang paling tidak ingin kubuat marah...... 

Bukannya ada seseorang yang bisa menyembunyikan emosinya dengan sempurna di balik senyuman tanpa mengubah ekspresinya? 

Ketika makan malam selesai, waktunya sudah larut malam, dan setelah berpisah, Ruka-san akan mengantarku dengan taksi menuju Shibuya. 

Sambil menaiki taksi yang melaju di jalan tol, Ruka-san berkata pelan padaku. 

“Kamu tahu, kamu diperbolehkan menghunuskan pedangmu ketika kamu yakin bisa mengalahkan lawanmu.” 

Jika kamu sudah menghunuskan pedang, itu sama saja dengan menyatakan kalau kamu menganggap orang lain sebagai musuhmu. 

Aku yang sering dianggap kurang mampu memahami perumpamaan pun bisa memahami hal itu, dan dengan susah payah aku bereaksi mengangguk. 

“Aku merasa kesal. Karena sepertinya Ruka-san dianggap remeh.”

“Ya.”

“Tapi, mulai sekarang aku takkan melakukannya lagi.”

Meskipun aku sudah diberi tahu bahwa itu tidak mungkin, tapi itu masih tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak melakukan apa yang bisa kulakukan. Aku tidak tahu sampai kapan magang ini akan berlanjut, tetapi selama aku masih diizinkan untuk melanjutkannya, aku harus berusaha sebaik mungkin.

Lagipula, aku sendiri yang tertarik dengan pekerjaan ini dan terlibat di dalamnya. 

Tujuannya bukan untuk menang. 

Ya.

Sebaliknya, kadang-kadang lebih penting untuk kalah dengan anggun. Kita jangan sampai melupakan tujuan kita.

Kata-kata Ruka-san membuatku mengangguk lebih dalam pada hari itu. 

Lampu belakang mobil yang melaju di jalur laju cepat berkelap-kelip, melewati lampu jalan yang berdiri teratur di tepi jalan. Taksi yang kami tumpangi, mungkin karena dikemudikan oleh sopir tua, melaju dengan sangat hati-hati dan santai, sementara aku hanya memperhatikan bagian belakang mobil-mobil yang melaju melewati kami.  

Tiba-tiba, aku melihat di jalur sebelah, siluet khas mobil yang seharusnya sudah menyalip dan melewati kami, terjebak dalam kemacetan. 

Setelah diucapkan selamat malam, taksi itu pergi meninggalkan aku dan Ruka-san dengan senyuman hangat, menuju ke jalan malam untuk menjemput penumpang berikutnya. 

Setelah berpisah dengan Ruka-san, aku menatap pemandangan malam Shibuya dan menghela napas kecil. 

Cahaya dari apartemenku yang seharusnya terlihat di balik malam yang gelap terasa sangat merindukan. 

 

◇◇◇◇

 

Pada malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku bermanja pada Yuuta

Akhir-akhir ini, kami berdua sama-sama sibuk dan jarang menghabiskan waktu berdua seperti pasangan, dan dengan adanya rasa aman dari hubungan yang terdefinisi, aku tidak merasa perlu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu karena rasa cemas. Namun, malam ini aku ingin melihat wajah Yuuta dan merasakan kehangatannya. 

Aku ingin dirinya mengisi kekosongan di hatiku yang kosong akibat kegagalan, menghangatkan hatiku yang dingin, dan menenangkanku

Betapa lemahnya aku... atau begitulah yang kupikirkan

Aku merasa sangat bodoh ketika mengenang diriku di masa lalu yang menganggap kalau diriku bisa berenang sendiri di arus masyarakat sendirian

Oleh karena itu, sejujurnya, aku merasa sedikit takut ketika mengucapkan aku ingin dipeluk”

Aku merasa khawatir jika dirinya melihat kelemahan dan ketidakberdayaanku, atau jika dia menganggapku hanya meminta dukungan saat aku lemah, dan jika dia merasakan sedikit saja emosi negatif, hatiku bisa terguncang parah. 

Namun, kekasihku──Yuuta──memelukku dengan lembut. 

Tubuhnya yang memelukku terasa sedikit dingin, dan mungkin dirinya juga memiliki sesuatu yang tidak berjalan baik atau kekhawatiran. Meskipun itu aneh, aku berharap demikian. Tentu saja, aku tidak ingin dirinya mengalami pengalaman buruk. 

Aku hanya berharap tidak hanya aku yang didukung, tetapi aku juga bisa mendukungnya. 

Baik aku maupun dirinya. 

Betapa lemahnya... dan bahagianya kami, begitulah pikirku.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama