Chapter 4 — Tahun Pertama Perkuliahan, Bulan Juni, Ayase Saki
Sudah
sebulan aku mulai melakukan pekerjaan magang di kantor desain milik Ruka-san. Aku
pergi ke sana hampir setiap hari, membuka PC, dan menyelesaikan pekerjaan. Di
sela-sela itu, aku meminta pengajaran dari para senior tentang dasar-dasar
desain, menanyakan bahan ajar yang sebaiknya dijadikan referensi, dan meskipun
belajar secara otodidak, aku perlahan-lahan mulai belajar. Aku melakukan semuanya
di antara jam perkuliahan di kampus, jadi belakangan ini aku sedikit sibuk.
Aku ingin
mengatakannya begitu sih, tapi...
Tidak, aku memang
sibuk, kok?
Aku sendiri
merasa hal ini pekerjaan berat. Seharusnya memang berat. Namun, aku merasa ragu
untuk mengatakannya karena beban kerja bosku, Ruka-san, sangat luar biasa.
Karena aku
yang mengatur jadwalnya, aku merasakannya lebih dalam.
Berapa
banyak pekerjaan yang dibutuhkan untuk mencukupi semua itu, aku tidak tahu, karena
jumlah proyek yang ditanganinya sangat banyak—ini adalah istilah yang digunakan
untuk menyebut unit pekerjaan.
Karena kami
kantor kecil, jadi sebagian proyek yang ditangani juga kecil, dan seringkali
pekerjaan nyata dilakukan oleh karyawan lain, tetapi pengelolaan dan pembagian
proyek harus dilakukan oleh Ruka-san sebagai presiden perushaan. Selain itu,
tanggung jawab akhirnya berada di tangan Ruka-san, jadi dia harus terus
memeriksa kemajuan dan kualitas pekerjaan.
Pekerjaan
tersebut menjadi sangat besar...
Hanya itu
saja sudah cukup berat, tetapi...
Saat ini, dirinya
juga menangani proyek yang tidak bisa dibilang kecil.
Yaitu proyek
'Roppongi Art Festa'.
Meskipun
konsepnya segar dan merupakan upaya baru, penyelenggaraan acara seni besar di
Roppongi telah berlangsung selama bertahun-tahun. Kami tidak bisa menghancurkan
kesan baik yang telah terbangun di Roppongi. Sementara itu, kami juga harus
berusaha agar orang-orang yang berpartisipasi tidak merasa kecewa dengan
pengalaman yang biasa-biasa saja, jadi kami harus mencoba hal-hal baru.
Hal ini
semakin sulit seiring dengan besarnya acara. Hal baru membutuhkan energi. Mereka
cenderung menjadi konservatif. Oleh karena itu, desain konsep keseluruhan
sangat penting, dan bagaimana kami dapat menunjukkan perbedaan di sana—kata
Ruka-san.
Nah, jadi,
apa konsep (atau “tujuan”) 'Roppongi Art Festa'?
『Dunia seni
yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari. 』
Itulah konsepnya.
Sejujurnya, aku
tidak mengerti apa maksudnya hanya dengan mendengarnya saja. Aku telah membaca
log ruang kerja di PC dan akan mencoba menjelaskan apa yang kupahami dengan
kata-kataku sendiri.
Pameran seni
kali ini tampaknya bertujuan untuk menciptakan “seni yang tidak diperlakukan
secara istimewa”.
Ketika kita
ingin berinteraksi dengan seni, apa yang biasanya kita lakukan? Biasanya, kita
pasti akan mengunjungi museum, gedung konser, atau teater. Artinya, kita pergi
ke tempat khusus untuk mendapatkan pengalaman yang istimewa.
Kegiatan tersebut
memiliki makna tersendiri. Jika ingin benar-benar meresapi seni, lebih mudah
dan pasti untuk pergi ke tempat khusus yang memungkinkan kita tidak memikirkan
hal-hal lain, dan di tempat seperti itu, kita juga dapat dengan mudah melupakan
hal-hal sepele dalam kehidupan sehari-hari.
Aku sendiri
pun jika berkencan dengan Yuuta, aku akan pergi ke tempat seperti itu. Rasanya seperti
kita bisa menghabiskan waktu yang istimewa. Namun, hal ini juga pasti
menciptakan hambatan yang tinggi terhadap [seni].
Aku ingin orang-orang
bisa merasa lebih nyaman dalam menikmati. Aku ingin menurunkan hambatan
tersebut dan meningkatkan peluang bagi banyak orang untuk merasakan hal-hal
yang artistik. Banyak seniman juga berpikir demikian.
Baiklah,
mari kita sediakan tempat di mana seni dapat diekspresikan dengan santai.
—Aku tidak
tahu apakah inilah urutan pemikiran yang tepat, tetapi tampaknya dengan cara
itulah kebijakan kali ini terbentuk, yaitu “Mari kita tampilkan berbagai
seni dengan cara yang secara alami menyatu dengan pemandangan kota Roppongi.”
Kita akan
menempatkan seni di tengah pemandangan sehari-hari tanpa menciptakan
ketidaksesuaian, sehingga ketika orang yang lewat menyadarinya, mereka bisa
merasakan seni sedikit saja dan terkejut. Mari kita adakan pameran seni seperti
itu. Begitulah kira-kira kurang lebihnya. Ya, ide yang menarik.
Sekarang aku
tahu bahwa yang namanya kejutan bisa menyenangkan.
Ruka-san
sudah terlibat sejak tahap perencanaan proyek ini. Sampai penentuan konsep
perencanaan, semuanya sudah selesai sebelum aku masuk ke kantor pada bulan Mei
kemarin.
Pertemuan
dengan para pengelola tempat di mana seni akan dipamerkan, yaitu National Art
Center, Tokyo Midtown, Mori Building, dan Asosiasi Promosi Toko Roppongi, serta
penyesuaian lokasi seperti ruang publik dan taman juga telah diselesaikan bulan
lalu.
Artinya,
pedoman umum tentang apa yang akan dilakukan dan bagaimana cara melakukannya
sudah ditentukan. Saat ini, kami sedang merinci hal-hal konkretnya.
Misalnya,
negosiasi dan konfirmasi kemajuan dengan para seniman yang akan berpartisipasi.
Di antara para seniman yang berpartisipasi, (yang mengejutkan) ada juga
orang-orang dari luar negeri.
Ada yang
merupakan pelukis, ilustrator, dan pematung, dengan berbagai genre.
Tampaknya
ada juga seniman muda yang sedang diperhatikan dalam industri ini, dan aku
merasa senang bisa mendapatkan kesempatan untuk melihat karya-karya para
seniman baru dari luar negeri yang sulit dijangkau di Jepang.
Tugas
Ruka-san juga mengurus visa dan akomodasi bagi para seniman (ini cara sopan
untuk mengundang profesional), yang berarti aku, sebagai sekretarisnnya,
harus membaca dan menulis email dalam bahasa Inggris agar tetap berhubungan
dengan mereka.
“Aku merasa
tenang karena emailnya ditulis lebih baik dari yang aku kira. Seperti yang
diharapkan dari anak kampus Tsukinomiya.”
Saat Ruka-san
berkata demikian, aku merasa lega karena usahaku untuk belajar bahasa Inggris
dengan positif membuahkan hasil. Namun, saat itu, Ruka-san segera menambahkan.
“Ah, tapi
ingat, kamu diminta sebagai sekretaris karena kamu tidak bisa melakukan
pekerjaan desain. Itu bukan pekerjaan utamamu. Kupikir menulis email dalam
bahasa Inggris dan mengatur jadwal akan berguna di masa depan, tetapi jika kamu
tidak berniat menjadi sekretaris, jangan lupa untuk belajar pekerjaan desain
selama masa magang ini.”
“Ya. Aku
mengerti.”
Aku tanpa
sadar mengangguk mendengar perkataan Ruka-san. Sebenarnya, alasanku bisa tertarik
dengan pekerjaan Ruka-san adalah karena aku tertarik dengan poster konser
Melissa yang dibuatnya, bukan karena pekerjaan yang dilakukannya berskala
besar. Bagiku, itu tidak penting.
Jika aku
memiliki sifat yang menilai orang berdasarkan besar kecilnya pekerjaan, aku takkan
bisa menghormati ibuku. Apa salahnya menjadi bartender di toko kecil—aku
berpikir begitu.
Pembicaraan
ini sedikit melenceng. Meskipun karya-karya Roppongi Art Festa berskala besar,
tapo seperti yang dikatakan Ruka-san, karya tersebut tidak cocok untuk
mempelajari desain.
Karena skalanya
terlalu besar. Akibatnya, sebagian besar pekerjaan Ruka-san lebih banyak
dihabiskan untuk bagaimana menggerakkan orang-orang yang terlibat daripada pada
pekerjaan nyata untuk mewujudkan konsep desain.
Itulah peran
yang sering dimainkan oleh para pemimpin. Aku mengerti bahwa itu pekerjaan yang
sulit, tapi acara tersebut menjadi tidak membantu ketika seorang pemula ingin mempelajari
desain.
Oleh karena
itu, sejauh ini, hal yang paling banyak kupelajari adalah pekerjaan nyata yang
dikerjakan oleh para karyawan setiap hari.
Misalnya,
ada Higashide Yume-san yang duduk di kursi depan meja. Dia dipanggil “Yume-chan”
oleh semua orang. Dia berbadan mungil. ramah, dan selalu tersenyum. Usianya
tampaknya sekitar enam tahun lebih tua dariku.
Hari ini
juga, dia sedang melakukan sesuatu, tetapi...
Ketika
Higashide-san yang kecil itu membungkuk di atas meja untuk bekerja, dia
memberikan kesan seperti hewan kecil yang sedang makan di sarangnya.
Ketika aku
mengintip dari atas bahunya, dia menggunakan meja sebagai meja kerja dan sedang
menempelkan kertas berbentuk aneh yang dipotong dengan cutter ke papan dasar.
Apa yang sedang dia lakukan? Aku menunggu momen ketika ketegangannya mereda dan
berusaha mengajaknya bicara.
“Itu, apaan?”
“Sampul,”
jawabnya singkat, membuatku semakin kebingungan... Kelihatannya seperti hanya
anak-anak yang bermain dengan kertas tempel.
Menyadariku
yang kebingungan, Higashide-san mengatakan mari kita istirahat kopi dan
kemudian mulai bercerita banyak hal.
Jika
dirangkum, pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Higashide Yume-san saat ini
adalah desain penutup kertas untuk membungkus buku di toko buku. Meskipun toko
itu dikelola secara pribadi, sepertinya toko buku tersebut mempunyai karakter
maskotnya sendiri.
“Itu yang
ini,” katanya sambil mengangkat siluet merah yang dipotong di depanku. Itu
adalah potongan kertas yang terlihat seperti hewan yang memiliki tiga atau
empat bola yang menempel, seperti ulat.
“Itu apaan?”
“Karakter
populer di kawasan toko. Maskot yang lucu, Shimi-chan si kutu buku.”
“Shimi-chan...”
“Dia membutuhkan
kacamata karena terlalu banyak membaca, jadi dia memakai kacamata bulat retro
yang besar.”
Aku mulai
ingin mengajukan banyak pertanyaan.
“Ngomong-ngomong,
ada juga label buku yang menjadikan panda sebagai maskot. Selain itu,
sepertinya ada situs web novel yang menggunakan burung bulat sebagai maskot.
Mungkin buku dan hewan memang memiliki kecocokan yang baik.”
“Hee~, kamu
tahu banyak ya~. Ternyata Saki-chan suka buku, ya.”
“Ah, tidak, aku
pernah bekerja paruh waktu di toko buku...”
Higashide-san
yang sebelumnya bersandar pada sandaran kursi tiba-tiba bangkit dan mencondongkan
badannya ke arahku.
“Ayo
ceritakan lebih banyak tentang hal itu”
Loh, loh,
loh, eh? Aku tidak menyangka akulah yang akan dijadikan sebagai pembicara.
Begitu mengetahui bahwa aku memiliki pengalaman kerja paruh waktu di toko buku,
Higashide-san langsung bertanya tentang penutup kertas yang bisa didapatkan di
toko buku, kapan digunakan, bagaimana cara menggunakannya, dan apa aku pernah
memperhatikan hal-hal tertentu saat menggunakan penutup buku. Meskipun aku
merasa kalau Yuuta lebih tahu tentang hal ini, aku mulai menceritakan berbagai
pengalaman yang kudapatkan selama satu setengah tahun bekerja paruh waktu.
Tapi, apa
cerita dari orang awam sepertiku ini benar-benar berguna?
“Tentu saja.
Pendapat dari orang yang benar-benar menggunakannya di lapangan sangat
berharga. Sebenarnya, mungkin tidak ada pendapat yang tidak berguna. Pendapat
dari orang yang tidak tertarik memiliki karakteristik karena ketidakpedulian
mereka. Ada juga orang yang setelah mendapatkan penutup buku langsung
melepasnya, kan?”
Ah, memang benar.
“Penutup
buku bukanlah sesuatu yang disimpan, dan bagi kebanyakan orang, itu hanya
sesuatu yang terlihat sekejap. Dan itu sudah cukup. Jadi, pendapat dari orang
yang tidak peduli pun tetap berguna.”
“Padahal
mereka membuatnya dengan begitu serius.”
“Desain yang
dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari memang seperti itu. keberadaannya tidak
boleh mengganggu. Tidak boleh terlalu menonjol. Secara pribadi, aku berpikir
demikian. Selain itu, seperti alat, benda itu harus benar-benar berguna. Desain
industri memang seperti itu.”
Ketika
Higashide-san mengatakan itu, karyawan lain yang sedang duduk di meja yang
membangun pulau juga mengangguk-angguk.
...Sepertinya
mereka tetap mendengarkan meskipun terlihat tidak memperhatikan.
Meski
demikian, semua orang tetap melakukan pekerjaan mereka sesuai jadwal, jadi 'Lucca
Design Studio' adalah tempat kerja yang aneh.
“Jadi, toko
buku ini sebenarnya cukup populer di kawasan toko kecil di kota itu. Terutama
Shimi-chan tampaknya populer di kalangan semua usia, dan dia bahkan digambar di
papan besar yang ada di depan toko.”
Berarti, dia
benar-benar mengunjungi toko itu.
Usai mendengar
cerita Higashide-san, aku teringat pada Ruka-san ketika kami menghadiri rapat 'Roppongi
Art Festa'. Ruka-san juga sudah beberapa kali mengunjungi tempat yang akan
menjadi lokasi acara.
Atau lebih
tepatnya, karena Ruka-san yang merupakan presiden perusahaan melakukan itu,
karyawan di sekitarnya tentu merasa itu merupakan hal yang wajar.
“Jadi,
Yume-san berpikir untuk menggunakan maskot itu dalam desain penutup buku, ya.”
Ketika aku
merangkum seperti itu, Higashide-san mengangguk dan berkata, “Panggil aku Yume
saja, tidak masalah kok.”
“Rasanya
aneh memanggil senior dengan nama saja...”
“Kalau
begitu, setidaknya tulis dengan katakana. Tadi kamu memanggilnya dengan kanji,
kan?”
Bagaimana
dia bisa mengetahuinya?
“Aku
mengerti. Yume-san.”
“Itu sudah
oke.”
Yume-san
membuat lingkaran dengan jarinya dan berkata demikian. Aku menghela napas lega.
Aku pikir keterbukaan adalah salah satu kekuatan perusahaan kami, tetapi bagiku
yang masih baru, idealisme itu masih sedikit berat.
“Jadi,
kembali ke pembicaraan, sangat disayangkan jika kita tidak menggunakan karakter
yang sudah memiliki identitas hanya dengan siluet seperti ini. Penutup buku
kertas mungkin sekali pakai, tetapi sepertinya anak-anak juga bisa
menikmatinya, kan?”
Dia
tersenyum lebar. Sepertinya Yume-san menyukai anak-anak.
“Selain itu,
karena gambarnya menunjukkan kedua tangan memegang buku, jadi jelas ada buku di
sini, kan?”
“Memang
benar?”
Lengan tipis
Shimi-chan yang sedang membuka buku besar dengan kedua tangan terlihat jelas
bahkan dalam siluet bayangan.
“Menurutku,
tampilannya akan menarik jika kita mengubah ukuran dan menyebarkan pola
kamuflase di penutup kertas seperti ini. Bagaimana?”
Saat berkata
demikian, dia mengangkat kertas yang sudah setengah jadi dan menunjukkan kepada
semua orang di ruang kerja. Karyawan lain hanya melirik sekilas. “Bukannya
itu sudah bagus, ‘kan?” kata seorang pria muda berambut dicat pink yang
duduk di sebelah Yume-san, seolah mewakili semua orang. Orang ini kalau tidak
salah namanya Tatsumi Shou-san.
Semua orang
di sekitaran mereka juga mengangguk-angguk setuju.
“Terima
kasih.”
Ucap Yume-san
sambil meletakkan papan dasar di atas meja.
“Yume-san
tidak menggunakan PC, ya?”
“Aku
menggunakannya, kok~. Sebenarnya, aku juga awalnya menggunakannya. Tapi, entah
kenapa, rasanya ada yang kurang. Aku merasa lebih mudah berpikir dengan cara
analog seperti saat aku di sekolah seni. Ternyata aku orang yang agak kuno. Lagian
aku juga sudah tua, sih.”
“Tua? Mana
mungkin, usia kita tidak jauh berbeda, ‘kan?”
“Tidak,
tidak, duduk seharian membuat punggungku sakit, dan melakukan pekerjaan yang
membosankan membuat mataku kabur, dan bahuku kaku. Aku tidak tahan lagi... ah,
aku ingin pergi ke pemandian air panas.”
Dia mulai
memijat area di sekitar matanya saat mengatakannya.
“Terima
kasih atas kerja kerasnya...”
“Terima
kasih. Nah, kembali ke topik pembicaraan. Ukuran papan ini adalah ukuran asli
penutup kertas. Ukuran buku itu bervariasi, jadi kurasa ini akan dipotong atau
dilipat untuk digunakan. Benar, kan?”
Aku
mengangguk. Di tempat pekerjaan paruh waktuku yang sebelumnya, aku memang
menggunakan kertas dengan ukuran seperti ini dan melipat tepinya.
“Kurasa
kertas untuk buku saku dan buku baru ukurannya sedikit lebih kecil.”
“Ya. Kami
berencana membuat dua ukuran. Itulah yang diminta. Aku mendengar ada buku besar
dan kecil.”
“Jika
begitu, ukuran itu untuk buku tunggal... mungkin untuk sampul keras, ya.
Menurutku begitu.”
Tentu saja,
ukuran buku tidak selalu dijual dengan ukuran standar, karena terkadang ada
buku dengan ukuran yang aneh. Buku-buku seperti itu memang bisa menyulitkan
toko buku. Ketika diletakkan di rak, tingginya tidak sejajar, jadi sulit untuk
menatanya. Penutup kertas yang digunakan juga tidak bisa dilipat sesuai ukuran
sebelumnya, jadi harus dilipat di tempat sesuai dengan buku. Namun, mungkin ada
alasan bagi pembuat buku untuk memilih ukuran tersebut.
“Kurasa aku
lebih cocok membuatnya secara realistis seperti ini dengan tanganku. Setelah
sketsa kasarnya selesai, aku akan melakukan penyesuaian akhir di PC. Aku ingin
melakukan penyesuaian yang lebih detail.”
Ketika
melihat meja Yume-san, aku melihat ada potongan siluet Shimi-chan yang
berserakan dengan berbagai warna dan ukuran. Hanya menempatkan siluet dengan
ukuran dan warna yang sama akan membuatnya terlihat seperti pola biasa dan
tidak menyerupai kamuflase.
Meskipun itu
gambar sederhana, tapi ada tonjolan dan alur halus, jadi hanya memotongnya saja
tampaknya sudah cukup sulit.
Tapi tunggu
dulu. Bagaimana cara mereka membuat siluet dengan ukuran yang berbeda? Dan
bagaimana mereka mengubah kecerahan warnanya? Sebenarnya, mereka hanya
menggunakan warna merah, memangnya itu sudah cukup?
Karena
merasa penasaran, aku jadi bertanya.
“Warna yang
bisa digunakan untuk kertas pembungkus hanya satu atau paling banyak dua warna.
Kamu pasti pernah melihat kertas pembungkus dari Mitsukoshi di department
store, ‘kan? Yang memiliki pola merah di latar putih. Sederhana, tetapi sudah
digunakan sejak tahun 1950. Itu keren banget, ‘kan? Pola mawar dari Takashimaya
juga hanya merah dan hijau. Takashimaya sudah menggunakan pola mawar itu sejak
1952. Desainnya telah diperbarui, tetapi kombinasi warna merah dan hijau tidak
berubah. Eh? Kalau tidak salah cuma ada yang merah saja mungkin? Ya, begitulah.”
Yume-san
menjelaskan. Jika dia bisa berbicara panjang lebar dengan lancar, itu berarti
dia telah banyak meneliti dan mengingatnya.
“Jika jumlah
warna terlalu banyak, biaya cetaknya akan meningkat. Jadi, jumlah warna harus
dibatasi. Karena mereka toko buku kecil di kota, memiliki biaya cetak yang kecil
itu penting. Meskipun menggunakan warna yang sama, kita bisa mengubah
kecerahannya. Jadi, untuk Shimi-chan ini, aku juga membuat beberapa variasi
kecerahan di PC sebelum mencetaknya. Untuk ukuran, setelah membuat beberapa
dengan memperbesar dan memperkecil, jika ingin mengubah ukuran sedikit lagi,
lihat saja, di mesin fotokopi di sana.”
Dia menunjuk
ke arah mesin fotokopi di dekat dinding.
“Kita bisa
sedikit memperbesar atau memperkecilnya dengan menggunakan mesin fotokopi.
Meskipun, seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, kita bisa melakukan hal-hal
lebih detail di PC, tetapi entah kenapa, aku merasa kurang paham dengan itu.”
“Jadi, itulah
sebabnya kamu memotong dan menempel seperti itu, ya?”
“Begitulah.”
Dan meskipun
sederhana, siluet Shimi-chan yang memiliki ketidakteraturan yang cukup kompleks
ini dipotong, ditempel, dilepas, dan ditempel lagi dengan hati-hati. Selain
itu, bukan hanya satu. Di atas meja Yume-san, ada banyak prototipe yang
ditumpuk. Dia terus-menerus melakukan pekerjaan detail seperti ini. Itu pasti
membuat matanya sakit dan bahunya kaku. Istilah ‘pengrajin’ terlintas di
pikiranku. Mungkin terdengar aneh jika diucapkan untuk seorang desainer, tetapi
melihat pekerjaan Yume-san, istilah tersebut rasanya sangat tepat. Sebenarnya,
pengrajin juga bisa menjadi desainer dan seniman.
Dan hal-hal
seperti ini harus bisa dilakukan jika seseorang ingin menjadi desainer.
“Ngomong-ngomong,
makasih atas informasi berharganya dari mantan pegawai toko buku.”
“Aku senang
bisa membantu.”
Setelah
menjawab demikian, aku kembali melanjutjan pekerjaanku, sementara Yume-san
kembali lagi ke pekerjaannya mendesain penutup buku dengan pola kamuflase
Shimi-chan.
Tampaknya,
dia membutuhkan waktu tiga hari untuk membuat tiga konsep dasar. Ketika dia
mengajukan ketiga konsep itu kepada pihak terkait, sepertinya dia mendapatkan
tanggapan positif dari toko buku.
Saat ini,
penutup buku buatan Yume-san sudah masuk ke tahap penyesuaian halus dan
pengujian warna.
Seiring aku
belajar tentang dasar-dasar desain dari para senior, cara pandangku terhadap
dunia juga perlahan-lahan mulai berubah. Seolah-olah aku mendapatkan kacamata
baru untuk melihat dunia. Bahkan pemandangan saat pulang kerja pun tidak
terlihat seperti dulu lagi.
Padahal baru
dua bulan yang lalu, aku tidak lagi tertarik dengan pemandangan kota yang sudah
familiar, dan satu-satunya yang menarik perhatianku adalah perubahan pakaian musiman
para manekin yang berdiri dengan pose angkuh di balik kaca.
Menjelang
musim panas, para manekin itu mengenakan pakaian berwarna cerah dengan sedikit
bahan, berdiri dengan dada disodorkan dan pinggul diputar ke arah orang-orang
yang lewat. Dulu, aku hanya melihat pakaian boneka-boneka itu. Aku tidak
tertarik pada etalase yang menyimpan boneka-boneka tersebut.
Sekarang
sudah berbeda. Aku tidak bisa berhenti memikirkan berbagai hal yang diletakkan
di dalam kandang transparan itu.
Warna
pencahayaannya. Aksesoris-aksesoris kecil yang diletakkan di bawah kaki manekin.
Jarak antara manekin, serta poster yang dihiasi dengan pohon palem yang
ditempel sebagai latar belakang. Segala sesuatu yang ada di dalam kotak etalase
transparan itu memiliki makna dan alasan untuk berada di sana.
Desain
memiliki niat.
Misalnya, ada
alasan mengapa manekin dengan bikini di etalase toko sebelah kanan berdiri
dengan pose seperti itu. Bikini itu berwarna trendi dan ditekan ke dadanya,
tetapi potongan yang dalam di garis leher jelas-jelas menarik perhatian.
Belahan dada yang indah tampak terpampang jelas.
Di sini, aku
biasanya akan menghentikan pemikiranku seperti yang kulakukan di masa lalu.
Tapi sekarang
aku mengerti. Aku tidak bisa dikatakan sebagai orang yang pendek, tapi aku
adalah seorang wanita. Artinya, pandanganku lebih rendah dibandingkan pria. Sebagai
perbandingan, rata-rata tinggi badan orang dewasa Jepang adalah sekitar 171 cm
untuk pria dan sekitar 158 cm untuk wanita, jadi mungkin aku sekitar 10 cm
lebih pendek.
Namun,
belahan dada manekin itu terlihat jelas. Artinya, dari sudut pandang wanita,
bikini tersebut dipajang sedemikian rupa sehingga sudut pandangnya sama dengan
sudut pandang rata-rata pria saat melihat dada wanita rata-rata.
Bukannya
cukup bagus jika kelihatannya begitu?
Penyesuaian
tinggi badan manekin dan pose atau sudutnya dirancang agar bisa membuat
penilaian seperti itu. Hanya dengan menempatkan boneka dengan tinggi rata-rata
dan mengenakan pakaian takkan memberikan pengalaman visual yang menarik bagi
pria yang berjalan di jalan, dan sebenarnya, wanita tidak akan tahu bagaimana
penampilan mereka di mata pria.
Tapi, yang
membeli bikini itu adalah para wanita.
Oh, tentu
saja, jika bikini itu dibeli untuk ditunjukkan kepada teman atau untuk diri
sendiri, penempatannya di ruang juga akan berubah. Selain itu, pakaian yang dipromosikan
sebagai hadiah untuk wanita biasanya dibeli oleh pria, jadi cara memajangnya
juga berbeda...
Tapi
terlepas dari hal-hal kecil itu, ketika aku melihat kota dengan sudut pandang begini,
aku menyadari bahwa setiap papan tanda di jalan, poster, papan neon, dan bahkan
ketinggian serta kecerahan lampu jalan memiliki “niat” di baliknya. Bisa
juga disebut “tujuan”.
Desain
setiap toko dan papan tanda memiliki tujuannya masing-masing.
Aku baru
menyadari hal ini sekarang.
Setiap hari,
aku merasa bersemangat mempelajari hal-hal baru dan mencoba berbagai alat baru.
Begitulah gambaran diriku dua bulan setelah mulai bekerja magang di 'Lucca
Design. Studio'.
Namun, aku seolah-olah
mendadak disiram air dingin pada diriku yang seperti itu.
Aku
melakukan kesalahan yang sangat besar setelah menghadiri rapat kedua 'Roppongi
Art Festa' yang kuhadiri bersama Ruka-san.
◇◇◇◇
Minggu
terakhir bulan Juni. Ada rapat rutin untuk proyek 'Roppongi Art Festa'. Karena
Ruka-san memberitahuku kalau ada makan malam seusai rapat, jadi aku diberitahu
untuk datang tanpa makan, dan pulangnya juga akan terlambat. Teman yang akan
menemani kami rupanya perwakilan dari agensi iklan yang terkait dengan festival
seni tersebut.
Rapat
berakhir pada pukul 21.00. waktunya sudah cukup larut malam. Perutku sudah
keroncongan. Aku dan Ruka-san yang menuju ke arah Azabu akhirnya tiba di toko
yang dituju setelah memasuki jalan sempit di antara gedung-gedung yang dipenuhi
restoran.
“Oh, ini dia
tempatnya.”
Ruka-san
yang sedang melihat peta di smartphone-nya menemukan papan nama toko yang
tertulis kecil dan terlihat lega.
“Di bawah
tanah, ya... hanya nama toko saja?”
“Ya, benar.
Ah, tidak masalah. Ini restoran khusus daging kuda yang bagus. Hanya saja
menunya tidak dipajang di luar.”
Dengan kata
lain, tempat ini mungkin restoran yang mahal, ya?
Aku pernah
mendengar hal semacam ini sebelumnya. Restoran semacam ini tidak menerima
pengunjung tanpa undangan. “Kami hanya melayani pelanggan yang memiliki
rekomendasi”. Itulah sebabnya tidak ada papan nama mencolok di luar, dan
tidak ada menu yang dipajang.
Ini bukan
tempat yang bisa dimasuki secara sembarangan; ini adalah restoran yang hanya
melayani orang-orang yang tahu bahwa tempat ini ada.
Setelah
menuruni tangga sempit, sebuah pintu bergaya Jepang muncul di depanku.
Ketika aku
membuka pintu geser dan melangkah masuk, seorang pelayan yang mengenakan kimono
elegan—mungkin dia adalah pemilik restoran—muncul dan menyapa, “Selamat
datang”. Wow, cara dia mengenakan kimono sangat menawan. Leher dan kerahnya
terlihat rapi, dan obinya tidak terlalu tinggi atau rendah, gerakannya juga
elegan sehingga aku secara otomatis merasa lebih tegak. Ini luar biasa. Dia
tersenyum ramah, tetapi aku merasa seolah-olah sedang dinilai apakah aku merupakan
pelanggan yang pantas untuk restoran ini.
Kami melepas
sepatu dan masuk. Setelah melewati lorong dengan warna gelap, kami lalu
diarahkan ke ruang pribadi di bagian belakang.
Kami membuka
pintu geser dan mendapati seorang pria berusia sekitar empat puluhan dan
seorang wanita berusia dua puluhan sudah menunggu kami.
“Selamat
malam. Maaf atas keterlambatannya.”
Ruka-san
menundukkan kepala. Tentu saja, dia sudah datang lebih awal dari waktu yang
dijadwalkan, tetapi karena pihak mereka sudah datang, cara berbicara seperti
ini menjadi wajar.
“Tidak apa-apa.
Kami saja yang datang terlalu awal.”
Nah, jawaban
yang kuduga pun muncul. Ini adalah interaksi yang sudah disepakati oleh kedua
belah pihak.
Aku melepas
jaket dan menggantungnya. Karena ini ruangan bergaya Jepang, tentu saja aku
harus duduk dengan posisi seiza. Dalam situasi seperti ini, pria bisa duduk
bersila, jadi lebih nyaman. Meskipun aku mengenakan celana panjang, aku tidak
bisa duduk bersila. Sudah lama sekali aku tidak duduk dalam posisi seiza. Kakiku
takkan kesemutan, kan? Semoga saja baik-baik saja. Aku tidak punya pilihan lain
selain bertahan.
Kedua belah
pihak kembali saling menyapa.
Karena ini
pertemuan pertama kami, kami melakukan pertukaran kartu nama di sini. Sambil
memberikan kartu namaku yang baru selesai dibuat, aku juga menerima kartu nama
dari lawan bicara. Rupanya, si pria bernama Takahashi-san, dan si wanita
bernama Maeda-san.
Takahashi-san
dan Maeda-san, baiklah, aku mengingatnya. Setelah mencatatnya di memo dalam
kepalaku, aku menyimpan kartu nama itu ke dalam tempat kartu nama. Ruka-san
mengatakan bahwa jika aku tidak bisa mengingatnya, lebih baik dikeluarkan di
atas meja agar terlihat. Salah menyebut nama orang itu lebih tidak sopan.
“Selain itu,
masih ada satu orang lagi. Dia akan datang sedikit terlambat. Ketika aku
menolak ajakan untuk minum karena ada urusan lain malam ini, dia bilang, 'Bagaimana
pun itu juga pasti acara minum, biarkan aku ikut.' Dia tidak terlibat dalam
acara kali ini, tetapi aku ingin memperkenalkannya karena ini bisa menjadi
kesempatan yang baik.”
“Baiklah.”
Ternyata,
ada tiga orang dari pihak agensi iklan yang hadir. Oh, satu nama bertambah.
Tapi, kurasa aku bisa mengingat sampai lima orang. Tidak masalah.
Ngomong-ngomong,
acara pertemuan hari ini diorganisir oleh pihak agensi iklan. Perusahaan kami
baru pertama kali bekerja sama di Roppongi untuk proyek besar, jadi tampaknya
kami ingin menjaga hubungan baik dengan agensi iklan yang telah mengelola acara
di sekitar Roppongi selama bertahun-tahun. Karena itulah, aku diundang, dan
Ruka-san dengan cepat setuju untuk makan malam malam ini. Dia menjelaskan
situasi itu sebelum kami sampai di restoran.
Makan malam
dimulai tanpa menunggu orang yang akan datang terlambat. Apa ini baik-baik
saja?
Sepertinya
sudah dipesan dari awal dalam bentuk set menu, jadi yang ditanyakan hanya apa
yang ingin diminum. Karena aku masih di bawah umur, tentu saja aku memilih
minuman non-alkohol, tapi tampaknya ada berbagai jenis jus. Untuk sementara, aku
memilih jus jeruk yang sepertinya aman. Orang-orang lain memesan bir dan sake. Aku
tidak tahu apa yang mereka pesan karena aku tidak begitu paham tentang sake. Aku
mendengar seorang wanita memesan sesuatu yang terdengar seperti ‘Dassai,’
tetapi aku penasaran, bagaimana cara menulisnya? Apa sebaiknya aku mengingat
merek meskipun tidak meminumnya? Ibuku pasti tahu banyak tentang itu.
Minuman pun dihidangkan,
dan kami mulai dengan bersulang. Kami hanya mengangkat gelas sedikit dengan
anggun. Karena aku yang paling muda, gelas yang aku angkat juga paling rendah.
Sementara lawan bicara mengangkat gelas lebih tinggi. Dalam hal etika seperti
ini, di Jepang, dasar dari sopan santun adalah mengangkat orang lain lebih
tinggi. Aku sebenarnya tidak terlalu suka hal-hal yang terlalu formal, tetapi aku
berusaha untuk mengingat etika dasar.
Karena menunjukkan
kelemahan juga bukanlah strategi yang baik.
Aku menyesap
jus melalui sedotan yang dimasukkan ke dalam gelas, berusaha untuk tidak
membuat suara. Aku sangat gugup sampai-sampai kupikir aku tidak akan bisa
merasakan rasanya, tetapi wow, apa-apaan ini? Manis! Kental! Aku biasanya
menganggap jus sebagai ‘cairan yang manis’, tetapi ini benar-benar
terasa seperti terbuat dari buah jeruk murni! Oh, jadi inilah yang disebut jus.
Aku
merasakan sedikit keharuan yang aneh. Kira-kira berapa harga jus ini, ya? Yang lebaih
menakutkan justru aku tidak melihat ada harga yang tertera di menu sama
sekali...
Karena
sepaket dengan hidangan utama, hidangan pembuka disajikan terlebih dahulu. Lauk
musiman yang dihiasi sayuran liar dan hidangan berbumbu cuka. Mangkuknya kecil,
dan isinya hanya sedikit, tapi kurasa begitulah hidangan utama kelas atas.
Kemudian,
disajikan sashimi daging kuda. Ini adalah daging kuda yang disajikan mentah.
Aku sangat
terkejut. Ketika aku berpikir tentang daging, aku membayangkan daging yang
kenyal dan ketika digigit, lemaknya akan keluar... Namun sashimi daging kuda
ini meleleh! Begitu aku memasukkannya ke dalam mulut dan menggigit satu atau
dua kali, dagingnya yang tipis hancur dan meleleh. Meskipun ini daging, ada
sedikit rasa manis dan sama sekali tidak ada bau. Kurasa aku cuma bisa menggambarkannya
sebagai rasa daging merah segar yang tersisa di lidah.
Dan fakta
bahwa hanya ada dua potong saja terasa terlalu mewah.
“Sashimi
daging kudanya enak sekali, ya!”
Setelah aku
mengatakannya tanpa pikir panjang, aku menyadari kalau mungkin Ruka-san dan
yang lainnya sudah terbiasa dengan ini. Jika iya, mungkin aku terlihat seperti
orang udik.
“Memang
enak. Dari usia muda seperti ini sudah mengenal kuliner. Lidahmu akan semakin
mahal,” kata Ruka-san sambil mendukung. Takahashi-san dan Maeda-san juga
mengangguk dengan senyum. Yup, mereka orang-orang yang baik.
Suasana
tetap baik dan kami bercakap-cakap ringan saat hidangan terus disajikan.
Mungkin sudah sekitar 15 menit sejak acara dimulai. Tiba-tiba, pintu geser
terbuka dan seorang pria seusia Takahashi-san masuk sambil berkata, “Maaf,
maaf.”
“Oh,
akhirnya datang juga.”
“Maaf aku terlambat.
Rapatnya berlangsung lama dari yang kubayangkan.”
“Ah, tidak
masalah, tidak masalah. Kami baru saja mulai. Terima kasih atas kerja kerasnya.
Oh, pria ini namanya Iwamoto.”
Iwamoto-san,
seorang pria bertubuh besar dengan janggut di sekitar mulutnya, duduk di
sebelah Maeda-san yang ada di depan kami dan menarik dasinya sedikit untuk
melonggarkannya. Akhirnya, ia mengangkat wajahnya dan melihat kami dengan
jelas. Begitu dirinya melihat kami, ekspresinya langsung berubah.
“Lah,
rupanya Ruka-chan, toh?”
Hmm... Apa
dia baru saja memanggil Ruka-san dengan ‘Ruka’ dan bukan ‘Ruka-san’?
Begitu ya.
Aku bisa mengetahui. Terlebih lagi, cara ia memanggilnya saat itu adalah ‘cara
bicara yang sangat sepihak dan ramah’. Yang artinya “terlalu akrab.”
Aku tidak
melewatkan bagaimana mulut Ruka-san berkedut saat ia menyapanya dengan
panggilan demikian.
“Senang
bertemu kembali, aku senang melihat Anda baik-baik saja.”
“Ya, sudah
lama. Oh, aku mendengar bahwa ada anak muda yang menjanjikan yang ditunjuk
sebagai direktur kreatif untuk Roppongi Art Festa, ternyata orangnya itu
kamu ya, Ruka-chan.”
“Terima
kasih,” jawabnya dengan senyuman. Oh, ternyata itu bukan senyuman yang tulus.
Namun,
tampaknya Ruka-san dengan cepat menyembunyikan perasaan tidak nyamannya
terhadap Iwamoto-san di balik senyumnya, dan menggantinya dengan senyum tenang
di permukaan.
“Owalah, jadi
Iwa-chan, kamu kenal dengan Ruka-san?” tanya Takahashi-san kepada Iwamoto-san
sebelum Ruka-san menyela.
“Beliau
banyak membantuku di pekerjaanku sebelumnya sebelum aku bekerja mandiri.”
“Benar
banget~, benar banget. Aku sangat membantunya. Sejak dia datang ke perusahaan
kami, aku membimbingnya dengan penuh perhatian. Oh, tunggu, aku tidak
membimbingnya dalam hal tarian, oke? Haha. Tapi Ruka-chan itu cantik, jadi
banyak yang ingin mengajarinya di kantor. Namun, karena dia adalah murid
didikan kesayanganku, aku tidak membiarkan mereka mengganggunya!”
...Apa yang
sedang ia bicarakan? Apa ia menyadari bahwa cara bicaranya bisa diartikan
seolah-olah cuma dirinya yang boleh menyentuhnya?
Aku merasa
sedikit pusing dan tidak menyangka bakalan mendengar pernyataan yang terasa
sangat kuno dan tidak pantas, terutama dari seseorang yang lebih muda dari
Wada-san, yang merupakan yang tertua di kantor dan sangat serius. Aku
membayangkan wajah tenang Wada-san yang digambarkan sebagai sosok yang patut
dicontoh. Pada saat yang sama, aku teringat komentar dari Tatsumi Shou-san yang
berambut pink, “Menyalahkan generasi itu tidak baik”.
Wada-san
juga pernah berbicara dengan nada merendahkan tentang dirinya yang lahir di era
Showa, tetapi itu mungkin karena dirinya merasa bahwa pernyataannya akan
terdengar kuno bagi generasi muda.
Namun, orang
ini...
“Aku
berterima kasih atas semua bantuan sebelum aku mandiri,” ucap Ruka-san sambil
sedikit menundukkan kepala.
“Ya, ya.
Kamu sudah menjadi orang yang hebat.”
“Terima
kasih,” jawabnya sambil menambahkan beberapa kanji dan tersenyum. Nada suaranya
sekitar 20% lebih dingin dari sebelumnya. Apa ia tidak menyadarinya? Ruka-san
mengambil botol bir yang ada di meja dan menuangkannya ke dalam gelas
Iwamoto-san.
“Ah, terima
kasih, terima kasih.”
“Setelah ini
Anda akan minum sake juga, kan?”
“Ah, ya.
Tapi pertama-tama bir! Ini sudah mulai panas, jadi ini enak!"
Dia langsung
meneguk birnya.
Begitu
gelasnya kosong, Ruka-san segera menuangkan lagi. Seolah-olah dia tidak ingin
memberi kesempatan untuk berbicara. Atau mungkin memang ada niat seperti itu.
Namun, Iwamoto-san langsung menghabiskan bir yang baru saja dituangkan.
Sepertinya ia mempunyai ntoleransi yang kuat dalam hal alkohol. Wajahnya tidak
menunjukkan perubahan sama sekali.
“Begitu ya.
Ruka-chan yang merancang konsep untuk Art Festa, ya? Kamu melakukannya dengan
baik.”
Hmm. Apa
maksudnya ‘melakukannya dengan baik’?
Meskipun itu
mungkin hasil dari kemampuannya, tapi ungkapan seperti itu bisa memiliki makna
tersirat—seolah-olah dia mendapatkan posisinya bukan hanya karena kemampuannya.
Entah
kenapa, sejak tadi, Iwamoto-san ini terus mengucapkan kalimat yang sedikit
mengganggu. Dia yang membuat aku merasa tertekan, mengambil sumpit kayu yang
terlihat elegan di tangannya, lalu dengan cepat memasukkan dua potong sashimi
daging kuda ke dalam mulutnya. Sepertinya dia menelan sebelum sempat mengunyah.
Rasanya agak sangat disayangkan jika dilakukan seperti itu. Meskipun cara makan
merupakan hak pribadi, tapi aa kembali meneguk birnya dengan cepat.
“Seperti
biasa, kamu memang kuat, Senpai,” ucap Ruka-san.
“Berkat itu,
liverku masih berfungsi dengan baik,” jawab Iwamoto-san.
“Apa
keluargamu tidak khawatir kalau kau minum terlalu banyak?”
Dia
memiringkan botol birnya sambil mengatakan ini. Ini yang kedua.
“Angka-angka
kesehatanku terdeteksi tidak normal pada pemeriksaan terakhir. Mungkin karena
kurang tidur, tetapi aku diberi peringatan untuk mulai mengurangi.”
“Iwamoto-san
sangat diperhatikan, ya,” kata Ruka-san yang terus menuangkan bir. Iwamoto-san
meneguk lagi. Rasanya agak menakutkan.
“Yah, tapi...”
Dia
meletakkan gelasnya dan akhirnya melepaskan genggamannya dari gelas.
“Ruka-chan
‘kan masih muda. 'Roppongi Art Festa' adalah acara besar yang menarik
perhatian seniman dari luar negeri. Aku pikir prestasi besar ini luar biasa,
tetapi pada usiamu, menjalani proyek sebesar ini pasti sulit. Orang-orang pasti
akan meremehkanmu jika seorang wanita Jepang muda yang memimpin.”
Kemudian, ia
kembali memegang gelas dan menghabiskan bir yang tersisa.
"Jika
kamu merasa kesulitan, jangan ragu untuk mengandalkan om ini. Hahaha. Aku sudah
terbiasa dengan proyek besar, dan aku akan selalu siap membantu Ruka-chan.”
Ruka-san
melepaskan botol bir yang dia pegang dan menjawab dengan suara tertekan, “Ya.”
Saat itu,
aku menyadari aku mulai kehilangan ketenangan.
Jadi ketika
kata-kata itu terucap, butuh beberapa saat bagiku untuk menyadari bahwa aku
telah mengucapkannya tanpa sadar.
“Akihiro-san
sekarang sudah bukan bawahan Anda lagi, ‘kan?”
Sekejap,
suasana menjadi hening.
Takahashi-san
dan Maeda-san yang sebelumnya berbicara pelan di samping Iwamoto-san, kini
terdiam dengan ekspresi beku. Aku bahkan bisa mendengar suara Ruka-san menahan
napas.
Iwamoto-san
jelas menunjukkan wajah marah.
“Kamu...”
“Aku minta
maaf baru memperkenalkan diri. Namaku Ayase Saki.”
"Kamu karyawan
baru di tempat Ruka-chan? Oh, jadi mungkin kamu tidak tahu. Aku adalah mentornya
Ruka-chan. Aku adalah atasan di perusahaan sebelumnya.”
“Tapi
sekarang dirinya sudah mandiri, jadi seharusnya Anda berdua setara sebagai
desainer.”
Begitu aku
mengucapkan kalimat itu, Iwamoto-san seolah terkejut dan menarik napas
sejenak.
“…………”
Ia
menghembuskan napas dari hidungnya dan membentuk mulutnya menjadi garis.
Meskipun tidak mengucapkan kata-kata, tapi bisa kelihatan jelas kalau suasana
hatinya langsung memburuk.
Ketika
Iwamoto-san hendak mengatakan sesuatu, Takahashi-san segera berdiri dengan
cepat. Ia meletakkan tangannya ringan di bahu Iwamoto-san dan berkata, “Iwamoto-san,
mari kita keluar sebentar.”
Keduanya
kemudian keluar dari ruangan.
Begitu pintu
geser tertutup, ketegangan di ruangan itu langsung menghilang.
...Ah.
Aku telah
melakukan kesalahan besar──…。
Otot-otot
wajahku terasa kaku, dan aku mungkin tampak seperti topeng Noh. Ya, pada saat
itu aku sudah menyadari bahwa aku telah melakukan kesalahan besar.
Di dalam
ruangan hanya tersisa aku, Ruka-san, dan Maeda-san, tiga wanita.
Aku
mendengar suara desahan dan akhirnya terasa seperti belenggu aku terlepas. Aku
perlahan-lahan melihat ke arah Ruka-san.
“Aku
benar-benar minta maaf, sudah membuat suasananya menjadi buruk.”
Ruka-san
menghela napas.
Dia
menggaruk bagian belakang kepalanya, lalu menyandarkan pipinya dengan satu
tangan dan menatapku.
“Kamu
benar-benar melakukan kesalahan, ya?”
“……Ya.”
Ruka-san
mengalihkan pandangannya dariku dan menatap dinding.
Maeda-san
tertawa kecil.
“Tidak
apa-apa, Ruka-san. Ayase-san juga. Tadi itu jelas-jelas kesalahan Iwamoto-san.”
“Aku
membuatmu harus membantuku. Semoga Maeda-chan tidak merasa terganggu.”
“Tidak
apa-apa, tidak apa-apa. Aku juga akhir-akhir ini terlalu banyak bicara tentang
politik. Sudah lama aku tidak melihat sesuatu dengan jelas, jadi rasanya
sedikit menyegarkan.”
Aku berpikir
seberapa baik dirinya karena bisa mengekspresikan bahwa dia tidak keberatan
dengan senyuman dan gerak tubuhnya.
Namun, aku
tidak boleh terlalu mempercayai kata-katanya.
...Eh?
Tunggu, Maeda-chan...? Ruka-san, apa tadi kamu memanggil Maeda-san dengan
imbuhan ‘chan’?
“Ah, aku
juga perlu ke toilet sebentar. Sake yang aku minum sudah mulai terasa.”
Sambil
berbicara dengan nada bercanda, Maeda-san mengusap perutnya dan keluar dari
ruangan.
Begitu pintu
geser tertutup, hanya menyisakan aku dan Ruka-san.
Saat suasana
di depan ruangan benar-benar sepi, aku tidak bisa menahan diri lagi dan membuka
mulut.
“Ehm... maafkan
aku. Aku benar-benar...”
“Kamu
menyesalinya?”
“……Ya.”
“Begitu.
Kalau begitu, aku akan menerima permintaan maaf itu.”
“Eh... tapi,
kamu pasti masih marah, kan...?”
Ruka-san
menghela napas.
“Yah,
mungkin di masa lalu, aku akan mengatakan ini. 'Itu tidak boleh dilakukan.
Mulai sekarang, jangan mengulanginya lagi.'”
“Apa kamu
tidak akan mengatakannya?”
Sebenarnya,
aku sudah yakin akan dikatakan seperti itu.
“Jika kamu
mengatakannya di era Reiwa, kamu akan dicap sebagai atasan yang buruk dan
selesai. Aku yang membawa Saki ke sini. Jadi, aku harus bertanggung jawab atas
tindakanmu. Menghindari risiko adalah tugasku.”
“Itu...”
“Tindakan
yang kamu ambil sangat manusiawi, dan jika itu tidak manusiawi atau tidak etis,
maka tidak ada alasan untuk menghentikannya jika tidak ada yang memberitahukan
sebelumnya. Seharusnya aku sudah memprediksi dan memberi tahu Saki. Dalam
situasi seperti ini, terkadang perlu untuk menahan emosi dan tidak
menampilkannya.”
“Kamu sudah
memprediksi... Yah, mungkin itu benar jika memungkinkan. Apa itu berarti kamu
bisa memprediksi bahwa aku akan marah?”
Karena aku merasa
hal semacam itu mana mungkin bisa dilakukan, aku akhirnya mengatakannya, tetapi
Ruka-san mengangguk dengan tegas.
“Aku bisa.
Maksudku, aku sudah bisa. Saki, kamu membaca ekspresiku saat dia masuk ke
ruangan, kan?”
“Ugh.”
Ruka-san membenamkan
kepalanya di atas meja.
“Sudah
kuduga~. Ah, sialab. Itu tidak bisa diperbaiki. Ini kesalahanku. Seharusnya aku
tersenyum tulus. Jika aku menganggapnya sebagai orang yang aku sukai, kamu
pasti tidak akan membalas sampai sejauh itu.”
“Itu...”
Memang bisa
jadi demikian.
“Kurasa aku
juga meremehkan kemampuan observasimu, Saki.”
“Tidak, aku
yang tidak memikirkan hal itu. Aku minta maaf. Aku akan berusaha agar tidak
mengulangi kesalahan yang sama.”
Setelah
mengatakannya, aku menundukkan kepala. Ruka-san melirik ke arahku sebelum
kembali bersandar pada pipinya.
“Ya.
Baiklah, jika kamu bisa melakukannya, aku akan sangat berterima kasih. Tapi,
itu mungkin mustahil.”
Setelah
mendengar itu, aku merasa seolah-olah jantungku dicengkeram erat-erat.
“Mustahil?”
“Habisnya
kamu, pasti ini bukan yang pertama kali, kan? Pasti ada pengalaman sebelumnya,
bukan? Mengatakan hal seperti itu kepada orang yang lebih tinggi posisinya.”
Aku
terdiam.
Aku memiliki
terlalu banyak pengalaman. Ada Profesor Kudo, ayah kandungku, Ito Fumiya, dan
mungkin Kozono-san juga terlibat. Kozono-san lebih dulu menunjukkan perasaannya
kepada Yuta. Jadi dalam konteks cinta, dia pasti lebih tinggi posisinya. Di
saat perasaanku sendiri dibuat terguncang, aku merasa takjub karena bisa
membalas dengan kalimat “meskipun kedengarannya penuh percaya diri, tapi itu
cuma 'mungkin'.” Sekarang, aku berpikir betapa mengerikannya diriku yang
cepat marah.
“Aku akan
memperbaikinya.”
“Tidak
mungkin. Karakter anak terbentuk sejak usia tiga tahun. Menurut penilaianku,
kamu adalah orang yang sangat tidak suka kalah. Orang seperti itu seharusnya
tidak melelahkan diri dalam negosiasi seperti ini. Meskipun pekerjaan
sekretaris mungkin berguna di masa depan, tujuanmu mungkin bukan di sini.”
Pernyataan
yang tegas itu sangat nyelekit di hari. Mungkin lebih mudah jika aku dimarahi
secara langsung, tetapi Ruka-san bukanlah atasan yang akan membiarkanku
melarikan diri begitu saja.
“Ya, tapi
untuk kejadian kali ini, maafin aku ya. Kesalahan terbesarku adalah
ketidakdewasaanku. Karena ada Maeda-chan, seharusnya aku lebih siap. Aku
seharusnya tidak memberi Saki kesempatan untuk merasa khawatir."
“Karena ada
Maeda-san... eh?”
“Nanti kamu
akan memahaminya. Bukan posisi atau jabatan yang membuatmu ketakutan...”
Saat dia
mengucapkan kalimat yang bermakna itu, pintu geser dibuka lagi. Pertama,
Takahashi-san kembali.
Kemudian,
Maeda-san dan Iwamoto-san masuk. Maeda-san seharusnya di toilet, tapi kenapa
dia bersama Iwamoto-san? Mungkin toilet itu hanya alasan, dan dia pergi untuk
berbicara dengan Iwamoto-san. Tentu saja, aku tidak berpikir untuk memeriksa
hal itu, karena aku tidak ingin mengikuti pepatah “mulutmu harimaumu”.
Iwamoto-san
duduk dengan wajah masam dan tidak berbicara. Makan malam pun berjalan seolah
tidak ada yang terjadi, tetapi setelah itu, Iwamoto-san tidak pernah
mengeluarkan kata-kata keras sampai akhir. Dia tampak menyusut, dan
Takahashi-san melihatnya dengan tatapan penuh simpati.
Hanya
Maeda-san yang tersenyum ceria dan berbicara dengan Ruka-san.
Aku merasa
seperti duduk di atas jarum, jadi mungkin masakan daging kuda yang seharusnya
lezat itu sudah tidak terasa lagi.
Saat aku
merenungkan tindakanku dan terjebak dalam refleksi mental, tiba-tiba aku
menyadari sesuatu.
Ruka-san
memujiku karena bisa membaca ekspresi wajahnya, tapi mungkin pengamatanku yang
disebut tajam itu gagal menemukan orang di ruangan ini yang merupakan
satu-satunya orang yang paling tidak ingin kubuat marah......
Bukannya ada
seseorang yang bisa menyembunyikan emosinya dengan sempurna di balik senyuman
tanpa mengubah ekspresinya?
Ketika makan
malam selesai, waktunya sudah larut malam, dan setelah berpisah, Ruka-san akan
mengantarku dengan taksi menuju Shibuya.
Sambil
menaiki taksi yang melaju di jalan tol, Ruka-san berkata pelan padaku.
“Kamu tahu,
kamu diperbolehkan menghunuskan pedangmu ketika kamu yakin bisa mengalahkan
lawanmu.”
Jika kamu
sudah menghunuskan pedang, itu sama saja dengan menyatakan kalau kamu
menganggap orang lain sebagai musuhmu.
Aku yang
sering dianggap kurang mampu memahami perumpamaan pun bisa memahami hal itu,
dan dengan susah payah aku bereaksi mengangguk.
“Aku merasa
kesal. Karena sepertinya Ruka-san dianggap remeh.”
“Ya.”
“Tapi, mulai
sekarang aku takkan melakukannya lagi.”
Meskipun aku
sudah diberi tahu bahwa itu tidak mungkin, tapi itu masih tidak bisa dijadikan
alasan untuk tidak melakukan apa yang bisa kulakukan. Aku tidak tahu sampai
kapan magang ini akan berlanjut, tetapi selama aku masih diizinkan untuk
melanjutkannya, aku harus berusaha sebaik mungkin.
Lagipula, aku
sendiri yang tertarik dengan pekerjaan ini dan terlibat di dalamnya.
“Tujuannya
bukan untuk menang.”
“Ya.”
“Sebaliknya,
kadang-kadang lebih penting untuk kalah dengan
anggun. Kita jangan
sampai melupakan tujuan kita.”
Kata-kata
Ruka-san membuatku mengangguk lebih dalam pada hari itu.
Lampu
belakang mobil yang melaju di jalur laju cepat
berkelap-kelip, melewati lampu jalan yang
berdiri teratur di tepi jalan. Taksi yang kami tumpangi, mungkin karena
dikemudikan oleh sopir tua, melaju dengan sangat hati-hati dan santai,
sementara aku hanya memperhatikan bagian belakang mobil-mobil yang melaju
melewati kami.
Tiba-tiba,
aku melihat di jalur sebelah, siluet khas mobil
yang seharusnya sudah menyalip dan melewati
kami, terjebak dalam kemacetan.
Setelah
diucapkan selamat malam, taksi itu pergi meninggalkan aku dan Ruka-san dengan
senyuman hangat, menuju ke jalan malam untuk menjemput penumpang
berikutnya.
Setelah
berpisah dengan Ruka-san, aku menatap pemandangan malam Shibuya dan menghela
napas kecil.
Cahaya
dari apartemenku yang seharusnya terlihat di balik malam yang gelap terasa
sangat merindukan.
◇◇◇◇
Pada malam
itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku
bermanja pada Yuuta.
Akhir-akhir
ini, kami berdua sama-sama
sibuk dan jarang menghabiskan waktu berdua seperti pasangan, dan dengan adanya
rasa aman dari hubungan yang terdefinisi, aku tidak merasa perlu memaksakan
diri untuk melakukan sesuatu karena rasa cemas. Namun, malam ini aku ingin
melihat wajah Yuuta dan
merasakan kehangatannya.
Aku ingin
dirinya mengisi kekosongan
di hatiku yang kosong
akibat kegagalan, menghangatkan hatiku yang dingin, dan menenangkanku.
Betapa
lemahnya aku... atau begitulah yang kupikirkan.
Aku
merasa sangat bodoh ketika
mengenang diriku di masa lalu
yang menganggap kalau diriku bisa
berenang sendiri di arus masyarakat sendirian.
Oleh
karena itu, sejujurnya, aku merasa sedikit takut ketika
mengucapkan “aku
ingin dipeluk”.
Aku merasa khawatir jika dirinya melihat kelemahan dan
ketidakberdayaanku, atau jika dia menganggapku hanya meminta dukungan saat aku
lemah, dan jika dia merasakan sedikit saja emosi negatif, hatiku bisa
terguncang parah.
Namun, kekasihku──Yuuta──memelukku
dengan lembut.
Tubuhnya
yang memelukku terasa sedikit dingin, dan
mungkin dirinya juga
memiliki sesuatu yang tidak berjalan baik atau kekhawatiran. Meskipun itu aneh,
aku berharap demikian. Tentu saja, aku tidak ingin dirinya mengalami pengalaman
buruk.
Aku hanya
berharap tidak hanya aku yang didukung, tetapi aku juga bisa mendukungnya.
Baik aku
maupun dirinya.
Betapa
lemahnya... dan bahagianya kami, begitulah pikirku.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
