Selingan
── Sudut Pandang
Takayanagi ──
Setelah
pulang sekolah. Aku menyerahkan urusan klub sepak bola kepada guru lain, dan aku
mengunjungi seorang siswa. Aku yakin dia sedang melakukan kegiatan di ruang
laboratorium sains. Seharusnya aku sudah menghubungi siswa itu lebih
cepat.
Aku mengetuk
pintu. “Silakan masuk”, kata suara dari dalam. Aku masuk. Dia sedang
menyiapkan gelas alkohol.
"Hei,
Endo. Bisa kita bicara sebentar?"
Akhirnya aku
sampai di sini. Ke tempat seorang siswa lain yang harus kuselamatkan.
※※※※
── Sudut Pandang Endo
──
Ketika aku
sedang menyiapkan eksperimen di ruang laboratorium sains, Takayanagi-sensei
datang mengunjungiku.
Kedatangannya
sangat pas sekali. Apa ini ada hubungannya dengan Kondo?
Dalam arti
tertentu, aku sudah melakukan kejahatan. Itulah sebabnya, aku sudah siap
menerima hukuman. Takayanagi-sensei berjuang untuk Aono. Jika aku dihukum, itu
adalah kehormatan bagiku. Jika semuanya terungkap, aku tidak akan memberikan
alasan untuk menyangkal perbuatanku.
“Ya, tidak
masalah. Tapi hari ini hanya aku sendiri, jadi apa di sini baik-baik saja?”
“Ah, tentu
saja.”
Sensei
tersenyum lembut.
“Mungkin sebaiknya
aku menyeduh kopi dengan gelas kimia kali, ya? Karena itu terasa seperti
eksperimen sains.”
Ketika aku
bercanda seperti itu, Sensei ikut tertawa.
“Adegan
seperti itu memang ada di novel ringan, kan? Tapi aku membeli sekaleng kopi
hari ini. Apa kamu mau café au lait?”
Aku merasa
sedikit lega dengan sikap ramahnya.
“Terima
kasih. Memangnya boleh seorang guru mengatakan hal seperti kepada muridnya?”
Saat aku
mengatakan itu, Sensei tertawa.
“Jika kamu
diam, tidak ada yang tahu. Karena urusan Aono, aku akan meminta banyak bantuan
dari Endo. Ini hanya sedikit ucapan terima kasih.”
“Aku ingin
makan yakiniku.”
Saat aku
bercanda sedikit, Sensei kembali tertawa dan berkata, “Jangan mengada-ngada.”
Kemudian, aku
menyadari dari reaksi Sensei bahwa semuanya sudah terungkap. Aku menjadi sangat
peka, jadi aku bisa mengerti dari reaksinya.
“Jadi, apa
yang ingin Sensei bicarakan denganku?”
Aku sudah
siap sekarang. Berkat Imai aku sudah siap. Meskipun aku dihukum di sini, aku
bisa terus melangkah ke depan. Meskipun aku dikeluarkan dari sekolah, aku akan
berusaha belajar, mengikuti ujian kelulusan, dan melanjutkan ke universitas. Di
sinilah aku akan mematahkan kutukan Kondo dan Eri.
“Aku ingin
mengucapkan terima kasih untuk banyak hal. Dan juga meminta maaf.”
Takayanagi-sensei
mengucapkan kata-kata yang tidak terduga.
“Permintaan
maaf? Kenapa?”
“Bukannya
itu sudah jelas. Padahal ada siswa lain yang menderita, tapi aku tidak menyadarinya
sampai sekarang. Endo, aku benar-benar minta maaf. Mungkin aku telah membebanimu.
Seharusnya aku lebih cepat menyadarinya. Aku benar-benar minta maaf. Aku telah
membiarkan mu menangani masalah Kondo dan klub sepak bola sendirian.”
Aku tak
kuasa menahan emosi. Bahkan guru wali kelasku di SMP pun tidak memperlakukanku
dengan ketulusan seperti itu.
“Kenapa...
seberapa banyak yang sudah Anda ketahui, Sensei?”
“Aku baru
menyadarinya belakangan ini bahwa kamu bergerak di belakang layar dalam kasus
ini. Ketika foto-foto Kondo dikirim ke sekolah, aku tahu bahwa pengambil foto
ini memiliki dendam yang kuat terhadap Kondo. Mungkin dia juga berusaha
mengguncang klub sepak bola. Dia berusaha untuk bergerak demi Aono, bahkan
mempertaruhkan hidupnya. Ketika aku menyelidiki siswa yang tidak hadir pada
hari foto diambil, dan yang memiliki hubungan dengan Aono dan Kondo, nama kamu
muncul. Karena ada masalah latar belakang juga. Mungkin kamu mempertimbangkan
kemungkinan untuk terungkap. Dalam kasus terburuk, kamu berusaha mengejar Kondo
bahkan dengan mengorbankan dirimu sendiri.”
Kupikir itu
luar biasa. Rencanaku adalah agar Kondo atau klub sepak bola menyelidikiku dan
datang untuk membalas dendam. Aku akan memicu insiden kekerasan dan memaksa
mereka ke dalam situasi di mana mereka tidak bisa memberikan alasan. Itu adalah strategi yang berisiko.
Dengan ambisi besar Kondo, dirinya
pasti akan memikirkan balas dendam.
Ketika rencanaku hampir mencapai tahap akhir, sekolah
akhirnya mengambil tindakan terhadap Kondo dan yang lainnya. Kecepatan ini
cukup mengejutkan.
“Rencanamu berjalan dengan baik.
Sebenarnya, pada hari Minggu, beberapa anggota klub sepak bola mengaku kepada
pihak sekolah. Bersama dengan beberapa file suara dan riwayat pesan di media
sosial. Karena Endo bergerak dan mengguncang klub sepak bola, sekolah bisa
mengambil tindakan secepat ini terhadap klub sepak bola. Terima kasih telah
bergerak demi Aono.”
“Tidak.
Aku tidak melakukan ini untuk Aono. Aku bergerak hanya untuk diriku sendiri...
itu saja.”
“Jangan
merendahkan diri seperti itu. Jika kamu bergerak hanya karena dendam pribadi
terhadap Kondo, kamu seharusnya bisa bergerak lebih cepat. Namun, kamu bergerak
demi Aono juga, bukan?
Itulah sebabnya, pada saat ini, kamu bahkan berusaha mengorbankan dirimu
sendiri. Apa aku salah?
Alasanmu itu hanya untuk tidak membuat Aono merasa berutang budi padamu.”
“……”
Aku
merasa tak berdaya di hadapan guru yang berusaha mendekat kepadaku. Aku ingin
berbicara lebih baik dan lebih cepat. Jika aku bertemu Takayanagi-sensei saat SMP, mungkin kehidupanku akan berbeda.
“Jadi,
jangan bergerak lebih jauh lagi. Mundurlah, Endo. Percayalah pada orang dewasa.
Aku tahu itu tidak dapat diandalkan. Namun, kamu tidak perlu menanggung
semuanya sendirian sampai mengorbankan masa depanmu. Kamu sudah berusaha keras
sampai sekarang.”
Aku
benar-benar berpikir bahwa guru ini... adalah orang yang luar biasa.
“Terima
kasih. Aku ingin menyerahkan materi yang telah aku kumpulkan kepada Anda, Sensei. Aku siap menerima sanksi
apapun.”
Dengan begini, beban di pundakku terasa lebih lega. Selanjutnya, aku akan
menyerahkannya kepada guru.
“Itu
sangat membantu. Tapi, sanksi apa yang kamu maksud?”
“Eh,
karena...”
“Memang
benar bahwa bolos bukanlah hal yang bisa
dipuji... tetapi tentang foto itu, itu hanya kesalahan yang tidak disengaja.
Kebetulan saja itu jatuh di
depan ruang klub sepak bola. Mana
mungkin aku memberikan sanksi kepada siswa
yang hanya menjatuhkan barang.”
Mendengar
kata-kata itu, emosiku seketika meledak.
Aku mencoba tenang dengan minum café au lait yang manis dan pahit.
Aku
melihat berita online tentang kehancuran Kondo dan yang lainnya. Nama asli
mereka belum diberitakan, tapi
itu hanya masalah waktu. Dengan ini, dalam arti tertentu, balas dendamku
benar-benar selesai.
Jika
masalah ini menyebar, ayah Kondo pasti akan hancur. Dirinya mungkin akan mengundurkan diri
dari pekerjaan sebagai anggota dewan kota, dan bisnis konstruksinya juga akan
hancur. Perusahaan Kondo tampaknya memanfaatkan posisinya untuk menarik
pekerjaan dari kota dan provinsi. Itu adalah tradisi dari generasi sebelumnya.
Jika itu hancur, sumber penghidupan mereka akan runtuh.
Karena
insiden ini, keluarga Kondo kemungkinan besar akan menghadapi
tuntutan ganti rugi terkait masalah perundungan
dan kekerasan, dan bisnis utama mereka akan mengalami kerugian besar yang
mengarah pada penutupan.
Apa itu
berarti balas dendamku... akhirnya... akan berakhir?
Aku telah
memikirkan ini selama bertahun-tahun, namun hari itu akhirnya tiba, tetapi hatiku masih belum bisa menemukan
kedamaian.
Karena
kehormatan Aono-kun belum
dipulihkan. Ia adalah
teman yang pertama kali mengulurkan tangan saat aku tenggelam dalam
keputusasaan, selain Yumi. Sekarang aku menyadari, dia benar-benar adalah teman
yang sangat berarti. Jika kehormatan Aono tidak dipulihkan, balas dendam yang
sebenarnya tidak akan berakhir.
Dengan
perasaan yang rumit, aku
menatap langit-langit, dan ponselku berbunyi. Itu adalah pesan di Line. Aku
pikir itu dari teman SMA, dan ketika aku memeriksa, nama yang familiar
muncul.
Doumoto
Yumi: 'Selamat malam. Maaf tiba-tiba. Bisakah kamu meluangkan waktu besok sore?
Masih ada banyak hal yang ingin kubicarakan. Waktu singkat
sebelumnya tidak cukup!'
Mungkin lain
kali aku harus mentraktir Imai ramen. Rasanya wajar saja. Selama
beberapa tahun ini, aku terperangkap dalam perasaan
gelap dan dendam terhadap Kondo terus berulang tanpa henti. Sekarang, saat perasaan itu mulai memudar, aku ingin
bertemu teman lama dari SMP.
Aku
segera membalas.
'Di mana
kita akan bertemu?'
Aku
terkejut karena pertemuan sudah menjadi asumsi.
Takayanagi-sensei pernah berkata saat pulang.
“Kurasa
sudah saatnya kamu memaafkan dirimu sendiri. Kamu sudah berusaha keras, Endo.
Menjadi bahagia juga bisa dianggap sebagai balas dendam terhadap Kondo dan yang
lainnya. Kamu berhak untuk bahagia sampai mereka merasa iri, dan itu adalah
kewajiban.”
Selama
ini, aku tidak pernah berpikir bahwa aku memiliki hak untuk itu.
Aku telah
merepotkan orang tuaku. Aku juga telah mengecewakan mereka dengan tidak lulus
SMA tepat waktu. Hubunganku dengan
teman-teman hampir terputus. Bahkan tentang Eri, jika aku lebih tegas, mungkin
masa depan yang berbeda bisa terjadi. Aku selalu berpikir bahwa aku adalah
orang yang paling tidak berharga.
Namun, aku
menyadari bahwa pemikiran itu sendiri telah menyakiti diriku dan orang-orang di
sekitarku. Imai dan Takayanagi-sensei
mengatakan agar aku memaafkan diriku
sendiri. Mungkin aku bisa melangkah maju. Oleh karena itu, aku akhirnya bisa
menghadapi Yumi, yang sudah kutolak dan kusakiti begitu lama.
Aku ingin
membalas kebaikannya. Mungkin sudah terlambat. Jika demikian, itu tidak bisa
dihindari. Aku hanya bisa meminta maaf. Namun, setidaknya aku ingin meminta
maaf dengan sungguh-sungguh. Aku harus menyampaikan betapa berartinya tangan
yang mengulurkan bantuan pada hari itu.
'Kalau
begitu, besok sore di depan stasiun. Ada kafe yang ingin aku kunjungi, apa kamu mau menemaniku?'
Aku
segera membalas pesannya.
'Aku
menantikannya.'
※※※※
── Sudut Pandang
Takayanagi ──
Setelah
selesai berbicara dengan Endo, aku harus melakukan ringkasan hari ini di ruang
guru. Banyak guru yang bekerja sama
untuk memeriksa keadaan, sehingga juga menjadi laporan tentang situasi
masing-masing.
Aku yang
pertama kali membuka pembicaraan.
“Pertama-tama,
mengenai klub sepak bola, Aida dan
Shimokawa mengaku bahwa mereka yang melakukan pelecehan dengan menggambar
grafiti di meja Aono. Ketika aku menunjukkan riwayat pesan di media sosial dan
rekaman suara yang diperoleh dari siswa kelas satu
klub sepak bola, mereka mungkin merasa tidak bisa melarikan diri. Mereka juga
mengakui terlibat dalam penyebaran informasi palsu dan mulai mengakui adanya
kolaborator di luar klub sepak bola.”
Pada
awalnya, keduanya dengan kuat
menolak, tapi data yang bocor dari dalam menjadi kunci. Menurut kepala akademis, Iwai-sensei, ketika dia
menunjukkan salinan itu, wajah mereka langsung pucat dan mereka tampak ketakutan.
Orang
yang sudah menyerah dan merasa tidak bisa melarikan diri mulai bercerita
seperti radio yang rusak.
“Seperti
yang diduga, dalang
dari semua ini adalah Kondo. Shimokawa dan Aida mengikuti kata-kata senior yang
mereka hormati. Sepertinya mereka juga diprovokasi oleh kapten klub sepak bola
dan terjerumus ke dalam tindakan kriminal.”
Setelah aku selesai menjelaskan, wakil
kepala sekolah melanjutkan dengan informasi terbaru tentang Kondo.
“Selain
itu, Kondo juga dituduh melakukan kekerasan dengan memukul Aono Eiji, korban perundungan, secara langsung di luar
sekolah, dan ia melawan polisi yang datang untuk menanyainya serta melemparkan
barang, sehingga ia ditangkap atas pelanggaran hukum. Kami baru saja menerima kontak resmi dari
kepolisian.”
Ada
untungnya bahwa Kondo, sebagai sumber dari semua masalah,
sekarang tidak bisa bergerak. Ini dapat membantu membatasi penyebaran kekacauan
lebih lanjut.
Mitsui-sensei
melanjutkan.
“Perihal
rumor buruk tentang Aono-kun, siswi kelas dua Amada Miyuki telah mengakui keterlibatannya. Dia
yang menjalin hubungan berpacaran dengan
Aono-kun, ternyata berselingkuh dengan
Kondo, dan tampaknya mengikuti kata-kata manis Kondo demi melindungi dirinya
sendiri. Sepertinya dia tidak bisa menghentikan Kondo dari berpura-pura
mengalami kekerasan. Dia tidak menyangka rumor tersebut
akan menyebar luas, tetapi
ketika masalah tersebut semakin membesar, dia
menjadi ketakutan dan tidak bisa membantah.”
Ada banyak
guru menghela napas ketika dilaporkan bahwa Amada, seorang siswi teladan, telah
menyimpang dari jalan yang benar. Jika saja dia berbicara dengan jujur sebelum hal ini menjadi besar...
ada penyesalan di dalamnya. Namun, dia telah memilih jalan yang berbeda. Sanksi
tampaknya tidak bisa dihindari.
“Dan
ini informasi yang belum dikonfirmasi,
tapi karena Amada-san
menyebutkan hal ini, aku ingin melaporkannya kepada kalian semua. Kebenarannya
belum diketahui, tetapi kita harus berbagi informasi ini di seluruh sekolah. Kelihatannya Aono-kun berusaha bunuh diri karena syok atas masalah perselingkuhan dan
penyebaran informasi palsu.”
Mendengar
laporan itu, ekspresi para guru seketika berubah.
Aono berusaha bunuh diri. Jika ia hanya menyembunyikannya, mungkin dia masih
menderita sampai sekarang, dan perasaan itu membuat dadaku terasa sesak.
Guru
olahraga, Kumada-sensei, tampaknya juga tidak bisa menahan kata-katanya.
“Apa jangan-jangan itu hari ketika ia membolos dengan berlari? Aku,
tanpa mengetahui situasinya, berteriak pada Aono yang berusaha keluar dari
sekolah. Seandainya aku bisa mendengarkan sedikit lebih banyak tentang
situasinya... sial.”
Kumada-sensei
terkenal dengan bimbingan yang ketat, tetapi di saat-saat seperti ini, sifat
baiknya muncul. Tubuh besarnya bergetar dan dirinya
menunjukkan penyesalan.
Tidak,
seharusnya aku, sebagai wali kelas, yang lebih bertanggung jawab. Aku
seharusnya bisa menyadarinya lebih cepat. Aku seharusnya tidak menyerahkan
semuanya kepada wakil kepala sekolah dan Mitsui-sensei, tetapi mencari Aono
sendiri. Hanya penyesalan yang terus teringat.
“Setelah
masalah ini muncul, aku telah mengamati Aono-kun
selama sekitar seminggu, dan aku rasa dampak psikologis pada hari pertama masuk
semester dua sangat besar. Setelah hari kedua, dirinya
terlihat cukup stabil, tetapi mungkin ia hanya
berusaha tegar, dan kurasa kita harus tetap sangat berhati-hati.”
Ketika
para guru terlihat muram, kepala sekolah mulai
angkat bicara.
“Terima
kasih atas laporannya. Kurasa kita
perlu terus mendampingi Aono-kun
sebagai korban dengan baik. Ini adalah hal yang penting. Aku sudah menghubungi orang tuanya. Konselor sekolah juga akan
segera datang ke sini, jadi kita akan berkoordinasi dengan baik.”
Kepala
sekolah benar-benar bergerak ketika saat-saat penting seperti ini. Aku sangat
berterima kasih padanya.
“Selain
itu, mulai besok, media yang mendengar keributan ini mungkin juga akan mulai
bergerak. Namun, sanksi bagi siswa yang terlibat dalam masalah ini dan
terjerumus dalam tindakan kriminal harus diterapkan dengan ketat. Melindungi
Aono-kun dan siswa lainnya adalah
tanggung jawab kita. Apa pun tekanan yang datang dari luar, kebijakan ini tidak
akan berubah. Seperti yang dilaporkan oleh Mitsui-sensei sebelumnya, mungkin
akan ada hal-hal sulit yang terungkap di masa depan. Aku harap semuanya dapat
berbagi informasi ini dengan baik. Aku akan bertanggung
jawab penuh, jadi kuharap para guru dapat
bekerja dengan tenang dan fokus pada pekerjaan
kalian masing-masing. Demikian.”
Kepala
sekolah mengumumkan dengan tegas seolah-olah telah mengambil keputusan. Masalah perundungan ini akhirnya memasuki tahap
kritis.
※※※※
──Sudut Pandang Amada Miyuki──
Aku
kembali ke kelas setelah beristirahat sejenak
di ruang UKS. Guru
mengatakan bahwa aku harus menjalani hukuman di rumah sampai keputusan sanksi
ditentukan. Sanksi yang berat mungkin akan diberikan.
Dengan
perasaan putus asa, aku masuk ke dalam ruang kelas
dan dipanggil oleh temanku, Murata Ritsu.
“Nee,
Miyuki. Apa kamu menyembunyikan sesuatu dari kami? Tadi, Kondo-senpai dibawa
pergi oleh polisi di gerbang sekolah. Hei, Miyuki. Bukannya ini aneh? Maksudku, katanya kamu
dipukuli oleh Aono-kun, dan yang menolongmu adalah Kondo-senpai, bukan?”
Ritsu
terlihat sedikit panik.
Siswa
lainnya juga melihat ke arah kami.
Seolah-olah
mereka sedang melihat seorang penjahat. Apa yang kami lakukan kepada Eiji kini
kembali dirasakan kami. Aku merasa ingin menangis
dan sedikit gemetar.
Apa Eiji menanggung begitu banyak permusuhan ini? Aku
tidak tahu bahwa itu begitu menakutkan...
“Maafkan
aku.”
Hanya itu
yang bisa kuucapkan dengan susah payah.
“Kenapa
kamu malah meminta maaf? Hei, Miyuki? Jadi kamu berbohong kepada kami?
Karena kamu selalu baik dan nilaimu bagus, kami mempercayaimu. Kami juga bisa
mendapatkan sanksi, loh?”
Usai mendengar
kata-kata dingin itu, aku menyadari betapa beratnya dosa yang kutanggung. Aku
tahu ini merupakan sesuatu
yang tidak bisa diperbaiki. Namun, aku benar-benar tidak memahami betapa
beratnya hal ini.
“Maafkan
aku. Aku sudah mengkhianati
Eiji. Aku takut jika orang-orang mengetahuinya,
jadi aku berbohong kepada semua orang.”
Yang bisa
kulakukan hanyalah
meminta maaf. Aku
bahkan tidak tahu bagaimana cara menebusnya. Suasana
putus asa dan dingin menyebar di dalam kelas.
Aku meninggalkan sekolah seolah-olah seperti sedang melarikan diri.
Seharusnya aku menikmati obrolan setelah sekolah, tetapi teman-temanku sudah tidak ada lagi. Wajar saja. Akibat
kebohonganku, aku telah memberikan dampak yang lebih dari sekadar merepotkan
kepada semua orang.
Sejak
tadi, notifikasi di media sosialku
tidak berhenti berbunyi. Ketika aku dengan hati-hati memeriksanya, ada akun anonim yang menuliskan kata-kata
makian.
'Dasar perempuan pembohong'
'Perempuan
selingkuh hina
yang membuang teman masa kecil demi melindungi dirinya sendiri'
'Dasar pelacur'
Kata-kata
semacam itu tertulis di sana. Itu wajar saja. Karena
semuanya itu kebenaran.
Aku telah
menceritakan segalanya kepada Mitsui-sensei. Bagaimana aku bisa mengenal
Kondo-senpai, bagaimana insiden kekerasan itu terjadi, dan mengapa aku terlibat
dalam konspirasi seperti itu. Percakapan apa yang
kubicarakan dengannya. Dan juga
tentang bagaimana aku dan Kondo-senpai
ditangkap oleh polisi.
Aku juga
memberitahunya bahwa akulah penyebab Eiji
berusaha bunuh diri.
Aku menyampaikan
semuanya dengan jelas. Seharusnya aku
mengatakannya pada hari pertama perundungan
terjadi, tetapi aku tidak bisa melakukannya. Aku benar-benar merasa seperti
orang terburuk.
Membayangkan
Eiji yang tidak bersalah harus melewati waktu yang begitu menyakitkan membuatku
merasa sangat bersalah dan ingin menangis. Ini semua terjadi karena ulahku
sendiri, jadi tidak ada yang bisa dilakukan. Namun, dirinya menjadi korban fitnah, dan
semua orang di sekitarnya menjadi musuh. Ke
mana pun aku pergi, aku merasa dikelilingi oleh permusuhan dan ejekan.
Seolah-olah aku hidup di dalam neraka.
Aku telah menjatuhkannya ke
tempat seperti itu.
Minta
maaf pun tidak akan membuatku
dimaafkan.
Aku benar-benar
memahami hal itu ketika berada di lingkungan yang sama.
Pada hari
itu, aku telah melontarkan kata-kata kasar kepada Eiji. Dirinya yang selalu baik dan memikirkanku
terlebih dahulu, aku sebut sebagai penguntit yang melakukan kekerasan. Hanya mengingat
itu saja sudah membuatku merasa sangat sedih hingga ingin mati.
Waktu
itu aku berada dalam kondisi mental yang aneh.
Seharusnya
aku mempertimbangkan antara kenangan berharga yang dibangun selama waktu yang
lama bersama Eiji dibandingkan dengan
kebanggaan kecilku. Sekarang aku tahu mana yang seharusnya dipilih. Eiji itu
baik. Karena itulah, ia
mengatakan bahwa dirinya tidak
ingin merusak kenangan berharga yang kami bangun sebagai teman masa kecil,
meskipun aku telah mengucapkan hal yang sangat kejam
padanya.
Aku benar-benar
merasa inferior dalam segala hal.
Kepribadian
dan pengaruh dari orang-orang di sekitar... aku yang hanya tampak sebagai siswa
teladan sangat berbeda dari yang sebenarnya. Ketika diperlukan, orang-orang di
sekitar berusaha keras untuk membantu Eiji. Aku tidak meminta bantuan kepada
siapa pun dan tidak berusaha menjadi bantuan bagi Eiji, sehingga sekarang tidak
ada lagi yang menjadi sekutu.
“Karena Eiji
selalu bergerak untuk orang lain, kurasa
wajar saja dirinya mendapat bantuan dari orang-orang di sekitarnya.”
Ia
adalah teman pertama yang kukenal ketika kami pindah ke kota ini. Ayah kami
pergi meninggalkan kami. Ibuku
memilih kota ini sebagai tempat baru karena lebih mudah untuk membesarkan anak.
Eiji adalah orang yang pertama kali menyadarkanku akan kesenangan dunia luar
ketika aku selalu menangis.
Wajar saja jika dirinya mendapatkan balasan karena ia selalu
berusaha keras untuk orang lain. Kupikir aku terlalu memaksakan diri untuk mengisi kekosongan di hati yang
tidak bisa diisi. Eiji itu orang yang
baik, jadi ia begitu
menghargaiku.
Aku
terlalu terburu-buru.
Masa
depan yang seharusnya mungkin terjadi
dan kenangan berharga yang telah dibangun. Sambil menyadari bahwa kedua ilusi
ini berubah menjadi beban abadi seumur
hidupku, aku memulai perjalanan pulang setelah kehilangan
segalanya. Satu-satunya yang tersisa hanyalah
penyesalan yang mendalam.
※※※※
──Kantor
Polisi──
“Doumoto-san. Apa yang harus kita
lakukan dengan barang-barang milik
siswa SMA yang bernama Kondo
tadi? Apa ini bisa dianggap sebagai bukti? Karena ada juga kasus kekerasan.”
Seorang
bawahan mengajukan pertanyaan.
“Kalau
begitu, tolong kirimkan pada bagian Inafis untuk
dianalisis. Jika mereka tahu polisi sedang bergerak, mungkin seseorang akan
menghapus riwayat pesan mereka.
Sebenarnya ada untungnya juga ponselnya tidak
berfungsi. Jika kita bisa mengambil data, mungkin kita bisa mendapatkan data
sebelum disembunyikan.”
※※※※
──Saluran
Streaming Video Suatu Stasiun Televisi──
“Berita
khusus berikutnya. Kami telah mendapatkan rekaman
audio seorang anggota dewan kota yang mengancam sekolah
tempat anak-anak yang terlibat dalam tindakan kekerasan dan keluarga korban
untuk menyembunyikan tindakan perilaku kekerasan
tersebut. Anggota dewan tersebut
tampaknya telah memberikan tekanan yang luas untuk menutupi tindakan kriminal
anaknya. Suara ini mengandung pernyataan yang ekstrem. Harap diperhatikan.
Selain itu, demi perlindungan data pribadi, beberapa bagian suara telah
diproses. Silakan dengarkan.”
(Keterangan: Suara
yang diduga berasal dari anggota dewan kota)
『Putraku
berada dalam masa penting menjelang masuk universitas. Kami juga
mempertimbangkan rekomendasi olahraga, dan universitas yang bersangkutan
memberikan tanggapan yang baik. Ini hanya
sekadar pertengkaran anak-anak. Menurutku
lebih baik kita menghindari kerugian besar di kedua belah pihak karena hal
sepele ini... Bisakah kita menyelesaikannya dengan damai? Jika masalah ini
menjadi publik, penilaian terhadap para guru dan jumlah peserta ujian di masa
depan akan memburuk. ...××-sensei, anggaplah ini sebagai urusan bisnis. Jika
kalian tetap diam, aku akan memberikan kemudahan di masa depan. Atau, apa
kalian ingin menjadikanku
musuh dan terus-menerus merasakan kesulitan? 』
(Keterangan: Suara
yang diduga berasal dari staf pengajar)
『Hanya
sekadar pertengkaran anak-anak!? Malu, kamu
seharusnya merasa malu! Karena perbuatan anakmu,
masa depan seorang siswa SMA hampir hancur! 』
(Keterangan: Suara
yang diduga berasal dari anggota dewan kota (kepada keluarga korban))
『××-san. Aku
adalah anggota dewan dan menjalankan bisnis ××. Jika memungkinkan, aku ingin
menyelesaikan ini dengan damai. Aku hanya
sedang berbicara pada diriku sendiri. Restoran ini adalah tempat berharga yang
ditinggalkan oleh mendiang suami
Anda, bukan? Jadi, sebaiknya jangan
membuat ini menjadi masalah besar. Jika aku serius, aku bisa melakukan apa pun
terhadap restoran
ini. 』
Setelah
video terputus, pembawa acara menghela napas.
“Sungguh
mengerikan. Apa masih ada anggota dewan kota yang salah paham seperti ini di
zaman sekarang? Sangat mengejutkan. Sebelumnya, ada berita
mengenai sepasang anak SMA di kota
yang sama yang berusaha menyelamatkan nyawa. ...Maaf, aku tidak bisa menahan
diri sebagai orang tua yang memiliki anak yang sama, jadi kata-kata aku menjadi
keras. Rincian lebih lanjut tentang berita ini akan dibahas secara mendalam
dalam program berita pagi besok.”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya