Chapter 2 — Setelah Itu
──11
September・Sudut Pandang (Ayah) Kondo──
Aku
masih tidak bisa tidur meskipun tanggal sudah
berganti, aku segera menyadari pesan dari sekretarisku
yang meminta untuk melihat berita online. Di sana, tindanan dan ucapanku pada siang hari telah direkam dan
disiarkan ke seluruh dunia. Mungkin, ada kelompok
tertentu di internet yang sudah
melacak identitasku. Dan, dengan ancaman Ichisou Ai,
tidak ada lagi yang bisa kulakukan. Jika dia menjadi musuhku, aku akan
menghadapi lebih banyak musuh daripada media.
Apapun
jalan yang kutempuh, aku menuju kehancuran. Tak ada cara untuk melarikan diri
dari takdir kehancuran ini.
“Tidak,
tidak, tidak, tidak, tidak, tidak, tidaaaakkkkkkkkkkk!”
Jeritan
menggema di rumah yang luas ini. Hanya
tinggal masalah waktu saja
sebelum aku harus melepaskan rumah ini. Realitas yang keras mulai mengancamku.
Ponselku
berbunyi.
“Apa benar ini nomor telepon Kondo-san? Maaf mengganggu di malam hari. Aku
Nanami dari Koran Harian Nikkan...”
Bagaimana
dia bisa mendapatkan nomor ini? Aku
mematikan telepon dengan ketakutan.
Segera, telepon dari nomor lain masuk.
“Tamat
sudah... riwayatku.”
Aku
mematikan daya ponsel. Namun, kali ini giliran telepon
rumahku yang berbunyi. Aku mencabut kabel
daya. Untuk melarikan diri dari kenyataan yang kejam.
Melarikan
diri dari kenyataan. Aku mulai menyadari bahwa tindakan ini hanya berarti itu.
“Tolong
hentikan! Tidak, tidak,
tidakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk!”
Malam
tanpa tidur pun terus
berlanjut.
※※※※
Pagi pun akhirnya tiba. Aku menunggu matahari terbit tanpa bisa tidur sama sekali. Tidak
ada yang bisa kulakukan lagi. Yang tersisa hanyanya keputusasaan.
Ketika
pagi tiba, para awak media mungkin
akan menyerbu kediamanku. Aku
harus segera melarikan diri, tetapi rasa putus asa membuatku bahkan tidak bisa
bergerak.
Aku
menerima email dari pengacara.
“Dengarkan
baik-baik, Kondo-san. Jangan mengatakan hal-hal yang tidak perlu.
Jika ditanya sesuatu, katakan saja bahwa saat ini sedang dalam penyelidikan,
jadi kamu tidak
bisa menjawab.”
Melihat
isi pesan itu, rasa takutku semakin meningkat. Aku benar-benar menyadari bahwa
aku telah menjadi musuh masyarakat. Aku tidak mau lagi. Satu-satunya jalan adalah
melarikan diri dari sini. Satu langkah salah, dan aku akan ditangkap dan masuk
penjara. Bagaimana jika perusahaanku tidak memiliki kontrak dengan kota...
bahkan hanya memikirkan itu saja
sudah menakutkan.
Jika itu yang terjadi, aku akan kehilangan
segalanya. Kehormatan, pekerjaan, uang, keluarga... semuanya akan lenyap.
Diiringi ketakutan yang mulai memuncak, aku berhasil bangkit dari
tempat tidur. Aku merasa harus bergerak, jadi aku keluar untuk membuka garasi.
Sementara itu, aku hanya bisa melarikan diri ke hotel dan bersembunyi.
Akhirnya,
aku memantapkan tekad. Aku bisa melihat ada beberapa
orang dari media yang sudah menunggu
kemunculanku.
Darahku seketika membeku.
“Anggot
Dewan Kondo. Tolong beri pernyataan Anda. Apa itu benar kalau rekaman suara
itu milik Anda?”
“Bagaimana
pendapat Anda tentang tanggung jawab Anda?”
“Apa
benar bahwa putra Anda ditangkap polisi?”
Aku
mencoba melarikan diri dengan cepat, tapi aku justru
segera dikepung.
“Jangan
coba-coba melarikan diri. Anda memiliki tanggung jawab
untuk menjelaskan kepada para pendukung Anda!”
“Jika ingin
melarikan diri berarti Anda mengakuinya?”
“Jika
ada rekaman suara, mana mungkin
Anda bisa mengklaim bahwa itu semua dilakukan oleh sekretaris tanpa seizin
Anda!”
Ketakutan
membuatku kesulitan berbicara. Aku berusaha keras untuk mengeluarkan kata-kata.
“Untuk
saat ini, kasus putraku sedang dalam penyelidikan, dan pengacara telah
melarangku untuk berbicara. Maafkan atas keributan ini.”
Namun, perkataan semacam
itu tidak akan membuat mereka memaafkanku. Pertanyaan para awak media secara bertubi-tubi menghantamku.
“Jadi,
bagaimana pendapat Anda tentang dugaan ancaman yang Anda hadapi?”
“Seorang
anggota dewan kota mengancam warga sipil,
ini belum pernah terjadi sebelumnya, bukan?”
“Mengenai
pengunduran diri dan sebagainya..."
Isi kepalaku
sudah panik, dan akhirnya kata-kata aneh pun keluar.
“Terkait
pernyataan itu, aku hanya bercanda dan... aku mohon maaf jika itu membuat pihak
lain salah paham. Namun, aku terpilih sebagai anggota dewan dengan dukungan
masyarakat. Aku ingin memenuhi tanggung jawab itu melalui tugas-tugasku......”
Aku
menyadari bahwa aku telah
membuat kesalahan bahkan saat aku berbicara. Aku langsung menyadari jika aku sedang menyiramkan minyak ke
atas api.
“Jadi,
Anda menolak untuk mengundurkan diri?”
“Menyebut
ancaman itu sebagai bercanda, bukannya itu terlalu berlebihan?”
“Apa
Anda benar-benar berpikir warga akan menerima pernyataan Anda?”
Aku tidak
bisa melakukan apa-apa lagi. Jadi aku
mencoba meninggalkan tempat itu dengan cepat.
“Jangan
lari!”
Kemarahan
meledak dan tanpa sadar aku berteriak.
“Diam!”
Mungkin merasa terintimidasi usai mendengar
kata-kataku, para
jurnalis itu berhenti sejenak. Aku mengeluarkan mobil kesayanganku dari garasi dan melarikan
diri tanpa tujuan dari tempat itu.
Apa yang
akan terjadi padaku?
Aku
menghentikan mobil di tepi jalan dan memeriksa ponselku, ada pesan yang masuk. Rupanya itu dari cabang partai tempatku
bergabung. Mereka
memintaku untuk menemui mereka di kantor cabang.
Meskipun disampaikan dengan sopan, nada marah
tersampaikan dalam pesan itu.
Aku
melaju kencang dengan ketakutan akan kehancuran sendiri. Bagaimana caranya untuk
menyelesaikan ini? Apa tidak ada cara untuk menghindari jalan kehancuran ini? Aku merasa sangat menyedihkan saat melarikan diri sambil menangis.
※※※※
“Akan
tetapi, kita berhasil mendapat foto yang bagus. Mau dilihat bagaimanapun juga, ia
terlihat seperti penjahat kecil yang penakut."
“Bener banget! Berita
pagi bakalan dipenuhi dengan topik ini.”
“Alasan
yang ia katakan tadi,
meskipun tidak ada persiapan, reaksinya hanya sesuai yang kita inginkan.”
“Baiklah,
sekarang kita akan melaporkan ini secara besar-besaran dan memanggilnya untuk
konferensi pers permintaan maaf!”
Dengan
berita besar yang langka, para pihak yang terlibat bersatu melampaui
kepentingan mereka sendiri. Antuasiasme mereka sudah
tidak bisa dihentikan oleh siapa pun.
※※※※
Entah
bagaimana aku berhasil menghidupkan mobil, dan langsung menuju kantor cabang
partai, di mana aku segera diantar ke kantor ketua cabang seolah-olah aku
sedang ditahan.
Para staf
menatapku dengan tatapan tegang. Suasana berat menyelimuti ruangan. Para staf
menatapku dengan mata dingin, seolah-olah melihat seorang penjahat. Aku bisa merasakan bahwa ada tragedi yang akan dimulai.
Ketua
cabang kami merupakan seorang
anggota parlemen. Seseorang yang sangat sibuk dan hampir tidak pernah bisa
ditemui, memanggilku di pagi-pagi buta seperti ini rasanya hampir mirip seperti vonis hukuman mati.
Sekretaris
membuka pintu, dan ketua cabang masuk. Tanpa sadar, aku berdiri dan menundukkan
kepala.
“Maafkan aku atas ketidaknyamanan yang telah
ditimbulkan."
Aku
terus-menerus menundukkan kepala. Hanya ada harapan manis bahwa mungkin mereka
akan memaafkanku.
Keheningan yang berat menyelimuti seisi ruangan.
“Kamu
tahu apa yang telah kamu lakukan?”
Kata-kata
itu menghancurkan harapan manisku menjadi berkeping-keping.
“Aku
benar-benar minta maaf.”
Aku
menundukkan kepala seolah-olah akan melakukan sujud. Ketua cabang lalu menyalakan televisi.
Di sana, ada suara rekamanku yang mengeluarkan teriakan marah. Kata-kata kasar yang aku
lontarkan terhadap kepala sekolah dan keluarganya diputar berulang kali. Selain
itu, ada juga tayangan saat aku berhadapan dengan media tadi.
Teks di
layar bertuliskan, “Anggota
dewan kontroversial yang membuat ancaman menolak untuk mengundurkan diri,” “Anggota
dewan yang berbicara kasar, mengancam reporter untuk diam,” “Suara
kritik datang dari seluruh negeri. Telepon keluhan membanjiri kota.”
“Sepertinya
itu sepenuhnya kesalahanku karena menyarankanmu
untuk mencalonkan diri sebagai walikota. Tahun ini ada pemilihan lokal terpadu. Kami juga sulit untuk
membelamu. Kamu mengerti, ‘kan?
Selain itu, kami juga menerima protes dari mantan walikota Minami dan anggota
dewan Yamada. Apa yang akan kamu lakukan? Mereka adalah tokoh-tokoh terkemuka
di daerah ini. Berhadapan
dengan mereka adalah tindakan bunuh diri bagi kami.”
Kenyataan
yang kejam terus-menerus dihadapkan padaku. Tubuhku
tidak bisa berhenti gemetar.
Aku sudah mengumpulkan banyak uang demi pemilihan. Aku sudah menghabiskan
uang untuk persiapan. Semuanya itu justru
akan sia-sia. Bagi diriku
yang hampir kehilangan pekerjaannya, keputusasaanku
semakin dalam.
“Aku benar-benar...”
Aku
mencoba mengucapkan kata-kata permintaan maaf yang entah sudah berapa kali,
tetapi itu terhenti.
“Ini
bukan lagi perihal di mana kamu harus meminta maaf padaku. Masalah ini
juga menjadi perhatian pusat. Minami-san
dan anggota dewan provinsi Yamada
juga meminta agar kamu memberikan penjelasan secara resmi. Kamu sudah
diperkirakan akan dipecat karena tindakanmu. Sebelum itu, adakan konferensi
pers, minta maaf dengan tulus, dan akui kesalahanmu. Jika tidak, dampak terhadap partai akan
semakin dalam.”
Ucapan
yang tanpa belas kasihan itu membuatku terkejut dan berharap. Namun, kata-kata
gadis itu saat itu terus menghantuiku. Kantor pusat dan cabang partai bereaksi
terlalu cepat. Ini berarti aku akan dibuang.
Kehancuranku
tidak bisa dihentikan.
“Hal seperti
itu...”
Ketua
cabang menunjukkan ekspresi tidak menyenangkan
dan menolak permohonanku. Nada suaranya akhirnya menjadi lebih kasar
dari sebelumnya.
“Memangnya
kamu pikir kamu memiliki hak untuk memilih? Ini adalah tindakan belas kasihan.
Jika kamu menolak, ingatlah bahwa kami akan menjadi musuhmu.”
Ketegasannya
membuatku menjerit lirih. Sekalipun
aku bisa meyakinkan ketua cabang, aku tidak bisa membungkam ayah gadis itu yang lebih berkuasa di atasnya.
“Apa
kamu mengerti? Lokasi konferensi pers sudah ditentukan. Masuklah ke hotel yang
tertera di catatan ini satu jam sebelum waktu mulai. Selanjutnya, sekretarisku akan mengurus semuanya.”
Aku sudah
benar-benar pasrah. Setelah ini, aku akan dibawa ke jalur
otomatis menuju kehancuran. Perusahaanku sudah berakhir. Aku akan kehilangan
segalanya.
Hingga
kemarin, aku seharusnya menjadi calon walikota yang menjanjikan dengan karier
yang mulus. Tapi aku justru kehilangan segalanya
dalam sehari. Yang menantiku sekarang hanyalah menjadi bahan tertawaan di
seluruh negeri, menjadi objek sarkas
di internet, dan melihat segalanya perlahan hilang tanpa bisa berbuat apa-apa.
Kekayaan,
kehormatan, kebahagiaan, semuanya akan lenyap. Waktu yang tersisa hanya
beberapa jam. Aku seharusnya menjadi orang terpilih... namun di hadapan
orang-orang yang memiliki kekuatan lebih, aku merasa seperti bayi yang tidak
bisa berbuat apa-apa.
Tidak,
tidak. Tidak ada seorang pun yang mengulurkan tangan untuk membantuku saat aku
menangis hancur. Tidak ada yang akan menolongku.
"Hei,
pastikan dia diawasi agar tidak melarikan diri. Kami tidak bisa menanggung
lebih banyak penghinaan dan rasa malu yang diakibatkannya.”
Perlakuan
ini sudah seperti kepada seorang penjahat. Aku menyadari bahwa aku perlahan-lahan menaiki tangga menuju tempat
hukuman mati.
Kehancuranku
mulai semakin mendekat, tetapi aku
tidak bisa berbuat apa-apa. Terjebak di ruang ketua cabang, aku hanya menunggu
untuk dibunuh secara sosial.
Bahkan
untuk melarikan diri pun tidak diizinkan. Tidak ada yang bisa kulakukan. Aku
merasakan ketidakberdayaan yang mendalam. Semua kekuasaan atas hidup dan matiku
dipegang oleh orang lain. Aku akhirnya menyadari bahwa orang yang selama ini
aku remehkan justru diriku
sendiri.
Aku
hanyalah rubah yang meminjam kekuatan harimau. Sebagai individu, aku hampir
tidak memiliki kekuatan. Menghadapi kematian sosial, aku dipaksa untuk
menyadari kenyataan ini.
Perasaan
tak berdaya, cemas, dan putus asa. Hatiku semakin hancur.
Pikiranku
begitu kacau sehingga rasanya seolah-olah semua hal
yang menimpaku seperti sesuatu terjadi pada orang lain. Itu
membuatku gila. Aku tidak bisa berhenti tertawa. Sekilas, seorang staf membuka
pintu dan segera menutupnya lagi.
“Aku sudah
hancur. Jika ingin tertawa, tertawalah. Aku akan kehilangan semuanya. Tidak,
tidak, tidak.”
Aku
merasakan ketakutan saat aku tidak lagi menjadi diriku sendiri, menyaksikan
hatiku dan semua yang telah kubangun hancur
berantakan.
“Jika
sudah begini, aku akan membongkar semuanya. Semua rahasia yang kuketahui.”
Sambil
berteriak, napasku menjadi sesak, dan aku terjatuh ke sofa. Mataku
berkunang-kunang, tetapi waktu terus berlalu tanpa belas kasihan. Waktu tinggal
kurang dari satu jam sebelum eksekusi hukuman mati.
※※※※
──Sudut Pandang Ketua Cabang──
Kondo
sedang menangis dan berteriak. Aku mulai khawatir apa dia bisa mengadakan
konferensi pers dalam keadaan mental seperti ini. Tepat pada saat itu, ponselku
berbunyi.
Melihat
nama yang muncul, seluruh tubuhku tegang. Aku segera
mengangkat telepon.
“W-Wah, wah,
Sekretaris Jenderal. Kira-kira ada
apa, ya?”
Lawan
bicaraku adalah sosok besar dari pusat.
Dia adalah orang nomor dua
di partai yang berkuasa.
“Aku
menelepon mengenai kasus Anggota Dewan Kondo.
Perdana Menteri dan para pendukungnya
juga cukup memperhatikannya. Peristiwa ini
menjadi berita besar. Karena posisinya sebagai anggota dewan, satu-satunya
keberuntungan adalah bahwa berita tidak terlalu mengaitkannya dengan partai.
Namun, jika keributan ini berlanjut lebih lama,
hal itu bisa mencemari kami. Ini sudah menjadi tanggung jawabmu untuk segera mengakhirinya.”
Suara
yang cerdas namun tanpa ampun dan dingin. Aku merasa ingin menangis saat
mendengarnya.
“Terkait
hal itu, aku akan mengikuti instruksi Anda. Lokasi konferensi pers juga sudah ditentukan. Semua persiapan telah dilaksanakan. Namun, keadaan mentalnya
sangat... Aku tidak tahu apa yang akan dia katakan jika dibiarkan seperti ini.
Apa itu baik-baik saja?”
Namun,
Sekretaris Jenderal menjawab dengan nada suara yang tetap dingin.
“Itu
sama tidak masalah. Pada akhirnya, ini
hanya seorang anggota dewan yang salah paham tentang kekuatannya dan telah
kehilangan kendali. Jika ia menangis dan berteriak di tengah jalan, hal itu justru akan lebih
menguntungkan bagi partai.
Banyak orang akan menyadari bahwa dirinya
tidak memiliki kualitas sebagai anggota dewan. Aku justru berharap demikian.
Jika ia menjadi putus asa dan mengungkapkan sesuatu, informasi yang dimilikinya
tidak ada artinya. Ia tidak
bisa melakukan apa-apa. Kami sudah menghubungi polisi. Sebelum ia melakukan hal
yang lebih buruk, setelah konferensi pers, kita akan mengeluarkannya dari
partai dan membawanya untuk ditangkap dengan tuduhan ancaman. Jika kita bergerak
secepat mungkin, opini publik akan memahami posisi kita. Rupanya ada beberapa pembicaraan di internet bahwa Anggota dewan Kondo
adalah warga negara kelas atas sehingga dirinya tidak
akan ditangkap. Itulah sebabnya,
penting untuk bertindak cepat agar memberikan dampak.”
“Hii.”
Semuanya terlalu efisien. Aku merasakan hawa dingin menjalar di sepanjang tulang belakangku.
“Politisi
yang terlibat skandal sering kali dirawat di rumah sakit, tetapi untuk pria
sepertinya, lebih baik jika dia ditangkap oleh polisi. Selain itu, ketua
cabang, Anda benar-benar memilih orang yang buruk. Dalam kasus ini, Anda
mungkin juga harus mempertaruhkan posisi Anda. Jika itu yang terjadi, aku tidak akan
bertanggung jawab.”
Jika aku gagal, takkan ada kesempatan
berikutnya. Ancaman tersirat ini membuat tanganku gemetar.
Walaupun
panggilan telepon sudah berakhir, tapi aku masih tidak
bisa mengembalikan punggungku yang tegak.
Masa
depan Kondo sudah kelam.
Memikirkan
nasib pria yang salah paham di ruangan sebelah yang mengeluarkan teriakan dan seruan aneh
membuatku merasa putus asa. Namun, kegagalan tidak bisa ditoleransi. Seorang
badut harus bisa menari dengan ceria, jika tidak, aku pun tidak akan memiliki
hari esok juga.
※※※※
──Sudut Pandang (Ayah) Kondo──
Akhirnya,
saat ini pun tiba. Aku berada di Aula hotel yang dipesan
untuk konferensi pers. Di sana, puluhan hingga ratusan jurnalis sudah menunggu kemunculanku.
Aku menaiki
panggung dengan langkah gemetar, dan
kilatan kamera membuat mataku silau. Aku terkejut melihat begitu banyak kamera
yang belum pernah mengarah padaku sebelumnya. Ditambah
lagi, para jurnalis tampak bersemangat untuk menggali
sesuatu yang menarik dari diriku yang kini menjadi sorotan. Rasanya seperti
menghadapi predator yang telah menemukan mangsanya, dan sebagai orang yang
dijatuhi hukuman mati, aku tidak bisa berhenti bergetar.
Inilah
akhir dari kehidupanku. Bagaimana bisa sampai seperti
ini? Demi menyenangkan para tokoh besar dari kantor pusat, aku telah terlibat dalam
berbagai tindakan buruk. Hingga akhirnya,
aku berhasil mendekati kursi walikota. Seharusnya, jika terus begini, aku bisa
mendapatkan lebih dari itu di masa depan.
Hari ini,
aku akan hancur.
“Hadirin
sekalian, terima kasih banyak
telah berkumpul di sini meskipun dalam kesibukan Anda
masing-masing. Sekarang, aku ingin memulai konferensi pers
mengenai skandal yang melibatkan anggota dewan Kondo.”
Ketua
cabang, yang bertindak sebagai pembawa acara,
seolah-olah telah memulai eksekusi hukuman mati. Ia
tampaknya tidak peduli dengan persiapan mentalku.
“Aku
mohon maaf atas kekhawatiran yang ditimbulkan atas
kejadian yang disebabkan oleh diriku
dan putraku.”
Saat aku
menundukkan kepala, kilatan kamera semakin banyak.
Di antara
mereka ada bisikan sinis seperti “Padahal
tida ada mengkhawatirkannya
sama sekali” dan “Segera katakan yang sebenarnya”. Hatiku
sudah patah. Aku ingin segera melarikan diri dari tempat ini.
“Kondo-san,
apa benar Anda mengancam sekolah dan keluarga korban untuk menutupi insiden
kekerasan yang melibatkan putra Anda?”
“Bagaimana
tanggung jawab Anda terhadap warga yang memilih Anda?”
“Apa
Anda menyadari bahwa Anda jelas-jelas telah
melakukan tindakan kriminal?”
Pertanyaan-pertanyaan
itu datang bertubi-tubi. Ini sudah menjadi ejekan total.
“Mengenai
hal itu, saat ini sedang dilakukan penyelidikan, jadi aku ingin menahan diri
dari memberikan rincian lebih lanjut...”
Aku
mengucapkan kata-kata sesuai dengan daftar pertanyaan yang telah disiapkan,
tetapi itu justru menambahkan minyak ke dalam api. Sebelum aku selesai berbicara,
teriakan marah terdengar.
“Mana
mungkin alasan seperti itu diterima!”
“Jangan
menganggap remeh warga!”
“Apa
kamu masih berpikir bisa mengelak setelah rekaman itu beredar?”
“Apa
maksudmu dengan pernyataan 'diam' di pagi hari tadi?”
Aku
merasakan keringat mengalir di punggungku saat mendengar cacian dan hinaan dari
para jurnalis. Mereka yang sebelumnya bersikap ramah kepadaku kini berubah.
“Ketika
saatnya tiba, aku pasti akan berbicara,”
Pernyataanku
justru menambah api kemarahan. Para
jurnalis bangkit dari kursi mereka, seolah-olah ingin menerkamku.
Ketua
cabang yang menjadi pembawa acara berkata, “Semuanya, harap tenang. Kondo-kun, kamu memiliki kewajiban untuk
menjelaskan. Jawablah dengan baik.”
Aku terdiam karena pengkhianatan yang tak terduga. Padahal aku hanya berbicara sesuai naskah
yang kamu buat, kenapa kamu malah mengubahnya?
Sial, sial, sial. Jika sudah
terlanjur begini, aku
akan mengungkap semuanya.
“Terkait
kasus ini, aku hanya bertindak demi masa depan putraku...
Aku tidak terlibat dalam kekerasan langsung. Itu semua adalah tindakan anakku
sendiri.”
Saat itu,
kilatan kamera mencapai puncaknya.
“Jadi bukan
sekretarisku yang melakukannya,
melainkan tindakan anakku yang dilakukan sembarangan.”
“Pada
dasarnya Anda sudah mengakuinya,
‘kan?”
“Ini
terlalu parah.”
Aku bisa
mendengar tawa sinis di antara mereka.
“Mengenai
dugaan ancaman, aku hanya panik karena penangkapan putraku dan tidak bermaksud
mengatakannya sekuat itu. Aku terburu-buru dan salah bicara. Itu saja...”
Air mata yang tak terbendung mulai mengalir
karena ketegangan dan kecemasan. Aku tidak bisa berhenti terisak.
“Rekaman
itu hanya kesalahan bicara...”
“Bukankah
matanya kelihatan aneh?”
“Dia
mulai menangis.”
Suara-suara
itu semakin sulit terdengar.
“Aku
sudah bekerja keras sampai sekarang.
Namun, mengapa, mengapa... Ketua
cabang juga sangat jahat. Padahal ia selalu bergantung padaku untuk
masalah uang. Di saat seperti ini, dirinya
langsung mencampakkanku. Apa kamu benar-benar mengerti seberapa banyak bantuan
yang aku berikan hingga kamu bisa berada di posisi sekarang?”
Aku
mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak kukatakan. Dalam keadaan terdesak,
aku berniat untuk mengakui semuanya. Aku sudah
tidak peduli lagi. Jika aku jatuh, ketua cabang pun harus ikut
jatuh bersamaku.
“Apa
yang kamu katakan, kamu!! Meskipun itu kebohongan, ada hal-hal yang tidak boleh
kamu ucapkan!”
Melihat
ketua cabang yang panik, rasa cemasku mulai sedikit berkurang.
Namun, ini seharusnya adalah sesuatu yang tidak boleh dibuka, tetapi aku tidak
bisa menyadari hal itu karena keadaan
pikiranku yang tidak
normal.
Para
jurnalis mana mungkin
melewatkan mangsa yang lezat ini.
“Apa itu berarti, ada uang gelap?”
“Kondo-san,
jadi, apa Anda mengakui bahwa Anda
melakukan penyuapan?”
“Apa
itu sudah dicatat dengan benar dalam laporan keuangan?”
Para
jurnalis yang haus terhadap
berita eksklusif semakin bersemangat. Kekacauan
yang mengerikan mulai terjadi.
Ketua
cabang berusaha menjelaskan, “Itu
hanyalah kesalahpahaman. Anggota dewan Kondo hanya mengatakan itu
dalam keadaan tertekan, jadi harap tenang!” Padahal itu bukan kebohongan. Aku memang
memberikan uang gelap kepada ketua cabang sebagai imbalan untuk mendukung
pelantikanku sebagai walikota. Jika hal ini
terungkap, kasus tersebut akan
menjadi skandal besar.
Namun, satu orang berhasil meredakan kekacauan
ini.
Suara
langkah kaki terdengar di aula yang gaduh. Seketika, semua orang menoleh ke
arah itu. Seorang pria paruh baya yang tegak perlahan naik ke panggung. Aku
segera mengenali siapa dirinya. Di
tempat ini, tidak ada yang tidak mengenalnya.
“Kenapa
orang seperti dirinya bisa ada di
sini...”
“Orang yang
asli.”
“Bagaimana
mungkin orang nomor
dua di partai penguasa bisa berada di sini?”
Pria yang
naik ke panggung itu perlahan duduk di sampingku.
“Aku
akan menjawab pertanyaan Anda mewakili keduanya.”
Dia
mengumumkan dengan senyuman lembut dan percaya diri. Aku tidak bisa menahan
diri untuk tidak mengeluarkan suara.
“Sekretaris Jenderal Ugaki...”
Dia
adalah sosok nomor dua di partai yang
berkuasa, orang yang memegang
kekuasaan dalam urusan personalia dan anggaran. Monster yang mencapai posisi
itu di usia empat puluh lima tahun, yang dikenal sebagai “Perdana Menteri Bayangan” karena
kekuatan finansial dan politiknya.
Tokoh
besar itu berbisik dengan suara yang hanya bisa didengar olehku.
“Kondo-kun.
Kamu sudah siap, ‘kan?”
Sekretaris
Jenderal tersenyum seperti biasa, tetapi
matanya tidak menunjukkan senyuman. Tatapan tajam dan penuh kemarahan. Aku
merasa seolah-olah telah menginjak ekor harimau.
“Eh...”
“Dengarkan baik-baik, persaingan antara politisi
tidak bisa menggunakan kata ancaman. Jika kamu tidak siap untuk menghancurkan seseorang, jangan masuk ke dalamnya.”
Kalimat itu terdengar seperti
deklarasi perang yang ditujukan padaku. Di ruangan ini, kata-kata marah yang
penuh tekanan itu hanya bisa didengar olehku.
Orang-orang
berkelas yang sebenarnya memperlakukanku seperti semut yang akan diinjak oleh
gajah, tanpa menunjukkan belas kasihan. Sambil menekan pena yang tersimpan di
saku jasnya.
“Jadi,
aku ingin meminta maaf kepada semua hadirin mengenai masalah anggota dewan Kondo.”
Sekretaris Jenderal dengan mudah menundukkan kepalanya. Ruangan menjadi gaduh setelah
permintaan maaf dari sosok besar itu. Padahal, dia sama sekali tidak terlibat
dalam masalah ini. Kenapa dirinya
harus meminta maaf? Banyak orang berpikir demikian, termasuk diriku.
“Dan
mengenai skandal ini, kami telah melakukan penyelidikan yang mendalam demi
kepatuhan dan disiplin partai. Dia adalah anggota dewan... dan memiliki
tanggung jawab untuk menjelaskan kepada para pemilihnya. Penyelidikan ini dilakukan
untuk membersihkan diri. Dan, satu fakta telah terungkap, jadi aku ingin
menjelaskannya di sini.”
Keringat
dingin mengalir di dahiku.
“Pertama-tama, ada dua hal yang kami ketahui.
Dugaan ancaman oleh Anggota dewan Kondo
tampaknya dilakukan secara rutin untuk menutupi skandal anaknya. Rincian ini
sudah disampaikan kepada polisi, jadi kami hanya bisa menunggu keputusan hukum pengadilan.”
Apa yang
dia katakan? Kapan dia menyelidikinya? Memang benar kalau aku pernah melakukan tindakan
ancaman terkait masalah anakku beberapa kali. Namun, itu seharusnya ditangani
secara diam-diam. Bukti? Apa seseorang telah mengkhianatiku? Apakah itu orang
dalam perusahaan? Sialan, apa
yang terjadi?
“Dan
mengenai masalah keuangan yang baru saja diakui oleh anggota dewan Kondo sebelumnya, setelah memeriksa dokumen
akuntansi dan laporan pendanaan politiknya, ditemukan beberapa tanda pemalsuan
dan penutupan. Aku akan menyerahkannya
kepada Anda sebagai barang bukti.
Anggota dewan Kondo, silakan lihat.”
Aku
merasakan wajahku menjadi pucat. Darahku seolah-olah
mengalir pergi.
Aku
memberikan hadiah dan menyuap para pejabat berpengaruh seperti
ketua cabang. Untuk melakukan itu,
aku telah memalsukan dokumen dan mengumpulkan uang sisa agar bisa digunakan
sesuka hati. Dan dengan suap itu, aku seharusnya bisa mengukuhkan posisiku di
dewan kota dan akhirnya membuka jalan menuju pemilihan walikota.
Tapi sekarang
semuanya sudah terungkap. Orang ini
berniat untuk menyingkirkanku.
“(Apa
kamu punya alasan, Kondo-kun? Pengusiranmu
sudah ditentukan. Laporan ke polisi juga sudah diajukan. Kamu dan ketua cabang
akan menjadi pengorbanan. Kami sudah mengetahui ke mana dana suapmu mengalir. Jika kami segera
memaksa kalian untuk bertanggung jawab, kerugian akan lebih ringan. Ini akibat kesalahan kalian sendiri, dan tidak ada lagi kekhawatiran
tentang penyebaran masalah lebih lanjut. Aku juga bisa mendapatkan keuntungan
dari faksi yang dekat dengan kalian. Ini akan menguntungkan kedua belah pihak.)”
Dia
berbisik dengan suara rendah yang hanya bisa didengar olehku. Ini adalah
pengumuman skak mat. Tidak ada yang bisa kulakukan
lagi.
Seolah-olah
dia memperlakukan orang seperti mainan, dan aku merasa seolah-olah ini masalah
orang lain.
“Mustahil. Padahl
aku sudah berjuang mati-matian... berusaha keras untuk semua
orang... Setelah menjadi walikota, aku akan berpartisipasi dalam politik
nasional... Ini bohong, bohong, bohong. Ini terlalu berlebihan. Uwaaaaah!
Hidupku sudah hancur.”
Emosiku
menjadi kacau balau, dan aku
tidak bisa menahan diri untuk tidak berteriak dengan suara yang tidak
jelas.
Para
jurnalis segera mengarahkan
kamera mereka untuk meliput momen itu dengan penuh kesenangan.
Sambil
menangis dan berteriak, aku turun dari panggung dan berlari menuju pintu
keluar. Saat berbalik, aku melihat ketua cabang tersenyum sinis, seolah-olah
mengejekku. Para jurnalis berusaha mengelilingiku, tetapi aku mendorong jauh mereka dan membuka pintu keluar.
Namun, di sana menunggu beberapa polisi berpakaian seragam.
“Apa Anda
Kondo-san? Ada
beberapa pertanyaan yang ingin kami ajukan kepada Anda di
kantor polisi, jadi mohon ikut kami.”
Aku
ditangkap oleh polisi yang kuat yang mungkin diatur oleh ketua cabang, dan
mereka mulai menjelaskan tentang surat perintah penangkapan dan hal-hal
administratif lainnya. Namun, semua itu tidak masuk ke dalam kepalaku.
“Kenapa
aku harus ditangkap? Aku adalah presiden perusahaan
dan anggota dewan kota yang penting!”
Tidak ada
yang menanggapi kebohongan kosongku itu. Mereka mempapah badanku dari kedua sisi dan membawaku keluar dari hotel.
※※※※
──Sudut Pandang Miyuki──
Aku tak
bisa menyembunyikannya lagi. Aku mengambil keputusan dan menuju kamar rawat
ibuku. Untuk
menjelaskan semuanya.
Ruang
rawatnya telah dipaksa diubah menjadi kamar pribadi oleh ayah Senpai. Ia
tampaknya juga meninggalkan uang, tetapi ibuku segera mengembalikannya. Dia
tidak berniat menerima uang suap.
Saat membuka
pintu ruang rawat, ibuku sedang menonton acara berita pagi. Tepat saat berita
tentang anggota dewan Kondo disiarkan. Dia tampak tertegun melihatnya.
Dia
segera mengenali ayah Senpai
yang sebelumnya datang ke ruang rawat inap.
“Apa maksudnya semua ini?”
Ibuku
sudah menyadari semuanya. Berita tersebut melaporkan
bahwa anak anggota dewan terlibat dalam kasus kekerasan terhadap siswa dari
sekolah yang sama dan menjadi pelaku perundungan. Semua terhubung. Kami yang
menyebabkan insiden kekerasan pada Eiji, juga yang menjadi pemicu masalah perundungannya.
Suara
ibuku menjadi sangat dingin dan gelap, suara
yang belum pernah kudengar sebelumnya.
“Maafkan
aku. Eiji melihatku berselingkuh, dan Senpai memukul Eiji. Aku tidak hanya
berpura-pura tidak melihat, tetapi demi melindungi diriku sendiri, aku menuduh
Eiji dan memperburuk perundungan.
Semuanya karena salahku. Aku telah membuat Eiji
hampir bunuh diri.”
Ibuku
mendengarkan laporan itu dengan wajah pucat pasi,
menundukkan kepalanya dengan
sedih, dan bergetar. Melihatnya saja sudah cukup untuk membuatku merasa
tertekan oleh rasa bersalah dan penyesalan.
Ibuku
yang selalu lembut dan kusayangi,
berdiri dengan tubuhnya yang lemah di depan mataku dan tanpa berkata apa-apa,
dia menampar pipiku dengan keras. Sejenak, aku tidak mengerti apa yang terjadi,
tetapi aku merasa itu adalah hal yang wajar.
Semua ini
kesalahanku.
“Kenapa
kamu melakukan hal yang tidak bisa diperbaiki seperti itu! Kamu bukan hanya mengkhianati Eiji, tetapi
juga menciptakan luka yang tidak akan pernah hilang... Meminta maaf pun tidak akan cukup.
Kenapa kamu harus membalas kebaikan dari anak laki-laki yang begitu baik dan
lembut itu dengan cara seperti ini...”
Suaranya
yang gemetar mengguncang hatiku.
Aku tidak
seharusnya menangis. Karena akulah pelakunya. Aku tidak berhak untuk
menangis.
Banyak
kenangan berharga yang dihabiskan bersama Eiji kembali muncul di pikiranku.
Kenangan saat kami bertiga pergi ke taman hiburan bersama ibu. Momen ketika
kami makan bento bersama dengan ceria. Kenangan ketika dia menghiburku saat aku
menangis. Akus duah menodai semua kenangan itu.
“Maafkan aku. Aku sadar bahwa aku telah melakukan sesuatu yang mengerikan.
Sekolah juga mengatakan akan mengambil tindakan
disiplin padaku. Aku telah melakukan hal yang tidak bisa
ditebus. Aku akan meminta maaf dan menebus kesalahanku kepada Eiji seumur
hidupku.”
Ibuku yang telah hidup bersamaku
selama ini, menunjukkan ekspresi putus asa di wajahnya, menangis dan
bergetar.
“Jangan
mengatakannya dengan enteng begitu!
Ini tidak sesederhana itu... Ini...”
Dia
berusaha keras untuk menjalankan tanggung jawab sebagai orang tua. Aku
benar-benar merasa diriku sangat rendah.
“Aku
takkan pernah bisa meminta maaf kepada
Eiji-kun dan Aono-san. Aku sendiri tidak
tahu bagaimana cara menebusnya. Kamu
harus hidup dengan membawa fakta itu seumur hidupmu. Kenapa kamu tidak mengerti
arti dari semua itu?”
“...”
Aku tidak
bisa menemukan kata-kata lagi. Ibuku
berusaha keluar dari ruang rawat dengan langkah goyah.
“Bu,
tunggu! Dokter bilang ibu harus
beristirahat!”
Aku
berusaha menghentikannya, tetapi ibuku
terus melangkah maju.
“Aku
harus meminta maaf kepada mereka. Jika aku tidak pergi,
siapa yang akan pergi? Setidaknya, aku harus meminta maaf dengan
sungguh-sungguh. Aku harus menebusnya, meskipun sedikit...”
Aku tidak
bisa memaafkan diriku sendiri karena telah membuat ibuku merasa bertanggung
jawab sampai sejauh itu. Meskipun
akulah pelakunya, selama ini aku bertindak seolah-olah ini adalah masalah orang
lain. Kali ini aku benar-benar menyadari
dosaku.
Diriku
yang paling rendah, yang telah mengkhianati Eiji yang baik hati dengan perselingkuhan.
Diriku
yang paling rendah, yang telah melukai Eiji dengan kekerasan verbal.
Diriku
yang paling rendah, yang demi melindungi diri sendiri, menyebarkan fitnah dan membuat Eiji terpuruk hingga
hampir bunuh diri.
Kenapa
aku masih hidup? Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas perbuatan keji yang telah kulakukan. Kebencian
pada diriku sendiri menyelimuti segalanya.
Di luar
ruang rawat inap, para
perawat berkumpul mencoba menghentikan ibuku.
Aku
melarikan diri dari ruang rawat inap.
Aku tidak menyadari betapa putus asanya diriku. Aku memiliki pemikiran yang
egois. Aku telah melukai ibuku begitu dalam. Itu sangat menakutkan.
Aku
teringat pada Eiji. Aku juga teringat pada ibunya. Mereka berdua seharusnya menjadi orang
yang berjasa bagiku... Namun, aku melupakan itu dan membalas budi dengan cara
yang buruk. Kenapa aku begitu bodoh? Kenapa aku bisa melupakan hal yang begitu
penting? Aku tergoda dalam api cinta sesaat dan malah mengabaikan segalanya.
Seandainya
saja saat itu aku berada di samping Eiji yang terjatuh
setelah dipukul oleh Kondo-senpai, apa aku akan merasa sedikit lebih baik?
Tidak.
Bukan begitu. Seharusnya, jika aku tidak berselingkuh... Jika aku tidak mencoba
menutupi semuanya dengan alasan ‘bermain api’, dan jika aku tidak melepaskan
hal yang paling berharga bagiku, semua ini tidak akan terjadi.
Bohong
rasanya jika aku mengatakan kalau aku tidak pernah membayangkannya. Masa depan di
mana aku dan Eiji akan bersama selamanya. Itu seharusnya menjadi masa depan
yang sangat hangat dan penuh kasih.
“Kenapa
aku bisa sebodoh ini?”
Rasa
benci pada diriku sendiri
dan rasa bersalah. Dan rasa menyesal karena telah melibatkan Eiji dan ibuku.
Fakta bahwa aku telah memaksa orang yang sangat kucintai hingga hampir mati
secara mental.
Saat
ibuku mengingatkanku, aku menyadari beratnya perbuatanku.
Seharusnya,
aku lebih baik mati saja. Aku sudah tidak punya tempat di sekolah. Kepercayaan
Eiji dan ibuku sudah hilang. Teman-temanku juga semuanya sudah pergi.
Yang
tersisa hanyalah kesadaran akan dosa dan kebencian pada diriku sendiri yang tak kunjung
hilang.
Aku
pulang ke rumah sebentar
dan berganti pakaian seragam. Lalu, aku
keluar. Aku merasa jijik pada diriku sendiri
bahwa aku masih berperilaku egois di sini. Aku menyadari bahwa aku memang
seharusnya tidak hidup.
Tanpa kusadari, aku sudah berjalan melangkah menuju sekolah.
Tidak, karena aku sudah mengenakan seragam saat keluar, mungkin dari awal aku
memang berniat menuju ke sini. Rasanya seolah-olah
aku bukan diriku sendiri. Tempat ini hanya menyimpan kenangan bahagia. Jalan
menuju sekolah pun demikian. Kenangan saat aku dan Eiji tertawa setiap hari
kini menjadi senjata mematikan
yang melukai hatiku.
Aku ingin
mengakhiri semuanya.
Aku
berputar ke pintu belakang dan menyelinap ke dalam sekolah. Karena masih dalam
jam pelajaran, jadi tidak ada
siapa pun di koridor. Meskipun seharusnya aku tidak boleh masuk karena sedang
dalam masa skorsing, tapi itu sudah tidak lagi penting bagiku.
Setidaknya,
aku ingin mengakhiri hidupku di tempat yang menyimpan kenangan indah. Aku ingin
melepaskan segalanya. Aku ingin mengakhiri ini.
Aku
melihat ponselku yang terus berdering sejak kemarin. Sebagian besar hanyalah pesan kasar dan hinaan dari siswa klub sepak
bola. Di antara pesan-pesan itu, ada panggilan dari Takayanagi-sensei dan Mitsui-sensei. Ini adalah waktu istirahat. Ah,
mereka benar-benar orang yang baik. Mereka
berusaha menolongku meskipun aku wanita
paling jahat seperti ini. Namun, aku akan mengkhianati
mereka.
Aku
memang tidak bisa hidup dengan cara lain selain mementingkan diriku sendiri. Aku pernah mendengar
dari Kondo-senpai bahwa pintu atap sekolah ini rusak dan bisa dimasuki siswa. Tempat itu merupakan lokasi yang tepat jika
aku ingin mengakhiri semuanya.
Jika
pintunya terkunci, aku akan menyerah. Aku bisa pindah ke tempat lain.
Aku
perlahan-lahan menaiki tangga menuju atap.
Hanya tingggal sedikit lagi. Pasti ada langit biru yang
terbentang di balik pintu itu.
Bahkan keindahannya pun terasa seperti simbol penghakiman bagiku. Aku memutar
pegangan pintu yang mengarah ke atap.
“Hah?”
Ada yang
aneh. Seharusnya jika aku memutar pegangan pintu ke arah yang berlawanan,
pintunya akan terbuka, tetapi pegangan itu tidak bisa diputar sama sekali.
Kenapa?
Aku
mendengar langkah kaki seseorang mendekat di tangga. Suara itu perlahan semakin
dekat. Aku bisa melihat bayangan
seseorang.
Dia adalah
seseorang yang aku kenal.
Seseorang
yang memiliki semua yang telah kulepaskan menatapku perlahan. Aku tak kuasa
menahan diri untuk mengucapkan beberapa kata kasar sebagai balasan.
“Kenapa
kamu berada di sini... Ichijou Ai?”
Wajahnya
yang sangat cantik dan ekspresi penuh kesedihan membuatku tak bisa memalingkan wajah. Sebagai
sesama perempuan, aku bahkan salah mengira dia adalah seorang malaikat. Aku
merasa cemburu. Ada rasa benci dalam diriku terhadapnya yang memiliki
segalanya, termasuk Eiji.
“Kenapa
kamu ada di sini, Amada-san? Seharusnya kamu
mendapatkan skors dari sekolah. Namun, rasanya aneh
sekali bahwa kamu masih mengenakan seragam dan berada di sini.”
“Itu
karena...”
Aku
jelas-jelas dalam posisi yang
lebih lemah. Jadi, aku terdiam.
“Percuma saja. Aku menelepon secara
anonim dan meminta para guru untuk memperbaiki kunci pintu ke atap. Sebenarnya,
hal itu demi menutup perasaanku, tapi
hasilnya malah berguna untuk tujuan yang berbeda.”
Mengapa
gadis ini selalu membuatku kesal? Dia selalu melakukan hal-hal yang tidak
kusukai.
“Mengapa kamu bahkan tidak membiarkanku
mengakhiri semuanya?”
Dengan
suara yang penuh harapan, dia memejamkan
matanya dengan kuat dan menghela napas besar. Lalu dia melanjutkan.
“Mengakhirinya, ya? Aku tahu kalau aku tidak berhak mengatakan apa
pun kepadamu. Tetapi, aku tidak akan
membiarkanmu melanjutkannya lebih
jauh dari ini.”
Nada
suaranya yang seolah-olah menghakimi membuatku sedikit marah.
“Itu
tidak ada hubungannya denganmu! Kenapa kamu ada di sini? Jawab aku!”
Tanpa
sadar, suaraku menjadi keras. Dia menarik napas sejenak dan melanjutkan.
“Aku
ingin meminta maaf terlebih dahulu. Aku sudah menugaskan seseorang untuk
mengawasimu supaya
kamu tidak melakukan hal-hal aneh. Aku cemas jika kamu terlalu putus asa dan melakukan tindakan
yang gegabah. Aku datang ke sini karena ada laporan bahwa kamu berperilaku tidak wajar.”
Aku
merasakan ketakutan yang mengalir dalam diriku. Kenapa dia bisa begitu waspada terhadapku
sampai-sampai melakukan hal seperti itu? Dan kini aku merasa takut dengan
kekuatan yang dimiliki junior ini.
“Kenapa...?”
“Coba tanyakan pada hatimu sendiri. Dan
jangan melangkah lebih jauh dari ini. Betahanlah.
Sekarang masih ada waktu untuk kembali.”
Kenapa,
kenapa, kenapa!!!??
Tidak
mungkin seseorang yang seberuntung dirimu bisa memahami rasa sakit dan
penderitaan keluarga dengan orang tua tunggal, atau rasa sakit yang sedang
kualami sekarang.
Kenapa
kamu tidak membiarkanku mati? Apa aku bahkan tidak memiliki kebebasan untuk
mati?
“Diam! Mana mungkin seseorang yang
seberuntung dirimu bisa memahami perasaanku!!”
Dia
menatapku dengan penuh penghinaan.
“Memang
mungkin demikian. Tapi sampai kapan kamu akan berpura-pura menjadi korban yang sedang mengalami tragedi
ini? Jika terus begini, kamu tidak akan bisa bergerak maju.”
Kata-katanya
menghancurkan hatiku.
“Jangan
mengguruiku dengan nada sok tahu tanpa
memahami perasaanku!”
“Mau bagaimana lagi. Apa
kamu mengerti bahwa jika kamu bunuh diri di sini, itu akan menyakiti senpai?
Kamu yang sudah mengkhianati
teman masa kecil yang selalu bersamamu, apa kamu merasa berhak untuk melukai
hatinya lebih jauh lagi? Kenapa
kamu tidak bisa memahami hal yang begitu sederhana, padahal kamu seharusnya
dekat dengan orang-orang baik? Kamu adalah mantan pacar Senpai, jadi tolong pikirkan
sedikit tentang dirinya. Kenapa
kamu merasa berhak untuk merusak masa depannya? Mau
sampai seberapa jauh kamu
ingin memperpanjang luka seumur hidup itu? Pada akhirnya, bukankah kamu sebenarnya tidak mencintai Senpai?”
Kata-kata
menyakitkan itu membuatku merasa keyakinanku runtuh.
“Itu tidak benar... Aku benar-benar mencintai Eiji...”
Namun,
malaikat yang penuh kasih ini dengan mudah melampaui egoku dan menyerang perasaan cintaku kepada Eiji.
“Lantas, kenapa kamu tega membuat pilihan yang sangat menyakiti Senpai? Pada akhirnya, kamu hanya memikirkan dirimu sendiri, Amada-san. Itulah sebabnya kamu bisa
dengan mudah membuat pililihan yang
melukai orang-orang di sekitarmu. Apa
kamu benar-benar memahami betapa menderitanya Senpai dan ibunya ketika dikhianati oleh seorang gadis
yang sudah dianggap seperti keluarga mereka sendiri? Apa ibumu membesarkanmu
sampai sejauh ini hanya untuk membiarkanmu melakukan hal seperti itu? Dengan
semua usaha dan kerja kerasnya? Jika kamu melangkah satu langkah lebih jauh
dari pintu ini, tidak akan ada yang bisa menghentikanmu. Dan itu akan melukai
banyak orang. Kebohonganmu telah mengubah kehidupan banyak orang. Tidak ada
yang bisa memaafkanmu jika kamu mati tanpa menghadapi dosa itu. Tolong
berhentilah bergantung pada orang lain!”
Saat
mendengar kebenaran ini, hatiku terasa hancur
berantakan. Namun, aku tidak bisa mundur. Aku tidak bisa
mundur. Aku tidak punya pilihan lain selain
melarikan diri dari tempat ini.
“Berisik,
berisik, berisik. Jangan berbicara sembarangan tanpa memahami perasaan orang
lain. Kamu yang beruntung tidak mungkin mengerti perasaanku saat ini.”
Meskipun
aku menolak dengan begitu kuat, dia semakin menolak keberadaanku.
“Kalau
begitu, apa yang kamu ketahui tentang diriku? Aku sudah berusaha keras untuk
mencari tahu tentangmu. Tapi, kamu tidak pernah berusaha untuk mengenalku.
Begitu juga dengannya. Tanpanya, aku tidak ingin memahami
bagaimana orang egois sepertimu bisa dengan tenang melukai orang lain. Kenapa
orang sebaik ibuku yang lembut tidak hidup, sedangkan orang egois sepertimu
masih ada? Jangan sekali-kali mengatakan orang lain beruntung dengan cara yang
tidak bertanggung jawab. Jika begitu, maukah kamu menggantikan posisi dalam kehidupanku?
Apa kamu akan mengembalikan ibuku... keluargaku yang sangat berharga?”
Seiring
berjalannya waktu, nada bicaranya semakin lembut. Meskipun begitu, kata-katanya
dipenuhi dengan kekuatan yang tenang, dan tidak ada sedikit pun kesan gadis
ceria yang seperti idola sekolah. Itu adalah kata-kata dari seseorang yang
berjuang untuk hidup di masa kini.
Dan aku dipaksa untuk menyadari betapa dangkalnya diriku.
“Itu...”
Aku
terdiam sejenak. Dia menggenggam bahuku. Sentuhannya sangat lembut.
“Pada hari pertama kami berdua bertemu, Senpai hampir melompat dari atap ini.”
Tubuhku
tiba-tiba terasa dingin. Aku merasa telah melewatkan sesuatu. Seolah-olah aku
telah diberitahu sesuatu.
“...”
Ketika
aku tidak bisa mengatakan apa-apa, dia melanjutkan, seolah-olah maju menuju
jawaban yang kejam.
“Di sanalah kami bertemu untuk pertama
kalinya.”
Sudah kuduga,
ada sesuatu yang janggal.
Aku merasakan sakit yang tumpul di hatiku,
seolah-olah kata-kata kasarku sebelumnya kembali menghantamku seperti bumerang
yang tajam.
“Kenapa
kamu tidak bisa membayangkan kenapa aku bisa
ada di sana?”
Aku
dihadapkan pada makna sebenarnya dari kata-katanya yang kuat sebelumnya. Dan
juga pada kata-kataku yang dangkal. Aku menyadari bahwa kata-katanya yang penuh
semangat itu ditujukan bukan hanya
untukku saja, tetapi juga untuk dirinya
sendiri. Meskipun dia menggali luka lamanya, dia tetap memiliki keinginan yang
kuat untuk melindungi Eiji dan yang lainnya, dan dia mendekatiku dengan
perasaan itu.
“Aku
telah kehilangan orang yang sangat berarti bagiku karena kesalahanku sendiri. Itu merupakan sesuatu yang tidak bisa
diperbaiki. Dan sekarang, aku sedang berusaha melakukan hal lain yang tidak
bisa diperbaiki. Itulah sebabnya aku akan menghentikanmu. Karena inilah sesuatu
yang diajarkan oleh Aono Eiji-senpai
di atap ini. Pada akhirnya, kamu akan diselamatkan oleh pria bernama Aono Eiji.
Aku hanya melakukan apa yang ia lakukan.”
Dia
berkata demikian dengan nada menegur
dan beranjak pergi. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa dan hanya bisa terjatuh
di tempat itu.
“Apa ia beneran tidak masalah dengan diriku yang
seperti ini?”
Akhirnya,
aku mendengar Ichijou Ai yang
lembut seakan-akan dia sedang memanjatkan
doa.
Beberapa
guru datang menghampiri kami seolah-olah bergantian dengan dirinya.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
