Prolog
Ketika
semangat dan kegembiraan seputar pemilihan
OSIS mulai mereda.
Akademi
Kekaisaran akhirnya akan menyambut.....
Festival
budaya ————————————————————persiapannya!
(Aku tidak bisa menertawakannya...)
Aku hanya
bisa tersenyum kecut saat melihat banyaknya beban
kerja yang menumpuk di hadapanku.
Seperti
yang diharapkan dari Akademi Kekaisaran,
bukan hanya skala acara
festival budayanya saja
yang besar, tetapi persiapannya juga cukup besar untuk dianggap sebagai sebuah
acara sekolahan. Tentu saja ada banyak yang
harus dilakukan, dan karena jumlah perputaran uang
yang cukup banyak, perlu perhatian ekstra dalam menyelesaikan
pekerjaan. Berkat hal itu, hari
ini juga para pengurus OSIS sangat sibuk.
Meskipun
sulit, tapi ——————rasanya menyenangkan.
Sebenarnya,
kami ingin melakukan hal-hal seperti ini sehingga kami mencalonkan diri menjadi
pengurus OSIS. Dengan kesadaran bahwa kami lah inti dari akademi, berusaha
untuk memeriahkan acara adalah pekerjaan yang sangat memuaskan.
“Pengadaan
bahan sudah hampir selesai, ‘kan?”
Tennouji-san
yang sedang mengetik dengan cepat mengangkat wajahnya dan berbicara demikian.
Di hadapan Tennouji-san terdapat meja besar yang paling mencolok
di ruang OSIS. Namun, permukaan meja itu dipenuhi oleh tumpukan dokumen yang
sangat banyak.
Ukuran
meja itu mencerminkan besarnya tanggung jawab. Setelah menyadari hal itu, aku
tidak lagi merasa iri pada meja besar yang digunakan Tennouji-san, tetapi malah
mengaguminya.
“Miyakojima-san, apa kamu bisa mengonfirmasi
tanggal kedatangan masing-masing bahan untuk
sekedar berjaga-jaga?”
“Baiklah. Rasanya
memang akan merepotkan jika semuanya datang sekaligus,
jadi aku akan sebisa mungkin membaginya.”
Interaksi
dengan pihak luar biasanya dilakukan oleh Narika yang bertanggung jawab atas
urusan umum. Informasi
yang didapat melalui Narika akan diproses oleh pengurus lainnya.
“Abeno-san,
apa kamu sudah menghitung biaya pengeluarannya?”
Di tempat
yang dituju oleh tatapan Tennouji-san, seorang siswi dengan potongan bob dan
kacamata mengetik dengan kecepatan luar biasa. Angka-angka yang terpantul di
lensa kacamata tampak tak terhingga. Dia yang mahir dalam pengolahan angka
tidak berhenti mengetik saat menjawab.
“Secara
umum, semuanya hampir selesai.
Karena mereka merupakan
pelanggan tetap, mereka menangani pesanan besar kita
dengan harga yang wajar, jadi perhitungannya juga mudah.”
“Itu
adalah tongkat estafet yang diberikan oleh
pendahulu kita. Kita juga akan berjuang untuk
memenuhi harapan tersebut!”
Alasan
Akademi Kekaisaran dipercaya pihak
luar karena para senior kami telah
terus-menerus mengasah citra akademi ini.
Kami tidak boleh mencemari nama ini, dan misi kami ialah memperbaikinya lebih lanjut dan
menyerahkannya kepada generasi berikutnya.
“Yodogawa-san,
apa undangannya sudah
siap?”
“Sebentar lagi bakalan selesai!
Formatnya kelihatan berbeda
dari tahun lalu dan tahun sebelumnya, jadi aku sedang membaca notulen untuk
mencari tahu penyebabnya!”
Yodogawa
tampak serius membaca dokumen yang ditampilkan di layar monitor.
Seperti yang
bisa didengar dari volume suaranya, ia adalah siswa
laki-laki yang energik dan memberikan semangat saat kamu berbicara dengannya dari dekat.
Meskipun kami seharusnya
sebaya, tapi postur
tubuhnya yang lebih pendek, nada bicaranya yang rendah, dan gaya rambutnya yang
rapi dengan potongan olahraga memberikan kesan seperti junior.
... Saat
berbicara di pertemuan teh selama masa pemilihan, aku merasa ia sedikit lebih
sopan, tetapi mungkin beginilah kepribadian aslinya.
Ia
sepertinya terlalu mempedulikannya, tetapi mungkin karena masa
pemilihan, dia sedikit berpura-pura. Meskipun begitu, kesan aktif yang
kutangkap saat itu tidaklah bohong.
Tennouji-san
kemudian menatapku. Setelah memahami apa yang ingin
dia katakan melalui tatapannya, aku berdiri dari kursi.
“Tomonari-san—”
“Aku sudah
merangkum semua
pengadaan tambahan.”
Aku
dengan lembut meletakkan dokumen-dokumen
tersebut di meja Tennouji-san.
“Meski baru
pertama kalinya kita berbisnis dengan perusahaan
ini dan yang ini, tapi
karena hotel mewah dan kapal pesiar yang merupakan pelanggan besar terhubung
secara tidak langsung dengan Akademi Kekaisaran,
menurutku mereka dapat dipercaya.”
“Terima
kasih sudah menyelidikinya. ... Karena ada banyak tamu yang akan hadir di
festival budaya, jadi rasanya kurang sopan jika
fasilitas yang tersedia tidak
memadai.”
Akademi
Kekaisaran merupakan tempat berkumpulnya anak-anak dari keluarga konglomerat. Tentu
saja, festival budaya ini akan dikunjungi oleh orang-orang kaya yang merupakan orang
tua siswa.
Karena ada banyaknya tamu VIP
yang berkumpul di satu tempat,
pengaturan keamanan juga menjadi tantangan besar. Beberapa tamu, seperti
keluarga Konohana, cenderung ingin menyiapkan keamanan mereka sendiri, jadi kami harus
menyediakan kesempatan untuk mengkoordinasikan keamanan yang mereka siapkan
dengan yang kami sediakan. Karena ini dilakukan oleh kami sebagai siswa, hal
ini menunjukkan seberapa
besar kepercayaan mereka
terhadap OSIS Akademi Kekaisaran.
Sebagai
wakil ketua, tanggung jawabku berada di urutan kedua
setelah ketua OSIS, Tennouji-san. Sebagai tangan kanan ketua OSIS, aku juga
memiliki hak untuk memberikan instruksi kepada pengurus lainnya.
“Abeno-san.”
Saat aku
memanggil gadis yang sedang mengetik dengan cepat, matanya yang bulat di balik
kacamata menatapku.
“Jika
anggarannya memungkinkan, tolong hitung
apakah kita bisa meningkatkan kualitas tempat duduk tamu VIP satu tingkat lebih
baik. Sepertinya Menteri Perekonomian akan datang tahun ini.”
“Baik,
aku mengerti.”
Menteri
Perekonomian yang datang untuk menyapa di
permainan manajemen tampaknya akan hadir sebagai tamu tahun ini. Beliau
tidak mungkin datang sendirian, jadi aku ingin memastikan bahwa ruang untuk
beberapa orang yang akan beliau duduki terasa lebih
mewah.
Tentu
saja, tidak ada nuansa suap sama sekali. Hanya saja, kita harus berterima kasih
atas dukungan yang diberikan untuk permainan manajemen.
“Yodogawa-kun,
mungkin rasanya lebih cepat jika kamu bertanya
kepada mantan sekretaris tentang format undangan. Aku yakin kalau keluarganya menjalankan
bisnis percetakan.”
“Memang
benar! Mungkin itu yang menyebabkan perubahannya!”
Setelah
diteliti, format undangan untuk festival budaya tidak berubah setiap tahun,
tetapi ada beberapa kali di masa lalu yang mengalami perubahan. Namun,
pembuatan undangan ini jauh lebih murah dibandingkan dengan pekerjaan lainnya.
Oleh karena itu, aku menduga bahwa perubahan ini bukan karena alasan biaya,
melainkan dipengaruhi oleh orang-orang yang terlibat dalam pekerjaan tersebut.
Terakhir,
aku memanggil Narika yang sedang menatap monitor komputer.
“Narika,
kamu tadi sudah memesan peralatan makan, ‘kan?”
“Eh?
Iya, aku sudah memesannya...”
“Tolong sampaikan
kepada perusahaan itu bahwa mungkin akan ada pesanan lanjutan setelah festival
budaya selesai.”
“Setelah
festival budaya selesai?”
Narika memiringkan kepalanya dengan wajah kebingungan, dan aku menjelaskannya dengan singkat.
“Janji
kampanye Tennouji-san.”
“Ah...”
Saat
Tennouji-san mencalonlan diri untuk menjadi
ketua OSIS, dia berjanji akan mengadakan kursus etika. Mungkin dalam kursus itu
akan banyak menggunakan perlatan
makan, jadi jika kita bisa mengamankan tempat pemesanan sekarang, itu akan
sangat membantu.
“Tomonari-san...”
Tennouji-san
yang sedari tadi mendengarkan percakapan
kami tersenyum bahagia.
Itulah janji
yang kami buat setelah memikirkannya dengan
keras bersama untuk menjadi pengurus OSIS. Apa yang ingin dilakukan
Tennouji-san juga merupakan sesuatu
yang ingin kulakukan.
Saat aku memikirkan hal itu dan
bertukar tatapan dengan Tennouji-san, aku menyadari bahwa Narika menatapku
dengan tatapan tajam.
Abeno-san,
tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor, membuka mulutnya.
“Jangan
bermesra-mesraan terus dan fokuslah
pada pekerjaan.”
“Mesra—”
Kami tidak
bermesra-mesraan! ... Aku hendak mengatakan itu, tapi
karena Tennouji-san memalingkan wajahnya dengan pipi yang memerah, suasananya jadi canggung untuk membantahnya. ... Umm, jika kamu tidak membantahnya, suasana ini akan seolah-olah
kami benar-benar berpacaran.
Kami
memiliki hubungan kepercayaan yang kuat karena telah berjuang bersama-sama dalam pemilihan...!!!
Tentu
saja, tidak ada perasaan yang tidak murni...!!! Harusnya
begitu!
◆◆◆◆
“Fyuuh~~~~~~~~”
Setelah semua orang menyelesaikan pekerjaan mereka masing-masing,
Tennouji-san menghela napas panjang.
“Setidaknya,
kita telah mencapai target hari ini.”
“Terima
kasih atas kerja kerasnya!”
Yodogawa menimpali dengan suara ceria. Tapi itu sepadan!
Ucapnya dengan penuh semangar dan aku
juga setuju dengan itu.
Pengurus OSIS
angkatan ke-72 yang dipimpin Tennouji-san berjalan dengan baik sejauh ini.
Kemampuan Tennouji-san tidak perlu diragukan lagi. Abeno-san menjalankan tugas
akuntansinya dengan sangat serius, dan Yodogawa juga bekerja keras dengan
energinya yang melimpah. Pekerjaan sekretaris mungkin sederhana, tetapi
membutuhkan banyak perhatian pada dokumen dan pembuatan berbagai materi, jadi
mungkin itu cocok untuknya yang penuh semangat.
Narika
juga menggunakan pengalaman yang dimilikinya untuk berbicara setara dengan
orang-orang dari luar sekolah. Meskipun Narika sebelumnya merasa kesulitan
dalam hubungan sosial, dia terus berusaha mengatasi hal tersebut dan mulai
memahami cara membangun sikap yang dipercaya oleh orang lain. Melihatnya seperti itu, aku bahkan berpikir
bahwa orang yang mengatasi kesulitan mungkin bisa menghasilkan hasil yang lebih
fleksibel daripada mereka yang sudah mahir sejak awal. Di masa depan, keterampilan negosiasi mungkin akan menjadi bidang keahlian
Narika.
Sementara aku...
bagaimana dengan diriku? Setidaknya aku merasa bisa berguna, tetapi...
Saat-saat
di mana aku merasa benar-benar bisa membantu adalah ketika mencari mitra bisnis
yang dapat dipercaya. Sebelum Narika bertransaksi dengan orang luar, aku sering
kali mencari
informasi tentang mitra tersebut terlebih
dahulu. Tennouji-san juga setelah permainan manajemen
mulai mempercayai pandanganku yang demikian.
“Seperti
yang direncanakan, setelah pelajaran besok, kita akan memutuskan pertunjukan
untuk festival budaya dari masing-masing kelas. Sepertinya kita akan sibuk
untuk sementara waktu, tapi kita akan bertahan!”
“Ya.”
“Siap!”
Persiapan
festival budaya berjalan dengan lancar. Hari ini, kami telah menyelesaikan
pemesanan bahan minimum, dan mulai besok, kami juga harus mempertimbangkan
pertunjukan dari masing-masing kelas.
Aku penasaran, pertunjukan apa saja yang akan ditampilkan di festival budaya Akademi Kekaisaran? ...
Mengingat peristiwa yang selama ini terjadi,
aku meyakini kalau itu pasti sangat
berbeda dari sekolah SMA
biasa.
“Ada apa, Tomonari-san?”
“Oh,
tidak... aku hanya kepikiran
tentang apa yang akan dilakukan kelasku.”
Karena
sibuk dengan pekerjaan OSIS, aku jadi jarang berinteraki dengan teman-teman sekelasku. Meskipun begitu, semua orang
mendukungku, dan jika aku bertanya, mereka pasti akan memberitahuku banyak
hal.
Semua
orang pasti sedang memikirkan pertunjukan apa yang ingin mereka lakukan, ‘kan?
“Aku
meyakini kalau kelas 2-A
pasti akan mementaskan drama.”
Aku
menatap Tennouji-san saat dia mengatakan demikian.
“Kenapa?”
“Karena
di kelas 2-A ada Konohana Hinako.”
Aku tidak
begitu mengerti saat dia menjelaskan
alasannya. Hanya saja, ketiga orang lainnya
menunjukkan sikap setuju.
“Oh...
pertunjukkan waktu itu
memang luar biasa.”
“Aku
juga tidak menyangka akan begitu terharu saat festival budaya.”
“Bener
sekali! Sejak hari itu, aku jadi tertarik pada teater!”
Mereka bertiga
jelas-jelas mengetahui
sesuatu yang tidak kuketahui.
“Ngomong-ngomong,
karena Tomonari-san adalah murid pindahan, jadi kamu pasti tidak tahu.”
Tennouji-san
menjelaskannya kepadaku
yang tidak bisa mengikuti pembicaraan.
“Pada
festival budaya tahun lalu, Konohana
Hinako menjadi pemeran utama dalam teater dan mendapatkan penilaian tinggi. ...
Meskipun benci untuk mengakuinya, tapi penampilannya memang
luar biasa.”
Gunununu.......Tennouji-san mengeluarkan suara menggerutu dengan rasa
penyesalan.
Hinako, menjadi pemeran utama dalam pementasan drama...?
