Chapter 1 — Ketidaknyamanan
Setelah menuruni tangga menuju ruang tamu, aku
menekan tombol pemanas yang berukuran seperti tabung CRT yang diletakkan di
tengah ruangan. Suara elektronik berbunyi ‘pip’, dan setelah menunggu sekitar 10
detik, angin hangat mulai keluar. Setelah beberapa detik terkena angin itu, aku
melangkah masuk ke dapur dengan memeluk diriku sendiri.
“Hah...
dingin banget.”
Ketika aku melihat ke arah luar melalui
jendela, matahari baru saja terbit. Lapisan tipis sinar matahari menyinari
tirai renda dari jendela ruang tamu. Suara burung berkicau dan suara sepeda
motor yang melintas bisa terdengar,
tetapi jelas lebih tenang dibandingkan siang hari.
Aku
membuka pintu kulkas dan mengeluarkan sisa
makan malam kemarin.
“Untuk
sementara, hanya segini saja sudah cukup. Aku nanti bisa membuat telur dadar...”
Aku
memikirkan menu sarapan dan bekal di dalam kepalaku. Waktu yang tersisa sekitar
30 menit. Aku harus segera memasak agar tidak membangunkan mereka berdua.
Pemanas
baru saja mulai bekerja, dan suhu ruangan masih cukup rendah. Aku mengenakan
fleece di atas piyama, tetapi suhu tubuhku terus menyusut dari kaki dan leher.
Sepertinya
timer rice cooker berfungsi dengan baik. Ketika aku membuka tutupnya, uap putih
muncul. Baunya enak.
Setelah menikmati aroma itu, aku menepuk wajahku dua atau tiga kali.
“Baiklah.”
Hari ini
aku harus berusaha keras lagi. Aku memutar keran air hangat dan mulai mencuci
tangan.
◇◇◇◇
“Ah,
sudah pagi ya.”
Orang yang
turun dengan santai dari tangga adalah Sayaka. Aku
sudah menyiapkan sarapan di atas meja
makan.
“Kurasa aku
masih bisa tidur sekitar 10 menit lagi...”
“Tidak,
tidak, kamu selalu bangun sekitar waktu ini.”
“Benarkah?”
Sepertinya
dia masih belum sepenuhnya terjaga. Meskipun dia sudah berganti pakaian
seragam, rambutnya masih berantakan karena tidur.
Sayaka
memindahkan pemanas yang menghadap ke arah dapur ke depan meja makan dan duduk.
Sebenarnya, pemanas itu hanya mengarah ke kursi Sayaka.
“Hei,
aku kedinginan, jadi dekatkan sedikit pemanasnya padaku.”
“Tidak
mau, habisnya
dingin sih.”
“Kita
saling merasakan.”
Meskipun
sudah dinyalakan sekitar 30 menit yang lalu, suhu ruangan sudah lebih hangat
dibandingkan sebelumnya.
Sayaka
mengambil remote yang ada di meja makan dan menyalakan televisi yang agak jauh.
Ukurannya cukup besar sehingga bisa terlihat dari sini.
“Ah,
sekarang sudah bulan Desember ya...”
Sepertinya
acara tv sedang menampilkan ramalan untuk
hari ini. Di bagian atas layar tertulis jelas 1 Desember.
“Liburan
musim dingin, Natal, Tahun Baru...”
“Sebelum
itu ada ujian akhir.”
Setelah
aku mengatakannya, Sayaka langsung menunjukkan wajah yang sangat eneg.
“Ewh. Jangan mengatakan hal-hal seperti itu. Suasana
hatiku mendadak jadi turun.”
“Kamu
sudah belajar, ‘kan? Sepertinya sebelumnya kamu mendapat nilai merah.”
Aku
menuangkan teh panas ke dalam cangkir Sayaka dan dengan senyum menanyakannya.
Sayaka mengalihkan pandangannya dan menjawab, “Entahlah.”
“Lebih
baik belajar daripada harus mengikuti ujian susulan atau bimbingan remedial.”
“Aku
tahu. Itu bukan sengaja.”
“Kalau
ada yang tidak kamu pahami, bilang saja padaku. Aku akan mengajarkanmu dengan
baik.”
“Aku tidak
membutuhkannya, karena itu terlalu repot.”
Pandangan
Sayaka terfokus pada televisi. Aku juga mulai memperhatikan televisi. Setelah
ramalan, acara beralih ke cuaca. Sepertinya, cuaca hari ini akan cerah
sepanjang hari.
Sepertinya
tidak masalah jika cucian pakaian
dibiarkan di luar. Di taman, pakaian yang dijemur sejak malam kemarin bergoyang
tertiup angin. Karena tidak ada orang di rumah siang hari, tidak ada yang bisa
mengambil pakaian jika hujan turun. Jadi, aku harus memeriksa ramalan cuaca
setiap hari. Sekali, aku lupa memeriksa ramalan cuaca dan mengalami masalah
besar.
Karena
ujian akhir semakin dekat, aku tidak ingin terganggu oleh pekerjaan rumah.
Setelah
ini, aku harus membersihkan piringku sendiri, membagi porsi untuk
ayah, dan pergi ke sekolah. Ayah bekerja dengan sistem fleksibel, jadi ia tidak
perlu bangun terlalu pagi. Ia
selalu berangkat kerja tepat sebelum waktu sibuk.
Sayaka
dan aku hanya menatap televisi dengan pandangan
kosong, sesekali berbicara tentang hal-hal sepele sambil makan. Sekitar 10
menit kemudian, saatnya untuk pergi.
“Aku
pergi berangkat dulu.”
Sayaka
berkata demikian setelah membereskan piringnya dan
menyikat gigi. Dia hampir
melupakan bekalnya, jadi
aku memberikannya padanya, membantunya merapikan rambut, dan mengantarnya pergi
ke sekolah. Setelah Sayaka pergi, aku segera mulai membereskan. Setelah semua
beres, aku menutup porsi ayah dengan plastik. Setelah menghela napas, aku
melihat ayah yang tidur dengan acuh tak acuh di ruangan sebelah.
“…Suara
dengkurnya keras sekali.”
Meskipun
aku membuat keributan, ia bisa
tidur dengan nyenyak sampai sejauh ini.
Sebelum
pergi, aku melanjutkan pekerjaan penting.
Aku
mengambil wadah nasi yang diletakkan di altar dan meletakkannya di depan rice
cooker di dapur. Mengambil sedikit beras dengan sendok nasi, aku menaruhnya di
wadah tersebut. Setelah dengan hati-hati membawanya ke altar dan meletakkannya,
aku berjongkok di depan altar dan membunyikan lonceng.
Aku memejamkan mataku.
Tidak ada
kata-kata khusus untuk didoakan. Hanya tindakan yang selalu aku lakukan sebagai
bagian dari rutinitas sehari-hari.
Aku
merasakan suara logam yang menjauh dan perlahan membuka mata.
Perasaanku
sedikit tenang. Sambil menggantungkan tas sekolah di bahu, aku berbisik.
“Aku
pergi.”
◇◇◇◇
Setelah jam wali kelas pagi, Saito mengeluarkan
keluhan dari bangku belakangku.
“Aku
butuh uang...”
“Kenapa
tiba-tiba?”
Aku
menoleh ke belakang. Di sana, ada Saito yang
terbaring di meja sambil menggerakkan kakinya.
“Aku
kekurangan uang.”
“Begitu.”
“Kalau
tidak kerja paruh waktu, uang yang kita punya hanya sisa uang jajan dan angpao.
Tapi, itu bukan jumlah yang signifikan kecuali kita sangat kaya.”
“Itu
terlalu jelas sampai-sampai
bikin ngantuk."
Aku juga
tidak bisa memiliki uang tanpa uang saku dari ayahku. Pernah sekali aku kerja paruh
waktu selama liburan panjang, tapi penghasilannya hanya beberapa puluh ribu yen
saja.
“Kenapa
kamu ingin uang sebanyak itu?”
“Karena
aku ingin membeli game dan berbagai barang lainnya. Tahun depan sepertinya akan
sibuk belajar, jadi aku ingin bermain sekarang.”
“Bukannya sebulan
lagi kamu bisa mendapatkan angpao?”
“Aku
ingin sesuatu sekarang juga.”
Saito
berkata begitu sambil menunjukkan layar ponselnya. Di situ ada gambar dari seri
terbaru sebuah perusahaan game terkenal. Harganya hampir sepuluh ribu yen.
“Jadi tanggal
peluncurannya sudah dekat, ya.”
“Makanya, karena
aku tidak punya uang, aku tidak bisa
membelinya meskipun sudah dirilis.”
“Begitu
ya.”
“Tapi,
sebentar lagi sudah memasuki periode
ujian akhir...”
Karena ini mengenai Saito, sepertinya ia tidak
berniat berusaha keras.
"Tidak
masalah. Lagipula, meskipun belajar di menit-menit terakhir, aku tidak akan
mendapatkan nilai yang baik.”
Dalam artian tertentu, cara berpikirnya tampak berlawanan
dengan Sayaka. Setidaknya, dia seharusnya berusaha
sedikit menjelang ujian.
“Tahun
ini, aku sudah banyak menghabiskan uang, jadi hampir tidak ada sisanya lagi. Tapi, aku ingin memainkan game
ini segera setelah dirilis, jadi aku sedang memikirkan caranya.”
“Cara
yang paling realistis adalah bekerja setelah ujian selesai untuk mendapatkan
uang.”
“Benar sekali...
Kurasa memang tidak ada pilihan lain... tapi aku belum pernah bekerja paruh waktu.”
“Mungkin
kamu bisa melakukan survei lalu lintas atau semacamnya? Itu sepertinya bisa
dilakukan oleh siswa SMA.”
“Kurasa aku akan mencarinya sepulang
sekolah nanti.”
Ngomong-ngomong,
aku belum pernah melakukan survei lalu lintas, jadi aku tidak tahu apakah itu
benar-benar bisa dilakukan oleh siswa SMA. Hanya saja, aku teringat gambaran
seseorang duduk di kursi lipat di persimpangan sambil menekan tombol
penghitung.
“Sebaliknya,
apa kamu tidak punya sesuatu yang ingin dibeli?”
“Eh?”
Aku
terkejut dengan pertanyaan itu. Sepertinya, aku jarang berpikir tentang ingin
memiliki sesuatu. Aku biasanya terlalu sibuk dengan berbagai hal setiap
harinya.
“Kalau
hanya belajar terus, rasanya
tidak terlalu menyenangkan, bukan?”
“Jika aku
harus menjnawabnya sih, aku ingin waktu, tapi selain
itu tidak ada yang khusus.”
“Hee~.”
Saito
tampak terkejut.
Ada bagusnya
memiliki uang. Tapi, ayah sudah cukup bekerja keras, jadi
sejauh ini aku tidak mengalami masalah dengan finansial.
Itulah sebabnya aku bisa fokus pada pekerjaan rumah dan belajar.
“Lagipula
kamu pasti mendapat peringkat yang
terbaik, jadi tidak ada salahnya jika sesekali
istirahat, bukan? Maksudku, aku tidak ingin rata-rata nilai naik terlalu
tinggi.”
“Itu
bukan hal yang bisa kamu bicarakan. Lagipula, bukankah
lamu yang seharusnya belajar
lebih rajin.”
Oh,
baiklah, aku hanya mengalihkan pembicaraan.
Akhir-akhir
ini, aku tidak bisa banyak meluangkan waktu untuk diriku sendiri. Bisa dibilang, belajar merupakan
tindakan demi diriku sendiri,
tetapi kenyataannya aku hampir tidak pernah istirahat atau bermain. Aku sangat
memperhatikan kesehatan, dan tubuhku sehat, tetapi kadang-kadang aku merasakan
kelelahan.
──
Kadang-kadang, perlu bersantai, ya.
Sayaka
juga pernah mengatakan hal serupa. Dia bilang, “Nikmati
sedikit lebih banyak waktumu”,
atau “Kalau terlalu memaksakan diri,
hanya akan membuatmu lelah dan merugikan”.
Memang benar, tetapi saat ini, lebih mudah bagiku untuk terjebak dalam hal-hal
yang harus dilakukan.
Karena
sudah menjadi kebiasaan, tangan ini bergerak lebih dulu sebelum pikiranku. Dan
ketika aku mencoba melakukan hal lain sebelum menyelesaikan tugas yang harus
dilakukan, pikiranku menjadi bingung.
Mungkin
ini tidak terlalu mirip
seperti seorang siswa SMA.
“Hei.”
Aku
tersadar dari lamunanku karena suara panggilan Saito. Ketika aku melihat ke
arah yang ditunjuknya, Enami-san
sedang berjalan ke arah kami. Enami-san menyadari bahwa aku melihatnya, sedikit
melebarkan matanya, lalu tersenyum tipis
dan berkata, “Selamat
pagi.”
Aku juga
menjawab, “Selamat
pagi,” dan dia melanjutkan langkahnya
ke kursi paling belakang.
…… Ini
membuat jantungku berdebar.
“Dia
tidak terlambat, ya... sungguh.”
Saito
menggumam seolah mengingat sesuatu.
Sudah
hampir dua bulan sejak teguran keras waktu
itu.
Sejak
saat itu, Enami-san tidak pernah terlambat. Dia juga tidak pernah membolos. Dia belajar dengan serius,
tidak melawan guru, dan berubah menjadi seorang siswa biasa. Meskipun, karena penampilannya,
dia tidak bisa benar-benar menjadi biasa.
Bagaimanapun,
dia tetap mempertahankan sikap seriusnya.
“Bagaimana caranya kamu bisa menjinakkan dia?”
“Aku
tidak menjinakkan siapa pun, dan perkataan
semacam itu tidak pantas buat manusia jadi jangan
katakan itu... "
“Tapi
itu pengaruhmu, ‘kan?”
Aku
terdiam. Aku tidak bisa membantah hal itu.
(Aku
ingin mengetahui tentang dirimu.)
Itulah kata-kata
yang disampaikan Enami-san. Hingga sekarang, hal itu masih berlanjut seperti
yang dia katakan...
◇◇◇◇
“Okusu-kun.”
Jam
istirahat makan siang.
Aku dipanggil oleh Hanasaki dan mendekat ke mejanya. Hanasaki kemudian memanfaatkan celah di
mana orang-orang di sekitarnya tidak melihat dan
memberikanku kotak makan siangnya.
Hanasaki
membuatkan kotak makan siang untukku sekitar seminggu sekali. Dia sudah memberi
tahu sebelumnya bahwa dia akan memberikannya hari ini, jadi aku tidak menyiapkan
makananku sendiri.
“Terima
kasih.”
“Ah,
tidak, akulah yang seharusnya berterima kasih. Kamu selalu memberi berbagai saran yang sangat membantu.”
Kemampuan
memasak Hanasaki semakin meningkat setiap hari.
Aku merasa kagum. Dia tidak menambahkan keunikan yang tidak perlu seperti yang
sering dilakukan oleh orang yang tidak pandai memasak, tetapi setia pada
dasar-dasar dan terus berusaha. Jadi, dia pasti sudah berkembang tanpa perlu
saranku.
──
Mungkin dia akan segera menyalipku...
Jika dia
memasak setiap hari, dia pasti akan lebih sibuk mengerjakan hal-hal rutin
daripada berinovasi. Baru-baru ini, masakannya terasa seperti rutinitas, jadi
masakan Hanasaki memberikan semangat baru.
“Aku mencoba
menambahkan gulungan kubis, telur dadar, dan baksi. Ketika
aku mencicipinya, rasanya tidak terlalu buruk…”
“Begitu ya. Aku akan mencobanya.”
“Ya.”
Karena
jika terus berbicara, orang-orang di sekitar kami
akan curiga, jadi aku
segera membawa kotak makan siang itu ke mejaku. Namun, aku tidak bisa
mengelabui Saito dan Shindo.
“Ah,
muncul lagi,” “Lagi?”
Mereka berdua berusaha menyindirku. Keduanya
tahu bahwa aku sedang mencicipi masakan Hanasaki. Awalnya aku hanya mengelak,
tetapi pada akhirnya terungkap juga.
“Berisik
deh. Tolong jangan terlalu memperhatikanku. Aku hanya mencicipi saja.”
Namun,
Shindo mengabaikan perkataanku.
“Ketika
di sekolah SD, cowok yang cepat larinya yang populer,
di sekolah SMP, cowok berandalan yang populer. Dan di
sekolah SMA, mungkin cowok pintar yang akan populer...”
“Kalau
begitu, kalian juga seharusnya belajar.”
“Sekarang sih sudah terlambat.”
Nilai Shindo
juga tidak kalah buruknya dibandingkan Saito. Jujur saja, sekolah kami adalah
sekolah yang berorientasi akademik, jadi seharusnya mereka memiliki kemampuan
tertentu untuk bisa masuk, tetapi hasilnya adalah akibat dari bolos
terus-menerus.
Ketika
aku membuka bungkus kotak makan siang dan membuka setiap lapisan kotak makan
siang bertingkat, aroma makanan yang
lezat tercium. Menu dan nasi putihnya sesuai dengan yang dikatakan Hanasaki. Kepribadian Hanasaki
tercermin dengan baik, semua lauknya dibagi dengan rapi.
“Kelihatannya
benar-benar enak, itu malah
jadi semakin membuatku kesal. Mana
mungkin mereka berdua tidak memiliki hubungan
apa-apa.”
“Secara
logis, itu tidak mungkin.”
Suara iri
dari Saito dan Shindo terdengar. Meskipun begitu, apa yang mereka katakan
memang benar, jadi aku tidak bisa membalas dengan keras.
Aku mulai
mencicipinya dengan mengambil sepotong
gulungan kubis dan membawanya ke dalam mulutku.
Tidak hanya penampilannya, rasanya juga sangat baik. Begitu aku menggigitnya,
kuahnya langsung mengalir ke mulutku. Meskipun sedikit keras, rasanya sangat
enak sehingga aku tidak mempermasalahkannya.
Aku
memberikan isyarat oke kepada Hanasaki yang mengawasi dari kursinya dengan cemas.
Hanasaki tampak merasa
lega.
Nantinya,
aku akan memberikan pendapat dan saran kepada,
tetapi jujur saja, aku merasa dia sudah melewati tahap di mana dia membutuhkan
bantuanku.
Saito
melihatku dan kotak makan siangku dengan wajah penuh rasa iri. Aku bertanya.
“Apa
kamu mau mencicipinya sedikit?”
“Tidak,
terima kasih. Lagipula, melakukan itu tidak akan membuatku senang. Aku adalah
pria yang bisa membaca suasana.”
Shindo
juga mengangguk setuju dengan Saito. Shindo bertubuh
besar, jadi terkadang ia meminta sisa dari kotak makan siang yang aku buat.
Namun, saat seperti ini, ia tidak berusaha untuk mengambilnya.
“Kalian
tidak memasak?”
Aku merasa penasaran dan bertanya. Namun,
mungkin mereka memang tidak melakukannya. Lalu,
“Tidak,” “Kalau
mie instan, aku bisa membuatnya.”
Jawaban
yang sesuai dengan dugaanku.
“Jika
ditanya tentang memasak, hanya Shindo yang memasukkan mie instan.”
“Pada
dasarnya, memasak itu hanya perlu dibakar, digoreng,
atau direbus. Tidak ada bedanya.”
“Tentu
ada bedanya...”
Meski begitu,
mie instan juga bisa menjadi masakan yang luar biasa jika dimodifikasi dengan
baik.
“Di
zaman sekarang, ada banyak makanan siap saji dan beku yang enak, jadi memasak
seharusnya dilakukan oleh orang yang menyukainya.
Harganya juga banyak yang murah, dan mungkin di masa depan aku juga tidak akan
melakukannya.”
“Aku
juga.”
Perkataan
Shindo ada benarnya. Omong-omong, ayahku sering
mengandalkan hal-hal seperti itu. Namun, aku merasa lebih mudah untuk
menyesuaikan nutrisi dengan masakan rumahan.
Aku
melihat kotak makan siang yang dibuat Hanasaki sekali lagi. Tentu saja,
Hanasaki melakukannya untuk meningkatkan keterampilan memasaknya. Namun, jelas
dia memperhatikan giziku yang
akan memakannya dan berusaha menyeimbangkan nutrisi. Dia menggunakan berbagai
bahan seperti sayuran, daging, dan telur.
── Suatu
saat, aku harus berterima kasih dengan baik.
Hanasaki
sering mengatakan bahwa aku tidak
perlu melakukannya, tetapi tetap saja,
rasanya tidak enakan jika menerimanya
begitu saja. Lebih dari sekadar keterampilan memasak, penting untuk memikirkan
orang yang akan memakannya. Pada titik ini, aku merasa bahwa mana mungkin ada ketidakpuasan
terhadap Hanasaki.
◇◇◇◇
“Okusu, coba
ke sini dulu sebentar.”
Itulah yang dikatakan setelah pelajaran
hari ini, ketika HR selesai. Shiroyama-sensei
mendekat dan melambaikan tangannya
ke arahku.
“Ada
apa?”
“Ah,
dan Nishikawa! Nishikawa, apa kamu bisa
kemari sebentar juga?”
Nishikawa,
yang tampak sedang berbicara dengan seseorang, memiringngkan
kepalanya dan kemudian mendekat.
Setelah kami berdua berkumpul, sensei melanjutkan.
“Kalian
berdua datanglah ke ruang guru. Ada sesuatu yang ingin kubicarakan.”
Aku dan
Nishikawa hanya bisa saling bertanya-tanya.
◇◇◇◇
Kami berdua melangkah masuk ke ruang guru. Setiap kali datang ke tempat ini, aku merasa sangat tidak
pada tempatnya. Di sekolah, ruang guru memiliki suasana yang unik. Meskipun ada
perasaan serupa ketika masuk ke kelas lain, ruang guru terasa lebih sulit untuk
berlama-lama.
Setelah
meletakkan daftar hadir dan dokumen di mejanya, Shiroyama-sensei bergerak lebih dalam. Aku dan
Nishikawa mengikutinya.
Akhirnya,
kami dibawa ke ruang kecil yang dikelilingi sekat.
Karena berada di dekat dinding, sepertinya tempat ini
tidak terlihat dari luar. Di dalam ruang guru, suara percakapan terdengar di
mana-mana.
“Silakan
duduk.”
Nishikawa
dan aku duduk di kursi pipa. Di meja di depan kami, terdapat meja dengan empat
kaki logam dan permukaan kayu. Di sudut meja, ada keranjang kecil yang entah
kenapa berisi berbagai jenis permen.
“Mau
coba?”
Sebelum
kami sempat menjawab, Sensei menggulirkan sekitar tiga buah
permen ke depan kami. Karena tidak enak juga untuk menolaknya, aku mengambil satu. Nishikawa
melakukan hal yang sama.
“Tiba-tiba memberi
permen, Sensei tuh mirip seperti
nenek-nenek dari Kansai ya?”
“Aku
hanya memberikannya karena kamu melihat. Kamu
tidak mau?”
“Aku
pernah ke meja guru, tapi tidak pernah sampai ke bagian dalam, jadi ini agak
aneh.”
Karena
aku tidak berniat untuk memakannya, jadi aku menyimpannya di dalam
tas.
“Jadi, Sensei,
ada urusan Anda memanggil kami?”
Nishikawa
bertanya sambil memasukkan permen ke dalam
mulutnya.
“Ah,
tidak ada yang serius. Ada beberapa hal yang ingin kutanyakan... Dan jika
memungkinkan, aku juga ingin kalian membantu.”
“Aku
mempunyai firasat buruk...”
Aku
mengangguk setuju dengan Nishikawa.
Sejujurnya,
ketika kami berdua dipanggil ke sini, aku sudah bisa menebak isi
pembicaraannya. Ada
satu kesamaan antara aku dan Nishikawa. Itu adalah──
“Ini
mengenai Enami. Aku ingin kalian memberi
tahu kepadaku cerita yang kalian ketahui.”
Seperti
yang kuperkirakan. Namun, jika itu benar, ada hal yang harus kukatakan.
“Tolong tanyakan saja langsung kepada
orangnya.”
“Benar,
wajar saja kamu berpikir demikian, tetapi sebelum
itu, dengarkan dulu penjelasanku.”
Dengan
memasukkan tangan ke dalam keranjang, kali ini Sensei
membuka salah satu permen dan memasukkannya ke mulutnya. Suara permen yang
bergulir terdengar di telinga.
“Ada
pepatah yang mengatakan 'menempatkan orang yang tepat di tempat
yang tepat'. Sebenarnya, apa yang bisa dilakukan oleh
setiap orang itu cukup sedikit. Oleh karena itu, bergerak dengan masing-masing
peran untuk mencapai satu tujuan sering kali lebih berhasil.”
“Aku
tidak mengerti maksudnya...”
“Intinya,
aku tidak bisa berbicara langsung dengan Enami untuk mendapatkan informasi.”
Itu
adalah cerita yang cukup menyedihkan. Mungkin itulah sebabnya dia mengatakannya
dengan cara tidak langsung.
“Jangan
melihatku seperti itu. Aku juga merasa tidak enak bergantung pada murid. Namun,
coba pikirkan baik-baik. Ada berapa orang di sekolah
ini yang bisa berkomunikasi lancar dengannya?”
“Yah...”
Aku
memang tidak bisa membantahnya. Aku tahu Sensei juga mengalami kesulitan.
“Ehm, sensei...” Nishikawa membuka mulutnya
dengan sedikit kesal. “Aku
mungkin tidak bisa banyak membantu.”
Dia terus
memainkan ujung rambutnya. Kakinya disilangkan, dan matanya mengarah ke arah
yang tidak jelas.
“Padahal aku
belum menjelaskan secara rinci...”
“Ini
pasti tentang masa depan Risa-chan atau semacamnya. Itu bukan urusanku.”
“Uh...”
Sepertinya
itu tepat sasaran. Sebelumnya, ada survei harapan karir, dan mungkin ini adalah
kelanjutannya.
“Sudah kuduga pasti begitu.
Risa-chan pasti memiliki pemikirannya sendiri. Mungkin sensei ingin
membimbingnya dengan cara tertentu, tetapi aku tidak berniat untuk membantu.”
Nishikawa
mengganti posisi kakinya.
Sensei
menatap ke arahku dengan pandangan putus asa. Namun, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa.
Apa yang
dikatakan Nishikawa sangatlah
benar. Menghormati keinginan orang itu penting. Meskipun aku tidak tahu apa
yang sedang terjadi, Enami-san
juga pasti memikirkan masa depannya sendiri.
Hal-hal yang mungkin terlihat buruk bagi orang lain bisa jadi sangat penting
bagi dirinya.
Bahkan
jika aku bisa meyakinkannya, aku tidak bisa bertanggung jawab atas itu.
“Setidaknya,
aku bisa mendengarkan ceritanya dulu.”
Namun,
pada tahap ini, informasi yang ada terlalu sedikit. Aku memutuskan untuk mendorongnya
melanjutkan cerita.
Sensei
yang tampak lega menghela napas sebelum mulai berbicara.
“Aku
juga merasa seharusnya tidak terlalu ikut campur. Sungguh. Aku tidak berniat
untuk memutarbalikkan keinginannya. Aku hanya ingin memastikan apa yang dia pikirkan.”
“...Ngomong-ngomong,
meskipun Sensei bertanya
kepada Enami-san, dia
tidak akan memberi jawaban, kan...”
“Itu
benar. Kamu cepat menangkapnya. Memang layak menjadi peringkat satu di kelas.”
Pujian yang
terakhir itu tidak perlu. Sensei lalu
berkata sambil mengunyah permen, pipinya membengkak.
“Sebelumnya,
aku sudah melakukan wawancara dengannya untuk survei harapan karir.
Berkat Okusu, aku bisa mendengar ceritanya, tetapi pada dasarnya hanya jawaban
yang samar-samar. Konten spesifiknya adalah privasi, jadi aku tidak bisa
menyampaikannya, tetapi aku sama sekali tidak bisa melihat apa rencananya
setelah lulus dari sekolah ini.”
“Samar-samar?”
“Mungkin
lebih baik kalau disebut sengaja menghindari.
Jika dia belum memutuskan, seharusnya dia bisa mengatakannya, tetapi dia
berusaha mengaburkan hal-hal penting. Setelah wawancara, aku terus bertanya,
tetapi hanya mendapatkan kata-kata yang tidak jelas.”
“...Sensei, sepertinya Anda tidak terlalu dipercaya.”
“Tidak,
yah, umm...”
Sepertinya
itu hal yang dikhawatirkannya,
dan ekspresinya tampak lesu.
Terdengar
suara mesin fotokopi yang terus-menerus mengeluarkan kertas dari dalam ruang staf. Kami
merasakan kehadiran salah satu guru yang berjalan di balik sekat, sehingga kami terdiam.
Setelah
memastikan suara langkah kaki itu menjauh, Shiroyama-sensei
membuka mulutnya.
“Pokoknya,
aku tidak tahu apa-apa. Mengapa dia harus menghindar? Apa hanya karena dia
tidak ingin memberitahuku tanpa alasan yang berarti? Sejujurnya, jika begini
terus, aku merasa cemas.”
“Bukannya
dia hanya memikirkan sesuatu yang harus disembunyikan?”
Aku
teringat kata-kata Enami.
“(Ketika aku megetahui kamu berusaha mencobanya sekali lagi
setelah 'rusak' sekali, aku sangat berharap untuk menjadi
seperti kamu.)”
“(Jika
kita bersama, mungkin aku bisa menemukan jawaban untuk masalah yang aku
hadapi.)”
Kupikir itu
merupakan pernyataan dari seseorang yang sudah melihat ke
depan dengan jelas. Aku sudah mendengar
sebagian dari apa yang dia tanggung.
Aku
berpikir bahwa Sensei tidak
perlu khawatir tentang Enami-san.
“Aku
tidak menganggapnya begitu serius. Belakangan ini, aku tidak melihat masalah
besar pada Enami. Hanya saja, aku merasa cemas, jadi aku ingin tahu sedikit
informasi yang bisa kamu berikan.”
“....”
“...Apa
itu tidak mungkin?”
Aku
melirik ekspresi Nishikawa di sampingku.
Sejak tadi, sikap Nishikawa tidak banyak berubah. Mungkin, Nishikawa tidak
berniat untuk berkolaborasi apapun yang dikatakan.
Itulah
sebabnya
Sensei hanya melihatku.
Namun,
apa yang bisa kukatakan juga terbatas. Aku berpikir tentang apa yang harus
kukatakan dan akhirnya menjawab, “Kurasa
tidak apa-apa”.
Sejujurnya, aku juga tidak tahu mengapa Enami-san tidak memberi tahu guru. Bahkan
aku sendiri tidak mendengarkan dengan baik.
Tapi, sepertinya
itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan.
“Begitu ya... Setidaknya aku akan bertanya padamu, Nishikawa, bagaimana denganmu?”
“Tanpa
komentar.”
“...Mengerti.”
Mungkin
Nishikawa mengetahui sesuatu. Hubunganku dengan Enami-san baru dimulai sekitar dua bulan
yang lalu, tetapi Nishikawa seharusnya sudah berteman dengannya lebih dari satu tahun.
Tidak mengherankan jika dia mengetahui sesuatu yang tidak aku
ketahui.
“Baiklah,
untuk saat ini, itu saja yang ingin kutanyakan. Aku akan sangat menghargai jika
kamu bisa memperhatikan apa yang aku katakan.”
Ketika
ditanya apakah ada yang ingin kami
minta atau diskusikan, baik aku maupun Nishikawa menggelengkan kepala.
Setelah
urusan kami selesai, kami keluar dari ruang staf dan berdiri di koridor.
“Ampun deh...”
Sepertinya
dia sudah menghabiskan permen, karena suara permen di mulutnya sudah tidak
terdengar.
“Hmm?”
Ada
suasana tidak nyaman yang masih tersisa, seperti yang kurasakan di ruang staf.
Namun, Nishikawa segera kembali
tersenyum ceria seperti biasa.
“Sensei
juga terlalu cemas, ya. Aku terkejut karena mendadak dipanggil begitu~.”
“Benar.”
“Padahal Risa-chan juga punya pemikirannya sendiri, jadi
seharusnya dia bisa dibiarkan
saja.”
“Apa kamu
mengetahui sesuatu, Nishikawa?”
Nishikawa
tampak bingung sejenak sebelum tersenyum pahit.
“Aku
tidak tahu. Tapi, itu bukan urusan kita untuk menyelidikinya, ‘kan?”
“Yah...”
Nishikawa
mulai berjalan terlebih dahulu, meninggalkanku yang
masih berdiri termenung.
Meskipun
ada yang mengganjal dalam cara bicara Nishikawa, aku setuju dengan pendapatnya.
Sensei hanya terlalu khawatir, dan
sepertinya itu bukan hal yang perlu dipikirkan terlalu dalam.
“Sebentar
lagi bahkan ada ujian akhir juga, jadi aku berharap tidak
menghabiskan terlalu banyak waktu.”
“Benar
banget~. Kalau dalam kasusku sih,
aku ada urusan setelah ini.”
Ketika
kami kembali ke ruang
kelas, tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Enami-san
tampaknya sudah pulang sendirian tanpa menunggu kami.
“Kalau gitu,
sampai jumpa lagi, Naocchi.”
Nishikawa
pergi meninggalan ruang kelas
dengan ceria.
Ruangan kelas
berubah menjadi sunyi. Sepertinya kelas ini sudah dibersihkan, karena
meja-meja sudah kembali ke tempatnya.
Sambil
mengatur barang-barang di dalam meja yang terganggu oleh tirai yang melambai,
aku meninggalkan kelas.
◇◇◇◇
“Aniki,
jangan-jangan kamu sudah punya pacar?”
Pertanyaan
itu muncul saat kami sedang makan malam dan menyantap hot pot. Di atas meja,
ada panci tanah liat berwarna cokelat muda yang mengeluarkan uap putih.
“Kenapa
kamu bertanya seperti itu?”
“Ini
jadi bahan pembicaraan. Bukan tentang Aniki,
tapi dari pihak si gadis.”
Setelah
mendengar penjelasan lebih lanjut, sepertinya orang-orang mengira aku berpacaran dengan Enami-san. Aku menyadari seberapa hebatnya
Enami-san yang sudah dikenal di kalangan
siswa dari angkatan lain.
“Seriusan, kami tidak berpacaran. Aku terlalu sibuk setiap hari
untuk punya waktu untuk itu.”
“Woahh...”
“Apaan maksud 'wow' itu?”
“Kamu
terlalu serius.”
Namun,
sepertinya cara bicaraku kali ini berhasil diyakini. Dia tampak puas dengan
pemikirannya sendiri.
“Aku
juga pernah melihat orang yang Enami-san ini, dan dia benar-benar cantik. Dia
bukan pasangan yang cocok untuk Aniki,
dan sepertinya kalian tidak memiliki kepribadian yang cocok.”
Pendapatnya
sendiri memang tidak salah, jadi aku tidak bisa
membantah.
Sayuran
seperti sawi, wortel, ayam, bawang putih,
burdock, dan kirittanpo sudah dimasak di dalam panci. Sakyaa terus memakannya dengan semangat sambil
mengeluarkan suara kepanasan.
Makanan hangat menghangatkan tubuh yang kedinginan.
Saat kami
berbicara tentang hal itu, ayahku pulang. Ia
melemparkan jasnya di atas sofa dan mulai mengintip ke dalam panci yang
mengeluarkan uap.
“Oh,
seperti biasa, kamu sangat
perhatian ya Naoya. Hangat
dan... tidak terlalu pedas.”
Aku
melambaikan tangan seolah-olah mengusirnya.
“Tolong
cuci tanganmu dan
berkumur dulu, Ayah.”
“Aku
mengerti, aku bukan anak kecil.”
Tapi dirinya seperti anak kecil, jadi aku mengatakan itu dengan lantang.
Sementara
ayah keluar dari ruang tamu, aku mengeluarkan piring kecil untuknya dan
mengambil bahan dari panci dengan sendok. Mungkin tidak perlu repot-repot
sampai sejauh itu, tetapi ada alasan di baliknya.
Ketika
ayahku duduk di meja makan setelah mengikuti perintahku, Sayaka berkata,
“Hei,
Ayah memahaminya, ‘kan?”
“Apa?”
Wajahnya
tampak bingung. Kerutan muncul di dahi Sayaka.
“Sayuran.
Ayah selalu berusaha mengambil
daging.”
“It-Itu
tidak benar kok. Seorang pria dewasa tidak akan melakukan
hal memalukan seperti itu.”
Ayah
mencoba mengambil dari panci dengan sendok, dan segera menyadari bahwa piring
kecilnya sudah disiapkan. Kemudian, ekspresinya sedikit kecewa.
“Naoya, ini kamu yang menyiapkannya?”
“Ya.”
“Bukankah
sayurannya terlalu banyak? Aku bisa makan dengan baik tanpa
harus melakukan ini.”
“Jangan
berbohong. Lagipula, porsinya tidak
sebanyak itu.”
“Ugh...
sayuran...”
Ia
mengangkat sawi dengan sumpit dan menunjukkan ekspresi tidak suka. Kemudian, ia
menutup matanya dan memasukkannya ke dalam mulut.
“Ngomong-ngomong,
hasil pemeriksaan kesehatan baru-baru ini tidak terlalu baik, ‘kan? Kamu tidak makan sayuran dan
pola makanmu tidak sehat, jadi itu
semua terakumulasi.”
“Naoya... Sayaka membullyku dengan argumen yang benar...”
“Lagipula
kenyataannya memang begitu, jadi terima
saja. Lagipula, Sayaka, kamu
juga tidak bisa mengkritik orang lain.”
Dia
biasanya sering ngemil. Sehingga aku
selalu mengingatkannya setiap kali.
“Aku
sih tidak masalah. Karena aku masih muda.”
Oleh karena
itu, aku menambahkan sayuran ke piring kecil Sayaka.
Sayaka marah dan berkata, “Kenapa malah ditambah!” tetapi karena dia sudah mengeluh
kepada ayah, dia tampak tidak bisa melanjutkan.
“Haha. Rasain. Bagus sekali, Naoya.”
“Kalau
kamu terus bicara, porsi ayah juga akan ditambah.”
“Aku
akan senang memakannya!”
Sungguh
merepotkan. Ini seperti pertengkaran di antara
anak-anak.
Setelah
itu, kami makan dengan tenang tanpa banyak bicara. Saat panci hampir kosong, Sayaka tiba-tiba mengingat
pembicaraan tentang Enami-san
sebelumnya.
Ayah
langsung bereaksi.
“Apa!?
Kamu sudah punya pacar!?”
“Bukan
itu. Dengarkan baik-baik ceritanya napa.”
Aku
menyampaikan kembali apa yang tadi kukatakan kepada Sayaka.
Ayah
mengusap dagunya beberapa kali sambil tersenyum dan berkata, “Oh, begitu ya.”
“Ayah pasti
tidak mempercayainya, ‘kan?”
“Tidak,
mana mungkin aku tidak percaya padamu. Bagaimanapun juga, hebat sekali, Naoya.”
“Apa ayah
mendengarkan apa yang aku katakan?"
“Aku
mendengar, aku mendengarnya kok. Jadi, Naoya juga sudah berkembang, ya.”
Rasanya
tidak ada gunanya melanjutkan argumen ini, jadi aku memilih untuk diam.
Mungkin
dia sangat senang, karena ayah mulai mengoceh tentang “Bawa dia ke rumah lain kali” dan “Jangan
terlalu berlebihan dan jaga batasan,” yang tidak jelas maksudnya, jadi
aku mengabaikannya.
“Tapi,
jadi hubungan kalian sangat akrab
meskipun tidak seperti itu?"
Sayaka bertanya sambil menggigit
sumpit.
“Aneh.”
...Aneh,
ya. Aku juga berpikir begitu.
Seharusnya
tidak ada hubungan antara aku dan Enami-san.
Kami tidak pernah mencoba berinteraksi atau bahkan berbicara dengan baik. Tidak
ada yang akan percaya bahwa teguran
yang aku berikan merupakan
penyebabnya.
Aku
menganggap kalau Enami-san adalah temanku. Tapi, hubungan kami sedikit
berbeda dari pertemanan
biasa.
Itu adalah
hubungan yang lebih samar daripada sekadar ingin bersama.
Tidak sedingin kewajiban, meskipun ada sedikit kenyamanan dalam hubungan ini,
tetapi aku tidak merasakan adanya ikatan yang jelas.
Itulah
sebabnya aku tidak bisa menjelaskan hubungan aneh ini dan
perasaanku tentangnya dengan cara yang bisa dipahami orang lain. Bahkan jika
aku menjelaskan dari awal bagaimana semuanya terjadi, atau jika mereka
menyaksikannya sendiri, aku merasa mereka tidak akan mengerti.
Dalam
pengertian itu, keberadaan Enami mungkin “istimewa”.
Demi
mengalihkan perhatian, aku berkata, “Ngomong-ngomong,
tentang ujian akhir—” lalu Sayaka
menjadi tidak senang dan tidak membahas tentang Enami-san lagi.
◇◇◇◇
“Mengenai
bagian ini sini, aku tidak tahu bagaimana harus
memikirkannya...”
“...Hmm.”
“Jadi,
aku menulis ini karena kupikir itu maksudnya, tapi tetap saja tidak seperti
itu.”
“...”
“...Apa kamu mendengarkanku?”
Suara Enami-san yang terdengar jengkel membuatku kembali
fokus.
Keesokan
harinya setelah mendengar penjelasan dari Shiroyama-sensei. Saat istirahat, aku
ditanya tentang pelajaran. Seperti
biasanya. Percakapan yang sama seperti
biasanya. Sambil berdiri di samping kursi Enami-san,
aku menyadari perasaanku yang agak melayang.
“Aku
mendengarnya kok.”
“Benarkah?”
“Seriusan.
Pinjam pulpenmu sebentar.”
Setelah
cepat menulis dengan pulpen, aku mulai menjawab pertanyaan tersebut. Aku
menyadari dia salah paham pada bagian dasar, jadi jika dia bisa memahaminya,
semuanya akan segera jelas.
Sepertinya
dia benar-benar belajar dengan baik untuk ujian akhir. Mengingat kemampuan
akademisnya belakangan ini, bukan tidak mungkin dia bisa mendapatkan nilai di
atas rata-rata, bahkan menghindari nilai merah.
Sepertinya
dia tidak mempunyai pertanyaan lain, jadi aku merasa tugasku sudah
selesai, tapi Enami-san diam-diam menatap wajahku.
Rasanya seperti dia sedang melihat ke dalam hatiku.
“Ap-Apa?”
“Bukan
apa-apa sih. Maksudku, bukannya wajahmu kelihatan memerah, ya?”
“Sma sekali
tidak.”
“Aku
mengatakan ini karena justru itulah yang terjadi.”
Jika
situasi seperti ini terjadi dalam jarak dekat, tentu saja ada rasa malu. Enami-san tertawa “hehe”
dan akhirnya berhenti menatapku.
“Kamu
benar-benar belajar dengan baik. Bahkan jika ditanya tiba-tiba, kamu bisa
langsung menjawab, itu tidak biasa, kan?”
“Enggak
juga. Hanya kebetulan saja.”
Sebenarnya,
aku juga tidak sempurna. Ada banyak hal yang tidak aku mengerti. Hanya saja,
rentang yang tidak aku pahami lebih sempit dibandingkan orang lain, bukan
berarti aku jauh lebih baik.
“Tapi,
apa yang ingin kamu lakukan setelah
belajar begitu banyak?”
Dia
bertanya dengan rasa penasaran.
“Aku,
setidaknya, ingin masuk Universitas
Higashihashi.”
“Oh...”
Universitas
Higashihashi. Universitas yang dianggap terbaik di negara ini. Sekolah kami merupakan sekolah yang berfokus pada
persiapan masuk kuliah, tetapi
tidak banyak yang melanjutkan ke Universitas Higashihashi. Karena di sekolah
menengah kami ada jalur lanjutan yang otomatis.
Tapi, aku
tetap ingin mencapai puncak tertinggi.
Aku tidak bisa lengah dan mengendurkan usaha.
“Aku
tidak ingin membuat ujian ini menjadi taruhan. Aku ingin belajar sampai
memiliki kemampuan yang hampir pasti untuk lulus, dan ingin lulus dengan
tenang. Dalam satu tahun lagi, ujian sebenarnya akan dimulai, jadi aku tidak
bisa menurunkan peringkatku.”
“Hmm.”
Meskipun
dia yang bertanya, sepertinya dia tidak terlalu tertarik.
“Kalau
Enami-san sendiri gimana?”
Tiba-tiba,
pertanyaan itu terlontar
dariku seperti balasan. Aku benar-benar tidak
terlalu memikirkannya. Secara kebetulan, aku menanyakan hal yang sama seperti Shiroyama-sensei, dan baru menyadarinya
setelah mengucapkannya.
Setelah keheningan sejenak, Enami-san berkedip cepat. Aku bisa melihat
bulu matanya yang panjang bergerak seiring dengan gerakan matanya.
Kemudian,
dia bersandar dengan pipi di tangannya,
menatap keluar jendela sambil berkata,
“Entahlah.”
Hmm?
Pada saat itulah aku merasa ada yang aneh. Aku tidak merasakan apa-apa ketika Shiroyama-sensei meminta bantuanku,
tetapi tiba-tiba ada ketidaknyamanan yang muncul di pikiranku.
Enami-san bukanlah tipe orang yang banyak
bicara, tetapi ada kesan seolah-olah dia sedang mengelak.
“Universitas?”
“Entahlah.”
“Kerja?”
“Entahlah.”
“Lantas,
apa?”
Meskipun
aku mengulangi pertanyaan, Enami-san masih
memberikan jawaban yang tidak jelas.
Aku merasa tidak baik untuk mendalami lebih jauh, jadi aku memilih untuk
diam.
Aku meyakini
kalau jawabannya juga seperti ini dengan guru. Aku bisa
dengan mudah membayangkan Enami-san
memberikan jawaban yang tidak jelas seperti ini dalam percakapan sekarang.
...Oh,
jadi itu alasan mengapa guru merasa cemas.
“Sudah kuduga.”
Enami-san menggumam dengan ekspresi sedih.
“Jadi, itulah alasan kamu dan Nishikawa
dipanggil kemarin, ya.”
“...Tidak,
itu bukan alasannya.”
“Selama
ada jeda sebentar itu, sama saja dengan
mengiyakan.”
Dia
terlihat tidak marah. Mungkin alasan mengapa
dia menatap wajahku sebelumnya karena
untuk menyelidiki hal ini.
“...Sebenarnya,
aku tidak berniat seperti itu.”
“Tidak
apa-apa. Aku yang pertama kali membahas masa depan.”
Sinar
matahari yang menembus melalui
kaca terasa sedikit lebih kuat. Sepertinya
awan mulai bergerak.
Di balik pepohonan hijau yang bergetar, ada lapangan kosong yang luas
tanpa ada siapa-siapa. Enami-san mengulurkan lengan cardigan-nya
dan menghembuskan napas ke telapak tangan yang setengah tertutup.
Rambut Enami-san sedikit melambai. Matanya
berkedip berulang kali.
Sekarang
matanya tidak lagi menatapku. Ketika aku melihat jam yang tergantung di dinding
depan kelas, pelajaran berikutnya akan dimulai dalam sekitar satu menit.
Aku
menjauh dari tempat duduk Enami-san
dan kembali ke tempat dudukku sendiri.
Sambil
menyiapkan materi pelajaran
berikutnya, aku memikirkan ketidaknyamanan yang kurasakan sebelumnya.
──Sebenarnya,
apa yang sedang dia
pikirkan?
Ketidaknyamanan
di dalam hatiku muncul untuk pertama kalinya.
◇◇◇◇
Hari berikutnya.
Pagi hati. Setelah turun dari kereta, aku sedang dalam perjalanan menuju sekolah ketika melihat Enami-san yang berjalan di depan.
Sepertinya
dia sendirian. Aku sedikit ragu untuk menyapanya, tetapi aku segera mendekat dengan langkah cepat.
“Selamat
pagi.”
Enami-san melihat wajahku dan mengangguk
kecil.
Sebelum
aku mendekat, aku tidak menyadari bahwa dia memakai earphone. Meskipun ada
kabel, tapi itu tersembunyi di
balik rambutnya.
“...Tunggu
sebentar.”
Dia
memainkan ponselnya, menghentikan musik, lalu menyimpan earphone ke dalam tas
sekolahnya. Saat menghentikan musik, aku sempat melihat layar ponselnya, dan
sepertinya dia mendengarkan lagu dengan judul dalam bahasa Inggris. Judulnya
tidak pernah aku lihat sebelumnya, jadi mungkin itu lagu barat.
“Maaf,
aku tidak tahu kalau kamu sedang
mendengarkan musik.”
“Tidak
apa-apa. Lagipula, tumben sekali kamu
terlambat datang ke sekolah, ya?”
Itu
benar. Seharusnya, aku sudah
datang sekitar 20 menit lebih awal.
“Karena keretanya mengalami keterlambatan.”
“Hmm...”
Jumlah
siswa yang berjalan menuju sekolah lebih
banyak dari biasanya. Ketika angin bertiup, semua orang membungkuk dan terlihat
kedinginan. Sekarang, bahkan jika aku dan Enami-san
berjalan berdampingan, perhatian yang kami terima sudah berkurang. Saat kami mendekati penyebrangan zebra cross,
lampu lalu lintas baru saja berubah dari hijau menjadi merah. Beberapa siswa
berlari melewati dengan mepet, tetapi Enami-san
tidak terlihat terburu-buru dan segera berhenti.
Dari
sini, jalannya menanjak. Enami-san berkata
sambil memegang tas di belakangnya,
“Aku
ingin mendapatkan SIM secepatnya...”
Dia
melihat mobil-mobil yang melintas. Suara mesin mobil membuat suara siswa di
sekitarnya hampir tidak terdengar.
“Kenapa?” tanyaku, dan Enami
menjawab,
“Karena
terlihat menyenangkan.”
“Ya...”
Sebenarnya,
aku merasa jenuh dengan jalan menuju sekolah yang banyak tanjakannya. Mungkin rasanya menarik bisa maju hanya dengan
menginjak pedal gas sambil duduk.
SIM bisa didapatkan
setelah berusia 18 tahun. Meskipun ulang tahunku lebih awal, sebenarnya aku
baru bisa mendapatkannya sedikit lebih lama lagi.
“Memangnya kamu
tidak menginginkannya? Banyak yang mengambilnya
setelah diterima di universitas, kan?”
“Aku
tidak terlalu memikirkannya. Rasanya tidak perlu terburu-buru untuk
mendapatkannya.”
“Kalau aku
sih pasti akan segera mengambilnya.”
Ayahku
memiliki mobil di rumah. Ayahku agak pemalas, jadi dia
jarang mengemudikan mobil, tetapi jika aku mendapatkan SIM, aku bisa melakukan
banyak hal. Jadi tentu saja itu menjadi
menarik.
“Tapi,
mungkin sepertinya cara mengemudi Enami-san agak
menakutkan.”
Aku tanpa
sengaja mengucapkannya. Enami-san
memberikan tatapan tajam padaku.
“Aku
bercanda kok.”
“Meskipun
aku
mendapatkan SIM, aku tidak akan membiarkanmu ikut menumpang.”
Tapi, aku
khawatir bagaimana sifat keras kepala Enami-san
akan muncul saat mengemudikan.
Ngomong-ngomong,
ayahku mengemudikan mobil dengan
sangat hati-hati. Bahkan ketika sudah saatnya untuk pergi, dia selalu khawatir
melihat kiri dan kanan dan tidak segera maju.
“Apa
ada tempat yang ingin kamu tuju?”
Enami-san membalas dengan
menggelengkan kepalanya.
“Bukannya begitu.
Tapi, bukankah rasanya lebih menyenangkan
jika jangkauan kebebasanmu semakin luas? Bisa pergi ke tempat yang diinginkan
saat terlintas di pikiran itu bagus, bukan? Sekarang, paling-paling aku hanya
bisa mengajak teman sekelas yang baik hati untuk menginap di warnet.”
“Benar banget, aku berharap kalau kamu jangan mengajakku di malam hari."
“Meski
begitu, kamu tetap mau datang, jadi kamu memang baik hati.”
Ngomong-ngomong,
hal yang serupa terjadi sekitar
dua minggu yang lalu. Entah bagaimana, alasan
kenapa aku akhirnya mengikuti kemauan Enami-san akibat
dari kehendakku yang lemah.
Enami-san tersenyum nakal.
“Bagaimana
kalau aku memanggilmu sehari
sebelum ujian?”
“Itu
benar-benar akan merepotkanku, jadi tolong jangan lakukan itu, ya? Mungkin saat
itu aku akan mengabaikannya.”
“Aku
tahu. Aku juga berencana untuk mendapatkan nilai yang lebih baik di ujian kali
ini.”
“Oh,
sepertinya kamu percaya diri."
Melihat perkembangan Enami-san belakangan ini, sepertinya dia
benar-benar akan mendapatkan nilai yang bagus.
“Karena
aku memiliki guru yang baik.”
“Guru
yang bisa membawa siswa yang hampir tidak lulus menjadi seperti itu, memang
guru yang hebat.”
“Ada
juga fakta bahwa siswa memiliki potensi yang tinggi.”
Bagaimanapun juga, jika Enami-san bisa mendapatkan nilai bagus, aku
juga ikutan merasa senang.
Aku teringat
percakapan kemarin.
(Entahlah)
Ketidaknyamanan
yang kurasakan saat itu perlahan-lahan memudar. Enami-san bukanlah tipe orang yang banyak
bicara tentang dirinya sendiri. Menghindari
hal itu juga merupakan hal yang wajar.
── Karena Sensei mengatakan
hal-hal seperti itu.
Karena
sebelumnya aku diberi tahu bahwa “mungkin
ada sesuatu”,
jadi secara tidak sadar aku
menjadi bias. Tanpa perlu berpikir keras, sudah biasa bagi Enami-san untuk menghindar saat membahas
dirinya sendiri.
Pada
akhirnya, baik Sensei
maupun aku masih belum bisa memahami kepribadian Enami-san. Jika kita mencoba mengukurnya
dengan tolok ukur orang biasa, kita hanya akan merasakan ketidaknyamanan di
tempat yang menyimpang.
Aku tidak
tahu apa yang dipikirkan Enami-san,
tetapi sekarang kami bisa berbicara seperti ini, jadi itu bukan masalah
besar.
“Ngomong-ngomong, berapa target nilaimu?”
Saat aku
bertanya, Enami-san
mengarahkan pandangannya ke atas sedikit.
“Sedikit
di bawahmu?”
“Begitu.”
Tepat
pada saat itu, lampu lalu lintas untuk pejalan kaki di depan kami berubah
menjadi hijau.
Kami
mulai berjalan perlahan lagi. Suara langkah kaki kami berdua saling tumpang
tindih. Aku juga memperhatikan bahwa Enami-san
berkedip lebih sering. Meskipun dia tidak menguap, wajahnya terlihat mengantuk.
“Kerja
paruh waktu?”
Enami
segera mengangguk.
“Sebelum
ujian, aku mengurangi jam kerja.”
Ngomong-ngomong,
aku ingat pernah mendengar bahwa dia sedang menabung. Mengingat situasi
keluarganya, mungkin dia membutuhkan uang untuk berbagai hal.
“Bukannya
lebih baik kalau kamu tidak perlu memaksakan diri?
Kalau sampai jatuh sakit, itu malah jadi masalah. Jika kamu kekurangan tidur, performamu bisa turun drastis.”
“…Memangnya kamu tidak ngaca ya?”
“Uh.”
Memang benar, aku juga tidak bisa terlalu
mengkritik orang lain. Jumlah belajarku seharusnya lebih banyak daripada Enami-san, dan meskipun aku tidak bekerja,
aku sibuk dengan pekerjaan rumah.
“…Ada banyak hal yang ingin kulakukan.
Demi mewujudkan itu, aku membutuhkan uang. Tadi aku juga bilang ingin
mendapatkan SIM, ‘kan? Jika
aku membeli mobil sendiri, itu akan semakin banyak mengeluarkan uang.”
“Hal
yang ingin dilakukan...”
“Benar.
Aku juga memikirkan banyak hal.”
Ketika melihat
ekspresi Enami-san, aku
merasa ada sesuatu yang gelap seperti bayangan yang pernah aku lihat
sebelumnya, dan perasaan bingung muncul dalam diriku.
──
Hah?
Entah
kenapa, aku merasa seolah-olah melewatkan sesuatu yang penting, seolah-olah ada
kekosongan di dalam dadaku.
Aku tidak ingin dikuasai oleh intuisi semacam ini, tetapi perasaan itu
mengendap seperti benjolan dan tidak mau menghilang dari dalam diriku.
“Apa
yang sebenarnya ingin kamu lakukan, Enami-san?”
Itulah
sebabnya aku bertanya padanya.
Namun, jawabannya sangat singkat.
“Entahlah.”
Itu
adalah kata-kata yang persis sama dengan yang aku dengar kemarin. Ada suasana
yang jelas-jelas menghindari untuk mengungkapkan sesuatu setelah melewati batas
tertentu.
Mungkin Enami-san merasakan kebingunganku, dia
melanjutkan,
“Apa
kamu merasa sangat penasaran dengan itu?”
“……”
Rasa
kantuk di pagi hari dan dinginnya udara luar tidak ada hubungannya dengan
diriku saat ini. Namun, tanpa memperhatikan perasaanku, Enami-san tersenyum sedih dan
berkata,
“Tapi,
aku tidak akan memberitahumu.”
Ada suasana
yang jelas-jelas melarangku untuk masuk lebih dalam.
…Aku didorong menjauh.
Begitulah rasanya. Di balik satu dinding
yang sudah aku lewati, ada dinding lain yang muncul—bahkan ada ilusi seperti
itu.
Dia yang
sebelumnya berbicara ingin mengenalku, tetapi tidak mau menceritakan tentang
dirinya. Dia benar-benar tidak membuka hatinya.
Hal itu
terasa begitu jelas.
“Begitu,
ya.”
Aku hanya
bisa membalas dengan kata-kata yang sangat sedikit.
Mungkin
ada semacam kebanggaan dalam diriku bahwa aku bisa akrab dengan Enami-san. Namun, kenyataannya tidak
demikian. Mungkin kami sedikit saling mengenal dan memahami, tetapi terlalu
banyak hal yang masih kurang.
Enami-san terus melangkah maju. Aku
mengikutinya dengan
sedikit tertinggal.
Akhirnya,
kami sampai di gerbang utama, dan jumlah siswa di sekitar kami semakin meningkat. Suasananya tidak lagi cocok untuk
melanjutkan pembicaraan yang tadi, dan kami hanya bisa terus berjalan tanpa
banyak bicara.
Setelah
berjalan beberapa langkah di depan, Enami-san menoleh ke arahku.
“Kamu kenapa? Sampai memasang wajah
aneh begitu?”
Di sana,
ada senyuman seperti biasa.
Rambut
cokelatnya yang panjang. Mata yang indah. Kulit
putih yang tembus pandang.
Tampilan
yang sangat sempurna, tetapi ada sosok gadis
yang tidak membiarkan siapa pun mendekat atau diterima, yang masih ada di
sana.
“……”
Aku
terdiam sejenak, memikirkan banyak hal dalam kepalaku, lalu menjawab,
“Bukan
apa-apa.”
Enami-san memiringkan
kepalanya sebentar lalu kembali menatap ke
depan.
── Tidak
ada yang bisa kita lakukan.
Seperti
yang dikatakan Nishikawa, ini adalah wilayah yang tidak bisa aku ubah. Jadi, aku hanya bisa diam dan
menerima kenyataan itu.
Hembusan
angin bertiup melewatiku,
dan debu pasir di lapangan terangkat di bawah kakiku.
Suara
gemerisik itu bergema di telingaku.
Sebelumnya Selanjutnya
