Chapter 1 — Sang Aktris Terkenal: Konohana Hinako
“Pilihan pertama Kelas 2-A adalah melakukan pertunjukan
teater!! Bagi yang tidak setuju, silakan angkat tangan!!”
Asahi-san,
yang sepertinya menjadi
koordinator persiapan festival budaya kelas
2-A, mengumumkan hal demikian saat berdiri di depan papan tulis.
Tidak
ada teman sekelas yang mengangkat tangan mereka setelah mendengar suara keras Asahi-san. Usai memastikan semua sepakat,
Asahi-san berjalan dengan cepat menuju tempat dudukku.
“Jadi,
Tomonari-kun, aku menyerahkan
sisanya padamu!!”
“Baiklah.
Bagaimana dengan pilihan
kedua dan ketiganya?”
“Hmm~~... mungkin kedai kopi atau
semacamnya?”
“Pilihannya terlalu asal-asalan sekali...”
Aku
tersenyum pahit melihat sikap Asahi-san yang jelas-jelas sembrono.
Pertunjukan
festival budaya harus mempersiapkan pilihan
hingga tiga pilihan
dari setiap kelas dan diserahkan kepada OSIS.
Jika ada banyak harapan untuk pertunjukan yang sama, pihak OSIS akan melakukan pemilihan secara
adil untuk menentukan pertunjukan kelas. Hal ini demi
menghindari situasi di mana semua kelas memilih kedai kopi...
Meskipun
pilihan pertama adalah teater, aku ingin
mereka juga memutuskan dua pilihan
lainnya. Sambil berpikir demikian, aku teringat percakapan yang kulakukan
dengan anggota OSIS lainnya beberapa waktu lalu. Seperti yang dikatakan Tennouji-san, pilihan pertama kelas 2-A sudah dipastikan untuk melakukan pementasan teater.
“Yah,
aku mengerti perasaan Asahi.”
Saat
berbicara dengan Asahi-san, Taishou datang mendekat.
“Pertunjukkan teater memiliki tingkat
persaingan yang tinggi setiap tahun, tapi sepertinya tahun ini kelas lain juga akan
memberi kesempatan kepada kita.”
“Apa
maksudmu?”
Menanggapi pertanyaanku yang keheranan, Taishou mulai menjelaskan.
“Festival
budaya di Akademi
Kekaisaran memiliki tiga pertunjukan utama yang menjadi daya tarik. Teater,
paduan suara, dan tari sosial. Ketiga pertunjukan ini memiliki tingkat
persaingan yang tinggi, dan menurutku
semua kelas menjadikan hal itu sebagai pilihan
pertama mereka.”
Taishou
berbicara sambil mengangkat tiga jari. Kemudian, Asahi-san yang berdiri di
sampingnya membuka mulut.
“Tapi,
di kelas kita ada Konohana-san yang tahun lalu bersinar dalam pertunjukan
teater! Tahun ini juga, semua orang pasti ingin melihat akting Konohana-san,
jadi mereka akan memberi kesempatan kepada kita untuk pementasan teater!”
Jadi begitu,
ya...
Aku
sudah mendengar dari Tennouji-san
bahwa Hinako berprestasi dalam teater. Karena pertunjukan teater menggunakan
panggung di aula, yang sudah memiliki batasan, jadi kemungkinan Kelas 2-A untuk melakukan teater menjadi lebih tinggi.
Itulah sebabnya semua orang sepakat
untuk memilih teater. Sepertinya semua orang ingin melihat pertunjukan Hinako.
Lebih dari itu, ada semacam rasa kewajiban
bahwa Kelas 2-A
harus melakukan pertunjukkan teater selama Hinako ada di kelas ini.
“Ehmm, ngomong-ngomong, apa Konohana-san
sendiri
tidak
masalah?”
Aku
bertanya kepada Hinako yang duduk di depan.
Hinako
menoleh dan tersenyum.
“Tentu saja. Aku akan berusaha sebaik mungkin tahun ini untuk memenuhi harapan semua orang.”
…………
Senyumannya
terlihat sangaattttttttttttt dipaksakan sekali.
Yah wajar saja sih ... mengenal sifat Hinako, jika ada waktu untuk berpartisipasi pertunjukan, dia pasti
lebih memilih untuk tidur nyenyak di rumah.
Namun,
terlepas dari perasaan sebenarnya Hinako, teman-teman sekelasnya menjadi
bersemangat dengan satu kalimat itu.
“Ko-Konohana-san...!!”
“Kita
juga harus berusaha keras agar
tidak menjadi penghalang!!”
“Aku
akan ikut les teater!!”
“Kalau
begitu, aku akan ikut pelatihan vokal...!!”
Teman-teman
sekelas seketika mulai bersemangat. Mungkin karena
terpengaruh
semangat mereka, Hinako layu seperti tanaman yang kehilangan air.
Setelah
pulang, aku akan memberinya es krim. Atau mungkin lebih baik minuman hangat
karena sudah dingin...
“Wah~~~~~~!! Aku benar-benar tidak sabar
untuk festival budaya nanti!!”
Taishou berkata demikian saat melihat teman-teman sekelas lainnya yang penuh semangat.
“Ada
apa, Taishou? Kenapa tiba-tiba jadi formal?”
“Yah, soalnya, belakangan ini banyak acara
kompetisi, ‘kan?
Seperti permainan manajemen
dan pemilihan OSIS.
Keduanya memberikan rasa pencapaian dan menyenangkan, tapi kadang-kadang aku
ingin menikmatinya
tanpa berpikir...”
“Bukannya kepalamu selalu kosong, Taishou-kun?”
“Aku
sudah menduga kamu bakalan bilang begitu!!”
“Padahal aku merasa sudah mengatakan sesuatu yang bagus~~~!” kata Taisho sambil menatap
langit. Asahi-san menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak.
Namun,
perkataan Taishou cukup menyentuhku.
Memang
persis
seperti yang ia katakan.
Ini mungkin pertama kalinya bagiku untuk menghadapi acara di Akademi Akademi
Kekaisaran tanpa adanya unsur
kompetisi.
“Eh,
tapi bagi Tomonari, acara festival
budaya juga acara yang cukup merepotkan, ya?”
“Tidak
juga.”
Aku
menjawab sambil mengingat kesibukan beberapa hari terakhir.
“Memang
rasanya
merepotkan,
tapi bukan
hanya itu saja.
Kami juga menikmatinya.”
“Apa iyaa? Kadang-kadang kamu tampak memaksakan diri, Tomonari...”
Ia
mengamatiku dengan baik... Sebenarnya, beberapa orang sudah mengajarkanku
pentingnya beristirahat.
“Tapi,
OSIS tidak bisa ikut berpartisipasi dalam pertunjukan festival
budaya, kan?”
“Benar.
Mungkin jika ada waktu, kami bisa ikut berpartisipasi, tapi...”
Melihat
jumlah pekerjaan yang harus dilakukan, sepertinya sulit. Para pengurus OSIS juga harus
memantau berbagai hal pada hari festival berlangsung.
Meski
begitu, kami tidak akan terus-menerus terikat pada pekerjaan. Karena pemantauan
dilakukan berdasarkan jadwal, kami para pengurus juga memiliki waktu untuk
bersenang-senang.
“Tomonari-kun,
jangan memaksakan dirimu, ya? Berbeda dengan sebelumnya, kami tidak bisa ikut
membantu pekerjaan
OSIS.”
“Terima
kasih. Tapi aku beneran
baik-baik saja.”
Apa aku terlihat... tidak dipercaya?
Yah, mungkin karena aku sudah
melakukan banyak hal yang tidak masuk akal sebelumnya, jadi wajar jika mereka berpikir begitu...
Namun,
meskipun aku menghargai kekhawatiran mereka berdua, kali ini bukanlah sekadar
basa-basi. Kata-kata tentang menikmati festival budaya itu berasal dari hatiku.
Pengalaman
mengelola acara ini memang baru bagiku, tapi rasanya cukup menarik. Hal ini mungkin
karena sebagian besar siswa memiliki pemikiran yang sama seperti Taishou. Di Akademi
Kekaisaran yang merupakan tempat berkumpulnya anak-anak dari keluarga kaya,
biasanya ada persaingan yang cenderung memperhatikan status sosial. Namun,
festival budaya ini adalah acara yang bertujuan untuk bersenang-senang, bukan
untuk bersaing. Para siswa bisa dengan cepat beralih ke arah menikmati,
sehingga mereka tidak benar-benar bersaing secara mendalam, melainkan hanya
terlibat dalam suasana yang menyegarkan.
Karena
semua orang terlihat bersenang-senang,
kami juga ingin menciptakan acara yang menyenangkan. Mari kita bersenang-senang
dan membuat orang lain senang. Saat itulah,
aku memutuskan arah festival budaya.
◆◆◆◆
Sepulang
sekolah, sama seperti kemarin, aku menyelesaikan pekerjaan di OSIS dan menggerakkan bahuku yang
kaku saat bergabung dengan mobil keluarga Konohana.
“Terima
kasih atas kerja kerasmu,
Itsuki-san.”
“Shizune-san,
terima kasih atas kerja kerasnya juga.”
Aku
menyapa Shizune-san yang duduk di kursi penumpang depan dan duduk di kursi
belakang. Mobil segera melaju.
“Maaf,
aku
sudah membuatmu menunggu lagi hari ini.”
“Karena
ini tugas OSIS,
jadi
kamu tidak
perlu meminta maaf segala.
Baik Ojou-sama
maupun Kagen-sama tahu bahwa Itsuki-san akan pulang pada waktu segini.”
“Tapi Hinako sepertinya tidak menyukainya...”
Pekerjaan
OSIS biasanya dilakukan sepulang sekolah. Meskipun tidak setiap
hari ada pekerjaan, jumlah hari di mana aku bisa pulang bersama Hinako
berkurang sejak aku
menjadi wakil ketua OSIS. Kami berdua menyadari hal ini dan saling
berpandangan dengan ekspresi “Oh tidak!”.
“Namun,
Ojou-sama sebenarnya kelihatan senang.”
Wajah
Shizune-san yang terpantul
di kaca
spion tengah
menunjukkan senyuman.
“Sekarang,
tidak
ada seorang pun yang merasa aneh
jika Itsuki-san berdiri di samping Ojou-sama.
Kamu semakin mendekati posisi ideal
sebagai pengurusnya.”
“...
Terima kasih.”
Sebagai
pengurus, aku telah memutuskan untuk tidak melakukan hal-hal yang benar-benar
tidak disukai Hinako. Ketika aku memutuskan untuk menjadi pengurus, Hinako
memberikan dukungan yang tulus. Itulah sebabnya aku melangkah maju.
Demi
berdiri di samping seorang Ojou-sama
yang sempurna, aku juga harus berusaha menjadi yang sempurna.
Perjalananku masih panjang. Tapi aku pasti
akan melangkah maju.
“Ngomong-ngomong,
apa pertunjukan kelas kalian sudah ditentukan?”
Pertanyaan
Shizune-san jadi
mengingatkanku pada tugas OSIS hari ini.
Acara festival
budaya di Akademi Kekaisara sama seperti di sekolah-sekolah lain, para siswa akan menampilkan beberapa
pertunjukan tidak hanya di kelas tetapi juga di panggung. Setelah
mempertimbangkan harapan dari masing-masing kelas, tahun ini kami memutuskan
untuk melakukan teater, pertunjukan musik, dan paduan suara di panggung.
Rencananya, pertunjukan ini akan dilakukan sekali di pagi dan sekali di sore
hari.
Setiap
pertunjukan telah disiapkan dengan dua kelas.
Totalnya
ada enam
kelas yang bisa menampilkan pertunjukan di atas panggung... Jujur saja, manajemen jadwal yang ketat sangat
dibutuhkan, tetapi kami, pengurus OSIS,
telah berdiskusi dan berusaha untuk mewujudkannya.
Teater
juga akan dilakukan oleh dua kelas. Salah satunya adalah kelas satu yang dipilih melalui undian. Sedangkan kelas lainnya
adalah...
“—Ya.
Kami akan melakukan pertunjukkan teater.”
Seperti
yang diperkirakan semua orang, meskipun pertunjukkan teater adalah pertunjukan yang populer, kelas yang
mendaftar sebagai pilihan utama sangat sedikit. Hanya ada tiga kelas. Jika kita
mengesampingkan kelas 2-A
kami, dua kelas lainnya adalah kelas satu. Mungkin karena siswa kelas 1 tidak melihat teater tahun lalu,
itulah yang diperkirakan oleh Tennouji-san dan yang lainnya, tetapi sebenarnya
mengejutkan bahwa hanya tiga kelas yang menginginkannya. Mungkin di antara siswa
kelas
satu sudah
ada desas-desus bahwa penampilan teater
Hinako sangat hebat.
Dengan
demikian, kelas 2-A
kami akhirnya dapat melakukan pementasan teater
sesuai harapan.
Ketika
Shizune-san mengetahui hal itu, dia mengeluarkan napas pelan.
“Sudah kuduga.”
Reaksinya
yang agak tersirat membuatku merasa penasaran.
Shizune-san
mengeluarkan smartphone-nya dengan diam. Apa dia sedang mengirim pesan kepada
seseorang? Dari segi waktu, sepertinya ada hubungannya dengan pembicaraan kami
sebelumnya...
Mobil
akhirnya
tiba di kediaman Konohana. Dengan sedikit rasa ragu, aku
keluar dari mobil.
“Ojou-sama sudah berada di kamar Itsuki-san
dan sedang bersantai.”
Karena
aku sudah menduganya,
aku langsung menuju ke dalam kamarku.
Ternyata, Shizune-san diam-diam mengikuti
di
belakangku.
Mungkin dia ada urusan dengan Hinako.
Pukul
enam sore. Aku pulang lebih lambat dari biasanya dan membuka pintu kamarku.
“Hinako,
aku pulang—”
“Itsuki...!”
Begitu
pintu kamar dibuka,
Hinako yang tampaknya sedang bersantai di tempat tidur melompat bangun. Dia berlari menghampiriku dengan kelincahan yang tak
biasa bagi Hinako yang biasanya.
“Pe-Pertunjukan untuk festival
budaya...buat kelas kita...!?”
Saat Hinako
mendekat dengan wajah yang terlihat gelisah, aku
menjawabnya
dengan jujur.
“Kelas
2-A
terpilih
untuk melakukan pertunjukkan teater.”
“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~~~~~~~~~~~………………………………!!”
Hinako
memegangi kepalanya dan terjatuh di tempat.
Ap-Apa dia benar-benar tidak menyukainya...
“...
Sepertinya dia kelihatan sangat
tertekan.”
“Benar.
Padahal
tahun lalu
tidak separah ini...”
Tahun
lalu mungkin dia mengalami banyak kesulitan. Hinako yang masih meringkuk di lantai, menatapku.
“Itsuki...”
“Ada
apa?”
“Apa kamu tidak bisa mengubah pertunjukan
kelas 2-A
sekarang...dengan kekuasaanmu di OSIS...?”
Dia
mengajukan usulan yang tidak masuk akal.
Hinako
yang berada di dekat kakiku
mengerang seperti zombie, jadi aku mencoba memikirkan hal ini, tapi aku meyakini kalau sepertinya anggota OSIS lainnya akan mendengarkan permintaanku tanpa perlu merencanakan
strategi aneh-aneh.
Jika aku mengatakan bahwa kondisi tubuh Hinako yang menjadi pemeran utama tidak
baik... Tennouji-san pasti akan mengatur sesuatu.
Namun...
“...
Mungkin bisa saja,
tapi aku tidak ingin menggunakan posisi OSIS
yang kuperoleh dengan susah payah untuk kepentingan pribadi.”
“Ugh... rasanya sangat menusuk di hati...”
Hinako,
yang tampaknya menderita karena rasa bersalah, menekan bagian dadanya sambil berjongkok.
Mungkin
ini bukan untuk kepentingan egois
karena ini demi
Hinako, tetapi tetap saja pasti ada
yang
merasa keberatan
terhadap penggunaan kekuasaan OSIS
untuk kepentingan pribadi. Namun, ketika dia menunjukkan sikap yang begitu
enggan, aku mulai merasa penasaran.
Sebenarnya,
pertunjukan teater apa yang ditampilkan Hinako
tahun lalu?
“...
Umm, Shizune-san.”
“Ya?”
“Apa pementasan teater yang dimainkan Hinako tahun lalu benar-benar
luar biasa?”
Sebelum
Shizune-san menjawab pertanyaanku, dia tiba-tiba mengeluarkan smartphone-nya.
Sepertinya ada pesan yang masuk. Setelah beberapa saat mengoperasikan layar,
Shizune-san akhirnya mengangkat wajahnya dan menatapku.
“Sepertinya Kagen-sama
ingin menyampaikan sesuatu padamu tentang hal itu.”
“Eh?”
Meskipun
seharusnya itu hanya pertanyaan santai, tapi tiba-tiba aku merasakan suasana
yang serius.
“Silakan
ikut aku.”
Shizune-san
keluar dari kamarku.
Setelah
menidurkan Hinako di tempat tidur, aku mengikuti Shizune-san.
◆◆◆◆
Shizune-san
mengetuk pintu ruang kerja.
“Aku
membawa Itsuki-san.”
“Terima
kasih.”
Setelah
mendengar suara Kagen-san, Shizune-san membuka pintu.
“Permisi.”
Ruang
kerja yang aku masuki setelah sekian lama memang masih dipenuhi suasana tegang.
Di sinilah
tempat di mana aku pertama kali bertemu Kagen-san. Di tempat inilah aku mengetahui masalah yang
dihadapi Hinako dan memutuskan untuk dipekerjakan sebagai pengurusnya.
Semuanya terasa sangat nosralgia. Mungkin ini karena aku sekarang
berbeda dari diriku yang dulu.
Kagen-san
yang duduk di belakang meja tampak memiliki ekspresi yang lebih lembut
dibanding sebelumnya. Tentu saja, bukan hanya aku yang berubah.
“Sudah
lama kita tidak berbicara seperti ini, ya.”
“Benar.”
Meskipun
kami pernah berpapasan
di koridor beberapa kali, tapi rasanya sudah lama sekali berbicara langsung seperti ini. Terakhir kali aku berbicara dengannya mungkin setelah permainan
manajemen selesai.
“AKamu masih mengingat janji yang kita buat
sebelumnya?”
Aku
tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Kagen-san.
“Aku pernah berjanji
kalau kamu bisa bergabung dengan OSIS Akademi Kekaisaran, kamu akan diizinkan untuk terlibat dalam urusan internal keluarga Konohana.”
(Mana
mungkin aku melupakan
janji itu. Selama masa pemilihan, aku berkali-kali mengingat janji itu dan
termotivasi...)
“Ak-Aku mengingatnya! Itulah sebabnya aku
bergabung dengan OSIS—”
“Aku akan menepati
janjiku.”
Kagen-san
menatapku dengan tatapan serius.
“Mulai
sekarang, aku akan melibatkanmu dalam urusan keluarga Konohana.”
Aku
sangat gugup sampai-sampai
seluruh tubuhku menegang.
Akhirnya
datang juga...
itulah kesan jujurku.
Sudah lama aku tinggal di rumah ini, tetapi seiring berjalannya waktu,
pertanyaan tentang keluarga Konohana semakin bertambah.
Bukannya
rumah ini terlalu besar untuk sebuah rumah terpisah?
Mengapa
Hinako tinggal di rumah terpisah begitu lama?
Kapan
ibu Hinako meninggal?
Apa
yang ingin dilakukan Takuma-san terhadap keluarga Konohana?
Mengapa
Kagen-san menjadi begitu keras terhadap Hinako?
Akhirnya,
aku mendapatkan posisi untuk menghadapi semua pertanyaan itu.
Aku
mengatupkan bibirku dan menunggu pernyataan berikutnya dari Kagen-san.
“Maaf
jika kamu merasa tegang, tetapi aku tidak berniat menjelaskan semuanya
sekaligus. Kali ini, aku hanya akan menjelaskan hal-hal yang terkait dengan
festival budaya sekolah.”
“Festival
budaya sekolah...?”
“Pembicaraan
kali ini sangat sederhana, jadi aku harap kamu bisa mendengarkannya dengan
santai. Kamu tidak perlu melakukan sesuatu secara khusus, dan jika boleh dibilang,
ini hanya tentang menjaga hati.”
Jika
itulah
yang dikatakannya,
sepertinya aku bisa sedikit santai. Namun, apa hubungan antara festival budaya
dan keluarga Konohana? Aku sama sekali tidak bisa memprediksinya.
“Pertunjukan
festival budaya... Sepertinya kelas 2-A
telah memutuskan untuk melakukan teater dengan aman.”
Sepertinya
dia mendengar dari Shizune-san. Aku pikir mereka sedang bertukar pesan, tetapi
sepertinya Kagen-san sudah diberitahu tentang hal ini.
Aku
mengangguk dan berkata, “Ya.”
“Ada banyak tokoh besar dari berbagai
industri yang akan menghadir acara festival budaya Akademi Kekaisaran. Artinya, festival budaya adalah
kesempatan sempurna untuk memperkenalkan Hinako kepada mereka.”
Itu...
tentu saja, aku mengerti.
Tapi
jika sampai dibilang begitu, seharusnya sebelumnya juga
begitu. Kompetisi dan permainan manajemen tidak jauh berbeda.
Aku penasaran apa Kagen-san merasakan sesuatu yang istimewa
tentang festival budaya?
“Tahun
lalu, aku juga mengirim Hinako dengan perasaan yang sama. Hasilnya, Hinako
menjadi pemeran utama dalam teater dan mendapatkan penilaian tinggi.”
“Sepertinya
begitu. Semua orang di akademi mengatakan bahwa penampilannya begitu
menakjubkan.”
“Responnya
lebih baik dari
yang diharapkan. Itulah sebabnya aku memberitahu
Hinako bahwa dia tidak
perlu mengejar posisi di dalam OSIS.”
Eh?
Mengapa dirinya mengaitkannya dengan hal itu?
Kagen-san
menjelaskan ketika aku mengerutkan kening.
“Jika
dia menjadi anggota OSIS, dia tidak akan bisa berpartisipasi
dalam pertunjukan festival budaya, kan? Dua siswa yang memiliki keberadaan yang
setara dengan Hinako... Tennouji Mirei dan Miyakojima Narika, kemungkinan besar mereka
harusnya disibukkan dengan pekerjaan di balik layar sebagai panitia acara festival budaya. Oleh karena itu, festival
budaya akan menjadi panggung solo Hinako.”
...
Apa orang ini sudah memikirkan hal itu sejak awal?
Rasanya menyedihkan,
tetapi itu lebih masuk akal. Selama ini, Kagen-san sangat berambisi untuk
meningkatkan citra Hinako. Jika dia hanya bersikap rendah hati saat pemilihan,
itu pasti membuatku penasaran.
Mendapatkan
peran utama dalam acara tahunan seperti festival budaya mungkin terasa seimbang
dengan menjadi anggota OSIS,
tetapi jika dilihat dari pencapaian tahun lalu, itu mungkin merupakan keputusan
yang tepat. Selain itu, jika Hinako menjadi anggota OSIS, kemungkinan besar dia akan
kehabisan tenaga duluan.
Aku
berpikir, dia benar-benar memikirkan ini dengan baik.
...
Tentu saja, karena ia
adalah ayahnya.
Dia
sangat memahami Hinako.
“Jadi,
sampai di sini semuanya sudah diperkirakan... tapi beberapa hari yang lalu,
aku menerima kabar yang tak terduga, entah kabar baik atau buruk.”
Kagen-san
mengatakannya
dengan ekspresi yang aneh.
“Kepala keluarga Konohana saat ini
mendengar rumor tersebut dan
ingin menonton pertunjukkan teater Hinako tahun ini. Oleh karena itu, aku
membutuhkanmu, Itsuki-kun, untuk memastikan bahwa pertunjukkan teater festival budaya ini
sukses.”
Kagen-san
langsung masuk ke inti pembicaraan.
“Dengarkan
baik-baik. Festival budaya tahun ini harus lebih meriah, lebih dramatis, dan
lebih elegan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai anggota OSIS, kamu memiliki kekuasaan untuk
itu, bukan?”
“Ya,
aku akan melakukan yang terbaik...”
Begitu rupanya, jadi itulah
sebabnya dia membicarakan tentang sikap.
Memang,
dalam hal ini, tidak ada yang perlu aku lakukan secara khusus. Sebenarnya, aku
sudah berniat untuk membuat festival budaya ini meriah sebagai anggota OSIS, jadi tidak ada yang berubah.
Namun,
meskipun begitu, aku merasa tidak bisa mengabaikan permbicaraan ini sebagai urusan orang lain. Alasan untuk
memastikan festival budaya sukses semakin bertambah. Itu cara berpikir yang
baik.
Namun,
ada satu hal yang membuatku penasaran.
“Eh,
bukannya
Kepala keluarga
Konohana itu
Kagen-san?”
“Aku
sudah bpernah mengatakannya saat pertama kali kita bertemu. Aku adalah
presiden dari Konohana Group.”
Memang apa
bedanya antara presiden perusahaan dan kepala keluarga?
Seolah-olah
bisa membaca pikiranku, Kagen-san segera
menambahkan penjelasannya.
“Aku
adalah orang yang bertanggung jawab tertinggi di Konohana Group, tetapi bukan
kepala keluarga Konohana. Aku mengelola bisnis, tetapi urusan keluarga diatur
oleh ayah mertuaku... yaitu kakek Hinako.”
Aku
mencoba mencerna penjelasan Kagen-san.
Jadi,
di rumah ini ada dua divisi: divisi keluarga dan divisi bisnis. Divisi keluarga
disebut keluarga Konohana, sementara divisi bisnis disebut Konohana Group.
...
Aku sama sekali tidak
tahu tentang itu.
Seperti
yang dijanjikan, Kagen-san menjelaskan kepadaku tentang keadaan di dalam
keluarga Konohana.
“Kepala keluarga tidak suka
mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Rumah ini, tempat kamu dan
Hinako tinggal, awalnya dibangun untuk pekerjaan. Urusan keluarga hanya
diselesaikan di kediaman rumah
utama.”
“...
Tunggu sebentar.”
Ada
bagian dari pembicaraan yang membuatku merasa tidak nyaman.
“Jika
urusan keluarga di kediaman
utama dan pekerjaan di rumah terpisah, mengapa Hinako tinggal di rumah ini...?”
“...
Seperti yang kamu duga.”
Ada
sesuatu yang
mulai mendidih di dalam diriku.
Hinako
tinggal di rumah terpisah yang dibangun untuk pekerjaan, bukan di kediaman utama yang seharusnya untuk
keluarga. Apa aku telah hidup dalam kenyataan dingin seperti itu?
Aku
merasa seolah-olah ketika aku melangkah lebih jauh, aku malah menemukan jurang
yang lebih dalam.
Apa-apaan ini?
Apa-apaan sebenarnya dengan rumah ini?
“Syukurlah.”
Kagen-san
tersenyum.
“Aku
senang kamu bisa menunjukkan ekspresi seperti itu.”
Aku
tidak tahu ekspresi macam apa
yang aku tunjukkan sekarang. Tapi aku tidak ingin melihatnya. Mungkin karena itu kelihatan jelek.
“Jangan lupa, aku juga salah satu yang
tinggal di rumah ini.”
Aku
terkejut mendengarnya. Memang, aku sering melihat Kagen-san di rumah terpisah.
Aku tahu dirinya
kadang-kadang menghabiskan waktu di kediaman
utama, tetapi dirinya
juga sering masuk dan keluar dari rumah terpisah ini.
“Aku
menjelaskan bahwa rumah terpisah ini untuk menghindari campur aduk urusan
pribadi dan pekerjaan, tetapi kenyataannya lebih mirip dengan hubungan kasta. Hanya orang-orang yang telah
menghasilkan prestasi saja yang dapat berkumpul di kediaman rumah utama. Beginilah tradisi keluarga Konohana. ...
Aku memiliki posisi yang bisa keluar masuk rumah utama dengan bebas, tetapi
sejujurnya, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku disambut dengan hangat.”
Kagen-san
menghela napas kecil saat mengatakannya.
Sikap
itu terasa seperti sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, dan aku merasakan sedikit rasa
frustrasi. Bukankah ini masalah yang tidak bisa dianggap sepele?
“Berhentilah
bersikap seperti itu.”
Kagen-san
menatapku dengan tajam, dan aku pun menutup mulut.
“Aku
tidak hanya membicarakan ini untuk menepati
janjiku saja, tapi karena aku juga berpikir bahwa kamu
bisa menangani tekanan dari keluarga Konohana sekarang.”
Kagen-san
yang sepertinya bisa membaca perasaanku melanjutkan.
“Seperti yang sudah
pernah kukatakan
berkali-kali, masalah kali ini tidak rumit. Kamu hanya perlu fokus untuk membuat
festival budaya ini meriah sebagai anggota OSIS.”
“Itu
benar sih,
tapi...”
“Menangani
masalah sambil menyelesaikan tugas lainnya adalah hal biasa bagi orang dewasa.
Aku percaya kamu bisa melakukannya. Itulah sebabnya aku menjelaskan situasi ini
secara mendetail sekarang.”
Dirinya secara implisit meminta agar aku
tidak menyesali keputusan ini, dan aku menekan emosi yang hampir meluap di
tenggorokanku ke dalam perutku.
Kagen-san
menghargai keberadaanku, dan aku menyadari hal itu.
“...
Ada apa? Hari ini Anda benar-benar sangat memujiku.”
“Memamngnya menurutmu siapa saja bisa bergabung dengan OSIS Akademi Kekaisaran?”
Kagen-san
menjawab dengan serius.
“Setelah
sampai di sini, rasanya justru sulit tidak memujimu. ... Jika kamu meragukan niatku,
aku akan
mengatakannya
dengan jelas.”
Dengan
satu tarikan napas,
Kagen-san menatapku.
“Aku
senang telah mempekerjakanmu.”
Rasanya aku
merasakan ada getaran
di dalam kepalaku.
Aku
mungkin tanpa sadar telah membuat daftar orang-orang yang ingin bisa mengakuiku. Hinako, Tennouji-san, Narika,
Takuma-san, Shizune-san... pasti ada banyak orang dalam daftar itu, tetapi
sekarang aku menyadari bahwa orang pertama dalam daftar itu adalah Kagen-san.
Benar.
Aku selalu ingin diakui oleh orang ini.
Aku
tahu satu-satunya cara untuk mendukung Hinako adalah dengan diakui oleh orang
ini, jadi aku bekerja keras sejak saat itu.
Diakui
oleh orang ini adalah tujuan pertama yang kutetapkan untuk diriku sendiri.
“...
Terima kasih banyak.”
ku
mati-matian berusaha menahan air mata yang menggenang di sudut mataku agar
tidak menetes. Akhir-akhir
ini, semua orang begitu memujiku atas usahaku sampai-sampai aku merasa air
mataku menjadi rapuh.
Aku menyeka
air mataku dengan punggung tanganku dan mengeluarkan emosi campur aduk yang hampir meledak dalam napasku. Setelah menghembuskan napas
perlahan, aku menatap Kagen-san dengan perasaan segar.
“—Aku
sudah siap!!”
“Bagus,
itu ekspresi yang baik.”
Orang
ini mengakui keberadaanku. Hanya dengan fakta itu, aku bisa tenang, tetapi pada
akhirnya, mungkin aku masih belum dewasa. Aku menyadari bahwa cara berpikir ini naif,
tetapi tetap saja, itu membuatku senang.
Diakui
oleh orang dewasa yang kuhormati merupakan hal yang membahagiakan.
“Jika
ada yang kamu butuhkan, silakan konsultasikan
kapan saja melalui Shizune. ... Aku juga memiliki kewajiban untuk menjamu kepala keluarga. Kita akan menjalani
ini bersama.”
Ketika
Kagen-san mengatakan bahwa kita akan menjalani ini bersama, aku merasa kembali
tegang.
Tenanglah...
Seperti yang Kagen-san katakan berkali-kali, bukannya berarti tingkat kesulitan tugas
yang harus kulakukan mendadak meningkat.
Tugasku
adalah membuat festival budaya sukses sebagai anggota OSIS. Dan――.
(Aku
harus lebih bertekad untuk mendukung Hinako.)
Aku
tidak memberitahunya karena itu bisa menjadi tekanan, tetapi kesuksesan drama
ini bergantung pada Hinako. Hinako juga samar-samar menyadari
hal itu, itulah sebabnya dia menunjukkan reaksi penolakan yang begitu kuat.
Oleh karena itu, aku sebagai pengurusnya harus mendukungnya. Sebelum menjadi anggota
OSIS, aku
juga adalah pengurus yang mendukung Hinako.
Untuk saat
ini, ada satu hal yang ingin kuketahui.
“Meski rasanya terlalu
terlambat untuk menanyakan hal ini,
tapi
seberapa menakjubkannya
drama yang diperankan Hinako tahun lalu?”
“Aku
akan menunjukkan secara langsung.”
Ketika
Kagen-san menjentikkan jarinya, Shizune yang sudah menunggu sepanjang waktu, dengan cepat mengoperasikan
remote control yang dia pegang dan menampilkan video di dinding ruangan.
Situasi
ini... terasa akrab.
Ketika
aku pertama kali mengunjungi ruangan ini, aku juga disuguhkan video seperti
ini. Saat itu, video yang ditampilkan adalah pemandangan sehari-hari Hinako,
tetapi kali ini...
“Wah...”
Video itu menampilkan aula besar Akademi Kekaisaran. Di atas panggung, ada satu beberapa puluh murid yang berdiri. Di tengah-tengah
mereka, ada seorang gadis
yang sangat menawan—Hinako.
“Drama
ini berlangsung selama satu jam. Aku akan bekerja di ruangan lain, jadi silakan tonton sebanyak
yang kamu mau.”
Usai mengatakan itu, Kagen-san keluar dari ruangan.
Aku
duduk di sofa dan menonton drama yang diperankan Hinako tahun lalu.
◆◆◆◆
Tirai
panggung diturunkan,
dan pertunjukan drama akhirnya berakhir.
Tanpa
sadar, air mataku mengalir begitu deras.
“Wahhh...
wahhh...”
Apa-apaan ini?
Air
mata yang berhasil kutahan
di depan Kagen-san seketika tumpah ruah.
“Wahhh...”
Aku
tidak bisa menghentikan air mataku
yang menetes.
Drama
itu terlalu indah. Begitu banyak perasaan yang sulit diungkapkan dengan
kata-kata. Akting Hinako dalam video itu sangat menyentuh hatiku.
Ketika
air mataku
mulai kering, pintu ruangan terbuka dan Shizune masuk.
“Itsuki-san,
bagaimana? Bagaimana dengan penampilan drama Ojou-sama?”
“Itu
sangat bagus. Sepertinya... semuanya luar biasa.”
“Aku
melihat penurunan kemampuan berbahasa.”
Ketika
seseorang menemukan karya seni yang
hebat, mungkin mereka merasa kurang sopan untuk mencoba mengungkapkannya dengan
kata-kata. Aku tak ingin mengungkapkan emosi ini dengan kata-kata dan
membaginya dengan seseorang. Mengungkapkannya dengan kata-kata akan membuatnya
lebih mudah ditafsirkan. Jika interpretasiku berbeda dengan orang lain, itu
akan berujung pada pertengkaran. Itu adalah sesuatu yang sangat kubenci. Aku ingin
menyimpan emosi ini dalam diriku, sebuah harta karun yang tak dapat dinodai
siapa pun. Karena aku yakin perasaan ini benar, jadi aku tidak
mengungkapkannya
dan membandingkannya dengan orang lain.
“Jangan
khawatir. Setelah menonton drama itu, biasanya semua orang merasakan hal yang
sama.”
“...
Apa Shizune-san
juga merasakannya?”
“...
Dalam batas yang tidak mengganggu pekerjaan.”
Jadi
dia juga merasakannya...
Tapi
aku tidak terkejut. Akting Hinako telah mengguncang insting, melampaui
kepribadiannya.
Akting
Hinako sangat mengesankan. Bahkan melalui layar, perasaan suka, marah, sedih,
dan bahagia bisa
tersampaikan dengan sangat jelas. Ketika Hinako terlihat bahagia, aku juga merasa
senang, dan ketika Hinako terlihat sedih, aku juga ingin menangis. Itu benar-benar
akting yang mampu menggenggam hati seseorang.
Aku
belum pernah berpikir dalam-dalam tentang baik buruknya akting hingga sekarang.
Tetapi hari ini, aku akhirnya mengerti. Inilah arti dari akting yang baik.
Emosi aktor tersebut mengalir deras ke dalam hatiku dan menjadi emosiku
sendiri. Beberapa saat yang lalu, jiwaku serasa terhanyut di atas panggung.
(...
Apa dia sehebat
ini karena dia selalu berakting?)
Aku
tidak menganggap ini sebagai bakat yang tidak terduga.
Sejak
awal, Hinako telah terus menerus berakting sebagai Ojou-sama yang sempurna. Dia pasti menghabiskan
lebih banyak waktu untuk berakting dibandingkan dengan aktor profesional.
Selain
itu, dia tidak menyadari bahwa itu adalah akting. Bagi Hinako, Akademi Kekaisaran
merupakan
panggung kehidupannya
sendiri. Dia selalu memperhatikan mata penonton saat berakting.
Pantas saja aktingnya begitu menakjubkan. Lebih tepatnya, mana mungkin aktingnya buruk.
Kemampuan
akting yang luar biasa yang telah dibentuk oleh kebiasaan. Jika diterapkan pada
seni, hal tersebut bisa memberi dampak yang begitu besar kepada
banyak orang... Kagen-san pasti tidak pernah memprediksi hal ini.
...
Rasanya sedikit menyenangkan.
Aku
bisa menyadari daya tarik baru dari gadis yang bernama
Konohana
Hinako.
“Apa
itu membantu?”
“Ya.
Sekarang aku bisa membayangkan seperti apa festival budaya Akademi Kekaisaran.”
Aku
mengubah
perhatianku
dari yang tadinya penonton, berubah menjadi
anggota OSIS
dan melihat Shizune-san.
“Peralatan panggungnya terlihat
jauh lebih megah dari yang kuperkirakan.”
“Festival
budaya Akademi Kekaisaran mengundang banyak orang penting sebagai tamu.
Mereka pasti mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk menjamu mereka.”
Memang
benar, persis seperti perkataannya.
Pada
hari festival budaya, orang tua siswa yang kaya tidak hanya datang untuk
melihat akademi. Mereka datang sebagai tamu yang ingin menikmati festival
budaya. Demi
menjamu mereka yang sudah berpengalaman, perlu disiapkan lingkungan yang sangat
baik.
...
Tidak heran jika anggarannya sangat besar.
Sebagai wakil ketua OSIS, aku bisa memperkirakan seberapa banyak anggaran yang
dikeluarkan untuk festival budaya. Mungkin detailnya diketahui oleh Abeno-san
yang menangani keuangan... tetapi aku tidak ingin mendengarnya terlalu banyak.
Mungkin
jumlahnya
cukup
untuk menyewa kapal pesiar mewah selama beberapa hari...
“Baiklah,
kalau
begitu aku akan
kembali bekerja.”
“Baiklah. ... Oh ya, Hinako sedang ada di manasekarang?”
“Kurasa dia sedang menyelesaikan tugas
yang diberikan oleh Kagen-sama di kamarnya... Apa ada yang ingin kamu sampaikan?”
“Ya,
ada sesuatu yang sangat ingin kusampaikan padanya.”
Aku benar-benar ingin menyampaikan perasaan ini secara langsung
kepada dirinya. Setelah
keluar dari ruang kerja, aku berjalan cepat menuju kamar Hinako. Karena terlalu bersemangat, aku
mengetuk pintu dan membukanya sekaligus.
“—Hinako!!”
“Eh...!?”
Hinako
yang sedang bersantai di tempat tidur,
tersentak kaget saat melihatku tiba-tiba
muncul.
Dia
sama sekali tidak belajar...
pikirku sejenak, tetapi saat ini itu tidak penting.
“Ad-Ad-Ad-Ad-Ada apa... Itsuki...!?”
“Hinako...!!
Ada sesuatu yang sangat ingin kusampaikan padamu...!!”
“Nnhueeeeeeeee...!?”
Aku
melompat ke atas tempat tidur dan menggenggam kedua bahunya.
Kurasa aku terlalu terbawa suasana dan menggenggamnya dengan sedikit berlebihan,
tetapi itu juga tidak masalah.
“Ta-ta-tanganmu...!! Ka-Ka-Ka-Ka-Kamu
menggenggamku begitu erat...!?”
“Hinako...!!
Aku, aku...!!”
“Tu-Tu-Tunggu, aku masih belum siap secara mental...!!
Tapi, aku ingin kamu mengatakannya... ya, katakan...!! Sekarang juga...!!”
Hinako
yang ekspresinya berubah cepat menatapku dengan pipi yang memerah.
Aku
bisa mengatakannya, kan...!!
Kalau
begitu, aku akan mengatakannya...!!
“Hinako...!!”
“Ya...!!
Ya...!!”
“Drama
tahun lalu―――― luar biasa sekali!!”
“Aku
juga sangat menyukaimu――――――――――
eh?”
Raut wajah Hinako
tampak kebingungan, tetapi itu bukan hal penting bagiku saat ini.
Aku
mulai berbicara tentang pendapatku mengenai drama tersebut hampir tanpa sadar.
Kata-kata tersebut
mengalir begitu saja dari
bibirku seperti air yang mengalir deras. Aku takut jika mengungkapkan
perasaanku, itu akan mengurangi maknanya, tetapi aku memiliki banyak keinginan
untuk menyampaikannya kepada Hinako. Aku bukan hanya menyampaikan pendapat,
tetapi juga perasaan yang mendalam.
Tiba-tiba,
aku menyadari ada seseorang yang mendekat dari belakang.
“Karena
matamu merah, aku jadi
mengikutimu diam-diam... Tapi, apa
yang sedang kamu
lakukan?”
“Aduh!? Itu sakit!”
Jitakan
Shizune-san
mendarat di atas kepalaku. Karena aku pernah mengikuti pelajaran bela diri, aku
tahu... saat ini, dia cukup serius.
“Apa kamu baik-baik saja, Ojou-sama?”
Shizune-san mendekati Hinako dengan wajah
khawatir.
Namun,
Hinako menjawab dengan ekspresi yang agak linglung.
“Ak-Aku... tidak bisa mendengar
kata-kata yang ingin kudengar, tapi... aku... bahagia...”
Hinako
mengusap kedua bahunya yang baru saja kupegang
sambil mengucapkan hal aneh.
Tatapan
mata
kosong Shizune-san langsung
mengarah padaku.
“...
Itsuki-san, kamu harus bertanggung jawab atas keadaan Ojou-sama yang aneh ini.”
Tidak
mungkin...
Padahal aku
hanya ingin menyampaikan seberapa terharunya diriku atas penampilan dramanya.
◆◆◆◆
Keesokan
harinya sepulang sekolah, aku melanjutkan tugasku di ruang OSIS
seperti biasa.
Aku mulai terbiasa dengan pemandangan di ruang OSIS... atau lebih tepatnya, aku tidak punya
waktu untuk membiasakan diri. Persiapan festival budaya dimulai segera setelah
pemilihan berakhir,
jadi tidak ada waktu untuk beristirahat.
Hal tang
mendorong kami adalah suasana yang menyelimuti akademi saat ini.
Akademi
Kekaisaran kini bersatu dengan semangat untuk memeriahkan festival budaya. Sikap
tulus mereka cukup untuk membuatku ingin mendukung mereka dengan segenap
tenaga.
“Aku punya sedikit waktu luang tadi pagi, jadi
aku pergi
melihat-lihat gedung kelas satu...”
Abeno-san
berkata sambil mengetik di keyboard.
“Di salah satu kelas yang diisi oleh para pewaris dari perusahaan kehutanan besar,
mereka sedang mempertimbangkan untuk membangun rumah kayu di lapangan.
Sepertinya mereka memiliki hubungan dengan desainer arsitektur terkenal, dan
ingin mengadakan pameran dengan tema sekolah generasi berikutnya...”
Pameran
besar?
Aku
hampir tidak percaya tema itu berasal dari para siswa. Namun, Tennouji-san yang
menerima laporan tersebut tampak tidak terkejut dan mulai berpikir.
“Penggunaan
lapangan harus memenuhi syarat tidak merusak pemandangan. Kita perlu melihat
desainnya terlebih dahulu.”
“Baik,
aku akan menghubungi mereka.”
Ketika
Abeno-san kembali fokus
pada pekerjaannya, kali ini Yodogawa yang berbicara
kepada Tennouji-san.
“Aku
juga kemarin mendapat konsultasi dari junior!
Mereka bilang ingin menggunakan
teknologi dari perusahaan kelautan keluarganya untuk membangun akuarium! Jika
memungkinkan, mereka ingin mendapat izin
untuk menggunakan ikan asli, tetapi jika itu sulit, mereka bisa menggunakan
ikan robot atau gambar tiga dimensi!”
Apa mereka ingin mengadakan pameran paviliun?
Rasanya
agak aneh untuk menampikan
akuarium, tetapi sepertinya perusahaan besar sedang mempertimbangkan
pertunjukan yang akan dikucurkan dengan anggaran besar.
Namun,
Tennouji-san tetap menanggapinya
dengan tenang.
“Seperti
halnya kelas lain yang berharap untuk memiliki kebun botani dan kebun binatang,
kami ingin menghindari hal-hal yang mengeluarkan bau. Jika ada langkah-langkah
untuk mengatasinya, ikan asli juga tidak masalah.”
“Baik!”
Ngomong-ngomong,
ada juga kelas yang berharap untuk memamerkan
kebun botani dan kebun binatang...
Saat
menentukan pertunjukan masing-masing kelas, OSIS mengonfirmasi harapan yang
diajukan, tetapi aku tidak terlalu tahu karena aku menangani tugas lain. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh Abeno-san dan
Yodogawa.
Entah
kenapa, aku merasa suasana menjadi baik setelah berkonsultasi dengan Tennouji-san.
Setelah
Yodogawa, kali ini Narika berkonsultasi dengan Tennouji-san.
“Ada
kelas yang berharap untuk mengadakan diskusi tentang industri luar angkasa,
tapi mereka bertanya apa boleh mengundang astronot yang sedang bertugas sebagai
tamu undangan.
Sepertinya mereka sudah memiliki relasi,
tapi apa kami bisa memberikan izin?”
“Begitu ya... Jika mereka sudah memiliki relasi, tidak masalah, tapi aku ingin pihak OSIS bertemu dengan tamu
tersebut terlebih dahulu.”
“Kalau
begitu, aku yang akan bertemu. Urusan dengan pihak luar adalah tugas
administrasi umum.”
Narika
tampak sangat antusias.
Di
beberapa sekolah, ada posisi yang menangani urusan eksternal, tetapi di Akademi
Kekaisaran, itu menjadi tugas administrasi umum.
Narika sejak awal ingin terlibat dalam pekerjaan urusan luar ini dan beralih
dari posisi ketua menjadi pengurus administrasi umum.
Mungkin dia merasa sangat termotivasi dalam berurusan dengan pihak luar.
“Jika kamu membutuhkan
notulen dalam pertemuan,
aku juga bisa ikutan kok?”
“Benarkah?
Itu sangat membantu!”
Sikap
proaktif Yodogawa seringkali meningkatkan semangat OSIS.
Sepertinya
pembicaraan Narika sudah selesai, jadi terakhir aku juga ingin berkonsultasi.
Meskipun orang yang ingin aku ajak konsultasi bukan Tennouji-san.
“Narika,
boleh aku bicara sebentar?”
Saat Narika
menoleh ke arahku, aku mulai menyampaikan
maksudku.
“Sepertinya ada kelas yang ingin menampilkan
seni tradisional Jepang. Di antara itu, mereka juga ingin memperkenalkan seni
bela diri, tetapi sepertinya mereka sedang mencari seseorang untuk mengawasi
latihan. Mencari seorang ahli adalah salah satu pilihannya, tetapi... apa sulit bagi Narika
untuk melakukannya?”
“Serahkan
padaku! Aku cukup percaya diri dalam seni tradisional!”
Narika
segera menyetujuinya. Jika
itu Narika yang dulu, mungkin dia
akan merasa ragu... tetapi sekarang dia terlihat sangat dapat diandalkan.
“Untuk
seorang
Narika,
kamu terlihat sangat percaya diri, ya.”
“Hmmph, jangan meledekku! Belakangan ini, aku sering
dipuji di berbagai tempat karena tampak begitu percaya diri!”
Benarkah...?
Aku
tidak mengetahuinya.
“Di
mana kamu dipuji?”
“Dari mitra bisnnis. Aku beberapa kali langsung
pergi untuk memesan bahan, dan semua orang sangat ramah padaku. Mereka bilang
aku anak yang baik, dan saat pulang, mereka memberiku banyak oleh-oleh.”
Narika
berkata dengan ekspresi bangga menghiasi wajahnya.
...
Bukannya itu berarti mereka memperlakukanmu seperti cucu?
Dengan
pemahaman yang mendalam tentang bushido dan pengetahuan tentang seni
tradisional Jepang, mungkin Narika memang disukai oleh orang-orang tua.
“...
Kalau
Itsuki sendiri, bagaimana pendapatmu?”
Narika
menatapku.
“Bagaimana
penampilanku belakangan ini? Apa aku melakukannya dengan baik?”
Aku
merasakan sedikit kecemasan dari sorot mata Narika.
Selama
masa pemilihan, Narika mengubah harapannya dari Ketua OSIS menjadi pengurus urusan umum. Keputusannya itu mempengaruhi banyak orang. Terutama, itu
pasti memberikan dampak besar pada kehidupan Nishi-san yang sebelumnya ingin menjadi
petugas
urusan umum.
Karena beban yang dia pikul sangat khusus, mungkin Narika juga merasa cemas di
dalam hatinya.
“Tenang
saja. Kamu selalu menjadi orang yang hebat, Narika.”
“Be-Benarkah...? Hmm, begitu ya, begitu ya...”
Narika
tersenyum lebar.
Karena
dia sudah hebat, Nishi-san
juga rela menyerahkan
kursi administrasi kepadanya. Seorang anak yang memiliki kesadaran tinggi untuk
menjadi pengurus administrasi umum di kelas satu tidak mungkin menyerahkan tujuannya kepada orang
yang sembarangan.
Dia
benar-benar telah berkembang... Saat aku memandangi Narika yang tersenyum
lebar, aku menyadari bahwa Tennouji-san sedang memelototiku dengan tatapan tajam.
Seolah
mewakili perasaannya, Abeno-san membuka mulutnya.
“Jangan
bermesra-mesraan terus dan fokuslah
pada pekerjaan.”
“Mesra—!”
Aku
tidak sedang bermesra-mesraan!! ... Tunggu, sepertinya hal yang
serupa pernah
terjadi sebelumnya.
Narika
terdiam dengan pipi memerah. ... Jadi, saat reaksi seperti itu muncul, suasana
akan semakin canggung...!!
“—Ahem!!”
Batuk
Tennouji-san yang dibuat-buat menggema di ruang OSIS.
...
Sepertinya itu lebih dari sekadar batuk, bukannya dia
baru saja mengucapkan “Ahem”?
“Se-Sepertinya pekerjaan administrasi
juga sudah selesai, jadi kurasa kita harus kembali ke masing-masing kelas untuk
memeriksa situasi!”
Tennouji-san
melanjutkan.
“Karena
setiap kelas sedang mempersiapkan pertunjukan besar, aku khawatir ada hal-hal
yang terlewat. Sepertinya lebih baik jika kita pergi dan memeriksanya.”
Meskipun
sikap Tennouji-san tampak sedikit
aneh, pendapatnya cukup masuk akal.
Setelah
pilihan
pertunjukan
ditentukan, sepertinya masih ada banyak
kelas yang memiliki masalah untuk dibicarakan. Sebelum mereka melanjutkan
dengan penilaian sendiri, lebih baik kita mengambil inisiatif untuk memeriksa
situasinya.
(Aku
juga, mungkin akan memeriksa situasi kelasku.)
Aku
juga, sebagai anggota OSIS dan siswa kelas 2-A.
Aku merasa sedikit kesepian karena tidak bisa ikut serta dalam pertunjukan, jadi jika ada
kesempatan untuk muncul, aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin.
◆◆◆◆
Setelah anggota
OSIS bubar,
dan aku kembali ke dalam kelas
2-A.
Saat
berjalan menyusuri
koridor, aku bisa mendengar suara riuh dari setiap kelas. Karena di Akademi
Kekaisaran tidak ada klub ekstrakurikuler, biasanya suasana setelah sekolah
sangat sepi, tetapi saat persiapan festival budaya, semua tempat dipenuhi
dengan suara ceria. Tanpa sadar, langkahku menjadi lebih ringan dan aku merasa
bersemangat.
Meskipun
seharusnya aku kelelahan karena pekerjaan OSIS, aku merasa bertenaga karena ini merupakan festival budaya yang bisa
kunikmati dengan murni untuk pertama kalinya.
Di
sekolah sebelumnya, aku sangat sibuk dengan pekerjaan paruh waktu sehingga
hampir tidak bisa berpartisipasi dalam festival budaya. Karena aku tidak bisa
membantu persiapan dengan baik, aku merasa tidak nyaman untuk menikmati acara
tersebut. Saat itu, festival budaya terasa seperti urusan orang lain bagiku.
Karena merasa tidak nyaman terlibat dalam acara yang bukan urusanku, aku merasa
menyesal dan berharap semuanya cepat berakhir.
Sekarang
berbeda. Posisiku saat ini bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai
penyelenggara.
Aku
menyadari bahwa jika kita memiliki rasa kepemilikan terhadap acara, itu bisa
sangat menyenangkan.
Aku
merasa senang telah bergabung dengan OSIS.
“Oh,
Tomonari-kun!”
Asahi-san lah yang pertama kali menyadari keberadaanku saat aku memasuki ruang kelas.
“Apa
pekerjaan OSIS-mu
sudah selesai?”
“Iya, jadi aku datang untuk melihat
keadaan. Apa semua persiapannya
berjalan dengan lancar?”
“Ya!
Semuanya baik-baik saja!”
Asahi-san
berkata dengan senyum ceria.
Siswa-siswa
kelas 2A
berkumpul di depan meja guru dan membicarakan sesuatu. Beberapa dari mereka
menyadari kehadiranku dan memberikan salam ringan, jadi aku juga membalas
dengan senyuman dan sedikit menundukkan kepala.
“Sepertinya
ada kerabat dari teman sekelas kita
merupakan penulis naskah terkenal. Berkat dirinya,
kami bisa mendapatkan naskah yang bagus!”
“Hee...”
Ternyata
ada koneksi seperti itu.
Meskipun
terlambat, siswa-siswa di akademi ini memang sudah memiliki jaringan sosial
yang luas, jadi rasanya tidak
mengherankan jika mereka bisa mendapatkan
kolaborator untuk acara seperti ini. Karena ini kesempatan untuk menunjukkan
jaringan yang diperoleh dengan susah payah, siswa-siswa sangat aktif dalam
membawa koneksi mereka.
Semakin
banyak keterlibatan dengan pihak luar, semakin banyak pekerjaan OSIS. Prinsip
bahwa para pengurus tidak bisa berpartisipasi dalam pertunjukan kini bisa
dimengerti. Dengan beban kerja ini, sepertinya sulit untuk mengimbangi dengan
pertunjukan kelas.
Selama
masa pemilihan, ada banyak momen di mana aku sangat menyadari bahwa pekerjaan
pertama OSIS adalah festival budaya. Pemicu utamanya adalah jajak pendapat yang
diisi oleh siswa, tapi mereka pasti memahami posisi OSIS dalam festival budaya
ini. Jika kami, pihak OSIS,
tidak melakukan tugas kami dengan baik, kemampuan luar biasa siswa Akademi
Kekaisaran tidak akan terwujud sepenuhnya.
Pengelolaan
festival budaya lebih sulit dari yang dipikirkan, tetapi rasanya benar-benar memuaskan.
“Tahun
lalu, Konohana-san tampil dalam pertunjukan yang mengadaptasi Romeo dan Juliet,
bukan?”
“Oh,
hebat sekali, Tomonari-kun. Kamu benar-benar melakukan riset.”
“Jika
reputasinya sebaik itu, tentu saja aku jadi penasaran dan mencari tahu.”
Sebenarnya,
aku tidak perlu mencari tahu karena aku sudah melihat videonya dari Kagen-san langsung.
“Aku
tidak terlalu tahu tentang drama, tetapi tahun lalu ceritanya sedikit diubah
dari Romeo dan Juliet, bukan?”
“Iya,
benar. Kurasa
ceritanya sengaja diubah
dengan fokus pada Juliet yang diperankan oleh Konohana-san. …Aku baru saja berdiskusi melalui
video call dengan penulis naskah tentang apa yang akan kita lakukan tahun ini,
dan sepertinya tahun ini juga akan mirip.”
Pantas saja
ada laptop di atas meja guru.
“Tahun
ini kita akan melakukan apa?”
“Hamlet!”
Asahi-san
menjawab dengan penuh percaya diri.
“Karena
tahun lalu adalah pementasan drama Romeo dan Juliet, kami memutuskan untuk mencari
karya lain yang masih berhubungan dengan Shakespeare untuk memanfaatkan
reputasi itu. Dengan Hamlet, ceritanya adalah drama balas dendam yang mudah
dipahami, dan tergantung pada cara berakting, kita bisa mencoba tema yang lebih
kompleks, jadi kurasa ini cocok untuk Akademi Kekaisaran. Bukan hanya dengan penulis naskah, tapi kami semua
berdiskusi dan memutuskannya
bersama-sama!”
Aku menanggapinya sambil mengangguk ringan, tapi sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang isi
Hamlet, jadi aku perlu mencari tahu tentang cerita dan tema-nya secara pribadi
nanti. Setelah berbicara dengan Kagen-san,
aku segera mencari tahu tentang drama terkenal di dunia, jadi aku tahu namanya,
tetapi… dari cara berbicara
Asahi-san, sepertinya itu
drama yang sudah diketahui oleh semua siswa Akademi Kekaisaran.
Aku
merasa perbedaan dalam pengetahuan dan merasa sedikit
tertekan. Aku merasa sudah berusaha belajar, tetapi tetap saja, terkadang aku
merasakan perbedaan latar belakang.
“Apa
penulis naskahnya
setuju jika Konohana-san menjadi pemeran utama?”
“Super
setuju banget malah! *Ahem*… ‘Su-Sungguh gadis yang menawan!! Perpaduan antara kecantikannya
yang memukau dan keanehan manusia yang terkurung sama memesonanya dengan Danau
Hallstatt!!! Aku ingin menulis naskah untuknya!’”
Asahi-san
menirukan gaya penulis naskah. … cara menirunya lumayan bagus.
Namun,
mengenai danau Hallstatt, aku akan mencaritahunya nanti… Apa penulis naskah itu
tidak menyadari sifat asli Hinako?
Penulis
naskah yang menakutkan… Aku
akan melaporkan ini kepada Shizune-san nanti.
“Jadi,
ia benar-benar menulis naskah
khusus untuk Konohana-san, ya?”
“Ya,
itu yang disebut penulisan khusus. Meski drama tahun ini berdasarkan cerita Hamlet, tapi kurasa pertunjukannya akan berfokus pada Konohana-san.”
Sepertinya
isi naskahnya akan menjadi kombinasi antara
Hamlet dan penulisan khusus untuk Hinako.
Dari
apa yang kudengar, dengan menggunakan teknik penulisan khusus ini, sepertinya
naskah dapat memaksimalkan daya tarik para aktor. Dengan kata lain, ini merupakan metode yang sangat cocok untuk
pertunjukan kali ini.
“Ngomong-ngomong,
Asahi-san juga pandai berakting, ya?”
“Hehehe~, mungkin aku juga punya bakat~.”
Asahi-san
tertawa dengan riang, tapi ada kesan bahwa dia berbicara dengan nada
bercanda.
“Aku
benar-benar meyakini kalau kamu berbakat, kok. Jika Asahi-san menjadi pemeran
utama, rasanya pasti
tidak ada perbedaan.”
“As-Astaga! Tomonari-kun, seharusnya ada orang lain yang harus kamu puji, kan!?”
Orang
lain… Siapa yang dia maksud?
Setidaknya,
saat ini, cuma
Asahi-san satu-satunya orang di hadapanku.
“La-Lagian, jika aku yang menjadi pemeran
utama, suasananya pasti akan terasa kaku tau~~!”
“Benarkah?
Tapi menurutku suasanya masih akan sesuai…”
Dalam bayanganku, rasanya tidak ada yang aneh sama sekali
meskipun
Asahi-san berdiri di tengah-tengah panggung.
Saat
aku berpikir jujur seperti itu, wajah Asahi-san mendadak berubah merah dan dia mulai
memukul-mukul dadaku.
“Mou~~~~~~~~!! Tomonari-kun!!Mouuu~~~~~~~~!!”
“Ad-Ada apaan sih!? Asahi-san!?”
Dia
mengatur kekuatan pukulannya sehingga rasanya sama
sekali tidak menyakitkan, tapi…
“Ki-Kira-kira Konohana-san akan berperan sebagai
karakter apa?”
Setelah
aku bertanya demikian,
Asahi-san kembali ke kesadarannya.
“Tentu
saja, dia akan berperan sebagai Ophelia!!”
Dengan
pengetahuan seadanya, aku tidak langsung mengerti nama karakternya. Namun, aku
yakin dia adalah karakter penting dalam drama Hamlet.
“Karena kami ingin menjadikan Konohana-san
sebagai pemeran utama, jadi kami berencana menjadikan Ophelia sebagai
protagonis dalam pementasan drama kisah Hamlet kali ini! Namun, itu berarti kita juga perlu mengubah adegan puncak ceritanya di mana Ophelia tewas tenggelam…”
“…Begitu rupanya. Jika mengikuti cerita aslinya,
Ophelia akan keluar dari cerita di
tengah jalan, ya?”
“Bener banget! Sangat disayangkan jika Konohana-san
harus
keluar
dari cerita di tengah jalan, ‘kan?
Jadi sekarang, kami sedang membahas apa yang bisa kita lakukan sebagai
pengganti adegan tenggelamnya.”
Asahi-san
menambahkan, “Tapi pada akhirnya
kita harus berkonsultasi dengan penulis naskahnya, sih.”
Setelah
mendengar semua rinciannya,
aku akhirnya
mengerti apa yang sedang dilakukan semua orang. Sepertinya mereka semua sedang
merancang strategi untuk memaksimalkan potensi Hinako sebagai aktris.
Aku
penasaran seberapa jauh diskusi telah berlangsung, jadi aku mendengarkan dengan
seksama perdebatan hangat di antara teman-teman sekelas.
“Jika
kita tidak mengizinkan Ophelia
keluar dari cerita, maka kita harus merombak ceritanya agar Ophelia tetap hidup…”
“Namun,
bukannya
itu justru
menghilangkan aspek
tragis yang menjadi inti dari cerita…?”
“Tapi,
ini lebih tentang dunia Konohana-san daripada dunia Shakespeare, kan…?”
“Itu
benar…”
Luar
biasa, Hinako benar-benar diperlakukan
sebagai aktris bintang.
Suasana
di sekitar Hinako terasa segar dan berbeda dari sebelumnya. Namun, dirinya yang
sebenarnya, meskipun tersenyum lebar di depan, pasti terus-menerus menghela
napas di dalam hati. Bagi Hinako, teman sekelasnya saat ini mungkin terlihat
seperti para penyiksa yang mendiskusikan cara-cara untuk menyiksanya.
“Jika
Ophelia masih hidup, bukannya kualitas ceritanya
bakalan hambar
jika dia segera bertemu Hamlet?”
“Demi membuat keduanya tidak bisa
bertemu, mungkin Ophelia
tidak perlu tenggelam, tetapi bisa terluka atau terjebak dalam kesedihan…”
Sementara
Hinako terabaikan, diskusi di antara teman-teman sekelasnya terus berlanjut.
“Bagaimana
jika kita membuatnya mengalami kejadian yang sangat mengejutkan sehingga
karakternya berbalik 180 derajat?”
Seseorang
mengemukakan pendapat seperti itu. Seorang
siswa laki-laki yang ikut berdiskusi kemudian memanggil Hinako.
“Ehmm, Konohana-san?”
“Iya, ada apa?”
“Yah, aku tahu ini permintaan
yang sangat sulit, tapi aku punya saran…”
Siswa
laki-laki itu berbicara dengan nada ragu.
“Bisakah
kamu memainkan karakter yang sangat bertolak belakang dengan dirimu yang biasa,
yaitu karakter yang pemalas?”
Karakter
yang pemalas…
………………
Bukannya
itu cuma
Hinako yang biasanya?
Bahkan
Hinako tampak bermasalah dengan saran yang tak terduga itu.
“……Aku
akan mencobanya.”
Sambil
mendapat perhatian dari teman-teman sekelasnya, Hinako perlahan-lahan menutup matanya.
Ketika
matanya terbuka, tatapan yang terlihat di sana adalah—tatapan yang sudah sangat
kukenal, tatapan yang lesu.
“Ngantuk
sekali~…”
Suasana
kelas mendadak hening seketika.
Tidak
ada yang bisa membayangkan bahwa seorang Ojou-sama yang sempurna, Konohana Hinako, akan menunjukkan sisi seperti
ini. Namun, semua orang segera mengingatnya. Semua tindakannya itu
hanyalah akting.
“Aku
ingin bolos kelas~…
Aku ingin pulang saja~~…”
“Su-Sungguh akting yang sangat mengesankan!!”
“Seolah-olah
dia selalu seperti ini!!”
Karena
dia memang selalu seperti ini.
Malahan, semua ucapannya itu justru perasaannya yang sebenarnya.
Karena
aktingnya terasa sangat hidup, teman-teman sekelasnya sejenak melupakan bahwa
Hinako sedang berakting. Menyadari hal itu, aku langsung berkeringat dingin.
(Ini
tidak baik untuk jantungku…)
Ada
peran sebagai pengurus yang menyembunyikan Hinako yang sebenarnya. Pemandangan
di depanku ini merupakan
sesuatu yang biasanya kulihat ketika seseorang mengalami kegagalan terburuk.
Namun
teman-teman sekelasnya sangat antusias melihat akting Hinako.
“Baiklah,
mari kita gunakan pendekatan ini!”
“Kepribadian Ophelia akan berubah drastis menjadi malas karena syok yang dialaminya!”
“Karena
Konohana-san biasanya sempurna, akting ini akan memiliki nilai yang besar!”
Aku
tidak menyangka akan ada perkembangan seperti ini…
Mungkin
akting sebagai seorang pemalas yang terasing akan menjadi hal yang mudah bagi
Hinako. Lagipula, sifat aslinya memang seperti itu. Dia tidak perlu berusaha keras untuk
memerankannya.
Namun,
tetap
saja… mungkin sebaiknya aku harus memastikannya dulu
untuk berjaga-jaga.
Setelah
peran ditentukan, latihan untuk pertunjukan pun dimulai. Jika ingin
mengubahnya, sekarang lah waktu yang tepat.
Hinako
yang harus berpura-pura menjadi gadis sempurna di depan umum tidak bisa memecahkan suasana ceria yang
menyelimuti kelas. Jika dibiarkan seperti ini, suasana itu akan semakin
menekannya, jadi aku mendekati Hinako dan membisikkannya dengan hati-hati. Untungnya,
teman-teman sekelas sangat terpesona dengan akting Hinako sehingga mereka tidak
akan menyadari percakapan kami.
“Hinako,
apa kamu beneran yakin dengan peran itu?”
“Hmm…
mungkin lebih baik daripada memainkan karakter yang asing bagiku…”
Sepertinya
perasaannya yang tulus membuat suasana yang sebelumnya terkesan merepotkan
sedikit lebih baik.
(…Mungkin
karena dia hanya
menunjukkan dirinya yang sebenarnya, jadi beban Hinako juga sedikit berkurang?)
Hinako
yang biasanya mengeluh tentang betapa sulitnya berakting, kali ini di atas
panggung diminta untuk menunjukkan jati dirinya
yang sebenarnya. Jika demikian, beban Hinako mungkin tidak terlalu berat.
“Tapi…
aku lebih suka karakter
Hamlet diperankan oleh Itsuki.”
Hinako
mengatakannya dengan ragu-ragu.
Aku
memiringkan
kepalaku dengan kebingungan dengan perkataannya.
“Aku
ada urusan dengan OSIS, jadi aku tidak
bisa ikut dalam pertunjukan… tapi kenapa?”
“…Itsuki, kamu tahu hubungan antara Ophelia dan Hamlet, ‘kan…?”
“Tidak,
aku tidak tahu. Maaf.”
Rasanya memalukan, meskipun aku sudah mencari tahu tentang nama
Hamlet dan Ophelia,
tapi aku tidak begitu tahu tentang
alur cerita dramanya.
Ketika aku ingin tahu alasannya, Hinako mulai berbicara dengan
pipi yang sedikit memerah.
“Ophelia dan Hamlet itu… yah, sepasang kekasih…”
“…Begitu
ya?”
………………
………………………………Jadi begitu ya.
“Jadi,
um….”
“……Ah.”
“Jika
memungkinkan… um, aku ingin Itsuki…”
Pipi
Hinako semakin memerah seperti apel saat dia mengalihkan pandangannya. Tapi mungkin, wajahku juga
memiliki warna yang sama.
Hinako
menyampaikan bahwa Ophelia dan Hamlet adalah sepasang kekasih, dan karena itu dia ingin
aku memerankan Hamlet. Maksud dari kata-katanya adalah…
“Hinako,
itu artinya—”
“—!!”
Sebelum
aku sempat mengatakan sesuatu, Hinako sudah membuka mulutnya.
“Ku-Kurasa sulit untuk memerankan
hubungan seperti itu dengan orang yang tidak aku kenal…!!”
Hinako
berbicara cepat dengan wajah berkeringat. Usai mendengar
kata-kata Hinako, aku pun kembali tenang.
“Memang,
rasanya
sulit
jika kalian
tidak saling mengenal dengan baik,
ya.”
Sepertinya
tidak mudah untuk memerankan kekasih dengan orang asing yang tidak memiliki
hubungan apapun. Meskipun aku tidak begitu paham tentang akting, aku bisa
membayangkan itu.
…Fyuh.
Perkataannya tadi membuatku terkejut. Kupikir dia secara tidak langsung sedang mengungkapkan perasaannya padakuy.
“Kalian
berdua, ada apa?”
“Taisho-kun…”
Saat
Taisho memanggil, aku menoleh.
Hinako
dalam sekejap berdiri tegak dan kembali menjadi Ojou-sama yang sempurna. Melihat wajah Taisho yang kebingungan, aku tiba-tiba mendapatkan ide.
“Bagaimana
kalau karakter Hamlet
diperankan oleh Taisho-kun saja?”
“Eh!?
Aku!?”
Taisho
terkejut dengan suara keras.
“Kenapa!?”
“Menurutku kamu kelihatan
cocok dengan
peran itu.”
“Hehe, kalau begitu apa boleh buat deh.”
Seharusnya
kamu lebih bertahan sedikit…
Sepertinya
dia cukup antusias. Aku hendak meminta maaf karena mengajukan permintaan yang
tak masuk akal,
tetapi melihat sikapnya, sepertinya aku tidak perlu merasa bersalah sama sekali.
Aku
tahu sifat Taisho. Walaupun penampilannya mungkin terlihat agak kasar,
tetapi sebenarnya ia sangat memperhatikan orang lain. Selama masa pemilihan,
Taisho lah yang pertama menyadari bahwa Asahi-san memiliki masalah.
Aku yakin kalau Taisho pasti takkan melakukan sesuatu yang dibenci Hinako.
Namun,
ada satu alasan lagi mengapa aku menunjuk Taisho, jadi aku menjelaskan dengan
suara kecil yang tidak bisa didengar orang lain.
“Aku serius, karena menurutku tidak banyak siswa yang bisa
bersikap santai di hadapan Konohana-san…”
“Ah…
ya, memang benar, aku yang biasanya ikut pertemuan teh bersamanya mungkin kandidat terbaik di antara kita.”
Rasanya sangat membantu bahwa pembicaraan ini berjalan cepat.
Jika
harus menyebutkan satu hal yang mengganggu dari pertunjukan tahun lalu, itu
adalah ketidaknyamanan siswa laki-laki yang memerankan Romeo. Aku bisa
merasakan ketegangan yang dialaminya
saat berhadapan dengan Hinako, bahkan dari layar. Makanya, aku ingin mencoba memperbaikinya tahun ini.
“Baiklah,
aku akan mencalonkan diri. Aku akan memamerkan seberapa jantannya diriku.”
Setelah
berkata demikian, Taisho menuju kumpulan teman sekelas.
“Hey!
Jika diperbolehkan, aku ingin memerankan Hamlet!”
…Dengan
kemampuan seperti ini, Taisho memang layak dihormati.
Begitu
ia menyadari bahwa itu adalah hal yang lebih baik untuk dilakukan, seberapa
banyak orang yang bisa langsung mengubahnya menjadi tindakan? Dirinya merupakan sosok yang ingin aku teladani.
Peran Hinako sebagai Ophelia sudah ditentukan. Peran
Hamlet juga tampaknya akan jatuh kepada Taisho. Kelas 2A akan terus maju dengan
persiapan pertunjukan ini.
(…Mungkin
aku juga harus melihat keadaan kelas lain.)
Setelah
merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan di kelasku sendiri, aku keluar dari ruang
kelas.
Aku
berjalan di koridor dan mengintip keadaan kelas 2B secara diam-diam.
“Hmm?
…Itsuki!”
Meskipun
aku hanya mengintip dari jendela koridor, tapi Narika segera menyadari keberadaanku.
Dipadukan dengan caranya yang mendekat sambil tersenyum riang, Narika memang memberi kesan
seperti anjing bagiku. Meskipun ada masa ketika dia dianggap sebagai serigala
yang menakutkan oleh semua orang…
“Ada
apa, Itsuki?”
“Karena persiapan kelasku sepertinya tidak ada masalah,
jadi aku berkeliling buat melihat-lihat kelas lain. …Kelas Narika sedang
latihan paduan suara, kan?”
“Ah,
ya. Kebetulan, sekarang kami sedang mengajarkan cara mengeluarkan suara.”
Cara
mengeluarkan suara?
Tanyaku
balik sambil memiringkan kepalaku, lalu Narika sedikit malu-malu dan menambahkan penjelasan.
“Jadi yah, karena rupanya suaraku terlalu keras saat
pemilihan. Mereka lalu
memintaku untuk mengajarkan cara mengeluarkan suara… Sebenarnya, aku percaya
diri dengan volume suaraku. Teknik vokal berkaitan dengan seni bela diri.”
Mungkin
itu berkaitan dengan teknik pernapasan atau kapasitas paru-paru.
Jika
aku ingat-ingat
kembali, memang benar bahwa pidato Narika selalu terdengar jelas. Bahkan
sebelum dia terbiasa berbicara di depan umum, suaranya sudah cukup keras.
Saat
kami berbicara, seorang siswi dari kelas 2B
memanggil Narika dari belakang.
“Onee-sam—-Mi-Miyakojima-san. Boleh aku bicara
sebentar?”
“Ada
apa?”
Dia baru saja mencoba memanggilnya apa?
Melihat
Narika yang menoleh dan siswi di depannya, aku merasa penasaran. …Karena Narika tampaknya tidak
mempermasalahkannya, sepertinya tidak perlu menggali lebih dalam. Aku juga
tidak ingin menjadi masalah.
“Jika
menggunakan pernapasan diafragma, bagaimana suara akan berubah?”
“Mari
kita coba praktikkan.”
Pertanyaan
siswi itu membuat Narika terlihat semangat seolah-olah itu adalah pertanyaan
yang bagus. Namun, setelah beberapa saat mengamati dalam keheningan, Narika
menatapku dengan wajah yang sedikit malu.
“Kamu tidak langsung
mencobanya?”
“Yah…
aku
merasa gugup jika
dilihat Itsuki.”
“Jika
kamu tidak bisa mengeluarkan suara di
depan umum, bagaimana kamu bisa mengajarkannya?”
“Bukannya begitu…”
Lalu
bagaimana dia bisa mengajarkan cara mengeluarkan suara? Aku merasa bingung,
tetapi Narika menjawab dengan wajah yang agak canggung.
“Mengeluarkan suara keras di depan Itsuki tuh
rasanya… agak
memalukan…”
“…Be-Begitu ya.”
Narika
jelas-jelas
memiliki
perasaan khusus hanya terhadapku, dan aku tidak bisa mengatakan lebih dari itu.
…Karena aku sudah mengetahui perasaannya, jadi aku
bisa memahami sikapnya.
“Kalau
begitu, aku akan pergi…”
“Ah,
tunggu sebentar!”
Saat
aku mencoba meninggalkan ruang kelas, Narika dengan cepat memanggilku untuk
berhenti.
“Dulu,
kamu pernah berkonsultasi tentang pengawasan seni tradisional, ‘kan? Tadi aku baru saja berbicara
dengan kelas itu, dan bukan hanya pengawasan, aku juga akan membantu
menampilkan seni itu sendiri. Karena tidak
akan memakan banyak waktu, dan aku sudah mendapat izin dari Tennouji-san.”
“Oh,
begitu,” kataku sambil mengangguk, dan Narika melanjutkan.
“Jadi…
umm, jika memungkinkan, rasanya akan sangat
membantu jika Itsuki bersamaku.”
“Baiklah.
Narika juga pasti sibuk, jadi aku akan membantu.”
“Aku
sangat berterima kasih…!!”
Meskipun
aku tidak yakin
apa yang bisa kulakukan…
Saat
aku memikirkan hal itu, Narika tersenyum lembut.
“Nishi-san dulu pernah mengatakannya, iya ‘kan? Saat aku bersama Itsuki, aku terlihat
lebih lurus dan keren dari biasanya.”
“Ah,
iya.”
Dia
memang pernah mengatakannya…
“Aku
merasa itu benar. Jadi, aku ingin Itsuki berada di sampingku sebisa mungkin.”
Narika
kembali menunjukkan ekspresi malu-malu. Ketika dia mengungkapkan rasa
percaya dirinya sedemikian rupa, aku juga merasa sedikit malu, tetapi… lebih dari
itu, rasa senang menyelimuti hatiku.
Narika
di masa lalu pasti akan mencerna kata-kata Nishi-san berulang kali, dan mungkin
mengembangkan rasa kemandirian yang membuatnya sadar bahwa dia tidak bisa
selamanya berada di sisiku. Namun, Narika yang baru-baru ini berusaha keras,
kini bisa membedakan antara hal-hal yang bisa dia lakukan sendiri dan hal-hal
yang lebih baik dilakukan dengan bantuan orang lain.
Sebenarnya,
Narika sudah memiliki sikap positif terhadap meminta bantuan orang lain. Dari Narika
yang dulu, terkadang rasanya
ada nuansa rendah diri yang ingin didukung oleh orang lain. Tapi sekarang, aku
merasa dia mengandalkan orang lain untuk mencapai hasil yang lebih baik.
Itulah
sebabnya semua orang merasa senang ketika dia mengandalkan mereka.
Aku
merasa seolah-olah aku seharusnya ada di sini… dan itulah perasaan yang tulus.
“Baiklah.
Aku
akan berusaha
untuk tetap berada di sisimu pada hari acara.”
“Itsuki…”
Tatapan
Narika yang menatapku tampak sedikit basah.
…Ternyata
bukan hanya Narika yang menatapku.
“Ehm… apa aku mengganggu?”
“Ti-Ti-Ti-Tidak, sama sekali tidak!!”
Narika
buru-buru mulai memberikan saran kepada
siswi yang bertanya tentang pernapasan diafragma. Melihat pemandangan itu, aku
pun pergi untuk mengintip kelas lain.
(Kelas
C yang merupakan kelasnya Tennouji-san… sepertinya
sedang latihan dansa sosial.)
Latihan
dansa di dalam kelas pasti tidak nyaman. Mungkin siswa di kelas C tidak ada di
dalam kelas. Atau begitulah yang kupikirkan, tapi saat mendekati kelas, aku
mendengar suara ramai.
“Wow…”
Saat
aku mengintip ke dalam kelas, aku mengeluarkan
suara kagum.
Di
tengah kelas, meja dan kursi disusun ke pinggir, dan pasangan laki-laki dan
perempuan sedang menari waltz. Aku tidak tahu siapa siswa laki-lakinya, tetapi gadis itu adalah Tennouji-san. Rambut
pirangnya yang bergelombang berayun
lembut.
Ketika
alunan
musik
berakhir, kedua penari itu berhenti bergerak.
Tepat
pada saat itu, ketika mereka sepertinya akan memasuki waktu istirahat, mata Tennouji-san
menangkap sosokku di koridor.
“Oh,
Tomonari-san.”
Tennouji-san
segera menghampiriku sambil mengibaskan
tangannya
untuk mengusir keringat yang sedikit membasahi kulitnya.
“Ap
kelas Tomonari-san baik-baik saja?”
“Iya. Makanya aku sedang berkeliling begini.”
“Bagus
sekali. …Sebenarnya, aku tidak pernah meragukan sifat serius Tomonari-san.”
Tennouji-san
tersenyum anggun.
“Kamu sedang berlatih dansa sosial di
kelas, ya? Kupikir kelas kalian akan melakukannya di aula atau semacamnya.”
“Kami
memang berencana melakukannya di sana nanti. Kami juga harus belajar cara
menggunakan aula. Namun, pertama-tama,
kami perlu memeriksa
kemampuan masing-masing secara satu lawan satu.”
Usai mendengar
istilah satu lawan satu, aku langsung teringat saat pertama kali Tennouji-san
mengajarkanku belajar. Sejak saat itu, bimbingan Tennouji-san sangat mudah
dipahami. …Jika dipikir-pikir, itulah awal mula kedekatanku dengan Tennouji-san.
“A-Anu!”
Seorang
siswi dari kelas C memanggil kami.
“Kalau
boleh, apa kalian berdua bisa menunjukkan cara menari kepada kami?”
“Eh?”
Kenapa
aku juga harus ikutan? …Pikirku, tetapi ketika melihat
sekeliling, semua siswa di kelas C mengangguk serentak. Sepertinya semua orang
ingin melihat kami menari.
Hah…
kenapa?
“…Hmm,
sepertinya itu ide yang bagus. Mari kita tunjukkan contohnya kepada semua orang.”
Contoh!?
“Eh,
itu sepertinya agak berat bagiku…”
“Apa iya?”
Mata
Tennouji-san yang tulus dan polos
menatap lurus ke arahku.
“Kamu
bisa menari kan?”
Yah,
sebenarnya…
“Baiklah,
ayo kita lakukan bersama.”
Tennouji-san
menarik lenganku dan membawaku masuk ke dalam kelas
C.
Aku mulai merasa gugup karena dikelilingi oleh siswa-siswa kelas
C dan mendapat tatapan penuh harapan, tetapi anehnya, begitu berhadapan dengan Tennouji-san,
tubuhku terasa lebih rileks.
Ketika
aku menyentuh bahu Tennouji-san, ketegangan dalam diriku semakin berkurang. Aku
memahami penyebab ketenangan yang mulai mengalir dalam hatiku. Aku tahu dengan
segenap jiwaku. Jika bersama
orang ini, apapun yang kami lakukan pasti akan berjalan dengan baik.
Alunan musik pun dimulai, dan kami mulai menari waltz. Gerakan
yang sudah mengalir dalam tubuhku menjawab kepercayaanku. Tanpa memikirkan
apapun, aku bisa menampilkan tarian yang anggun dengan sendirinya.
Saat
menari, pandangan mataku
bertemu dengan mata Tennouji-san.
“Sepertinya
kamu
jadi ikut
terlibat, ya.”
“Aku memang ikut terlibat, ya…”
Aku
tersenyum pahit.
“Apa
kamu tidak keberatan?”
“Tentu
saja tidak.”
Mana
mungkin aku merasa
keberatan.
“Sungguh suatu kehormatan aku bisa
menari denganmu, Tennouji-san.”
Saat
aku menatapnya dengan tulus, Tennouji-san tersenyum lembut.
“Seperti
biasa, kamu memang
pandai berbicara, ya.”
Ketika
kami sampai di sudut kelas, kami melakukan reverse turn dengan sedikit
putaran dan berbalik. Waktunya sempurna. Bahkan tanpa perlu kontak mata, kami
bisa saling menyesuaikan langkah.
Aku
melihat ekspresi siswa-siswa di sekitar kami. Semua orang menatap kami dengan
mata berbinar.
(…Mungkin
ini karena
efek dari kampanye pemilihan.)
Di
dalam
acara perayaan festival
budaya Akademi Kekaisaran, ada tiga pertunjukan utama. Teater, paduan
suara, dan dansa sosial, tetapi… entah bagaimana, kelas 2A dan 2C akan
menampilkan ketiga pertunjukan tersebut.
Namun,
dari sudut pandang yang menghitung hasil setiap kelas, aku merasa ada pengaruh
dari kelas lain terhadap kelas A dan C. Kelas A tentu saja ingin melihat pertunjukkan teater Hinako. Dan kelas C ingin
melihat tarian Tennouji-san.
Selama
periode pemilihan OSIS,
aku dan Tennouji-san mengambil langkah untuk menari dansa sosial di depan
siswa-siswa. Rasanya masih ada dampak dari kejadian saat itu. Faktanya, di antara
formulir survei harapan yang diajukan oleh setiap kelas, ada catatan yang
mengatakan “Aku
ingin melihat tarian Tennouji-san.”
“Awalnya
mungkin tarian saat kampanye pemilihan,” kata Tennouji-san sambil menatap
mataku.
“Namun,
permintaan untuk melihatnya
lagi tidak diragukan lagi merupakan bukti kemampuan kita.”
Itu
benar. Jika kemampuan kami tidak bagus, mana mungkin ada yang meminta
untuk melihat lagi.
“Aku
mengerti.”
“Oh?”
Tennouji-san
tampak terkejut.
“Aku
juga tidak selalu bersikap merendah terus.”
Benar,
hanya bersikap rendah hati tidaklah cukup. Aku menyadari hal itu setelah
terjebak dalam strategi kubu Jouto
selama periode pemilihan. Kesadaran itu datang terlambat.
Demi
memastikan tidak mengulangi kesalahan yang sama, apa yang harus dilakukan? —
Sebenarnya, aku sedang memikirkan sesuatu, tetapi belum bisa melaksanakannya.
Itu
adalah sesuatu yang membutuhkan sedikit keberanian. Tarian kami sudah hampir selesai. Kami
melangkah dengan langkah-langkah klasik. Turning lock, left whisk, contra
check… Tennouji-san menutupnya dengan pose dramatis yang mengangkat
dadanya.
Setelah
membungkuk, kami menerima tepuk tangan dari para siswa. Di tengah tepuk tangan
itu, tatapan
mataku bertemu dengan mata Tennouji-san.
“Kamu
tidak terlihat kaku, ya?”
“Aku merasa terhormat.”
Dansa
sosial melibatkan tubuh pria dan wanita yang berdekatan, bertukar pandang pada
jarak di mana napas mereka menyatu, dan bersama-sama menciptakan sebuah seni.
Mungkin karena itulah,
setelah selesai menari, jarak di antara kami terasa sedikit aneh. Meskipun saat
ini aku menatap Tennouji-san secara langsung, aku sama sekali tidak merasa
malu. Rasanya seperti kami baru saja terhubung lebih dalam.
“Tomonari-san,
bagaimana jika kita menari satu lagu lagi di festival budaya?”
Tennouji-san
mengusulkan dengan senyuman.
“Aku awalnya berencana untuk membantu
satu lagu saja. Itu tidak akan mengganggu pekerjaan OSIS… Jadi, aku ingin memilih Tomonari-san
sebagai pasanganku.”
Tidak
ada alasan untuk menolak. Jika yang mengundang adalah Tennouji-san, berapa kali
pun dia mengajak, itu adalah kehormatan.
“Jika
kamu tidak keberatan, aku akan bergabung.”
“…Hehe,
kamu masih sangat rendah hati.”
Tennouji-san
tertawa kecil.
“Aku takkan melakukannya
jika itu bukan dirimu.”
…Oh,
ini memang membuatku terkejut.
Dengan
tubuh yang berkeringat, aku mengibaskan telapak tangan untuk mengusir panas.
Wajahku anehnya terasa
panas.
◆◆◆◆
Ketika
aku selesai memastikan keadaan kelas D, tubuhku yang berkeringat sudah cukup
dingin. Waktunya sudah memasuki pertengahan November. Angin yang
bertiup di koridor terasa dingin di kulit, dan jika aku berkeringat di tengah jalan,
tubuhku malah akan semakin dingin.
Saat
aku mengintip ke dalam kelas E, aku melihat ada kerumunan siswa berkumpul. Usai melihat salah satu siswa laki-laki
di tengah kerumunan itu, aku tidak bisa menahan napas.
Jouto Ren… Ia adalah pria yang menghalangi
kami hingga akhir dalam pemilihan OSIS.
Gaya
rambutnya tetap disisir ke belakang. Di paruh pertama pemilihan, dirinya menurunkan rambutnya untuk
menutupi matanya, tetapi aku merasa ia takkan kembali ke penampilan itu lagi.
Bagiku, inilah penampilan aslinya. Aku kembali berpikir, gaya rambutnya yang
sekarang justru lebih cocok.
Sejujurnya,
aku merasa kemenangan kami dalam pemilihan OSIS itu sangat tipis. Jika salah satu langkah kami
gagal, kami pasti akan kalah. Sekarang aku berpikir, sebagian besar keberhasilan
langkah-langkah kami berkat reputasi yang dibangun oleh Tennouji-san dan Narika.
Sebaliknya, jika Jouto
memiliki reputasi yang sama, mungkin kami akan berada dalam masalah besar.
Pemilihan
sudah berakhir. Namun, begitu melihat sosok Joto, aku merasa tegang. Bagiku,
Joto adalah musuh yang sangat tangguh.
(…Perasaan
tidak nyaman ini tidak baik.)
Tak
ada gunanya terus-terusan memikirkan perasaan ini. Jika bisa, aku ingin segera menyingkirkannya sekarang juga. Dengan pemikiran
itu, aku memutuskan untuk menyapa Jouto.
“Jouto-kun.”
Saat
aku memanggil namanya, Jouto
segera menoleh dan mendekat.
“Tomonari-kun,
ada apa?”
“Aku cuma datang untuk memeriksa sebagai
anggota OSIS. …Sepertinya kelasmu berjalan
lancar ya.”
“Ya.
Di kelas kami ada dua siswa yang keluarganya menjalankan bisnis pariwisata,
jadi kami memutuskan untuk mempromosikan daerah yang berhubungan dengan Akademi Kekaisaran.”
Aku
melihat sekeliling kelas, dan ada beberapa
poster yang tampaknya sedang dibuat terlihat. Ada informasi tentang daerah
penghasil daun teh untuk teh Akademi Kekaisaran dan pabrik jahit seragam siswa.
Pamerannya
cukup menarik. Produk-produk berkualitas tinggi yang digunakan di akademi ini
tampaknya memiliki daerah produksi yang unik, misalnya, sebagian seragam siswa
diproduksi di luar negeri. Itu sesuai dengan keinginan desainer yang
bertanggung jawab.
Sama seperti dalam industri pariwisata,
ada banyak foto indah yang digunakan,
tapi…
“Tokoh
sentralnya tampaknya adalah Jouto-kun, ya.”
“…Kamu
bisa melihatnya?”
Dari
pemandangan yang kulihat
sebelumnya, sepertinya Jouto
adalah pusat perhatian di kelas ini. Saat ini, para siswa yang ingin meminta
petunjuk dari Jouto
sedang menatap ke arah kami.
“Meskipun
aku kalah dalam pemilihan, tapi masih
ada banyak orang yang menghormatiku.
…Karena itulah,
aku merasa bersalah. Aku benar-benar ingin menang.”
Merasakan panas yang pasti dari api yang
hampir padam di tengah abu, aku menelan ludahku. Aku harus berdiri tegak di
depan Jouto.
Itulah ketulusan yang harus ditunjukkan oleh seorang pemenang.
“Aku
akan berusaha agar tidak dibilang
‘mendingan bertukar saja denganku’ nanti.”
“Begitu
kamu menciptakan kondisi yang menekan dirimu sendiri, itu sangat sesuai dengan
dirimu, Tomonari-kun.”
Ugh…
Baru
saja aku merasa percakapan ini berjalan dengan baik, tiba-tiba sebuah pisau
kata yang tajam meluncur ke arahku, membuatku terkejut.
Jika
dipikir-pikir, mungkin aku cenderung berpikir seperti itu…
“Mungkin
ini terdengar ikut campur,
tetapi menekankan berat tanggung jawab dalam dirimu sendiri merupakan tanda bahwa kamu tidak memiliki
kepercayaan diri untuk memenuhi tanggung jawab itu, bukan?”
“Ugh…”
“Meskipun
itu mungkin membantu untuk pertumbuhan pribadi, setelah menjadi wakil ketua,
kurangnya kepercayaan diri itu bisa berdampak buruk pada orang-orang di
sekitarmu.”
“Uggggghhh~~~…”
Tolong,
hentikan…
Rasanya terlalu nyelekit… Dirinya terlalu bisa membaca hatiku…
Meskipun
hanya dalam waktu singkat, kami telah mengakui satu sama lain sebagai rival. Sama seperti aku mengamati Jouto, dirinya juga pasti mengamatiku.
Meskipun mungkin terdengar aneh, Jouto
lebih mengenalku dibandingkan teman sekelas yang jarang berinteraksi denganku.
Namun,
setelah Joto mengemukakan pendapatnya, dia menunjukkan ekspresi menyesal.
“…Maaf,
aku mungkin telah berlebihan.”
Jouto menunjukkan sikap menyesal.
“Aku
juga masih belum dewasa.
…Kupikir aku sudah tenang, tetapi
sepertinya aku masih merasa kesal.”
Aku
merasa ada kebenaran dalam kata-kata Jouto,
tetapi tampaknya itu adalah pernyataan yang tidak perlu baginya.
Kita
semua masih belum dewasa.
Itulah sebabnya ada celah untuk dimanfaatkan, dan kita terlibat dalam
pertarungan yang ketat. Jika salah satu dari kita sempurna… seolah-olah seperti
Hinako yang mengenakan kedok Ojou-sama yang sempurna, penyelesaian akan
terjadi dalam sekejap.
Itu
mungkin terdengar menyedihkan.
“Terakhir,
satu hal saja.”
Jouto menatap mataku dan bertanya.
“Apa
kamu akan tetap menggunakan nada bicara yang sama begitu padaku?”
“……”
Pada akhirnya, dirinya tersentuh di bagian diriku yang paling tidak ingin disentuh.
Tidak… aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri selamanya, dan dalam arti
tertentu, aku merasa senang ada seseorang yang menyentuhnya.
Sebuah
langkah pertama demi menuju kelulusan dari sekadar kerendahan hati.
Kupikir itu dengan mengubah nada suaraku.
Aku
tidak menganggapnya sebagai sekadar penggunaan kata-kata. Terutama di Akademi Kekaisaran yang sangat menghargai etika dan
sopan santun, nada bicara memiliki martabat tersendiri. Ada ketakutan kalau
martabat itu bisa hilang.
Singkatnya,
apa yang sebelumnya diizinkan karena penggunaan bahasa hormat, mungkin tidak
akan diizinkan lagi ke depannya.
Ketidakpastian
apa aku bisa bertahan dengan perubahan lingkungan seperti itulah alasan mengapa
aku sulit untuk melangkah maju.
“Tomonari-kun
yang berani saat mengajak duel itu sangat keren.”
Setelah mengatakan itu, Jouto kembali ke tengah kelas.
Karena
sebelumnya aku mengakuinya
sebagai musuh, ketika dirinya
mengakui keberadaanku, rasa percaya diriku meningkat.
…Aku
harus melakukannya.
Lebih
baik segera daripada nanti. Jika aku berpikir, “Ah, nanti saja setelah
festival budaya…” pada akhirnya aku akan terus menunda-nunda.
Hal-hal
baik datang lebih cepat, lebih cepat lebih baik, kesempatan baik tidak datang
dua kali, dan besi harus dipukul saat masih panas.
Berbekal keberanian dan kata-kata tersebut, aku menuju ruang OSIS.
◆◆◆◆
Setibanya
di ruang OSIS,
aku melihat Abeno-san dan Yodogawa sudah kembali. Sepertinya tidak ada masalah
dengan keadaan kelas mereka
masing-masing. Keduanya tampak serius mengerjakan tugas mereka.
Saat
aku sedang menangani beberapa pekerjaan,
Tennouji-san dan Narika kembali bersama. Setelah masing-masing melaporkan hasil
pengawasan mereka secara singkat, mereka kembali fokus pada pekerjaan. Dalam
keheningan yang pas, aku menguatkan tekadku.
(…Aku
sudah mendapatkan izin dari Shizune-san)
Aku
juga sudah membicarakannya dengan Hinako. Tidak ada alasan untuk terus
menundanya
lebih lama lagi.
Ketika
aku menguatkan tekadku,
Abeno-san menyerahkan beberapa lembar kertas padaku.
“Tomonari-san,
aku sudah
menghitung anggaran yang bisa digunakan untuk penyambutan menteri, dan
sepertinya kita bisa meningkatkan kualitas kursi
untuk tamu kehormatan menjadi
kursi ini…”
…Kesempatan emas telah
tiba.
Setelah
memeriksa anggaran dan dokumen kursi, aku melihat ke arah Abeno-san dan
menjawab.
“Ah,
kurasa itu sudah bagus.”
Aku
berpura-pura tenang dan
menjawab dengan nada yang alami. Seketika itu juga, semua orang
yang ada di ruang OSIS
menoleh
ke arahku secara bersamaan.
“Hee.”
Pandangan mata Tennouji-san melebar.
“Ahh.”
Narika
terlihat panik. …Mungkin dia berpikir aku telah salah dalam nada bicaraku.
“Eh?”
Yodogawa
tampak kebingungan. Seolah-olah ingin bertanya apa
dirinya
salah mendengar.
Dan terakhir,
Abeno-san menatapku dengan ekspresi kaku.
“…Umm, apa aku telah melakukan sesuatu
yang tidak sopan?”
“Tidak,
tidak!! Bukan
seperti itu!! Ah, maksudku, tidak ada yang seperti itu!!”
Benar
juga. Kalau aku tiba-tiba mengubah nada suaraku, mereka akan bingung duluan
sebelum mau menerimaku.
Tentu
saja tidak. Dengan perasaan ingin mengelak seperti itu, aku menahan diri dan
menjelaskan situasinya.
“Sebenarnya,
ada sesuatu yang mengganjal
pikiranku, dan aku ingin mengubah nada bicaraku...…”
Sesuatu? Mereka tampak kebingungan. Sepertinya penjelasan setengah
hati takkan cukup.
Karena aku
dan anggota OSIS lainnya akan
saling membantu untuk waktu yang lama, jadi sebaiknya aku mulai menjelaskan semuanya dari awal.
“…Mungkin cuma ada beberapa orang yang sudah mengetahuinya, tetapi inilah diriku yang
sebenarnya. Ketika aku pindah ke Akademi Kekaisaran, aku mengubah banyak hal
agar bisa mengikuti semua orang, tetapi belakangan ini aku terbiasa merendahkan
diri. Itu membuatku hampir dalam masalah saat pemilihan.”
Karena
aku cenderung menghormati siapa saja, aku tidak bisa melihat niat buruk dari Minato-senpai. Melihat orang-orang yang
mencapai hasil lebih baik dariku, aku mulai merasakan penerimaan alih-alih rasa
kalah.
“Jadi…
aku ingin mencoba untuk lebih percaya diri.”
Aku
ingin melepaskan kebiasaan merendahkan diri. Itulah maksudku yang ingin
kusampaikan kepada semua orang.
“…Kurasa itu bukan hal yang buruk.”
Sepertinya
Abeno-san ingin mengambil tanggung jawab atas kesalahpahaman awal, jadi dialah yang pertama menanggapi.
“Hal itu tidak akan menghilangkan
kepribadian jujurmu, Tomonari-san. Malahan, menurutku nada bicara yang lebih santai
akan lebih cocok untukmu.”
Mungkin,
ungkapan “cocok” itu mengandung perhatian.
Aku
sadar bahwa banyak orang menganggapku jujur, jadi aku akan menganggap
kepribadianku sebagai orang yang jujur. Namun, jika ditambah dengan kesopanan,
aku baru menyadari bahwa itu bisa membuatku terjebak dalam kerendahan hati yang
berlebihan dan menjadi rendah diri.
Ada
batasan untuk segala hal. Sikap rendah hati ini sangat membantuku saat baru pertama kali
pindah, tapi
sekarang, berbicara dengan nada sopan kepada siapa pun mungkin sudah
berlebihan.
Seperti
yang dikatakan Abeno-san, aku tidak berniat mengubah sikapku yang ingin jujur
hanya dengan mengubah nada bicara. Namun, saat ini aku hanya membutuhkan salah
satu dari keduanya. Jika demikian, aku akan memilih sikap jujur dan
menyesuaikan nada bicara untuk keperluan selanjutnya.
Hal
yang kubutuhkan selanjutnya adalah kesadaran untuk menjadi pemimpin. Wajah Jouto melintas di benakku. Aku tidak
ingin dianggap mengecewakan olehnya.
“Ngomong-ngomong, kamu sudah berbicara dengan
Miyakojima-san
dengan nada seperti itu selama beberapa waktu, ‘kan? Kurasa semua orang punya
gambaran samar bahwa itulah dirimu yang sebenarnya,” kata Abeno-san,
melanjutkan setelah terkejut.
Kalau dipikir-pikir, memang benar kalau aku selalu bicara dengan Narika
dengan gaya bicaraku yang alami. Mungkin aku terlalu tegang.
“Aku
juga setuju untuk menunjukkan dirimu
yang sebenarnya! Itu akan lebih mengesankan!” Yodogawa mengangguk setuju.
“Aku
tentu saja tidak keberatan,” kata Abeno-san.
“Aku
juga setuju,” imbuh Narika dan Tennouji-san, yang juga ikut mendukungku.
Saat
aku merasa lega, Tennouji-san menatapku dengan serius.
“Tomonari-san…
selamat.”
Tennouji-san
tiba-tiba mengucapkan kata-kata selamat. Kemudian, Narika juga tersenyum sambil
mengucapkan kata-kata selamat.
“Benar.
…Itsuki, selamat.”
Aku langsung memahami makna dari ucapan selamat mereka berdua.
Mereka berdua sudah mengetahuinya. Mereka tahu bahwa identitasku
bukanlah putra pewaris perusahaan IT menengah, melainkan hanya seorang rakyat
biasa. Demi
menyembunyikan itu, aku harus mengubah segala hal mulai dari nada bicara hingga
sikapku.
Inilah
momen kelulusanku.
Kelulusan
dari diriku yang hanya bisa merendahkan diri kepada siapa pun.
Tennouji-san
dan Narika menghargai usaha yang telah kulakukan selama ini.
“Sepertinya
ada topik yang hanya kami berdua yang tidak bisa mengikuti,” kata Abeno-san.
“Benar!
Ini menyedihkan!” Yodogawa menjawab, saling bertukar pandang.
Aku
tidak berniat untuk mengucilkan mereka, tetapi… sebenarnya, aku, Tennouji-san,
dan Narika sudah cukup akrab, bahkan sering bertemu di acara teh, jadi kami
memiliki banyak topik yang dibagikan.
“Tennouji-san
dan Narika tahu tentang masa-masa ketika aku baru pindah ke Akademi Kekaisaran.
Saat itu, aku berusaha keras untuk beradaptasi, termasuk nada bicaraku…”
Jadi,
itulah mengapa mereka menghargai usahaku.
Ketika
aku menjelaskan dengan singkat, ekspresi terkejut muncul di wajah Abeno-san dan
yang lainnya.
“…Jadi,
kamu sudah berusaha keras, ya. Aku hanya tahu Tomonari-san yang terbaru, jadi
aku tidak mendapatkan kesan yang tidak dewasa…”
“Aku
juga merasakannya! Malahan,
aku punya kesan bahwa Tomonari-san sangat berbakat dalam permainan manajemen
dan sudah dianggap jenius sejak awal!”
Aku tak pernah menyangka bahwa akan ada masanya ketika aku dianggap jenius.
Sampai
di sini, aku benar-benar mengalami banyak kesulitan... Hari-hari ketika Tennouji-san
mengingatkanku untuk menjaga postur masih terasa nostalgia. Bahkan sekarang, kadang-kadang
dia masih memberikan penekanan.
“Tomonari-san,
kamu orang yang sangat berusaha, ya! Aku benar-benar menghormati itu!”
“Terima
kasih.”
Yodogawa
menatapku dengan tatapan bersinar.
“...Aku
sudah lama penasaran, tapi nada bicara Yodogawa itu cukup unik, ya?”
Mungkin
dia juga memiliki pengalaman yang berliku-liku sepertiku?
Dengan
perasaan itu, aku bertanya...
“Ah,
aku memang punya sifat yang sangat akrab, jadi orang tuaku memaksaku
menggunakan bahasa sopan! Tapi ketika aku menggunakan bahasa yang sopan, aku
tidak bisa mengekspresikan diriku sepenuhnya, dan itu membuatku sulit untuk dekat
dengan orang lain, jadi aku menyesuaikannya agar tidak menggangguku! Ini
rahasia dari orang tuaku, jadi aku harap kalian semua bisa merahasiakannya!”
Alasannya ternyata cukup biasa
saja. Saat
aku tersenyum kecut, kali ini giliran Abeno-san yang bertanya kepada Yodogawa.
“Tapi
Yodogawa-san, ketika kamu membuat undangan, aku melihat kalau tulisanmu sangat bagus. Apa kamu
pernah
belajar
kaligrafi seperti Miyakojima-san?”
“Iya!”
Yodogawa
balas
mengangguk.
“Sejak
kecil aku memang tidak bisa diam, jadi orang tuaku memaksaku belajar kaligrafi!
Yah, pada akhirnya, aku jadi orang yang ribut dengan tulisan yang bagus!”
Hahahaha! Kami hanya bisa tersenyum kecut
mendengar Yodogawa tertawa.
Orang
ini terlalu positif...
Namun,
aku bisa merasakan kesulitan yang ia rasakan karena tidak bisa mengekspresikan
diri dengan baik saat menggunakan bahasa sopan. Mungkin bagi beberapa orang,
menggunakan bahasa sopan tidak menjadi masalah, tetapi aku merasa saat
berbicara jujur dengan orang lain, nada bicaraku yang asli akan muncul. Saat
berbicara hal-hal penting dengan Hinako, Tennouji-san, atau Narika, aku pasti
kembali ke nada bicaraku yang asli.
“Fufu.”
Tennouji-san
tersenyum tipis.
“Jika
dipikir-pikir, setelah pemilihan OSIS selesai, persiapan festival budaya dimulai
dengan cepat... mungkin kita belum cukup akrab satu sama lain.”
Sulit dikatakan bahwa kami benar-benar mengenal satu sama lain. Tennouji-san
tampaknya bersyukur karena ada kesempatan untuk menyadari hal itu.
“Jika
tidak masalah untuk membuka hati, aku ingin bertanya satu hal...”
Abeno-san
menatapku.
“Jadi,
pada akhirnya, apa benar kalau
Tomonari-san seorang perayu wanita?”
“...”
Kenapa
dia malah
bertanya seperti itu...?
“...Abeno-san,
dari mana rumor itu berasal?”
“Rumor
itu berasal dari murid-murid kelas satu. Aku juga sering ditanya oleh
kenalan tentang kebenarannya, dan aku selalu menjawab bahwa itu rumor yang
tidak berdasar... tetapi jika aku menyebarkan kebohongan, aku minta maaf.”
Jadi
Abeno-san meragukan apakah aku seorang yang menawan.
Mungkin
wajar jika dia merasa seperti itu setelah ditanya berkali-kali... tapi
seandainya dia bisa menyangkalnya sampai akhir.
Aku
menghela napas dan menjawab.
“Itu
rumor yang tidak berdasar. Itu salah satu kampanye negatif yang beredar selama
kegiatan pemilihan.”
“...Kalau dipikir-pikir, memang banyak rumor yang
beredar, ya.”
Abeno-san
sepertinya sempat memahami, tetapi...
“Jadi,
Tomonari-san, kamu benar-benar tidak memiliki hubungan apapun
dengan ketua dan Miyakojima-senpai,
‘kan?”
“...”
Tidak
ada hubungan... rasanya agak sulit untuk mengatakannya dengan tegas...
Melihatku
yang terdiam, Abeno-san menoleh ke arah Tennouji-san dan Narika.
“Ketua
dan Miyakojima-senpai
juga begitu, ‘kan?
Kalian berdua tidak memendam perasaan apapun tentang Tomonari-senpai, benar?”
“...”
“...”
Tennouji-san
dan Narika pun terdiam seperti diriku.
Wajah mereka berdua tampak merah padam. ...Terutama Narika yang
sangat merah. Tapi aku mengerti perasaannya. Terkait Narika, sulit untuk
mengatakan bahwa tidak ada apa-apa.
Bagaimanapun juga, Narika sudah menyatakan
cintanya padaku.
Melihat
situasi kami, Abeno-san berpikir sejenak.
“...Jadi, apa rumor itu benar?”
“Tidak!!
Pokoknya, itu, tidak benar!!”
Aku
bukan perayu wanita!!
Pokoknnya...
aku
bukan orang yang begitu!!
◆◆◆◆
Setelah
menyelesaikan
pekerjaan
OSIS-ku,
aku kembali ke rumah dan masuk ke dalam kamarku.
“Aku pulang.”
“Hmm...
selamat datang kembali~...”
Seolah-olah
itu hal yang paling wajar di dunia, Hinako terlentang di tempat tidurku. Hinako yang duduk bersandar di
tempat tidur menatapku saat aku meletakkan tas dan menghela napas.
“Itsuki,
kamu capek...?”
“Yah,
iya. Aku mencoba berbicara
dengan nada biasaku saat melakukan kegiatan OSIS...”
Aku
sudah memberitahu Hinako bahwa aku ingin kembali menggunakan nada bicaraku yang biasa saat di akademi, tetapi aku tidak memberitahunya
bahwa itu terjadi hari ini, jadi Hinako terkejut. Meskipun aku memutuskan
setelah pemilihan selesai, aku sudah menundanya hingga sekarang, mungkin dia berpikir
untuk melakukannya setelah festival budaya selesai. Sebenarnya, di dalam
hatiku, aku juga berniat melakukan hal yang sama.
“Reaksi
semua orang... bagaimana?”
“Mereka menerimanya lebih mudah daripada yang kubayangkan. ...Sepertinya aku bisa sedikit
santai.”
Terlalu
mudah diterima, sehingga aku belum merasakannya.
Hinako
tersenyum lembut padaku.
“Terima
kasih atas semua kerja kerasmu.”
“...Terima
kasih.”
Hinako
juga mengucapkan kata-kata selamat seperti Tennouji-san dan Narika. Di dunia ini, ada orang-orang
yang selalu mengawasi usahaku dari dekat. Aku harus bersyukur atas kenyataan
itu.
“Hinako
juga terlihat lelah.”
“Hmm...
latihan drama lebih sulit dari yang kukira.”
Hinako kelihatan lebih lelah dibandingkan aku.
Biasanya dia selalu menunjukkan keinginan untuk “bersantai”, tetapi
sekarang wajahnya menunjukkan bahwa dia ingin “istirahat”. Nuansanya
berbeda sedikit.
“Kalau
mau, aku bisa membantu, jika ada yang bisa aku lakukan.”
“...Kalau
begitu, bolehkah aku minta tolong sedikit untuk peran Hamlet?”
“Tentu
saja.”
Hinako
mengambil naskah yang diletakkan di samping tempat tidur dan memberikannya
padaku.
Fakta
bahwa naskah tersebut berada
di sini menunjukkan bahwa Hinako masih berlatih drama setelah kembali ke rumah.
Ini jarang terjadi, Hinako yang biasanya tidak terlalu rajin.
“Jadi
aku harus membaca bagian ini, ‘kan?”
“Hmm.
...Itsuki, kamu tahu tentang Hamlet?”
“Ah,
aku sudah belajar sedikit untuk jaga-jaga.”
Selama
perjalanan pulang, aku mencarinya di dalam mobil.
Hamlet
adalah salah satu dari empat tragedi besar karya Shakespeare yang dipentaskan
pada awal abad ke-16. Tiga tragedi besar lainnya adalah [Othello], [Macbeth], dan [King Lear], sementara [Romeo dan Juliet] sebenarnya tidak termasuk di
dalamnya karena banyak bagian yang bersifat komedi.
Sebenarnya,
Hamlet adalah karya yang terus-menerus memiliki perkembangan serius dengan tema
yang berkaitan dengan perebutan tahta. ...Pangeran Denmark, Hamlet, berduka
atas kematian ayahnya. Namun suatu hari, dia mengetahui bahwa ayahnya dibunuh.
Pelakunya adalah pamannya sendiri,
raja saat ini. Ia
membunuh ayah Hamlet dan merebut tahta serta istrinya. Setelah mengetahui
kebenaran tersebut,
Hamlet bersumpah untuk membalas dendam, tetapi balas dendamnya melibatkan
banyak orang dan membawa malapetaka.
Ada banyak
karakter yang terlibat dalam balas dendam Hamlet, tetapi yang paling mewakili
adalah seorang gadis bernama Ophelia. Dia adalah kekasih Hamlet. Namun, Ophelia
tidak bisa mengikuti kegilaan Hamlet yang dipicu oleh rasa dendam, dan merasa hancur.
Akhirnya, Hamlet secara tidak sengaja membunuh ayah Ophelia, dan Ophelia yang
putus asa kehilangan akal, jatuh ke sungai dan meninggal. ...Sungguh tragedi yang tak terelakkan.
Hinako
terpilih
untuk
memerankan karakter Ophelia ini. Semakin banyak aku mencari tahu, semakin aku
menyadari bahwa ini merupakan
peran yang sangat penting. Dapat dikatakan bahwa Ophelia adalah sosok yang
membuat karya Hamlet menjadi tragedi.
Setelah membaca
naskah yang diberikan Hinako, aku membayangkan adegan yang akan aku perankan.
“Bagian
ini adalah adegan terkenal, ‘kan?”
“Hmm...
makanya aku harus sedikit lebih
berusaha.”
Hinako
yang selalu ingin bersantai mengatakan itu, jadi adegan ini pasti sangat
penting dan akan menentukan kualitas drama.
Ini
adalah adegan di mana Hamlet yang bersumpah untuk membalas dendam berseteru dengan Ophelia. Hamlet
berpura-pura gila untuk membalas dendam. Ophelia bingung dan merana oleh
kegilaannya.
Sejujurnya, aku tidak yakin bisa langsung
memerankan bagian ini. ...Mungkin saat ini, Taishou juga sedang memikirkan hal yang
sama. Memerankan Hamlet tampaknya lebih sulit dari yang kubayangkan.
“Baiklah, kalau begitu, aku akan
membacanya.”
Aku
akan berusaha sebaik mungkin agar bisa berperan dengan baik.
Aku
menghadapi Hinako sambil memegang naskah. Di situ aku menyadari sesuatu yang
jelas. Jika aku memegang naskah, Hinako tidak bisa membaca naskah itu.
“Apa
kamu sudah menghafal dialognya?”
“Hmm...
aku sudah menghafal semuanya.”
“...Tidak
hanya untuk adegan ini?”
“Aku sudah menghafal
semua dialog
Ophelia yang tertulis di naskah. ...Ini adalah draf awal, jadi mungkin akan ada
perubahan ke depannya.”
Kemampuan
Hinako memang luar biasa. Kalau
begitu, aku akan menggunakan naskah ini.
Sekarang
aku adalah Hamlet. Ayahku telah meninggal, dan dalam kesedihan itu, aku
menyadari bahwa alasan kematiannya karena pembunuhan, dan hatiku dipenuhi
dengan keinginan untuk membalas dendam. Meskipun aku merasa kasihan terhadap Ophelia, hasratku tidak
akan mengalahkan rasa kehilangan terhadap ayahku. Aku akan terombang-ambing
antara kebanggaan dan kegilaan.
“‘Selamat
tinggal, Ophelia. Kamu harus pergi ke biara. Manusia tidak seharusnya menikah.
Manusia pada dasarnya adalah penjahat.’”
Setelah berpamitan kepada Ophelia, aku berjalan meninggalkannya. ...Untuk mereproduksi suasana ini, aku berjalan ke dekat dinding dan menjauh dari Hinako.
Hinako
yang ditinggalkan oleh Hamlet mengeluarkan ekspresi penuh kesedihan.
“‘Oh,
wahai para
malaikat! Kembalikan Hamlet kepadaku!’”
Pertunjukkannya itu sungguh menawan dan indah.
“‘Hatinya yang mulia telah terganggu dan kehilangan arah. Dirinya yang memiliki kata-kata setia,
pedang layaknya seorang prajurit, dan wawasan bagaikan seorang
cendikiawan
kini terjatuh ke tanah. Dia telah ditelan oleh kegilaan!’”
Pertunjukan
yang sangat mendalam itu benar-benar menyentuh hatiku.
Aku
merasa bahwa itu sangat
disayangkan karena
hanya aku yang menjadi penontonnya. Pertunjukan ini seharusnya dilakukan di
panggung yang lebih besar dan menarik lebih banyak penonton. Aku sampai
berpikir bahwa mungkin itulah misiku untuk melakukannya mulai sekarang.
Hinako
menghela napas dan kembali ke sikapnya yang biasa, tampak malas. Usai melihat pemandangan itu, aku
akhirnya bisa berpikir jernih lagi. Hanya dengan mendengar beberapa baris
dialog, seluruh tubuhku berkeringat. Jika aku membuka mulut, api semangat di
dalam diriku akan meluap.
“...Rasanya sangat
menakjubkan.”
Sambil
berusaha menahan api semangat itu, aku menyampaikan pendapatku.
“Apa
kamu bisa berakting sebaik itu karena memang sudah sering berlatih?”
“Ya,
kurasa bisa dibilang begitu. Aku sudah terbiasa dengan perhatian orang
lain...”
Sudah kuduga begitu.
“Tapi,
Ophelia masih belum sempurna...”
Sekarang
aku mengerti apa yang dimaksud Hinako dengan kata sempurna. Dibandingkan dengan penampilannya
yang biasa, Ophelia masih kurang bagi Hinako.
“Untuk
memuaskan kakek, aku harus lebih serius dalam berakting...”
Aku
mendengar bisikan Hinako dan sedikit terkejut.
“Jadi
kamu tahu bahwa kepala keluarga akan datang?”
“Hmm,
Papa sudah memberitahuku.
...Meski aku
tidak ingin mendengarnya sih.”
Hinako
menghela napas dengan wajah yang tampak lelah.
“Kakek
sangat teliti dalam menilai, jadi... kurasa ia tidak akan puas hanya dengan kualitas
begini.”
“Itu
memang keras...”
Apa
penampilannya
yang sekarang masih belum cukup...?
Padahal menurutku, itu seharusnya sudah menjadi bentuk
yang sempurna.
“Tapi,
aku sudah menemukan beberapa poin untuk diperbaiki, jadi kurasa adegan ini
sudah membaik.
...Terima kasih sudah membantuku, Itsuki, meskipun kamu juga sedang sibuk.”
“Aku
tidak terlalu sibuk sih.”
Hari
ini aku hanya berbicara dengan anggota OSIS dengan nada yang lebih santai.
Namun—
“Memikirkan
tentang besok membuatku tegang. Selanjutnya, aku harus menjelaskan tentang nada
bicara kepada teman-teman sekelas.”
“Aku
mendukungmu. Semangat ya...”
...Dukungan
yang terasa kurang semangat.
Meskipun
begitu, itu membuatku merasa tenang.
“Akhirnya,
kamu bisa bebas dari nada bicara yang
palsu...”
“Begitulah.”
Mungkin
tidak seharusnya menyebut sopan santun biasa sebagai nada bicara yang palsu,
tapi sebenarnya, aku bukanlah orang yang begitu sopan hingga menggunakan bahasa
formal kepada teman sekelasku. Meskipun tidak bisa disebut sebagai nada yang
palsu, aku memang berinteraksi dengan mereka dengan sikap yang tidak asli.
Ketika memikirkan
tentang besok, aku merasakan ketegangan yang mirip dengan kegembiraan, serta
perasaan kesepian yang mendalam.
Mengapa
aku merasa kesepian?
Pikirku, dan aku segera memahami.
“Aku
telah diselamatkan berkali-kali oleh sikap sopan ini. Dalam arti tertentu,
meskipun itu nada yang palsu, itu tetap penting...”
Aku
merenungkannya.
Sekarang,
kebiasaan merendah yang telah menjadi beban bagiku dulunya adalah sesuatu yang
mendukungku seperti seorang rekan seperjuangan. Jadi, wajar saja
jika aku merasa kehilangan.
Usai mendengar
kata-kataku, Hinako—
“......Eh?”
Entah
mengapa, Hinako terkejut dan membuka matanya lebar-lebar.
Mengapa
dia begitu terkejut?
“Ada
apa, Hinako?”
“......Tidak,
tidak ada apa-apa.”
Hinako
menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangannya.
Sepertinya
ada sesuatu yang ingin dia katakan, tetapi... pada akhirnya, Hinako tidak
memberitahuku dan lebih banyak diam saat kembali ke kamarnya sendiri.
◇◇◇◇
Setelah
kembali ke kamarnya sendiri,
Hinako langsung terjatuh ke atas tempat
tidur.
Dia
menyelubungi dirinya dengan selimut, dikelilingi oleh kegelapan yang hangat.
Tubuh dan kepalanya yang lelah merasa senang. Tidur adalah kebahagiaan baginya
saat ini.
Namun,
sekarang dia tidak bisa tidur. Sejak
tadi, perkataan
Itsuki masih
terngiang-ngiang di kepalanya.
(Nada
bicara yang palsu itu penting...?)
Itsuki
mengatakan bahwa nada bicaranya selama ini memiliki nilai bagi dirinya.
Namun Hinako
tidak bisa memahami itu.
(......Meskipun
itu hanya akting?)
Jika
dipikir-pikir, seperti halnya Hinako yang berperan sebagai Ojou-sama yang sempurna di akademi, Itsuki juga
memainkan karakter yang berbeda dari sifat aslinya di akademi. Mungkin ia tidak
terlalu menyadarinya, tetapi Itsuki telah melakukan hal yang mirip dengan Hinako selama ini.
Oleh
karena itu, Hinako
merasa perlu mengapresiasi usahanya.
“Terima
kasih atas semua usaha yang telah dilakukan hingga saat ini. Akhirnya, kamu
bebas...”
Akting
yang hanya merupakan tekanan dari posisi dan tanggung jawab. Kebahagiaan untuk
dibebaskan dari itu merupakan
sesuatu yang bisa dirasakan Hinako lebih dari siapa pun.
Namun,
reaksi Itsuki berbeda dari yang dibayangkannya
Itsuki
tidak pernah menganggap bahwa aktingnya selama ini merupakan hal yang buruk.
(Aku
tidak pernah berpikir bahwa aku diselamatkan oleh aktingku sendiri...)
Mungkin...
Aku
juga begitu?
Hinako berpikir seraya menyandarkan wajahnya di bantal yang empuk. Bagi Hinako, akting hanya terasa
melelahkan, tetapi mungkin saja melalui akting ini, dia mendapatkan
tempatnya.
Ojou-sama yang sempurna.
Dirinya yang lain...
(Aku
selalu berpikir kalau aku merasa benci terhadap
akting...)
Dia
teringat kembali pada masa lalu. Saat dia harus mulai berakting.
Masa
kecilnya yang dikenal sebagai anak jenius. Pada masa itu, semua orang begitu
baik. Namun, meskipun dia dipuja oleh orang lain, dia tidak merasakan
kebanggaan. Dia lebih menyukai waktu-waktu yang tenang daripada saat-saat
dipuji sebagai jenius.
Setelah
sifat aslinya yang merosot terungkap, banyak hal yang terjadi. Pertama,
tunangannya saat itu meninggalkannya, dan hubungan mereka berakhir. Tepat pada
waktu itu, ibunya meninggal dunia.
Kematian
ibunya sangat menyedihkan. Namun, ada orang yang lebih berduka daripada
Hinako.
Konohana Kagen... dengan mata bengkak penuh air
mata, memberikan perintah kepada Hinako dengan tekad yang kuat.
“Beraktinglah”, katanya.
(...Aku
tahu.)
Dia
menghela napas di dalam selimut. Hangatnya
napas yang kembali padanya terasa tidak nyaman.
(Apa
yang diinginkan semua orang adalah... diriku saat
berakting...)
Dia
sudah sedikit menyadarinya.
Dunia
ini mencari dirinya yang sedang berakting.
Hinako
tidak sepenuhnya pesimis bahwa tidak ada yang menginginkan dirinya yang asli...
tetapi dia menyadari bahwa yang menginginkan dirinya yang asli hanya
sedikit.
Jika
demikian, mungkin sama seperti
Itsuki, dia juga mendapatkan tempatnya melalui akting sehari-hari.
Meskipun
dia tidak menginginkannya...
(...Tidak
apa-apa. Selama
Itsuki mau melihat diriku yang sebenarnya, itu sudah cukup.)
Itsuki
adalah salah satu dari sedikit orang yang menginginkan jati diri Hinako apa adanya.
Saat
dirinya
hampir dipecat dari tugasnya, Itsuki pernah berkata, “Aku ingin menjadi orang yang
tidak membuat Hinako merasa terpaksa...” Betapa pernyataan itu sangat mendukungnya. Ketika
berada di dekat Itsuki, Hinako
merasa diberi semangat untuk menjadi dirinya yang sebenarnya.
Namun,
dia tiba-tiba berpikir.
Itsuki
adalah orang yang peduli dan penuh perhatian. Mungkin keinginannya untuk melihat dirinya yang
asli merupakan
bentuk simpati terhadap keadaan di mana dia terpaksa berakting.
Itsuki
tidak pernah mengatakan secara langsung.
Itsuki
tidak pernah mengungkapkan bahwa dirinya
lebih suka Hinako yang apa adanya.
(......Aku penasaran, sebenarnya Itsuki lebih suka diriku yang mana ya?)
Dia
mengeluarkan wajahnya dari selimut dan memeluk bantal sambil berpikir demikian.
Antara
dirinya yang sekarang dan dirinya yang sebagai
Ojou-sama
yang sempurna.
Mana yang lebih disukai Itsuki?
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

