[LN] Saijou no Osewa Jilid 11 Bab 1 Bahasa Indonesia

 Chapter 1 — Sang Aktris Terkenal: Konohana Hinako

 

Pilihan pertama Kelas 2-A adalah melakukan pertunjukan teater!! Bagi yang tidak setuju, silakan angkat tangan!!”

Asahi-san, yang sepertinya menjadi koordinator persiapan festival budaya kelas 2-A, mengumumkan hal demikian saat berdiri di depan papan tulis.

Tidak ada teman sekelas yang mengangkat tangan mereka setelah mendengar suara keras Asahi-san. Usai memastikan semua sepakat, Asahi-san berjalan dengan cepat menuju tempat dudukku.

“Jadi, Tomonari-kun, aku menyerahkan sisanya padamu!!”

“Baiklah. Bagaimana dengan pilihan kedua dan ketiganya?”

“Hmm~~... mungkin kedai kopi atau semacamnya?”

Pilihannya terlalu asal-asalan sekali...”

Aku tersenyum pahit melihat sikap Asahi-san yang jelas-jelas sembrono.

Pertunjukan festival budaya harus mempersiapkan pilihan hingga tiga pilihan dari setiap kelas dan diserahkan kepada OSIS. Jika ada banyak harapan untuk pertunjukan yang sama, pihak OSIS akan melakukan pemilihan secara adil untuk menentukan pertunjukan kelas. Hal ini demi menghindari situasi di mana semua kelas memilih kedai kopi...

Meskipun pilihan pertama adalah teater, aku ingin mereka juga memutuskan dua pilihan lainnya. Sambil berpikir demikian, aku teringat percakapan yang kulakukan dengan anggota OSIS lainnya beberapa waktu lalu. Seperti yang dikatakan Tennouji-san, pilihan pertama kelas 2-A sudah dipastikan untuk melakukan pementasan teater.

“Yah, aku mengerti perasaan Asahi.”

Saat berbicara dengan Asahi-san, Taishou datang mendekat.

Pertunjukkan teater memiliki tingkat persaingan yang tinggi setiap tahun, tapi sepertinya tahun ini kelas lain juga akan memberi kesempatan kepada kita.”

“Apa maksudmu?”

Menanggapi pertanyaanku yang keheranan, Taishou mulai menjelaskan.

“Festival budaya di Akademi Kekaisaran memiliki tiga pertunjukan utama yang menjadi daya tarik. Teater, paduan suara, dan tari sosial. Ketiga pertunjukan ini memiliki tingkat persaingan yang tinggi, dan menurutku semua kelas menjadikan hal itu sebagai pilihan pertama mereka.”

Taishou berbicara sambil mengangkat tiga jari. Kemudian, Asahi-san yang berdiri di sampingnya membuka mulut.

“Tapi, di kelas kita ada Konohana-san yang tahun lalu bersinar dalam pertunjukan teater! Tahun ini juga, semua orang pasti ingin melihat akting Konohana-san, jadi mereka akan memberi kesempatan kepada kita untuk pementasan teater!”

Jadi begitu, ya...

Aku sudah mendengar dari Tennouji-san bahwa Hinako berprestasi dalam teater. Karena pertunjukan teater menggunakan panggung di aula, yang sudah memiliki batasan, jadi kemungkinan Kelas 2-A untuk melakukan teater menjadi lebih tinggi.

Itulah sebabnya semua orang sepakat untuk memilih teater. Sepertinya semua orang ingin melihat pertunjukan Hinako. Lebih dari itu, ada semacam rasa kewajiban bahwa Kelas 2-A harus melakukan pertunjukkan teater selama Hinako ada di kelas ini.

“Ehmm, ngomong-ngomong, apa Konohana-san sendiri tidak masalah?”

Aku bertanya kepada Hinako yang duduk di depan.

Hinako menoleh dan tersenyum.

“Tentu saja. Aku akan berusaha sebaik mungkin tahun ini untuk memenuhi harapan semua orang.”

………… Senyumannya terlihat sangaattttttttttttt dipaksakan sekali.

Yah wajar saja sih ... mengenal sifat Hinako, jika ada waktu untuk berpartisipasi pertunjukan, dia pasti lebih memilih untuk tidur nyenyak di rumah.

Namun, terlepas dari perasaan sebenarnya Hinako, teman-teman sekelasnya menjadi bersemangat dengan satu kalimat itu.

“Ko-Konohana-san...!!”

“Kita juga harus berusaha keras agar tidak menjadi penghalang!!”

“Aku akan ikut les teater!!”

“Kalau begitu, aku akan ikut pelatihan vokal...!!”

Teman-teman sekelas seketika mulai bersemangat. Mungkin karena terpengaruh semangat mereka, Hinako layu seperti tanaman yang kehilangan air.

Setelah pulang, aku akan memberinya es krim. Atau mungkin lebih baik minuman hangat karena sudah dingin...

“Wah~~~~~~!! Aku benar-benar tidak sabar untuk festival budaya nanti!!”

Taishou berkata demikian saat melihat teman-teman sekelas lainnya yang penuh semangat.

“Ada apa, Taishou? Kenapa tiba-tiba jadi formal?”

Yah, soalnya, belakangan ini banyak acara kompetisi, kan? Seperti permainan manajemen dan pemilihan OSIS. Keduanya memberikan rasa pencapaian dan menyenangkan, tapi kadang-kadang aku ingin menikmatinya tanpa berpikir...”

Bukannya kepalamu selalu kosong, Taishou-kun?”

“Aku sudah menduga kamu bakalan bilang begitu!!”

“Padahal aku merasa sudah mengatakan sesuatu yang bagus~~~! kata Taisho sambil menatap langit. Asahi-san menanggapinya dengan tertawa terbahak-bahak.

Namun, perkataan Taishou cukup menyentuhku.

Memang persis seperti yang ia katakan. Ini mungkin pertama kalinya bagiku untuk menghadapi acara di Akademi Akademi Kekaisaran tanpa adanya unsur kompetisi.

“Eh, tapi bagi Tomonari, acara festival budaya juga acara yang cukup merepotkan, ya?”

“Tidak juga.”

Aku menjawab sambil mengingat kesibukan beberapa hari terakhir.

“Memang rasanya merepotkan, tapi bukan hanya itu saja. Kami juga menikmatinya.”

Apa iyaa? Kadang-kadang kamu tampak memaksakan diri, Tomonari...”

Ia mengamatiku dengan baik... Sebenarnya, beberapa orang sudah mengajarkanku pentingnya beristirahat.

“Tapi, OSIS tidak bisa ikut berpartisipasi dalam pertunjukan festival budaya, kan?”

“Benar. Mungkin jika ada waktu, kami bisa ikut berpartisipasi, tapi...”

Melihat jumlah pekerjaan yang harus dilakukan, sepertinya sulit. Para pengurus OSIS juga harus memantau berbagai hal pada hari festival berlangsung.

Meski begitu, kami tidak akan terus-menerus terikat pada pekerjaan. Karena pemantauan dilakukan berdasarkan jadwal, kami para pengurus juga memiliki waktu untuk bersenang-senang.

“Tomonari-kun, jangan memaksakan dirimu, ya? Berbeda dengan sebelumnya, kami tidak bisa ikut membantu pekerjaan OSIS.”

“Terima kasih. Tapi aku beneran baik-baik saja.”

Apa aku terlihat... tidak dipercaya?

Yah, mungkin karena aku sudah melakukan banyak hal yang tidak masuk akal sebelumnya, jadi wajar jika mereka berpikir begitu...

Namun, meskipun aku menghargai kekhawatiran mereka berdua, kali ini bukanlah sekadar basa-basi. Kata-kata tentang menikmati festival budaya itu berasal dari hatiku.

Pengalaman mengelola acara ini memang baru bagiku, tapi rasanya cukup menarik. Hal ini mungkin karena sebagian besar siswa memiliki pemikiran yang sama seperti Taishou. Di Akademi Kekaisaran yang merupakan tempat berkumpulnya anak-anak dari keluarga kaya, biasanya ada persaingan yang cenderung memperhatikan status sosial. Namun, festival budaya ini adalah acara yang bertujuan untuk bersenang-senang, bukan untuk bersaing. Para siswa bisa dengan cepat beralih ke arah menikmati, sehingga mereka tidak benar-benar bersaing secara mendalam, melainkan hanya terlibat dalam suasana yang menyegarkan.

Karena semua orang terlihat bersenang-senang, kami juga ingin menciptakan acara yang menyenangkan. Mari kita bersenang-senang dan membuat orang lain senang. Saat itulah, aku memutuskan arah festival budaya.

 

◆◆◆◆

 

Sepulang sekolah, sama seperti kemarin, aku menyelesaikan pekerjaan di OSIS dan menggerakkan bahuku yang kaku saat bergabung dengan mobil keluarga Konohana.

“Terima kasih atas kerja kerasmu, Itsuki-san.”

“Shizune-san, terima kasih atas kerja kerasnya juga.”

Aku menyapa Shizune-san yang duduk di kursi penumpang depan dan duduk di kursi belakang. Mobil segera melaju.

“Maaf, aku sudah membuatmu menunggu lagi hari ini.”

“Karena ini tugas OSIS, jadi kamu tidak perlu meminta maaf segala. Baik Ojou-sama maupun Kagen-sama tahu bahwa Itsuki-san akan pulang pada waktu segini.”

Tapi Hinako sepertinya tidak menyukainya...”

Pekerjaan OSIS biasanya dilakukan sepulang sekolah. Meskipun tidak setiap hari ada pekerjaan, jumlah hari di mana aku bisa pulang bersama Hinako berkurang sejak aku menjadi wakil ketua OSIS. Kami berdua menyadari hal ini dan saling berpandangan dengan ekspresi “Oh tidak!”.

“Namun, Ojou-sama sebenarnya kelihatan senang.”

Wajah Shizune-san yang terpantul di kaca spion tengah menunjukkan senyuman.

“Sekarang, tidak ada seorang pun yang merasa aneh jika Itsuki-san berdiri di samping Ojou-sama. Kamu semakin mendekati posisi ideal sebagai pengurusnya.”

“... Terima kasih.”

Sebagai pengurus, aku telah memutuskan untuk tidak melakukan hal-hal yang benar-benar tidak disukai Hinako. Ketika aku memutuskan untuk menjadi pengurus, Hinako memberikan dukungan yang tulus. Itulah sebabnya aku melangkah maju.

Demi berdiri di samping seorang Ojou-sama yang sempurna, aku juga harus berusaha menjadi yang sempurna.

Perjalananku masih panjang. Tapi aku pasti akan melangkah maju.

“Ngomong-ngomong, apa pertunjukan kelas kalian sudah ditentukan?”

Pertanyaan Shizune-san jadi mengingatkanku pada tugas OSIS hari ini.

Acara festival budaya di Akademi Kekaisara sama seperti di sekolah-sekolah lain, para siswa akan menampilkan beberapa pertunjukan tidak hanya di kelas tetapi juga di panggung. Setelah mempertimbangkan harapan dari masing-masing kelas, tahun ini kami memutuskan untuk melakukan teater, pertunjukan musik, dan paduan suara di panggung. Rencananya, pertunjukan ini akan dilakukan sekali di pagi dan sekali di sore hari.

Setiap pertunjukan telah disiapkan dengan dua kelas. Totalnya ada enam kelas yang bisa menampilkan pertunjukan di atas panggung... Jujur saja, manajemen jadwal yang ketat sangat dibutuhkan, tetapi kami, pengurus OSIS, telah berdiskusi dan berusaha untuk mewujudkannya.

Teater juga akan dilakukan oleh dua kelas. Salah satunya adalah kelas satu yang dipilih melalui undian. Sedangkan kelas lainnya adalah...

“—Ya. Kami akan melakukan pertunjukkan teater.”

Seperti yang diperkirakan semua orang, meskipun pertunjukkan teater adalah pertunjukan yang populer, kelas yang mendaftar sebagai pilihan utama sangat sedikit. Hanya ada tiga kelas. Jika kita mengesampingkan kelas 2-A kami, dua kelas lainnya adalah kelas satu. Mungkin karena siswa kelas 1 tidak melihat teater tahun lalu, itulah yang diperkirakan oleh Tennouji-san dan yang lainnya, tetapi sebenarnya mengejutkan bahwa hanya tiga kelas yang menginginkannya. Mungkin di antara siswa kelas satu sudah ada desas-desus bahwa penampilan teater Hinako sangat hebat.

Dengan demikian, kelas 2-A kami akhirnya dapat melakukan pementasan teater sesuai harapan.

Ketika Shizune-san mengetahui hal itu, dia mengeluarkan napas pelan.

“Sudah kuduga.”

Reaksinya yang agak tersirat membuatku merasa penasaran.

Shizune-san mengeluarkan smartphone-nya dengan diam. Apa dia sedang mengirim pesan kepada seseorang? Dari segi waktu, sepertinya ada hubungannya dengan pembicaraan kami sebelumnya...

Mobil akhirnya tiba di kediaman Konohana. Dengan sedikit rasa ragu, aku keluar dari mobil.

Ojou-sama sudah berada di kamar Itsuki-san dan sedang bersantai.”

Karena aku sudah menduganya, aku langsung menuju ke dalam kamarku. Ternyata, Shizune-san diam-diam mengikuti di belakangku. Mungkin dia ada urusan dengan Hinako.

Pukul enam sore. Aku pulang lebih lambat dari biasanya dan membuka pintu kamarku.

Hinako, aku pulang—”

“Itsuki...!”

Begitu pintu kamar dibuka, Hinako yang tampaknya sedang bersantai di tempat tidur melompat bangun. Dia berlari menghampiriku dengan kelincahan yang tak biasa bagi Hinako yang biasanya.

“Pe-Pertunjukan untuk festival budaya...buat kelas kita...!?”

Saat Hinako mendekat dengan wajah yang terlihat gelisah, aku menjawabnya dengan jujur.

“Kelas 2-A terpilih untuk melakukan pertunjukkan teater.”

“Uwaaaaaaaaaaaaaaaaaa~~~~~~~~~~~~~………………………………!!”

Hinako memegangi kepalanya dan terjatuh di tempat.

Ap-Apa dia benar-benar tidak menyukainya...

“... Sepertinya dia kelihatan sangat tertekan.”

“Benar. Padahal tahun lalu tidak separah ini...”

Tahun lalu mungkin dia mengalami banyak kesulitan. Hinako yang masih meringkuk di lantai, menatapku.

“Itsuki...”

“Ada apa?”

Apa kamu tidak bisa mengubah pertunjukan kelas 2-A sekarang...dengan kekuasaanmu di OSIS...?”

Dia mengajukan usulan yang tidak masuk akal.

Hinako yang berada di dekat kakiku mengerang seperti zombie, jadi aku mencoba memikirkan hal ini, tapi aku meyakini kalau sepertinya anggota OSIS lainnya akan mendengarkan permintaanku tanpa perlu merencanakan strategi aneh-aneh. Jika aku mengatakan bahwa kondisi tubuh Hinako yang menjadi pemeran utama tidak baik... Tennouji-san pasti akan mengatur sesuatu.

Namun...

“... Mungkin bisa saja, tapi aku tidak ingin menggunakan posisi OSIS yang kuperoleh dengan susah payah untuk kepentingan pribadi.”

“Ugh... rasanya sangat menusuk di hati...”

Hinako, yang tampaknya menderita karena rasa bersalah, menekan bagian dadanya sambil berjongkok.

Mungkin ini bukan untuk kepentingan egois karena ini demi Hinako, tetapi tetap saja pasti ada yang merasa keberatan terhadap penggunaan kekuasaan OSIS untuk kepentingan pribadi. Namun, ketika dia menunjukkan sikap yang begitu enggan, aku mulai merasa penasaran.

Sebenarnya, pertunjukan teater apa yang ditampilkan Hinako tahun lalu?

“... Umm, Shizune-san.”

“Ya?”

“Apa pementasan teater yang dimainkan Hinako tahun lalu benar-benar luar biasa?”

Sebelum Shizune-san menjawab pertanyaanku, dia tiba-tiba mengeluarkan smartphone-nya. Sepertinya ada pesan yang masuk. Setelah beberapa saat mengoperasikan layar, Shizune-san akhirnya mengangkat wajahnya dan menatapku.

Sepertinya Kagen-sama ingin menyampaikan sesuatu padamu tentang hal itu.”

“Eh?”

Meskipun seharusnya itu hanya pertanyaan santai, tapi tiba-tiba aku merasakan suasana yang serius.

“Silakan ikut aku.”

Shizune-san keluar dari kamarku.

Setelah menidurkan Hinako di tempat tidur, aku mengikuti Shizune-san.

 

◆◆◆◆

 

Shizune-san mengetuk pintu ruang kerja.

“Aku membawa Itsuki-san.”

“Terima kasih.”

Setelah mendengar suara Kagen-san, Shizune-san membuka pintu.

“Permisi.”

Ruang kerja yang aku masuki setelah sekian lama memang masih dipenuhi suasana tegang.

Di sinilah tempat di mana aku pertama kali bertemu Kagen-san. Di tempat inilah aku mengetahui masalah yang dihadapi Hinako dan memutuskan untuk dipekerjakan sebagai pengurusnya.

Semuanya terasa sangat nosralgia. Mungkin ini karena aku sekarang berbeda dari diriku yang dulu.

Kagen-san yang duduk di belakang meja tampak memiliki ekspresi yang lebih lembut dibanding sebelumnya. Tentu saja, bukan hanya aku yang berubah.

“Sudah lama kita tidak berbicara seperti ini, ya.”

“Benar.”

Meskipun kami pernah berpapasan di koridor beberapa kali, tapi rasanya sudah lama sekali berbicara langsung seperti ini. Terakhir kali aku berbicara dengannya mungkin setelah permainan manajemen selesai.

“AKamu masih mengingat janji yang kita buat sebelumnya?”

Aku tidak bisa langsung menjawab pertanyaan Kagen-san.

Aku pernah berjanji kalau kamu bisa bergabung dengan OSIS Akademi Kekaisaran, kamu akan diizinkan untuk terlibat dalam urusan internal keluarga Konohana.”

(Mana mungkin aku melupakan janji itu. Selama masa pemilihan, aku berkali-kali mengingat janji itu dan termotivasi...)

Ak-Aku mengingatnya! Itulah sebabnya aku bergabung dengan OSIS—”

Aku akan menepati janjiku.”

Kagen-san menatapku dengan tatapan serius.

“Mulai sekarang, aku akan melibatkanmu dalam urusan keluarga Konohana.”

Aku sangat gugup sampai-sampai seluruh tubuhku menegang.

Akhirnya datang juga... itulah kesan jujurku. Sudah lama aku tinggal di rumah ini, tetapi seiring berjalannya waktu, pertanyaan tentang keluarga Konohana semakin bertambah.

Bukannya rumah ini terlalu besar untuk sebuah rumah terpisah?

Mengapa Hinako tinggal di rumah terpisah begitu lama?

Kapan ibu Hinako meninggal?

Apa yang ingin dilakukan Takuma-san terhadap keluarga Konohana?

Mengapa Kagen-san menjadi begitu keras terhadap Hinako?

Akhirnya, aku mendapatkan posisi untuk menghadapi semua pertanyaan itu.

Aku mengatupkan bibirku dan menunggu pernyataan berikutnya dari Kagen-san.

“Maaf jika kamu merasa tegang, tetapi aku tidak berniat menjelaskan semuanya sekaligus. Kali ini, aku hanya akan menjelaskan hal-hal yang terkait dengan festival budaya sekolah.”

“Festival budaya sekolah...?”

“Pembicaraan kali ini sangat sederhana, jadi aku harap kamu bisa mendengarkannya dengan santai. Kamu tidak perlu melakukan sesuatu secara khusus, dan jika boleh dibilang, ini hanya tentang menjaga hati.”

Jika itulah yang dikatakannya, sepertinya aku bisa sedikit santai. Namun, apa hubungan antara festival budaya dan keluarga Konohana? Aku sama sekali tidak bisa memprediksinya.

“Pertunjukan festival budaya... Sepertinya kelas 2-A telah memutuskan untuk melakukan teater dengan aman.”

Sepertinya dia mendengar dari Shizune-san. Aku pikir mereka sedang bertukar pesan, tetapi sepertinya Kagen-san sudah diberitahu tentang hal ini.

Aku mengangguk dan berkata, “Ya.”

Ada banyak tokoh besar dari berbagai industri yang akan menghadir acara festival budaya Akademi Kekaisaran. Artinya, festival budaya adalah kesempatan sempurna untuk memperkenalkan Hinako kepada mereka.”

Itu... tentu saja, aku mengerti.

Tapi jika sampai dibilang begitu, seharusnya sebelumnya juga begitu. Kompetisi dan permainan manajemen tidak jauh berbeda.

Aku penasaran apa Kagen-san merasakan sesuatu yang istimewa tentang festival budaya?

“Tahun lalu, aku juga mengirim Hinako dengan perasaan yang sama. Hasilnya, Hinako menjadi pemeran utama dalam teater dan mendapatkan penilaian tinggi.”

“Sepertinya begitu. Semua orang di akademi mengatakan bahwa penampilannya begitu menakjubkan.”

“Responnya lebih baik dari yang diharapkan. Itulah sebabnya aku memberitahu Hinako bahwa dia tidak perlu mengejar posisi di dalam OSIS.”

Eh? Mengapa dirinya mengaitkannya dengan hal itu?

Kagen-san menjelaskan ketika aku mengerutkan kening.

“Jika dia menjadi anggota OSIS, dia tidak akan bisa berpartisipasi dalam pertunjukan festival budaya, kan? Dua siswa yang memiliki keberadaan yang setara dengan Hinako... Tennouji Mirei dan Miyakojima Narika, kemungkinan besar mereka harusnya disibukkan dengan pekerjaan di balik layar sebagai panitia acara festival budaya. Oleh karena itu, festival budaya akan menjadi panggung solo Hinako.”

... Apa orang ini sudah memikirkan hal itu sejak awal?

Rasanya menyedihkan, tetapi itu lebih masuk akal. Selama ini, Kagen-san sangat berambisi untuk meningkatkan citra Hinako. Jika dia hanya bersikap rendah hati saat pemilihan, itu pasti membuatku penasaran.

Mendapatkan peran utama dalam acara tahunan seperti festival budaya mungkin terasa seimbang dengan menjadi anggota OSIS, tetapi jika dilihat dari pencapaian tahun lalu, itu mungkin merupakan keputusan yang tepat. Selain itu, jika Hinako menjadi anggota OSIS, kemungkinan besar dia akan kehabisan tenaga duluan.

Aku berpikir, dia benar-benar memikirkan ini dengan baik.

... Tentu saja, karena ia adalah ayahnya.

Dia sangat memahami Hinako.

“Jadi, sampai di sini semuanya sudah diperkirakan... tapi beberapa hari yang lalu, aku menerima kabar yang tak terduga, entah kabar baik atau buruk.”

Kagen-san mengatakannya dengan ekspresi yang aneh.

Kepala keluarga Konohana saat ini mendengar rumor tersebut dan ingin menonton pertunjukkan teater Hinako tahun ini. Oleh karena itu, aku membutuhkanmu, Itsuki-kun, untuk memastikan bahwa pertunjukkan teater festival budaya ini sukses.”

Kagen-san langsung masuk ke inti pembicaraan.

“Dengarkan baik-baik. Festival budaya tahun ini harus lebih meriah, lebih dramatis, dan lebih elegan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Sebagai anggota OSIS, kamu memiliki kekuasaan untuk itu, bukan?”

“Ya, aku akan melakukan yang terbaik...”

Begitu rupanya, jadi itulah sebabnya dia membicarakan tentang sikap.

Memang, dalam hal ini, tidak ada yang perlu aku lakukan secara khusus. Sebenarnya, aku sudah berniat untuk membuat festival budaya ini meriah sebagai anggota OSIS, jadi tidak ada yang berubah.

Namun, meskipun begitu, aku merasa tidak bisa mengabaikan permbicaraan ini sebagai urusan orang lain. Alasan untuk memastikan festival budaya sukses semakin bertambah. Itu cara berpikir yang baik.

Namun, ada satu hal yang membuatku penasaran.

“Eh, bukannya Kepala keluarga Konohana itu Kagen-san?”

“Aku sudah bpernah mengatakannya saat pertama kali kita bertemu. Aku adalah presiden dari Konohana Group.”

Memang apa bedanya antara presiden perusahaan dan kepala keluarga?

Seolah-olah bisa membaca pikiranku, Kagen-san segera menambahkan penjelasannya.

“Aku adalah orang yang bertanggung jawab tertinggi di Konohana Group, tetapi bukan kepala keluarga Konohana. Aku mengelola bisnis, tetapi urusan keluarga diatur oleh ayah mertuaku... yaitu kakek Hinako.”

Aku mencoba mencerna penjelasan Kagen-san.

Jadi, di rumah ini ada dua divisi: divisi keluarga dan divisi bisnis. Divisi keluarga disebut keluarga Konohana, sementara divisi bisnis disebut Konohana Group.

... Aku sama sekali tidak tahu tentang itu.

Seperti yang dijanjikan, Kagen-san menjelaskan kepadaku tentang keadaan di dalam keluarga Konohana.

Kepala keluarga tidak suka mencampuradukkan urusan pribadi dan pekerjaan. Rumah ini, tempat kamu dan Hinako tinggal, awalnya dibangun untuk pekerjaan. Urusan keluarga hanya diselesaikan di kediaman rumah utama.”

“... Tunggu sebentar.”

Ada bagian dari pembicaraan yang membuatku merasa tidak nyaman.

“Jika urusan keluarga di kediaman utama dan pekerjaan di rumah terpisah, mengapa Hinako tinggal di rumah ini...?”

“... Seperti yang kamu duga.”

Ada sesuatu yang mulai mendidih di dalam diriku.

Hinako tinggal di rumah terpisah yang dibangun untuk pekerjaan, bukan di kediaman utama yang seharusnya untuk keluarga. Apa aku telah hidup dalam kenyataan dingin seperti itu?

Aku merasa seolah-olah ketika aku melangkah lebih jauh, aku malah menemukan jurang yang lebih dalam.

Apa-apaan ini?

Apa-apaan sebenarnya dengan rumah ini?

“Syukurlah.”

Kagen-san tersenyum.

“Aku senang kamu bisa menunjukkan ekspresi seperti itu.”

Aku tidak tahu ekspresi macam apa yang aku tunjukkan sekarang. Tapi aku tidak ingin melihatnya. Mungkin karena itu kelihatan jelek.

Jangan lupa, aku juga salah satu yang tinggal di rumah ini.”

Aku terkejut mendengarnya. Memang, aku sering melihat Kagen-san di rumah terpisah. Aku tahu dirinya kadang-kadang menghabiskan waktu di kediaman utama, tetapi dirinya juga sering masuk dan keluar dari rumah terpisah ini.

“Aku menjelaskan bahwa rumah terpisah ini untuk menghindari campur aduk urusan pribadi dan pekerjaan, tetapi kenyataannya lebih mirip dengan hubungan kasta. Hanya orang-orang yang telah menghasilkan prestasi saja yang dapat berkumpul di kediaman rumah utama. Beginilah tradisi keluarga Konohana. ... Aku memiliki posisi yang bisa keluar masuk rumah utama dengan bebas, tetapi sejujurnya, aku tidak bisa mengatakan bahwa aku disambut dengan hangat.”

Kagen-san menghela napas kecil saat mengatakannya.

Sikap itu terasa seperti sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan dirinya, dan aku merasakan sedikit rasa frustrasi. Bukankah ini masalah yang tidak bisa dianggap sepele?

“Berhentilah bersikap seperti itu.”

Kagen-san menatapku dengan tajam, dan aku pun menutup mulut.

“Aku tidak hanya membicarakan ini untuk menepati janjiku saja, tapi karena aku juga berpikir bahwa kamu bisa menangani tekanan dari keluarga Konohana sekarang.”

Kagen-san yang sepertinya bisa membaca perasaanku melanjutkan.

Seperti yang sudah pernah kukatakan berkali-kali, masalah kali ini tidak rumit. Kamu hanya perlu fokus untuk membuat festival budaya ini meriah sebagai anggota OSIS.”

“Itu benar sih, tapi...”

“Menangani masalah sambil menyelesaikan tugas lainnya adalah hal biasa bagi orang dewasa. Aku percaya kamu bisa melakukannya. Itulah sebabnya aku menjelaskan situasi ini secara mendetail sekarang.”

Dirinya secara implisit meminta agar aku tidak menyesali keputusan ini, dan aku menekan emosi yang hampir meluap di tenggorokanku ke dalam perutku.

Kagen-san menghargai keberadaanku, dan aku menyadari hal itu.

“... Ada apa? Hari ini Anda benar-benar sangat memujiku.”

Memamngnya menurutmu siapa saja bisa bergabung dengan OSIS Akademi Kekaisaran?”

Kagen-san menjawab dengan serius.

“Setelah sampai di sini, rasanya justru sulit tidak memujimu. ... Jika kamu meragukan niatku, aku akan mengatakannya dengan jelas.”

Dengan satu tarikan napas, Kagen-san menatapku.

“Aku senang telah mempekerjakanmu.”

Rasanya aku merasakan ada getaran di dalam kepalaku.

Aku mungkin tanpa sadar telah membuat daftar orang-orang yang ingin bisa mengakuiku. Hinako, Tennouji-san, Narika, Takuma-san, Shizune-san... pasti ada banyak orang dalam daftar itu, tetapi sekarang aku menyadari bahwa orang pertama dalam daftar itu adalah Kagen-san.

Benar. Aku selalu ingin diakui oleh orang ini.

Aku tahu satu-satunya cara untuk mendukung Hinako adalah dengan diakui oleh orang ini, jadi aku bekerja keras sejak saat itu.

Diakui oleh orang ini adalah tujuan pertama yang kutetapkan untuk diriku sendiri.

“... Terima kasih banyak.”

ku mati-matian berusaha menahan air mata yang menggenang di sudut mataku agar tidak menetes. Akhir-akhir ini, semua orang begitu memujiku atas usahaku sampai-sampai aku merasa air mataku menjadi rapuh.

Aku menyeka air mataku dengan punggung tanganku dan mengeluarkan emosi campur aduk yang hampir meledak dalam napasku. Setelah menghembuskan napas perlahan, aku menatap Kagen-san dengan perasaan segar.

“—Aku sudah siap!!”

“Bagus, itu ekspresi yang baik.”

Orang ini mengakui keberadaanku. Hanya dengan fakta itu, aku bisa tenang, tetapi pada akhirnya, mungkin aku masih belum dewasa. Aku menyadari bahwa cara berpikir ini naif, tetapi tetap saja, itu membuatku senang.

Diakui oleh orang dewasa yang kuhormati merupakan hal yang membahagiakan.

“Jika ada yang kamu butuhkan, silakan konsultasikan kapan saja melalui Shizune. ... Aku juga memiliki kewajiban untuk menjamu kepala keluarga. Kita akan menjalani ini bersama.”

Ketika Kagen-san mengatakan bahwa kita akan menjalani ini bersama, aku merasa kembali tegang.

Tenanglah... Seperti yang Kagen-san katakan berkali-kali, bukannya berarti tingkat kesulitan tugas yang harus kulakukan mendadak meningkat.

Tugasku adalah membuat festival budaya sukses sebagai anggota OSIS. Dan――.

(Aku harus lebih bertekad untuk mendukung Hinako.)

Aku tidak memberitahunya karena itu bisa menjadi tekanan, tetapi kesuksesan drama ini bergantung pada Hinako. Hinako juga samar-samar menyadari hal itu, itulah sebabnya dia menunjukkan reaksi penolakan yang begitu kuat. Oleh karena itu, aku sebagai pengurusnya harus mendukungnya. Sebelum menjadi anggota OSIS, aku juga adalah pengurus yang mendukung Hinako.

Untuk saat ini, ada satu hal yang ingin kuketahui.

Meski rasanya terlalu terlambat untuk menanyakan hal ini, tapi seberapa menakjubkannya drama yang diperankan Hinako tahun lalu?”

“Aku akan menunjukkan secara langsung.”

Ketika Kagen-san menjentikkan jarinya, Shizune yang sudah menunggu sepanjang waktu, dengan cepat mengoperasikan remote control yang dia pegang dan menampilkan video di dinding ruangan.

Situasi ini... terasa akrab.

Ketika aku pertama kali mengunjungi ruangan ini, aku juga disuguhkan video seperti ini. Saat itu, video yang ditampilkan adalah pemandangan sehari-hari Hinako, tetapi kali ini...

“Wah...”

Video itu menampilkan aula besar Akademi Kekaisaran. Di atas panggung, ada satu beberapa puluh murid yang berdiri. Di tengah-tengah mereka, ada seorang gadis yang sangat menawan—Hinako.

“Drama ini berlangsung selama satu jam. Aku akan bekerja di ruangan lain, jadi silakan tonton sebanyak yang kamu mau.”

Usai mengatakan itu, Kagen-san keluar dari ruangan.

Aku duduk di sofa dan menonton drama yang diperankan Hinako tahun lalu.

 

◆◆◆◆

 

Tirai panggung diturunkan, dan pertunjukan drama akhirnya berakhir.

Tanpa sadar, air mataku mengalir begitu deras.

“Wahhh... wahhh...”

Apa-apaan ini?

Air mata yang berhasil kutahan di depan Kagen-san seketika tumpah ruah.

“Wahhh...”

Aku tidak bisa menghentikan air mataku yang menetes.

Drama itu terlalu indah. Begitu banyak perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Akting Hinako dalam video itu sangat menyentuh hatiku.

Ketika air mataku mulai kering, pintu ruangan terbuka dan Shizune masuk.

“Itsuki-san, bagaimana? Bagaimana dengan penampilan drama Ojou-sama?”

“Itu sangat bagus. Sepertinya... semuanya luar biasa.”

“Aku melihat penurunan kemampuan berbahasa.”

Ketika seseorang menemukan karya seni yang hebat, mungkin mereka merasa kurang sopan untuk mencoba mengungkapkannya dengan kata-kata. Aku tak ingin mengungkapkan emosi ini dengan kata-kata dan membaginya dengan seseorang. Mengungkapkannya dengan kata-kata akan membuatnya lebih mudah ditafsirkan. Jika interpretasiku berbeda dengan orang lain, itu akan berujung pada pertengkaran. Itu adalah sesuatu yang sangat kubenci. Aku ingin menyimpan emosi ini dalam diriku, sebuah harta karun yang tak dapat dinodai siapa pun. Karena aku yakin perasaan ini benar, jadi aku tidak mengungkapkannya dan membandingkannya dengan orang lain.

“Jangan khawatir. Setelah menonton drama itu, biasanya semua orang merasakan hal yang sama.”

“... Apa Shizune-san juga merasakannya?”

“... Dalam batas yang tidak mengganggu pekerjaan.”

Jadi dia juga merasakannya...

Tapi aku tidak terkejut. Akting Hinako telah mengguncang insting, melampaui kepribadiannya.

Akting Hinako sangat mengesankan. Bahkan melalui layar, perasaan suka, marah, sedih, dan bahagia bisa tersampaikan dengan sangat jelas. Ketika Hinako terlihat bahagia, aku juga merasa senang, dan ketika Hinako terlihat sedih, aku juga ingin menangis. Itu benar-benar akting yang mampu menggenggam hati seseorang.

Aku belum pernah berpikir dalam-dalam tentang baik buruknya akting hingga sekarang. Tetapi hari ini, aku akhirnya mengerti. Inilah arti dari akting yang baik. Emosi aktor tersebut mengalir deras ke dalam hatiku dan menjadi emosiku sendiri. Beberapa saat yang lalu, jiwaku serasa terhanyut di atas panggung.

(... Apa dia sehebat ini karena dia selalu berakting?)

Aku tidak menganggap ini sebagai bakat yang tidak terduga.

Sejak awal, Hinako telah terus menerus berakting sebagai Ojou-sama yang sempurna. Dia pasti menghabiskan lebih banyak waktu untuk berakting dibandingkan dengan aktor profesional.

Selain itu, dia tidak menyadari bahwa itu adalah akting. Bagi Hinako, Akademi Kekaisaran merupakan panggung kehidupannya sendiri. Dia selalu memperhatikan mata penonton saat berakting.

Pantas saja aktingnya begitu menakjubkan. Lebih tepatnya, mana mungkin aktingnya buruk.

Kemampuan akting yang luar biasa yang telah dibentuk oleh kebiasaan. Jika diterapkan pada seni, hal tersebut bisa memberi dampak yang begitu besar kepada banyak orang... Kagen-san pasti tidak pernah memprediksi hal ini.

... Rasanya sedikit menyenangkan.

Aku bisa menyadari daya tarik baru dari gadis yang bernama Konohana Hinako.

“Apa itu membantu?”

“Ya. Sekarang aku bisa membayangkan seperti apa festival budaya Akademi Kekaisaran.”

Aku mengubah perhatianku dari yang tadinya penonton, berubah menjadi anggota OSIS dan melihat Shizune-san.

Peralatan panggungnya terlihat jauh lebih megah dari yang kuperkirakan.”

“Festival budaya Akademi Kekaisaran mengundang banyak orang penting sebagai tamu. Mereka pasti mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk menjamu mereka.”

Memang benar, persis seperti perkataannya.

Pada hari festival budaya, orang tua siswa yang kaya tidak hanya datang untuk melihat akademi. Mereka datang sebagai tamu yang ingin menikmati festival budaya. Demi menjamu mereka yang sudah berpengalaman, perlu disiapkan lingkungan yang sangat baik.

... Tidak heran jika anggarannya sangat besar.

Sebagai wakil ketua OSIS, aku bisa memperkirakan seberapa banyak anggaran yang dikeluarkan untuk festival budaya. Mungkin detailnya diketahui oleh Abeno-san yang menangani keuangan... tetapi aku tidak ingin mendengarnya terlalu banyak.

Mungkin jumlahnya cukup untuk menyewa kapal pesiar mewah selama beberapa hari...

“Baiklah, kalau begitu aku akan kembali bekerja.”

Baiklah. ... Oh ya, Hinako sedang ada di manasekarang?”

Kurasa dia sedang menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Kagen-sama di kamarnya... Apa ada yang ingin kamu sampaikan?”

“Ya, ada sesuatu yang sangat ingin kusampaikan padanya.”

Aku benar-benar ingin menyampaikan perasaan ini secara langsung kepada dirinya. Setelah keluar dari ruang kerja, aku berjalan cepat menuju kamar Hinako. Karena terlalu bersemangat, aku mengetuk pintu dan membukanya sekaligus.

“—Hinako!!”

Eh...!?”

Hinako yang sedang bersantai di tempat tidur, tersentak kaget saat melihatku tiba-tiba muncul.

Dia sama sekali tidak belajar... pikirku sejenak, tetapi saat ini itu tidak penting.

“Ad-Ad-Ad-Ad-Ada apa... Itsuki...!?

“Hinako...!! Ada sesuatu yang sangat ingin kusampaikan padamu...!!”

“Nnhueeeeeeeee...!?”

Aku melompat ke atas tempat tidur dan menggenggam kedua bahunya.

Kurasa aku terlalu terbawa suasana dan menggenggamnya dengan sedikit berlebihan, tetapi itu juga tidak masalah.

“Ta-ta-tanganmu...!! Ka-Ka-Ka-Ka-Kamu menggenggamku begitu erat...!?”

“Hinako...!! Aku, aku...!!”

“Tu-Tu-Tunggu, aku masih belum siap secara mental...!! Tapi, aku ingin kamu mengatakannya... ya, katakan...!! Sekarang juga...!!”

Hinako yang ekspresinya berubah cepat menatapku dengan pipi yang memerah.

Aku bisa mengatakannya, kan...!!

Kalau begitu, aku akan mengatakannya...!!

“Hinako...!!”

“Ya...!! Ya...!!”

“Drama tahun lalu―――― luar biasa sekali!!”

“Aku juga sangat menyukaimu―――――――――― eh?”

Raut wajah Hinako tampak kebingungan, tetapi itu bukan hal penting bagiku saat ini.

Aku mulai berbicara tentang pendapatku mengenai drama tersebut hampir tanpa sadar. Kata-kata tersebut mengalir begitu saja dari bibirku seperti air yang mengalir deras. Aku takut jika mengungkapkan perasaanku, itu akan mengurangi maknanya, tetapi aku memiliki banyak keinginan untuk menyampaikannya kepada Hinako. Aku bukan hanya menyampaikan pendapat, tetapi juga perasaan yang mendalam.

Tiba-tiba, aku menyadari ada seseorang yang mendekat dari belakang.

“Karena matamu merah, aku jadi mengikutimu diam-diam... Tapi, apa yang sedang kamu lakukan?”

Aduh!? Itu sakit!”

Jitakan Shizune-san mendarat di atas kepalaku. Karena aku pernah mengikuti pelajaran bela diri, aku tahu... saat ini, dia cukup serius.

“Apa kamu baik-baik saja, Ojou-sama?”

Shizune-san mendekati Hinako dengan wajah khawatir.

Namun, Hinako menjawab dengan ekspresi yang agak linglung.

“Ak-Aku... tidak bisa mendengar kata-kata yang ingin kudengar, tapi... aku... bahagia...”

Hinako mengusap kedua bahunya yang baru saja kupegang sambil mengucapkan hal aneh.

Tatapan mata kosong Shizune-san langsung mengarah padaku.

“... Itsuki-san, kamu harus bertanggung jawab atas keadaan Ojou-sama yang aneh ini.”

Tidak mungkin...

Padahal aku hanya ingin menyampaikan seberapa terharunya diriku atas penampilan dramanya.

 

◆◆◆◆

 

Keesokan harinya sepulang sekolah, aku melanjutkan tugasku di ruang OSIS seperti biasa.

Aku mulai terbiasa dengan pemandangan di ruang OSIS... atau lebih tepatnya, aku tidak punya waktu untuk membiasakan diri. Persiapan festival budaya dimulai segera setelah pemilihan berakhir, jadi tidak ada waktu untuk beristirahat.

Hal tang mendorong kami adalah suasana yang menyelimuti akademi saat ini.

Akademi Kekaisaran kini bersatu dengan semangat untuk memeriahkan festival budaya. Sikap tulus mereka cukup untuk membuatku ingin mendukung mereka dengan segenap tenaga.

Aku punya sedikit waktu luang tadi pagi, jadi aku pergi melihat-lihat gedung kelas satu...”

Abeno-san berkata sambil mengetik di keyboard.

“Di salah satu kelas yang diisi oleh para pewaris dari perusahaan kehutanan besar, mereka sedang mempertimbangkan untuk membangun rumah kayu di lapangan. Sepertinya mereka memiliki hubungan dengan desainer arsitektur terkenal, dan ingin mengadakan pameran dengan tema sekolah generasi berikutnya...”

Pameran besar?

Aku hampir tidak percaya tema itu berasal dari para siswa. Namun, Tennouji-san yang menerima laporan tersebut tampak tidak terkejut dan mulai berpikir.

“Penggunaan lapangan harus memenuhi syarat tidak merusak pemandangan. Kita perlu melihat desainnya terlebih dahulu.”

“Baik, aku akan menghubungi mereka.”

Ketika Abeno-san kembali fokus pada pekerjaannya, kali ini Yodogawa yang berbicara kepada Tennouji-san.

“Aku juga kemarin mendapat konsultasi dari junior! Mereka bilang ingin menggunakan teknologi dari perusahaan kelautan keluarganya untuk membangun akuarium! Jika memungkinkan, mereka ingin mendapat izin untuk menggunakan ikan asli, tetapi jika itu sulit, mereka bisa menggunakan ikan robot atau gambar tiga dimensi!”

Apa mereka ingin mengadakan pameran paviliun?

Rasanya agak aneh untuk menampikan akuarium, tetapi sepertinya perusahaan besar sedang mempertimbangkan pertunjukan yang akan dikucurkan dengan anggaran besar.

Namun, Tennouji-san tetap menanggapinya dengan tenang.

Seperti halnya kelas lain yang berharap untuk memiliki kebun botani dan kebun binatang, kami ingin menghindari hal-hal yang mengeluarkan bau. Jika ada langkah-langkah untuk mengatasinya, ikan asli juga tidak masalah.”

“Baik!”

Ngomong-ngomong, ada juga kelas yang berharap untuk memamerkan kebun botani dan kebun binatang...

Saat menentukan pertunjukan masing-masing kelas, OSIS mengonfirmasi harapan yang diajukan, tetapi aku tidak terlalu tahu karena aku menangani tugas lain. Pekerjaan tersebut dilakukan oleh Abeno-san dan Yodogawa.

Entah kenapa, aku merasa suasana menjadi baik setelah berkonsultasi dengan Tennouji-san.

Setelah Yodogawa, kali ini Narika berkonsultasi dengan Tennouji-san.

“Ada kelas yang berharap untuk mengadakan diskusi tentang industri luar angkasa, tapi mereka bertanya apa boleh mengundang astronot yang sedang bertugas sebagai tamu undangan. Sepertinya mereka sudah memiliki relasi, tapi apa kami bisa memberikan izin?”

“Begitu ya... Jika mereka sudah memiliki relasi, tidak masalah, tapi aku ingin pihak OSIS bertemu dengan tamu tersebut terlebih dahulu.”

“Kalau begitu, aku yang akan bertemu. Urusan dengan pihak luar adalah tugas administrasi umum.”

Narika tampak sangat antusias.

Di beberapa sekolah, ada posisi yang menangani urusan eksternal, tetapi di Akademi Kekaisaran, itu menjadi tugas administrasi umum. Narika sejak awal ingin terlibat dalam pekerjaan urusan luar ini dan beralih dari posisi ketua menjadi pengurus administrasi umum. Mungkin dia merasa sangat termotivasi dalam berurusan dengan pihak luar.

“Jika kamu membutuhkan notulen dalam pertemuan, aku juga bisa ikutan kok?

“Benarkah? Itu sangat membantu!”

Sikap proaktif Yodogawa seringkali meningkatkan semangat OSIS.

Sepertinya pembicaraan Narika sudah selesai, jadi terakhir aku juga ingin berkonsultasi. Meskipun orang yang ingin aku ajak konsultasi bukan Tennouji-san.

“Narika, boleh aku bicara sebentar?”

Saat Narika menoleh ke arahku, aku mulai menyampaikan maksudku.

Sepertinya ada kelas yang ingin menampilkan seni tradisional Jepang. Di antara itu, mereka juga ingin memperkenalkan seni bela diri, tetapi sepertinya mereka sedang mencari seseorang untuk mengawasi latihan. Mencari seorang ahli adalah salah satu pilihannya, tetapi... apa sulit bagi Narika untuk melakukannya?”

“Serahkan padaku! Aku cukup percaya diri dalam seni tradisional!”

Narika segera menyetujuinya. Jika itu Narika yang dulu, mungkin dia akan merasa ragu... tetapi sekarang dia terlihat sangat dapat diandalkan.

“Untuk seorang Narika, kamu terlihat sangat percaya diri, ya.”

Hmmph, jangan meledekku! Belakangan ini, aku sering dipuji di berbagai tempat karena tampak begitu percaya diri!”

Benarkah...?

Aku tidak mengetahuinya.

“Di mana kamu dipuji?”

“Dari mitra bisnnis. Aku beberapa kali langsung pergi untuk memesan bahan, dan semua orang sangat ramah padaku. Mereka bilang aku anak yang baik, dan saat pulang, mereka memberiku banyak oleh-oleh.”

Narika berkata dengan ekspresi bangga menghiasi wajahnya.

... Bukannya itu berarti mereka memperlakukanmu seperti cucu?

Dengan pemahaman yang mendalam tentang bushido dan pengetahuan tentang seni tradisional Jepang, mungkin Narika memang disukai oleh orang-orang tua.

“... Kalau Itsuki sendiri, bagaimana pendapatmu?”

Narika menatapku.

“Bagaimana penampilanku belakangan ini? Apa aku melakukannya dengan baik?”

Aku merasakan sedikit kecemasan dari sorot mata Narika.

Selama masa pemilihan, Narika mengubah harapannya dari Ketua OSIS menjadi pengurus urusan umum. Keputusannya itu mempengaruhi banyak orang. Terutama, itu pasti memberikan dampak besar pada kehidupan Nishi-san yang sebelumnya ingin menjadi petugas urusan umum. Karena beban yang dia pikul sangat khusus, mungkin Narika juga merasa cemas di dalam hatinya.

“Tenang saja. Kamu selalu menjadi orang yang hebat, Narika.”

“Be-Benarkah...? Hmm, begitu ya, begitu ya...”

Narika tersenyum lebar.

Karena dia sudah hebat, Nishi-san juga rela menyerahkan kursi administrasi kepadanya. Seorang anak yang memiliki kesadaran tinggi untuk menjadi pengurus administrasi umum di kelas satu tidak mungkin menyerahkan tujuannya kepada orang yang sembarangan.

Dia benar-benar telah berkembang... Saat aku memandangi Narika yang tersenyum lebar, aku menyadari bahwa Tennouji-san sedang memelototiku dengan tatapan tajam.

Seolah mewakili perasaannya, Abeno-san membuka mulutnya.

“Jangan bermesra-mesraan terus dan fokuslah pada pekerjaan.

Mesra—!”

Aku tidak sedang bermesra-mesraan!! ... Tunggu, sepertinya hal yang serupa pernah terjadi sebelumnya.

Narika terdiam dengan pipi memerah. ... Jadi, saat reaksi seperti itu muncul, suasana akan semakin canggung...!!

“—Ahem!!”

Batuk Tennouji-san yang dibuat-buat menggema di ruang OSIS.

... Sepertinya itu lebih dari sekadar batuk, bukannya dia baru saja mengucapkan “Ahem”?

“Se-Sepertinya pekerjaan administrasi juga sudah selesai, jadi kurasa kita harus kembali ke masing-masing kelas untuk memeriksa situasi!”

Tennouji-san melanjutkan.

“Karena setiap kelas sedang mempersiapkan pertunjukan besar, aku khawatir ada hal-hal yang terlewat. Sepertinya lebih baik jika kita pergi dan memeriksanya.”

Meskipun sikap Tennouji-san tampak sedikit aneh, pendapatnya cukup masuk akal.

Setelah pilihan pertunjukan ditentukan, sepertinya masih ada banyak kelas yang memiliki masalah untuk dibicarakan. Sebelum mereka melanjutkan dengan penilaian sendiri, lebih baik kita mengambil inisiatif untuk memeriksa situasinya.

(Aku juga, mungkin akan memeriksa situasi kelasku.)

Aku juga, sebagai anggota OSIS dan siswa kelas 2-A.

Aku merasa sedikit kesepian karena tidak bisa ikut serta dalam pertunjukan, jadi jika ada kesempatan untuk muncul, aku ingin memanfaatkannya sebaik mungkin.

 

◆◆◆◆

 

Setelah anggota OSIS bubar, dan aku kembali ke dalam kelas 2-A.

Saat berjalan menyusuri koridor, aku bisa mendengar suara riuh dari setiap kelas. Karena di Akademi Kekaisaran tidak ada klub ekstrakurikuler, biasanya suasana setelah sekolah sangat sepi, tetapi saat persiapan festival budaya, semua tempat dipenuhi dengan suara ceria. Tanpa sadar, langkahku menjadi lebih ringan dan aku merasa bersemangat.

Meskipun seharusnya aku kelelahan karena pekerjaan OSIS, aku merasa bertenaga karena ini merupakan festival budaya yang bisa kunikmati dengan murni untuk pertama kalinya.

Di sekolah sebelumnya, aku sangat sibuk dengan pekerjaan paruh waktu sehingga hampir tidak bisa berpartisipasi dalam festival budaya. Karena aku tidak bisa membantu persiapan dengan baik, aku merasa tidak nyaman untuk menikmati acara tersebut. Saat itu, festival budaya terasa seperti urusan orang lain bagiku. Karena merasa tidak nyaman terlibat dalam acara yang bukan urusanku, aku merasa menyesal dan berharap semuanya cepat berakhir.

Sekarang berbeda. Posisiku saat ini bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai penyelenggara.

Aku menyadari bahwa jika kita memiliki rasa kepemilikan terhadap acara, itu bisa sangat menyenangkan.

Aku merasa senang telah bergabung dengan OSIS.

“Oh, Tomonari-kun!”

Asahi-san lah yang pertama kali menyadari keberadaanku saat aku memasuki ruang kelas.

“Apa pekerjaan OSIS-mu sudah selesai?”

Iya, jadi aku datang untuk melihat keadaan. Apa semua persiapannya berjalan dengan lancar?”

“Ya! Semuanya baik-baik saja!”

Asahi-san berkata dengan senyum ceria.

Siswa-siswa kelas 2A berkumpul di depan meja guru dan membicarakan sesuatu. Beberapa dari mereka menyadari kehadiranku dan memberikan salam ringan, jadi aku juga membalas dengan senyuman dan sedikit menundukkan kepala.

“Sepertinya ada kerabat dari teman sekelas kita merupakan penulis naskah terkenal. Berkat dirinya, kami bisa mendapatkan naskah yang bagus!”

Hee...”

Ternyata ada koneksi seperti itu.

Meskipun terlambat, siswa-siswa di akademi ini memang sudah memiliki jaringan sosial yang luas, jadi rasanya tidak mengherankan jika mereka bisa mendapatkan kolaborator untuk acara seperti ini. Karena ini kesempatan untuk menunjukkan jaringan yang diperoleh dengan susah payah, siswa-siswa sangat aktif dalam membawa koneksi mereka.

Semakin banyak keterlibatan dengan pihak luar, semakin banyak pekerjaan OSIS. Prinsip bahwa para pengurus tidak bisa berpartisipasi dalam pertunjukan kini bisa dimengerti. Dengan beban kerja ini, sepertinya sulit untuk mengimbangi dengan pertunjukan kelas.

Selama masa pemilihan, ada banyak momen di mana aku sangat menyadari bahwa pekerjaan pertama OSIS adalah festival budaya. Pemicu utamanya adalah jajak pendapat yang diisi oleh siswa, tapi mereka pasti memahami posisi OSIS dalam festival budaya ini. Jika kami, pihak OSIS, tidak melakukan tugas kami dengan baik, kemampuan luar biasa siswa Akademi Kekaisaran tidak akan terwujud sepenuhnya.

Pengelolaan festival budaya lebih sulit dari yang dipikirkan, tetapi rasanya benar-benar memuaskan.

“Tahun lalu, Konohana-san tampil dalam pertunjukan yang mengadaptasi Romeo dan Juliet, bukan?”

“Oh, hebat sekali, Tomonari-kun. Kamu benar-benar melakukan riset.”

“Jika reputasinya sebaik itu, tentu saja aku jadi penasaran dan mencari tahu.”

Sebenarnya, aku tidak perlu mencari tahu karena aku sudah melihat videonya dari Kagen-san langsung.

“Aku tidak terlalu tahu tentang drama, tetapi tahun lalu ceritanya sedikit diubah dari Romeo dan Juliet, bukan?”

“Iya, benar. Kurasa ceritanya sengaja diubah dengan fokus pada Juliet yang diperankan oleh Konohana-san. …Aku baru saja berdiskusi melalui video call dengan penulis naskah tentang apa yang akan kita lakukan tahun ini, dan sepertinya tahun ini juga akan mirip.”

Pantas saja ada laptop di atas meja guru.

“Tahun ini kita akan melakukan apa?”

“Hamlet!”

Asahi-san menjawab dengan penuh percaya diri.

“Karena tahun lalu adalah pementasan drama Romeo dan Juliet, kami memutuskan untuk mencari karya lain yang masih berhubungan dengan Shakespeare untuk memanfaatkan reputasi itu. Dengan Hamlet, ceritanya adalah drama balas dendam yang mudah dipahami, dan tergantung pada cara berakting, kita bisa mencoba tema yang lebih kompleks, jadi kurasa ini cocok untuk Akademi Kekaisaran. Bukan hanya dengan penulis naskah, tapi kami semua berdiskusi dan memutuskannya bersama-sama!”

Aku menanggapinya sambil mengangguk ringan, tapi sebenarnya aku tidak tahu banyak tentang isi Hamlet, jadi aku perlu mencari tahu tentang cerita dan tema-nya secara pribadi nanti. Setelah berbicara dengan Kagen-san, aku segera mencari tahu tentang drama terkenal di dunia, jadi aku tahu namanya, tetapi… dari cara berbicara Asahi-san, sepertinya itu drama yang sudah diketahui oleh semua siswa Akademi Kekaisaran.

Aku merasa perbedaan dalam pengetahuan dan merasa sedikit tertekan. Aku merasa sudah berusaha belajar, tetapi tetap saja, terkadang aku merasakan perbedaan latar belakang.

“Apa penulis naskahnya setuju jika Konohana-san menjadi pemeran utama?”

“Super setuju banget malah! *Ahem*… ‘Su-Sungguh gadis yang menawan!! Perpaduan antara kecantikannya yang memukau dan keanehan manusia yang terkurung sama memesonanya dengan Danau Hallstatt!!! Aku ingin menulis naskah untuknya!’”

Asahi-san menirukan gaya penulis naskah. … cara menirunya lumayan bagus.

Namun, mengenai danau Hallstatt, aku akan mencaritahunya nanti… Apa penulis naskah itu tidak menyadari sifat asli Hinako?

Penulis naskah yang menakutkan… Aku akan melaporkan ini kepada Shizune-san nanti.

“Jadi, ia benar-benar menulis naskah khusus untuk Konohana-san, ya?”

“Ya, itu yang disebut penulisan khusus. Meski drama tahun ini berdasarkan cerita Hamlet, tapi kurasa pertunjukannya akan berfokus pada Konohana-san.”

Sepertinya isi naskahnya akan menjadi kombinasi antara Hamlet dan penulisan khusus untuk Hinako.

Dari apa yang kudengar, dengan menggunakan teknik penulisan khusus ini, sepertinya naskah dapat memaksimalkan daya tarik para aktor. Dengan kata lain, ini merupakan metode yang sangat cocok untuk pertunjukan kali ini.

“Ngomong-ngomong, Asahi-san juga pandai berakting, ya?”

“Hehehe~, mungkin aku juga punya bakat~.”

Asahi-san tertawa dengan riang, tapi ada kesan bahwa dia berbicara dengan nada bercanda.

“Aku benar-benar meyakini kalau kamu berbakat, kok. Jika Asahi-san menjadi pemeran utama, rasanya pasti tidak ada perbedaan.”

As-Astaga! Tomonari-kun, seharusnya ada orang lain yang harus kamu puji, kan!?”

Orang lain… Siapa yang dia maksud?

Setidaknya, saat ini, cuma Asahi-san satu-satunya orang di hadapanku.

La-Lagian, jika aku yang menjadi pemeran utama, suasananya pasti akan terasa kaku tau~~!”

“Benarkah? Tapi menurutku suasanya masih akan sesuai…”

Dalam bayanganku, rasanya tidak ada yang aneh sama sekali meskipun Asahi-san berdiri di tengah-tengah panggung.

Saat aku berpikir jujur seperti itu, wajah Asahi-san mendadak berubah merah dan dia mulai memukul-mukul dadaku.

Mou~~~~~~~~!! Tomonari-kun!!Mouuu~~~~~~~~!!”

“Ad-Ada apaan sih!? Asahi-san!?”

Dia mengatur kekuatan pukulannya sehingga rasanya sama sekali tidak menyakitkan, tapi…

Ki-Kira-kira Konohana-san akan berperan sebagai karakter apa?”

Setelah aku bertanya demikian, Asahi-san kembali ke kesadarannya.

“Tentu saja, dia akan berperan sebagai Ophelia!!”

Dengan pengetahuan seadanya, aku tidak langsung mengerti nama karakternya. Namun, aku yakin dia adalah karakter penting dalam drama Hamlet.

Karena kami ingin menjadikan Konohana-san sebagai pemeran utama, jadi kami berencana menjadikan Ophelia sebagai protagonis dalam pementasan drama kisah Hamlet kali ini! Namun, itu berarti kita juga perlu mengubah adegan puncak ceritanya di mana Ophelia tewas tenggelam…”

“…Begitu rupanya. Jika mengikuti cerita aslinya, Ophelia akan keluar dari cerita di tengah jalan, ya?”

“Bener banget! Sangat disayangkan jika Konohana-san harus keluar dari cerita di tengah jalan, kan? Jadi sekarang, kami sedang membahas apa yang bisa kita lakukan sebagai pengganti adegan tenggelamnya.”

Asahi-san menambahkan, “Tapi pada akhirnya kita harus berkonsultasi dengan penulis naskahnya, sih.”

Setelah mendengar semua rinciannya, aku akhirnya mengerti apa yang sedang dilakukan semua orang. Sepertinya mereka semua sedang merancang strategi untuk memaksimalkan potensi Hinako sebagai aktris.

Aku penasaran seberapa jauh diskusi telah berlangsung, jadi aku mendengarkan dengan seksama perdebatan hangat di antara teman-teman sekelas.

“Jika kita tidak mengizinkan Ophelia keluar dari cerita, maka kita harus merombak ceritanya agar Ophelia tetap hidup…”

“Namun, bukannya itu justru menghilangkan aspek tragis yang menjadi inti dari cerita…?”

“Tapi, ini lebih tentang dunia Konohana-san daripada dunia Shakespeare, kan…?”

“Itu benar…”

Luar biasa, Hinako benar-benar diperlakukan sebagai aktris bintang.

Suasana di sekitar Hinako terasa segar dan berbeda dari sebelumnya. Namun, dirinya yang sebenarnya, meskipun tersenyum lebar di depan, pasti terus-menerus menghela napas di dalam hati. Bagi Hinako, teman sekelasnya saat ini mungkin terlihat seperti para penyiksa yang mendiskusikan cara-cara untuk menyiksanya.

“Jika Ophelia masih hidup, bukannya kualitas ceritanya bakalan hambar jika dia segera bertemu Hamlet?”

Demi membuat keduanya tidak bisa bertemu, mungkin Ophelia tidak perlu tenggelam, tetapi bisa terluka atau terjebak dalam kesedihan…”

Sementara Hinako terabaikan, diskusi di antara teman-teman sekelasnya terus berlanjut.

“Bagaimana jika kita membuatnya mengalami kejadian yang sangat mengejutkan sehingga karakternya berbalik 180 derajat?”

Seseorang mengemukakan pendapat seperti itu. Seorang siswa laki-laki yang ikut berdiskusi kemudian memanggil Hinako.

“Ehmm, Konohana-san?”

Iya, ada apa?”

Yah, aku tahu ini permintaan yang sangat sulit, tapi aku punya saran…”

Siswa laki-laki itu berbicara dengan nada ragu.

“Bisakah kamu memainkan karakter yang sangat bertolak belakang dengan dirimu yang biasa, yaitu karakter yang pemalas?”

Karakter yang pemalas…

……………… Bukannya itu cuma Hinako yang biasanya?

Bahkan Hinako tampak bermasalah dengan saran yang tak terduga itu.

“……Aku akan mencobanya.”

Sambil mendapat perhatian dari teman-teman sekelasnya, Hinako perlahan-lahan menutup matanya.

Ketika matanya terbuka, tatapan yang terlihat di sana adalah—tatapan yang sudah sangat kukenal, tatapan yang lesu.

“Ngantuk sekali~…”

Suasana kelas mendadak hening seketika.

Tidak ada yang bisa membayangkan bahwa seorang Ojou-sama yang sempurna, Konohana Hinako, akan menunjukkan sisi seperti ini. Namun, semua orang segera mengingatnya. Semua tindakannya itu hanyalah akting.

“Aku ingin bolos kelas~… Aku ingin pulang saja~~…”

Su-Sungguh akting yang sangat mengesankan!!”

“Seolah-olah dia selalu seperti ini!!”

Karena dia memang selalu seperti ini.

Malahan, semua ucapannya itu justru perasaannya yang sebenarnya.

Karena aktingnya terasa sangat hidup, teman-teman sekelasnya sejenak melupakan bahwa Hinako sedang berakting. Menyadari hal itu, aku langsung berkeringat dingin.

(Ini tidak baik untuk jantungku…)

Ada peran sebagai pengurus yang menyembunyikan Hinako yang sebenarnya. Pemandangan di depanku ini merupakan sesuatu yang biasanya kulihat ketika seseorang mengalami kegagalan terburuk.

Namun teman-teman sekelasnya sangat antusias melihat akting Hinako.

“Baiklah, mari kita gunakan pendekatan ini!”

Kepribadian Ophelia akan berubah drastis menjadi malas karena syok yang dialaminya!”

“Karena Konohana-san biasanya sempurna, akting ini akan memiliki nilai yang besar!”

Aku tidak menyangka akan ada perkembangan seperti ini…

Mungkin akting sebagai seorang pemalas yang terasing akan menjadi hal yang mudah bagi Hinako. Lagipula, sifat aslinya memang seperti itu. Dia tidak perlu berusaha keras untuk memerankannya.

Namun, tetap sajamungkin sebaiknya aku harus memastikannya dulu untuk berjaga-jaga.

Setelah peran ditentukan, latihan untuk pertunjukan pun dimulai. Jika ingin mengubahnya, sekarang lah waktu yang tepat.

Hinako yang harus berpura-pura menjadi gadis sempurna di depan umum tidak bisa memecahkan suasana ceria yang menyelimuti kelas. Jika dibiarkan seperti ini, suasana itu akan semakin menekannya, jadi aku mendekati Hinako dan membisikkannya dengan hati-hati. Untungnya, teman-teman sekelas sangat terpesona dengan akting Hinako sehingga mereka tidak akan menyadari percakapan kami.

“Hinako, apa kamu beneran yakin dengan peran itu?”

“Hmm… mungkin lebih baik daripada memainkan karakter yang asing bagiku…”

Sepertinya perasaannya yang tulus membuat suasana yang sebelumnya terkesan merepotkan sedikit lebih baik.

(…Mungkin karena dia hanya menunjukkan dirinya yang sebenarnya, jadi beban Hinako juga sedikit berkurang?)

Hinako yang biasanya mengeluh tentang betapa sulitnya berakting, kali ini di atas panggung diminta untuk menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya. Jika demikian, beban Hinako mungkin tidak terlalu berat.

“Tapi… aku lebih suka karakter Hamlet diperankan oleh Itsuki.”

Hinako mengatakannya dengan ragu-ragu.

Aku memiringkan kepalaku dengan kebingungan dengan perkataannya.

Aku ada urusan dengan OSIS, jadi aku tidak bisa ikut dalam pertunjukan… tapi kenapa?”

“…Itsuki, kamu tahu hubungan antara Ophelia dan Hamlet, kan…?”

“Tidak, aku tidak tahu. Maaf.”

Rasanya memalukan, meskipun aku sudah mencari tahu tentang nama Hamlet dan Ophelia, tapi aku tidak begitu tahu tentang alur cerita dramanya.

Ketika aku ingin tahu alasannya, Hinako mulai berbicara dengan pipi yang sedikit memerah.

“Ophelia dan Hamlet itu… yah, sepasang kekasih…”

“…Begitu ya?

………………

………………………………Jadi begitu ya.

“Jadi, um….”

“……Ah.”

“Jika memungkinkan… um, aku ingin Itsuki…”

Pipi Hinako semakin memerah seperti apel saat dia mengalihkan pandangannya. Tapi mungkin, wajahku juga memiliki warna yang sama.

Hinako menyampaikan bahwa Ophelia dan Hamlet adalah sepasang kekasih, dan karena itu dia ingin aku memerankan Hamlet. Maksud dari kata-katanya adalah…

“Hinako, itu artinya—”

“—!!”

Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu, Hinako sudah membuka mulutnya.

Ku-Kurasa sulit untuk memerankan hubungan seperti itu dengan orang yang tidak aku kenal…!!”

Hinako berbicara cepat dengan wajah berkeringat. Usai mendengar kata-kata Hinako, aku pun kembali tenang.

“Memang, rasanya sulit jika kalian tidak saling mengenal dengan baik, ya.”

Sepertinya tidak mudah untuk memerankan kekasih dengan orang asing yang tidak memiliki hubungan apapun. Meskipun aku tidak begitu paham tentang akting, aku bisa membayangkan itu.

Fyuh.

Perkataannya tadi membuatku terkejut. Kupikir dia secara tidak langsung sedang mengungkapkan perasaannya padakuy.

“Kalian berdua, ada apa?”

“Taisho-kun…”

Saat Taisho memanggil, aku menoleh.

Hinako dalam sekejap berdiri tegak dan kembali menjadi Ojou-sama yang sempurna. Melihat wajah Taisho yang kebingungan, aku tiba-tiba mendapatkan ide.

“Bagaimana kalau karakter Hamlet diperankan oleh Taisho-kun saja?”

“Eh!? Aku!?”

Taisho terkejut dengan suara keras.

“Kenapa!?”

Menurutku kamu kelihatan cocok dengan peran itu.”

Hehe, kalau begitu apa boleh buat deh.”

Seharusnya kamu lebih bertahan sedikit…

Sepertinya dia cukup antusias. Aku hendak meminta maaf karena mengajukan permintaan yang tak masuk akal, tetapi melihat sikapnya, sepertinya aku tidak perlu merasa bersalah sama sekali.

Aku tahu sifat Taisho. Walaupun penampilannya mungkin terlihat agak kasar, tetapi sebenarnya ia sangat memperhatikan orang lain. Selama masa pemilihan, Taisho lah yang pertama menyadari bahwa Asahi-san memiliki masalah.

Aku yakin kalau Taisho pasti takkan melakukan sesuatu yang dibenci Hinako.

Namun, ada satu alasan lagi mengapa aku menunjuk Taisho, jadi aku menjelaskan dengan suara kecil yang tidak bisa didengar orang lain.

Aku serius, karena menurutku tidak banyak siswa yang bisa bersikap santai di hadapan Konohana-san…”

“Ah… ya, memang benar, aku yang biasanya ikut pertemuan teh bersamanya mungkin kandidat terbaik di antara kita.”

Rasanya sangat membantu bahwa pembicaraan ini berjalan cepat.

Jika harus menyebutkan satu hal yang mengganggu dari pertunjukan tahun lalu, itu adalah ketidaknyamanan siswa laki-laki yang memerankan Romeo. Aku bisa merasakan ketegangan yang dialaminya saat berhadapan dengan Hinako, bahkan dari layar. Makanya, aku ingin mencoba memperbaikinya tahun ini.

“Baiklah, aku akan mencalonkan diri. Aku akan memamerkan seberapa jantannya diriku.”

Setelah berkata demikian, Taisho menuju kumpulan teman sekelas.

“Hey! Jika diperbolehkan, aku ingin memerankan Hamlet!”

…Dengan kemampuan seperti ini, Taisho memang layak dihormati.

Begitu ia menyadari bahwa itu adalah hal yang lebih baik untuk dilakukan, seberapa banyak orang yang bisa langsung mengubahnya menjadi tindakan? Dirinya merupakan sosok yang ingin aku teladani.

Peran Hinako sebagai Ophelia sudah ditentukan. Peran Hamlet juga tampaknya akan jatuh kepada Taisho. Kelas 2A akan terus maju dengan persiapan pertunjukan ini.

(…Mungkin aku juga harus melihat keadaan kelas lain.)

Setelah merasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan di kelasku sendiri, aku keluar dari ruang kelas.

Aku berjalan di koridor dan mengintip keadaan kelas 2B secara diam-diam.

“Hmm? …Itsuki!”

Meskipun aku hanya mengintip dari jendela koridor, tapi Narika segera menyadari keberadaanku.

Dipadukan dengan caranya yang mendekat sambil tersenyum riang, Narika memang memberi kesan seperti anjing bagiku. Meskipun ada masa ketika dia dianggap sebagai serigala yang menakutkan oleh semua orang…

“Ada apa, Itsuki?”

Karena persiapan kelasku sepertinya tidak ada masalah, jadi aku berkeliling buat melihat-lihat kelas lain. …Kelas Narika sedang latihan paduan suara, kan?”

“Ah, ya. Kebetulan, sekarang kami sedang mengajarkan cara mengeluarkan suara.”

Cara mengeluarkan suara? Tanyaku balik sambil memiringkan kepalaku, lalu Narika sedikit malu-malu dan menambahkan penjelasan.

“Jadi yah, karena rupanya suaraku terlalu keras saat pemilihan. Mereka lalu memintaku untuk mengajarkan cara mengeluarkan suara… Sebenarnya, aku percaya diri dengan volume suaraku. Teknik vokal berkaitan dengan seni bela diri.”

Mungkin itu berkaitan dengan teknik pernapasan atau kapasitas paru-paru.

Jika aku ingat-ingat kembali, memang benar bahwa pidato Narika selalu terdengar jelas. Bahkan sebelum dia terbiasa berbicara di depan umum, suaranya sudah cukup keras.

Saat kami berbicara, seorang siswi dari kelas 2B memanggil Narika dari belakang.

Onee-sam—-Mi-Miyakojima-san. Boleh aku bicara sebentar?”

“Ada apa?”

Dia baru saja mencoba memanggilnya apa?

Melihat Narika yang menoleh dan siswi di depannya, aku merasa penasaran. …Karena Narika tampaknya tidak mempermasalahkannya, sepertinya tidak perlu menggali lebih dalam. Aku juga tidak ingin menjadi masalah.

“Jika menggunakan pernapasan diafragma, bagaimana suara akan berubah?”

“Mari kita coba praktikkan.”

Pertanyaan siswi itu membuat Narika terlihat semangat seolah-olah itu adalah pertanyaan yang bagus. Namun, setelah beberapa saat mengamati dalam keheningan, Narika menatapku dengan wajah yang sedikit malu.

Kamu tidak langsung mencobanya?”

“Yah… aku merasa gugup jika dilihat Itsuki.”

“Jika kamu tidak bisa mengeluarkan suara di depan umum, bagaimana kamu bisa mengajarkannya?”

“Bukannya begitu…”

Lalu bagaimana dia bisa mengajarkan cara mengeluarkan suara? Aku merasa bingung, tetapi Narika menjawab dengan wajah yang agak canggung.

Mengeluarkan suara keras di depan Itsuki tuh rasanya… agak memalukan…”

“…Be-Begitu ya.”

Narika jelas-jelas memiliki perasaan khusus hanya terhadapku, dan aku tidak bisa mengatakan lebih dari itu. …Karena aku sudah mengetahui perasaannya, jadi aku bisa memahami sikapnya.

“Kalau begitu, aku akan pergi…”

“Ah, tunggu sebentar!”

Saat aku mencoba meninggalkan ruang kelas, Narika dengan cepat memanggilku untuk berhenti.

“Dulu, kamu pernah berkonsultasi tentang pengawasan seni tradisional, kan? Tadi aku baru saja berbicara dengan kelas itu, dan bukan hanya pengawasan, aku juga akan membantu menampilkan seni itu sendiri. Karena tidak akan memakan banyak waktu, dan aku sudah mendapat izin dari Tennouji-san.”

“Oh, begitu,” kataku sambil mengangguk, dan Narika melanjutkan.

“Jadi… umm, jika memungkinkan, rasanya akan sangat membantu jika Itsuki bersamaku.”

“Baiklah. Narika juga pasti sibuk, jadi aku akan membantu.”

“Aku sangat berterima kasih…!!”

Meskipun aku tidak yakin apa yang bisa kulakukan…

Saat aku memikirkan hal itu, Narika tersenyum lembut.

“Nishi-san dulu pernah mengatakannya, iya ‘kan? Saat aku bersama Itsuki, aku terlihat lebih lurus dan keren dari biasanya.”

“Ah, iya.”

Dia memang pernah mengatakannya…

“Aku merasa itu benar. Jadi, aku ingin Itsuki berada di sampingku sebisa mungkin.”

Narika kembali menunjukkan ekspresi malu-malu. Ketika dia mengungkapkan rasa percaya dirinya sedemikian rupa, aku juga merasa sedikit malu, tetapi… lebih dari itu, rasa senang menyelimuti hatiku.

Narika di masa lalu pasti akan mencerna kata-kata Nishi-san berulang kali, dan mungkin mengembangkan rasa kemandirian yang membuatnya sadar bahwa dia tidak bisa selamanya berada di sisiku. Namun, Narika yang baru-baru ini berusaha keras, kini bisa membedakan antara hal-hal yang bisa dia lakukan sendiri dan hal-hal yang lebih baik dilakukan dengan bantuan orang lain.

Sebenarnya, Narika sudah memiliki sikap positif terhadap meminta bantuan orang lain. Dari Narika yang dulu, terkadang rasanya ada nuansa rendah diri yang ingin didukung oleh orang lain. Tapi sekarang, aku merasa dia mengandalkan orang lain untuk mencapai hasil yang lebih baik.

Itulah sebabnya semua orang merasa senang ketika dia mengandalkan mereka.

Aku merasa seolah-olah aku seharusnya ada di sini… dan itulah perasaan yang tulus.

“Baiklah. Aku akan berusaha untuk tetap berada di sisimu pada hari acara.”

“Itsuki…”

Tatapan Narika yang menatapku tampak sedikit basah.

…Ternyata bukan hanya Narika yang menatapku.

“Ehm… apa aku mengganggu?”

“Ti-Ti-Ti-Tidak, sama sekali tidak!!”

Narika buru-buru mulai memberikan saran kepada siswi yang bertanya tentang pernapasan diafragma. Melihat pemandangan itu, aku pun pergi untuk mengintip kelas lain.

(Kelas C yang merupakan kelasnya Tennouji-san… sepertinya sedang latihan dansa sosial.)

Latihan dansa di dalam kelas pasti tidak nyaman. Mungkin siswa di kelas C tidak ada di dalam kelas. Atau begitulah yang kupikirkan, tapi saat mendekati kelas, aku mendengar suara ramai.

Wow…”

Saat aku mengintip ke dalam kelas, aku mengeluarkan suara kagum.

Di tengah kelas, meja dan kursi disusun ke pinggir, dan pasangan laki-laki dan perempuan sedang menari waltz. Aku tidak tahu siapa siswa laki-lakinya, tetapi gadis itu adalah Tennouji-san. Rambut pirangnya yang bergelombang berayun lembut.

Ketika alunan musik berakhir, kedua penari itu berhenti bergerak.

Tepat pada saat itu, ketika mereka sepertinya akan memasuki waktu istirahat, mata Tennouji-san menangkap sosokku di koridor.

“Oh, Tomonari-san.”

Tennouji-san segera menghampiriku sambil mengibaskan tangannya untuk mengusir keringat yang sedikit membasahi kulitnya.

“Ap kelas Tomonari-san baik-baik saja?”

Iya. Makanya aku sedang berkeliling begini.”

“Bagus sekali. …Sebenarnya, aku tidak pernah meragukan sifat serius Tomonari-san.”

Tennouji-san tersenyum anggun.

“Kamu sedang berlatih dansa sosial di kelas, ya? Kupikir kelas kalian akan melakukannya di aula atau semacamnya.”

“Kami memang berencana melakukannya di sana nanti. Kami juga harus belajar cara menggunakan aula. Namun, pertama-tama, kami perlu memeriksa kemampuan masing-masing secara satu lawan satu.”

Usai mendengar istilah satu lawan satu, aku langsung teringat saat pertama kali Tennouji-san mengajarkanku belajar. Sejak saat itu, bimbingan Tennouji-san sangat mudah dipahami. …Jika dipikir-pikir, itulah awal mula kedekatanku dengan Tennouji-san.

A-Anu!”

Seorang siswi dari kelas C memanggil kami.

“Kalau boleh, apa kalian berdua bisa menunjukkan cara menari kepada kami?”

“Eh?”

Kenapa aku juga harus ikutan? …Pikirku, tetapi ketika melihat sekeliling, semua siswa di kelas C mengangguk serentak. Sepertinya semua orang ingin melihat kami menari.

Hah… kenapa?

“…Hmm, sepertinya itu ide yang bagus. Mari kita tunjukkan contohnya kepada semua orang.”

Contoh!?

“Eh, itu sepertinya agak berat bagiku…”

“Apa iya?”

Mata Tennouji-san yang tulus dan polos menatap lurus ke arahku.

“Kamu bisa menari kan?”

Yah, sebenarnya…

“Baiklah, ayo kita lakukan bersama.”

Tennouji-san menarik lenganku dan membawaku masuk ke dalam kelas C.

Aku mulai merasa gugup karena dikelilingi oleh siswa-siswa kelas C dan mendapat tatapan penuh harapan, tetapi anehnya, begitu berhadapan dengan Tennouji-san, tubuhku terasa lebih rileks.

Ketika aku menyentuh bahu Tennouji-san, ketegangan dalam diriku semakin berkurang. Aku memahami penyebab ketenangan yang mulai mengalir dalam hatiku. Aku tahu dengan segenap jiwaku. Jika bersama orang ini, apapun yang kami lakukan pasti akan berjalan dengan baik.

Alunan musik pun dimulai, dan kami mulai menari waltz. Gerakan yang sudah mengalir dalam tubuhku menjawab kepercayaanku. Tanpa memikirkan apapun, aku bisa menampilkan tarian yang anggun dengan sendirinya.

Saat menari, pandangan mataku bertemu dengan mata Tennouji-san.

“Sepertinya kamu jadi ikut terlibat, ya.”

Aku memang ikut terlibat, ya…”

Aku tersenyum pahit.

“Apa kamu tidak keberatan?”

“Tentu saja tidak.”

Mana mungkin aku merasa keberatan.

“Sungguh suatu kehormatan aku bisa menari denganmu, Tennouji-san.”

Saat aku menatapnya dengan tulus, Tennouji-san tersenyum lembut.

“Seperti biasa, kamu memang pandai berbicara, ya.”

Ketika kami sampai di sudut kelas, kami melakukan reverse turn dengan sedikit putaran dan berbalik. Waktunya sempurna. Bahkan tanpa perlu kontak mata, kami bisa saling menyesuaikan langkah.

Aku melihat ekspresi siswa-siswa di sekitar kami. Semua orang menatap kami dengan mata berbinar.

(…Mungkin ini karena efek dari kampanye pemilihan.)

Di dalam acara perayaan festival budaya Akademi Kekaisaran, ada tiga pertunjukan utama. Teater, paduan suara, dan dansa sosial, tetapi… entah bagaimana, kelas 2A dan 2C akan menampilkan ketiga pertunjukan tersebut.

Namun, dari sudut pandang yang menghitung hasil setiap kelas, aku merasa ada pengaruh dari kelas lain terhadap kelas A dan C. Kelas A tentu saja ingin melihat pertunjukkan teater Hinako. Dan kelas C ingin melihat tarian Tennouji-san.

Selama periode pemilihan OSIS, aku dan Tennouji-san mengambil langkah untuk menari dansa sosial di depan siswa-siswa. Rasanya masih ada dampak dari kejadian saat itu. Faktanya, di antara formulir survei harapan yang diajukan oleh setiap kelas, ada catatan yang mengatakan Aku ingin melihat tarian Tennouji-san.”

“Awalnya mungkin tarian saat kampanye pemilihan,” kata Tennouji-san sambil menatap mataku.

“Namun, permintaan untuk melihatnya lagi tidak diragukan lagi merupakan bukti kemampuan kita.”

Itu benar. Jika kemampuan kami tidak bagus, mana mungkin ada yang meminta untuk melihat lagi.

“Aku mengerti.”

“Oh?”

Tennouji-san tampak terkejut.

“Aku juga tidak selalu bersikap merendah terus.”

Benar, hanya bersikap rendah hati tidaklah cukup. Aku menyadari hal itu setelah terjebak dalam strategi kubu Jouto selama periode pemilihan. Kesadaran itu datang terlambat.

Demi memastikan tidak mengulangi kesalahan yang sama, apa yang harus dilakukan? — Sebenarnya, aku sedang memikirkan sesuatu, tetapi belum bisa melaksanakannya.

Itu adalah sesuatu yang membutuhkan sedikit keberanian. Tarian kami sudah hampir selesai. Kami melangkah dengan langkah-langkah klasik. Turning lock, left whisk, contra check… Tennouji-san menutupnya dengan pose dramatis yang mengangkat dadanya.

Setelah membungkuk, kami menerima tepuk tangan dari para siswa. Di tengah tepuk tangan itu, tatapan mataku bertemu dengan mata Tennouji-san.

“Kamu tidak terlihat kaku, ya?”

Aku merasa terhormat.”

Dansa sosial melibatkan tubuh pria dan wanita yang berdekatan, bertukar pandang pada jarak di mana napas mereka menyatu, dan bersama-sama menciptakan sebuah seni. Mungkin karena itulah, setelah selesai menari, jarak di antara kami terasa sedikit aneh. Meskipun saat ini aku menatap Tennouji-san secara langsung, aku sama sekali tidak merasa malu. Rasanya seperti kami baru saja terhubung lebih dalam.

“Tomonari-san, bagaimana jika kita menari satu lagu lagi di festival budaya?”

Tennouji-san mengusulkan dengan senyuman.

Aku awalnya berencana untuk membantu satu lagu saja. Itu tidak akan mengganggu pekerjaan OSIS… Jadi, aku ingin memilih Tomonari-san sebagai pasanganku.”

Tidak ada alasan untuk menolak. Jika yang mengundang adalah Tennouji-san, berapa kali pun dia mengajak, itu adalah kehormatan.

“Jika kamu tidak keberatan, aku akan bergabung.”

“…Hehe, kamu masih sangat rendah hati.”

Tennouji-san tertawa kecil.

Aku takkan melakukannya jika itu bukan dirimu.”

…Oh, ini memang membuatku terkejut.

Dengan tubuh yang berkeringat, aku mengibaskan telapak tangan untuk mengusir panas. Wajahku anehnya terasa panas.

 

◆◆◆◆

 

Ketika aku selesai memastikan keadaan kelas D, tubuhku yang berkeringat sudah cukup dingin. Waktunya sudah memasuki pertengahan November. Angin yang bertiup di koridor terasa dingin di kulit, dan jika aku berkeringat di tengah jalan, tubuhku malah akan semakin dingin.

Saat aku mengintip ke dalam kelas E, aku melihat ada kerumunan siswa berkumpul. Usai melihat salah satu siswa laki-laki di tengah kerumunan itu, aku tidak bisa menahan napas.

Jouto Ren… Ia adalah pria yang menghalangi kami hingga akhir dalam pemilihan OSIS.

Gaya rambutnya tetap disisir ke belakang. Di paruh pertama pemilihan, dirinya menurunkan rambutnya untuk menutupi matanya, tetapi aku merasa ia takkan kembali ke penampilan itu lagi. Bagiku, inilah penampilan aslinya. Aku kembali berpikir, gaya rambutnya yang sekarang justru lebih cocok.

Sejujurnya, aku merasa kemenangan kami dalam pemilihan OSIS itu sangat tipis. Jika salah satu langkah kami gagal, kami pasti akan kalah. Sekarang aku berpikir, sebagian besar keberhasilan langkah-langkah kami berkat reputasi yang dibangun oleh Tennouji-san dan Narika. Sebaliknya, jika Jouto memiliki reputasi yang sama, mungkin kami akan berada dalam masalah besar.

Pemilihan sudah berakhir. Namun, begitu melihat sosok Joto, aku merasa tegang. Bagiku, Joto adalah musuh yang sangat tangguh.

(…Perasaan tidak nyaman ini tidak baik.)

Tak ada gunanya terus-terusan memikirkan perasaan ini. Jika bisa, aku ingin segera menyingkirkannya sekarang juga. Dengan pemikiran itu, aku memutuskan untuk menyapa Jouto.

“Jouto-kun.”

Saat aku memanggil namanya, Jouto segera menoleh dan mendekat.

“Tomonari-kun, ada apa?”

Aku cuma datang untuk memeriksa sebagai anggota OSIS. …Sepertinya kelasmu berjalan lancar ya.”

“Ya. Di kelas kami ada dua siswa yang keluarganya menjalankan bisnis pariwisata, jadi kami memutuskan untuk mempromosikan daerah yang berhubungan dengan Akademi Kekaisaran.”

Aku melihat sekeliling kelas, dan ada beberapa poster yang tampaknya sedang dibuat terlihat. Ada informasi tentang daerah penghasil daun teh untuk teh Akademi Kekaisaran dan pabrik jahit seragam siswa.

Pamerannya cukup menarik. Produk-produk berkualitas tinggi yang digunakan di akademi ini tampaknya memiliki daerah produksi yang unik, misalnya, sebagian seragam siswa diproduksi di luar negeri. Itu sesuai dengan keinginan desainer yang bertanggung jawab.

Sama seperti dalam industri pariwisata, ada banyak foto indah yang digunakan, tapi…

“Tokoh sentralnya tampaknya adalah Jouto-kun, ya.”

“…Kamu bisa melihatnya?”

Dari pemandangan yang kulihat sebelumnya, sepertinya Jouto adalah pusat perhatian di kelas ini. Saat ini, para siswa yang ingin meminta petunjuk dari Jouto sedang menatap ke arah kami.

“Meskipun aku kalah dalam pemilihan, tapi masih ada banyak orang yang menghormatiku. …Karena itulah, aku merasa bersalah. Aku benar-benar ingin menang.”

Merasakan panas yang pasti dari api yang hampir padam di tengah abu, aku menelan ludahku. Aku harus berdiri tegak di depan Jouto. Itulah ketulusan yang harus ditunjukkan oleh seorang pemenang.

“Aku akan berusaha agar tidak dibilangmendingan bertukar saja denganku nanti.”

“Begitu kamu menciptakan kondisi yang menekan dirimu sendiri, itu sangat sesuai dengan dirimu, Tomonari-kun.”

Ugh…

Baru saja aku merasa percakapan ini berjalan dengan baik, tiba-tiba sebuah pisau kata yang tajam meluncur ke arahku, membuatku terkejut.

Jika dipikir-pikir, mungkin aku cenderung berpikir seperti itu…

“Mungkin ini terdengar ikut campur, tetapi menekankan berat tanggung jawab dalam dirimu sendiri merupakan tanda bahwa kamu tidak memiliki kepercayaan diri untuk memenuhi tanggung jawab itu, bukan?”

“Ugh…”

“Meskipun itu mungkin membantu untuk pertumbuhan pribadi, setelah menjadi wakil ketua, kurangnya kepercayaan diri itu bisa berdampak buruk pada orang-orang di sekitarmu.”

“Uggggghhh~~~…”

Tolong, hentikan

Rasanya terlalu nyelekit… Dirinya terlalu bisa membaca hatiku…

Meskipun hanya dalam waktu singkat, kami telah mengakui satu sama lain sebagai rival. Sama seperti aku mengamati Jouto, dirinya juga pasti mengamatiku. Meskipun mungkin terdengar aneh, Jouto lebih mengenalku dibandingkan teman sekelas yang jarang berinteraksi denganku.

Namun, setelah Joto mengemukakan pendapatnya, dia menunjukkan ekspresi menyesal.

“…Maaf, aku mungkin telah berlebihan.”

Jouto menunjukkan sikap menyesal.

“Aku juga masih belum dewasa. …Kupikir aku sudah tenang, tetapi sepertinya aku masih merasa kesal.”

Aku merasa ada kebenaran dalam kata-kata Jouto, tetapi tampaknya itu adalah pernyataan yang tidak perlu baginya.

Kita semua masih belum dewasa. Itulah sebabnya ada celah untuk dimanfaatkan, dan kita terlibat dalam pertarungan yang ketat. Jika salah satu dari kita sempurna… seolah-olah seperti Hinako yang mengenakan kedok Ojou-sama yang sempurna, penyelesaian akan terjadi dalam sekejap.

Itu mungkin terdengar menyedihkan.

“Terakhir, satu hal saja.”

Jouto menatap mataku dan bertanya.

“Apa kamu akan tetap menggunakan nada bicara yang sama begitu padaku?”

“……”

Pada akhirnya, dirinya tersentuh di bagian diriku yang paling tidak ingin disentuh. Tidak… aku tidak bisa mengambil keputusan sendiri selamanya, dan dalam arti tertentu, aku merasa senang ada seseorang yang menyentuhnya.

Sebuah langkah pertama demi menuju kelulusan dari sekadar kerendahan hati. Kupikir itu dengan mengubah nada suaraku.

Aku tidak menganggapnya sebagai sekadar penggunaan kata-kata. Terutama di Akademi Kekaisaran yang sangat menghargai etika dan sopan santun, nada bicara memiliki martabat tersendiri. Ada ketakutan kalau martabat itu bisa hilang.

Singkatnya, apa yang sebelumnya diizinkan karena penggunaan bahasa hormat, mungkin tidak akan diizinkan lagi ke depannya.

Ketidakpastian apa aku bisa bertahan dengan perubahan lingkungan seperti itulah alasan mengapa aku sulit untuk melangkah maju.

“Tomonari-kun yang berani saat mengajak duel itu sangat keren.”

Setelah mengatakan itu, Jouto kembali ke tengah kelas.

Karena sebelumnya aku mengakuinya sebagai musuh, ketika dirinya mengakui keberadaanku, rasa percaya diriku meningkat.

…Aku harus melakukannya.

Lebih baik segera daripada nanti. Jika aku berpikir, “Ah, nanti saja setelah festival budaya…” pada akhirnya aku akan terus menunda-nunda.

Hal-hal baik datang lebih cepat, lebih cepat lebih baik, kesempatan baik tidak datang dua kali, dan besi harus dipukul saat masih panas.

Berbekal keberanian dan kata-kata tersebut, aku menuju ruang OSIS.

 

◆◆◆◆

 

Setibanya di ruang OSIS, aku melihat Abeno-san dan Yodogawa sudah kembali. Sepertinya tidak ada masalah dengan keadaan kelas mereka masing-masing. Keduanya tampak serius mengerjakan tugas mereka.

Saat aku sedang menangani beberapa pekerjaan, Tennouji-san dan Narika kembali bersama. Setelah masing-masing melaporkan hasil pengawasan mereka secara singkat, mereka kembali fokus pada pekerjaan. Dalam keheningan yang pas, aku menguatkan tekadku.

(…Aku sudah mendapatkan izin dari Shizune-san)

Aku juga sudah membicarakannya dengan Hinako. Tidak ada alasan untuk terus menundanya lebih lama lagi.

 

Ketika aku menguatkan tekadku, Abeno-san menyerahkan beberapa lembar kertas padaku.

“Tomonari-san, aku sudah menghitung anggaran yang bisa digunakan untuk penyambutan menteri, dan sepertinya kita bisa meningkatkan kualitas kursi untuk tamu kehormatan menjadi kursi ini…”

Kesempatan emas telah tiba.

Setelah memeriksa anggaran dan dokumen kursi, aku melihat ke arah Abeno-san dan menjawab.

“Ah, kurasa itu sudah bagus.”

Aku berpura-pura tenang dan menjawab dengan nada yang alami. Seketika itu juga, semua orang yang ada di ruang OSIS menoleh ke arahku secara bersamaan.

Hee.

Pandangan mata Tennouji-san melebar.

“Ahh.

Narika terlihat panik. …Mungkin dia berpikir aku telah salah dalam nada bicaraku.

“Eh?”

Yodogawa tampak kebingungan. Seolah-olah ingin bertanya apa dirinya salah mendengar.

Dan terakhir, Abeno-san menatapku dengan ekspresi kaku.

“…Umm, apa aku telah melakukan sesuatu yang tidak sopan?”

“Tidak, tidak!! Bukan seperti itu!! Ah, maksudku, tidak ada yang seperti itu!!”

Benar juga. Kalau aku tiba-tiba mengubah nada suaraku, mereka akan bingung duluan sebelum mau menerimaku.

Tentu saja tidak. Dengan perasaan ingin mengelak seperti itu, aku menahan diri dan menjelaskan situasinya.

“Sebenarnya, ada sesuatu yang mengganjal pikiranku, dan aku ingin mengubah nada bicaraku...…”

Sesuatu? Mereka tampak kebingungan. Sepertinya penjelasan setengah hati takkan cukup.

Karena aku dan anggota OSIS lainnya akan saling membantu untuk waktu yang lama, jadi sebaiknya aku mulai menjelaskan semuanya dari awal.

“…Mungkin cuma ada beberapa orang yang sudah mengetahuinya, tetapi inilah diriku yang sebenarnya. Ketika aku pindah ke Akademi Kekaisaran, aku mengubah banyak hal agar bisa mengikuti semua orang, tetapi belakangan ini aku terbiasa merendahkan diri. Itu membuatku hampir dalam masalah saat pemilihan.”

Karena aku cenderung menghormati siapa saja, aku tidak bisa melihat niat buruk dari Minato-senpai. Melihat orang-orang yang mencapai hasil lebih baik dariku, aku mulai merasakan penerimaan alih-alih rasa kalah.

“Jadi… aku ingin mencoba untuk lebih percaya diri.”

Aku ingin melepaskan kebiasaan merendahkan diri. Itulah maksudku yang ingin kusampaikan kepada semua orang.

“…Kurasa itu bukan hal yang buruk.”

Sepertinya Abeno-san ingin mengambil tanggung jawab atas kesalahpahaman awal, jadi dialah yang pertama menanggapi.

Hal itu tidak akan menghilangkan kepribadian jujurmu, Tomonari-san. Malahan, menurutku nada bicara yang lebih santai akan lebih cocok untukmu.”

Mungkin, ungkapan “cocok” itu mengandung perhatian.

Aku sadar bahwa banyak orang menganggapku jujur, jadi aku akan menganggap kepribadianku sebagai orang yang jujur. Namun, jika ditambah dengan kesopanan, aku baru menyadari bahwa itu bisa membuatku terjebak dalam kerendahan hati yang berlebihan dan menjadi rendah diri.

Ada batasan untuk segala hal. Sikap rendah hati ini sangat membantuku saat baru pertama kali pindah, tapi sekarang, berbicara dengan nada sopan kepada siapa pun mungkin sudah berlebihan.

Seperti yang dikatakan Abeno-san, aku tidak berniat mengubah sikapku yang ingin jujur hanya dengan mengubah nada bicara. Namun, saat ini aku hanya membutuhkan salah satu dari keduanya. Jika demikian, aku akan memilih sikap jujur dan menyesuaikan nada bicara untuk keperluan selanjutnya.

Hal yang kubutuhkan selanjutnya adalah kesadaran untuk menjadi pemimpin. Wajah Jouto melintas di benakku. Aku tidak ingin dianggap mengecewakan olehnya.

Ngomong-ngomong, kamu sudah berbicara dengan Miyakojima-san dengan nada seperti itu selama beberapa waktu, kan? Kurasa semua orang punya gambaran samar bahwa itulah dirimu yang sebenarnya,” kata Abeno-san, melanjutkan setelah terkejut.

Kalau dipikir-pikir, memang benar kalau aku selalu bicara dengan Narika dengan gaya bicaraku yang alami. Mungkin aku terlalu tegang.

“Aku juga setuju untuk menunjukkan dirimu yang sebenarnya! Itu akan lebih mengesankan!” Yodogawa mengangguk setuju.

“Aku tentu saja tidak keberatan,” kata Abeno-san.

“Aku juga setuju,” imbuh Narika dan Tennouji-san, yang juga ikut mendukungku.

Saat aku merasa lega, Tennouji-san menatapku dengan serius.

“Tomonari-san… selamat.”

Tennouji-san tiba-tiba mengucapkan kata-kata selamat. Kemudian, Narika juga tersenyum sambil mengucapkan kata-kata selamat.

“Benar. …Itsuki, selamat.”

Aku langsung memahami makna dari ucapan selamat mereka berdua.

Mereka berdua sudah mengetahuinya. Mereka tahu bahwa identitasku bukanlah putra pewaris perusahaan IT menengah, melainkan hanya seorang rakyat biasa. Demi menyembunyikan itu, aku harus mengubah segala hal mulai dari nada bicara hingga sikapku.

Inilah momen kelulusanku.

Kelulusan dari diriku yang hanya bisa merendahkan diri kepada siapa pun.

Tennouji-san dan Narika menghargai usaha yang telah kulakukan selama ini.

“Sepertinya ada topik yang hanya kami berdua yang tidak bisa mengikuti,” kata Abeno-san.

“Benar! Ini menyedihkan!” Yodogawa menjawab, saling bertukar pandang.

Aku tidak berniat untuk mengucilkan mereka, tetapi… sebenarnya, aku, Tennouji-san, dan Narika sudah cukup akrab, bahkan sering bertemu di acara teh, jadi kami memiliki banyak topik yang dibagikan.

“Tennouji-san dan Narika tahu tentang masa-masa ketika aku baru pindah ke Akademi Kekaisaran. Saat itu, aku berusaha keras untuk beradaptasi, termasuk nada bicaraku…”

Jadi, itulah mengapa mereka menghargai usahaku.

Ketika aku menjelaskan dengan singkat, ekspresi terkejut muncul di wajah Abeno-san dan yang lainnya.

“…Jadi, kamu sudah berusaha keras, ya. Aku hanya tahu Tomonari-san yang terbaru, jadi aku tidak mendapatkan kesan yang tidak dewasa…”

“Aku juga merasakannya! Malahan, aku punya kesan bahwa Tomonari-san sangat berbakat dalam permainan manajemen dan sudah dianggap jenius sejak awal!”

Aku tak pernah menyangka bahwa akan ada masanya ketika aku dianggap jenius.

Sampai di sini, aku benar-benar mengalami banyak kesulitan... Hari-hari ketika Tennouji-san mengingatkanku untuk menjaga postur masih terasa nostalgia. Bahkan sekarang, kadang-kadang dia masih memberikan penekanan.

“Tomonari-san, kamu orang yang sangat berusaha, ya! Aku benar-benar menghormati itu!”

“Terima kasih.”

Yodogawa menatapku dengan tatapan bersinar.

“...Aku sudah lama penasaran, tapi nada bicara Yodogawa itu cukup unik, ya?”

Mungkin dia juga memiliki pengalaman yang berliku-liku sepertiku?

Dengan perasaan itu, aku bertanya...

“Ah, aku memang punya sifat yang sangat akrab, jadi orang tuaku memaksaku menggunakan bahasa sopan! Tapi ketika aku menggunakan bahasa yang sopan, aku tidak bisa mengekspresikan diriku sepenuhnya, dan itu membuatku sulit untuk dekat dengan orang lain, jadi aku menyesuaikannya agar tidak menggangguku! Ini rahasia dari orang tuaku, jadi aku harap kalian semua bisa merahasiakannya!”

Alasannya ternyata cukup biasa saja. Saat aku tersenyum kecut, kali ini giliran Abeno-san yang bertanya kepada Yodogawa.

“Tapi Yodogawa-san, ketika kamu membuat undangan, aku melihat kalau tulisanmu sangat bagus. Apa kamu pernah belajar kaligrafi seperti Miyakojima-san?”

“Iya!”

Yodogawa balas mengangguk.

“Sejak kecil aku memang tidak bisa diam, jadi orang tuaku memaksaku belajar kaligrafi! Yah, pada akhirnya, aku jadi orang yang ribut dengan tulisan yang bagus!”

Hahahaha! Kami hanya bisa tersenyum kecut mendengar Yodogawa tertawa.

Orang ini terlalu positif...

Namun, aku bisa merasakan kesulitan yang ia rasakan karena tidak bisa mengekspresikan diri dengan baik saat menggunakan bahasa sopan. Mungkin bagi beberapa orang, menggunakan bahasa sopan tidak menjadi masalah, tetapi aku merasa saat berbicara jujur dengan orang lain, nada bicaraku yang asli akan muncul. Saat berbicara hal-hal penting dengan Hinako, Tennouji-san, atau Narika, aku pasti kembali ke nada bicaraku yang asli.

“Fufu.”

Tennouji-san tersenyum tipis.

“Jika dipikir-pikir, setelah pemilihan OSIS selesai, persiapan festival budaya dimulai dengan cepat... mungkin kita belum cukup akrab satu sama lain.”

Sulit dikatakan bahwa kami benar-benar mengenal satu sama lain. Tennouji-san tampaknya bersyukur karena ada kesempatan untuk menyadari hal itu.

“Jika tidak masalah untuk membuka hati, aku ingin bertanya satu hal...”

Abeno-san menatapku.

“Jadi, pada akhirnya, apa benar kalau Tomonari-san seorang perayu wanita?”

“...”

Kenapa dia malah bertanya seperti itu...?

“...Abeno-san, dari mana rumor itu berasal?”

“Rumor itu berasal dari murid-murid kelas satu. Aku juga sering ditanya oleh kenalan tentang kebenarannya, dan aku selalu menjawab bahwa itu rumor yang tidak berdasar... tetapi jika aku menyebarkan kebohongan, aku minta maaf.”

Jadi Abeno-san meragukan apakah aku seorang yang menawan.

Mungkin wajar jika dia merasa seperti itu setelah ditanya berkali-kali... tapi seandainya dia bisa menyangkalnya sampai akhir.

Aku menghela napas dan menjawab.

“Itu rumor yang tidak berdasar. Itu salah satu kampanye negatif yang beredar selama kegiatan pemilihan.”

“...Kalau dipikir-pikir, memang banyak rumor yang beredar, ya.”

Abeno-san sepertinya sempat memahami, tetapi...

“Jadi, Tomonari-san, kamu benar-benar tidak memiliki hubungan apapun dengan ketua dan Miyakojima-senpai, kan?”

“...”

Tidak ada hubungan... rasanya agak sulit untuk mengatakannya dengan tegas...

Melihatku yang terdiam, Abeno-san menoleh ke arah Tennouji-san dan Narika.

“Ketua dan Miyakojima-senpai juga begitu, kan? Kalian berdua tidak memendam perasaan apapun tentang Tomonari-senpai, benar?”

“...”

“...”

Tennouji-san dan Narika pun terdiam seperti diriku.

Wajah mereka berdua tampak merah padam. ...Terutama Narika yang sangat merah. Tapi aku mengerti perasaannya. Terkait Narika, sulit untuk mengatakan bahwa tidak ada apa-apa.

Bagaimanapun juga, Narika sudah menyatakan cintanya padaku.

Melihat situasi kami, Abeno-san berpikir sejenak.

“...Jadi, apa rumor itu benar?”

“Tidak!! Pokoknya, itu, tidak benar!!”

Aku bukan perayu wanita!!

Pokoknnya... aku bukan orang yang begitu!!

 

◆◆◆◆

 

Setelah menyelesaikan pekerjaan OSIS-ku, aku kembali ke rumah dan masuk ke dalam kamarku.

Aku pulang.”

“Hmm... selamat datang kembali~...”

Seolah-olah itu hal yang paling wajar di dunia, Hinako terlentang di tempat tidurku. Hinako yang duduk bersandar di tempat tidur menatapku saat aku meletakkan tas dan menghela napas.

“Itsuki, kamu capek...?”

“Yah, iya. Aku mencoba berbicara dengan nada biasaku saat melakukan kegiatan OSIS...”

Aku sudah memberitahu Hinako bahwa aku ingin kembali menggunakan nada bicaraku yang biasa saat di akademi, tetapi aku tidak memberitahunya bahwa itu terjadi hari ini, jadi Hinako terkejut. Meskipun aku memutuskan setelah pemilihan selesai, aku sudah menundanya hingga sekarang, mungkin dia berpikir untuk melakukannya setelah festival budaya selesai. Sebenarnya, di dalam hatiku, aku juga berniat melakukan hal yang sama.

“Reaksi semua orang... bagaimana?”

Mereka menerimanya lebih mudah daripada yang kubayangkan. ...Sepertinya aku bisa sedikit santai.”

Terlalu mudah diterima, sehingga aku belum merasakannya.

Hinako tersenyum lembut padaku.

“Terima kasih atas semua kerja kerasmu.”

“...Terima kasih.”

Hinako juga mengucapkan kata-kata selamat seperti Tennouji-san dan Narika. Di dunia ini, ada orang-orang yang selalu mengawasi usahaku dari dekat. Aku harus bersyukur atas kenyataan itu.

“Hinako juga terlihat lelah.”

“Hmm... latihan drama lebih sulit dari yang kukira.”

Hinako kelihatan lebih lelah dibandingkan aku. Biasanya dia selalu menunjukkan keinginan untuk “bersantai”, tetapi sekarang wajahnya menunjukkan bahwa dia ingin “istirahat”. Nuansanya berbeda sedikit.

“Kalau mau, aku bisa membantu, jika ada yang bisa aku lakukan.”

“...Kalau begitu, bolehkah aku minta tolong sedikit untuk peran Hamlet?”

“Tentu saja.”

Hinako mengambil naskah yang diletakkan di samping tempat tidur dan memberikannya padaku.

Fakta bahwa naskah tersebut berada di sini menunjukkan bahwa Hinako masih berlatih drama setelah kembali ke rumah. Ini jarang terjadi, Hinako yang biasanya tidak terlalu rajin.

“Jadi aku harus membaca bagian ini, kan?”

“Hmm. ...Itsuki, kamu tahu tentang Hamlet?”

“Ah, aku sudah belajar sedikit untuk jaga-jaga.”

Selama perjalanan pulang, aku mencarinya di dalam mobil.

Hamlet adalah salah satu dari empat tragedi besar karya Shakespeare yang dipentaskan pada awal abad ke-16. Tiga tragedi besar lainnya adalah [Othello], [Macbeth], dan [King Lear], sementara [Romeo dan Juliet] sebenarnya tidak termasuk di dalamnya karena banyak bagian yang bersifat komedi.

Sebenarnya, Hamlet adalah karya yang terus-menerus memiliki perkembangan serius dengan tema yang berkaitan dengan perebutan tahta. ...Pangeran Denmark, Hamlet, berduka atas kematian ayahnya. Namun suatu hari, dia mengetahui bahwa ayahnya dibunuh. Pelakunya adalah pamannya sendiri, raja saat ini. Ia membunuh ayah Hamlet dan merebut tahta serta istrinya. Setelah mengetahui kebenaran tersebut, Hamlet bersumpah untuk membalas dendam, tetapi balas dendamnya melibatkan banyak orang dan membawa malapetaka.

Ada banyak karakter yang terlibat dalam balas dendam Hamlet, tetapi yang paling mewakili adalah seorang gadis bernama Ophelia. Dia adalah kekasih Hamlet. Namun, Ophelia tidak bisa mengikuti kegilaan Hamlet yang dipicu oleh rasa dendam, dan merasa hancur. Akhirnya, Hamlet secara tidak sengaja membunuh ayah Ophelia, dan Ophelia yang putus asa kehilangan akal, jatuh ke sungai dan meninggal. ...Sungguh tragedi yang tak terelakkan.

Hinako terpilih untuk memerankan karakter Ophelia ini. Semakin banyak aku mencari tahu, semakin aku menyadari bahwa ini merupakan peran yang sangat penting. Dapat dikatakan bahwa Ophelia adalah sosok yang membuat karya Hamlet menjadi tragedi.

Setelah membaca naskah yang diberikan Hinako, aku membayangkan adegan yang akan aku perankan.

“Bagian ini adalah adegan terkenal, ‘kan?”

“Hmm... makanya aku harus sedikit lebih berusaha.”

Hinako yang selalu ingin bersantai mengatakan itu, jadi adegan ini pasti sangat penting dan akan menentukan kualitas drama.

Ini adalah adegan di mana Hamlet yang bersumpah untuk membalas dendam berseteru dengan Ophelia. Hamlet berpura-pura gila untuk membalas dendam. Ophelia bingung dan merana oleh kegilaannya.

Sejujurnya, aku tidak yakin bisa langsung memerankan bagian ini. ...Mungkin saat ini, Taishou juga sedang memikirkan hal yang sama. Memerankan Hamlet tampaknya lebih sulit dari yang kubayangkan.

Baiklah, kalau begitu, aku akan membacanya.”

Aku akan berusaha sebaik mungkin agar bisa berperan dengan baik.

Aku menghadapi Hinako sambil memegang naskah. Di situ aku menyadari sesuatu yang jelas. Jika aku memegang naskah, Hinako tidak bisa membaca naskah itu. 

“Apa kamu sudah menghafal dialognya?” 

“Hmm... aku sudah menghafal semuanya.” 

“...Tidak hanya untuk adegan ini?” 

Aku sudah menghafal semua dialog Ophelia yang tertulis di naskah. ...Ini adalah draf awal, jadi mungkin akan ada perubahan ke depannya.” 

Kemampuan Hinako memang luar biasa. Kalau begitu, aku akan menggunakan naskah ini. 

Sekarang aku adalah Hamlet. Ayahku telah meninggal, dan dalam kesedihan itu, aku menyadari bahwa alasan kematiannya karena pembunuhan, dan hatiku dipenuhi dengan keinginan untuk membalas dendam. Meskipun aku merasa kasihan terhadap Ophelia, hasratku tidak akan mengalahkan rasa kehilangan terhadap ayahku. Aku akan terombang-ambing antara kebanggaan dan kegilaan. 

“‘Selamat tinggal, Ophelia. Kamu harus pergi ke biara. Manusia tidak seharusnya menikah. Manusia pada dasarnya adalah penjahat.’” 

Setelah berpamitan kepada Ophelia, aku berjalan meninggalkannya. ...Untuk mereproduksi suasana ini, aku berjalan ke dekat dinding dan menjauh dari Hinako. 

Hinako yang ditinggalkan oleh Hamlet mengeluarkan ekspresi penuh kesedihan.

“‘Oh, wahai para malaikat! Kembalikan Hamlet kepadaku!’” 

Pertunjukkannya itu sungguh menawan dan indah. 

Hatinya yang mulia telah terganggu dan kehilangan arah. Dirinya yang memiliki kata-kata setia, pedang layaknya seorang prajurit, dan wawasan bagaikan seorang cendikiawan kini terjatuh ke tanah. Dia telah ditelan oleh kegilaan!’” 

Pertunjukan yang sangat mendalam itu benar-benar menyentuh hatiku. 

Aku merasa bahwa itu sangat disayangkan karena hanya aku yang menjadi penontonnya. Pertunjukan ini seharusnya dilakukan di panggung yang lebih besar dan menarik lebih banyak penonton. Aku sampai berpikir bahwa mungkin itulah misiku untuk melakukannya mulai sekarang. 

Hinako menghela napas dan kembali ke sikapnya yang biasa, tampak malas. Usai melihat pemandangan itu, aku akhirnya bisa berpikir jernih lagi. Hanya dengan mendengar beberapa baris dialog, seluruh tubuhku berkeringat. Jika aku membuka mulut, api semangat di dalam diriku akan meluap. 

...Rasanya sangat menakjubkan.” 

Sambil berusaha menahan api semangat itu, aku menyampaikan pendapatku. 

“Apa kamu bisa berakting sebaik itu karena memang sudah sering berlatih?” 

“Ya, kurasa bisa dibilang begitu. Aku sudah terbiasa dengan perhatian orang lain...” 

Sudah kuduga begitu

“Tapi, Ophelia masih belum sempurna...” 

Sekarang aku mengerti apa yang dimaksud Hinako dengan kata sempurna. Dibandingkan dengan penampilannya yang biasa, Ophelia masih kurang bagi Hinako. 

“Untuk memuaskan kakek, aku harus lebih serius dalam berakting...” 

Aku mendengar bisikan Hinako dan sedikit terkejut. 

“Jadi kamu tahu bahwa kepala keluarga akan datang?” 

“Hmm, Papa sudah memberitahuku. ...Meski aku tidak ingin mendengarnya sih.” 

Hinako menghela napas dengan wajah yang tampak lelah.

Kakek sangat teliti dalam menilai, jadi... kurasa ia tidak akan puas hanya dengan kualitas begini. 

Itu memang keras...

Apa penampilannya yang sekarang masih belum cukup...? 

Padahal menurutku, itu seharusnya sudah menjadi bentuk yang sempurna. 

Tapi, aku sudah menemukan beberapa poin untuk diperbaiki, jadi kurasa adegan ini sudah membaik. ...Terima kasih sudah membantuku, Itsuki, meskipun kamu juga sedang sibuk. 

Aku tidak terlalu sibuk sih.

Hari ini aku hanya berbicara dengan anggota OSIS dengan nada yang lebih santai. Namun— 

Memikirkan tentang besok membuatku tegang. Selanjutnya, aku harus menjelaskan tentang nada bicara kepada teman-teman sekelas.

Aku mendukungmu. Semangat ya... 

...Dukungan yang terasa kurang semangat. 

Meskipun begitu, itu membuatku merasa tenang. 

Akhirnya, kamu bisa bebas dari nada bicara yang palsu... 

“Begitulah. 

Mungkin tidak seharusnya menyebut sopan santun biasa sebagai nada bicara yang palsu, tapi sebenarnya, aku bukanlah orang yang begitu sopan hingga menggunakan bahasa formal kepada teman sekelasku. Meskipun tidak bisa disebut sebagai nada yang palsu, aku memang berinteraksi dengan mereka dengan sikap yang tidak asli. 

Ketika memikirkan tentang besok, aku merasakan ketegangan yang mirip dengan kegembiraan, serta perasaan kesepian yang mendalam. 

Mengapa aku merasa kesepian? Pikirku, dan aku segera memahami. 

Aku telah diselamatkan berkali-kali oleh sikap sopan ini. Dalam arti tertentu, meskipun itu nada yang palsu, itu tetap penting...

Aku merenungkannya. 

Sekarang, kebiasaan merendah yang telah menjadi beban bagiku dulunya adalah sesuatu yang mendukungku seperti seorang rekan seperjuangan. Jadi, wajar saja jika aku merasa kehilangan. 

Usai mendengar kata-kataku, Hinako— 

......Eh?

Entah mengapa, Hinako terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. 

Mengapa dia begitu terkejut? 

Ada apa, Hinako?

......Tidak, tidak ada apa-apa.

Hinako menggelengkan kepala dan mengalihkan pandangannya. 

Sepertinya ada sesuatu yang ingin dia katakan, tetapi... pada akhirnya, Hinako tidak memberitahuku dan lebih banyak diam saat kembali ke kamarnya sendiri

 

◇◇◇◇

 

Setelah kembali ke kamarnya sendiri, Hinako langsung terjatuh ke atas tempat tidur. 

Dia menyelubungi dirinya dengan selimut, dikelilingi oleh kegelapan yang hangat. Tubuh dan kepalanya yang lelah merasa senang. Tidur adalah kebahagiaan baginya saat ini. 

Namun, sekarang dia tidak bisa tidur. Sejak tadi, perkataan Itsuki masih terngiang-ngiang di kepalanya. 

(Nada bicara yang palsu itu penting...?)

Itsuki mengatakan bahwa nada bicaranya selama ini memiliki nilai bagi dirinya. 

Namun Hinako tidak bisa memahami itu. 

(......Meskipun itu hanya akting?) 

Jika dipikir-pikir, seperti halnya Hinako yang berperan sebagai Ojou-sama yang sempurna di akademi, Itsuki juga memainkan karakter yang berbeda dari sifat aslinya di akademi. Mungkin ia tidak terlalu menyadarinya, tetapi Itsuki telah melakukan hal yang mirip dengan Hinako selama ini. 

Oleh karena itu, Hinako merasa perlu mengapresiasi usahanya. Terima kasih atas semua usaha yang telah dilakukan hingga saat ini. Akhirnya, kamu bebas...   

Akting yang hanya merupakan tekanan dari posisi dan tanggung jawab. Kebahagiaan untuk dibebaskan dari itu merupakan sesuatu yang bisa dirasakan Hinako lebih dari siapa pun. 

Namun, reaksi Itsuki berbeda dari yang dibayangkannya 

Itsuki tidak pernah menganggap bahwa aktingnya selama ini merupakan hal yang buruk. 

(Aku tidak pernah berpikir bahwa aku diselamatkan oleh aktingku sendiri...) 

Mungkin... Aku juga begitu? 

Hinako berpikir seraya menyandarkan wajahnya di bantal yang empuk. Bagi Hinako, akting hanya terasa melelahkan, tetapi mungkin saja melalui akting ini, dia mendapatkan tempatnya. 

Ojou-sama yang sempurna. 

Dirinya yang lain... 

(Aku selalu berpikir kalau aku merasa benci terhadap akting...) 

Dia teringat kembali pada masa lalu. Saat dia harus mulai berakting. 

Masa kecilnya yang dikenal sebagai anak jenius. Pada masa itu, semua orang begitu baik. Namun, meskipun dia dipuja oleh orang lain, dia tidak merasakan kebanggaan. Dia lebih menyukai waktu-waktu yang tenang daripada saat-saat dipuji sebagai jenius. 

Setelah sifat aslinya yang merosot terungkap, banyak hal yang terjadi. Pertama, tunangannya saat itu meninggalkannya, dan hubungan mereka berakhir. Tepat pada waktu itu, ibunya meninggal dunia. 

Kematian ibunya sangat menyedihkan. Namun, ada orang yang lebih berduka daripada Hinako. 

Konohana Kagen... dengan mata bengkak penuh air mata, memberikan perintah kepada Hinako dengan tekad yang kuat. 

Beraktinglah”, katanya.

(...Aku tahu.) 

Dia menghela napas di dalam selimut. Hangatnya napas yang kembali padanya terasa tidak nyaman. 

(Apa yang diinginkan semua orang adalah... diriku saat berakting...) 

Dia sudah sedikit menyadarinya

Dunia ini mencari dirinya yang sedang berakting. 

Hinako tidak sepenuhnya pesimis bahwa tidak ada yang menginginkan dirinya yang asli... tetapi dia menyadari bahwa yang menginginkan dirinya yang asli hanya sedikit. 

Jika demikian, mungkin sama seperti Itsuki, dia juga mendapatkan tempatnya melalui akting sehari-hari. 

Meskipun dia tidak menginginkannya... 

(...Tidak apa-apa. Selama Itsuki mau melihat diriku yang sebenarnya, itu sudah cukup.) 

Itsuki adalah salah satu dari sedikit orang yang menginginkan jati diri Hinako apa adanya. 

Saat dirinya hampir dipecat dari tugasnya, Itsuki pernah berkata, Aku ingin menjadi orang yang tidak membuat Hinako merasa terpaksa... Betapa pernyataan itu sangat mendukungnya. Ketika berada di dekat Itsuki, Hinako merasa diberi semangat untuk menjadi dirinya yang sebenarnya. 

Namun, dia tiba-tiba berpikir. 

Itsuki adalah orang yang peduli dan penuh perhatian. Mungkin keinginannya untuk melihat dirinya yang asli merupakan bentuk simpati terhadap keadaan di mana dia terpaksa berakting. 

Itsuki tidak pernah mengatakan secara langsung. 

Itsuki tidak pernah mengungkapkan bahwa dirinya lebih suka Hinako yang apa adanya. 

(......Aku penasaran, sebenarnya Itsuki lebih suka diriku yang mana ya?) 

Dia mengeluarkan wajahnya dari selimut dan memeluk bantal sambil berpikir demikian

Antara dirinya yang sekarang dan dirinya yang sebagai Ojou-sama yang sempurna

Mana yang lebih disukai Itsuki?

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama