Epilog
Liburan
musim dingin telah berakhir, dan semester ketiga dimulai.
Ketika
aku mengingatnya kembali,
rasanya berlalu dengan begitu cepat.
Banyak acara seperti Natal dan Tahun Baru yang datang bertubi-tubi, dan aku
sendiri memiliki banyak hal yang harus dilakukan. Jika dibandingkan dengan saat
sekolah, sehari terasa berlalu lebih cepat, bahkan aku bisa mengingat dengan
jelas apa yang terjadi sebelum liburan musim dingin.
Baik Enami-san
maupun aku kembali melanjutkan kehidupan sehari-hari seolah tidak ada yang
berubah.
Jika dilihat
dari permukaan saja,
rasanya memang tidak ada perubahan. Enami-san
hanya menjalani kehidupannya yang serius, dan aku juga
hanya menjalani hari-hari yang dipenuhi dengan belajar. Setelah semester ketiga
berakhir, aku akan menjadi siswa kelas tiga, jadi aku tidak bisa lagi santai
dalam belajar.
Namun, bukannya berarti tidak ada perubahan di antara aku dan Enami-san.
Misalnya saja seperti ini.
◇◇◇◇
“Okusu,
aku benar-benar senang bisa berkonsultasi denganmu!”
“Eh?”
Beberapa
hari telah berlalu setelah semester ketiga
dimulai. Shiroyama-sensei tiba-tiba
mengatakan itu padaku.
“Jangan
berpura-pura tidak tahu begitu.
Kamu sudah membicarakannya dengan Enami,
‘kan?”
“…Ah,
maksudnya tentang itu, ya.”
Sejujurnya,
aku sudah benar-benar melupakan hal itu. Maksudku, sekarang memikirkannya
terasa sangat berlebihan...
“Aku
tidak tahu apa yang terjadi, tapi dia mulai berbicara sedikit demi sedikit.
Belakangan ini dia berusaha keras dalam belajar, dan sepertinya dia memang ingin
masuk universitas yang lebih baik.”
“Hee”
“Sepertinya
kamu menganggap ini bukan urusanmu. Pokoknya, kamu pasti mendengarnya, ‘kan? Ke depannya, mungkin lebih baik kalau aku mengandalkanmu daripada Nishikawa dalam hal Enami.”
“...”
Tanpa disadari, aku sudah diperlakukan seperti
menteri yang bertanggung jawab atas Enami. Aku tidak ingin membawa masalah
lebih lanjut kepada guru, tetapi sepertinya masalah justru semakin bertambah.
Ini sangat menyedihkan.
“Sensei,
tolong biarkan aku berbicara dengan jelas.”
Melihat
Sensei yang tampak sangat bersemangat, aku menghela
napas dan menyatakan.
“Aku
juga tidak punya waktu luang. Bisakah kamu
berhenti meminta berbagai hal dengan alasan karena
aku ketua kelas?”
“Eh?
Apa aku terlalu banyak meminta?”
──Orang
ini...
Sayangnya,
bagi Shiroyama-sensei,
permintaannya padaku senormal
dengan bernapas, dan tampaknya ia tidak menyadari hal itu. Aku memutuskan untuk
menolak dengan tegas di masa depan.
“Bagaimanapun juga, aku berterima kasih padamu! Ternyata,
kamu mungkin cocok menjadi guru, ya?
Aku akan selalu siap membantumu.”
Sambil
mengatakan kata-kata yang tidak perlu, ia pun pergi.
Memikirkan
keberadaan orang seperti Shiroyama-sensei,
menjadi guru bukanlah pilihan bagiku. Aku hanya akan menarik undian sial.
Aku
pasti tidak akan menjadi ketua kelas lagi tahun
depan. Dengan tekad seperti itu,
aku kembali ke tempat dudukku dan mulai mempersiapkan pelajaran berikutnya.
◇◇◇◇
Di kantin
saat jam istirahat makan siang.
Aku dan Enami-san
duduk saling berhadapan. Hanasaki
dan Nishikawa tidak ada di sini, jadi hanya ada kami berdua.
Awalnya,
kami berencana makan berempat, tetapi kedua orang itu tidak bisa datang karena
ada panggilan terkait klub olahraga. Aku membuka kotak makan siang di meja
untuk dua orang.
“Hmm, jadi begini,
ya?”
Sambil
berkata demikian, Enami-san mencicipi laukku. Sepertinya dia penasaran dengan
rasa masakanku, jadi dia meminta sedikit.
Di depan Enami-san
ada set menu menchi katsu, tetapi dia terus mengambil laukku yang diletakkan di
atas tutup kotak makan siang.
“Apa
maksudnya dengan begini?”
“Bukan
apa-apa. Aku hanya merasa kalau rasanya lebih
biasa dari yang kubayangkan.”
“Biasa...”
Aku tidak
bisa membantahnya. Meski
variasinya cukup banyak, tapi rasanya tidak
bisa dibilang sangat enak.
“Aku
tidak sedang menyinggungmu.
Melihat masakan itu, aku hanya berharap lebih dari itu.”
“Karena
ini Natal, aku berusaha lebih keras dari biasanya. Tidak mungkin aku membuat
masakan sekompleks itu setiap kali.”
Beberapa lauk
yang ada di kotak makan siang juga ada sisa dari masakan
hari sebelumnya. Enami-san
pasti memahami situasi di sana. Dia tidak bertanya lebih jauh.
“Ah,
benar juga,”
Aku
berkata.
“Sensei
baru saja memberitahuku bahwa ia sekarang merasa sangat terbantu karena Enami-san mau berbicara tentang jalur karier.”
Ekspresi
terkejut muncul di wajahnya. Kemudian, Enami-san tertawa pelan.
“Ah,
itu, ya. Padahal
aku hanya bicara seadanya.”
“Begitu?”
“Iya.”
Dia
mengambil sumpit dan memasukkan sepotong menchi katsu ke dalam mulutnya. Ketika aku pikir
percakapan itu akan berakhir, suara Enami-san melanjutkan.
“Masih
ada banyak hal yang harus kupikirkan. Jadi, pasti sulit untuk
segera mencapai kesimpulan. Mungkin aku hanya bisa memikirkannya sedikit demi
sedikit.”
Aku
berhenti sejenak, merasa terkejut.
Orang ini
telah berbicara tentang masa depannya...
“Apa?”
Dia
menatapku dengan tajam. Meskipun begitu, ini adalah hal yang besar bagiku.
“Entahlah,
Enami-san...”
Aku minum
seteguk air sebelum melanjutkan.
“Aku merasa
kalau hari ini kamu kelihatan sangat senang.”
“Hah?”
"Enami-san
mengatakan hal yang serius."
Sepertinya,
aku telah mengucapkan sesuatu yang tidak perlu.
Wajah Enami-san
berubah menjadi tidak senang, berbeda dari sebelumnya. Dia kemudian mengambil
ayam goreng yang ada di kotak makan siangku tanpa izin.
“Ah!”
“Kamu terlalu songong.”
Sudah
terlambat, ayam goreng yang dicuri kini ada di mulut Enami-san.
Bahkan,
dia berusaha mengambil lebih banyak, jadi aku buru-buru menyembunyikan kotak
makan siangku.
“Sepertinya
aku tidak bisa sedikit pun, ya. Sebenarnya, kalau kamu meminta
dengan baik-baik, aku bisa memberikannya. Apa kamu
selapar itu?”
“Iya,
lapar.”
“Ugh...!”
Aku
mencoba membuatnya marah, tetapi dia menghindar. Rasanya agak menyebalkan.
◇◇◇◇
Hari-hari
berlalu seperti biasa. Pemandangan yang sama.
Percakapan
yang sepele dan balasan yang tidak berarti, sedikit demi sedikit berubah dalam
interaksi kami. Aku
harus terus menjalani kenyataan ini hari ini.
Dengan harapan
kuat untuk menjadikan hari-hari seperti ini sebagai kenangan yang bisa aku
tertawakan di masa depan──.
Sebelumnya
