Chapter 8 — Jangan Berani-Berani Mengejek Romcomku
──Akhirnya
pertunjukan akan segera dimulai.
Hari
kedua festival budaya. Dengan hadirnya masyarakat umum, pertunjukan pertama dan
terakhir Kelas 1-2 akan segera digelar.
“Fiuh…”
Aku
menghela napas. Tak seperti biasanya, tanganku gemetar—aku gugup. Kalau
dipikir-pikir lagi, ini bukan pertama kalinya aku menjadi pusat perhatian...
atau mungkin dulu?
Tidak,
selama perjalanan sekolah, aku naik ke panggung demi Shiho juga.
Dibandingkan
dengan waktu itu, ini mungkin tidak ada apa-apanya.
Shiho
mungkin ada di suatu tempat di luar sana dan menonton
pementasan.
Tiba-tiba
aku ingin melihat wajahnya, tetapi dia tidak ada di sana.
Meski
begitu, kehadirannya tetap ada.
Di salah
satu bagian panggung, di sudut yang didekorasi khusus untuk pementasan…
terdapat pita origami yang dilipat tak beraturan. Dibuat dengan asal-asalan,
tetapi jelas dikerjakan dengan penuh ketelitian—melihatnya saja sudah
menenangkan sarafku.
Ini
adalah panggung yang ingin dilihatnya juga. Dia bilang dia
ingin melihatku tampil keren. Aku mendapat peran ini
hanya karena dia mengangkat tangannya demi diriku.
Jadi
sekarang giliranku untuk memberikan segalanya.
Lupakan
rencana Mary-san, atau patah hati Kirari—untuk saat ini saja.
Sekarang,
aku akan memerankan peran ini demi Shiho.
Menjadi Nakayama Kotaro yang keren — yang layak untuknya.
──
Klik.
Tanpa
sengaja, saklarnya terbalik.
Dengan
kembalinya sensasi yang telah lama terlupakan, aku merasakan sesuatu yang bukan
diriku mulai bergejolak di dalam.
Baiklah
kalau begitu... saatnya memainkan peran penjahat dan memberikan cerita ini
klimaks yang tepat.
Pada saat
itu, rasanya seakan-akan aku menjadi orang lain sepenuhnya.
Shiho
pernah memintaku untuk tidak menekan tombol itu.
“Kotaro-kun
seharusnya melakukan apa yang menurutnya benar.”
Kata-katanya
memberiku kejelasan.
Maafkan
aku,
Shiho… hanya untuk hari ini.
Untuk
menjadi Nakayama Kotaro keren yang pantas diterimanya.
Kecuali aku
melakukan ini, aku tidak akan mampu melakukan apa yang perlu dilakukan.
Jadi,
Nakayama Kotaro mengambil peran sebagai penjahat.
◆◆◆◆
Dan
kemudian—tirai pertunjukkan pun diturunkan.
Para
aktor berbaris di atas panggung dan membungkuk kepada penonton.
Pada saat
itu, seisi aula bersorak dengan tepuk tangan.
Aku tidak
akan menjelaskan penampilannya itu sendiri—tidak ada yang luar biasa.
Yang
perlu diperhatikan adalah ini: penampilan Nakayama Kotaro… terasa seperti dia
adalah orang yang sama sekali berbeda.
Di atas
panggung, aku memerankan tokoh penjahat dengan sangat baik sehingga penonton
benar-benar merasa terganggu dengan kehadiranku.
Seolah-olah
aku telah menjadi orang lain sepenuhnya.
Pertunjukan
telah berakhir.
Namun di
satu sisi, hal itu juga menandai sebuah permulaan.
Karena
sekarang, kisah sebenarnya akan terungkap.
Komedi
romantis kesayangan Mary-san yang ‘rasakan akibatnya’ akan mencapai
puncak dramatisnya.
◇◇◇◇
Kamu
sebenarnya siapa?
Sejak
ditanya pertanyaan itu, Asakura Kirari terus memikirkannya.
Apa
aku benar-benar... diriku?
Dia tidak
tahu lagi siapa dirinya.
Sejak
aku bertemu Ryuu-kun… aku berhenti menjadi “diriku” dan menjadi
“aku”.
Dia
mengingat momen itu dimulai dengan jelas.
Saat
upacara penerimaan siswa baru SMA, dia bertemu dengan seorang anak laki-laki
bernama Ryuzaki Ryoma—dan memutuskan untuk mengubah dirinya.
“Kurasa
aku mungkin lebih suka penampilan yang lebih asing. Bukan berarti aku tidak menyukai rambut hitam.”
Itulah
yang dikatakannya ketika ditanya tentang tipenya.
Jadi
Kirari mewarnai rambutnya menjadi pirang, memakai lensa
kontak berwarna, dan bahkan mencerahkan kepribadiannya agar tampak lebih
seperti seseorang dari luar negeri.
Dia
mengubah penampilan dan kepribadiannya—segalanya—hanya demi membuat Ryoma
menyukainya.
Berkat
itu, mereka menjadi dekat... tetapi pada akhirnya, perasaannya tidak pernah
membuahkan hasil.
Begitu ya. Waktu itu...
waktu piknik sekolah, waktu aku menyadari perasaan Ryuu-kun... eh, bukan itu
saja. Waktu aku melihat Kou-kun, aku mulai lupa siapa diriku.
Bukan
hanya karena orang yang dicintainya. Melihat bagaimana seorang
anak laki-laki yang dia anggap hanya seorang teman telah tumbuh, dia
menggertakkan giginya.
Kou-kun
keren banget. Jauh lebih menawan daripada waktu SMP dulu... Tapi aku? Apa aku
benar-benar sudah lebih baik dari dulu?
Bahkan
saat mendapat perhatian semua orang, ia tetap teguh pada
pendiriannya untuk melindungi seorang gadis. Hal itu membuatnya sungguh
mengagumkan.
Perubahan
itu mungkin berkat Shimotsuki Shiho.
Kou-kun
menemukan seseorang yang menerimanya… Aku iri
banget.
Kirari merasa
iri dengan ikatan mereka. Karena Kirari tidak pernah
berhasil membangun hubungan semacam itu dengan Ryoma, pemandangan itu sungguh
menyilaukan.
Aku
juga ingin menjadi seperti Kou-kun…
Dia ingin
diakui. Cinta tak berbalas saja tidak cukup.
Dirinya
ingin diakui. Dipuji karena telah memberikan segalanya.
Dia ingin
dicintai. Karena dia telah jatuh cinta sedalam ini pada seseorang.
Tapi
lelaki yang dicintai Kirari tidak pernah menatap ke arahnya.
Tidak
peduli seberapa keras dia berusaha, Ryoma tidak pernah benar-benar melihatnya.
Meskipun
ia mengubah penampilan dan kepribadiannya demi Kirari—ia tetap tidak akan
mencintainya. Kirari tak lagi mengerti alasan dirinya menjadi ‘Kirari’.
Dan
akhirnya, dia kehilangan jati dirinya.
Dulu
waktu SMP, aku tidak seperti ini…
Akhir-akhir
ini, Kirari lebih sering mengingat hari-hari itu. Pada
saat
itu, dia tidak keberatan tidak memiliki teman. Selama dia
dikelilingi oleh cerita-cerita yang dicintainya, tidak ada yang membuatnya
takut.
Namun
suatu hari… setelah bertemu dengannya, dia mulai
berpikir bahwa mungkin berhubungan dengan orang lain tidaklah seburuk itu.
Semenjak
aku bertemu Kou-kun… aku jadi semakin lemah.
Kotaro
adalah teman pertamanya.
Karena keberadaannya, dia menjadi
tertarik pada orang lain.
Karena dirinya, dia mulai
merasa kesepian saat sendirian.
Lalu dia
bertemu Ryoma—dan jatuh cinta.
Karena yakin
bahwa dialah jodohnya, dia mulai bermimpi untuk bersamanya selamanya.
Karena
itu… dia tidak bisa lagi kembali ke versi dirinya yang tidak keberatan
sendirian. Berarti hanya ada satu-satunya jalan yang tersisa.
Jika
aku ingin tetap menjadi “aku”… maka Ryuu-kun harus mencintaiku.
Jadi, dia
memutuskan.
Aku
akan menembaknya… dan membuat Ryuu-kun mencintaiku.
Segera
setelah festival berakhir. Dia ingin mengungkapkan
perasaannya dan bersamanya. Dicintai. Dipuji.
Agar
versi Kirari ini diterima.
Itulah
yang dia pikirkan—
“Aku
menyukaimu, Mary… Maukah kamu berpacaran denganku?”
Tapi dia
melihatnya.
Saat
orang yang dicintainya mengungkapkan perasaannya kepada orang lain.
Mustahil…
Dia
bahkan tidak mendapat kesempatan untuk menyatakan cintanya.
Setelah pementasan
drama
berakhir, dia mengikuti Ryoma, mencari kesempatan untuk berduaan
dengannya. Lalu, di belakang gedung sekolah, di mana tak ada siapa-siapa—Ryoma
menyatakan perasaannya.
Dan tentu
saja, bukan kepadanya.
Itu
sungguh... kejam.
Kirari yang hatinya tersakiti seketika ambruk ke tanah, bersembunyi dalam
bayangan, sambil menggigit bibirnya.
Jika
Ryoma tidak menyukai versi Kirari yang telah berubah untuknya… maka tidak ada
lagi alasan bagi Kirari untuk tetap menjadi “Kirari.”
Dan pada
saat itu, pertanyaan Kotaro kembali muncul di benaknya.
“Siapakah
kamu sebenarnya?”
Apa
aku ini... aku? Atau diriku... aku? Apa
aku... aku yang menjadi diriku...? Apa-apaan ini? Masa
bodo.
Aku sudah tidak peduli lagi.
Bahkan
dia tidak tahu jawabannya lagi—
──Sudah
berapa
banyak waktu yang telah berlalu sejak saat itu?
Keheningan
yang panjang namun singkat telah bertahan.
“…………”
Tanpa
sepatah kata pun, dia duduk di sudut yang tenang di belakang gedung sekolah. Di
situlah orang yang dicintainya baru saja mengungkapkan perasaannya.
Aku
bisa berpura-pura tidak melihatnya saat itu adalah Shiho Shimotsuki… tapi kali
ini, kurasa aku tidak bisa.
Rasanya
semua yang dilakukannya selama ini telah disangkal. Dia berusaha
sekuat tenaga untuk dicintai, tetapi semuanya tidak ada artinya. Dia
tak mengerti apa-apa lagi. Tak ingin mengerti. Tak bisa mengerti meski mencoba.
Siapa
dia? Apa yang harus dia lakukan sekarang?
Apa yang
harus dia tuju, wajah seperti apa yang harus dia
tunjukkan,
pilihan apa yang harus dia buat? Kirari tidak mengetahuinya.
Katakan
padaku… seseorang, tolong, katakan padaku siapa aku…!
Dirinya
ingin diakui. Diselamatkan. Didukung. Diizinkan untuk bergantung pada
seseorang.
Asakura
Kirari hanya ingin bergantung pada seseorang—siapa
saja.
Dan saat
itulah dirinya muncul.
“…Hei,
hei. Ada apa?”
Ada
suara seseorang yang memanggilnya. Dia mendongak karena
terkejut—dan
di sana berdiri seorang teman laki-lakinya yang dulu.
“Kamu
kelihatan sedih banget. Apa terjadi sesuatu?”
Laki-laki itu
berjalan ke arahnya dengan ekspresi khawatir.
“Kamu
baik-baik saja? Angkat dagumu, Kirari. Apa pun itu, katakan saja padaku. Aku
akan membantumu.”
Laki-laki itu tersenyum lembut seolah-olah ingin
mengatakan
tidak apa-apa bergantung padanya.
Kou-kun…!
Di
hadapannya berdiri seorang anak laki-laki yang berpenampilan biasa saja. Namun
saat ini, laki-laki tersebut tampak mempesona.
Mirip seperti
seorang pangeran di atas kuda putih.
Pada saat
dirinya terpuruk dalam keputusasaan yang terdalam, anak laki-laki
itu muncul—dan Kirari hampir menangis.
Aku
mengerti sekarang. Yang seharusnya kuhargai... adalah Kou-kun selama ini.
Dia
salah. Yang bisa dilihatnya hanyalah Ryoma, dan akhirnya dia berusaha menjadi
gadis yang disukai Ryoma.
Tapi—
Mulai
sekarang, aku akan hidup demi Kou-kun. Aku akan
memberikan segalanya untuknya.
Kirari
sudah mengambil keputusan.
Jatuh
cinta pada lelaki yang menyelamatkannya—sang heroine—dari dirinya
sendiri.
“Kirari.
Aku di sini bersamamu.”
Ia
tersenyum lembut dan mengulurkan tangannya.
Kirari
pun mengulurkan tangan, siap untuk memeluknya. Siap untuk dipeluk. Untuk
bergantung padanya.
Tapi…
yang dipegang tangannya hanyalah udara kosong.
“—Apa kamu
beneran
berpikir aku akan mengatakan itu?"
Tangannya
lenyap. Tidak—ia menariknya saat Kirari mencoba meraihnya.
“…………Hah?”
Kirari berpikir laki-laki itu akan
menyelamatkannya. Dia siap menjadikannya alasan untuk terus maju. Namun
anak laki-laki itu menghancurkan semua harapan itu di depan matanya.
“Sungguh menyedihkan
sekali. Kirari... memangnya kamu pikir kamu itu semacam heroine yang tragis?
Terpuruk dalam kesengsaraanmu sendiri, menolak untuk bangun, hanya menunggu
seseorang datang menyelamatkanmu... sungguh menyedihkan. Sudah waktunya untuk
berhenti bermimpi.”
-Tidak.
Kirari
menggelengkan kepalanya. Bukan itu yang ingin
didengarnya saat ini. Dia ingin dimanja. Dihibur. Diberi tahu
bahwa semuanya akan baik-baik saja…!
“Kamu
masih berusaha bergantung pada seseorang, ya? Menyedihkan sekali... jangan
serahkan hidupmu, kisahmu, kepada orang lain.”
—Itu
menyakitkan.
Hatinya
sakit.
Kou-kun…
jangan sekarang… ini bukan saat yang tepat… aku sudah sangat terluka, kamu tidak bisa
menyakitiku lebih parah lagi…!
Rasanya
tidak pada tempatnya. Kata-katanya bukanlah yang dia butuhkan—dan
sebelum dia menyadarinya, Kirari telah mengatakannya.
“Jangan
mengatakan hal-hal seperti itu…”
Bahkan
dia sendiri terkejut dengan seberapa gemetar suaranya. Namun
anak laki-laki di hadapannya tidak menunjukkan belas kasihan.
“Jangan
terlalu merengek begitu. Aku bukan pahlawanmu. Aku bukan
protagonisnya. Pahamilah—Asakura Kirari bukanlah heroine dalam cerita
Nakayama Kotaro. Jadi, jangan berharap diselamatkan. Jangan mencoba bergantung.
Jangan bergantung pada siapa pun.”
Dia
ditolak.
Setiap perasaan
terakhirnya—ditolak.
“Tapi
tetap saja, kalau kamu ingin bergantung padaku, kamu bisa menundukkan kepalamu.
Tundukkan kepalamu dan mohon. Bukannya itu yang kamu mau, kan? Kamu ingin menjadikan
orang lain alasanmu untuk hidup, kan? Itulah inti dari semuanya, ‘kan?”
Dia
memandang rendah padanya.
Dia
mengejeknya.
Dia meledeknya.
Dia
mempermalukannya.
Dengan
kata lain, inilah yang sebenarnya dipikirkan Nakayama Kotaro tentang Asakura
Kirari.
“Akan
kuberikan sedikit rasa kasihan padamu, gadis malang. Kamu menginginkan kasih sayang, kan? Aku tak
bisa memberikan semuanya, tapi mungkin akan kuberikan sedikit. Lagipula, kita
punya hubungan masa lalu. Aku bisa bicara denganmu sesekali atau
semacamnya. Jadi, silakan—mohonlah. Tunjukkan ketulusan terbaikmu. Lalu
mungkin, mungkin saja, aku akan menjadi
alasanmu untuk hidup.”
Ia
melihatnya sebagai sosok yang menyedihkan, memilukan, malang—hanya sekedar “heroine sampingan yang
tidak diberi penghargaan.”
“Kamu terlalu lemah
untuk memahami dirimu yang sebenarnya, jadi kamu sudah tidak punya harga
diri lagi, kan? Kalau begitu tundukkan kepalamu. Kalau begitu, aku akan
menyelamatkanmu. Karena kamu hanyalah gadis kecil menyedihkan yang
tidak bisa hidup sendiri. Jangan beri aku omong kosong 'Aku ingin memberikan
segalanya untuk Ryuzaki Ryoma' itu... Kirari, itu bukan cinta. Kamu hanya mencari
seseorang untuk diandalkan.”
—!
Sesuatu
meledak dalam dirinya. Luapan emosi yang terpendam dalam hatinya tiba-tiba
menyerbu ke dalam dirinya.
—Tidak!
Ini bukan
seperti yang seharusnya berakhir.
Jangan
mengejekku!
Jangan
menghina Asakura Kirari.
Emosi
yang meledak dari lubuk hatinya adalah kemarahan.
“…Tidak.”
Kata-kata
itu terucap dengan suara gemetar Tapi masih terlalu pelan—sehingga
Kotaro
tidak mendengarnya.
“Hah?
Apa-apaan
itu tadi?”
Ia
mencondongkan tubuhnya dengan nada meremehkan—dan saat itulah Kirari meledak.
“Aku
bilang, tidak!”
Tenaga
mengalir deras ke dalam tubuhnya, yang sebelumnya lemas. Seluruh tubuhnya
terbakar. Isi perutnya mendidih. Dia tidak dapat menahannya
lagi.
“Menundukkan
kepala? Memangnya kamu pikir kamu itu siapa? Jangan
menyanjung diri sendiri! Jangan meremehkanku... jangan merendahkanku ! Jangan mengasihaniku! Jangan berani-berani menyebutku menyedihkan !!”
Dia
berteriak.
Dia
berdiri.
Dan
kemudian—dia menampar wajah anak laki-laki itu dengan sekuat tenaga.
Plakk!
Suara
tajam dan kering terdengar—namun emosi Kirari tak kunjung mereda. Terdorong
oleh dorongan hati, dia mencengkeram kerah baju anak laki-laki itu dan berteriak ke
wajah arogan itu sekali lagi.
“Jangan
berani-berani meremehkanku!!”
Kirari
memang
menyedihkan. Seorang heroine yang kalah dan baru saja patah hati. Namun
bukannya
berarti dia akan diam saja jika diolok-olok.
“Jangan
berani-beraninya kamu menolak cerita komedi romantisku... ceritaku!”
Ya—dia
juga punya ceritanya sendiri.
Mungkin ceritanya
dipenuhi kegagalan. Kisahnya juga
mungkin
berantakan dan memalukan. Meski begitu, dia tidak
ingin hal itu ditolak. Karena dia sudah berusaha keras.
Itu
adalah kisah yang dia bangun dengan putus asa, semuanya demi mengejar
kebahagiaannya.
“Kamu
tidak mengerti,
‘kan!?
Kamu tidak mengerti gimana rasanya begitu ingin dicintai
sampai-sampai rela berkorban demi itu!!”
Dia
berteriak.
Dia
meraung.
Dia
meluapkan seluruh emosinya kepada anak laki-laki yang berdiri di hadapannya.
“Jika
aku bisa dicintai, tak masalah jika 'aku' menjadi 'aku'. Sebesar
itulah aku mencintainya! Memangnya kamu pernah mencintai seseorang
sebesar itu!?”
Dia
mengingatnya dengan jelas—seolah-olah baru terjadi kemarin. Pada
hari upacara penerimaan siswa baru SMA, dia jatuh cinta pada pandangan pertama
dengan seorang laki-laki bernama Ryuzaki Ryoma.
Kirari
hanya tahu dialah orangnya. Bahkan sekarang, dia tak tahu
kenapa. Tapi ini pertama kalinya dia jatuh cinta pada
seseorang yang spesifik, dan sangat ingin membuat cintanya terbalas.
Dia selalu
punya kebiasaan terpaku pada hal-hal yang disukainya.
Semasa SMP,
dia terpaku pada
‘cerita’—dia benar-benar
membenamkan dirinya di dalamnya.
Itulah
segalanya baginya.
Setelah
masuk SMA, ‘Ryuzaki Ryoma’ menjadi
segalanya. Dia benar-benar terobsesi padanya. Dia mencintai
Ryoma sepenuh hatinya. Hanya itu saja.
Perasaan
itu—tidak pantas untuk diolok-olok.
Hanya
mencari seseorang yang bisa diandalkan?
Tidak
mungkin. Mana mungkin hanya itu saja. Seharusnya
tidak hanya itu saja.
“Apa
benar-benar buruk… ingin bersama orang yang kita cintai? Memangnya salah jika kita
memaksakan diri, berusaha keras hanya untuk menjadi orang yang mereka cintai?”
Jatuh
cinta, menginginkan cinta itu terbalas, dan bekerja keras untuk mencapai tujuan
itu—itulah yang dilakukan Kirari.
Namun,
anak laki-laki di depannya menyangkal semua itu. Ia telah meludahi
usahanya, menghancurkan perasaannya.
Dan hal itu—dia
tidak bisa memaafkannya.
“Hei,
Kou-kun… katakan padaku. Kenapa kamu meremehkanku seperti
itu? Katakan saja. Ayo, jawab aku… Nakayama Kotaro!!”
Teriaknya.
Rasanya ingin sekali menampar wajahnya lagi saat itu juga.
“Katakan
sesuatu sekarang…”
Dia
hampir tersentak karena ledakan emosinya sendiri yang sepihak. Tetapi
Kotaro bahkan tidak membiarkannya mengalihkan pandangan. Bahkan saat dia
mencengkeram kerah bajunya, anak laki-laki itu tidak mengalihkan
pandangannya—dia menatap lurus ke arahnya.
“Kalau
begitu— buktikan. Kamu pikir
hanya dengan
merengek dan berteriak tanpa melakukan apa pun akan mengubah apa pun? Jangan
membohongi diri sendiri dengan berpikir usaha setengah-setengah itu penting.”
Perkataannya
yang tajam menusuk jauh ke dalam hati Kirari. Karena… dia tidak bisa
menahan perasaan bahwa ucapan Koutaro ada benarnya.
Dia
merasa malu terhadap dirinya sendiri—karena merasa puas hanya dengan mencoba.
“Lalu
sekarang bagaimana? Kmau rela menerimaku, dari semua orang?
Kamu
pikir film komedi romantismu tidak akan ditertawakan karena itu? Itulah
kelemahanmu. Teruslah berjuang... atau kamu akan tetap menjadi
pemeran sampingan yang menyedihkan dan malang.”
—Tidak.
Dia
menolak untuk mengakhiri semuanya sebagai wanita sampingan. Itu sesuatu yang
tidak bisa dia terima.
“Kalau
kamu mau mengakhirinya di sana, ya sudahlah—aku akan sedikit memanjakanmu.
Waktu SMP dulu, aku memang menganggapmu teman. Jadi, demi masa lalu, aku akan
memberimu alasan untuk hidup. Bagus, kan? Akhir yang pas untuk heroine sampingan. Jadi,
teruskan saja—berbahagialah. Tersenyumlah seperti biasa. Tersenyumlah dan
sanjung aku agar kamu tidak membuatku kesal.”
Anak
laki-laki itu terus mencibir padanya.
Tidak
peduli seberapa keras dia berteriak, perasaannya tidak akan sampai padanya.
Karena
Kirari bahkan belum mulai bertarung.
“Tunggu saja nanti.”
Kemarahan
memuncak.
“Nakayama
Kotaro… Aku, aku, awasi aku!”
Dia tidak
tahan memikirkan kekalahan.
“Aku
akan menunjukkannya padamu… Aku bukan
sekedar pemeran sampingan!!”
Dia
bersumpah tidak akan membiarkan segalanya berjalan sesuai keinginannya.
Itulah harga diri Asakura Kirari.
“Akhirnya
aku mengerti. Aku adalah aku ...
Aku tidak berubah. Dulu, sekarang, selalu aku!”
Sekalipun
penampilannya berubah, sekalipun kepribadiannya berubah, sekalipun pola pikirnya
berubah—Asakura Kirari tetaplah Asakura Kirari.
Tidak
peduli apa pun yang berubah, dirinya tetap Kirari.
Menyadari
hal itu, dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan menyatakan dengan berani,
“Aku
akan membuatnya bilang mencintaiku... Aku akan membuat Ryuu-kun jatuh cinta padaku!
Dan aku akan membuktikan kamu salah! Akan kubuat kamu takkan pernah
bisa menyangkal perasaanku lagi!!”
Setelah
itu, dia mendorong anak laki-laki itu dengan paksa. Tubuhnya, yang
masih tertahan di kerah bajunya, terhuyung mundur dan jatuh ke tanah.
Sambil
menatapnya, Kirari berteriak sekali lagi.
“—Lihat
aku… benar-benar lihatlah aku!”
Dia tidak
akan membiarkan dirinya diolok-olok lagi. Dia tidak akan membiarkan
siapa pun menyangkal ceritanya lagi.
Setelah
mengutarakan tekadnya itu, dia melotot ke arahnya.
Ini
pertarungan. Ia telah mengatakan apa yang perlu ia katakan. Ia telah menyerang.
Ia telah menyakitinya. Sekarang giliran Kirari—Kirari bersiap.
Dia sudah
melancarkan pukulan pertama. Jika ia membalas, Kirari siap menerimanya.
Tapi Koutaro
justru…
“…Jadi
begitu.”
— tidak
melakukan apa pun.
“Jika
kamu ingin membuktikan aku salah, maka lakukan saja.”
Dia jelas
tidak marah.
Tidak—malahan,
dirinya
tampak sedikit senang.
“…Aku
tidak mengerti maksudmu.”
Reaksi
itu membuatnya jengkel. Kirari menghela napas dan mengalihkan pandangannya. Bahkan
setelah semua teriakan dan omelannya seperti binatang buas… Kotaro tetap tenang.
Melihat
itu membuatnya merasa kasihan. Kirari tak sanggup lagi tinggal
di sana lebih lama lagi.
“…………”
Dia
berbalik. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, dia berjalan meninggalkan
belakang gedung sekolah.
—Aku
akan bahagia. Apa pun yang terjadi.
embakar
api keyakinan di hatinya, ia terus maju.
Tak ada
lagi keraguan dalam langkahnya——
◆◆◆◆
Pipiku masih perih dan
panas
karena tamparan tadi.
“Fyuh… itu membuatku
lelah.”
Mungkin
karena aku tidak terbiasa dengan hal semacam ini, tetapi aku merasa tenagaku
benar-benar
terkuras.
Tetap
saja… Kirari akhirnya menghadap ke depan lagi.
Itulah
dirinya sebenarnya. Tidak— itulah yang membuatnya
menjadi Kirari.
Kurasa
memainkan peran penjahat itu sepadan...
Ini
adalah satu-satunya cara yang dapat kupikirkan untuk
menolongnya. Demi memancing kemarahannya, mendorongnya
melawan—itu berarti mengatakan hal-hal yang tidak akan pernah berani kukatakan
sebelumnya.
Jika aku ingin menjadi
Nakayama Kotaro yang pantas berdiri di samping seseorang seperti Shiho, aku tak bisa
meninggalkan Kirari. Maka aku mengambil peran sebagai penjahat
dan dengan sukarela menyakitinya.
Berkat
itu, Kirari berhasil kembali menjadi dirinya yang dulu. Bukan lagi
seseorang yang mempertahankan harga dirinya dengan bergantung pada orang lain.
Namun
seseorang yang mampu percaya pada dirinya sendiri, terlepas dari apa yang
dipikirkan orang lain— itulah Kirari yang sangat
dikaguminya.
Aku merasa
senang melihatnya seperti itu lagi. Bahkan jika kami sekarang menjadi
orang asing.
Kami memang pernah berteman. Tidak—lebih dari itu. Aku menganggap Kirari
sahabatnya.
Itulah
sebabnya… Aku tidak ingin kesengsaraan menimpa
padanya.
Aku tidak
ingin Kirari menyerah pada Ryuzaki.
Karena
Kirari benar-benar mencintainya—bukan?
Maka
teruslah berjuang. Kejar kebahagiaanmu, dan jangan lepaskan. Jalan
di depannya pasti berduri. Bahkan sekarang, kisahnya penuh dengan kepedihan. Dia bahkan hampir menyerah
karenanya.
Tapi
tetap saja… Aku berharap dia akan bertahan.
Saat
dia tidak dapat menahannya lagi, aku ingin dia mengingat kemarahannya padaku—dan terus
berjuang. Tolong, buktikan aku salah. Jangan
hanya bicara saja— buktikan lewat tindakanmu.
Kalahkan aku.
Jika dia
akhirnya mencintai Ryuzaki sedemikian rupa sehingga Koutaro menjadi sama
sekali tidak diperlukan olehnya—
Kalau
begitu dirinya akan merendahkan diri, atau melakukan apa pun.
Tunjukkanlah
padaku kebahagiaan yang begitu cemerlang, yang bahkan aku iri padanya. Hanya
itu yang dapat kuharapkan—sebagai mantan sahabatnya.
Meskipun ada banyak hal yang terjadi di antara mereka… tapi dirinya
berpikir
Kirari akan baik-baik saja sekarang.
Mulai
sekarang, dia akan menemukan kebahagiaannya sendiri. Tak ada lagi yang bisa
kulakukan untuknya.
Jadi, aku
putuskan sudah waktunya mematikan mode penjahat.
“…Hah?”
Namun
anehnya… suara yang diharapkan itu tidak pernah
muncul.
Sebaliknya,
yang kudengar adalah suaraku sendiri.
Ini
belum berakhir.
Bagian
diriku yang terkubur dalam menggeram penuh kebencian.
Kamu masih harus
mengurus Mary dan Ryuzaki, bukan?
Masih
terlalu dini untuk mematikan saklarnya.
Kamu pikir kamu bisa melindungi
Shiho dengan cara setengah hati?
Aku
yang
berbeda mengambil alih kendali.
Dan pada
saat itu, aku akhirnya mengerti—mengapa Shiho tidak ingin aku beralih ke mode
ini.
Karena…
aku
berhenti menjadi diriku sendiri.
“…Brengsek.”
Aku
mencoba melawan. Namun versi diriku yang telah menjadi penjahat—dia tidak akan
menghilang.
Dan tentu
saja, yang terburuk selalu datang di saat yang paling buruk.
“…Mengapa?”
Mary-san
muncul dengan ekspresi kesal—mungkin setelah diam-diam menyaksikan seluruh
kejadian itu.
Dia tidak
dapat memilih waktu yang lebih buruk untuk muncul.
“Aku akan
sangat menghargainya jika kamu tidak mengacaukan semuanya… ini bukan
skenario yang seharusnya kujalani.”
Biasanya,
aku akan menanggapi dengan nada tenang.
Namun
saat ini, aku bukanlah diriku sendiri.
“Aku
melakukan persis seperti yang kamu katakan. Aku
mencoba menerima Kirari, kan? Tapi dialah yang menolaknya.”
Aku
mengucapkan kalimat itu hanya untuk memprovokasinya.
“Kalau
dia menempel padaku seperti itu, aku berencana untuk menerimanya, tahu? Tapi sayang
sekali—sepertinya orang sepertiku tidak cukup baik untuk Kirari.”
Dia
mungkin tidak menduga aku akan membalasnya.
“…Jadi
ini yang mereka maksud dengan 'air susu dibalas air tuba', ya?”
Untuk
sesaat, Mary-san tampak seperti kehilangan ketenangannya.
“—Kupikir kamu akan mengalah
seperti Azusa. Kamu memang seperti itu, kan? Seorang karakter latar belakang
yang
satu-satunya kelebihannya adalah 'baik hati', terlalu takut menyakiti
siapa pun.”
“Baiklah,
terima kasih. Senang mendengarmu berpikir begitu... haha. Kau tidak salah,
kebaikan adalah satu-satunya kelebihanku. Tapi jangan salah paham—aku bukan
orang suci. Aku menerima Azusa karena dia keluargaku.”
Aku mulai
mengatakan hal-hal yang tidak perlu. Meski tak ada gunanya
memberitahu Mary-san hal itu—aku tak bisa menahan diri untuk bersikap
bermusuhan.
Kami
tidak ada hubungan darah, tapi Azusa adalah seseorang yang sangat kusayangi. Jadi, kalau
dia terluka, aku akan memaafkannya. Dan kalau dia menderita, aku akan
menghiburnya. Karena dia orang terdekatku. Itu wajar saja, kan?
Tapi
Kirari berbeda. Dia bukan keluarga.
“Tak
ada alasan bagiku untuk ikut campur dalam kehidupannya. Dia bukan
keluarga. Dia bahkan bukan teman lagi. Jadi, jangan minta hal yang mustahil—'menerimanya tanpa syarat'? Itu terlalu
berlebihan.”
Aku tidak
cukup sombong untuk percaya bahwa aku bisa menyelamatkan semua orang. Dan
aku tidak cukup bodoh untuk menawarkan kebaikan seperti yang dilakukan Ryuzaki,
secara gegabah dan tanpa berpikir.
“Yah,
meskipun begitu—aku sudah mencobanya. Aku memberinya alasan dan syarat penerimaan.
Tapi Kirari menolak. Hanya itu saja kali ini.”
Sejujurnya,
aku tidak pernah berencana untuk menerimanya sejak awal. Aku hanya ingin
membuatnya marah. Tapi aku tidak sebodoh itu untuk mengakuinya.
Mary-san
mungkin sudah tahu apa yang sebenarnya kulakukan. Itulah sebabnya dia mencoba
menyalahkanku dan mengambil alih kendali—tapi aku berpura-pura bodoh sampai
akhir.
“Cih… dasar tak berguna.”
Untuk
sekali ini, Mary-san bahkan tidak berusaha menyembunyikan kekesalannya. Dan
melihat itu, aku hanya bisa tersenyum.
“Itulah
wajah yang ingin kulihat… kamu benar-benar berpikir semuanya akan
berjalan sesuai keinginanmu, ya?”
Tanpa
menyadarinya, aku telah mengatakan sesuatu yang memulai pertengkaran.
Ini bukan
aku.
Mana
mungkin aku mengatakan sesuatu seperti itu—!
Pergilah.
Lagipula, kamu cuma karakter latar... kamu nggak bisa apa-apa. Serahkan saja
padaku.
Diriku yang berbeda telah
mengambil alih sepenuhnya.
Aku tidak
bisa lagi mengendalikan diriku—
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
