Chapter 3 — Ketimbang itu, Ayo Cross-dressing!!
Pada hari
Sabtu berikutnya. Secara kebetulan,
semua anggota OSIS, Sumire, Yushou,
dan Aoi berkumpul di ruang OSIS,
menciptakan suasana yang penuh dengan rasa kebuntuan.
Dalam
suasana yang berat itu, Touya yang tidak terlibat dalam penyelidikan tetapi
datang sebagai orang yang bertanggung jawab atas OSIS, membuka
pembicaraan.
“Ahh~... jadi, pada akhirnya, tidak
ada yang bisa menemukan sosok yang mencurigakan, ya?”
“Benar.
Mungkin saja ini melibatkan orang luar, atau bahkan siswa dari divisi SMP, jadi... bisa dimengerti sih.”
Jika
mempertimbangkan keamanan sekolah ini, kemungkinan adanya orang luar yang
sepenuhnya tidak dikenal sangatlah
kecil. Namun, ada kemungkinan siswa divisi SMP
datang ke gedung sekolah SMA,
mengganti pakaian dengan seragam SMA,
dan berpura-pura menjadi siswa kelas dua. Hal ini sudah diketahui sebelum
penyelidikan dimulai, tapi jika mereka
memperluas jangkauan penyelidikan hingga divisi SMP,
maka jumlah orang yang menjadi kandidat akan terlalu banyak, sehingga mereka mengesampingkan kemungkinan
tersebut.
(Sebenarnya,
aku tidak berniat serius mencari pelaku sampai sejauh itu...)
Tentu
saja, ada keinginan untuk mengendalikan siswi misterius yang mungkin merupakan
bidak penting dalam rencana Nonoa...
bahkan bisa dibilang tangan
kanannya. Namun, bagi Masachika, yang
lebih penting adalah memastikan bahwa orang lain tidak dapat menangkap siswi
misterius tersebut. Faktanya, mengingat situasi di mana Yuki dan komite kedisiplinan tidak dapat menjangkaunya,
Masachika bahkan berpikir bahwa menghentikan penyelidikan di sini adalah
keputusan yang tepat.
(Dan itu
juga berlaku untuk Yuki)
Yuki
ingin menangkap siswi misterius itu karena secara situasional, dia berada dalam posisi yang
dicurigai sebagai dalang. Namun, saat penyelidikan berlanjut, Yuki menyadari bahwa tidak ada suara-suara yang mencurigai dirinya lebih
dari yang dia
bayangkan. Dengan demikian, tidak ada alasan bagi Yuki untuk terus berusaha
mengejar dalang tersebut.
(Jadi, satu-satunya yang
tersisa adalah komite kedisiplinan yang dipimpin oleh Sarashina-senpai... Hmm,
bagaimana cara menghentikan penyelidikan ini?)
Saat
Masachika merenungkan hal ini, Chisaki, orang
yang bersangkutan, mengubah suasana dengan suaranya.
“Ahh,
sudah cukup! Baiklah! Mari kita saling berbagi informasi! Siapa saja terduga yang
sudah kalian selidiki dan bagaimana
kesan kalian?”
Menanggapi
permintaan Chisaki, Masachika, Alisa, dan Ayano masing-masing berbagi siapa
yang mereka selidiki, termasuk kesan mereka.
Informasi
tersebut kemudian dirangkum di papan tulis, dan saat Chisaki memegang dagunya
dan merenung, Masachika memanggilnya.
“Um,
Sarashina-senpai.”
“Hm?
Ada apa?”
“Ya,
sejujurnya, aku rasa kemungkinan menemukan pelaku semakin kecil jika kita terus
melanjutkan penyelidikan ini. Lebih penting lagi, aku khawatir tentang efek
samping dari penyelidikan ini...”
“Efek
samping?”
“Ya.
Sebenarnya, hasil penyelidikan kami diketahui oleh banyak siswa, dan tampaknya
ada semacam pencarian pelaku di antara siswa...”
Ini bukan
kebohongan. Meskipun apa yang dilihat Masachika hanyalah pemandangan siswa
perempuan yang saling bercanda, “Kamu
pasti dalangnya, kan?” “Eh, tidak, bukan aku!”
Namun, pada level ini, tidak ada jaminan bahwa situasi tersebut tidak akan meningkat.
“Selama
mereka melakukannya dengan bercanda, itu masih bisa diterima. Namun, jika
penyelidikan ini berlarut-larut, bisa jadi bakalan
muncul kecurigaan di antara siswa, dan kami khawatir akan ada tuduhan tidak
berdasar atau perundungan terhadap siswa yang kami selidiki...”
“Itu...”
Sebenarnya,
ini bisa dianggap sebagai kesalahan semua orang yang terlibat dalam
penyelidikan ini. Ada orang-orang di dunia ini yang akan menyebarkan rumor
palsu dan memperlakukan seseorang seperti penjahat hanya karena polisi datang
untuk melakukan pemeriksaan. Jika mereka khawatir tentang keadaan para
siswi yang menjadi target penyelidikan, informasi bahwa mereka dicurigai harus
benar-benar dirahasiakan.
“Yah,
selama ada aku di sini, aku tidak akan
membiarkan terjadinya perundungan... tapi itu memang sedikit masalah...”
“Iya,
‘kan? Sebaiknya kita segera
mengatasi situasi ini sebelum semakin memburuk.”
“Uhm~, secara spesifiknya gimana?”
“Solusi
yang paling aman ialah
mengklaim bahwa sosok yang diduga pelaku telah ditangkap, tetapi karena bukti
tidak cukup, mereka dibebaskan... Dengan begitu,
kita tidak perlu menyebutkan siapa pelakunya, dan begitu pelakunya tertangkap,
minat semua orang akan berkurang. Jika kita memperpanjang waktu interogasi
mereka setelah ditangkap oleh komite kedisiplinan, waktu itu akan berfungsi
sebagai alibi bagi siswa lainnya.”
“Begitu
ya... Hmm~, tapi
mengklaim bahwa kita telah menangkap pelaku padahal
sebenarnya belum tertangkap...”
“Jika
setelah itu pelaku benar-benar tertangkap, kita bisa mengatakan bahwa 'informasi
tentang penangkapan pelaku adalah berita bohong untuk membuat pelaku yang
sebenarnya lengah.' Bukannya yang
paling penting adalah mencegah siswa yang tidak bersalah dari tuduhan yang
tidak berdasar?”
“Tapi....hmm~~~...
Hmm~~~~”
Bujukan
halus Masachika membuat Chisaki
mengerang bimbang sejenak
sebelum mengangguk.
“...
Baiklah. Aku akan menerapkan rencanamu, Kuze-kun.”
“Onee-sama!
Apa kita akan menyerah menangkap pelaku setelah hanya satu setengah hari
penyelidikan!?”
“Mau
bagaimana lagi... Kali ini, kita kalah karena kita tidak bisa
menangkap pelakunya pada percobaan pertama. Nah, mari kita umumkan ciri-ciri
pelaku dan memberikan peringatan.”
“...
Baik, aku mengerti.”
Saat
Sumire menerima dengan ragu, Masachika di dalam hati merayakan kemenangan
kecil.
(Baiklah,
dengan ini penyelidikan komite disiplin juga akan dihentikan. Pengkhianatan
Nonoa tidak akan terungkap.)
Untuk
berjaga-jaga, Masachika mengamati ekspresi Alisa, tetapi karena ia sudah
menjelaskan sebelumnya bahwa ia akan membawa situasi ini ke arah seperti ini,
sepertinya rekannya itu tidak menunjukkan tanda-tanda
ketidakpuasan... Namun, pada saat itu, Alisa mengangkat tangan.
“Permisi.
Mengenai hal itu, apa bisa kita mengumumkan
kalau pelakunya ditangkap oleh Kimishima-san?”
“Eh?”
“Alya-san?”
“!?”
Pernyataan
tak terduga yang menguntungkan musuh ini mengejutkan Yuki dan Ayano. Namun, Alisa
dengan ekspresi tegas, meminta
maaf kepada Masachika dengan tatapannya
sebelum melanjutkan.
“Berkat
Kimishima-san, kejadian kali ini tidak
menjadi masalah besar. Menurutku
kita harus memberikan penghargaan minimal dalam bentuk apapun untuk prestasi
tersebut.”
Dengan
sikap yang percaya diri, penegasan yang penuh kebanggaan itu membuat Chisaki
dan Sumire tertegun. Setelah beberapa saat, Chisaki mengalihkan pandangannya
dan berkata,
“Ah,
ya, benar. Bagaimana kalau kita setuju dengan itu?”
“Jika
Alya-san berkata demikian... maka itu baik-baik saja, kan? Ayano?”
“Ya.”
Saat
Ayano mengangguk, Touya membersihkan tenggorokannya dan membuka suara.
“Baiklah,
aku mengerti. Jika demikian, aku akan mengumumkan hal ini sebagai OSIS. Jadi,
secara spesifik—”
“Ah,
Ketua, bisa tunggu sebentar?”
Tapi kemudian
Yuki mengangkat tangannya. Tindakan tak terduga ini membuat Masachika sedikit
lebih waspada.
“Ada
apa, Suou?”
“Maaf
telah memotong pembicaraanmu,
Ketua. Aku juga tidak memiliki keberatan terhadap kebijakan itu. Namun sebelum
itu, ada satu tempat lagi yang ingin kuselidiki.” “
“Hm?
Di mana?”
Mendengar
pertanyaan Chisaki, Yuki tersenyum lebar dan melanjutkan.
“Ya,
setelah mendengar percakapan antara Masachika-kun
dan Alya-san, aku berpikir...”
“Eh—?”
Yuki
tersenyum penuh makna ketika melihat
tatapan bingung Alisa.
“Kamu
menyebutkan bahwa klub teater adalah kumpulan orang yang pandai berdandan...
jika begitu, masih ada satu
klub lain yang juga berpotensi, bukan?”
Ketika
Yuki mengucapkan itu, Chisaki langsung menyadari maksudnya dan menunjukkan
ekspresi cemas.
“Maksudmu
tentang klub kerajinan tangan?”
“Iya!
Betul sekali! Bukannya itu
layak untuk diselidiki?”
Yuki
menyampaikan pendapatnya, dan Sumire serta Alisa menunjukkan tanda-tanda
setuju, tetapi reaksi mereka tampak lambat.
Memang benar kalau keterampilan merias klub kerajinan tangan cukup
mengesankan. Namun, Masachika dan Alisa secara pribadi, serta Chisaki dan
Sumire sebagai anggota komite kedisiplinan, sudah mengetahui klub tersebut
dengan baik, sehingga mereka sulit membayangkan keterlibatan mereka dalam suatu
konspirasi aneh. Selain itu, mereka tidak ingin terlibat lebih jauh dengan
kelompok itu. Karena mereka terlalu menakutkan.
“Yah,
aku mengerti apa yang kamu katakan, Yuki-chan...”
Chisaki mengeluarkan
suara yang jelas-jelas tidak antusias, dan Yuki melanjutkan.
“Tunggu
sebentar. Masih ada bagian lain dari pembicaraan ini.”
“?”
“Tadi,
Masachika-kun
menunjukkan kemungkinan bahwa pelaku adalah orang dari divisi SMP... tapi, bukannya masih ada kemungkinan
lain juga?”
“...
Maksudmu mahasiswa?”
Chisaki memiringkan kepalanya, berpikir bahwa jika ada yang di
bawah, pasti ada yang di atas juga... tetapi Yuki menggelengkan kepalanya dengan senyum misterius.
“Tidak,
bukan itu... melainkan ada kemungkinan
bahwa pelakunya adalah pria yang berdandan sebagai wanita.”
Selama beberapa
detik, waktu seolah-olah
terhenti. Sembilan orang, kecuali Yuki dan Ayano, terdiam dengan mulut sedikit
terbuka. Yuki kemudian melihat Masachika, Touya, dan Yushou secara bergantian dan
berkata,
“Menurutku
ini layak untuk dicoba?
Sejauh mana seorang pria yang berdandan bisa mendekati wanita... Lagipula, klub
kerajinan tangan tidak hanya memiliki kostum tetapi juga wig.”
Pada saat
itu, Masachika akhirnya menyadari niat Yuki.
(Bocah ini... Bocah edan ini benar-benar...!?)
Penyelidikan
klub kerajinan tangan hanyalah alasan. Yuki berencana menggunakan kesempatan ini untuk
membuat ketiga pria itu berdandan seperti
perempuan.
(Dasar adik sableng———!!!! Dari awal kamu memang
sudah tidak berniat serius dalam penyelidikan ini, ya!?)
Dalam
hati, Masachika mengumpat melihat adiknya yang jelas-jelas terlihat senang.
Tiba-tiba, Maria bertepuk tangan.
“Uwehh!
Itu ide yang bagus! Kedengarannya menyenangkan!”
“Aku
tidak akan melakukannya, oke!?”
Tak ingin
kalah dari wajah Senpai-nya yang
berseri-seri, Masachika angkat bicara dengan antusias. Namun, para wanita lain
mengabaikannya seolah-olah mereka tidak mendengarnya.
“Begitu
ya... kurasa ada benarnya.”
“Tidak
ada satu milimeter pun.”
“Te-Tenanglah, Chisaki. Cepatlah sadar.”
Chisaki
menatap Touya dengan tatapan penuh kerinduan.
“Hei,
Yushou-san. Aku ingin melihat
Scarlet-chan lagi setelah sekian lama.”
“Nama
yang tidak kukenal mendadak
muncul.”
“Ne-Nee-san...”
“Hah?
Kiryuuin, kamu punya hobi berdandan seperti perempuan?
Menjijikkan.”
“Tunggu
sebentar, Wakil Ketua! Itu bukan hobiku!?”
Sumire
menatap Yushou dengan
senyuman sadis. Selain itu, Aoi melihat Yushou
dengan tatapan penuh penghinaan.
“Masachika-kun,
menurutku mengorbankan diri untuk
penelitian itu indah.”
“Ucapan
itu tidak pantas dari orang yang ingin mengorbankan orang lain.”
“...”
“Ayano,
tolong katakan sesuatu!?”
Yuki
memberi nasihat dengan senyuman lembut, sementara tatapan Ayano tampak berbinar penuh harapan.
“A-Alya!”
Terjepit
di antara wanita-wanita yang penuh keinginan, Masachika memanggil nama rekannya demi langkah penyelamatan
terakhir. Namun,
“Masachika-kun...
kurasa ada pentingnya untuk menyelidiki itu.”
“Kenapa
kamu juga sampai ikut-ikutan segala!?”
Alisa
berbicara dengan nada serius dengan mata yang sepenuhnya
tersenyum.
“Jangan
bercanda denganku! Aku tidak bisa tinggal di sini!
Aku mau pulang saja!”
Dikelilingi
oleh wanita-wanita yang dipenuhi keinginan yang menyimpang, Masachika tidak bisa menahan
diri dan berusaha melarikan
diri dari tempat itu──
◇◇◇◇
“Permisi
sebentar~~.”
“Ya...
tunggu, Sarashina Chisaki!? Ada apa!? Aku
benar-benar tidak melakukan apa-apa hari ini!?”
“Perkataanmu
jelas-jelas menunjukkan bahwa biasanya kamu melakukan sesuatu... tapi tidak
apa-apa. Hari ini, aku punya permintaan...”
“Permintaan...?”
Chisaki yang langsung disambut dengan tatapan
penuh kewaspadaan dari delapan orang lainnya begitu
dirinya memasuki ruang klub, membuatnya tersenyum pahit
sambil menunjukkan Masachika yang tampak putus asa dengan mata mati, terjepit
di antara Touya dan Yushou yang
masing-masing memegang lengannya dengan erat, seolah-olah berkata, “Kami tidak akan membiarkanmu kabur sendiri.”
“Aku
ingin memastikan sesuatu. Bisakah
kalian serius mendandani ketiga pria ini dengan pakaian wanita?”
Seketika itu juga, mata para anggota klub
kerajinan tangan yang sebelumnya penuh kewaspadaan bersinar cerah.
“Hoo...
berdandan seperti wanita, ya?”
“Sudah lama
sekali aku tidak melihatnya...”
“Ini
pelanggan yang menantang...!”
Dengan
aura mengerikan yang tidak menyenangkan, anggota
klub kerajinan tangan mulai berdiri dan segera mengelilingi ketiga pria itu,
lalu mulai menilai mereka.
“Hmm,
tubuh yang kekar dan wajah yang sangat maskulin, sepertinya tidak cocok untuk
berdandan... tapi justru itulah
yang membuatnya semakin menarik!”
“Bagaimana
kalau kita mencoba kostum yang imut dan menggemaskan?”
“Tidak,
mungkin kita bisa bermain aman dan memilih
seragam pelaut yang ketat...”
“Kiryuuin-san sepertinya paling cocok
untuk berdandan. Wajahnya sangat cantik.”
“Hmm,
sepertinya apapun yang dikenakan akan terlihat bagus, jadi aku malah bingung
memilihnya...”
“Tapi,
sepertinya itu akan
menjadi tantangan yang menarik!"
“Di
antara mereka bertiga, Kuze-kun punya kesempatan terbaik untuk memamerkan
keahlian kita...”
“Setelah
ia memakai riasan yang cukup banyak,
ia bisa terlihat sangat berbeda."
“Aku jadi
mulai semakin bersemangat~!”
Dalam sekejap mata, anggota
klub kerajinan tangan membawa ketiga pria itu ke tempat yang berbeda dan segera
mulai melepas seragam mereka.
Yuki dan
Ayano menangkap Masachika yang berusaha melarikan diri, dan
saat Touya dan Yuu mencoba meyakinkannya, Masachika menyerah dan membiarkan
dirinya didandani oleh
anggota klub kerajinan tangan.
Melihat
pemandangan itu, Alisa, yang sebelumnya memiliki ekspresi campuran antara rasa
bersalah, rasa ingin tahu, dan sedikit kesenangan, tiba-tiba mulai merasa gelisah.
“Eh,
hah? Apa... anggota wanita akan
memakaikan pakaiannya...?”
“Alya-san?”
Yuki
memanggil Alisa yang tampak bingung, tetapi Alisa tampaknya tidak
mendengarkan.
“Ah,
ahhh, jangan sentuh bagian itu dengan sok
akrab...”
“Padahal
kami hanya mengukur ukuran badan doang kok?”
【Aku bahkan belum pernah menyentuhnya...】
“Ya?
Ada apa?”
Alisa tanpa sadar berbicara dalam bahasa
Rusia, melupakan keberadaan kakak perempuannya.
Maria, kakaknya, juga menatap Masachika dengan mata yang semakin membesar,
menutupi mulutnya dengan kedua tangan dan wajahnya memerah seraya menggumamkan “W-Wawawah”
menunjukkan bahwa dia juga tidak bisa tenang.
“Ahh,
ahhh...”
(Oh, apa-appaan ini? Semacam jenis NTR baru?)
Melihat Masachika
yang tidak berdaya disentuh sembarangan oleh anggota klub perempuan, Alisa
tampak gelisah dan menggerakkan tangannya, sementara Yuki memandangnya dengan
campuran rasa terkejut dan penasaran.
Dia berpikir mungkin dia bisa melihat Alisa cemburu, tetapi sebelum Alisa
meledak, justru Chisaki lah yang tidak bisa menahan dirinya lagi.
“Tunggu sebentar!!!!!! Aku tidak pernah bilang kalau kalian boleh terlalu dekat dengan
Touya!!”
Dengan menerobos ke antara anggota klub kerajinan
tangan, dia mendorong kerumunan dengan kedua tangannya, menjauhkan Touya dari
mereka. Lalu, dengan tatapan tajam, dia menunjuk dengan tegas.
“Jangan
terlalu sering bersentuhan! Ganti pakaian di ruangan
terpisah! Ini, pasti!!”
““““...
Baiklah~””””
Dengan
perintah ketua komite kedisiplinan, para anggota klub kerajinan
tangan dengan enggan menjauh dari ketiga pria itu. Melihat itu, Alisa —dan
diam-diam Maria juga— menghela napas lega. Sementara itu, Yushou menatap Sumire seolah berharap
sesuatu.
“Kiryuuin-senpai,
bagaimana dengan bulu kakinya...?”
“Aku tak
keberatan kalau kamu mencukurnya sampai habis.”
Ia
sama sekali tidak peduli, bahkan seolah-olah mengendalikan nasib rambut
kakinya, dan dengan cepat mengalihkan pandangan. Dirinya tidak menangis, karena ia adalah
seorang pria. Meskipun dirinya akan
dipakaikan pakaian wanita, tapi air matanya
tidak akan mengalir.
◇◇◇◇
Setelah
sekitar satu jam berlalu, Alisa dan yang lainnya yang sempat keluar dipanggil
kembali oleh ketua klub kerajinan tangan ke dalam ruang
klub. Di depan ruangan penyimpanan kostum, ketua klub mulai mengumumkan dengan
mikrofon.
“Selamat
datang, para wanita! Terima kasih telah berkumpul, para wanita terhormat. Sekarang
kita akan mengadakan peragaan busana cross-dressing oleh tiga pria tampan!!”
“““““““Uwoaahhhhhh!!”””””””
Para
anggota klub kerajinan tangan yang duduk rapi dalam barisan bertepuk tangan dan
bersorak. Alisa dan yang lainnya di belakang juga ikut bertepuk tangan.
“Tanpa
berlama-lama, mari kita mulai sekarang!
Peserta nomor satu! Sang Pemimpin Mempesonai, Kenzaki Touya!!”
Pintu
yang menghubungkan ke ruangan sebelah terbuka, dan Touya pun muncul.
... Tanpa
riasan dan tanpa mengubah rambutnya, Touya
hanya mengenakan gaun China yang sangat ketat.
““““Uwah,
ketat banget!!””””
“Secara
fisik ketat!”
“Secara
visual juga ketat!”
“Enggak
apa-apa kok! Jangan dipaksain segala!”
“Ini sih jelas-jelas sudah melanggar hukum!”
Sorakan
tanpa ampun dari anggota klub kerajinan tangan
menghujaninya tanpa henti. Touya berjalan dengan percaya
diri, seolah-olah sudah menerima situasinya.
Kakinya
yang berbulu dan tebal mengintip dari celah dalam yang merupakan ciri khas gaun
Tiongkok. Lengannya yang sama tebalnya menjulur dari lengan baju tanpa lengan.
Bagian dadanya (otot dada) terlihat sangat ketat.
“Tu-Tu-Tunggu
dulu sebentar! Aku sudah menyuruh kalian untuk mendandaninya dengan serius, ‘kan!?”
Chisaki
tidak bisa menahan diri dan bersuara sambil tertawa.
Para anggota klub kerajinan tangan yang mungkin bertanggung jawab atas
penampilan Touya menoleh dan tersenyum pahit.
“Yah, menurutku rasanya justru lebih menarik untuk menikmati
bahan ini apa adanya...”
“Dan
jujur saja, tidak ada kostum wanita yang cocok dengan bentuk tubuh ini...”
“Apalagi
resleting di belakang tidak bisa ditutup, jadi kami menggunakan peniti untuk
mengamankannya.”
Usai mendengar
itu, Touya berbalik, dan memang resleting
di punggungnya sudah sepenuhnya menyerah, hanya terjaga dengan peniti. Otot trapezius
yang besar terlihat dari bahan satin yang mengkilap.
“Pfftttt!”
“Chisaki!?
Reaksi itu benar-benar menyakitku tau!”
“Tidak, maaf,
ini sih... hahaha....tunggu dulu, pfft...”
“...
Silakan lanjutkan.”
Meskipun
Touya melakukannya atas permintaan kekasihnya, dirinnya
merasa tidak dihargai ketika kekasihnya tertawa terbahak-bahak. Dia berjalan dengan kecewa menuju
jendela.
“Ah,
maaf Touya! Maksudku, ototmu terlihat bagus, kok?
Kurasa itu baik!”
Sambil
berlari mendekat dan berusaha memperbaiki suasana, Chisaki melanjutkan. Ketua
klub kerajinan tangan kemudian melanjutkan pengumumannya.
“Peserta
nomor dua! Keimutanan
adalah keadilan! Hal lain tidak diperlukan
sama sekali! Pejuang Gothic Lolita, Kuze Masachika-kun!!”
“!”
Alisa
terkejut dan langsung menegakkan punggungnya,
sementara pintu terbuka... Masachika muncul dengan wig rambut panjang berwarna
perak dan mengenakan gaun Gothic Lolita.
Gaun gothic lolita klasik yang
terdiri dari hitam dan putih dengan rumbaian
mewah. Kulitnya yang putih seperti porselen kontras dengan gaun hitamnya. Dengan bulu mata panjang yang
terkulai, hasil akhir ini membuat anggota klub kerajinan tangan tidak bisa
menahan diri──
“Kamu sudah
berusaha keras!”
“Tidak
buruk! Tidak buruk!”
“Jika
dilihat sekilas, itu masih
bisa diterima!”
“Jika
diterangi dengan baik, tampilannya masih terlihat!”
“Itu bukan pujian sama sekali!!”
Masachika
mengomentari penilaian yang terlalu jujur itu. Namun...
“(Uwaahh... ini lebih aneh dari yang
kubayangkan~)”
Yuki bergumam, “Waduh~...”
karena hasilnya memang sulit untuk dijelaskan.
Tidak ada
transformasi menjadi gadis cantik seperti di manga, di mana setelah berdandan
dirinya akan
bertanya, “Ini
aku...?” Mwewka
hanya merawat kulitnya, memburamkan garis wajah maskulin, mengoleskan lipstik,
dan menebalkan bulu mata, tetapi tetap saja tidak bisa sepenuhnya terlihat
seperti wanita. Dengan gaun Gothic Lolita yang penuh rumbaian, para
anggota klub kerajinan tangan sudah mencoba menyembunyikan
bentuk tubuhnya, tetapi sepertinya Masachika
memang tidak cocok untuk berdandan cross-dressing.
“Hmm~ padahal kulitnya terlihat bagus, jadi
aku berharap bisa lebih baik...”
“Kurasa
ia setara dengan komedian pria yang berdandan seperti wanita untuk stand-up komedi.”
“Serius,
tolong jangan buat aku merasa tidak nyaman... Padahal
aku sudah bekerja keras, jadi
siapa yang diuntungkan dari ini sih,
ampun deh...”
Masachika
menggerutu sambil berjalan ke jendela dengan pakaiannya yang tidak nyaman,
tapi......
“Hah,
ah, duhhh~~~~♡ Imut banget~~♡”
Suara
manis tiba-tiba muncul, seakan-akan orang tersebut
baru saja sadar kembali dan semua orang terkejut
menoleh. Tanpa mempedulikan
tatapan orang-orang di sekitarnya, Maria berlari menghampiri
Masachika seraya seolah-olah menyebarkan tanda hati
di mana-mana.
“Ihhh~,
kamu benar-benar imut deh~♡”
“Yah,
jika aku dipuji sampai
sejauh itu, aku
malah tidak yakin apa harus merasa senang atau tidak...”
Masachika
tersenyum pahit saat Maria mendekat dan berteriak kegirangan,
“Kyaa!” sambil menempelkan pipinya dan
berfoto selfie bersamanya. Foto Masachika
diambil dengan santainya.
““““Eh....””””
Orang-orang
di sekitarnya tampak
terkejut. Bahkan Alisa pun merasa agak terganggu dengan selera kakaknya. Di
tengah suasana itu, ketua klub kerajinan tangan membersihkan tenggorokannya dan
mengangkat suaranya.
“Baiklah,
sekarang tinggal satu orang lagi! Peserta
nomor tiga! Kandidat utama kita! Si gadis penyihir, Scarlet-chan!!”
Kemudian,
pintu pun terbuka... dan seorang gadis
penyihir yang sangat tinggi muncul dengan pose “kyarurun☆”.
Rambut kuncir ganda merahnya bergetar, dan dari rok yang mengembang terlihat
kaki putihnya yang cerah (baru dicukur) serta kaus kaki putih yang
murni. Secara proporsional, meskipun lebih terlihat biru daripada merah, ada gadis penyihir yang cukup cantik berdiri di sana, kecuali tingginya yang
berlebihan.
“Imutttttnyaaaaa!!”
“Wah,
tinggi banget!”
“Kakinya
cantik! Wah, rok ini tidak cukup panjang!”
“Bisa
banget! Ini pasti bisa!”
Reaksi
anggota klub kerajinan tangan jelas berbeda dari dua orang sebelumnya. Selain
itu, cara gadis itu beraksi juga berbeda.
“Wow,
ternyata masih bisa terlihat bagus.”
Sepupunya
yang tampaknya menjadi penyebab semua ini berdiri di belakang dengan tangan disilangkan.
“Uwahhhh...”
“(Ini sih... aku tidak tahu harus menanggapinya bagaimana...)”
“Menjijikkan.”
Berbeda
jauh dari sebelumnya, hasil akhir peserta
terakhir sudah pada level yang bisa dilihat dengan baik,
membuat Alisa dan Yuki merasa setengah terkesan dan setengah terkejut.
Sementara itu, Aoi berteriak,
“Scarlet-chan,
ayo lihat ke sini!"
“Boleh
aku ambil foto?”
“Wah,
imut banget!”
Suasana
mulai meriah seperti sesi pemotretan cosplay di antara anggota klub kerajinan
tangan. Sambil melihat ke arah itu, Alisa mendekati Masachika yang masih
terjebak dengan Maria di sudut ruangan.
“Masha, mau sampai
kapan kamu akan melakukan ini?”
“Ehh~~ Habisnya
dia imut, sih~.”
“Di
mana letak imutnya...?”
“Memangnya
kamu harus mengatakan itu di hadapanku secara jelas!?”
Setelah
Masachika memberikan kritik, Alisa melihat Masachika dari dekat dan
berkata,
“...
Ia tidak imut sama sekali, ‘kan?”
Tidak ada
perubahan dalam pendapatnya. Satu-satunya hal yang
bisa dia katakan ialah, “Kamu sudah berusaha keras, ya.”
“Ehh~ Alya-chan,
kamu kejam banget~.
Bahkan upayanya yang berusaha terlihat
imut itu masih dianggap imut, ‘kan~~?”
“Hanya
sedikit orang seperti Masha saja yang merasakan hal seperti
itu.”
“...
Tidak, aku juga memahaminya sih, tapi...
kalau begitu, kamu tidak
perlu repot-repot datang untuk melihatnya, ‘kan?”
Melihat
Masachika yang jarang sekali terlihat putus asa, Alisa tersenyum kecut, lalu memalingkan wajahnya dan bergumam pelan.
【Kamu jauh
lebih menawan tanpa riasan】
“Alya-chan, kamu bilang apaa tadi?”
“Bukan
apa-apa!”
Karena
kakaknya hampir saja mendengarnya,
Alisa berpaling dan berusaha mengalihkan perhatian. Tak lama kemudian,
Masachika yang semula serius tiba-tiba tersenyum jahat.
“Eh!
Apa!? Alya juga ingin mencoba berdandan cross-dressing!?”
Suara
keras Masachika membuat semua anggota klub kerajinan tangan yang sedang
terpesona oleh Scarlet-chan menoleh ke arah Alisa.
“Hiiii!”
Pemandangan yang sedikit mengerikan dari para
gadis yang menoleh serentak dengan
mata terbelalak membuat
Alisa secara refleks mundur. Dia menoleh cepat, memberi tatapan tajam pada rekannya yang sedang tersenyum
lebar, lalu melihat ke arah Chisaki, yang bisa menenangkan situasi ini.
“Berdandan
sebagai pria, ya...”
“Eh,
Touya... apa kamu, jangan-jangan,
tertarik melihatku
berdandan sebagai pria?”
“Hmm,
bohong rasanya jika aku bilang tidak... tidak,
sejujurnya aku tertarik.”
“Touya...
kalau gitu, bagaimana kalau kita mencobanya sebentar?”
... Wakil
ketua dan ketua komite kedisiplinan yang dapat diandalkan tampaknya sibuk
dengan kekasihnya. Dan jika Chisaki ikut bersemangat, klub kerajinan tangan ini
pasti tidak akan berhenti.
“Baiklah,
mari kita manfaatkan kesempatan ini, semua orang!”
“Kakak
beradik Kujou, Kiryuuin-san dan Suou-san... eh?
Kimishima-san dan Tsukamoto-san ada di mana?”
“Ah, itu dia, Kimishima-san! Lalu Tsukamoto-san?”
“Eh,
dia kabur? Sejak kapan dia
pergi!?”
Di sudut ruangan,
Ayano yang sebelumnya hanya menjadi penonton juga terjebak dalam situasi ini.
Kecuali Aoi yang cepat-cepat melarikan diri dengan seruan, “Aku tidak mau berdiri di samping
kelompok gadis cantik ini!”,
sekarang giliran para
wanita yang akan berdandan sebagai pria.
◇◇◇◇
“Fuooooaaa,
bentuk tubuhmu masih kelihatan luar
biasa seperti biasanya... kamu benar-benar perwujudan Dewi Gaya...”
“Hah?
Kujou-san... bukannya payudaramu sedikit membesar lagi?”
“Bukan
hanya payudaranya saja, tapi sepertinya bokongnya juga lebih besar..."
“Tapi
pinggangmu tetap sama... kenapa?”
“Karena
dia seorang Dewi.”
“Begitu
ya~”
Untuk
kesekian kalian, Alisa dikelilingi oleh anggota klub
kerajinan tangan yang terus-menerus mencocokkan kostum.
“Ah~~ yang ini
sepertinya sedikit pendek~~ Selanjutnya!”
“Pertama-tama, apa boleh aku meratakan payudaranya terlebih dahulu?”
“Tidak
ada alasan untuk itu, dasar bodoh.
Kita harus membiarkan payudara tetap utuh.”
“Hah?
Memangnya kamu tidak bisa membaca kanji, ya? Berdandan sebagai pria itu,
secara harfiah, berarti berpura-pura menjadi pria! Jika payudara dibiarkan seperti biasanya, itu sih cuma kelihatan wanita
yang mengenakan pakaian pria!”
“Jangan
bercanda! Pakaian pria itu, dengan payudara besar yang tidak seharusnya ada
pada pria, terlihat bagus dari bawah!”
“Jangan
menggonggong, dasar sampah. Dengan meratakan payudara
sepenuhnya, akan ada ruang untuk berimajinasi, 'Apa sebenarnya dia punya
payudara besar?' Orang-orang bodoh yang langsung terpesona oleh payudara besar.
Cobalah lihat idol gravure dan lakukan sendiri.”
“Komandan! Payudara
H-cup ini tidak bisa diratakan!”
“Apa!?
Jangan menyerah! Ayo coba tekan
terus!”
“Pe-Percuma
saja, aku tidak bisa menekannya! Payudaranya
akan mendorong balik—u-uwaaaaa!!”
“Bukannya
sudah kubilang! Dewi
payudara melarang kita meratakan payudara!”
(Orang-orang
ini menakutkan...)
Alisa
hanya bisa memandang jauh
percakapan aneh yang berlangsung di antara anggota klub kerajinan tangan,
sambil kehilangan pemahaman. Namun, dia menyadari bahwa gadis yang membawa
kostum baru adalah wajah yang dikenalnya, dan tanpa sadar dia berseru.
“Oh...”
“Ah,
halo~halo~. Apa
selanjutnya kamu bisa mencoba yang ini?”
“Ya,
silakan... Umm, jadi hari ini kamu
ada di sini ya.”
“Ah,
aku baru saja bekerja di belakang tadi.”
“Begitu ya... maaf ya, karena kami tiba-tiba muncul.”
“Tidak
masalah sama sekali. Oh, aku juga membantu Kuze-shi
dengan berdandan tadi. Meskipun riasannya
tidak membuatnya terlalu terlihat seperti gadis sih...”
“Ah,
jadi kamu yang melakukannya.”
“Maaf
jika terlalu berlebihan... eh, aku juga ingin sedikit merias Kujou-san nanti, boleh?”
“Ya,
tentu... kalau begitu, tolong ya. Umm...”
Ketika
Alisa terdiam, gadis itu berkedip beberapa kali sebelum berkata, “Ah,”
dengan senyum pahit.
“Setelah
dipikir-pikir, aku belum memperkenalkan diri dengan benar sampai sekarang.”
“I-Iya.”
“Aduduh, aku memang kadang teledor, maaf, maaf.”
Sambil
tertawa, gadis itu dengan nada sedikit bercanda meletakkan tangan kanannya di
dada dan berkata,
“Jadi,
izinkan aku memperkenalkan diriku
kembali... namaku Shikumagawa Miyabi, yang biasa dikenal sebagai Slit-paisen. Mohon kerja samanya ke depannya.”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya

