Downer-kei Gyaru Chapter 4 Bahasa Indonesia

 Chapter 4 — Minimarket Tengah Malam

 

Ahh... capek banget.

Setibanya di rumahku, Yukikawa langsung terjun ke atas sofa. Setelah begadang semalaman dan dipaksa untuk berangkat sekolah, lalu setelah itu menemani teman sekelasnya setelah jam pelajaran, wajar jika dia merasa lelah. 

“Ah, maaf. Aku jadi merebut sofa.

Tidak apa-apa kok. Jadi, kamu pergi ke mana hari ini?" 

Ke tempat permainan di depan stasiun... setelah itu cuma beli minuman, lalu ngobrol santai di luar. Sungguh tidak ada gunanya ikutan nongkrong dengan mereka...

Yukikawa mengatakan itu dengan tampak sedikit kesal. 

Kamu sudah cukup hebat, sungguh. Jika aku berada di situasi yang sama, aku pasti tidak akan pergi.

Yah... tapi rasanya pasti akan mereporkan kalau dibiarkan begitu saja. Lebih baik aku ikut pergi bersama mereka dan berbaikan daripada nanti dibilang ini-itu,.” 

Jangan-jangan... kamu minta maaf? Siapa itu, eh... Wata—

Watanabe, Watanabe Yuka. Iya, aku minta maaf. Gadis itu kelihatannya sangat bergantung padaku, sih.

H-Hee... 

Apa-apaa dengan ekspresi tidak percaya itu?” 

“Habisnya... Yukikawa tidak salah sama sekali, kan? 

Aku tidak mengerti kenapa Yukikawa harus meminta maaf. Dia juga punya alasan, dan pergi lebih awal dari acara bukanlah hal yang bisa dipermasalahkan. Apalagi jika itu adalah janji mendadak seperti kemarin... 

Aku juga tahu itu, tapi... yah, kalau dengan minta maaf bisa menghindari omongan panjang, lebih mudah untuk minta maaf untuk menyelesaikan masalah. 

... Kamu benar-benar dewasa ya, Yukikawa.

Aku hanya berhati dingin saja. Jika cuma meminta maaf saja sudah cukup, aku bisa melakukannya berkali-kali. 

Menurutku, cara berpikir seperti itu adalah tanda kedewasaan, tetapi rasanya tidak ada gunanya membahas lebih jauh. Setidaknya, dengan menjaga hubungan antar manusia, dia sudah jauh lebih dewasa dariku. 

Selain itu... aku juga merasa tidak enakan pada Haru.

Kamu sangat akrab dengan Momoki, ya?

Dia benar-benar hebat... lucu dan perhatian... rasanya seperti mengagumi.

Pengaguman, ya...

Sosok yang diidam-idamkan oleh pemimpin kasta teratas ya? Dia pasti orang yang sangat berbakat. 

Dia yang membentuk grup seperti itu juga, lho. Jika aku tidak diajak Haru, mungkin aku tidak akan terlibat sama sekali.

Jika memang begitu, mungkin Yukikawa akan terlihat lebih sulit didekati. Bisa dibilang, aku dan Yukikawa bisa berinteraksi juga berkat Momoki. 

“Nee, boleh aku pinjam shower? Aku ingin mandi. 

Ah... lah, tunggu sebentar. Jangan-jangan kamu mau menginap lagi hari ini?

Tidak boleh?

Tidak, eh... apa kamu punya baju ganti? Ini sudah dua hari berturut-turut. 

Tidak masalah. Sebelum ke sini, aku sempat mampir ke rumah.

Sambil mengatakan itu, Yukikawa menunjuk ranselnya yang terletak di kakinya. 

Eh, boleh aku sekalian mencuci kemeja juga? 

Kalau begitu, aku juga akan mencucinya, jadi tidak masalah jika disatukan.

Terima kasih. Jadi, boleh aku memasukkannya ke dalam mesin cuci?

Ah, tolong.”

Yukikawa yang membawa baju ganti menuju kamar mandi. Aku tidak pernah membayangkan kalau dia akan menginap selama dua hari berturut-turut... 

Aku sendiri merasa tidak keberatan dia datang ke sini, dan sebenarnya menginap juga tidak jadi masalah. Namun, satu-satunya kendala adalah kemungkinan salah paham yang aneh. 

“Nee, apa kamu punya sabun mandi cadangan? 

Wah!?

Kembalinya Yukikawa secara tiba-tiba membuatku terlonjak kaget. Bagaimanapun juga, penampilannya saat kembali sangat tidak senonoh

Yukikawa sekarang hanya membungkus tubuhnya dengan handuk. 

Dengan begitu banyak bagian tubuh yang terbuka, dua benda besar yang seharusnya tidak bisa ditopang dengan satu tangan hampir saja tumpah keluar

“Ah, maaf. Karena ini kebiasaanku saat di rumah. 

Ti-Tidak apa-apa! Jangan datang ke sini dengan penampilan seperti itu! Sabun mandinya ada di bawah wastafel!

Baiklah, terima kasih.

Yukikawa kembali lagi. 

Pembicaraan para cowok siang tadi terlintas di pikiranku, membuatku semakin sadar. Acara seperti ini terlalu menggoda untuk orang yang introvert. 

Aku meneguk air dingin ke dalam mulutku untuk menenangkan diri. Namun entah kenapa, pintu terbuka lagi dan Yukikawa muncul. 

“Nee, mau mandi bareng? 

“Bwah...!?

“Boong, tadi itu cuma bercanda.

Dengan senyuman nakal, Yukikawa akhirnya masuk ke kamar mandi. 

Yukikawa ternyata cukup suka menjahili orang. Kesannya sangat berbeda jauh ketika dirinya ada di sekolah. Jangan-jangan—karena dia sedang berduaan dengan aku? 

... Hanya bercanda.

Aku merasa konyol karena begitu bersemangat. Yukikawa pasti hanya ingin mengerjaiku. Mengharapkan sesuatu hanya akan membuatku sedih. Daripada salah paham dan merasa malu, lebih baik tidak mengharapkan apapun sama sekali. 

Namun, apa yang menyenangkan dari mengerjai orang yang tidak merasa apa-apa? 

Seharusnya, bukan tidak ada sama sekali... 

Ya, seharusnya bukan tidak ada sama sekali.

 

◇◆◇

 

Setelah beberapa waktu, aku juga selesai mandi dan kembali ke ruang tamu. 

Ahh... eh? Apa yang sedang kamu lakukan?

Eh, itu...

Saat aku memasuki ruangan, Yukikawa tampak gelisah. Dia terus melirik ke arahku sambil mengeluarkan dompetnya. 

“Begini, meskipun sudah larut malam, bagaimana kalau kita pergi ke minimarket untuk beli es krim?

...!

Jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Sekarang bukanlah waktu yang pas untuk keluar, tetapi mampir ke minimarket mungkin masih bisa diterima. 

Es krim, ya... ide bagus tuh. 

“Iya, kan?

Baiklah, ayo pergi. 

Begitu dong! 

Aku dan Yukikawa hanya membawa dompet dan ponsel sebelum melangkah keluar dari unit kamar apartemen

Ahh... sejuknya.

Begitu kami keluar, Yukikawa mengucapkan kata-kata itu.

Sekarang sudah memasuki pertengahan April. Suhu dingin musim dingin mulai mereda, hari-hari dengan suhu cukup untuk hanya mengenakan kaos semakin banyak. 

Setelah mandi, angin sejuk terasa menyenangkan. 

“Rasanya ada sesuatu yang mengasyikkan tentang pergi ke minimarket di tengah malam, ya?

Yukikawa tampak ceria sambil menendang-nendang batu kecil yang berada di dekat kakinya. Meskipun belum terlalu larut, tidak ada orang yang terlihat di depan apartemen kami yang memang jarang dilalui orang. 

Kami berdua berjalan menyusuri jalan itu. 

Rasanya seperti adegan dari anime. 

Rasanya, jalan yang sepi gini kayak di dunia manga atau anime, ya?

...Aku baru saja memikirkan hal yang sama.

Eh, kebetulan banget!

Melihat Yukikawa tersenyum senang, aku tidak bisa menahan rasa berdebar. Di mana pun dan kapan pun, wajahnya selalu terlihat cantik. Dengan kepribadian yang mudah didekati, tidak mengherankan aku tertarik. 

“Haa... Sudah kuduga kalau berdua, jalanan malam jadi kelihatan tidak menakutkan.

Menakutkan?

“Misalnya saja dari orang-orang yang mencurigakan, dan wanita yang berjalan sendirian cenderung menjadi target. Itulah sebabnya, aku biasanya tidak keluar." 

...Rasanya pasti cukup kesulitan, ya.

Yah... memang cukup merepotkan. Ketika tiba-tiba butuh sesuatu, atau seperti hari ini, mendaadk ingin makan es krim.

...

Sambil berkata begitu, Yukikawa tersenyum pahit. Wajahnya tampak mencerminkan semua kesulitan yang telah dialaminya hingga saat ini. Sebagai seorang pria, aku tidak bisa sepenuhnya memahami perasaan Yukikawa. 

Namun, ada sesuatu yang bisa kusampaikan padanya

...Kalau kamu sedang bersamaku, setidaknya aku bisa melindungimu.

“Hmmm? Coba katakan lebih keras lagi. Padahal itu kalimat yang keren.

Ah, tidak... maksudku...

Sebelum aku menyadarinya, aku telah mengatakan sesuatu yang keterlaluan. Kalimat seperti itu sama sekali bukan gayaku—. 

Tapi, seperti yang kamu katakan, berkat kamu yang mau menemaniku seperti ini, aku bisa pergi ke minimarket. Makanya.... aku cukup berterima kasih. 

Itu terdengar seperti kata-kata yang berlebihan. Namun, ekspresi ceria itu menunjukkan bahwa itu bukanlah hal yang berlebihan. 

Ngomong-ngomong... ini sama sekali tidak ada hubungannya, tapi kita bahkan belum makan malam, kan?

Eh!? Kamu belum makan? Kupikir kamu sudah selesai dengan Momoki dan yang lainnya...

Aku cuma makan American dog dari minimarket, tapi perutku masih kelaparan. 

Kalau gitu... mau sekalian beli makanan juga?

“Aku juga tidak keberatan kalau Nagai mau memasak.”

"Ah, kalau kamu memang tidak keberatan, aku bisa memasak makan malam untukmu...

Eh?

Yukikawa yang berjalan sedikit di depan menoleh. 

Biasanya aku memasak makananku sendiri... yah, hanya masakan yang sederhana saja sih.

“Padahal tadi itu hanya bercanda... tapi, sekarang aku sangat ingin mencobanya.

Ba-Baiklah.

Dia memancarkan tekanan yang kuat, jadi aku hanya bisa mengangguk. 

“Umm, kalau gitu, apa kamu tidak masalah sama yakisoba? Cuma itu yang ada di rumah...

Bagus, aku menyukainya. 

Kalau gitu, hari ini aku akan memasak yakisoba.

Aku sangat bersyukur karena itu masakan simpel dan sederhana.

 

◇◆◇

 

Setelah membeli es krim, kami berdua kembali ke kamar apartemen. Setelah sampai, aku langsung menuju dapur. 

...Entah kenapa, rasanya jadi nikin malu kalau dilihat. 

Jangan pedulikan aku.”

Walaupun begitu... yah, tidak apa-apa."

Yukikawa tampak menyeringai sambil memperhatikanku yang sedang memasak. Hanya dengan dilihat orang lain saja sudah membuatku merasa anehnya tegang. 

Aku mengeluarkan bahan-bahan untuk yakisoba dari dalam kulkas. Aku memotong kubis menjadi potongan besar dan mencairkan daging babi yang sudah dibekukan. 

Akhirnya, semua bahan itu dicampur dan ditumis, lalu ditambahkan saus, dan selesai. 

Sudah jadi, menu yakisoba sederhana.

Terima kasih... kamu sangat cekatan, ya.

Yah, karena aku melakukannya setiap hari sih... 

Kamu memasak setiap hari? Hebat!

Aku tidak bisa menahan rasa maluku karena dipuji berlebihan. Rasanya tidak buruk, tapi tetap saja memalukan. 

“Ayo memakannya sebelum dingin. Rasanya... biasa saja sepertinya. 

Aku pindah ke sofa dan segera memasukkan yakisoba ke dalam mulutku

Mm...! Enak!

Begitu mencoba satu suapan, Yukikawa melihatku dengan wajah senang. Jika dia bisa senang seperti ini, rasanya tidak sia-sia aku membuatnya. 

Serius, kamu hebat, Nagai. Aku sendiri selalu mengandalkan bento dari minimarket atau mie instan.

"Kalau aku tidak bisa berhemat, aku tidak bisa beli barang-barang otaku... jadi mau tak mau aku harus memasak sendiri.

Aku juga kadang ingin bersantai, tapi jika usaha itu bisa menjadi satu buku manga, aku bisa menahan diri. Gairah untuk aktivitas otaku bahkan bisa mengubah hidup seseorang

Siang ini saja aku juga membeli makanan dari kantin. Karena harganya murah sih.

“Aku paham banget. Aku bahkan membelinya untuk makan malam juga.

“Bukannya itu akan membuatmu dimarahi...?" 

Tidak juga, sih? Hanya dianggap anak yang banyak makan oleh ibu kantin. 

Itu agak menyebalkan.

Sambil berbincang seperti itu, kami berdua menghabiskan yakisoba. Karena Yukikawa menawarkan untuk mencuci piring, aku duduk sendiri di sofa. 

──── Entah kenapa, rasanya mirip kalau kami sedang tinggal bersama... 

Aku melikrik sekilas ke arah dapur dan melihat Yukikawa yang sedang mencuci piring. Waktunya sudah hampir tengah malam. 

Apa aku akan menghabiskan malam lagi dengan Yukikawa... 

Walaupun tidak ada yang spesial, tetapi aku merasa malu dengan diriku sendiri yang merasa begitu gelisah. 

Aku seharusnya memahami bahwa hubungan antara aku dan Yukikawa tidak akan menjadi spesial. Namun, aku tidak bisa menahan harapan aneh yang muncul.

Jika dia menganggap tempat ini sebagai ruang yang menenangkan, aku tidak ingin mengkhianati perasaannya dengan niat tersembunyi. 

Maaf sudah membuatmu menunggu... kamu kenapa? 

Saat aku memegangi kepalaku, tanpa kusadari Yukikawa sudah kembali. Aku langsung mengangkat wajahku dan menggelengkan kepala

“Eh! Ti-Tidak, bukan apa-apa. Terima kasih sudah mencuci piring.

Karena kamu yang membuatnya untukku, jadi sudah sewajarnya aku melakukannya. Jadi, hari ini mau bagaimana? 

Umm... mendingan langsung tidur saja, karena kemarin kita begadang. 

Aku berpura-pura baik-baik saja, padahal sebenarnya sudah cukup kelelahan. 

Setuju banget. Lagipula besok libur, ya... eh, besok ada apa? 

Ah, tidak ada apa-apa sih.

Kalau gitu, bagaimana kalau kita santai-santai seharian? Beli camilan atau semacamnya.

... Ide yang bagus tuh. 

“Iya, ‘kan?

Sambil berkata begitu, Yukikawa duduk di sampingku dan menggerak-gerakkan kakinya dengan lucu.  Hanya dengan bergetar ceria, tapi kenapa dia terlihat begitu menarik... 

Kalau mau tidur, kamu bisa menggunakan tempat tidur. Aku akan tidur di sofa. 

Eh? Tunggu, biar aku yang tidur di sofa. 

Karena kamu tamu, mana mungkin aku akan membiarkanmu tidur di sofa." 

Itu tidak ada hubungannya.

Membiarkan perempuan tidur di sofa, bahkan di rumah sendiri, terasa tidak pantas. 

Jika membicarakan soal tidur, memang tidak ada yang lebih baik daripada tempat tidur. Saat lelah, aku ingin dia tidur di tempat tidur. Namun, Yukikawa tampaknya tidak mau menyerah. 

Kalau begitu... tidak ada cara lain selain bermain suit.

Ah, aku juga berpikir yang sama. 

Kami saling mengangkat kepalan tangan

Jika terjadi pendapat berbeda, hal ini bisa menjadi solusi. 

Begitu tertulis dalam Kojiki. 

““Dimulai dari batu! Janken pon!!””

 

──── Aku menang... 

Seperti biasa, aku berbaring di tempat tidurku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan sambil menatap langit-langit. 

“Hei, sudah kuduga...

Karena sudah tidak tahan lagi, aku memanggil Yukikawa yang ada di ruang tamu. 

Sudahlah. Hasil suit itu sudah mutlak, kan?

“Iya sih... tapi tetap saja... 

Kalau kamu sampai bilang begitu, mau tidur bareng di tempat tidur?

Eh...!

Jangan dibawa serius begitu, aku hanya bercanda. Ayo, kita tidur. Aku sudah mengantuk dan hampir tidak bisa bertahan.

Baiklah. Selamat malam.

Ya, selamat malam.

Aku terlalu gelisah hingga rasa kantukku hampir hilang. Memang, bercandaan Yukikawa tidak baik untuk kesehatan jantung. 

“Haa...

Dengan sedikit rasa bersalah, aku menutup mata. Sepertinya, begadang kemarin cukup berpengaruh. Rasa ragu yang kumiliki sudah lenyap. 

Tanpa kusadari, aku dengan mudahnya kehilangan kesadaranku

 

◇◆◇

 

Mm...

Tanpa alasan khusus, aku terbangun di tempat tidur. Sepertinya tidurku sangat nyenyak karena tubuhku terasa segar. Sebagai awal hari libur, ini adalah cara terbaik untuk memulai pagi hari

Eh...?

Saat aku ingin bangkit dari tempat tidur, tanganku menyentuh sesuatu yang asing. Karena merasa firasat tidak enak, aku mengalihkan pandangan dan melihat Yukikawa terbaring di sampingku. 

“Hmmm...

──── Gawat

Mungkin itu terdengar klise, tetapi tanganku tanpa sengaja menyentuh dada Yukikawa. Sensasi yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya membuat kepalaku seakan mendidih dalam sekejap.

Aku buru-buru menarik tanganku, dan entah kenapa Yukikawa dengan enggan mengulurkan tangannya, lalu akhirnya mungkin menyerah, tangannya jatuh lemas ke tempat tidur.  

Kenapa Yukikawa ada di tempat tidurku...

Mengenai hal ini, sepertinya aku perlu segera mengonfirmasi begitu dia bangun.

 

◇◆◇

 

Maaf, kupikir kamu akan terkejut kalau aku ada di sampingmu, jadi aku masuk ke tempat tidur dan langsung tertidur. 

Setelah itu, Yukikawa yang terbangun masih terlihat sedikit bingung menjelaskan. 

Itu tidak baik untuk jantungku... sungguh.

“Sudah kubilang maaf banget. Aku akan cuci muka sebentar. Sekarang, aku pasti terlihat sangat jelek. 

Eh? Kamu tidak kelihatan jelek sama sekali, kok... 

Di dalam pikiranku, aku jelek.

Aku mengira dia terlihat sangat imut dengan mata setengah tidur, tetapi Yukikawa segera berlari ke kamar mandi seolah-olah melarikan diri. 

Karena tinggal aku yang tersisa, jadi aku merapikan tempat tidur dan memutuskan untuk menunggu di ruang tamu. 

Maaf membuatmu menunggu... bangun tidur itu memang bikin jelek banget.

Menurutku, kamu terlihat imut, kok.

... Itu pujian?

Apa kamu pikir aku punya kemampuan sosial sebanyak itu, padahal tidak punya teman sama sekali?

... Terima kasih.

Sambil tersenyum malu-malu, Yukikawa duduk di sampingku. Padahal dia pasti sudah terbiasa dipuji, tapi mengapa dia masih merasa malu sekarang? 

Ngomong-ngomong... mau sarapan? Kalau cuma makanan sederhana, aku bisa membuatkannya lagi. 

Eh, serius? Aku mau.

Baiklah. Roti panggang, sosis, dan telur mata sapi, oke?

Ya. Terima kasih. 

Baik, kalau gitu tunggu sebentar. 

Aku pindah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Aku memanggang roti di alat pemanggang roti sambil memasukkan telur dan sosis ke dalam wajan. 

Untuk telur mata sapi, aku menambahkan sedikit air, dan setelah kuning telur matang, itu sudah siap. Karena Yukikawa suka yang setengah matang, hanya itu saja yang aku perhatikan. 

Selesai!

Aku membawa piring yang berisi roti panggan, sosis, dan telur mata sapi ke arah Yukikawa. 

“Rasanya kelihatan mewah...

Untuk apa kamu memuji makanan yang seperti ini... ayo, kita makan. 

Kami duduk di sofa dan mulai menyantap sarapan. Karena aku biasanya hanya memakan ini setiap pagi, rasanya tidak terlalu istimewa bagiku. 

Namun, hal itu tampaknya berbeda untuk Yukikawa karena matanya tiba-tiba berbinar-binar

Enak banget...! Sudah lama banget aku tidak makan sarapan yang seperti ini...!

Itu berlebihan...

Seriusan! Aku tidak pernah membuat yang seperti ini di rumah.

Ngomong-ngomong, kemarin dia memang bilang kalau di rumah dirinya hanya memakan makanan dari minimarket atau mie instan. 

Aku merasa senang bisa makan sesuatu yang dibuat sendiri. 

... Kalau hanya segini saja sih aku bisa membuatnya kapan saja. 

Ah, kamu sendiri yang bilang begitu ya? Kalau gitu, aku pasti akan memintamu membuatnya saat aku menginap.”

Yukikawa menyolek-nyolek bahuku dengan jarinya. Merasa malu dengan hal itu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengalihkan pandangan. 

Sentuhan fisik ini sungguh berbahaya. Seolah-olah dia melakukannya untuk membuatku lebih sadar akan keberadaannya. 

... Kamu bilang kalau hari ini mau bersantai-santai saja, tapi... lebih tepatnya mau ngapain?

“Apa maksudmu?

Yah... kalau dipikir-pikir lagi, bersantai itu sebenarnya apa ya?" 

... Benar juga?

Yukikawa memiringkan kepalanya. 

Untuk sementara, aku mau membaca manga.

Kalau begitu, mau buatkan kopi? Meski tetap instan seperti biasa.

Aku merapikan piring yang sudah selesai dimakan dan mencuci peralatan di dapur. Setelah itu, aku menyeduh kopi dan memberikannya kepada Yukikawa. 

Terima kasih. Rumah ini benar-benar nyaman. Serius, rasanya tidak ada alasan untuk pulang. 

Tidak, tidak... kurasa kamu juga akan merasa bosa kalau terlalu lama di sini. 

“Aku tidak pernah merasa bosan kalau mengobrol dengan Nagai. 

Sambil berkata begitu, Yukikawa menyeruput kopinya. Dia terus-menerus mengucapkan hal-hal yang membuat orang terkejut. 

Aku berharap dia sedikit mempedulikan apa yang kurasakan

... Nee, Nagai, kenapa kamu tinggal sendiri? 

“Ke-Kenapa kamu tiba-tiba bertanya begitu? 

Ngomong-ngomong, aku jadi ingat tidak pernah menanyakan itu. Kalau tidak mau mengatakannya juga tidak apa-apa sih.

Setelah dipikir-pikir, memang sepertinya aku tidak pernah bilang. Sebenarnya tidak ada alasan yang terlalu dalam. 

... Orang tuaku juga tipe pekerja keras. Dari dulu, aku juga termasuk anak rumahan.

Ayah dan ibuku yang sama-sama bekerja, sama seperti orang tua Yukikawa sekarang, jadi aku sering kali sendirian. 

Itu bukan karena aku merasa kesepian atau apa. Aku punya manga dan anime yang bisa membuatku terpesona. 

Pada akhirnya, kupikir kalau di rumah juga sendirian, tinggal sendiri juga tidak ada bedanya, kan? Sewaktu aku mencoba mengusulkannya kepada orang tuaku, mereka bilang, 'Lebih baik kamu tinggal dekat kantor, jadi kalau ada apa-apa kami bisa cepat ke sana.' 

Eh, jadi kamu mulai tinggal sendirian karena itu? 

“Ya begitulah kira-kira.

“Lumayan menakjubkan juga ya... keluargamu.

Yah, mungkin itu benar. Tapi, aku tidak berniat memberitahu Yukikawa, ada satu alasan negatif. Meskipun mereka tidak mengucapkannya secara langsung, orang tuaku berusaha keras untuk menyeimbangkan pekerjaan mereka dengan mengurusku. 

Jadi, situasi di mana aku tinggal sendiri sekarang pasti sangat membantu bagi mereka. Jika dilihat dari sini, mungkin orang tuaku tidak bisa dibilang baik, tetapi karena aku sudah diberi kehidupan yang baik seperti ini, aku tidak berniat meminta lebih. 

Tapi, sama seperti diriku, manga dan anime mengisi waktu kesepianmu, ya.” 

Yukikawa juga?

“Aku pernah bilang bahwa sampai SMP aku sekolah di luar negeri, kan? Sebenarnya aku juga tidak terlalu aktif, tapi hanya karena anak blasteran, aku dianggap orang asing dan tidak diterima dalam kelompok... Begitulah, saat aku terisolasi, aku bertemu dengan anime dan manga.

... Begitu rupanya.

Kurasa aku mulai memahami mengapa aku dan Yukikawa bisa menjadi sangat akrab. Karena kami berdua memiliki latar belakang yang mirip. 

Tapi, di luar negeri, sulit untuk mengikuti karya-karya yang sedang tren, jadi aku jadi tidak tahu tentang yang terbaru.

Begitu ya.

Jadi, aku akan membaca semua yang menarik perhatianku.

Yukikawa terlihat gelisah saat melihat rak buku. 

Penampilannya yang begitu menggemaskan membuatku tidak bisa menahan tawa. 

Hahaha, iya, silakan baca sebanyak yang kamu mau. 

... Sepertinya ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa sampai segitunya.

Tidak, itu pasti bohong...

Karena sepertinya kamu selalu merasa ragu.

... Apa iya?

Memang, ada semacam jarak antara aku dan gadis-gadis populer. Jika itu disebut ragu, mungkin itu benar. 

Yah... jika kamu bisa bersikap seperti itu, aku akan merasa lebih nyaman.

Melihat ekspresi Yukikawa yang tenang, aku memahami bahwa ruangan ini memberinya ketenangan pikiran. Jika dia bisa merasa nyaman di ruangan ini, aku tidak keberatan jika dia tinggal di sini selama yang dia mau

Jadi, hari ini enaknya mau baca apa ya... boleh aku minta rekomendasi lagi?" 

Kamu mau yang terbaru, kan? Kalau begitu, coba baca 'Balas Budi Iblis', ceritanya cukup menarik.

'Balas Budi Iblis' adalah cerita yang berlatar belakang dunia seperti dongeng, di mana iblis terkuat memberikan kekuatannya untuk gadis desa yang pernah menolongnya... 

Adegan di mana dia menghancurkan markas rentenir untuk menyelamatkan gadis yang menderita karena utang orang tuanya, sangat mengesankan baik dari segi gambar maupun dialog. 

“Hee~, kedengarannya menarik... mungkin aku akan mulai dari situ.

Ah, aku akan ambilkan." 

Saat aku berbalik menuju rak buku, tiba-tiba aku teringat sesuatu dan menoleh ke arah Yukikawa. 

... Kalau memang tidak berniat keluar seharian, bagaimana kalau kita pergi ke minimarket sekarang untuk membeli beberapa kebutuhan?

Ah! Benar juga! Kita harus beli camilan!

Kami berdua menuju minimarket terdekat seperti malam sebelumnya. Dengan begitu, hari libur yang sempurna pun dimulai────.

 

◇◆◇

 

Ya... ini sangat sempurna.

Melihat camilan yang tersebar di atas meja, Yukikawa mengangguk puas. Keripik kentang, cokelat, kue kering. Berbagai jenis camilan dibeli secara sembarangan. Dengan ini, seharian ini pasti tidak akan kekurangan makanan. ... Bahkan, mungkin bisa cukup untuk beberapa hari. 

Kalau begitu, mari kita santai-santai.

Baiklah.

Aku duduk kembali di atas sofa dan memutuskan untuk membaca manga baru yang baru saja kubeli. Sementara itu, Yukikawa juga bersantai di sofa dan mulai membaca 'Balas Budi Iblis'. 

Selama beberapa saat, hanya suara halaman yang dibalik yang terdengar di kamarku. 

... Fiuh.

Setelah menyelesaikan buku pertama, aku menghela napas kecil. 

──── Sepertinya aku bisa lebih fokus daripada yang kupikirkan. 

Sejujurnya, aku merasa cemas. Bagaimana jika keberadaan Yukikawa membuatku tidak bisa berkonsentrasi pada karya manga ini? 

Karena aku belum pernah bersantai dengan teman sebelumnya, ada kemungkinan aku tidak bisa menikmati ini. Namun, kekhawatiran itu tampaknya tidak akan terjadi. 

Yukikawa sedang membaca volume kedua dari manga 'Balas Budi Iblis'. Dia terus-menerus mengubah ekspresi wajahnya dan terlihat sangat menikmati. 

Aku tidak ingin mengganggu, jadi aku memutuskan untuk membaca edisi baru berikutnya. 

Nagai, tolong ambilkan jus di sana.

Jus?

Saat melihat ke meja, ada jus yang diminum Yukikawa. Aku memberikan jus itu kepadanya seperti yang diminta. 

Terima kasih.

Ya.

Setelah percakapan itu, aku kembali ke bacaan. 

Beberapa saat kemudian... 

Nagai, bisa tolong ambilkan tisu?

Ya, ya...

Aku mengambil kotak tisu yang ada di atas meja dan memberikannya kepada Yukikawa. 

Terima kasih. Sekalian ambilkan keripik juga.

Ah...

Dan cokelat juga.

Baiklah... lah, seharusnya kamu bisa mengambilnya sendiri. 

Saat aku berusaha memberikan cokelat yang diminta, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku sedang dimanfaatkan. 

Kemudian Yukikawa menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal dan mengangkat bahunya. 

“Ceh, kupikir kamu akan melakukan semuanya.

Kalau kamu terus bersantai seperti ini, lama-lama kamu akan jadi kungkang.

Itu tidak masalah, kungkang juga lucu. 

"Kamu menerima itu...? 

Ya, itu biasa saja, kan?

Yah... memang sih lucu. 

Tapi, rasanya terlalu berbeda, dan jika Yukikawa berubah menjadi hewan berbulu, aku tidak tahu harus melihatnya dengan cara apa... 

Uhmm... kalau begitu, mari kita lakukan ini.”

Yukikawa tampak berpikir sejenak, lalu menepuk tangan. 

Ketika kita berdua sedang di rumah ini, manjakan aku ya. Sebagai gantinya, aku akan memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih. 

Ucapan terima kasih?

“Umm... hak untuk memijat kakiku? 

Itu sih cuma menguntungkan kamu saja...? 

Eh? Kamu diperbolehkan menyentuh kakiku, loh?

...

──── Itu mungkin memang bisa dianggap sebagai hadiah. 

Ja-Jangan diam saja... tadi itu hanya bercanda.

Sudah kuduga begitu.

Aku sebenarnya tidak merasa kecewa. Aku tidak memiliki minat seperti itu. 

Tidak ada──── pikirku

Kalau begitu, pijatnya nanti saja, kita melakukan sesuatu yabng normal...

Eh?

Aku merasa seolah mendengar kata-kata yang tidak bisa diabaikan, tapi aku memutuskan untuk mengabaikannya untuk saat ini. 

Ada yang ingin kamu minta? Apapun itu, kamu tinggal bilang saja.

Sambil berkata demikian, Yukikawa menatap mataku. 

Ucapan apapun’ membuatku sangat gelisah. 

Untuk kehormatan diriku, aku ingin mengatakan bahwa Yukikawa tidak mengatakannya untuk memenuhi keinginan pria. 

Namun, naluriku tidak bisa ditahan. Aku juga tidak ingin bereaksi seperti ini. 

… Kenapa wajahmu jadi memerah begitu? Dasar mesum. 

Ah, tidak, itu tidak benar!

… Pfft, ahaha! Kamu terlalu putus assa!

Yukikawa tertawa terbahak-bahak. 

Sial, aku benar-benar dipermainkan. 

Meskipun kami saling cocok sebagai otaku, dia tetap seperti gadis-gadis pada umumnya. 

“Kalau yang begituan sih tidak boleh, ya. Kurasa kamu sudah mengerti.

Tentu sajalah... Hah, ini buruk untuk jantungku. 

Maaf, maaf. Reaksimu terlalu lucu, jadi aku sedikit menggoda.

Karena Yukikawa menatapku dengan senyuman, membuatku merasa aneh dan tidak nyaman. 

Jadi, ada sesuatu yang ingin kamu minta?

… Aku tidak bisa memikirkan apapun sekarang.

Yah, kurasa itu wajar saja.

Meskipun aku menghindari semua candaan jorok, aku tidak tahu batasan apa yang diperbolehkan. Ketika seperti ini, aku cenderung lupa bahwa hubungan kami masih sangat dangkal. 

Sampai kamu mendapatkan ide... apa boleh kita menundanya?

Tidak masalah.

Kalau begitu, aku akan membuat banyak 'utang' sampai saat itu...

… Sepertinya aku akan berhenti memanjakan dirimu.

Sambil tertawa dengan lelucon seperti itu, hari libur pertamaku dengan Yukikawa berlalu dengan tenang.

 


 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama