Chapter 4 — Minimarket Tengah Malam
“Ahh...
capek banget.”
Setibanya
di rumahku, Yukikawa langsung terjun ke atas sofa. Setelah begadang semalaman dan dipaksa untuk berangkat
sekolah, lalu setelah itu menemani
teman sekelasnya setelah
jam pelajaran, wajar jika dia merasa lelah.
“Ah,
maaf. Aku jadi
merebut sofa.”
“Tidak
apa-apa kok. Jadi, kamu pergi ke mana hari
ini?"
“Ke
tempat permainan di depan stasiun... setelah itu cuma beli minuman, lalu
ngobrol santai di luar. Sungguh tidak ada gunanya
ikutan nongkrong dengan mereka...”
Yukikawa
mengatakan itu dengan tampak sedikit kesal.
“Kamu
sudah cukup hebat, sungguh. Jika aku
berada di situasi yang sama,
aku pasti tidak akan pergi.”
“Yah...
tapi rasanya pasti akan mereporkan kalau
dibiarkan begitu saja. Lebih baik
aku ikut pergi bersama mereka dan berbaikan daripada
nanti dibilang ini-itu,.”
“Jangan-jangan...
kamu minta maaf? Siapa itu, eh... Wata—”
“Watanabe,
Watanabe Yuka. Iya, aku minta maaf. Gadis itu kelihatannya sangat bergantung
padaku, sih.”
“H-Hee...”
“Apa-apaa dengan ekspresi tidak percaya itu?”
“Habisnya...
Yukikawa tidak salah sama sekali, ‘kan?”
Aku tidak
mengerti kenapa Yukikawa harus meminta
maaf. Dia juga
punya alasan, dan pergi lebih awal dari acara bukanlah hal yang bisa
dipermasalahkan. Apalagi jika itu adalah janji mendadak seperti kemarin...
“Aku
juga tahu itu, tapi... yah, kalau dengan minta maaf bisa menghindari omongan
panjang, lebih mudah untuk minta maaf untuk menyelesaikan
masalah.”
“...
Kamu benar-benar dewasa ya, Yukikawa.”
“Aku
hanya berhati dingin saja. Jika cuma meminta
maaf saja sudah cukup, aku bisa melakukannya berkali-kali.”
Menurutku,
cara berpikir seperti itu adalah tanda kedewasaan, tetapi rasanya tidak ada
gunanya membahas lebih jauh. Setidaknya,
dengan menjaga hubungan antar manusia, dia sudah jauh lebih dewasa dariku.
“Selain
itu... aku juga merasa tidak enakan
pada Haru.”
“Kamu
sangat akrab dengan Momoki, ya?”
“Dia
benar-benar hebat... lucu dan perhatian... rasanya seperti mengagumi.”
“Pengaguman,
ya...”
Sosok
yang diidam-idamkan oleh pemimpin kasta teratas
ya?
Dia pasti orang yang sangat berbakat.
“Dia
yang membentuk grup seperti itu juga, lho. Jika aku tidak diajak Haru, mungkin
aku tidak akan terlibat sama sekali.”
Jika memang begitu, mungkin Yukikawa akan
terlihat lebih sulit didekati. Bisa dibilang, aku dan Yukikawa bisa
berinteraksi juga berkat Momoki.
“Nee,
boleh aku pinjam shower? Aku ingin mandi.”
“Ah...
lah, tunggu sebentar. Jangan-jangan
kamu mau menginap lagi hari ini?”
“Tidak
boleh?”
“Tidak,
eh... apa kamu punya baju ganti? Ini sudah dua hari berturut-turut.”
“Tidak
masalah. Sebelum ke sini, aku sempat mampir ke rumah.”
Sambil
mengatakan itu, Yukikawa menunjuk ranselnya yang terletak di kakinya.
“Eh,
boleh aku sekalian mencuci
kemeja juga?”
“Kalau
begitu, aku juga akan mencucinya, jadi tidak masalah jika disatukan.”
“Terima
kasih. Jadi, boleh aku memasukkannya ke dalam mesin cuci?”
“Ah,
tolong.”
Yukikawa
yang membawa baju ganti menuju kamar mandi. Aku tidak
pernah membayangkan kalau dia akan menginap selama dua hari berturut-turut...
Aku sendiri
merasa tidak keberatan dia datang ke sini, dan
sebenarnya menginap juga tidak jadi masalah. Namun, satu-satunya kendala
adalah kemungkinan salah paham yang aneh.
“Nee,
apa kamu punya sabun mandi cadangan?”
“Wah!?”
Kembalinya
Yukikawa secara tiba-tiba membuatku terlonjak kaget. Bagaimanapun juga, penampilannya
saat kembali sangat tidak senonoh.
Yukikawa
sekarang hanya membungkus tubuhnya dengan handuk.
Dengan begitu banyak bagian tubuh yang terbuka,
dua benda besar yang seharusnya tidak bisa ditopang dengan satu tangan hampir
saja tumpah keluar.
“Ah,
maaf. Karena ini kebiasaanku saat di rumah.”
“Ti-Tidak
apa-apa! Jangan datang ke sini dengan penampilan seperti itu! Sabun mandinya
ada di bawah wastafel!”
“Baiklah, terima kasih.”
Yukikawa
kembali lagi.
Pembicaraan
para cowok siang tadi terlintas di pikiranku, membuatku semakin sadar. Acara seperti ini terlalu
menggoda untuk orang yang introvert.
Aku
meneguk air dingin ke dalam mulutku untuk menenangkan diri. Namun entah kenapa, pintu terbuka
lagi dan Yukikawa muncul.
“Nee,
mau mandi bareng?”
“Bwah...!?”
“Boong,
tadi itu cuma
bercanda.”
Dengan
senyuman nakal, Yukikawa akhirnya masuk ke kamar mandi.
Yukikawa
ternyata cukup suka menjahili
orang. Kesannya sangat berbeda jauh ketika dirinya ada di sekolah. Jangan-jangan—karena dia sedang berduaan dengan aku?
“...
Hanya bercanda.”
Aku merasa
konyol karena begitu bersemangat. Yukikawa pasti hanya ingin
mengerjaiku. Mengharapkan sesuatu hanya akan membuatku sedih. Daripada salah paham dan merasa
malu, lebih baik tidak mengharapkan apapun
sama sekali.
Namun,
apa yang menyenangkan dari mengerjai orang yang tidak merasa apa-apa?
—Seharusnya, bukan tidak ada sama sekali...
Ya,
seharusnya bukan tidak ada sama sekali.
◇◆◇
Setelah
beberapa waktu, aku juga selesai mandi dan kembali ke ruang tamu.
“Ahh...
eh? Apa yang sedang kamu
lakukan?”
“Eh,
itu...”
Saat aku memasuki ruangan, Yukikawa tampak
gelisah. Dia terus
melirik ke arahku sambil mengeluarkan dompetnya.
“Begini,
meskipun sudah larut malam, bagaimana kalau kita pergi ke minimarket untuk beli es krim?”
“...!”
Jam
menunjukkan hampir pukul sebelas malam. Sekarang
bukanlah waktu yang pas untuk keluar, tetapi mampir ke minimarket mungkin
masih bisa diterima.
“Es
krim, ya... ide bagus tuh.”
“Iya,
‘kan?”
“Baiklah,
ayo pergi.”
“Begitu
dong!”
Aku dan
Yukikawa hanya membawa dompet dan ponsel sebelum melangkah keluar dari unit kamar apartemen.
“Ahh...
sejuknya.”
Begitu kami keluar, Yukikawa mengucapkan
kata-kata itu.
Sekarang
sudah memasuki pertengahan April. Suhu dingin musim dingin
mulai mereda, hari-hari dengan suhu cukup untuk hanya mengenakan kaos semakin
banyak.
Setelah
mandi, angin sejuk terasa menyenangkan.
“Rasanya ada
sesuatu yang mengasyikkan tentang pergi ke minimarket
di tengah malam, ya?”
Yukikawa
tampak ceria sambil menendang-nendang
batu kecil yang berada
di dekat kakinya. Meskipun belum terlalu larut,
tidak ada orang yang terlihat di depan apartemen kami yang memang jarang
dilalui orang.
Kami berdua berjalan menyusuri jalan itu.
Rasanya seperti
adegan dari anime.
“Rasanya,
jalan yang sepi gini kayak di dunia manga atau anime, ya?”
“...Aku
baru saja memikirkan hal yang sama.”
“Eh,
kebetulan banget!”
Melihat
Yukikawa tersenyum senang, aku tidak bisa menahan rasa berdebar. Di mana pun dan kapan pun,
wajahnya selalu terlihat cantik. Dengan kepribadian yang mudah
didekati, tidak mengherankan
aku tertarik.
“Haa...
Sudah kuduga kalau berdua, jalanan malam jadi kelihatan tidak menakutkan.”
“Menakutkan?”
“Misalnya
saja dari orang-orang yang mencurigakan, dan wanita yang berjalan
sendirian cenderung menjadi target.
Itulah sebabnya, aku biasanya tidak
keluar."
“...Rasanya pasti cukup kesulitan, ya.”
“Yah...
memang cukup merepotkan. Ketika
tiba-tiba butuh sesuatu, atau seperti hari ini, mendaadk
ingin makan es krim.”
“...”
Sambil
berkata begitu, Yukikawa tersenyum pahit. Wajahnya tampak mencerminkan semua
kesulitan yang telah dialaminya hingga saat ini. Sebagai seorang pria, aku tidak
bisa sepenuhnya memahami perasaan Yukikawa.
Namun,
ada sesuatu yang bisa kusampaikan padanya.
“...Kalau
kamu sedang bersamaku,
setidaknya aku bisa melindungimu.”
“Hmmm?
Coba katakan lebih keras lagi. Padahal itu kalimat yang keren.”
“Ah,
tidak... maksudku...”
Sebelum
aku menyadarinya, aku telah mengatakan sesuatu yang keterlaluan. Kalimat seperti itu sama sekali
bukan gayaku—.
“Tapi,
seperti yang kamu katakan, berkat kamu yang mau menemaniku seperti ini, aku bisa pergi ke minimarket. Makanya....
aku cukup berterima kasih.”
Itu
terdengar seperti kata-kata yang berlebihan. Namun, ekspresi ceria itu
menunjukkan bahwa itu bukanlah hal yang berlebihan.
“Ngomong-ngomong...
ini sama sekali tidak ada hubungannya, tapi kita
bahkan belum makan malam, ‘kan?”
“Eh!?
Kamu belum makan? Kupikir
kamu sudah selesai dengan Momoki dan yang lainnya...”
“Aku cuma makan American dog dari minimarket, tapi perutku masih kelaparan.”
“Kalau
gitu... mau sekalian beli makanan juga?”
“Aku juga
tidak keberatan kalau Nagai mau memasak.”
"Ah,
kalau kamu memang tidak keberatan, aku
bisa memasak makan malam untukmu...”
“Eh?”
Yukikawa
yang berjalan sedikit di depan menoleh.
“Biasanya
aku memasak makananku sendiri... yah, hanya masakan
yang sederhana saja sih.”
“Padahal
tadi itu hanya bercanda... tapi, sekarang aku sangat ingin mencobanya.”
“Ba-Baiklah.”
Dia memancarkan tekanan yang kuat, jadi aku hanya bisa mengangguk.
“Umm,
kalau gitu, apa
kamu tidak masalah sama yakisoba? Cuma itu yang ada di rumah...”
“Bagus,
aku menyukainya.”
“Kalau
gitu, hari ini aku akan memasak yakisoba.”
Aku sangat
bersyukur karena itu masakan simpel dan sederhana.
◇◆◇
Setelah
membeli es krim, kami berdua kembali
ke kamar apartemen. Setelah sampai, aku langsung
menuju dapur.
“...Entah kenapa, rasanya jadi nikin malu kalau dilihat.”
“Jangan
pedulikan aku.”
“Walaupun
begitu... yah, tidak apa-apa."
Yukikawa
tampak menyeringai sambil memperhatikanku yang
sedang memasak. Hanya
dengan dilihat orang lain saja sudah membuatku merasa anehnya tegang.
Aku
mengeluarkan bahan-bahan untuk yakisoba dari dalam
kulkas. Aku memotong
kubis menjadi potongan besar dan mencairkan daging babi yang sudah
dibekukan.
Akhirnya,
semua bahan itu dicampur dan ditumis, lalu ditambahkan saus, dan selesai.
“Sudah
jadi, menu yakisoba sederhana.”
“Terima
kasih... kamu sangat cekatan, ya.”
“Yah, karena
aku melakukannya setiap hari sih...”
“Kamu
memasak setiap hari? Hebat!”
Aku tidak
bisa menahan rasa maluku karena dipuji berlebihan. Rasanya tidak buruk, tapi tetap
saja memalukan.
“Ayo memakannya sebelum dingin. Rasanya... biasa
saja sepertinya.”
Aku
pindah ke sofa dan segera memasukkan yakisoba ke dalam
mulutku.
“Mm...!
Enak!”
Begitu mencoba satu suapan, Yukikawa melihatku
dengan wajah senang. Jika
dia bisa senang seperti ini, rasanya tidak sia-sia aku
membuatnya.
“Serius,
kamu hebat, Nagai. Aku sendiri selalu mengandalkan bento dari minimarket atau mie instan.”
"Kalau
aku tidak bisa berhemat, aku tidak bisa beli
barang-barang otaku... jadi mau tak mau aku harus memasak sendiri.”
Aku juga
kadang ingin bersantai, tapi jika usaha itu bisa menjadi satu buku manga, aku
bisa menahan diri. Gairah
untuk aktivitas otaku bahkan bisa
mengubah hidup seseorang.
“Siang
ini saja aku juga membeli makanan dari kantin. Karena harganya murah sih.”
“Aku paham
banget. Aku bahkan membelinya untuk makan malam juga.”
“Bukannya
itu akan membuatmu dimarahi...?"
“Tidak juga, sih? Hanya dianggap anak yang
banyak makan oleh ibu kantin.”
“Itu
agak menyebalkan.”
Sambil
berbincang seperti itu, kami berdua menghabiskan
yakisoba. Karena
Yukikawa menawarkan untuk mencuci piring, aku duduk sendiri di sofa.
──── Entah kenapa, rasanya mirip kalau kami sedang tinggal
bersama...
Aku melikrik
sekilas ke arah dapur dan melihat Yukikawa yang sedang
mencuci piring. Waktunya sudah hampir tengah malam.
Apa aku
akan menghabiskan malam lagi dengan Yukikawa...
Walaupun tidak
ada yang spesial, tetapi aku merasa malu dengan diriku sendiri yang merasa begitu gelisah.
Aku seharusnya
memahami bahwa hubungan antara aku dan Yukikawa tidak akan menjadi spesial.
Namun, aku tidak bisa menahan harapan aneh yang muncul.
Jika dia
menganggap tempat ini sebagai ruang yang menenangkan, aku tidak ingin
mengkhianati perasaannya dengan niat tersembunyi.
“Maaf sudah membuatmu menunggu... kamu kenapa?”
Saat aku
memegangi kepalaku, tanpa kusadari Yukikawa sudah kembali. Aku langsung mengangkat wajahku
dan menggelengkan kepala.
“Eh! Ti-Tidak, bukan apa-apa. Terima kasih sudah
mencuci piring.”
“Karena
kamu yang membuatnya untukku,
jadi sudah sewajarnya aku melakukannya. Jadi,
hari ini mau bagaimana?”
“Umm...
mendingan langsung tidur
saja, karena kemarin kita begadang.”
Aku
berpura-pura baik-baik saja, padahal sebenarnya sudah cukup kelelahan.
“Setuju
banget. Lagipula besok libur, ya... eh, besok ada
apa?”
“Ah,
tidak ada apa-apa sih.”
“Kalau
gitu, bagaimana kalau kita santai-santai
seharian? Beli camilan atau semacamnya.”
“...
Ide yang bagus tuh.”
“Iya, ‘kan?”
Sambil
berkata begitu, Yukikawa duduk di sampingku dan menggerak-gerakkan kakinya
dengan lucu. Hanya dengan bergetar
ceria, tapi kenapa dia terlihat begitu menarik...
“Kalau
mau tidur, kamu bisa menggunakan
tempat tidur. Aku akan tidur di sofa.”
“Eh?
Tunggu, biar aku yang tidur di sofa.”
“Karena
kamu tamu, mana mungkin
aku akan membiarkanmu tidur di sofa."
“Itu
tidak ada hubungannya.”
Membiarkan
perempuan tidur di sofa, bahkan di rumah sendiri, terasa tidak pantas.
Jika
membicarakan soal tidur, memang tidak ada yang lebih baik
daripada tempat tidur. Saat lelah, aku ingin dia tidur di tempat tidur. Namun,
Yukikawa tampaknya tidak mau menyerah.
“Kalau
begitu... tidak ada cara lain selain bermain suit.”
“Ah,
aku juga berpikir yang sama.”
Kami
saling mengangkat kepalan tangan.
Jika terjadi pendapat berbeda, hal ini bisa menjadi solusi.
Begitu
tertulis dalam Kojiki.
““Dimulai
dari batu! Janken pon!!””
──── Aku
menang...
Seperti
biasa, aku berbaring di tempat tidurku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan
sambil menatap langit-langit.
“Hei,
sudah kuduga...”
Karena sudah
tidak tahan lagi, aku memanggil Yukikawa yang ada di ruang
tamu.
“Sudahlah.
Hasil suit itu sudah mutlak, kan?”
“Iya sih...
tapi tetap saja...”
“Kalau
kamu sampai bilang begitu, mau tidur bareng di tempat tidur?”
“Eh...!”
“Jangan
dibawa serius begitu, aku
hanya bercanda. Ayo, kita tidur. Aku sudah mengantuk dan hampir tidak bisa
bertahan.”
“Baiklah.
Selamat malam.”
“Ya,
selamat malam.”
Aku
terlalu gelisah hingga rasa kantukku hampir hilang. Memang, bercandaan Yukikawa tidak baik untuk kesehatan jantung.
“Haa...”
Dengan
sedikit rasa bersalah, aku menutup mata. Sepertinya, begadang kemarin
cukup berpengaruh. Rasa
ragu yang kumiliki sudah lenyap.
Tanpa kusadari, aku dengan mudahnya kehilangan kesadaranku.
◇◆◇
“Mm...”
Tanpa
alasan khusus, aku terbangun di tempat tidur. Sepertinya tidurku sangat nyenyak karena tubuhku terasa segar. Sebagai awal hari libur, ini
adalah cara terbaik untuk memulai pagi hari.
“Eh...?”
Saat aku
ingin bangkit dari tempat tidur, tanganku menyentuh sesuatu yang asing. Karena merasa firasat tidak enak, aku mengalihkan
pandangan dan melihat Yukikawa terbaring di sampingku.
“Hmmm...”
──── Gawat!
Mungkin itu terdengar klise, tetapi tanganku
tanpa sengaja menyentuh dada Yukikawa. Sensasi
yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya membuat kepalaku seakan mendidih dalam
sekejap.
Aku
buru-buru menarik tanganku, dan entah kenapa Yukikawa dengan enggan mengulurkan
tangannya, lalu akhirnya mungkin menyerah,
tangannya jatuh lemas ke tempat tidur.
“Kenapa
Yukikawa ada di tempat tidurku...”
Mengenai
hal ini, sepertinya aku perlu segera mengonfirmasi begitu dia bangun.
◇◆◇
“Maaf,
kupikir kamu akan terkejut kalau aku ada di sampingmu, jadi aku masuk ke tempat
tidur dan langsung tertidur.”
Setelah
itu, Yukikawa yang terbangun masih terlihat sedikit bingung menjelaskan.
“Itu
tidak baik untuk jantungku...
sungguh.”
“Sudah
kubilang maaf banget. Aku akan cuci muka sebentar. Sekarang,
aku pasti terlihat sangat jelek.”
“Eh?
Kamu tidak kelihatan jelek sama sekali, kok...”
“Di
dalam pikiranku, aku jelek.”
Aku
mengira dia terlihat sangat imut dengan mata setengah tidur, tetapi Yukikawa
segera berlari ke kamar mandi seolah-olah melarikan diri.
Karena tinggal
aku yang tersisa, jadi aku
merapikan tempat tidur dan memutuskan untuk menunggu di ruang tamu.
“Maaf
membuatmu menunggu... bangun tidur itu
memang bikin jelek banget.”
“Menurutku,
kamu terlihat imut, kok.”
“...
Itu pujian?”
“Apa
kamu pikir aku punya kemampuan sosial sebanyak itu, padahal tidak punya teman
sama sekali?”
“...
Terima kasih.”
Sambil tersenyum
malu-malu, Yukikawa duduk di sampingku. Padahal dia pasti sudah terbiasa
dipuji, tapi mengapa dia masih merasa malu sekarang?
“Ngomong-ngomong...
mau sarapan? Kalau cuma makanan
sederhana, aku bisa membuatkannya lagi.”
“Eh,
serius? Aku mau.”
“Baiklah.
Roti panggang, sosis, dan telur mata
sapi, oke?”
“Ya.
Terima kasih.”
“Baik, kalau gitu tunggu sebentar.”
Aku
pindah ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan. Aku memanggang roti di alat pemanggang roti sambil
memasukkan telur dan sosis ke dalam wajan.
Untuk
telur mata sapi, aku menambahkan sedikit air, dan setelah kuning telur matang,
itu sudah siap. Karena
Yukikawa suka yang setengah
matang, hanya itu saja yang aku
perhatikan.
“Selesai!”
Aku membawa
piring yang berisi roti panggan,
sosis, dan telur mata sapi ke arah Yukikawa.
“Rasanya kelihatan mewah...”
“Untuk
apa kamu memuji makanan yang
seperti ini... ayo, kita makan.”
Kami
duduk di sofa dan mulai menyantap sarapan. Karena aku biasanya hanya memakan ini setiap pagi, rasanya tidak
terlalu istimewa bagiku.
Namun, hal itu tampaknya berbeda untuk Yukikawa karena matanya tiba-tiba berbinar-binar.
“Enak
banget...! Sudah lama banget aku tidak makan sarapan yang seperti ini...!”
“Itu
berlebihan...”
“Seriusan! Aku tidak pernah membuat yang
seperti ini di rumah.”
Ngomong-ngomong,
kemarin dia memang bilang kalau di rumah dirinya hanya memakan makanan dari minimarket atau
mie instan.
“Aku
merasa senang bisa makan sesuatu yang
dibuat sendiri.”
“...
Kalau hanya segini saja sih aku bisa membuatnya kapan saja.”
“Ah,
kamu sendiri yang bilang begitu ya? Kalau gitu, aku pasti akan memintamu membuatnya saat aku
menginap.”
Yukikawa
menyolek-nyolek bahuku dengan jarinya. Merasa malu dengan hal itu, aku tidak bisa menahan
diri untuk tidak mengalihkan pandangan.
Sentuhan fisik ini sungguh berbahaya. Seolah-olah dia melakukannya
untuk membuatku lebih sadar akan keberadaannya.
“...
Kamu bilang kalau hari ini
mau bersantai-santai saja, tapi... lebih tepatnya mau ngapain?”
“Apa
maksudmu?”
“Yah...
kalau dipikir-pikir lagi, bersantai
itu sebenarnya apa ya?"
“...
Benar juga?”
Yukikawa
memiringkan kepalanya.
“Untuk
sementara, aku mau membaca
manga.”
“Kalau
begitu, mau buatkan kopi? Meski tetap instan seperti biasa.”
Aku
merapikan piring yang sudah selesai dimakan dan mencuci peralatan di dapur. Setelah itu, aku menyeduh kopi
dan memberikannya kepada Yukikawa.
“Terima
kasih. Rumah ini benar-benar nyaman. Serius, rasanya
tidak ada alasan untuk pulang.”
“Tidak,
tidak... kurasa kamu juga akan merasa bosa
kalau terlalu lama di sini.”
“Aku tidak
pernah merasa bosan kalau mengobrol dengan Nagai.”
Sambil
berkata begitu, Yukikawa menyeruput kopinya. Dia terus-menerus mengucapkan
hal-hal yang membuat orang terkejut.
Aku
berharap dia sedikit mempedulikan apa yang kurasakan.
“...
Nee, Nagai, kenapa kamu tinggal
sendiri?”
“Ke-Kenapa
kamu tiba-tiba bertanya begitu?”
“Ngomong-ngomong,
aku jadi ingat tidak pernah menanyakan itu. Kalau tidak mau mengatakannya juga tidak
apa-apa sih.”
Setelah
dipikir-pikir, memang sepertinya aku tidak pernah bilang. Sebenarnya tidak ada alasan yang
terlalu dalam.
“...
Orang tuaku juga tipe pekerja keras. Dari dulu, aku juga termasuk anak rumahan.”
Ayah dan
ibuku yang sama-sama bekerja, sama seperti orang tua Yukikawa sekarang, jadi aku sering kali sendirian.
Itu bukan
karena aku merasa kesepian atau apa. Aku punya manga dan anime yang
bisa membuatku terpesona.
“Pada
akhirnya, kupikir kalau di
rumah juga sendirian, tinggal sendiri juga tidak
ada bedanya, ‘kan? Sewaktu aku mencoba mengusulkannya kepada orang tuaku,
mereka bilang, 'Lebih baik kamu tinggal dekat kantor, jadi kalau ada apa-apa kami bisa
cepat ke sana.'”
“Eh,
jadi kamu mulai tinggal sendirian
karena itu?”
“Ya begitulah kira-kira.”
“Lumayan
menakjubkan juga ya... keluargamu.”
Yah, mungkin itu benar. Tapi, aku tidak berniat
memberitahu Yukikawa, ada satu alasan negatif. Meskipun mereka tidak mengucapkannya secara langsung, orang tuaku berusaha
keras untuk menyeimbangkan pekerjaan mereka dengan mengurusku.
Jadi,
situasi di mana aku tinggal sendiri sekarang pasti sangat membantu bagi mereka. Jika dilihat dari sini, mungkin
orang tuaku tidak bisa dibilang baik, tetapi karena aku sudah diberi kehidupan
yang baik seperti ini, aku tidak berniat meminta lebih.
“Tapi,
sama seperti diriku, manga dan
anime mengisi waktu kesepianmu, ya.”
“Yukikawa
juga?”
“Aku pernah
bilang bahwa sampai SMP aku sekolah di luar negeri, ‘kan? Sebenarnya aku juga tidak
terlalu aktif, tapi hanya karena anak
blasteran, aku dianggap orang asing dan tidak diterima
dalam kelompok... Begitulah, saat aku terisolasi, aku bertemu dengan anime dan
manga.”
“...
Begitu rupanya.”
Kurasa aku
mulai memahami mengapa aku dan Yukikawa bisa menjadi sangat akrab. Karena kami berdua memiliki latar belakang yang mirip.
“Tapi,
di luar negeri, sulit untuk mengikuti karya-karya yang sedang tren, jadi aku
jadi tidak tahu tentang yang terbaru.”
“Begitu
ya.”
“Jadi,
aku akan membaca
semua yang menarik perhatianku.”
Yukikawa
terlihat gelisah saat melihat rak buku.
Penampilannya
yang begitu menggemaskan membuatku tidak bisa menahan tawa.
“Hahaha,
iya, silakan baca sebanyak yang kamu
mau.”
“...
Sepertinya ini pertama kalinya aku melihatmu tertawa sampai segitunya.”
“Tidak,
itu pasti bohong...”
“Karena
sepertinya kamu selalu merasa ragu.”
“...
Apa iya?”
Memang,
ada semacam jarak antara aku dan gadis-gadis populer. Jika itu disebut ragu, mungkin
itu benar.
“Yah...
jika kamu bisa bersikap seperti itu, aku akan merasa lebih nyaman.”
Melihat
ekspresi Yukikawa yang tenang, aku memahami bahwa ruangan ini memberinya ketenangan pikiran. Jika dia bisa merasa nyaman di
ruangan ini, aku tidak keberatan jika dia tinggal di sini selama yang dia mau.
“Jadi,
hari ini enaknya mau baca
apa ya... boleh aku minta rekomendasi lagi?"
“Kamu
mau yang terbaru, ‘kan?
Kalau begitu, coba baca 'Balas
Budi Iblis', ceritanya cukup menarik.”
'Balas
Budi Iblis' adalah cerita yang berlatar belakang dunia
seperti dongeng, di mana iblis terkuat memberikan kekuatannya untuk gadis desa
yang pernah menolongnya...
Adegan di
mana dia menghancurkan markas rentenir untuk menyelamatkan gadis yang menderita
karena utang orang tuanya, sangat mengesankan baik dari segi gambar maupun
dialog.
“Hee~,
kedengarannya menarik... mungkin aku akan mulai dari situ.”
“Ah,
aku akan ambilkan."
Saat aku
berbalik menuju rak buku, tiba-tiba aku teringat sesuatu dan menoleh ke arah Yukikawa.
“...
Kalau memang tidak berniat keluar
seharian, bagaimana kalau kita pergi ke minimarket sekarang untuk membeli beberapa kebutuhan?”
“Ah!
Benar juga! Kita harus beli camilan!”
Kami
berdua menuju minimarket terdekat seperti malam sebelumnya. Dengan begitu, hari libur yang
sempurna pun dimulai────.
◇◆◇
“Ya...
ini sangat sempurna.”
Melihat
camilan yang tersebar di atas meja, Yukikawa mengangguk puas. Keripik kentang, cokelat, kue
kering. Berbagai jenis camilan dibeli secara sembarangan. Dengan ini, seharian ini pasti
tidak akan kekurangan makanan. ... Bahkan, mungkin bisa cukup untuk beberapa
hari.
“Kalau
begitu, mari kita santai-santai.”
“Baiklah.”
Aku duduk
kembali di atas
sofa dan memutuskan untuk membaca manga baru yang baru saja kubeli. Sementara itu, Yukikawa juga
bersantai di sofa dan mulai membaca 'Balas Budi Iblis'.
Selama
beberapa saat, hanya suara halaman yang dibalik yang terdengar di kamarku.
“...
Fiuh.”
Setelah
menyelesaikan buku pertama, aku menghela napas kecil.
──── Sepertinya aku bisa
lebih fokus daripada yang kupikirkan.
Sejujurnya,
aku merasa cemas. Bagaimana jika keberadaan Yukikawa membuatku tidak bisa
berkonsentrasi pada karya manga
ini?
Karena
aku belum pernah bersantai dengan teman sebelumnya, ada kemungkinan aku tidak
bisa menikmati ini. Namun,
kekhawatiran itu tampaknya tidak akan terjadi.
Yukikawa
sedang membaca volume kedua dari manga 'Balas Budi Iblis'. Dia terus-menerus
mengubah ekspresi wajahnya dan terlihat sangat menikmati.
Aku tidak
ingin mengganggu, jadi aku memutuskan untuk membaca edisi baru berikutnya.
“Nagai,
tolong ambilkan jus di sana.”
“Jus?”
Saat
melihat ke meja, ada jus yang diminum Yukikawa. Aku memberikan jus itu kepadanya
seperti yang diminta.
“Terima
kasih.”
“Ya.”
Setelah
percakapan itu, aku kembali ke bacaan.
Beberapa
saat kemudian...
“Nagai,
bisa tolong ambilkan tisu?”
“Ya,
ya...”
Aku
mengambil kotak tisu yang ada di atas meja dan memberikannya kepada Yukikawa.
“Terima
kasih. Sekalian ambilkan keripik juga.”
“Ah...”
“Dan
cokelat juga.”
“Baiklah...
lah, seharusnya kamu bisa mengambilnya sendiri.”
Saat aku
berusaha memberikan cokelat yang diminta, aku tiba-tiba menyadari bahwa aku
sedang dimanfaatkan.
Kemudian
Yukikawa menjulurkan lidahnya seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal
dan mengangkat bahunya.
“Ceh,
kupikir kamu akan melakukan semuanya.”
“Kalau
kamu terus bersantai seperti ini, lama-lama
kamu akan jadi kungkang.”
“Itu
tidak masalah, kungkang
juga lucu.”
"Kamu
menerima itu...?”
“Ya,
itu biasa saja, ‘kan?”
“Yah...
memang sih lucu.”
Tapi,
rasanya terlalu berbeda, dan jika Yukikawa berubah menjadi hewan berbulu, aku
tidak tahu harus melihatnya dengan cara apa...
“Uhmm...
kalau begitu, mari kita lakukan ini.”
Yukikawa
tampak berpikir sejenak, lalu menepuk tangan.
“Ketika
kita berdua sedang di rumah ini, manjakan aku
ya. Sebagai gantinya, aku akan memberikan sesuatu sebagai ucapan terima kasih.”
“Ucapan
terima kasih?”
“Umm...
hak untuk memijat kakiku?”
“Itu
sih cuma menguntungkan kamu saja...?”
“Eh?
Kamu diperbolehkan menyentuh kakiku,
loh?”
“...”
──── Itu
mungkin memang bisa dianggap sebagai hadiah.
“Ja-Jangan diam saja... tadi itu hanya bercanda.”
“…
Sudah kuduga begitu.”
Aku
sebenarnya tidak merasa kecewa. Aku tidak memiliki minat seperti itu.
Tidak
ada──── pikirku.
“Kalau
begitu, pijatnya nanti saja, kita melakukan
sesuatu yabng normal...”
“Eh?”
Aku
merasa seolah mendengar kata-kata yang tidak bisa diabaikan, tapi aku
memutuskan untuk mengabaikannya untuk saat ini.
“Ada
yang ingin kamu minta? Apapun itu, kamu tinggal bilang saja.”
Sambil berkata demikian,
Yukikawa menatap mataku.
Ucapan ‘apapun’ membuatku
sangat gelisah.
Untuk
kehormatan diriku, aku ingin mengatakan bahwa Yukikawa tidak mengatakannya
untuk memenuhi keinginan pria.
Namun,
naluriku tidak bisa ditahan. Aku juga tidak ingin bereaksi
seperti ini.
“…
Kenapa wajahmu jadi memerah begitu? Dasar
mesum.”
“Ah,
tidak, itu tidak benar!”
“…
Pfft, ahaha! Kamu terlalu putus assa!”
Yukikawa
tertawa terbahak-bahak.
Sial, aku
benar-benar dipermainkan.
Meskipun
kami saling cocok sebagai otaku, dia tetap seperti gadis-gadis pada
umumnya.
“Kalau yang
begituan sih tidak boleh, ya. Kurasa
kamu sudah mengerti.”
“Tentu
sajalah... Hah, ini buruk untuk
jantungku.”
“Maaf,
maaf. Reaksimu terlalu lucu, jadi aku sedikit menggoda.”
“…”
Karena
Yukikawa menatapku dengan senyuman, membuatku
merasa aneh dan tidak nyaman.
“Jadi,
ada sesuatu yang ingin kamu minta?”
“…
Aku tidak bisa memikirkan apapun sekarang.”
“Yah, kurasa
itu wajar saja.”
Meskipun
aku menghindari semua candaan jorok,
aku tidak tahu batasan apa yang diperbolehkan. Ketika seperti ini, aku cenderung
lupa bahwa hubungan kami masih sangat dangkal.
“Sampai
kamu mendapatkan ide... apa boleh kita menundanya?”
“Tidak
masalah.”
“Kalau
begitu, aku akan membuat banyak 'utang' sampai saat itu...”
“…
Sepertinya aku akan berhenti memanjakan dirimu.”
Sambil
tertawa dengan lelucon seperti itu, hari libur pertamaku dengan Yukikawa
berlalu dengan tenang.
Sebelumnya | Selanjutnya

