Downer-kei Gyaru Chapter 6 Bahasa Indonesia

 

Chapter 6 — Pekerjaan Paruh Waktu Pertama

 

Setelah itu, kami berdua berhasil menjalani pekerjaan paruh waktu sebagai staf acara dengan lancar. Jujur saja, bekerja paruh waktu di akhir pekan cukup melelahkan. Namun, akhirnya kami melihat kalau pekerjaan kami akan selesai

Hanya tinggal satu hari lagi. Setelah acara cosplay selesai, Yukikawa bisa mendapatkan jumlah uang yang diinginkannya. 

Oleh karena itu, untuk staff pria, silakan membantu mendirikan tenda, dan untuk wanita, siapkan minuman serta ruang ganti.”

Setelah mendapat instruksi dari ketua staf acara, aku menatap Yukikawa yang berdiri di sampingku. 

Yok, semangat, karena ini hari terakhir.” 

“Ya.” 

Kami berpisah di sini, dan aku bergabung dengan anggota tim pendirian tenda. 

“Eh, kamu Nagai-kun, kan? Bisakah kamu memegang kaki tenda itu?” 

Baiklah.” 

Aku mengikuti perintah senior di pekerjaan paruh waktu dan memegang bagian kaki tenda. Meskipun aku masih kesulitan bersosialisasi, interaksi dengan staf lainnya perlahan-lahan membuatku merasa lebih baik. 

“Aku akan mengikat tenda!” 

Dengan arahan dari senior yang berpengalaman, kami mulai mengikat tenda agar tidak roboh. Tenda ini akan digunakan untuk pendaftaran peserta acara dan tempat menunggu bagi staf. 

“Bagi yang masih memiliki tenaga ekstra, silakan bantu membawa peralatan audio! Acara dimulai pukul sebelas, jadi semua staff diharapkan sudah berada di pos masing-masing!” 

Karena kebetulan aku masih mempunyai waktu senggang, jadi aku memutuskan untuk membawa peralatan audio. Bersama beberapa staf lainnya, kami membawa peralatan ke tempat yang ditentukan. 

Karena pengaturan peralatan akan ditangani oleh staf yang sudah berpengalaman, semua hal yang bisa dilakukan sebelum acara dimulai sudah selesai. 

“Fyuh…” 

Aku duduk di kursi yang ada di tempat istirahat untuk menghela napas sejenak

Tiba-tiba, aku merasakan sensasi dingin di pipiku. 

“Hiih────” 

Jeritan Hiih!’-mu lucu banget.” 

“Apa… Yukikawa toh?” 

Yukikawa yang tiba-tiba muncul di dekatku, menawarkan minuman soda. 

“Terima kasih. Uangnya…” 

“Tidak apa-apa. Ini sebagai ucapan terima kasih karena sudah bekerja sama sampai hari ini.” 

“……Baiklah.” 

Aku menerima soda itu dengan senang hati. Aku memang sedang haus. 

“Cosplayer yang datang hari ini seperti apa ya?” 

Aku tidak bisa membayangkannya…” 

Tema acara hari ini sepertinya adalah festival para cosplayer. 

Di dalam area, mereka bisa bergerak bebas sambil mengenakan kostum dan menikmati makanan dan minuman, sehingga kami bisa melihat berbagai karakter dari berbagai karya menikmati acara. 

“Aku akan bertugas sebagai petugas pendaftaran, tapi kamu?” 

“Aku petugas penunjuk jalan ke ruang ganti pria.” 

“Jadi, tempat tugas kita tidak terlalu jauh, ya.” 

Sambil berkata begitu, Yukikawa tampak sedikit lega dan mengelus dadanya. Sepertinya masih ada rasa cemas yang tersisa di dalam hatinya

“Ini sudah keempat kalinya kamu bekerja paruh waktu, kan? Kamu seharusnya sudah terbiasa, dong?” 

“Tidak juga. Aku terus merasa khawatir akan melakukan sesuatu yang salah.” 

“Begitu, ya…” 

Begitu dia mengatakan itu, tiba-tiba aku juga merasa takut. Kupikir aku baik-baik saja karena hanya bertugas sebagai penunjuk jalan… 

“Tapi, ini pekerjaan yang terakhir, jadi kita harus berusaha dengan baik.” 

“……Iya, benar.”

Ini hanyalah tahap persiapan untuk penggalangan dana, yaitu untuk membuat kostum cosplay. Acara sebenarnya masih akan datang. Mari kita lakukan dengan baik sampai akhir dan menghubungkannya ke langkah berikutnya. 

“Acara hari ini sepertinya bisa menjadi referensi untuk membuat kostum.” 

“Ya. Aku berencana untuk belajar banyak.” 

Sambil mengatakan itu, Yukikawa menggenggam tinjunya dengan erat.

 

◇◆◇

 

“Ini adalah ruang ganti pria! Para pria, silakan berganti pakaian di sini!” 

Aku mengangkat papan yang menunjukkan arah ruang ganti pria dan berteriak kepada peserta acara. 

Jumlah peserta yang datang pada pukul sebelas sangat ramai, mirip seperti festival.

Ada banyak cosplayer yang turut serta, tetapi jumlah fotografer bahkan lebih banyak. Ada juga peserta yang datang hanya untuk melihat cosplay, jadi tidak heran jika ada begitu banyak pengunjung. 

“Eh, eh, kamu tahu enggak?” 

“……Ya?” 

Tiba-tiba, seorang pria yang juga bertugas sebagai penunjuk jalan, Sakaguchi-san (seorang pekerja paruh waktu berusia 37 tahun yang mengaku sedang mencari pasangan, penggemar anime), mulai berbicara padaku. 

Orang ini, cara tertawanya agak menyeramkan. 

“Rumor mengatakan bahwa ada pencari bakat dari agensi hiburan yang datang ke acara ini. Itulah sebabnya jumlah pesertanya lebih banyak dari biasanya.” 

“Eh, begitu ya…” 

“Bagus sekali iya ‘kan, jika ada yang merekrut? Jika aku dua puluh tahun lebih muda, mungkin aku sudah direkrut.” 

“Y-ya, benar.” 

Gawat, aku benar-benar ingin menjauh. 

Mungkin karena aku menjawab dengan aneh, Sakaguchi-san terus-menerus berbicara padaku. 

“Aku menyukai anime ‘Mahou Shoujo Candy’. Kamu tahu anime itu?” 

“Ah, tidak… aku tidak begitu mengetahuinya.” 

Kamu sama sekali tidak tahu!? Kalau begitu, aku akan menjelaskan!” 

Tiba-tiba, dia mulai menjelaskan tentang ‘Mahou Shoujo Candy’ di sampingku. 

Aku secara spontan berbohong, tetapi sebenarnya aku tahu tentang karya itu. 

Aku berbohong karena berpikir jika aku mengatakan tahu, itu akan menjadi masalah, tetapi sepertinya pertanyaan ini, apapun jawabannya, hasilnya sama saja. 

“Aku paling menyukai adegan ini. Apa kamu mengerti?” 

“Y-Ya… tentu saja.” 

“Tapi, yang ingin aku ceritakan dimulai dari sini!” 

────Masih ada lagi? 

Tolong, biarkan aku bekerja. Dan lakukan pekerjaanmu dengan benar

“Seorang gadis yang dulu bercosplay sebagai Candy berhenti cosplay sebagai Candy setelah dia dilirik oleh sebuah agensi besar! Bukannya itu parah banget!? Memang Candy bukan anime yang terlalu terkenal, dan penggemarnya juga hanya yang hardcore, tetapi! Gadis itu bercosplay karena menyukai karya tersebut, bukan!?” 

“U-uhmmmm…” 

“Jadi, menurutku debut di dunia hiburan tidak selalu membawa hal baik! Terutama bagi mereka yang berusaha menggunakan cosplay sebagai batu loncatan untuk masuk ke dunia hiburan, aku kurang menyukai mereka!”

Orang-orang itu juga, aku rasa tidak ingin disukai olehmu ── yah, itu urusan lain, sih

Ketika aku melihat sekeliling tempat acara, ada orang-orang yang mengambil posisi di tempat yang sangat mencolok. Entah untuk mendapatkan pengikut, mereka selalu menempatkan papan dengan ID SNS di dekat mereka. Tindakan itu sendiri tidak ada yang salah. 

Tempat ini memanglah arena untuk mengekspresikan diri, jadi sangat baik untuk mempromosikan diri. Namun, ada juga orang-orang yang melakukan tindakan yang tidak bisa dipuji. 

Mereka yang menatap cosplayer yang mencolok dengan tatapan tajam dan menunjukkan permusuhan yang jelas, tidak tampak menikmati cosplay secara murni. 

────Pencari bakat… ya. 

Aku tiba-tiba mengalihkan pandanganku ke arah Yukikawa. 

“……Apa itu?” 

Di sana, ada pemandangan yang mengejutkan Entah kenapa, ada kerumunan orang di sekitar meja pendaftaran. Di tengah kerumunan itu, ada Yukikawa dan seorang pria asing. 

“Maaf, Sakaguchi-san. Aku harus pergi dari sini sebentar.” 

“Eh!? Jadi kamu akan mengandalkanku!? Baiklah, aku akan menjalankan tugasku!” 

Aku meninggalkan tempat itu kepada Sakaguchi-san dan mulai berlari. 

Aku khawatir kalau Yukikawa mengalami masalah, jadi aku berusaha menerobos kerumunan orang yang mengelilinginya dan bergegas ke tengah. 

“Ehmm… ini agak merepotkan…” 

“Jangan bilang begitu! Ini adalah pertama kalinya aku bertemu gadis secantik dirimu! Tolong! Biarkan aku merekrutmu ke agensi hiburanku!” 

“……Meskipun begitu…” 

Setelah mendengar cerita Sakaguchi-san, aku merasakan firasat buruk muncul dalam diriku. Dan hal itu kini menjadi kenyataan di depan mataku. 

Aku sudah berulang kali mengatakan bahwa Yukikawa Tsukino memiliki penampilan yang membuat siapa pun tidak bisa mengalihkan pandangan. 

Meskipun dia mengenakan pakaian sederhana seperti kaos staf, dia pasti akan menarik perhatian. Mana mungkin para pencari bakat tidak memperhatikannya. 

“Kecantikanmu benar-benar tak tertandingi! Sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan!” 

Pria bertopi yang menggoda Yukikawa melambai untuk memanggil seseorang. 

Kemudian, seorang pria berpakaian jas muncul dan menyerahkan koper kepada pria bertopi itu. 

“Ini adalah pembayaran uang muka untuk kontrak. Bisakah kamu menerimanya?” 

Ketika pria itu membuka koper, di dalamnya ada tumpukan uang. Sorakan menggema dari orang-orang di sekitarnya. 

Bukannya orang itu adalah presiden Hayashibara Entertainment? Ia memang orang yang berduit!” 

“Tapi gadis itu memang sangat cantik, kan? Aku yakin dia akan menjadi sangat terkenal saat debut!” 

Aku bisa mendengar suara-suara semacam itu. Meskipun aku tidak tertarik pada dunia hiburan, aku tahu tentang Hayashibara Entertainment.  

Mereka memiliki banyak aktor dan selebriti populer, dan merupakan perusahaan raksasa yang tak terpisahkan dari industri hiburan. Presidennya sendiri berusaha merekrut Yukikawa. 

Bukannya ini kejadian luar biasa…? 

“Aku akan membuat bakatmu bersinar! Jadi, tolong! Apa kamu mau datang ke agensiku?” 

“……” 

Yukikawa pasti tahu tentang Hayashibara Entertainment. Tapi, dia tampak benar-benar bingung dari lubuk hatinya. Dan seolah mencari sesuatu, pandangannya melihat sekeliling. 

“Ah…” 

Saat aku tengah mengawasi situasi, tatapan mata kami bertemu. Kemudian, dia menunjukkan ekspresi lega. Setelah melihat reaksinya itu, tubuhku bergerak secara otomatis. 

“────Maaf, bisakah Anda tidak merekrut pacarku seperti itu?” 

Ketika aku menyadari, aku sudah berdiri melindungi Yukikawa. Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa melakukan hal seperti ini. Hanya saja, yang pasti, Yukikawa meminta bantuan padaku dalam situasi ini. 

“Gadis ini… pacarmu?” 

“……Ya, begitulah.” 

Wajah presiden itu jelas-jelas terlihat terkejut. 

Tentu saja, ia tidak mempercayainya. Seorang pria biasa sepertiku bisa menjadi pacar gadis secantik ini. Namun, karena aku sudah sampai sejauh ini, aku tidak bisa mundur. 

“……Ya sudah. Jika kamu memang pacar gadis ini, kurasa ini adalah tawaran yang baik untukmu juga.” 

“……?” 

“Coba pikirkan. Jika kamu setuju dengan tawaranku, gadis ini akan menjadi bintang terkenal. Dia akan menjadi bintang terbaik yang diidam-idamkan semua orang! Bukankah ini baik untukmu dan untuknya? Harusnya kamu setuju.” 

Memang, jika pacarmu menjadi bintang, itu mungkin hal yang membahagiakan. Namun, pada titik ini, ketika Yukikawa merasa tidak nyaman, aku tidak ingin meraih kemuliaan seperti itu. 

“……Tolong, carilah orang lain. Karena sepertinya dia tidak tertarik sama sekali.” 

“Kenapa kamu yang menjawab? Aku bertanya pada gadis yang ada di belakangmu.” 

“Jangan terlalu menakut-nakutinya. Dia jadi ketakutan.” 

“Eh? Aku menakut-nakuti? Kamu tahu, jangan berkata yang buruk tentang orang lain────” 

Pria berpakaian jas dengan cepat menahan bahu presiden yang semakin marah. Mungkin karena itulah, presiden menjadi tenang, batuk-batuk, dan merapikan kerah bajunya. 

“Hmm… sepertinya kalian masih terlihat seperti pelajar SMA. Aku hampir menunjukkan sisi kekanak-kanakan. Sudahlah, aku akan menyerah untuk merekrut di sini. Sebagai gantinya, jika kamu punya sedikit minat, kamu bisa menghubungiku.” 

Sambil berkata demikian, presiden itu menyerahkan kartu namanya padaku. 

“Hmm… baiklah, kurasa aku sekalian mencari yang lain juga.” 

“Baik. Presiden.” 

Presiden itu pergi dari kami. Sambil mengawasi punggungnya dengan waspada, Yukikawa menarik lenganku. 

“Maaf, Nagai… aku…” 

“Yukikawa tidak perlu khawatir. Lagipula, aku juga minta maaf sudah mencampuri urusanmu. …Apa kamu baik-baik saja?” 

“Ya… tidak apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut saat didekati.” 

Wajah Yukikawa terlihat pucat. 

Sayang sekali, dengan keadaan seperti ini, sepertinya mana mungkin dia bisa lanjut bekerja. 

“……Umm, kalian berdua.” 

Saat aku berusaha mencari tempat untuk istirahat bagi Yukikawa, pemimpin kerja paruh waktu memanggil kami. 

“Bisa kita bicara sebentar? Aku ingin kalian berdua datang ke sini.” 

“……Baiklah.” 

Aku membantu Yukikawa dan mengikuti pemimpin kerja paruh waktu itu. 

Selama perjalanan, beberapa cosplayer menatap Yukikawa dengan tajam. Mungkin mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa Yukikawa, yang seharusnya tidak mereka anggap, telah direkrut. 

Tentu saja, itu bukan urusan kami. 

 

◇◆◇

 

“Hmm… syukurlah itu tidak menjadi masalah besar.” 

Kami meninggalkan lokasi acara dan memutuskan untuk istirahat sejenak di restoran keluarga. Setelah menghabiskan minuman soda dari bar minuman, aku menatap Yukikawa yang duduk di depanku. Sepertinya wajahnya sudah sedikit lebih baik dibandingkan saat di lokasi acara. 

“Ya… aku benar-benar minta maaf. Aku sudah melibatkanmu.” 

“Tidak apa-apa. Yang lebih penting lagikamu baik-baik saja, Yukikawa?” 

“Aku sudah merasa lebih tenang, jadi aku seharusnya baik-baik saja….” 

Setelah itu, kami mengikuti pemimpin kerja paruh waktu dan menerima gaji untuk satu hari di tempat itu. 

Sebenarnya, bisa dibilang itu dipaksakan kepada kami

Ternyata, perusahaan Hayashibara Entertainment, yang dipimpin oleh presiden itu, adalah sponsor untuk acara cosplay kali ini. Mereka tidak bisa membiarkan kami bekerja setelah terjadi keributan dengan presiden tersebut. 

Jadi, uang ini bisa dibilang sebagai uang perpisahan. 

“Apa kamu tidak terbiasa dengan tawaran seperti itu? Aku pikir kamu sudah mengalaminya berkali-kali.” 

Iya, sih. Tapi…” 

“……?” 

“……Rasanya sulit untuk berbicara di sini, jadi bolehkah kita pergi ke rumahmu? Aku ingin berbicara di tempat yang cuma ada kita berdua.” 

Setelah mendengar itu, aku mengangguk dengan tulus. 

 

Setelah beberapa saat kemudian, kami kembali ke apartemenku. Di ruangan yang seharusnya hanya ditinggaliku, perlahan-lahan barang-barang milik Yukikawa mulai bertambah. 

Entah kenapa, aku merasa ini adalah tanda bahwa hubungan kami semakin dekat. 

“Aku akan membuatkan cokelat panas.” 

“Ya. Terima kasih.”

Setelah membuat cokelat panas di dapur, aku duduk di sofa tempat Yukikawa menunggu. Setelah keheningan sejenak, Yukikawa membuka mulutnya. 

Kejadian ini sudah beberapa terjadi semenjak aku datang ke Jepang… aku sudah beberapa kali ditembak oleh cowok.” 

“……Aku sudah mendengar rumor itu. Katanya ada senior dari klub sepak bola yang mengungkapkan perasaannya padamu.” 

“Ya, orang itu. Ia terkenal di sekolah, jadi kabar itu cepat menyebar. Ada dua orang lainnya juga.” 

“……Padahal baru sebulan sejak kita masuk sekolah.” 

“Yah, karena aku mempunyai wajah cantik sih.” 

“Jadi kamu sadar akan hal itu…” 

Setelah dia mengatakannya dengan begitu percaya diri, aku tidak bisa marah. 

“Aku sih tidak masalah kalau disukai. Tapi semua orang memandangku dengan tatapan yang aneh.” 

“Tatapan?” 

“Iya. Tatapan mereka saat melihatku.” 

Saat mengatakan itu, Yukikawa menyusutkan tubuhnya seolah memeluk dirinya sendiri. Melihat tindakan itu, aku mulai memahami apa yang sedang dibicarakannya

“Senpai itu bilang padaku, ‘Kalau tidak bisa jadi pacar, jadi teman ngewe juga tidak apa-apa. Dengan penampilan seperti itu, kamu pasti punya banyak pengalaman ‘kan?… begitu.” 

“……!” 

“Memang, aku suka berpakaian seperti ini, dan aku sudah siap jika dipandang seperti itu… tapi tidak perlu mengatakannya langsung di depan mukaku segala, kan?” 

Ekspresi Yukikawa seketika berubah. 

Tentu saja, mana mungkin dia tidak merasa takut jika seorang pria yang lebih tua mengatakannya seperti itu. Mungkin peristiwa itu sudah menjadi trauma yang sangat mendalam baginya. 

“Sejak saat itu, setiap kali ada pria yang mendekatiku, aku jadi panik… rasanya benar-benar memalukan, kan?” 

“Tidak! Itu sama sekali tidak benar…!” 

Meskipun aku berkata begitu, aku tiba-tiba kepikiran sebuah pertanyaan

Lantas, bagaimana denganku

Aku juga seorang pria, tapi mengapa Yukikawa mau bersamaku? 

“Fufu… itu terlihat di wajahmu, Nagai.” 

“Eh?” 

“‘Apa kamu baik-baik saja bersamaku?’” 

Tanpa sadar, wajahku memerah. 

Apa aku begitu mudah terbaca? 

“Nagai itu… entah kenapa, aku merasa baik-baik saja. Di sini membuatku tenang.” 

“……Benarkah?” 

Rassanya seolah-olah kamu melindungiku? Aku merasa diizinkan untuk berada di sini.” 

Yukikawa tersenyum padaku. Melihat ekspresinya yang begitu, aku merasakan detak jantungku semakin cepat. 

“Aku lupa memberitahumu, jadi aku akan mengatakannya sekarang. Terima kasih sudah membantuku tadi.” 

“……Ah, itu bukan masalah.” 

Saat aku berkata begitu, Yukikawa tersenyum bahagia. 

“Hmm… ngomong-ngomong, kamu lihat tidak? Cara pandang para cosplayer itu.” 

“Eh, kamu menyadarinya…?” 

Iya, sih. Gadis-gadis biasanya sangat peka terhadap tatapan. Jika ada yang melihat payudara atau paha, aku langsung menyadarinya.” 

Aku merasa terkejut. 

Aku pernah mendengar bahwa wanita peka terhadap tatapan, tapi tidak menyangka itu benar. 

“Ehmmentah bagaimana, maaf.” 

“Ahaha! Aku tidak marah kok! Aku tidak merasa keberatan kalau dengan Nagai.” 

“……” 

Aku tidak bisa bertanya maksud di balik perkataannya

“Tapi serius, bagaimana ya? Apa penampilanku jelek?” 

Sambil melihat penampilannya, Yukikawa berkata.

Saat ini, karena baru pulang dari kerja paruh waktu, dia tidak mengenakan pakaian yang terlalu terbuka, tetapi itu hanya dibandingkan dengan biasanya. Yukikawa biasanya mengenakan baju yang sedikit terbuka di bagian dada dan rok pendek yang memperlihatkan kakinya yang mulus tanpa noda. 

Sekarang dia mengenakan blazer dan cardigan, jadi masih lebih baik, tetapi memikirkan musim yang akan datang, bukan tidak mungkin dia akan didekati oleh pria lagi. 

“Kalau memang merasa bingung seperti ini, kurasa memang lebih baik kalau aku memakai pakaian yang sederhana saja kali ya?” 

“……Tidak, menurutku Yukikawa tidak perlu menahan diri.” 

“Eh?” 

“Kalau kamu ingin berpakaian seperti yang kamu suka, kamu tinggal melakukannya saja. Tidak ada yang salah dengan itu.” 

“……” 

Kekerasan verbal bukanlah sesuatu yang bisa dianggap enteng. Namun, jika kita bersikap tegas dan mengabaikannya, maka hal itu seolah-olah tidak pernah ada

“Kalau ada kejadian seperti hari ini, saat itu… aku akan membantumu lagi. Setidaknya, kita bisa melarikan diri bersama.” 

Aku mengatakannya sambil menatap mata Yukikawa dengan serius. 

Lalu dia tertawa terbahak-bahak. 

……Pfft, apa-apaan itu? Seharusnya kamu bisa mengatakan sesuatu yang lebih keren di situ.” 

“Aku tidak akan mengatakan hal yang tidak bisa kulakukan.” 

“Bohong. Itu hanya bercanda. Aku tetap mengandalkanmu, kok.” 

Sambil berkata begitu, Yukikawa menyenggol bahuku. Jarak di antara kami sangat dekat. Entah kenapa, aku merasa tenang dengan jarak ini. 

“Tapi… terlepas dari sikap presiden itu, apa kamu yakin tidak masalah untuk menolak tawaran dari agensi hiburan?” 

“Hmm?” 

“Aku tidak tahu detailnya, tapi menurutku Yukikawa bisa sukses di dunia hiburan.” 

“Ah, tolong jangan bicarakan itu. Itu merepotkan.” 

“Hmm…?” 

“Karena, jika aku sampai debut, aku tidak akan bisa menghabiskan waktu di kamar Nagai, membaca manga atau menonton anime seperti ini, kan? Aku benar-benar tidak mau.” 

“Apa itu sebegitu pentingnya…?” 

“Tentu saja. Kalau aku tidak bisa bermain dengan Nagai lagi, lalu apa gunanya────tapi mari kita kesampingkan itu untuk saat ini.” 

Tiba-tiba dia mengalihkan topik, dan aku mengerutkan dahi. 

“……Begini, saat kamu membantuku, kamu bilang aku pacarmu, kan?” 

“Buh────” 

Karena pernyataan mendadak itu, aku tidak bisa menahan tawa. Aku memang mengatakannya. Dalam keadaan terpaksa. 

“Yah, bagaimana menjelaskannya ya … aku memerlukan alasan untuk membantumusemua itu terjadi secara spontan…” 

“Hmm? Jadi Nagai tidak ingin aku debut di dunia hiburan, ya?” 

“Yah, yah… mungkin saja?” 

“Kenapa?” 

“Kenapa…?” 

────Kenapa, ya? 

Karena aku melihat Yukikawa terlihat kesulitan, aku segera menyela untuk membantunya. Hal tersebut memang dari lubuk hatiku. Tapi, mungkin itu bukan satu-satunya alasan. 

Apa aku merasa takut dia akan pergi jauh dariku? 

────Jika itu benar… aku… 

Melihat aku yang kebingungan, Yukikawa tersenyum lebar. Menyadari bahwa aku sedang dijadikan bahan lelucon, aku mengerutkan kening. 

“Eh, kamu jadi cemberut… ah, tidak apa-apa. Yang lebih penting, uangnya sudah terkumpul.” 

“Ah, baguslah kalau usaha kita membuahkan hasil.” 

“Semuanya berkat Nagai yang mau menemaniku. Kalau aku sendirian, mungkin aku tidak bisa berusaha sekuat ini.” 

Percakapan hampir menjadi rumit, tetapi dengan ini Yukikawa berhasil mendapatkan jumlah uang yang diinginkannya. 

Hal selanjutnya yang harus dilakukan adalah membeli bahan dan membuat kostum. 

Tujuannya masih sangat jauh. Tidak ada waktu untuk berhenti. 

“Sepertinya, kita butuh mesin jahit, ya?” 

“Menjahit tangan sepertinya tidak mungkin, ya…? Kira-kira ada video tutorial tentang cara melakukannya enggak, ya?” 

Ayo coba kita cari.” 

Dengan memanfaatkan teknologi modern, kami memutuskan untuk mencari dengan kata kunci kostum cosplay dan buatan sendiri.

Setelah beberapa saat menjelajahi internet, kami menemukan beberapa hal. 

Pertama, keberadaan mesin jahit sangat diperlukan. Menjahit kain tebal dengan tangan terlalu sulit dan tidak efisien. 

Selanjutnya, kami menyadari bahwa membuat kain dengan dekorasi dan desain yang rumit hampir mustahil bagi kami yang kurang berpengalaman. Sepertinya lebih baik meminta produsen untuk membuat kain seperti itu. 

“Mesin jahit, ya… sepertinya aku bisa membeli yang murah.” 

Kurasa barang murahan juga kurang bagus… Jika terjadi kesalahan, kita tidak punya uang untuk membeli yang baru.” 

Ada benarnya juga.” 

Oh, sepertinya ada opsi menyewa mesin jahit juga lho? Mungkin itu lebih murah.” 

“Tapi, kita tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membuatnya, kan?” 

“……Benar juga.” 

Kalau begitu, itu bukan solusi. Jika kami harus menyewa selama berbulan-bulan, biayanya bisa lebih mahal daripada membeli. 

Selain itu, kami masih pemula. Tak peduli seberapa hati-hatinya kami, ada kemungkinan mesin itu bisa rusak. Jika itu terjadi, kami tidak akan mampu menggantinya. 

“Bagaimana kalau kita meminjam ruang jahit?” 

“……Ah! Itu mungkin bagus.” 

Ruang jahit yang digunakan dalam pelajaran keterampilan tata boga. Di sana, mungkin kami bisa meminjam mesin jahit. 

“Tapi… mungkin orang lain bisa melihat kita.” 

“Hmm, bukannya itu tidak masalah? Kita tinggal mengunci pintunya.” 

“Rasanya itu agak bermasalah…” 

“Yah, sebisa mungkin aku tidak ingin ada yang mengetahuinya, dan mungkin agak sulit jika dilakukan di sekolah. Jika ketahuan, pasti akan merepotkan, terutama dari para cowok.” 

“Itu pasti benar.” 

Apalagi, Yukikawa sudah dipandang aneh oleh orang-orang di sekitarnya. Jika informasi tentang niatnya untuk cosplay tersebar, pasti akan ada banyak orang yang mengganggu. 

Kemungkinan besar, dia akan merasa lebih tertekan dari sebelumnya. 

“Untuk saat ini, meminjam adalah pilihan terakhir. Bagaimana kalau kita pergi membeli bahan-bahannya saja terlebih dahulu? Sebelum kita tergoda membeli barang lain.” 

Oi, oi…” 

Habisnya, kalau kamu mempunyai uang, kamu pasti ingin menghabiskannya, ‘kan? Tapi jika kita sudah membeli bahan, kita tidak punya pilihan lain selain membuatnya, kan?” 

“……Ada benarnya.” 

“Besok ada waktu? Ayo kita pergi ke Ikebukuro.” 

“Baiklah, aku akan ikut menemanimu.” 

Kemudian kami melanjutkan pencarian untuk menemukan apa saja yang diperlukan untuk membuat kostum cosplay.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama