Chapter 11 — Buku Terkutuk
“Ah,
Fine-chan. Selamat pagi!”
“…Selamat
pagi, Agnes-san.”
Setelah
itu, kami berhasil menyelesaikan pembersihan dan entah
bagaimana menyambut Aisha-chan, tetapi kami masih merasakan
ketidaknyamanan, jadi pada malam itu dan hari berikutnya kami memutuskan untuk
menahan diri. Namun, karena itulah,
aku justru merasa gelisah.
Ketika aku
pergi ke sekolah dengan sedikit terkejut mengetahui bahwa aku memiliki sisi yang seperti itu, Agnes-san menyapaku.
“Kenapa
terlihat tidak bersemangat begitu?
Kamu terkena flu?”
“Ti-Tidak,
bukan begitu! Lagipula, aku tidak pernah sakit seumur hidupku…!”
“Be-Benarkah? Jadi kamu benar-benar
tidak pernah sakit?”
“Ya.
Sepertinya aku memiliki tubuh yang sulit terkena penyakit.”
Hmm. Meskipun
ada kalanya aku merasa tidak enak badan akibat
masalah mental, tapi aku benar-benar tidak
pernah sakit. Bahkan ketika aku masih kecil dan ada flu aneh yang menyebar dan
semua anak di panti asuhan tertular, cuma aku satu-satunya yang tetap
sehat.
“Woahh, aku iri. Aku juga ingin
memiliki tubuh yang sepraktis itu.”
“Ma-Masa?
Memang mungkin terasa praktis?”
Ada begitu
banyak orang di dunia ini yang
menderita dan mati karena penyakit tanpa bisa mendapatkan obat. Jika
dipikir-pikir, tidak sakit sama sekali bisa dibilang adalah keadaan yang sangat menguntungkan.
“Oh iya, ngomong-ngomong. Aku sudah
menganalisis apa yang diminta Ash-san, tapi sepertinya Aldy ingin menyampaikan sesuatu
secara langsung.”
“Secara
langsung?”
“Ya.
Aku bertanya apa aku saja tidak bisa menyampaikannya, tapi dia bilang harus langsung.
Lagipula, bagaimana ia bisa menyampaikannya tanpa tubuh?"
Hmm, ada
banyak hal yang membuatku penasaran, tetapi mungkin lebih baik untuk
mengonfirmasi semuanya dengan Ash-san terlebih dahulu?
“…Ngomong-ngomong,
Fine-chan. Selama liburan, apa kamu bisa bermesra-mesraan dengan Ash-san?"
“Eh!?
Ke-Kenapa kamu tiba-tiba membahas itu!?”
“Habisnya
saat kita bertemu di akhir pekan lalu,
Fine-chan kelihatan dalam suasana hati yang buruk.
Seolah-olah kamu ingin Ash-san
lebih memperhatikanmu.”
“Eh,
apa aku terlihat seperti itu?”
“Ya,
kamu kelihatan seperti itu.”
U-Uhh!
Rasanya sangat memalukan…! Ternyata sikapku
sampai membuat Agnes-san berpikir seperti itu…!
“Jadi,
bagaimana? Apa kalian bisa bermesra-mesraan?”
“Ra-Rahasia!”
“Fine-chan,
wajahmu merah sekali!”
U-uh.
Memalukan. Sangat, sangat memalukan…!
…Dan begitulah, dengan Agnes-san yang terus-menerus menggodaku sambil menyeringai lebar, aku
berjalan cepat menuju kelas.
※
※ ※
“Hah…”
Saat aku mengantar
Fine pergi ke gedung sekolah di awal minggu baru
seusai liburan, suasana hati melankolis langsung menghampiriku.
...Dan
sekarang aku tidak bisa bermesraan dengannya sampai sekolah usai.
Rasanya
benar-benar menyedihkan. Ah, seandainya aku bisa melewatkan semua hal yang
merepotkan seperti melewatkan event dalam permainan…
“Haah…
Hah… O-oh, lama tidak bertemu, Ash Leben
Weiss.”
Sambil
memikirkan hal itu, aku melangkah berat menuju kelas ketika tiba-tiba mendengar
suara lelah yang aneh. Ketika
aku menoleh, aku melihat Sarasa
Enforcer berdiri di sana, gadis jenius penyihir
dan penggemar sihir yang tampak sangat kelelahan.
“Ah,
ya. Lama tidak bertemu. …Kenapa
kamu tampak sekarat begitu?”
“Haah…
Hah… Tidak, sebenarnya, sudah lama aku tidak berolahraga… Haah… Jadi inilah
hasilnya…”
Sarasa
menjelaskan sambil berusaha mengatur napasnya, mengangkat bahunya dengan susah
payah.
“To-Tolong…
Gendong aku ke ruang UKS… Jika begini terus, aku
benar-benar akan mati…”
“Baiklah,
baiklah.”
Aku tidak
bisa membiarkan gadis dalam keadaan seperti ini. Dengan pemikiran itu, aku
membelakangi Sarasa dan membungkuk.
“Te-Terima
kasih…”
“Sama-sama.”
Sembari
menggendong Nona Sarasa di punggungku, aku mulai berjalan
menuju ruang kesehatan. Tubuh Nona Sarasa terasa sangat ringan. Apa
dia benar-benar makan dengan baik?
“Jadi,
kenapa kamu berolahraga sampai kelihatan hampir
mati begitu?”
“Se-Sebentar
lagi bakalan ada festival sekolah, ‘kan? Pada hari itu… aku harus
berdiri sepanjang hari untuk pertunjukan, jadi aku ingin meningkatkan stamina
sebelum itu…”
“Kamu
mengikuti acara seperti itu?”
“Aku
ingin bertanya apa pendapatmu tentangku, tetapi… yah, aku harus ikut pameran
penelitian apapun yang terjadi.”
Dalam
permainan 'Kizuyoru', acara semacam itu
hanyalah alat peraga untuk acara kafe pelayan, tapi di
dunia ini, bagi anak bangsawan yang bercita-cita menjadi peneliti, ini adalah
kesempatan langka untuk membuat nama mereka diingat oleh para ilmuwan terkenal
dari dalam dan luar negeri, termasuk penelitian yang mereka lakukan.
“Jadi,
jika kamu ikut pameran penelitian, berarti kamu ingin menjadi seorang ilmuwan
di masa depan?”
“…Ya.
Sejak kecil, aku ingin mempelajari sihir secara mendalam. Mimpi yang biasa-biasa saja, bukan?”
“Eh?
Menurutku itu mimpi yang sangat indah.”
Ketika
aku menjawab begitu, Nona Sarasa
bergumam dengan suara sangat kecil,
tetapi tetap terdengar senang, “Begitu
ya…”.Ternyata,
dia juga memiliki sisi manis yang sesuai dengan usianya.
“Yah,
jika festival sekolah tidak diadakan, semuanya
akan sia-sia.”
“Ah…”
Kondisi
raja dilaporkan sangat tidak stabil. Dan
jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seluruh negara akan berkabung,
sehingga hampir pasti festival sekolah tidak akan diadakan.
“Aku
tidak percaya pada hal-hal tidak pasti seperti dewa atau takdir, tetapi kali
ini aku tidak punya pilihan lain selain
berharap.”
Gumaman Nona
Sarasa sangat menyedihkan, dan aku bisa merasakan bahwa dia benar-benar ingin
festival sekolah diadakan dan bahwa mimpinya untuk menjadi seorang ilmuwan merupakan sesuatu yang serius.
“Tenang
saja. Aku yakin kalau semuanya akan berjalan lancar.”
“…Apa
kamu sedang menghiburku?”
“Ya,
tentu. Aku merasa berutang budi padamu dalam banyak hal, dan kamu juga adalah
junior yang menggemaskan.”
“…Be-Begitu.”
Nona Sarasa
terdiam setelah mengatakan itu. Mungkin dia merasa malu. Jika iya, berarti dia
juga punya sisi yang benar-benar manis. Aku melihat Nona Sarasa dengan senyum hangat
sambil berharap mimpinya terwujud, lalu menuju ruang kesehatan.
※※※※
“Pelajaran
hari ini cukup sampai di sini. Sore nanti akan ada penjelasan tentang pameran
festival sekolah setiap
kelas, jadi semua orang harap berkumpul di kelas.”
Bel tanda
istirahat berbunyi, dan setelah guru keluar, para siswa mulai berkumpul dalam
kelompok masing-masing. Mengingat
situasi yang ada, ketegangan belum sepenuhnya hilang, tetapi suasana menjadi
lebih santai karena mereka bebas dari belenggu pelajaran.
“Ash,
ayo kita makan siang!”
Saat aku
sedang merapikan buku pelajaran, Ian memanggilku.
“Maaf,
tapi hari ini aku sudah ada janji.
Ajak aku lagi lain kali, ya.”
“Janji…?
Haha, jadi begitu ya~.”
“Ap-Apaan
sih?”
“Ah,
tidak? Kupikir jika kamu tinggal bersama
Fine-chan, kamu tidak akan butuh makanan manis lagi.”
“???”
Ian
mengangkat bahu dengan berlebihan dan pergi ke teman sekelas lainnya. Aku tidak mengerti apa yang ia
maksud, tetapi melihat reaksinya, sepertinya itu bukan masalah besar. Dengan pemikiran itu, aku
memasukkan semua buku pelajaran ke dalam tas dan menuju kantin untuk bertemu.
“Ash-san!”
Saat
istirahat, ketika aku tiba di kantin yang penuh sesak dengan siswa, Fine dan
Agnes datang menghampiriku dengan tas berisi makanan.
“Maaf,
aku membuat kalian menunggu…?”
“Tidak
masalah! Benar, ‘kan,
Fine-chan?”
“Y-Ya. Kami juga baru saja sampai di sini!”
Fine kelihatan sudah menunggu dari tadi, jadi aku khawatir jika aku
terlambat, tetapi sepertinya itu hanya kekhawatiranku saja.
“Umm,
jadi kita akan berbicara di tempat yang sama seperti sebelumnya, kan…?”
“Rencananya
begitu, tetapi jika kamu khawatir tentang orang-orang, kita bisa pindah tempat.”
“T-Tidak apa-apa! Oke, ayo kita
pergi!”
Agnes
memberi hormat dengan manis sebelum memimpin kami menuju tempat teras yang sama
seperti sebelumnya.
“…Um,
ada sesuatu yang ingin kubicarakan tentang Agnes-san.”
Di situ,
Fine berbicara dengan suara pelan.
“Sesuatu
yang ingin dibicarakan?”
“Ya.
Sebenarnya, sepertinya Aldy-san
ingin berbicara langsung tentang hal yang terjadi hari ini. Kurasa ini mungkin hanya
kekhawatiran berlebihan, tetapi sebaiknya kita tetap waspada.”
“Baiklah.
Terima kasih sudah memberitahuku.”
Namun,
bagaimana mungkin makhluk sihir yang tidak memiliki tubuh dapat berbicara
langsung kepada kami? Jangan-jangan
dia akan menarik kami ke dalam dunia mimpi
lagi…?
Meskipun
sedikit khawatir, kami memutuskan untuk mengikuti Agnes.
“Nona Valen.
Aldy mengatakan kalau dirinya ingin menyampaikan hasil
penyelidikan secara langsung, tapi apa yang harus kita lakukan?”
“Um,
aku harus memberitahu terlebih dahulu, mungkin apa yang akan terjadi sekarang
akan sangat mengejutkan Fine-chan dan yang lainnya. Tapi aku benar-benar
baik-baik saja, jadi jangan khawatir.”
Setelah
duduk di teras, aku bertanya, dan Agnes mengambil napas dalam-dalam. Dia memejamkan matanya dan mengeluarkan sebuah
liontin dari dadanya, lalu menggenggamnya erat-erat dengan kedua tangan.
“…Fyuh, dunia ini memang terasa suram
dan tidak menyenangkan.”
Mungkin
karena khawatir dengan Agnes yang tetap membeku di tempatnya, Fine hendak
mengulurkan tangan kepadanya.
Agnes,
atau lebih tepatnya, makhluk sihir yang mirip Agnes, mulai berbicara dengan
nada kasar yang tidak biasa sambil menggenggam dan membuka tangannya,
seolah-olah memeriksa sesuatu.
“…Um,
Agnes-san?”
“Oi,
oi. Apa kamu sudah melupakanku? Padahal kita baru saja bertarung
dengan hebat, dasar gadis muda yang tak
berperasaan.”
“Be-Berperasaan…!?
A-Agnes-san!? Ap-Apa yang kamu bicarakan!?”
Sosok
yang tampaknya Agnes itu mengangkat bahunya dengan santai, melihat Fine yang pipinya
memerah dengan senyum nakal, lalu mengangkat kakinya di atas meja.
Dari nada
bicaranya dan apa yang dia
katakan…
Jangan-jangan…?
“…Kamu, jangan-jangan, kamu Aldy?”
Saat aku
bertanya demikian, Agnes, atau lebih tepatnya makhluk
sihir Aldy,
tersenyum lebar.
“Oh,
jadi kamu ingat padaku. Aku senang
sekali.”
“Eh,
umm, ap-apa maksudnya? Apa Agnes-san
baik-baik saja?"
“Tenang
saja, Nona. Kesadaran Agnes hanya tertidur, dan aku tidak melakukan apapun yang
akan membahayakannya.”
“Ja-Jadi, begitu ya. Syukurlah…”
Fine
menghela napas lega usai mendengar perkataan
Aldy.
Oh, jadi
ini yang dimaksud Agnes bahwa dia mungkin akan mengejutkan kami.
“Ngomong-ngomong,
kenapa kamu memilih cara yang merepotkan ini untuk berbicara? Bukankah lebih
baik jika kamu menyampaikannya langsung kepada Agnes?”
“Oh,
aku tidak bisa membiarkan Agnes mengetahui apa yang tersembunyi di sini.”
Sembari
mengatakan itu, Aldy
memperbaiki posisinya dan mengeluarkan buku dari tas Agnes dan meletakkannya di
meja.
“Tidak
bisa membiarkannya tahu?”
“Buku
ini memiliki sihir yang terpasang. Dan sihir itu akan memberikan kutukan rendah
kepada siapa pun yang menyebutkan rahasia yang ingin disembunyikan oleh
penyihirnya. Namun, makhluk sihir sepertiku tidak terpengaruh oleh sihir yang
ditujukan kepada manusia.”
“Jadi
kamu melakukannya demi
Agnes-san?”
“Benar sekali, Nona. …Aku tidak ingin
dia merasakan penderitaan lagi.”
Jadi, Aldy mengambil peran sebagai
pengganti untuk menyampaikan hasil penyelidikan, dan bukannya Agnes.
Namun,
tentang sihir hitam ini… Aldy
mengatakan itu adalah sihir tingkat rendah, tetapi hanya penyihir tingkat
tinggi yang dapat menggunakan sihir yang efektif di dunia 'Kizuyoru'.
Sihir
hitam adalah sihir dari dunia lain. Jika
demikian, orang yang memiliki ini atau yang menyisipkan sihir ke dalamnya pasti
adalah seseorang yang sangat kuat.
“Jadi,
apa sebenarnya rahasia itu?”
“…Apa
kamu benar-benar ingin mengetahuinya?”
“?? Sihir
itu tidak akan aktif jika tidak ada orang lain yang membicarakan rahasia itu,
kan?”
“…Tidak,
rahasia itu sendiri juga merupakan hal yang sangat berbahaya bagi orang-orang
seperti kalian yang bangsawan. Bisa jadi kalian akan menyesali terus-menerus
menyimpan rahasia itu. Namun, jika kalian tahu, kalian bisa menghindari bahaya
yang mungkin datang di masa depan. Jadi, itu
terserah kalian mau mendengarnya
atau tidak.”
Ekspresi
Aldy saat berbicara begitu sangat
serius, dan tidak ada nuansa bercanda atau menipu di sana. Faktanya, dia menggunakan cara
yang merepotkan untuk berbicara, menunjukkan bahwa dia benar-benar peduli
dengan keselamatan kami.
Namun,
jika hanya sekadar kutukan berbahaya, aku bisa memilih untuk tidak
mendengarnya. Tapi, jika ada nilai untuk mengetahui, mungkin tidak ada salahnya
jika aku yang mengetahuinua.
Dan jika
saatnya tiba untuk membicarakannya, yang akan terkena dampak hanyalah aku sendiri.
“Fine,
kamu sebaiknya pergi dari sini.
Aku akan melakukannya sendiri.
Aku tidak ingin melibatkanmu.”
Semuanya berasal dari rasa penasaranku sendiri. Aku tidak boleh membiarkan Fine
terjebak dalam bahaya karena ini. Dengan
pemikiran itu, aku mendorongnya untuk menjauh, tetapi──.
“Tidak
mau. Aku tidak ingin meninggalkan Ash-san sendirian.”
Fiene
menggenggam lenganku dengan erat dan dengan tegas menyatakan bahwa dirinya akan tetap di sini. Nada suaranya dan tekad yang
terlihat di matanya menunjukkan bahwa Fine takkan
gampang menyerah.
“Baiklah.
Tapi rahasia itu tidak boleh diucapkan sampai aku memberi izin, apa pun yang
terjadi.”
“…Baiklah.”
Meski
begitu, aku tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Fine mengambil risiko. Jadi, aku
harus menawarkan sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan.
Setelah
memastikan Fine mengangguk dengan enggan, aku kembali menghadap Aldy.
“Kalau
begitu, tolong beritahu kami rahasianya.”
“…Jangan
sekali-kali sampaikan ini kepada Agnes, ya? Dia benar-benar tidak tahu apa-apa.”
“Aku
mengerti. Aku takkan membicarakannya.”
Setelah
aku mengatakan itu, Aldi menarik napas dalam-dalam sebelum mulai berbicara
dengan serius.
“…Ada
satu kalimat yang disembunyikan oleh penyihir dalam hal ini. Isinya adalah
bahwa anggota keluarga kerajaan bersekutu dengan iblis hanya untuk memuaskan keinginan mereka sendiri.”
※※※※
“…Oh,
apa kalian sudah selesai?"
Beberapa
menit setelah mendengarkan penjelasan Aldy,
Agnes mengusap matanya dan bertanya demikian. Sepertinya Agnes benar-benar
tidak ingat apa-apa seperti yang dikatakan Aldy.
“Ah,
iya, Nona Valen, terima kasih banyak kali
ini.”
“Kalau
begitu, aku senang. Ngomong-ngomong, apa Aldy
melakukan hal yang tidak sopan kepada Ash-san dan yang lainnya?”
Hal yang
tidak sopan… Mungkin meletakkan kaki di meja termasuk hal yang tidak sopan. Sementara aku tidak terlalu
mempermasalahkan hal itu, tubuh yang saat itu ada adalah tubuh Agnes, jadi apa
sebaiknya aku membicarakannya?
Untungnya,
sosok itu tidak terlihat oleh orang lain karena dirinya
berada di belakang Fine, atau setidaknya aku berharap begitu.
Tapi…
(Suasana
pembicaraan saat itu membuatku tidak bisa
menyelanya, tapi saat itu, celana dalam
Agnes terlihat dari bawah roknya…)
Aku tidak
tahu apakah makhluk sihir seperti Aldy
memiliki jenis kelamin, tetapi melihat penampilan, suara, dan nada bicaranya
dalam mimpi, ia tampak memiliki kepribadian yang maskulin.
Selain
itu, sepertinya sudah lama sejak dirinya
berwujud di dunia nyata. Jadi,
Aldy mungkin telah melupakan bahwa
tubuh yang dia pinjam adalah tubuh wanita.
…Mungkin.
“Ti-Tidak?
Enggak ada sama sekali, kok?”
“Be-Benarkah? Apa beneran tidak ada!?”
“Y-Ya. Beneran tidak ada sama sekali. Iya ‘kan, Fine?!”
“Eh!?
U-Umm, dari sudut pandangku, kurasa
tidak ada yang terlalu mencurigakan…”
Agnes tampak kebingungan seolah-olah dirinya tidak
tahu siapa yang harus dipercaya setelah jawabanku yang samar dan ekspresi
bingung Fine.
“Ah,
ngomong-ngomong tentang imbalan, apa yang sebaiknya aku berikan? Uang, barang
yang diinginkan, tempat yang ingin dikunjungi, apa pun itu, aku ingin memenuhi
harapanmu, jadi jangan ragu untuk memberitahuku.”
“Um,
baiklah. …Oh, aku tahu!”
Demi
mengubah topik pembicaraan, aku membahas soal imbalan dan Agnes mengeluarkan tasnya dan
mencari-cari di dalamnya, lalu mengeluarkan sebuah brosur yang menggambarkan
bangunan yang tampaknya merupakan hotel resor yang direnovasi dari kastil
tua.
“Ini adalah hotel resor yang akan dibuka
nanti. Aku ingin pergi ke sini bersama Fine-chan. Apa itu tidak masalah…?”
“Aku
sih tidak masalah, tapi…”
Fine bergumam demikian sambil melihat wajahku. Harga yang tertera di brosur
memang cukup mahal, tetapi masih dalam jangkauan yang bisa kami bayar.
“Baiklah.
Aku akan menanggung biayanya.
Beritahu aku jika kamu sudah memutuskan kapan kamu ingin pergi."
“Terima
kasih banyak!”
Melihat
wajah Agnes yang bahagia,
aku juga merasa ikutan
lega.
“Kalau
begitu, mari kita makan siang. Oh iya,
mumpung sekalian, aku juga akan mentraktirmu makan siang.”
“Eh,
apa boleh──”
Di situ,
Agnes tiba-tiba terhenti saat melihat wajah Fine.
“Ah,
aku menghargai niat baikmu,
tetapi sebenarnya aku sudah berjanji dengan teman-temanku… Jadi, aku mohon
maaf, hari ini aku harus pergi!”
“Eh,
oh…”
Agnes
tampak panik saat berdiri dan berjalan menuju Fine sambil membawa tasnya.
“…Fine-chan,
selanjutnya bersenang-senanglah sebagai
pasangan baru.”
“!!?”
Kemudian,
Agnes membisikkan sesuatu di telinga Fine dan pergi meninggalkan tempat
teras.
“Fine,
ada apa?”
“Bu-Bukan
apa-apa! Seriusan tidak ada
apa-apa, jadi tolong, jangan terlalu menyelidiki…!”
Wajah
Fine kelihatan memerah dan dia bertingkah sedikit mencurigakan. Namun sepertinya bukan karena ada
yang berkata buruk, ekspresinya menunjukkan campuran antara senang dan
malu.
Mungkin
Agnes telah mengatakan sesuatu yang membuatnya malu?
(Yah, dia
sudah bilang untuk tidak menyelidiki, jadi sebaiknya aku menuruti permintaannya.)
Dengan
pemikiran itu, aku memutuskan untuk hanya mengamati Fine yang dengan sedikit
gugup mengeluarkan kotak makan siangnya dari dalam
tas.
“Si-Silakan! Makan siang hari ini
adalah sandwich!”
Entah
untuk menyembunyikan rasa malunya atau tidak, Fine membuka tutup bekal kotak makan dengan sedikit
berlebihan. Yang
pertama menarik perhatian saat aku melihat ke dalam adalah sandwich teriyaki
yang berisi sayuran dan daging yang dibumbui manis dan pedas.
Selain
itu, ada banyak lauk yang juga memperhatikan aspek nutrisi, semuanya dengan
rasa yang kusukai,
benar-benar terlihat menggugah selera.
“Terima
kasih seperti biasa, Fine. Aku sangat
menyukai ini.”
“Sa-Sangat suka…!”
Saat aku mengucapkan
terima kasihku seperti
biasa, kedua pipi Fine kembali memerah dan entah kenapa dia tampak
sedikit kikuk.
“Ada
apa, Fine?”
“Bu-Bukan
apa-apa! Yang lebih penting ;agi,
perutmu pasti sudah lapar, ‘kan!?
Silakan makan!"
“Y-ya…”
Sebenarnya
aku memang lapar, jadi aku akan menikmati makan siang seperti yang dia katakan. Dengan pemikiran itu, aku
mengambil sandwich melalui serbet kertas yang disiapkan Fine dan menggigitnya
dengan penuh semangat.
“Enak
sekali…”
Rasa
manis dan pedas dari saus teriyaki menyebar di dalam
mulutku, sensasi sayuran yang segar, dan rasa daging yang
kaya. Rasanya benar-benar enak sekali, seolah-olah aku bisa makan berapa pun tak peduli seberapa banyaknya.
Dan fakta
bahwa makanan yang begitu lezat ini dibuat oleh wanita yang aku cintai semakin
menambah kebahagiaanku.
“Ah,
ada saus yang menempel di
mulutmu.”
Saat aku
terbenam dalam kebahagiaan, Fine mengulurkan
tangannya yang memegang serbet kertas. Sebenarnya aku bisa mengelapnya sendiri, tetapi lebih
menyenangkan jika Fine yang melakukannya, jadi aku tidak mengatakan
apa-apa.
“…Hmm.”
Saat aku
berpikir begitu, tiba-tiba aku merasakan
sensasi hangat di pipiku. Aku segera
menoleh, dan serbet kertas yang dipehang Fine
tetap putih. Wajahnya justru semakin
memerah.
“…Fine,
jangan-jangan kamu barusan…”
“To-Tolong
jangan katakan itu.”
Fine yang
malu-malu terlihat sangat menggemaskan,
dan aku hampir melanggar batas, tetapi aku berhasil menahan hasratku dengan
akal sehat. Namun,
menahan perasaan ini sepenuhnya juga sepertinya tidak baik untuk tubuhku…
Baiklah.
“…Mari
kita lanjutkan setelah pulang, ya?”
“Hya,
hya…!”
Setelah
aku berbisik di dekat telinganya,
wajah Fine kembali memerah seperti udang rebus.
Aku
menikmati makan siangku sambil menikmati seberapa menggemaskannya Fine.
※※※※
“Aku
pulang.”
“Ka-Kami
pulang.”
Setelah
sekolah hari itu, aku pulang bersama Finne dan pergi ke ruang tamu, meregangkan
badan dan bersantai sepuas hatiku. Minggu
ini baru saja dimulai, tetapi pergi ke sekolah selalu membuatku merasa
lelah.
Ditambah
lagi, ada kesenangan yang menanti di rumah, yang membuat rasa tegangku semakin
besar.
“…Loh? Apa Aisha-chan masih belum pulang?”
Seharusnya
sekolah Aisha selesai lebih awal dibandingkan Akademi Sihir Kerajaan. Apa dia bermain di rumah
temannya, atau mungkin singgah di suatu tempat?
Haruskah
aku mencarinya…?
“…Aku pulang!”
Saat aku
berpikir demikian, aku mendengar suara Aisha dari belakangku. Aku menoleh dan melihat Aisha
dengan ekspresi lesu.
“Selamat
datang kembali, Aisha-chan.”
“Selamat
datang. Kenapa kamu pulang
terlambat? Apa ada sesuatu?”
“T-Tidak! Aku hanya lelah dan
berjalan lambat, tidak terjadi apa-apa!”
Aisha
menggelengkan kepala, bersikeras bahwa tidak ada yang salah. Dari reaksinya, ada kesan bahwa
dia sangat berusaha untuk meyakinkan, membuatku khawatir apakah sebenarnya ada sesuatu yang terjadi.
“Hei,
Aisha──”
Ketika
aku berniat memanggil Aisha, tiba-tiba terdengar suara bel pintu dan suara
seseorang dari arah pintu masuk.
“Permisi, maaf
mengganggu. Apa Lord Weiss ada di rumah?”
“Fine,
tolong jaga Aisha.”
“Baik,
aku mengerti.”
Untuk saat
ini, aku harus berurusan dengan seseorang di balik pintu depan. Meskipun dengan perasaan enggan, aku memutuskan
untuk bergegas dan membuka pintu.
“Ya?”
“Maaf
atas kunjungan mendadak ini. Apakah Ash Raven Weiss ada di sini?”
“…Aku
Ash.”
Di depan
pintu, ada seorang pria muda berpakaian jas rapi, dengan lencana yang
menunjukkan bahwa dia adalah pejabat tinggi dari istana kerajaan.
“Maafkan
aku. Namaku
Cristlight dan aku utusan yang
dikirim dari istana. Aku datang untuk menyampaikan undangan ini.”
Pria yang
memperkenalkan dirinya sebagai Cristlight itu mengulurkan surat yang disegel
dengan lilin yang memiliki lambang keluarga kerajaan.
“Surat
ini berisi undangan untuk pertemuan yang akan diadakan di kastil besok malam.
Selain itu, yang mulia Putri
ingin segera bertemu dengan Lord Weiss. Mohon maaf, tapi Anda memiliki hak untuk menolaknya.”
Cristlight
kemudian memberitahu demikian
dengan wajah dingin dan tanpa emosi seperti boneka.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
