Chapter 12 — Mengunjungi Istana Kerajaan
“Baiklah…”
Pada sore
hari berikutnya. Setelah
mengganti pakaian di rumah untuk acara malam, aku memeriksa penampilanku di
cermin untuk memastikan tidak ada yang salah, lalu menuju ruang tamu.
“Hee~,
kamu kelihatan cocok!”
Aisha
yang duduk di sofa dengan seragam sekolah dan tampak bosan, berkata dengan nada
sedikit meremehkan.
“Ya, ya, terima kasih. Fine ada di mana?”
“Sepertinya
dia sedang mencari sesuatu. Ngomong-ngomong, Fine-chan kelihatan menakjubkan dalam balutan gaun itu. Dia seperti gadis
cantik yang melompat keluar dari lukisan!”
“Keluar.
Kenapa kamu mengatakannya dengan cara yang kedengarannya mesum
sih?”
Sambil
menghela napas mendengar kata-kata Aisha, aku mengeluarkan undangan dari putri—Yang
Mulia Putri Leticia. Karena apa yang dikatakan utusan
itu, Cristlight, kami
bolos sekolah hari ini dan menunggu kereta menjemput kami dari istana kerajaan.
“Ngomong-ngomong,
yang mulia Putri juga sangat dermawan, ya. Dia bukan hanya mengundang hanya Onii-chan saja, tapi
juga Fine-chan dan aku segala.”
Benar, entah
kenapa, Putri Leticia ingin bertemu bukan
hanya denganku tetapi juga dengan Fine dan Aisha. Aku bisa memahami jika dia ingin bertemu denganku
dan Fine mengingat latar belakang kami selama enam bulan terakhir, tetapi
mengapa dia juga ingin bertemu Aisha, yang merupakan anak seorang penjahat, rasanya benar-benar tidak
masuk akal.
“Kenapa
wajahmu terlihat serius begitu~?
Apa ada sesuatu yang mengganggumu?”
“Orang
dewasa memiliki banyak hal yang dipikirkan. Lagipula, kamu juga tampaknya
sering terlihat murung akhir-akhir ini. Apa ada seseuatu
yang mengganggu atau membuatmu khawatir?”
“Entahlah~,
mungkin hanya perasaan Onii-chan
saja?”
Aisha
menjawab dengan nada suara yang lebih rendah dan terlihat tidak senang. Mana mungkin itu hanya perasaanku belaka.
“Kamu
tidak sedang dibuli, ‘kan?”
“Enggak,
kok. Benar-benar tidak ada yang perlu
dikhawatirkan."
Aisha
mengalihkan wajahnya, menunjukkan bahwa dia tidak ingin membicarakan hal itu
lebih lanjut. Ada
suasana yang jelas menunjukkan bahwa ada sesuatu
yang terjadi, tetapi aku tidak bisa
memaksanya untuk berbicara. Untuk saat ini, sepertinya lebih baik untuk
mengamati saja.
“Maaf sudah membuat kalian menunggu!”
Pada saat
itu, Fine muncul dengan tergesa-gesa setelah mengganti pakaiannya menjadi
gaun.
“Tidak
apa-apa, kita masih ada
waktu sebelum kereta jemputan datang.”
“Begitukah?
Oh, apa penampilanku kelihatan aneh?
Bagaimana dengan cara bicaraku dan sopan santun…!?”
Mungkin
karena dia akan menghadap Putri Kerajaan,
Fine tampak sangat cemas.
…Atau
mungkin, karena statusnya sebagai bangsawan, dia menjadi
teringat trauma Alberich dan khawatir jika dia melakukan
kesalahan, hari-hari menyedihkan itu akan kembali.
“Tenang
saja. Kamu
kelihatan sangat cantik, dan jika kamu tetap tenang seperti
biasanya, semuanya akan baik-baik saja.”
“...Be-Benarkah?”
“Beneran.
Jadi, ayo, santai saja.”
Aku
mengelus kepala Fine untuk menenangkannya.
“Seperti
yang dikatakan Ash-oniichan,
kamu kelihatan sangat cantik, Fine-oneechan!”
Aisha
berkata dengan senyum lebar, lalu langsung memeluk Fiene dengan erat.
“…Terima
kasih.”
Fiene
yang menerima pelukan Aisha pun tersenyum. Pada saat yang sama, aku melihat
ke luar jendela, dan sebuah kereta limusin bertanda lambang kerajaan Lacresia
yang pernah kami naiki saat menghadiri pertemuan melintas, diikuti oleh suara
bel pintu yang berbunyi.
“Yuk,
Onii-chan, Onee-chan, ayo cepat pergi!”
Aisha
yang melepaskan pelukannya pada Fine menggenggam tangan kami berdua dan menarik
kami menuju pintu masuk. Namun,
senyum Aisha berubah menjadi tampak tegang sejak dia memeluk Fine, dan aku
merasakan kecemasan yang kuat darinya.
Lagipuka,
aku dan Fine, akan melakukan kunjungan kedua menuju
istana kerajaan, sementara
Aisha akan melakukan kunjungan pertamanya.
※
※ ※
(Sudut
Pandang Aisha)
(Aku
sudah bertindak begitu percaya diri di depan Ash-oniichan dan Fine-chan, tapi
aku masih gugup...…)
Saat aku
duduk di kereta di sebelah Fine-chan, aku merasa ingin muntah.
Putri
adalah karakter yang hanya muncul namanya di permainan dan buku panduan. Jadi, aku tidak bisa menggunakan
pengetahuan dari sumber aslinya, dan mungkin Onii-chan
juga merasakan hal yang sama.
Selain
itu, sepertinya mereka menyadari bahwa aku sedang menghadapi banyak masalah,
dan aku bertanya-tanya seberapa jauh aku bisa berpura-pura ceria…
Bahuku
terasa berat. Kepalaku sakit. Napasku terasa sesak.
Aku
benar-benar ingin meninggalkan semuanya dan melarikan diri. Lagipula, meskipun aku mencoba,
tidak ada jaminan bahwa ‘Onii-chan’
akan kembali...…
(Ti-Tidak! Aku tidak boleh jadi pesimis begini…!)
Jika aku
pergi menuju istana kerajaan dengan
perasaan seperti ini, aku hanya akan
merepotkan Ash-oniichan dan yang
lainnya. Aku harus
memikirkan sesuatu yang menyenangkan dan mengusir perasaan suram ini…!
Dengan
pemikiran itu, aku berusaha keras untuk mengalihkan pikiranku. Namun, meskipun aku berusaha,
tentu saja tidak berjalan dengan baik…
“Aisha-chan, kamu baik-baik saja?”
“…Ya,
aku baik-baik saja.”
Pada akhirnya,
karena aku tidak bisa memikirkan hal lain, saat kami tiba di istana kerajaan, mentalku sudah
benar-benar terkuras, dan Fine-chan
pun mulai khawatir padaku.
Penampilan Fine-chan dengan rambutnya yang diikat di
belakang dan mengenakan gaun yang berkilau seperti langit berbintang, memang
sangat cantik, tetapi suaranya terasa akrab bagiku…
Ugh, jika
ini diriku yang dulu, hanya dengan keberadaan gadis cantik di dekatku, aku
pasti sudah merasa lebih baik.
“Tuan
Ash Leben Weiss, Nona Fiene Staudt, dan Nona Aisha Leben. Selamat datang, kami menyambut kedatangan Anda.”
Saat aku
berpikir seperti itu, seorang pria dengan penampilan khas pelayan, yang
memiliki wajah dingin hingga membuatku ragu apa dirinya benar-benar hidup, menyambut
kami.
“Anda
pasti lelah setelah perjalanan. Kami telah menyiapkan kamar, jadi silakan
beristirahat di sana sampai kami memanggil Anda.”
Sembari
mengatakan itu, pria yang mirip pelayan itu menempatkan tangan kanannya di dada
dan membungkuk dengan anggun, lalu mengantar kami ke kamar.
Di dalam
kamar, ada ruang pribadi untuk tamu beristirahat, jadi aku memutuskan untuk
menghilangkan kelelahan yang telah menumpuk selama perjalanan.
…Namun,
tepat saat aku berpikir demikian.
“Dan
untuk Nona Aisha Leben, Putri
Leticia ingin segera bertemu dengan Anda. Mohon maaf, tetapi Anda harus ikut
dengan saya.”
Pelayan
itu berbicara dengan suara tanpa emosi sambil berdiri di antara aku dan
Ash-oniichan serta yang lainnya, mencegahku melarikan diri.
“…Tunggu
sebentar. Apa hanya Aisha saja yang
dipanggil?”
“Ya.
Yang Mulia ingin bertemu dengan Nona Aisha
berdua saja. Kami berharap Anda bisa memahaminya.”
“Kalau
begitu, setidaknya biarkan aku pergi ke ruangan di mana Putri Leticia berada──”
“Maaf.
Karena alasan keamanan, kami tidak
dapat memenuhi permintaan itu. Kami berharap Anda bisa memahaminya.”
Mendengar
itu, Ash-oniichan menunjukkan kekhawatiran
terhadapku. Namun,
pelayan itu hanya mengulangi jawaban mekanisnya dan sama sekali tidak
menunjukkan tanda-tanda mendengarkan kata-kata Ash-oniichan.
“Ja-Jangan
khawatir. Ash-oniichan
bisa menunggu bersama Fine-oneechan,
oke?”
“Aisha…”
Jika kami terus berdebat lebih jauh,
mungkin tidak ada yang bisa didapatkan Ash-oniichan.
Aku senang ia
mengkhawatirkanku seperti ‘Onii-chan’,
tapi hanya itu saja.
Jadi, aku
menekan perasaan cemas dan keinginan untuk meminta
bantuan, lalu memberitahu Ash-oniichan bahwa aku baik-baik saja,
sebelum berbalik menghadap pelayan itu.
“…Aku
akan pergi. Tolong bawa aku ke tempat Yang Mulia Putri.”
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
