Chapter 11 — Sesuatu yang Bisa Membuatku Terpesona
“Uuh...!
Akhirnya selesai!”
Suara
teriakan Haru menggema di seluruh kelas.
“Selesai!”
“Kerja
bagus. Gimana?”
“Semuanya
terasa lancar berkat Nagacchi!
Dengan begini, aku yakin bisa mendapatkan nilai
rata-rata.”
“Itu
tergantung pada hasil teman-teman yang lain...”
Haru
menggenggam pergelangan tanganku dan dengan senang hati mengayunkannya. Setelah bosan, dia kemudian
memeluk Tsukino.
“Wah,
rasanya luar biasa! Pacar Tsukino memang terbaik!”
“Tu-Tunggu...!
Haru?”
“Enggak
apa-apa, ‘kan? Karena
kenyataan memang begitu!”
Melihat
semangat Haru yang tinggi, Tsukino hanya bisa tersenyum kecut.
Untuk saat
ini, aku membiarkan dia bersenang-senang saja. Kami juga merasakan hal yang
sama.
“Aku
juga bisa menyelesaikan semuanya berkat Nagai. Terima kasih.”
“Sama-sama...
Aku sebenarnya paling khawatir tentangmu, tapi melihatmu seperti ini sepertinya
baik-baik saja.”
“Haha,
ngomong-ngomong meskipun aku bilang bisa menyelesaikan semuanya, aku tidak
yakin kalau jawabanku benar.”
“Itu malah
jadi sia-sia dong.”
Meskipun
ia mengatakan tidak yakin, kenapa ia justru
terlihat sangat percaya diri?
Jila melihat
dari ujian kali ini, semua soal sudah dipersiapkan. Meskipun begitu, sepertinya
Kijima tidak mendapatkan nilai yang terlalu buruk.
“Hei...
kenapa Yukikawa dan yang lainnya tidak lagi bergaul dengan Yamanaka?"
“Entahlah?
Dengar-dengar mereka bertengkar...”
“Eh?
Padahal mereka sangat akrab...”
“Begitukah?
Sepertinya awalnya Yukikawa dan yang lainnya yang lebih menyesuaikan.”
Tiba-tiba,
aku mendengar percakapan itu entah
dari mana.
Di sudut
kelas, ada Yamanaka dan Watanabe duduk di
tempatnya dengan wajah yang terlihat canggung.
Gambaran
mereka yang berbicara keras di tengah kelas kini sudah tidak ada. Sepertinya
mereka tidak berniat untuk bergaul satu sama lain, jarak di antara mereka cukup
jauh. Kebanggaan yang membuat mereka tidak ingin mendekati satu sama lain
semakin menambah kesedihan.
Sebaliknya,
aku semakin sering berada bersama
Tsukino dan yang lainnya, dan anehnya mulai menarik perhatian.
Sepertinya
mereka masih merasa kalau diriku
belum layak berada di sana.
────
Tidak apa-apa. Suatu saat aku
akan menunjukkan perubahan.
Aku mengucapkannya
dalam hati.
“Hei,
bagaimana kalau kita berempat pergi karaoke?”
Sama
seperti peristiwa ‘hari itu’, Haru mengajukan usulan
tersebut.
“Mulai
sekarang, kita bisa menyanyi lagu anime sebanyak
yang kita mau, dari yang bernuansa nostalgia hingga yang
terbaru! Kita harus pergi!”
“Bagus,
aku setuju.”
“Ya,
aku juga.”
Ketiga
orang yang antusias itu menatapku.
Tidak
perlu lagi ragu. Aku juga
mengangguk dengan percaya diri kepada mereka.
◇◆◇
“Hah,
tenggorokanku jadi sakit sekali...”
“Eh...
aku juga.”
Setelah
bernyanyi habis-habisan, kami keluar dari karaoke dengan kelelahan. Lima jam bernyanyi nonstop memang
sangat melelahkan.
Saat
berkumpul hanya dengan para otaku, suasananya memang berbeda. Kami tahu hampir
semua lagu, dan meskipun tidak tahu, kegiatan promosi lagu pun dimulai.
Akibatnya, tenggorokanku terasa kering. Sepertinya aku harus membeli permen
tenggorokan saat pulang.
“Karena
rasanya sudah capek banget,
mungkin kita harus bubar
hari ini.”
Sekolah
selesai di pagi hari, dan setelah makan siang, kami berkaraoke tanpa henti hingga saat
ini.
Kehidupan
SMA ideal yang tidak pernah aku bayangkan ada di sini.
“Besok
kita langsung mulai membuat kostum,
ya. Semangat!”
“Kamu
hampir tidak punya pekerjaan, kali...”
Haru
menepuk Kijima.
Mulai
besok, kami akan benar-benar membuat kostum.
Meskipun
begitu, aku dan Kijima hampir hanya menjadi pengamat. Jika ada yang bisa kami
lakukan, mungkin hanya pekerjaan berat dan setidaknya
membuatkan minuman teh.
“…Mulai
besok, terima kasih ya, kalian bertiga.”
Tsukino
berkata demikian, dan kami mengangguk.
Ini
adalah pembuatan kostum yang pertama kali dan serius.
Pasti ada
banyak kesulitan yang menanti.
Tapi, aku
yakin kami bisa bersenang-senang hingga akhir.
──── Ada
masa ketika aku juga berpikir seperti itu.
“Oi,
kamu! Ini goyang dan miring! Jahitannya jadi
kentara banget! Ayo kerjakan ulang!”
“I-Iya...!”
Suara
marah Haru menggema di kamarku.
Sebelum
membuat kostum, Tsukino belajar teknik dasar dari Haru. Aku tidak menyangka bahwa
semuanya akan dimulai dari sini. Namun, ini memang sesuatu yang harus dikuasai.
Jika berkompromi, pasti akan mempengaruhi kualitas akhir.
“Jadi inilah yang namanya hubungan guru dan murid. Aku jadi belajar banyak.”
“Kamu
masih sama seperti biasanya, aku iri
padamu...”
Kijima
mengamati mereka berdua dengan mata berbinar, seolah suasana tegang ini adalah
bahan berharga baginya.
“Bagus...
yah mungkin kamu mulai bisa menggunakan mesin
jahit. Sekarang, kita latihan menggunakan gunting kain.”
“Eh... aku harus masih latihan!?”
“Tentu
saja! Kain itu tidak tak terbatas, jadi kita harus berlatih agar tidak gagal!”
“Benar
juga...”
Tsukino
yang seketika dipatahkan argumennya mulai belajar cara menggunakan gunting
kain. Sepertinya
hari ini akan dipenuhi dengan sesi latihan.
“Bagaimana
kalau kalian semua tinggal di sini sampai
kostumnya selesai? Bolak-balik dari rumah ke sini setiap hari itu merepotkan, jadi lebih baik fokus dan
menyelesaikannya sekaligus—”
“Eh,
emangnya boleh!?”
“Eh?
Ah, ya... jika semua setuju.”
“Hebat!
Ini seperti kemping latihan
otaku!”
Melihat
Haru yang bersemangat, aku merasa bingung. Padahal
aku hanya mengatakannya
dengan niatan bercanda, tapi Haru tampaknya sangat
antusias.
“…Meskipun
ini usulan dariku, tapi apa orang tua kalian akan mengizinkannya?”
“Yah, kurasa mustahil melakukannya setiap hari.
Tapi, kurasa mereka akan mengizinkanku
jika hanya di akhir pekan.”
Tak disangka
orang tuanya cukup toleran. Itu menunjukkan bahwa Haru begitu dipercaya.
“Aku sangat
bersyukur bisa menginap di sini. Aku
tidak akan kesulitan menemukan materi di sini, dan aku yakin bisa membuat kemajuan yang
baik pada naskahku.”
“Ah,
silakan gunakan sebanyak yang kamu mau.”
Jika apa
yang aku kumpulkan bisa menjadi bekal bagi seorang komikus sukses di masa
depan, itu sudah cukup memuaskan bagiku.
“Baiklah,
kalau begitu... Tsukino! Mari kita lanjutkan latihan!”
“Eh?
Mau lanjut lagi? Padahal aku masih
capek────”
“Jangan
mengeluh! Berkat Nagachi, kita punya waktu lebih, jadi kita harus lebih teliti
dari dasar!”
“Ugh...”
Melihat
ekspresi putus asa Tsukino, aku tidak bisa menahan tawa. Sekarang, aku juga harus fokus
pada apa yang ingin kulakukan.
Supaya
tidak ketahuan oleh ketiga orang itu, aku membuka sebuah katalog di
ponselku.
◇◆◇
Waktu
berlalu dan kini sudah memasuki bulan Juni. Sekolah kami mulai menggunakan
seragam musim panas dari bulan Juni. Sudah
beberapa hari sejak kami pertama kali mengenakan seragam musim panas.
Mereka
masih berkumpul di kamarku.
“…!”
Dengan
tatapan serius, Tsukino memasukkan benang ke dalam kain yang dipegangnya. Dia dengan
hati-hati melanjutkan pekerjaannya, dan akhirnya sebuah gaun cantik dengan
ruffle yang imut selesai dibuat.
“…Selesai!”
Tsukino mulai mengumumkan sambil membentangkan gaunnya.
Kami yang
menyaksikan momen penyelesaian itu bersorak bersamanya.
“~~~~~~!
Kamu akhirnya berhasil,
Tsukino!”
“Kurasa itu
cukup bagus!”
Haru dan
Kijima berkumpul di sekitar Tsukino, dan aku juga ikut mendekat.
“Menakjubkan...
mirip seperti yang asli.”
Gaun yang
dipegang Tsukino memiliki bobot yang solid dan kualitas yang mengesankan.
Tentu
saja, jika dilihat dari dekat, masih ada beberapa kekurangan. Jahitannya ada
yang lepas, dan beberapa kesalahan terlihat. Namun, itu semua merupakan hal yang sepele.
“Lapisan
dalamnya juga kelihatan bagus!
Senang banget warnanya bisa merata!”
“Ya...
ini adalah bagian favoritku.”
Desain pada bagian dalam rok merupakan hasil lukisan Tsukino dengan cat
kain.
Pada awalnya,
kupikir kami tidak punya pilihan selain
meminta bantuan profesional, tapi ternyata semuanya bisa diatur.
“Mau
langsung coba memakainya?”
“Ti-Tidak, itu sih agak....”
“Eh!?
Kenapa! Padahal kostumnya sudah
selesai, lho!”
“Aku
merasa... gugup dan tegang...”
“Tidak,
tidak! Kita enggak bakalan tahu
apa-apa kalau kamu tidak
mencobanya!”
“Ah...!”
Haru
mendorong Tsukino ke arah kamar tidur. Aku
juga tidak sabar untuk melihat hasilnya setelah sampai sejauh ini.
Bersama
Kijima, aku memutuskan untuk menunggu Tsukino selesai berganti pakaian.
────
Sudah sekitar satu jam berlalu.
Cosplay
bukan hanya tentang mengganti pakaian; bahkan riasanmu pun harus sempurna.
…Sepertinya
mereka sedang serius merias wajah sesuai dengan prinsip Haru.
Lalu, apa
yang harus kami lakukan?
Saat aku dan Kijima saling memandang, tiba-tiba pintu kamar tidur terbuka, dan
hanya Haru yang kembali ke ruang tamu.
“Gawat,
bahaya banget... mungkin seorang cosplayer luar biasa telah
lahir...”
““....?””
“Jangan
terkejut saat melihatnya, kalian! …Tidak, lebih baik terkejutlah! Tapi jangan
sampai ada keluhan!”
Sambil
berkata begitu, Haru membuka pintu kamar tidur lagi.
Akhirnya,
Tsukino muncul di hadapan
kami.
“……”
“‘Kan!?
Gawat banget, ‘kan!? Gila banget, ‘kan!?”
Tsukino
yang mengenakan kostum yang dibuatnya sendiri tampak benar-benar layak disebut sebagai
dewi.
Gaun
bergaya boneka Eropa dengan rumbaian
dan bando kepala yang imut. Dekolte
yang terbuka menonjolkan dadanya yang indah, menarik perhatian siapa pun yang
melihatnya. Tingkat
kecocokan riasan di
wajahnya juga luar biasa.
Di sana,
ada Merry dari 'Marihare' yang
kami kenal.
“Ba-Bagaimana...?”
“Cocok
banget, Tsukino. …Kostum itu benar-benar sangat
cocok.”
Sebelum
orang lain bisa berbicara, aku secara refleks mengatakannya. Aku tidak bisa menyerahkan
kata-kata pertama itu.
“…Terima
kasih, Kentaro.”
Sambil
berkata begitu, Tsukino tersenyum bahagia dari lubuk hatinya.
“…Hah!
Aku benar-benar terpesona! Ayo, ayo, kita foto!
Hal seperti ini harus diabadikan!”
Haru
mengambil ponselnya. Melihat
itu, aku menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan sesuatu yang sudah aku
sembunyikan.
“…Bolehkah
aku....memotret Tsukino dalam kostum cosplaynya?”
“Kentaro,
itu...”
Benda yang
aku keluarkan adalah kamera DSLR.
Sementara
ketiga orang itu fokus bekerja, aku berpikir mungkin aku bisa sedikit membantu
dengan berlatih cara memotret. Aku telah melakukan banyak riset dan mulai
memahami beberapa teknik.
Sekarang,
aku bisa memotret dengan lebih baik dibandingkan dengan kamera ponsel. ────
Mungkin.
“Bukannya
itu kamera DSLR!? Kamu membelinya!?”
“Ini cuma model lama yang murah.”
Jika
bukan model lama, uang yang didapat Tsukino dan aku dari pekerjaan paruh waktu tidak
akan cukup untuk membelinya. Karena kamera
DSLR itu memang mahal.
“Jika
ada ini, aku bisa memotret cosplay dan juga membantu Kijima mengumpulkan
materi.”
“Nagai…!
Kamu ini benar-benar...!”
Kijima
mulai menangis bahagia.
Aku
sebenarnya hanya mengatakannya sebagai pelengkap dengan nada bercanda,
tetapi sepertinya dia mengerti maksudku.
“Tsukino...
bolehkah aku memotret?”
“……Ya. Aku
ingin Kentaro yang memotretku duluan.”
Aku
menyiapkan kameraku.
Jika ingin
memanfaatkan hasil belajarku, mungkin sebaiknya aku menyewa studio daripada di
tempat yang penuh dengan suasana kehidupan seperti ini.
Namun, saat
ini ini sudah cukup baik.
Ini lebih
mencerminkan diri kami.
“Kalau
begitu, aku akan memotret.”
Melalui
lensa kamera, aku menangkap sosok Tsukino.
Tsukino
terlihat sedikit malu dan memberikan senyuman padaku. Aku memanfaatkan momen
itu dan menekan tombol rana. Aku tidak akan pernah melupakan penampilannya hari
ini seumur hidupku.
◇◆◇
Beberapa
saat kemudian, setelah itu Haru dan Kijima pulang.
Sebenarnya,
Haru yang mencurigai bahwa kami berdua ingin menghabiskan waktu berduaan, jadi
dia membawa Kijima pergi. Bukannya aku terburu-buru ingin berduaan saja, tapi
aku merasa sangat berterima kasih untuk itu.
Aku memiliki
banyak hal yang ingin dibicarakan dengan Tsukino.
“Terima
kasih, Kentaro. Karena sudah menemaniku sampai sejauh ini.”
“Eh?”
Tsukino yang
duduk di sampingku mendekatkan tubuhnya padaku. Aku merasakan aroma harum dan
segar. Meskipun kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih, aku masih perlu
waktu untuk terbiasa dengan jarak ini.
“Tak
kusangka kalau membuat kostum rasanya seru dan menyenangkan. Tingkat
penyelesaiannya... yah, bisa dibilang sedikit kurang sih.”
Tsukino
melihat kostum Mary yang tidak bisa dipakai lagi.
Sesaat
setelah aku selesai mengambil fotonya, kostumnya robek dengan sempurna.
Sepertinya jahitannya kurang kuat, sehingga bagian dadanya terbuka. Itu adalah
momen yang cukup konyol, tetapi robeknya kostum bukanlah hal yang bisa
ditertawakan.
Mungkin itu
masih bisa diperbaiki, tetapi entah berapa lama waktu yang dibutuhkan────.
“Tapi,
penampilannya luar biasa!”
Aku menunjukkan
beberapa foto yang kuambil kepada Tsukino. Meskipun latar belakangnya biasa
saja, di sana ada Mary yang terabadikan.
“Tunggu.....Jangan
menunjukkannya terlalu jelas…!”
“Tapi
hasilnya bagus, ‘kan?”
“…Iya, sih.”
Mata Tsukino
berbinar ketika dia melihat dirinya di foto itu. Aku sendiri merasa itu adalah
foto yang luar biasa. Meskipun aku merasa sedikit kecewa karena masih ada ruang
untuk perbaikan...
“────Aku jadi
ingin melakukannya lagi.”
Aku terkejut
mendengar kata-kata itu.
“Habisnya, mana
mungkin aku akan mengakhirinya dengan hasil seperti ini, ‘kan? Jika aku bisa
lebih baik, mungkin aku bisa membuat kostum yang lebih sulit!”
Tsukino
berkata dengan semangat.
Dia ingin menekuni
sesuatu. Tsukino pernah mengatakan itu sebelumnya. Sepertinya, dia telah
menemukan sesuatu itu.
“Ketika
kostum berikutnya selesai, Kentaro harus memotret lagi.”
“Tentu. Aku
akan menjadi fotografer yang lebih baik saat itu juga.”
“Hmm, aku akan
menantikannya.”
Sambil
berkata demikian, Tsukino tiba-tiba menyenggol bahuku dengan bahunya.
“…Ngomong-ngomong.”
Tiba-tiba,
Tsukino teringat sesuatu dan berbisik.
“Ada apa?”
“Janji
sebelum ujian… aku benar-benar melupakannya.”
“Sebelum ujian…
ah!”
Sampai
ujian selesai, dia harus
menahan diri untuk tidak membuat kostum, dan setelah itu, aku akan memenuhi
semua permintaan.
Setelah
masa ujian berakhir, kami berdua
langsung sibuk dengan pembuatan kostum, jadi aku juga
benar-benar melupakannya.
“Kira-kira apa
yang harus aku lakukan ya... Jangan-jangan, janjinya
dibatalkan?”
“Te-Tentu saja enggak. Aku
akan menepati janjiku.”
“Asyik!”
Dengan
senyuman polos, Tsukino melakukan gerakan kemenangan.
“Sepertinya
kamu tidak bisa memikirkan apa-apa waktu itu...
tapi sekarang kamu ada ide?”
“Benar juga...”
Setelah
berpikir sejenak, Tsukino tiba-tiba tersenyum lebar.
Aku sangat mengenal senyumannya ini. Kapanpun Tsukino
menggodaku, dia selalu membuat ekspresi seperti ini.
“Kentaro,
coba dekatkan telingamu.”
“Eh?
Kenapa?”
“Sudahlah.”
Dengan enggan,
aku mendekatkan telingaku ke arah Tsukino. Meskipun tidak ada seorang pun yang menguping, Tsukino
sengaja berbicara pelan dan mengucapkan permintaannya.
“────O-Oi... kamu serius bilang begitu...!?”
“Serius.
Kamu akan mendengarkan apapun permintaanku,
‘kan?”
Tsukino
menyipitkan matanya sambil berkata demikian.
“...”
Aku
mencoba mencari jalan keluar, tetapi aku berhenti.
Jika aku
tidak bisa memenuhi permintaan kecil seperti ini, aku tidak layak menjadi pacar
Tsukino.
“…Baiklah.”
Dan kemudian,
aku mencium Tsukino yang memejamkan
matanya.
Kita
tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di dunia ini.
Hanya
dalam dua bulan, kehidupanku benar-benar berubah drastis.
Seharusnya
aku tidak pandai bersosialisasi, tetapi tanpa sadar, aku mendapatkan teman
terbaik dan pacar terbaik.
Besok,
lusa, dan seterusnya, kami akan berjalan bersama.
Mungkin ada
beberapa hal yang membuatku cemas, tetapi aku yakin
bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Selama
kami saling berpegangan tangan, tidak ada yang perlu ditakuti.
Sebelumnya |
Catatan: Mimin enggak tau apa LN ini udah selesai atau kena kapak karena udah enggak ada kabar sama sekali selama setahun, LN Romance kalau udah enggak ada kabar selama setahun lebih biasanya itu berarti enggak ada kelanjutannya.

