Chapter 15 — Tentang Nakayama-kun, Aku—
Satu
musim telah berlalu sejak aku benar-benar bertemu Nakayama-kun, dan selama
waktu itu, begitu banyak hal terjadi.
Untuk
pertama kalinya, seorang anak laki-laki menatap dadaku.
Untuk
pertama kalinya, seorang anak laki-laki memuji makanan yang kubuat.
Untuk
pertama kalinya, seorang anak laki-laki mengingat minuman favoritku.
Untuk
pertama kalinya, seorang anak laki-laki tidak menertawakan penampilan
canggungku.
Untuk
pertama kalinya, aku mengundang seorang anak laki-laki untuk datang dan
mendengarkan penampilanku.
Untuk
pertama kalinya, aku dipeluk oleh seorang anak laki-laki.
Untuk
pertama kalinya, aku digendong oleh seorang anak laki-laki seperti seorang
putri.
Untuk
pertama kalinya, seorang anak laki-laki menyiapkan barang keberuntungan khusus
untukku.
Ada begitu
banyak hal pertama yang kualami,
dan selalu Nakayama-kun yang memberiku kenangan-kenangan ini yang akan tetap
terpatri dalam hatiku.
“Hei,
Nakayama-kun. Bisakah kamu
membantuku dengan ini?”
“Aku
ada urusan, jadi minta orang lain. Teman masa kecilmu pasti cocok untuk
pekerjaan ini, kan?”
“Apa—!?”
“Kaisei.
Aku mengandalkanmu.”
“Oke.
Mika, apa kamu hanya
perlu aku menghitung ini?”
“Y-Ya. Benar. Bisa kamu melakukannya?”
“Tentu
saja.”
“!?”
“Maaf
sudah menunggu. Tanaka-san, ayo pergi."
“Oke.
Kalau begitu, aku akan pergi ke kantor guru.”
“Tanaka-san,
biarkan aku yang mengerjakan setengahnya. Terlalu banyak untuk satu orang, kan?”
Hari ini
juga, Nakayama-kun mengatakan itu, menatapku—karakter mob—bukannya ke putri, Haruno-san. Pandangan matanya lembut dan khawatir,
tatapan yang tidak pernah diberikan anak laki-laki lain kepadaku.
“Eh?
Tapi, Nakayama-kun, bukannya kamu
ada urusan?”
“Ya,
membantumu, Tanaka-san. Itu jelas-jelas
bukan beban yang berat untuk satu orang. Aku akan kesulitan jika ototmu sakit
lagi.”
“Duhh!
Tolong lupakan itu! Tapi… terima kasih.”
Aku sudah
lama mengetahui ia tipe orang seperti ini, tapi
kurasa aku tidak akan pernah terbiasa. Setiap kali, jantungku berdebar kencang,
dan aku hampir tidak bisa menahan diri.
“Ya.
Sama-sama.”
Namun, dirinya tersenyum begitu polos,
seolah-olah ia tidak tahu apa-apa. Ini benar-benar tidak adil. Tapi aku sama
sekali tidak membencinya. Bahkan, itu sangat menenangkan—sampai-sampai aku
ingin tetap berada di sisinya selamanya.
Saat
istirahat makan siang, ketika aku makan bersama Mikoto-chan, dia tiba-tiba
berbicara.
“Kamu tahu, Ta-chan. Akhir-akhir ini
suasana hatimu cukup baik.”
Karena
tidak mengerti apa yang dia bicarakan, aku hanya memiringkan kepalaku dengan kebingungan.
“Jadi
kau belum menyadarinya, ya~”
katanya, lalu mulai mencubit pipiku. Tidak sakit, tapi membuatku tidak bisa
makan, jadi aku berharap dia berhenti.
Aku
menatapnya dengan protes, tapi Mikoto-chan sepertinya tidak peduli, terus
menyentuh pipiku sambil bergumam, “Hmm~?”
Sepertinya
dia sedang berkonsentrasi pada sesuatu, dan tidak ada gunanya mengatakan apa
pun kepada Mikoto-chan ketika dia seperti ini. Aku pasrah dengan tingkahnya
sejenak, dan akhirnya, tangannya meninggalkan pipiku.
Setelah
beberapa saat, Mikoto-chan berkata, “Kurasa
ini semua berkat Nakayama, ya.”
“Ke-Ke-Kenapa kamu menyebut nama Nakayama-kun!?”
Aku tidak
pernah menyangka namanya akan keluar dari bibirnya. Aku benar-benar bingung.
Memang benar bahwa berkat dirinya,
aku lebih menikmati kehidupan
sekolah akhir-akhir ini, tapi aku belum pernah menceritakannya kepada
Mikoto-chan.
“Kufu,
aku sudah tahu~ Ini semua berkat Nakayama, iya ;kan?
Ta-chan, kamu gampang
sekali ditebak.”
“Ah,
auuu…”
Sepertinya
dia hanya setengah yakin, dan aku telah dipermainkan dengan sempurna. Yang bisa
kulakukan hanyalah menunduk saat temanku menyeringai nakal.
Tapi
Mikoto-chan tidak berniat melepaskanku. Dia menatap wajahku, bertanya, “Jadi, sejak kapan kamu mulai menyukainya?”
“...Bukannya…
aku menyukainya atau apa pun.”
“Ehhh~ kamu tidak perlu berbohong seperti
itu~”
“...Aku
tidak berbohong. Ini semua hal baru bagiku.”
“Ayolah,
kamu juga gadis remaja~.
Kamu pasti pernah naksir seseorang
setidaknya sekali sebelumnya… Tunggu, serius?”
“Kamu pasti bercanda?” Ekspresi Mikoto-chan seolah
berkata demikian. Aku hanya bisa mengangguk sebagai jawaban.
Benar
sekali. Sepanjang hidupku, aku belum pernah jatuh cinta pada seorang laki-laki.
Tentu saja, aku pernah menganggap seseorang baik atau keren, tapi tidak pernah
lebih dari itu. Itulah sebabnya
aku tidak tahu apa perasaan yang kurasakan untuk Nakayama-kun ini. Apa ini
cinta sejati? Atau sesuatu yang lain? Aku tidak bisa memastikannya.
Tidak,
tepatnya, aku tidak cukup percaya diri untuk yakin.
—Apakah
wajar bagi seseorang sepertiku untuk merasa seperti ini?
—Apa ada
orang lain yang memiliki perasaan padanya?
—Lagipula,
apa itu akan mengganggu Nakayama-kun?
Aku merasa sangat, sangat cemas tentang
semua ini.
“Tidak
apa-apa.”
Seolah-olah bisa melihat langsung kecemasanku,
Mikoto-chan dengan lembut menepuk kepalaku. “Aku
tidak tahu mengapa kamu kurang percaya diri, tapi Ta-chan, kamu gadis yang
menawan.”
“...Terima…
kasih.”
Namun,
sayangnya, kata-katanya tidak menghilangkan kecemasanku. Saat aku kebetulan
melirik ke jendela, aku melihat bayangan diriku sendiri yang biasa-biasa saja
di sana.
Apa aku
cukup menawan untuk menjadi pasangan
serasi Nakayama-kun?
Kecemasan
yang seharusnya mereda kembali menerjang lebih kuat dari sebelumnya, dan karena
tak tahan, aku mengalihkan pandanganku.
◇◇◇◇
Pada acara open day, aku
lebih gugup daripada yang pernah kurasakan seumur hidupku. Dan itu beralasan.
Hari ini adalah hari di mana Nakayama-kun akan mendengarku bermain.
“Tanaka-senpai,
apa kamu baik-baik saja?”
“Ak-Aku
baik-baik saja.”
Mana mungkin
aku tidak merasa gugup.
Mengapa aku membuat pernyataan yang begitu berani tentang memberikan penampilan
sempurna hari itu? Aku belum pernah sekali pun berhasil menyelesaikan penampilan
seperti ini tanpa membuat satu kesalahan pun.
Ah,
perutku benar-benar sakit. Apa ada kemungkinan Nakayama-kun tidak akan datang?
Dengan
berat hati, aku memasuki gimnasium dengan instrumenku, dan seperti yang
diharapkan, dia ada di sana. Nakayama-kun yang tepat waktu dan baik hati.
I-Ia
di sini!?
Kehadirannya
membuat kegugupanku melonjak ke puncaknya. Namun, bertentangan dengan perasaan
itu, ketika mata kami bertemu di seberang ruangan, aku mendapati diriku
tersenyum secara alami.
“Tanaka-senpai.
Apa jangan-jangan, orang itu pacarmu?”
“Bukan!
Ia hanya teman.”
Saat aku
berdiri di sana bingung dengan perubahan aneh dalam diriku ini, seorang junior
yang salah paham mulai menggodaku.
“Aku
merasa seperti akan muntah, jadi mengapa ini terjadi?”
Aku meletakkan
instrumenku di tempatnya dan mencoba menghangatkan tanganku, tetapi tanganku
sudah sedikit hangat. Fakta itu entah bagaimana sangat memalukan, dan aku
menggosok-gosokkan tanganku berulang kali.
Tak lama
kemudian, panggung telah siap, dan persiapan kami selesai. Kami masuk atas
isyarat guru kami, konduktor. Aku melirik ke sekeliling mencari Nakayama-kun,
tetapi aku tidak langsung menemukannya.
Aku akan
bersyukur jika dia berada di suatu tempat yang tidak bisa kulihat.
Sambil
menghela napas lega, aku mengangkat instrumenku saat konduktor mengangkat
tongkatnya.
Awalnya
berjalan lancar, kurasa. Aku tidak bisa sepenuhnya menghilangkan rasa
canggungku, tetapi berkat latihan berjam-jam, tidak ada kesalahan berarti.
“!”
Tepat
saat aku merasa lega, di tengah-tengah pertunjukan, aku membuat kesalahan—satu
nada, setengah nada lebih rendah dari seharusnya.
Aku
sangat malu karena gagal setelah menyatakan akan memberikan penampilan yang
sempurna. Tapi jika aku membiarkannya memengaruhiku di sini, aku tahu aku hanya
akan membuat lebih banyak kesalahan.
Entah
bagaimana aku berhasil menjaga ketenangan dan terus bermain dengan putus asa,
mengikuti arahan konduktor.
““Terima
kasih banyak!””
Pada
akhirnya, aku berhasil menyelesaikan seluruh pertunjukan hanya dengan satu
kesalahan itu. Walaupun tidak
sempurna, tapi itulah penampilan terbaik dalam kehidupanku, dengan kesalahan paling
sedikit yang pernah kubuat.
Ketika
aku berbalik menghadap penonton, aku melihat Nakayama-kun duduk di sana,
bertepuk tangan bersama penonton lainnya. Aku cemas apa ia mendengar
kesalahanku, tetapi lebih dari itu, rasa puas yang luar biasa menyelimutiku
karena telah memberikan yang terbaik untuknya.
“...Aku
berhasil.”
Aku
membuat pose kemenangan kecil, sangat kecil sehingga tidak ada yang akan
memperhatikannya.
Tepat
setelah aku selesai menyimpan instrumenku, aku mendengar suara memanggil
namaku.
“Hei!
Sumika-chan.”
Aku
secara refleks mendongak, terkejut melihat Matsukaze-kun, teman sekelas dari
SMP yang tidak pernah kusangka akan kutemui lagi.
“Ah,
Matsukaze-kun. Sudah lama sekali.”
“Memang
sudah lama. Kamu masih
di klub orkestra seperti di SMP, ya. Penampilanmu barusan luar
biasa.”
“Terima
kasih.”
Kenapa kamu di sini? Dan kenapa kamu memanggilku dengan nama depanku
barusan?
Sembari
pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepalaku, aku berhasil menjawab. Di
sudut pandanganku, aku melihat Nakayama-kun menjauh. Dirinya mungkin melihatku berbicara
dengan seorang kenalan dan bersikap pengertian. Tapi aku punya firasat buruk
dan hendak mengejarnya secara naluriah ketika Matsukaze-kun berbicara lagi. “Jadi,” dia memulai, sehingga aku tidak bisa pergi.
Aku hanya
perlu menjelaskannya dengan benar nanti.
Dengan
berat hati, aku menyerah pada Nakayama-kun untuk sementara waktu dan mengalihkan
pandanganku kembali pada
Matsukaze-kun. Ia
menggaruk pipinya dengan malu-malu lalu mengatakannya.
“Sumika-chan,
kamu sekelas dengan Haruno-san, ‘kan? Apa kamu tahu info
kontaknya?”
Sama
seperti hari itu di masa SMP,
matanya tidak menatapku. Ia mungkin
menggunakan nama depanku untuk membuat seolah-olah kami dekat di mata siapa pun
yang melihat.
Dengan
begitu, akan jauh lebih sulit bagiku untuk menolak permintaannya. Jika aku
menolak, aku akan dianggap sebagai orang dingin yang mengabaikan teman lama.
Krek.
Saat aku
mengerti, retakan besar terbentuk di dalam diriku yang seharusnya sedang
sembuh.
Ah, sudah
lama aku tidak merasakan hal seperti ini.
Itu
adalah sensasi yang seharusnya sudah biasa kurasakan, tetapi rasa sakitnya
terasa lebih hebat dari sebelumnya.
...Ini
salahmu, Nakayama-kun.
Karena kamu selalu memandangku seperti
seorang perempuan, sepertinya aku mulai salah paham. Bahwa aku bukan hanya
karakter sampingan. Bahwa
aku juga bisa menjadi putri bagi
seseorang.
Tapi
kenyataannya, bagaimanapun juga, beginilah.
Aku adalah karakter sampingan
yang tidak berguna kecuali ada seorang putri di dekatku.
“Maaf.
Kita berada di grup yang sama, tapi aku tidak punya informasi kontaknya.”
“Begitu.
Tapi aku benar-benar ingin berterima kasih padanya. Jadi Sumika-chan, bisakah
kamu meminta Haruno-san untukku?
Katakan saja seorang teman lama ingin berterima kasih padanya dan ingin tahu
info kontaknya. Lalu, jika kamu
mendapat izin, kamu bisa
memberikannya padaku. Oh, ini info kontakku. Baiklah, rasanya akan merepotkan jika kita bicara
lebih lama lagi, jadi aku akan pergi sekarang.”
Dengan
itu, Matsukaze-kun menyelipkan memo berisi ID-nya ke tanganku dan dengan cepat
meninggalkan gedung olahraga. Saat
aku memperhatikannya pergi dengan perasaan yang tak terlukiskan, salah satu
juniorku menggoda, “Tanaka-senpai.
Apa ajangan-jangan cowok itu mungkin
pacarmu? Dia sangat tampan. Aku sangat iri.”
“Bukan.
Matsukaze-kun dan aku hanya pernah sekelas dengannya selama
SMP, hubungan kami bukan seperti
itu.”
“Eeh~
meski kamu bilang begitu, tapi sebenarnya
kamu berpacaran di belakang kami,
kan?” juniorku menyeringai, telah
menemukan gosip yang sempurna.
Biasanya,
aku akan mati-matian menyangkalnya, tapi saat ini, aku tidak punya energi.
“Itu
mustahil… karena dia dan aku tidak serasi.”
“Eh!?
Ah, tunggu, Senpai, jangan tinggalkan aku~!”
Meninggalkan
juniorku, aku menuju ruang klub sendirian dengan instrumenku.
◇◇◇◇
Pada malam
itu, aku berbaring di tempat tidur, menatap memo yang diberikan Matsukaze-kun
kepadaku.
“...Aku
harus bertanya pada Haruno-san, kan?”
Sejujurnya,
aku tidak mau. Jika ingin berterima kasih kepada seseorang, sebaiknya minta
informasi kontaknya langsung. Tapi ia tidak bisa melakukan itu, mungkin itulah
sebabnya ia datang kepadaku. Dilihat dari nadanya, sepertinya dirinya benar-benar ingin berterima
kasih padanya, meskipun dengan sedikit motif tersembunyi.
“Apa
akan merepotkan jika aku memperkenalkan orang seperti itu kepada Haruno-san?”
Mungkin
iya. Bahkan, pasti akan mengganggunya.
Berbeda denganku, Haruno-san sudah
menerima kasih sayang dari begitu banyak laki-laki. Dia mungkin tidak
mengharapkan lebih banyak lagi. Namun, aku merasa kasihan pada Matsukaze-kun,
yang telah datang jauh-jauh ke sekolah yang begitu jauh dari sekolah lama kami.
Aku dengan
enggan menambahkan Haruno-san sebagai teman dari obrolan grup kelas kami. Aku
mengirim pesan meminta maaf atas permintaan mendadak itu dan bertanya apakah
tidak apa-apa memberikan informasi kontaknya kepada teman sekelas SMP bernama
Matsukaze-kun yang ingin berterima kasih padanya. Pesan itu langsung ditandai
sebagai sudah dibaca.
“Meskipun
dia kenalan Tanaka-san, aku agak ragu untuk memberikan informasi kontakku
kepada seseorang yang wajahnya bahkan tidak kuingat dengan baik. Maaf soal itu.”
“Yah,
ini memang sudah bisa diduga.”
Melihat
pesan balasan itu, aku menghela napas. Itu sudah sangat kuduga sehingga aku
merasa sangat menyesal telah mengganggu Haruno-san.
“Tidak,
tidak, akulah yang seharusnya minta maaf. Aku akan memberi tahu Matsukaze-kun.”
“Itu
akan sangat membantu. Sejujurnya, aku sedang sibuk dengan orang yang kusukai
saat ini.”
"Begitu.
Aku akan mendukungmu dari balik layar, meskipun aku tidak tahu siapa orangnya.”
“Eh,
benarkah? Orang-orang bilang itu cukup jelas. Benar. Ngomong-ngomong soal orang
yang disukai,
Tanaka-san, kamu
duduk di sebelah Nakayama-kun, ‘kan?
Rupanya dia punya seseorang yang disukainya di kelas kita, apa kamu tahu siapa orangnya?”
“Eh?” Saat kami bertukar beberapa
pesan lagi, aku diberitahu sebuah fakta mengejutkan yang membuatku menjatuhkan
ponselku ke tempat tidur.
—Nakayama-kun
punya seseorang yang disukainya?
—Dan di
kelas kita?
Aku sudah
duduk di sebelahnya selama beberapa bulan, tapi aku sama sekali tidak tahu.
Siapa orang yang diukainya?
Mungkinkah—
tidak, itu tidak mungkin. Aku hanya karakter sampingan.
Aku seharusnya tidak memiliki harapan aneh seperti itu. Namun—
“Nakayama-kun
bilang itu bukan Shikihime, tapi aku penasaran. Reno-chan cantik dan dadanya
besar, jadi kupikir pasti ada cowok yang akan jatuh cinta padanya.”
Jika para
putri bukan tipenya… lalu jangan-jangan?
Karena
Haruno-san mengatakan hal-hal aneh seperti itu, jantungku berdebar kencang.
Tubuhku terasa panas, dan aku tidak bisa menahannya. Meskipun tidak mungkin hal
seperti itu terjadi, khayalan liar itu terus menghantui, dan akhirnya aku
menghabiskan malam yang gelisah.
Namun,
semua itu sama sekali tidak berarti.
“Aku
benar-benar mulai menyukai Haruno hari ini.”
(Eh?)
Benar.
Keesokan harinya, ketika aku pergi ke ruang UKS
untuk menjenguk Nakayama-kun yang sakit, aku tidak sengaja mendengarnya.
Nakayama-kun
menyatakan perasaannya kepada Haruno-san.
