
Chapter 14 — Awal Kisah Antara Nakayama-kun dan Diriku
“Baiklah,
semuanya sudah terkumpul. Sampai
jumpa!”
“Ah.”
Laki-laki
berambut hitam yang muncul di hadapanku mengumpulkan sisa kertas dan menghilang
secepat dirinya datang.
Semuanya terjadi begitu cepat sehingga aku bertanya-tanya apa aku hanya
bermimpi.
Tetapi
kertas-kertas itu, yang tadinya berserakan di tanah, kini tersusun rapi kembali
di tanganku, meskipun aku tidak bergerak sedikit pun. Itu saja membuktikan
bahwa percakapan kami bukanlah mimpi.
Namun,
perasaan itu sulit dihilangkan.
“Be-Benar!
Aku harus berterima kasih padanya karena telah memungutnya.
Jadi, tidak ada yang aneh tentang mencarinya. Ya, itu dia.”
Tanpa
alasan kepada siapa pun, aku menguatkan tekadku dan berangkat untuk mencari laki-laki yang telah membantuku.
“Permisi.”
“Hm?
Ada apa? Jika kamu mencari
seseorang di kelas kita, sebutkan saja namanya dan aku akan mencarinya.”
“Ah,
um… maaf! Sepertinya aku salah kelas. Maafkan aku!”
Namun,
masalah besar muncul begitu aku memulai
pencarianku.
Benar.
Karena
terburu-buru, aku lupa menanyakan namanya. Satu-satunya informasi yang kumiliki
tentang Nakayama-kun saat itu hanyalah penampilannya. Tanpa nama, aku tidak
bisa bertanya-tanya. Satu-satunya pilihanku adalah mencarinya sendiri dengan
sabar, mengandalkan ingatan samar tentang wajahnya.
“Kamu sedang
mencari-cari apa, Ta-chan?”
“Fueh? I-Itu bukan apa-apa. Aku hanya
berpikir hari ini banyak orang.”
“Oh,
benar. Rupanya, ada drama di kelas sebelah, jadi semua orang ikut campur.”
“Begitu.
Ini pertama kalinya aku mendengarnya.”
Tersesat
dalam pencarian, aku mulai mendapat tatapan aneh dari orang lain, memaksaku
untuk memperlambat langkah. Untuk sementara, aku tidak membuat kemajuan sama
sekali.
Sebelum
aku menyadarinya, musim telah berganti, dan waktu di mana salju mulai turun
telah tiba.
“Brr,
dingin sekali.”
“Seseorang
buatlah petisi kepada OSIS untuk memperbaiki AC.”
“Kalau
begitu, aku akan melakukannya. Aku sudah berpengalaman dalam hal ini.”
Pada
suatu hari di musim dingin, AC di kelas kami akhirnya rusak. Sebagai perwakilan
kelas, aku harus melakukan sesuatu tentang hal itu. Sembari membawa petisi di tangan, aku
menuju ke ruang OSIS.
“Permisi.”
“!?”
Tepat
ketika aku sampai di pintu dan hendak mengetuk, pintu itu mendadak terbuka. Dan dari dalam, seorang
anak laki-laki yang kukenal muncul.
Rambut
hitam pendek dan rapi dengan gaya sporty yang bersih. Mata sedikit sipit dan
fitur wajah yang tegas. Ia sepuluh
sentimeter lebih tinggi dariku, dengan tubuh yang ramping namun cukup berotot.
Aroma segar seperti sabun tercium darinya.
Benar.
Itu
Nakayama-kun, anak laki-laki yang selama ini kucari, berdiri tepat di depan
mataku. Tentu saja, aku gugup.
Aku
berdiri membeku, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun atas pertemuan mendadak
kami. Nakayama-kun, yang dengan cepat menyadari kehadiranku, hanya berkata, “Ah, maaf. Silakan lewat,” dan berjalan melewattiku.
Tunggu!
Ini
persis seperti sebelumnya. Aku setidaknya harus menanyakan namanya.
Tanganku
hampir terulur ketika seorang gadis yang sangat cantik muncul dari dalam ruang
OSIS. “Hei! Nakayama-kun, kamu lupa kompornya.”
“Ah!?
Terima kasih! Kamu
penyelamatku.”
“Fufu,
aku tahu kamu
benar-benar ingin membuat semua orang senang, tapi kamu seharusnya jangan terburu-buru.”
“Baik.
Mengerti. Kalau begitu, permisi.”
“Ya,
semoga beruntung.”
Rupanya,
AC di kelas Nakayama-kun juga rusak, dan ia datang untuk mengajukan petisi
sendiri. Dirinya tampak
sangat gembira saat menerima kompor portabel dari ketua OSIS yang baru. Tidak
mungkin aku bisa mengganggunya sekarang.
...Nakayama-kun.
Jadi itu namamu ya...
Nakayama-kun.
Namun
pada akhirnya, aku sangat puas. Aku akhirnya mengetahui namanya.
Saat aku
menikmati sedikit keberuntungan ini, ketua OSIS di sebelahku akhirnya berbicara.
“Jadi, ada yang bisa kubantu?”
“Hyaaaaaa!?”
“Eh?
Ad-Ada
apa?”
Karena
tenggelam dalam duniaku sendiri, aku menjerit kaget dan harus menundukkan
kepala berulang kali sebagai permintaan maaf.
Hari itu,
aku mengetahui namanya, tapi tidak ada kemajuan lebih lanjut. Namun, pada
hari-hari berikutnya, mengetahui namanya membuat pencarian berjalan jauh lebih
cepat. Aku segera mengetahui bahwa Nakayama-kun berada di kelas tepat di
sebelahku.
Aku
langsung bertekad untuk mengunjungi kelasnya saat istirahat makan siang untuk
berterima kasih padanya dengan sepatutnya, tapi…
“Oh,
maaf, Nakayama-kun. Aku tidak bisa membawa ini sendiri.”
“Tidak
apa-apa. Lagipula, teman-teman masih terobsesi dengan payudara Fuyusora.
Setidaknya mereka harus mengerjakan tugas komite mereka dengan benar.”
“Ahaha,
baiklah, bahkan dari sudut pandang seorang gadis, menurutku payudara
Fuyusora-san terlalu erotis.”
“Itu
bukan alasan untuk bolos kerja, ‘kan?
Seriusan, aku akan menghajar Hayashi
nanti.”
Melihat
Nakayama-kun membantu gadis lain membawa sesuatu yang berat membuatku terhenti.
Begitu rupanya, ia berperilaku seperti itu
pada semua orang, bukan hanya padaku.
Rasa
cemas yang luar biasa menyelimutiku. Apa hari itu, yang terasa begitu istimewa
bagiku, hanyalah momen biasa sehari-hari baginya? Jika demikian, ia mungkin
sudah melupakan keberadaanku.
Merasa
seperti disiram seember air dingin, aku berbalik untuk kembali ke kelasku.
Namun meskipun begitu, aku tak bisa menahan diri untuk berlama-lama sejenak,
dan aku mendengar sedikit percakapan mereka.
“Ngomong-ngomong,
Nakayama, kenapa kamu tidak
tertarik pada Haruno-san atau Fuyusora? Apa kamu
punya pacar atau semacamnya?"
!?
“Tidak.”
“Eh!?
Jangan bilang kamu
tertarik pada laki-laki!?”
“Ya enggakk
begitu juga kali?! Fuyusora dan yang lainnya bukan tipeku.”
“Hmm,
begitu. Jarang sekali.”
...Jadi
kamu tidak
punya pacar, ya.
Dalam
waktu singkat itu, aku mengetahui bahwa Nakayama-kun masih lajang. Dirinya tampak kesal dengan pertanyaan
itu, alisnya sedikit mengerut, tetapi entah kenapa, bibirku sendiri melengkung
membentuk senyum.
◇◇◇◇
Beberapa
bulan berlalu begitu cepat, dan aku menjadi siswa kelas 2. Namun, aku masih belum berhasil
berterima kasih kepada Nakayama-kun. Aku hanya bisa mengamatinya dari kejauhan.
“Jika
kita berada di kelas yang sama… aku yakin aku bisa mengatakannya.”
Berdoa
kepada dewa mana pun yang mungkin mendengarkan, versi diriku yang pengecut ini
memeriksa daftar kelas baru. Dan di sana, aku menemukan nama Nakayama-kun
terdaftar di kelas yang sama denganku.
“Horee!”
Teriakan
kegembiraan keluar dari bibirku sebelum aku bisa menghentikannya. Biasanya, bertingkah kegirangan seperti
itu di depan umum akan membuatku mendapat tatapan aneh, tetapi untungnya, hari
ini adalah hari pengumuman kelas tahunan. Yang lain juga bereaksi serupa, jadi
perayaanku tidak diperhatikan.
Dengan
daftar kelas dari guru di tangan, aku menuju ke kelas baruku.
Ngomong-ngomong,
apa yang akan terjadi setelah aku berterima kasih padanya?
Pertanyaan
itu tiba-tiba muncul di benakku saat aku sampai di pintu keras. Sampai sekarang, satu-satunya
motivasiku ialah aku
ingin berterima kasih padanya untuk hari itu. Itulah
alasan yang membuatku terus maju.
Tapi apa
yang akan terjadi setelah itu hilang? Apa
aku akan berhenti berbicara dengannya?
Akankah semuanya kembali seperti semula?
Aku tidak
tahu. Tapi anehnya, aku tidak punya firasat buruk tentang itu.
Aku
membuka pintu kelas dan langsung menemukannya. Ia
duduk di kursi keempat dari depan, di baris tengah, mengobrol riang dengan seorang
anak laki-laki bertubuh tegap yang tampaknya adalah temannya.
Aku
melirik mereka dari sudut mataku saat aku menemukan tempat dudukku
sendiri—keenam dari depan, di baris sebelah kanannya—dan duduk.
“Kamu tahu, aku ada kegiatan klub
sepanjang liburan musim semi. Aku belum bisa menonton film.”
“Aku
juga, aku sangat sibuk dengan pekerjaan paruh waktuku.”
“Oh,
kalau begitu mau nonton film bareng hari ini?”
“Yah, karena
aku tidak punya rencana, jadi tentu saja.”
Berpura-pura
membaca buku, aku diam-diam menguping percakapan mereka. Setiap saat berlalu,
kenyataan bahwa aku benar-benar berada di kelas yang sama dengan Nakayama-kun
mulai meresap, dan sarafku tegang. Pada akhirnya, aku terlalu gugup untuk
berbicara dengannya.
Aku
benar-benar seorang pengecut.
Merasa
jijik pada diriku sendiri,
aku mencoba sebaik mungkin untuk memulai percakapan selama seminggu, tetapi
tidak ada gunanya. Nakayama-kun punya banyak teman, dan selain itu, dia dekat
dengan Haruno-san, seorang gadis cantik yang setara dengan Fuyusora-san. Saat
istirahat, hampir selalu ada seseorang di sisinya.
“Berikan
aku setengahnya.”
“Eh?
Tapi, Nakayama, kamu bukan
anggota komite, kan?”
“Aku
mungkin bukan anggota komite, tapi setidaknya aku bisa membantu, kan? Apa? Kamu ingin menanggung beban besar
ini sendirian? Jika iya begitu,
kamu benar-benar seorang masokis.”
“Aku
bukan masokis! Jika kamu akan
mengatakan itu, maka kau bisa mendapatkan setengahnya.”
“Ya,
benar, benar.”
Selain
itu, jika melihat teman sekelasnya dalam kesulitan, Nakayama-kun akan diam-diam menyelinap
pergi dari teman-temannya untuk membantu mereka.
Seperti
yang kupikirkan, Nakayama-kun baik kepada semua orang.
Melihatnya
begitu senang, namun selalu sibuk, perlahan-lahan motivasiku untuk mendekatinya
berkurang. Bagaimana jika aku mengganggunya dengan berbicara dengannya?
Bagaimana jika dia sama sekali tidak mengingatku? Kecemasanku terus bertambah.
Namun
demikian, keinginan untuk berterima kasih kepadanya tidak pernah hilang. Dan
saat aku menunggu kesempatan, sepertinya Tuhan akhirnya tersenyum padaku.
“Baiklah,
kalian semua, kita akan berganti tempat duduk. Undian sesuai urutan nomor
kehadiran kalian.”
Yang
mengejutkan, kami berganti tempat duduk meskipun baru saja memulai tahun ajaran
baru. Mengira ini kesempatan pertama dan terakhirku, aku berdoa dengan putus
asa agar mendapat tempat duduk di mana aku bisa berbicara dengannya saat aku
mengundi. Aku mendapat nomor 30.
Baris
paling belakang, di dekat jendela.
Dengan
ini, mana mungkin aku bisa duduk di
sebelah Nakayama-kun.
Dengan
hanya satu tempat duduk bersebelahan, peluangku terasa tipis. Sangat kecewa,
aku dengan sedih membawa barang-barangku ke meja baruku. Saat aku duduk, sebuah
suara di sebelahku berkata, “Senang
bertemu denganmu,” dan
jantungku berdebar kencang.
Aku
buru-buru menoleh, dan di sana lah
dirinya. Nakayama-kun.
Saking terkejutnya, aku hanya bisa menatapnya,
mataku terbelalak dan membeku.
“Hah?”
Melihat
reaksiku, Nakayama-kun memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Sedetik
kemudian, tepat saat ia mulai bergumam pada dirinya sendiri, “...Apa aku melakukan sesuatu yang
salah?” Akhirnya
aku tersadar.
“Ah,
um, senang bertemu denganmu."
“O-oh.
Bagus. Kamu tidak
menjawab, jadi kupikir aku melakukan sesuatu yang tidak sopan.”
“Maaf.
Aku hanya sedikit kaget. Um, aku
minta maaf jika aku salah, tapi... bukankah kau membantuku mengambil
kertas-kertasku saat aku menjatuhkannya beberapa waktu lalu?”
Untuk
meluruskan kesalahpahaman, aku dengan malu-malu bertanya kepadanya tentang hari
itu. Saat aku menunggu jawabannya, jantungku berdebar sangat kencang hingga
memekakkan telinga, dan aku merasa seperti akan dihancurkan oleh kecemasan.
“Oh,
maksudmu yang di depan ruang staf. Aku mengingatnnya.”
Hanya
dengan satu kalimat itu, saat dia berbicara, semua kecemasan yang kurasakan
lenyap seolah tak pernah ada.
“Terima
kasih banyak untuk waktu itu.”
“O-Oh. Senang aku bisa membantu.”
Aku
sangat senang ia mengingatku. Sangat senang dia benar-benar melihatku. Saat aku
memberinya senyum lebar, dia menggaruk pipinya, tampak sedikit malu.
Imutnya.
Aku tahu
itu tidak sopan untuk berpikir seperti itu tentang seorang laki-laki, tapi aku
tidak bisa menahannya. Pada saat yang sama, keinginan baru mulai tumbuh dalam
diriku—keinginan untuk melihat lebih banyak ekspresinya yang berbeda, untuk
mengenalnya lebih baik.
“Namaku
Tanaka Sumika. Senang bertemu denganmu.”
“Tanaka-san,
mengerti. Namaku Nakayama Tooru. Senang bertemu denganmu juga.”
“Ya!”
“!?”
Sebelum aku
menyadarinya, aku telah meraih tangannya. Tentu saja, setelah ia
menunjukkannya, aku merasa sangat malu untuk beberapa saat.
Sebelumnya | Selanjutnya