Kawaii Tanaka-san Vol 1 Chapter 14 Bahasa Indonesia

 

Chapter 14 Awal Kisah Antara Nakayama-kun dan Diriku

 

Baiklah, semuanya sudah terkumpul. Sampai jumpa!

Ah.

Laki-laki berambut hitam yang muncul di hadapanku mengumpulkan sisa kertas dan menghilang secepat dirinya datang. Semuanya terjadi begitu cepat sehingga aku bertanya-tanya apa aku hanya bermimpi.

Tetapi kertas-kertas itu, yang tadinya berserakan di tanah, kini tersusun rapi kembali di tanganku, meskipun aku tidak bergerak sedikit pun. Itu saja membuktikan bahwa percakapan kami bukanlah mimpi.

Namun, perasaan itu sulit dihilangkan.

Be-Benar! Aku harus berterima kasih padanya karena telah memungutnya. Jadi, tidak ada yang aneh tentang mencarinya. Ya, itu dia.

Tanpa alasan kepada siapa pun, aku menguatkan tekadku dan berangkat untuk mencari laki-laki yang telah membantuku.

Permisi.

Hm? Ada apa? Jika kamu mencari seseorang di kelas kita, sebutkan saja namanya dan aku akan mencarinya.

Ah, um… maaf! Sepertinya aku salah kelas. Maafkan aku!

Namun, masalah besar muncul begitu aku memulai pencarianku.

Benar.

Karena terburu-buru, aku lupa menanyakan namanya. Satu-satunya informasi yang kumiliki tentang Nakayama-kun saat itu hanyalah penampilannya. Tanpa nama, aku tidak bisa bertanya-tanya. Satu-satunya pilihanku adalah mencarinya sendiri dengan sabar, mengandalkan ingatan samar tentang wajahnya.

“Kamu sedang mencari-cari apa, Ta-chan?

Fueh? I-Itu bukan apa-apa. Aku hanya berpikir hari ini banyak orang.

Oh, benar. Rupanya, ada drama di kelas sebelah, jadi semua orang ikut campur.

Begitu. Ini pertama kalinya aku mendengarnya.

Tersesat dalam pencarian, aku mulai mendapat tatapan aneh dari orang lain, memaksaku untuk memperlambat langkah. Untuk sementara, aku tidak membuat kemajuan sama sekali.

Sebelum aku menyadarinya, musim telah berganti, dan waktu di mana salju mulai turun telah tiba.

Brr, dingin sekali.

Seseorang buatlah petisi kepada OSIS untuk memperbaiki AC.

Kalau begitu, aku akan melakukannya. Aku sudah berpengalaman dalam hal ini.

Pada suatu hari di musim dingin, AC di kelas kami akhirnya rusak. Sebagai perwakilan kelas, aku harus melakukan sesuatu tentang hal itu. Sembari membawa petisi di tangan, aku menuju ke ruang OSIS.

Permisi.

!?

Tepat ketika aku sampai di pintu dan hendak mengetuk, pintu itu mendadak terbuka. Dan dari dalam, seorang anak laki-laki yang kukenal muncul.

Rambut hitam pendek dan rapi dengan gaya sporty yang bersih. Mata sedikit sipit dan fitur wajah yang tegas. Ia sepuluh sentimeter lebih tinggi dariku, dengan tubuh yang ramping namun cukup berotot. Aroma segar seperti sabun tercium darinya.

Benar.

Itu Nakayama-kun, anak laki-laki yang selama ini kucari, berdiri tepat di depan mataku. Tentu saja, aku gugup.

Aku berdiri membeku, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun atas pertemuan mendadak kami. Nakayama-kun, yang dengan cepat menyadari kehadiranku, hanya berkata, Ah, maaf. Silakan lewat, dan berjalan melewattiku.

Tunggu!

Ini persis seperti sebelumnya. Aku setidaknya harus menanyakan namanya.

Tanganku hampir terulur ketika seorang gadis yang sangat cantik muncul dari dalam ruang OSIS. Hei! Nakayama-kun, kamu lupa kompornya.

Ah!? Terima kasih! Kamu penyelamatku.

Fufu, aku tahu kamu benar-benar ingin membuat semua orang senang, tapi kamu seharusnya jangan terburu-buru.

Baik. Mengerti. Kalau begitu, permisi.

Ya, semoga beruntung.

Rupanya, AC di kelas Nakayama-kun juga rusak, dan ia datang untuk mengajukan petisi sendiri. Dirinya tampak sangat gembira saat menerima kompor portabel dari ketua OSIS yang baru. Tidak mungkin aku bisa mengganggunya sekarang.

...Nakayama-kun. Jadi itu namamu ya... Nakayama-kun.

Namun pada akhirnya, aku sangat puas. Aku akhirnya mengetahui namanya.

Saat aku menikmati sedikit keberuntungan ini, ketua OSIS di sebelahku akhirnya berbicara. Jadi, ada yang bisa kubantu?

Hyaaaaaa!?

Eh? Ad-Ada apa?

Karena tenggelam dalam duniaku sendiri, aku menjerit kaget dan harus menundukkan kepala berulang kali sebagai permintaan maaf.

Hari itu, aku mengetahui namanya, tapi tidak ada kemajuan lebih lanjut. Namun, pada hari-hari berikutnya, mengetahui namanya membuat pencarian berjalan jauh lebih cepat. Aku segera mengetahui bahwa Nakayama-kun berada di kelas tepat di sebelahku.

Aku langsung bertekad untuk mengunjungi kelasnya saat istirahat makan siang untuk berterima kasih padanya dengan sepatutnya, tapi…

Oh, maaf, Nakayama-kun. Aku tidak bisa membawa ini sendiri.

Tidak apa-apa. Lagipula, teman-teman masih terobsesi dengan payudara Fuyusora. Setidaknya mereka harus mengerjakan tugas komite mereka dengan benar.

Ahaha, baiklah, bahkan dari sudut pandang seorang gadis, menurutku payudara Fuyusora-san terlalu erotis.

Itu bukan alasan untuk bolos kerja, kan? Seriusan, aku akan menghajar Hayashi nanti.

Melihat Nakayama-kun membantu gadis lain membawa sesuatu yang berat membuatku terhenti.

Begitu rupanya, ia berperilaku seperti itu pada semua orang, bukan hanya padaku.

Rasa cemas yang luar biasa menyelimutiku. Apa hari itu, yang terasa begitu istimewa bagiku, hanyalah momen biasa sehari-hari baginya? Jika demikian, ia mungkin sudah melupakan keberadaanku.

Merasa seperti disiram seember air dingin, aku berbalik untuk kembali ke kelasku. Namun meskipun begitu, aku tak bisa menahan diri untuk berlama-lama sejenak, dan aku mendengar sedikit percakapan mereka.

Ngomong-ngomong, Nakayama, kenapa kamu tidak tertarik pada Haruno-san atau Fuyusora? Apa kamu punya pacar atau semacamnya?"

!?

Tidak.

Eh!? Jangan bilang kamu tertarik pada laki-laki!?

“Ya enggakk begitu juga kali?! Fuyusora dan yang lainnya bukan tipeku.

Hmm, begitu. Jarang sekali.

...Jadi kamu tidak punya pacar, ya.

Dalam waktu singkat itu, aku mengetahui bahwa Nakayama-kun masih lajang. Dirinya tampak kesal dengan pertanyaan itu, alisnya sedikit mengerut, tetapi entah kenapa, bibirku sendiri melengkung membentuk senyum.

 

◇◇◇◇

 

Beberapa bulan berlalu begitu cepat, dan aku menjadi siswa kelas 2. Namun, aku masih belum berhasil berterima kasih kepada Nakayama-kun. Aku hanya bisa mengamatinya dari kejauhan.

Jika kita berada di kelas yang sama… aku yakin aku bisa mengatakannya.

Berdoa kepada dewa mana pun yang mungkin mendengarkan, versi diriku yang pengecut ini memeriksa daftar kelas baru. Dan di sana, aku menemukan nama Nakayama-kun terdaftar di kelas yang sama denganku.

“Horee!

Teriakan kegembiraan keluar dari bibirku sebelum aku bisa menghentikannya. Biasanya, bertingkah kegirangan seperti itu di depan umum akan membuatku mendapat tatapan aneh, tetapi untungnya, hari ini adalah hari pengumuman kelas tahunan. Yang lain juga bereaksi serupa, jadi perayaanku tidak diperhatikan.

Dengan daftar kelas dari guru di tangan, aku menuju ke kelas baruku.

Ngomong-ngomong, apa yang akan terjadi setelah aku berterima kasih padanya?

Pertanyaan itu tiba-tiba muncul di benakku saat aku sampai di pintu keras. Sampai sekarang, satu-satunya motivasiku ialah aku ingin berterima kasih padanya untuk hari itu. Itulah alasan yang membuatku terus maju.

Tapi apa yang akan terjadi setelah itu hilang? Apa aku akan berhenti berbicara dengannya? Akankah semuanya kembali seperti semula?

Aku tidak tahu. Tapi anehnya, aku tidak punya firasat buruk tentang itu.

Aku membuka pintu kelas dan langsung menemukannya. Ia duduk di kursi keempat dari depan, di baris tengah, mengobrol riang dengan seorang anak laki-laki bertubuh tegap yang tampaknya adalah temannya.

Aku melirik mereka dari sudut mataku saat aku menemukan tempat dudukku sendiri—keenam dari depan, di baris sebelah kanannya—dan duduk.

Kamu tahu, aku ada kegiatan klub sepanjang liburan musim semi. Aku belum bisa menonton film.

Aku juga, aku sangat sibuk dengan pekerjaan paruh waktuku.

Oh, kalau begitu mau nonton film bareng hari ini?

“Yah, karena aku tidak punya rencana, jadi tentu saja.

Berpura-pura membaca buku, aku diam-diam menguping percakapan mereka. Setiap saat berlalu, kenyataan bahwa aku benar-benar berada di kelas yang sama dengan Nakayama-kun mulai meresap, dan sarafku tegang. Pada akhirnya, aku terlalu gugup untuk berbicara dengannya.

Aku benar-benar seorang pengecut.

Merasa jijik pada diriku sendiri, aku mencoba sebaik mungkin untuk memulai percakapan selama seminggu, tetapi tidak ada gunanya. Nakayama-kun punya banyak teman, dan selain itu, dia dekat dengan Haruno-san, seorang gadis cantik yang setara dengan Fuyusora-san. Saat istirahat, hampir selalu ada seseorang di sisinya.

Berikan aku setengahnya.

Eh? Tapi, Nakayama, kamu bukan anggota komite, kan?

Aku mungkin bukan anggota komite, tapi setidaknya aku bisa membantu, kan? Apa? Kamu ingin menanggung beban besar ini sendirian? Jika iya begitu, kamu benar-benar seorang masokis.

Aku bukan masokis! Jika kamu akan mengatakan itu, maka kau bisa mendapatkan setengahnya.

Ya, benar, benar.

Selain itu, jika melihat teman sekelasnya dalam kesulitan, Nakayama-kun akan diam-diam menyelinap pergi dari teman-temannya untuk membantu mereka.

Seperti yang kupikirkan, Nakayama-kun baik kepada semua orang.

Melihatnya begitu senang, namun selalu sibuk, perlahan-lahan motivasiku untuk mendekatinya berkurang. Bagaimana jika aku mengganggunya dengan berbicara dengannya? Bagaimana jika dia sama sekali tidak mengingatku? Kecemasanku terus bertambah.

Namun demikian, keinginan untuk berterima kasih kepadanya tidak pernah hilang. Dan saat aku menunggu kesempatan, sepertinya Tuhan akhirnya tersenyum padaku.

Baiklah, kalian semua, kita akan berganti tempat duduk. Undian sesuai urutan nomor kehadiran kalian.

Yang mengejutkan, kami berganti tempat duduk meskipun baru saja memulai tahun ajaran baru. Mengira ini kesempatan pertama dan terakhirku, aku berdoa dengan putus asa agar mendapat tempat duduk di mana aku bisa berbicara dengannya saat aku mengundi. Aku mendapat nomor 30.

Baris paling belakang, di dekat jendela.

Dengan ini, mana mungkin aku bisa duduk di sebelah Nakayama-kun.

Dengan hanya satu tempat duduk bersebelahan, peluangku terasa tipis. Sangat kecewa, aku dengan sedih membawa barang-barangku ke meja baruku. Saat aku duduk, sebuah suara di sebelahku berkata, Senang bertemu denganmu, dan jantungku berdebar kencang.

Aku buru-buru menoleh, dan di sana lah dirinya. Nakayama-kun.

Saking terkejutnya, aku hanya bisa menatapnya, mataku terbelalak dan membeku.

Hah?

Melihat reaksiku, Nakayama-kun memiringkan kepalanya dengan ekspresi bingung. Sedetik kemudian, tepat saat ia mulai bergumam pada dirinya sendiri, ...Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Akhirnya aku tersadar.

Ah, um, senang bertemu denganmu."

O-oh. Bagus. Kamu tidak menjawab, jadi kupikir aku melakukan sesuatu yang tidak sopan.

Maaf. Aku hanya sedikit kaget. Um, aku minta maaf jika aku salah, tapi... bukankah kau membantuku mengambil kertas-kertasku saat aku menjatuhkannya beberapa waktu lalu?

Untuk meluruskan kesalahpahaman, aku dengan malu-malu bertanya kepadanya tentang hari itu. Saat aku menunggu jawabannya, jantungku berdebar sangat kencang hingga memekakkan telinga, dan aku merasa seperti akan dihancurkan oleh kecemasan.

Oh, maksudmu yang di depan ruang staf. Aku mengingatnnya.

Hanya dengan satu kalimat itu, saat dia berbicara, semua kecemasan yang kurasakan lenyap seolah tak pernah ada.

Terima kasih banyak untuk waktu itu.

O-Oh. Senang aku bisa membantu.

Aku sangat senang ia mengingatku. Sangat senang dia benar-benar melihatku. Saat aku memberinya senyum lebar, dia menggaruk pipinya, tampak sedikit malu.

Imutnya.

Aku tahu itu tidak sopan untuk berpikir seperti itu tentang seorang laki-laki, tapi aku tidak bisa menahannya. Pada saat yang sama, keinginan baru mulai tumbuh dalam diriku—keinginan untuk melihat lebih banyak ekspresinya yang berbeda, untuk mengenalnya lebih baik.

Namaku Tanaka Sumika. Senang bertemu denganmu.

Tanaka-san, mengerti. Namaku Nakayama Tooru. Senang bertemu denganmu juga.

Ya!

!?

Sebelum aku menyadarinya, aku telah meraih tangannya. Tentu saja, setelah ia menunjukkannya, aku merasa sangat malu untuk beberapa saat.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama