Downer-kei Gyaru Chapter 9.5 Bahasa Indonesia

 

Chapter 9.5 — Monolog Yukikawa Tsukino

 

Bagiku, Nagai Kentaro hanyalah anak laki-laki biasa yang berada di sudut pemandangan sehari-hari. 

…… Namaku Nagai Kentaro. Aku tidak punya hobi khusus. Aku juga tidak berniat bergabung dengan klub apa pun. Mohon kerjasamanya selama setahun ke depan.” 

Hari pertama masuk sekolah. Ia memperkenalkan diri di depan semua orang dengan sangat datar. Semua orang tidak memperhatikannya sama sekali. Sapaan itu tidak menarik perhatian, dan ia sendiri memancarkan aura yang membuat orang lain menjauh. 

Pada saat itu, aku juga sama sekali tidak tertarik padanya. 

Hee~, jadi namamu Tsukino. Nama yang cantik ya.” 

Orang yang berbicara kepadaku adalah seorang gadis dengan rambut yang diwarnai pink. 

Momoki Haruru──── begitu dia memperkenalkan dirinya, dia tersenyum ramah dan duduk di kursi di depanku. 

“Ah, aku mau bilang sebelumnya, ini bukan rambut asliku, oke? Lihat, karena nama belakang aku ‘Momoki, jadi aku pikir ini lebih mudah diingat.” 

“Tidak masalah… aku tidak peduli.” 

“Begitu? Kalau begitu, tidak apa-apa.” 

Melihat Haru tertawa riang, aku pun tidak bisa menahan diri untuk tersenyum. Sejak saat itu, Haru dan aku mulai sering berinteraksi. 

 

◇◆◇

 

Karena aku tidak bisa membuat teman sendiri, berkat Haru, aku bisa bergabung dalam kelompok pergaulan

Namun, ia masih menghabiskan waktu sendirian. 

“Eh iya, karaoke terdekat yang paling murah tuh di mana ya?” 

“Di Big Mike di depan stasiun, mungkin? Kalau masuk gratis, sepertinya cukup murah.” 

“Hmm… kalau begitu, kita ke sana saja hari ini.” 

Haru dan Kijima sedang membicarakan hal itu. 

Setelah masuk sekolah, kami bermain hampir setiap hari. Sejujurnya, aku merasa sedikit lelah. Namun, aku tidak ingin dianggap menyebalkan, jadi aku tidak bisa menghindar. 

Lagipula, jika ada Haru dan Kijima, aku tidak akan merasa bosan────. 

Umm, apa kamu juga mau ikut? Namanya pasti Nagai, kan?” 

“…… Eh?” 

Saat itu, Haru tiba-tiba memanggilnya. 

──── Yah, ia pasti akan menolak. 

Saat aku berpikir begitu, tanpa menunggu jawabannya, Haru langsung mengusulkan agar seluruh kelas ikut. 

Dengan cepat, teman-teman sekelas mulai berkumpul. 

Dengan cara begini, ia tidak bisa menolak. 

“…… Hei, Nagai.” 

“Eh?” 

“Kamu sebenarnya tidak ingin pergi, kan?” 

“…… Hah?” 

“Tidak apa-apa sih, kalau bukan itu… aku cuma merasa begitu saja.” 

Aku berbicara padanya untuk pertama kalinya.

Ekspresi wajahnya jelas menunjukkan kebingungan. Mungkin dia adalah tipe orang yang juga kesulitan dalam hubungan sosial seperti diriku. Dari suasana hatinya, jelas bahwa ia memiliki sifat yang tidak bisa mengungkapkan pendapat atau menolak ajakan. 

Aku bisa memahami itu. Aku juga telah berjuang dengan hal yang sama selama ini. Namun yang mengejutkanku, ia justru menggelengkan kepalanya. 

“…… Tidak apa-apa, bukan berarti aku membencinya.” 

Ekspresi bingungnya sedikit melunak. Mungkin ia sedang berusaha mengumpulkan keberanian. 

Kalau memang itu yang terjadi, sepertinya tidak ada yang bisa aku lakukan. 

“Begitu? Kalau begitu, tidak masalah.” 

Aku pergi keluar kelas bersama Haru dan yang lainnya. 

Aku merasakan sedikit simpati kepadanya. 

Namun, hanya itu saja. Tidak ada alasan untuk berbicara lebih banyak, dan tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan berbicara denganku lagi. Sepertinya, kami tidak akan menjadi dekat di masa depan. 

Saat itu, aku benar-benar berpikir demikian. 

 

◇◆◇

 

Semuanya itu langsung berubah ketika ia menyanyikan lagu itu

Lagu tersebut adalah lagu dari anime favoritku. Itu adalah anime tidak terkenal yang bisa dibilang sebagai anime jelek, jadi popularitas lagu ini pasti sangat rendah. 

Dia mungkin memiliki hobi yang sama denganku────. 

Saat aku menimbang-nimbang untuk menyapanya, ia sudah keluar dari karaoke. 

Alasan ada urusan itu pasti bohong. Pasti bohong. Aku juga sering menggunakan alasan itu, jadi aku segera menyadarinya. 

“Maaf, aku juga pulang ya.” 

“Eh, Tsukino!?” 

Aku meninggalkan uang dan mengejarnya. 

Seperti yang aku duga, ia tidak terlihat terburu-buru dan berjalan di peron stasiun. 

Lalu ia duduk di bangku dan mengucapkan kalimat itu. 

“Semoga saja besok tidak datang.” 

Mendengar kalimat itu, aku tidak bisa menahan diri untuk berbicara padanya. 

 

◇◆◇

 

Kami dengan cepat menjadi teman saat kami berbincang tentang karya yang kami sukai. 

Sepulang sekolah, aku pergi ke rumahnya, membaca manga, menonton anime bersama, dan di malam hari kami berbelanja di minimarket. Hubungan kami begitu dekat sampai-sampai terasa seperti sedang tinggal bersama, dan aku terus-menerus merasa berdebar-debar. 

Ia selalu membuatku merasa aman. 

Semuanya baik-baik saja seperti ini. Apa adanya juga tidak masalah. Bukan dengan kata-kata, tetapi sikapnya yang mengatakan demikian. 

Ketika dilihat oleh anak laki-laki, aku selalu merasa ketakutan dan tubuhku merinding. Ketika ada seseorang mendekat, aku menjadi begituterkejut dan tubuhku menjadi kaku. Jika itu terjadi, sulit untuk melakukan percakapan yang normal.

Namun, ketika aku berbicara dengannya, aku bisa tetap bersikap positif. 

Kurasa mungkin kepribadiannya yang sedikit aneh itu cocok dengan sifatku yang aneh juga

Tatapan yang ia arahkan kepadaku sama sekali tidak mengganggu. Aku tidak merasakan takut dengan kata-katanya yang tidak terhias. 

Ia masih belum menyadari seberapa banyak hal itu membuatku bahagia dan gembira. 

Sebelum aku menyadarinya, ketika dia menatapku, aku justru mulai merasa senang bukannya takut. 

Ketika aku pergi ke rumahnya, aku mengenakan rok yang lebih pendek dari biasanya agar dia tidak menyadarinya. 

Yah, sepertinya ia lebih suka bagian dada daripada kaki. 

Setelah menyadari itu, aku mulai membuka salah satu kancing di bagian dadaku. 

Rasanya aneh dan lucu melihatnya yang berusaha keras mengalihkan tatapannya dari dadaku

 

◇◆◇

 

Aku menyadari perasaan cintaku padanya saat kami bekerja paruh waktu sebagai staf acara. 

Ia dengan berani datang menolongku ketika aku dikerumuni oleh seorang perekrut agensi hiburan

Dirinya yang seharusnya kesulitan berinteraksi dengan orang lain, mau memaksakan dirinya demi membantuku. 

Aku merasa sangat bahagia karena diperlakukan istimewa olehnya. 

 

Habisnya, bagaimana mungkin orang seperti itu bisa pacaran dengan Yukikawa, iya ‘kan? Itu benar-benar mustahil. Seharusnya, orang introvert dan Yukikawa sama sekali tidak kelihatan sangat serasi.”   

 

Ketika Yamanaka mengucapkan kata-kata itu, aku merasakan kebencian dan kemarahan yang sangat kuat dalam sekejap. Mengapa ia bisa berbicara buruk tentang seseorang yang bahkan tidak dikenalnya dengan baik? 

Kemarahan membuat kepalaku terasa mendidih, dan tanpa sadar, aku sudah berdiri dari tempat duduk. 

“Kalian berdua tahu apa tentang Kentaro? Menghinanya sebagai introvert… orang-orang seperti kalian adalah yang paling aku benci.” 

Ini adalah pertama kalinya aku mengucapkan kata-kata yang begitu keras kepada orang lain. 

Sepertinya, aku lebih menyukainya daripada yang kukira. Terpukul oleh perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya, air mata mulai mengalir dari mataku.  

Aku tidak bisa bersama dua orang ini lagi

Aku membiarkan emosiku menguasai diriku, dan sebelum aku menyadarinya, aku telah keluar dari restoran keluarga. 

“…….” 

Saat aku berjalan keluar, perasaan benci terhadap diri sendiri yang kuat menghampiriku. Sambil dipenuhi kemarahan, penyesalan, dan rasa malu, aku bahkan tidak tahu di mana aku berdiri sekarang. 

“────Tsukino!” 

Aku mendengar suaranya yang memanggil namaku, dan aku akhirnya bisa kembali ke akal sehat. 

Ketika aku berbalik, ia terlihat sangat cemas di sana. 

Aku merasa senang ia mengejarku, tapi juga merasa bersalah telah menunjukkan sisi ini padanya. 

Yang bisa kulakukan hanyalah tetap diam saat ia memegang tanganku dan kami berjalan menuju rumahnya. 

 

Di rumahnya, aku menceritakan semua yang terjadi. 

Tentang pertengkaranku dengan Yamanaka dan Yuka, serta penyebabnya. Selama aku berbicara, ia mendengarkan dengan tenang. 

“Aku ingin selalu bersama Kentaro selamanya… kadang Haru dan Kijima juga datang bermain… menonton anime setiap hari, membaca manga, bermain game… pergi ke minimarket di malam hari untuk membeli camilan… tidur kapan saja dan bangun kapan saja.” 

Perkataanku terdengar seperti keinginan anak kecil yang egois

Namun, ia tidak merendahkanku maupun memperlakukanbku dengan buruk, ia justru menerima semuanya. 

Sudah kuduga, aku merasa aman di sini. 

Aku ingin selalu berada di sampingnya selamanya

Semakin aku memikirkan itu, dadaku semakin terasa sesak, dan air mata mulai menggenangi sudut mataku

Dari lubuk hariku, aku benar-benar menyukainya──── Aku menyukai Nagai Kentaro. 

 

“……Aku akan mendukungmu seumur hidup, Tsukino. Jadi, maukah kamu menjadi pacarku?” 

 

Ketika aku mendengar perasaannya, hatiku hampir meledak karena terlalu bahagia. 

Mulai sekarang, aku akan selalu berada di sisinya. 

Sebagai tanda janji tersebut, aku mencium bibirnya.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama