Jinsei Gyakuten Jilid 4 Bab 4

 Chapter 4 — Keruntuhan Sang Dalang

 

── 17 SeptemberSudut Pandang Tachibana ──

 

Kemarin malam aku hampir tidak bisa tidur. Bangkit dari tempat tidur saja terasa sulit, tapi entah bagaimana aku berhasil mempersiapkan diri untuk pergi ke sekolah. Hari ini aku harus pergi ke sekolah. Jika tidak, anggota klub akan terpecah belah. Jadi, meskipun harus memaksakan diri, aku harus bergerak. Aku menelan sarapan dengan cepat dan berangkat ke sekolah. Di luar, hujan turun dengan deras.

Apa yang harus kulakukan? Pertama-tama, di ruang klub... sepertinya mustahil. Karena ada telepon mencurigakan itu, mungkin ada alat penyadap di ruang klub. Mungkin saja, sudah ada pengkhianat di antara kita. Lalu, apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa mempercayai siapa pun lagi.

Jantungku berdebar kencang tak terkendali. Begitu hampir sampai di gerbang sekolah, aku hampir saja merasa pingsan karena anemia. Tidak. Aku tidak bisa berhenti. Aku tidak bisa mengakhiri semuanya di sini.

Se...Seseorang...

Tanpa sadar, aku mengeluarkan suara lemah dan meminta bantuan.

“Kamu baik-baik saja?

Aku lalu mendengar suara seorang siswa laki-laki.

Ya.

Penglihatanku lumayan kabur, jadi aku tidak bisa mengenalinya.

Aku akan membawamu ke ruang UKS. Seseorang...

Aku mendengar suara beberapa siswa dan guru mendekat. Aku dibawa dengan sesuatu yang mirip tandu, dan aku kehilangan kesadaran.

 

※※※※

 

Langit-langit putih dan bau obat-obatan.

“Kamu baik-baik saja?

Suara guru UKS terdengar jelas. Sepertinya, aku berada di ruang UKS. Tanpa sadar, aku hampir memejamkan mata lagi. Namun, aku segera mengingat situasiku dan langsung bangkit.

Jam berapa sekarang?

Menanggapi pertanyaanku, Mitsui-sensei menjawab dengan suara lembut, “Jam pelajaran pertama hampir saja selesai. Mungkin kamu kurang enak badan karena anemia, jadi silakan istirahat sedikit lagi. Aku merasa terkejut.

Aku sudah melakukan kesalahan. Aku berniat untuk memperkuat pengawasan anggota klub sastra sebelum sekolah mulai. Kekhawatiran menyelimuti hatiku.

Maaf. Aku akan menghubungi guru wali kelas, jadi aku akan keluar sebentar. Pastikan untuk tetap istirahat, ya.

Setelah dia berkata demikian, aku ditinggalkan di tempat tidur ruang kesehatan.

Apa yang harus kulakukan? Tidak, jika jam pelajaran sudah dimulai, aku tidak mempunyai banyak pilihan yang tersisa. Aku tidak bisa memaksa untuk mengumpulkan mereka. Melakukannya hanya akan membuat segalanya lebih mencurigakan.

Jika sudah begini, aku hanya bisa fokus pada situasiku dan berharap bisa membalikkan keadaan setelah sekolah selesai.

Aku memutuskan untuk mengubah jalan pemikiranku, tapi ketakutan membuat tubuhku bergetar. Apa yang sedang kulakukan? Kenapa aku melakukan hal yang memalukan seperti ini? Seolah-olah aku benar-benar mengakui bahwa aku tidak memiliki bakat.

Aku melihat bayangan seseorang di luar ruang UKS. Siapa itu?

Tanpa sadar, tubuhku seketika menegang.

Permisi. Aku datang untuk mengambil buku pelajaran yang tertinggal di sini. Hah, apa Sensei tidak ada di sini?

Aku melihat siswa laki-laki yang paling tidak ingin kutemui memasuki ruang UKS. Tanpa sadar, aku berusaha bersembunyi, tetapi tidak ada tempat untuk bersembunyi.

Dirinya yang telah mendapatkan semua yang kuinginkan, menyadari keberadaan aku dan terdiam.

Ketua...?

Eiji-kun...?

Pertemuan yang tidak terduga ini membuat kepala kami bingung, dan kami berdua hanya bisa terdiam di sana.

Apa yang harus kulakukan? Bagaimana aku bisa memanfaatkan situasi ini?

Otak egoisku mulai bekerja keras dengan kecepatan penuh. Benar, aku harus meminta maaf. Jika aku berpura-pura menjadi korban yang tertipu oleh rumor palsu...

Dirinya tidak tahu bahwa akulah dalang di balik kejadian ini. Ia orang yang baik hati. Jika semuanya berjalan lancar, mungkin aku bisa membujuknya. Kenapa aku tidak menyadari hal ini lebih awal?

Lalu aku menyadari bahwa meskipun dia membeku, ada sedikit kekhawatiran dalam tatapannya yang tertuju padaku. Oh, jadi begitu. Sebelumnya, aku hanya memikirkan keselamatan diriku sendiri, tapi sekarang muncul pemikiran lain di kepalaku. Rasanya begitu memalukan.

Suara pria yang kudengar di depan gerbang sekolah tadi cocok dengan Eiji-kun yang berdiri terdiam di hadapanku. Dia telah membantuku. Lalu, kenapa dia terlihat begitu terkejut?

Ah, um... Ketua Tachibana, apa kamu baik-baik saja? Apa kamu tidur terus? Sudah dua jam berlalu sejak saat itu.

Oh, jadi begitu. Ekspresi rumit di wajahnya menunjukkan kejutan, kewaspadaan, dan kekhawatiran. Berbagai emosi bercampur di sana.

Terima kasih sudah membantuku, aku berhasil mengucapkannya meskipun masih bergetar karena rasa malu.

Sepertinya kamu baik-baik saja untuk saat ini. Syukurlah.

Dirinya tampak benar-benar lega. Aku masih bisa memanfaatkannya. Begitu aku berpikir demikian dan membuka mulutku, ia sudah mulai berbicara duluan.

Ah, um, Eiji-kun...

Ketua, maaf. Sebenarnya, aku tidak sengaja mendengar semuanya.

Saat mendengar kata-kata tersebut, aku merasakan sensasi seolah-olah darahku seketika membeku. Jangan-jangan, semuanya sudah terbongkar. Aku mulai berkeringat deras.

Eh?

Pada hari itu, aku berada di tempat tidur tempat di mana Ketua sedang tidur. Dari sana, aku mendengar percakapan antara kamu dan seseorang. Aku sudah tahu, tetapi aku tidak memiliki bakat. Aku berterima kasih karena kamu sudah mengajarkan banyak hal kepadaku. Terima kasih.

Aku terdiam sejenak. Apa itu semacam sindiran? Atau mungkin inilah sikap santai dari seseorang yang sudah pasti akan debut profesional?

Apa yang sedang kamu bicarakan?

Aku tahu bahwa dirinya telah mendapatkan semua yang kuinginkan dan menjadi terkenal di internet, serta dipuji oleh editor profesional, tetapi dia tidak menunjukkan hal itu dan bersikap seolah-olah dia adalah orang yang tidak berbakat.

Dengan begitu, tidak mungkin aku bisa merasa puas dengan egoku. Inilah sikap dari seorang pemenang. Ada rasa simpati terhadapku yang telah diberi penilaian memalukan sebagai tiruan dari Aono Eiji.

Aku masih tidak bisa memaafkan perlakuan buruk di mana kamu membuang naskahku..... aku masih belum bisa menerimanya, tapi kurasa aku bisa sampai sejauh ini karena kamu mengajarkan banyak hal kepadaku. Itu saja yang ingin kusampaikan. Terima kasih.

Ia dengan tidak peka terus menggali luka lamaku.

Ia pasti selalu menganggapku sebagai senior berbakat yang memenangkan kompetisi sastra. Kepercayaan dirinya yang terlalu rendah. Dan hanya dengan mengatakan itu, aku merasa terhina oleh pencapaiannya yang jauh lebih besar dariku.

hen…tikan

Hatiku hampir hancur karena rasa malu dan cemburu. Gagasan untuk meminta maaf kepadanya dan menyembunyikan masalah klub sastra demi menyelamatkan diri telah lenyap sepenuhnya dari pikiranku.

Eh?

“Sudah cukup, hentikan omong kosongmu. Aku tidak senang mendapatkan simpati dari orang sepertimu. Kamu jauh lebih berbakat dariku... bahkan jika kamu menghiburku. Apa yang kamu lakukan hari ini dan ucapan terima kasih sebelumnya, semuanya terasa seperti sindiran. Kenapa kamu terus-menerus memojokkanku dengan cara yang sangat efektif? Aku selalu merasa takut padammu. Aku membencimu yang memiliki bakat yang suatu saat akan membawamu jauh dariku. Jangan merasa kasihan padaku. Itu hanya membuatku merasa hampa.

Emosiku meledak seketika, dan aku mulai berteriak seperti anak kecil. Dirinya sedikit menunjukkan ekspresi sedih, tapi ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya. Aku menyadari bahwa di dalam pikirannya, aku sudah dianggap sebagai orang dari masa lalu.

Begitu ya. Sayang sekali. Tapi, aku tidak bisa berhenti sekarang. Aku akan terus melanjutkan. Yah, aku harus pergi ke jam pelajaran berikutnya.

Ia membawa bukunya dan pergi meniggalkan ruang UKS.

Jika dirinya adalah orang yang kukenal, kata-kata seperti itu seharusnya bisa membuatnya sangat terpukul. Sebaliknya, aku merasakan simpati untukku dalam ekspresi sedihnya.

Tak peduli kata-kata kasar macam apa yang aku ucapkan, hal tersebut takkan berpengaruh kepadanya. Sebaliknya, ia hanya melihat aku dengan tatapan penuh belas kasihan.

Aono Eiji!

Aku memanggil nama pria yang takkan pernah aku jangkau sengan penuh kebencian. Aku tanpa sengaja meninggikan nada suaraku dan menolak Eiji. Kenapa aku bisa terbawa emosi seperti ini? Padahal aku juga bisa memanfaatkannya demi bertahan hidup.

Aku menyadari bahwa ada batasan yang tidak bisa kulewati dalam diriku.

Aku telah meraih prestasi baik dalam kompetisi sastra tingkat SMA. Dalam ujian masuk universitas yang merupakan pintu gerbang bagi penulis, aku mempertahankan nilai A dengan tingkat kelulusan delapan puluh persen. Aku mulai berpikir bahwa masa depan yang cerah sudah menantiku. Aku percaya aku memiliki bakat dan kemampuan untuk mewujudkan impianku.

Sampai aku bertemu Aono Eiji.

Dan melalui percakapan tadi, aku menyadari sepenuhnya bahwa aku telah kalah dari orang jenius yang bernama Aono Eiji.

Seandainya saja...

Meskipun aku berhasil melarikan diri dari masalah ini, apa yang akan tersisa untukku?

Aku mungkin bisa masuk universitas. Aku seharusnya bisa menulis novel yang lumayan. Tapi, apa begitu saja sudah cukup untuk debut? Meskipun aku bisa melakukan debut, apa aku bisa sukses sebagai penulis?

Sebelumnya, aku berpikir bahwa aku hanya perlu meningkatkan kemampuanku sedikit demi sedikit. Dan suatu hari nanti aku akan bisa menjangkau dunia profesional... tetapi, aku merasa tidak bisa bertarung melawan monster-monster selevel Aono Eiji.

Aku merasa seperti zombie. Masa depan yang seharusnya bersinar penuh impian kini telah ternoda hitam. Sejak kapan? Sejak kapan semuanya berubah menjadi seperti ini?

Aku selalu berpikir bahwa aku adalah orang istimewa yang memiliki bakat dalam menulis dan bisa mengendalikan orang lain. Kenapa ini bisa terjadi? Seharusnya, aku sudah bisa memainkan takdir Eiji yang lebih berbakat dariku.

Sejak kapan aku menjadi pecundang seperti ini?

Sejak kapan aku menyadari bahwa aku telah kalah?

Sejak kapan aku menyerah untuk bisa mengejar Aono Eiji?

Percakapan barusan menyebabkan luka lama di hatiku berdarah tak terkendali. Kecemasan, kecemburuan, dan kompleks inferioritas. Hatiku dibuat berantakan.

Aku mendengar suara pintu ruang UKS dibuka. Aku melihat ada dua orang yang masuk. Mitsui-sensei dan... guru wali kelas Eiji-kun, Takayanagi-sensei.

Dialah guru yang bertanggung jawab atas masalah perundungan kali ini. Dengan kata lain, seseorang yang sedang berselisih denganku.

Karena aku sedang kesal, kemunculannya kali ini sangat pas sekali.

Maaf ya, Tachibana. Jika kamu merasa tidak enak badan, kamu tidak perlu memaksakan diri, tetapi... aku ingin bertanya sedikit. Apa kamu punya waktu?

“Aku baik-baik saja. Apa di sini tidak masalah?

Ah, tidak masalah. Silakan jawab dengan posisi yang nyaman.

Sampai di sini, percakapan kami berjalan normal. Namun, aku tidak ingin kehilangan kendali. Jadi, aku bergerak terlebih dahulu.

“Kalau begitu, terima kasih. Selain itu, aku sudah mendengar dari teman-teman klub. Anda menganggap kami sebagai pelakunya bukan, Sensei? Siapa pun yang menjawab, hasilnya sama. Kami sebenarnya tidak tahu mengapa beberapa barang pribadi Eiji-kun hilang dari ruang klub. Tentu saja, kami menyesal telah mempercayai rumor dan menuduh Eiji-kun dengan buruk.”

Mari kita lupakan saja semua masalah merepotkan ini. Dengan sikapku yang seolah mengatakan itu, Sensei hanya tersenyum masam.

Begitu ya. Tapi, karena ini penting, jadi aku harus mendengarkan pihak-pihak yang terlibat. Maaf, tetapi aku perlu mendengarkan ceritamu.

Jadi begitulah cara dia menipu tim sepak bola. Dirinya terlihat tidak berbahaya, tetapi sebenarnya sangat berhati-hati. Dirinya juga berperan dalam penyelidikan klub sepak bola.

Aku sempat menyelidiki latar belakangnya. Ia bukan guru biasa.

Dia mahir dalam shogi. Tidak, itu bukan sekadar mahir, ia telah meraih banyak gelar amatir selama masa kuliahnya. Dengan memenangkan turnamen amatir, ia juga berpartisipasi dalam turnamen profesional dan mengalahkan beberapa pemain profesional. Sebagai pelatih, dia juga sangat baik, dan sebelum pindah ke sekolah kami, ia menjadi pembimbing klub shogi di sekolah SMA sebelumnya dan memimpin mereka meraih juara nasional.

Ia benar-benar pria yang merepotkan.

Ya, tentu saja. Silakan tanyakan apa saja padaku.

Setelah berbicara sampai di sini, aku yakin pertanyaan yang akan dia ajukan terbatas. Aku yakin telah mengarahkan percakapan dengan baik.

Begini. Ngomong-ngomong, apa kamu tahu siapa yang mungkin mengambil barang-barang pribadi Aono?

Tentu saja. Itu langkah yang sudah diprediksi.

Sepertinya, itu mungkin anggota klub sepak bola atau kaki tangan mereka.

Selain itu?

Aku tersenyum mendengar pertanyaan Sensei.

Jangan merasa dendam padaku, oke.

Sambil bergumam demikian di dalam hati, aku memutuskan untuk menggunakan rencana B yang sudah kusiapkan.

Aku tidak ingin mencurigai anggota klub sendiri, tetapi... ada dua orang.

 

※※※※

── Sudut Pandang Takayanagi ──

 

Akhirnya, kesempatan untuk berbicara empat mata dengan orang yang dicurigai telah datang. Setelah keributan dengan Aono tadi, kecurigaanku semakin mendalam. Instingku mengatakan kalau Tachibana adalah pelakunya.

Dia merasa cemburu terhadap bakat menulis Aono dan merusak hubungan Aono dengan kekasihnya, Amada Miyuki.

Aku bisa membuat hipotesis dengan mudah.

Tidak, ini hanya firasatku saja. Namun, sejak zamanku bermain shogi, sebagian besar firasatku terbukti benar. Bahkan, seorang maestro shogi yang kuhormati pernah mengatakan bahwa firasatnya delapan puluh persen benar.

Jika firasat ini benar, semua penjelasan akan masuk akal.

Bagaimana Kondo dan Amada bisa terhubung? Kenapa Kondo begitu ngotot mengganggu Aono...?

Jika semuanya dimulai dari kecemburuan siswi ini, maka penjelasan yang konsisten bisa diberikan. Saat ini, aku hanya memiliki bukti situasional, tetapi jika ceritanya konsisten sampai sejauh ini, mungkin itu sangat dekat dengan kebenaran.

Tentu saja, hanya mengandalkan firasat bisa menyebabkan kesalahan menganggap kebohongan sebagai kebenaran. Banyak masa depan siswa yang menyimpang dalam insiden ini karena alasan tersebut. Itulah sebabnya, aku tidak boleh membuat keputusan terburu-buru. Sebelum ada bukti yang meyakinkan.

Aku tidak ingin mencurigai anggota klub, tetapi... ada dua orang.

Demi menjawab pertanyaanku, Tachibana yang ada di hadapanku berusaha memberitahuku tentang dua orang yang terlibat seperti seorang pembocor informasi. Aku merasa skeptis apakah kedua orang itu benar-benar terlibat dalam perundungan Aono, tapi aku mendorongnya untuk melanjutkan.

Dua orang ya?

Ya. Aku tidak bisa menyebutkan namanya. Tapi, aku punya alasan tersendiri.

Dia melanjutkan sambil berpura-pura menjadi ketua klub sastra yang bijaksana.

Bisakah kamu menceritakannya?

Ya, orang pertama adalah seorang gadis yang dikabarkan berpacaran dengan Kondo. Dia seangkatan dengan Amada-san, dan sepertinya mereka memiliki hubungan yang cukup dekat. Jika Kondo dan Amada terhubung melalui dirinya, itu cukup meyakinkan.

Dengan sikap yang tenang dan percaya diri, dia melanjutkan.

Benar juga. Siapa orang keduanya?

Aku berpura-pura setuju untuk membuatnya menggali lebih dalam. Meskipun tersangka sebelumnya memang meyakinkan, ada hal lain yang perlu dipertimbangkan.

Orang kedua adalah junior kelas satu yang tiba-tiba berhenti datang ke klub setelah masalah perundungan ini muncul. Mungkin dia merasa bersalah, makanya dia tidak datang lagi.

Oh, itu benar. Penjelasan itu memang masuk akal. Dia tampak mengatakan sesuatu yang logis, tetapi di balik itu ada kontradiksi.

Pada akhirnya, dia hanyalah seorang anak SMA.

Begitu ya. Baiklah, kami akan menyelidiki lebih lanjut. Terima kasih, kamu telah membantu meskipun dalam keadaan tidak enak badan.

Dia mungkin merasa telah berhasil lolos. Ekspresinya sedikit menunjukkan kebahagiaan.

Tapi, Tachibana. Kenapa hanya kamu yang tahu hal-hal mencurigakan ini? Kenapa anggota klub sastra lainnya tidak memberitahu kami? Itu jelas-jelas tidak wajar.

Justru disitulah kesalahanmu. Terlalu mencolok, seolah-olah kamu menyimpan informasi ini sebagai kartu truf. Instingku sebagai seorang penjudi mengatakan itu.

Namun, pada saat-saat terakhir, dia melakukan perlawanan yang putus asa. Aku harus meruntuhkan klaim ini. Itu saja sudah cukup untuk menghabiskan waktu.

Aku mengucapkan terima kasih dan keluar dari ruang UKS. Di luar, seorang siswa laki-laki berdiri terdiam. Sepertinya, ia tidak bisa melarikan diri karena aku keluar tiba-tiba. Wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman.

Aono, apa kamu mendengarkan?

Maaf. Aku penasaran.

Aku lengah. Seharusnya aku lebih berhati-hati.

Lupakan saja. Mungkin aku telah membuatmu merasa tidak nyaman.

Aku tidak tahu seberapa dekat Aono dengan kebenaran.

“Sensei. Bisakah aku berbicara dengan ketua sekali lagi? Menurutku ketua berbohong. Aku berutang budi padanyatapi aku tidak bisa memaafkannya karena mencoba melibatkan Hayashi-san kali ini. Jadi, aku punya rencana.

Aono meminta dengan kuat seperti belum pernah sebelumnya.

 

※※※※

 

Setelah berbicara dengan Aono, aku merasa rencananya cukup efektif. Hanya tinggal sedikit lagi. Rencana Aono akan menempatkan Klub Sastra dalam posisi yang sangat sulit. Mungkin itu akan menjadi pukulan telak yang menyebabkan pengkhianatan.

Namun, Tachibana pasti akan melawan habis-habisan dan mencari alasan demi menghindari tanggung jawab.

Bagian terakhir dari teka-teki ini adalah memberikan bukti yang tidak bisa dibantah.

Aku menyusun kesimpulan itu di dalam kepalaku dan membayangkan beberapa kartu truf, merencanakan cara untuk meruntuhkan teori Tachibana secara definitif. Dan pukulan telak itu terletak pada dalam rencana Aono.

 

※※※※

── Sudut Pandang Hayashi ──

 

Saat makan istirahat siang. Aku sedang makan siang bersama teman-teman di kelas ketika aku menyadari ponselku berdering.

Siapa yang menelepon pada waktu seperti ini? Setelah berhenti dari klub, seharusnya tidak ada yang menelepon, jadi aku merasa heran dan membuka pesan itu.

Itu adalah notifikasi ponsel. Pesan langsung dari akun anonim seseorang.

'Jika kamu memberitahukan hal-hal yang tidak perlu kepada guru atau orang lain, aku tidak akan memaafkanmu.'

'Kamu juga berpura-pura tidak tahu, jadi kamu juga bersalah. Hanya karena kau keluar dari klub bukan berarti kau dimaafkan.'

Lagipula, semua orang di klub menindas Eiji karena kamu tidak menghentikan mereka. Jangan berpura-pura tidak tahu.'

Secara naluriah aku mematikan ponselku.

Aku takut.

Aku tidak bisa berhenti bergetar dan memberitahu teman-teman sekelas bahwa aku tidak enak badan, lalu pergi sendirian.

Kurasa itu pasti dikirim dari seseorang dari klub sastra. Itulah yang membuatku takut. Anggota klub tahu alamat dan kontak nomerku. Bagaimana jika informasiku tersebar di papan pesan anonim...? Bagaimana jika aku dirundung seperti yang mereka lakukan pada Aono-senpai?

Bagaimana jika fitnah, perundungan, dan hal-hal negatif lainnya tersebar secara online...?

Aku tidak akan bisa datang ke sekolah lagi.

Apa yang harus kulakukan? Kumohon, seseorang tolong aku. Aku bergetar dengan ketakutan dan hampir menangis.

Aono-senpai pasti mengalami ketakutan seperti ini. Dalam keadaan yang jauh lebih sulit dibandingkanku, ia tidak melarikan diri dan justru menghadapi masalah tersebut. Betapa berani dirinya. Aku baru menyadarinya setelah berada dalam posisi yang sama.

Ini adalah hukuman untukku. Karena aku berpura-pura tidak tahu.

Ini adalah hukuman bagi diriku yang paling rendah.

Sebelum aku menyadarnya, aku sudah berada di halaman tengah. Rasanya seolah ada seseorang yang mengawasiku. Mungkin itu hanya imajinasiku saja.

Hayashi-san!

Aku mendengar suara seorang gadis. Aku secara naluriah menegang. Aku menoleh dengan wajah pucat ke arah pemilik suara.

Ichijou-san?

Dia yang telah membantuku untuk meminta maaf kepada Aono-senpai, berlari menghampiriku dengan napas terengah-engah.

“Kamu baik-baik saja? Wajahmu kelihatan pucat. Kamu keluar dari kelas dengan ekspresi serius, jadi aku khawatir dan mengejarmu. Ada apa?

Dia sangat baik. Dia sampai rela melakukan hal sejauh itu untuk seseorang sepertiku......

Namun, aku tidak ingin merepotkannya lebih jauh. Ichijou-san telah berusaha keras untuk membantu Aono-senpai yang tidak memiliki seorang pun sebagai teman. Aku tidak bisa membiarkan tindakan kami membuatnya mengambil risiko lebih lanjut...

...

Begitu banyak pikiran berkecamuk di benakku, dan aku tidak bisa berkata-kata.

Ketika aku mengambil kembali naskah Aono-senpai, aku takut akan pembalasan dan hanya bisa membantu Ichijou-san secara tidak langsung. Pada akhirnya, kemauannyalah yang memungkinkanku untuk bertindak.

Alasan mengapa aku bahkan tidak merasakan cemburu terhadap teman sekelas yang akrab dengan cinta pertamaku karena perbedaan kapasitas antara dirinya dan aku terlalu besar. Kurasa wajar saja jika aku kalah.

Begitu ya. Hayashi-san. Ini hanya aku yang berbicara pada diriku sendiri. Mohon dengarkan dengan mengingat hal itu.

Dia tiba-tiba mulai berbicara.

Ya.”

Setelah bertemu Eiji-senpai, aku mulai menyadari sesuatu. Aku menyadari bahwa aku selama ini hidup dengan berpura-pura kuat tanpa meminta bantuan dari siapa pun. Jika kau tidak meminta bantuan, orang lain tidak bisa membantumu.. Dan jika kamu tidak mengatakannya, ketika aku ingin meminta bantuan, aku tidak bisa bergantung padamu. Jadi, tolong beri tahu aku... perasaanmu.

Sepertinya dia sudah tahu semuanya... Namun, wajahnya tampak meringis. Dia terlihat kesakitan, seolah trauma lamanya terpicu. Meskipun begitu, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak bergantung pada kebaikannya.

Ichijou-san, tolong bantu aku.

Dia tersenyum lembut.

Tentu saja. Jika aku tidak membantu sahabatku, aku akan menyesalinya seumur hidup. Katakan saja apa pun padaku.

Dengan kata-kata yang seolah-olah dari seorang Bunda Maria, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menangis.

 

※※※※

── Sudut Pandang Ai ──

 

Aku memeluk Hayashi-san dan berbagi rasa penyesalan serta ketakutannya.

Dia sampai menangis sesenggukan seperti. Aku yakin dia sangat ketakutan. Dihadapkan pada kebencian dari orang anonim. Kamu tidak pernah tahu kapan itu akan menjadi kenyataan. Meskipun begitu, ada rasa sakit yang menusuk di hatiku. Kata-kata yang aku ucapkan untuk membantunya, tapi aku sendiri tidak bisa mengatakan "tolong". Rasanya menyakitkan, tapi aku tetap ingin bergerak untuk membantu temanku.

Fitnah dan pencemaran nama baik anonim benar-benar berbahaya. Rasanya lebih menakutkan daripada langsung dikatakan, karena ketidakpastian dan kecurigaan membuat seseorang tidak tahu siapa yang mengatakannya.

Tenang saja. Aku berada di pihakmu.

Aku merasa menyedihkan bahwa hanya ini yang bisa kukatakan. Tapi aku ingin berada di sana untuknya, meskipun hanya sedikit. Itulah yang kupikirkan.

Hayashi-san adalah gadis yang pemalu. Meskipun begitu, dia tidak ikut serta dalam perundungan. Itu adalah tindakan yang berani. Dia tidak kalah oleh tekanan untuk ikut serta, dan ketika aku mengambil kembali naskah senpai, dia juga membantu.

Setelah semua anggota klub pergi, dia menghubungiku dan sengaja tidak mengunci ruang klub.

Dia yang seperti itu ternyata menangis dan mengeluarkan keluhannya.

Aku telah melakukan hal terburuk. Aku berpura-pura tidak melihat perundungan yang dialami Senpai yang begitu baik padaku. Ia orang yang baik, jadi ia memaafkanku, tetapi aku tahu bahwa aku telah melakukan hal terburuk. Aku sama saja bersalahnya seperti yang lain.

Dia benar-benar gadis yang tulus. Meskipun dia bukan pelaku langsung. Dialah yang pertama meminta maaf kepada Senpai. Bahkan sebelum Senpai membuktikan ketidakbersalahannya. Betapa luar biasanya tindakan itu, betapa tertebusnya hatinya.

Tidak, kamu sudah meminta maaf dengan baik kepada Eiji-senpai. Mereka yang mengirimkan pesan menyedihkan seperti ini adalah orang-orang yang secara langsung menyakiti senpai, tapi tidak mau meminta maaf. Sebaliknya, mereka bahkan mencoba menyakitimu untuk melindungi diri mereka sendiri. Orang yang tidak bisa dimaafkan adalah mereka yang melakukan hal terburuk seperti itu.

Setelah mendengar ucapanku, dia bergetar dan berkata, Terima kasih.

Aku tidak bisa memaafkan mereka semua. Aku tidak akan pernah memaafkan anggota klub sastra yang telah menyudutkannya sampai sejauh ini dan hanya memikirkan diri mereka sendiri... mereka yang berusaha menghancurkan bakat Eiji-senpai.

“Rasanya menakutkan. Aono-senpai telah mengalami ketakutan seperti ini. Aku benar-benar merasa sangat menyesal dan tidak bisa memaafkan diriku sendiri.

Gadis ini benar-benar...

Hayashi-san. Mari kita konsultasikan kepada guru. Guru mana pun di sekolah ini pasti akan berada di pihak kita. Jika kamu tidak ingin menjadi sorotan, aku akan berkonsultasi atas namamu.

Dia menjawab dengan, Ya. Tolong.

Demi kehormatan Eiji-senpai dan masa depan Hayashi-san, masalah ini harus segera diselesaikan. Aku bertekad demikian dan memeluk tubuhnya dengan kuat.

 

※※※※

 

Setelah mengantar Hayashi-san kembali ke dalam kelas, aku segera menuju tempat yang dituju.

Pemilik ruangan telah memberitahuku untuk segera menghubungi mereka jika terjadi sesuatu. Jadi, tidak masalah. Aku akan pergi ke satu-satunya orang di sekolah ini yang benar-benar memahami situasiku.

Aku mengetuk pintu.

“Masuklah.

Aku mendengar suara yang sopan.

Permisi. Kepala sekolah, ada hal penting yang ingin diskusikan dengan Anda.

Ia mengangguk perlahan, meskipun seharusnya tahu bahwa masih ada pelajaran yang berlangsung, tapi beliau tetap menyambutku tanpa bertanya apa pun.

 

 


Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama