true became fiction when fiction's true

Tuesday, 16 October 2018

The Result when I Time Leaped Chapter 27 Bahasa Indonesia


Darmawisata Sekolah - Bagian 2

Fasilitas yang tersedia ternyata cukup mewah. Setelah menjadi orang dewasa dan bertanya sana-sini tentang perjalanan sekolah, aku menyadari kalau dibandingkan dengan perjalanan ke luar negeri atau taman hiburan terkenal, darmawisata ini cukup menyenangkan.
Yah, untuk siswa SMA yang masih polos, gaya penginapan tidak terlalu penting. Karena mental jiwaku adalah seorang pria paruh baya dan aku mengerti tentang keindahan semacam itu, aku dapat memahami betapa hebatnya penginapan ini.
Setelah selesai beres-beres  perlengkapan di dalam ruangan, aku menuju ke area perkemahan.
“Semuanya, kita akan membuat kare bersama! Ayo keluarkan semangat kalian! ”
Yeah! Kelas yang Hiiragi-chan pimpin semuanya bersorak dan langsung bersiap-siap. Tentu saja, kelas lain pun  melakukan hal yang sama. Saat Hiiragi-chan sedang menjelaskan apa saja yang harus dilakukan, Fujimoto menoleh ke arahku dan berbisik.
“Hiiragi-chan yang mengenakan celemek. Terlihat sangat manis." (Fujimoto)
"Iya, ‘kan?" (Sanada)
"Eh, kenapa kau berwajah sombong begitu." (Fujimoto)
Itu karena aku melihatnya setiap minggu. Namun dulu, saat aku membuat kare, aku sedikit kikuk dan melukai tanganku. Aku akan mencoba untuk tidak menyentuh pisau kali ini ... Atau itulah yang kupikirkan, tapi karena aku kalah dalam suit, aku terjebak dengan tugas memotong bawang, wortel, dan semacamnya.
"Kurasa aku terikat oleh takdir ..." (Sanada)
“Apaan sih ngomong alay begitu? Ayo cepat dan lakukan. ” (Fujimoto)
Fujimoto, yang memiliki tugas yang serupa, segera memulai pekerjaannya. Sama seperti terakhir kalinya dengan sepak bola, mungkin aku akan berakhir melukai diriku lagi dan akan berakhir dengan kenangan yang menyedihkan …....
"Sowa sowa, sowa sowa ... Ah, tanganmu, ah, ah ...!" (Hiiragi-chan)
Dari balik pilar, Hiiragi-chan mengkhawatirkan tanganku dan mulai bertingkah panik. Aku penasaran apa ini benar-benar berbahaya. Aku sendiri, baik atau buruknya, mempunyai pengalaman memasak karena aku hidup sendiri sebagai pria paruh baya. Ini sangat berbeda bila dibandingkan dengan kejadian sepak bola yang dulu pernah terjadi.
“Sanada-kun. Awas hati-hati. Pisau itu berbahaya. ”
“Sensei. Aku bukanlah anak kecil. ”
“Kaki kucing, kaki kucing, oke !?”
 (TN: Adegan memasak, melipatkan jari yang berbentuk kaki kucing, biasanya di anime juga sering ada.)
Nyah~, Hiiragi-chan memposekan tangannya dalam bentuk tangan kucing sambil bersembunyi di bayang-bayang pilar.
…. Ah, lucu sekali.
"Nyah ~"
Dia mengatakannya dengan keras !?
“Hiiragi-chan, apa yang dia lakukan? Apa dia sedang berpura-pura menjadi kucing? " (Fujimoto)
"Ya. Kelihatannya begitu. ” (Sanada)
"Beneran deh. Dia itu sangat imut. ” (Fujimoto)
Aku memberinya jawaban asal yang bisa diterima Fujimoto.
“Ja-jangan pakai banyak tenaga!? Ayo lakukan dengan lembut, oke? ” (Hiiragi-chan)
“Sensei, kita berdua baik-baik saja, jadi anda harus pergi memeriksa siswa lain.” (Sanada)
"Uuuu ~" (Hiiragi-chan)
"Sensei, anda terlalu overprotective." (Sanada)
"mana mungkin ~" (Hiiragi-chan)
Hmmmph, Hiiragi-chan mengembungkan pipinya. Ekspresinya seolah mengatakan, “Aku sangat mengkhawatirkan Seiji-kun.” Aku melihat ke area sekeliling, tugas siswa lain tampaknya berjalan dengan lancar dan tidak perlu bagi Hiiragi-chan untuk mengkhawatirkan yang lain.
"Handiplas, disinfektan, dan perban sudah dipersiapkan!" (Hiiragi-chan)
"Aaaaaaah !?Ta-tangannnkuuuuuu, tangan kiri emaskuuuuuuu. " (Fujimoto)
Kelihatannya Fujimoto melukai ujung jarinya dengan pisau. Bahkan jika ada darah yang keluar, itu hanya pada tingkat perdarahan ringan.
"Hiiragi-chan-senseeeeeeei, pertolongan pertamaaaaaaaa!" (Fujimoto)
"Ya. Ada kotak pertolongan pertama di sana, ‘kan? ” (Hiiragi-chan)
Sikapnya! Perbedaan sikapnya jauh sekali saat merawat diriku!
"Meeedddiiissssss!" (Fujimoto)
“Tidak ada yang seperti itu di sini. Sebaliknya, bukannya kamu ini yang bertugas sebagai Seksi Kesehatan? ” (Hiiragi-chan)
"Ah, itu benar ..." (Fujimoto)
Fujimoto pun langsung pergi. Saat aku hendak menggantikan tugas memasak Fujimoto, Hiiragi-chan menarik lengan bajunya.
"Mou, Hiiragi Haruka tidak bisa berdiam diri terus."
Hiiragi-chan mulai memasuki mode memasak, menggantikan Fujimoto. Hmmph. Dia mendengus dan kemudian ... sutotototototototototo, mulai memotong bawang dengan kecepatan tinggi.
"" "Ooooooohhh ~" ""
Para siswa yang melihatnya merasa kagum dengan keterampilan Hiiragi-chan.
"Sanada-kun, kamu bisa duduk di sana dan menonton saja, oke?"
"Entah kenapa, kenikmatan yang seharusnya kudapatkan dari memasak kare telah tercuri ..."
“Eeeeeh? Bukannya kenikmatan terbesar adalah memakan kare yang enak? ”
"Iya, sih, tapi ..."
Meski sedang berbincang, kecepatan kerjanya sama sekali tidak menurun. Seperti yang diduga, Hiiragi-chan memang luar biasa. Rasanya seperti, seorang pemain pro datang ke tempat anak-anak yang sedang bersenang-senang bermain bisbol.
“Setelah dilihat-lihat lagi, anda mirip seperti seorang ibu yang sedang ada di dapur. Anda melakukan semuanya dengan  cepat dan tepat. ”
"Aku bukan seorang ibu, aku ini cuma seorang guru."
Dan juga, pacarku. Mungkin kami memikirkan hal yang sama, Hiiragi-chan menyeringai dan menahan tawa, mufufufufufufu .
"Baiklah, sudah selesai!"
Aku bahkan tidak punya waktu untuk melukai tanganku, dan semuanya dipotong dengan ukuran yang pas.
"Yang tersisa cuma mengaduknya dan dimasak, kamu bisa melakukannya, ‘kan?"
Ya, setelah mendengar balasan dari semua orang, Hiiragi-chan sekali lagi kembali ke bayang-bayang pilar. Semua siswa terus memasak, sampai akhirnya kare itu selesai.
"Heeeeeeey, ini buruuukkkk."
Fujimoto kembali dengan tangan kirinya yang terbungkus perban.
“Berisik banget, apa-apaan dengan perban itu? Bukannya kau cuma melukai ujung jarimu? ”
"haa, jika aku membuka perban ini, bahkan aku sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi ..."
“Mana aku peduli. Dan apa ini?"
“Apa kau tidak bisa ikut bermain! Kau pasti bukan Sanada! ”
“Jika aku ikut , aku mungkin terlihat seperti orang bodoh."
Dari samping, Hiiragi-chan melihat ke arahku dan berkata, "Apa yang terjadi jika itu dilepas ...?" Dia benar-benar tertarik pada kealayan Fujimoto.
"Terus, kenapa kau ribut-ribut?"
“Nasi, nasiiiiinyaaaaaaaaaaaaaaa….”
Hei hei hei. Karenya sudah hampir matang, tapi nasinya belum dimasak!? Aku kira kau bisa gagal membuat nasi jika menggunakan alat berkemah ...
"Nasinya! Sudah matang! ”
"Jadi sudah matang!"
Uuuoooooh, Fujimoto dengan semangat membara mengangkat tinjunya ke atas. Siswa di kelas lain melakukan hal yang sama dan membuat kepalan tangan dengan sekuat tenaga. Me-mereka senang tentang itu ...
Fujimoto menggunakan tangannya yang dibalut perban untuk mengambil tutup penanak nasi. Jadi, perbannya digunakan untuk mengambil tutup panas ! Di dalamnya, nasi panas nan lembut mulai terpapar.
"Bagi kelas yang sudah selesai, boleh makan sekarang, oke?"
Mengikuti instruksi Hiiragi-chan, semuanya langsung mengambil nasi. Lalu, mereka berbaris di depan Hiiragi-chan, yang sedang mengaduk kari, untuk mendapatkan kare sebagai lauknya. Setelah semuanya duduk di tempat masing-masing, semua orang mengucap, "Itadakimasu," dan mulai makan.
"… Kau tahu? Sanada. "
"Hhmmmm?"
“Entah kenapa, cuma kau yang punya banyak daging. Aku sendiri malah tidak punya satu pun. ”
"Mana mung-"
Ah. Memang, Aku baru menyadarinya sekarang. Aku juga, aku juga, karena siswa lain ikut memprotes dan sadar. Sebaliknya, Cuma aku sendiri yang punya daging di dalam makananku. Aku melirik penjahat imut yang ada di seberang, tehepero.
Apa ini makan siang anak SD? Memberi banyak makanan pada orang yang paling kau sukai? Entah itu kesalahanku, atau niat baik terhadapku, aku 100% jatuh cinta padanya, jadi meski aku ingin marah, aku tidak tega melakukannya. Kohon, aku berpura-pura membersihkan tenggorokanku.
"Hei. Orang yang memasukkan karenya adalah Hiiragi-chan, bukan? Mana mungkin Dewi kita akan melakukan sesuatu yang sangat rendah seperti ini, ‘kan? ”
"" "I-itu benar ..." ""
"Terkadang hal seperti ini bisa terjadi."
Saat semua orang melihat Hiiragi-chan, dia tersenyum dan melambaikan tangannya. Semua orang mulai tenang saat mereka melambai kembali.
“Jika memang tidak ada daging di dalam kare kalian, mungkin itu karena hati kalian sudah kotor. Itu sebabnya kalian tidak bisa melihatnya. ”
"" "Jadi begitu ...!" "”
Tidak, mana mungkin bisa begitu. Tapi, sepertinya mereka yakin dengan alasan itu.
"Apa Sensei boleh mencicipi kare yang dibuat kelas ini?"
Boleh, boleh, saat kami semua mengundang dewi kami untuk mencicipi.
"Sensei, kita ..... tidak, kare yang kami buat, bagaimana rasanya !?"
Fujimoto, satu-satunya hal yang kamu lakukan hanyalah membuat keributan setelah tanganmu terluka.
"Ya. ini enak ♪ ”
Yeeeeeeeeaaaaah! Semuanya mengepalkan tinju kemenangan.
“Sanada-kun juga, ayo ini coba.”
Hiiragi-chan menggunakan sendoknya sendiri saat dia meyuapiku.
“Ya, ini enak. Malah, kita semua sudah memakan ini. "
"Benar "
Dia pasti melakukannya dengan sengaja Ah….. Aku terjebak dengan alur suasana… aaaahhnn…
"" "Ci-ciuman tidak langsung ... dengan Hiiragi-chan ..." ””
Selain diriku, siswa lain saling berbisik dan gelisah seolah-olah mereka melihat momen yang seharusnya tidak boleh dilihat. Astaga, apa kalian ini anak SMP ? Kami, "Ini bukan ..." pertunjukan telah berakhir, oke? 
"Kalau begitu, apa Sensei juga boleh?"
"Ah iya."
Aku menggunakan sendokku untuk menyuapi Hiiragi-chan beberapa kare juga.
"Ini sangat enak ♪"
““ “Jika kita memakai sendok Sanada, kita bisa melakukan ciuman tidak langsung dengan Hiiragi-chan.” ””
Terima kasih atas perhatian yang dipusatkan pada sendok, tidak ada yang menyadari fakta bahwa kita berdua ini saling menyuapi makan.
Aku bahkan tidak perlu mengungkitnya lagi, setelah Hiiragi-chan pergi, sebuah perang untuk memperebutkan sendokku pun terjadi.



8 comments:

  1. Replies
    1. Yoi, sering sering komen biar semangat yang nge-translatenya

      Delete
  2. Thanks min, moga panjang umur

    ReplyDelete
  3. Hehehehe , yang di tunggu akhirnya keluar juga 😁😁😁

    ReplyDelete
  4. wkwkwk dianggap "ciuman tidak langsung" aja :v

    padahal tuh "bakappuru" udah sering "nganu" :'v




    *dalam artian ciuman yaa ... xD

    ReplyDelete

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat