true became fiction when fiction's true

Friday, 12 April 2019

The Result when I Time Leaped Chapter 44 Bahasa Indonesia




Atap

*Pinponpanpooon * 
“Sanada-kun dari Kelas 2-B, Sanada-kun dari kelas 2-B. Tolong menghadap Hiiragi-sensei di ruang guru. Saya ulangi— ” 
Ada suara speaker pengumuman setelah jam pertama selesai. 
*Celinguk**celinguk* Semua orang di kelas menatapku, 
“Hei, Sanada. Apa yang sudah kau lakukan? ” 
Teman sebangku yang berengsek, Fujimoto bertanya dengan wajah gembira. Orang ini, Ia berharap kalau aku sedang dalam masalah. Tapi maaf bung, ekspetasimu tak pernah menjadi kenyataan. 
Tapi malah sebaliknya, mengapa memanggilku lewat speaker pengumuman? Pada akhirnya, setelah apa yang terjadi selama akhir pekan kemarin, kami tidak menghubungi satu sama lain. Pemanggilan hari ini pasti karena ada solusi untuk masalah itu, bukan? 
Setelah dipanggil oleh sang dewi pujaan hati, aku segera menuju ruang guru, menemukan sosok Hiiragi-chan, dan berjalan ke sisinya.
"Sensei, untuk apa anda memanggilku?
Ketika aku memanggil Hiiragi-chan yang sedang bekerja, dia mengangkat kepalanya. 
"Ya ampun, jangan panggil aku sensei, tapi Haru — ka, san ...." 
Pagi-pagi begini dia sudah error! Aku langsung menyadarinya, dan merasa panik. Untung suaranya tidak terlalu keras dan ruang guru masih kosong, jadi tidak ada yang tahu. 
Seperti biasa, aku menarik kursi kosong yang ada di sampingku. 
"Aku perlu ... berbicara denganmu ... tentang ..... kegiatan... klub." 
Dia sudan benar-benar error sampai-sampai cara bicaranya seperti robot !? 
"Tentang kegiatan klub?" Tanyaku, merasa bingung sembari duduk di kursi yang disiapkan. 
“Ini tentang kegiatan hari ini." 
Setelah memulai dengan berbicara, dia menyelesaikan kata-katanya secara tertulis. 
[Hari ini, ayo makan siang bareng, cuma kita berdua !!]
Ini mungkin ajang pembalasan karena tidak bisa menghabiskan waktu bersama selama akhir pekan! Selain itu, dia sangat memaksa tentang hal ini! 
“Tidak, tapi, tentang kegiatan hari ini ..." 
“Ba-bagaimana ...? Apa kamu keberatan dengan hal itu? ” 
Jika kau memandangku dengan tatapan sedih begitu, aku tak bisa menolak permintaanmu. Sumpah, Aku menyerah, deh. Bukan berarti aku juga tidak ingin menghabiskan waktu bersamanya. 
“Baiklah." 
“Dan juga, sepulang sekolah, harap bersiap-siap untuk kegiatan kita selanjutnya dengan pergi berbelanja." 
“Oke." 
"Aku menantikannya ♪"
Hiiragi-chan yang suasana hatinya tiba-tiba membaik, dengan santai memegang tanganku yang ada di bawah meja. Hiiragi-chan melanjutkan pembicaraan, tapi ketika aku mencoba berdiri untuk kembali ke kelas, dia tidak pernah melepaskan tanganku sampai saat-saat terakhir. Dia akhirnya melepaskan tanganku ketika bel berbunyi, dan menyelipkan sesuatu ke sakuku. 
Aku memasukkan tanganku ke dalam sakuku saat aku berjalan menuju ke kelas. Ada catatan kertas di dalamnya. 
[Datanglah ke atap saat istirahat makan siang, oke?] 
Atap? Memangnya ada sesuatu di sana? 
“Sanada. Wajahmu menyiratkan kalau kau tidak puas. Apa dia marah? Aku yakin dia marah. Hiiragi-chan. Kau dibenci olehnya sekarang, kan? ” 
Pertama-tama, aku memberi Fujimoto, yang bertanya dengan gembira, bogem mentah dengan semua kekuatanku.
“Oof ... Jika dengan tangan kiri, mungkin kamu bisa melakukannya, dunia ini ...!" 
"Diam." 
Melamun di kelas, dan dengan malas menjawab pertanyaan yang datang kepadaku, waktu terus berlalu dan sudah waktunya istirahat makan siang. Aku mengirim sms ke Sana, mengatakan kepadanya kalau aku ada urusan saat makan siang, jadi aku tak bisa pergi ke ruang klub ekonomi rumah. 
Sembari mewaspadai area sekitarku, aku menuju ke atap. Aku meraih daun pintu, mencoba memutarnya dan membuka pintu, tapi ternyata terkunci rapat seperti yang kuduga. Mengintip sedikit, aku melihat bayangan seseorang di sisi lain dari kaca buram. Atau lebih tepatnya, itu adalah bayangan Hiiragi-chan. 
“Ucapkan kata sandinya?” 
“Kata sandi apa?”

“A-ah! ... Sanada Seiji-kun jatuh cinta dengan siapa? " 
“ Eh? Itu kata sandinya? ”
Bayangan itu mengangguk dengan marah. Lebih penting lagi, Kau tidak perlu menggunakan kata sandi kalau cuma aku yang akan datang. 
“Umm ... Orang yang kucintai, adalah Hiiragi Haruka-san." 
“Kufuu ... I-ini terlalu banyak ..." 
Apa dia merasa malu? Bayangan itu menggeliat bak cacing kepanasan. Kau sendiri yang ingin aku mengatakannya, bukan !? 
“Te-Tepat sekali ..." 
*ceklek* Pintunya tidak terkunci, dan aku akhirnya bisa keluar atap. 
“Oh dasar, Seiji-kun genit..." 
Hiiragi-chan, yang sudah menunggu, memelukku erat-erat. 
“Genit apanya!? Kamu sendiri yang membuatku mengatakannya. " 
“Maksudku, itu akan buruk jika orang lain yang datang, kan? " 
“Itu benar, tapi lagian juga tidak ada orang lain yang akan datang ke sini. "
Ini tidak seperti ada sesuatu di atap yang layak untuk dilihat. Selain itu, di balik pagar besi yang tampak menyedihkan, satu-satunya yang ada hanyalah beton keras yang dingin, dan menara air. Ini adalah tempat dengan pemandangan yang mengerikan. Tapi sekarang, Hiiragi-chan sudah menyiapkan selembar kain piknik di tanah dan meletakkan bento di atasnya. 
“Kunci atap diberikan saat kontraktor datang untuk pemeriksaan. Selain dari itu, tidak ada cara lain untuk membukanya. ” 
Hiiragi-chan menunjukkan kunci dengan label“ atap ”di atasnya. 
“Tapi, mengapa kita bertemu di atap, lagi ??" 
Tidak apa-apa, tidak apa-apa ucapnya sembari menarik tanganku dan membuatku berbaring di pangkuannya seperti biasa. Cuaca hari ini cukup bagus. Langitnya sangat cerah sampai menyilaukan mataku. 
“Rasanya enak bukan? Berada di luar. Apalagi di atap. "
*elus*elus* Dia memulai percakapan sambil mengelus kepalaku. 
Aku bertanya kepadanya apa ada sesuatu yang terjadi setelah aku pergi. 
“Pada akhirnya, fakta bahwa kita berpacaran tidak terbongkar. Aku cuma bilang padanya kalau semuanya jauh lebih menyenangkan saat kamu punya pacar. ” 
Wajah Hiiragi-chan yang penuh kepuasan juga lucu. 
“Tapi adikmu melihat kita berciuman, ‘kan?” 
“J-jangan bilang begitu.” 
Namun, jika Natsumi-chan tidak muncul pada waktu itu, aku mungkin akan didorong ke sofa. Hiiragi-chan sangat senang bisa bersamaku. 
“Tapi, maksudku. Aku hidup dari hari ke hari, demi bisa berduaan dengan Seiji-kun selama akhir pekan.” 
“Kau sampai sejauh itu? "
Ah, tapi aku ingat. Saat dimana aku belum melompati waktu, tidak ada waktu senggang selama hari kerja. Pulang ke rumah, makan, tidur, bangun, lalu bekerja lagi, saat aku menjalani kehidupan sehari-hari. Pekerjaan bahkan tidak semenarik itu. 
… Terkadang ada kalanya di mana aku memikirkan untuk apa aku hidup. Jika keberadaanku memungkinkan Hiiragi-chan untuk melakukan yang lebih baik untuk kerjaannya, maka itu cukup bagus. (TN: Bayangin, lu jomblo, ngerantau ditempat orang, ngga punya banyak teman, dan ngga punya hal lain yang dilakukan, hidup terasa seperti siklus kerja, pulang, makan, tidur, bangun, terus kerja lagi. Gimana perasaan elu? Pasti mikirin buat apa elu hidup, jika kehidupan elu gitu-gitu terusss. Ttd, admin yang ngenes) 
“Ya, memiliki tujuan hidup memang sangat penting.” 
“Itu benar ~ Jika ada rintangan yang muncul, aku akan mengamuk penuh amarah seperti induk beruang yang ingin melindungi bayinya.” 
“Kenapa kau menggunakan beruang sebagai contoh? " 
“Seiji-kun, apa kau punya sesuatu yang kau nantikan, atau harapkan? " 
“Hhmmm ... mungkin sesuatu seperti, aku ingin membuat sensei bahagia? "
Dia tidak mengatakan kalimatnya yang biasa, jangan panggil aku sensei, tapi Haruka-san. Dimomen aku mengutarakan opiniku, aku dicium. Saling menatap, lalu, kami berciuman dua kali lagi. 
"A-apa itu lamaran ...?" 
Dengan wajahnya yang memerah, Hiiragi-chan menatap lurus ke arahku. Matanya terlihat serius. 
“—Te-Rerlalu dekat ..." 
“Mo-Mouuuuuuuuu, Seiji-kun, akhirnya kau mengatakan sesuatu seperti ituuuuuuuuuuuuuuuuuuuu."

*colek**colek**colek**colek**colek*
Dia mungkin menyembunyikan rasa malunya saat Hiiragi-chan mulai menyolekku dengan jari telunjuknya. Aku tak keberatan dia menggunakan jari telunjuknya untuk menyolekku, tapi tolong, jangan menyolek puting susuku! 
"Tolong cepatlah lulus dari SMA." 
"Aku akan melakukan yang terbaik." 
"Tapi, aku sudah cukup senang untuk saat ini, oke?"
“Jika memang begitu, syukurlah” 
“... Apa kamu mau melihat celana dalamku?” 
“Nggak! Kenapa kau mendadak mengubah topik pembicaraan? " 
“ Aku cuma berpikir kalau Seiji-kun mungkin akan merasa bahagia jika aku melakukan itu. Hari ini, Aku memakai tipe celana dalam yang mana begitu kaitnya lepas, akan cepat copot. " 
“ Tidak, bukan berarti aku  ingin melihatnya, jadi tidak apa-apa. " 
“ Ah. Begitu ya … Kamu juga bisa mengintip jika aku membuka ritsletingnya, tahu? ” 
“ Aku juga tidak mau mengintipnya! ” 
“ Seiji-kun, jadi kamu tipe orang seperti ini saat membahas celana dalam? " 
" Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan saat kau bilang tipe orang ini! " 
" Seiji-kun terlihat imut saat kamu tsukkomi ~ " 
Di mana letak imutnya? 
Pada akhirnya. Dia membuatku meliriknya sekilas. Ternyata warnanya hitam.
Dan lalu, kami menghabiskan istirahat makan siang yang manis bersama.


3 comments:

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat