true became fiction when fiction's true

Saturday, 18 January 2020

Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 46



u Sudut Pandang si Senpai u
Hari halloween berakhir tanpa insiden (?), Dan bulan November pun dimulai.
Hari ini adalah hari di mana percakapan seperti Hanya tinggal dua bulan lagi pada tahun ini, Ehh, waktu berlalu dengan cepat ya~ Rasanya kita baru saja merayakan Tahun Baru belum lama ini, ‘kan ~ akan terjadi di seluruh Jepang.
“Mutsuki, Kisaragi…”
Seragam pelaut dan anak TK terlintas di pikiranku, dan aku mulai membaca urutan bulan kalender lunar.  (TN : https://www.sljfaq.org/afaq/number-dates.html)
“Nagatsuki, Kannazuki ... Shimotsuki, kan?”
Apa kamu akan kembali ke bulan?
Tidak.
Apa-apaan dengan kalimat bodoh itu, terlalu berantakan.
Aku juga tahu, senpai. Shimotsuki adalah bulan November di kalender lunar.”
Ya, November.
Ini sudah masuk bulan November, ya.
Yup, yup. Hanya saja…”
Melihat apa yang akan aku katakan, percakapan yang baru saja aku bayangkan akan terjadi sekarang. Ayo ubah sedikit. Aku benci karena terdengar membosankan.
Mhm. Hanya ada enam puluh satu hari tersisa sebelum tahun ini berakhir.”
Enam puluh satu benar-benar terdengar seperti bilangan prima. Baik sebelas, tiga belas, tujuh belas, maupun sembilan belas dapat dibagi, jadi itu harus menjadi bilangan prima. Uhn.
Jika aku kalikan dengan angka enam, hasilnya adalah tiga ratus enam puluh enam, jadi hanya ada tahun yang tersisa.
Ngomong-ngomong, waktu kita berangkat ke sekolah ... akan berlanjut sampai kapan?
“Liburan musim dingin akan dimulai dari 21 Desember, atau 22? Masih ada jalan jauh yang harus ditempuh.”
Jika aku tidak salah ingat, ulang tahun Kouhai-chan tanggal 12, ‘kan? Sekitaran waktu sebelum ujian.
Ayo pergi dan periksa jadwalnya nanti.

u Sudut Pandang si Kohai u
Ngomong-ngomong, Senpai.
Senpai tidak mengatakan apa-apa lagi bahkan ketika kita sudah naik kereta.
Ia seharusnya sudah menyadarinya, ‘kan? Lagipula, Senpai juga mengganti seragamnya hari ini.
“Apa?”
Apa kamu tidak punya sesuatu untuk dikatakan setelah……umm, melihatku?
“Ya ya. Kau imut, sangat imut.”
Bu-bukan itu.
Senpai melancarkan serangan mendadak ke arahku, membuatku terkejut, tapi bukan itu yang kuminta.
Haa. Inilah pertanyaan hari inidariku.”
Pada bulan November, kami akan mengganti seragam kami. Bahkan jika beberapa sekolah mengganti seragam mereka pada bulan Oktober, masih ada beberapa hari dengan suhu tinggi. Sekolah kami dimulai pada 1 November, ketika semua orang akan beralih dari seragam musim panas ke seragam musim dingin.
Tentu saja, aku juga bukan pengecualian.
Bagaimana dengan seragam musim dinginku?
Aku melakukan putaran penuh di depan Senpai, di posisi biasa di kereta.
Meski kau meminta kesanku, aku tidak tahu harus berkata apa.
Apa Senpai tidak merasakan sesuatu seperti 'itu cocok untuknya', atau 'imut' gitu?

u Sudut Pandang si Senpai u
Aku merasa dia menuntutku untuk memuji dia. Yah, dia memang imut, dia memakai pakaian dengan benar, dan itu juga terlihat cocok untuknya.
“Kau tahu. Bukan berarti ada banyak yang berubah.”
Warna roknya masih biru tua, tetapi kainnya terlihat sedikit lebih tebal dari sebelumnya. Bukan berarti dia mulai memakai celana ketat itu? stoking?.
Dia juga mengenakan kardigan berwarna krem, dengan seragam sekolah di baliknya. Bagian kerah pelaut pasti sudah berubah dari putih khusus musim panas ke warna kuning khusus musim dingin, tetapi jika seseorang tidak melihat dari dekat, mereka pasti takkan menyadarinya. Atau bisa dibilang kalau itu adalah salah satu perbedaan yang takkan ada yang perhatikan ketika memutar kuis di TV di mana mereka perlu mencari kesalahan dalam dua gambar yang serupa.
Sekilas, mungkin terlihat seperti itu. Tapi Senpai, bukankah ini rasanya agak hangat?”
Berkat kesalahan seseorang, atau begitulah gumamnya. Suaranya terdengar berat, mungkin karena dia masih memikirkan kejadian kemarin di hatinya.
Tapi, baiklah.
“Itu terlihat cocok untukmu.”
Terima kasih banyak ♪
Setidaknya, aku bisa mengatakan ini.

vvvv

Lalu, bagaimana dengan seragam musim dinginku? Ini adalah pertanyaan hari inidariku.”
Aku merasa aku terlihat jauh lebih berbeda, mungkin.
Hmmm, kupikir itu sama seperti biasanya.
Oi, kau tidak punya sesuatu untuk dikatakan?
Aku mengenakan seragam blazer di atas sweter merah yang sudah aku kenakan setelah musim panas berakhir. Pantatku, atau bisa dibilang seragam celanaku juga berubah menjadi warna yang lebih gelap. Aku akhirnya merasa seperti sedang mengenakan seragam yang tepat setelah kemeja kasual musim panas.
Senpai tampak agak gelap dari atas sampai bawah.
“Gelap?”
Rambutmu berwarna hitam, matamu hitam, bingkai kacamatamu hitam, pakaianmu sebagian besar hitam, sepatumu juga hitam. Senpai terlalu gelap. Jangan-jangan nama belakang Senpai adalah Kirigaya?” (TN : Merujuk pada Kirito dari anime Sword Art Online, wokwowkowkowk parodinya ngga kira-kira :v)
Namaku Keita Iguchi. Jangan samakan aku dengan beberapa maniak game.”
Yah, aku pikir itu terlihat bagus.
Oi.
Senpai benar-benar memiliki aura murid teladan di sekelilingmu sekarang.
Begitu ya.
Aku merasa caramu berbicara memiliki arti yang berbeda.
Apa aku ketahuan?
Tentu saja.

u Sudut Pandang si Kohai u
Ngomong-ngomong, sekarang sudah musim dingin ya, Senpai.
Ketika aku mengintip ke luar jendela, pohon-pohon di samping jalan kereta api telah benar-benar layu.
Ditambah dengan penambahan jaket berseragam senpai, aku menyadari bahwa waktu sangat cepat berlalu.
Oi oi, mendadak apa yang terjadi padamu?
Pertama kali aku berbicara dengan Senpai adalah pada tanggal 14 September. Hari itu, masih di pertengahan musim panas, meski sudah bulan September di kalender. Aku ingat bagaimana panasnya hari itu.
Ngomong-ngomong, aku dan Senpai masih mengenakan kemeja lengan pendek saat itu.
Dan sekarang berubah menjadi lengan panjang, dan juga cardigan.
Akhirnya, kami mengenakan seragam musim dingin sekarang.
Sekitar lima puluh hari sudah berlalu sejak saat itu.
Dengan satu pertanyaan sehari, aku sudah tahu mengenai lima puluh hal tentang senpai.
Aku penasaran apa itu akan bertambah menjadi seratus, atau bahkan dua ratus? Atau mungkin…
Aku hanya memikirkan sesuatu sejenak. Bukan apa-apa, kok.”




Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor
Ketika Ia mengenakan blazer, sosoknya sangat mencerminkan gambaran murid teladan.


No comments:

Post a Comment

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat