The Result when I Time Leaped Chapter 109


Ayah Hiiragi - Bagian 2

Dalam rentang dua bulan, ini akan menjadi kedua kalinya kami datang ke kediaman Hiiragi. Kami disambut oleh pelayan dan diizinkan masuk ke rumah mewah.
“Bagaiamana kalau aku menemani kalian juga?”
Ketika Hiiragi-chan dan aku dipandu ke ruang resepsi, Natsumi-chan juga ikut.
“Terima kasih, Natsumi. Tapi tidak apa-apa. Aku tak berpikir ini akan menyusahkan seperti yang terakhir kali.”
“Beneran…?”
Tampak setuju, Natsumi-chan memiringkan kepalanya.
“Yah, jika ada sesuatu yang terjadi, aku akan membantu kalian nanti.”
Ujar Natsmi sambil melambaikan tangannya saat dia menuju kamarnya sendiri.
“Apa lebih baik jika Natsumi-chan ada di sini?”
“Yah, ini masalah kita. Kita akan meminta bantuan Natsumi ketika kita sudah merasa terpojok. ”
“Yang itu juga oke.”
Mungkin lebih baik meninggalkan Natsumi-chan yang cerdik sebagai kartu truf.
Pertemuanku dengan Airi-san juga diadakan di sini. Seperti yang kuduga, ini benar-benar ruang resepsi mewah. Untuk orang biasa seperti diriku, rasanya benar-benar tidak nyaman. Aku menyesap kopi yang sudah dibuat pelayan.
“Ayah telat.”
Saat Hiiragi-chan bergumam, suara nyaring bisa terdengar dari luar.
“Kau bilang kalau pria itu datang !?"
“Sayang, jangan berteriak seperti itu. Seiji-san adalah siswa SMA yang luar biasa, dan cukup tenang serta bijak. Aku sudah merestuinya. Bagaimana kalau kamu menemuinya dulu dan bertatap muka dengannya.”
Sepertinya itu adalah percakapan antara Airi-san dan Papa-san.
“Kenapa aku harus melakukan ini !? Ini akhirnya liburan terakhirku! Untuk bertemu dengan anjing yang berpikir untuk mencuri Haru-chan— ”
Plaaakkk!
Hiiragi-chan dan aku secara tidak sadar memalingkan kepala kami ke arah pintu. Barusan, itu suara yang cukup keras ...
“Pfffft !? Itu bersuara plakkk!? Pipiku!”
“Itu karena kamu memperlakukan seseorang yang aku restui sebagai anjing.”
“Jadi, Ia bahkan membawamu ke sisinya ... pria sialan itu ...!”
Pintu terbuka tiba-tiba, dan Papa-san masuk ke ruangan seolah-olah dia dilemparkan ke dalam.
““……””
Berdiri dengan cepat, Papa-san terbatuk seolah tidak terjadi apa-apa. Ada tanda tangan merah di pipinya.
Aku mulai berdiri dan memberikan salamku kepadanya.
“Senang bisa bertemu dengan anda lagi. Di hari itu, aku bertemu dengan Anda ketika Haruka-san melakukan wawancara pernikahannya. Nama saya Sanada Seiji.”
Menyamaiku, Hiiragi-chan juga ikut berdiri dan membungkuk denganku. Tidak, tapi apa memang perlu bagi Hiiragi-chan untuk melakukan itu?
“Y-yeah. Hiiragi Takakage. Haru-chan .... Ayah Haruka.”
Jika aku memiliki kartu nama, ini adalah tempat dimana kami akan saling menukarnya, tapi mana mungkin anak SMA yang bekerja part-time akan memilikinya.
“Ayah, apa pipimu baik-baik saja?”
“Mama memukulku sekuat tenaga ... itu menakutkan ... sungguh ..."
Dari apa yang aku ketahui tentang keluarga Hiiragi, dan percakapan antara pasangan tadi, Ia mungkin dimarahi dengan cukup keras. Takakage-san meletakkan handuk dingin yang dibawakan pelayan di pipinya.
“Aku sudah mendengar banyak hal mengenai dirimu ... dari istriku. Sepertinya kau juga melakukan pekerjaan part-time di perusahaan kami. ”
“Iya. Aku kebetulan berada di departemen yang sama dengan Natsumi-san. ”
“Begitu ya... aku dengar, kalau kau cukup mampu.”
Beliau memujiku dengan mudah.
Seperti yang diharapkan, tamparan Airi-san mungkin memiliki efek yang cukup …... Aku senang dia memujiku, tapi ekspresinya entah bagaimana tampak sangat enggan.
“Aku tidak melakukan hal sebesar itu.”
“... Sangat rendah hati. Dalam waktu dekat ... Kau adalah seseorang yang dapat aku percayakan Hiiragi ... Eh, tunggu, apa ini, aku tak pernah diberitahu tentang ini.”
Hiiragi-chan dan aku saling memandang.
Takakage-san menyentuh telinganya ... Apa Ia punya earphone nirkabel?
“Sanada-kun, tolong lupakan apa yang baru saja aku katakan. Tadi itu hanya bercanda.”
“Tentu…”
“Ayah, bulan ini menandai di mana kita sudah berpacaran selama setengah tahun.”
“Kuuu ... tak disangka masih berjalan lancar! Aku pikir kau akan segera putus setelah terakhir kali ... “
Ah, anda menumpahkan isi hati anda yang sebenarnya.
“Bahkan Ibu sudah merestui Seiji-kun, dan tampaknya cukup menyukai Seiji-kun.”
“'Yang tersisa hanyalah kamu, tau?' —— Jika itu masalahnya, lantas kenapa !? ”
Memangnya Ia berbicara dengan siapa?
Dia mencengkeram lubang suara kecil yang ada di telinganya dan melemparkannya ke tanah.
“Aku takkan memberikan Haru-chan kepada siapa pun! Akan kupastikan untuk menuliskannya di buku teksmu nanti!”
Mungkin ini khayalanku saja, tapi aura membunuh datang dari luar pintu. Takakage-san, yang berbicara dengan agresif dari tadi, tampaknya melirik pintu dengan cemas.
“Apa yang akan kamu lakukan, mengatakan sesuatu seperti itu !? Seiji-san memang masih SMA, tapi dia itu pria terhormat. ”
Suara kecil Airi-san keluar dari earphone yang jatuh di kakinya.
“Hmph!”
Takakage-san menginjak earphone dengan sandalnya, membuatnya jadi rusak.
Begitu rupanya. Kurasa Airi-san mencoba memberitahunya apa yang harus dikatakan. Namun, sepertinya Takakage-san tidak sanggup menahannya ... Tetap saja, bukannya Ia akan dipukul Airi-san lagi nanti ...?
“Walau Airi-san sudah merestuimu, aku takkan mudah memberi restu.”
“Lalu, apa yang harus aku lakukan?”
Hiiragi-chan mengerutkan bibirnya, menunjukkan ekspresi tidak puas.
“Cuma ayah. Cuma ayah yang satu-satunya bias dan menolak Seiji-kun. ”
“Itu bukan bias, Haru-chan. Lagian dari awal, kamu tidak perlu menikah! ”
“Apa-apaan itu? Aku takkan mengenali seseorang yang tidak dapat memikirkan kebahagiaan putrinya sebagai orang tua!”
Takakage-san tampak sangat terkejut mendengarnya ketika Ia berjongkok sambil memegangi dadanya.
“Fuguu ... I-itu ...”
Jika begini terus, ini akan menjadi pertengkaran antara Hiiragi-chan dan ayahnya.
“Tunggu, tunggu, Haruka-san, tenanglah sedikit.”
“I-itu benar, Haru-chan. Tenanglah sedikit. Jangan katakan sesuatu yang menyedihkan seperti itu.”
Kami berdua mencoba menenangkan Hiiragi-chan yang marah.
“Ia hanya tertarik dengan karakter Onee-sanmu yang imut, Haru-chan. Begitu Ia merasa bosan, semuanya akan berakhir. Bagaimanapun juga, Ia masih anak SMA. Perasaannya bisa berubah kapan saja. Ia akan merayu teman sekelasnya, atau bahkan adik kelas dan seniornya ...! ”
“It-Itu tidak benar ...! Seiji-ku takkan merasa bosan denganku dan membuangku ... mungkin ...”
Perlawanan Hiiragi-chan melemah. Dengan mata berkaca-kaca, dia melirik ke arahku.
Di-Dia tidak mempercayaiku !?
“Umm, aku tidak sepopuler itu, kok?”
“Aku takkan pernah memberikan Haru-chan kepada seorang pria tanpa pesona! Hahahah!”
“Ah, tapi setelah aku ingat-ingat, aku pernah mendapatkan surat cinta itu sekali ...”
“Aku takkan memberikan Haru-chan kepada pria murahan seperti itu! Hahahah! ”
Tampaknya, terlepas aku populer atau tidak, Beliau masih akan menolakku. Bahkan jika aku naik banding dengan mengatakan kalau aku mampu bekerja, beliau pasti akan menjawab kalau aku hanya melakukan pekerjaan part-time ...
“Baik, kalau begitu untuk menguji apakah Seiji-kun layak atau tidak, kenapa Ayah tidak memilih sesuatu yang bisa kamu lawan?”
Hiiragi-chan bertepuk tangan, merasa senang karena dia punya ide bagus.
“Bersaing dalam sesuatu yang aku pilih ...? Baik. Jika kau menang melawanku seperti itu, aku akan merestui hubungmu dengan Haru-chan!”
Kurasa aku akan bertarung dalam spesialisasinya ... Itu cukup merugikan, tapi untuk situasi saat ini, tidak ada cara lain.
“Dimengerti. Jika itu masalahnya, kita bersaing dalam hal apa?”
“... Mahjong. Apa itu masih terlalu dini untuk siswa SMA? ”
Dia menyeringai, tapi sangat disayangkan baginya. Selama masa kuliahku, aku pernah memainkannya sedikit, jadi aku cukup percaya diri pada kemampuanku.
“Mahjong, ‘kan ...? Aku tahu aturannya, tapi aku tidak tahu banyak tentang itu. ”
“Tidak apa-apa, itu cukup bagus! Jika Kau tahu aturannya, sisanya hanya keberuntungan. Mudah!”
Takakage-san tertawa terbahak-bahak. Berpikir bahwa aku hanya tahu aturannya, beliau mungkin bermaksud untuk mengalahkanku. Namun, jika Ia benar-benar mengatakan apa adanya, kurasa Ia mungkin sangat lemah.
“Seiji-kun, apa kamu baik-baik saja ...? Kamu belum pernah memainkan Mahjong sebelumnya, ‘kan? ”
“Ya. Tapi jika aku tidak melakukan ini, maka beliau takkan merestui kita ... Aku akan melakukan yang terbaik.”
“Seiji-kun ....”
Dengan mata yang kelihatannya hampir meneteskan air mata, Hiiragi-chan memelukku.
“Uuuuu ~ aku mencintaimu ...”
“Aku juga.”
“Lepaskan sekarang juga!”
Dan begitulah, kompetisi Mahjong dimulai.
“Karena sepertinya menarik, izinkan aku ikut bergabung!”
Ketika Natsumi-chan bergabung, si pengemudi, Yoshinaga-san juga datang.
“Dengan izin anda, biarkan aku bergabung juga.”
Yoshinaga-san kemungkinan besar jago dalam hal ini.
Karena sudah ada empat pemain, kami menuju ke ruang khusus kecil di bawah tanah dan berkerumun di sekitar meja.
“Setengah pertandingan, yang terbaik. Aku juga tidak punya banyak waktu luang! Kau tidak boleh menangis dan mengeluh setelah itu.”
“Dimengerti. Ayo kita nikmati pertandingannya. ”
Untuk Yoshinaga-san, jelas-jelas dia terlihat jago di Mahjong, tapi apa Natsumi-chan bisa bermain?
Berlawanan dengan kekhawatiranku, gerakannya tampak cukup terlatih. Natsumi-chan, dia benar-benar bisa bermain.
... Di sisi lain, Takakage-san sering melakukan kesalahan, dan salah menempatkan beberapa bidak. Ia mungkin jarang memainkan ini, ya?
“Papa, cepatlah.”
“Tu-tunggu, Na-chan. Saat ini aku sedang memikirkan di mana aku harus memotongnya. ”
Aku akan meninggalkannya karena itu akan membuat waktu pertandingannya semakin lama, tapi pertandingan antara Takakage-san dan aku berakhir dengan kemenanganku.
“Ka-Kau pasti berbohong, ya! Kau bilang kalau kau cuma tahu aturannya! ”
“Tidak, aku sebenarnya tidak berbohong, kok?”
“Kenapa ... kenapa ... kenapa aku bisa kalah ...? Bukannya ini permainan keberuntungan ...? ”
Jadi, dia benar-benar memikirkan itu.
“Ummm, jadi anda akan merestui hubunganku dengan Haruka-san, ‘kan?”
“Guuu ...! Se-Sekali lagi ...! ”
“Bukannya Anda bilang sendiri tidak boleh mengeluh?”
“Guuu…”
Ketika aku melemparkan kembali kata-kata yang dia katakan, Natsumi-chan menepuk pundakku.
“Maafkan dia. Ayah sangat menyukainya, tapi Ia benar-benar payah. ”
“Jika itu masalahnya, maka tidak apa-apa. Ayo main sekali lagi. ”
“Hmph. Kali ini pasti menang, aku akan melindungi Haru-chan! ”
Pada akhirnya, kami bermain dua kali lagi, tapi tetap saja semua itu berakhir dengan kemenanganku.



close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama