Soudana, Tashika ni Kawaii Na Chapter 02 Bahasa Indonesia


Memori 2: Sekolah dan Makan Siang serta Diriku

—Apa sekarang aku bahagia?
Maksudku, aku memahami konsep dasar kebahagiaan, dan sepenuhnya sadar akan arti harfiahnya. Tapi, jika seseorang bertanya kepadaku apakah emosi yang memenuhi dadaku ini adalah kebahagiaan, lalu aku akan kebingungan bagaimana harus menanggapinya.
Aku akhirnya berhasil kembali ke dunia asalku, setelah melintasi berbagai dunia yang berbeda selama 7362 hari ... Tidak, ini bahkan bukan tentang dunia asalku. Yang ingin aku lakukan adalah memberitahu Koori rasa terima kasihku ... mengenai perasaanku. Hanya itu satu-satunya alasan aku ingin kembali, membuatku merasakan dorongan, keinginan untuk kembali. Untuk bertemu Koori lagi. Aku mengukir kata-kata ini di dalam hatiku, satu-satunya keinginanku untuk menyampaikannya kepada Koori secara langsung.
“Senpai terlalu lucu ... jadi aku akan berpacaran denganmu.”
Kami bahkan menjalin hubungan luar biasa ini, yang mungkin memberikan kejutan terbesar sepanjang hidupku, sangat mengejutkan lebih dari apa pun yang aku lihat selama di dunia berbeda yang pernah aku kunjungi. Bahkan setelah menggunakan mantra [Arusal] berkali-kali untuk mengecek, kenyataan saat ini tidak berubah. Itu sebabnya—
“Ah, Senpai~Pagi~”
Aku bahkan tidak menjawab salam Koori saat dia berjalan ke arahku dengan mengenakan seragam sekolahnya.
“Ahaha, wajah macam apa itu ~?”
“... Ini terlalu menyilaukan.”
“Hm? Menyilaukan? Memangnya cuaca hari ini secerah itu ya?” balas Koori saat dia menyipitkan matanya sambil menatap langit.
Melihat dia seperti ini, dia sekali lagi tampak seperti keberadaan yang terlalu jauh sehingga membuatku pusing.
“Ahh, aku ngerti, aku ngerti. Senpai, kamu pasti memikirkan sesuatu yang aneh lagi, kan?”
“Sesuatu yang aneh…”
Benarkah…? Aku tidak bisa menilai dengan benar jika apa yang aku pikirkan ini adalah aneh. Itu sebabnya aku mencoba mengungkapkannya ke dalam kata-kata.
“Aku sedang... memikirkan kebahagiaan ...”
“Kebahagiaan ….... Pfft, apa-apaan itu ~? Itu memang seperti Senpai, sangat lucu! ” Koori menyembunyikan mulutnya dengan tangan saat dia tertawa.
Rambutnya yang lembut dan halus, lengannya yang ramping nan putih, pahanya yang mempesona. Yang paling penting, tawa tulusnya, aku bisa menyaksikannya seumur hidupku. Ya ... ini dia. Itu tadi. Pemandangan ini yang selalu kuimpikan ...
“Apa mengenai itu? Sesuatu seperti kamu merasa bahagia karena bisa bersamaku lagi? Yah, mungkin tidak ...”
“Ya, tentang itu.”
“Eh.”
Sekali lagi, aku menyadari betapa tajamnya insting Koori.
“Bisa berjalan bersama denganmu seperti ini ... adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku.”
Mengutarakan ke dalam kata-kata sebenarnya tidak terlalu banyak berarti. Kenapa aku baru menyadarinya, padahal sesederhana ini?
“...? Kenapa kau malah membungkuk seperti itu?”
“... Karena ... ahh ayolah ... ini curang ...”
“-! Anomali status ?! ”
Waktu sudah berlalu sejak ancaman kelainan status telah dikonfirmasi sangat penting, jadi semakin cepat kita menanganinya, semakin baik.
“Ahh, hentikan, hentikan, hentikan! Kamu tidak perlu menggunakan sihir segala! Aku beneran baik-baik saja!”
“Tapi, wajahmu ...”                  
“Abaikan saja wajah tomatku untuk saat ini ... Jangan lihat aku.”
“Ma-Maaf ...” Aku melakukannya lagi.
Aku masih jauh dari kata sempurna dalam memahami akal sehat dunia ini. Jujur saja, bahkan ekspresi marah Koori seperti itu adalah sesuatu yang kunikmati, tapi aku benar-benar tidak ingin dia membenciku, jadi sebagai gantinya aku terpaksa diam-diam menatapnya dari samping. Bahkan ketika kami mulai berjalan, Koori terus menggumamkan kata-kata seperti Tenanglah, diriku ... tenang ... pada dirinya sendiri.
“Ah, benar-benar ... Senpai, sudah lama sekali sejak melihatmu memakai seragam.”
“Seragamku…”
Sekarang dia mengungkitnya, 20 tahun yang lalu, Koori  mengenakan seragam divisi sekolah menengah, tapi sekarang kami berdua sama-sama memakai versi SMA. Dari dulu dia sudah imut, tapi itu bahkan tak sebanding dengan dirinya yang sekarang.
“... Aku tidak tahu, aku tidak merasa terlalu nostalgia.”
“Kamu hampir tidak ingat apa pun dari masa sekolahmu, ‘kan ... Yah wajar sih sudah dua tahun — atau lebih tepatnya, 20 tahun di dalam kepalamu ... Woah, itu pasti sulit ya. Sungguh, serius!”
Tepat ketika mata Koori terbuka lebar dengan ekspresi terpukau, dia mengubahnya menjadi senyum gembira.
“Aku senang kamu bisa kembali saat aku masih pelajar ~ Meski itu juga memudahkanku karena Senpai jadi seangkatan denganku sekarang ~”
“………”
Sebelum aku koma di dunia ini, Koori duduk di kelas dua divisi SMP, sedangkan aku duduk di kelas 1 SMA. Koori sendiri menjalani proses belajar dengan normal selama bertahun-tahun, sampai tiba di tahun sekarang, sementara aku disuruh mengulang keals 1 SMA lagi setelah bangun dari koma. Tentu saja, aku benar-benar senang bahwa aku tidak dipaksa meninggalkan sekolah, jadi begitulah.
“Hm ...? Oh jangan bilang ... kamu benar-benar merasa terganggu oleh itu?”
“…Ya.”
“Eh!”
“Kau dan aku berada di angkatan yang sama sekarang. Bukannya itu sedikit mengganggu bila kau terus memanggilku Senpai? ”
“—Ah, ahhh! Jadi itu yang kamu maksud? Ya ampun ... itu bikin kaget aku saja. ”
“...? Apa maksudmu?”
“Tidak, tidak, tidak, bukan apa-apa ~!”
Aroma jeruk yang samar-samar datang melayang dari Koori saat dia dengan panik melambaikan tangannya ... Ini aroma yang menyenangkan.
“Maksudku, kita memang seangkatan sekarang ... tapi itu tidak menghilangkan perbedaan usia kita, ‘kan? Senpai itu seperti Senpai dalam hidupku! ”
“Dalam hidup ... begitu ya. Memang benar bahwa menghormati orang tua adalah prinsip yang bisa ditemukan di dunia mana saja. ”
“Hahahaha, menghormati orang tua, katanya! Ungkapan boomer seperti itu!”
Hanya dengan melihat Koori tertawa histeris ketika dia memegangi perutnya saja membuat semua kenangan brutal dan keji dari dunia lain yang aku alami hanya beberapa hari yang lalu benar-benar menghilang.
“Ahh, ini hebat ... waktu pasti berlalu dengan cepat ketika kamu bersenang-senang, aku benar-benar mengerti sekarang ... Oiya, Senpai, ruang guru ada di sebelah sana ~ Kamu harus menyelesaikan beberapa dokumen karena kamu kembali ke sekolah, ‘kan?”
Bahkan sebelum aku menyadarinya, kami sudah tiba di sekolah, dan Koori berjalan cepat saat dia menunjukkan arah kepadaku.
“Baiklah, Senpai, sampai jumpa lagi!” Menampilkan tanda peace di sebelah kepalanya, pose yang pas untuk Koori, dia lalu perlahan berbalik.
“Nanonano ~ Pagi ~”
“Pagi ~ Oh, kamu memotong ponimu? Terlihat imut banget~”
“Eh, s’rius? Yay ~ ”
“Nano-jan, ye ye ~”
“Ye ~ apa ada sesuatu yang baik terjadi? Kamu sepertinya dalam suasana hati yang baik~ ”
“Kamu bisa tahu ~? Oya Nano ~ Kamu melihat drama itu kemarin? Aktor baru itu, kamu tahu, dia— ”
Dalam hitungan detik, Koori dikelilingi oleh teman-teman, dan aku melihatnya berjalan pergi dengan senyum gembira. Melihat apa yang selalu aku impikan terjadi di hadapanku, aku merasa sangat puas—
“Hm? Kamu, apa ada yang salah? Ruangan kelas ada di sebelah sana.”
Seorang pria tak dikenal memanggilku, menyadarkanku kembali ke kenyataan. Dari kelihatannya, impianku ini masih akan berlanjut—

ghghghgh

“Omong-omong, Nano? Siapa cowok tadi? ”
“Eh.”
“Bukannya kamu berangkat sekolah bareng dengan dia ~? Kamu senyam-senyum seperti orang gila saat kamu berbicara dengannya.”
“…….”
Aku membeku saat mendengar perkataan temanku. Yah aku harus bisa menutupinya entah bagaimana. Aku cukup pandai dalam hal itu, kok ~ Tapi, aku merasa itu tidak enakan terhadap Senpai.
“Um ... yah, bagaimana aku harus mengatakannya ... Ia itu pacarku.”
Mengatakannya langsung memang terasa memalukan, suaraku lalu menjadi sangat kecil.
“Umm ... pacar, ya ... Begitu ya, begitu ... Apa ?! Pacar?!”
Reaksi panik temanku membuatku melompat kaget.
“Wah, suaramu terlalu kencang ...”
“Nano ?! Pacar ?! Serius ?! Eh, beneran?! Sumpah?!”
“Apa apa? Aku barusan mendengar kata pacar datang dari sini, ya ~? Ikut nimbrung dong ~ ”
“Nano punya pacar !!”
“-Hah?! Tidak mungkin! Tahan! Tunggu sebentar, serius ?! -Berita besar! Nano punya pacar!! ”
“-Yang bener?!”
Kamu bercanda? Berita tersebut menyebar ke seluruh ruangan dalam hitungan detik, dan teman-temanku, yang bersebaran di dalam kelas, mulai mendekati, lalu mengelilingiku seolah-olah aku sedang diinterogasi oleh polisi.
“Ehhh ...? Apa yang sedang terjadi?”
Kalian semua tidak punya hal lain untuk dilakukan? Seriusan?
“Nano! Kamu punya keberanian untuk menjadi populer di kalangan anak cowok, tapi tidak pernah berpacaran dengan siapa pun, ‘kan ?! ”
“Apa maksudmu aku punya keberanian ... Yah, itu benar sekali kalau aku punya pacar.”
“Sumpah?!”
“Hei, bukannya kamu baru saja ditembak oleh si keren dari sekolah lain?! Kamu menolaknya, jadi mengapa?”
“Nano bahkan dirayu oleh mahasiswa ketika sedang bersamaku ~”
“Dan, siapa cowoknya ?!”
“Ia bukan dari kelas kita, ‘kan?!”
“Um ...”
Aku sedikit ragu mengenai apa yang harus dikatakan dan apa yang tidak boleh dikatakan.
“Ia dari sekolah kita ... tapi aku tidak tahu apa Ia akan ada di kelas kita ...”
Itu mengingatkanku, apa Senpai sudah mengurus formalitasnya dengan benar?
“Kurasa aku melihat pacar Nano!”
“Serius?! Ia seperti apa ~?”
“Tampang keren? Pasti yang keren! ”
“Cuma sebentar sih, jadi aku tidak bisa melihat dengan baik.”
“Info yang tidak berharga ~!”
“Tapi, kupikir Ia — Watase Kairi!”
Dia menebak dengan benar sampai-sampai aku bahkan tidak bisa berkata apa-apa. Tunggu, bukannya dia juga yang berpapasan denganku ketika sedang mengunjungi Senpai di rumah sakit ...?
“Watase Kairi ... Siapa?”
“Ah, cowok yang harus mengulang tahun ini, ‘kan?”
“Aku tahu cowok itu ~ Ia dirawat di rumah sakit, kurasa ~”
“Dirawat ... Cowok yang kecanduan beberapa obat aneh?”
“Tidak—”
“Wah, itu benar-benar menakutkan!”
“Eh, Koori, kamu baik-baik saja?!”
“Nano ~ Aku tahu kamu menyukai sesuatu yang terdengar menyenangkan, tapi jangan terlalu berlebihan, oke ~”
“…Hm…Hmmm…”
Ini ... malah berubah menjadi situasi yang sulit. Mungkin lebih baik aku memberi tahu mereka apa yang sebenarnya terjadi ….. Astaga, seharusnya aku diam saja tentang semua ini.
Tapi, sebelum aku bisa menjelaskan semuanya, mereka semua mulai mendiskusikan Senpai — Tidak [Watase Kairi] dengan beberapa cerita karangan. Namun ketika aku tidak tahu apa yang harus dilakukan ,—
“Ah, Senpai.”
Aku melihat orang yang dibicarakan ketika Ia baru saja memasuki ruang kelas. Mendengarku memanggilnya, yang lain langsung terdian dan menatapnya. Tidak, lebih tepatnya melototinya. Tapi, waktu yang tepat sekali ~
Seperti yang diharapkan dari Senpai, Ia sama sekali tidak terganggu dengan tatapan semua orang yang tertuju padanya. Setelah beberapa detik keheningan yang canggung, Senpai adalah orang pertama yang memutuskan kontak mata, yang lain mulai berbisik satu sama lain.
“…Cowok itu?”
“Eh, Ia terlihat, tidak menakutkan sama sekali?”
“Dasar bodoh, lihat dengan baik, tatapan matanya dingin sekali ...”
“... Wah, menakutkan ~”
“Tidak, dia benar-benar normal! Sebaliknya, itulah bagian yang bagus darinya! Serius, kalian pada melihat ke mana sih~?” Atau begitulah yang ingin aku katakan, tapi untung saja berhasil menahan diri.
Tahan itu. Tahan itu, diriku.
Senpai berjalan menuju bagian depan papan tulis, dan melihat sekeliling kelas saat Ia menyipitkan pandangannya.
“... Entah bagaimana, ini terasa nostalgia.”
Ya, masuk akal ........lagipula  sudah 20 tahun lamanya...
“Ia berbicara seakan-akan baru kembali dari penjara anak ... ?!”
“Eh, mantan dari sekolah anak-anak nakal... ?!”
“Jadi itu yang kamu maksud dengan dirawat?!”
“Ini terlalu menakutkan ...!”
Um ... Aku bisa mendengar kalian semua dengan jelas ... Senpai mungkin dapat mendengarnya — Tunggu, Senpai, mengapa kamu mengulurkan tanganmu ke arah pintu dengan tatapan dingin seperti itu— ?!
“Senpai, berhenti!”
Semua orang terkejut karena aku tiba-tiba berteriak keras, tetapi Senpai lebih cepat dariku.
“[Excel]”
Sebuah lubang besar tercipta di pintu, dan guru yang ada di balik pintu menjerit ... Ya ampun ...
“……Musuh…”
Tepat sebelum Senpai bisa berjalan di luar, aku akhirnya berhasil menghentikannya.
“Senpai! Itu bukan musuh! Beliau adalah wali kelas kita!”
“Wali ... kelas ...? …… Ahhh. ”
Dengan ekspresi Kalau dipikir-pikir lagi , Senpai menghentikan apa pun yang hendak Ia lakukan, setidaknya ...
“…Hah?! Eh, apa yang baru saja terjadi ?!”
“Senjata api?!”
Yeah, ketahuan …... pikirku, saat aku memegang kepalaku.
“Kau baik-baik saja, Koori? Tidak perlu memaksakan dirimu jika kau merasa tidak enak ... Aku bahkan bisa menggunakan [Recure] jika kau membutuhkannya— ”
“Ah, tidak, aku baik-baik saja, sungguh ...”
Jadi kamu menganggapnya seperti itu? Aku tidak tahu apakah kamu mau mencoba membunuhku atau bersikap baik hati …... Yah, kurasa pembicaraan kita tidak bakal nyambung. Meski begitu, aku menganggap ini terasa menyenangkan.
“Heh ... haha, kurasa kehidupan pelajar yang normal pun akan cukup bermasalah ~”
“...? Aku pasti bisa melewati berbagai situasi yang berbahaya. Meski nyawaku yang jadi taruhannya. ”
“Hidupmu tidak akan dalam bahaya di sini!”
Apa yang kamu bicarakan, mana mungkin situasi berbahaya bisa terjadi di sekolah ?!
“Dan, hal serupa pernah terjadi di dunia yang berbeda juga.”
"Eh, serius? Kedengarannya sangat menarik ...”
Aku ingin mendengar lebih banyak tentang itu, tetapi sebelum itu—
“Mungkin kita harus memikirkan alasan yang tepat untuk kekacauan ini dulu ~” Aku tersenyum masam kepada yang Senpai memiringkan kepalanya ke kiri.

TTTTT

Tentu saja, itu bukan akhir dari segalanya. Pertama, Ia yang berbicara dengan murid lain berubah menjadi berantakan. Pada dasarnya, hampir tidak ada teman sekelas yang berani mendekati Senpai karena apa yang terjadi tadi pagi, tapi ini juga merupakan pemicu bagi beberapa murid cowok untuk membuat langkah pertama.
“Yo, Watase-kun! Senang bertemu denganmu!”
“………”
“... Um ... Watase ... kun ...?”
“... Hm? Ah, kau berbicara denganku? Maaf. Mungkin itu karena mereka tidak memanggilku dengan nama tersebut ketika aku di sana, jadi aku hampir tidak bereaksi saat dipanggil Watase lagi. ”
“Di-Di sana? Apa kau pergi ke suatu tempat?”
“Dari dunia yang berbeda — ah.”
“Dunia yang berbeda…? Eh, apa?”
“... Aku mengacaukannya ... janjiku dengan Koori ...”
“Ohh, jadi kau dan Nano-chan sebenarnya — Hah? Kenapa kau mencengkram kepalaku seperti itu ?! Wah, tunggu ?!”
“Maaf. Biarkan aku menghapus ingatanmu. ”
“Ing-Ingatanku ?!”
“—Okay Senpai, tenanglah sebentar!”
Hal seperti tadi sering terjadi, dan aku selalu berhasil menyela. Bahkan selama jam pelajaran, ketika guru mengatakan Sudah dua tahun sejak pelajaran terakhirmu, kan, Watase, Senpai hanya berkomentar dengan acuh tak acuh tidak, sebenarnya sudah 20 tahun, membuat semua orang kebingungan, atau ketika teman yang ada di kursi belakangnya bangkit untuk menjawab , Senpai mendorongnya ke bawah dalam sekejap ... Aku bahkan mendengar bahwa sesuatu yang gila terjadi selama jam pelajaran olahraga anak cowok.
Bagaimanapun juga.
Karena semua tersebut terus-terusan terjadi, yang bermula dari kesalahpahaman kecil berubah menjadi desas-desus gila …... Jujur, aku sudah tidak tahan lagi.
“Senpai, bisakah kamu ikut denganku sebentar ~?”

ghghghgh

Jika tebakanku tidak salah, aku mungkin melakukan sesuatu yang fatal. Aku mengingat kembali saat Koori dan aku mengadakan pertemuan strategi—
“Senpai, kamu hampir melupakan kenangan waktumu saat masih menjadi pelajar, ‘kan? Jika begitu, maka ... tolong jangan lakukan hal yang mencurigakan, terutama pada hari pertamamu. Tidak mengeluarkan beberapa item dari ruang hampa seperti sebelumnya. Khususnya pedang atau senjata lain, Kamu mengerti? Sama halnya dengan sihir ... Aku tahu mungkin sulit rasanya karena tiba-tiba tidak menggunakannya lagi, tapi berusahalah yang terbaik untuk tidak menonjol dalam hal itu.”
... Sampai batas tertentu, aku benar-benar berusaha untuk menepati janji tersebut …... Tepat sebelum aku ingin melakukan sesuatu, aku memang menahan kemampuan terbaikku, dan aku juga tidak menggunakan [Garden ]. Aku memang menggunakan sihir di sana-sini, tapi seharusnya tidak ada yang bisa melihatnya.
Yang paling menimbulkan masalah adalah tubuhku sendiri, karena sudah terbiasa untuk langsung bereaksi terhadap segala sesuatu kejadian aneh yang ada di sekitarku. Hanya tentang itu, aku tidak bisa mengontrolnya. Mengejutkan orang yang ada di sekelilingku berkali-kali.
“………”
Dia pasti cukup muak denganku sekarang. Membayangkan adegan ini di kepalaku, aku cukup hancur sampai-sampai aku bahkan tidak sanggup memanggil Koori yang berjalan di depanku. Lalu, kami akhirnya tiba di atap, dengan Koori berbalik ke arahku dengan ekspresi yang kaku — ekspresi ... yang kaku?
“Pffft…Hahahahahaha…hahahahahaha!”
Dia tertawa terbahak-bahak. Dia tertawa. Terus tertawa. Dan tertawa terpenggal-penggal.
“Ha ... hahaha ... Ahh, akhirnya ... itu sulit buat menahan diri ... Aku benar-benar hebat untuk menahannya…. ... Aku pantas dipuji karena ini ... Fiuh ...”
“…Menahan?”
“Maksudku, kamu mengejutkan semua orang seperti itu ... dan Senpai tidak tahu apa penyebabnya ‘kan ... Pffft ... Hahaha, gawat! Cuma mengingatnya saja sudah bikin aku ngakak lagi! Ahahahaha!”
“Kau tidak ... marah?”
“Ahaha ... Hahaha ... heh? Ma-Marah? Pada apa? ”
“Kau menyuruhku untuk berhati-hati ... dan aku barusan ...”
“Ahhh, yah, aku sempat panik beberapa kali di sana-sini, tapi apa boleh buat ~”
“Apa maksudmu…?”
“Maksudku, kamu terlempar ke dunia lain selama dua puluh tahun, dan sekarang kamu tiba-tiba kembali ke lingkungan asing ini ... Tidak ada yang menyalahkanmu karena tidak tahu mana yang salah atau benar. Paling tidak, aku takkan melakukan itu, jadi aku tidak punya hak untuk marah pada orang lain, bukan begitu? ”
Melihat Koori tersenyum lebar padaku, aku terdiam.
“Ah, aku yang harus minta maaf! Kamu mencemaskan itu, ‘kan ... Aku seharusnya memberitahumu dulu...”
“Koori.”
“Iya?”
“Terima kasih.”
Sungguh. Dari lubuk hatiku, perasaan syukur yang kuat muncul. Itu sebabnya, aku hanya bisa membungkuk ke Koori, di mana dia mulai kebingungan.
“Tunggu ... Su-Sudah berapa kali kubilang, jangan melakukan aksi seperti itu ... apa yang aku katakan cukup normal, jadi ...”
Senyum malu-malu Koori tampak begitu mempesona, aku akan kehilangan diriku sendiri ... Kumohon, aku tidak membutuhkan hal lain dalam hidup, jadi biarkan waktu ini berlanjut selamanya.

TTTTT

Dilihat dari ekspresinya, Senpai tampak sangat terganggu. Meski tidak terlalu diperlihatkan dari luar, jadi aku hanya menikmatinya dengan banyak kesenangan, tapi mungkin aku sedikit kasar. Jika itu masalahnya, maka setidaknya aku harus bertanya mengapa, jadi aku tanya.
“... Awalnya, kupikir ini hanya bayanganku saja ... Tapi, berjalan menyusuri lorong, orang-orang di sekitar kita ...” Senpai angkat bicara.
“Ahh ... jadi kamu mendengar itu?”
Saat berjalan ke atap beberapa menit yang lalu, kami berpapasan dengan banyak orang yang saling berbisik tentang Senpai. Misalnya saja-
“... Hei, bukannya itu ...?”
“Cowok yang menghempaskan guru ...”
“Ia menghancurkan pintu dengan senjata ...”
“Ia juga melempar murid dari klub judo ...”
“Ia berada di penjara remaja selama dua tahun, ‘kan?”
“Kenapa Ia tiba-tiba di sekolah kita ...?”
“Mungkin Ia mengancam kepala sekolah—”
Dan semacamnya. Sesuatu yang terdengar mungkin, sesuatu yang terdengar konyol ... yah, sebagian besar dari desas-desus yang mereka bayangkan sama sekali tidak benar, tapi tidak semuanya bohong pula. Karena Senpai tidak berkomentar sama sekali, aku pikir Ia bahkan tidak mendengarnya.
“Yang membuat semuanya sulit ... adalah aku.”
“………… Hm? Apa yang sedang kamu bicarakan?”
Seperti serius, apa yang Ia bicarakan? Ini bukan tentang mereka yang berbisik di belakang punggungnya? Apa Ia pikir semua orang menghindarinya karena mereka pikir Ia berandalan?
“Semua orang berpikir kalau kau kehilangan jalanmu, Koori.”
“... Permisi, tapi apa yang sebenarnya kamu pikirkan tentangku, Senpai?”
“Tapi ... di ruang kelas, mereka semua memohon padamu ...”
“Hmm? Apa begitu ya ~?”
Aku pribadi merasa itu cuma cemoohan yang tidak berharga.
“Kau benar-benar populer, Koori.”
“Populer ~? Yah, aku menag cukup terkenal, terutama dengan para cowok ~ ”
“... Ya, itulah yang kupikirkan.”
“... Um, aku tahu ini kedengarannya aneh, tapi bisakah kamu tidak setuju denganku? Mengatakan itu sendiri rasanya sangat memalukan. ”
Tapi, Senpai hanya menggelengkan kepalanya, dan melanjutkan.
“Tidak, kamu benar-benar cantik, Koori. Setelah datang ke sekolah ini, dan melihat semua gadis lain, mereka tidak bisa dibandingkan denganmu. Tidak salah lagi.”
“... Itu ... yah ... terima kasih ... banyak ...”
Lagi-lagi itu ... Lagi dengan ... Ahhhhh! Sialan ... Senpai sangat tidak adil ...
“Terutama ketika mereka mengobrol denganmu Koori, mereka selalu tersenyum sepanjang waktu itu — Terutama murid cowok.”
“Aku penasaran tentang itu ~? Semua orang sangat ramah denganku, jadi lebih mudah untuk berbicara dengan mereka, kurasa ...”
Bukannya itu juga karena kehadiran Senpai hari ini? Terus, Ia benar-benar memperhatikanku dengan intens ... Apalagi sangat peduli dengan rincian kecil seperti murid cowok — Tunggu, jangan bilang ...?
“Hm? Senpai ... jangan bilang kamu merasa cemburu?”
Jujur saja, hanya bertanya begitu saja sudah membuatku tersipu, tapi bagaimana Senpai bereaksi dengan pertanyaan eksplosif ini?
“………! ……! ” Dia tetap diam, tapi ekspresi wajahnya menyiratkan semua yang perlu aku ketahui.
Sampai segitunya?! Aku ingin berteriak padanya, tapi saat melihat wajah Senpai memerah seperti apel matang, aku bahkan tidak perlu bertanya, jadi pada akhirnya tidak apa-apa. Yah ... mungkin tidak sebanyak itu, melihat itu saja sudah membuatku ikutan malu. Tetapi bahkan lebih dari itu, aku mati-matian untuk menyembunyikan wajah menyeringaiku dari Senpai.
“Ahh, Senpai ~ kita bukan anak-anak lagi ~”
... Dang. Suaraku sampai gemeteran segala. Niatku sih cuma sebagai lelucon, tapi rasanya seperti aku menggali kuburanku sendiri dengan itu ... Mu-Mungkin aku harus mengubah topik pembicaraan.
“Un-Untuk saat ini, ayo makan siang, bagaimana?"
Benar, benar. Salah satu alasan untuk datang ke sini adalah untuk mengeluarkan semua tawa yang harus aku tahan di kelas, tapi sebenarnya masalah utama baru dimulai sekarang.
Karena sekolah kami adalah sekolah gabungan SMP dan SMA, ada banyak siswa yang ada, dan sejumlah besar fasilitas untuk menunjang.
Namun, dengan banyak bangunan dan atap, cuma atap gedung kelas satu SMA yang terbuka, dan salah satu dari bangunan ke-3 divisi SMP ini biasanya tidak boleh dimasuki siswa.
Sekarang, jika seseorang bertanya bagaimana Senpai dan aku bisa naik ke tempat terlarang ini ….. yah, melalui berbagai insiden, aku berhasil mendapatkan kuncinya, tehe, tapi lebih baik kita kesampingkan itu sekarang ~ Dengan tidak ada orang di sini, kita bisa memonopoli sepenuhnya seluruh atap ini hanya untuk kita berdua, duduk di dekat pagar pembatas. Dengan roti dan minuman yang aku beli dari kantin sekolah, persiapan sudah selesai ~
Sebelum ada yang bertanya, aku terkadang makan siang sendirian di sini juga. Biasanya aku makan siang bersama teman-teman di ruang kelas atau di luar di halaman, tapi ketika aku ingin makan sendirian, aku selalu mengunjungi tempat ini.
Tapi — sekarang, Senpai yang masih sedikit tersipu duduk di sebelahku, jadi aku tidak bisa menahan kegembiraanku.
“Hehe ... sudah lama sekali sejak aku bisa makan siang bersama Senpai ~”
Buatku, sudah dua tahun lamanya. Tapi bagi Senpai — ini sudah 20 tahun. Jujur saja, aku tidak pernah membayangkan kalau aku akan bisa makan siang dengan Senpai lagi seperti ini ...
“... Sejujurnya, aku tidak menyangka bisa menghabiskan waktu dengan Koori lagi seperti ini.”
“—Ahaha, jangan mengatakan hal yang sama yang kupikirkan ~” Aku akan tersipu lagi ‘kan, ehe.
“Hal yang sama…? …Begitu ya.”
... Apa-apaan dengan wajah keren yang gila ini. Aku tak bisa ... Aku tak bisa berhenti menyeringai.
Senpai hanya menatap kosong ke arahku, jadi aku menunjukkan padanya satu senyuman lagi, memberikan roti dan teh padanya.
“Ini, Senpai. Kamu suka roti kacang, ‘kan? Atau apakah seleramu berubah saat berada di dunia yang berbeda?”
“………”
“Kenapa kamu diam saja seperti itu ~ Ah apa jangan-jangan tebakanku tepat sasaran?”
“Tidak ... aku hanya berpikir bahwa kau benar-benar mengingatnya.”
“Eh. Ahh ~ Yah, itu karena jarang-jarang ada yang suka roti kacang ... ”
Alasan sebenarnya adalah karena aku sering mengenang masa dimana Senpai masih bersamaku ...
“Melihat Koori mengingatnya tentang diriku ... membuatku benar-benar bahagia.”
“—!”
Lagi-lagi ... dengan ... aaaaaah!
“... Kenapa kau condong ke depan seperti itu — jangan bilang!”
“Tidak apa! Aku baik-baik saja! Jangan lakukan apa pun!”
Karena Senpai hendak mengeluarkan pedang lagi, atau mengeluarkan sihir aneh, aku bahkan tidak bisa menggeliat, meski kelucuannya hampir membunuhku setiap saat. Terutama sejak kami datang ke sekolah hari ini. Mungkin dia gugup? Lagipula, sudah 20 tahun baginya ... Maksudku, aku bahkan tidak bisa membayangkan sudah berapa lama rasanya. Dia jauh hidup lebih lama ketimbang hidupku.
Senpai menghabiskan waktu tersebut di tempat yang sama sekali berbeda, sendirian. Semakin aku memikirkannya, semakin aku berpikir pula bahwa Senpai berada di sini sudah merupakan keajaiban.
“Haaa ... Tentu ini luar biasa ... Nom.”
“... Apa itu enak?”
“Mm? Roti ini? Yah ... kurasa?”
Aku kebingungan kenapa Senpai tiba-tiba mengungkit hal itu, tapi mungkin karena apa yang aku katakan sebelumnya. Sepertinya dia berpikir bahwa bagian 'luar biasa' mengacu pada rasa roti yang sebenarnya. Kalau dilihat dari kebiasaannya, dia mungkin mempertimbangkan diriku. Sebelum dia pergi, dia tidak pernah bertanya apa yang aku makan dan sebagainya.
Lagi-lagi, aku tak bisa tidak berpikir bahwa pasti banyak hal sudah terjadi selama waktunya di dunia yang berbeda, dan berkat itu juga dia mungkin sudah banyak berubah.
“Kamu pasti makan siang bersama seseorang saat kamu berada di dunia lain, ‘kan?”
Orang pertama yang terlintas di pikiranku adalah Shaltinia-san. Hm ... yeah, itu pasti terjadi. Meski aku tidak bisa membayangkannya.
“...... Dengan seseorang ... di dunia lain ...” Senpai bergumam pada dirinya sendiri dengan ekspresi yang sulit.
“Maksudku, jika sulit untuk dibicarakan, Senpai tidak perlu memberitahuku, oke. Aku cuma penasaran saja.”
“Tidak.” Balasnya segera. “Aku penasaran bagaimana cara memberitahumu — tapi ini mungkin cara yang tercepat.”
“Eh, jangan bilang—“
Dia akan menggunakan sihir yang 360° itu—? Pikirk, tapi sebelum aku bisa menyelesaikan kalimat tersebut, area sekelliling kami menjadi gelap gulita. Dia benar-benar bergerak cepat ... Sebenarnya, aku agak iri pada itu, karena aku cenderung ragu dan khawatiran.
“Senpai, ini ...”
“Ini akan berubah dalam secepatnya.”
Seperti yang dia katakan, itu segera cerah. Di bawah langit biru yang lebar, sebuah kota yang terbuat dari batu berdiri. Nampak terlihat sedikit ... gaya eropa? Mungkin yunani? Di sebelah jalan beraspal itu ada toko terbuka, dengan banyak orang—
“Tunggu, apa ini ?! Ekor?! Tanduk ?!”
Aku hanya berasumsi mereka adalah manusia normal, tapi mereka semua memiliki ekor dan tanduk yang tumbuh dari tubuh mereka ?! Wajah mereka ... Eh? Setidaknya mereka terlihat seperti manusia normal ... lebih tepatnya, ada banyak wajah cantik!
“Ini    .”
“Maaf apa?”
“…… Ah ... Ya, para penduduk [Mektray] semuanya memiliki darah naga yang mengalir di nadi mereka. Pada dasarnya, mereka semua ras demi-human. ”
“Begitu rupanya ~”
Maksudku, aku tidak terlalu mengerti definisi demi-human, tapi mereka mungkin makhluk yang mirip manusia? Apa semua orang di dunia itu terlihat seperti orang-orang ini? Aku yakin kalau manusia normal seperti Senpai pasti sangat menonjol sekali. Apa dia akan baik-baik saja seperti itu?
“Tapi, dimana Senpai?”
“…Di sana.”
Aku melihat ke arah yang ditunjuk Senpai. Senpai masa lalu sedang duduk di tempat terbuka dekat air mancur, kepalanya menunduk ke bawah, ditutupi oleh tudung.
“Ahh, itu seperti Senpai ~”
Kamu bisa langsung tahu melalui aura yang dia berikan. Aku mendekatinya untuk melihat wajah yang dibalik tudung, dan—
“Eh, wah ... Bukannya kamu, tampak, kurus sekali ?! Apa kamu baik-baik saja saat itu ?!”
Senpai masa lalu jauh lebih ramping dari yang sekarang, dan aku semakin khawatir bahwa dia mungkin akan mati kelaparan ... jadi aku merasa panik.
“U-Untuk serkarang, kamu harus makan sesuatu—“
Untuk sekarang, makanlah sesuatu!
Suaraku bertumpang tindih dengan suara orang lain. Orang tersebut duduk di sebelah Senpai yang kurus di bangku. Gadis itu memegang ... sesuatu seperti roti, kurasa...? dan sup ...? saat dia mendesak Senpai untuk memakannya. Yah, aku akan bereaksi dengan cara yang sama jika aku melihat Senpai seperti itu ... Tapi, yang lebih penting, melihat gadis ini dari depan, aku kehilangan ketenanganku.
“Tunggu sebentar ... bukannya gadis ini sangat imut ... ?!”
Tingginya hampir sama denganku, tapi rambut peraknya yang mengkilap membuatku merasa iri, rupa wajahnya kecil dan menggemaskan, dan mata ungunya bersinar dengan kekhawatiran …. Produk perawatan seperti apa yang dia gunakan untuk kulitnya, seperti , permisi?! Itu terlihat sangat halus dan bersinar!
Bila dilihat lebih dekat, ada tanduk kecil yang mencuat dari kepalanya, dan itu untuk beberapa alasan itu sangat cocok untuknya... super imyuuuttt! Dia tampaknya ... memiliki ekor juga ...? Wah, kakinya sangat ramping! Ahhh, ehhhhh ... uuuuuuh?
“Siapa gadis itu?!” Aku berbalik sambil bertanya histeris kepada Senpai yang asli.
“Sejujurnya ... Aku lebih tidak ingin melihat wajahnya lagi ...” Ujarnya, jelas mengungkapkan kekecewaannya.
“…………Ehhh?”
Apa yang dia bicarakan? Kamu merasa kecewa terhadap kecantikan yang tak tertandingi seperti dia? Aku cukup yakin bahwa aku bisa menatapnya selama seminggu …... Terlebih lagi dia mengkhawatirkan Senpai ... Seperti, hubungan seperti apa yang mereka miliki?
Tepat saat aku merasa agak suram, Senpai angkat bicara.
“Tepat setelah itu ...”
Dengan waktu yang bersamaan dengan komentar Senpai, si cantik mulai bertindak. Dia membagi roti, dan mendorongnya ke arah wajah Senpai, tapi ... dia tidak memakannya. Setelah itu, si cantik itu mengambil sepotong kecil roti di antara jari-jarinya, mendorongnya ke mulut Senpai masa lalu …... tapi dia masih belum memakannya. Baik…
Ayo dimakan!
Ah, apa dia merasa muak? Pikirku, ketika gadis itu meletakkan roti di mulutnya sendiri. Ehhhh? Bahkan cara mengunyahnya terlihat sangat lucu! Seperti hamster kecil ... Tapi juga sangat bermartabat ...? Apa dia, mungkin, seorang bangsawan? atau begitulah asumsiku, ketika dia tiba-tiba menggerakkan mulutnya ke arah Senpai — Bukan, gadis itu dengan paksa membuka mulutnya, dan mendorongnya ke bawah, untuk memberinya makan.
“Ehhhhhhhhhhhhhh?!”
“Itu yang terburuk ... ‘Kan?”
“Ma-Maksudku ... kurasa begitu...?”
Dia agak terlalu liar ...? Tapi meski begitu, gadis cantik liar seperti dia tidak terlalu buruk juga ...
“Hah? Senpai tidak menolak sama sekali ...? “
Senpai hanya membiarkannya begitu saja ... ah, tunggu. Gadis cantik liar itu terlihat seperti menyentuh tubuh Senpai ...? Rasanya ada banyak sentuhan yang tidak perlu di sana ...? Dan wajahnya juga agak memerah?
“... Pada saat itu, aku hampir mati kelaparan, jadi aku bahkan tidak punya tenaga untuk melawan.”
Jadi itu sebabnya dia bisa melakukan semua itu tanpa perlawanan Senpai — mengatakan itu mungkin terlalu jauh, ya. Nah, kesampingkan itu ...
“Jangan bilang, gadis cantik liar ini ... um ... siapa namanya lagi?”
... kata Shemi mungkin hampir mendekati bahasa kita.”
“Shemi-chan ... bukankah dia terlihat cukup dekat denganmu?”
“Mustahil.” Senpai menyatakan. “Aku bisa menunjukkan buktinya padamu.”
Usai bilang begitu, pemandangan di depan mataku bergerak lagi. Dengan momentum yang cukup cepat membuatku merasa pusing, pantulan di hadapanku berubah. Seperti yang kuduga, ini benar-benar menyenangkan.
Pemandangan sekarang tampaknya berada di semacam hutan, dengan Senpai yang sedang memusnahkan seekor ular raksasa, bersama si cantik Shemi-chan yang keren di sebelahnya. Menyamai Senpai, dia bergerak dengan kecepatan yang gila, tapi sementara mereka berdua bertarung, mereka terus bertengkar satu sama lain.
Selanjutnya, di tempat gelap dekat dengan batu raksasa, Shemi-chan bertarung dengan harimau seukuran gajah, terus-menerus melirik ke sini. Yang kumaksud di sini tentu saja merujuk pada Senpai masa lalu,, yang tampaknya memahami petunjuk itu, dan pergi untuk membantu Shemi-chan dalam pertempurannya, lalu mengeluh. Aku tidak pernah bilang kalau aku butuh bantuanmu ! , dan ... Ah, Senpai berjalan pergi.
Setelah itu, pemandangannya berubah lagi menjadi tempat gunung merapi yang benar-benar panas, saat Senpai bertarung dengan makhluk bersayap yang sangat menakutkan ... makhluk yang mirip seperti naga, melindungi Shemi-chan yang terluka. Menanggapi hal itu, Shemi-chan menatapnya dengan mata berair, memintanya untuk meninggalkanku begitu saja ...! tapi Senpai tampak lebih kesal dari apa pun.
Bahkan di jalan-jalan kota, lapangan terbuka saat fajar, dan sebuah kastil raksasa ... Eh, kastil? Serius, siapa sebenarnya Shemi-chan?
Bagaimanapun. Semua adegan berbeda ini dengan sempurna menunjukkan bahwa Shemi-chan bertingkah dengan cara yang rumit terhadap Senpai.
“Begitu ya, begitu ya~”
Senpai menatapku, tampak bertanya padaku melalui tatapannya apakah aku mengerti apa yang Ia maksud, dan aku mengangguk.
“Aku sudah mengerti sekarang ~”
Shemi-chan benar-benar menyukai Senpai. Tapi, karena dia benar-benar payah dalam menunjukkan perasaannya, dia malah melakukannya dengan cara yang kikuk. Meski begitu, aku takkan memberi tahu Senpai. Sebaliknya, aku bahkan tidak bisa …... siapa yang tahu gimana reaksinya nanti.
Senpai menganggap sebagai tanda penegasan di sisiku, benar-benar tidak memahami kebenarannya, tapi masih mengembalikan pemandangan ke air mancur yang ditunjukkan di awal.
“Selama berada di [Mektray], aku lebih sering berkelana dengannya, dan sebagai hasilnya, aku tak bisa makan bersama orang lain, dan aku kesulitan menerima makanan yang setengah dimakan.”
Menunjukkan kelemahanmu, dan mereka akan mengambil keuntungan dari hal itu — pelajaran tersebut sepertinya telah terukir di kepala Senpai. Senpai mengatakan itu sekarang, dan Senpai yang pada saat itu ketika Ia dalam perawatan Shemi-chan memiliki ekspresi yang sama sekali berbeda.
“... Ya, masuk akal ...”                                                                    
Aku bisa memahami perasaan Senpai dengan sempurna, dan aku juga merasakan masalah Shemi-chan. Dia pasti panik karena perasaannya tidak tersampaikan kepada Senpai ~ Dan, aku merasa berterima kasih padanya karena dia menyelamatkan Senpai dari dalam keadaan bermasalah yang dia alami, tapi ...
“Menyuapi dari mulut ke mulut, ya ...”
Maksudku, aku sangat memahami kalau dia putus asa, tapi pasti ada cara lain ... ?! Seperti, meski aku tahu itu tidak bisa dihindari, aku masih merasa agak putus asa ….... Ini jarang terjadi padaku!
“Ahhhh…”
“... Koori?”
Sementara aku merasa kesal atas keegoisanku, kami tampaknya kembali ke atap lagi, dan Senpai menatapku dengan khawatir.
“…Tidak, aku baik-baik saja.” Aku segera merilekskan wajahku untuk membuatnya tampak seperti aku benar-benar oke, lalu aku menyadari apa sebenarnya yang kupegang.
Bahkan sebelum aku bisa menyelesaikan pikiranku, aku berbicara.
“Mm ... Senpai mau coba?”
Dari rotiku yang setengah dimakan.
—Mengulurkan kepada Senpai, yang tak bisa memakan makanan dengan orang lain. Bahkan tidak bisa memakan makanan yang setengah dimakan dari orang lain.
—Tunggu ... tunggu tunggu tunggu, apa yang sedang aku lakukan ?!
Aku merasa jauh panik dari yang aku harapkan, dan menyadari bahwa aku bahkan tidak merujuk langsung ke roti, dan menjadi semakin tersipu. Um ... um ... apa yang harus dilakukan ... ?!
“Cu-Cuma bercanda ... ~”
Tapi.
Senpai.
Meraih tanganku.
“Aku akan memakannya.”
Dengan ekspresi serius.
Dia melihat wajahku.
“Eh ... Tidak, tidak, tidak, itu Cuma bercanda! Ini sudah setengah dimakan ... kau tahu ...? ”
Oleh diriku.
Ahh, bagaimana jika Ia bilang tidak? Tapi aku ingin Ia mengatakan tidak, tapi juga ya pada saat yang sama ... dan uuuuuughhhhh ...
“Jika itu punyamu, maka.”
Senpai menjeda kata-katanya sejenak, lalu melanjutkan dengan kekuatan sebanyak yang Ia bisa kerahkan.
“Aku pikir aku bisa memakannya kalau itu milikmu, Koori ... Tidak, aku ingin memakannya.”
“——”
Senpai, seperti biasa, semerah tomat. Ia ... mencoba mengatasi trauma yang dideritanya ... tetapi, lebih dari itu ... Ia mengatakan Ia ingin melakukannya karena ini aku—
“……………… Aku tidak bisa.”
“—Ma-Maaf ... itu pasti menjijikkan, ‘kan ...”
“Ahhh, tidak, tidak, tidak, tidak! Bukan itu yang aku maksud! Sebaliknya, aku ingin kamu memakannya! ”
“Eh?”
Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuh ?! Apa aku sudah benar-benar gila?!?!?! Aku ingin meninju diriku sendiri ... !! Tapi aku harus menahan diri ...!
“Um ... boleh aku menanyakan sesuatu yang sangat memalukan ...?” Pintaku, tapi tidak perlu untuk menunggu jawaban Senpai. “Apa kamu tahu istilah ... ciuman tidak langsung?”
Yah begitulah. Aku tahu. Aku benar-benar tahu. Meski selama ini aku tidak punya pacar, aku sudah ditembak berkali-kali sekarang, dan pergi ke pesta dan karaoke dan ke mana saja dengan teman-teman dan cowok-cowok lain ... dan aku harusnya baik-baik saja dengan ini. Aku sebenarnya ... baik-baik ... tapi.
“…Aku tahu.” Jawab Senpai.
“~~~!!!”
Jika kamu bilang begitu dengan wajah tegas ... lalu aku akan benar-benar kehilangan diriku, Senpai ...! Ak-Aku tidak bisa ... Aku tidak bisa menatap matanya lagi ...! Ba-Bagaimana aku bisa berakhir seperti ini ...?
“La-Lalu ... um ... in-ini dia ...”
Ini dia, kataku ?! Serius ?!
Tepat saat kepalaku hampir pecah, tepat saat Senpai hendak memasukkan roti ke mulut ini — itu menghilang.
“…Hah?”
Mendongak ke atas langit, ada seekor burung terbang melewati kami, dan di paruhnya ada sepotong roti.
“Eh ... serius?”
Sesuatu seperti ini ... sebenarnya bisa terjadi? Bukannya waktunya terlalu kebetulan? Eh ...?
Sementara aku menatap burung itu dengan kaget, Senpai langsung mengeluarkan pedang—
“Berhentiiii!! Tetap di sana! Apa yang kamu lakukan karena sepotong roti belaka?! ”
“Tapi…”
Ah, ugh ...! Jangan membuat wajah sedih seperti itu ...! Haa ... aku tidak bisa lagi ... aku ...
“Aha ... ahahahaha! Bu-Burung?! Seekor burung menyambar roti dengan kebetulan waktu yang begitu konyol ?! Ehhhhh, hal seperti ini benar-benar terjadi di kenyataan ?! In-Ini terlalu lucu… ahahahaha! ”
“………… Aku tidak mengharapkan itu.”
Juga, Senpai terlihat sangat frustrasi! Ahhh, bagaimana mungkin bisa ada cowok seimut ini! Meskip aku juga tidak bisa berhenti mengawasinya ~
“Ayo menyerah saja, Senpai. Lagian, jika kamu sangat menginginkannya, aku tak keberatan memberimu setengah makanku— ”
Tunggu. Bukannya ini, seperti, sangat menjijikkan untuk mengatakan bahwa Ia boleh memakan makanan yang sudah setengan kumakan kapan saja Ia mau?
Kemudian aku menyadari betapa bodohnya pemikiranku  ini, dan tertawa sekali lagi. Senpai pada akhirnya terus melihatku juga dengan ekspresi lembut, membuatku merasa hangat.
Di tempat yang sama seperti dua tahun lalu, melakukan hal-hal yang tidak dapat kami lakukan dua tahun lalu — Perasaan yang tidak aku miliki dua tahun lalu — Menyadari bahwa aku menyukainya. Mulai sekarang, kita bisa mengalami semua hal ini dengan tempo kita sendiri, jadi tidak perlu terburu-buru.
Tapi hal terpenting dari itu semua—
“Bisa bersama dengan Senpai seperti ini ... rasanya benar-benar menyenangkan!”
Itulah yang terpenting. Atau setidaknya aku pikir begitu.
“... Ya, bisa bersama dengan Koori seperti ini ... adalah kebahagiaan dalam hidupku.”
Senpai menimpali kata-kataku dengan senyuman yang sangat lembut, membuat jantungku berdetak kencang — memangnya aku ini seorang gadis yang sedang jatuh cinta atau apa? Tunggu, itu pertanyaan retoris.
Dengan campuran rasa malu dan kebahagiaan, aku sekali lagi menggeliat dalam penderitaan yang nyaman.


close

2 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama