Watashi no Shiranai, Senpai no Hyakko no Koto Chapter 74


u Sudut Pandang si Senpai u   
Senpai, selamat pagi.
“Pagi.”
Aku bertegur sapa dengan Kouhai-chan di platform stasiun seperti biasa.
... Dia tampak tidak bersemangat. Aku bisa merasakan suasana suram di sekitarnya.
“Hah?”
“Apa yang terjadi?”
Kouhai-chan menoleh ke arahku, memiringkan kepalanya dengan bingung.
Senpai, apa ada sesuatu yang terjadi padamu?
“Apa maksudmu?”
Setelah Kouhai-chan mengedipkan matanya beberapa kali, dia berbalik.
Kalau begitu, lupakan saja.
Eh, apa-apaan itu?
Bukan sesuatu yang penting kok, Senpai.
Kereta pun datang, membuat suara berderak. Kami masuk ke dalam saat pintu dibuka.
Kouhai-chan yang menempatkan dirinya dalam posisi kami yang biasa menghela nafas.
Uh huh.
Aku tidak tahu bahwa dia berniat terlihat sedih, tapi karena dia melakukannya dengan sangat terang-terangan, tentu saja aku akan penasaran.
Apa yang terjadi, Maharu-sama?
Yah, tidak sopan bila bertanya langsung padanya, jadi ayo kita lakukan dengan cara seperti ini.
Sudah kubilang kalau itu bukan apa-apa.
Sudikah kamu memberitahuku, Nona?
Senpai jangan bersikap munafik begitu, itu menjijikkan.
Aku pikir kau tidak perlu mengatakannya secara langsung begitu.
Aku hanya berusaha bersikap sopan.
Itu sama sekali  tidak cocok untukmu. Aku juga sedang tidak ingin membalasnya.”
Apa-apaan itu? Kalau begitu, apa yang ingin kau lakukan?
Aku tidak akan memberitahumu.
Ahh, sungguh. Aku mengerti, oke?
Pertanyaan hari ini . Katakan apa yang ingin kau coba katakan tadi setelah bertemu aku sebelumnya.”

u Sudut Pandang si Kouhai u   
Aku pikir aku berhasil mengelak. Keretanya pun datang di saat yang tepat pula.
Tapi sepertinya mustahil. Ia terus bertanya, dan bahkan menggunakan pertanyaan hari ini.
Errr…
“Apa?”
Kamu beneran tidak mengerti apa-apa, Senpai?
Aku pikir bukan hanya aku yang terseret dalam masalah ini, deh.
Tapi karena Senpai adalah ... Senpai, Ia seharusnya belum menyadarinya, eh. Mungkin.
“Apa? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?”
Daripada Senpai, ini tentang aku, atau mungkin tentang kita berdua.
“Hah?”
Aku menyadari kalau aku menjelaskannya kurang jelas.
Yah, toh itu bukan masalah besar. Katakan saja dengan cepat.
“Sebenarnya…”
“Uh huh?”
Teman-temanku bilang, Kamu punya pacar, ya! Selamat !!! kemarin.
Mereka juga mengatakan itu dengan senyum lebar. Apa-apaan dengan senyum mereka itu.
Haa ... ehhh ??
Jadi sekarang, aku menantikan reaksi dan jawaban senpai.

u Sudut Pandang si Senpai u   
Kemarin adalah hari pertama pelajaran dimulai pasca acara festival budaya selesai. Dengan kata lain, itu adalah hari ketika semua orang di kelas berkumpul untuk pertama kalinya setelah festival budaya dan berbicara tentang rumor dan gosip.
Uhhh.
Dibilang kalau Kouhai-chan punya pacar, harusnya pasti saat di festival budaya, ‘kan? Kios takoyakinya mencurigakan, tapi penjahat itu tidak lagi menjadi masalah.
Pertama-tama, apa aku benar-benar pasangannya? Itulah masalahnya.
Dia bisa menipu seseorang tanpa mengusap kelopak mata.
Selamat untuk cowok itu, kalau begitu. Siapa cowok beruntung itu?”
Kouhai-chan menghela nafas saat dia menjatuhkan bahunya.
Temanku menyaksikannya saat festival budaya kemarin.
Hee.
Aku selalu bersama cowok ini di setiap stan manapun, dan bahkan saling menyuapi Takoyaki Rusia satu sama lain untuk makan siang.
Jadi, dari sudut pandang objektif, hubungan macam apa yang ada antara Kouhai-chan dan diriku?
Mungkin kami tampak seperti orang yang berpacaran. Bahkan mungkin, 80% dari orang-orang yang melihat kami pasti akan berpikiran begitu. 
Hoo.
Meski aku mengerti, aku berpura-pura tidak memahaminya.
Kouhai-chan pasti tahu kalau aku sedang berpura-pura.
“Ngomong-ngomong.”
Dia mengintip ke mataku.
Orang itu sekarang berdiri di depan mataku.
Hee.
Kasih rekasi kaget atau apa kek, Senpai.
Maaf, aku tidak benar-benar tahu bagaimana meresponsnya dengan benar.
Mungkin aku harus mengatakan sesuatu seperti, Ba-Barusan kau bilang apa!??
Yah, tidak apa-apa.
Kouhai-chan tertawa.
Jadi itu tidak apa-apa?

u Sudut Pandang si Kouhai u   
Eh, pokoknya. Tidak ada yang bilang begitu pada Senpai, kan?”
“Uh huh.”
Aku yakin kamu tidak menyadarinya. Kamu sedang digosipkan, Senpai.”
Ini bukan seperti aku punya Efek Pesta Cocktail, jadi bukannya tidak apa-apa?”
Efek pesta koktail seperti ketika seseorang bisa mendengar nama mereka dengan baik meski di lingkungan yang bising.
Pipiku yang tersenyum secara alami mulai menegang, dan aku menanyakan ini pada Senpai.
Bagaimana jika tidak baik-baik saja? Apa yang akan Senpai lakukan?”
“Apa maksudmu?”
Aku menjadi sedikit terlalu gugup, jadi aku berdehem dan melanjutkan.
Pertanyaan hari ini . Jika rumor kalau aku dan senpai berpacaran menyebar, apa yang akan dilakukan Senpai?”
Senpai menggaruk kepalanya seolah-olah Ia sedang bermasalah.
Uhm ... Yah, aku tidak bisa melakukan apa-apa selain menyangkalnya. Lagipula aku adalah ketua OSIS.”
Iya. Seperti yang sudah kuduga, Senpai benar-benar tipe orang seperti itu, ya.
Sebagai ketua OSIS, aku harus melakukan itu. Aku harus memberi contoh kepada semua siswa, jadi aku harus mengikuti aturan yang ada dalam peraturan sekolah. Hubungan romantis dilarang.”
Setelah berbicara serius sebanyak itu, Senpai memalingkan wajahnya dariku.
Kemudian, aku mendengar Ia mengatakan ini dengan suara kecil.
Bahkan aku juga ingin merevisinya, oke.
Aku mendengarnya dengan jelas, tetapi aku berpura-pura tidak bisa mendengarnya karena suara kereta untuk membuatnya lebih menarik.
Eh?
Ya, itu saja.
Aku mendekatkan telinga kiriku ke Senpai, dan bertanya lagi.
“Apa katamu?”
“Bukan apa-apa.”
Peran kami sepenuhnya terbalik, dan rasanya menjadi agak menarik bagiku.
“Tolong beritahu aku.”
Aku takkan mengatakannya lagi.
Pipi Senpai sedikit merah, dan Ia tidak mau menatap mataku apa pun yang terjadi. Namun, melihat gelagatnya tidak pernah membuatku bosan sama sekali.




Hal yang kuketahui tentang Senpai-ku, nomor (74)
Sudah kuduga, menggodanya itu lebih menyenangkan.


close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama