The Result when I Time Leaped Chapter 129

Ketertarikan Baru

 

“Kau membeli gelang baru.”

Aku kebetulan menyadarinya saat istirahat makan siang di dalam ruang referensi sejarah dunia. Gelang itu terbuat dari manik-manik yang disatukan, membuatnya terlihat seperti rosario.

Namun, gelang tersebut sedikit berwarna-warni, dengan manik-manik putih dan pink.

“Ah. Ini? Ini powerstones.”

Dia mengatakannya dengan senyum bahagia sehingga aku kesulitan buat memberi komentar.

Aku tipe orang yang berpikir kalau hal yang beginian terlihat mencurigakan, namun tampaknya bagi Hiiragi-chan yang polos, mempercayai sepenuhnya akan hal itu.

Menghubungkan segala sesuatu dengan hal-hal spiritual seperti ini tidak baik, bukan? Ketika aku mengatakan itu padanya, dia memberitahuku kalau itu tidak benar, dan yang bisa aku lakukan hanyalah menyerah.

Dia mengajariku tentang banyak efek yang berbeda tapi semuanya tidak ada yang masuk ke kepalaku.

Setelah masalah bertukar tubuh, sepertinya dia mengembangkan ketertarikan mengenai hal seperti ini. Nah, jika kau mengalami efek itu secara langsung, tidak mengherankan jika kau mau mencoba hal-hal yang serupa.

... Ini masih di sisi lucu. Hiiragi-chan secara bertahap menjadi lebih dan lebih doyan pada hal-hal begituan, dan kemudian——

 “Seiji-kun, pastikan untuk rileks, oke? Ambil napas dalam-dalam, dan lemaskan tubuhmu ...”

Dia menjadi terobsesi dengan hipnotis!!

... Dia belum bergabung dengan beberapa aliran sesat yang aneh, jadi itu masih oke. Di siang hari selama akhir pekan, aku dicoba untuk dihipnotis saat mengunjungi apartemen Hiiragi-chan.

Aku melakukan apa yang diperintahkan dan menyantaikan badanku. Setelah diperintahkan lagi, aku menyilangkan kedua tanganku.

“Ufufu. Setelah kamu menyilangkan lengan itu ... Kamu bakal tidak bisa memisahkannya lagi ...!”

Hiiragi-chan tersenyum. Dia sepertinya menunggu reaksiku. Keyakinannya pada hal ini pasti cukup tinggi

“Apa itu mungkin? Aku cukup yakin aku bisa memisahkan mereka seperti biasa. ”

Jadi, aku meragukannya.

“Hehem, Itulah yang dikatakan semua orang.”

Apa yang kau maksud dengan semua orang? Tolong jangan pamerkan wajah sombongmu.

“Aku akan mulai, oke? Aku akan mulai menghitung mundur ... 3, 2, 1, sekaraaaaaaaang! ——Tanganmu sekarang saling menempel.”

“... Uwaaah, itu benar, ini asli (monoton).” 

Sebenarnya tidak ada efek sama sekali. Namun, dia berusaha keras untuk melakukannya sehingga akan sangat disayangkan bila itu tidak berhasil, jadi aku akhirnya berpura-pura kalau hipnotisnya berhasil.

“Eheheh. Aku berhasil melakukannya. Ini adalah hasil dari semua latihan itu! ”

Apa tidak ada yang lebih dari sekadar hipnotisme?

Tetap saja, aku tidak bisa mengatakannya di hadapan senyum polos seperti itu ...

“Ini hanya level pertama.”

Jadi, masih ada lagi?

“Ak-Aku mengerti. Selanjutnya apa yang terjadi...?”

“Jika itu dilakukan lebih kuat, kamu takkan bisa memisahkan tanganmu sampai aku membatalkan mantranya.”

Aku sudah bisa memisahkannya. Pada saat ini, tanganku disilangkan karena keinginanku sendiri.

Ketimbang hipnotisme, bukannya ini lebih mirip sugesti mental?

“Seiji-kun, kamu akan kesulitan menggunakan kamar mandi.”

“Ya, aku takkan bisa mendukungnya dengan benar.”

Ahahah, Hiiragi-chan tertawa senang.

Maa, maa. Menjadi teman bermainnya adalah tugas sang pacar.

Dia membaca semacam buku petunjuk, dan kelihatannya sekali lagi dia ingin merencanakan sesuatu.

Aku harap dia tidak melakukan sesuatu untuk mengubahku menjadi binatang. Untuk pikiran pria paruh baya, itu mungkin sedikit sulit ...

Bukannya yang beginian lebih berhasil pada Hiiragi-chan daripada aku?

“Biar aku pinjam buku itu sebentar. Aku akan mencoba sesuatu padamu.”

Aku kebetulan lupa dan mengulurkan tanganku.

“Hah? Kamu memisahkan tanganmu...”

“…”

“Jadi, sudah bisa dilepas.”

Dengan lembut aku mengalihkan pandanganku.

“... Sepertinya begitu.”

“Yah, itu baik-baik saja, tapi emangnya kamu bisa melakukan sesuatu padaku? Butuh bakat tertentu, tahu? Karena aku juga berlatih sedikit. ”

Ketika dia membicarakannya seperti itu, itu benar-benar membuatku ingin mencobanya. Setelah mengikuti langkah yang sama, dan melakukan hal yang sama—

“Seiji-kun, kalau seperti ini, lenganku ... hah? ... Fuunnnnnnnnn! Ha-Hah ...? ”

Dia jadi tidak bisa melepaskannya! Dia berusaha cukup keras sampai-sampai membuat wajahnya memerah, tapi tidak ada tanda-tanda mau lepas.

Tidak peduli berapa banyak dia bergetar, menggosoknya dengan air, menggunakan tanganku untuk menghangatkannya, tidak ada yang berhasil.

“Ap-Apa yang harus aku lakukan ...? Jika aku seperti ini, aku tidak bisa ... menggunakan kamar mandi ...”

“Pada saat itu, setidaknya aku akan melepaskannya!”

Jika dia mengompol, dia pasti akan menangis.

Mungkin tidak ada hubungannya denganku. Hanya saja Hiiragi-chan adalah tipe orang yang mudah dihipnotis.

Ketika aku membolak-balik buku hipnotis, seperti yang diharapkan, ada beberapa yang mengajari tentang berubah menjadi binatang. Ini adalah yang sering kau lihat di televisi.

Ayo kita coba apakah itu akan berhasil atau tidak.

“Haruka-san, mulai sekarang, kamu akan berubah menjadi kucing. Santai. Tarik nafas dalam-dalam, keluar ... masuk ... keluar ... santai ... aku akan menjentikkan jari, dan ketika aku melakukannya, kau akan menjadi kucing—”

Pachin, aku lalu menjentikkan jari.

Gakun, Hiiragi-chan menunduk ke bawah ... Sepertinya itu berhasil.

“Bagaimana perasaanmu?”

Menggunakan tangan yang berbentuk menjadi cakar kucing, Hiiragi-chan menyentuh kakiku.

“Nyaaah ~”

Sekarang aku ingat, Natsumi-chan juga pernah berubah menjadi kucing sebelumnya. Meski secara sukarela, sih.

Berguling-guling sambil ingin dimanjakan, dia lalu datang ke pangkuanku. Itu menjadi bantal pangkuan saat dia mengusap pipinya ke pahaku.

“…….”

Tidak ada banyak perbedaan dari biasanya ...

“ Nyaaan

Dia hanya berbicara seperti kucing, tapi tindak-tanduknya hampir sama seperti biasanya! Namun, wajah dan gerak tubuhnya mirip seperti kucing.

Bagaimana aku bisa melepaskan ini? Aku melihat buku itu dan mengkonfirmasi langkah-langkahnya.

Ketika aku dengan kuat meraih bahu Hiiragi-chan, dia memiringkan kepalanya.

“Unyaah?”

Sialan. Dia sangat imut.

“Aku akan melepaskannya sekarang, oke? 3, 2, 1— ”

Pachin. Aku menepuk kedua tangan di depannya seolah-olah aku mencoba menipu kucing.

“—Haah. Apa ... aku berubah jadi apa? ”

“Kau berubah menjadi kucing.”

“Kucing? Mana mungkin…”

Aku seharusnya mengambil video dirinya.

“Haruka-san, hipnotisme macam apa yang akan kau berikan padaku sebelumnya.”

“Aku mau melakukan ... yang ini.”

Ketika dia membuka buku itu untuk menunjukkannya kepadaku, ada hipnotisme untuk memperkuat emosi. Seperti yang sudah kuduga, ketimbang hipnotisme, itu cuma sugesti mental.

“Aku pikir aku akan membuat Seiji-kun semakin mencintaiku!”

“Ketika kau mengatakan itu langsung di depanku, rasanya jadi agak memalukan ...”

“Ba-Bahkan aku juga merasa sedikit malu ...”

“Tapi tetap saja, bukannya tidak perlu melakukan itu?”

“Eh? Kenapa?”

Aku mencium Hiiragi-chan, yang sedang melongo.

“Ka-Karena seperti ini."

“... Karena seperti ini. Bahkan jika kamu mengatakan itu, aku masih tidak mengerti ...”

Meski dia benar-benar mengerti diriku, Hiiragi-chan menatapku dengan mata menengadah.

“Bahkan tanpa hipnotis seperti itu, aku selalu mencintaimu. It-Itu sebabnya ...”

Uwah, ini sangat memalukan. Aku bisa merasakan wajahku memerah. Namun, Hiiragi-chan juga sama.

“Ak-Aku juga ... aku juga mencintai Seiji-kunn ...”

Tanpa sadar aku menjadi malu dan tersenyum. Hiiragi-chan juga tersenyum malu.

Wajah kami semakin dekat, dan seolah-olah untuk mengkonfirmasi keberadaan satu sama lain, kami perlahan-lahan saling mencium. Ketika aku mencoba untuk melilitkan tanganku di punggungnya, tanpa sengaja aku malah menyentuh payudaranya. Ah, itu buruk.

Terkejut, tubuh Hiiragi-chan bergetar.

Itu tidak sengaja, tapi—

“……..”

…? Hah?

Dia tertegun sebentar, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Dia tidak menggodaku dengan kata cabul, dan tidak menyuruhku untuk berhenti.

Apa artinya ini? Aku tidak paham sama sekali dan ikutan tertegun.

Karena itu, keheningan yang canggung berlanjut sejenak.

“... Ak-Aku harus pergi memasak ...”

Hiiragi-chan, sambil tersipu malu, meninggalkan sofa seolah-olah berusaha melarikan diri.

—— Menjadi memaksa seperti ini seharusnya tidak masalah.

Aku ingat bahwa Rei-chan yang sekarang pernah mengatakan itu kepadaku sebelumnya.

“... Ba-Barusan, apa itu ...?”

Jika aku mendorongnya ke bawah seperti itu, mungkin jangan-jangan—




close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama