The Result when I Time Leaped Chapter 133

Hari X - Bagian Ketiga

 

Kata Hiiragi-chan.

“Ini sudah larut malam, lho?”

Namun, suaranya diwarnai dengan sedikit kebahagiaan. Pertama kali aku pergi ke apartemennya adalah sekitar waktu ini, jadi aku pikir sudah agak terlambat untuk memberi peringatan.

“Boleh aku pergi ke sana?”

Ketika aku mengulangi lagi, dia langsung menjawab dengan ya.

“Seiji-kun, kamu ini anak yang bandel, ya.”

Dia berbicara dengan nada menggoda, tapi setelah mengatakan sampai jumpa, dia menutup telepon. Aku mempersiapkan diri dan meninggalkan kamarku. Di lorong, aku berpapasan Sana yang memanggilku untuk datang.

‘Ah, Nii-san, kamu mau kemana?”

“Cuma berjalan-jalan di malam hari."

“Mentang-mentang besok hari Sabtu? Dasar nakal! De-Dengan siapa kamu mau berjalan-jalan ...? ”

“Tidak masalah, kan?”

“... Bagaimana dengan menonton DVD dengan Sana——”

“Ayo kita lakukan lain kali.”

Aku melambaikan tangan saat menuruni tangga dan meninggalkan rumah. Bersepeda selama musim ini berarti kau kena terpaan angin dingin. Ini dingin sekali...

Ketika aku sampai di apartemen Hiiragi-chan, Hiiragi-chan juga datang pada waktu yang bersamaan.

“Kerja bagus.”

Begitu dia melihatku, dia berlari dan memelukku. Hmm? Dia sudah menggunakan syal yang kami berikan padanya.

“Fuwaan, Seiji-kun ... Aku berhasil melewati sebagian besar dari itu ... Aku pikir aku akhirnya bisa bersantai sebentar.”

“Begitu ya. Itu bagus. Terima kasih atas kerja kerasnya.”

Mungkin karena sudah lama sejak kita berpelukan seperti ini, Hiiragi-chan tidak mau lepas sama sekali.

“Tunggu, kita sedang ada di luar, tahu?”

“Ah. It-Itu benar ... ”

Tidak ada orang, dan karena area tempat parker lumayan gelap, bahkan jika ada orang lain melihat, mereka mungkin takkan mengenali kita.

Aku membantunya membawa barang-barangnya dan kami memasuki kamar apartemennya bersama-sama. Meski dia tengah sibuk dengan pekerjaannya, ruangan kamarnya masih terlihat bersih.

“Luar biasa ... Jika aku sibuk dengan pekerjaan, aku yakin tidak punya tenaga untuk membersihkan cucian atau piring kotor. Namun, tidak ada satupun dari itu ...”

“Ehen. Tapi Seiji-kun, daripada itu, bukannya kamu saat ini tinggal di rumah keluargamu?”

Ah, upps.

“Aah ... Umm, aku hanya membayangkannya jika aku hidup sendiri.”

Hiiragi-chan sepertinya tidak terlalu penasaran tentang itu.

Setelah duduk di sofa, dan secara acak melihat beberapa saluran di televisi,

“Haruka-san, terima kasih untuk syalnya. Aku akan sering menggunakannya.”

“Yah, setelah Rei-chan berbicara denganku, aku sedikit panik ... Aku akhirnya terlalu bersemangat ... dan kemudian aku merajut syal ...”

Aku memberi tahu Hiiragi-chan bahwa Rei-chan tahu tentang hubungan kita.

“Ya ... Ini tentu layak dicurahkan padanya ... dia tampaknya dewasa sebelum waktunya dan sarannya benar-benar dewasa.”

Yah, karena dia sudah berusia dua puluh tahun.

“Natsumi juga mencoba menghentikanku ... memberitahuku bahwa rajutan tangan akan terlalu berat atau semacamnya.”

Aku tidak mengerti ... itulah ekspresi sulit yang sepertinya Hiiragi-chan katakan.

Mungkin niatnya yang berat, bukan dalam artian berat fisik.

“Eh? Rajutan, berat ...? ”

Bukannya itu tak masalah jika kau memberikannya kepada kekasihmu ...? Hah? Apa ada sesuatu yang aku dan Hiiragi-chan tidak mengerti?

“A-aku benar, ‘kan! Itu tidak berat! Aku akan memberitahu Natsumi lain kali. ”

“Ah— Umm, Sensei!”

“Y-ya !? ... Sebaliknya, jangan panggil Sensei tapi Haruka-san, kan !? ”

Dia menyolek-nyolek pipiku dengan jarinya.

“Umm ... Ini! Aku lupa memberimu ini ...”

Aku mengeluarkan hadiah dari kantongku. Itu adalah kotak hitam mewah, cukup kecil untuk muat di telapak tanganku.

Hiiragi-chan membelalakkan matanya.

“Eeeh? Tapi, aku sudah mendapatkan syal hari ini ...?”

“Yang itu dari kami bertiga. Yang Ini, hadiah dariku ...”

Dengan itu, Hiiragi-chan akhirnya melihat ke kotak yang kubawa keluar. Ketika aku membuka kotak kecil itu, cincin perak bermerek yang aku beli sebelumnya muncul.

Jika aku menganggapnya sebagai hari ulang tahun seseorang yang berharga bagiku, aku merasa ini tidak terlalu mahal. Berasal dari sisiku yang lebih dewasa. Namun, jika itu dari sudut pandang anak SMA biasa, ini mungkin terlihat sangat mahal.

“Ini…”

Hiiragi-chan tak bisa berkata-kata. Aku takut akan reaksinya, jadi aku tidak bisa melihat wajahnya secara langsung. Ini cukup serius, jadi kau harus membeli sesuatu setidaknya semahal ini! Bukan mustahil baginya untuk mengatakan sesuatu seperti itu. Untuk seorang wanita ... bahkan seseorang seperti Hiiragi-chan yang tidak terlalu memperhatikan merek, 100% pasti mengetahui merek ini. Aku juga tidak tahu banyak tentang desain yang mungkin disukai seorang wanita, jadi masih ada kemungkinan dia tidak menyukainya ... Aku sudah meminta saran dengan karyawan toko, tapi ... ternyata ada banyak preferensi pribadi yang berbeda ...

“Ini luar biasa…”

Aku melihat Hiiragi-chan, yang berbicara sambil berlinangan air mata, dan mengetahui kalau matanya sudah berkaca-kaca.

“... Jari yang mana?”

Aku mengambil cincin itu dan mengambil tangan kiri Hiiragi-chan. Aku kemudian meletakkannya di jari manisnya. Itu sangat cocok.

“Selamat ulang tahun, Haruka-san.”

Buwaah, Hiiragi-chan mulai menangis.

“Ini sangat mengejutkan ...”

Dia memelukku dan menepuk kepalaku. Hiiragi-chan masih menangis bahagia di samping telingaku.

“Syukurlah, kalau kau sangat menyukainya.”

“Tentu saja, aku akan bahagia ... bahkan dengan hadiah syal, aku sudah sangat bahagia ...”

Aku menyeka air matanya dengan jariku dan memberinya ciuman lembut.

Seolah ingin mengungkapkan perasaannya, Hiiragi-chan melompat pada ciuman pertama. Kamar ini seharusnya masih cukup dingin, namun wajahku terasa terbakar, dan anehnya panas.

Setelah ciuman yang terasa seperti bisa membuat bibir kami membengkak, Hiiragi-chan dengan malu-malu berbisik ke telingaku.

“Aku ingin membuat hari ini ... lebih istimewa ... Seiji-kun, aku ingin ...”

Ketika aku mencoba menatap matanya, dia dengan cepat mengalihkan pandangannya.

“... Ya. Aku mengerti."

Kami tidak perlu berbicara satu sama lain. Aku langsung mengangkat tubuh Hiiragi-chan dan membawanya ke ranjang.

“Ak-Aku ini berat. Cepat turunkan aku, Seiji-kun ... ”

“Jangan khawatir.”

Dengan lembut aku meletakkannya di tempat tidur dan kami berciuman lagi.

“Aku akan melepasnya, oke?”

“~”

Aku bisa mendengar Hiiragi-chan menelan ludah.

Meski cahaya di dalam kamar terlihat remang-remang, tapi aku tahu kalau wajahnya benar-benar merah. Aku juga bisa dengan mudah mengetahui kalau dia mengangguk sebagai tanda seuju.



* disensor *

 


close

4 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama