Motokano Vol.1 Chapter 03 Bahasa Indonesia

Chapter 3 — Dua Jamuan

 

❀❀❀❀

[Sudut Pandang Tamaki Rio]

Beberapa hari sudah berlalu sejak kehidupan pengantin baru antara aku dengan Haru dimulai. Hari ini, aku pulang untuk mengunjungi rumah keluargaku.

“Berada di rumah sendiri memang nyaman sekali ~”

“Anda ini bilang apa, padahal ini baru empat hari.”

Saat aku duduk di sofa mahal di dalam kamar pribadiku yang telah aku tinggali selama 22 tahun, Hayashida membalas sembari menyodorkan seduhan teh hitam padaku.

“Anda pulang lebih awal. Sungguh kehidupan pengantin baru yang singkat.”

“Bukan begitu. Aku pulang ke sini untuk membawa beberapa barang bawaan.”

Kediaman Keluarga Tamaki kira-kira berjarak satu jam dengan mobil dari apartemen tempat Haru dan aku tinggali sekarang. Hari ini, aku menggunakan bus — alat transportasi umum tanpa bergantung pada pembantu keluargaku, dan datang ke sini.

Fiuh. Aku sebagai pembelajar yang cepat, sudah bisa menguasai bagaimana melakukan perjalanan dengan bus. Sekarang aku bukan lagi wanita manja yang tak bisa apa-apa!

“Kupikir aku hanya membutuhkan sedikit barang bawaan, tapi ... Sekarang aku benar-benar tinggal jauh dari rumahku, jadi ada beberapa hal lagi yang aku suka.”

Benda yang paling kuinginkan kali ini —- ialah pengering rambut. Sebenarnya sudah ada di apartemen Haru, tapi pengering rambut yang Ia punya itu versi murah, hampir tidak cukup kuat untuk mengeringkan rambut panjang wanita. Rambutku tidak akan kering sama sekali, jadi aku ingin membawa yang sering aku gunakan di rumah.

“Itu benar, sayalah yang kembali ke sini dengan menyedihkan. Dengan penuh kemenangan, saya membanting surat pengunduran diri, lalu kembali ke sini sembari menangis karena pernikahan saya dibatalkan. Saya memang wanita seperti itu.”

“Hei, tidak ada yang mengungkit hal itu tau…”

Jika kamu mau menggunakan lelucon yang mencela diri sendiri, setidaknya buatlah itu sebagai lelucon, oke? Jangan benar-benar depresi.

“Apa Haru-sama sedang berada di universitas hari ini?”

“Yup. Ia berangkat kuliah pagi-pagi. Sedangkan sorenya,  Ia akan mencari sesuatu tentang sertifikasi profesional, dan di malam hari, Ia menghadiri pesta dengan orang-orang yang mengikuti seminar. ”

“Sertifikasi profesional ... Hal itu mengingatkan saya, Haru-sama sedang berusaha mendapatkan sertifikatnya tahun ini.”

“Ya. Selama awal masuk kuliah, Ia sudah mencoba mendapatkan sebanyak mungkin sertifikat yang terkait dengan industri properti.”

Sertifikasi profesional dalam hal ini mengacu pada salah satu agen properti yang terdaftar. Aku tidak terlalu paham dengan rinciannya, tapi tampaknya sertifikasi ini sangat diperlukan untuk bekerja di bidang properti. Keluarga Haru — Grup Isurugi selalu menjadi keluarga yang ahli di bidang tersebut.

Mereka memiliki banyak perusahaan di bawah naungan mereka, tapi bidang yang terkuat adalah bidang properti. Haru sendiri telah diinstruksikan untuk bekerja di Isurugi Group juga, kemudian memasuki bisnis properti. Untuk mencapai ini dengan sempurna, Ia sudah berusaha keras untuk itu ... Ampun deh, Ia memang pria yang sangat rajin.

“Haru-sama memang pria yang menakjubkan.” Ujar Hayashida dengan penuh kekaguman. “Ia selalu mendapat nilai bagus, dan berhasil lulus ujian masuk universitas elit. Namun, Ia tidak menyerah setelah masuk ke universitas ini, dan bahkan bekerja sambilan untuk mengembangkan dirinya. Mengingat pekerjaannya di Grup Isurugi, Ia telah bekerja keras selama yang saya ingat. Ia mungkin lebih muda dari saya, tapi saya sangat mengaguminya… ” Di titik itu, Hayashida melirikku.

Tatapannya dipenuhi dengan cemoohan dan belas kasihan.

“Namun, ada wanita manja tidak berguna yang hanya menggunakan koneksi orang tuanya untuk masuk ke universitas swasta, parahnya lagi dia selalu membolos kuliah dan akhirnya harus mengulang setahun.”

“Ka-Kamu tidak perlu mengatakannya langsung di hadapanku segala! Semua itu tidak masalah selama aku lulus!”

Aku mencoba membantahnya, tapi… pada akhirnya, itu hanya membuatku merasa menyedihkan karena hal itu membuatku terdengar seperti orang yang tidak berguna. Maksudku, kamu salah besar, oke. Haru terlalu pekerja keras sehingga apapun yang aku lakukan, dibandingkan dengan dirinya, aku hanya tampak seperti pecundang! Aku benar-benar normal… Tidak, mungkin sedikit lebih rendah dari biasanya… masih pada level di mana aku belum sepenuhnya kalah!

“… Aku tahu kalau Haru sangat sibuk. Ia ada pekerjaan sambilan, dan belajar keras setiap hari untuk mendapatkan sertifikasi ... Itulah sebabnya, aku berusaha sebaik mungkin untuk membantu beres-beres rumah sebanyak yang aku bisa. ”

“Sungguh pola pikir yang luar biasa. Tak disangka bahwa Rio-sama akan mencurahkan hatinya ke dalam tugas beres-beres rumah ... ini pasti berkat kekuatan cinta.”

“Itu benar, ini semua berkat kekuatan ... Tunggu, tidak, tidak! Berhenti mengucapkan kalimat yang membuat salah paham! ” Aku mengangguk, lalu membantah dengan panik.

Hampir saja, aku hampir jatuh pada pertanyaan jebakan Hayashida.

“Aku sudah tidak punya rasa lagi padanya, berapa kali aku harus mengulanginya? Alasanku melakukan semua tugas beres-beres adalah… karena itu, tahu? Aku tidak ingin Ia mengeluh kalau nilainya yang menurun akibat salahku! ”

“Dasar keras kepala. Kalian berdua pernah menjalin hubungan sebelumnya, ‘kan? Jika mantan pasangan akhirnya tinggal di bawah satu atap, tidak aneh jika ada CLBK.”

“Mana mungkin itu terjadi! Kami takkan balikan! Kita sudah putus dan selesai!” Aku dengan putus asa berdebat. “A-Apalagi, Haru selalu bertingkah songong! Selalu memainkan kata-katanya, terus-menerus ngajak berantem! ”

“……… Dari sudut pandang saya, alasan Haru-sama menjadi agresif karena Rio-sama yang selalu memulai perkelahian lebih dulu.”

“Meski Ia lebih muda, Ia sama sekali tidak menghormatiku! Ia juga menggunakan bahasa santai terus!”

“Jika saya tidak salah ingat, Anda sendiri yang menyuruhnya menggunakan bahasa santai, ‘kan? Pernah ada kejadian, dimana Haru-sama mulai menggunakan bahasa sopan, Anda akan mulai berteriak, menangis 'Jangan gunakan bahasa sopan padaku!', Apa saya salah? ”

“A-Aku tidak menangis sama sekali! Aku cuma sedikit sedih, itu saja! ”

Sialan kamu, Hayashida! Kamu tahu setiap detail masa lalu kelamku!

“... Maksudku, saat Haru masuk SMP, Ia tiba-tiba mulai berbicara dengan bahasa sopan ...”

“Itu memang pernah terjadi, ya.”

“Sejak Ia berbicara padaku seperti itu… A-Aku mulai merasa kesepian!”

“Begitu rupanya. Pada dasarnya, Anda sudah jatuh cinta pada Haru-sama sejak saat itu ya, Rio-sama. ”

“Apa? Ugh… T-Tidak, maksudku… Y-Yah, aku tidak dapat menyangkal kalau aku memiliki perasaan seperti ini untuk waktu yang singkat, tapi… ”

Itulah satu-satunya hal yang tidak dapat aku sangkal. Lagipula, untuk sementara waktu kami berdua sama-sama saling suka, dan menjalin ikatan untuk menjadi pasangan.

“Tapi — semua itu cuma masa lalu! Cerita kami sudah berakhir!”

“Begitukah? Kalau begitu, saya takkan mengungkitnya lagi. Saya bisa melihat bahwa anda tidak berniat untuk balikan. Namun….” Hayashida melanjutkan. “Bagaimana jika Haru-sama yang menginginkan hubungan masa lalu ini kembali?”

“Eh…?”

“Jika Ia kebetulan masih memendam rasa suka pada anda, dan ingin kembali menjalin hubungan seperti  dulu — yaitu berubah menjadi pasangan yang beneran sudah menikah daripada status palsu yang sekarang, apa yang akan anda lakukan, Rio- sama?”

“It-Itu sih ...”

Haru masih punya rasa suka padaku? Itu mustahil… Tapi, bagaimana jika. Bagaimana jika Haru berkata Ia ingin mengulang kembali…

“… Baiklah, aku mungkin mempertimbangkannya…”

“Jadi seperti yang saya duga, anda—”

“A-Aku cuma akan mempertimbangkannya! Selama Ia datang meminta maaf dan menangis sambil memohon-mohon!”

“… Ya ampun, dasar wanita berkepala batu. Saya sekarang sudah sepenuhnya mengerti. Hubungan anda mungkin tampak sederhana namun rumit, tetapi jauh di lubuk hati, semuanya terlalu mudah. ​“ Hayashida menunjukkan senyum pahit. Saya harap anda bisa menjadi lebih jujur.

“Kamu bisa mengatakannya lagi. Andai saja Ia bisa jujur ​​seperti sebelumnya

“Saya membicarakan tentang anda, Rio-sama.”

“Aku selalu jujur, kok.”

“Masa? Hanya keinginan dan keangkuhan anda saja yang menggambarkan kejujuran anda.” Hayashida berbicara dengan pedas tanpa ampun. “Mari kita asumsikan kalau Haru-sama masih punya rasa suka pada anda. Jika anda harus selalu waspada di sekitarnya, bersikap bimbang dalam setiap percakapan, Ia mungkin akan benar-benar muak dengan anda. Anda harus menjadi lebih jujur… dan menunjukkan pembukaan untuk memberi kode kalau masih ada peluang. ” Nada suaranya berisi rasa jengkel yang aneh kebaikan yang bercampur di dalamnya.

Mendengar nasihat ini…

“Ke-Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu untuk Haru ...” Aku menjawab dengan ekspresi tenang, tapi bagian dalam diriku berubah jadi panik.

Hmm… Tunjukkan padanya pembukaan untuk memberi kode kalau masih ada peluang, ya…

 

*****

 [Sudut Pandang Isurugi Haru]

Pada jam 8 malam, aku tiba di kamar apartemen usai menghadiri pesta makan malam seminarku, dan saat membuka pintu, aku langsung disambut oleh—

“Ahh ~ Haru, selamat datang kembali ~” Rio berbicara dengan suara centil seraya wajahnya yang sedikit memerah.

Dia mengenakan kaos agak longgar, duduk di sofa, saat melambai padaku dengan gelas di tangannya. Es di dalam gelas mengeluarkan suara gemeretak. Di atas meja di depannya, aku bisa melihat botol wiski terbuka, serta botol air berkarbonasi biasa. Wiski dengan air berkarbonasi — menciptakan campuran yang disebut minuman Highball. Dia juga menaruh beberapa makanan ringan berbasis keju di atas meja.

“Apa kamu… minum alkohol?”

“Yup, sedikit.”

“……”

“Apa-apaan wajah itu? Aku sudah selesai beres-beres rumah, jadi aku tidak mau mendengar keluhan apapun, oke? Atau, apa aku tidak diizinkan untuk menikmati waktuku sendiri? ”

“Siapa juga yang mengeluh.”

Aku cuma sedikit terkejut. Kami tetap  berhubungan bahkan setelah putus, tapi aku tidak tahu dia menikmati sedikit alkohol di malam hari. Terutama menikmati sendirian.

“Hehehe. Tidak seperti orang tertentu, aku sudah pada usia di mana aku boleh minum-minum.”

“Kedengarannya bagus, asal jangan berlebihan saja.”

“Ara~, kamu mencemaskanku?”

“Mengurusmu kalau-kalau kamu pingsan bakal merepotkan, itu saja.”

Setelah meminum air di dapur, aku mencoba meninggalkan ruang tamu, tapi…

“Hei, kamu mau kemana?” Rio menghentikanku.

“Mandi, kenapa emangnya?”

Melihat Rio, yang tidak memakai riasan dan memakai kaos longgar, kupikir dia sudah selesai mandi. Itu sebabnya aku menganggap bak mandi sudah siap, dan meski airnya sudah dingin, aku selalu bisa mandi.

“Astaga… Dengerin dulu.” Rio menghela nafas, dan melanjutkan. “Kenapa kamu tidak bisa membaca suasana, sih?”

“…Apa yang ingin kamu coba katakan?”

“Kamu masih belum paham? Is-Istrimu…minum-minum sendiri. ” Dia memelototiku, dan melanjutkan dengan nada merajuk. “Seorang suami akan menawarkan sedikit waktunya untuk dihabiskan bersamanya.” tuturnya, dan menepuk tangannya yang terbuka di sofa di sebelahnya.

Tampaknya istriku adalah tipe wanita yang suka nempel-nempel saat dia mabuk.

“Baiklah, bersulang!”

“Bersulang.”            

Kami membenturkan gelas masing-masing, menciptakan suara denting yang samar. Tentu saja, karena aku masih di bawah umur, aku tidak bisa sembarangan minum alkohol, itulah sebabnya gelasku cuma minuman bersoda. Bukannya aku tidak menyukainya, jadi tidak apa-apa. Jika ada, aku tidak tahan dengan jus bersoda.

“Kamu benar-benar rajin, Haru. Padahal kamu sudah jadi anak kuliahan, tapi kamu tidak mau minum alkohol sama sekali. ”

“Aku masih di bawah umur, jadi tentu saja aku takkan meminumnya.”

“Jadi kamu bahkan tidak minum apa-apa saat bersama orang-orang dari seminarmu?”

“Itu bukan pesta minum, tapi perayaan biasa. Kami tidak minum setetes alkohol sedikit pun. Profesor tidak mengizinkan kita. ”

“Kehidupan kampus yang kaku dan membosankan, ya ~” ejeknya seakan dia tidak peduli sama sekali, meneguk isi gelasnya.

Aku ingin meraih camilan, tapi — Jantungku berdegup kencang. Dadanya yang menggairahkan, nyaris tidak tertutup oleh kasonya yang longgar, kebetulan memasuki bidang penglihatanku… bung, mereka benar-benar besar. Karena aku duduk di sampingnya, aku bisa melihatnya dari dekat. Karena dia baru selesai mandi, dia cuma memakai kaos yang longgar dan celana, yang membuatnya tampak lebih besar dari biasanya… Tunggu sebentar? Karena dia baru keluar dari kamar mandi… apa mungkin dia tidak memakai bra !? Dua buah melon raksasa ini bebas dari kekangannya, menggelatung tepat di depanku—

“Hm ……? Ahh.” Pada saat yang sama, Rio sepertinya menyadari tatapanku.

Untuk sesaat, dia secara refleks menyembunyikan dadanya di balik lengannya, dan kemudian menyeringai jahil.

“… Ya ampun. Kamu melihat payudaraku lagi, ‘kan? ”

Segera kata-katanya mencapai telingaku, wajahku menjadi merah padam.

“Eng-Enggak, kok”

“Dasar pembohong, celanamu sampai menonjol begitu. Kamu pasti melihatnya ‘kan, aku tahu. "

“Sekalipun begitu, ini hanyalah reaksi alami dari seorang pria. Kamu sendiri yang salah karena mengenakan kaos semacam itu.”

“Ahaha, alasan macam apa itu? Aku tidak seceroboh itu ... Ah, jangan bilang ...” Seringai di mulutnya semakin lebar. “Kamu berpikir kalau… aku tidak memakai bra karena baru saja keluar dari kamar mandi, ya?”

“……!”

“Tepat sasaran, ya? Begitu ya, begitu rupanya, itulah sebabnya kamu menatapku terus. Fufu, kamu mesum sekali, Haru ~ ” Dia berbicara dengan suara Onee-san yang khas sembari menarik sedikit kerah kemejanya.

Berkat itu, aku bisa melihat tali hitam di bahunya.

“Lihat, aku memakai bra malam dengan benar.”

“Bra ma-malam…?”

“Wanita biasa memakainya sebelum tidur, itu lebih longgar dari bra. Saat mencapai ukuranku, wanita harus berhati-hati agar mereka tidak kehilangan bentuk terlalu cepat ~” Dia berbicara tentang masalah seorang wanita, yang terlalu asing bagiku. “Fufu, sayang sekali aku sebenarnya pakai bra.”

“… Berisik.” Aku hanya bisa mengalihkan wajahku dari seringainya.

“Menjadi sebesar gini bisa menimbulkan masalah, kau tahu ~ Mereka semakin besar akhir-akhir ini, dan memasang ukuran yang pas semakin merepotkan.”

Mereka masih bisa tumbuh!? - Aku berteriak di dalam kepalaku, tapi ekspresi wajahku tetap terlihat tenang. Rio masih menatapku, menikmati reaksiku selama percakapan cabul ini, jadi aku tidak bisa memberinya terlalu banyak materi untuk menggodaku.

“Hmpf…” Dia pasti kesal karena reaksiku terlalu tenang, itulah sebabnya dia mendekatiku lebih jauh dan menatapku. “Hei… apa kamu tertarik dengan ukuran cup-ku?”

“…Tidak juga.”

“Jika kamu bersikeras, aku mungkin bisa memberi tahumu ~ Ayo coba bilang 'Rio-sama, aku mohon', dan aku akan menjadikan ini layanan khusus hanya untukmu.”

“Sekali lagi, aku tidak tertarik.”

Aku sangat tertarik, bahkan sangat penasaran. Tapi, aku mengabaikan hasrat tersebut, dan berbicara dengan suara tenang.

“Sungguh… Jangan ganggu aku seperti itu hanya karena kamu sedikit mabuk.”

“…… Hmpf ~!” Rio membalas cemberut, menelan sisa alcohol yang ada di gelasnya. “Ahh, membosankan sekali. Kamu sangat aneh.”

“Apa maksudnya?”

“Dulu kamu sangat manis. Mengatakan 'Aku mencintaimu, Rio-nee', sambil menempel padaku. "

“… Seberapa jauh kita membicarakan masa lalu?”

Aku menyebut 'Rio-nee' adalah sesuatu yang terjadi setidaknya 15 tahun yang lalu.

“Nostalgia banget ~” Rio memberikan senyum tipis, dan memiliki tatapan jauh di matanya. “Kita sering bermain nikah-nikahan bersama Nenek, ingat?”

“… Itu pernah terjadi, benar.”

Bagaimana aku bisa melupakannya. Aku terlalu malu untuk mengatakannya dengan lantang, tetapi kenangan ini masih menjadi kenangan yang paling berharga bagiku hingga hari ini dan tersimpan di bagian terdalam hatiku.

“Yah, secara teknis kita masih main nikah-nikahan sampai sekarang.”

Pernikahan kami penuh kepalsuan dan pura-pura. Tidak ada yang terbentuk karena cinta, tapi cuma demi keuntungan masing-masing. Ini benar-benar — kami cuma main nikah-nikahan.

“Ahaha, kamu benar sekali dalam hal itu.” Rio tertawa terbahak-bahak.

Setelah itu, dia menunjukkan ekspresi yang sedikit menyakitkan.

“Meski… aku merasa kita semakin buruk dalam hal itu.” Lanjutnya. “Kita berdua tumbuh menjadi dewasa, ya. Baik hati maupun tubuh. Padahal kita selalu mengatakan 'Aku mencintaimu' dan 'Ayo menikah' saat masih anak-anak.” Usai mengucapkan ini—

Dia menyandarkan kepalanya di pundakku.

“Eh…” Aku menjadi bingung karena tindakan mendadak ini.

Dengan mata mabuk, Rio menatapku.

“Mmm… Aku merasa agak mabuk.” Dia berbicara dengan suara yang manis, bahkan lebih bersandar padaku.

Dengan tubuh kami yang mengajar, aku bisa merasakan kehangatannya. Aroma nyaman melayang dari rambutnya, membuat jantungku berdegup kencang.

“H-Hei…”

“Jangan lari.”

Saat aku ingin menarik tubuhku secara refleks, dia menahanku. Dia meletakkan tangannya di pangkuanku, memancarkan lebih banyak kehangatan.

“... Kamu terlalu banyak minum.”

“Mungkin. Tapi… bukannya itu bagus? Sekarang aku bisa mengatakan hal-hal yang biasanya tidak bisa aku katakan.” ungkapnya, dengan mata sedikit basah. “Nee, Haru… Jujur saja, bagaimana perasaanmu tentang aku?”

“…!”

“Apa kamu benar-benar sudah melupakanku? Apa kamu tidak merasakan apa-apa… bahkan saat aku bersandar padamu seperti ini? ”

“Rio…”

Tentu saja — masih menyukainya. Matanya, wajahnya, suaranya, tubuhnya, baunya, semuanya terlalu mempesona, aku akan membuang semua alasan dan kebanggaanku hanya untuk memeluk Rio di sini, sekarang juga. Tapi…

Meskipun menyakitkan bagiku untuk mengatakannya, alasanku telah menangkap sesuatu. Sejak pertama masuk, aku merasa ada sesuatu yang salah. Dan sekarang, aku mengerti di mana letak salahnya. Aku dengan sedih mengerti-

“……”

Tanpa berkata apa-apa, aku mengambil gelas dari tangan Rio.

“Eh !? Ah, tungg—”

Aku menepis usahanya yang berusaha merebut kembali, dan meletakkan mulutku di atas gelas itu. Benar saja, aku — tidak bau apa-apa yang menyerupai highball. Sebaliknya, rasanya seperti minuman energi jenis vitamin yang dicampur dengan air berkarbonasi.

“... Tidak heran kenapa aku tidak mencium aroma alkohol.”

Rasa tidak nyaman pertama yang menggangguku — adalah baunya. Rio bertingkah seolah dia menikmati alkohol dalam jumlah yang cukup banyak, tetapi baik udara di sekitar maupun aromanya tidak terlihat begitu. Bahkan saat sedekat ini dengannya, satu-satunya aroma yang bisa kuhirup adalah aroma sampo miliknya. Setelah itu, aku menempelkan mulut botol wiski ke hidungku — dan sekali lagi, tidak ada alkohol.

Kelihatannya dia telah mengganti isinya,  mungkin dengan jenis minuman lain dengan warna keemasan yang sama dengan yang ada di gelas. Seseorang yang lebih mengenal alkohol mungkin bisa membedakannya, tapi karena aku masih di bawah umur, aku jadi tidak tahu apa-apa.

“Jadi kamu mengubah isinya, dan bertingkah seolah-olah sedang minum alkohol.” Aku menatap Rio dengan tajam. “Dasar licik. Apa yang kamu rencanakan? ”

“… Heh… hehehehe…” Rio menunduk, tapi tawa pelan mulai keluar dari mulutnya, yang akhirnya berubah menjadi tawa yang meledak-ledak. “… Ahahaha! J-Jadi kamu mengetahuinya! Aku akan memujimu untuk itu!” Dia terdengar seperti penjahat yang tertangkap basah. “Aku benar-benar ingin melihat wajah lucumu itu sedikit lebih lama ~”

“…! Aku tahu itu… kamu benar-benar mengolok-olokku…? ”

“T-Tentu saja! Semuanya cuma akting! Cuma plot! Hehehe, kamu benar-benar orang bodoh. Hanya karena aku berpura-pura mabuk, kamu langsung lengah! ” Rio mengoceh seolah dia panik. “Kamu pikir kamu bisa memenangkanku dengan suasana yang tepat, dan karena aku mantanmu? Sayang sekali, itu semua cuma tipuan! Akting sempurna dari diriku ~”

“Membuang-buang waktu untuk sesuatu yang tidak berharga seperti ini… Gunakan upaya itu untuk hal lain…”

“… Hmpf. Mencoba bersikap tenang meski terpesona padaku.” Rio mendengus arogan.

“Siapa yang terpesona? Aku tahu ada sesuatu yang salah sejak awal.” Aku berdiri dari sofa.

Aku meninggalkan ruang tamu dan menuju ke ruang ganti. Setelah menutup pintu, aku jatuh ke atas lantai. Aku memegangi kepalaku dengan kedua tangan, dan mengacak-acak rambutku untuk mengeluarkan uneg-unegku

“… Ahh, sial.” Aku merasa frustasi, dan kesal.

Tentu saja, perasaan itu bukan ditujukan pada Rio, meski dia mempermainkan hatiku.

“Kenapa… kenapa aku harus sadar?”

Aku merasa kesal pada diriku sendiri karena cukup berhati-hati untuk menangkap ketidakteraturan kecil ini. Jika… Jika aku tidak menguak plot Rio. Jika aku membiarkan diriku terlena karena suasana, menuruti keinginan batinku dan memeluk Rio… Apa yang akan terjadi? Sesuatu mungkin telah terjadi. Tentu tidak, pada akhirnya itu cuma lelucon.

'Pfft, dasar idiot, apa kamu sangat berharap seperti itu? Ini semua cuma akting, dan alkohol ini cuma minuman energi lama yang membosankan ~ Namun kamu benar-benar jatuh ke perangkapku! '

Kemungkinan dia menggunakan ini sebagai sarana untuk menggodaku selama sepuluh tahun ke depan cukup tinggi… tapi ada kemungkinan kecil hal itu tidak terjadi. Ini mungkin Rio hanya menungguku untuk menjadi jujur ​​...

“Tidak, itu cuma angan-angan belaka.” Aku menghela nafas panjang.

Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Rio. Satu-satunya hal yang aku tahu dengan pasti… ialaha kalau dia sangat imut, bahkan jika itu adalah akting. Pakaiannya yang longgar, bibirnya yang berkilauan, kehangatan dan aroma yang aku temukan sedekat ini denganku, semuanya terukir dalam dalam ingatanku. Kurasa ... Aku tidak bisa tidur malam ini.

❀❀❀❀

[Sudut Pandang Tamaki Rio]

Aku melihat Haru masuk ke kamar mandi, jadi aku menelepon Hayashida untuk melaporkan apa yang terjadi.

'—Begitu rupanya, jadi upaya anda gagal.'

“Ya, padahal tinggal selangkah lagi.”

'Sangat disayangkan. Menurut saya operasi 'Aku akan bertingkah mabuk dan membuatnya mengambil inisiatif' memiliki potensi besar. '

“Yeah, sangat disa— Hei, tidak! Itu bukan rencana aslinya!” Aku meninggikan suaraku, membalas. “A-Aku hanya bertingkah mabuk, menunjukkan celah, untuk mengorek informasi perasaan Haru tentangku. Cuma itu saja ...”

'Jika anda ingin menunjukkan pembukaan, anda seharusnya benar-benar mabuk, bukan? Kalau begitu, Haru-sama tidak akan bisa mengetahuinya, benar? '

“A-Aku tidak menginginkan itu…”

Awalnya, aku berencana untuk benar-benar mabuk. Namun, aku mengalami perubahan hati pada detik-detik terakhir, dan menukar isi botol.

“Ma-Maksudku, jika aku benar-benar mabuk… Aku bahkan tidak akan tahu apa yang akan terjadi jika… kamu tahu…?”

'……'

“Dalam perbandiangan satu di antara sejuta… Tidak, satu dari satu triliun kemungkinan kita terbawa suasana hati, dan melangkah lebih jauh dari sebelumnya, aku akan menjadi satu-satunya pemabuk dari kita… dan aku tidak menginginkan itu! ”

‘Jadi, rupanya anda mengharapkan sesuatu.’

“A-Aku tidak mengharapkan apapun! Aku cuma berhati-hati dan waspada terhadap kemungkinan bahaya! Ka-Kamu tahu apa yang aku maksud ‘kan, sebagai seorang wanita dan semua… ”

'Baiklah ... anda seharusnya  menikah saja sana. Oh, tunggu, anda memang sudah menikah.’  Hayashida melontarkan keluhan sarkastik, dan mengakhiri panggilan.

Aku mendorong telepon ke dadaku, dan menjatuhkan diri ke lantai.

“Ugh…” Jantungku masih berdebar kencang.

Meskipun aku tidak meminum alkohol, kepalaku terasa panas.

“Ahh, ya ampun... Aku seharusnya mabuk saja kali, ya.”

Jika aku mabuk seperti yang dikatakan Hayashida, atau jika Haru tidak menganggapku pemabuk palsu… apa yang akan terjadi? Jika intuisiku tidak mempermainkanku, maka… aku yakin Haru terguncang. Sikap dingin dan tenangnya hancur berkeping-keping, saat aku merasakan tatapannya yang penuh gairah. Dia benar-benar melihatku sebagai seorang wanita. Itulah sebabnya, jika aku benar-benar mabuk, maka—

“… Tidak, itu cuma imajinasiku saja, aku yakin.” Aku menghela nafas.

Pada akhirnya, aku tidak tahu bagaimana perasaan Haru. Satu-satunya hal yang aku tahu pasti adalah ... bahwa tatapan matanya masih membekas di dalam pikiranku. Meski aku tidak meminum setetes alkohol pun, rasanya seluruh tubuhku terbakar. Kupikir ... Aku tidak bisa tidur malam ini.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama