Gimai Seikatsu Vol.3 Chapter 02 Bahasa Indonesia

Chapter 2 —  23 Agustus (Minggu)

 

Aku terbangun dengan suhu panas yang menyesakkan. Usai berbalik, aku melihat jam alarm yang berada di samping bantalku. Sekarang sudah jam 10 pagi, dan tiga… tidak, lebih empat menit. Meski bulan Agustus masih tersisa satu minggu lagi, tapi panasnya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mereda.

“Kamu akan terkena sengatan panas meski berada di kamarmu,” Akiko-san pernah memperingatiku begitu, jadi aku segera menyalakan AC kamar. Karena aku cukup berkeringat saat tidur tadi, aku berganti dengan pakaian bersih. Saat membuka pintu menuju ruang tamu, gelombang panas yang kuat menerpaku saat melangkah hingga membuatku sedikit kesulitan bernapas.

Saat mendongak ke atas, aku bisa melihat Ayahku sedang berdiri di tangga, sambil mengutak-atik AC, saat Akiko-san menatapnya dengan tatapan agak khawatir. Meski sekarang cuma hari Minggu yang biasa, rasanya aneh melihat mereka berdua di ruang tamu bersama, tapi lagi-lagi aku menyadari bahwa mungkin karena sekarang hari Minggu jadi bisa melihat mereka berdua bersama.

“Ah, Yuuta. Pagi.” Ayahku segera menyapaku saat melihatku.

“Yuuta-kun, selamat pagi.” Akiko-san mengucapkan salam juga.

“Selamat pagi juga. Jadi, uhh, apa itu rusak? ”

“Suhu ruang tamu terasa panas dan tidak terasa dingin sama sekali. Akiko-san membangunkanku, dan memberitahuku kalau AC-nya mengeluarkan suara berderak.”

“Apa aku perlu membantumu?”

“Ah, tidak usah, aku masih mencari kerusakannya. Aku juga tidak tahu apa yang harus diperbaiki. Apalagi produk AC jaman sekarang tidak dibuat untuk diperbaiki oleh seorang amatir lagi.”

Kurasa itu masuk akal. Ayaku sepertinya memeriksa pesan kesalahan saat membaca manual pengguna, terkadang mematikan dan menghidupkannya lagi, bahkan mengotak-atik melalui mode yang berbeda. Namun, AC tersebut sepertinya tidak berniat mengeluarkan udara dingin dalam waktu dekat.

“AC yang di sini sudah cukup tua. Jika masih tidak menunjukkan tanda-tanda, kita mungkin harus pergi dan membeli AC baru.”

“Kita juga baru saja membeli untuk kamar Saki… maafkan aku.”

“Tidak tidak. Jangan begitu. Kamar Saki-chan selalu menjadi ruang penyimpanan, itulah sebabnya kamar itu tidak dilengkapi dengan unit A/C sejak awal. Belajar di kamarnya tanpa AC pasti bikin pengap, iya ‘kan?”

“Terima kasih, Taichi-san.”

Saat mereka berdua mulai membicarakan Ayase-san, aku menyadari dia tidak bersama kami di ruang tamu.

“Apa Ayase-san ada di kamarnya sekarang?”

“Ya, aku baru saja melihatnya. Tapi dengan panas dan sebagainya… Dia tidak pandai menanganinya.”

“Benarkah?”

“Dia selalu merengek tentang hal itu saat masih kecil dulu. Begitu musim panas tiba, dia akan terus-menerus meminta es krim kepadaku, memintaku untuk membawanya ke kolam renang, dan lain sebagainya. Dia juga sangat gigih saat memintanya.”

Ketika dia menyebut Ayase-san saat masih kecil, aku teringat pada foto yang ditunjukkan Ayahku sebelum menikah. Jika aku harus menebak, dia mungkin masih SD saat itu, dan dia tampak cukup energik. Dibandingkan dengan yang sekarang, dia jauh lebih penyendiri dan tenang. Aku benar-benar tidak bisa membayangkan dia sebagai seorang anak yang akan terus-menerus merengek pada ibunya seperti itu.

“Tapi beberapa tahun belakangan ini, dia mulai menjadi lebih tenang tentang hal itu, yang mana membuatku sedikit kesepian dengan cara yang berbeda.”

“Kurasa inilah yang akan terjadi ketika anak-anak memasuki masa remaja. Pasti rasanya memalukan jika selalu berada di dekat orang tuamu. Yuuta juga sama.”

Saat Ayahku mengatakan itu, Akiko-san sedikit menundukkan kepalanya dan menghela nafas.

“Dalam kasus anak itu, aku tidak berpikir  kalau masalahnya hanya karena dia tumbuh dewasa ... Saat SMP dulu, dia sudah menjadi seperti yang sekarang.” Akiko-san memilih kata-katanya dengan hati-hati, yang membuatku bisa menebak apa yang dia maksud.

Situasi di keluarganya tidak seharmonis seperti dulu. Ayahnya bahkan tidak mau repot-repot pulang ke rumah, dan Akiko-san selalu bekerja. Aku pikir dia menyebutkan pada masa-masa itu. Ayase-san pasti menyadari kondisi keluarganya yang menyedihkan dan mulai meminta banyak hal setiap saat.

“Maaf, aku seharusnya tidak mengatakan itu.”

"Tidak apa-apa." Akiko-san tersenyum tipis.

Aku merasa Akiko-san bahkan tidak terlalu keberatan, tapi Ayahku tampak ketakutan. Dengar, bahkan jika kamu melubangi tangga itu, kamu tidak bisa membantu siapa pun. Jadi ketika masih kecil, Ayase-san sangat menyukai kolam renang, ya…? Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan Ayase-san yang polos dan kecil berenang seperti itu. Jadi, jika ada seseorang mengatakan kepadanya bahwa dia bebas melakukan hal yang sama tanpa merasa khawatir, apa dia akan melakukan hal yang sama?

Bagi orang yang introvert dan pasif macam diriku, hanya mendengar bergerak dan berolahraga terdengar sangat melelahkan, apalagi bergabung dengan banyak orang, jadi aku lebih suka tidak melakukan olahraga.

“Hmm, sepertinya aku tidak bisa memperbaikinya. Mungkin lebih baik memanggil seseorang untuk memperbaikinya, tapi mengingat betapa sibuknya mereka sepanjang tahun ini, aku bahkan tidak bisa menebak kapan ini bisa diperbaiki. ”

“Begitu rupanya. Sungguh merepotkan. Ah, hati-hati saat turun, Taichi-san.”

“Yuuta, kurasa lebih baik kalau kamu tinggal di kamarmu hari ini.”

“Aku tidak keberatan.”

Hari ini aku ada kerja sambilan di malam hari, jadi aku merasa tidak keberatan. Ketika aku bertanya kepada mereka berdua apa yang akan mereka lakukan, Akiko-san menjawab kalau dia ingin pergi berbelanja, dan Aayahku akan bergabung dengannya untuk membawa barang belanjaan. Ya, melakukan sesuatu di luar juga merupakan salah satu pilihan, ya …

“Aku akan memberitahu Saki,” ujar Akiko-san seraya menuju ke arah dapur. Di tengah-tengah jalan dia memanggilku. “Yuuta-kun, apa kamu ingin makan sesuatu? Aku sendiri juga belum makan apa-apa. ”

“Ah, ya tolong.”

Ayahku dan Ayase-san sepertinya sudah menghabiskan sarapan mereka, jadi Akiko-san dan aku menghangatkan sisa makanan dan menikmatinya. Ayahku membuka pintu ke kamar tidur mereka, yang menyebabkan angin sejuk melewati ruang tamu, tetapi tidak butuh waktu lama bagiku untuk mulai berkeringat seperti sedang duduk di dalam sauna. Pada saat-saat seperti ini, aku benar-benar membutuhkan yang namanya kipas tangan.

Setelah selesai makan dan membersihkan peralatab, aku mengambil satu halaman dari buku Ayase-san dengan mengambil beberapa minuman dingin dari kulkas dan bersembunyi dari hawa panas di kamarku. Sekarang, apa yang harus kulakukan hari ini? Aku penasaran,  apa yang Ayase-san lakukan di kamarnya? Pemikiran ini terbesit di benakku saat membolak-balik halaman buku yang sedang kubaca, tapi aku terganggu oleh panggilan telepon mendadak Maru.

Ia bertanya apa aku sedang sibuk atau tidak siang ini, dan ketika aku memberitahunya kalau aku pada dasarnya lagi senggang, Ia memintaku untuk ikut berbelanja dengannya. Pada awalnya, aku hampir menolak karena aku tidak mau repot-repot keluar di panas ini, tapi aku teringat kalau aku sendiri sedang berada di penjara panas di apartemenku, jadi aku langsung menerima ajakannya.

Area di depan stasiun kereta Shibuya bahkan lebih bising dan dipenuhi orang ketimbang hari-hari biasa lainnya, padahal waktunya baru menjelang siang hari. Ketika aku melihat kerumunan ini, rasanya seperti hawa panas semakin meningkat.

Aku memarkir sepedaku di tempat parkir biasa. Karena sore ini aku ada kerja sambilan, memarkirkannya sekarang akan membuat pulang jauh lebih mudah nanti. Maru mengajakku ke toko yang menjual barang-barang yang berhubungan dengan anime. Karena tempat itu juga menjual manga dan novel ringan, toko tersebuut adalah pesaing langsung dari toko tempatku bekerja. Yah, terus-menerus mengkhawatirkan hal semacam itu takkan menguntungkanku sama sekali, dan toko buku tempatku bekerja juga tidak menjual merchandise anime.

Setelah berjalan dari depan stasiun kereta di jalan Jingu-dori utara, aku berbelok ke arah Barat setelah memasuki jalan Inokashira-dori. Jalan kemudian bercabang, dan aku menuju ke jalan Udagawa-dori. Itu mungkin penjelasan yang agak mudah untuk diikuti. Bagi orang yang tidak tahu tata letak Shibuya, jarak ini mungkin tampak seperti jarak yang cukup jauh, tapi dengan kota yang tidak pernah tidur dan selalu penuh hiruk pikuk, jarak segini sangat mudah dicapai dengan berjalan kaki.

Ada jus jenis baru di mesin penjual otomasi yang berada di pinggir jalan, dan wanita muda menjajakan produk populer di depan toko. Kamu dapat menemukan dirimu dengan cepat mencapai tujuan bila melihat area sekeliling. Sekitar lima menit sebelum waktu yang ditentukan, aku sudah sampai di toko yang dimaksud.

“Yo, maaf sudah memanggilmu jauh-jauh ke sini.” Temanku Maru Tomokazu datang menghampiriku, wajahnya sedikit lebih cokelat dari sebelumnya.

“Lama tidak ketemu. Jadi kamu tidak ada latihan hari ini, ya?”

“Ya. Hari ini kami cuma ada latihan pagi. Jaman sekarang, latihan tanpa akhir sudah ketinggalan jaman dan tidak keren. Apalagi dalam cuaca panas begini, yang ada malah para pemain akan kelelahan atau bahkan terluka, jadi kami juga perlu mengambil istirahat yang tepat. Begitulah cara kami melakukannya. ”

“Jadi begitu rupanya.”

Yah, aku masih menganggapnya sebagai pelatihan yang cukup keras, tapi aku yakin mereka ingin menghindari cedera atau masalah terkait kesehatan lainnya.

“Ngomong-ngomong, aku minta maaf karena sudah repot-repot memanggilmu ke sini.”

“Yah, tentang itu…”

Aku memberitahu Maru tentang kerusakan AC di ruang tamu, dan bagaimana kupikir setidaknya akan bersenang-senang jika aku dipaksa untuk menahan panas. Bukannya aku sangat ingin memberitahunya tentang situasi kehidupanku, tapi kupikir Ia takkan terlalu merasa bersalah  jika aku memberinya inti umum.

“Kedengarannya sulit. Jadi aku ingin menyelesaikan tujuan utamaku dulu. Bakalan gawat jika mereka terjual habis sebelum aku mendapatkannya. ”

“Tentu.”

Biasanya, Maru bukanlah tipe orang yang memaksakan minatnya pada orang lain, tapi saat Ia benar-benar meminta bantuan, dia selalu punya alasan bagus. Seperti ketika suatu produk dibatasi pembeliannya untuk satu orang saja. Kecuali kamu memeriksa beberapa toko, kamu sering tidak bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan. Di saat seperti ini, Maru bisa sangat kejam. Lagi pula, karena rilisnya pada hari Jumat, Ia pasti khawatir kalau barang yang diincarnya akan terjual habis.

Karena aku sudah berjanji untuk membantunya, aku siap untuk membantu sampai akhir yang pahit ... Oh ya, aku bahkan tidak menanyakan barang apa yang kami incar.

“Setelah kita menyelesaikan misi, ayo pesan sesuatu untuk dimakan.”

“Siap.”

Meski aku sering mampir ke rak bagian manga dan novel ringan berkali-kali sebelumnya, karena aku tidak terlalu tertarik dengan barang yang sebenarnya, aku meminta Maru mengajakku berkeliling.

“Jadi, kita mau membeli apa?”

Maru menjawab saat kami terus berjalan. Sepertinya kita mencari barang untuk anime yang tayang pada musim semi. Musim sudah berakhir beberapa bulan yang lalu, tapi tergantung pada bagaimana penjualan berjalan, mereka mulai menjual barang bahkan setelah musim tayangnya berakhir. Aku ingat nama anime ketika Maru menyebutkannya. Anime yang bertema kehidupan sehari-hari dan mempunyai 5 karakter cewek.

“Dan ada robot.”

“Apa?”

Sejenak, aku gagal memahami apa yang Ia katakan. Jika ingatanku benar, latarnya berada di kota pedesaan, dan itu seperti cerita remaja biasa lainnya… ‘kan?

“Novel ringan yang dibaca protagonis di episode 5 adalah karya fiksi ilmiah, ‘kan?”

“Ya…”

Aku baru ingat sekarang. Akhir-akhir ini keberadaan otaku dan minatnya sudah mulai bergeser menjadi pengetahuan umum, bahkan protagonis dan karakter sampingan normie tertarik dengan dunia otaku, tapi… Oh ya, aku pikir Maru lumayan menyukai hal-hal fiksi ilmiah, tapi tidak pernah benar-benar menggeluti  genre tersebut.

“Jadi tunggu, apa jangan-jangan kamu ...?”

“Ya, aku kepincut dengan robot yang sangat disukai protagonis.”

“Apa hubungannya dengan anime itu?!”

“Apa boleh buat. Robot itu luar biasa.” ujar Maru. Ia memberitahuku nama ilustrator yang bertanggung jawab untuk menggambar robot tersebut, tapi maafkan aku, aku sama sekali tidak mengenali mereka.

Ketika aku memberitahunya dengan jujur, Maru menatapku dengan kaget dan jijik lalu mulai memberitahuku tentang betapa terkenalnya ilustrator itu.

“Jadi pada dasarnya kamu menginginkan versi mainan dari robot ini, ‘kan?”

“Secara ringkasnya sih begitu.”

Begitu kami sampai di tempat penjualan, untungnya mereka masih memiliki beberapa mainan robot yang diincar Maru. Jumlahnya sudah cukup untuk Maru dan aku, tapi kupikir itu stok terkahir, jadi kami cukup beruntung. Kami berdua masing-masing membawa satu saat berjalan ke kasir. Ada banyak pelanggan meski itu hari Minggu, jadi antreannya cukup panjang. Kami terus berbicara saat menunggu giliran.

“Begitu yaa. Robot ini sangat luar biasa.”

“Iya ‘kan?”

Aku benar-benar tidak terbiasa dengan barang semacam ini, tapi penampilannya cukup keren. Robot itu berada di dalam sebuah kotak dengan tinggi sekitar 50cm. Sepertinya itu semacam robot tempur udara yang takkan pernah ada di dunia nyata. Logo anime digambar di salah satu sudut kotak dengan font kecil, yang benar-benar membuatku sulit untuk menebak genre apa series itu. Robot ini benar-benar terlihat seperti langsung dari anime mecha.

“Robot ini juga memiliki banyak bagian yang dapat digerakkan. Jadi kamu bisa bermain-main dengan ini. ”

“Bermain-main dengan itu…?”

“Oh? Ayolah. Bukannya kamu pernah bermain-main dengan robot atau mainan monster saat masih kecil, Asamura?”

“Mungkin pernah, tapi yang jelas tidak terlalu sering.”

Aku memahami mengumpulkan barang-barang begini sebagai semacam hobi, tapi aku tidak mengerti apa gunanya bermain-main dengan mainan ini. Lagipula, aku selalu lebih fokus pada manga dan novel ketimbang anime. Ketika aku masih kecil, Ayahku mempunyai hobi membeli model plastik kapal perang, tapi ibuku kandungku memarahinya karena benda-benda tersebut selalu menghalangi, itulah sebabnya Ayahku memutuskan untuk tidak pernah meneruskan hobi itu lagi. Aku merasa itu akan menjadi hobi yang menyenangkan jika keluarga dan gaya hidupmu mengizinkannya.

Dengan manga dan novel, aku bisa mengisi kamarku, dan takkan pernah menghalangi jikakKamu meletakkannya di rak.

“Oh ya, Asamura, Narasaka, dan Ayase mengajakmu ke kolam renang, ‘kan?” Maru tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.

Otakku seketika membeku usai mendengarnya. Siapa yang pergi ke kolam renang dengan siapa? Tapi Maru bahkan tidak menyadari kebingunganku.

“Seriusan, kamu sudah berubah menjadi playboy yang hebat saat aku tidak melihatmu beberapa hari.”

“Apa yang sedang kamu bicarakan?”

“Hah…? Aku sedang membicarakanmu dan Ayase yang pergi ke kolam renang bersama Narasaka.”

“Aku baru pertama kali mendengarnya.”

Maru lagi ngomongin apaan sih? Karena aku tidak menunjukkan tanda-tanda memahami apa yang dimaksud Maru, Ia memberitahuku apa yang didengarnya melalui koneksinya di klub bisbol. Menurut rumor yang beredar, Narasaka-san sedang mengumpulkan sekelompok cewek dan cowok untuk bertemu di kolam renang, dan anggota dari kelompok tersebut sepertinya termasuk Ayase Saki dan Asamura Yuuta.

“Apa kamu tidak diundang?”

“Tidak sama sekali. Aku justru belum berbicara dengan Narasaka-san sejak liburan musim panas dimulai.”

“Hmm, kalau begitu kamu mungkin akan segera diajak nanti.”

“Bulan Agustus sudah hampir berakhir, tau?”

“Tapi sekarang masih panas seperti biasa, jadi tidak ada masalah.”

“Yah… kurasa begitu.”

Jadi rencana seperti ini dijalankan tanpa sepengetahuanku, ya? Memangnya aku sedekat itu dengan Narasaka-san sampai-sampai dia akan mengundangku ke acara seperti itu? Aku masih bisa menghitung dengan beberapa jari jumlah kami berdua berbicara satu sama lain. Aku tahu bahwa Narasaka Maaya sangat kuat dalam hal hubungan dan bagaimana dia memperlakukan orang lain, tapi ini jauh lebih dari yang kuharapkan. Yah, kurasa rencana itu belum tentu ada benarnya juga. Lagi pula, sumber informasinya masih berstatus gosip belaka.

Saat kami berbicara tentang itu, tibalah giliran kami di depan meja kasir. Kami selesai membayar, kembali ke stasiun kereta dengan cara yang sama ketika aku datang, dan memasuki kafe di dekat toko buku tempatku bekerja sambilan.

Kami berdua memesan es kopi, dan Maru menambahkan menu sandwich ke dalam pesanannya. Anggota klub memang berbeda. Nafsu makannya cukup besar. Dibandingkan dengan kopi dari restoran keluarga, kopi dari tempat ini sekitar dua kali lebih mahal, tapi setidaknya tempat ini menyediakan fasilitas tempat duduk yang nyaman dan kalem. Meski aku menyebutnya kafe, tapi tempat ini sedikit lebih bergaya daripada restoran keluarga biasa.

Meski ini adalah tempat di mana para pelanggan tetap memberi pesanan yang cukup rumit sampai-sampai terdengar seperti mereka sedang merapalkan ajian mantra, tapi untungnya kami berhasil memesan sesuatu yang normal. Yah, bila dibandingkan dengan kedai kopi kelas atas, tempat yang satu ini jauh lebih cocok bagi kalangan siswa SMA. Pernah suatu ketika aku tak sengaja memasuki restoran tertentu di dekat stasiun kereta Shibuya tanpa melihat menunya terlebih dahulu, dan langsung pergi setelah melihat betapa mahal harganya. Secangkir kopi senilai angka 4 digit pasti terlalu muluk bagi anak SMA.

Maru dan aku meletakkan nampan makanan di atas meja dan menghela nafas.

“Jadi, cepat mengaku. Kenapa kamu sampai membutuhkan dua barang ini? ” tanyaku, melirik kantong plastik yang ada di dekat kami.

“Tentu saja, yang satunya untuk penggunaan pribadi dan satunya lagi untuk cadangan.”

“Begitu ya. Jadi bukan karena motif lain ya.”

“……Padahal kamu sudah tahu dan masih bertanya padaku? Itu sifat yang tidak bagus, bung.”

“Sebenarnya aku cuma ingin bertanya. Kamu pernah menyebutkan kalau kamu ingin memberikan hadiah kepada seseorang, jadi aku menebak kalau ini ada kaitannya dengan itu. ”

Aku tahu ada beberapa orang yang membeli beberapa barang yang sama dari sesuatu yang mereka sukai. Akan tetapi, saat aku berpikir kalau Maru mungkin membeli ini untuk orang lain, dan membutuhkan bantuanku untuk mengamankannya, entah kenapa kedengarannya tidak terlalu realistis.

“Aku sebenarnya diminta untuk melakukan ini.”

“Ssesorang memintamu?”

“Ya, teman daring. Dia sangat menginginkannya, tapi situasi saat ini tidak mengizinkannya. Jadi aku yang pergi dan membelinya. Aku akan mengirimkannya kepadanya nanti.”

“Hah.”

Aku tidak tahu Maru punya teman seperti itu. Saat aku menanyakan detailnya, mereka tampaknya mengenal satu sama lain di forum online ketika membicarakan anime favorit mereka. Selera mereka cukup serasi, dan mereka cukup dekat untuk saling mengirim barang. Oleh karena itu, mereka mungkin tahu alamat satu sama lain juga. Meski begitu, mereka hanya mengenal satu sama lain dengan nama akun mereka, tapi mereka tampaknya berteman baik. Maru tahu bahwa mereka tinggal di kota yang sama, tapi Ia belum pernah bertemu dengan teman daringnya ini.

“Tapi jika kalian berteman baik, kalian mungkin juga bertemu di kehidupan nyata, kan? Apalagi aku merasa kalau kamu adalah tipe orang yang mengaturnya sendiri.”

Meski secara teknis mereka bisa bertemu secara daring kapan saja, manusia lebih menyukai bertemu orang lain secara tatap muka. Karena Maru tahu bagaimana mengatur dan memiliki kemampuan untuk menyusun rencana, aku masih sedikit bingung mengapa Ia belum melakukannya. Tapi, Ia selalu sibuk dengan kegiatan klubnya, jadi mungkin peluang mereka bisa bertemu sangat terbatas.

“Itu sih takkan mungkin berhasil.”

“Hmm, memangnya kenapa?”

“Tentu saja, tidak semua orang seperti itu, tapi ada sekelompok kecil cowok yang akan menggunakan ini sebagai kesempatan untuk menggoda cewek. Jika tidak ada banyak kepercayaan yang terlibat, semuanya hanya akan berakhir buruk. Setidaknya, itulah yang kupikirkan.”

“Ya, bersikap hati-hati ini sangat mirip dengan sifatmu… Hm? Menggoda cewek? Apa orang yang dimaksud itu perempuan?”

“Dari apa yang dia katakan padaku, ya. Bahkan seorang mahasiswi.”

“Mahasiswi… jadi dia lebih tua darimu, ya?”

Sekilas, wajah Yomiuri-senpai muncul di benakku. Dia satu-satunya mahasiswi yang kukenal dan yang kutahu. Biasanya itu akan menjadi hal yang langka bagi anak SMA semacam kami untuk berpapasan dengan mahasiswa, jadi jarang-jarang Maru dan aku memiliki pengalaman seperti ini. Yah, kurasa untuk pertemanan daring akan lebih jarang jika mereka seumuran.

“Dilihat dari pesannya, dia cukup cerdas. Dia punya pengetahuan luas dan sifat yang baik, dan tidak memiliki prasangka terhadapku. Percakapan yang kami lakukan sebenarnya cukup bermakna. Tapi sekali lagi, fakta bahwa dia sangat positif pasti sangat membantu, kurasa.”

“Huh, ya, dia memang terdengar seperti seseorang yang bisa kamu ajak bergaul. Aku yakin ada banyak orang lain yang merasakan hal yang sama denganmu… Ahh, jadi itu penyebabnya, ya.”

“Ya, dia cukup populer di forum obrolan.”

Begitu rupanya. Jadi pertemuan offline akan mendatangkan orang-orang yang akan mencoba untuk merayunya.

“Aku terkejut kamu cukup dekat dengannya sampai bisa saling mengirim barang seperti ini.”

“Yup, itu kebetulan yang gila. Aku akan menceritakan keseluruhan cerita kapan-kapan jika ada kesempatan. ”

“Aku ingin sekali mendengarnya. Jadi, apa kamu jatuh cinta padanya?”

Maru tampaknya tidak menyangka aku menanyakan pertanyaan ini, dan Ia tampak panik sejenak.

“Tidak, aku benar-benar tidak jatuh cinta... atau semacamnya.”

Oh, reaksi yang langka. Yah, biasanya Ia akan bertindak tegas, jadi aku kadang-kadang harus membalasnya.

“Hee..masa?”

Saat aku terus mendesaknya, Maru sepertinya benar-benar dibuat kelagapan, dan menjadi pendiam. Akhirnya, Ia mengucapkan, “Aku mau ke kamar kecil dulu” dan bangkit dari tempat duduknya.

Sungguh mengejutkan bahwa Maru sampai bertingkah seperti ini... Oh ya, orang yang menerima hadiah Maru, dan orang yang menerima barang darinya... Apa mereka orang yang sama? Itulah sisi lain dari Maru yang belum pernah kulihat, dan hal itu membuatku tersadar kalau aku masih belum tahu segalanya tentang dirinya, yang tentu saja sangat masuk akal. Walau harus kuakui kalau aku tidak menyangka Ia mengalami perasaan romantis seperti ini. Kurasa kita sangat berbeda.

Sejauh mengenai perasaan romantis, aku cukup menyukai novel romansa, tetapi aku tidak benar-benar membayangkan diriku dalam situasi seperti dalam novel. Aku lebih suka menonton peristiwa semacam ini yang melibatkan orang lain. Aku takkan pernah berharap untuk mengalami sendiri kejadian yang mirip seperti rom-com. Lagipula, ini adalah kenyataan. Sesuatu seperti mengenal seorang gadis cantik dan akhirnya berpacaran…

Yah, aku akhirnya tinggal bersama seorang gadis seumuran karena pernikahan kembali Ayahku, tapi bukannya berarti dia — Sebenarnya, dia imut. Secara objektif, dia sangat cantik dan imut. Sial, kenapa aku bahkan membayangkannya sambil memikirkan hal ini? Memang benar kalau Ayase-san itu imut, tapi dia ituadik perempuanku.

“Asamura-kun?”

Benar sekali, bahkan suaranya seimut ini, tapi yang namanya adik tetaplah adik ... Tunggu, apa? Saat membalikkan badan, aku disambut dengan seorang gadis berambut pirang yang melihat wajahku tepat dari jalan di sebelah tempat dudukku. Tentu saja, itu bukan halusinasi, melainkan Ayase-san yang asli.

“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”

“Ini kafe terdekat dengan tempat kerja kita.”

“Ah… Itu masuk akal.”

Tidak ada yang aneh mengenai hal ini. Karena pekerjaan dan bahkan shift kami hampir sama, tidak aneh rasanya jika dia menghabiskan waktunya dengan cara yang sama, terutama mengingat situasi di rumah yang sekarang. Karena itu alasan utama mengapa aku merekomendasikan kafe ini kepada Maru. Ini lebih dari kebetulan, itu cukup jelas untuk diharapkan secara praktis. Namun, bukan berarti aku tidak terkejut bertemu dengannya di sini, dan karenanya aku bahkan tidak tahu bagaimana melanjutkan percakapan.

“Pokoknya, aku akan pergi sekarang.”

“Eh?”

Semua pemikiran dan ide topik pembicaran segera lenyap. Tanpa kusadari, aku sudah melihat punggung Ayase-san saat dia berjalan pergi. Dia mengenakan atasan dengan satu bahu terbuka yang cocok untuk cuaca panas begini, bersama dengan celana pendek biru. Dia memiliki pinggul yang tinggi, hampir seperti model. Ah, dia bahkan memakai sepatu kets hari ini, mungkin untuk menyesuaikan pakaiannya saat ini. Saat dia berjalan dengan langkah ringan, pintu toko terbuka dan tertutup.

“Maaf sudah membuatmu menunggu.”

“Eh? Oh, Maru.”

“Aku ingat kalau waktunya sudah mepet, jadi aku bergegas kembali, tapi… Asamura, kamu barusan berbicara dengan Ayase, ‘kan?”

Waktu? Aku melihat jam yang terpajang di dalam toko, dan menyadari bahwa sudah hampir waktunya bagiku untuk berangkat kerja. Kurasa itu sebabnya Ayase-san pergi begitu cepat.

“Ada sesuatu yang terjadi antara kamu dan Ayase, ‘kan?”

“Tidak, itu tidak…”

Benar—itulah yang ingin aku katakan, tapi pernyataan tersebut akan membuatku menjadi pembohong. Aku merasa akan jauh lebih efisien jika aku memberitahu Maru tentang segalanya. Membeberkan kalau kami menjadi saudara tiri karena pernikahan kembali orang tua kami, dan apapun yang Maru bayangkan tidak terjadi sama sekali… Tapi apa yang akan Ia pikirkan?

Namun, dengan mempertimbangkan waktu yang sudah mendesak, aku tidak bisa masuk lebih dalam ke percakapan ini, jadi aku berpisah dengan Maru hampir seperti aku sedang melarikan diri. Sekarang aku benar-benar kehilangan hak untuk mengkritik orang dewasa yang hidup dengan pola pikir 'apapun yang terjadi biarlah terjadi'. Namun, aku masih hampir sampai ke kantor tepat waktu untuk bekerja. Aku berganti seragam, memakai celemek dan papan nama, dan meninggalkan ruang ganti. Secara kebetulan, Ayase-san dan Yomiuri-senpai keluar dari ruang ganti wanita.

“Yo, Kouhai-kun! Mohon kerja samanya juga hari ini!”

“Mohon kerja samanya juga, Yomiuri-senpai.”

“Tolong perlakukan aku dengan baik hari ini, Asamura-san.”

“Y-Ya, mohon bantuannya juga, Ayase-san.” Aku tersandung kata-kataku.

Pengaruh pertemuan mendadak di kafe itu rupanya masih membuatku terguncang.

“Sepertinya cuma ada kita yang bekerja di jadwal malam ini.” Kata Yomiuri-senpai.

Pada dasarnya, hanya kita bertiga, ya?

“Aku merasa kalau tempat kita masih kekurangan orang.”

“Benar. Yah, itu sih bakalan baik-baik saja. Karena Saki-chan bisa dihitung untuk dua orang.”

“Pujianmu terlalu berlebihan, Senpai.” Ayase-san tetap bersikap merendah, tapi begitu pekerjaan dimulai, gerak-gerik dan etos kerjanya yang efisien benar-benar membuatnya tampak seperti ada beberapa orang yang melakukannya.

Dia benar-benar rajin, dan cepat beradaptasi. Karena dia bisa mengingat semuanya saat ada yang mengajarinya sekali, dia bisa bekerja secara mandiri dengan cepat. Belum lagi dia orangnya sangat teliti. Dia masih berambut pirang dan mencolok yang menjadi ciri khasnya, tapi dia melepas tindikan di telinganya saat bekerja.

Untungnya, tidak ada pengunjung yang terlalu memeriksanya hanya karena penampilannya, tapi saat bekerja di toko yang dikunjungi orang-orang dari segala usia, kamu tidak pernah tahu kapan ada seseorang yang akan mengajukan keluhan kepada pihak manajemen. Aku yakin dia bahkan tidak peduli apa yang orang lain pikirkan mengenai dirinya, tapi bila dilihat dari sifat Ayase-san, merepotkan pihak toko merupakan sesuatu yang ingin dia hindari.

Dia bahkan menjaga kukunya tetap rapi, dan tidak dihias sama sekali. Lagipula, kuku yang dihias akan mudah dilihat saat kamu meletakkan sampul di buku saat bekerja di kasir. Aku ragu siapa pun akan mengeluh jika dia melakukan semua pekerjaannya dengan sempurna, tapi ketika Ayase-san pertama kali mulai bekerja di sini, dia mengalami sedikit kesulitan saat melepas plastik vinil. Bila kamu berpenampilan mencolok meski masih pegawai baru yang belum bisa melakukan pekerjaannya dengan sempurna, pasti akan lebih mudah mendapat keluhan dari para pelanggan.

Penilaiannya yang hati-hati dan manajemen risikonya yang melampaui apa pun yang bisa aku bayangkan. Dan dia sendiri cukup rajin sampai-sampai membuatnya mulai sedikit berkeringat karena kerja kerasnya, padahal AC di dalam toko buku berfungsi dengan baik. Saat bekerja sambilan, kamu biasanya mengambil jeda istirahat bergiliran dengan pekrja lain. Apalagi kalau di dalam toko cuma ada kami bertiga, karena jika kami bertiga istirahat pada saat yang sama, maka tidak ada yang akan membantu pelanggan.

Setelah sekitar dua jam berlalu, Ayase-san mulai beristirahat. Tentu saja, bukan istirahat yang sangat panjang, tapi sekitar sepuluh menit. Jika kamu pekerja tetap, kamu mendapatkan sekitar satu jam. Namun, karena kami pada dasarnya bekerja empat jam dari jam 6 sore sampai jam 10 malam, waktu istirahatnya dibuat singkat.

“Kalau begitu aku akan segera kembali.”

“Ya ya. Selamat beristirahat, Saki-chan.”

“Aku akan kembali dalam sepuluh menit.” Setelah memberikan tanggapan singkat kepada Yomiuri-senpai, Ayase-san menuju ke area karyawan.

“Hmmm…”

“Apa ada yang salah?”

Saat melihat Ayase-san melangkah pergi, Yomiuri-senpai sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Seorang pekerja tetap sedang mengurus daftar sekarang, dan jumlah pelanggan sudah sedikit sepi. Semua orang mungkin sedang makan malam sekarang. Jadi Yomiuri-senpai memberi isyarat padaku.

“Iya?” Kami pindah ke tempat di belakang mesin kasir dan mulai saling berbisik.

“Ini mengenai Sakicchi.”

“Julukan macam apa itu?”

“Oh, keluhan langsung dari kakak laki-lakinya?”

“Panggilan Saki-chan, lalu nama Ayase-san di tempat umum, dan sekarang julukan aneh ini. Cara memanggilmu terlalu bervariasi, Senpai. ”

“Aku masih punya banyak. Saki-chan, Sakisuke, Sacchan… mana yang kamu pilih?”

“Kamu tidak perlu bertanya padaku. Panggil saja dengan Ayase-san.”

“Kalau begitu Saki-chan.”

Pada akhirnya, cara panggilannya kembali ke titik awal. Yah, bukannya aku terlalu peduli dengan cara penyebutannya saat memanggil Ayase-san. Aku tidak punya hak untuk menghakimi atau mengeluh.

“Jadi, bagaimana dengan Ayase-san?”

“Cih.”

“Kenapa kamu malah mendecakkan lidahmu?”

“Ngomong-ngomong, ayo bicara yang lebih serius.”

“Jadi kamu tidak serius sebelumnya.”

“Adik kecilmu. Dia itu terlalu rajin, ‘kan. ”

“Hah?”

Bagaimana itu menjadi masalah?

“Ah, jangan salah paham dulu. Aku berbicara tentang etos kerjanya. Dia mengingat semuanya dengan cepat, dan melakukannya dengan sempurna. Sebagai sesama karyawan yang sangat baik di sini, aku dapat mengatakan kalau dia melakukan pekerjaan dengan baik.”

“Sebagai pekerja sambilan.”

“Jangan terlalu mempermasalahkan hal yang sepele! Ngomong-ngomong, aku merasa dia terlalu menyalahkan dirinya sendiri untuk bagian yang tidak bisa dia lakukan.”

Aku masih kebingungan dengan apa yang ingin dia katakan. Namun, Yomiuri-senpai terus menjelaskan apa yang dia rasakan seperti yang dia lihat. Misalnya, sikap mencela diri Ayase-san yang dia ambil setiap kali dia pergi. Meski ini perilaku terpuji yang dimiliki banyak orang berbakat dan luar biasa, Ayase-san adalah seseorang yang tidak pernah mengambil istirahat secara sukarela, jadi jika ada waktu yang memaksanya untuk berhenti, hatinya akan hancur— atau semacam itu. Yomiuri-senpai menyebutkan teman perempuannya yang memaksakan dirinya bekerja terus menerus sampai membuatnya sakit, dan Ayase-san tampaknya mirip dengannya.

“Gadis itu juga luar biasa. Dia selalu menjadi yang pertama dalam hampir semua hal di SD. Tentu saja, dia tidak cuma berbakat saka. Dia juga berusaha keras untuk mencapai semua itu. Dan di universitas, dia mengalami kegagalan untuk pertama kalinya.”

Hal itu mungkin sesuatu yang sering terjadi. Itulah yang mungkin dipikirkan orang-orang di sekitarnya.

“Setiap manusia memiliki satu atau dua hal yang tidak dapat mereka lakukan. Lagipula, itulah artinya menjadi manusia. Namun, dia tidak setuju dengan pernyataan itu. Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri karena tidak bisa melakukan segalanya. Dia tidak percaya ada sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. Dan kemudian dia menyalahkan dirinya sendiri untuk itu, meyakinkan dirinya sendiri bahwa karena dia cuma malas.”

“Jadi… apa yang terjadi padanya…?”

“Dia pulang ke kampung halamannya. Aku pikir dia dari Shikkoku. Aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, tapi aku berharap kalau dia merasa bahagia.”

Yomiuri-senpai benar-benar perhatian karena mengkhawatirkan seseorang yang cuma sebatas teman sekelas. Tapi entah kenapa aku tidak bisa mengatakan ini padanya karena suatu alasan. Dan dari apa yang dia katakan padaku, orang-orang dengan kecenderungan yang kuat seperti Ayase-san terus-menerus menumpuk stres ketika mencoba untuk meningkatkan, dan tidak beristirahat sama sekali.

Pada dasarnya, ini adlaah proses berpikir yang berbunyi 'Aku tidak bisa berhenti sendiri'. Akhirnya, kamu merasa kelelahan, dan hatimu ikut merasa lelah. Ketika orang memiliki pola pikir 'Jika aku tidak berhenti berlari, aku akan mati', untuk benar-benar menghentikan mereka, ada kalanya kamu harus menyela dan menghalangi apa pun yang mereka coba lakukan. Mungkin ada saatnya di mana kamu ingin menghormati orang lain, tapi tidak ada pilihan lain selain mengabaikan kebebasan dan pendapat mereka sendiri.

Setelah mendengar semua ini dari Yomiuri-senpai, aku jadi teringat sesuatu. Ada suatu waktu saat proses berpikir Ayase-san telah melewati ambang batas aman, dan dia tidak mau mendengarkan apa yang kukatakan padanya. Pada saat itu, aku menghentikannya dengan paksa sehingga dia mau mendengarkanku. Meski aku tidak benar-benar menyadari apa yang kulakukan karena suasana. 'Memberikan segalanya pada saat tertentu' mungkin hal yang paling mendekati untuk menggambarkan perilakunya.

“Mengatakan bahwa semuanya itu penting pada dasarnya kamu berarti tidak menghargai apapun sama sekali.”

“Hal tersebut tidak sepenuhnya sama, Yomiuri-senpai.”

“Memang ada orang yang benar-benar menghargai segalanya, dan berhasil. Mereka adalah orang-orang yang memiliki bakat. Tetapi bagi kebanyakan orang, bagi orang biasa, konsep seperti itu takkan berhasil. Terkadang ada beberapa hal yang tidak bisa kita capai. Itulah yang aku yakini. Tidak ada yang menyalahkanmu bila kamu tidak bisa menjadi ahli dalam segala hal.”

“Begitu ya. Itu pemikiran yang menarik.”

“Itulah sebabnya kamu perlu mempertahankan tekad ini untuk hal-hal yang benar-benar penting bagimu. Menahan diri juga penting, paham? ”

“Ya. Pada dasarnya, jika orang tidak bisa berjalan dengan benar, kamu harus memberitahu mereka, bukan? ”

“Tepat sekali! Kouhai-kun memang hebat! Oleh karena itu, kamu akan memberiku waktu istirahatmu, ‘kan? ” Senpai menyatukan kedua tangannya seperti dia memohon padaku.

Aku tidak percaya dia bisa selihai itu dari mengubah topik serius menjadi candaan sedetik kemudian.

“Kenapa Senpai meminta itu, huh? Memangnya ada urusan yang perlu dihadiri? ”

“Jika aku menunggu sampai shift aku selesai, tokonya akan tutup. Jaraknya cuma memakan waktu sekitar 15 menit, kok!”

Aku menghela nafas tidak percaya. Orang ini benar-benar…

“Aku mengerti. Aku akan memberi mu waktu istirahatku, jadi belilah apa pun yang perlu Senpau beli. ”

“Yay, Kouhai-kun!”

“Aku tidak mau bersorak denganmu.”

“Reaksi yang membosankan.”

“Aku hanya tidak bisa mengikuti tempomu, oke?”

Aku sebenarnya sedikit mengagumi Yomiuri-senpai karena menanam benih untuk rangkaian pemikiran ini di dalam pikiranku, tapi dia harus pergi dan mengatakan itu tanpa membuang-buang kesempatan.

“Yah, jika kamu benar-benar menghargai adikmu, kamu mungkin perlu melangkah lebih dalam ke wilayah pribadinya.” ujar Yomiuri-senpai dan menuju kasir.

“Jika aku menghargainya, aku harus melangkah lebih dalam ke wilayah pribadinya, ya?”

Jadi dia bahkan tidak terlalu bercanda, ya. Senpai benar-benar seseorang yang takkan pernah kupahami.

Bahkan setelah jadwal kerja kami berakhir, suhu panasnya tidak berkurang sama sekali. Dalam perjalanan pulang, aku mendorong sepedaku seperti biasa, bersama Ayase-san yang berjalan di sampingku. Aku ingat apa yang Yomiuri-senpai katakan padaku. Selama sebulan terakhir ini, Ayase-san benar-benar mengabdikan dirinya untuk pekerjaannya. Jika aku harus menebak, ini mungkin demi tujuannya untuk bisa mandiri secepat mungkin. Salah satu alasan untuk ini kemungkinan besar karena aku gagal menemukan cara yang menguntungkan tapi tidak menghabiskan banyak waktu baginya untuk mendapatkan uang. Alasan lainnya mungkin karena pengetahuanku tentang bagaimana toko buku beroperasi yang bisa dia gunakan untuk dirinya sendiri. Alasan itu masuk akal.

Namun, seperti yang dikatakan Ayahku, aku belum pernah melihat Ayase-san bersantai atau bertingkah seperti kebanyakan pelajar selama liburan musim panas dalam sebulan terakhir ini. Ada juga sesuatu yang dikatakan Maru yang masih terngiang di kepalaku …

—Jika orang tidak beristirahat dengan baik, kamu harus memberi tahu mereka.

Mungkin aku harus bertanya sekarang…

“Ayase-san, apa Narasaka-san mengajakmu ke kolam renang? … Ajakan yang diberikan kepadaku juga?”

“…Apa Maaya menghubungimu?” Ayase-san bertanya sambil mengernyitkan alisnya.

Sepertinya dia memang mendapat ajakan.

“Tidak. Lagipula dia tidak punya cara untuk menghubungiku.”

“Lalu bagaimana kamu bisa mengetahuinya?”

Ya ampun, dia benar-benar curiga sekarang.

“Aku mendengarnya dari orang lain. Aku juga tidak tahu tentang itu.”

Aku menjelaskan tentang bagaimana ada pembicaraan tentang Narasaka-san yang mengajak teman-temannya ke kolam renang.

“Apa kamu ingin pergi, Asamura-kun?”

Sekilas, pertanyaannya tersebut terdengar seperti dia bertanya apa aku ingin pergi bersamanya. Tapi itu tidak mungkin. Dia cuma bertanya apa aku tertarik pergi ke kolam renang. Itulah satu-satunya cara Ayase-san mengajukan pertanyaan ini. Dia benci disalahpahami. Dia bersikap acuh seperti biasa, hanya menanyakan apakah aku ingin pergi atau tidak, itulah sebabnya aku memutuskan untuk menjawab dengan kalimat pertama yang muncul di pikiranku saat pertanyaan itu diungkapkan dalam konteks itu.

“Sejujurnya, pergi ke kolam renang dengan gerombolan yang suka bergaul itu terdengar menyebalkan.” Aku tersenyum masam saat menjawabnya.

Untuk sesaat, aku merasa seperti melihat ekspresi sedih muncul di wajah Ayase-san di bawah lampu jalan, tapi ekspresinya yang biasa kembali seperti semula.

“Begitu ya. Kalau begitu, kamu tidak perlu memaksakan diri untuk pergi, kan? ”

Ada sesuatu yang aneh dari cara dia menyampaikan kalimat itu, rasanya hampir seolah-olah dia terganggu oleh jawabanku. Aku tidak bisa menebak apa yang sebenarnya dia rasakan. Aku merasakan sedikit kemarahan, sedikit kesedihan, tetapi juga sedikit rasa lega.

“Apa kamu tidak pergi ke kolam renang?” tanyaku.

“Aku tidak pergi.” balas Ayase-san.

“Kenapa tidak?”

“………”

Aku bertindak jauh dan melangkah lebih dalam ke wilayahnya, tapi Ayase-san tetap diam dan tidak memberiku jawaban. Sebuah mobil melewati kami pada saat yang tepat. Aku pikir mungkin dia tidak bisa mendengarnya, tapi jika dia memang tidak mendengarnya, aku tidak ingin mengganggunya lebih jauh dengan terus menerus memberinya pertanyaan. Namun, ada sesuatu yang terasa janggal dihatiku.

—Aku tidak pergi

Aku ingin tahu, emosi macam apa yang Ayase-san rasakan saat mengatakan itu? Saat kami berjalan pulang, aku melihat lampu bersinar dari apartemen kami. Aku memarkir sepedaku di tempat parkir dan membiarkan Ayase-san pergi mendahuluiku. Tapi sampai aku membuka pintu apartemen, aku terus memikirkan Ayase-san.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>

close

1 Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama