Gimai Seikatsu Vol.3 Chapter 04 Bahasa Indonesia

Chapter 4 — 25 Agustus (Selasa)

 

Usai terbangun, aku tetap rebahan di atas tempat tidur, dan memikirkan sesuatu. Apa kemarin aku mengacaukannya?

“Aku mungkin mengacaukannya, ya?”

Suara yang aku ceploskan ke langit-langit kamarku tidak mencapai telinga siapapun, dan memantul kembali ke arahku lagi. Aku menoleh ke samping dan memeriksa waktu. Sekarang sudah siang, tapi mataku masih terasa mengantuk. Karena semua kejadian kemarin, yang membuatku merenung sepanjang malam, aku tidak bisa tidur nyenyak. Bagaimana aku bisa menerobos sifat kaku dan kepala batu Ayase-san? Bagaimanapun, mentalitas Ayase-san lumayan tajam dan kokoh di saat yang bersamaan. Namun tetap saja masih terlihat rapuh.

Setelah tinggal bersama Ayase-san selama dua bulan terakhir, setidaknya aku belajar banyak mengenai dirinya. Terlebih lagi karena kami sudah bekerja bersama setiap hari di kerja sambilan kamu. Jika aku boleh menebak, proses berpikir Ayase-san mungkin berjalan seperti begini:

Menjadi anak kecil artinya kamu mendapatkan sesuatu yang diberikan kepadamu secara gratis. Pada dasarnya, kamu menjadi sisi penerima daripada sisi memberi. Ketika dia masih kecil, dia masih normal seperti kebanyakan anak lain, meminta es krim kepada ibunya, atau memintanya untuk membawanya ke kolam renang. Dia selalu meminta. Tentu saja, itu masuk akal, dan begitulah sewajarnya. Namun, Ayase-san tidak merasa seperti itu. Itulah yang sangat penting dalam faktor ini.

Karena keadaan keluarganya, Ayase-san menghentikan sikap kekanak-kanakannya di akhir masa SD. Dia tidak bisa membiarkan dirinya menjadi anak kecil terus. Dunia bekerja pada hubungan timbal balik, tapi dia memilih untuk hidup menjadi sisi pemberi. Ini mungkin caranya sendiri untuk menebus hari-harinya sebagai anak kecil yang terus menjadi sisi penerima, di bawah kesan yang salah kaprah bahwa dia sudah menyusahkan ibunya dengan perilakunya itu.

Dia ingin tumbuh secepat mungkin dan meringankan beban ibunya. Diberi sesuatu secara gratis mungkin mengingatkannya akan masa lalunya yang kelam saat dia masih kecil. Dia mungkin berpikir kalau dia bertingkah sedikit egois, dia hanya akan menambah beban ibunya. Sungguh ironis. Lagipula, Akiko-san sendiri yang memberitahuku sebaliknya.

“Aku ingin dia menjadi anak kecil sedikit lebih lama”

Aku merasa dadaku bertambah sesak saat mengingat perkataan Akiko-san. Walaupun mereka berdua saling peduli satu sama lain, tapi keinginan mereka saling bertentangan. Sang ibu ingin putrinya menjadi anak kecil lebih lama, sedangkan si anak ingin menjadi dewasa secepat mungkin. Membuat kedua belah pihak bahagia itu tidak mungkin. Lagipula keinginan mereka saling bertentangan. Bahkan penyesuaian pun tidak berhasil. Bagaimanapun juga, Ayase-san masih anak-anak.

Mungkin Ayase-san yang sekarang bisa berdamai dengan Akiko-san jika mereka membicarakannya baik-baik dan mencoba menyesuaikan diri satu sama lain. Namun, Ayase-san menyimpan semua itu sendirian dan menaiki tangga hingga dewasa. Dia mencoba memikul bebannya sendiri sedini mungkin, yang mengakibatkan proses pemikiran mencela diri sendiri yang aneh ini. Itu sebabnya dia tidak bisa tenang, tidak bisa bermain-main dengan hati yang polos. Dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri atas keinginan jujurnya untuk pergi ke kolam renang.

‘Aku tidak punya waktu untuk pergi ke kolam renang. Seriusan tidak bisa.’

Ekspresi Ayase-san sedatar biasanya ketika mengucapkan kalimat tersebut, akan tetapi suaranya terdengar seperti dia sedang berakting. Tapi akulah yang bersalah karena tidak bisa mengatakan apa-apa. Seandainya saja aku semacam protagonis dari sebuah cerita dan memilih urutan kejadian yang lebih dramatis untuk mencoba membujuk Ayase-san, mungkin dia akan mengubah proses pemikirannya tentang ini…

Tidak, itu salah. Aku seharusnya tidak lari dari kenyataan seperti ini. Jika aku ingin menyelamatkannya, maka aku perlu membuat rencana yang lebih matang. Saat sedang memikirkan itu, alarmku berbunyi. Ini benar-benar sudah waktunya bagiku untuk bangun. Jadi, setelah mematikan alarm, aku perlahan-lahan bangkit dari tempat tidur.

Aku bangun sekitaran antara waktu sarapan dan makan siang. Aku berdiri di ruang tamu, kebingungan apa yang harus kubuat. Apa yang harus kumakan? Atau haruskah aku menunggu sampai jam makan siang tiba? Biasanya, Ayase-san akan bangun untuk membuat sarapan bahkan sebelum Ayahku berangkat kerja, tapi sepertinya dia masih tertidur. Buktinya di atas meja makan masih kosong. Saat-saat seperti ini kadang terjadi. Lagipula kita tidak bisa selalu mengandalkan Ayase-san untuk membuatkan sarapan untuk kita. Bahkan saat kami berada di masa ujian akhir semester, baik aYAHku dan Akiko-san tidak membiarkan Ayase-san membuat sarapan.

Pokoknya, aku perlu mengurus sendiri perut laparku ini. Mungkin aku harus memanggang roti. Tepat ketika aku sedang mempertimbangkan apa yang harus dilakukan, pintu ruang tamu terbuka.

“…Ah.”

“Selamat pagi, Ayase-san.”

“…Pagi.”

Dia terlihat sangat mengantuk. Kelopak matanya bahkan tidak terlihat terbuka penuh. Bahkan suasana bermartabat yang biasa dia pertahankan di rumah telah menghilang tanpa jejak. Dia bahkan mengenakan pakaiannya tidak serapi biasanya. Kekuatan serangan dan pertahanannya telah turun drastis.

“Apa kamu kekurangan tidur?”

“Aku tidur sebntar… setelah jam 6 pagi.”

Aku tidak berpikir kalau hal itu bisa disebut 'tidur'. Karena pada jam segitu sudah terang di luar. Itu wilayah bago para begadang.

“Kenapa tidak tidur lebih lama lagi? Mumpung kita tidak punya pekerjaan sampai sore nanti.”

“Aku baik-baik saja. … Jam berapa sekarang?” Dia bertanya seraya memutar kepalanya untuk melihat jam dinding.

Matanya yang sayup-sayup, seketika terbuka lebar karena terkejut.

“Eh…? Sudah sesiang ini…?” Usai mengatakan ini, dia melihat ke meja makan.

Tentu saja, di sana tidak ada apa-apa.

“Ah gawat, apa Ayah sempat sarapan?”

“Jangan khawatir, sepertinya Ia sarapan roti.”

Piring dengan bekas remah roti tergeletak di wastafel, meski sepertinya Ia tidak punya waktu untuk memasukkannya ke dalam mesin pencuci piring. Setidaknya Ia menyimpan mentega atau selai atau apa pun yang sudah Ia gunakan kembali ke dalam kulkas. Nah, sebelum Ayase-san dan Akiko-san datang untuk tinggal di sini, menu sarapan kami biasanya seperti ini. Bahkan jika kami memakan sesuatu, cuma itu saja yang ada. Jadi tidak ada alasan bagi Ayase-san untuk merasa bersalah.

Aku mencoba meyakinkan Ayase-san, tapi dia sepertinya tidak mendengar apapun yang kukatakan. Dia menggigit bibirnya dengan frustrasi atas kesalahannya sendiri.

“Ini pertama kalinya aku bangun kesiangan seperti ini.”

“Mungkin kelelahan yang menumpuk? Kamu bisa lebih banyak istirahat, jangan khawatir. ”

“Itu… aku benar-benar minta maaf! Kamu belum makan apa-apa, Asamura-kun. Aku akan segera membuat sesuatu.”

Ayase-san jelas-jelas sedang kelelahan. Belum lagi ada kantung besar di bawah matanya.

“Ayase-san.” Aku memanggilnya dengan nada suara yang kuat.

“I-Iy… a…?”

“Aku ingin kamu mendengarkanku tanpa melarikan diri."

“Eh… um, ada apa?”

“Tolong dengarkan baik-baik. Saat pertama kali pindah ke sini, apa kamu masih mengingat tentang apa yang kamu katakan padaku?”

Dia mengeluarkan suara terkejut. Kurasa dia masih mengingatnya.

“…Aku terbantu jika kita bisa ‘menyesuaikan’ dengan mudah…?”

Aku mengangguk. Persis seperti yang dia katakan. Itulah pertama kalinya kami menunjukkan kartu kami satu sama lain. Kami bertukar informasi dan memutuskan untuk menyesuaikan keinginan dan kehendak masing-masing. Itu sebabnya aku terus berbicara.

“Saat ini, aku sudah menilai bahwa kamu jelas-jelas kurang tidur, Ayase-san. Kamu boleh mencoba dan membantahnya, membuat argumen kontra terhadap pernyataanku, tapi lihat saja dirimu di cermin. Aku tidak ingin kamu membuat makanan dalam keadaan seperti itu. Aku khawatir kalau kamu benar-benar akan menyakiti diri sendiri. Kamu dapat duduk di kursi, tetapi aku akan membuat makanan. Sekian, itu saja dariku.

“Urk... Tapi aku sudah bilang kalau aku yang akan membuat makanannya.”

“Menepati kesepakatan kita memang bagus. Tapi kamu harus menyesuaikan diri dengan situasi dan hidup dengan pendekatan fleksibel. Hari ini, misimu bukan untuk membuat makanan, tetapi untuk mendapatkan istirahat yang layak.”

“Ta-Tapi…”

“Aku biasanya juga takkan mengatakan ini padamu, Ayase-san. Kamu sendiri yang bilang, ‘kan? Kalaua kamu belum pernah bangun kesiangan seperti ini sebelumnya.”

“……Tidak.”

“Jadi ini adalah situasi yang khusus. Kamu tidak perlu memaksakan diri untuk melakukan hal yang sama seperti biasanya. Ayo, duduk saja. Tentu saja, kamu juga bisa kembali dan tidur lagi.” Ujarku. Aku menarik kursi yang selalu diduduki Ayase-san.

Lantai membuat suara melengking samar sebagai tanggapan.

“Aku cuma kurang tidur, oke?”

“Aku tahu, tapi Ayase-san yang kurang tidur berhak duduk di kursi ini, jadi ayo duduk.”

“…Oke.” Ayase-san sepertinya sudah pasrah dengan nasibnya. Dia kemudian duduk di kursi meja makan.

Ini mungkin pertama kalinya aku melihat Ayase-san bertingkah lemah seperti ini. Tapi yang lebih penting…

“Apa kamu ingin sepotong roti panggang?”

Dia menjawab dengan menganggukan kepalanya, jadi aku mengambil sepotong roti untuknya dan satunya lagu untukku, lalu memasukkannya ke dalam pemanggang roti. Aku juga mengeluarkan mentega dan selai dari kulkas dan meletakkannya di depan Ayase-san. Tentu saja bersama dengan pisau mentega dan sendok,. Aku juga melihat beberapa sisa daging ham dan mengeluarkannya dari dalam kulkas juga.

“Apa kamu ingin sekalian ham juga? Aku merasa kamu selalu menambahkan itu di roti panggangmu.”

“Aku suka seperti itu, ya.”

“Kamu juga suka yang agak renyah, ‘kan?”

“…Aku suka seperti itu, ya.”

“Aku mengerti. Memang terasa enak seperti itu. ”

Karena kami sudah sepakat, aku mengeluarkan wajan, lalu menuangkan sedikit minyak di atasnya, dan menyalakan api untuk menggoreng ham dengan lembut. Suara mendesis terdengar, dan itu membuatku merasa semakin lapar. Mengapa suara penggorengan yang mendesis membuat perun keroncongan, ya? Aku meletakkan roti yang berwarna cokelat keemasan di atas piring dan membawanya ke meja makan. Aku melakukan hal yang sama dengan ham yang sudah jadi, yang sedikit gosong di sudut-sudutnya, dan menambahkan sedikit lada hitam di atasnya. Inilah yang selalu dilakukan Ayase-san. Hah? Apa dia melakukan itu sebelum memanggangnya? Aku tidak tahu. Lalu ada sesuatu yang terbesit di benakku, dan aku membuka kulkas. Kami masih punya sisa susu.

“Apa kamu ingin susu hangat?”

“Susu hangat dalam cuaca panas begini ...?”

“A/C berfungsi, jadi cukup sejuk di ruangan ini, ‘kan? Jika kamu mau tidur siang lagi, minum sesuatu yang hangat akan membantu nanti. ” tuturku, dan Ayase-san hanya terdiam.

“…Kalau begitu, aku akan menanggapi tawaranmu.”

“Oke.”

Aku menuangkan susu ke dalam cangkir, menghangatkannya di microwave, dan menaruh di depannya. Aku membuat teh untuk diriku sendiri dan meletakkannya di dekatku. Aku lalu menyatukan kedua tanganku.

“Kalau begitu, ayo makan. Beberapa sayuran yang ditambahkan ke menu mungkin lebih baik.”

“Ini lebih dari cukup... Terima kasih untuk makanannya.” Gumam Ayase-san. Dia mengoleskan mentega ke rotinya, dan menambahkan ham di atasnya, lalu menggigitnya.

Aku pun melakukan hal yang sama. Untuk sementara, kami berdua hanya fokus menghabiskan sarapan, tidak mengatakan sepatah kata pun. Namun, sepotong roti itu dimakan dengan cukup cepat, jadi Ayase-san selanjutnya fokus pada cangkir susu panasnya. Aku melihat cangkirku sendiri yang kosong dan mempertimbangkan untuk menambah isinya. Sementara aku memikirkan itu, halaan nafas keluar dari bibir Ayase-san. Dia meletakkan cangkir, yang membuat suara denting pelan.

“Aku sudah memikirkannya ...” Ungkapnya, dan menyesap susu panasnya lagi, hampir seolah-olah itu adalah barang istimewa yang dia butuhkan untuk mengumpulkan keberaniannya untuk berbicara.

“…Aku tidak keberatan pergi ke kolam renang.” Aku yang sedang mengulurkan tangan untuk menuangkan segelas teh lagi, tapi tanganku tiba-tiba berhenti di tengah jalan.

Karena sedikit terkejut, aku menoleh ke arah Ayase-san lagi.

“Kamu tiba-tiba ingin pergi?”

“Baru sekarang. Sebelum tidur, aku sangat menentang ide untuk pergi, tapi… Tidak, itu tidak benar. Aku jadi goyah.”

“Sampai jam 6 pagi?”

“Sampai jam 6 pagi.”

"Tapi sekarang kamu ingin pergi?”

Ayase-san mengangguk.

“Saat aku bangun pagi ini… aku pikir mungkin tidak ada ruginya juga. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakannya.”

Saat mendengarkan penjelasan Ayase-san, aku merasakan semua tenaga menghilang dari tubuhku. Aku hampir berubah menjadi ubur-ubur di kursiku. Lagipula aku tidak membutuhkan perkembangan dramatis. Pada akhirnya, Ayase-san cuma tertidur selama satu malam dan berubah pikiran. Cuma itu saja.

Kurasa ... yang begini jauh lebih realistis. Setidaknya ini masuk akal bagiku. Apa yang kamu butuhkan pada kenyataan bukanlah seorang pria yang akan memindahkan gunung, tapi hanya sebuah kejadian kecil seperti itu. Aku pernah membaca di sebuah buku kalau pemicu terkecil dapat mengubah proses berpikir mendasar seseorang.

“Tapi ada satu masalah.”

Hah?

“Dan ini masalah sangat penting yang juga melibatkanmu, Asamura-kun.”

“Kamu tidak bisa berenang? Kurasa aku tidak cukup baik untuk mengajarimu.”

“Tidak, aku bisa berenang, oke?”

“Sudah kuduga~”

Aku setengah berharap itu bukan alasannya. Kenyataannya, masalah sebenarnya jauh lebih serius daripada yang aku perkirakan, dan pasti melibatkanku.

“Karena aku tidak berencana pergi ke kolam pada hari itu, aku jadi punya shift. Aku pikir kamu juga sama ‘kan, Asamura-kun. ”

“Memangnya tanggal berapa untuk perjalanan kolam renang?”

“Lusa, tanggal 27.”

“Wah… seriusan?”

“Yup, super serius.”

Besok, pada tangggal 26, kami mendapat jatah libur dan shift kami berikutnya ada pada tanggal 27. Hal ini agak merepotkan. Tepat ketika aku membuat Ayase-san setuju, kami bahkan tidak bisa pergi ke kolam renang sejak awal. Setelah aku merenungkannya sebentar, aku mengajukan kepada Ayase-san beberapa cara untuk mengatasi masalah ini.

“Karena kamu benar-benar ingin pergi, ayo lakukan sesuatu.”

“Apa bisa?”

“Yah, situasi begini sering terjadi, jadi kurasa kita mungkin baik-baik saja.”

“Jadi ini sering terjadi…”

“Ya, kita tinggal meminta perubahan shift. Gampang, ‘kan?” balasku dengan cara yang seharusnya membuatku terdengar percaya diri.

Meski itu adalah ide yang sederhana, tapi nyatanya sangat sulit untuk mewujudkannya di kenyataan, dan aku sepenuhnya menyadari hal tersebut.

Waktu terus mengalir hingga berkembang ke titik di mana panas yang mendidih dan mendesis mulai sedikit mendingin. Lebih tepatnya, sekarang sudah jam 4 sore di Shibuya. Uap panas melayang ke atas dari aspal, Ayase-san dan aku berjalan bersebelahan saat menuju ke tempat kerja. Kami memutuskan untuk berangkat kerja lebih awal supaya kami bisa meminta pergantian shift kepada manajer.

Aku sudah mengungkit hal ini sebelumnya, tapi saat kami bepergian bersama, kami harus menyesuaikan kecepatan satu sama lain baik dengan sepeda atau dengan berjalan kaki. Tentu saja, baik Ayase-san maupun aku tidak senang menunjukkan pertimbangan seperti itu, tapi sekarang kami punya alasan yang tepat mengenai hal tersebut. Meski aku tidak pernah menyangka kalau kami akan berangkat bekerja bersama karena alasan seperti itu.

“Langitnya semakin berawan, ya? Untunglah.” Ayase-san mendongak ke atas langit saat bergumam pada dirinya sendiri.

Seperti yang dia katakan, sebagian langit ditutupi awan tebal. Lagian, masih ada langit biru yang terlihat, jadi belum menjadi lebih gelap atau apa, tapi setidaknya suhunya sedikit mendingin. Rasanya jadi sedikit lebih nyaman berada di luar berkat awan itu. Setelah Ayase-san mendongak ke langit sambil menutupi setengah wajahnya dengan tangan, dia menyesuaikan tas yang ada di bahunya. Tas yang dibawanya cukup besar, tapi itu berisi seragam yang dia bawa pulang setiap hari.

Hari ini, Ayase-san menunjukkan kesan yang berbeda dari biasanya. Dia mengenakan atasan berwarna cerah yang berlengan sedang dan berkerah, model baju yang tidak menunjukkan banyak kulit sama sekali. Tempat yang biasanya mengenakan dasi, diganti dengan sesuatu seperti pita kecil. Menurut Ayase-san, cara berpakaian seperti ini tidak memiliki banyak kerusakan serangan, tapi setidaknya bisa meningkatkan pertahanan. Jagalah sopan santunmu saat mencoba negosiasi. Mungkin karena apa yang kukatakan membuatnya memakai pakaian ini.

Yah, dia memang memberi kesan bahwa dia bisa diandalkan dan pekerja keras. Namun, dia masih memasang tindikan di telinganya, hampir seperti sengat lebah madu yang berusaha memperingatkan siapa saja yang berani menyerang, yang mana hal tersebut sangat menggambarkan kepribadian Ayase-san. Ditambah, aku merasa pakaiannya akan menjadi sangat panas sekarang.

“Apa kamu tidak merasa panas berpakaian seperti itu? Kamu takkan terkena sengatan panas, kan? ”

“Cuacanya jadi makin berawan, jadi aku baik-baik saja.”

“Apa kamu sudah tidur?”

“Tentu saja. Dua jam penuh.”

Aku merasa itu masih belum cukup, tetapi mengorek masalah itu lebih jauh takkan memberikan manfaat sama sekali, dan itu akan membuatnya tampak seperti aku memperlakukan Ayase-san seperti anak kecil. Bukannya aku ingin dia kembali menjadi anak kecil. Saat aku memikirkan itu, percakapan kami berakhir, dan tidak ada lagi yang benar-benar perlu dibicarakan, jadi kami berdua berjalan berdampingan dalam keheningan.

Kebisingan dari mobil-mobil yang terjebak macet, dan truk-truk yang berkeliling kota memutar iklan dengan volume yang cukup keras untuk mengganggu lingkungan sekitar, aku sekali lagi menyadari bahwa ini memang daerah Shibuya. Seakan menunggu perubahan suasana, Ayase-san tiba-tiba angkat bicara.

“Maaf soal kemarin.”

“Mengenai masalah kolam renang?”

“Ada itu juga, tapi ini mengenai hal lain. Saat kamu datang bekerja dengan Yomiuri-senpai, aku mungkin mengatakan sesuatu yang kasar.”

“Ah…”

Percakapan mereka waktu itu memang terasa agak aneh, sih. Dia menyebutkan, sebagai sebuah keluarga, dia merasa lega jika aku sedekat itu dengan Yomiuri-senpai, dan meskipun orang tersebut menertawakannya sebagai lelucon, aku memang merasa kalau perkataannya ini bukan gaya Ayase-san yang biasa. . Saat sepasang pria dan wanita berjalan-jalan di luar bersama, mereka biasanya dianggap sebagai orang pacaran. Stereotip semacam ini mungkin muncul di kepalamu, tetapi sebenarnya bukan sesuatu untuk diarahkan pada orang lain, yang mungkin merupakan proses berpikirnya.

“Ini bertentangan dengan janji kita untuk menyembunyikan perasaan ini, kan? Tidak apa-apa, aku bisa mengungkapkan itu, pasti. ” Ayase-san hampir terdengar seolah-olah ingin mengatakan kalimat itu pada dirinya sendiri, dan melanjutkan dengan nada gelisah. “Jikapun ada, aku ingin kamu jujur ​​jika kamu memang berpacaran dengannya.”

“Begitu ya. Kenapa?”

“Aku tidak tahu ... Biarkan aku berhenti di situ.”

Aku pikir itu terdengar aneh. Rasanya dia tahu, tapi tidak bisa menjawab. Pertama, dia mengorek hubunganku dengan Yomiuri-senpai, dan sekarang dia bahkan tidak mau menatap mataku. Kedua, hal ini mempunyai makna tersirat sampai-sampai membuat jantungku berdetak lebih keras seolah-olah aku mengharapkan sesuatu.

—Mengharapkan sesuatu? Sadar diri, Asamura Yuuta.

Aku memaksa hatiku yang berdebar kencang untuk tenang dan dengan hati-hati menunggu apa yang akan dikatakan Ayase-san selanjutnya.

“Setelah bekerja sama dengannya, aku menyadari betapa baiknya dia.”

“Ya kamu benar.”

“Dia baik, perhatian, dan cantik. Dia pintar dan tahu segalanya, kita bahkan tidak akan bosan berbicara dengannya karena humornya yang unik.”

“Meski dia sedikit pemalas. Dan kamu tidak bisa melupakan candaan joroknya.”

“Itu bukan kekurangan, kamu bisa menyebutnya pesona, oke? …Yah, mungkin aku hanya belum terlalu akrab dengannya. Lagi pula, kamu sendiri sudah bekerja dengannya lebih lama daripada aku. Kenapa juga aku mengadakan presentasi tentang Yomiuri-san?” Ayase-san membuat senyum masam.

Aku ingin menanyakan hal yang sama. Apa yang ingin dia coba katakan?

“Aku hanya berpikir kalau dia tidak terlalu buruk sebagai ‘Nee-san’, tahu. Aku seharusnya tidak mengatakan sesuatu yang akan membatasi kebebasanmu, jadi aku minta maaf.” Ayase-san menjelaskan reaksi anehnya dari kemarin.

Rasannya seperti dia sudah menyiapkan catatan sebelumnya dari apa yang ingin dia bicarakan, dan baru saja membacanya kata demi kata dari memori di dalam otaknya. Hei, apa itu perasaanmu yang sebenarnya? Keraguan semacam itu memenuhi kepalaku, tapi aku mengabaikannya. Dia mengatakan bahwa dia akan menjelaskan dengan tepat perasaan tidak yakin dan samar-samar yang dia miliki, dan telah mengungkapkannya dengan gamblang. Jika aku meragukan bagian mana pun dari itu dan menganggap bahwa ada kebohongan yang tercampur di dalam ucapannya, hal itu akan menghancurkan seluruh premis hubungan kami. Jadi, satu-satunya tanggapanku yang seharusnya ialah mengangguk.

“Oke, tidak apa-apa. Tidak perlu meminta maaf lagi.”

“Baiklah.”

Masalah ini sudah tuntas. Kami akan melupakan kejadian ini dan membiarkannya berlalu. Inilah hubungan kami, hubungan yang paling nyaman bagi Ayase-san dan diriku. Namun, untuk beberapa alasan yang tidak bisa kujelaskan, rasanya seperti ada sesuatu yang tersangkut di tenggorokanku, meninggalkan rasa pahit dan tidak nyaman yang tidak bisa dijelaskan dengan pasti.

Saat kami mendekati stasiun kereta, jumlah orang di sekitar kami makin bertambah. Meski belum waktunya bagi pegawai untuk keluar dari kantor mereka, ada pria yang mengenakan dasi dan jas, dan suara sepatu hak tinggi di mana-mana. Bahkan ada beberapa siswa yang bercampur dalam kerumunan tersebut. Aku menyadari sesuatu saat memarkirkan sepedaku di tempat parkir. Aku mendecakkan lidahku, dan Ayase-san menatapku dengan kaget.

“Apa ada yang salah?”

“Katakan, Ayase-san.”

“Apa?”

“Kalau kita pulang bersama juga, kenapa aku malah membawa sepedaku?”

Kenapa aku tidak meninggalkannya di rumah jika kami pulang pergi bersama?

“Eh?” Ayase-san menatapku seolah-olah aku baru saja mengatakan sesuatu yang aneh. "Karena kamu punya alasan untuk melakukannya, kan?"

“Tidak, tidak sama sekali. Ini cuma karena kebiasaan.”

“Y-Yah, itu sering terjadi dari waktu ke waktu… Pfft.”

“Kebiasaan memang hal yang menakutkan, ya?”

“Aku akan membiarkannya begitu saja.”

Wajahnya tersenyum riang. Dia menertawakan keteledoranku. Yah ... belakangan ini, dia selalu sedikit tegang, jadi aku lebih suka dia tersenyum melihat keteledoranku ketimbang tidak sama sekali. Pokoknya, aku memarkir sepedaku di tempat parker biasa, lalu berjalan kembali ke tempat Ayase-san menungguku, dan memasuki area karyawan. Di sana, kami bertemu dengan senior kami dan bertanya keberadaan manajer toko. Ketika kami membuka pintu kantor, manajer toko sedang duduk di sisi jendela ruangan, di sejumlah meja yang membentuk sebuah pulau.

“Oh… Asamura-kun dan Asamura-san… Ah, bukan, Ayase-san, ‘kan? Halo, kalian berdua.”

Aku tidak bisa menyalahkannya karena menyebut nama yang salah. Di daftar keluarga kami dan di atas kertas, nama asli Ayase-san sekarang adalah Asamura Saki. Orang tua kami menikah secara legal, dan hanya memasukkan nama mereka di daftar keluarga, itulah sebabnya seluruh keluarga kami bernama Asamura sekarang. Namun, di sekolah maupun di tempat kerja, di mana kenyamanan menuntutnya, Ayase-san menggunakan nama keluarga lamanya. Ini juga bukannya keluarga kami adalah sesuatu yang istimewa. Dalam pernikahan kembali zaman sekarang , baik daftar nama, nama keluarga, dan bahkan akun email orang dewasa yang digunakan tetap sama demi kenyamanan dan kepraktisan, atau begitulah yang pernah aku dengar.

Bagi Ayase-san, pekerjaan ini adalah tempat dengan hubungan baru untuk terbentuk, jadi dia mempertimbangkan untuk menyebut dirinya 'Asamura Saki,' tapi dia tampaknya tidak ingin menerima perlakuan khusus apapun karena dia adalah adik perempuanku, atau semacamnya. . Pada akhirnya, dia mulai bekerja dengan nama 'Ayase.' Karena aku selalu memanggilnya 'Ayase-san,' tidak ada karyawan lain yang mengetahui hal ini.

“Selamat sore, pak. Saya minta maaf karena sudah mengganggu waktu anda sebentar ...”

“Hm?”

Menyadari bahwa kami tidak mengakhiri percakapan hanya dengan salam, manajer toko mengangkat kepalanya. Meski beliau baru berusia akhir tiga puluhan, Ia berhasil menitih karir menjadi manajer toko, yang menunjukkan keahliannya yang tersembunyi di balik kebaikannya.

“Ada apa?”

“Maafkan saya karena mendadak memberitahu anda hal ini… Sebenarnya kami berdua, Saya dan Ayase-san, mempunyai hari libur besok tanggal 26, dan memiliki giliran kerja lusa pada tanggal 27, tapi kami ingin bertanya apakah kami bisa mengganti shift tersebut.”

“Mengganti shift…? Itu memang mendadak. Apa ada sesuatu terjadi?”

“Um.”

Jika kami menyampaikan kebohongan yang setengah-setengah, itu hanya akan mempertaruhkan segalanya, dan aku benar-benar tidak ingin kehilangan pekerjaan ini. Hal yang terpenting adalah kami tidak berbohong, tetapi kami juga tidak menjelaskan semuanya. Itu sebabnya aku mengatakannya dengan kalimat ini.

“Ada teman yang mendadak mengajak kami ke suatu tempat.”

Manajer toko tahu bahwa aku dan Ayase-san berasal dari sekolah yang sama. Itu sebabnya kami memberi tahu beliau kalau ada teman yang mengundang kami. Narasaka-san mungkin lebih dekat dengan Ayase-san, tapi dia juga memperlakukanku seperti temannya, atau itulah setidaknya kesan yang aku dapatkan dari interaksi kami. Ayase-san lalu menimpali.

“Kemarin, dia baru kembali dari perjalanan.”

Pernyataan itu juga bukan bohong. Narasaka-san memang baru saja kembali dari perjalanan kemarin. Itu sebabnya mengapa dia tidak mencoba menghubungiku sampai sekarang. Masuk akal. Dia takkan menghubungi sembarang cowok seperti aku ketika dia sedang menikmati liburannya. Tapi dia memang memberitahu Ayase-san tentang itu. Namun, kenyataan kalau itu “mendadak” tidak sepenuhnya benar. Ayase-san sudah tahu tentang ini untuk sementara waktu, tapi tidak dengaku. Itu sebabnya aku menyebutkan itu, sedangkan Ayase-san mengomentari seluruh perjalanan.

Bahkan tanpa berbohong, Kamu dapat menyembunyikan kebenaran dengan cara tertentu. Meski rasanya tidak nyaman menggunakan metode negosiasi semacam ini. Di sinilah hal-hal penting, jadi kita harus mengerahkan semua yang kita miliki.

“Saya memahami bahwa ini permintaan egois, tapi apa ada kemungkinan bahwa kami bisa berganti shift?” Aku membungkuk dalam-dalam, dan Ayase-san mengikuti gerakanku.

“Hmm, beri aku waktu sebentar.” ujar manajer toko, mengetik di komputernya.

Dia pasti sedang melihat jadwal shift sekarang.

“Kalian berdua, ya…?”

Saat Ia menggumamkan itu, aku melirik ke ekspresi Ayase-san yang penuh dengan kekhawatiran. Sekarang, bagaimana hasilnya? Jika Ia menolak permintaan kami, maka kami harus memikirkan sesuatu yang lain. Tentu saja, kami tidak bisa begitu saja tidak setuju atau bolos kerja, tapi aku juga tidak ingin memaksakan negosiasi dan merusak hubungan baik yang sudah terjalin.

“Tanggal 27 adalah hari Kamis, ‘kan?” tanya manajer toko. Ia lalu mengangkat telepon dan menelepon seseorang.

Pasti ada karyawan lain yang menjadi kandidat untuk menukar shift mereka dengan kami. Setelah bertukar beberapa kata, Ia menutup telepon. Kejadian tersebut terjadi dua kali.

“Seharusnya baik-baik saja. Kedua orang yang bekerja besok adalah veteran yang tidak keberatan dengan pergantian shift, jadi mengganti shift dengan kalian berdua harusnya tidak masalah. ”

“Benarkah!?”

“Ya.” Manajer toko melanjutkan sambil tersenyum. “Oleh karena itu, aku berharap kalian bekerja penuh semangat besok.”

Hal ini merupakan contoh sempurna dari permen dan cambuk*. Yah, mana mungkin anak SMA bisa menang melawan orang dewasa. Mungkin dia langsung mengetahui alasan kami. Namun, hal itu tidak masalah selama kami berdua bisa pergi ke kolam renang hari itu. Negosiasi ini sudah cukup sukses bagi kami. Untuk saat ini, kami berterima kasih kepada manajer toko. (TN : Perumpaan untuk menggambarkan hadiah dan hukuman)

“Ya, kami akan melakukan yang terbaik!”

“Y-Ya, kami akan melakukan terbaik!”

Kami berdua menundukkan kepala dalam-dalam dan melangkah keluar dari kantor. Setelah menutup pintu, Ayase-san menghela nafas.

“Syukurlah.”

“Senang karena semuanya berhasil, ‘kan?”

“Kurasa kejadian tadi merupakan momen yang paling menggugupkan sepanjang hidupku.”

“Aku benar-benar meragukan itu.”

Kami berganti seragam dan memulai pekerjaan kami. Hari ini, tugas kami hanya meletakkan buku-buku yang baru dikirim ke dalam rak buku. Sembari membawa troli, kami berjalan di sekitar deretan rak buku.

“Ayase-san, selanjutnya… Di sana. Ini buku teknis.”

“Dimengerti, Asamura-san.” balasnya, dia lalu mengambil beberapa buku dari kotak kardus di troli dan berjalan ke depan ke rak berikutnya, karena mendorong troli ke sana hanya akan membuang-buang waktu.

Dia meletakkan buku-buku itu ke dalam ruang kosong  rak buku dan aku menarik troli setelahnya beberapa saat kemudian. Setelah itu, aku membantunya.

“Menghemat waktu seperti ini sangat bagus.”

“Kamu bahkan lebih menakjubkan, Asamura-san. Mengetahui lokasi rak sangat membantu efisiensi kita secara keseluruhan.”

“Aku tidak ingat di mana semuanya atau semacamnya.”

Kebetulan buku yang baru tiba hari ini merupakan genre yang aku minati, itulah sebabnya aku tahu sekilas dari rak mana mereka berasal. Ini cuma kebetulan semata, tidak lebih. Pada akhirnya, isi kotak kardus akhirnya kosong 15 menit lebih cepat dari yang kami perkirakan.

“Baiklah, kalau begitu mari beristirahat.”

“Ya.”

Kami mengembalikan troli ke penyimpanan belakang dan kemudian menuju ke ruang istirahat bersama. Kami menuangkan teh dingin ke dalam dua gelas plastik dan duduk.

“Nee, Asamura-kun.” Ayase-san tiba-tiba membuka bibirnya.

Karena cuma ada kami berdua di ruang istirahat, dia kembali memanggilku dengan panggilan biasa. Setelah meneguk isi cangkirnya, dia berdiri untuk mengisi lagi. Dia menghela nafas, dan melanjutkan.

“Ini bukannya kamu tidak punya teman, tapi melainkan kamu tidak mencoba untuk berteman, ‘kan?”

“Aku tidak secara aktif menghindarinya atau semacamnya.”

“Tapi apa kamu menyadari hal itu? Iya, ‘kan?”

“Ya, aku cuma tidak terlalu peduli saja.”

“Jadi begitu ya.”

“Yah, kamu tidak salah. Bukannya aku putus asa mencari teman.”

Bukannya aku tidak menginginkannya, aku cuma tidak secara aktif mencarinya.

“Jujur saja, aku tidak pernah menyangka kalau kita bisa mengganti shift dengan begitu mudah… Tidak, bukan itu. Aku hanya takut bernegosiasi untuk itu. Karena aku tidak mau, aku secara tidak sadar membuat diriku berpikir bahwa itu mustahil.”

“Aku hanya terbiasa. Aku sudah berganti shift beberapa kali sebelumnya. ”

“Bukannya itu menunjukkan kalau kamu mempunyai lebih banyak pengalaman dalam komunikasi daripada diriku?”

Aku tidak pernah berpikir seperti itu.

“…Kurasa ada benarnya juga.”

“Saat kita memasuki toko buku hari ini, kamu langsung bertanya kepada senior di mana keberadaan manajer toko, dan bahkan saat sedang bernegosiasi dengannya, kamu selalu tegas dan percaya diri, serta mengatakan dengan tepat apa yang kamu inginkan dan butuhkan… Jadi kupikir kamu tidak terlihat seperti seseorang yang kurang dalam kemampuan berkomunikasi.”

“Kamu cuma melebih-lebihkanku.”

Aku bukannya terampil atau semacamnya. Kebetulan saja aku bekerja di sini cukup lama sehingga aku bisa berbicara dengan semua orang dengan cukup mudah.

“Saat ada yang mengharapkan ketulusan darimu, itu jauh lebih mudah. Itulah alasan kenapa kamu berpikir kalau itu semacam keterampilan komunikasi yang hebat. ”

“Aku tidak bisa melakukan itu.”

“Kamu bisa. Setelah terbiasa dengan pekerjaan semacam ini, kamu pasti bisa. Ditambah lagi, kamu sudah melakukan banyak hal. Dari sudut pandangku, jauh lebih sulit untuk dapat menikmati persahabatan di mana tidak ada aturan konkret dan bersama. Aku… aku tidak pandaii dalam hal itu sama sekali. Jadi bagiku, kamu jauh lebih terampil dalam berkomunikasi ketimbang diriku, Ayase-san. ”

“…Itu tidak benar…”

Tapi itu benar. Dia mungkin tidak mengatakannya dengan keras, tapi alasan dia menemukan tempatnya dengan mudah di keluarga karena dia menetapkan aturan denganku sejak awal. Sekarang dia akhirnya merasa termotivasi untuk pergi ke kolam renang, aku pasti tidak bisa mengatakan ini padanya, tapi akulah yang jauh lebih cemas sekarang. Lagipula, kita pergi ke kolam renang. Bersama-sama. Sejujurnya, aku mungkin bisa melakukan percakapan yang baik dengan Ayase-san, dan mungkin Narasaka-san, tapi aku tidak memiliki kepercayaan diri bahwa aku bisa bersenang-senang dengan teman sekelas kami yang lain. Meski hari dimana aku akan melakukannya semakin dekat.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama