Chapter 3
Keesokan paginya, badai telah
menghilang.
Aku tidak bisa tidur nyenyak
tadi malam karena terlalu gugup memikirkan Shirakawa-san yang ada di sampingku
serta tangan kami yang saling bergandengan.
Kami kemudian menyantap menu sarapan
ala Jepang yang disediakan staf penginapan di kamar kami, mengenakan pakaian
yang sudah dibiarkan mengering semalaman, lalu kemudian bersiap-siap untuk
pulang ke rumah.
Kereta api pada hari Minggu
pagi yang kami naiki sepi penumpang. Kami berdua membicarakan hal-hal sepele, lalu setelah satu
jam lebih kami berdua akhirnya tiba di Stasiun A.
“Kalau begitu, sampai jumpa
lagi lusa”
Besok adalah hari libur karena
ujian, dan Selasa adalah hari upacara penutupan akhir semester.
Di depan rumah Shirakawa-san,
kami bertukar salam perpisahan.
“Ya. Sampai jumpa lagi, Ryuuto
”
Shirakawa-san berkata begitu
dan melambaikan tangannya, namun tiba-tiba ekspresi wajahnya berubah menjadi
serius.
“… Di bulan kedua kita .. tolong
jaga aku juga, oke?”
“Ya. Aku juga oke”
Saat aku menjawabnya, wajahnya
kembali tersenyum. Usai merasa lega melihat ekspresinya kembali ceria, aku
melambaikan tanganku padanya.
Setelah melihat Shirakawa-san
memasuki rumahnya, aku kembali ke Stasiun A sendirian.
Di sekitar alun-alun stasiun,
pada hari Minggu siang, ada banyak orang yang berdiri di sana sembari melihat
ponsel mereka, sepertinya sedang berada di tengah-tengah pertemuan. Saat aku
berjalan di sekitar area tersebut, aku menemukan banyak orang membagikan brosur
dan tisu.
Hari ini juga, aku dapat menemukan
beberapa orang yang tampaknya sedang melakukan itu ke arah yang aku tuju.
“Izakaya 'Bacchus' membagikan kupon makan siang!”
Izakaya…. Pada
saat memikiran hal itu, dan secara refleks akan menerima kertas yang dibagikan
di depanku.
“Ooh!”
Gadis yang membagikan kertas
itu mengangkat suaranya, dan aku melihat wajahnya. Saat itulah mataku terbuka
lebar karena terkejut.
“Yamana-san !?”
Dia adalah sahabat
Shirakawa-san, Yamana Nikoru-san. Aku sedang berjalan-jalan di pusat kota
sambil mencoba untuk tidak melihat wajah orang, jadi aku sendiri tidak
menyadarinya.
Yamanasa-san mengenakan pakaian
biru tua yang terlihat seperti samue,
dan celemek tanpa penutup dada. (TN : Baju samue)
“.... Kerja sambilan?”
“Bukannya sudah kelihatan jelas”
Yamana-san membalas dengan
singkat, dan sekali lagi, memberikan kuponnya padaku.
“Habis nganterin Luna pulang?
Kebetulan banget. Kamu, coba mampir ke tempat kerjaku.”
“Eh?”
“Aku punya sesuatu yang ingin
kubicarakan tentang Luna. Luna mungkin akan khawatir jika kita bertemu berduaan,
jadi akan lebih baik jika kita menyelesaikannya saat aku sedang bekerja ”
“Ta-Tapi, bukannya kamu bekerja
di izakaya….?”
Bahkan kupon yang diberikan
kepadaku memberi kesan bahwa ini adalah warung izakaya, yang merekomendasikan minuman sepuasnya mulai siang hari.
“Kamu takut? Bukannya kamu
harus memesan alkohol juga kali. Bahkan tempat kami memiliki banyak pelanggan
yang membawa anak-anak mereka juga, tahu? ”
Benarkah?….
Jadi orang yang ceria bisa pesan makanan dan minuman di izakaya saat masih di
bawah umur ya. Aku baru saja makan di restoran keluarga atau warung donburi,
jadi rintangan ini masih terlalu tinggi bagiku.
“Sendirian?”
Pergi
ke izakaya sendirian, lalu apa yang harus aku lakukan. Maksudku, Yamana-san
sedang kerja sambilan, jadi sepertinya dia tidak akan menemaniku terus.
“Kalau tidak mau sendirian,
ajak teman-temanmu saja sekalian”
Yamana-san memberitahuku dengan
kesal.
“Atau kamu tidak punya teman?”
“Te-Tentu saja punya, oke”
“Kalau begitu datanglah bersama
mereka. Hari ini aku akan selalu bekerja sampai malam, oke”
Setelah berbicara dengan cepat,
Yamana-san mulai membagikan kupon lagi.
“Kami membagikan kupon makan
siang!”
“….”
Sepertinya
sudah diputuskan kalau aku harus datang hari ini.
Bagaimanapun, aku tidak ingin
pergi sendiri dan dianggap tidak punya teman, jadi aku mencoba menelepon Ichi
dalam perjalanan pulang.
“… .Halo, Ichi?”
“Ada
apa, Bung?”
“Apa kamu ada waktu luang hari
ini?”
“Aku
sama sekali tidak senggang, aku sedang bermain game dengan Nishi. … .Ah, yeah yeah,
ini dari Kashi”
Memang,
aku bisa mendengar BGM game dan suara seseorang dari sisi lain telepon.
“Eh, kenapa kamu tidak mengajakku
juga?”
“Maksudku
kamu .. kemarin kamu pergi ke laut bareng Shirakawa-san, kan? Persetan denganmu!
Mati di laut sana! Aku pikir kamu mungkin kelelahan, tau”
Aku
pikir mendengar isi hatinya di sana sejenak, aku penasaran apa tadi itu hanya
imajinasiku saja.
“…. Hei, apa kamu sudah makan?”
“Hah?
Jika itu makan siang, aku sudah. Dengan mangkuk daging sapi nasi keju ekstra
besar”
“Kalau begitu, mau makan malam
bareng? Tapi aku ingin kamu mengundang Nishi juga”
“Hah? Lagi kesurupan apa sampai ngajak makan bareng segala?”
“Oleh Yamana-san .. Aku
diundang untuk datang dan makan di izakaya tempat dia bekerja sambilan”
“Yamana…
maksudmu Yamana Nikoru dari kelas kita? Kamu, kamu berhubungan dengan gadis
iblis seperti dia !? ”
“Ini terkait dengan
Shirakawa-san… karena Yamana-san adalah .. sahabat Shirakawa-san”
Ketika aku menjelaskannya
secara singkat, aku bisa mendengar desahan berat dari seberang telepon.
“Kashi….
kamu benar-benar sudah berubah ”
“… .Jadi, kamu tidak datang?”
Aku
seharusnya tahu Ia tidak akan .. Saat aku sedang memikirkan
itu...
“Tentu
saja aku datang!”
Balasan tiba-tiba segera
kembali.
Saat aku mendengarkan dengan
cermat, aku juga bisa mendengar suara Nishi yang berkata, "Aku akan datang! Aku akan datang!" dari
kejauhan.
“Eh, kamu akan datang !?”
Menilai dari bagaimana
pembicaraan tadi, aku yakin kalau mereka akan menolak jadi sedikit terkejut
dengan tanggapannya.
“Mana
sudi aku akan membiarkan diriku ditinggalkan oleh Kashi lebih dari ini!
Kebanggaan orang suram mending mati saja! Musim panas di kelas 2 adalah
kesempatan terakhir untuk musim semi masa muda! Musim panas ini aku akan
menjadi normie juga! Makan malam di izakaya di mana teman sekelas kita bekerja
sambilan benar-benar menyenangkan, bukan! Bukankah begitu, Nishi !? ”
Dan aku bisa mendengar suara
yang mengatakan, "Benar! Betul
sekali!"
“Uh-uhuh….”
Baiklah,
aku senang mereka akan datang.
Jadi, aku, Ichi, dan Nishi akan
makan malam di izakaya tempat Yamana-san bekerja sambilan.
◇◇◇◇
Izakaya “Bacchus” terletak di
area distrik perbelanjaan yang tersebar di depan Stasiun A. Tempatnya berada di
lantai tiga gedung bertingkat yang penuh dengan restoran dari lantai pertama
sampai lantai lima.
“Selamat datang!”
Saat kami melewati pintu di
depan toko, kami segera disambut oleh suara karyawan yang bersemangat.
Meski sekarang masih jam 6
sore, namun bagian dalam warung sudah ramai dengan banyak pelanggan, mungkin
karena hari ini adalah hari Minggu.
“Maaf, aku teman dari pekerja
sambilan yang bernama Yamana-san….”
Ketika aku memberi tahu
karyawan pria yang keluar untuk membimbing kami, Ia menanggapi dengan kata
“Ah!” lalu menganggukkan kepalanya.
“Untuk tiga orang, ya. Silahkan
lewat sini”
Kami dibawa menuju tempat duduk
meja sunken-kotatsu tempat kami harus
melepas sepatu kami. Tempatnya bersebelahan dengan dinding dan ada sekat di
depan dan belakang. Bahkan ada pintu geser kertas di sisi lorong, yang mana membuatnya
hampir seperti kamar pribadi. Aku memberi tahu Yamana-san di LINE bahwa kami
berencana datang untuk berjaga-jaga, jadi dia mungkin telah memesan tempat
untuk kami.
“Tolong tunggu sebentar”
Karyawan itu pergi, dan kami
duduk dengan agak gugup. Kami duduk di bangku bergaya bangku untuk empat orang,
yang mana posisiku menghadap Ichi dan Nishi.
“Ngomong=ngomong, apa kamu
sudah menonton video KEN yang hari ini?”
“Ah, tidak, belum. Aku bahkan
belum bisa menonton video kemarin, jadi aku menonton itu dulu.”
“Cih, dasar riajuu selalu saja
begitu”
“Apa Shirakawa-san .. memakai
bikini?”
“Eh? Ya….”
“Cih !!!”
“Persetan! Mokad saja sana!
Enak ya bisa bersenang-senang dengan pacar cantik!! ”
“Suara batinmu keceplosan, oi!”
“Lupakan itu, cepak tunjukkan
saja fotonya padaku!”
“Apa menurutmu aku akan
menunjukkannya padamu, huh !?”
Saat kami berdebat seperti itu….
“Selamat datang”
Aku mendengar suara karyawan
wanita yang terampil, dan dua mug ditempatkan di hadapanku.
Saat aku melihat ke arah wajah
pelayan, ternyata itu adalah Yamana-san.
“Eh, kami belum memesan apa
pun….”
Saat Nishi berbicara dengan
bingung, Yamana-san mengedipkan matanya dengan centil.
“Ini layanan gratis ♡ Terima kasih sudah datang, oke”
Pada saat itu juga, aku
menyaksikan mata Nishi dan Ichi berubah menjadi tanda hati.
“Ini Ca●pis Soda. Aku
membuatnya sangat kental ♡ Dan kamu
takkan menemukan minuman semacam ini di rumah, tau”
“Umm, bagaimana dengan
milikku…?”
“Ah, kamu bisa memesan sendiri.
Jika kamu memesan di panel sentuh di sana, pesanan akan dikirim langsung ke
dapur.”
Tidak
ada layanan untukku, huh! Sebaliknya, bukannya ada perbedaan besar dalam
kepribadianmu terhadap keduanya !?
“Sungguh tidak masuk akal….”
Tanyaku.
Saat memesan cola sendiri
menggunakan panel sentuh, Ichi dan Nishi dengan riang menyesap Ca●pis Soda di
mug mereka.
“Iblis gyaru benar-benar yang
terbaik!”
“Ini era gadis iblis!”
“Dari luar dia terlihat
menakutkan tapi di dalamnya begitu baik .. Bukannya menurutmu perbedaannya
begitu menggemaskan!?”
“Ada begitu banyak hal yang
tidak bisa kamu lakukan selain jatuh cinta!”
“All hail Yamana! All hail
Yamana! "
Mereka berdua langsung memuji dan
menyanjung Yamana-san dengan semangat tinggi sambil menenggak minuman di mug
mereka.
“Yeahhhhhh !! Rasanya sangat
enak !! ”
“Aku belum pernah meminum
minuman seenak ini sebelumnya!”
“Eh, bagaimana rasanya? Apa itu
benar-benar enak? Aku juga mau coba sedikit dong…. ”
Saat aku mengulurkan tangan
untuk menyesap, Ichi dan Nishi secara bersamaan menjauhkan mug mereka dari
jangkauan tanganku.
“Nggak! Ini minuman Ca●pis yang
diberikan gadis iblis hanya kepada kita ”
“Gadis iblis adalah sekutu
non-normie! Ini BUKAN untukmu !! ”
Mungkin menjadi sangat bahagia
karena mereka disukai, keduanya melanjutkan untuk menenggak minuman mereka
dalam satu tegukan.
“Yah, kurasa tidak apa-apa. Aku
akan memesan makanan.”
Sambil merasa sedikit kesal, aku
melihat menu di panel sentuh dan memilih hidangan yang tampak lezat.
“… Cukup segini aja dulu,
kurasa? Hei, lihat ini se…. bentarrr!!?”
Saat itulah, ketika aku melihat
mereka untuk meminta mereka mengonfirmasi pesanan yang telah aku pilih.
“Aa-Ada apa !?”
“..Whuuh?”
“Sekarang apa, Kashiiii ~”
Tanpa ragu, kondisi Ichi dan
Nishi memang aneh. Wajah mereka merah padam, tatapan mereka kosong, dan ucapan
mereka ngelantur.
“… Aah!”
Lalu aku menyadari sesuatu dan
meraih mug Nishi di depanku.
Saat aku mencicipinya, aku
terkejut.
“Urgh…. Apa-apaan ini!?"
Rasanya
memang seperti Cal●. Dia membuatnya sangat pekat, dan aku bisa merasakan rasa
manisnya yang lengket, tapi…. Aku juga bisa merasakan bau etanol yang begitu
kuat, sehingga air berkarbonasi yang samar tidak dapat sepenuhnya
menyamarkannya.
Ethanol….
Begitu rupanya, ini….!
“Apa kalian berdua baik-baik
saja? Apa kamu merasa mual?”
“Hah? Aku malah merasaaaaa
lebih baik, tauuu…. ”
“Aku tahu, benar ~. Iblis gyaru
emang terbaik ~…. ”
Ichi dan Nishi duduk di atas
meja setelah itu, dan kemudian…. tertidur.
“Zzzz….”
“Fuuu….”
Seriusan
nih?
Sebaliknya,
mereka benar-benar bisa minum sesuatu seperti itu dengan sangat baik, dan mug
mereka hampir kosong. Mereka pasti merasa berada di khayangan.
Tapi,
kenapa minuman seperti ini ada di mug mereka…. Dan
saat aku memikirkan itu.
“Ah, mereka sudah tidur”
Aku menemukan Yamana-san
berdiri di sebelahku.
“Ini, cola pesananmu.”
Kemudian segelas cola
ditempatkan di depanku.
“Dan ini adalah layanan kentang
goreng, oke”
Dia meletakkan keranjang dengan
tumpukan kentang goreng, duduk di samping, lalu menutup pintu geser kertas.
“Itu karena Senpai-ku
memberitahu kalau aku bisa istirahat ketika aku mau”
Dia membuatku tegang. Dan aku
duduk dekat dinding, menjaga jarak.
“Err, apa artinya ini….”
“Maksudku, mereka itu merepotkan,
bukan? Dan aku ingin membicarakan Luna hanya dengan kita berdua "
“Eh? Ja-Jangan bilang kalau
kamu sampai tega berbuat itu karena alasan ini…. ”
“Bukankah itu baik-baik saja.
Dan bukannya mereka berdua tidur dengan nyaman? Ya, kita semua pernah membuat
kesalahan.”
“Ke-Kesalahan….?”
Apa
dia ingin memberitahuku .. kalau minuman itu salah dibuat dan ada sesuatu yang
ekstra tercampur di mug mereka….?
Tidak,
mana mungkin…. begitu, atau tidak, tapi aku pasti yakin itu yang terjadi dari
tingkahnya sekarang.
“Ta-Tapi, meski itu kesalahan,
bukannya akan menimbulkan masalah besar bagi Yamana-san jika manajemen toko
mengetahui kalau kamu membiarkan anak SMA minum sesuatu seperti itu…”
“Kamu mungkin benar. Tapi
jangan khawatir, aku tahu rahasia manajer”
Saat dia bilang begitu,
Yamana-san membuat isyarat dimana dia mengepalkannya, dan hanya mengangkat jari
kelingkingnya. Di masa lalu, aku melihat paman seorang kerabat melakukan
gerakan itu saat merujuk pada "wanita".
Manajer,
apa kamu berselingkuh….? Dan mungkin, apa kamu akan menggunakannya sebagai
bahan pemerasan?
“Ka-Kamu luar biasa sekali,
Yamana-san….”
“Kamu pikir begitu? Meski
begitu, yang ini jauh lebih jinak daripada yang pernah kulakukan, loh. Di
lingkungan sini, bahkan biji para berandalan akan menyusut jika mereka
mendengar 'Nikoru dari utara', tahu ”
Ap-Apa
yang sudah kamu lakukan selama ini, Yamana-san!?
“Ja…. Jadi, apa yang ingin kamu
bicarakan denganku?”
Aku sedikit merasa takut dan
ingin langsung ke intinya. Dan saat aku bertanya padanya, tatapan mata
Yamana-san berubah serius.
“Sudah sebulan kamu berpacaran
dengn Luna, jadi bagaimana rasanya?”
“Eh…”
Saat aku kebingungan mengenai
maksud dibalik perkataannya, dia meletakkan satu siku di atas meja dan
meletakkan dagunya di atasnya.
“Luna .. kebalikan dari
penampilannya, dia itu baperan, ‘kan.”
Saat dia mengatakan itu, mata
Yamana-san terlihat seperti sedang menatap ke kejauhan.
“….Pertama kali aku berbicara dengan
Luna, kalau tidak salah….. pada hari upacara penerimaan. Aku berdiri melamun
dalam barisan pada upacara itu, dan dia memanggilku dari arah yang berlawanan. 'Kukumu sangat imut', katanya”
Aku
tahu mereka dekat sejak kelas 1, tapi awalnya seperti itu, ya.
“Keesokan harinya, Luna
mendatangiku, dan menunjukkan anting-anting barunya. Dia kemudian berkata 'Aku pikir ini akan terlihat bagus untukmu,
jadi aku membeli yang sepasang'. Dia memberikannya kepadaku, lalu berkata 'Maukah kamu menjadi sahabatku?'”
Mungkin mengingat hari-hari
itu, Yamana-san tiba-tiba tersenyum dan menatapku.
“‘Apa-apaan..’, kamu
akan merasa begitu, ‘kan? Bukannya menurutmu itu terlalu baperan? Biasanya kamu
akan mundur dari itu.”
Aku ingat saat Shirakawa-san memberiku
casing ponsel yang sepasang untuk merayakan satu minggu hari jadian kami, dan
merasa kalau tingkah laku tersebut sangat menggambarkan Shirakawa-san.
“Tapi, Luna sangat imut, kan?
Dia juga perinag. Itu sebabnya aku .. berpikir sendiri. Aku senang, dan
berpikir bahwa aku juga ingin menjadi sahabat dengan gadis ini.”
Sembari tersenyum malu-malu,
Yamana-san berhenti mengistirahatkan dagunya di tangannya.
“Banyak orang bilang kalau 'baperan' yang seperti itu merupakan hal
yang buruk, ‘kan. Kamu meninggalkan beban emosionalmu pada seseorang, dan
mereka juga akan meninggalkan beban yang sama padamu…. Dan jika berat timbangan
benar-benar seimbang, tak satu pun dari kamu akan merasa 'baperan'. Itu semua
tentang memiliki hubungan yang baik, bukan? Dan begitulah 'saling mengandalkan' dan 'saling
mencintai'. Apa kamu mengerti?"
“Y-ya…”
Sangat
mengejutkan sekali. Aku tidak pernah berpikir kalau Yamana-san menjadi tipe
orang yang membicarakan hal seperti itu.
“Itu hal yang keren untuk
dikatakan, bukan ….”
“Bahkan 'Nikoru dari utara' bisa puitis, tahu”
Sambil menyeringai, ekspresi
Yamana-san berubah serius lagi.
“Tapi asal kamu tahu, tidak peduli seberapa
besar rasa saling mencintai di antara kita, dia menyukai cowok, dan begitu juga
aku. Itu sebabnya, Luna dan aku tidak bisa lebih dari 'sahabat'. Rasanya sangat menjengkelkan… dan itulah mengapa aku
berharap dia akan segera menemukannya. Satu-satunya cowok yang bisa dengan
tulus dia percayai dan membuatnya nyaman… satu-satunya cowok yang selalu bisa
bersamanya. 'Pacar' yang diinginkan Runa adalah.. bukan cowok yang bisa dia
banggakan ke teman-temannya, melainkan cowok yang….saling terhubung dengan
hatinya.”
Dan sebelum aku menyadarinya,
aku memiliki perasaan kagum padanya dan dengan tulus mendengarkan kata-kata
Yamana-san.
“Kenapa dia menginginkan
pasangan seperti itu mungkin, karena keadaan keluarganya”
Setelah menggumamkan kata-kata
itu, Yamana-san mengangkat alisnya.
“Namun, cowok yang dia pacari
sampai sekarang kebanyakan cowok keparat, yang hanya ceria dan terlihat baik di
luar. Setiap pagi dan malam, Luna selalu mengirimkan LINE tanpa henti, kan?”
“Ya”
“Kamu tidak terlalu membencinya,
kan?”
“Ya. Fakta bahwa dia
memikirkanku, itu sudah membuatku bahagia”
Mendengar jawabanku, Yamana-san
menganggukkan kepalanya, tampak puas.
“Itulah gunanya berpacaran
dengan seseorang, kan?”
Begitu
rupanya. Karena aku cuma memiliki pengalaman menjalin hubungan selama sebulan
jadi aku tidak tahu, tapi jika Yamana-san mengatakan demikian, mungkin memang seperti
itu.
“Tapi, karena mantan pacarnya
semuanya orang brengsek, tentu ada malam dan pagi ketika dia tidak bisa
menghubungi mereka. Dan setiap kali dia mengungkapkan kekhawatirannya tentang
hal itu, mereka akan memberitahunya 'menyebalkan'
atau 'mengganggu', kamu tahu. Aku
sangaaaaaat berharap kalau mereka mending mati saja ”
Yamana-san berkata seolah
meludahkan dan dengan momentum itu, dia meraih segunung kentang di atas meja
dan membawanya ke mulutnya. Bukannya Kamu
kamu bilang kalau makanan itu untukku.
“Tapi, Luna juga tidak
menjelek-jelekkan mantan pacarnya, ‘kan. Bukan hanya mantan pacarnya, aku juga
tidak pernah mendengar dia berbicara buruk tentang siapa pun ”
“Ya…”
Aku menjadi lapar, jadi aku
juga mulai makan kentang yang disediakan.
“Dan Luna menyukai orang. Dia berpikir kalau
setiap orang adalah orang baik, dan tidak ada manusia yang jahat hatinya. Itu
sebabnya, tentang mantan pacarnya juga, dia langsung mempercayai ketika mereka
mengatakan 'Aku menyukaimu' di
permukaan. Dia kemudian berkencan dengan mereka, dikhianati, dan terluka ”
Dan kemudian Yamana-san menghentikan
tangannya yang meraih kentang.
“Luna mempunyai trauma yang
disebut 'batas dua bulan'"
“Batas …..Dua bulan?”
“Sejumlah pacar yang dia pacari
sampai sekarang ketahuan selingkuh sebelum dua bulan berlalu. Bahkan jika itu
tidak terjadi, mereka secara bertahap mengacuhkannya kemudian putus setelah
tiga bulan”
Begitu…
Itulah sebabnya disebut “batas dua bulan”, ya.
“Bahkan jika dia percaya
padamu, kupikir Luna merasa khawatir sekarang. Sampai dua bulan berlalu dengan
aman.”
Kemudian, Yamana-san menatapku.
“Bisakah kamu berjanji padaku
bahwa kamu benar-benar takkan melakukan apa pun yang akan membuat Luna
khawatir?”
Aku dihadapi oleh tatapan tajam
itu… dan aku mengangguk dalam-dalam, meskipun, belum tentu karena itu.
“Aku berjanji. Aku tidak akan
melakukan apapun yang akan membuat Shirakawa-san khawatir”
Bagiku, yang berjanji padanya
dan dengan tegas balas menatapnya, Yamana-san menatapku tanpa bergerak sejenak.
“…Begitu. Aku merasa lega”
Lalu dia tersenyum lebar. Aku
melihat senyum riang Yamana-san, dan merasa bahwa ini adalah pertama kalinya aku
melihat wajah tersenyum orang ini.
Jadi, “pembicaraan”-ku dengan Yamana-san sudah berakhir.
“Tentang mereka, apa yang akan
kita lakukan?”
Yamana-san turun dari tempat
duduknya, lalu menunjuk Ichi dan Nishi di depannya, yang dengan tenang
menjatuhkan diri di atas meja.
“Bahkan jika kamu menanyakan
itu padaku ...”
Aku
ingin bertanya padanya. Ini ulah kamu sendiri yang membuat mereka mabuk begini,
jadi bertanggung jawablah… Tapi karena aku takut, jadi aku tidak mengatakannya…
“Yah, kelihatannya, mereka
mungkin tidak akan bangun sampai besok, kan”
“Itu sih bakal masalah!”
“Yah, menjadi seperti ini juga
karena ‘Aku membuat kesalahan saat
membuat minuman’, jadi aku akan mencari tahu nanti. Jika kita membiarkan
mereka tidur selama dua atau tiga jam, mereka mungkin akan bangun sendiri lalu
pulang”
“Kamu yakin …? Kalau begitu,
aku akan menyerahkannya padamu”
Makan sendirian di depan
teman-teman mabukku sama sekali tidak menyenangkan, jadi aku memutuskan untuk
menyerahkan mereka berdua pada Yamana-san dan kemudian meninggalkan izakaya.
Akhirnya, aku Cuma menyantap kentang dan cola.
Aku
khawatir tentang mereka, tetapi keduanya tidak sendirian, tapi bersama. Mereka
juga hanya tidur dan Yamana-san adalah teman sekelas kita, jadi dia mungkin
akan menjaga mereka jika ada apa-apa.
Saat itulah, saat aku menuruni
tangga dan menuju ke bawah sambil berpikir seperti itu.
“… !?”
Kakiku goyah, dan aku segera
meraih pegangannya.
Bidang penglihatanku lebih sempit
dari biasanya, dan aku merasa dunia tiba-tiba menjadi jauh.
Ada perasaan sekilas di dadaku.
Aku tidak terlalu memahaminya, tapi ini perasaan bahagia.
…
Mungkin… itu karena aku meminum mug Nishi, tapi aku cuma mencicipinya sedikit?
“…Sial”
Sebaliknya,
seberapa konyolnya "Aku membuat kesalahan", Yamana-san…
Jika
ini karena hanya seteguk, aku tidak bisa dengan pasti mengatakan bahwa Ichi dan
Nishi sangat lemah dengan alkohol. Namun, ada kemungkinan aku sangat lemah…
Baiklah,
aku akan pulang, mandi, lalu tidur. Dan selama orang tuaku tidak mengetahuinya,
kurasa itu tidak akan menjadi masalah… Saat aku sedang berpikir
begitu, ponsel di kantongku bergetar. Aku mengelurkan dari kantongku dan
melihat ke layar bahwa itu panggilan LINE dari Kurose-san.
“Kenapa dia meneleponku…?”
Aku
ingin tahu apa itu karena balasanku tertunda. Tapi, apa yang harus aku balas
padanya… Meski hal itu terlintas dalam pikiranku, aku merasa lebih
kesal dari biasanya, jadi aku menekan tombol terima panggilan tanpa banyak
berpikir.
“Ya, halo”
“Ah,
halo, Ryuuto !?”
Ketika aku mendengar suara itu,
aku mengambil ponsel dari telingaku, dan melihat ke layar lagi.
“Shirakawa-san !?”
“Ahaha,
kamu terkejut? Aku sedang di rumah ibu sekarang, tetapi baterai ponselku habis.
Jadi aku meminjam telepon Maria.”
(Dia
pasti Shirakawa-san. Tapi aku tidak pernah mendengar dia punya rencana seperti
itu hari ini.)
“Ah… Setelah kamu
menyebutkannya, kemarin kita telah menghabiskan
power-bank punyamu, bukan. Aku juga minta maaf karena telah meminjamnya. Kamu
tidak punya waktu untuk mengisi daya?”
“Nn?
Ah, ya ya. Yah, itu baik-baik saja. Maksudku, dengan cara ini aku juga bisa
menghubungi Kamu "
“Apa kamu .. berbicara dengan
Kurose-san?”
“Ya. Sekarang sudah tidak
apa-apa, terima kasih.”
Dia
pergi ke rumahnya dan meminjam teleponnya, bukan. Aku kira mereka sekarang
menuju ke arah untuk kembali ke keadaan semula.
“Dan Ryuuto…”
Lalu aku bisa merasakan suara
Shirakawa-san menjadi sedikit gugup.
“Aku ingin berbicara dengan
Ryuuto sebentar. Aku ingin… bertemu denganmu berduaan.”
“Berbicara?”
Aku
penasaran mengenai apa lagi yang ingin dia bicarakan… Dan
kemudian aku teringat apa yang Yamana-san katakan padaku sebelumnya.
── Bahkan
jika dia percaya padamu, kupikir Luna merasa khawatir sekarang. Sampai dua
bulan berlalu dengan aman
(Kalau
dipikir-pikir lagi, bahkan saat kita berada di Enoshima, Shirakawa-san juga
sedikit berbeda dari biasanya.)
──Untuk perayaan dua bulan
kita, kita juga bisa bersama seperti ini, bukan?
(Aku
heran kenapa dia mengatakan hal seperti itu. Apa dia mungkin .. ingin
membicarakan hal itu?)
“…Baiklah, aku mengerti.
Shirakawa-san, apa kamu sudah pulang? Aku sedang di stasiun A sekarang, jadi
apa perlu aku pergi ke rumahmu?”
“Eh? Tidak… Umm, aku .. belum
siap pulang. Jadi, aku ingin kita bertemu di sekolah ”
“Sekolah?”
“Itu karena aku ingin bertemu
denganmu berduaan ...”
“Tapi di sekolah… Pertama-tama,
memangnya kita diperbolehkan masuk pada hari Minggu di jam segini? Lagian aku sedang
memakai baju santaiku…? ”
Aku melihat ponselku sebelum
meninggalkan izakaya dan sekarang sudah lewat jam 7 malam. Area sekitar juga
menjadi gelap, dan periode saat seorang siswa SMA harus mengkhawatirkan
perhatian orang lain.
“Tidak apa-apa, aku akan
memikirkan sesuatu ……. Apa kamu tidak mau? ”
Tanpa kusadari, suara Shirakawa-san
menjadi lemah dan lirih seperti seakan-akan dia berubah jadi orang lain. Itu
membuatku khawatir, dan membuatku merasa harus bertemu dengannya secepat
mungkin.
“Baiklah, aku mengerti. Kalau
begitu aku akan pergi ke sekolah sekarang.”
“Baik. Jika ada sesuatu,
hubungi telepon ini… hubungi LINE Maria, oke ”
“Aku mengerti”
Nn
?,
Aku merasakan perasaan tidak nyaman di sana sejenak, tapi kepalaku masih
sedikit linglung, jadi aku menutup telepon tanpa berpikir dalam-dalam.
“… Aku ingin tahu apa yang sedang
terjadi, Shirakawa-san”
Entah
bagaimana, aku merasa tidak nyaman.
──Apa kamu bisa berjanji kepadaku
kalau kamu takkan melakukan apapun yang akan membuat Luna khawatir?
──Aku janji. Aku takkan melakukan
apapun yang akan membuat Shirakawa-san khawatir
Sambil mengingat percakapan
dengan Yamana-san, aku berjalan melalui keramaian orang di depan stasiun, dan
menuju ke gerbang tiket dengan cepat.
◇◇◇◇
Sesampainya di sekolah, kunci
pintu samping dibuka. Ada cahaya yang menyala
dari ruang guru di dalam gedung sekolah, jadi aku pensaran apa itu karena ada
guru, atau Shirakawa-san datang lebih awal dan entah bagaimana membukanya,
seperti bagaimana dia berkata "Aku akan memikirkan sesuatu".
________________________________________
Ryuuto : Aku sudah sampai di
sekolah
________________________________________
________________________________________
Maria : Datanglah ke ruang
penyimpanan gedung olahraga
________________________________________
“Ruang penyimpanan gedung
olahraga?”
Aku
pikir itu adalah ruangan tempat menyimpan tikar dan peralatan olahraga. Tapi,
mengapa di tempat seperti itu ... Meski hal itu terlintas
dalam benakku, setelah sampai sejauh ini, aku tidak punya pilihan selain pergi,
dan menuruti apa yang dia katakan.
Suasana gelap menyelimuti dalam
gedung olahraga, tapi pintunya terbuka dan pintu geser berat ruang penyimpanan
juga terbuka dengan mudah.
“… Shirakawa-san?”
Cuma ada satu jendela di dalam
ruang penyimpanan, namun tampaknya jauh dari cahaya luar, jadi hanya ada
sedikit cahaya yang masuk. Saat aku melihat sekeliling di dalam ruang
penyimpanan yang gelap dengan mata tidak terbiasa dengan kegelapan, Aku melihat
seseorang sedang duduk.
“Ryuuto”
Aku mendengar suara
Shirakawa-san.
“Ryuuto, kemarilah”
Aku mendekati kea rah suara
itu, menuruti seperti yang diperintahkan.
“Apa yang ingin kamu bicarakan,
di tempat yang ...”
Pada saat aku mencoba untuk
bertanya, Shirakawa-san melompat dengan kuat ke dadaku.
“… Shi-Shirakawa-san?”
“Nee, Ryuuto”
Shirakawa-san melingkarkan
tangannya di leherku dan berbisik ke telingaku.
“Aku .. ingin berhubungan seks
dengan Ryuuto …….”
“Eh !?”
Dia
bilang apa tadi!?
──Aku akan lebih menyukai
Ryuuto mulai sekarang dan aku ingin lebih dan lebih lagi menyentuh Ryuuto,
itulah yang kurasakan…. Jika aku berhubungan seks ketika aku benar-benar
menginginkannya, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku penasaran pakaha
rasanya benar-benar akan membuat tubuh dan pikiranku merasa nyaman.
Meskipun
tadi malam dia mengatakan itu padaku, tapi, apakah dia memberitahuku bahwa
perasaannya berubah dalam sehari?
Jika
memang begitu, maka ... tapi tunggu, di tempat seperti ini !?
Meski pemikiran semacam itu
terlintas di benak ku, tapi tubuhku sudah bereaksi duluan. Fakta bahwa aku
menahan perasaan terangsang dari tadi malam juga tidak membantu, dan justru
menyulut nafsuku.
Aku merasa baik dan kepalaku
jernih, jadi meskipun aku merasakan semacam ketidaknyamanan, aku memeluk tubuh
ramping Shirakawa-san.
“… Shirakawa-san, apa kamu
yakin?”
Saat aku membenamkan hidungku di
lehernya, aku bisa mencium aroma seperti vanila yang manis dan feminin.
“…Iya”
Desahan bercampur dengan nafas
panjang yang penuh gairah bertiup ke telingaku.
“… Shirakawa-san”
Aku memeluk tubuhnya lagi,
dengan kuat melacaknya seolah-olah untuk memeriksa lekuk tubuhnya. Rambut
ikalnya yang berwarna terang menggelitik hidungku seolah-olah membujukku.
“Ahn….”
Seakan tidak bisa menahannya lagi,
Shirakawa-san mendesah erotis. Suaranya sangat cabul dan menggairahkan sehingga
membuatku merinding.
Ini pengalaman pertamaku, jadi
jika aku benar-benar mengambil langkah untuk melakukan sesuatu seperti ini, aku
tahu kalau wajahku merah padam sekarang. Ditambah, otakku dalam keadaan kabur,
pusing, dan itu merampas kesadaranku tentang detail yang mencurigakan, jadi aku
bisa bertindak berdasarkan naluri.
Aku mengulurkan tanganku ke
bagian bawah blus seragamnya dan mengusapkan jari-jariku ke kulitnya yang
sedikit berkeringat dan halus.
“Ahn…!”
Shirakawa-san membungkukkan
badannya ke belakang, dan reaksinya membuatnya melekat erat padaku. Melihat
reaksinya yang menggemaskan, aku memeluknya lebih erat dan mencoba
merasakannya.
“…?”
Dan kemudian, aku tiba-tiba
merasakan ketidaknyamanan yang kuat.
──Bisakah kamu, peluk aku?
Bahkan sampai sekarang, seluruh
tubuhku masih teringat dengan jelas sensasi saat aku memeluk Shirakawa-san tadi
malam. Dan sensasi elastisitas tonjolan besar dan lembut yang aku rasakan saat
itu, aku tidak dapat merasakannya sekeras apapun aku memeluknya.
…
Apa payudara Shirakawa-san .. selalu sekecil ini?
Pada saat yang sama, banyak
keraguan muncul dalam diriku.
Apa
Shirakawa-san, selalu sekecil ini? Dia memang kecil dan langsing, tapi
sekarang, aku merasa gadis di pelukanku berukuran lebih kecil dari yang
kuingat.
Terlebih
lagi, aroma badannya tidak seperti Shirakawa-san yang biasa.
Perasaan kecil ketidaknyamanan
yang telah menumpuk sejak beberapa waktu lalu, akhirnya berubah menjadi sesuatu
yang tidak bisa aku abaikan.
Dan kemudian, sifat sebenarnya
dari perasaan tidak nyaman yang aku rasakan pada awalnya, sedikit demi sedikit,
mulai mengambil bentuknya yang berbeda dalam pikiranku yang kabur.
Shirakawa-san
pergi dan mengunjungi rumah Kurose-san, tapi mengapa dia meminjam ponsel
Kurose-san saat baterainya habis? Jika dia ada di dalam rumah, bukannya lebih
cepat meminjam charger-nya? Selain itu, pergi keluar sendirian sambil membawa
ponsel Kurose-san… memangnya pemiliknya akan mengizinkan hal seperti itu?
Saat aku memikirkan semua itu,
payudara Shirakawa-san, yang berada dalam remasanku, bergetar secara tidak
wajar.
Saat aku memisahkan tubuh kami,
dengan "Ah", Shirakawa-san menarik ponselnya dari saku dadanya seolah-olah
sedang terburu-buru. “Saitou-kun” ditampilkan di layar. Dengan tangan yang
meraba-raba, dia mengetuk tombol terima panggilan.
“Kurose-san? Aku telah mengunci
ruang penyimpanan seperti yang Kamu katakan! Kurose-sa… ”
Suara yang keluar dari ujung telepon
terputus di sana. Sepertinya dia terlalu
terburu-buru sehingga tidak bisa mengetuk tombol akhiri panggilan dengan
akurat.
Kupikir suara yang barusan
kudengar adalah suara Saitou dari kelas kami, tak perlu diragukan agi. Dia
adalah cowok yang sebelumnya membawa file kertas untuk Kurose-san sampai ruang
guru ketika aku dan Kurose-san sedang bertugas piket.
Shirakawa-san sedang memegang
ponsel Kurose-san, jadi tidak terlalu aneh jika ada panggilan yang ditujukan ke
Kurose-san.
Namun… aku melihatnya.
Wajah yang diterangi oleh
cahaya yang datang dari layar sedikit berbeda dari wajah Shirakawa-san yang
kukenal.
“Kurose-, san… !?”
Aku sangat terkejut suaraku menjadi
serak.
Apa
artinya ini?
Kurose-san sepertinya memakai
riasan yang berbeda dari biasanya. Dan dia, memang, terlihat sedikit mirip
Shirakawa-san. Rambut panjang bergelombang berwarna terangnya sangat mirip
dengannya.
“Kenapa Kurose-san…?”
Kepalaku sangat panik dengan
apa yang sedang terjadi.
Di depanku, Kurose-san membeku
sesaat ketika dia melihat kondisiku.
“Di mana Shirakawa-san?”
Ketika aku bertanya padanya,
dia menghela nafas kecil dan melepas wig di kepalanya. Dia kemudian melepaskan
rambutnya yang diikat dan rambut hitam Kurose-san yang biasa tergerai indah.
“Wntah, aku tidak tahu di mana
Luna berada. Bukannya dia ada di rumah dan sedang makan malam yang dibuat nenek
bila di jam segini? ”
“…..”
Dengan
kata lain, Shirakawa-san sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini, huh.
Memahami kalau Kurose-san tidak melakukan apa pun padaku, aku merasa sedikit
lega.
“Bagaimana kamu….”
Melihat wajah tercengangku,
Kurose-san tersenyum ramah. Mataku sudah terbiasa dengan kegelapan di dalam
ruang penyimpanan, dan sekarang aku bisa melihat sedikit detail.
“Luna dan aku sama sekali tidak
mirip dari luar, tapi suara kita sama persis. Sejak kita masih kecil, bahkan
orang tua kita juga salah mengira saat bertelepon. … Hei, Ryuuto! ”
Untuk sesaat, aku merasa
seperti benar-benar dipanggil oleh suara Shirakawa-san. Meski aku tahu asal
muasal suara itu, aku akhirnya melihat ke belakang.
Kenapa
aku tidak segera menyadarinya. Tidak, ini bukan hanya aku, bahkan tidak ada
seorang pun di kelas yang menyebutkannya sebelumnya. Mungkin, itu karena nada
dan susunan kata yang dia gunakan saat berbicara berbeda, kurasa.
Aku
tidak tahu, jadi aku akhirnya datang jauh-jauh ke sini berpikir bahwa itu
adalah panggilan dari Shirakawa-san, tanpa meragukannya.
“… Kenapa kamu melakukan hal seperti
ini?”
“Aku sudah bilang padamu. ‘Aku .. ingin berhubungan seks dengan Ryuuto’
…… .. ”
Kurose-san tersenyum saat meniru
suara Shirakawa-san lagi,
Aku ingat apa yang terjadi
sebelumnya, dan tubuhku gemetar.
Begitu
ya, aku… melakukan hal seperti itu dengan Kurose-san….
Jantung berdebar dan keringat
dingin ini, bahkan aku sendiri tidak yakin emosi apa yang sedang kurasakan ini.
Tapi bagaimanapun juga,
setidaknya aku tahu akan buruk jika aku tetap di sini.
“... Ka-kalau begitu, aku akan
pergi sekarang”
Aku berbalik dan kembali menuju
ke pintu masuk, tapi pintu geser tersebt tidak bergeming.
“Aku mengunci pintu dari luar.
Kamu sudah mendengarnya, ‘kan? ”
“… ..”
Ulah
Saitou, ya.
“Mengapa…”
Karena taka da yang bisa
kulakukan, aku menyandarkan punggungku di pintu dan duduk.
“Saitou-kun berada di klub
judo, jadi dia sering menggunakan kunci gudang. Aku memanfaatkannya, dan
memintanya untuk melakukannya malam ini”
Aku
mengerti kalau Saitou dengan gampang menuruti apa yang Kurose-san katakan
karena motif tersembunyi. Kurose-san adalah gadis cantik idola kelas jadi itu
bukan hal yang mustahil.
Tapi…
“… Aku akan keluar melalui
jendela itu. Atau menelepon ruang guru karena sepertinya gurunya masih di sana…
”
“Apa kamu yakin? Bahkan jika Luna
mengetahuinya? "
“Eh?”
“Aku akan memberi tahu Runa.
Apa yang dilakukan Kashima-kun sebelumnya ”
“Itu…!”
Saat aku mencoba membuat
bantahan, Kurose-san berlutut di hadapanku, dan memelukku.
“…!”
“Tapi….”
Kurose-san berbisik ke telingaku
saat aku masih terkejut.
“Jika kita terus melakukannya
sampai akhir, aku janji takkan memberi tahu siapa-siapa”
Apa
yang dia katakan barusan…?
Pada saat itu, aku jadi
teringat perkataan Yamana-san.
──Apa kamu bisa berjanji padaku
kalau kamu takkan melakukan apapun yang akan membuat Luna khawatir?
Tadi,
aku memeluk Kurose-san dan sempat meraba-rabanya karena kupikir dia itu
Shirakawa-san.
Tapi,
ternyata dia sebenarnya Kurose-san…… Dan tak peduli seberapa banyak alasan yang
kuucapkan, seperti bagaimana suaranya terdengar sangat mirip seperti Shirakawa-san
atau kepalaku sedang pusing, ini sudah menjadi kebenaran tak terbantahkan kalau
aku di sini, berduaan dengan Kurose- san dan kami berpelukan.
Jika
Shirakawa-san mengetahui apa yang terjadi di sini…
Bahkan saat aku sedang panik
memikirkan hal seperti itu, Kurose-san masih memelukku erat. Terpaku pada tubuh
yang lembut, perasaan yang sebelumnya aku rasakan kembali. Bahkan pada saat
ini, aku mencintai Shirakawa-san, tetapi tubuhku perlahan menjadi panas, sangat
berkebalikan dengan hatiku.
“… kamu bersedia .. tutup mulut
jika kita melakukannya sampai akhir?”
Aku dengan gugup bertanya
padanya, dan Kurose-san mengangguk.
“Ya. Aku takkan memberi tahu
siapa-siapa. Maksudku, Saitou-kun juga tidak mengira kalau aku ada di dalam,
jadi kita takkan pernah ketahuan ”
Kurose-san berbisik di dekat
telingaku, dan tangan yang dia letakkan di punggungku naik turun seolah-olah
sedang membelaiku.
“Jika kamu sangat mencintai Luna,
maka aku akan berpura-pura menjadi Luna-mu. … Oke, Ryuuto? ”
Meski aku sadar betul di
kepalaku, tapi rasanya seakan-akan aku berada di bawah ilusi.
Aku memiliki kilas balik dari
perasaan terangsangku dari tadi malam, dan sebelum aku menyadarinya, aku
mendorong Kurose-san ke atas lantai.
“Shirakawa-san…”
“Ryuuto .. kemarilah…”
Tangan Kurose-san memasuki
bajuku.
Kepalaku linglung dan panas.
Selama
Kurose-san tutup mulut ...
Tapi,
itu tidak mengubah fakta bahwa kamu akan mengkhianati Shirakawa-san.
Pemikiran tersebut melintas
lagi di benakku, perasaan tenang kembali padaku sedikit.
Tapi,
hal yang lebih baik daripada membukanya dengan usaha yang gagal dan membuatnya
khawatir adalah…
Tapi
tetap saja, yang namanya pengkhianatan tetaplah pengkhianatan.
Di dalam kepalaku, malaikat dan
iblis berbisik dengan kecepatan yang memusingkan.
“Ryuuto…”
Aku menghentikan napasku saat
suaranya berbisik di dekat telingaku
──Ryuuto, sangat hangat…. Aku
merasa nyaman
Tadi
malam, suara Shirakawa-san bergema dengan kebahagiaan di telingaku.
Suaranya,
dan juga kehangatannya ... semuanya memang sama.
Tapi
yang di sini .. bukan Shirakawa-san.
“Kurose-san”
Aku kembali sadar. Lalu
memisahkan diriku darinya dan berdiri.
“… Satu hal, apa kamu keberatan
jika aku mengkonfirmasi satu hal denganmu?”
Aku merasa ada yang sedikit
aneh sejak beberapa waktu lalu. Tapi isi kepalaku linglung, jadi aku tidak bisa
memastikannya. Dan akhirnya, aku tersadar.
“Kupikir alasan Kurose-san
berpura-pura menjadi Shirakawa-san dan memanggilku ke sini, adalah untuk
membalas dendam pada Shirakawa-san…”
Kurose-san
membencinya karena, ketika orang tua mereka bercerai, ayah tercintanya
mengambil hak asuh Shirakawa-san ketimbang Kurose-san. Itulah sebabnya, dia
sebelumnya menyebarkan rumor buruk tentang Shirakawa-san, mencoba
mengganggunya. Kali ini juga, aku pikir kali ini juga salah satu upayanya untuk
membalas dendam.
“Jika itu masalahnya, jika aku
dan Kurose-san ... umm, jika kita memasuki hubungan fisik dan tidak pernah
memberi tahu siapa pun tentang hal itu, bukannya itu akan menjadi tidak berarti
dari sudut pandang Kurose-san?”
Kurose-san juga bangun, duduk
di lantai, dan menatapku dengan mata menengadah.
“… Kenapa menurutmu begitu? Apa
kamu memberitahuku bahwa aku akan memberitahu Runa dengan cara lain? ”
"Maksudku, jika tidak ada...
apa untungnya Kurose-san melakukan ini? Apa gunanya…”
Merayu
cowok yang bahkan tidak kamu sukai?
Saat ini aku berpikir demikian.
“… Aku memang mencintaimu”
Kurose-san berbicara dengan
berbisik.
“Itu karena aku mencintaimu…
aku hanya, ingin melakukannya dengan Kashima-kun”
“Eeeeh!?!”
Mana
mungkin dia… dan ketika aku melihat ke arah Kurose-san sambil
memikirkan itu, dia menundukkan kepalanya dan gemetar. Bahkan dalam sauasana
gelap, aku bisa melihat pipinya tampak kemerahan, dan dia menggigit bibirnya
begitu kuat hingga berubah menjadi putih.
Aku tak berpikir kalau semua
itu hanyalah akting.
“Aku mencintaimu… sejak kamu
memarahiku yang menyebarkan rumor buruk tentang Luna”
“Ke-kenapa…?”
“…Kenapa ya. Mungkin karena aku
merasa kamu begitu baik kepadaku. Saat aku membicarakan tentang ceritaku, kamu
juga mendengarkannya dengan sungguh-sungguh… ”
Kurose-san menjawab dengan
malu-malu, lalu menegang ekspresinya dan menatapku.
“Selama kamu tidak memberitahu
Luna, semuanya akan baik-baik saja”
“Tidak”
Aku menggelengkan kepalaku,
saat aku benar-benar sadar kembali dan pikiranku menjadi jernih.
“Meski begitu, aku tidak bisa
melakukan ini lagi. Ini akan menjadi pengkhianatan terhadap Shirakawa-san,
selain itu… ”
Aku berbicara kepada Kurose-san
yang terus menatapku.
“Aku juga merasa kasihan pada
Kurose-san.”
Ketika Kurose-san mendengar
ini, dia membuka matanya lebar-lebar seakan-akan terkejut.
Lalu….
“Apa ada orang di sana!? Aku
bisa mendengarmu berbicara “
Aku mendengar suara seseorang
datang dari gedung olahraga. Dan dengan sekali klik, kuncinya dibuka, dan pintu
geser terbuka.
Di sana berdiri seorang satpam
sambil membawa senter, sepertinya sedang berpatroli.
“Apa yang kalian lakukan di
tempat seperti ini? Dari kelas mana? Aku harus memberitahu guru… ”
Saat kami mendengarnya,
Kurose-san mulai berlari.
“Hei! Jangan lari! ”
Melihat satpam itu bimbang apa
akan mengejarnya atau tidak, aku pun mulai kabur.
“Hei kalian, jangan lari!”
Jika guru diberitahu, tidak
hanya Shirakawa-san, tapi seluruh sekolah akan tahu bahwa aku berduaan dengan
Kurose-san di ruang penyimpanan.
Ketika aku meninggalkan gedung
olahraga, Kurose-san sedang menungguku dan kemudian berbicara.
“Aku akan pergi melalui gerbang
belakang, jadi Kashima-kun kabur melalui gerbang samping”
“Bai-baiklah"
“Bye…”
Dan saat Kurose-san hendak
pergi, dia berbalik dan menatapku.
“… Bagaimanapun, aku
mencintaimu”
Dia memberitahuku sambil
tersenyum, dan mulai berlari.
“……”
Aku ditinggalkan sendirian, dan
mulai tertegun sejenak.
“…Sial”
Mengingat kita masih dikejar
satpam, aku segera mulai berlari ke gerbang samping.
◇◇◇◇
Hari ini adalah hari yang
panjang.
Saat mengingat kembali kejadian
tadi malam, ketika aku menghabiskan malam sambil bergandengan tangan dengan
Shirakawa-san hampir tidak bisa tidur, sulit untuk percaya bahwa semuanya
terjadi pada hari yang sama.
Sesampainya di rumah, aku berbaring
di tempat tidurku dan rasa lelah mulai menghampiri badanku.
Aku menatap langit-langit
sambil berpikir. Hal yang terlintas di pikiranku ialah, seperti yang
diharapkan, apa yang Kurose-san katakan sebelumnya.
──Bagaimanapun juga, aku
mencintaimu
Apa
dia ….. menembakku?
Jika
memang begitu .. haruskah aku memberikan jawaban?
Di
ruang penyimpanan, aku memberitahu Kurose-san kalau aku tidak bisa melakukannya
sampai akhir, tapi kami segera dikejar oleh satpam sekolah dan akhirnya kami
berpisah. Aku merasa seperti kalau aku tidak menanggapinya dengan jelas dan hal
itu menggangguku.
Kurose-san…
Ketika aku mengingat rangkaian
peristiwa yang terjadi di dalam ruang penyimpanan, jantungku mulai berdebar
kencang.
Kurose-san
.. benar-benar imut. Aku pikir dia bisa memilih cowok mana saja yang dia
inginkan, namun, kenapa dia memilihku?
Yah,
aku memang pernah menyukainya saat masih kelas 1 SMP, dan bahkan sekarang, jika
aku tidak berpacaran dengan Shirakawa-san… tidak, tidak ada gunanya memikirkan
tentang "perumpamaan" ini.
Itu
karena saat ini .. Aku tidak bisa memikirkan orang lain selain Shirakawa-san.
Aku
akan menjelaskannya pada Kurose-san.
Dengan pemikiran itu, aku
membuka aplikasi LINE.
Entah bagaimana karena tidak
bisa tetap berbaring, aku duduk tegak di tempat tidur dan mengetuk simbol
panggilan suara. Aku merasa tidak sopan menolaknya hanya dengan mengirim pesan.
"…Halo"
Kurose-san segera menjawab
panggilan.
“Halo, Kurose-san? Apa kamu
sampai di rumah dengan selamat? ”
“Iya”
“Syukurlah. … Umm, mengenai apa
yang kamu katakan tadi…”
“Kashima-kun”
Dipanggil dengan nada yang
kuat, aku berhenti berbicara.
“Aku
tahu apa yang ingin kamu katakan. Tapi, aku ingin mendengarnya secara langsung”
“Eh…”
“Jika
kamu mengatakannya lewat telepon, aku tidak bisa menyerah. Aku tidak akan
mengganggu Kashima-kun lagi dan ini akan menjadi yang terakhir kalinya, jadi
... bisakah aku bertemu denganmu sekali lagi? ”
Cara
berbicara barusan adalah cara Kurose-san, tapi suaranya sangat mirip dengan
Shirakawa-san. Ketika aku memikirkannya, aku sulit untuk
mengabaikan permintaannya.
“…Aku mengerti. Tapi, kita akan
bertemu di luar, oke? ”
Ketika aku mengatakan itu
padanya, karena aku khawatir itu akan berakhir seperti hari ini lagi,
Kurose-san tertawa kecil dari sisi lain telepon.
“Aku
tahu. Kita bisa bertemu di taman atau sesuatu.”
“Karena sekarang sudah malam,
jadi bisakah kita bertemu besok?”
“Ya.
Kalau begitu, besok saat hari cerah.”
Jadi, kami memutuskan waktu dan
tempat untuk bertemu, lalu mengakhiri panggilan.
◇◇◇◇
Keesokan harinya merupakan hari
dengan cuaca mendung yang pengap.
Bahkan setelah menjelang tengah
hari, Ichi dan Nishi masih belum online di Discord. Hal itu membuatku khawatir,
jadi aku menelepon Ichi.
Karena kemarin aku terlalu
kelelahan, jadi aku akhirnya tertidur meski aku mengkhawatirkan keduanya.
“Halo? Ichi? Apa kamu baik-baik
saja?”
Karena aku tidak mendengar
suara apa pun meski panggilan tersambung, aku mencoba bertanya. Dan di saat
berikutnya, pertanyaanku dibalas dengan suara yang sangat keras sehingga kupikir
ponselku akan retak.
“AKU
TIDAK BAIK-BAIK SAJAAAAAA!”
“… Ap-Apa yang terjadi?”
Sepertinya
ada sesuatu yang terjadi, tapi aku lega Ia baik-baik saja untuk saat ini.
“Cewek
lonte itu! Calpi● Soda dengkulmu!! Mana mungkin ada Ca●pis yang akan membuat
kepalaku sakit seolah-olah ingin pecah !!! ”
“Itu
benar, candaannya tidak lucu tau!! Beraninya dia bermain-main dengan hati polos
orang suram !!! ”
Dari dekat, aku juga bisa
mendengar suara Nishi.
“Apa Nishi juga ada di sana?”
“Ini
rumahku! Tentu saja aku akan berada di sini! "
“Nishi membiarkanku bermalam di
sini ... 'Kamu berani pulang jam segini dengan
wajahmu yang memerah seperti orang mabok', aku diberitahu begitu dan
dipukul keras oleh orang tuaku, tahu ... dan aku diusir dari rumah.”
Ichi menjelaskannya dengan suara
sedih hingga membuatku tercengang.
“Orang tuaku juga sempat marah,
tapi aku menjelaskan kalau karyawan yang ceroboh membuat kesalahan dalam
pesanan. Dan aku berhasil masuk ke rumah dengan Ichi, entah bagaimana "
Tentu
saja, terlepas disengaja atau tidak, setiap karyawan yang melayani anak SMA
minuman semacam itu akan dicap jelek, ‘kan ...
“Jadi aku pergi tidur, tapi
sejak pagi aku muntah atau terjatuh, dan kepalaku sakit” (Nishi)
“Aku telah memutuskan bahwa aku
takkan pernah minum lagi!” (Ichi)
“Gadis iblis menyebalkan itu!”
(Nishi)
“Dan Kashi sudah lenyah entah
kapan!” (Ichi)
“Ah, ya, tentang itu .. Aku
benar-benar minta maaf…”
Kebencian mereka ditujukan
kepadaku, jadi aku segera meminta maaf.
“Setelah kalian berdua
tertidur, tidak ada yang bisa dilakukan. Dan Yamana-san memberitahuku bahwa dia
akan menjaga kalian berdua setelahnya, jadi itu sebabnya…”
“Gadis iblis menyebalkan itu!
Menjaga seseorang, gundulmu !! Dia punya nyali mengatakan 'Aku akan pergi sekarang, jadi pulanglah sendiri sana', melemparkan
dua botol air ke arah kami dan mengusir kami !!!”
“Orang itu bukan gadis iblis!
Dia cuma iblis !!! ”
“Aku akan memotongnya dengan
katana mataku !!”
“….”
Aku
punya firasat tentang itu, tapi aku rasa mereka tidak diperlakukan dengan
hangat.
Itu
juga berlaku untukku, tapi aku minta maaf karena ini pertama kalinya sangat
buruk di izakaya bagi mereka berdua… Dan saat aku memikirkan itu.
“Seperti yang diharapkan, pergi
ke izakaya adalah ide yang buruk”
“Sepertinya begitu. Jika ingin
menjadi seorang normie, kita harus pergi ke laut dengan seorang gadis seperti
Kashi.”
“Tapi kita tidak punya cewek.
Untuk saat ini, kurasa itu akan berhasil jika aku pergi ke laut.”
“Ya, pergi ke laut untuk saat
ini”
“Tahun depan akan menjadi musim
panas yang kelam untuk belajar untuk ujian, jadi aku harus melihat cewek-cewek
yang memakai pakaian renang tahun ini”
Seolah ingin lari dari
kenyataan, Ichi dan Nishi sedang membicarakan rencana masa depan mereka.
“… Tapi Yamana-san
mengkhawatirkan kalian berdua, tahu?”
Aku
mengatakan ini kepada mereka karena aku pikir kesan mereka terhadap Yamana-san
akan berubah menjadi yang terburuk jika aku tidak memberitahunya, tapi itu
tidak sepenuhnya bohong.
Tadi
malam, aku mendapat SMS dari Yamana-san yang mengatakan "Mereka berhasil
pulang dengan selamat, dan memberi mereka kunyit jika terlihat buruk".
“Eh, serius?”
Kemudian nada suara Ichi
berubah.
“Bahkan gadis iblis masih
memiliki hati manusia, ya ...”
“Kadang judes, kadang juga
baik, bukannya dia terlalu ahli dalam bidang gap moe begini?”
“Kurasa ini benar-benar era
gadis iblis”
“Lingkaran hukuman dan hadiah
ini tidak bisa dihindari!”
Dengan Nishi, Ia bertukar
kata-kata frustasi. Aku senang mereka
adalah teman yang kuat.
Jadi, aku bernafas lega mengetahui
kalau mereka aman, dan kemudian kami bertiga membicarakan hal-hal sepele untuk
sementara waktu, lalu mengakhiri panggilan.
Setelah itu, aku mulai berganti
baju untuk bersiap-siap bertemu Kurose-san.
◇◇◇◇
Tempat pertemuan yang aku
putuskan bersama Kurose-san adalah taman besar di dekat Stasiun K.
Pertama-tama, Kurose-san pergi ke sekolah yang sama denganku, jadi rumahnya
dekat. Dan juga, rumah kakeknya, tempat dia kembali, berada di tempat yang sama
seperti sebelumnya.
Saat aku sampai di taman yang
jaraknya 10 menit jalan kaki dari rumahku, ternyata Kurose-san sudah datang
meski masih beberapa menit sebelum waktu yang dijanjikan.
“Kashima-kun”
Saat dia menyadariku,
Kurose-san tersenyum bahagia. Wajahnya
sangat imut, dan rasanya menyakitkan memikirkan apa yang akan aku katakan
padanya.
Pada
awalnya aku menyukainya dan penampilannya adalah tipeku, jadi itu membuatnya
semakin menyakitkan bagiku.
Tapi,
aku harus memberitahunya dengan tegas. Agar Shirakawa-san tidak khawatir, aku
harus memberitahu Kurose-san dengan jelas.
“Terima kasih sudah datang,
Kashima-kun”
Kurose-san
.. memiliki senyum yang lembut.
Senyuman tersebut bukanlah
senyuman sanjungan yang dia tunjukkan kepada anak laki-laki di kelas, atau
senyuman jahat yang dia tunjukkan ketika dia menyebarkan rumor buruk tentang
Shirakawa-san, tapi itu adalah senyuman alami yang dia buat di depan
teman-temannya atau seseorang yang dia cintai.
Seseorang
yang dia cintai ... seperti yang diharapkan, dia serius saat memberitahuku
kalau dia mencintaiku, ya ...
“Bisakah kita berbicara sambil
berjalan?”
Menanggapi usulan Kurose-san,
kami memutuskan untuk berjalan di sepanjang kawasan pejalan kaki di dalam
taman. Di bawah cuaca cerah, sinar matahari yang melewati dedaunan pepohonan
akan membuat tempat ini indah, tetapi di bawah cuaca mendung seperti hari ini,
rasanya jadi sangat suram. Mengingat tempat di mana kamu bisa menghabiskan
waktu di luar ruangan dengan menyenangkan di pertengahan musim panas ini hanya
sedikit, tempat ini adalah tempat yang bagus dan sejuk dengan selokan air
buatan yang mengalir di dekatnya.
“Kashima-kun, kupikir kamu bakal
ditangkap oleh satpam”
“Aku baik-baik saja. Sepertinya
Ia cuma memperingati saja dan tidak pernah mengejarku”
“Begitu ya. Aku ingin tahu apakah
itu karena beliau sudah kakek-kakek”
Taman ini terletak di dataran
tinggi di sepanjang rel kereta api, dan percakapan kami sesekali terputus karena
suara kereta dan pesawat yang lewat di langit.
Setelah interupsi untuk
kesekian kalinya, aku menguatkan diri dan mulai berbicara.
“Kurose-san”
Dan kemudian Kurose-san
berhenti berjalan.
“Kashima-kun, kamu tahu”
Kurose-san, yang berbicara dan
menatap ke depan, mengalihkan pandangannya ke arah kakinya dan tersenyum
lembut.
“Sampai aku datang ke sini, aku
cukup bersenang-senang. … Aku merasa seperti akan berkencan, dan bingung baju
seperti apa yang harus aku pakai, menata rambutku… ”
Aku agak terkejut dan kemudian
ke seluruh tubuh Kurose-san. Kurose-san mengenakan gaun kotak-kotak hitam dan
merah muda. Tas tangan dan sepatunya berwarna hitam, dan meski belum sampai ke
gaya gothic lolita, secara
keseluruhan itu adalah kombinasi barang-barang dengan cita rasa feminin.
“Tapi, aku akan ditolak. Aku
tahu itu, tapi itu menyakitkan, bukan ... "
Tetesan air jatuh di kaki
Kurose-san. Saat aku hendak melihat ke langit sambil bertanya-tanya apa
akhirnya akan turun hujan, aku tertangkap oleh matanya.
Kurose-san menangis.
Mengerutkan bibirnya, dia menyipitkan matanya seolah menahannya. Dan dari mata
itu, tetesan air mata mengalir satu demi satu.
“Orang-orang yang sudah
menembakku sejauh ini… dan Kashima-kun, juga, aku ingin tahu apa ini yang kamu
rasakan? Maaf, telah membuatmu merasakan hal yang semenyakitkan ini,
Kashima-kun… ”
“Maaf, Kurose-san ...”
Saat aku mengucapkan kata-kata
yang sama yang Kurose-san ucapkan, bahunya naik turun dengan gerakan yang luar
biasa.
Aku
datang ke sini untuk menolaknya.
Namun,
aku merasa hal itu terlalu kasar padanya sekarang jika aku mengatakan lebih
dari yang sudah kukatakan. Meski cuma dengan kalimat itu, seharusnya sudah
lebih dari cukup untuk menyampaikan perasaanku.
Aku
selalu berpikir bahwa aku tidak populer dan ditolak oleh gadis yang aku suka
karena aku adalah cowok yang suram dengan wajah kayak karakter sampingan. Tapi,
cinta adalah tentang hubungan antara orang dan waktu. Itu sebabnya, gadis
cantik seperti Kurose juga bisa ditolak oleh cowok tidak keren sepertiku.
Bahkan ada kasus di mana seorang gadis yang sangat manis dan baik seperti
Shirakawa-san terus menerus dibuat menangis oleh cowok. Dan cowok sepertiku
juga bisa berkencan dengan gadis cantik seperti Shirakawa-san.
‘Kamu
tidak populer karena kamu murung, Kamu adalah gadis yang manis jadi kamu
mempunyai kehidupan yang mudah,’ aku menyadari bahwa hal yang seperti itu
hanyalah kesan subjektif semata.
“Dengan
ini, aku bisa membalas dendam karena ditolak di masa lalu”, hal seperti itu,
bahkan tidak ada satu atom pun yang terlintas dalam pikiranku.
──Maaf. Aku .. hanya menganggap
Kashima-kun sebagai teman ...
Aku
merasa seperti beban berat yang telah aku pikul di hatiku sejak saat itu
tiba-tiba terangkat.
“Kurose-san… apa kamu ingin
duduk dan istirahat sebentar?”
Ada banyak bangku di sepanjang
kawasan pejalan kaki di berbagai tempat. Bagiku, yang membuat usulan demi tidak
menarik perhatian dari mata publik, Kurose-san melompat ke arahku begitu
tiba-tiba dan cepat.
“… !?”
Tubuhku langsung membeku. Dan
saat aku mencoba untuk menjauh darinya.
“…
Hic… uuu…. hic ”
Layaknya anak kecil, dia
menangis tepat di depanku. Hal itu membuat hatiku sakit jadi aku tidak tega
menjauhkan badannya.
“Hic… Kashima-ku… n”
Di sela-sela tangisan,
Kurose-san mengeluarkan kata-kata dari tenggorokannya dengan usaha yang
maksimal.
“Aku akan menjadi akan segera
pulang, jadi… hik, sebentar saja… biarkan aku tetap seperti ini ”
“…Aku mengerti”
Kurose-san membenamkan wajahnya
di dadaku dan melingkarkan tangannya di punggungku, memelukku dan menangis
seolah-olah dia menempel padaku.
Namun, aku tidak bisa memeluk
punggung yang lembutnya itu.
Hanya pada saat ini, aku merasa
ingin berada di sana demi menenangkan perasaannya.
<<=Sebelumnya |
| Selanjutnya=>>
Anjeng kesel gw bacanya asw, kurose lomte
BalasHapus