Otonari no Tenshi-sama Vol 5.5 Chapter 1 Bahasa Indonesia

Chapter 01 — Memangnya Salah Menyukai Apa Yang Aku Suka?

 

Di antara semua hewan yang ada, Amane paling menyukai hewan kucing.

Walaupun Ia menyukai sebagian besar hewan, tapi tetap saja, hewan yang paling Ia sukai adalah kucing.

Saat masih kecil dulu, Amane masih mengingat kalau orang tuanya sering membawanya ke kebun binatang, akuarium, dan peternakan, tapi pada akhirnya, satu-satunya hewan yang menjadi favoritnya adalah kucing yang ada di sekitar lingkungannya. Dirinya bahkan samar-samar pernah berpikir untuk memelihara kucing di masa depan nanti saat Ia tinggal sendirian.

Namun, seiring bertambahnya usia, Amane tidak bisa bilang blak-blakan kalau dirinya menyukai kucing.

Pada saat Ia masuk SMP, kucing di sekitar lingkungannya sudah mencapai akhir masa hidup dan Amane tidak bisa lagi bermain-main dengannya. Sejak teman sekelasnya mengejek dirinya karena menyukai kucing, Amane mulai menyembunyikan hal itu untuk dirinya sendiri

Dan sekarang setelah masuk SMA, Amane tinggal di gedung apartemen dan tidak melihat banyak kucing liar, jadi Ia tidak punya kesempatan untuk bermain-main dengan mereka, dan hanya bisa menonton kehidupan sehari-hari tentang kucing melalui video.

Amane pergi ke toko buku pada hari penjualan untuk membeli album foto kucing dari saluran video yang sering Ia tonton.

Meski Ia sudah membuat pemesanan di muka, Amane masih merasa khawatir kalau dirinya tidak bisa mendapatkannya karena album foto itu dirilis menjelang musim belanja Natal.

Pada hari itu, Amane menghabiskan sekolah dengan gelisah dan tidak bisa tenang. Dalam perjalanan pulang, Ia mampir ke toko buku dulu, dan yang tersisa tinggal bersantai-santai di rumah.

“Selamat datang kembali. Di luar pasti dingin iya ‘kan, apa kamu ingin minum sesuatu?”

Saat melihat Mahiru sudah berada di dalam rumahnya duluan, Amane sedikit tertegun.

Keberadaan Mahiru di dalam rumahnya bukanlah hal yang aneh.

Amane mampir ke toko buku dan diminta untuk membeli beberapa bahan untuk makan malam hari ini di supermarket, jadi Ia baru saja kembali setelah berbelanja.

Jika Mahiru langsung pulang ke rumah dari sekolah, tentu saja dia akan pulang lebih cepat daripada Amane.

Ketika Mahiru menyambutnya dengan sangat alami, dia berkedip berulang kali saat melihat wajah Amane yang pulang dengan suasana hati yang senang.

“Sepertinya kamu dalam suasana hati yang baik, ya.”

“Yah, begitulah.”

Amane terlalu malu untuk mengatakan bahwa alasan kenapa suasana hatinya sedang baik karena Ia baru membeli album foto kucing yang Ia inginkan. Oleh sebab itu, Ia menjawabnya dengan samar-samar, tapi hal itu justru menarik perhatian Mahiru.

“... Apa ada yang salah?”

“Eh, ti-tidak ... bukan apa-apa, kok ...”

“Tapi wajahmu menunjukkan kalau itu tidak bukan apa-apa.”

“Seriusan, bukan apa-apa, kok”

Amane mencoba mengalihkan pandangannya karena malu dan berusaha tidak membahasnya, tapi tingkahnya itu justru tampak mencurigakan dan tatapan mata karamel Mahiru perlahan menyipit.

Pada dasarnya, ada kesepakatan tak terucap di antara mereka untuk tidak ikut campur dalam kehidupan pribadi masing-masing, tapi jika ada perilaku bermasalah, ceritanya jadi berbeda.

Dari sudut pandang Mahiru, bisa dibilang kalau tingkah laku Amane saat ini terlihat mencurigakan.

Dia terus menatap Amane.

Benda yang Ia sembunyikan bukanlah sesuatu yang membuatnya merasa bersalah, tapi Amane masih tidak ingin mengatakannya, jadi Ia merasa bimbang apa yang harus Ia lakukan dengan kecurigaan Mahiru.

Pandangan Amane mengarah kesana-kemari, tapi hal tersebut justru menambah kecurigaan. Tatapan Mahiru berubah menjadi lebih tajam.

Tatapan matanya lalu tertuju pada plastik dari toko buku, jadi Amane mengangkat tas belanjaan ke arah Mahiru,  berusaha untuk tidak menarik perhatiannya ke sana.

“Seriusan enggak ada apa-apa, kok, jangan khawatir tentang itu. Bisakah kamu memasukkan bahan-bahannya ke dalam kulkas? Ada beberapa makanan beku di dalam tas belanjaan.”

“Aku mengerti, tapi rasanya ada sesuatu yang tidak wajar tentang itu.”

“Kumohon, jangan terlalu dipikirkan, oke.”

Ketika Amane hendak menyerahkan tas belanjaan ke Mahiru, tas kresek dari toko buku terlepas dari genggamannya.

Untungnya, tas belanjaan itu sendiri sudah berada di tangan Mahiru, jadi tidak ada kerusakan di belanjaan tersebut, tapi …. album foto yang berusaha Amane sembunyikan terjatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk.

Jika sampulnya menunjukkan foto manusia, Amane masih bisa berusaha mengelabuinya, tapi sampul yang ada di album foto tersebut menampilkan foto kucing dengan mata bulat yang imut. Itu adalah gambar kucing lucu yang sedang difoto.

Suasananya mendadak jadi hening. Bagi Amane, keheningan tersebut membuatnya berkeringat dingin.

Mahiru yang sama-sama terkejut oleh situasi yang tiba-tiba, mulai memecahkan keheningan dengan mengambil album foto yang jatuh.

Amane menguatkan diri untuk mendengar kalimat apa yang akan dikatakan Mahiru, tapi dia hanya  tersenyum lembut pada sampul album itu dan berkata “Wahh, imutnya”.

Kemudian dia dengan lembut membersihkannya dari debu dan menyerahkannya kepada Amane.

“Apa jangan-jangan kamu pulang terlambat karena demi membeli ini?”

“... Emangnya enggak boleh?”

Jawaban Amane terdengar ketus karena Ia berusaha menyembunyikan rasa malunya.

Mahiru tidak tersinggung oleh nada kasarnya, dan hanya memiliki ekspresi tenang, atau lebih tepatnya, senyum lembut di wajahnya.

“Tidak, bukan begitu maksudku, tapi rasanya aneh saja. Padahal itu bukan sesuatu yang membuatmu merasa bersalah, tapi caramu menyembunyikannya justru membuatku sedikit curiga.”

“Ku-Kupikir kamu akan menertawakanku ...”

“Aku sedikit terkejut karena kamu mengira kalau aku adalah tipe orang yang menertawakan hobi orang lain. Jangan khawatir, aku takkan menertawakanmu, kok?”

“Bu-Bukan begitu masalahnya, tapi ... ada juga beberapa orang yang mengolok-ngolok sambil menanyakan apa aku sangat menyukainya sampai-sampai rela merogoh kantong untuk membeli album foto-nya.”

“Tidak melanggar ketertiban umum dan kesusilaan, dan tidak mengganggu orang, jadi kamu bebas untuk menyukainya atau membeli album foto, ‘kan? Orang yang suka mengejek hobi orang lain biasanya suka mengolok-ngolok  hobi apapun.”

Setelah menyingkirkan kecemasan Amane dengan beberapa kata yang menyegarkan, entah kenapa Mahiru tampak lega karena tidak ada apa pun di dalam tas toko buku itu.

“Kamu tidak perlu khawatir tentang itu, Amane-kun. Karena kamu tadi berusaha keras untuk menyembunyikannya, aku jadi sempat berpikir kalau kamu membeli beberapa buku yang tidak senonoh.”

“Mana mungkin lah!”

Jika ada cowok SMA yang berupaya keras menyembunyikan sesuatu, tidak dapat dihindari kalau Ia akan dicurigai memiliki buku atau benda semacam itu, dan Amane juga merasa bersalah juga, tapi fakta bahwa Ia dicurigai melakukan sesuatu yang tidak ingin Ia lakukan membuatnya tertawa masam.

Tsukkomi tenang yang aneh muncul di kepala Amane bahwa toko buku mana mungkin akan menjualnya kepada anak dibawah umur apalagi saat Ia masih memakai seragam, tapi Ia tidak jadi berkomentar saat Mahiru berkata seolah-olah sudah mengerti, “Yah, kupikir kalau Amane-kun berbeda”.

“Aku berani menjamin kalau itu takkan pernah terjadi ... Omong-omong, bagaimana kalau aku memang membeli buku semacam itu?”

“Aku akan menanyaimu, mengapa kamu memiliki sesuatu yang tidak diizinkan oleh anak di bawah umur. Aku bisa memahami kalau kamu tertarik dengan hal begituan, tapi kamu harus lulus dari sekolah SMA dulu sebelum boleh memilikinya.”

“Rasanya sangat menggambarkan sifatmu saat kamu tidak bilang itu jorok atau mesum.”

“Yah mungkin setidaknya aku akan bilang sesuatu seperti cabul atau semacamnya.”

“Jangan khawatir, aku tidak memilikinya, kok.”

“Aku tahu.”

Mau tak mau Amane hanya bisa tersenyum kecut pada Mahiru, yang tampaknya tidak menarik, tapi tentu saja tidak masalah apakah Amane memilikinya atau tidak karena itu urusan pribadinya.

Ada aturan tak tertulis di antara mereka untuk tidak mencampuri kehidupan pribadi masing-masing dan mereka bebas untuk menghabiskan waktu mereka selama hal tersebut tidak berdampak negatif atau merugikan satu sama lain.

(Kurasa aku tidak perlu terlalu khawatir)

Seandainya saja Amane bertingkah seperti biasa, Ia pasti bisa takkan mengundang kecurigaan Mahiru. Jadi bisa dibilang, tindakan Amane sendiri sudah seperti menggali kuburannya sendiri.

Amane merasa kalau dirinya seperti orang bodoh, tetapi fakta bahwa Mahiru membenarkannya membuat beban di dadanya terasa sedikit lebih ringan.

Entah karena mengetahui rasa lega Amane atau tidak, Mahiru menunjuk ke arah kamar kecil.

“Ayo, cuci tanganmu dulu. Jika kamu ingin melihat album foto itu, kamu harus melalukan rutinitas pulang terlebih dahulu.”

“Aku tahu.”

Tanpa perlu diberitahu sekali pun, aku sudah terbiasa langsung mencuci tangan dan ganti baju sesampainya di rumah, jadi kenapa dia repot-repot memberitahuku … Saat Amane sedang memikirkan itu, Mahiru mengalihkan pandangannya dengan sedikit canggung.

“…U-Umm.”

“Hmm?”

“...  Apa aku boleh ikut melihatnya nanti?”

Tanpa bertanya lebih lanjut apa yang dia maksud, Amane bisa tahu persis apa yang ingin dilihat Mahiru, jadi Ia menoleh ke Mahiru tanpa repot-repot menyembunyikan senyum yang secara alami muncul di wajahnya.

“Ah, aku tidak keberatan, kok.”

“Syukurlah, tadi foto kucingnya imut banget, ya.”

“Benar, ‘kan.”

“Kenapa malah Amane-kun yang merasa bangga?”

Mahiru tampak sedikit terkejut, tetapi dia tidak mengolok-olok Amane dan justru memberinya senyum lembut.

Senyum di wajahnya menghangatkan hati Amane, dan Ia menuju kamar mandi dalam suasana hati yang lebih baik daripada dalam perjalanan pulang tadi.

 

 

<<=Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya=>>


Catatan Penerjemah :

Volume 5.5 tidak terlalu mempengaruhi jalan ceritanya, mungkin ada beberapa kilas balik masa lalu yang tidak diceritakan di WN.

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama