Eiyuu to Majo Jilid 2 Bab 3 Bahasa Indonesia

Bab 3 — Akhir dari Cinta Pertama

 

Liburan musim panas telah usai dan semester kedua pun dimulai.

Ketika aku memasuki ruang kelas, pandangan mataku bertemu dengan Shiina yang sudah duduk di kursinya.

“…Yo.”

“…Selamat pagi.”

Aku memanggilnya, tapi dia menundukkan kepalanya dan menghindari tatapanku.

Setelah membalas sapaanku, dia mengalihkan fokusnya kembali ke novel yang ada di tangannya. Sepertinya dia tidak ingin berbicara denganku.

Sejak festival kembang api, dia sudah bertingkah seperti ini terhadapku.

Dia terus menghindari membuat kontak denganku.

Kami masih melakukan pengobatan untuk kutukannya, meski demikian, kami hanya berbicara seperlunya saja. Rasanya seperti aku sudah berubah menjadi seorang dokter yang melakukan pekerjaanku sendiri ketimbang membantu teman.

Aku ingin melakukan sesuatu tentang itu, tapi aku baru saja dicampakkan olehnya, jadi aku tidak ingin terlalu memaksanya.

Semoga saja hubungan kami bisa kembali seperti dulu sebelum semua ini. Untuk saat ini, aku harus membiarkan waktu menyembuhkan segalanya.

Banyak orang yang bilang kalau cinta menghancurkan persahabatan. Ini adalah pertama kalinya aku mengalaminya, meski aku sudah membaca tentang ini sepanjang waktu di cerita. Sejujurnya, aku menyesalinya. Seharusnya aku membiarkan semuanya berjalan apa adanya daripada mencoba mendorong hubungan kita melangkah jauh seperti itu.

Ketika aku membiarkan pipiku bersandar di meja, aku merasakan tamparan di punggungku.

“Selamat pagi! Kenapa kamu kelihatan lesu begitu?”

Hina tampaknya dalam suasana hati yang baik hari ini. Aku ingin dia menahan tamparannya sedikit, karena itu menyakitkan.

“Aku mengantuk. Jam biologisku kacau karena liburan musim panas.”

“Seperti yang diharapkan dari anggota klub langsung pulang. Kamu menikmati masa kehidupan yang baik selama liburan, ya?”

“… Ya, tapi aku bekerja sambilan, tau?”

Aku mengangguk pada pertanyaan Hina.

Setelah Shiina mencampakkanku, aku mengalami banyak malam tanpa tidur dan perlahan-lahan aku menjadi tukang begadang. Yah, sebagian karena shift kerjaku kebanyakan pada sore atau malam hari.

Berkat itu, aku akhirnya jadi kurang tidur. Sekarang jam sekolah sudah dimulai, rasanya akan sangat merepotkan untuk mengatur kembali jam biologisku.

“Aku bangun jam enam setiap hari selama liburan, kenapa kamu tidak melakukan itu saja?”

“Aku bukan orang aneh sepertimu yang rela pergi ke aktivitas klub. Lagipula, mumpung sedang liburan musim panas, kamu seharusnya bersantai di rumah.”

Setelah mendengar jawabanku, dia bertindak seolah-olah dia telah menemukan kebenaran dunia. Hentikan itu, Hina. Jika kamu terus melanjutkannya, kamu akan berakhir seperti diriku dan bergabung dengan klub langsung pulang!

“Hina, lama enggak ketemu~!”

“Ah, Misuzu! Heya~!Lihat dirimu, nona! Kulitmu jadi kecokelatan?”

“Karena aku pergi ke pantai, sih! Oh iya, coba dengerin dej, ketika aku pergi ke sana dengan pacarku—”

Tiba-tiba, seorang gadis teman sekelas mendekati Hina. Hina kemudian memunggungiku dan mulai mengobrol dengan gadis itu sebagai gantinya.

Aku menatap punggung rampingnya. Hah, apa dia bertambah tinggi lagi?

Rasanya sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya.

Sekarang setelah kupikir-pikir, aku belum terlalu sering bertemu dengannya selama liburan.

Yah, aku sibuk melakukan pekerjaan sambilanku untuk mengatasi patah hatiku dan dia juga sibuk dengan kegiatan klubnya. Tapi, masalahnya, biasanya dia mengunjungi rumahku untuk bergaul denganku ketika keadaan tidak terlalu sibuk. Dia tidak melakukannya akhir-akhir ini dan rasanya jadi sedikit kesepian.

Terakhir kali dia mengunjungiku adalah ketika dia menyeretku untuk berbelanja baju renangnya dan itu sudah cukup lama sekali.

Saat aku duduk diam sambil termenung seperti itu di kursiku,

“Yo, ada apa?”

“Selamat pagi semuanya.”

Shinji dan Yuuka memasuki kelas.

Mereka berjalan begitu dekat satu sama lain. Dilihat dari suasana mereka, sepertinya Shinji menerima pengakuannya di festival, ya?

Kemudian, Shinji duduk di kursinya, tepat di depanku.

Sementara Yuuka, dia ikut mengobrol dengan gadis-gadis lain.

Aku memergokinya mencuri pandang ke arahku, bukan, ke arah Shinji.

Ketika gadis-gadis itu menyadari wajahnya memerah, semua orang mulai menggodanya.

Shinji kemudian mengacungkan jempol pada gadis-gadis itu untuk membuat Yuuka kecewa dan gadis-gadis itu semakin menggodanya.

“Selamat, bung.”

Ketika aku mengatakan itu, Shinji mengeluarkan senyum polos yang tidak biasa.

“Terima kasih.”

Me-Menyilaukan... Apa ini yang mereka sebut kebahagiaan? aku tidak bisa…

Untuk seseorang yang patah hati sepertiku, auranya terlalu berat untuk ditangani…

“Bagaimana denganmu?”

“…Bagaimana menurutmu?”

Pertanyaannya membuatku jadi berkaca-kaca.

“Hah, kamu ditolak?”

Ia mengangkat alisnya karena terkejut.

“Bagaimana kamu bisa menanyakannya dengan begitu santai? Aku sedang patah hati di sini…”

Shinji menatapku sebelum melirik ke arah Shiina, yang sedang membaca novel sendiri. Ia kemudian menepuk pundakku.

“Tetaplah kuat, masbro.”

“Terima kasih.”

Saat kami melakukan percakapan semacam itu, wali kelas memasuki kelas.

“Silakan duduk, kita akan memulai jam pelajaran hari ini.”

Kemudian, keseharian sekolah yang membosankan pun dimulai.

Aku sudah merindukan liburan musim panas.

Selama liburan, aku ingin sekolah dimulai cepat-cepat tetapi sekarang aku telah kehilangan alasan mengapa aku ingin pergi ke sekolah, aku berharap bisa tinggal di rumah saja. Aku bahkan tidak bisa memaksa diriku untuk berbicara dengan Shiina sekarang.

…Yah, hanya dengan melihatnya saja sudah membuatku bahagia, tapi itu tidak cukup!

“Aku tahu semua orang masih ingin liburan musim panas, tapi cepat sadarkan diri kalian. Masih terlalu dini untuk membicarakan hal ini, tetapi turnamen bola antar kelas akan segera hadir. Silakan putuskan pesertanya nanti, oke?” kata wali kelas kami itu.

Turnamen bola… Benar, ada acara semacam itu.

Tahun lalu aku hanya melewatkan semuanya bersama dengan Shinji.

… Jika aku berpartisipasi, kira-kira apa aku bisa menunjukkan sisi kerenku kepada Shiina?

…Tidak. Bahkan jika aku mencobanya, dia sudah mencampakkanku. Aku sudah tidak punya harapan lagi.

“Aku tidak ingin melakukannya.” aku menghela nafas seraya bergumam begitu.

Namun, tidak ada gunanya untuk depresi terus.

Liburan musim panas sudah berakhir, jadi sudah waktunya bagiku untuk memperbaiki suasana hatiku.

Aku sudah memutuskan untuk menyerah pada Shiina.

Jika aku mencoba untuk berpegang teguh pada perasaan sia-sia ini, hal itu hanya akan menjadi bumerang bagiku.

“…Baiklah.”

Pertama-tama, aku harus memperbaiki hubungan kami yang rusak. Dengan mengingat hal itu, aku berjalan menuju tempat duduknya.

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Shiina)

 

Aku sudah menyerah pada Godou. Aku sudah menyerah pada Godou.

Aku mengulangi kata-kata tersebut seperti melantunkan sutra sambil berpura-pura membaca novel di tanganku. Aku sadar bahwa aku belum pindah dari halaman yang sama untuk sementara waktu sekarang. Dengan kemauan keras, aku menahan gerakan kepalaku yang tanpa sadar melihat ke arah Godou jika aku lengah.

Awalnya, aku optimis perasaan ini akan memudar selama aku tidak bertemu dengannya untuk sementara waktu. Tapi Ia masih perlu memberiku pengobatan untuk kutukanku, jadi aku harus bertemu dengannya beberapa kali selama liburan musim panas.

Sebagian dari diriku merasa senang karena hal tersebut. Bagian lain dari diriku kecewa pada diriku sendiri karena berpikir seperti itu.

“Kami hanya berteman… Kami hanya berteman… Kami hanya berteman…”

Ketika aku mengulangi kata-kata itu dengan berbisik,

“Oi.”

Suara Godou memasuki telingaku. Aku melompat kaget.

“Hyaa!”

“Woi! Apa yang salah denganmu?!”

Mungkin, dikejutkan oleh suaraku, Godou juga melompat kaget.

Aku sangat bingung sehingga aku membuang novel di tanganku.

Aku bergegas untuk menangkapnya sebelum mencapai lantai, tapi karena gerakan tiba-tiba, tubuhku jadi kehilangan keseimbangan.

Dan kemudian aku jatuh.

...Atau begitulah yang kupikirkan. Godou menangkapku dengan salah satu lengannya sementara lengan lainnya meraih novel yang baru saja kulempar. Itu tangkapan yang luar biasa.

“Oh…”

“I-Itu berbahaya…”

“Seperti yang diharapkan dari Godou…”

Aku bisa mendengar keributan yang dibuat teman sekelasku dari kejauhan.

Lalu, Kirishima-san dan yang lainnya datang untuk memeriksaku.

“Mai-chan, kamu baik-baik saja ?!”

Aku merasa malu dengan semua perhatian yang diberikan semua orang kepadaku, jadi aku menjauhkan diriku dari lengan Godou.

Sayang sekali aku harus meninggalkan sisinya dan sepertinya Ia berbagi perasaan yang sama denganku, menilai dari ekspresinya. Tunggu, mana mungkin itu masalahnya. Itu mungkin hanya imajinasiku saja.

“M-Maaf, aku cukup terkejut…”

“Seriusan, dah. Apa sih yang salah denganmu?”

Godou segera memarahiku. Aku tahu itu, perasaan dari sebelumnya hanyalah imajinasiku.

“I-Itu salahmu sendiri karena mendatangiku tiba-tiba seperti itu!”

“Itu salahmu karena dikejutkan oleh hal seperti itu. Selain itu, kamu harusnya berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkanmu. Jika itu orang lain, mereka tidak akan bisa menangkapmu dengan anggun seperti yang kulakukan.”

Aku mengerucutkan bibirku frustasi.

Ia membuat argumen bagus yang tidak bisa aku bantah dan aku membencinya.

Sebelum aku menyadarinya, aku berbicara secara normal dengannya. Meskipun aku telah berjuang untuk melakukannya untuk sementara waktu sekarang. Mungkin itu karena emosiku kembali berkecamuk.

“Seperti biasa, refleks Godou luar biasa.” Kata Yuuka. Sementara itu, Shinji bersiul kagum.

“Keren banget…”, kata salah satu gadis di kelas.

Kalau aku bisa mendengarnya, itu artinya Godou juga bisa mendengarnya. Tapi untuk beberapa alasan, Ia mengabaikannya dengan wajah santai… Ugh, sunguh menjengkelkan.

 “Ada apa, Shiina?”

“…Tidak ada apa-apa. Jangan pedulikan aku.”

Jawabku dengan nada ketus. “Begitu ya,” jawabnya dengan senyum bahagia.

Karena senyuman itulah aku terus salah memahami niatnya. Serius, bisakah dia berhenti?

“Tadi itu keren banget~”

 Kirishima-san menyenggolnya dengan bahunya.

“Sejak awal aku sudah keren, tau?”

“Hahaha, coba ngaca lagi di cermin dan katakan itu sekali lagi.”

“Aku cuma bercanda doang! Jangan meledekku terus napa!”

Mereka tampak bahagia ketika melakukan percakapan seperti itu. Hari ini juga, mereka bergaul dengan baik.

Baik Godou dan Kirishima-san adalah temanku.

Selama mereka bisa tersenyum bahagia seperti itu, tidak ada lagi yang bisa aku minta.

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Godou)

 

Dua hari telah berlalu sejak liburan musim panas berakhir.

Jam biologisku diperbaiki dan tubuhku akhirnya terbiasa dengan perubahan tempo.

“Oper, ayo oper kemari!”

Seorang anggota klub sepak bola, Sakuragi, meminta umpan, jadi aku mengoper bola di kakiku kepadanya.

“Operan yang bagus, Godou!”

Ia menerima bola dengan baik dan menembaknya tepat ke gawang.

Kemudian, dia datang ke arahku dan kami melakukan tos.

“Tembakan bagus!”

“Operanmu juga bagus! Kamu seharusnya sudah bergabung dengan klub sepak bola, bung. Kamu pasti menjadi pemain inti dalam waktu singkat.”

“Nah, aku ingin hidup seperti orang santai lebih lama lagi.”

“Ah, baiklah, aku mengerti, aku juga tidak ingin menyia-nyiakan kehidupan seperti itu.”

Sakuragi menganggukkan kepalanya.

Mungkin karena turnamen bola yang akan datang, jam pelajaran olahraga berubah menjadi sesi latihan untuk berbagai permainan bola.

Perlombaan yang akan aku ikuti adalah sepak bola. Ketika mereka menugaskan orang mana yang akan mengikuti perlombaan yang mana, aku tertidur, jadi mereka memutuskannya tanpa memberitahuku.

Yah, aku tidak punya keluhan tentang itu. Aku menyukai semua permainan bola, jadi aku bisa mengikuti apa pun yang mereka putuskan untukku.

Padahal, aku pikir masih terlalu dini untuk mengadakan turnamen bola. Maksudku, liburan musim panas baru saja berakhir. Itu masih lebih baik daripada jam pelajaran biasa, tapi kamu tahu…

Aku hanya bermain sepak bola di pelajaran olahraga, namun berkat pengalaman dari kehidupanku sebelumnya, aku mendapatkan kebiasaan untuk mengamati pergerakan orang dan pola pikir untuk mengantisipasi dan melawannya. Sedari awal kemampuan refleksku lumayan bagus, jadi menerapkan kekuatanku ke olahraga akan sangat mudah.

Tidak hanya itu, aku juga bisa meniru gerakan pemain yang sangat bagus dengan sempurna.

Dengan kata lain, tidak ada yang bisa mengalahkan aku dalam olahraga jika aku serius.

“Tolong oper padaku”

Biasanya, aku akan mencoba menahan diri, tapi karena turnamen bola akan segera tiba, aku memutuskan untuk lebih serius.

Aku menerima izin dari Sakuragi.

Pada saat itu, dua penjaga musuh sedang mendekatiku.

Saat mereka berdua mencoba meraih bola di kakiku, aku menghentikan bola dan berputar.

Roulette, begitulah sebutan gerakan ini. Aku dengan mudah menghindari mereka berdua, menendang bola dengan ringan ke kanan bek yang mencoba menghentikanku dengan tergesa-gesa dan menggiring bola menjauh darinya.

Aku masuk dari sayap kanan lapangan dan mengoper bola ke Shinji yang menungguku di tengah kotak penalti.

Sayangnya, tembakan Shinji gagal dan membentur sisi gawang.

Saat itu, aku berhasil membaca lintasan bola duluan, jadi aku sudah berlari menuju area pendaratan bola. Kemudian, aku melompat ke arah bola dan menembaknya dengan kaki kananku dan mencetak gol.

Takahashi, sang penjaga gawang, tidak berhasil bergerak sedikit pun untuk menghentikanku. Ia langsung tersungkur di tempat.

… Ups, aku terlalu berlebihan. Kurasa aku perlu menahan diri sedikit.

Saat aku merasa berkonflik seperti itu, aku bisa mendengar suara teriakan para gadis.

Rupanya sekelompok gadis lalai berlatih olahraga mereka sendiri untuk menontonku bermain sepak bola.

“Luar biasa! Kamu hebat!”

“Godou, kamu hebat!”

Olahraga adalah satu-satunya bidang di mana aku bisa menggunakan pengalaman dari kehidupanku sebelumnya, jadi tidak dapat dihindari kalau kemampuanku lumayan jago, bukan, tidak ada bandingannya.

Namun, semua orang di kelas tidak mengetahui fakta ini, jadi mereka memujiku daripada mencaciku.

Karena aku sedang bersemangat, aku merasakan gelombang kegembiraan dan akan lebih pamer. Lalu, aku melihat Shiina menatapku dengan jijik.

Memangnyna dia tidak bisa memaafkanku sebentar? Aku ingin pamer sesekali juga!

Terlepas dari perasaanku yang bertentangan, permainan berlanjut karena semua orang terus mengoper bola kepadaku.

Yah, itu masuk akal karena tim kami sebagian besar bergantung pada Sakuragi, anggota klub sepak bola dan diriku.

Setelah itu, aku menghindari melakukan gerakan mencolok karena tatapan Shiina melukai hati nuraniku, jadi aku hanya memberikan umpan kepada rekan satu timku.

Aku merasa percaya diri dengan permainanku, tetapi aku juga merasa percaya diri dengan bidang penglihatanku.

Aku telah berurusan dengan ratusan iblis sekaligus sebelumnya dan aku dapat mengetahui posisi timku dan lawan dari langkah kaki mereka, itulah sebabnya aku dapat memberikan umpan kepada rekan satu timku bahkan tanpa melihat ke arah posisi mereka.

Karena aku sudah lama tidak menggerakkan tubuh ini, kurasa aku cukup bersenang-senang lebih dari yang kukira.

“Bagus!”

Aku menepuk bahu Sayama setelah dia menerima umpanku dan mencetak gol.

Mendukung orang lain juga terasa menyenangkan. Sebelum aku menyadarinya, aku terlalu asyik dengan peranku.

Aku melirik ke arah Shiina dan para gadis lainnya.

Untuk beberapa alasan, Shiina menatapku dengan bingung. Tatapan mata kami bertemu tanpa sadar.

Hampir seketika, dia memalingkan wajahnya dariku. Memangnya dia tidak menyadari kalau di sana tidak ada apa-apa selain satu pohon?

Sementara itu, gadis-gadis lain melambai padaku.

Ketika aku balas melambai, mereka mulai berteriak kegirangan. Apa jangan-jangan… ini awal dari fase populerku?!

Yah sebenarnya, kejadian ini selalu terjadi selama jam olahraga.

Sebelum ingatanku terbangun, aku sudah menjadi orang yang atletis. Setelah ingatanku terbangun, aku bisa memanfaatkan pengalaman bertarungku dengan bebas. Itulah mengapa aku biasanya menjaga semuanya tetap dalam batasan dan menahan diri.

Lagi pula, sudah jelas apa yang akan terjadi jika aku menanggapinya dengan serius.

Maksudku, meski aku sudah menahan diri, tapi Sakuragi dan yang lainnya gemetar saat melihatku.

“Apa kamu benar-benar jenius…?”

“Kagaklah, aku hanya merasa bersemangat saja hari ini.”

Aku penasaran sampai berapa lama alasan itu akan berhasil?

Sudah jelas sekali kalau aku bukan seorang amatir dan dengan sedikit latihan, aku akan menjadi lebih baik dengan mudah.

Inilah alasan mengapa aku tidak bergabung dengan klub olahraga mana pun.

Ketika masih SMP, aku berada di klub basket. Mereka mengundangku untuk bergabung dengan klub di SMA juga, tetapi aku memutuskan untuk tidak bergabung.

Karena kenangan hidupku sebelumnya, aku tumbuh terlalu kuat. Aku tahu bahwa jika aku ingin sukses dengan mudah, aku bisa berolahraga sepanjang hidupku, tetapi aku tidak menginginkannya.

Yah walaupun aku tidak segan menggunakan kekuatanku ini untuk sesuatu yang menyenangkan seperti turnamen bola yang akan datang.

 

◇◇◇◇

 

Sepulang sekolah. Angin sejuk menerpa lembut wajahku, pertanda musim gugur yang semakin dekat.

Dalam perjalanan pulang, aku pergi ke sebuah apartemen mewah tertentu. rumah Shiina.

“…Selamat malam.”

Hari ini merupajkan hari yang dijadwalkan untuk pengobatan kutukannya.

Shiina muncul di ambang pintu. Dia membungkuk dengan ekspresi gugup. Dia masih memperlakukanku seperti orang asing lagi.

Kupikir percakapan kami pagi ini telah memperbaiki hubungan kami, tetapi tampaknya tidak demikian.

“Aku akan menyajikan teh untukmu.” Kata Shiina sebelum dia pergi ke dapur.

Aku duduk di sofa sambil menunggunya dengan tenang.

Setelah dia menyajikan teh, dia duduk tepat di sebelahku.

Alasan kenapa dia tidak duduk di depanku adalah karena kami harus melakukan kontak fisik untuk menyembuhkan kutukan itu.

Sejak aku menyadari perasaanku pada Shiina, setiap kali aku sedekat ini dengannya, jantungku akan mulai berdetak lebih cepat. Aku penasaran apakah suara detak jantungku bisa terdengar sampai di telinganya? Bagaimanapun juga, aku harus menyesap teh yang sudah dia sajikan dan menenangkan diri.

Menyeruput teh panas di dalam ruangan ber-AC terasa menyenangkan. Rasanya sama seperti saat kamu memakan es krim sementara separuh tubuh Anda berada di dalam kotatsu.

Untuk sementara, hanya suara menyeruput teh saja yang terdengar di dalam ruangan.

Mungkin karena dia tidak tahan dengan kesunyian, Shiina menyalakan TV.

Program dengan suasana santai mulai dimainkan. Itu sedikit menenangkan sarafku.

“…Hei.”

“A-A-Apa?”

Tetapi untuk beberapa alasan, cuma aku satu-satunya yang tenang.

Shiina membalasku dengan suara bernada tinggi.

Kegugupannya itu menular, jadi aku berharap dia akan sedikit tenang. Lagian kenapa dia bahkan merasa gugup segala?

…Yah, kurasa rasanya canggung berada di ruangan yang sama dengan orang yang baru saja kamu tolak.

“Bisakah kita berbicara dengan normal lagi?”

“...Berbicara dengan normal?”

“Ya. Memang kamu tidak menyadarinya? Suasana di antara kita cukup canggung… Kita masih berteman, bukan?”

Setidaknya aku ingin kita tetap sebagai teman. Kedengarannya memang menyedihkan, aku tahu itu.

Hatiku mulai merasa nyeri karena kata-kataku sendiri.

Shiina mulai ketakutan. Entah kenapa, matanya mulai berkaca-kaca.

… Kenapa?

“Be-Benar. Ki-Kita berteman, jadi mari kita bicara secara normal.”

Nada suaranya seolah-olah dia mencoba berbicara pada dirinya sendiri.

Apa sesulit itu untuk berbicara denganku? Dia tampaknya memaksakan dirinya begitu keras hanya untuk melakukannya.

Tanpa sadar, aku telah menempatkan beban yang sangat besar di pundaknya.

Kurasa itu bisa dimengerti. Lagi pula, seseorang yang hanya seorang teman dan memiliki hubungan seperti bisnis dengannya tiba-tiba mencoba menjadi lebih dekat seperti itu. Tidak heran dia merasa tidak nyaman, terutama ketika dia tidak memiliki perasaan yang sama denganku.

Aku sudah mengabaikan perasaannya selama ini, bukan?

Terbawa suasana hanya karena dia cinta pertamaku. Semua kebencian diri ini mulai membuatku gila.

“… Minggu lalu, aku pergi menonton film dengan Kirishima-san dan yang lainnya.”

Shiina melakukan kontak mata denganku untuk pertama kalinya hari ini dan mulai berbicara.

“Kalau dipikir-pikir, kalian juga mengundangku saat itu, kan?”

“Ya. Tapi kamu tidak bisa ikutan”

“Mau bagaimana lagi. Jadwalku dan Hina bentrok.”

Saat itu, aku masih tertarik dengan film itu, tetapi saat ini, tidak ada setitik rasa tertarik yang tersisa.

“Setelah menonton filmnya, Kirishima-san, Shindou-san dan aku pergi ke area jajanan. Kami mengalami hari yang menyenangkan.”

Dia terkekeh sambil melanjutkan ceritanya.

Saat dia mulai mengenang, ekspresinya yang kaku mulai rileks.

Fakta bahwa dia tidak mengatakan apa-apa tentang film itu berarti itu tidak meninggalkan banyak kesan padanya.

Jika memang iya, itu akan menjadi hal pertama yang dia sebutkan.

“Kami bahkan berhasil mengetahui tentang apa yang terjadi antara Kudou-san dan Shindou-san…”

“Kedengarannya menyenangkan.”

Jika Shinji yang pergi bersama mereka, dia akan menemukan cara untuk menghilangkan topik itu. Tapi, karena itu Yuuka, mereka bisa memaksanya dan dia menumpahkan segalanya. Sementara Yuuka selalu bertingkah seperti sosok ibu bagi semua orang, penampilannya yang malu benar-benar imut.

“…Juga, aku dan Kirishima-san berbicara tentangmu.”

“Hina dan aku? Mengapa? Apa kamu tertarik dengan hubungan kami? Kami hanya teman masa kecil.”

“Kisahmu menarik. Kalian berdua sudah bersama sejak kalian berdua masih kecil dan berhubungan baik satu sama lain. Kedengarannya seperti cerita dari dalam novel, tau?”

Aku bisa mengerti maksudnya.

Bagiku, itu adalah sesuatu yang sudah biasa aku lakukan, jadi aku tidak terlalu memikirkan hubungan kami.

Sejujurnya, aku pikir hubunganku dengan Shiina akan menjadi cerita yang lebih baik.

“…Bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Tidak menyadari apa yang aku pikirkan, Shiina mengajukan pertanyaan kepadaku.

“Mau bertanya apa?”

Nada suaranya memberiku firasat buruk.

“Bagaimana pendapatmu tentang Kirishima-san?”

Kenapa dia malah menanyakan pertanyaan itu padaku?

Orang yang aku sukai bertanya kepadaku tentang gadis lain, betapa menakjubkan situasi yang aku alami.

…Tapi, Kirishima Hina, ya? Dia adalah teman masa kecilku yang penting.

Dia sudah bersamaku sejak kami masih kecil. Kami sangat dekat sampai-sampai aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya.

Gadis itu sudah merawatku, memperbaiki kekuranganku saat kami tumbuh bersama.

Dia selalu energik dan ceria, suasana hatiku selalu lebih baik saat berada di samping dirinya.

Bagaimana pendapatku tentang diria?

“Jelas, aku menyukainya.”

Aku bahkan tidak perlu berpikir banyak. Aku menyukainya dari lubuk hatiku.

Dia adalah sahabatku, seseorang yang paling mengerti diriku.

“…Jadi begitu ya. Bagus untukmu.” ujar Shiina.

Aku tidak mengerti mengapa dia mengatakan itu.

Aku memang menyukai Hina, tapi itu bukan tipe yang romantis.

Satu-satunya orang yang pernah membuatku jatuh cinta secara romantis adalah Shiina Mai.

Aku pikir dia menyadari hal ini. Kenapa dia malah menanyakan pertanyaan ini padaku?

Alasan mengapa aku mengutarakannya seolah-olah aku memiliki perasaan romantis untuk Hina adalah untuk membuat Shiina merasa lebih nyaman. Jika  begini, dia tidak perlu khawatir tentang perasaanku terhadapnya lagi. Yah, aku tidak dapat menyangkal bahwa aku mengatakannya sebagian karena aku merasa jengkel terhadap pertanyaannya.

Tetap saja, aku sama sekali tidak siap untuk mendengar jawaban semacam ini darinya,

“Aku akan mendukung cintamu. Aku harap kamu bisa menemukan kebahagiaanmu.”

Seluruh perkataannya menghilangkan sedikit harapan yang aku miliki.

Hal tersebut memaksaku untuk menghadapi kenyataan bahwa aku harus menyerah padanya.

Ketika Shiina memegang tanganku dan memberi isyarat kepadaku untuk memulai perawatan, aku tidak merasakan kegembiraan lagi.

‘O, kejahatan yang terletak jauh di dalam, tunjukkan wujudmu di hadapanku ...’

Seperti biasa, aku mulai melakukan eksorsisme.

Demi menyembunyikan hatiku yang hancur, aku sengaja memasang senyum terpampang di wajahku.

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Shiina)

 

Apanya 'baik untukmu?' jelas-jelas aku berbohong ketika mengatakan itu.

Selama festival kembang api, Godou memegang tanganku, sepertinya dia mencoba untuk lebih dekat denganku.

Aku hampir membuat kesalahan dengan berpikir kalau ia benar-benar menyukaiku seperti itu. Jadi aku menegaskan kembali hubungan kami hari itu.

Kami hanya berteman. Memiliki sahabat seperti dirinya membuatku bahagia.

Itu sebabnya aku harus melepaskan perasaan ini di hatiku.

Aku mengumpulkan semua keberanian aku untuk mencari tahu siapa sebenarnya yang dia sukai.

Dugaanku memang benar, orang yang disukainya adalah Kirishima-san.

Tidak hanya dia teman masa kecilnya, dia juga orang yang ceria, imut dan satu-satunya orang yang tinggal di sisinya untuk mendukungnya. Berbeda denganku yang kikuk, pemurung, polos dan menyusahkan. Tidak ada alasan bagi Godou untuk tidak menyukainya.

Dengan begitu, aku sudah tahu pasti bahwa dia tidak memiliki perasaan apapun terhadap aku. Aku bisa dengan aman move on darinya.

'Aku mencintainya. Aku menyukai Shiraishi Godou. Dari semua orang di dunia ini, aku paling mencintainya.’

Aku mengingat kembali pernyataan Kirishima-san.

Kedalaman perasaannya, aku bisa memahaminya dengan jelas.

Sekarang aku tahu bahwa mereka berdua memiliki perasaan satu sama lain, aku bisa dengan aman menyerahkannya pada Kirishima-san. Dia pasti akan membuat Godou bahagia.

Itu sebabnya aku akan memberi mereka dukunganku. Semoga hubungan mereka berjalan dengan baik.

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Godou)

 

Hari turnamen bola akhirnya tiba.

Semua orang merasa sangat bersemangat karena tidak ada jadwal pelajaran untuk hari ini.

Mereka berkumpul di gedung olahraga atau halaman, tergantung pada pertandingan mana yang mereka ikuti atau turnamen mana yang ingin mereka tonton.

Saat ini awal September. Suhu dari musim panas masih tersisa, tetapi angin musim gugur membuatnya lebih tertahankan. Setidaknya, bermain dalam cuaca seperti ini jauh lebih baik daripada bermain di bawah terik musim panas.

“Pertandingan tenis akan segera dimulai!”

“Ayo bersorak untuk Sagami-kun!”

“Bukannya itu pacar Misuzu? Hebat, aku ingin melihat seperti apa orangnya!”

Teman sekelas perempuanku berjalan melewatiku sambil berbicara dengan penuh semangat.

Semua orang dalam suasana meriah, kurasa itu masuk akal karena itu adalah festival olahraga.

Yah, walaupun aku bilang semuanya, tapi ada seseorang yang masih bertingkah seperti biasanya. Itu adalah pria yang berbaring di sebelahku.

Pria itu, Shinji, menguap dan menatapku.

“Apa? Aku akan melakukan bagianku, jadi biarkan aku tidur sebisa mungkin.”

“Bersoraklah untuk teman sekelasmu, bung.”

“Kenapa? Bukannya berarti sorakanku akan membuat mereka menang.”

“Setidaknya bersoraklah untuk Yuuka.”

“Terlalu merepotkan. Selain itu, memalukan untuk menghiburnya di tempat terbuka seperti itu…”

“Jadi kamu bisa merasa malu juga ya.”

“Inilah disebut gap moe.”

Ketika Shinji dan aku melakukan percakapan bodoh ini, aku mendengar seseorang mendekati kami.

Aku berbalik untuk melihat Hina dalam balutan seragam olahraganya.

“Kalian berdua lagi ngapain sih? Setidaknya kasih semangat untuk teman kelas kita kek! Kita akan menyapu bersih semua pertandingan tahun ini!”

Aku bisa melihat kobaran api di matanya.

 

Kelihatannya dia akan habis-habisan tahun ini juga.

Karena kata-kata kami tidak berhasil padanya, Shinji dan aku memutuskan untuk menyerah dan mengikuti keinginannya untuk saat ini.

… Sejujurnya, aku tidak merasa termotivasi hari ini.

Aku bahkan dianggap benar-benar membolos sekolah. Aku hanya merasa terlalu lelah untuk menggerakkan tubuhku. Tapi, jika aku tidak pergi, teman sekelasku akan bermasalah, jadi aku tidak punya pilihan selain pergi.

“Rasanya menyenangkan, bukan?”

Saat kami tiba di lapangan tenis, kami bisa melihat teman sekelas kami, Satou dan Takahashi, sedang bermain di lapangan.

Teman sekelas kami yang lain bersorak untuk mereka, jadi kami bergabung.

Hina segera memimpin semua orang dan mulai bersorak dari tengah kelompok. Sementara itu, Shinji bergegas ke sisi Yuuka.

Aku tidak bisa mengikuti semangat tinggi semua orang, jadi aku bergerak ke sudut. Saat itulah aku menyadari tatapan seseorang padaku.

Tatapan itu berasal dari Shiina. Dia berdiri sendirian sedikit lebih jauh dari tempat orang lain berada.

Wajahnya tampak agak pucat. Pada awalnya, aku ragu apakah akan memanggilnya atau tidak, tapi kekhawatiranku melebihi rasa canggung yang aku rasakan terhadapnya.

“Apa kamu baik-baik saja?”

“Y-Ya. A-aku hanya gugup…”

Shiina akan bermain di pertandingan bola basket jika aku ingat dengan benar, dan pertandingannya akan dimulai sebentar lagi. Bagaimanapun, bisa dimengerti kalau dia gugup. Kemampuan atletiknya nol. Dia mungkin khawatir bahwa dirinya hanya menjadi beban bagi timnya.

“Coba tarik napas dalam-dalam.”

Dia menghirup napas dalam-dalam.

“Jika kamu terlalu gugup, kamu bakalan mengacaukan segalanya. Untuk saat ini, kosongkan saja kepalamu dan fokuslah untuk bersorak.”

“O-Oke… A-Agak sulit untuk melakukan itu…”

Sepertinya nasihatku sedikit menenangkan sarafnya, tetapi kulitnya masih terlihat pucat.

“Yah, semua orang tampak sangat bersemangat, tapi ini hanya acara sekolah, mereka tidak akan menganggapnya terlalu serius. Jangan mengatakannya keras-keras. Juga, bahkan jika kamu mengacau nanti, tidak ada yang akan menyalahkanmu, jadi dibawa santai saja.”

Aku berulang kali mengatakan kepadanya bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Sejujurnya, aku ingin memberitahunya bahwa aku akan melawan siapa saja yang berani menyalahkannya, tapi…

Aku tidak berpikir dia akan menghargainya jika aku mengatakan itu. Bukannya seperti aku ini pacarnya atau apa pun.

Itu sebabnya aku hanya mengatakan sebanyak itu padanya.

Meski begitu, dia tersenyum lembut dan berkata, “Terima kasih.”

“Kamu juga semoga sukses. Aku akan mendukungmu.”

Ketika aku mendengar dia mengatakan itu, aku merasa gembira. Pada saat yang sama, aku merasa bodoh karena merasa senang akan hal itu.

...Aku telah memutuskan diriku untuk menyerah padanya. Aku hanya ingin menjadi temannya.

Jika aku terus memendam perasaan ini padaku, aku takkan bisa menjadi teman yang baik untuknya.

Tetap di sampingnya akan sulit karena perasaanku ini.

Akulah yang memintanya untuk menjadi temanku.

Oleh karena itu, aku harus melakukan bagianku sendiri demi dirinya. Dia adalah orang yang berusaha keras untuk menerima permintaanku itu.

Bahkan jika kita tidak bisa menjadi sepasang kekasih, aku bersumpah untuk membuat Shiina Mai bahagia sebagai temannya.

Selama dia bisa menghabiskan hari-harinya dengan bahagia, aku tidak peduli jika aku terluka.

“Terima kasih. Yah, aku adalah pemain yang tiada taranya, jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkanku.”

“Siapa juga yang khawait! …Selain itu, bukannya kamu pikir kalau kamu itu curang?”

“Yang benar saja. Hanya sebatas ini harusnya masih bsia diizinkan. Selain itu, aku bahkan tidak bermain sepak bola di kehidupanku sebelumnya.”

“Aku bercanda. Yah, karena aku kamu bereinkarnasi ke dunia ini sejak awal. Aku tidak punya hak untuk mengeluh jika Anda ingin menggunakan pengetahuan kehidupanmu sebelumnya di sini… Bagaimanapun, semoga berhasil.”

“Kurasa logika itu berhasil… Yah, aku akan melakukan yang terbaik.”

Aku tersenyum seperti biasa sambil meletakkan kepalan tanganku di depan dadaku.

 

◇◇◇◇

 

Pertandingan sepak bola pertama kami akan segera dimulai.

Kami bertanding melawan tim kelas 1, jadi kami harusnya bisa menangani mereka jika kami bermain seperti biasa.

Karena sepak bola adalah acara utama turnamen bola, ada banyak orang yang datang untuk menonton pertandingan. Mereka juga menyediakan ruang yang luas untuk penonton.

Aku sedang melakukan beberapa pemanasan untuk menghabiskan waktu di tepi lapangan ketika Hina mendatangiku.

“Bagaimana perasaanmu? Kira-kir apa kamu bisa menang?”

“Entahlah. Kurasa Sakuragi akan melakukan sesuatu tentang itu, jadi bukannya mustahil untuk menang. Shinji juga akan ada di sana.”

Omong-omong, Shinji adalah mantan anggota klub sepak bola, jadi kami selalu bisa mengandalkannya.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku akan membantu kapan pun aku bisa.”

Hina mengambil langkah lebih dekat denganku.

Wajahnya yang tegas memenuhi pandanganku.

“… Apa itu benar alasan kenapa kamu terpuruk akhir-akhir ini karena Mai-chan mencampakkanmu?”

Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Untuk sesaat, keheningan menyelimuti kami.

“…Bagaimana kamu mengetahui itu?”

“Itu baru terlintas di benakku ketika aku melihat kalian berdua.”

“…Jadi begitu ya.”

Dia memukul dadaku saat aku berdiri diam.

“Semangatlah.”

“Jika semudah itu, aku tidak akan merasa galau begini…”

“Merasa galau sih boleh-boleh saja, tapi menggunakannya sebagai alasan untuk bertindak seperti ini sungguh tindakan yang payah.”

“Ugh…”

Kata-kata terdengar menyakitkan. Kenapa dia tidak bisa menghiburku dengan cara yang normal?

“Semoga beruntung.”

“Kenapa perkataanmu sangat nyelekit padaku?”

“Karena itu kamu. Aku yakin kamu akan melewati ini.:

"Darimana itu datangnya keyakinan itu? Kupikir aku hanya chuunibyou yang terlalu sadar diri?”

Aku menggunakan kata-katanya sendiri untuk merendahkan diri sendiri.

“Yang itu juga benar.”

“Harusnya kamu menghiburku untuk bagian itu kek!”

“Apa kamu akan menerima kata-kataku dengan tenang jika aku melakukannya? Kamu takkan mendengarkanku. Kamu tahu itu.”

Kami tidak tahu itu. Aku bersumpah, teman masa kecilku ini terlalu ketat padaku.

“…Bahkan jika kamu adalah chuunibyou yang terlalu sadar diri, itu tidak masalah.”

Dia berkata dengan suara rendah.

“Bahkan jika kamu benar-benar manusia tidak berguna, aku akan selalu ada di sini untuk membantumu. Jika terlalu berat bagimu, bersandarlah padaku. Aku sudah melakukan ini sejak lama dan itu takkan berubah dalam waktu dekat.”

Setiap kalimatnya yang lembut meresap ke dalam hatiku.

Tapi, meskipun aku tahu bahwa dia adalah gadis yang baik, dia bukanlah orang yang manis.

“Jadi, sebagai gantinya…” dia melanjutkan.

“Tunjukkan sisi kerenmu.”

“...Mau bagaimana lagi, deh.”

Aku tersenyum kecut. Aku bukan tandingannya.

Gadis ini selalu menemukan cara untuk membuat suasana hatiku lebih baik. Dia selalu mendukungku.

Dia benar-benar orang yang berharga bagiku.

“Serahkan saja padaku.”

Itulah sebabnya, aku pasti akan menjawab permintaannya dengan benar.

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Shiina)

 

Kerumunan orang bersorak dengan meriah.

Godou yang dikelilingi oleh tiga bek, berhasil menggiring bola melewati mereka dan mencetak gol dengan menembakkan bola tepat di bawah selangkangan kiper.

Gadis-gadis di sekelilingku mulai berteriak setelah melihatnya.

Ia adalah seorang pahlawan di kehidupan sebelumnya, tapi ia tidak pernah bermain sepak bola di masa itu. Selain itu, tubuhnya saat ini adalah tubuh manusia biasa. Itulah sebabnya, rasanya sungguh luar biasa baginya untuk bisa bermain sebaik ini.

Tetap saja, kupikir ia masih memasang wajah acuh tak acuh penuh kebencian saat melakukan ini, tapi kali ini tidak. Aku curiga ada sesuatu yang terjadi.

Cowok itu bermain lebih agresif dari biasanya dan memasang ekspresi serius yang sama sekali tidak seperti biasanya.

Dengan kata lain, Ia bermain dengan tujuan untuk menang. Sudah lama sekali sejak aku melihat tatapan seriusnya.

Mungkin karena ada dua anggota klub sepak bola di tim lawan, mereka terus menjaga Godou dan membuatnya sulit bergerak. Tapi, Ia berhasil menemukan celah dan bergerak cepat menuju gawang.

Setelah menerima umpan dari Kudou-kun, Ia menembak bola ke arah gawang.

Layaknya mirip anak panah, bola tersebut masuk ke sisi kanan gawang.

Shindou-san yang berdiri di sampingku, membuat pose kemenangan dan berteriak gembira, “Hore!”

Dia hanya melakukannya karena Kudou-kun yang mengoper bola ke Godou.

“Hehe, terkadang Ia sangat keren, bukan?”

“Aku tidak menyangka Kudou-kun bisa sejago ini.”

“Kare Ia mantan anggota klub sepak bola, sih. Ia lalu merasa muak, itu sebabnya Ia berhenti... Tetap saja, Godou entah bagaimana lebih baik darinya. Aku tahu kalau tuh cowok cukup atletis, tapi aku tidak pernah menyangkanya sampai sejago ini…”

Itu sih sudah pasti, karena Ia adalah orang terkuat di dunia sebelum bereinkarnasi ke dunia ini.

Ini juga yang menjadi alasan kenapa aku tidak terlalu kagum saat melihat penampilannya.

Aku khawatir jika aku melihatnya seperti ini, perasaan ku terhadapnya akan semakin kuat.

Beberapa saat yang lalu, ketika Godou menunjukkan perhatiannya kepadaku, aku sudah mencapai batasku.

Aku merasa lega karena perasaanku tidak bertambah kuat, tetapi kelegaanku hanya berlangsung sesaat.

Setelah mencetak gol, Godou menyeringai, memperlihatkan gigi putihnya.

“Yoshhaaaa!”

Dengan Sakuragi-kun dan Kudou-kun memeluk bahunya, Ia mengangkat tangan kanannya ke udara.

… Ia terlihat sangat imut. Tidak, aku tidak boleh begini.

Kebahagiaan di wajahnya terlihat tulus, Ia terlihat sangat berbeda dibandingkan dengan sikap tenang yang biasanya Ia tunjukkan kepada semua orang.

Begitu aku melihat perebdaan moe itu, aku baru tahu bahwa aku sudah kalah. Aku terlalu terbiasa dengan tampangnya yang tenang, I menunjukkan tatapan serius yang sudah lama tidak kulihat dan tampang bahagianya benar-benar tidak adil. Aku merasakan dadaku sesak.

“Me-Menyebalkan…”

Aku merasa sangat kesal. Mengapa aku terus merindukan sesuatu yang sudah kupasrahkan?

“Ada apa, Mai-chan?”

Shindou-san memiringkan kepalanya.

“Bu-Bukan apa-apa.”

Aku berpura-pura berdeham untuk menipunya.

Mana mungkin aku membiarkannya tahu kalau aku jadi tergila-gila dengan Godou.

“Shiraishi-kun sangat keren…”

“Bener banget, iya ‘kan~? Tapi Ia sudah punya Hina. Aku tidak pernah bisa menang melawannya.”

“Kenapa sih setiap cowok yang baik sudah diambil?”

Tiba-tiba, aku mendengar gadis-gadis di belakangku mulai berbisik pada diri mereka sendiri.

Kirishima-san yang berada di garis depan, sepertinya tidak mendengar apa yang mereka katakan.

“Tembakan bagus, Godou!”

“Ya!”

Kirishima-san melambai ke arahnya dan Ia balas melambai.

Aku bukan orang yang berada di garis pandangnya.

Tapi itu tidak apa-apa. Aku terus mengulangi kata-kata itu berulang kali, mencoba meyakinkan diriku akan hal itu.

 

◇◇◇◇

 

Setelah itu, tim kelas kami berhasil memenangkan semua pertandingan dan berhasil masuk final, berkat Godou dan kerja keras semua orang.

Hampir semua teman sekelas kami berkumpul untuk menonton final karena itu adalah satu-satunya permainan yang diikuti kelas kami selama ini. Semua orang sungguh-sungguh bersorak untuk Godou dan yang lainnya supaya bisa memenangkan pertandingan.

Pertandingan akan segera berakhir. Skor saat ini imbang 2 : 2, jadi situasinya lumayan tegang.

Bahkan Godou mengalami kesulitan karena Ia dijaga oleh tiga orang sepanjang waktu.

Para pemain tim lawan jauh lebih terampil dari tim kelas kami, kecuali Godou, tentu saja. Selain mereka sudah kelas 3, dua dari anggota mereka adalah pemain andalan dari klub sepak bola, sedangkan sisanya adalah berbagai anggota dari klub terkait olahraga lainnya. Mereka bekerja keras untuk pertandingan sepak bola, itu sudah jelas.

Tepat saat aku memikirkan betapa sulitnya situasi ini, Godou melewati ketiga orang yang menghalanginya dan berlari menjauh dari mereka.

Begitu menerima bola, dalam sekejap Ia berhasil menembus pertahanan tim lawan dan mencetak gol. Segera setelah itu, wasit meniup peluitnya, menandakan akhir pertandingan.

Semua orang bersorak dan bergegas ke lapangan sepak bola.

Aku tidak dapat mengikuti semua orang, jadi aku ditinggalkan sendirian di bangku penonton.

Semua orang berkumpul di tengah lapangan, melakukan perayaan dan semacamnya.

Di pusat semua orang adalah pahlawan pada pertandingan itu sendiri, Godou.

Kirishima-san berdiri di sampingnya. Dia mengangkat tangan kanannya ke langit. Melihat kegembiraannya yang kegirangan, Godou tersenyum kecut.

Seseorang dari kelas kami bersiul setelah melihat seberapa dekat hubunganmereka berdua.

Dengan itu sebagai isyarat, semua orang mulai bergabung dan menggoda mereka berdua.

“Hentikan itu!”

Godou mengatakan kepada mereka untuk berhenti, tapi pada saat yang sama, Ia terkekeh. Jelas-jelas sekali kalau perkataannya itu tidak serius.

“I-Ini tidak seperti itu!”

Sementara itu, Kirishima-san tersipu malu saat dia mencoba untuk mengusir yang lain.

“Iya deh, iya.”

“Bagus, Hina.”

“Kalian berdua sudah jelas-jelas kayak orang pacaran, tau?”

“Dasar riajuu, pergi meledak sana.”

Kudou-kun mengangkat bahunya dengan acuh dan yang lainnya mengikuti.

Kirishima-san panik dan mulai membuat keributan, tapi semua orang hanya menatapnya dengan hangat.

...Tidak peduli bagaimana aku melihatnya, mereka berdua terlihat sangat serasi satu sama lain.

Seseorang sepertiku, yang hanya terjebak sendirian di sudut seperti ini, sama sekali tidak pantas mendapatkan seseorang seperti Godou.

Aku menemukan alasan lain untuk menyerah padanya.

Tapi, seakan-akan ingin mengejek tekadku, Godou berpisah dari semua orang dan mendekatiku.

“Kami menang, Shiina.”

“…Apa? Aku tahu itu, aku menonton semuanya.”

“Kamu bersorak padaku, ‘kan? Terima kasih.”

“… Memangnya itu penting?”

Aku mendengus dan memalingkan wajahku darinya. Kemudian, dia berbicara dengan nada cemberut,

“Tentu saja, itu penting. Permainan kami bisa terpengaruh menjadi lebih baik ketika seseorang bersorak untuk kami. Bagiku, dukunganmu membuatku menjadi bermain lebih baik.”

Untuk beberapa alasan, Ia menutup mulutnya setelah mengatakan itu. “Bagimu…?” Aku memiringkan kepalaku dengan bingung.

“Memangnya ada sesuatu yang istimewa tentang sorakanku?”

“Uh ya… maksudku, kamu adalah temanku…”

“Bukannya semua orang di kelas adalah temanmu?”

Sepertinya aku salah memahami sesuatu. Godou menggelengkan kepalanya.

Setelah hening sejenak, Ia memberitahuku sesuatu dengan suara berbisik.

“…Maksudku, itu sorakan dari seseorang yang kusukai, tentu saja itu lumayan spesial.”

“Hah?”

Seseorang yang Ia sukai? Seseorang yang Ia suka??

Hah? Bukankah itu Kirishima-san? Apa? Apa yang Ia maksud?

“Bukannya menyukai Kirishima-san?”

“…Hah?”

Godou menatapku dengan wajah tercengang.

Tatapannya seolah mempertanyakan kewarasanku, tapi itulah yang seharusnya kurasakan terhadap sikapnya.

“Mustahil, apa kamu seriusan menerima kata-kataku tempo hari begitu saja? Serius, kamu…”

“???”

“Ya ampun, apa sih yang sudah kulakukan? Aku tidak seharusnya memberitahumu ini jika aku ingin tetap berteman denganmu… Tunggu, bukankah lebih baik memberitahumu untuk meluruskan hal-hal di antara kita?”

Ia sepertinya bergumam tentang sesuatu yang tidak bisa aku pahami.

“Tu-Tunggu, apa jangan-jangan gadis yang kamu sukai adalah…”

“Kamu.”

Wajahnya memerah saat mencoba mengalihkan pandangannya. Im-Imut sekali…

…Tidak, tunggu, sekarang bukan waktunya untuk memikirkan itu!

Apa yang baru saja dikatakannya? Aku? Gadis yang Ia sukai adalah aku??

Godou menyukaiku??

Mana mungkin itu masalahnya, tapi orangnya sendiri yang mengatakannya dengan jelas kepadaku.

“… Biarlah masa lalu berlalu, lagipula, kamu sudah menolakku. Jadi mendingan jangan membicarakan ini lagi”

“… A-Apa maksudmu?”

Apa? Aku menolaknya? Apa sih yang Ia bicarakan sejak tadi? Kapan aku melakukan itu?

Menyadari kebingunganku, Godou menjelaskan,

“… Oi, bukannya kamu memberitahuku di festival kembang api bahwa kita harus tetap sebagai teman?”

“Ke-Karena tindakanmu bisa membuatku salah paham tentang perasaanmu! Aku hanya ingin meluruskan hubungan kita!”

“Salah paham?”

“Aku mungkin salah paham bahwa kamu sebenarnya menyukaiku seperti itu…”

“Tapi aku memang menyukaimu, tau??”

“…”

“…”

“U-Um… K-Kamu benar-benar menyukaiku?”

Saat aku mencoba memastikan ini dengan ketakutan, Godou menganggukkan kepalanya.

“Se-Secara romantis?”

“Ya. Emangnya itu salah?”

“…T-Tidak, tapi…”

“…Oke”"

Wajahnya memerah seperti tomat, bukti bahwa Ia tidak berusaha membodohiku.

Ahhhhh! Wajahku juga mulai ikutan memanas. Aku bisa merasakan gelombang kegembiraan mengalir di hatiku.

“Tunggu, kamu seriusan tidak tahu tentang itu?”

“T-Tentu saja tidak! Bagaimana aku bisa menyadarinya sejak awal….?”

“Kupikir kamu sudah menyadarinya. Jadi apa yang kamu katakan padaku saat itu bukanlah cara bertele-tele untuk menolak perasaanku?”

“Aku bahkan tidak bisa memahami arti menjadi hubungan. Jadi mana mungkin aku bisa tahu bagaimana melakukan sesuatu yang begitu!”

Sulit untuk mengakuinya, tetapi itu benar.

“… Jadi, kamu tidak menolakku?”

Aku mengangguk pada kata-katanya. Maksudku, aku tidak pernah bermaksud melakukan itu sejak awal.

“… Jadi, aku tidak harus menyerah padamu?”

“I-Itu…”

Aku hampir mengatakan bahwa Ia tidak boleh menyerah padaku.

Tapi, aku menahan mulutku sendiri di saat-saat terakhir. Apa ini akan baik-baik saja?

Aku juga menyukainya, jadi jika aku mengatakan hal itu padanya, kita bisa mulai berpacaran saat ini juga.

Alasanku akan menyerah padanya adalah karena aku tidak ingin mengkhianatinya. Ia mengatakan kepadaku bahwa Ia menginginkan aku menjadi temannya, jadi aku ingin memenuhi keinginannya itu. Walaupun perasaannya berubah menjadi menyukaiku, menyukainya kembali tidak akan menjadi masalah.

Aku tergoda oleh godaan manis ini. Namun seketika itu juga, ingatan dari kehidupanku sebelumnya terlintas di benakku.

Aku sekarat sambil melihat mayat sang pahlawan.

Kemudian, adegan bergerak menuju adegan yang baru saja aku lihat.

Adegan dimana Godou tersenyum gembira, dikelilingi oleh teman sekelas lainnya dengan Kirishima-san di sisinya.

“…”

Aku hanya perlu mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Hal itu saja sudah cukup membuatku bahagia.

Tapi, aku tidak bisa menggerakkan kepalaku. Seluruh tubuhku membeku kaku.

“… Maaf itu salahku. Tolong lupakan itu.”

Setelah melihat keheninganku, Godou menggelengkan kepalanya.

“Baiklah, aku akan menyerah padamu. Bisakah kita setidaknya tetap menjadi teman?”

“…Tentu saja. Kita masih bisa berteman.”

Meskipun itu adalah kata-kataku sendiri, dadaku masih terasa sakit seakan tertusuk ratusan jarum. Godou tersenyum kecut.

Tidak. Itu bukan niatku. Ia seharusnya bahagia, bukan seperti ini.

“Ngomong-ngomong, sorak-soraimu membantuku. Jadi, terima kasih. Sampai jumpa.”

Aku tidak bisa memaksakan diri untuk mengatakan apa pun sebelum Ia memunggungiku dan berjalan pergi.

Aku mencoba meraih punggungnya, tetapi tanganku tidak pernah menggapainya.

 

◇◇◇◇

 

Ketika tiba jam istirahat makan siang. Aku sedang berlatih basket sendirian di sudut gedung olahraga.

Mungkin karena semua orang sedang makan siang, jadi tidak ada seorang pun di sini.

Karena sudah diputuskan kalau aku akan bermain basket, aku sudah berlatih sendiri di taman. Padahal, sepertinya semua usahaku sia-sia karena aku masih membebani semua orang dalam latihan kelompok.

Aku mencoba menembakkan bola ke arah ring, tapi bolanya memantul kembali dan membentur lantai.

Ketika aku pergi untuk mengambil bola, seseorang sudah memungutnya.

Orang tersebut adalah Godou.

Ketika mengingat percakapan yang baru saja kami lakukan, aku mulai merasa gugup

Rupanya, Ia merasakan hal yang sama denganku karena Ia terlihat sangat ragu untuk mengatakan sesuatu.

Kemudian, Ia mulai menggiring bola. Tidak seperti dribelku yang kikuk, Godou melakukannya dengan sempurna. Meski Ia tidak pernah benar-benar bermain bola basket, refleksnya cukup untuk mengimbangi kurangnya pengalamannya.

Setelah beberapa saat, Ia menembak bola. Pada saat yang sama, dia akhirnya membuka mulutnya.

“Berlatih sendiri? Gadis yang serius sekali.”

“…Apa? Memangnya itu buruk?”

“Enggak juga. Itu bukan sarkasme.”

Bola yang ditembaknya melewati ring dengan sempurna.

Melihatnya melakukannya dengan sempurna membuatku kesal. Aku berlatih sangat keras, namun aku masih belum bisa menembak dengan benar.

Bahkan di kehidupan kami sebelumnya, ketika aku sibuk menghitung langkahku dalam pertempuran, pria ini hanya menyerahkan semuanya pada instingnya. Serius, bagaimana mungkin seseorang menjadi tidak masuk akal seperti dirinya?

“Kamu baru saja mulai berlatih, jangan berpikir bahwa kamu tiba-tiba bisa menembak dengan baik.”

“… Kalau gitu apa yang harus kulakukan?”

“Ini."

Godou tiba-tiba mengoper bola kepadaku, yang coba kuterima dengan tergesa-gesa.

“Jika kamu mengulurkan tangan seperti itu, kamu bisa melukai lenganmu. Tempatkan mereka di depan dadamu dan tunggu bola sampai di tanganmu.”

“Apa yang ingin coba kamu katakan?”

“Berikan padaku.”

Untuk beberapa alasan, aku mengoper bola kepadanya.

Seperti yang dikatakannya padaku, Ia meletakkan tangannya di depan dadanya dan menerima bola dengan sempurna.

“Aku akan memberimu umpan lambat, jangan takut.”

Itu karena aku takut pada bola sehingga aku mengulurkan tangan setiap kali aku melihatnya datang ke arahku.

Tapi, saat aku mengikuti apa yang Godou katakan padaku, aku berhasil menerima bolanya dengan baik.

Meskipun aku belum pernah bisa menerima umpan seperti ini sebelumnya. Bola selalu memantul dari tanganku.

“Bagus. Pundakmu terlalu tegang. Santailah sedikit”

Sekali lagi, Godou memintaku mengoper bola padanya, jadi aku melakukannya.

Aku mengoper bola, Ia menerimanya, Ia kembali melemparnya kepadaku. Hal tersebut berulang beberapa kali lagi.

Godou dengan tenang menerima semua operanku. Gerakannya lembut, mungkin karena Ia ingin aku menggunakannya sebagai referensi.

Jadi, aku mencoba meniru apa yang dilakukannya. Tentu saja, aku tidak memiliki kemampuan fisik untuk langsung meniru gerakannya dengan sempurna, tetapi aku ingin setidaknya menerima operan. Aku beruntung Godou memutuskan untuk mengajariku.

Lagi pula, aku tidak bisa berlatih mengoper sendiri.

“Bagus. Mari tingkatkan kecepatannya sedikit.”

Hanya pada saat-saat seperti inilah Ia tidak mengatakan hal bodoh kepadaku. Itu membuatku sedikit kesal.

Tanpa kusadari, aku dapat menerima umpan dengan benar. Saat aku menghela nafas panjang, Godou bertepuk tangan.

“Kamu masih belum bisa menembak atau menggiring bola dengan benar, tapi setidaknya kamu bisa mengoper bola sekarang. Itu seharusnya cukup untuk saat ini.”

“… Mm.”

Kenapa Ia sampai bersedia membantuku?

Bodoh, jawabannya sudah jelas, itu karena Ia menyukaiku. Setelah menyadari itu, aku menyadari pipiku mulai memanas.

… Sayangnya, aku tidak bisa menjawab perasaan itu. Lagipula aku tidak bisa membuatnya bahagia.

Tentu, jika kami menjadi sepasang kekasih, aku akan sangat bahagia.

Tapi aku ragu apakah aku bisa membuatnya bahagia.

Jika kami tetap sebagai teman, Ia tidak perlu dibebani dengan orang seperti diriku.

Aku tidak layak untuk mendapat posisi penting dalam hidupnya.

Aku ingin Godou merasa bahagia.

'Aku mencintai nya. Aku menyukai Shiraishi Godou. Dari semua orang di dunia ini, aku paling mencintainya.’

Lagipula, orang yang layak untuknya sudah berada di sisinya.

“… Pertandingannya akan segera dimulai. Terima kasih.”

Itulah sebabnya aku harus menjauhkan diri darinya.

Aku tidak ingin Ia menyadari perasaan yang telah kuputuskan untuk dikubur dalam-dalam di hatiku.

Ketika aku membelakanginya, aku mendengar suara lembut “Lakukan yang terbaik” dari belakang.

 

◇◇◇◇

 

Peluit telah dibunyikan, tanda berakhirnya pertandingan.

Aku berlari sekuat tenaga selama pertandingan itu. Baru setelah itu berakhir aku merasakan kelelahan merayapi seluruh tubuhku. Nafasku yang berat sepertinya takkan berhenti untuk sementara waktu.

“Shiina-san, kerja bagus!”

Salah satu teman sekelasku, Kiyama-san, mendekatiku dan memelukku.

Teman sekelas lain yang juga anggota tim bola basket berkumpul di sekitarku.

“Kamu menjadi lebih baik!”

“Apa kamu berlatih sendiri? Terima kasih!”

“A-Aku hanya tidak ingin membebani semua orang…”

“Sungguh gagah sekali! Dan lucu!”

“Gadis baik~, gadis baik~. Sudah menjadi kewajibanku untuk membuat gadis baik sepertimu bahagia~”

“Cepat menjauh dari Yumi, Shiina-san! Dia akan merusakmu!”

Kiyama-san dan teman sekelasku yang lain, Akasaka-san, saling menatap. Aku terjebak di antara mereka berdua.

“Pokoknya, bagus sekali kita bisa menang. Kesulitannya dinaikkan terlalu tinggi karena tim sepak bola memenangkan semuanya.”

“Kita masih babak penyisihan pertama. Yah, sebenarnya aku tidak berpikir kita bisa menang.”

Bahkan orang-orang yang belum pernah aku ajak bicara berkumpul di sekitarku.

Tiba-tiba, mereka memberi jalan bagi seseorang untuk lewat. Godou berjalan mendekatiku.

“A-Aku sudah melakukan yang terbaik.”

Ia memberiathuku untuk melakukan yang terbaik, jadi aku melakukannya.

Aku tidak tahu apakah itu memengaruhi pertandingan secara keseluruhan, tetapi aku ingin memberitahunya bahwa setidaknya aku melakukan semua yang bisa kulakukan.

Ketika aku mengatakan itu padanya, Ia berkedip terkejut sebelum tertawa.

“Bagus untukmu.”

Dia meletakkan tangannya di atas kepalaku dan membelainya dengan lembut.

Aku hampir mengeluarkan suara tercengang. Apa yang orang ini lakukan di tempat terbuka seperti ini?

Rasanya memalukan, tetapi pada saat yang sama, rasanya menyenangkan. Aku ingin Ia memanjakanku selamanya.

Tidak baik. Jika ini terus berlanjut, aku takkan bisa menyerah padanya. Semakin aku berinteraksi dengannya, semakin aku menyukainya.

Aku sangat ingin menjadi pacarnya.

Jika memungkinkan, aku ingin menikmati perasaan ini selama mungkin. Tapi pada saat itu, pandangan mataku bertemu dengan mata Kirishima-san. Dia tersenyum sedih.

Hampir seketika, aku mendorong Godou menjauh dariku. Suasana di antara kami seketika membeku.

“Maaf… kurasa aku tidak bisa menjadi temanmu lagi…”

Ketika aku mengatakan ini padanya, wajahnya berubah masam.

Tidak, kamu seharusnya jangan membuat wajah seperti itu. Maaf.

Aku tidak bisa tinggal bersamamu lagi. Karena jika tidak, aku takkan bisa menahan perasaan ini.

Itu sebabnya aku tidak mampu menjadi temanmu.

Hal tersebut mungkin terlalu arogan dan egois jika aku, yang selalu membawakanmu kemalangan, ingin tetap berada di sisimu. Padahal, perasaan jahat semacam ini adalah sesuatu yang bisa dimiliki oleh mantan penyihir sepertiku.

Berkat dirimu, aku akhirnya bisa merasakan seperti apa rasanya kebahagiaan.

Jadi, sekarang giliranmu untuk menjadi bahagia saat ini.

Sudah ada seseorang yang bisa membuatmu bahagia.

Kamu tidak akan membutuhkanku.

Jika kamu tetap bersamaku, kamu akan menggoyahkan tekadku.

Perasaan yang telah kukubur dalam-dalam di dalam hatiku akan mulai membesar beberapa kali lipat.

Itu sebabnya, aku tidak bisa bersamamu lagi …

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Godou)

 

Sehari setelah turnamen, Shiina tidak masuk sekolah.

Karena dia absen terjadi tepat setelah kejadian itu beberapa hari yang lalu, semua orang jadi menatapku.

“Godou?”

“…Maaf.”

Setelah hal itu terjadi, Shiina meninggalkan tempat itu dan seluruh tempat menjadi sunyi.

Semua orang menatapku, tatapan mereka memberitahuku bahwa entah bagaimana aku mengacau.

Acara yang awalnya merupakan turnamen menyenangkan berubah menjadi pertunjukan yang menyedihkan bagiku.

Pada akhirnya, kelas kami mendapat tempat kedua secara keseluruhan untuk seluruh turnamen.

Hina berusaha menghiburku dengan fakta itu, tapi aku tidak melakukannya sepanjang sisa hari itu.

Sejak Shiina pulang lebih awal kemarin, aku berpikir untuk meminta maaf hari ini, tapi…

“Hah…”

Aku menundukkan kepalaku.

Seperti apa yang dipikirkan semua orang, aku mengacau.

Suasana pada saat itu membuatku terbawa suasana dan membuat Shiina merasa tidak nyaman.

Meskipun aku mengatakan kepadanya bahwa aku akan menyerah padanya, aku masih melakukan sesuatu seperti ini ...

Tetap saja, aku tidak mengharapkan penolakan terang-terangan darinya.

Sungguh menggelikan sekali. Aku bisa merasakan bahwa semua orang diam-diam tertawa di belakangku.

Aku merasa menjadi orang paling bodoh di dunia.

Terutama ketika aku masih merasa bahwa aku dapat memperbaiki semuanya jika aku memberinya waktu untuk menenangkan diri.

Hanya keberuntunganku saja dia bahkan tidak datang ke sekolah hari ini.

Aku berkata pada diriku sendiri bahwa dia mungkin terlalu banyak bekerja beberapa hari yang lalu dan dia sedang sakit atau semacamnya.

Tapi dia masih tidak datang ke sekolah selama beberapa hari setelah itu.

Semua orang yang mencibir padaku karena kekacauan yang aku buat, menoleh ke arahku dengan tatapan khawatir dan mulai bertanya padaku apakah semuanya baik-baik saja. Guru wali kelas kami mengatakan bahwa Shiina tidak masuk karena sakit, tapi aku merasa ragu bahwa apa memang itu yang benar-benar terjadi…

Bagaimanapun juga, kekhawatiranku semakin tumbuh seiring berjalannya waktu.

Namun, aku takut jika aku mengunjunginya sekarang, hal itu justru akan memiliki efek sebaliknya.

Lagi pula, ada kemungkinan besar bahwa akulah yang menjadi alasan mengapa dia absen sejak awal.

Ketika pemikiran seperti itu muncul di benakku, tubuh aku menjadi kaku seperti batu.

Aku tidak bisa melakukan apa pun untuknya. Yang ada justru itu hanya akan menyakitinya lebih dari ini.

... Benar-benar tidak ada yang bisa aku lakukan untuknya.

Sehari setelah itu, dia masih absen. Suasana di kelas berubah lebih berat dari sebelumnya.

Pada jam pelajaran matematika. Aku sedang melihat ke luar jendela. Di luar hujan deras sampai-sampai aku bisa mendengar suara tetesan jatuh ke tanah meskipun jendelanya tertutup rapat. Udara lembap menempel erat di tubuhku dan rasanya tidak nyaman.

Aku mendapati diriku mengalihkan pandanganku ke kursi Shiina.

Gadis yang biasanya mencatatnya pada jam-jam seperti ini tidak terlihat di mana-mana.

Lambat laun, kehidupan sehari-hari tanpa dirinya mulai menjadi rutinitas baru kami. Aku benci hal itu.

Tapi, lantas, apa yang bisa aku lakukan? Akulah yang menyebabkan semuanya.

“Apa kamu sudah mendengar sesuatu dari Mai-chan, Godou…?”

Setelah kelas selesai, Hina datang ke tempat dudukku dan bertanya padaku.

Suaranya lebih lemah dari biasanya.

“…Tidak.”

Meski begitu, aku masih harus memberikan pengobatan untuk kutukannya.

Aku benar-benar harus menghubunginya segera.

Tapi, apa aku harus melakukannya? Bukankah lebih baik jika aku menunggunya menghubungiku terlebih dahulu?

“Kamu tidak menghubunginya?”

“… Aku tidak ingin menyakitinya lagi.”

Aku meletakkan tubuhku di atas meja saat mengatakan itu. Ketika dia mendengar kata-kataku, Hina menarik tanganku dan menarikku.

Dia menatapku dengan ekspresi serius.

“Apa menurutmu semua ini baik-baik saja?”

“Tentu saja tidak, tapi tidak ada yang bisa kulakukan.”

Hina mengangguk sebelum melanjutkan,

“Bukankah kamu bilang akan menunjukkan sesuatu yang keren padaku?”

“…Maaf. Aku tidak cukup keren untuk melakukan itu. aku memang yang terburuk…”

Satu-satunya hal yang berhasil kulakukan adalah menyakiti gadis yang aku sukai.

Apanya yang mantan pahlawan? Omong kosong macam apa yang membuatnya bahagia?

Aku hanya bisa mengayunkan pedangku, pedang yang sama yang kugunakan untuk melukainya.

Itu tidak bisa digunakan untuk melindunginya.

Bahkan ketika aku bereinkarnasi, aku masih melakukan hal yang sama. Dia masih ditimpa kemalangan sampai-sampai dia memutuskan untuk memutuskan hubungan dengan aku. Aku tidak pantas bersama seseorang sebaik dirinya.

Setelah aku merapikan mejaku, aku mengucapkan selamat tinggal kepada Hina dan mencoba untuk pulang.

“… Godou.”

Hina memanggilku, tapi aku tidak berbalik.

Karena aku lupa membawa payung, aku memutuskan untuk berjalan di bawah guyuran hujan yang deras. Dalam waktu singkat, seluruh tubuhku langsung basah kuyup.

Akhirnya, aku harus berlindung di sebuah bangku di sebuah taman dalam perjalanan pulang.

Atap di atasku bocor, tapi tidak masalah jika pakaianku basah seperti ini.

Saat aku berdiri diam sambil menunggu hujan sedikit reda, aku merasakan seseorang mendekatiku dari samping.

Aku tidak perlu mengalihkan pandanganku untuk mengetahui bahwa itu adalah Hina.

Pada saat seperti ini, dia akan menjadi satu-satunya orang yang melakukan hal seperti ini.

Dia selalu mendukungku dan selalu bertindak jauh seperti ini.

“Godou…”

Saat dia memanggilku, aku mengalihkan pandanganku ke arahnya.

Dia basah kuyup seperti diriku.

“Kamu akan masuk angin.”

“Kita berdua akan masuk angin.”

“Aku tidak membawa payungku, tapi aku membawa handukku.”

“Tidak. Kamu sudah menyeka keringatmu dengan handuk itu, bukan?

“Aku sudah mencucinya, jadi tidak apa-apa. Kita berdua ‘kan teman masa kecil, jadi jangan terlalu memikirkannya.”

Aku mengambil handuk dari tasku dan melemparkannya padanya.

Karena tasku tahan air, jadi isinya tidak basah.

Handuk itu mendarat di wajahnya. Kemudian, dia menggunakannya untuk menyeka rambutnya dengan ringan.

“Badanmu juga basah kuyup, tau?”

“Aku tidak merasa ingin mengeringkan diri. Omong-omong, di mana payungmu?”

“Ini dia.”

Dia mengeluarkan payung lipat dari tasnya.

Karena dia tidak mengendarai sepedanya sekarang, dia mungkin pergi ke sekolah dengan bus.

Sepertinya dia tahu bahwa hari ini akan hujan.

“Di mana sepedamu?”

“Aku lagi merasa ingin berjalan saja.”

“Kalau begitu, di mana payungmu?”

“Aku ingin merasakan hujan secara langsung dengan tubuhku.”

Aku meninggalkan sepedaku di tempat parkir sekolah.

“Jadi begitu ya. Kita sama.”

Hujan sedikit melemah. Hujan deras telah berubah menjadi gerimis yang lembut.

“Godou, apa alasan kenapa kamu seperti ini karena Mai-chan menolakmu?”

“Memangnya kenapa lagi?”

“Menurutmu mengapa dia menolakmu?”

“Entahlah… Mungkin karena aku membuatnya muak. Dia sepertinya membenciku.”

Hal tersebut akan menjelaskan mengapa dia memperlakukanku seperti itu.

Kebenciannya terhadapku mungkin sangat dalam sampai-sampai sulit baginya untuk menahannya lagi.

“Yah, memang benar kalau kamu mendadak mengelus kepalanya akan membuatnya tidak nyaman, tapi…”

“Ugh…”

Alih-alih menghiburku, kata-katanya hanya memberikan lebih banyak kerusakan mental padaku.

Aku tidak ingin mengatakan adegan itu dengan lantang karena terasa menyakitkan bagiku untuk mengingatnya. Aku harap dia bisa berhenti mengungkitnya.

“Tetap saja, bukan itu masalahnya ketika kita berbicara tentang Mai-chan.”

Dia terlihat percaya diri saat mengatakan itu.

 “Bagaimana kamu tahu itu?”

“Karena dia mudah dimengerti… Selain itu, aku memahami perasaannya dengan sangat baik.”

Gampang dimengerti? Shiina?

Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi di dalam kepala gadis itu.

“Mai-chan itu gadis yang baik. Terlalu baik malahan. Aku tidak memercayai kalau ada seseorang bsebaik dirinya. Dia tidak percaya diri untuk beberapa alasan, meskipun dia mempunyai wajah cantik.”

Itu sebagian karena ingatan kehidupan sebelumnya.

“…Gadis itu dulu dibenci semua orang di sekitarnya karena sesuatu yang bukan salahnya. Dia terjebak dalam perasaan menyalahkan diri sendiri sepanjang hidupnya, itu sebabnya dia tidak percaya diri. Itu juga menjadi alasan dia selalu berusaha memperlakukan semua orang yang memperlakukannya dengan hangat sebaik mungkin.”

“… Mm.”

Penjelasan itu sepertinya meyakinkannya.

“… Jadi itulah sebabnya dia memendam perasaannya. Dia melakukannya untukku.”

Aku bisa mendengar gumamannya, tapi aku tidak tahu apa yang dia bicarakan.

“Godou, bisakah aku memberitahumu sesuatu?”

Dia bangkit dari bangku dan berdiri tepat di depanku.

Dengan taman hujan sebagai latar belakangnya, dia tampak mempesona.

Ada tetesan air yang mengalir di pipinya.

Apakah itu teteasan air hujan? Atau mungkin air matanya?

Tapi kenapa dia menangis?

Tepat saat aku memikirkan hal itu, kata-kata selanjutnya sampai ke telingaku.

“Aku menyukaimu.”

Ekspresi wajahnya memberitahuku bahwa dia tidak bercanda.

Tak peduli tidak seberapa pekanya diriku, aku tahu bahwa dia tidak bermaksud bahwa dia menyukaiku sebagai teman masa kecil belaka.

…Meskipun, aku sudah menyadari hal ini.

Setelah belajar tentang cinta untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku mengerti seperti apa rasanya cinta.

Pada saat yang sama, aku menyadari perasaan yang belum pernah aku perhatikan sebelumnya.

Menilik kembali ke belakang, dia meninggalkan banyak petunjuk untuk bisa kusadari.

Itu sebabnya aku tahu bahwa perasaan yang dia miliki untukku adalah perasaan yang sama dengan yang aku miliki terhadap Shiina.

"…Apa kamu bersedia berpcaran denganku?”

Tapi, kenapa dia baru menembakku pada waktu ini?

Dia orang yang cerdas dan perseptif, dia tahu bahwa aku menyukai Shiina.

Selama perasaan ini tetap ada, aku takkan bisa menjawab perasaannya itu.

“… Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah mempunyai orang lain yang kusukai.”

Jika aku berpacaran dengannya, mungkin perasaan ini akhirnya akan hilang.

Mungkin akan ada saat dimana aku akhirnya jatuh cinta pada Hina.

Aku tahu bahwa jika aku tinggal bersamanya, aku akan bahagia.

Lagipula, gadis manis inilah yang selama ini berada di sisiku, mendukungku tanpa meminta imbalan apapun.

Dia terlalu baik untukku. Seharusnya aku yang menembaknya dan memohon padanya untuk tetap di sisiku.

Aku tahu itu, tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Jadi aku meminta maaf padanya.

“Lantas, mengapa kamu menyerah? Jangan menyerah semudah itu!” Kata Hina tiba-tiba, seolah dia menunggu untuk mengucapkan kata-kata itu.

“Bukannya menyukai Mai-chan?”

“…Ya.”

“Kalau begitu setidaknya tanyakan langsung padanya tentang perasaannya yang sebenarnya! Bukannya berarti kamu bisa meninggalkannya sendirian seperti ini! Jika kamu berpikir kalau kamu sudah menyakitinya, minta maaf padanya! Sampai kapan kamu akan depresi seperti ini?!”

Ada keputusasaan yang tersembunyi dalam suaranya.

Setiap kata yang dia ucapkan adalah demi diriku.

Meskipun itu sudah jelas sekali kalau aku mencampakkannya sekarang. Padahal dia berhak untuk memaki-makiku dalam situasi seperti ini.

Namun, setiap kalimat yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata dukungan untukku.

Aku penasaran mengapa dia melakukannya sampai sejauh ini demi diriku?

Tapi aku tahu jawabannya. Dia sangat mencintaiku.

Dia mencintaiku sama seperti aku mencintai Shiina.

“Jadilah Shiraishi Godou yang keren yang kucintai.”

Sembari berlinangan air mata, dia tersenyum lembut.

“Tunjukkan sisi kerenmu padaku, Godou.”

Dia mengatakan kata-kata yang sama seperti yang dia katakan saat itu.

Meskipun aku menunjukkan banyak sisi lemahku, dia masih percaya padaku.

Itu sebabnya aku ingin menjawab harapannya itu. Bukan karena kewajiban, tapi sebagai sesuatu yang benar-benar aku harapkan.

Sejujurnya, aku tahu ada yang tidak beres dengan perilaku Shiina belakangan ini.

Tapi, aku terlalu takut untuk mengakuinya. Aku pura-pura tidak memperhatikan itu dan terus mengalihkan pandanganku.

Aku akhirnya menjadi depresi saat tidak melakukan apa-apa.

Dan itu seharusnya bukan sesuatu yang dilakukan oleh orang keren yang membuat Hina jatuh cinta.

“Aku akan menemui Shiina.”

Aku segera berdiri. Di bawah hujan ini, aku melihat ke depan.

“Boleh aku mengatakan sesuatu?”

Saat aku melewati Hina, aku bisa mendengar suaranya yang lemah dan bergetar.

Aku berpura-pura tidak menyadari isakan tangis di antara kata-katanya.

“… Kebahagiaanmu adalah kebahagiaanku… Jadi, raihlah kebahagiaanmu, oke… ?”

Aku pun berlari. Aku mengabaikan tetesan hujan saat berlari ke depan.

Aku ingin menjadi Shiraishi Godou keren yang membuat Hina jatuh cinta.

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Hina)

 

Aku memperhatikan punggung Godou sampai menghilang dari pandanganku.

Sepuluh tahun cintaku telah berakhir… Atau memang sudah sepuluh tahun?

Aku menyadari perasaanku padanya ketika aku berusia enam tahun, tapi aku mungkin sudah mulai mencintainya bahkan sebelum itu.

“Ah… Kenapa aku selalu seperti ini?”

Aku tahu bahwa aku akan ditolak jika aku menembaknya sekarang.

Aku selalu tahu bahwa Ia sangat mencintai Mai-chan.

Jika aku tidak membantunya, aku mungkin punya kesempatan.

Aku tahu bahwa ini akan terjadi jika aku memberinya dorongan.

…Aku tahu itu, tapi aku tetap melakukannya.

“Sungguh peran yang buruk untuk dimainkan ...”

Suara tiba-tiba mengagetkanku.

Aku berbalik untuk melihat Shinji yang berdiri di dekatku dengan tangan bersedekap.

“… Sejak kapan kamu ada di sana?”

“Sejak awal. Aku penasaran karena aku melihatmu mengejarnya, jadi aku mengikuti kalian berdua ke sini.”

Ia mengangkat bahu dengan santai. Aku ingin melabraknya karena sudah menguntitku, tapi aku tak bisa melakukan itu karena aku baru saja melakukan hal yang sama pada Godou. Kurasa itu sebabnya Ia secara terbuka mengumumkan kehadirannya seperti itu. Kudou Shinji selalu menjadi orang yang seperti itu.

“...Aku ini memang idiot, bukan?”

“Jika tujuanmu adalah kebahagiaanmu sendiri, ya, memang.” Kata Shinji dengan nada terus terang.

“Tapi bukan begitu masalahnya. Tujuanmu adalah kebahagiaannya, bukan?”

Ya, perkataannya memang benar. Jika tindakanku bisa membuatnya bahagia, maka itu sepadan. Tidak perlu bagiku untuk menjadi depresi.

“…Ya. Aku tidak keberatan selama dia bahagia...”

“Aku tidak peduli apa yang ingin kamu katakan pada dirimu sendiri, tapi tidak ada salahnya untuk menangis.”

Selama Godou bahagia, tidak ada lagi yang penting. Bukan harus aku yang membuatnya bahagia.

…Tidak, tentu saja tidak. Aku tidak menginginkan itu.

Aku ingin Ia menatapku. Aku ingin menjadi alasan kebahagiaannya

Aku ingin dirinya berhenti memikirkan Mai-chan. Setiap kali Godou memikirkannya, itu selalu membuatku merasa kesepian.

Menginginkan kebahagiaannya? Menginginkan dirinya mengikuti perasaannya? Itu semua bohong, aku tidak menginginkan itu. Tapi di saat yang sama, aku tidak ingin Ia meninggalkan Mai-chan sendirian. Aku ingin Mai-chan juga bahagia.

Itu sebabnya aku tidak menyesal.

Seandainya aku bisa memutar kembali waktu dan berada dalam situasi yang sama lagi, aku tahu bahwa aku akan melakukan hal yang sama lagi.

“Aku tahu kalau kamu tidak ingin menangis di depannya. Karena itu, menangislah di sini.”

Itu tidak adil, Shinji. Kamu tidak boleh mengatakan hal-hal seperti itu dengan lantang.

Tapi, aku tidak punya keinginan untuk membantahnya. Pandangan mataku menjadi kabur dan aku tidak bisa mengatakan apa-apa tanpa mengeluarkan isak tangis. Buliran air yang mengalir di pipiku terus keluar meski aku berusaha menghentikannya.

Aku sama sekali tidak menangis. Ini hanya tetesan air hujan yang membasahiku.

 

 

 

Sebelumnya || Daftar isi || Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama