[LN] Anti-NTR Jilid 2 Bab 2 Bahasa Indonesia

Chapter 2

 

[Aku membenci mereka. Aku sudah membenci mereka sejak lama, dan itu perasaanku dari lubuk hatiku yang paling dalam.]

Kalimat tersebut terus berputar-putar di dalam kepalaku.

Walaupun Ayana mengatakannya sambil tersenyum, kata-kata itu mencerminkan perasaan negatif yang jauh dari senyuman.

Pada awalnya, dunia ini berpusat pada karakter utama bernama Shu dan para heroine yang akan menjauhinya.

Karena masih ada rentang waktu sekitar satu tahun sebelum cerita dimulai, jadi tidak ada peristiwa yang terkait dengan cerita yang terjadi pada saat ini.

Namun, justru karena aku hidup sebagai Towa ... karena aku melihat sekilas ingatannya ... asumsiku mengenai seseorang telah runtuh.

(…..Ayana)

Ya, itu tentang Ayana, sang heroine utama. Tidak perlu dikatakan lagi, keberadaannya sangat besar di dalam hatiku, dan karena aku sudah menyukainya sejak aku bermain game, aku benar-benar mencintainya sebagai Towa dan sebagai diriku sendiri.

Karena kami sudah memiliki hubungan ... Yah, karena memang sudah seperti ini sejak awal, tapi mencintai seseorang dan saling mencintai memiliki arti yang sangat istimewa.

(Benar. ...... Semuanya sudah menjadi berantakan pada titik ini.)

Saat Towa dan Ayana memiliki hubungan, itu berarti rute yang aku ketahui sudah berubah. Karena Ayana tidak memiliki perasaan khusus untuk Shu ... artinya dia tidak jatuh cinta padanya, maka hubungan mereka tidak akan maju seperti dalam cerita.

Tirai cerita mulai dibuka ketika hubungan Shu dan Ayana mengambil satu langkah maju, tapi kemudian dari sana semuanya menjadi tidak karuan dan adegan tersebut—— Adegan di mana Shu menyaksikan Towa dan Ayana membeberakan hubungan mereka, dan berakhir dengan keputusasaannya.

(Mending aku kesampingkan dulu keberadaanku. Pertama-tama, Towa awalnya sudah menjalin hubungan dengan Ayana. Pada titik ini, aku tidak bisa membayangkan Ayana akan menerima pengakuan Shu….karena dia sangat mencintai Towa)

Pada titik ini, aku masih tak bisa membayangkan kalau mereka akan tetap menempuh rute yang sama seperti cerita aslinya.

Karakterisasi yang sering ditemukan dalam game yang bercerita tentang perselingkuhan, karakter-karakter yang muncul dalam cerita tersebut sering digambarkan sebagai orang yang sangat brengsek atau keparat.

Namun, aku tidak bisa membayangkan dia melakukan hal-hal seperti itu, terlepas dari kelemahanku karena jatuh cinta padanya. Karena dia adalah seorang gadis yang sangat baik hati.

Meskipun ibuku mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang Ayana pikirkan, tapi aku masih tidak mempercayai dia memiliki sifat jahat seperti itu.

(….... mungkin aku harus mengambil beberapa langkah lebih jauh.)

Ketika aku sedang memikirkan hal itu, aku kebetulan tiba di sekolah.

Biasanya aku pergi ke sekolah bersama Shu dan Ayana, tapi hari ini aku bangun kesiangan, jadi aku meminta mereka pergi ke sekolah lebih dulu.

Sebenarnya, kemarin sebelum tidur, aku memikirkan hal yang sama seperti sekarang, jadi aku tidak tidur sampai larut malam, mungkin lebih dari jam dua dini hari sebelum aku pergi tidur.

Aku menerima pesan dari Ayana yang bertanya apakah ada sesuatu yang terjadi, tapi aku hanya mengatakan bahwa aku terlambat bangun dan dia mengirim stiker lucu sebagai responsnya. Itu cukup membuatku merasa tenang di pagi hari.

“Hmm?”

Ketika aku sedang mengganti sepatu di depan kotak sepatu, aku melihat Iori dan Mari yang sedang mengganti kertas di papan pengumuman di dekat depan pintu masuk.

Aku merasa aneh melihat Mari yang tidak terkait dengan OSIS, bekerja bersama Iori, Ketua OSIS Namun, karena mereka berdua saling mengenal, jadi aku tidak berpikir itu aneh atau semacamnya.

Ketika aku terus memperhatikan mereka, mereka berdua tiba-tiba berbalik ke arahku. Mari tersenyum lebar dan melambaikan tangannya kepadaku, sementara Iori tersenyum tipis dan melambaikan tangannya juga kepadaku.

“…Apa aku akan dikatakan sesuatu jika aku hanya melambaikan tangan dan pergi?”

Sembari memikirkan sesuatu seperti itu, aku berjalan mendekati mereka berdua.

“Selamat pagi, Yukishiro-kun.”

“Selamat pagi, Yukishiro-senpai!”

Suara Iori terdengar tenang, tetapi suara Mari cukup keras.

Meskipun suaranya cukup terdengar, tetapi lorong di pagi hari cenderung bising, jadi suaranya juga menjadi bagian dari keramaian murid yang berdatangan dan aku tidak mempermasalahkannya juga.

“Aku bisa mengeti tentang Ketua, tapi apa yang sedang kamu lakukan, Mari?”

“Oh, mengenai itu sih ...”

Mari kemudian menjawab pertanyaanku.

Pada awalnya, Iori hendak melakukan penggantian lembaran cetak sendirian, tetapi Mari yang baru datang ke sekolah memutuskan untuk membantunya.

“Aku sudah bilang kalau aku tidak memerlukannya.”

“Bukannya itu tidak masalah?. Terlebih lagi, Honjo-senpai terlalu banyak melakukan semuanya sendirian.”

“Karena aku memang bisa melakukannya sendiri.”

Ups... Sepertinya suasana mendadak menjadi aneh, loh?

“Jika begitu, bukannya itu berarti kamu tidak perlu meminta bantuan Shu-senpai?”

“Ara, bukannya itu baik-baik saja? Pertama-tama, aku merasa kalau Uchida-san tidak memiliki hak untuk mengeluhkan hal tersebut.”

“... Gunununu!”

“Fufu ♪”

Ini sih awal  awal dari pertarungan para wanita untuk memperebutkan Shu, iya ‘kan?.

Tapi yah, jika aku melihatnya seperti ini tanpa memikirkan kisah aslinya, itu adalah pemandangan yang sangat aneh dan menyenangkan.

Mari yang begitu sibuk dengan kegiatan klub sehingga dia tidak punya banyak waktu, sedangkan di sisi lain, Iori dapat memanfaatkan waktunya dengan Shu karena ia tidak termasuk dalam klub….. Sejauh yang kuingat, mereka berdua hanya digambarkan jatuh ke tangan iblis yang mendekat, sehingga aku merasa sangat nyaman melihat situasi mereka yang sekarang.

(Kalau begini sih, bukannya aku cuma penggemar game biasa?)

Sambil tersenyum pahit di dalam hati, situasinya terus berkembang.

“Maka dari iru, aku juga akan membantu. Kebetulan hari ini aku tidak ada kegiatan klub!”

“Ara, benarkah? Jika begitu, boleh aku meminta bantuanmu?”

Tidak peduli seberapa banyak mereka berdebat, pada akhirnya mereka sepakat seperti ini, mungkin karena mereka memiliki kompatibilitas yang baik meskipun mereka adalah saingan dalam percintaan.

Dalam segi penampilan, mungkin terlihat seperti Iori yang lebih tua telah memanipulasi Mari yang lebih muda, tetapi itu juga bukan hubungan yang buruk.

“Hey, Yukishiro-kun.”

“Iya ada apa?”

Menghentikan percakapan dengan Mari, pandangan Iori beralih tertuju kepadaku.

“Aku ingin melihat momen ketika kamu, Otonashi-san, dan Shu-kun berada di dekatku. Jika kamu tidak keberatan, bisakah kamu membantuku dengan berbagai hal sepulang sekolah?”

“Membantu ...ya?”

Jadi itu berarti, apa aku bisa menganggap kalau dia meminta bantuan untuk Shu juga?

Aku sedikit penasaran apa yang terjadi dengan anggota OSIS lainnya, tetapi mungkin karena mereka adalah kelompok kecil yang bekerja dengan efisien dan sibuk dengan tugas-tugas lain sehingga mereka kekurangan tenaga kerja.

“Bukannya berarti kami kekurangan orang. Aku mengajak Shu-kun hanya karena aku ingin menghabiskan waktu bersamanya, dan aku mengundang Yukishiro-kun dan yang lainnya karena aku tertarik.”

“Jadi begitu ya……”

Rupanya masalahnya bukan tentang kekurangan tenaga kerja atau semacamnya, tetapi Iori hanya tertarik untuk melihat momen seperti itu secara pribadi.

Mari sedikit terkejut oleh kata-kata Iori yang jujur, tetapi dia tampak bertekad untuk membantu hari ini.

Kupikir aku bisa membantu dengan pekerjaan itu, tetapi karena nama Ayana disebutkan, aku tidak bisa menyetujuinya begitu saja.

“Aku akan bertanya pada Ayana dulu tentang hal itu. Aku tidak bisa memaksanya jika dia ada urusan.”

“Terima kasih. Aku akan menantikannya.”

Jika dia sangat menantikan hal itu, apa itu berarti sudah pasti kalau dia akan datang….?

“Tapi kalau memang benar begitu, aku bisa berbicara dengan Ayana-senpai secara santai untuk pertama kalinya setelah sekian lama~♪”

Melihat reaksi dari Mari yang tersenyum bahagia, aku jadi pasti ingin mengajak Ayana.

Meskipun janji di tempat itu ditunda dahulu, aku berpisah dengan mereka berdua dan menuju ke kelas.

“Towa-kun.”

“Towa.”

Begitu aku masuk ke dalam kelas, Ayana dan Shu yang sedang berbicara di dekat pintu masuk menyapaku.

Ayana sudah menghubungiku sebelumnya, jadi Shu pasti telah mengetahui bahwa aku terlambat. Namun, Ayana yang berbicara denganku secara langsung, diam-diam memeriksa seluruh tubuhku dengan tenang, seolah-olah dia memastikan bahwa aku baik-baik saja.

“Tumben sekali kamu bangun kesiangan, Towa.”

“Karena aku begadang cukup lama. Kurasa seharusnya  aku memang jangan begadang sampai larut malam.”

Sambil mengatakan itu, aku menuju ke tempat dudukku dan mereka mengikuti dengan santai.

Sambil tersenyum kecut di dalam hati, aku menceritakan pertemuanku dengan Ketua OSIS dan Mari tadi kepada mereka berdua.

“Saat tadi di pintu masuk, aku bertemu dengan Ketua dan Mari——” 

Aku juga menceritakan tentang permintaan bantuan yang diberikan oleh Iori setelah sekolah, serta tentang keinginan Mari untuk berbicara dengan Ayana. Shu tidak menolak dan tampaknya Ayana juga kelihatan senang.

“Aku sih tidak keberatan. Aku ingin melihat sejauh mana kedekatan Shu-kun dengan Honjo-senpai atau Mari-chan♪”

“Ke-Kenapa malah jadi begitu...?”

“...Haha.”

Interaksi antara Ayana dan Shu…. Tidak lebih dari momen mereka sebagai teman masa kecil.

Hanya dengan melihatnya saja membuatku teringat akan kebahagiaan mereka dalam game dan suasana yang begitu damai sehingga aku tidak bisa membayangkan sebuah tragedi terjadi di sana.

Namun, satu-satunya hal yang pasti adalah bahwa aku memiliki hubungan dengan Ayana, dan hanya dalam hal itu saja aku sudah mengkhianati Shu.

[Aku ingin kamu mendukungku dalam menjalin hubungan dengan Ayana.]

Kata-kata yang pernah ia ucapkan padaku di kamar rumah sakit kembali teringat di dalam pikiranku.

Perasaan campur aduk tentang bagaimana Ayana adalah gadisku dan bagaimana perasaan itu mengubah diriku menjadi lebih gelap. Namun, hubungan yang telah terjalin antara Ayana dan diriku telah memberikan rasa superioritas pada diriku yang membuatku merasa tenang terhadap perasaan itu... ini adalah perasaan yang sangat rumit.

“Towa-kun?”

“Eh... apa?”

Tampaknya aku lagi-lagi tenggelam dalam pemikiranku sendiri.

Saat aku menyadarinya, Shu sudah tidak ada di sana, dan Ayana menatapku dengan khawatir.

“Di mana Shu?”

“Ia pergi ke toilet.”

“Begitu ya.”

“...Kamu yakin benar-benar tidak ada yang terjadi?”

“Beneran tidak ada apa-apa.”

Setelah aku memberitahu itu, Ayana menempelkan telapak tangannya di dahiku.

Dia terus memperhatikan setiap perubahan dengan seksama, jadi aku tersenyum kecut dan memegang tangannya, memberitahukan bahwa aku baik-baik saja dan tidak ada yang terjadi.

“Aku beneran baik-baik saja. Seperti yang sudah kubilang ketika bangun pagi tadi.”

“Habisnya... kemarin, kamu tiba-tiba mengirimkan pesan lucu seperti itu kepadaku, kan?”

“...Jangan bicarakan itu.”

Itu hanya sebuah ide yang tiba-tiba muncul. Untuk beberapa alasan, aku mengkhawatirkan Ayana, jadi aku mengirim pesan itu tanpa berpikir terlalu banyak.

Tentu saja, aku menyesal karena pesan itu tidak masuk akal dan tidak memiliki sedikitpun rasa humor. Tolong maafkan aku.

“Fufu♪ Aku sangat terkejut karena itu bukan seperti Towa-kun biasanya, tapi aku senang bahwa kamu khawatir tentangku.”

“...Begitu ya.”

“Ya. Karena aku juga sedang memikirkan tentang Towa-kun. Dan juga tentang apa yang terjadi tadi sore."

“Entah kenapa…kita seperti saling terhubung, ya..."

Kata-kata itu membuatku merasa sedikit malu untuk mengatakannya.

Meskipun jarak antara kami berdua jauh, tapi perasaan kami saling terhubung... Aku merasakan hal itu semalam dan kata-kata itu keluar dengan sendirinya.

Ayana terkejut dan tercengang, tapi kemudian dia menempelkan tangannya di mulutnya dan tersenyum cerah.

Ketika aku melihat tatapan matanya yang lembut, aku merasa seolah-olah terbungkus dalam kebaikan yang dimilikinya.

Aku merasa seperti diingatkan untuk tidak memikirkan hal yang sulit. Ini seperti perasaan yang pernah aku rasakan sebelumnya.

“Kita sama-sama merasakannya. Kita berdua terhubung... Aku juga merasakannya kemarin~♪”

Saat aku melihat senyum Ayana, dunia di sekelilingku seakan-akan menghilang.

Jika aku mengatakan dengan cara yang romantis, aku terpesona oleh senyumnya yang membuatku tak bisa menghitung berapa kali aku terpesona olehnya.

Aku dibuat terpesona... Ya, aku benar-benar terpesona oleh senyumannya.

Aku tidak benar-benar berpikir bahwa hanya aku dan Ayana saja yang ada di dunia ini, tetapi aku mengulurkan tanganku ke arahnya.

Ayana tersenyum lebih lebar saat melihat tanganku yang telah diulurkan dan memanggil namaku dengan lembut.

“Towa-kun”

[Towa-kun]

Namun, aku justru mendengar dua suara.

Tidak mengherankan jika aku ingin mengucek mataku... Karena di depan mataku, ada dua Ayana.

Selain Ayana yang tersenyum padaku, ada sosok Ayana lain yang tersenyum dengan senyum yang lemah dan hampir menghilang setiap saat... Ayana itu segera menghilang dan ketika suara kembali, hanya ada satu Ayana di depanku.

“Apa ada yang salah?”

“….Tidak apa-apa.”

Ini terjadi lagi... Hal ini pernah terjadi ketika aku melihat gambaran gadis dengan hoodie hitam itu.

Waktu itu juga sama begitu, tapi setiap kali aku mengalami fenomena aneh seperti ini, ekspresiku pasti berubah drastis sehingga membuat Ayana merasa aneh.

(Aku tahu bahwa ini tidak normal. Aku tahu... Tapi ketika aku tiba-tiba melihat pemandangan aneh seperti ini, ekspresiku pasti berubah.)

Aku merasa bersalah karena selalu membuat Ayana khawatir, tetapi aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan kata-kata. Sebaliknya... Tidak, jika itu Ayana, dia pasti akan mendengarkan dengan serius dan percaya padaku.

Jika memang begitu masalahnya, bagaimana jika aku menceritakannya saja...?

“Gaduh sekali ~. Cepat duduk ke tempat kalian masing-masing ~”

“Ah... Towa-kun, aku akan kembali nanti.”

Guru wali kelas datang, jadi Ayana kembali ke tempat duduknya. Sedikit terlambat, Shu juga kembali, tetapi karena bel belum berbunyi, tidak ada yang dikatakan padanya dan segera upacara pagi dimulai.

“Kami akan mengadakan upacara pagi untuk seluruh siswa pada akhir pekan. Selain itu——”

Sambil mendengarkan pembicaraan guru, aku membaca buku catatan itu lagi. Buku catatan yang berisi tidak hanya pengaturan tentang dunia ini, tetapi juga semua fenomena aneh yang terjadi di sekitarku.

“Baiklah, kurasa ini cukup.”

Yang baru saja aku catat adalah fenomena aneh yang aku lihat tadi. Ayana yang tersenyum cerah dan Ayana yang tersenyum lemah... Mungkin aku salah melihatnya, atau bahkan mungkin aku sendiri yang mulai tidak normal.

Tidak lama kemudian waktu istirahat tiba dengan cepat.

Setiap kali Ayana menghampiriku dengan kekhawatiran, aku selalu mengatakan bahwa aku baik-baik saja seraya meyakinkannya, dan akhirnya dia menjadi lega.

“Meski begitu, aku masih tak menyangka kalau Towa dan Ayana akan datang membantu.”

“Aku benar-benar mintaa. Sepertinya aku mengganggu waktumu dengan Honjo-senpai.”

“Tidak, sudah kubilang hal semacam itu…. Aku...”

“Ah Shu-kun, ada nasi di bibirmu, loh~?”

Ayana mengambil sebutir nasi yang menempel di bibir Shu.

Shu gampang sekali tersipu dengan wajah merah padam dan memandangi Ayana dengan tatapan kosong, tetapi Ayana hanya tersenyum kecil dan tidak melakukan apa-apa lagi.

Jika adegan ini dipotong saja, maka itu mirip seperti gambaran dari game yang aku kenal.

Shu tersenyum dengan tulus dalam pertukaran itu, dan Ayana dengan senyum lembut yang seolah-olah bisa memahami perasaannya saat Shu merah padam... Namun, aku masih merasa bahwa ada sesuatu yang seperti akting dalam adegan itu. Seakan-akan mencoba membuat dirinya terlihat lebih baik agar orang lain terpesona... Mungkin aku terlalu berpikir keras?

“Towa-kun? Apa ada yang salah? Kamu malah melamun begitu.”

“Eh? Oh, enggak, maaf, aku hanya sedang memikirkan sesuatu ...”

“Fufu, apa jangan-jangan ... Kamu terpesona denganku?”

Ayana berkata begitu sambil tersenyum.

Meskipun senyumnya sama seperti yang ditujukan pada Shu, tapi aku tidak merasa malu seperti Shu dan mengatakan apa yang kupikirkan.

“Ketimbang dibilang terpesona, aku sudah tergila-gila oleh daya tarik Ayana.”

“Ah ...”

Kedengarannya konyol ... wahh, punggungku jadi gatal karena merasa geli sendiri!

Aku menyesal mengatakannya sendiri, tetapi sepertinya itu cukup efektif karena Ayana menatapku sejenak dengan mata terbuka lebar, tetapi segera memerah dan menunduk.

Meski reaksinya  yang begitu sangat lucu, tapi kelihatannya Shu tidak terlalu senang.

“Aku juga berpikir hal yang sama tentang Ayana! Ayana selalu kelihatan imut!”

“Ah, ya. Terima kasih banyak.”

Meskipun Shu mengucapkan kata-kata itu dengan penuh semangat, tapi sepertinya itu tidak memengaruhi Ayana sama sekali.

Apa yang baru saja aku rasakan sekarang──── Shu yang masih sama seperti pada game dan Ayana yang tampaknya acuh tak acuh padanya ... Akubertanya-tanya apakah dia pernah memandang Shu dengan tatapan kosong seperti itu sebelumnya, tetapi aku akan mencatat ini di buku catatan saya nanti.

Setelah makan siang, kami bertiga masih bersama-sama. Namun, teman Ayana melewati kami dan menarik lengannya untuk membawanya pergi, meninggalkan aku berduaan dengan Shu dan tidak ada percakapan.

“…Hei, Towa.”

“Apa?”

Meskipun kami tidak berbicara, bukannya berarti suasana di antara kami menjadi buruk, hal ini tidak jauh berbeda seperti kami mampir ke salah satu rumah untuk bermain game atau membaca manga serta melakukan hal-hal lainnya dengan tenang.

Ketika aku mengalihkan pandangaku ke arah Shu, ia melanjutkan perkataannya sambil menatapku.

“Towa...kamu akan mendukungku dan Ayana, ‘kan?”

“…………”

Aku terdiam sejenak.

Ada banyak hal yang ingin aku komentari terhadap perkataan Shu, dan campuran antara rasa superioritas dan kemarahan yang terpendam di dalam hatiku terus memicu emosiku.

Namun anehnya, emosi itu dengan cepat mereda dan kata-kata yang keluar dari mulutku terdengar lancar seolah-olah aku sudah mempersiapkan itu sebelumnya.

“Entahlah, jika kamu terlalu lambat dan plin-plan, aku mungkin akan mengambilnya, loh?”

“Tidak... Kamu tidak boleh melakukannya!”

Bagaimana ia bisa berkata seperti itu dalam posisinya saat ini?

Segera setelah itu bel berbunyi, dan untuk mempersiapkan diri untuk pelajaran selanjutnya, Shu kembali ke tempat duduknya dan aku mulai mencatat hal-hal penting ke dalam buku catatanku.

Ketika itu, aku memikirkan sesuatu sambil membaca tulisan di buku catatanku.

(Pada akhirnya, di mana letak kehendakku sendiri….?)

Aku hanya perlu bergerak sendiri dan mengikuti aturan saja, tapi aku terus saja merasa bimbang.

Saat aku pertama kali terbangun di dunia ini, aku sangat yakin bahwa tujuanku adalah untuk menyatukan hubungan Shu dan Ayana tanpa mengikuti alur cerita dalam game.

Tapi akhirnya, aku merasa tidak nyaman dengan pemikiran itu dan akhirnya terbawa suasana dan mulai menghabiskan waktu manis dengan Ayana di belakang Shuu yang tidak tahu apa-apa.

(Aku ingin bersama Ayana, aku ingin melindunginya...Itulah yang aku rasakan karena ingatan yang kumiliki sebagai Touwa dan pengalaman yang kurasakan bersama Ayana.  Aku merasa tidak bisa, atau leih tepatnya aku tidak ingin mempercayakannya kepada Shu, karena itu adalah keinginanku sendiri.)

Seandainya aku hanya menjadi pemain game yang tidak memikirkan hal-hal seperti itu, mungkin hidupku akan lebih mudah.

Tidak peduli seberapa banyak aku memikirkan hal-hal semacam itu, pada akhirnya tindakan yang aku lakukan akan menentukan bagaimana cerita ini berakhir, dan bagaimana Ayana dan Shu akan berubah bergantung pada tindakanku.

Mereka memiliki kehendak sendiri— mereka bukanlah sekedar karakter yang telah diprogram untuk melakukan sesuatu—mereka adalah manusia yang hidup di dunia ini.

“... Haaah.”

‘Janganlah mengeluh. Setiap kali kau mengeluh, kebahagiaanmu akan pergi sejauh napasmu.' Siapa yang bilang kata-kata seperti itu?

Tapi yah, jika dipikir-pikir lagi dengan tenang, aku baru terbangun sebagai Touwa selama sekitar seminggu—— jadi jika aku mempertimbangkan semua fakta yang telah terungkap selama seminggu ini dan informasi yang telah kurangkum, maka aku harus memuji diriku sendiri karena bisa tetap tenang seperti ini.

Tentu saja aku tidak bisa tenang dengan semua kejadian yang terjadi, tapi sepertinya jiwa-ku yang sebenarnya telah menyatu dengan tubuh Towa.

“...fuaaah.”

Apakah aku terlalu santai sehingga aku menguap dengan keras seperti itu?

Saat ini sedang berlangsung pelajaran bahasa jepang klasik dan aku tertangkap oleh mata guru wanita yang bertanggung jawab karena aku menguap seperti orang bodoh.

“Yukishiro-kun? Apakah kamu terlalu bosan mengikuti pelajaran ini?”

“...tidak, saya minta maaf.”

“Lain kali hati-hati,oke? Karena sikap belajar kamu selalu baik, aku akan mentolerirmu kali ini. Tapi, ingatlah bahwa aku akan marah pada kali berikutnya.”

“Baiklah.”

Aku menggaruk kepala setelah mendengar kata-kata guru dan mendengar tawa cekikikan dari orang-orang di sekitarku.

Ketika aku melihat sekeliling, selain Ayana dan Shu yang duduk jauh dariku, bahkan Aisaka juga tertawa. Rasanya sangat memalukan... Jika ada lubang, aku ingin masuk ke dalamnya.

 

▽▼

 

Meskipun ada insiden ketika aku menguap besar selama pelajaran dan ditegur oleh guru, tidak ada yang aneh terjadi setelah itu dan waktu berlalu tanpa kejadian.

Aku berusaha menahan kantuk selama pelajaran dan setelah itu, kami pergi ke ruang OSIS untuk memenuji janji membantu.

“Permisi.”

Kami bertiga mengunjungi ruang OSIS dengan dipimpin Shu.

Ini adalah kedua kalinya aku datang ke ruangan ini, tapi aku tidak pernah berpikir bahwa kami akan berkumpul di sini bersama-sama.

“Selamat datang, kalian bertiga.”

“Shu-senpai! Halo selamat siang, Ayana-senpai dan Yukishiro-senpai!”

“Ya. Halo kalian berdua.”

Iori dan Mari sudah bekerja sambil duduk di kursi mereka, dan Shu duduk di samping mereka dengan sangat alami.

“Otonashi-san dan Yukishiro-kun, silahkan duduk dimanapun kalian suka.”

Setelah diberitahu begitu, aku dan Ayana duduk bersebelahan.

Tampaknya Shu dan Mari juga pernah membantu beberapa kali, dan sepertinya Ayana juga sesekali membantu saat memperkenalkan Shu kepada Iori.

Dengan kata lain, cuma aku satu-satunya yang tidak tahu apa-apa.

“Biar aku saja yang akan mengajari Towa-kun. Tugasnya tidak terlalu berbeda dari sebelumnya, ‘kan?”

“Ya. Yukishiro-kun, meski aku menyebutnya bantuan, kamu bisa melakukannya dengan santai. Kali ini, aku memanggil kalian semua untuk menghabiskan waktu yang menyenangkan bersama-sama.”

“Woke.”

Setelah itu, Ayana mengajariku tentang bagaimana melakukan pekerjaan.

Itu bukan pekerjaan yang dapat disebut sebagai pekerjaan seperti yang dikatakan Io, tetapi sebagian besar hanya memeriksa cetakan dan memeriksa apakah ada kesalahan.

“Ini ... Hmm. Sepertinya baik-baik saja ... Ini ...”

Di sebelahku, Ayana dengan lancar menyortir cetakan.

Karena Shuu dan Mari sudah terbiasa, gerakan tangan mereka cepat, dan tentu saja aku yang paling lambat di antara mereka, tetapi aku terus bekerja tanpa panik seperti yang diberitahu Iori.

“Tapi tetap saja, ketika ada lima orang berkumpul seperti ini, suasanya menjadi sangat ramai, ya.”

“Bener banget! Rasanya sangat menyenangkan karena ada Shu-senpai juga!”

“Tu-Tunggu sebentar, Mari !?”

Setelah berhenti sejenak dari pekerjaannya, Mari melompat ke arah Shu.

Meskipun Shuu terkejut dengan sentuhan tubuh yang tiba-tiba, tapi ia terlihat cukup tenang seolah-olah hal seperti ini terjadi beberapa kali sebelumnya.

“Ara ara~, kalian berdua sangat dekat ya.”

“Ya! Aku sangat dekat dengan Shu-senpai!”

“Jangan berbicara dengan suara keras di telingaku, Mari."

“Maaf!”

“Sudah kubilang...!”

Meskipun sedikit berisik... Aku berpikir itu adalah BGM yang bagus sambil dengan santai menangani lembar cetakan.

Dengan bergabungnya Iori, suasanya menjadi lebih hidup, tapi aku tidak merasa tidak nyaman dengan suasana yang menyenangkan begini, dan tanpa disadari, aku berhenti bekerja dan melihat mereka bertiga bermain-main.

 (... Entah kenapa, ini pemandangan yang bagus.)

Shu yang bertingkah panik, lalu Iori dan Mari yang saling bersentuhan dengannya untuk memperpendek jarak antara mereka ... benar sekali, itu adalah pemandangan yang sering terlihat dalam komedi romantis, bukan dalam game erotis.

“Bukanya kamu terlalu dekat!”

“Ara, memangnya kamu tidak ngaca?”

“Sudah kubilang, kalian berdua! Jangan berdebat satu sama lain di depanku!”

Meskipun ia meminta mereka untuk berhenti, Shu juga tersenyum dengan senang hati.

Ketika aku melirik, Ayana yang berada di sampingku juga menatap ketiga orang itu, meskipun matanya tidak terlihat karena terhalang rambutnya.

“Apa mereka selalu seramai ini?”

“Eh? Ahh iya. Memang ... Mereka jauh lebih baik daripada yang aku bayangkan dan terlihat menggemaskan.”

Aku mendengar bahwa Ayana lah yang memperkenalkan Shu kepada Iori dan Mari. Aku tahu kalau Shu tidak memiliki kepribadian yang cerah seperti sekarang, jadi keberadaan Iori dan Mari pasti memainkan peran besar dalam perubahannya ini.

Jika Ayana memikirkannya sampai sejauh itu, semua orang akan berpikir, termasuk diriku, bahwa dia adalah seorang gadis baik hati yang selalu bersikap baik kepada teman masa kecilnya.

“Fufu, aku merasa senang mereka menjadi begitu dekat.”

“..........”

Senyumnya terlihat begitu indah sehingga aku tidak bisa melepaskannya dari pandanganku. Menatapnya adalah hal yang wajar, tapi rasanya ada sesuatu yang lebih dari itu. ...... Sebenarnya, apa wujud dari perasaan tidak nyaman ini?

“..... Ayana.”

“Ya?”

Apa kamu benar-benar tertawa dalam arti yang sebenarnya?

Saat aku hendak menanyakan pertanyaan itu, Mari memeluk Ayana dari belakang, dan Ayana menjerit kecil, yang mana membuat pertanyaan itu menjadi tidak relevan.

Meskipun aku tahu kalau aku bisa selalu menemukan waktu untuk berdua dengan Ayana, aku memutuskan untuk menyerah pada kesempatan ini karena waktunya kurang tepat.

“Ayana-senpai! Bagaimana caranya supaya aku bisa menjadi gadis yang berpostur tubuh bagus seperti Ayana-senpai dan Honjou-senpai?”

“Gadis dengan postur tubuh yang bagus ... ya?”

“Ya! Seperti yang kuduga ... Demi menggoda pria, memiliki payudara besar pasti memberikan keuntungan yang besar, bukan?”

“Kamu bisa memberitahuku mengapa kamu memikirkan hal seperti itu terlebih dahulu, Mari-chan.”

Ketika percakapan antara wanita tiba-tiba dimulai, aku menatap Iori seolah ingin mengalihkan pandanganku.

Dia berdiri di samping Shu dengan senyum nakal di wajahnya dan aku dengan cepat menyadari bahwa dia telah mengejek Mari tentang postur tubuhnya.

Sepertinya Ayana juga menyadari hal itu, dan dia menghela nafas kecil.

“Mari-chan, daya tarik seorang wanita bukan hanya dari postur tubuhnya. Yang penting adalah kepribadian dan perasaan untuk memikirkan pasangan.”

“Perasaan untuk memikirkan pasangan ...ya?”

“Ya, benar sekali. Sebaliknya, lebih baik jangan terlalu mempercayai apa yang dikatakan Honjou-senpai. Ini demi kebaikanmu juga, Mari-chan.”

“Tunggu sebentar, Otonashi-san, bukannya perkataanku terlalu berlebihan?”

Seketika itu juga, Iori juga bergabung dalam percakapan mereka.

Aku dan Shu tidak bisa ikut campur dalam percakapan mereka, jadi kami hanya diam-diam menyelesaikan tugas kami.

“Towa, bagaimana dengan bagian tugasmu?”

“Lancar-lancar saja. Aku sudah mulai terbiasa.”

Jumlah lembar cetakan Shu juga sudah jauh lebih menipis dan kami berdua sudah hampir selesai.

Termasuk Ayana, Iori dan Mari semuanya membuat keributan, dan aku ingin bertanya apa yang terjadi dengan pekerjaan mereka, tapi... rasanya tidak buruk juga melihatnya seperti ini.

“...haha.”

Ketika melihat tingkah laku mereka, hal tersebut secara alami membuatku tersenyum.

Pemandangan ketiga gadis cantik yang terlihat akur memang memanjakan mata... tapi lebih dari itu, pemandangan Ayana yang tampak bersenang-senang dikelilingi oleh mereka berdua meninggalkan kesan terbesar bagiku.

“Kelihatannya menyenangkan sekali.”

“Ya, kurasa begitu... Sekarang, mari kita kerjakan sisa pekerjaan untuk ketiganya.”

“Baiklah.”

Jadi, mari kita bersama-sama membereskan sebanyak mungkin sisa pekerjaan yang ada.

Namun ... setelah beberapa menit berlalu, Aku dan Shu saling bertukar pandang dan bertanya-tanya siapa yang akan memberikan kritikan pada mereka.

“Kalian berdua, jangan menggelitikku terus, sih.”

“Enggak masalah ‘kan? Cuma sebentar saja kok ... oh, lembut sekali.”

“Rasanya aneh sekali. Menyentuh dada orang lain seperti ini.”

Mereka malah membicarakan hal seperti itu.

Percakapan itu terjadi di belakangku dari segi posisi, sedangkan Shu, yang duduk di seberangku, dirinya pasti bisa melihat percakapan di antara mereka bertiga kalau ia mendongakkan kepalanya sedikit.

“….!!....!?!?”

Ia berulang kali melirik ke arah belakangku dari tadi dan tersipu malu, seolah-olah ia mencoba membuatku tertawa dengan perilakunya yang benar-benar mencurigakan.

Tapi ... yah, aku juga merasa penasaran dengan hal ini.

Aku memejamkan mata dan berkonesentrasi pada belakangku.

Aku bisa mendengar suara Ayana yang merasa geli, suara Iori dan Mari yang terdengar senang, suara saat tangan menyentuh baju, suara langkah kaki saat mereka bergoyang-goyang ... sebagai seseorang yang telah memainkan banyak game galge dan eroge, gambaran itu muncul dalam pikiranku.

“Towa? Entah kenapa wajahmu jadi sangat luar biasa.”

“Lebih tepatnya?”

“Kamu tidak terlihat seperti biasanya."

“Ups, itu tidak baik."

Aku menampar kedua pipiku dengan keras untuk mempertahankan ekspresi yang tajam.

Meskipun kebisingan di belakang terus berlanjut, suara mereka terdenagr seperti musik latar yang menenangkan bagi ku ketika fokus pada pekerjaanku.

Sejujurnya, aku selalu merasa hal-hal seperti ini sangat merepotkan. Tapi membantu seseorang seperti ini rasanya tidaklah buruk, dan yang lebih penting lagi, melihat Ayana tampak bersenang-senang adalah hal yang membuatku bahagia.

 (…Oh, begitu ya. Itu benar.)

Aku merasa seperti berhasil memecahkan teka-teki ketika aku mulai memikirkan apa yang bisa kulakukan jika aku tertarik pada Ayana di dunia ini dan ingin bersamanya.

Tapi tetap saja, pada kenyataannya aku hanya terbawa arus oleh situasi.

Namun, akar dari semua itu adalah keinginan untuk melihat Ayana tersenyum. Itulah satu-satunya hal yang tidak berubah dan aku hanya kembali pada pemikiran itu.

 (Tapi bukannya itu tidak masalah? Aku akan melindungi Ayana... demi mewujudkan itu...)

Aku pun berbalik. Adegan dengan gadis-gadis cantik yang saling bergandengan tangan sudah tidak ada lagi. Meskipun mereka hanya sedang berbicara, tapi Ayana masih tersenyum.

Tidak hanya Ayana, tapi juga Iori dan Mari terlihat tersenyum dengan tulus.

 (Aku ingin melindungi adegan ini... Sejujurnya, mungkin itu sulit dibayangkan bagi Kotone dan Hatsune-san, tapi aku yakin Ayana akan sedih jika dia tahu tentang masa depan di mana keduanya tidak bahagia)

Tentu saja, seperti yang selalu kusampaikan, dunia ini sudah menjadi kenyataan bagiku.

Semuanya tTdak selalu berjalan sesuai dengan ingatanku, dan aku kadang-kadang melihat hal-hal aneh dan mendengar suara-suara misterius... Tetapi mari kita pikirkan bahwa semuanya pasti memiliki arti tertentu.

“Kuh...”

Saat aku memikirkan hal itu, aku meraih kepalaku sembari menunduk sedikit.

Dua adegan muncul di pikiranku seolah-olah pemandangan di hadapanku berubah—— adegan di mana Iori dan Mari dinodai dan dirusak oleh tangan pria.

 (Lagi-lagi... kamu ya...)

Dan kemudian bayangan seseorang yang mengenakan hoodie hitam muncul di samping mereka dalam pikiranku.

Pemandangan segera kembali menjadi normal dan aku hanya menahan kepalaku dengan ringan, jadi aku takkan membuat orang lain khawatir.

Sambil mengangguk, aku menyadari bahwa aku juga membutuhkan memo, tapi aku merasa senang karena akhirnya menemukan apa yang aku cari.

Meskipun aku belum mengerti arti dari banyak pemandangan yang telah aku lihat tadi, tapi mempunyai firasat kalau ada sesuatu yang mempengaruhi ingatanku.

“Towa-kun?”

“Hmm?”

“Kenapa kamu menunjukkan wajah kesulitan lagi?”

“Enggak kok. Sebaliknya, aku merasa sedikit lebih baik.”

“Eh? Benarkah?”

“Ya.”

Ya, bisa dibilang kalau aku merasa cukup baik-baik saja. Aku akhirnya mendefinisakan kembali tentang apa yang ingin aku lakukan.

*******

[Sudut Pandang Shu]

“Ketua, biar aku saja yang melakukannya.”

“Baiklah, kalau begitu, boleh aku minta bantuanmu?”

Meskipun itu mendadak, tapi bahkan Towa datang untuk membantu Iori-senpai dan sekarang hampir selesai.

Bagiku—Sasaki Shu— membantu Iori-senpai sudah menjadi sesuatu yang biasa, tetapi bagi Towa, ini adalah pertama kalinya baginya dan ia merasa kesulitan.

(Tapi Towa sungguh luar biasa ... karena pada akhirnya, ia bisa melakukan semuanya dengan mudah)

Towa hanya mengalami kesulitan pada bagian aal saja.

Tentu saja, pekerjaan yang ditugaskan Iori-senpai padanya sangat mudah, tetapi semuanya adalah pekerjaan yang kulakukan ketika aku pertama kali bertemu dengan Iori-senpai.

Pada waktu itu…. aku benar-benar tidak berguna, atau lebih tepatnya, aku menghabiskan beberapa hari mencoba mempelajari berbagai hal sambil mendengarkan Iori-senpai.

(Meski begitu…. Towa sudah bisa melakukan semuanya dengan mudah)

Towa mampu menyelesaikan dalam waktu singkat mengenai pekerjaan di mana aku perlu beberapa hari membiasakan diri untuk melakukannya.

Dirinya sudah bisa mencari tugasnya sendiri dan melakukan berbagai pekerjaan seperti mengatur dokumen serta tugas lainnya, ia bahkan bekerja berdampingan dengan Iori-senpai.

“…………”

Aku senang ia membantuku dan yang terpenting ... hanya dengan adanya Ayana di sini membuatku bahagia.

Tapi ... tapi!

Aku merasa tidak nyaman dengan perbedaan kemampuan antara diriku dan Towa semakin jelas.

Aku merasa seperti ia secara implisit memberitahuku bahwa tidak peduli seberapa jauh aku melangkah, aku tidak bisa mengalahkannya, dan suasana hatiku semakin lama semakin sedih.

Dan yang lebih buruknya lagi….Ayana bahkan memuji Towa.

“Towa-kun benar-benar bisa melakukan apa saja. Hebat banget♪”

Mengapa ... aku ingin berteriak bahwa aku juga sudah berusaha keras.

Hei Ayana, bukannya aku berada di sampingmu! Kenapa kamu hanya melihat Towa tanpa melihatku yang duduk tepat di sebelahmu!

Rasa cemburu tumbuh dalam diriku sampai aku merasa jijik pada diriku sendiri.

Aku ingin dikatakan bahwa aku juga berusaha keras dan ingin dipuji, tetapi itu akan menjadi sangat memalukan ...

(Selain itu….selain itu!)

Situasi ini membuatku teringat saat jam istirahat makan siang.

Dulu, di kamar rumah sakit, aku meminta bantuan Towa untuk mendukungku dengan Ayana ... Ia tidak memberikan jawaban saat itu, tetapi ia hanya mengangguk kecil. Namun ...

[Entahlah, jika kamu terlalu lambat dan plin-plan, aku mungkin akan mengambilnya, loh?]

Ia menunjukkan ekspresi provokatif yang cocok untuk wajah tampannya. Mempunyai wajah tampan itu curang ... apalagi Towa benar-benar tidak adil.

Berbeda denganku, ia bisa melakukan apa saja, ia memiliki segalanya ... disukai oleh banyak orang ... Ia benar-benar memiliki banyak hal yang tidak dimiliki olehku.

“Shu-kun.”

“Ah ... Ayana?”

Tanganku berhenti bekerja karena aku membandingkan diriku.

Karena Ayana menatapku dengan penasaran, aku bekerja sekeras mungkin untuk menyelesaikan pekerjaan dan memberitahunya bahwa aku melakukan pekerjaan dengan benar…. meskipun aku tidak bisa mengatakan bahwa aku ingin dipuji.

“Shu-kun. Yang bagian ini salah, loh?”

“Ehh?”

“Angkanya salah. Dan ini satu baris lebih rendah.”

“……...”

Aku menyadari kesalahanku setelah Ayana menunjukkannya padaku.

Aku tahu bahwa setiap orang pasti akan membuat kesalahan kecil ketika mereka bekerja sambil memikirkan sesuatu, jadi aku harus berhati-hati.

Aku bukan anggota resmi OSIS, tapi karena Iori-senpai memintaku untuk membantunya, aku harus bertanggung jawab dan melakukan yang terbaik!

“Huff ... baiklah!”

Aku menampar pipiku seperti yang dilakukan Towa sebelumnya.

Suara yang jelas bergema dan pipiku sedikit memerah karena rasa sakit, tapi itu membuatku semakin bersemangat!

“Shu-senpai kelihatan sangat semangat ...!”

“Fufu, ada bagusnya merasa termotivasi. Tolong lakukan yang terbaik ya, Shu-kun.”

Ketika Ayana memberiku semangat, aku tidak punya pilihan lain selain harus bekerja lebih keras.

Didorong oleh keinginan untuk dipuji, keinginan untuk berguna, dan rasa persaingan agar tidak kalah dari Towa, aku melanjutkan pekerjaan.

“Jika ada sesuatu, tolong beritahu aku, ya? Aku akan membantumu dengan apa pun.”

Ayana mengatakan demikian sambil menatap wajahku, tapi aku menggelengkan kepalaku.

Membantuku dengan apa saja? Seriusan? Aku teringat kata-kata yang kupelajari dari internet, tapi aku merasa bahwa aku adalah seorang pria yang menghargai Ayana ... itulah sebabnya aku tidak pernah membuat permintaan yang aneh-aneh.

“Jangan khawatir. Aku bisa melakukannya sendiri.”

“Wahhh ... kamu keren banget, Shu-senpai!”

Aku tidak bermaksud untuk berpura-pura terlihat keren ... tapi sejujurnya aku merasa senang mendengar Mari berkata demikian.

Mata Ayana membelalak kaget ketika mendengar jawabanku, dan aku memiringkan kepalaku karena merasa bingung tentang apa yang membuatnya begitu terkejut.

“Apa ada yang salah?”

“Tidak, bukan apa-apa. Aku hanya sedikit terkejut saja.”

“Terkejut kenapa?”

“Kupikir Shu-kun pasti akan segera memintaku untuk membantumu. Aku tidak pernah menyangka kamu akan dengan percaya diri menolak tawaranku.”

“…Aku hanya ingin menunjukkan bagianku yang keren sesekali.”

“Ehh?”

“Bukan apa-apa!”

Sambil meminta maaf karena sudah berteriak keras, aku berkonsentrasi kembali pada pekerjaanku.

Mungkin aku terlalu berusaha keras untuk terlihat keren? Aku khawatir orang-orang akan berpikir aneh tentangku ... sambil memikirkan hal itu, aku diam-diam melihat Towa dan Iori-senpai.

“Ya, bagian itu sudah benar di sana.”

“Syukurlah.”

“Dan dokumen berikutnya ... yang ini. Bisakah kamu menyelesaikannya?”

“Tentu saja.”

“Kamu memang bisa diandalkan banget.”

Sungguh percakapan yang menakjubkan.

SAku sering mendengar bahwa Iori-senpai sering memberikan kesan yang dingin dari penampilannya dan cara bicaranya, tetapi sebenarnya dia adalah orang yang sangat baik hati.

... Tapi aku tidak suka melihatnya begitu dekat dengan Towa.

“... Fufufu.”

Ayana yang ada di sebelahku tersenyum saat melihat mereka berdua.

Bahkan hanya dari samping, dia memiliki daya tarik yang luar biasa, lagipula, Ayana memang paling cantik saat tertawa seperti ini.

Ketika aku terus menatapnya, Ayana menoleh ke arahku.

Aku berkata padanya sambil keheranan.

“Uhmm... Sepertinya kamu lebih sering tertawa dari biasanya hari ini ya, Ayana.”

“Apa iya?”

“Ya, mungkin karena ada Towa juga, tapi kamu terlihat sangat asyik ketika berbicara dengan Iori-senpai dan yang lainnya.”

“........”

“Eh...? Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh?”

Perkataanku membuat Ayana lebih terkejut dari sebelumnya.

Dia tampak tercengang dan memalingkan wajahnya dariku, dia lalu melihat ke arah Towa dan Iori-senpai, lalu melihat ke arah Mari yang duduk di sampingnya.

“Ayana-senpai?”

“...... Tidak ada…. apa-apa.”

Dia menjawab sambil menunduk, tetapi jelas-jelas ada sesuatu yang aneh.

Sebelum aku bisa bertanya lagi, ia sudah bergerak lebih cepat sebelum diriku.

“Ada apa, Ayana?”

“...Towa-kun.”

Orang itu adalah Towa.

Meskipun dirinya baru saja berbicara dengan Iori-senpai, Towa dengan alami datang ke Ayana bak pahlawan yang bergegas untuk membantunya.

“Apa kamu baik-baik saja?”

“Ah, ya ... yah, aku sedikit merasa linglung tadi.”

Towa memperhatikan wajah Ayana dengan khawatir ... bahkan sebagai seorang pria yang sebaya dengannya, aku merasa kagum dengan ekspresi Towa yang keren.

Tapi di sisi lain, aku juga menyadarinya…. dan aku merasa kalau rasa cemburuku kembali muncul.

Towa yang sekarang memegang kendali atas situasi, sampai-sampai Iori-senpai dan Mari pun menatap penampilan Towa.

“Aku benar-benar baik-baik saja. Maksudku, bahkan Towa-kun sering linglung akhir-akhir ini, dan mungkin itulah yang menulariku.”

“Itu sih ... cara penularan yang tidak menyenangkan.”

Apa yang mereka bicarakan ...?

Aku merasa seperti dikucilkan karena pembicaraan itu hanya bisa dipahami oleh Ayana yang cekikikan dan Towa yang tertawa seperti sedang dalam masalah.

Meskipun aku merasa seperti itu, aku tidak ingin membuatnya merasa lebih buruk, jadi kami menyelesaikan tugas dengan tekad yang lebih kuat. Ketika kami selesai beres-beres, semua orang terlihat puas ... Aku merasa seperti aku meraih lebih banyak pencapaian dari biasanya.

“Hari ini aku senang bisa berbicara dengan Otonashi-san dan Yukishiro-kun, dan juga bekerja bersama kalian.”

“Ya, benar sekali. Yah, basanya aku cuma memiliki kegiatan klub setiap hari, jadi aku tidak memiliki kesempatan seperti ini. Aku sangat menikmatinya!”

Aku senang melihat Iori-senpai dan Mari juga merasa puas.

Kami selesai bekerja dan mulai berpisah, tapi aku ditarik oleh Iori-senpai dan Mari sehingga aku berjalan sempoyongan. Dan aku meninggalkan Towa dan Ayana yang melambai padaku saat aku pergi.

“Meski begitu, Shu-kun? Kamu benar-benar bekerja keras hari ini.”

“Ah ... ya, terima kasih.”

“Benar banget! Shu-senpai sangat hebat hari ini!"

“Hahaha ... terima kasih kalian berdua.”

Aku berhasil menunjukkan penampilan kerenku pada Ayana... mungkin?

Meski aku merasa penasaran tentang itu, rasanya sangat menyenangkan mendengar Iori-senpai dan Mari mengatakan betapa menakjubkannya itu... dan sentuhan lembut yang kurasakan saat mereka memeluk lenganku juga sangat menyenangkan.

(Tetapi……)

Meski begitu, aku masih penasaran dengan ekspresi tercengang Ayana tadi.

Aku belum pernah melihat ekspresi seperti itu sebelumnya... Aku ingin tahu apa yang dia pikirkan saat itu.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

 

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama