Kimizero Jilid 7 Bab 2 Bahasa Indonesia

Chapter 2

 

Setelah liburan Golden Week, aku menerima pesan dari seseorang yang tidak terduga di smartphone-ku.

 

Dari: Kamonohashi-sensei

Minggu depan ada acara pesta minum-minum para mangaka, apa kamu mau datang?

Orang-orang yang datang hanya terdiri dari mantan editor, tetapi beberapa penulis dan ilustrator buku komik terkenal akan hadir di sana, jadi bisa dibilang itu lumayan menyenangkan dari sudut pandang otaku.

 

Aku belum pernah berjumpa lagi dengan Kamonohashi-sensei sejak pertemuan makan malam dengan Fujinami-san. Kami saling  bertukar alamat email pada hari itu dan dia berkata, “Jika ada pesta minum atau acara semacam itu, beri tahu aku alamat email-mu dan aku akan mengundangmu”. Namun, aku tidak pernah menyangka kalau  dia benar-benar akan menghubungiku.

Ketika aku membalas, “Apa saya boleh ikutan datang?”, Email balasan langsung dari Kamonohashi-sensei segera masuk.

 

Dari: Kamonohashi-sensei

Tentu saja!

Sekali-kali aku harus membawa anak muda. Jika tidak, kamu akan dianggap sebagai orang tua dan tidak akan diundang lagi (lol).

Kamu bisa membawa temanmu juga. Jika temanmu itu perempuan, maka akan sangat disambut (lol).

 

“Hmm ...”

Saat aku membaca balasan yang kuterima di akhir pekerjaan paruh waktuku di departemen editorial, aku memikirkannya sambil melihat latar ponselku.

Aku memang sedikit tertarik, tetapi sejujurnya aku taku untuk pergi sendirian. Namun...

“Apa ada yang salah, Kashima-kun?”

Mungkin karena aku memasang ekspresi kesulitan, jadi Kurose-san memanggilku.

“Tidak, bukan apa-apa ...”

Aku hampir saja mengatakan itu, tetapi aku merasa kalau aku tidak perlu menyembunyikan apa-apa.

Karena Kurose-san juga selesai bekerja, jadi setelah menggalkan kantor editorial, aku menceritakan kepadanya tentang email dari Kamonohashi-sensei.

Di sekitar stasiun Iidabashi pada malam hari, orang-orang yang selesai bekerja saling berlalu lalang. Meskipun kadang-kadang kami makan malam bersama, itu tidak terjadi setiap kali, jadi kami langsung menuju ke stasiun.

“Wah, bagus dong. Bagaimana kalau kamu pergi dan mencobanya?” Kata Kurose-san dengan mata berbinar.

“Jika kamu benar-benar menjadi editor di sebuah perusahaan penerbitan, kamu mungkin akan memiliki sedikit interaksi dengan orang-orang di luar perusahaan atau pengarang yang kamu tangani. Jadi, lebih baik kamu membangun koneksi sekarang. ... Itulah sebabnya aku juga ingin pergi ke acara makan malam Kamonohashi-sensei.”

Kurose-san sangat menyesal ketika dia mendengar tentang pertemuan makan malamku dengan Kamonohashi-sensiei dari Fujinami-san di kemudian hari. Meskipun kupikir Kurose-san cenderung pemalu, aku merasa dia sangat ambisius dalam hal pekerjaan. Mungkin dia memiliki harapan yang kuat untuk menjadi seorang editor.

“... Kalau begitu, apa kamu ingin pergi bersamaku? Dia mengatakan kalau aku boleh membawa temanku juga.”

“Mau! Aku mau pergi juga!”

Dengan antusias, Kurose-san menjawab.

“Oh ya, ngomong-ngomong acaranya di tanggal….”

“Aku bilang aku akan pergi. Aku akan mengubah rencanaku jika aku punya rencana lain.”

“O-oke, mengerti ... Jadi aku akan menyalin dan mengirimkan emailnya nanti.”

Dan begitulah, aku dan Kurose-san akan pergi menghadiri “Acara sosial industri manga” untuk pertama kalinya.

 

◇◇◇◇

 

Tempat acaranya berada di Shinjuku. Itu adalah restoran biasa bergaya izakaya yang terletak di lantai lima sebuah gedung makanan dan minuman yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dari stasiun. Ketika aku mengucapkan nama yang tidak aku kenal, “Aku Numata” di pintu masuk, aku diarahkan oleh staf ke ruang besar di bagian belakang.

Di sekitar meja-meja panjang yang ditempatkan di sekitar ruang, ada sekitar dua puluh orang yang sudah berkumpul. Sekilas, ruangan ini tidak terlalu besar dengan hanya bisa memuat sekitar tiga atau empat puluh kursi. Aku berpikir bahwa acara ini mungkin dihadiri oleh ratusan orang karena seseorang seperti diriku yang tidak terlalu penting juga ikut diundang

Sepertinya Kamonohashi-sensei belum datang.

“Senang bertemu Anda, saya orang yang seperti ini.”

Ketika aku dan Kurose-san berdiri di dekat pintu masuk ruangan dengan ragu-ragu, seorang pria memberikan kartu namanya kepada kami.

Di sana tertulis “Mangaka dan Ilustrator” di kartu namanya. Aku memang menyukai manga, tetapi kecuali jika itu adalah seorang pengarang sekelas Kamonohashi-sensei, aku tidak akan mengingat nama pengarangnya, jadi aku hanya bisa menerima kartu namanya dengan mengatakan, “Maaf, aku hanya seorang mahasiswa yang bekerja paruh waktu di departemen editorial, jadi aku masih belum memiliki kartu nama...” sambil membungkuk-bungkuk.

Awalnya terasa seperti acara pertukaran kartu nama, dan aku serta Kurose-san hanya menerima kartu nama peserta lain dengan tidak enak hati.

“Mari kita bersulang. Silakan duduk.”

Setelah sebagian besar peserta berkumpul dan pertukaran kartu nama selesai, seseorang yang tampaknya menjadi penyelenggara mulai memanggil. Dia adalah orang pertama yang memberikan kartu namanya kepada kami.

Aku dan Kurose-san masih duduk berdampingan di kursi kosong dengan sungkan.

Kamonohashi-sensei baru datang ketika semua peserta sudah duduk di tempatnya dan bersulang.

“Maaf, maaf, jalannya lumayan macet tadi.”

Tanpa rasa bersalah, Kamonohashi-sensei duduk di kursi yang kosong sambil tersenyum. Dia melihat ke arahku dan mengangkat tangannya sedikit.

Jadi, semua orang di sekitar kami adalah orang yang tidak aku kenal sebelumnya.

“Katanya kalian bekerja paruh waktu di departemen editorial? Di departemen editorial mana?”

Orang yang duduk di depanku bertanya kepada kami.

Setelah aku memeriksa kartu namanya, tampaknya dia adalah seorang mangaka yang bernama Satou Naoki.

Satou-san terlihat seperti pria berusia awal tiga puluhan, dengan kulit putih dan fitur wajah yang rapi, dia terlihat seperti pria tampan yang keren. Karena postur duduknya yang tinggi, dia tampak tinggi juga. Di antara peserta yang kebanyakan terlihat seperti orang yang suram (meskipun aku juga tidak bisa berkata banyak), sikapnya yang tersenyum penuh kedamaian saat dia berbicara dengan kami membuatku merasa dia memiliki kematangan yang lebih dewasa. Mungkin ini hanya prasangka, tapi dari gaya rambut hitamnya yang terbagi rapi di tengah dan dikatakan hanya cocok untuk orang tampan, aku bisa merasakan kepercayaan diri yang terpancar darinya.

Dia adalah tipe orang yang tidak ada di antara teman-temanku.

“Aku bekerja di Departemen Editorial Majalah Crown di Penerbit Iidabashi.”

Ketika Kurose-san menjawab, Satou-san terkejut dengan tatapan mata yang melebar.

“Majalah Crown ya, dulu aku kenal editor di sana. Kamu kenal seseorang bernama Kinoshita-san?”

“Maaf... Aku rasa dia sudah tidak ada di sana sekarang.”

“Oh, begitu ya? Bagaimana dengan Utsumi-san? Kalau tidak salah dia jadi wakil kepala editor.”

“... Saat ini wakil kepala editornya adalah Suzuki-san.”

“Eh?”

Satou-san menggelengkan kepalanya.

“Emang waktunya sudah selama itu, ya? Itu sekitar waktu karya-karyaku diadaptasi menjadi anime... sekitar lima tahun yang lalu.”

Usai mendengar itu, Kurose-san tampak terkejut.

"Satou-san, karyamu diadaptasi menjadi anime?”

“Yeah, aku telah melakukannya dua kali, sekali untuk karya debutku dan sekali lagi lima tahun yang lalu.”

“Wah, luar biasa!”

“Sungguh hebat sekali.”

Satou-san sudah sepenuhnya fokus pada Kurose-san, tapi karena tidak ada lagi yang bisa dilakukan, aku juga menganggukkan kepala sebagai respons.

“Apa judulnya?”

“Hmm... judulnya...”

Aku belum pernah mendengar judul yang disebutkan oleh Satou-san. Dari namanya, terlihat seperti karya komedi romantis harem dengan banyak karakter perempuan.

“Kamu tidak tahu? Padahal untuk debut karyaku, setidaknya sudah ada dua musim animenya, loh~”

“Maaf, aku tidak terlalu berpengetahuan. Aku akan mencoba menonton nanti.”

Kurose-san merespons dengan rendah hati, tetapi dalam hati aku berpikir, “Orang ini tampak sombong dan merasa sok hebat.” Memang, sebagai seorang mangaka yang karyanya telah diadaptasi menjadi anime dua kali, dia pasti lebih berpengalaman daripada mahasiswa yang bekerja paruh waktu di departemen editorial.

Satou-san semakin banyak tersenyum, mungkin karena sudah minum beberapa gelas alkohol.

“…Kurose-san? Kamu kelihatan manis banget, ya?”

“Eh? ... Oh, terima kasih banyak.”

“Kamu benar-benar kelihatan cantik. Tapi, rasanya ada sesuatu yang kurang, deh.”

“Eh? Apanya?”

Kurose-san bertanya dengan serius.

Satou-san lalu tersenyum nakal.

“Hmm... mungkin daya tarik keseksian?”

“Ehh~? Lalu, bagaimana bisa meningkatkan keseksian?”

“Entahlah. Mungkin dengan sering dipeluk pacarmu?”

Ekspresi Kurose-san langsung kaku dan mengernyitkan keningnya ketika menanggapi Satou-san yang menyeringai.

Tentu saja, dia akan merasa tidak nyaman jika seorang pria yang baru dikenalnya mengatakan hal seperti itu. Apa-apaan sih dengan orang ini….pikirku

“Aku sama sekali tidak punya pacar.”

Kurose-san menjawab dengan suara yang kaku.

“Beneran? Sudah berapa lama?”

“Sudah sangat lama.”

“Oh, benarkah? Serius?”

Satou-san tersenyum nakal. Mungkin karena Kurose-san terlalu fokus pada Satou-san, seseorang yang duduk di depan Kurose-san berdiri dan pindah ke tempat lain.

Maka Satou-san pindah ke kursi itu dan duduk di depan Kurose-san.

“Jadi, Kurose-san...”

“Y-Ya?”

Kurose-san membalas dengan sedikit kaku, tetapi dia menanggapi Satou-san dengan cukup datar dan tidak kasar.

Saat Satou-san mengganggu Kurose-san dengan senyum nakalnya dan aku sendiri hanya minum koktail sambil menatap kursi kosong di depanku, Lalu tiba-tiba, Kamonohashi-sensei yang memegang gelas bir duduk di depanku.

“Yoo~ yoo~ apa kamu menikmatinya?”

Aku mengangguk dan menjawab, “Terima kasih banyak sudah mengundangku hari ini, Kamonohashi-sensei.”

“Ya. Apa kamu cukup bersenang-senang?”

“Iya, aku cukup menikmatinya...”

Aku hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala, meskipun aku tahu aku masih belum bisa menikmatinya.

Pada saat itu, Satou-san yang menyadari keberadaan Kamonohashi-sensei di sebelahnya, menghentikan pembicaraannya dengan Kurose-san dan mengalihkan perhatiannya ke arah sensei.

“Sudah lama sekali tidak bertemu, Kamonohashi-sensei.”

Kamonohashi-sensei menoleh ke arah Satou-san.

“Oh, Satou-kun ya. Kapan kita terakhir bertemu?”

“Di pesta tahun baru Penerbit Otowa tahun ini.”

“Ahh, kalau tidak salah Hayashida-kun yang bertanggung jawab, ‘kan?”

“Ya.”

“Bagaimana penjualan bukumu?”

“Berkat anda, kami berhasil menjualnya dengan cukup baik.”

“Jangan mengatakannya dengan ambigu begitu! Katakan saja 'Kami telah menjual seratus juta salinan!'

“Yahh, itu cukup sulit dilakukan.”

Satou-san, yang ekspresinya jauh berbeda dari sebelumnya, duduk dengan rapi dan tersenyum sambil menggelengkan kepala dengan sikap yang patut dihargai. Mungkin setiap mangaka muda akan berubah seperti itu di depan Kamonohashi-sensei, tapi perubahan itu membuatku merasa sedikit tidak nyaman.

Melihatku seperti itu, Kamonohashi-sensei berkata kepada Satou-san.

“Anak ini bekerja paruh waktu di departemen editorial Kuramaga.”

“Oh, kelihatannya begitu. Apa Anda mengenalnya, Sensei? Tadi saya sempat berbicara dengannya,” jawab Satou-san.

Hmm, sepertinya aku memang tidak terlalu menyukai Satou-san.

“Jadi, ini temanmu yang bernama 'Kurose-san'?”

“Oh, ya.”

Ketika ditanya Kamonohahi-sensei, aku menanggapinya sambil mengangguk, dan Kurose-san yang duduk di sampingku sedikit membungkuk ke arahnya.

Sambil melihat Kurose-san dengan seksama, Kamonohashi-sensei mengangkat gelas birnya.

“Begitu ya~ begitu ya~. Dia memang gadis yang cantik sekali, ya~. Awalnya, aku pikir dia seorang pengisi suara atau seorang idola. Tapi belakangan ini, aku tidak bisa ereksi jika bukan wanita paruh baya yang perutnya membuncit, gyahaha!”

Meskipun itu percakapan yang penuh dengan pelecehan s*ksual yang bertentangan dengan zaman, baik aku, Kurose-san, maupun Satou-san hanya bisa tertawa untuk menanggapinya. Karena ini mengenai Kamonohashi-sensei, jadi apa boleh buat.

“Selain itu, toiletnya juga dekat sekali. Oops...”

Kamonohashi-sensei berdiri setelah menaruh gelas birnya, tapi kakinya terhuyung-huyung mungkin karena minimal alkohol sudah membuatnya mabuk.

“Oh...”

“Apa Anda baik-baik saja?”

Aku juga berdiri dari tempat dudukku dan memberikan bahuku sebagai penopang saat membawa Kamonohashi-sensei ke toilet.

"Maaf ya. Aku sudah menjadi lemah terhadap alkohol dan wanita sehingga aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi.”

Saat aku mencari informasi tentang Kamonohashi-sensei di Wikipedia sebelumnya, sepertinya dia sudah berusia 62 tahun. Meskipun dia masih terlihat energik, aku merasa dia mengalami penurunan kebugaran dibandingkan saat muda.

Setelah kembali dari toilet, aku melihat bahwa orang lain telah duduk di meja tempatku dulu. Jadi, aku dan Kamonohashi-sensei duduk di meja yang lain dan memesan minuman baru.

Kurose-san dan Satou-san masih duduk berhadapan dan terus mengobrol satu sama lain.

Acara minum-minum yang masih menjadi misteri siapa yang menjadi penyelenggara dan bagaimana kriteria pemilihan pesertanya, berakhir setelah sekitar tiga jam.

Di paruh kedua acara, aku selalu berada di samping Kamonohashi-sensei. Aku berbicara dengan berbagai mangaka, tapi aku lebih memperhatikan orang yang membuat manga dengan judul yang pernah kudengar tapi belum pernah kubaca, daripada orang yang fokus pada doujinshi. Mungkin orang tersebut terkenal dalam industri karena manga mereka diadaptasi menjadi anime dan memiliki banyak penggemar. Aku merasa tidak sopan jika aku, sebagai mahasiswa biasa dengan pengetahuan yang terbatas, mengajak mereka berbicara.

Pada akhirnya, aku berada di posisi di mana aku mendengarkan Kamonohashi-sensei bercerita tentang bualannya dirinya sendiri dengan campuran penghinaan diri kepada mangaka muda. Ini sama seperti acara makan malam sebelumnya. Meskipun aku bekerja paruh waktu di industri ini, aku merasa kalau aku harus membaca lebih banyak manga.

 

◇◇◇◇

 

Ketika semua orang berkumpul di dekat pintu keluar dan suasana pembubaran terasa, Kurose-san masih berbicara dengan Satou-san.

Satou-san yang berdiri memang mempunyai badan yang tinggi, tingginya mungkin setinggi Sekiya-san. Sosoknya yang tinggi dan ramping dengan punggung yang agak bungkuk tampaknya populer di kalangan wanita, dan ketika aku melihatnya berbicara dengan gembira dengan Kurose-san, aku menjadi agak waspada terhadapnya.

Aku ingin tahu apa yang mereka bicarakan..... dan dengan santai mendekati mereka di tengah kerumunan orang banyak agar mereka tidak menyadari keberadaanku, dan mendengarkan dengan saksama. Mereka tampaknya sedang bertukar nomor kontak melalui ponsel mereka.

“Terima kasih. Kalau begitu, aku akan menghubungimu lagi nanti.”

Usai mengatakan hal itu, Satou-san menyimpan ponselnya sendiri dan menatap tangan Kurose-san yang memegang ponsel.

“Kurose-san, kamu tidak pernah menghias kukumu atau semacamnya?”

“Eh?”

Kurose-san terlihat sedikit terkejut. Mungkin dia belum pernah ditanyai pertanyaan seperti itu oleh seorang pria sebelumnya.

“Hmmm….Aku juga ditanya hal yang sama oleh kakak perempuanku.”

Memang benar kalau Luna suka mewarnai kukunya.

“Aku punya kuku yang lemah dan tidak bisa tumbuh panjang, dan rasanya tidak cocok untuk merawatnya secara rutin.”

“Hmm”

Satou-san hanya menjawab begitu sambil menatap Kurose-san dengan tidak jelas apakah ia tertarik atau tidak meskipun ia sendiri yang menanyakannya.

“Tetapi menurutku, jika kamu lebih memperhatikannya, kamu akan menjadi lebih menarik.”

Setelah mengatakan itu, Satou-san tiba-tiba membungkukkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke telinga Kurose-san.

“…Karena kamu terlihat sangat imut.”

Melihat Satou-san yang berbisik dengan senyum di wajahnya yang tampan, pipi Kurose-san seketika itu juga terlihat memerah.

Eh!?

Walaupun dia tadinya menjauh, sejak kapan mereka berdua menjadi begitu dekat?

Meski merasa bingung, aku tidak bisa berhenti merasa jengkel dengan orang yang bernama Satou Naoki ini.

Apa-apaan kamu sebenarnya!? Apa kamu benar-benar seorang mangaka!? Kebanyakan mangaka tuh pada dasarnya tipe orang yang suram, ‘kan!?

Mungkin ini adalah pemikiran yang kasar sebagai seseorang yang bekerja di bidang editor manga, tetapi bayanganku mengenai seorang mangaka pria dan suasana Satou Naoki sangat jauh berbeda.

Namun, entah mengapa, ketika aku melihat caranya mendekati Kurose-san dengan gaya yang tidak bisa dibilang sebagai pria yang cerdas dan dewasa , aku merasa ia adalah seorang otaku yang tumbuh dengan sesuatu yang menyimpang.

 

“Satou-san tuh orang yang menarik, ya?”

Saat kami meninggalkan toko dan berjalan menyusuri jalan pusat kota pada malam hari menuju stasiun, Kurose-san bergumam pada dirinya sendiri.

“B-Benarkah...? Begitu ya?”

“Ya. Meskipun ia memiliki wajah tampan, tapi ia agak aneh. Katanya dulu waktu masih sekolah, ia terlihat norak dan tidak populer sama sekali. Itulah sebabnya ia menggambar komedi romantis untuk remaja laki-laki dalam manganya, katanya itu untuk melampiaskan dendamnya.”

“Begitu ya...”

Jika memang begitu, rasanya sedikit bisa dimengerti mengapa dia terlihat aneh dan menyimpang.

“Tapi ia terkenal sebagai penulis yang berhasil mengadaptasi manga-nya menjadi anime, dan ia banyak mengajariku dengan berbagai hal terkait industri ini.”

“Hmmm...”

Jadi, mereka berdua sedang berbicara tentang hal yang lebih serius dari yang aku bayangkan?

“......”

Kalau dipikir-pikir, karena penampilannya, Kurose-san selalu menjadi objek ketertarikan romantis bagi pria, baik dalam arti baik maupun buruk.

Ada yang mendekat dengan tergesa-gesa, ada juga yang menggosipkannya dari jauh.

Berbeda dengan Luna yang dengan ramah mengajak bicara siapa saja tanpa membedakan-bedakan orang, Kurose-san yang pemalu hanya bisa menjaga jarak seperti itu dengan teman sekelas laki-lakinya.

Mungkin bagi Kurose-san, pria yang bisa berinteraksi dengan percaya diri dan berbicara tentang industri yang dia minati seperti Satou-san merupakan sosok yang berharga.

“Terima kasih banyak sudah mengajakku hari ini, Kashima-kun.”

Kurose-san mengatakan itu sambil tersenyum, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dia terlihat sangat manis hingga membuat hatiku berdebar.

“Mungkin aku senang bahwa aku bisa datang.”

Aku memandangnya saat dia tersenyum gembira sambil menutup mulutnya dengan tangan.

Aku…

Aku tidak bisa menghilangkan firasat buruk yang muncul di hatiku.

 

◇◇◇◇

 

Keesokan harinya saat bekerja paruh waktu, aku bertemu dengan Kurose-san di ruang redaksi dengan gaya rambut yang berbeda.

Dia mengikat rambut hitamnya yang biasanya tergerai menjadi satu di belakang kepala dan membuat gaya kuncir kuda.

“Tumben sekali, gaya rambutmu kelihatan berbeda hari ini.”

Sudah kuduga, bahkan aku menyadari perubahannya, jadi saat aku mengungkitnya, Kurose-san tersenyum bahagia.

“Satou-san bilang ia menyukai gaya rambut kuncir kuda.”

“Eh, be-benarkah?”

Aku merasa terkejut karena namanya tiba-tiba disebutkan, dan Kurose-san berkata dengan suasana hati yang gembira.

“Nanti setelah selesai kerja paruh waktu, kami akan pergi makan.”

“Eh? ...Berduaan saja?”

“Mmm, entahlah? Kalau Satou-san tidak mengajak orang lain, mungkin itu yang terjadi?”

“........”

Padahal mereka berdua baru saja bertemu kemarin. Satou Naoki, pendekatannya terlalu cepat.

“Be-Begitu ya…. Tolong sampaikan salamku pada Satou-san ya..."

Aku tidak punya maksud khusus dengan ucapan itu, tapi hanya itu satu-satunya yang terlintas dalam pikiranku.

 

“Kalau gitu, aku duluan ya, Kashima-kun!”

Ketika waktu pulang tiba, Kurose-san yang selalu menungguku untuk pulang bersama, dengan cepat menyelesaikan persiapannya dan meninggalkan ruang redaksi terlebih dahulu.

“Ya, terima kasih atas kerja kerasmu...”

Rambut kuncir kuda Kurose-san berayun seperti ekor anjing saat dia merasa bahagia, dan dia menghilang dari pandangan.

Sambil melihat terus melihat kepergiaannya, aku masih tidak bisa menghilangkan perasaan tidak nyaman di dalam hatiku.

“.....Fujinami-san.”

Aku dengan malas bersiap-siap untuk pulang, dan ketika Fujinami-san, yang sedang menelepon di mejanya, meletakkan ponselnya, aku pun memanggilnya.

“Apa boleh minta waktunya sebentar?”

“Ahh, Kashima-kun. Boleh-boleh saja, ada apa?”

Fujinami-san menaruh ponselnya dengan tampang santai dan sepertinya sedang tidak sibuk saat ini. Setelah memutuskan kalau tidak masalah untuk berbicara dengannya, aku pun mulai membuka percakapan.

“Apa kamu mengenal seorang mangaka yang bernama Satou Naoki? Kudengar ia dulu pernah menjadi pengarang di Kuramaga...”

“Ah, dia orang yang membuat manga 'Imokore', ‘kan?”

Fujinami-san menyebutkan singkatan dari judul karya terkenal Satou-san, yang diadaptasi menjadi anime lima tahun lalu.

“Ya, benar.”

“Lalu, kenapa kamu tiba-tiba menanyakan tentang Satou-san yang itu?”

Saat ditanya oleh Fujinami-san, aku melihat sekeliling sebentar. Di dalam ruang redaksi pukul 19.00, ada karyawan yang duduk dengan jarak sekitar tiga kursi, dan suasananya juga tidak terlalu ramai. Suasana yang memungkinkan untuk berbicara secara pribadi.

“Tidak, umm, tempo hari yang lalu, aku di ajak ke acara minum-minum oleh Kamonohashi-sensei, dan kebetulan aku berbicara dengan Satou-san,”

“Wah, rupanya ada acara seperti itu ya. Padahal aku tidak diundang sama sekali,” katanya.

"Oh, iya, dia bilang tidak mengundang staf redaksi yang masih aktif.”

“Ya, aku tahu. Jadi?”

Melihat kepanikan diriku, Fujinami-san tersenyum dan membujukku untuk melanjutkan.

“Aku penasaran seperti apa Satou-san. Apa dia tidak bekerja di kuramaga...?”

“Oh, kamu sangat antusias tentang pekerjaanmu ya. Kamu ingin aku menghubungkanmu dengan Satou-san? Sudah kuduga, kamu memang ingin menjadi editor, kan?” katanya sambil menggoda.

Saat aku mencoba mencari kata-kata dengan panik, Fujinami-san melanjutkan.

“Tapi sejujurnya, ini cerita yang serius...” Suara Fujinami-san turun dua tingkat dan melihat sekelilingnya.

“Aku mendengarnya dari seniorku, kalau orang itu agak suka begini….”

Ia mengacungkan jari kelingkingnya. Itu adalah gerakan yang menunjukkan “wanita” yang pernah dilakukan oleh Yamana-san. Aku tidak pernah menyangka ada orang lain selain dia yang melakukannya.

“Ada seorang gadis muda yang dulu bekerja di departemen editorial sini, dia dulu bertanggung jawab atas Satou-san.”

Setelah mengatakan itu, Fujinami-san menarik kursi kosong di sebelahnya dan mengisyaratkan agar aku duduk. Kami duduk berdekatan dengan lutut kami saling bersentuhan, dan Fujinami-san berbicara dengan suara yang lebih pelan lagi, dengan suasana percakapan yang sangat rahasia.

“Ini rahasia, oke? Setiap kali minum-minum setelah pertemuan, dia selalu mengajak gadis itu 'Pergi ke hotel?' Begitu gadis itu tidak menyukainya, tanggung jawab Satou-san dikembalikan lagi kepada wakil kepala editor. Kemudian ia berkata ‘Aku tidak bisa menggambarnya kalau bukan dengan editor sebelumnya, karena itu adalah plot yang sudah aku susun bersama editor sebelumnya’ dan sama sekali tidak pernah memberikan draftnya. Jika ia adalah orang dengan bakat yang luar biasa, kami mungkin akan memohon sambil membungkuk untuk mengerjakannya, tapi sepertinya tidak terlalu begitu. Kamu tahu sendiri, semua karyanya itu hampir sama... seperti, pada saat ia debut, tren cerita semacam itu memang sedang populer, jadi bisa dibilang karyanya mengikuti perkembangan zaman. Tapi sekarang terasa agak ketinggalan zaman, atau lebih tepatnya bukannya itu cuma harem komedi romantis yang klasik? Karakter gadis-gadisnya memang manis, tapi gambarnya itu seperti 'sindrom wajah yang sama'. Tentu saja masih ada orang yang menyukai jenis cerita seperti itu, dan kupikir selalu ada permintaan tertentu di setiap era, tapi itu bukanlah karya yang harus dimuat di dalam majalah redaksi kita yang sekarang, jadi aku bilang ‘Baiklah, sudah cukup’

“Haa....”

Aku mendengar cerita di balik layar yang tidak menyenangkan. Mungkin firasatku benar.

“Ini benar-benar rahasia, ya. Aku bercerita ini karena kamu mungkin akan menjadi seorang editor di masa depan,” kata Fujinami-san.

Meskipun aku belum memutuskan tentang masa depanku, aku senang dengan harapan Fujinami-san, jadi aku menganggukkan kepala dengan tulus.

“....Ehm, apa orang seperti Satou-san itu cukup banyak?”

“Tidak sama sekali. Malahan sangat jarang. Aku tidak pernah menemui tipe yang sama selain dia,” kata Fujinami-san sambil sedikit meningkatkan volume suaranya dan tersenyum.

“Tapi setelah itu, aku mendengar ia sudah menikah dan memiliki anak, jadi sekarang dia pasti sudah tenang,”

Aku terkejut ketika  mendengarnya.

“Eh, Satou-san sudah menikah?”

Fujinami-san juga sedikit kaget saat melihat reaksiku.

“Hm? ... Ya, kalau tidak salah, sih.”

Fujinami-san melihat ke kejauhan dan menyipitkan matanya, seolah dia sedikit tidak yakin pada dirinya sendiri, tapi kemudian mengangguk. Ini semacam cerita yang tidak jelas.

“...Baiklah, aku mengerti. Terima kasih banyak.”

“Sama-sama, aku juga berterima kasih.”

Aku berdiri dari kursi dan mengembalikannya ke tempatnya. Fujinami-san tersenyum dengan ceria. Dia benar-benar terlihat seperti orang yang berbeda sebelum pengoreksian.

 

“...Haah.”

Aku hanya bisa menghela nafas ketika meninggalkan gedung kantor dan berjalan di sekitar area Iidabashi tempat aku biasa menyantap makan malam.

Aku tidak terlalu peduli jika Satou-san suka main-main dengan wanita atau sudah menikah dan memiliki anak, asalkan ia hanya menjalin pertemanan biasa dengan Kurose-san.

── Karena kamu terlihat sangat imut.

Aku teringat wajah Satou-san saat menatap Kurose-san.

── Mungkin aku senang bisa datang.

Dan juga, ekspresi Kurose-san pada saat itu.

“Pria dan wanita, ya...”

Perasaan itu, mungkin saja...

Aku tidak memiliki pengalaman percintaan dengan orang lain selain dengan Luna, jadi aku sama sekali tidak yakin. Tapi ketika aku melihat mereka berdua dari dekat saat itu, aku hanya bisa berpikir begitu.

Kira-kira seberapa banyak yang Kurose-san tahu?

 

◇◇◇◇

 

Terlepas dari kekhawatiranku, Kurose-san dalam suasana hati yang baik ketika dia berangkat kerja keesokan harinya.

“Hei, bagaimana kalau kita makan bersama hari ini?”

Pada saat kami baru saja meninggalkan gedung kantor, Kurose-san mengajakku untuk makan malam.

“Yah, aku tidak keberatan sih...”

Aku berpikir mungkin ada sesuatu yang ingin dia bicarakan. Aku juga penasaran tentang hubungannya dengan Satou-san, jadi mungkin ini kesempatan yang sempurna.

 

“Kashima-kun, biasanya kalian berdua makan di mana saat kencan bersama Luna?”

Ketika kami masuk ke restoran kecil yang biasa kami kunjungi, sambil menunggu minuman kami datang, Kurose-san bertanya begitu.

“Eh? Hmm, tergantung situasinya sih, tapi biasanya kami pergi ke tempat seperti kafe restoran yang sepertinya disukai Luna. Kadang-kadang juga kami pergi ke restoran keluarga.”

“Hmmm, begitu ya,” kata Kurose-san.

Meskipun dia sendiri yang menanyakan pertanyaan itu, Kurose-san tidak terlalu tertarik dengan jawabanku.

“... Jadi, kemarin aku pergi ke restoran di gedung pencakar langit dengan Satou-san.”

Kurose-san mulai berkata demikian sambil menyatukan kedua tangannya dan menutupi mulutnya.

“Kami duduk berdampingan di kursi bar yang menghadap jendela, dan menikmati makanan sambil melihat pemandangan malam... Itu sangat menakjubkan.”

Pipinya terlihat merah merona. Dia terlihat seperti orang yang berbeda dari saat kami berada di restoran dan membanting cangkirnya ke meja ketika sedang mabuk.

Pertanyaannya padaku hanya sebagai pengantar, aku tahu kalau dia ingin membicarakan hal ini.

“... Bukannya tempat yang begituan lumayan?”

“Pastinya, ‘kan. Tapi Satou-san yang membayarnya. Aku tidak tahu kapan ia membayarnya. Ketika aku mengeluarkan dompetku, dia bilang 'sudah selesai, mari kita pergi'. Mungkin ia membayarnya saat aku pergi ke toilet?” kata Kurose-san.

“Jadi begitu...”

Aku belum pernah melakukan hal seperti itu. Ketika melihat ekspresi Kurose-san, apa gadis-gadis senang ketika hal-hal romantis semacam itu dilakukan?

Tapi dalam kasusku dan Luna, karena Luna orang yang sudah bekerja dan menghasilkan lebih banyak uang dariku, rasanya akan tampak konyol jika aku berusaha berpura-pura melakukan begitu. Kurasa aku harus menghindari hal-hal yang tidak biasa kulakukan.

“Kemudian, saat kami berjalan bersama di jalan, ada mobil yang datang dari belakang. Lalu Satou-san berkata 'Ini bisa berbahaya' dan pindah berjalan ke sisi jalan.”

Sementara dia memikirkan hal itu, curhatan Kurose-san terus berlanjut.

Ya, ini benar-benar sesi acara curhat. Dia bahkan tidak menyentuh bir di atas meja dan bercerita dengan senyum melamun di wajahnya.

Aku ragu apakah boleh meminum soda Lemon yang ditaruh di dekatku. Ketika kami minum bersama, kami biasanya menggunakan tempat ini, jadi secara tidak sadar, gelas bir hampir pasti ditaruh di dekat Kurose-san.

“Seperti yang diharapkan dari orang dewasa. Sato-san, katanya ia berusia 32 tahun. Sudah sepuluh tahun berlalu sejak awal debutnya menjadi mangaka, dan karyanya sudah dua kali diadaptasi menjadi anime, sungguh luar biasa...”

Kurose-san terlihat terpesona.

Dilihat dari keadaannya yang seperti ini, apa dia tidak tahu bahwa Satou-san sudah menikah? Apa aku harus memberitahunya sebelum terlambat? Tapi mungkin saja ini kesalahpahaman seperti yang sering terjadi dengan Fujinami-san... Aku masih bingung dan terus merenungkan tangan yang hampir meraih minuman soda Lemon.

“...Aku belum pernah bertemu pria seperti Sato-san yang selalu memujiku 'imut' setiap kali kami bertemu.”

Kata-kata yang diucapkan seperti berbicara pada dirinya sendiri membuatku terkejut, dan aku menarik tanganku kembali dan menatap Kurose-san di depanku.

“...Eh, benarkah?”

Kurose-san adalah gadis yang sangat cantik bagi siapa pun yang melihatnya. Aku pikir dia sudah terbiasa mendengar kata-kata seperti itu sepanjang hidupnya. Sebenarnya, teman sekelas yang melihatnya saat dia pindah sekolah semua memuji penampilannya.

“Gadis-gadis sering mengatakan itu, kan? Yang paling sering mengatakannya mungkin tetangga nenek di sekitar rumahku.”

Dia tersenyum kecil dan menundukkan pandangannya ke meja.

“Tapi, cowok-cowok... dan terutama orang yang mengatakannya saat kita berduaan, hampir tidak ada sama sekali.”

“Begitu ya...”

Saat aku mengatakan itu dengan perasaan yang mengejutkan, Kurose-san tiba-tiba mendongak dan menatapku.

“Kashima-kun, kamu dulu pernah mengatakannya sekali padaku, ‘kan?”

“Eh?”

“Ketika aku bertanya 'Mengapa kamu menyukai aku saat kita di kelas 7?' kamu menjawab 'Karena kamu imut'.”

Usai mendengarnya, pintu kenangan dari masa lalu terbuka.

“Oh...”

Aku takin hal itu terjadi pada musim gugur saat kami di kelas 10. Karena hubunganku dengan Kurose-san, terjadi keretakan antara aku dan Luna, jadi aku memutuskan untuk berhenti berteman dengan Kurose-san.

── Terakhir, boleh aku bertanya satu hal lagi? Mengapa kamu menyukaiku saat kita di kelas 7 SMP dulu?

──...Karena kamu imut.

“Perkataanmu itu membuatku senang... meskipun itu saat kamu memutuskan untuk berhenti menjadi temanku, sih.”

Dia tertawa dengan senyum getir, dan Kurose-san kembali menundukkan kepala dengan malu.

“Satou-san seorang diri memecahkan rekor untuk kata-kata 'imut' yang aku terima dari cowok-cowok sepanjang hidupku.”

“.......”

Tentu saja tidak bisa mengatakannya. Pria biasa tidak akan melakukannya.

“Ia berkali-kali mengatakan 'kamu tuh imut, ya', sambil mengelus kepalaku... Itu adalah pertama kalinya seseorang melakukan hal seperti itu padaku.”

Normalnya, mana mungkin ada orang yang bisa melakukannya.

Setidaknya, bagiku dan Kujibayashi-kun... dan mungkin juga untuk Fujinami-san.

Karena Kurose-san adalah gadis yang sangat cantik.

Dia memiliki kecantikan yang cukup untuk membuat pria merasa gugup hanya dengan berada di depannya.

Dia juga memiliki bakat yang cukup untuk diterima di universitas bergengsi.

Dia adalah perempuan yang sempurna, tak peduli bagaimana orang melihatnya, dia adalah sosok gadis yang sulit dijangkau.

Mengatakan “kamu imut” seperti mengatakan itu kepada anak kecil, rasanya tidak sopan jika dikatakan langsung kepadanya.

Jika kamu bukan seorang pria yang lebih tua, tinggi, tampan, diakui oleh publik dalam pekerjaannya, bahkan mungkin sudah berkeluarga, siapapun tak akan bisa melakukanya seperti Satou-san. Aku tidak bisa mengambil sikap seperti itu terhadap Kurose-san.

“Aku selalu merasa takut ketika ada pria yang menyentuhku, tapi saat Satou-san mengelus kepalaku... aku... jika itu Satou-san...”

“Tunggu sebentar, Kurose-san.”

Karena Kurose-san terlalu bersemangat sendiri, aku segera menghentikan pembicaraannya.

“Mungkin ini terdengar aneh, tapi... Satou-san, mungkin ia sudah menikah? Aku mendengarnya dari orang lain, mungkin aku salah dengar?”

Pada titik ini, terlepas dari pendapatku tentang kepribadian Satou-san, aku harus memastikan hal ini. Jika tidak, aku tidak bisa mendukung cinta Kurose-san.

“.......”

Kurose-san tiba-tiba terdiam. Dilihat dari tanggapannya, aku merasa dia tahu sesuatu.

“Aku mendengar ia juga memiliki seorang anak...”

Kurose-san mengerutkan keningnya dan menunjukkan ekspresi tidak nyaman.

“...aku tahu. Ia menggunakannya sebagai layar kunci di ponselnya. Nama anaknya Aoi-chan, berusia dua tahun.”

“O-Oh, begitu ya..."

Jadi kamu tidak menyembunyikan itu ya, Satou Naoki.

Entah ia bertingkah jujur atau licik, aku merasa sedikit lega.

“Kalau begitu….. bukannya itu lumayan buruk?”

 “Apanya?”

 Kurose-san bertanya balik dengan raut wajah kesal.

 “Karena Kurose-san... kamu mulai menyukai Sato-san sebagai pria, bukan?”

Atau lebih tepatnya, mungkin Kurose-san sudah jatuh cinta pada Sato-san.

“...tapi Satou-san, ia bilang ia tidak bisa lagi memandang istrinya sebagai wanita lagi.”

“Masalahnya bukan itu saja.”

Karena reaksi Kurose-san lebih keras kepala dari yang kuduga, jadi aku mulai sedikit panik.

“Ia sudah berkeluarga, tau? Itu satu-satunya fakta yang harus diperhatikan. Kalau Satou-san benar-benar tidak lagi melihat istrinya sebagai wanita, bukannya ia seharusnya berpisah dulu dengan istrinya sebelum mencari wanita lain?”

Kurose-san terdiam sejenak setelah mendengar perkataanku yang sangat masuk akal.

“Tidak juga, bukan seperti itu.”

“Eh?”

“Aku tahu bahwa Satou-san tidak memiliki niat seperti itu. Aku hanya menyukainya secara sepihak.”

“……”

Ketika aku mendengar itu, aku teringat kata-kata yang pernah dikatakan oleh Kurose-san padaku.

──Siapa yang aku sukai, siapa yang aku cintai... aku sendiri yang memutuskannya. Hatiku adalah kebebasanku sendiri, bukan?

──Aku hanya menyukaimu secara sepihak... hanya itu saja.

“.....”

Ah,benar juga. Kurose-san memiliki sifat keras kepala seperti ini.

“Jika begitu, baiklah...”

Sama seperti dia terus memendam perasaannya kepadaku ketika aku berpacaran dengan Luna selama masa SMA.

Apa Kurose-san akan terjebak pada pengalaman cinta yang bertepuk sebelah tangan lagi?

Tidak. Jika itu hanya bertepuk sebelah tangan, itu masih baik-baik saja.

Hal yang membuatku khawatir adalah... bahwa Satou-san mungkin tipe pria yang berbeda dariku.

“Satou-san tuh…”

Sepertinya situasi yang canggung telah mereda, Kurose-san sekali lagi menunjukkan ekspresi seorang gadis yang sedang dimabuk cinta.

“Sekarang ia sedang sibuk dengan pekerjaannya dan berencana menginap di hotel. Benar-benar mengagumkan, kan? Ia terlihat seperti selebriti. Semuanya digital, jadi dia bisa mengirimkan naskah ke asisten dari mana saja.”

“Oh, begitu...”

Ternyata masih ada orang yang menginap di hotel seperti itu. Sama seperti penulis novel zaman dulu.

“Ia lalu bercanda dengan mengatakan 'kalau kamu mau datang, datanglah'.”

“...kamu tidak akan pergi, ‘kan?”

Dengan sedikit gugup, aku bertanya padanya, dan Kurose-san tersenyum aneh.

“Aku tidak akan pergi. Aku bahkan tidak tahu di hotel mana ia menginap.”

Dan dengan sedikit canggung, dia mengalihkan pandangannya ke arah gelas bir yang ada di atas meja.

“Ah, birnya sudah datang, ya.”

Sambil memegang bir di tangannya yang telah kehilangan lapisan busanya, Kurose-san tersenyum padaku seolah-olah dia menemukan sesuatu.

“Ayo minum, bersulang!”

 

◇◇◇◇

 

Setelah kejadian tersebut, waktu pun terus berlalu beberapa saat.

Walaupun aku mengkhawatirkan tentang Kurose-san, aku menjalani kehidupan sehari-hariku dengan tenang.

Karena aku bekerja paruh waktu di departemen redaksi editorial selama empat hari dalam seminggu, aku hampir setiap hari bertemu dengan Kurose-san di hari kerja.

Namun, pada hari Rabu yang satu-satunya kami tidak bertemu, aku menerima pesan dari Kurose-san.

 

[Satou-san mengatakan, “Aku sudah menyelesaikan naskah, jadi bagaimana kalau kita makan malam di hotel tempatku menginap?”]

 

“Eh?”

Saat aku secara tidak sengaja melihat ponselku saat jam kuliah, aku tidak sengaja mengeluarkan suara. Suasana ‘kemalasan’ bulan Mei tampaknya masih terasa di universitas, dan ruang kuliah yang besar hanya dihuni oleh beberapa mahasiswa, jadi tidak ada yang mendengar suara kecilku.

Saat ini waktunya sudah menjelang akhir jam kuliah kelima, dan sudah hampir pukul enam sore, tapi di luar masih terang . Hanya satu bulan lagi menuju titik balik matahari.

 

[Ketika aku memberitahu hal ini kepada teman perempuanku, dia berkata, “Pasti dia hanya ingin mempermainkanmu saja, jadi lebih baik jangan pergi.” Tapi bagaimana pendapatmu, Kashima-kun?]

 

“.......”

Setelah membaca lanjutan pesan dari Kurose-san, aku menahan napas.

 

[Ngomong-ngomong, hotelnya ada di mana?]

 

Setelah mengirim pesan tersebut, aku segera mendapatkan balasan darinya. Meskipun Kurose-san seharusnya berada di kantor editorial hari ini juga, sepertinya dia tidak bisa fokus pada pekerjaannya.

 

[Tempatnya bukan hotel yang aneh-aneh kok.]

[Di sini tempatnya.]

 

Ketika aku mengklik tautan yang dilampirkan, muncul situs web hotel mewah yang terlihat seperti tempat pernikahan yang pernah aku dengar sebelumnya.

Apa ia benar-benar menulis naskah di tempat seperti ini? Satou Naoki, sungguh memiliki kekayaan yang luar biasa. Pantas saja ia menjadi seorang mangaka yang karyanya diadaptasi menjadi anime dua kali.

“.......”

Apa hanya aku saja yang terlalu memikirkannya? Apakah karena aku masih perjaka, aku selalu menghubungkan segala hal dengan erotisme?

Jika aku mengundang seorang wanita ke hotel tempatku menginap dan makan malam di restoran yang sama... kemungkinan besar, setelah itu, kami akan pergi ke kamarku sendiri, bukan?

Jika begitu, kemungkinan besar hal-hal tertentu akan terjadi... karena ia adalah pria yang bahkan mengundang editor tanggungannya ke hotel.

Meskipun ia sudah menikah, aku masih tidak mempercayai kalau ia akan tiba-tiba menjadi bijaksana dalam hal ini.

 

[Aku juga setuju dengan pendapat teman Kurose-san…..]

 

Setelah mengirim pesan balasan seperti itu, aku tidak mendapatkan balasan untuk sementara waktu. Aku menjadi khawatir, jadi aku mengirim pesan lanjutan.

 

[Kurose-san, apa kamu berencana akan pergi?]

 

Kemungkinan besar dia ingin pergi, tapi dia bingung karena tidak mengerti niat sebenarnya dari Satou-san. Itulah yang kupikirkan.

Mungkin itulah sebabnya dia berkonsultasi dengan temannya atau mengirim pesan kepadaku.

Dia menyukai Satou dan ingin bersamanya. Tapi dia tidak ingin menjadi selingkuhan semata.

Jika Satou-san benar-benar serius tentang Kurose-san dan bahkan mempertimbangkan perceraian, maka dia mungkin rela terlibat dalam hubungan gelap... mungkin itulah yang dia rasakan.

Jam kuliah kelima akhirnya selesai seiringan dengan pesan dari Kurose-san berhenti tanpa kabar.

“...........”

Aku merasa sedikit terburu-buru dan terus menatap ponselku sambil berjalan cepat ke stasiun bersama dengan para pekerja kantoran yang pulang kerja.

Kemudian, pesan dari Luna muncul, bukan dari Kurose-san.

 

[Terima kasih atas kerja kerasmu di kuliah! Aku baru saja pulang]

 

Luna mengatakan dia libur hari ini dan pergi ke salon kecantikan dan salon kuku Yamana sebelum menjemput adik-adiknya di taman kanak-kanak dan kembali ke rumah.

“Luna....”

Apa mungkin aku harus berkonsultasi dengan Luna? Aku merasa lebih baik jika aku meminta saran darinya kalau soal Kurose-san.

Aku tidak tahu apakah Kurose-san mengatakan sesuatu tentang Satou-san kepada Luna. Pada titik ini, aku tidak peduli jika persahabatanku dengan Kurose-san rusak lagi. Aku berpikir bahwa aku tidak mampu menghentikan Kurose-san hanya dengan kekuatanku sendiri.

Setelah memikirkan hal ini, aku hendak menelepon Luna ketika ponselku menerima pesan baru.

 

[Aku akan pergi. Aku percaya pada Satou-san.]

 

"......!”

[Tunggu, coba dipikir-pikir lagi dengan baik.

Meskipun aku sengaja tidak memberitahu hal ini kepadamu, tapi katanya Satou-san dulu sangat suka bermain-main dengan banyak wanita sebelum menikah, tau?

Dia pasti cuma mempermainkanmu saja!]

 

Aku langsung membalas pesan dengan emosi, dan Kurose-san segera membalas pesanku.

 

[Itu sebelum dia menikah, ‘kan?

Aku tahu kalau Satou-san adalah pria yang tampan, jadi aku mengerti ia akan sedikit bermain-main dengan wanita.

Aku sudah memutuskan, jadi tinggalkan aku sendiri!

Aku pikir Kashima-kun akan mendukungku.]

 

“……”

Dia sendiri yang ingin meminta pendapatku, tapi sekarang dia tiba-tiba marah dan berkata untuk meninggalkannya sendiri?

Lalu, apa yang harus kulakukan dengan kegelisahanku ini?

Entah kenapa, aku mulai merasa seperti orang bodoh karena terlalu mengkhawatirkan Kurose-san.

Jika dia sampai bilang begitu, baiklah. Jika dia tersakiti karena dimanfaatkan oleh Satou-san, biar Kurose-san sendiri yang akan menanggung akibatnya.

Usai memikirkan hal semacam itu, aku menyimpan ponselku di saku dan menuju ke stasiun.

“Kashima-dono”

Aku mendengar namaku dipanggil dari belakang, dan ketika aku berbalik, Kujibayashi-kun ada di sana.

“Eh, ada apa?”

“Tidak, Daku baru saja makan malam di depan stasiun dan sedang dalam perjalanan kembali ke universitas karena ada urusan di perpustakaan.”

Aku menjawab dengan singkat, dan Kujibayashi-kun melihatku dengan rasa heran.

“Apa ada sesuatu yang terjadi padamu? Daku melewatkan kesempatan untuk memanggilmu karena Dikau terlihat seperti kesetanan.”

“Ah...”

Jadi, dia memanggilku dari belakang setelah datang dari depan stasiun. Mungkin aku begitu sibuk sampai-sampai tidak menyadari bahwa aku berpapasan dengan Kujibayashi-kun

“...Ini tentang Kurose-san, sedikit...”

“Mengenai Nona Kurose?”

Kujibayashi-kun mengulangi dengan rasa tertarik. Sepertinya ia masih memiliki perasaan tertarik pada Kurose-san.

“Yeah, sebenarnya...”

Karena ini bukanlah cerita yang cocok untuk dibicarakan di pinggir jalan yang terus dilalui orang-orang pulang kerja, kami memutuskan untuk masuk ke restoran cepat saji yang ada di dekat kami.

 

“...Jadi begitulah ceritanya.”

Di meja konter yang menghadap ke jalan tepat di depan kasir, aku dengan singkat menceritakan pada Kujibayashi-kun yang berada di sebelahku.

“.......”

Kujibayashi-kun mendengarkan ceritaku dengan kepala tertunduk sepanjang waktu.

“Aku berpikir bahwa jika Kurose-san berkata begitu, maka aku tidak terlalu memedulikannya lagi.”

“.........”

Setelah aku selesai berbicara, Kujibayashi-kun tetap terdiam dan menatap cangkir Vanilla Shake di tangannya. Hal ini jarang terjadi pada seseorang yang berpikir cepat seperti dirinya.

Tentu saja, bagi Kujiabayashi-kun yang mengaku sebagai “Yokai perjaka” selama enam tahun di sekolah khusus pria, percintaan antara orang yang sudah menikah adalah cerita dari dunia lain (meskipun aku juga merasa sama), mungkin ia tidak tahu harus berkomentar apa.

Aku melihat meja basah karena keringat yang mengucur dari gelas kertas Vanilla Shake, dan sedikit demi sedikit mulai mendapatkan ketenanganku kembali.

Aku marah karena diabaikan oleh Kurose-san saat dia berkata “tinggalkan aku sendiri”, tapi pada akhirnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Urusan antara Kurose-san dan Satou-san, pada akhirnya, hanya terserah apa yang diinginkan oleh Kurose-san.

Tanpa sengaja aku melihat ke layar ponselku. Waktunya sudah lewat setengah tujuh malam. Waktu kerja paruh waktu Kurose-san akan segera berakhir.

Setelah meninggalkan kantor redaksi editorial, kemungkinan besar Kurose-san akan segera mengunjungi hotel tempat Satou-san menunggu.

Dengan perasaan senang bisa bertemu dengan orang yang dicintai, dan sedikit kekhawatiran.

Semoga Satou-san bisa menjadi pria yang memiliki setidaknya rasa hormat dasar sebagai orang dewasa.

Dengan harapan seperti itu, ketika aku sedang memikirkan untuk mengubah topik pembicaraan, hal itu terjadi.

“....Apa pria Satou ini bisa menjadi orang yang membuat Nona Kurose bahagia?”

Kujibayashi-kun bertanya dengan ragu. Pandangannya masih tertuju pada Vanilla Shake.

“Eh? Tidak, mana mungkinlah. Ia ‘kan orang yang sudah menikah.”

Aku menjawab dengan spontan seraya mengingat kesan yang kudapat saat acara minum-minum.

“Namun, mungkin tidak demikian bagi Nona Kurose.”

“Eh?”

“Orang-orang cenderung tidak bisa mempercayai apa yang tidak mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Sekalipun itu tentang masa depan mereka.”

Aku menatap Kujibayashi-kun, bertanya-tanya mengenai maksud perkataannya. Sedangkan Kujibayashi-kun masih memandangi Vanilla Milkshake dan berkata dengan ragu.

“Mungkin masa depan yang dilihat Kashima-dono dan Nona Kurose berbeda.”

“Tapi, ia bukanlah pria yang baik-baik ketika mencoba mendekati gadis muda yang lebih muda darinya meskipun sudah menikah dan memiliki anak. Ia bahkan mencoba mendekati editornya yang dulu.”

“Apa Nona Kurose mengetahui hal itu?”

“Tidak, sih...”

Aku merasa bahwa itu bukanlah argumen yang kuat untuk meyakinkan Kurose-san yang sudah dibutakan dengan cinta.

Ketika aku memikirkan hal ini dan tetap diam, Kujibayashi-kun membuka mulutnya lagi.

“Walaupun Daku hanyalah youkai perjaka, tapi Daku pernah merasakan tunas-tunas cinta tumbuh di dalam hatiku. Aku telah mengalami hal itu berulang kali dalam buku-buku. Itu adalah perasaan yang berakar pada sifat manusia, dan meskipun pihak lain sudah menikah, itu bukanlah sesuatu yang bisa diabaikan dengan mudah.”

“Hmm?”

Apa maksudnya? Saat aku mengira Kujibayashi-kun sedang mencoba membela Satou-san, Kujibayashi-kun melanjutkan dengan mengatakan “Namun”.

“Cara dia mengungkapkannya harus berubah. Jika pria bernama Satou itu benar-benar jatuh cinta dengan Nona Kurose, ia harus memikirkan bagaimana membuat Nona Kurose bahagia, meskipun dirinya sudah menikah.”

“... Tapi setidaknya itu bukan dengan cara mengajaknya di hotel tempatnya menginap, bukan?”

Kujibayashi-kun menganggukkan kepalanya sebagai tanggapan terhadap kata-kataku.

“Oleh karena itu, cinta Satou siapa-siapa itu bukanlah cinta sejati. Namun, itu belum terlihat oleh mata Nona Kurose.”

“…..”

Aku berpikir begitu. Satou-san sendiri juga hanya menunjukkan sisi baiknya kepada Kurose-san.

“... Kashima-dono.”

“Hm?”

Aku tiba-tiba dipanggil dan melihat ke arah Kujibayashi-kun. Setelah beberapa kali ragu, ia akhirnya membuka mulut dengan ekspresi yang mantap.

“Bisakah Dikau ... menghentikan Nona Kurose?”

“Eh?”

Saat ia mengatakan sesuatu yang tidak terduga, aku melihat ke arah Kujibayashi-kun.

Kujibayashi-kun juga melihatku, lalu segera menundukkan pandangannya ke meja.

“... Dia adalah gadis yang baik hati. Dia mau mendengarkan cerita yang membosankan dari Daku selama dua jam dengan sabar.”

Perkataannya mungkin mengacu pada saat “ketika kami bertemu untuk pertama kalinya dan terus berbicara selama dua jam mengenai Mori Ougai.”

“Menurutku gadis baik hati seperti dia tidak akan bisa begitu saja menolak menolak ajakan dari seorang pria yang menarik hati dan pikirannya.”

Mungkin saja begitu.

── Aku selalu merasa takut ketika ada pria yang menyentuhku, tapi saat Satou-san mengelus kepalaku... aku... jika itu Satou-san...

Aku melihat wajah Kurose-san yang seperti itu untuk pertama kalinya.

Tidak, mungkin ini bukan pertama kalinya.

Mungkin gadis yang pernah mendekatiku di gudang olahraga dulu, mungkin ... Karena suasananya yang gelap, aku jadi tidak bisa melihat dengan jelas.

“Sejak saat itu, aku selalu memikirkan tentangnya.”

Ketika Kujibayashi-kun mengatakan itu, aku mendongak dengan kaget. Kujibayahi-kun sedang menatap milkshake vanila dengan serius.

“Senyum di wajahnya yang menyerupai bunga hari bersalju tak pernah lepas dari hatiku. Aku berharap gadis yang cantik dan baik hati seperti dirinya bisa mendapatkan kebahagiaan seumur hidupnya. Namun ...”

Setiap kata yang diucapkan oleh Kujibayashi-kun membuatku merasakan keikhlasan dan ketulusannya. Mungkin perasaan ini terlalu berat untuk seorang pria seperti dirinya yang hanya bertemu dengan Kurose-san sekali, tapi aku merasa bisa memahami perasaan itu.

“Sebagai seseorang yang hanya sebatas teman, aku tidak bisa melakukan banyak hal. Oleh karena itu, aku ingin meminta bantuanmu sebagai teman kami berdua. Tolong hentikan Nona Kurose.”

Kujibayashi-kun yang menatapku dengan mata tulus, menundukkan kepalanya sekali lagi.

“Sebelum dia mengorbankan kebahagiaannya sendiri demi memenuhi keinginan pria yang dicintainya...”

Setelah mengatakan itu, ia mengangkat cangkir kertas yang basah karena tetesan air dari milkshake vanila dan sedikit canggung ketika ia menyeruputnya.

 

◇◇◇◇

 

“Terima kasih buat kerja kerasmu, Luna. Ada yang ingin kubicarakan...Maaf, tapi bisakah kita bertemu sekarang? Aku ingin kamu datang ke Mejiro?”

Setelah berpisah dengan Kujibayashi-kun di depan restoran cepat saji, aku menelepon Luna.

“Eh, ada apa? Tumben-tumbennya kamu mengatakan hal seperti itu, Ryuuto. Oke baiklah, kebetulan Misuzu-san sudah pulang, jadi aku akan datang sekarang!”

Dengan suara gaduh dari si kembar sebagai latar belakang, Luna mengatakan itu dan menutup telepon.

 

Setelah menyelesaikan panggilan dengan Luna, aku terus menelepon sambil berjalan menuju stasiun.

“Halo? Maaf ini siapa ya?”

“Maaf sudah mendadak mengganggu anda, ini saya, Kashima. Apa saya boleh menelepon anda sekarang?”

“Ohh, tidak masalah, ada apa?”

Suara keras nan nyaring yang terdengar melalui telepon adalah Kamonohashi-sensei yang biasa.

Aku ingat bahwa ketika kami bertukar alamat email, sensei mengatakan, “Angka ini adalah nomor ponselku.”

“Saya ingin bertanya sedikit ... apa benar Satou Naoki-san sudah menikah?”

“Oh, ya. Kalau tidak salah sekitar lima tahun yang lalu? Aku lupa kapannya. Tapi aku ingat dia bilang bertemu dengan mahasiswi atau perawat, atau staf di acara kencan buta. Aku lupa, tapi dia pasti wanita cantik yang lebih muda.”

“ ... Saya mendengar bahwa ia juga sudah punya anak?”

“Ya, benar. Aku yakin kalau anaknya perempuan? Ketika kami minum bersama, dia bilang 'Dia lahir kemarin', jadi aku mentraktirnya!”

Jika ini yang diucapkan oleh Kamonohashi-sensei, maka kepastian bahwa Sato Naoki sudah menikah dan memiliki anak menjadi jelas.

“Memangnya ada yang salah dengan itu?”

Ketika Kamonohashi-sensei bertanya dengan suara heran, aku menceritakan sedikit tentang hubungan antara Satou-san dan Kurose-san sejak acara minum-minum tempo hari.

Aku tiba di stasiun saat masih berbicara, dan karena tidak mungkin untuk memutuskan telepon dan naik kereta, aku akhirnya naik taksi. Aku harus sampai di hotel lebih cepat dari Kurose-san, jadi aku harus mengeluarkan sedikit uang.

“Serius, itu sih gila!”

Setelah mendengarkan ceritaku, Kamonohashi-sensei mengatakannya dengan suara lantang. Karena lingkungan sekitarnya terdengar sunyi, mungkin ia sedang berada di rumah atau tempat kerja.

“Tahu enggak, aku sebenarnya benci pada Satou-kun karena dia tampan! Bahkan nama pena-nya terdengar tidak enak. 'Sato Naoki', itu hanya nama aslinya dalam huruf katakana. Ia memiliki kepercayaan diri karena populer dalam kehidupan nyata, jadi ia berpikir tidak perlu berpura-pura di dunia fiksi, kan? Lihatlah nama penaku, Kamonohashi loh Kamonohashi! Aku punya kompleks sehingga bahkan tidak bisa memberi nama pada diriku sendiri!”

Kamonohashi-sensei tertawa dengan keras. Tak diragukan lagi kalau ia berada di ruang pribadinya.

Melihat hal itu, aku memutuskan untuk membicarakan masalah utama.

“... Apa Kamonohashi-sensei mengenal mangaka yang akrab dengan Satou-san?”

“Hmm, biar kuingat-ingat. Mungkin dia akrab dengan Yuki-kun atau Tsukikage-kun, yang juga berasal dari majalah yang sama. Aku melihat mereka sering nongkrong di masa lalu.”

“... Apa mungkin mereka bisa memberikan bukti tentang hubungan yang baik antara Satou-san dan keluarganya? Misalnya foto atau tangkapan layar LINE ... Semakin baru, semakin baik."

“Apa? Tangkapan layar? Itu maksudnya gambar foto, ‘kan?”

“Yeah, tepat sekali ...”

"Baiklah, mengerti! Karena aku menggunakan ponsel jadul, tapi aku akan mencoba mengirimkan gambarnya padamu melalui email!”

“Maaf, saya tahu hal itu tidak mudah karena informasi pribadi dan masalah lainnya. ......”

“Tidak apa-apa, jangan khawatir! Kamu mencoba menunjukkan itu padanya dan menyadarkan Kurose-san, kan?”

“... Iya.”

Mangaka yang terkenal di sepenjuru negeri memang hebat. Sepertinya beliau sudah bisa menebak rencanaku.

“Jika memang begitu, biarkan aku yang menanganinya! Jika aku memintanya, tidak ada yang bisa menolak permintaanku di industri ini! Ketika ada alasan moral yang kuat seperti ini, kita harus menggunakan kekuasaan dengan sepenuh hati!”

“Terima kasih banyak atas bantuan anda...”

“Tidak masalah, tidak masalah! Jika aku bisa mengalahkan si tampan itu dan membuktikan kebenaran, aku akan merasa plong!”

Setelah mengakhiri panggilan dengan Kamonohashi-sensei, aku menghela nafas di kursi belakang taksi.

“... Haaah ..."

── Orang-orang cenderung tidak bisa mempercayai apa yang tidak mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri. Sekalipun itu tentang masa depan mereka.

── Mungkin masa depan yang dilihat Kashima-dono dan Nona Kurose berbeda.

Setelah mendengar perkataan Kujibayashi-kun, aku merasa kalau aku perlu menunjukkan sesuatu yang ‘terlihat’ kepada Kurose-san untuk membuktikan perasaan Satou-san.

Aku tidak tahu apakah rencana ini bisa berhasil atau tidak, tetapi sekarang aku tidak punya pilihan lain selain mempercayai koneksi dan moralitas Kamonohashi-sensei.

 

◇◇◇◇

 

Saat  aku tiba di area jalan masuk hotel, waktunya menunjukkan sekitar pukul 19.15 malam. Meski aku menggunakan jalan tol dan biaya taksi yang sebesar 5.000 yen cukup menguras isi dompetku, aku yakin kalau aku tiba lebih awal daripada Kurose-san. Kurose-san yang masih berada di kantor editorial hingga pukul 7 malam pastinya belum tiba, meskipun dia menggunakan taksi.

Aku memutuskan untuk menunggu Kurose-san di ruang tunggu dekat pintu masuk utama, karena aku tidak tahu di mana dia akan bertemu dengan Satou-san.

Aku duduk di sofa yang dilapisi dengan kain berkualitas tinggi yang berkilauan, dan menggoyangkan kakiku di atas karpet berbulu seperti karpet Persia yang berwarna-warni. Aku tidak bisa fokus pada ponselku dan hanya memantau pintu masuk sambil terus menunggu.

Ketika pintu masuk otomatis terbuka, seseorang yang sangat aku kenal memasuki hotel.

“Ryuuto!”

Ternyata, Luna tiba lebih dulu daripada Kurose-san.

Luna berjalan ke arahku sambil melambaikan tangannya dan duduk di sofa di seberangku.

“Aku juga menggunakan taksi! Karena jarak dari rumahku ke stasiun cukup jauh sih.”

Lalu, dia melihat-lihat sekitarnya. Di ruang tunggu hanya ada orang-orang yang menunggu untuk check-in atau pria-pria paruh baya yang sedang melakukan bisnis.

“Bagaimana dengan Maria?”

“Dia masih belum tiba ...”

“Eh, masa? Bukannya jarak antara Iidabashi dan hotel ini sangat dekat? Jika menggunakan taksi, seharusnya hanya membutuhkan waktu 12 menit, ‘kan?”

“Hmmm, mungkin dia datang dengan menggunakan kereta atau bus ...”

Setelah berbicara dengan Kamonohashi-sensei melalui telepon, aku bertukar pesan singkat dengan Luna untuk menjelaskan situasinya. Luna terkejut karena dia tidak tahu apa-apa tentang Kurose-san dan Satou Naoki.

“Tapi, begitu ya, Maria...”

Luna tiba-tiba bergumam dengan wajah muram.

“Akhirnya dia menemukan seseorang yang bisa dia cintai ...”

“Ya...”

Sebagai kakaknya, Luna pasti ingin mendukung hubungan baru Kurose-san. Luna menunjukkan perasaan campur aduk di wajahnya

Saat kami berdua sedang sedih bersama, tiba-tiba ...

“... Ah.”

Luna melihat ke arah pintu masuk dan mengangkat dagunya.

“Maria!”

Saat aku mengikuti garis pandangnya saat dia berdiri...Aku melihat Kurose-san berdiri membeku di pintu masuk.

“……”

Dia terlihat sangat terkejut sampai-sampai dia tidak bisa berbicara ketika melihat kami.

“... Mengapa?”

Dia menatapku dan Luma secara bergantian, lalu dia menatapku dengan tajam.

“Kashima-kun, apa kamu memberitahu Luna tentang Satou-san?”

“Aku sudah mendengarnya, Maria. Apa aku tidak boleh mengetahuinya?”

Luna kemudian berjalan mendekati Kurose-san.

“Kita sudah cukup dekat untuk membicarakan tentang apa saja sekarang. Apa kamu pikir aku akan khawatir jika aku tahu? Apa kamu sendiri tahu bahwa kamu melakukan sesuatu yang akan membuatku khawatir jika aku mengetahuinya?”

Kurose-san yang kedua tangannya digenggam oleh Luna, menggigit bibirnya dan mengalihkan pandangannya.

Aku merasa terganggu dengan tatapan orang-orang di sekitar, jadi aku mendekati mereka dan berkata.

“Karena di sini tempat yang kurang cocok untuk membicarakannya, jadi mari kita bicara di luar sebentar.”

 

◇◇◇◇

 

Kami bertiga meninggalkan hotel dan berjalan menuju taman terdekat.

Taman itu sangat luas sehingga kamu bisa berjalan mengelilinginya, dan memiliki suasana taman Jepang yang bersejarah yang tidak terlihat seperti taman hotel. Hal tersebut mengingatkanku pada suasana Kyoto yang pernah aku kunjungi selama perjalanan sekolah.

Meskipun ada orang-orang  berjalan-jalan menikmati taman, kami duduk di bangku yang muncul dan tidak memiliki waktu untuk menikmati pemandangan karena kami hanya bertemu untuk membicarakan sesuatu.

Sekarang saja sudah cukup gelap di sekeliling kami, dan lampu seperti lampion yang lembut menyala di sepanjang jalan taman. Angin malam yang sejuk pada awal musim panas berhembus lembut melalui pepohonan yang saling bersentuhan.

“... Maria.”

Luna, yang duduk di tengah, memalingkan tubuhnya ke arah Kurose-san dan menatapnya dengan penuh keprihatinan.

“Apa kamu sangat menyukai Satou-san?”

“..........”

Kurose-san tidak mengatakan apa-apa, dia hanya memalingkan kepalanya ke bawah dan mengangguk sedikit setelah beberapa saat.

“Satou-san tuh menginap di sini, bukan?”

Kurose-san mengangguk tanpa berkata-kata ketika Luna bertanya lagi.

“Jika dia mengajakmu makan malam di restoran, dan kemudian mengatakan 'Mari kita minum-minum lagi di kamarku', apa yang akan kamu lakukan?”

Kurose-san tidak menjawab.

“... Apa kamu akan tetap pergi?”

Ketika Luna kembali bertanya lagi, Kurose-san menanggapinya dengan mengangguk.

Luna kemudian mengerutkan keningnya.

“Maria... Apa kamu memahami maksud di baliknya?”

“Tapi, hanya karena aku pergi ke kamarnya, bukan berarti ada sesuatu yang akan terjadi, ‘kan? Mungkin dia hanya ingin minum lagi di kamarnya saja?”

Kurose-san akhirnya membuka mulutnya untuk pertama kalinya sejak kami berada di sini.

“Itu memang benar, tapi...”

Luna jadi terdiam.

Jadi, sebagai gantinya, aku membuka mulutku.

“Tapi, jika ada seseorang yang mengambil foto saat kamu masuk ke dalam kamar Satou-san, meskipun hanya minum bersama, foto itu bisa menjadi bukti perselingkuhan antara kamu dan Satou-san. Kamu mungkin akan diminta membayar ganti rugi oleh istri Satou-san.”

“.........”

Kurose-san lalu terdiam lagi. Kemudian, dia dengan tenang melontarkan kata-kata pembelaan.

“Tapi, asalkan kita berdua yang tahu kebenarannya, itu sudah cukup. Jika masalah uang, aku akan bekerja keras untuk membayarnya.”

“Maria...”

Ekspresi Luna semakin terlihat sedih dan bingung.

Entah bagaimana, aku merasa mulai mengerti perasaan Kurose-san. Mungkin Kurose-san menyukai Satou-san dan hanya ingin bersamanya, bukan karena dia sengaja datang ke sini untuk berselingkuh.

Tapi, pemikiran Satou-san mungkin berbeda.

“….Aku mengerti perasaanmu, Kurose-san. Tapi, jika Satou-san sendiri yang mengajakmu melakukan hal itu, apa kamu bisa menolak dan keluar dari kamarnya?”

“Aku percaya Satou-san bukan tipe orang seperti itu.”

“Dia adalah tipe orang seperti itu.”

“Apa yang kamu ketahui tentang itu, Kashima-kun?”

Kurose-san membalas dengan ekspresi kesal atas kata-kataku.

“Aku tahu, karena kami berdua sama-sama pria.”

Setelah mendengar kata-kataku yang emosional, Kurose-san dan Luna menatapku dengan ekspresi yang agak terkejut.

“Kurose-san...”

Karena mereka berdua sama-sama terdiam, jadi aku terus berbicara.

“Menurutku, 'mempercayai seseorang' bukan hanya tentang mengatakan bahwa kamu 'percaya' dan berhenti berpikir.”

Itu hanya memaksakan idealmu pada orang lain. Satou-san dan Kurose-san yang begitu dekat dalam waktu singkat, pasti tidak bisa membangun hubungan kepercayaan yang tulus.

“........”

Kurose-san kembali terdiam untuk kesekian kalinya

Pada saat itu, Luna membuka mulutnya.

“Menurutku, 'mempercayai seseorang' berarti memutuskan untuk bersiap 'Aku tidak keberatan dikhianati oleh orang itu'.

Luna berkata dengan tenang sambil menatap tangannya sendiri yang berada di atas lututnya.

“Aku... Aku merasa siap jika dikhianati oleh Ryuuto. Jika Ryuuto mengkhianatiku, aku bisa menerimanya sebagai sesuatu yang tidak bisa dihindari.”

“.........”

Luna…. Aku memandang ke arahnya.

Luna bahkan tidak melihat ke arahku sama sekali, dia hanya menatap adiknya dengan mata yang serius.

“Apa kamu siap dengan keputusan itu sekarang, Maria? Jika Satou-san mengkhianatimu, kamu tidak akan menyesalinya?”

Kurose-san tidak menjawab dengan kepala tertunduk.

“Apa kamu bisa menerima kenyataan tanpa mengeluh bahwa 'aku tidak menyangka bahwa dia orang yang seperti itu' atau 'aku seharusnya tidak pergi'?”

Lalu pada saat itu, Kurose-san akhirnya mengangkat kepalanya.

“Tapi... aku mencintainya! Karena aku mencintainya, aku ingin mempercayainya dan melakukan apa yang dia inginkan.”

Luna dengan ragu-ragu berbicara kepada Kurose-san yang terlihat emosional.

“...Pemikiranmu yang seperti itu, sama persis seperti aku sebelum berpacaran dengan Ryuuto.”

“……”

Bersama Kurose-san, aku juga kehilangan kata-kata.

“Jika aku harus mengatakannya secara jujur, perasaanku hanyalah 'Aku ingin mempercayainya karena dia adalah pacarku'. Aku menyerahkan segalanya pada orang yang masih belum aku kenal sepenuhnya, hanya karena aku percaya pada perasaan 'cinta'-ku... Aku menyesalinya. Bahkan sampai sekarang. Mungkin selamanya.”

Seolah-olah sedang berbicara pada dirinya sendiri, Luna mengatakan itu sambil menundukkan kepalanya.

“Aku takkan pernah bisa menghilangkan penyesalan itu... Selamanya.”

Lalu, dia mengangkat kepalanya dan menatap Kurose-san.

“Oleh karena itu, aku tidak ingin Maria merasakan penyesalan seperti itu.”

Dengan senyum yang menyiratkan kesedihannya, Luna berbicara pada Kurose-san.

“Bagaimanapun juga, Maria adalah gadis yang bisa menjaga dan menghargai dirinya sendiri, bukan?”

Kurose-san merasa tersentuh dan wajahnya dipenuhi perasaan campur aduk.

“...Kamu tidak mengerti perasaanku, Luna.”

Kurose-san menggenggam tangannya yang diletakkan di atas lututnya, dan suaranya terdengar seperti akan menangis.

“Tubuhku ini... Tidak pernah sekalipun diminta oleh orang yang aku sukai, dan bahkan justru diminta oleh orang yang tidak aku sukai.”

Aku teringat saat Kurose-san menjadi korban pelecehan seksual, dan saat dia mencoba menggodaku di gudang olahraga.

“Aku menyukai Satou-san. Jadi, jika ia memintanya dariku... Bahkan jika itu hanya tentang tubuhku... Aku akan merasa senang dan bahagia dengan hal itu...”

Butiran air mata menetes dari sudut matanya.

“…Karena ia adalah orang pertama ‘yang aku sukai' dan menginginkanku.”

“Maria...”

Luna meraih tangan Kurose-san dengan ekspresi sedih di wajahnya dan ketika dia hendak membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu….

Bubububububububububu….

Bunyi getaran terdengar dari tas tangan Luna, dan dia mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya.

“….Duh, lagi-lagi dari manajer toko! Ada apaan sih, pada saat-saat seperti ini juga!”

Meskipun dia terlihat kesal, Luna berdiri dari bangku dan menempelkan ponsel ke telinganya.

“Terima kasih atas kerja kerasnya! ...Eh!? Seriusan...!?”

Luna berjalan menjauh dari bangku sambil berbicara, sehingga kami bisa melihatnya tetapi tidak dapat mendengar pembicaraannya dengan jelas.

Sementara itu, saat aku sendirian dengan Kurose-san, aku memikirkan tentang apa yang dia katakan tadi..

── Tubuhku ini... Tidak pernah sekalipun diminta oleh orang yang aku sukai, dan bahkan justru diminta oleh orang yang tidak aku sukai.

Aku yakin dia pasti membicarakan tentang apa yang terjadi di gudang olahraga beberapa tahun yang lalu.

Jika dipikir-pikir lagi, Kurose-san benar-benar memiliki banyak pengalaman yang buruk dengan pria. Dia tiba-tiba meminta “hubungan fisik” dariku tanpa ada pengalaman sebelumnya. Dia bahkan menjadi takut pada pria setelah menjadi korban pelecehan seksual.

Saat ini, mari mengesampingkan masalah pelecehan seksualnya, jika Kurose-san merendahkan nilai seksualitasnya sendiri dan mencoba pergi ke tempat Sato-san, karena aku menolaknya saat itu...

Aku merasa harus mengatakan itu dengan jujur kepadanya.

“Kurose-san. Aku...”

Aku merasa lega ketika Luna pergi dari tempat duduknya. Sudah kuduga, mana mungkin aku bisa mengatakan hal semacam ini tepat di hadapannya.

“Sama seperti seperti Kurose-san yang ingin pengalaman pertama kalinya dengan seseorang seperti Satou-san, aku tidak menahan diri pada waktu itu. Di gudang olahraga itu...”

Kurose-san menatap mataku saat aku berbicara. Meskipun aku tahu itu, aku fokus pada daun-daun pohon di taman yang bergerak ditiup angin malam.

“Sebenarnya, aku juga...”

Sesaat mata kami bertemu, Kurose-san menunjukkan ekspresi serius yang membuat napasku terhenti. Tatapan matanya yang sembab terlihat seperti akan menangis kapan saja.

“...........”

Aku juga ingin melakukannya denganmu.

Aku pikir Kurose-san sudah tahu maksudku tanpa harus aku mengatakannya.

Kurose-san dengan lembut menundukkan kepala dan tidak bergerak.

“Kashima-kun...”

Kurose-san adalah gadis cantik yang luar biasa, dan meruapakan gadis cinta pertamaku.

Mana mungkin aku tidak terguncang saat dia mengajakku dengan begitu tanpa malu-malu, dan tidak ada keraguan dalam hati dan tubuhku.

“Tapi, aku memiliki seseorang yang sudah aku cintai... Karena aku tidak bisa membuatmu bahagia, jadi aku tidak menyentuhmu sama sekali.”

Aku berkata demikian sambil melihat Luna yang sedang berbicara di jauh.

“Bukankah itulah sebabnya kamu memintaku untuk memperkenalkanmu kepada seorang teman karena kamu menginginkan pria yang memiliki pemikiran seperti itu?

“.........”

Kurose-san menundukkan kepala dan tetap diam. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkannya sekarang.

Aku tidak tahu apakah upaya bujukan ini akan berhasil atau tidak.

Saat aku memeriksa ponselku, masih belum ada email yang masuk.

“Sebenarnya, jika kamu benar-benar ingin pergi ke tempat Satou-san, aku sudah tidak terlalu peduli lagi dan kamu bebas melakukan apa pun yang kamu inginkan, Kurose-san.”

Kurose-san menengok sekilas dan menatapku saat aku berkata dengan jujur.

"Namun, alasanku memanggil Luna untuk datang ke sini adalah karena Kujibayashi-kun yang memintaku.”

Kemudian, Kurose-san mengangkat wajahnya.

“Cowok yang mengoceh terus tentang Mori Ougai?”

“Ya, benar.”

Aku tertawa sedikit.

Aku merasakan sedikit kelegaan saat atmosfer tegang yang tidak sesuai dengan suasana taman malam ini sedikit mereda.

“Kujibayashi-kun bilang, 'Kurose-san adalah seorang gadis baik hati yang mendengarkan ceritaku yang membosankan sampai akhir, jadi mungkin dia tidak bisa menolak pria jahat yang mengajaknya. Aku ingin kamu menghentikannya',”

“........”

Kurose-san menurunkan pandangannya sejenak dan menutup erat bibirnya.

“Kujibayashi-kun adalah orang yang baik. Mungkin ia tidak bisa dianggap sebagai calon pacar atau objek cinta... Tapi aku ingin Kurose-san mencoba berteman dengan seseorang seperti Kujibayashi-kun. Kurose-san, kamu pernah mengatakan padaku kalau kamu takut pada pria, tapi Kujibayashi-kun sangat berbeda dan tidak memiliki kesan seperti itu.”

Aku melihat ke arah gedung hotel, di mana cahaya lampu terlihat di beberapa kamar. Mungkin Satou-san berada di salah satu dari mereka, menunggu kedatangan Kurose-san dengan harapan.

“Paling tidak, apa yang akan kamu lakukan sekarang bukanlah tindakan dari seorang wanita yang mengatakan 'aku takut pada pria'. Jadi tolong pikirkan lagi dengan kepala dingin.”

Kisah wanita lajang yang tersakiti karena terlibat dalam hubungan perselingkuhan dengan pria yang sudah menikah... Itu adalah kejadian yang terlalu umum untuk menjadi viral di media sosial zaman sekarang.

Aku tidak ingin adik perempuan Luna yang berharga menjadi karakter dalam cerita klise semacam itu.

“Aku adalah 'Onii-chan'-mu, ‘kan?”

Kurose-san menatapku dengan wajah terkejut.

“Meskipun aku tahu bahwa calon adik iparku akan menderita... Aku tetap tidak ingin membiarkan Kurose-san pergi ke tempat Satou-san.”

Kedua mata Kurose-san bergerak seperti permukaan air, dan tetesan air tumpah bersamaan dengan kedipan matanya.

Pada saat itu, ponselku bergetar dan aku memeriksa layarnya.

Rupanya itu adalah pesan email dari Kamonohashi-sensei.

“....!”

Aku segera membuka pesan email-nya setelah membuka kunci layar.

 

Dari: Kamonohashi-sensei

Bergembiralah, aku mendapatkan sesuatu yang luar biasa, loh (lol).

 

Hanya itu saja isi pesan dari Kamonohashi-sensei. Ketika aku membuka gambar yang dilampirkan dalam email-nya, sepertinya itu tangkapan layar percakapan di LINE.

Hal pertama yang menarik perhatianku adalah foto dua orang yang terlihat sangat dekat. Foto tersebut menampilkan Satou-san dan seorang wanita cantik yang terlihat masih di pertengahan dua puluhan, dengan rambut pendek dan leher ramping yang menonjol dalam balutan tank top kasualnya. Payudara montok wanita tersebut dengan jelas membentuk celah yang dalam, dan Satou-san menyandarkan tangannya di atas dada wanita tersebut, memeluknya ke arah dirinya. Dilihat dari sudut pandang foto, itu mungkin selfie Satou-san.

Di bawah gambar itu, ada serangkaian pesan teks. Tanggalnya sekitar awal Mei, selama masa liburan Golden Week.

Tulisan lawan obrolannya adalah “Satou Naoki”. Awal obrolan dimulai dari Satou-san dan dilanjutkan dengan percakapan dengan penerima pesan. Kemungkinan besar, itu adalah salah satu dari beberapa mangaka teman dekat yang diucapkan oleh Kamonohashi-sensei.

 

Punya istri berdada gede emang mantap banget!

 

Terima kasih. Kurasa sudah cukup untuk malam ini.

 

Jangan lihat-lihat foto istri orang dong.

 

Apa kamu berencana nambah anak kedua?

 

Aku harus menunggu sampai ada satu seri lagi karena aku baru saja membeli rumah.

 

Terus berusahalah dengan keras, Papa.

Aku juga ingin punya pacar.

 

Oh, gimana kalau kita mengadakan kencan buta lagi?

Tidak, ini pembicaraan serius, istriku ingin anak-anaknya bersekolah di sekolah swasta. Sejujur, itu sangat sulit.

 

Karena sudah menikah, jadi sepertinya kamu tidak bisa bermain-main lagi, ya.

 

Kalau yang begitu sih aku masih melakukannya dengan baik  hahaha.

 

Ah, apa akan diadaptasi menjadi anime lagi?

Semoga bisa lebih populer lagi, mereka para babi moe seharusnya lebih bersemangat -~ Heroinenya semuanya terlihat lucu ‘kan.

 

“............”

Ini luar biasa. Ternyata ini benar-benar melebihi harapanku.

Ini bahkan bisa menghancurkan perasaan cinta selama seratus tahun dan rasa hormatnya sebagai mangaka.

Jika Kurose-san begitu buta untuk tetap mencintai Satou-san bahkan setelah melihat ini, maka dia benar-benar tidak bisa diselamatkan.

“Kurose-san.”

Mungkin caraku ini terlihat agak kejam, tapi aku harus menunjukkan gambar screenshot yang aku tampilkan di ponselku kepada Kurose-san.

“Coba lihat ini.”

“Eh? Apa ini ...”

Kurose-san menatap layar dengan bingung, tapi sepertinya dia langsung memahami apa itu. Kurose-san yang pernah berkomunikasi dengan Satou-san melalui LINE pasti familiar dengan ikon yang terlihat seperti foto pemandangan.

“...Ini pesan-pesan dari Satou-san, tau.”

“......”

Mata Kurose-san terpaku pada layar ponsel dan bibirnya gemetar dengan halus.

Aku tidak tahu apa yang Satou-san katakan kepada Kurose-san tentang istrinya, tapi bila dilihat dari pandangan ini, sepertinya hubungan mereka sebagai suami istri sangat harmonis.

“Apa kamu baik-baik saja, Kurose-san...?”

Meskipun aku yang menunjukkan padanya, dia terlihat sangat terguncang, jadi aku khawatir dan bertanya kepadanya.

“Maaf! Terima kasih sudah menunggu! Manajer lupa lagi tentang acara dan ada masalah, tapi sepertinya akan baik-baik saja~!”

Pada saat itu, Luna kembali ke bangku kami. Dia masih terlihat sedikit jengkel dengan telepon tadi, dan dia menyadari perbedaan suasana di antara kami, membuat wajahnya menjadi terlihat canggung.

“...Jadi, apa yang terjadi?”

Dia melihat wajahku dan Kurose-san bergantian, kemudian menampilkan senyuman halus.

Melihat ekspresi Luna yang seperti itu, Kurose-san tertawa. Itu adalah senyuman yang tampak seperti dia telah melepaskan sesuatu.

“Nee, bagaimana kalau kita bertiga pergi makan malam bersama sekarang? Aku tidak punya lain setelah ini.”

“Eh? Jadi maksudmu...”

Melihat Luna yang kebingungan, Kurose-san memberitahunya sambil tersenyum.

“Aku tidak akan bertemu dengan Satou-san lagi. Aku akan memblokir LINE-nya juga.”

Sambil mengatakan itu, Kurose-san mengeluarkan ponselnya sendiri, memblokir kontak Satou Naoki di depan kami, dan menghapus ruang obrolan dengannya.

 

◇◇◇◇

 

Setelah itu, kami pergi menaiki bus menuju Stasiun Mejiro, dan makan di restoran yang berada di gedung dekat stasiun. Restoran tersebut memiliki menu yang didominasi oleh makanan organik dan terlihat modis, tetapi jauh lebih santai dan terjangkau dibandingkan dengan hotel tempat yang barusan kami kunjungi sebelumnya.

“Ayo kita minum-minum, bir, bir! Aku sudah tidak tahan lagi!”

Kurose-san berseru demikian setelah kami duduk di meja untuk empat orang di dalam suasana restoran yang terang dengan dinding kayu berwarna putih.

“Yah, Maria, asal jangan berlebihan saja ya...”

Luna yang mengetahui betul kebiasaan minum Kurose-san, dengan terburu-buru mengatakan itu.

Kurose-san dan Luna duduk bersebelahan di kursi yang terbuat dari kayu dengan sandaran sampai punggungnya, sedangkan aku duduk di hadapan Luna.

“Untuk sementara, ayo pesan bir dan ayam goreng. Luna dan Kashima-kun, kalian bebas memesan sesuatu yang kalian suka.” kata Kurose setelah sekilas melihat menu, meskipun dia masih sadar dan tampak fokus.

 

“Apa-apaan sih Satou Naoki itu? Ia benar-benar tidak bisa dipercaya!”

Setelah satu jam dia mulai minum, seperti yang diperkirakan, Kurose-san sudah benar-benar mabuk dan mulai mengomel sambil memegang gelas birnya.

“Ia malah mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda padaku! Ia justru memeluk erat dengan istrinya! Dasar tukang gombal, apa-apaan dengan perkataan 'Aku tidak bisa melihanya sebagai wanita lagi'?! Ia bahkan bilang 'mungkin kita akan berpisah'!”

“Eh, apa-apaan itu, parah banget?! Jadi pria itu menipu Maria dengan mengatakan itu?!”

Turut memihak pada Kurose-san, suasana hati Luna juga ikutan memburuk.

“Orang semacam itu bukan pria baik-baik! Orang seperti itu harus dihapuskan dari masyarakat!”

“Bener banget! Dia harus dipotong-potong!”

“Ya! Aku tidak mengatakan apanya yang harus dipotong-potong!”

“Bener sekali! Aku tidak bilang apanya yang harus dipotong-potong!”

“Tunggu sebentar, kalian berdua tenanglah sedikit!”

Karena topik pembicaraan yang tidak cocok dengan suasana restoran yang modis dan elegan, aku memperingatkan mereka dengan suara pelan sambil memperhatikan meja di sekitar kami.

Namun, karena ada banyak kelompok wanita yang berbicara keras di dalam restoran, suara mereka tidak terlalu mencolok.

“Yah, apapun alasannya, kenyataannya adalah ia sudah menikah...”

Kurose-san kembali merasa sedih ketika mendengar perkataanku.

“...Benar. Kalau dipikir-pikir lagi...itu memang kenyataannya...”

Kurose-san menghela nafas panjang ketika mengatakan itu, lupa dengan kegembiraan sebelumnya.

“Haaa...Kira-kira apa enggak ada pria lajang yang baik di luar sana?”

Luna memberikan tatapan simpati kepada adiknya yang berkata demikian.

“Pria seperti apa yang kamu inginkan, Maria?”

“Tipe orang seperti Satou-san.”

Kurose-san berkata dengan bibir cemberut seperti anak kecil dan bersandar pada tangannya.

“Eh? Tunggu, kamu tidak boleh melakukan hal itu meskipun kamu masih lajang!”

“Benar, kamu nanti cuma diselingkuhi saja tau?”  

Ketika aku dan Luna memperingatinya, Kurose-san terlihat seperti anak nakal yang manja dan tidak mau mendengarkan.

“Habisnya, hanya itu yang bisa aku pikirkan sekarang...”

Luna memandangi adik perempuannya yang kesakitan dan menyesap gelasnya. Mungkin karena teringat akan kebiasaan buruk Kurose-san yang suka mabuk, jadi Luna meminum limun tanpa alkohol.

“... Apa kamu punya teman laki-laki selain Ryuuto, Maria?”

Tiba-tiba Luna bertanya seperti itu.

Kurose-san perlahan menggelengkan kepalanya.

“..... Tidak ada.”

“Kalau gitu, mari kita mulai dengan menjadi teman. Dalam kasus Maria, lebih baik mengembangkan kekebalan terhadap pria sebelum menjalin hubungan asmara.”

Kurose-san menghela nafas ringan lagi setelah mendengar perkataan Luna dan melihat sekilas ke arahnya.

“Kalian berdua benar-benar mengatakan hal yang sama. Dasar pasangan yang sangat dekat ini...”

“Ehh?”

Luna menatapku dengan wajah kaget. Mungkin karena dia tidak tahu tentang percakapan kami saat meninggalkan bangku karena harus menjawab telepon atasannya.

Kurose-san melihatku dan mengabaikan Luna yang masih memasang tampang terkejut.

“Orang yang mengoceh Mori Ougai ......kalau tidak salah namanya Kujibayashi-san, ‘kan?”

“Ya.”

“Kalau ia tidak keberatan, apa kamu bisa mengajaknya makan malam kapan-kapan? Luna dan Kashima-kun…..aku ingin berbicara dengan kita berempat.”

Wajah Kurose-san tidak putus asa, tetapi senyum optimis muncul di wajahnya ketika dia mengatakan itu.

“Baiklah....aku mengerti.”

“Ah, itu bagus banget! Aku juga ingin bertemu dengan orang 'Sessha' ini!”

“Itu 'Shousei', tau?”

Aku berkata demikian pada Luna sambil tertawa dan melihat Kurose-san.

Kurose-san menatap Luna dan aku secara bergantian, dan kemudian dia tersenyum lembut.

“.....Entah kenapa.”

Pipi Kurose-san memerah sedikit karena bir dan memicingkan matanya dengan lembut.

“Saat kita bertiga berbicara seperti ini, aku teringat pada masa-masa ketika kita menjadi bagian dari tim pamflet, ya.”

“Ah... benar juga.”

Luna mengangkat suaranya terkejut.

“Kita bertiga mungkin belum berbicara seperti ini sejak saat itu.”

Aku teringat ketika kami bertiga menjadi bagian dari tim pamflet saat festival budaya di kelas dua masa SMA. Pada waktu itu, hubungan antara Luna dan Kurose-san masih canggung, jadi kami menjadi bagian dari panitia festival budaya yang sama untuk mempererat hubungan kami.

Di sisi lain, aku dan Kurose-san tiba-tiba menjadi dekat karena memiliki hobi dan sekolah bimbel yang sama, membuat hubunganku dengan Lua menjadi tidak stabil.

Aku berhenti berteman dengan Kurose-san karena alasan itu, dan meski aku terus berpacaran dengan Luna, hubunganku dengan Kurose-san hanya sebatas teman sekelas hingga lulus.

“... Waktu itu, ya, situasinya agak rumit sih.”

Luna mengatakan itu sambil tertawa dengan ekspresi rumit, dan Kurose-san juga tersenyum pahit.

“Tapi bagaimanapun juga, festival budaya di kelas tiga terasa sangat menyenangkan, ‘kan?”

“Oh, betul banget!”

Ekspresi Luna langsung berseri-seri dan dia sampai bertepuk tangan segala.

Oleh karena itu, aku juga teringat tentang musim gugur ketika kami semua menginjak tahun-tahun terakhir masa SMA.

 

♣♣♣♣

 

Festival budaya di kelas tiga sepenuhnya ditujukan untuk pengunjung. Kelasku adalah kelas jalur IPS, jadi kelasku tidak mengadakan pertunjukkan apa-apa dan ada siswa yang bahkan tidak hadir pada kedua hari acara tersebut karena tidak memengaruhi daftar kehadiran.

Di sisi lain, Kelas 3-E yang dimasuki Yamana-san dan Tanikita-san adalah kelas yang fokus pada pekerjaan atau masuk sekolah kejuruan. Hanya kelas mereka yang satu-satunya kelas di tahun ketiga yang berpartisipasi dalam pertunjukan kelas.

Sementara itu, saat Luna mengisi formulir survei karir masa depan, dia masih belum menentukan jalur studi yang akan diambil. Akibatnya, dia ditempatkan dalam kelas studi IPS yang berbeda dengan kita, yang tidak sama dengan siapa pun. Ada dua kelas studi IPS, dan aku, Nisshi, dan Kurose-san berada dalam kelas yang sama, sedangkan Luna berada di kelas yang sedikit lebih rendah dalam hal prestasi... atau lebih tepatnya, kelas dengan kesan seperti itu.

Pertunjukan kelas 3-E adalah “Café Konsep”... mereka membuka sebuah kafe dengan tema “Café maid” dan sejenisnya. Lalu konsep yang mereka tentukan adalah “Bunny Girl”. Tanikita-san memimpin persiapan kostum untuk para gadis, sedangkan kostum untuk para pria dan dekorasi dalam kelas disesuaikan dengan suasana “Kedai Luidea”, yang mana itu memberikan kesan yang menarik.

Namun, yang paling mengejutkan bagiku adalah...

“Ryuuto~! Bagaimana penampilanku?”

Entah mengapa, Luna tiba-tiba muncul sebagai seorang Bunny Girl. Ternyata, tampaknya ada aturan khusus bahwa siswa kelas tiga, selain mereka yang sedang mengikuti ujian, diizinkan untuk mengambil bagian dalam pertunjukan kelas 3-E.

“Lu-Luna...!?”

Pada hari pertama festival budaya, Luna hanya memberitahuku, “Ayo kita bertemu di kafe kelas 3-E , dan ketika aku bertemu dengannya di pintu masuk kelas, aku terkejut melihat penampilannya.

Luna adalah Bunny Girl yang sempurna. Dia mengenakan telinga dan ekor kelinci, kerah dan dasi kupu-kupu di lehernya, manset di pergelangan tangannya, dan mengenakan kostum Bunny yang ketat dan elegan. Dadanya yang hampir tumpah kapan saja terlihat dari leher yang terbuka dalam bentuk M, dan kakinya yang panjang terbungkus stoking hitam tipis keluar dari setelan High-leg-nya.

Dalam satu informasi yang aku dengar, katanya stocking jaring itu benar-benar ditolak oleh guru karena “terlalu seksual”, tetapi bahkan dengan penampilan yang seperti itu sudah cukup merangsang bagi para cowok.

“Ohh, jadi kamu datang juga ya, Kashima Ryuuto.”

“Okee~, aku akan mengantar satu tamu yang datang~!”

Yamana-san dan Tanikita-san juga muncul dalam kostum Bunny Girl mereka, tetapi aku tidak dapat mengalihkan perhatianku dari kostum Bunny Girl Luna.


Setelah memasuki ruangan dan mengambil tempat dudukku, Luna membawakan daftar menu untukku.

“Kalau gitu, aku akan memesan cola-...”

Aku bingung harus mengalihkan perhatianku ke mana, dan ketika aku mencoba memesan sesuatu secara acak, Luna membungkukkan tubuhnya ke arahku dan mendekatkan bibirnya ke telingaku seraya berbisik.

“Nee, Ryuuto.”

“.....!?”

Lembah dari gunung kembarnya yang indah terlihat mendekat, dan aku sangat terguncang. Lebih dari saat mengenakan seragam, bahkan jika dibandingkan dengan saat mengenakan pakaian renang, celah dadanya terlihat lebih jelas sehingga aku tidak bisa berhenti merasa gugup ketika menyadari ‘Ah, ternyata ada tahi lalat di tempat seperti itu’ dan mengamati setiap detailnya.

“Katanya ada menu rahasia yang bernama 'pafu-pafu'...”

Dia mengatakan itu dengan lambat dan seakan menyiratkan sesuatu, Luna bangkit dan memiringkan kepalanya ke arahku.

“... Apa kamu tertarik?”

“Eh!?”

Pa-Pafu-pafu!?

“I-Iya…!?”

Apa-apaan itu!? Apakah hal semacam itu dapat diterima dalam festival budaya SMA!? Selain itu, bagaimana jika tamu lain memesan hal yang sama ...!? Aku menjadi bingung dan Luna tersenyum dengan senang.

“Baiklah, sekarang aku akan menyiapkan 'pafu-pafu' untukmu, ya!”

Dengan senyum cantik yang menggoda, Luna menghilang ke dalam layar belakang, dan aku hanya bisa menelan ludahku sambil mengawasinya pergi.

 

Dan beberapa menit kemudian.

Aku merasa kecewa melihat segelas cola dan dua porsi kecil parfait stroberi di depanku.

“Umm ...”

Luna duduk di depanku dengan senyum yang menyenangkan, seolah-olah dia sangat menikmati reaksiku.

“... Bukannya ini cuma 'parfait-parfait' ...?”

“Hehe, iya emang begitu, kok?”

Luna tertawa dengan geli.

“Jika kamu memesannya, aku akan duduk di sini juga.”

Jadi begitu rupanya ... Yah, aku sudah cukup senang dengan itu.

“Memangnya apa yang kamu bayangkan? Dasar Ryuuto cabul

Aku tidak bisa membantahnya sama sekali. Ya, aku memang cowok yang cabul ...

Saat aku menundukkan kepalaku sambil memikirkan hal itu, dan Luna tertawa “Fufufu” ke arahku. Ketika aku mendongak, Luna tersenyum dan menatapku dengan mata yang menyipit.

“...Kalau yang asli, nanti kapan-kapan ya.”

“Ehh?”

Apa yang dia katakan tadi?

Yang asli? Maksudnya pafu-pafu yang asli? Lagian, sebenarnya apaan sih pafu-pafu* tuh? Apa itu memang hal yang sama dengan apa yang aku pikirkan? (TN: Pafu-pafu adalah istilah onomatope untuk menggambarkan kelembutan dan elastisitas. Istilah ini khususnya sering digunakan untuk merujuk pada tindakan membenamkan wajah ke belahan dada wanita.)

“Ayo, mari kita makan parfait-nya.”

Luna mengambil sendok plastik yang ada di depanku saat aku merasa gugup.

“Aaahmm~

Saat Luna memasukkan pafu-pafu ... tidak, parfait ke mulutku, perasaan manis dan asam menyebar di dalam dadaku, membuat hatiku meleleh seperti es krim stroberi di mulutku.

 

Seiring dengan festival budaya, acara festival olahraga juga diadakan.

Meskipun dia sudah menjadi siswa kelas tiga, Luna masih tetap aktif berpartisipasi dalam lomba lari dan estafet.

Namun, ada satu hal yang jelas berbeda dari saat dia masih di kelas dua.

“Yang semangat, Luna! Maria!”

Dari kursi penonton, ibu kandung Luna dan Kurose-san melambaikan tangannya.

Luna dan Kurose-san, yang sedang menunggu giliran mereka di garis start, saling tersenyum ketika mereka saling memandang.

“Terima kasih, ibu!”

“Aku akan berusaha keras!”

Keduanya bergandengan tangan dan melambaikan tangan yang kosong ke arah Ibu mereka.

Lalu mereka saling memandang dan tersenyum dengan bahagia.

 

Inilah pemandangan yang ingin aku lihat dari mereka berdua.

 

Dengan perasaan seperti itu, aku duduk di kursi kelasku sendiri dan hatiku tiba-tiba terasa hangat.

 

♣♣♣♣

 

Tiga tahun telah berlalu sejak saat itu.

Luna dan Kurose-san berjalan berpegangan tangan di malam hari, sama seperti dulu.

Mereka berjalan di trotoar jalan utama menuju Stasiun Mejiro.

Karena waktunya sudah lewat jam 21:00 pada hari kerja setelah waktu pulang kerja, jadi tidak ada banyak orang yang lewat di depan stasiun.

“Maria ‘kan sangat imut, jadi aku yakin kalau kamu akan baik-baik saja.”

Luna mencoba memberi semangat kepada adik perempuannya untuk menghiburnya saat dia berjalan sambil melambaikan tangannya.

“Tidak ada cowok yang tidak menyukaimu. Jika aku tidak ada, bahkan Ryuuto pasti sudah berpacaran denganmu, Maria.”

“........”

Aku tidak bisa membantah kalau itu sama sekali tidak benar.

Tapi aku tidak perlu mengatakannya. Itu sudah terasa dari suasana di antara mereka.

Aku dan Luna sudah tidak lagi dalam tahap hubungan di mana kami harus mengkhawatirkan hal-hal tersebut.

Itulah yang aku rasakan.

“Jadi, lain kali pasti akan baik-baik saja. Aku yakin kamu bisa bersama orang yang kamu sukai selanjutnya, Maria.”

“.........”

Mungkin, Kurose-san juga merasakan hal yang sama.

Dia lalu tersenyum sedikit kesepian.

“Terima kasih.... Aku senang kamu datang hari ini, Luna.”

Setelah mengucapkan itu, Kurose-san melihat ke arahku melalui Luna.

“Kashima-kun juga, terima kasih banyak.”

Lalu dia berbalik dan menatap ke depan.

“Aku akan berjuang.”

Langit yang mereka lihat adalah langit yang berkabut putih, dengan cahaya bulan sabit yang bersinar terang di seluruh langit.

Cahaya bulan itu begitu suci dan murni sehingga terasa sakral.

“Aku akan berjuang dan menjalani hidupku dengan baik.”

Air mata mengalir di pipi Kurose saat dia melihat ke langit dan bergumam demikian.

“...... Ya.”

“Semoga kamu bisa berhasil, Maria.”

Sambil mengatakan itu, Luna memegang tanganku dengan tangan lainnya yang bebas.

Dengan posisi Luna di tengah, kami bertiga berpegangan tangan dan berjalan melewati bundaran Stasiun Mejiro.

 

Semoga kamu bisa berhasil, Kurose-san.

Kamu adalah orang yang sangat hebat.

Keputusan yang kamu buat mungkin bukanlah sesuatu yang dapat diambil oleh gadis mana pun jika mereka dalam posisi yang sama.

Kamu adalah seorang gadis yang mulia.

Aku ingin kamu menjadi lebih bahagia daripada siapa pun.

 

Aku berharap bahwa doronganku juga dapat mencapai hati Kurose-san melalui Luna.

Dan kemudian, aku menggenggam tangan Luna erat-erat.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama