[LN] Anti-NTR Jilid 3 Epilog Bahasa Indonesia

Epilog

 

Pada hari itu...beberapa hari telah berlalu sejak interaksiku dengan Hatsune-san dan yang lainnya.

Tidak ada perubahan yang signifikan, dan hari-hari yang damai tanpa kejadian baik atau buruk terus berlanjut.

Aku lumayan was-was dan mengkhawatirkan suatu tindakan dari pihak mereka, tapi sepertinya ucapan tegas Ayana sangat mempengaruhi mereka.

“Mereka juga cukup tenang tanpa melakukan sesuatu yang aneh... tapi bagaimana dengan orang itu?”

'Orang itu' yang dimaksud adalah pria yang ada di gym olahraga itu.

Aku pergi ke gym hanya untuk mengamati perilakunya sebentar, tapi instruktur wanita yang menemaniku mengatakan bahwa pria itu sudah tidak bekerja di sana lagi.

[Ia tiba-tiba menelepon dan mengatakan bahwa dirinya berhenti. Sebagai seorang profesional, cara berhenti seperti itu tidaklah pantas, tapi sepertinya ia dalam situasi yang mendesak... bagaimanapun juga, ia sudah tidak ada di sini. Dari sudut pandang kami para wanita, ia adalah baj*ngan yang suka melakukan pelecehan s*ksual... Ahem, maaf, sekarang ia sudah pergi dan kami merasa lega.]

Begitulah keadaannya.

Rupanya pria itu adalah seseorang yang suka pelecehan seksual yang tidak disukai orang. Aku tidak mengerti mengapa mereka mempekerjakannya, mungkin ada kekuatan aneh yang bekerja di baliknya, meskipun itu terdengar seperti lelucon.

“.... Aku sama sekali tidak mengerti.”

Entah bagaimana, intuisiku memberitahuku bahwa lebih baik untuk tidak menyelidiki hal ini.

Aku tidak bisa sepenuhnya santai, tapi setidaknya aku masih bisa merasa lega bahwa aku tidak perlu khawatir tentang pria itu untuk saat ini.

Karena aku terlalu sibuk berpikir, aku jadi terhenti sejenak, tapi aku segera berlari ke tujuan dengan cepat.

“Fiuhh, sudah kuduga cuacanya lumayan panas ya.”

Sesampainya di tempat tujuan, rumah Ayana, punggungku sudah sedikit berkeringat.

Meskipun sekarang belum musim panas, tapi waktunya pasti sudah mulai mendekat, dan suhunya pun mulai berangsur-angsur berubah menjadi panas khas musim panas... walaupun anginnya masih terasa sejuk.

Setelah aku menekan bel di depan pintu, orang yang datang menyambutku adalah Seina-san.

“Selamat satang, Towa-kun... Oh, kamu sedikit berkeringat ya?”

“Selamat pagi, Seina-san. Ya... aku sedikit berlari.”

“Begitu ya, jadi kamu sangat ingin bertemu dengan Ayana, ya?”

Walaupun yidak sepenuhnya salah jika dikatakan begitu, jadi aku tak menyangkalnya.

“Bagaimana dengan Ayana?”

“Oh... dia sedang di kamarnya. Silakan masuk saja.”

“...? Baiklah, terima kasih.”

Apa…?

Seina-san memegangi kepalanya sambil bergumam, “Dia sungguh cepat tanggap,” dan aku memiringkan kepalaku ke samping saat memasuki rumah.

“Oh iya, benar juga.”

“Hmm, ada apa?”

“... Apa dia mengatakan sesuatu setelah itu?”

“Sesuatu... Oh, maksudmu yang itu ya. Kami memang sempat berbicara sedikit... saat itu aku menyampaikan pendapatku, dan dia tampaknya agak kesal sambil menatap tajam padaku...”

“.....”

Tentu saja perihal yang kumaksud adalah berkaitan dengan Hatsune-san dan yang lainnya.

Berdasarkan cerita Seina-san, sepertinya dia hanya kesal padaku tanpa melakukan apapun yang lebih serius. Meski begitu, aku masih merasa sedikit bersalah.

“Tolong jangan terlihat sedih begitu? Sebenarnya, aku jauh merasa lebih nyaman dianggap begitu.”

“……”

“Selama kalian berdua bahagia, itu saja sudah cukup. Nah, ayo segera pergi ke kamarnya.”

“..... Baiklah.”

... Ya, mari kita manfaatkan perhatian dari Seina-san.

Dan tentu saja, tujuanku adalah kamar Ayana... Namun, biasanya dia akan menyambutku begitu aku tiba di sini, tapi hari ini dia tidak keluar... Apa ada alasan khusus untuk hal ini?

Setelah beberapa detik memikirkannya, tapi pada akhirnya aku tetap tidak menemukan jawabannya, jadi aku akhirnya mengetuk pintu.

“Ayana?”

“Ah, selamat datang Towa-kun. Masuk saja.”

Saat aku melangkah masuk ke dalam, aku terkejut dengan pemandangan yang ada di depan mataku.

“...Eh?”

“Hehe♪”

Ayana tersenyum manis... tapi dia hanya mengenakan pakaian dalamnya.

Aku tidak tahu kapan dia melepaskannya, tapi pakaian yang seharusnya dipakainya tergeletak di atas tempat tidur, dan satu-satunya kain yang masih menempel di badannya adalah pakaian dalam hitam yang jelas-jelas mencolok untuk seorang gadis SMA... Apa yang sedang dia lakukan!?

“Apa yang sedang kamu lakukan?”

“Bukannya aku tiba-tiba mengembangkan fetish eks*bisionis atau semacamnya, kok? Aku hanya ingin mencoba sesuatu untuk menyambut musim panas yang akan datang.”

“Musim panas...?”

Apa yang ingin dia coba untuk menyambut musim panas?

Memang benar kalau musim panas akan tiba beberapa bulan lagi, tapi ini bahkan belum bulan Juni... Baiklah, saat aku memikirkannya, aku langsung tahu apa yang ingin dilakukan Ayana.

Dia ingin mencoba pakaian renang bikini putih murni yang dipegangnya.

“Bukan maksudku untuk merayakan musim panas lebih awal, tapi aku ingin tahu apakah baju renang yang sama dengan tahun lalu masih cocok untukku. Tolong beri penilaianmu, Towa-kun.”

 “... Jadi begitu maksudnya.”

Sekarang aku mengerti arti dari kata-kata “dia sangat cepat tanggap” Seina-san tadi.

Memang... memang aku mengakui bahwa dia memang cepat tanggap, tapi sebagai seorang pria yang menyukainya, melihat pemandangan seperti ini adalah hadiah bagiku. Selain itu, jika itu Ayana yang aku cintai, aku jadi ingin melihatnya meskipun itu tidak tepat waktunya.

“Kalau begitu, aku akan mulai menilainya.”

Jika itu masalahnya, izinkan aku membuat penilaian jujur ​​di sini.

Aku duduk di tempat dengan bunyi gedebuk dan menatap Ayana yang masih mengenakan celana dalamnya... Sudah terlihat jelas bahwa dia berpenampilan sangat seksi dan menggairahkan, tapi aku sudah terbiasa melihatnya telanjang.... Aku sudah tumbuh dewasa, ya.

“Ayo kita bermain aman dan memulai dari atas dulu.”

Ayana meletakkan tangannya di belakang punggungnya dan melepaskan kaitnya dengan cepat.

Pada saat itu, kekuatan yang selama ini menopang payudara Ayana yang menggairahkan langsung lenyap seketika, dan payudara itu mulai bergoyang dan menunjukkan kehadirannya... Aku berusaha menahan keinginan untuk berteriak di dalam hatiku, dan tidak melupakan bahwa aku hanyalah juri pakaian renang.

 “......”

“Ada apa?”

“Tidak...Aku hanya berpikir kalau rasanya begitu mendebarkan ketika dilihat Towa-kun dalam keadaan telanjang seperti ini.”

“Kalau begitu—”

“Akan tetapi, aku tidak ingin kamu berpaling, jadi tolong tetap lihatlah aku♪”

Karena sudah diminta begitu, jadi aku terpaksa menghindari berpaling darinya.

Tatapanku bergerak kesana-kemari mengikuti pergerakan tubuh Ayana...Aku memandangnya seperti itu, tapi sepertinya masalah langsung muncul.

“Eh…kok kecil, ya?”

Aku memperhatikan Ayana yang memiringkan kepalanya.

Rupanya baju renang yang akan dikenakannya sepertinya tidak sesuai dengan ukuran payudara Ayana dan terlihat agak kekecilan.

“Walaupun tidak ditingkat sampai aku tidak bisa memakainya, tapi…hmm~, aku membeli bra yang ukurannya lebih besar dari tahun lalu, jadi kurasa sudah waktunya untuk menggantinya juga.”

Ayana menyengir padaku saat dia mengatakan itu.

Melihat ekspresi wajahnya yang mempesona membuat jantungku berdegup lebih kencang dari biasanya, tapi yang bisa aku lakukan sekarang hanyalah menunggu Ayana mengatakan sesuatu.

Kira-kira…..apa yang akan dia katakan?

Ayana melepas baju renangnya yang sudah tidak muat lagi dan terus berbicara sambil mengangkat kedua payudaranya yang besar dan montok.

“Aku sangat dicintai oleh orang yang kucintai, dan bagian ini sudah sering diurus dengan baik, jadi wajar saja jika payudaraku membesar——Fakta bahwa payudaraku membesar seperti ini adalah bukti terbaik bahwa Towa-kun mencintai ku~♪”

“Uh...guoooooooooooo!”

Apa-apaan dengan kata-kata yang begitu erotis namun dipenuhi kegembiraan itu?

“Ufufu♪ Bagaimana menurutmu, Towa-kun, apa aku...terlihat s*ksi?”

Apa aku harus menjawabnya dengan benar saat ditanya sesuatu yang sudah jelas?

Atau seperti kata pepatah, apa aku seharusnya mengikuti naluriku dan melompat ke dada Ayana...?

Aku berdehem untuk menenangkan diri dan kembali menatapnya.

(Tidak, tidak, bukannya tidak pantas untuk terus menatapnya dalam situasi seperti ini...?)

Meski demikian, rasanya sangat disayangkan untuk berpaling dari pemandangan yang begitu indah ini...hmm.

Sama seperti aku tidak merasa malu ketika dia melihatku telanjang, Ayana juga terlihat tidak terlalu malu bahkan ketika aku melihatnya telanjang... atau lebih tepatnya, Bagi Ayana, yang memiliki banyak cara dalam melakukan rayuan dan godaan, hal ini bukanlah sesuatu yang memalukan.

“Yah... tentu saja kamu kelihatan s*ksi. Biasanya aku tidak mengatakannya, tapi rasanya aku selalu mengatakannya ketika aku melakukan begituan dengan Ayana.”

“Setiap kali aku mendengarnya, itu membuatku bahagia.Banyak orang menghindari topik pembicaraan semacam ini, dan aku juga tidak pernah melakukannya—tapi aku suka membicarakannya denganmu, Towa-kun. Jika kamu menganggapku s*ksi, hal itu membuatku sadar diri kalau aku dipenuhi dengan pesona sebagai seorang wanita.”

“Ah... kamu memang s*ksi, kok.”

“Horee~♪ Terima kasih♪”

Ayana, yang dipenuhi dengan erotisme sembari hidup berdampingan dengan keimutannya, mendekatiku dan memelukku seolah-olah dia telah melupakan tujuan awalnya.

Perasaan lembut payudaranya yang menempel di dadaku langsung terasa karena dia tidak mengenakan baju maupun pakaian dalam.

“Ayana?”

Biasanya, kami akan langsung melakukan begituan karena terbawa oleh suasana, tapi Ayana hanya menatapku tanpa ada tanda-tanda mencoba melakukan apa pun...Sebaliknya, tatapan matanya terlihat seolah-olah dia menikmati suasana ini sepenuhnya.

“Aku hanya…. sedikit emosional.”

“Emosional?”

“Ya. Aku merasa sangat senang saat ini...tapi, seandainya saja aku mengambil langkah yang salah, kurasa aku tidak akan bisa berinteraksi dengan Towa-kun dengan perasaan yang begitu murni dan menyegarkan seperti ini.”

Hal tersebut mungkin memang bisa terjadi.

Caraku memperlakukannya mungkin tidak akan berubah, tapi dari sudut pandang Ayana, di balik perasaan bahagia ini, dia pasti secara bertahap menyimpan kebencian untuk saat itu... Jika dia bisa terlihat begitu jujur hanya dengan tidak memilikinya, aku sungguh merasa senang.

“Tapi, Ayana.”

“Ya?”

“Jika kamu merasa begitu terharu oleh hal kecil seperti ini, kamu tidak akan bisa menahannya jika kamu terlalu emosional, bukan?”

“Eh?”

“Karena mulai sekarang, kita berdua akan menjadi lebih bahagia.”

“…Ah.”

Ya, kami berdua akan menjadi lebih bahagia mulai sekarang.

Aku ingin kami berdua bahagia selamanya, bukan hanya salah satu dari kami saka... Itu sebabnya aku mengatakan kalau dirinya gampang merasa terharu, tubuhnya pasti tidak akan bisa bertahan.

Wajah Ayana tampak terkejut sesaat, namun dia langsung tersenyum dan menciumku.

Muah...”

Aku membalas ciumannya dengan ringan, dan kami menikmati momen manis itu selama beberapa saat sebelum saling menjauhkan diri.

Kami kemudian saling berpandangan, tapi Ayana masih dalam keadaan telanjang... dan Ayana tiba-tiba berdiri kaget.

“Aku akan memakai bajuku...”

“O-Oh, tentu...”

Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Ayana duduk di sebelahku.

Saat aku merasakan kehadirannya saat dia memeluk lenganku di dadanya, aku pun memikirkan tentang suasana bahagia ini.

(Rasanya seperti déjà vu bisa bersantai dan menikmati kebahagiaan seperti ini...Seingatku, bukankah suasananya mirip seperti ini saat aku pulang ke rumah setelah berbicara dengan Ayana?)

Perasaanku masih sama seperti saat itu...tapi perbedaan krusialnya adalah aku memiliki lebih banyak ketenangan pikiran dibandingkan saat itu.

“Towa-kun.”

“Ya?”

“Kita berdua ... akan terus hidup bersama selamanya, kan? Setelah menyelesaikan satu atau dua masalah, bukan berarti semuanya sudah berakhir, tapi kita akan terus bergerak maju, kan?”

“Ya, itu benar.”

“Beberapa tahun ke depan atau selama puluhan tahun nanti, kita akan bersama, ‘kan?”

Aku mengangguk dalam-dalam.

Beberapa minggu terakhir ini terasa begitu intens, dan memberi kita banyak hal.

Meski sebenarnya masih ada beberapa masalah yang harus diatasi, tapi bagiku dan Ayana, peristiwa-peristiwa belakangan ini hanya membawa hal-hal baik... tidak diragukan lagi kami telah menemukan petunjuk menuju masa depan yang lebih baik.

“Towa-kun?”

“…..Ya, kita akan selalu bersama.”

“Fufufu, iya~♪”

Aku akan melindungi gadis yang tersenyum di sampingku ini... itulah tekadku yang tak akan berubah.

Mungkin jika semua masalah benar-benar selesai, dan ternyata ini semuanya hanyalah mimpi, itu akan terlalu menyedihkan... tapi aku tak peduli selama dia merasa bahagia.

“Towa-kun, tidak boleh begitu, tau?”

“... Eh?”

Aku terkejut ketika mendengar kata-kata Ayana.

Apanya yang tidak boleh? Dia memberi tahuku alasannya ketika tatapan mataku dipenuhi kebingungan.

“Aku pernah bilang kalau aku bisa mengerti sebagian tentang Towa-kun, ‘kan? ... Jadi saat kamu melihat ke kejauhan tadi, kamu terlihat seperti berpikir bahwa asalkan aku bahagia, kamu sama sekali tidak keberatan jika kamu pergi.”

“... Kamu seriusan memahami itu?”

“... Ya.”

Dia ... cuma asal menggertak saja, iya ‘kan?

Sejujurnya, karena ini mengenai Ayana, kupikir itu tidak terlalu aneh kalau dia bisa memahami semuanya, jadi aku bereaksi dengan sangat jujur.

Dengan pipi yang mengembang, Ayana mendekati wajahku seolah-olah ingin mengepungku.

“Apa kata-kata 'kita akan menjadi bahagia bersama' itu bohong? Jika Towa-kun menghilang, aku tidak akan pernah bisa bahagia... Kamu memahami itu, ‘kan?”

“... Maaf, Ayana.”

“Aku memaafkanmu.”

Sial... ya, memang begitu... itulah yang aku rasakan.

Kami sudah bersumpah untuk menjadi bahagia bersama... jadi tidak peduli apa yang terjadi, tidak akan baik jika salah satu dari kami menghilang.

Padahal aku sendiri yang mengucapkannya, tapi Ayana lah yang menunjukkannya padaku. Aku masih jauh dari sempurna.

“Meskipun Towa-kun menghilang, aku akan mencarimu. Aku akan mengejarmu sampai ke ujung dunia dan membawamu kembali.”

“Ah, beratnya...”

“Tapi kamu menyukai sisiku yang seperti itu, kan?”

“Yeah, aku sangat menyukaimu.”

“Aku juga menyukaimu~♪”

Kami pun kembali saling berpelukan.

Tentu saja aku merasa bahagia ketika Ayana berada di dekatku, tapi aku merasa lebih bahagia karena lingkungan sekitar kami juga bergerak ke arah yang lebih baik.

“Pada akhirnya... tidak ada acara memamerkan baju renang, ya? Aku pasti akan pergi membeli yang baru sebelum musim panas.”

“Apa aku juga akan ikut?”

“Tentu saja. Nanti tolong beri pendapatmu ya, Towa-kun.”

Aku mengangguk dengan mantap.

Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, aku akan terus hidup di dunia ini... dan karena itu, aku akan mengalami banyak hal bersama dengan Ayana.

Dunia ini adalah rumah kedua bagiku ... tapi suatu hari, apa akan datang saatnya di mana aku bisa mengatakan bahwa dunia tempat Ayana hidup adalah dunia terbaik dan terpenting bagiku ... Yah, mungkin itu akan segera terjadi, pikirku sambil tersenyum.

“Oh iya, Towa-kun, apa kamu sudah tahu? Katanya Akemi-san juga akan datang ke sini malam ini.”

“Eh? Serius?”

“Ah, sudah kuduga kamu masih belum tahu, ya. Kudengar mereka akan minum banyak alkohol lagi, jadi kenapa kamu tidak melalui masa-masa sulit lagi bersamaku?”

“Aku tidak mau mengalaminya lagiiiiiiii!”

“Ahaha♪, tapi aku sangat senang karena itu akan menyenangkan dan ramai.”

Oh, bahasa sopan santunnya hilang ... bukan itu, maksudku, jadi aku harus berurusan dengan dua orang mabuk itu lagi!?

Astaga, apa dosaku... Di samping Ayana yang tersenyum ceria, aku menghela nafas panjang sambil memikirkan tentang malam yang akan datang.

Tapi yah ... entah kenapa, sepertinya aku juga akan menantikannya.

Bukan hanya Ayana saja yang tersenyum lebar dengan gembira, tapi aku juga ikut tersenyum saat duduk di sebelahnya.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

close

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama