Chapter 3.5 — Obrolan Tongkrongan Antara Akari-chan dan Marimero
Marimero yang mengenakan setelan jas hitam, mengunjungi sebuah ruangan di rumah sakit bersalin di
pinggiran kota.
Di dalam
ruangan tersebut terdapat empat tempat tidur,
tapi hanya satu yang digunakan. Di sana, Akari-chan yang mengenakan piyama sedang duduk sambil menggendong bayi
yang baru lahir.
“Akari-chan?”
“Ah,
Marimero! Terima kasih sudah datang! Ayo masuk, ayo masuk!”
Akari-chan
tersenyum lebar ketika melihat wajah Marimero yang mengintip dari pintu
yang terbuka.
“Walaupun
ini kamar berempat, tapi pagi ini dua orang sudah pulang, jadi
sekarang cuma aku satu-satunya di sini,
beruntung banget!”
“Begitu
ya. …Akari-chan, sekali lagi,
selamat atas kelahiran anakmu.”
Setelah
mengatakannya, Marimero
mencoba memberikan kantong kertas yang dipegangnya kepada Akari-chan… tetapi
karena dia menggendong bayi, dia meletakkannya di meja di samping bantal tempat
tidur.
“Eh,
terima kasih! Aku
benar-benar berterima kasih banyak atas semua
bantuanmu selama proses persalinan! Aku sangat senang sekali ada Marimero di
sampingku!”
“Ufufu, aku sendiri cukup terkejut, tapi syukurlah semuanya berjalan dengan lancar.”
Marimero duduk di kursi di samping
tempat tidur seraya berkata demikian.
“Aku
mencaritahu apa yang bagus untuk
hadiah kelahiran, dan aku memilih set peralatan makan untuk anak-anak. Kamu bisa melihatnya nanti ya.”
“Uwaahh,
aku merasa terbantu banget! Aku
benar-benar senang! Serius terima kasih!”
Suara
kegembiraan Akari-chan membuatnya kemudian memperhatikan penampilan
temannya.
“Ngomong-ngomong,
baru pertama kalinya aku melihat Marimero mengenakan setelan jas! Kamu kelihatan keren, terasa banget seperti mahasiswa pencari
kerja!”
“Sebenarnya setelah ini, aku ada satu wawancara
di sore hari.”
“Walaupun
kamu sedang sibuk, terima kasih ya!”
“Enggak apa-apa kok, karena aku juga ingin bertemu Akari-chan dan
bayimu. Ara, ia beneran imut banget!”
Bayi dalam pelukan Akari-chan tidak sedang tertidur, melainkan menatap Marimero dengan tatapan mata yang penuh rasa ingin tahu.
Di kepala kecilnya, ada ikat kepala berwarna pink yang terlihat buatan tangan
dengan pita.
“…Bagaimana
proses kelahirannya?”
Marimero
bertanya dengan nada yang terdengar seperti dia penasaran dengan sesuatu yang mengerikan.
Seketika itu juga raut wajah Akari-chan menjadi kusut.
“Seriusan deh,
rasanya sangat mengerikan, aku merasa 'akan mati'
sekitar seratus kali. Aku bahkan tidak ingat
apa-apa selama tiga puluh menit terakhir. Rasanya
sakit sekali sampai hanya bisa berteriak! Setelah itu, Yusuke
bilang, 'Kupikir
kamu kembali ke alam liar,' dan aku merasa sangat jengkel padanya! Padahal aku sedang
berjuang untuk hidup!”
“Woahh…”
Marimero membuat ekspresi
ketakutan.
“Selain
itu, sejak dirawat sampai memasuki proses persalinan, Yusuke menempelkan bola
tenis di pinggangku, tapi dia terus menempelkan di tempat yang salah, jadi aku
benar-benar kesal!”
Setelah
mengatakan itu, Akari-chan mulai berbicara lebih bersemangat kepada Marimero yang tersenyum kecut.
“Ngomong-ngomong,
aku kira setelah melahirkan perutku akan kembali seperti semula, tapi ternyata
masih terlihat seperti orang hamil! Marimero,
kamu tahu enggak kalau
setelah melahirkan perut tidak langsung kecil?”
“Tidak
tahu… tapi begitu rupanya ya.”
“Aku
benar-benar khawatir apakah akan
kembali seperti semula!”
Marimero melihat ke arah perut yang dipamerkan Akari-chan dengan penuh
rasa kagum. Di sana, terlihat jelas bahwa perutnya masih membesar seolah-olah
dia masih dalam masa trimester
kedua kehamilan.
“Selain
itu, karena ada robekan di perineum, rasanya sangat sakit! Mau ke toilet saja rasanya seperti neraka!”
“Eh,
perine… apa maksudnya itu?”
“Karena
sulit dijelaskan, cari tahu sendiri nanti! Intinya tempat
bayi keluar!”
“Ah…”
Mari Mero
tampak mengerti.
“Pinggangku
rasanya sakit banget,
dan payudara terasa sakit karena saluran susu tersumbat, tubuhku sudah hancur,
jadi lucu rasanya. Tapi aku harus merawat bayi sendirian, jadi aku tidak bisa tertawa! Aku ingin
cepat-cepat keluar dari rumah sakit dan menyerahkan bayi ke Mama atau Yusuke!
Kalau tidak digendong, meskipun tidak lapar, ia
akan terus menangis.”
Setelah mendengar
hal itu, Marimero
berkata dengan ragu-ragu.
“…Mau aku bantu gendong sebentar?”
“Eh,
serius?”
“Ya.
Jika Akari-chan tidak keberatan… aku ingin mencoba menggendongnya sedikit.”
Dengan
begitu, Akari-chan menyerahkan bayi yang ada di pelukannya kepada Marimero.
“Uwah,
tak disangka Marimero jago menggendong!”
Melihat
temannya yang memegang bayinya dengan tangan yang stabil, Akari-chan
bersorak.
“Di
rumah, adik kembarku baru
lahir beberapa waktu lalu.”
“Ah iya, benar juga!”
“Karena
kami tinggal terpisah, jadi aku tidak
terlalu sering merawatnya, tapi saat mereka
masih bayi, kadang-kadang aku diizinkan untuk menggendong.”
Setelah
menjelaskan, Marimero mulai menatap
bayi yang ada di pelukanya.
“Senang bertemu denganmu namaku, Kurose
Maria. …Oh iya, ngomong-ngomong,
namanya apa?”
Saat
ditanya oleh Marimero, Akari-chan
mengernyitkan wajahnya.
“Ah,
aku hanya memikirkan nama untuk bayi perempuan, jadi sekarang aku harus memikirkan dari awal!”
Dia
berkata sambil tersenyum kecut.
“Ahaha.
Bagaimana dengan banyak pakaian bayi perempuan yang ada di rumah? Aku tidak
punya waktu untuk membuat ulang, dan kalau beli, tentu saja butuh uang…”
“Bagaimana
kalau membiarkan ia memakai apa saja yang ada dulu? Ia kelihatan imut, jadi aku yakin itu pasti kelihatan cocok!”
Marimero
menjawab sambil menatap bayi di pelukannya. Bayi itu memiliki wajah yang imut meskipun
masih baru lahir, dan pita pink di kepalanya sangat cocok.
“Benar juga! Sekarang sudah tidak ada aturan
seperti 'kalau laki-laki tidak boleh pakai pita' atau 'harus pakai
biru'!”
Akari-chan
berkata sambil tertawa ceria.
“Tapi,
aku benar-benar tidak menyangka kalau bayi laki-laki yang akan lahir! Dokter juga terkejut.
Ternyata testisnya sedikit lebih kecil, jadi sulit terlihat di USG.”
“Ufufu.”
Marimero sepertinya sudah mendengar
tentang jenis kelamin bayi yang lahir, dan dia tersenyum mengingat.
“Kehidupanku
selalu
dipenuhi dengan hal-hal yang tidak
terduga. Tapi tidak apa-apa, semua ini tetap menyenangkan!”
Akari-chan
mengangkat wajahnya ke langit saat berkata demikian, dan dengan jari
telunjuknya, dia menyentuh pipi bulat yang bersinar dari bayinya yang digendong
oleh temannya.
“Aku
berharap kekuatan positif dan keberuntungan bahagia ini bisa diwariskan kepada
anak ini.”
Akari-chan
berkata sambil tersenyum menatap bayi, dan dia sudah sepenuhnya terlihat
seperti seorang ibu.