Roshidere Jilid 10 Chapter 6 Bahasa Indonesia

Chapter 6 — Bos Muncul Di Balik Layar Kehidupan Sehari-Hari

 

““Sekarang bukan waktunya untuk itu kaliii!!””

Eh, hah?

Takeshi menoleh ke sana kemari dengan bingung setelah kedua sahabatnya memberikan tanggapan bersamaan. Dari sikapnya, sepertinya ia sama sekali tidak mengerti betapa besar pelanggaran yang dilakukan dengan pengakuan cinta yang tiba-tiba ini. Masachika dan Hikaru pun hanya bisa menengadah ke langit, tetapi terlepas dari reaksi penonton, nasi sudah menjadi bubur. Dalam situasi ini, yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu dan melihat bagaimana hasilnya nanti. 

Bagaimana Sayaka akan membalasnya? Perhatian semua orang tertuju padanya ketika Sayaka yang membuka matanya lebar-lebar menjawab dengan suara tertegun. 

......Mustahil.

Singkat, padat dan jelas.

Takeshi ambruk terduduk di kursinya dan menundukkan kepalanya mendengar kata-kata yang tak menyisakan ruang untuk kesalahpahaman. 

“Takeshi!!!!”

Ekspresi Takeshi yang sangat hancur membuat Hikaru memeluk bahunya. 

Tu-Tu-Tunggu sebentar!

Sementara itu, Masachika mencondongkan badannya dari samping Takeshi dan bertanya kepada Sayaka dengan semangat sampai-sampai hampir menggigit lidahnya. 

Apa itu berarti ‘mustahil’ secara psikologis atau fisiologis!? Atau, maksudnya berarti karena keadaan keluarga atau keputusan untuk tidak memiliki pacar, yang tidak bisa diubah!?

Takeshi bereaksi sedikit ketika mendengar pertanyaan Masachika, dan Sayaka berkedip beberapa kali sebelum menjawab. 

“Kurasa sepertinya yang terakhir... Sederhana saja, status keluarga kita tidak setara.

......Jadi, bukannya berarti karena aku dibenci!?

Takeshi yang tiba-tiba bangkit kembali dengan semangat, membuat Sayaka sedikit mundur dan mendorong kacamatanya. 

“Ketimbang dibilang membenci atau semacamnya... aku bahkan tidak pernah memikirkannya.

“Jadi itu berarti... masih ada kemungkinan, kan?

Y-Yah, mungkin tidak nol... kan?

Yosh! Yoshh! Yosshhaa! 

Begitu dirinya menyadari bahwa ia tidak ditolak mentah-mentah, Takesshi mengepalkan tinjunya ke udara dengan begitu bersemangat, sementara Masachika serta Hikaru menatapnya dengan setengah takjub dan setengah kagum. 

Kamu terlalu kuat...

“Bagaimana bilangnya ya... aku jadi sedikit menghormatimu.

Jika dinilai secara objektif, jawaban Sayaka sama sekali bukan jawaban yang menggembirakan. Tanggapan “Aku bahkan tidak pernah memikirkannya bisa diartikan sebagai Aku sama sekali tidak menganggapnya sebagai lawan jenis, dan tidak nol bisa diartikan sebagai “Aku hanya mengatakannya untuk menjaga perasaanmu, tetapi hampir tidak ada kemungkinan. Fakta bahwa Takeshi masih bisa merasa senang dengan hal ini... bagi kedua orang ini, pemikirannya terlalu positif. 

Namun, ada satu orang lagi yang memiliki pandangan positif seperti Takeshi

Woahh~ syukurlah untukmu ya~, Maruyama-kun.”

“Syukur...?

Orang itu, Maria, bertepuk tangan dengan ceria, sementara Alisa memberikan reaksi skeptis. 

......Entah kenapa, rasanya itu sedikit menusuk hatiku.

Yah, Touya memang tidak melakukannya di depan umum sih... tapi dari segi mendadak, itu lebih mendadak daripada Maruyama-kun. 

Mm...

Ada satu orang lagi yang sedikit terpicu oleh kenangan kelam masa lalunya

 

◇◇◇◇

(Sudut Pandang Alisa)

 

Kamu benar-benar hebat, seriusan...

Setelah itu, Masachika memuji Takeshi yang berhasil mengatur janji kencan meski dalam situasi yang mendesak, saat mereka berjalan menuju gerbang sekolah. 

Beneran deh... bagaimana mungkin kamu bisa membuat janji kencan setelah kekacauan itu...

“Yahh, itu tidak seberapa.

Tapi tetap saja, kekacauan tetaplah kekacauan, tau? Melakukan pengakuan cinta secara terbuka seperti itu, bagi orang yang tidak menyukainya akan sangat membencinya... syukurlah Sayaka tidak kelihatan marah. 

Haha, yah, aku juga sedikit merenung soal itu...

Alisa berjalan beberapa langkah di belakang tiga pria yang bersemangat membahas pengakuan Takeshi. 

Tanpa disadari, waktu sudah hampir menjelang malam, jadi setelah pembicaraan mereda, mereka memutuskan untuk pulang secara bergiliran... Namun, Yuki dan Ayano sedang menunggu mobil jemputan dari keluarga Suou. Sayaka menunggu mobil jemputan dari keluarga Taniyama, dan Nonoa menemaninya. Touya dan Chisaki merasa sedikit bertanggung jawab karena telah memprovokasi Takeshi secara tidak bertanggung jawab, sementara Maria akan mendukung mereka berdua sebelum pulang bersama, sehingga Alisa memutuskan untuk pulang lebih dulu dengan tiga pria kelas satu tersebut. Sementara itu, Takeshi ingin pulang bersama Sayaka, tetapi Masachika dan Hikaru menariknya dengan berkata, Tenangkan dirimu sebentar”, lalu menyeretnya pergi.

Yah, jika semuanya berakhir dengan baik... kurasa semuanya baik-baik saja?

Pada akhirnya, kamu berhasil membuat janji kencan... jadi seharusnya itu baik, kan?

“Iya, iya, bener banget~, akhirnya aku bisa melakukan kencan pertama dalam hidupku! Aku benar-benar merasa terharu!

Untuk kencan pertama, luar biasa sekali jika harapan dan kebahagiaan datang terlebih dahulu sebelum rasa gugup...

Ngomong-ngomong, Takeshi, apa kamu sudah punya pakaian untuk kencan?

Eh?

““Hah?””

Masachika yang biasanya begitu peduli pada Alisa yang tidak ikut campur dalam percakapan, tapi kali ini ia tampak asyik dengan pembicaraan antara pria. Namun, Alisa menganggap kalau itu hal yang wajar. Karena Alisa sendiri terjebak dalam pikiran tentang pengakuan Takeshi sebelumnya. 

(Aku tidak menyangka ia tiba-tiba menyatakan perasaannya seperti itu...)

Walaupun secara kebetulan dia terlibat dalam situasi ini, tapi pengakuan itu sangat mengejutkan bagi Alisa yang selama ini mengawasi perjalanan cinta Takeshi. Lagipula, menurut akal sehat Alisa, pengakuan cinta seharusnya dilakukan dengan lebih banyak tahapan dan dengan hati-hati. Dan ketika ini terjadi, pemikiran yang muncul adalah...

(Kira-kira kapan ya aku harus mengakui perasaanku pada Masachika-kun?)

Itulah yang ada di dalam benaknya. Karena terbuai oleh cinta pertamanya, dia sebelumnya tidak terlalu memikirkan hal ini dengan serius... Namun, setelah menyadari perasaannya, acara pengakuan merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari.

(Bu-Bukannya berarti aku ingin menjadi pacarnya Masachika-kun...atau melakukan sesuatu yang spesifik sih)

Sebenarnya, mereka berdua sudah melakukan kencan bahkan sekarang. Terutama untuk hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh sepasang kekasih... misalnya seperti ciuman dan sebagainya, Alisa tidak merasa ingin melakukannya. Sebenarnya, dia bahkan tidak pernah memikirkan hal itu.

(Tapi yahh? Kemarin aku sempat terbawa suasana dan memberitahu Masachika-kun kalau ia bisa menyentuh dadaku... tetapi aku cuma menggodanya. Aku tidak benar-benar ingin ia menyentuhku.)

Benar, dia sama sekali tidak berpikir demikian. Meskipun dia merasakan sensasi geli di dalam tubuhnya, tapi itu hanya karena melihat Masachika yang panik itu menyenangkan, dan rasa penasarannya semakin tergelitik. Selain itu, ada juga perasaan tidak nyaman di sekitar dadanya, tapi itu hanya dorongan untuk diakui sebagai seorang wanita. Dia sama sekali tidak memiliki perasaan cabul maupun tidak senonoh. Sama sekali tidak ada.

(Benar, aku tidak memiliki hasrat seperti itu, kan? Yah, kalau Masachika-kun bilang ia ingin menyentuhku sih... eh, bukan begitu! ... Aku sama sekali tidak ingin melakukan hal-hal semacam itu...)

Alisa kembali mengingat sosok Masachika yang sedang berbicara dengan Yuki kemarin.

Meskipun ia merasa kesal serta keheranan dengan perilaku adik perempuannya dan merespons dengan kasar, tapi tatapan matanya dipenuhi dengan kasih sayang dan perhatian yang mendalam.

(Aku juga... ingin dipandang dengan mata itu. Aku ingin menjadi orang yang penting bagi Masachika-kun.)

Dia menginginkan kasih sayang dan perhatian itu juga diarahkan kepadanya. Dan,

(Aku ingin Masachika-kun menyukaiku seperti aku menyukainya...)

Sambil menatap dengan penuh semangat wajah samping Masachika yang berjalan di depannya, Alisa berpikir dengan tenang, Jadi kapan aku harus mengakuinya...

(Masalahnya... bagaimana caranya supaya kakek Suou itu mau mengakuiku...?)

Benar, Alisa berpikir dengan tenang, dan sigap melangkah maju. Dia bahkan melupakan tentang sapaan kepada orang tua Masachika. Namun bagi Alisa yang hanya berniat menjalin hubungan serius dengan niat pernikahan, hal ini menjadi masalah yang serius.

Sampai sebelumnya, dia berpikir tidak ada masalah dengan latar belakang kelarga di antara mereka. Namun kenyataannya, Masachika adalah putra sulung dari keluarga Suou yang bahkan dihormati di Akademi Seirei. Di sisi lain, dia hanya berasal dari keluarga kelas menengah yang biasa-biasa saja. Selain itu, dia juga keturunan blasteran.

(Sebenarnya aku penasaran, aslinya bagaimana ya... tentang hal-hal seperti, 'Kami tidak akan membiarkan darah asing masuk ke keluarga terhormat kami!' Apa hal semacam itu beneran ada... Dari pembicaraan kemarin, aku tidak merasakan pandangan diskriminatif seperti itu...)

Oleh karena itu, dia berhenti memikirkannya karena merasa itu sia-sia. Darah yang mengalir dalam tubuhnya tidak bisa diubah. Dengan pemikiran itu, Alisa harus mencari cara lain agar diakui.

(Tentu saja, aku harus menunjukkan kemampuanku. Lagipula, ayah Masachika-kun juga berasal dari keluarga kelas menengah dan berhasil menikah ke keluarga lain, jadi kemungkinannya bukanlah nol...)

Namun, mungkin itu karena ayah Masachika menjadi seorang diplomat. Jadi, apa dirinya juga harus menjadi diplomat...?

(Tapi, mungkin Masachika-kun yang seharusnya menjadi diplomat, kan? Aku belum memutuskan apa yang ingin kulakukan di masa depan, tetapi memilih pekerjaan hanya demi lawan jenis rasanya tidak tepat... Jadi, apa yang harus kucapai...?)

Jawabannya sudah jelas. Menunjukkan kemampuan diri dengan jelas dan meraih gelar tertinggi yang dapat dijangkau oleh dirinya saat ini.

(Aku akan menjadi ketua OSIS. Dan bergabung dengan Raokoukai. Itulah titik awalnya.)

Pada akhirnya, tujuannya masih sama dengan yang selama ini dia impikan. Sesuatu yang selalu dia inginkan. Namun, sekarang dia menambahkan satu tekad baru.

(Aku akan memenangkan pemilihan, menjadi diriku yang tidak memalukan, dan menyatakan perasaanku pada Masachika-kun!)

Alisa merasa yakin dan tidak diragukan lagi bahwa saat itulah waktu yang terbaik.

Dia akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memperdalam ikatan mereka... Setelah mereka meraih kemenangan bersama, dia akan mengungkapkan perasaan cintanya. Sempurna. Ini adalah skenario yang sempurna, seolah-olah bisa dijadikan naskah drama.

(Sudah diputuskan)

Alisa menyisir rambutnya di telinga ketika memikirkan rencana sempurna di benaknya. Kemudian, dia mengarahkan pandangannya yang agak lesu ke arah jalanan yang mulai mengeluarkan nuansa musim dingin.

(Benar, cuma ini penilaian yang tenang dan rasional... Aku hanya memilih waktu yang memiliki peluang terbaik untuk diriku.)

Hanya itu saja. Semua itu tidak ada hubungannya dengan ucapan “mustahil” dari Sayaka sebelumnya yang membuat jantungnya berdesir, atau membayangkan dirinya ditolak oleh Masachika membuat perutnya terasa mual. Tidak ada sama sekali.

(Aku bukannya menunda pengakuanku, sama sekali bukan begitu. Apa aku takut ditolak? Atau berharap Masachika yang mengungkapkan perasaannya terlebih dahulu... sama sekali tidak, iya ‘kan?)

Sambil membuat-buat alasan dalam pikirannya, Alisa memainkan rambut yang tergerai di telinganya. Saat itu, kata-kata yang pernah diucapkan oleh kakaknya beberapa waktu lalu mendadak terlintas dalam pikirannya.

Tapi, jika kamu menyukainya, lebih baik kamu segera menyampaikannya loh~? Semuanya bakalan terlambat jika ia sudah diambil orang lain

Alisa kembali tersadar dan menghentikan jarinya. Sementara dia menunda pengakuan, kemungkinan Masachika diambil oleh gadis lain... Mengingat gadis-gadis di sekitar Masachika, Alisa menggelengkan kepalanya.

(...tidak, tidak, mana mungkin, kan? Gadis yang paling memungkinkan ialah Yuki-san, tapi dia adik perempuannya, dan Ayano-san adalah pelayan. Kalau Elena-senpai dan Sumire-senpai... mereka punya sikap yang seperti itu, sedangkan Nonoa-san... Nonoa-san?)

Pada saat itu, Alisa kembali mengingat pemandangan Nonoa yang mencoba merayu Masachika di taman bermain (?). Dia tidak tahu seberapa serius Nonoa saat itu, dan Masachika sudah tegas menolaknya, dan sejak saat itu tidak ada tanda-tanda Nonoa berusaha mendekati Masachika, jadi dia hampir melupakan hal itu...

(Tidak apa-apa.... kan? Masachika-kun sepertinya tidak terlalu mempercayai Nonoa-san... Ia bahkan sampai mengatakan bahwa ia tidak merasakan daya tariknya sebagai seorang wanita.)

Mengingat hal itu, Alisa kembali merasa percaya diri.

(Benar. Masachika-kun pasti merasakan daya tarik sebagai seorang wanita terhadapku. Dalam hal itu, aku tidak kalah dari Nonoa-san.)

Dia teringat saat Masachika menatap dadanya kemarin, dan Alisa tersenyum puas sendirian. Namun, pada saat yang sama,

“~~~~~~~~~!!”

Dia merasa malu dengan perilakunya saat itu dan melompat sedikit sambil mengeluarkan suara tak terdengar di tenggorokannya. Segera setelah itu, dia menyadari bahwa dia telah melakukan tindakan yang jelas mencurigakan, dan buru-buru melihat ke arah Masachika yang berjalan di depan.

“Tapi itu, bagaimana kita akan sampai di sana? Jaraknya cukup jauh, dan pastinya memakan waktu cukup lama dari stasiun di sekitar sana, kan?”

Hehehe, aku mempunyai rencana rahasia untuk itu... Tepatnya, kita akan menggunakan kapal pesiar.”

“Hah?”

“Maksudnya kamu ingin bepergian lewat sungai?”

“Bener banget! Aku pernah melihatnya di televisi baru-baru ini... Bukannya menyenangkan bisa bepergian sekaligus jalan-jalan!?”

“Ehh~? Tapi bukankah itu rintangan yang cukup berat untuk kencan pertama?”

Namun, Masachika tampaknya tidak menyadari apa pun dan terus berbicara dengan kedua sahabatnya. Alisa menghela napas lega... dan merasa sedikit kesal dengan kenyataan bahwa dia sama sekali tidak diperhatikan. Kemudian, dengan senyum nakal, dia mengangkat tangan di samping mulutnya dan membisikkan dalam bahasa Rusia.

Kalau kamu terus mengabaikanku... aku akan memelukmu dari belakang, loh?

Usai mendengar itu, Masachika tampak seolah-olah baru mengingat kehadiran di belakangnya, dan terkejut saat menoleh.

“Alya, apa kamu tadi mengatakan sesuatu?”

“Enggak kok? Aku hanya memberikan umpan balik saja.”

Itulah percakapan mereka yang biasa. Alisa berpura-pura tidak memperhatikan dan tersenyum tipis melihat ketidaktahuan Masachika. Biasanya, jal tersebut cuma berakhir di sana, tapi......

Sudah kuduga, Alya-san juga berpikiran begitu, kan?

Tidak, tidak, tidak! Tidak ada yang setuju denganmu! Kamu setuju denganku, kan?

Eh?

Tampaknya, waktunya untuk bersuara dan cara mengalihkan perhatian dengan memberi umpan balik tidak tepat. Ketika Hikaru dan Takeshi berbalik bersama Masachika, meminta persetujuannya, sementara Alisa yang sama sekali tidak mendengarkan percakapan sebelumnya hanya terbelalak. Namun, dia tidak bisa jujur mengatakan aku tidak mendengarnya, jadi Alisa merasa panik. Untungnya, Hikaru kemudian berkata kepada Takeshi dengan senyum canggung.

“Mana mungkin, iya ‘kan? Tidak ada sungai di sini. Musim dingin seperti ini pasti cuacanya juga dingin.

“Kalau itu sih tidak masalah jika kita berpakaian hangat.

(Kulit, berpakaian hangat...)

Dari percakapan Hikaru dan Takeshi, Alisa dengan cerdas mencoba menebak isi pertanyaan. Dalam waktu kurang dari tiga detik, dia berhasil menemukan jawabannya.

(...oh, kulit? Jaket kulit, mungkin? Tadi mereka berbicara tentang pakaian kencan.)

Ya... dia benar-benar mendapat jawaban yang salah. Tanpa menyadari kesalahannya, Alisa membayangkan Takeshi mengenakan jaket kulit dan menjawab.

Sebenarnya, tidak terlalu buruk juga kok?

Eh?

Betul, ‘kan! Lihat, Alya-san juga sampai bilang begitu! Dari sudut pandang para gadis, itu masih oke!

Sambil menyeringai kecut melihat Takeshi yang tiba-tiba merasa percaya diri, Alisa menambahkan untuk memastikan.

Tentu saja, itu tergantung jenis kulitnya.”

Eh, ah, itu....sungai yang mana, ya?

“Aku mungkin merasa eneg kalau sampai memakai kulit buaya atau ikan hiu...

Tidak, tidak! Apa yang kamu bicarakan, Alya-san! Tidak ada buaya atau hiu di sungai! Ini Jepang loh!

“?Jepang? tapi... aku pernah melihatnya di sekolah."

Seriusan?! Di mana?!

...di kantin sekolah?

“Memangnya ada, ya?!

Aku pernah melihatnya, lho."

Benarkah...?

Sirip ikan hiu...? Tapi, buaya...? memangnya itu pernah muncul ya?

??

Alisa menatap keheranan kepada Takeshi yang setengah tersenyum dan tampak tidak percaya, serta Hikaru yang mengernyitkan dahi dengan wajah bingung.

(Apa mereka sebegitu kagetnya? Meskipun aku juga baru pertama kali melihat dompet kulit hiu atau aksesoris dari kulit buaya...)

Dan sambil melihat Alisa yang berpikir demikian,

(Entah kenapa~~ sepertinya dia salah paham...)

Masachika hanya memperhatikannya dengan tatapan mata yang datar. (TN: Alya salah paham karena mengira kalau pembicaraan Kawa ‘/sungai’ yang merujuk tempak kencannya Takeshi, malah mengiranya Kawa ‘/kulit’ karena tidak mendengar percakapan secara menyeluruh dan cuma setengah-setengah, makanya obrolan mereka jadi kelihatan tidak nyambung. Meskipun pengucapannya sama-sama ‘Kawa’ tapi maksudnya beda jauh.)

 

◇◇◇◇

 

...

Setelah diantar pulang oleh Sayaka dengan mobil jemputannya dan selesai makan malam, Nonoa berbaring di tempat tidurnya dan mengingat percakapannya dengan Sayaka.

Jadi, sebenarnya apa pendapatmu? Maksudku tentang pengakuan Takesshi.

Nonoa bertanya teus terang aat mereka menuju gerbang sekolah, dan Sayaka menjawab dengan singkat. 

“Sejujurnya, saat ini aku masih bingung. 

“Hmm~~ yah, kurasa itu wajar saja. Karena ini baru pertama kalinya Sayacchi mendapatkan pengakuan cinta yang begitu langsung, iya kan?

“Yah,.... mungkin benar begitu.

Tapi~, aslinya bagaimana? Bagaimana pendapatmu tentang Takesshi sebagai pria? Oke? Tidak oke? Karena kamu tidak menolak ajakan kencannya, jadi mungkin itu berarti kamu menganggapnya tidak terlalu buruk?”

Sejujurnya, ia sama sekali bukan tipeku. Cowok idealku adalah Gideon yang bertangan satu atau Lime-kun dari Kimi x Kime.

Ya, tetapi kalau kamu membandingkannya dengan karakter dua dimensi, itu agak sulit, kan~?

...Tapi, benar juga.

Sayaka kemudian mendorong kacamatanya dan mengalihkan pandangannya sambil berkata, 

Tanpa memikirkan status keluarga, dan bahkan setelah mengetahui sebagian dari diriku yang seperti ini... Ia masih menyampaikan perasaannya dengan tulus, dan itu membuatku merasa senang

...Begitu ya.

Aku merasa seolah menjadi protagonis manga, ya? Meskipun lawanku tidak terlalu tinggi maupun tampan.

Meskipun Sayaka menambahkan itu dengan cepat, tapi jelas sekali kalau dia berusaha menyembunyikan rasa malunya... dan reaksi Sayaka yang seperti itu adalah sesuatu yang jarang dilihat oleh Nonoa yang sudah akrab dengannya. 

“......

Tidak ada kebohongan dengan apa yang pernah dikatakan Nonoa kepada Masachika di taman bermain sebelumnya. Jika Sayaka senang, Nonoa juga ikutan senang. Dia yakin akan merasa seperti itu. Tapi sekarang, melihat reaksi Sayaka yang tidak sepenuhnya menolak, emosi yang muncul di dalam hati Nonoa ialah... 

...Jadi, pada akhirnya, aku cuma orang yang terpinggirkan, ya?

Dia menggumamkan itu sambil melengkungkan sudut bibirnya. 

“Rasanya bikin kesepian, ya. Aku juga ingin ikutan.

Jauh di lubuk hatinya, dia merasa gelisah sekaligus bergairah. Sejak taman bermain, hatinya yang tertekan ini merasa haus akan rangsangan. 

Pada dasarnya, dunia ini begitu membosankan bagi Nonoa. Apa pun yang dilihat atau dilakukannya, hatinya hampir tidak bergerak, jadi wajar saja. Namun, Nonoa menyadari sesuatu. Ada seseorang selain Sayaka yang mungkin bisa menggerakkan hatinya. Sosok yang bisa memberikan sensasi rangsangan yang belum pernah dialaminya sebelumnya... Setelah dia menyadari hal itu, dirinya tidak bisa berhenti lagi. 

(Sabar, sabar. Aku harus bersabar~ sebentar lagi~. Tenang, tenang, seharusnya dalam minggu ini semuanya akan mulai bergerak~.)

Persiapan yang telah dilakukan dengan tekun di belakang layar kini mulai menunjukkan hasil. Hari di mana panggung menyenangkan yang akan memuaskan dahaganya segera dibuka. 

(Ah, benar, aku harus mempersiapkan hal terakhir ini sebelum terlambat.) 

Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, Nonoa mengeluarkan smartphone dan mulai mengirim pesan ke Ayano. Tiba-tiba, 

“Onee, maaf! Ajarin aku belajar dong! 

Adik perempuannya, Rea, masuk ke dalam kamar sambil memegang buku pelajaran dan catatan. Belakangan ini, entah kenapa, adik perempuannya ini tampak sangat bersemangat untuk belajar, dan sudah beberapa kali dia meminta seperti ini. Setiap kali itu terjadi, Nonoa biasanya akan membantu, tetapi... kali ini, dia tidak merasa ingin melakukannya. 

Mm, hari ini aku capek, jadi lain kali saja ya.

Kalau lain kali sudah terlambat tau~! Ujian kecilnya mulai besok! Tolong, ya!" 

Rea menangkupkan tangan di depan wajahnya dan mengintip dengan satu mata. Sikapnya yang sangat sadar akan daya tariknya membuat Nonoa merasa kagum. Namun bagi Nonoa yang sekarang, hal tersebut justru menjadi efek yang sebaliknya. 

(Ah, dia nyebelin banget~ aku penasaran dia bakalan bereaksi bagaimana kalau aku mencekik lehernya yang kurus itu, ya~?) 

Setelah berpikir sejenak, Nonoa segera mengalihkan pikirannya dan bangkit dari tempat tidur. 

“Iya deh, Iya... sebentar saja, ya.

Terima kasih! Onee, aku sangat berterima kasih!

Rea duduk di kursi dengan cara yang terlihat ceria... sambil melihat lehernya dari samping, Nonoa sedikit mengangkat bahunya. 

(Canda deh~. Mana mungkin aku akan melakukannya, kan? Mama juga bilang untuk bersikap baik pada adik-adikku, dan aku harus menjaga hubungan yang baik dengan orang-orang terdekat agar tidak merepotkan.) 

Dengan alasan yang sama, Nonoa juga tidak bisa melakukan hal yang bisa menyakiti Sayaka. Sayaka adalah orang yang penting baginya dan tidak tergantikan. Tetapi... 

(Sepertinya Kuzecchi tidak akan pernah menjadi milikku tidak peduli apapun yang kulakukan, ya? Kalau begitu tidak masalah iya 'kan~.) 

Nonoa mengangkat smartphone yang bergetar di tangannya dan memeriksa balasan dari Ayano... dan dia tersenyum tipis.

 

◇◇◇◇

 

Sayaka, Sayaka?

Ah, maaf... ada apa, Shoichi-niisan?

Pada saat makan malam, pemikiran Sayaka yang jarang sekali melamun kembali tersadar saat mendengar namanya dipanggil Shoichi, putra sulung keluarga Taniyama. 

Ia merupakan pria yang berusia dua puluh tujuh tahun. Saat ini, ia bekerja di perusahaan semikonduktor yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Taniyama untuk mendapatkan pengalaman kerja. Dengan rambut yang rapi dan mengenakan kacamata bingkai hitam, meskipun ada perbedaan usia, ia memiliki penampilan yang sangat mirip dengan Sayaka. 

Sepertinya kamu terlihat galau dengan sesuatu.

Apa ada sesuatu yang terjadi di sekolah?

Pertanyaan lembut yang menyusul berasal dari putra kedua, seorang pemuda dengan rambut agak panjang yang diikat di belakang lehernya. Ia bernama Itsuki, berusia dua puluh dua tahun, dan saat ini sedang menempuh tahun keempat di universitas dengan jurusan psikologi. 

Ngomong-ngomong, sepertinya kamu pulang terlambat hari ini.

Suara tersebut berasal dari putra ketiga, seorang pemuda dengan penampilan mencolok, rambut pirang cerah dengan tambahan merah di beberapa bagian. Meskipun penampilannya mencolok, ia adalah putra ketiga keluarga Taniyama yang bernama Kaketo. Ia berusia sembilan belas tahun dan sedang menempuh tahun kedua di universitas seni dengan jurusan lukisan minyak. 

Ketiga bersaudara ini memiliki suasana yang sangat berbeda-beda, namun tetap menunjukkan tanda-tanda dibesarkan dengan baik. Mereka adalah tiga bersaudara yang akan membawa masa depan Taniyama Heavy Industries dan merupakan kakak-kakak yang sangat dihormati oleh Sayaka. 

Sebenarnya, itu...

Dengan tatapan perhatian dari ketiga kakaknya, Sayaka yang menyadari dirinya terjebak dalam pikiran yang rumit, akhirnya mengungkapkan masalahnya. 

Hari ini, ada teman laki-laki... mengungkapkan perasaannya padaku.

““Mengungkapkan perasaannya!?””” 

Suara ketiga saudara itu bergema bersamaan. Sang adik yang ketiga terlihat jelas mengangkat alisnya, sementara yang kedua menunjukkan senyuman dingin yang menakutkan. Sementara itu, yang sulung berusaha terlihat tenang, tetapi dengan jari yang bergetar, ia mendorong kacamatanya. 

Hal tersebut mungkin sudah bisa ditebak dari reaksi mereka, tapi ketiga saudara ini sebenarnya sangat memanjakan adik bungsunya. Mereka memanjakannya bak Ojou-sama sejak kecil, sampai-sampai gadis biasa akan berubah menjadi gadis yang angkuh, egois, dan manja. 

Namun, bukannya berarti Sayaka merasa senang dengan perlakuan seperti itu. Sejak kecil, sikap Sayaka yang tenang membuatnya tidak terlalu menunjukkan reaksi berlebihan meskipun dipuji atau diberikan hadiah oleh kakak-kakaknya. Namun, bagi kakak-kakaknya, ketidakberdayaan Sayaka dalam menunjukkan kebahagiaan justru membuat mereka semakin menyukainya. Mereka benar-benar aneh. 

Berita tentang seorang pemuda yang berani mengungkapkan perasaan kepada adik perempuan yang mereka sayangi tentu saja membuat mereka tidak tenang. Namun, Sayaka yang masih terjebak dalam pikirannya sendiri tidak menyadari hal ini dan malah menambahkan bahan bakar ke dalam api. 

Selanjutnya, kami berencana untuk... berkencan.

"““Kencan!?”””

Ketiga saudara itu sekali lagi berseru bersamaan. Dari arah lain, suara berat terdengar. 

Kamu bilang, kencan?

Pemilik suara itu adalah Taniyama Kazunari, ayah dari keempat kakak beradik dan presiden Taniyama Heavy Industries saat ini. Usianya lima puluh lima tahun. Dengan tatapan tajam dari balik kacamata tebalnya, Kazunari membuat Sayaka duduk tegak dan dengan ragu bertanya. 

“Sebagai putri keluarga Taniyama, apa aku memang terlalu gegabah...? 

Mendapat tatapan penasaran dari putrinya, Kazunari meletakkan sumpitnya dan menyilangkan tangan. Ia menundukkan wajahnya sedikit dan menutup mata, membuat Sayaka merasa canggung... Namun, di dalam hati Kazunari, 

(Tidak, Sayaka... Jangan membuat wajah menyesal seperti itu.) 

Begitulah kata batinnya. Sebenarnya, Kazunari sudah menginginkan seorang putri sejak awal pernikahannya. Namun, setelah tiga anak laki-laki, ia mulai putus asa ketika akhirnya, menjelang usia empat puluh, lahirlah Sayaka. Ketika Sayaka lahir, dirinya sangat senang hingga hampir menjadikan hari lahir putrinya sebagai hari libur resmi perusahaan, yang kemudian dihentikan oleh istrinya dengan tamparan. Jangan sampai membiarkan istri melakukan hal seperti itu setelah melahirkan

Pokoknya, Sayaka adalah putri yang sangat dicintainya, dan sebenarnya ia ingin memanjakannya... Namun, ada prinsip dalam dirinya bahwa ia tidak boleh membedakan perlakuan antara anak-anaknya. Merasa bahwa ia harus bersikap lebih ketat dibandingkan putra-putranya yang sangat menyayangi Sayaka, ia merasa tertekan. Ia ingin terlihat sebagai ayah yang keren di mata putrinya. 

Hasil dari semua ini... dirinya menjadi seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya tetapi tidak bisa mengekspresikannya, menjadikannya sosok yang menyedihkan. Meskipun demikian, Sayaka tumbuh menjadi gadis yang sangat baik dan tidak memalukan sebagai putri keluarga Taniyama, meskipun di dalam dirinya terbentuk citra bahwa ayahnya adalah sosok yang keras. Kini, Kazunari sendiri bahkan tidak tahu bagaimana cara mengubah citra tersebut. 

(Sebenarnya, aku sama sekali tidak berniat menjodohkan putriku karena alasan politik... Mengapa ada kesalahpahaman seperti itu? Aku tidak ingat pernah menyuruhnya bergabung dengan Raikoukai atau menikah dengan seseorang yang akan menguntungkan keluarga Taniyama... Namun, apakah itu juga menjadi tekanan untuk Sayaka agar mendapatkan pasangan terbaik yang layak untuk putri keluarga Taniyama? Tapi aku tidak ingin dia berpacaran dengan laki-laki sembarangan...) 

Sang ayah yang menderita sendirian dan sang ibu yang menggelengkan kepala dengan keheranan melihat suaminya. Di tengah-tengah pasangan tersebut, ketiga saudara mendekati Sayaka. 

Hei, siapa dia? Mengungkapkan perasaan dan langsung mengajak berkencan, jangan bbilang kalau ia orang yang cuma main-main doang, kan?!

Benar, memang menerima ajakan kencan itu mungkin terlalu gegabah... Kita harus benar-benar menindaklanjuti hal ini. 

Seperti yang dikatakan Itsuki. Pada hari itu, sebaiknya kita ikutan juga.

Tidak, hal itu pasti akan merepotkan Takeshi-san...

Sayaka berusaha menghentikan reaksi berlebihan dari kakak-kakaknya, tetapi... hal itu justru kesalahan besar. Secara spesifik, dia secara tidak sengaja menyebut nama orang tersebut. 

((((Takeshi...)))) 

Mata keempat pria keluarga Taniyama menyipit. 

Tanpa sepengetahuan Sayaka, momen itu menjadi saat di mana beberapa [bos] muncul dalam perjalanan cinta Takeshi.

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama