Chapter 6 — Bos Muncul Di Balik Layar Kehidupan Sehari-Hari
““Sekarang bukan waktunya untuk itu kaliii!!””
“Eh,
hah?”
Takeshi
menoleh ke sana kemari dengan bingung setelah kedua sahabatnya memberikan
tanggapan bersamaan. Dari sikapnya, sepertinya
ia sama sekali tidak mengerti betapa besar pelanggaran yang
dilakukan dengan pengakuan cinta yang tiba-tiba ini. Masachika dan Hikaru pun
hanya bisa menengadah ke langit, tetapi terlepas dari reaksi penonton, nasi sudah menjadi bubur. Dalam
situasi ini, yang bisa mereka lakukan hanyalah menunggu dan melihat bagaimana
hasilnya nanti.
Bagaimana
Sayaka akan membalasnya? Perhatian semua orang tertuju padanya ketika Sayaka
yang membuka matanya lebar-lebar menjawab dengan suara tertegun.
“......Mustahil.”
Singkat, padat dan jelas.
Takeshi
ambruk terduduk di kursinya dan menundukkan kepalanya
mendengar kata-kata yang
tak menyisakan ruang untuk kesalahpahaman.
“Takeshi!!!!”
Ekspresi
Takeshi yang sangat hancur
membuat Hikaru memeluk bahunya.
“Tu-Tu-Tunggu sebentar!”
Sementara
itu, Masachika mencondongkan badannya
dari samping Takeshi dan
bertanya kepada Sayaka dengan semangat sampai-sampai
hampir menggigit lidahnya.
“Apa
itu berarti ‘mustahil’
secara psikologis atau fisiologis!? Atau, maksudnya
berarti karena keadaan keluarga atau keputusan untuk tidak memiliki pacar, yang
tidak bisa diubah!?”
Takeshi
bereaksi sedikit ketika mendengar pertanyaan Masachika,
dan Sayaka berkedip beberapa kali sebelum menjawab.
“Kurasa sepertinya
yang terakhir... Sederhana saja, status keluarga kita
tidak setara.”
“......Jadi,
bukannya berarti karena aku dibenci!?”
Takeshi
yang tiba-tiba bangkit kembali dengan semangat, membuat Sayaka sedikit mundur
dan mendorong kacamatanya.
“Ketimbang
dibilang membenci atau semacamnya... aku bahkan tidak pernah
memikirkannya.”
“Jadi itu
berarti... masih ada
kemungkinan, ‘kan?”
“Y-Yah, mungkin tidak nol... ‘kan?”
“Yosh! Yoshh!
Yosshhaa!”
Begitu dirinya menyadari bahwa ia tidak ditolak
mentah-mentah, Takesshi
mengepalkan tinjunya ke udara dengan begitu
bersemangat, sementara
Masachika serta Hikaru menatapnya dengan setengah takjub dan setengah kagum.
“Kamu
terlalu kuat...”
“Bagaimana bilangnya ya... aku jadi sedikit menghormatimu.”
Jika
dinilai secara objektif, jawaban
Sayaka sama sekali bukan jawaban yang menggembirakan. Tanggapan “Aku bahkan
tidak pernah memikirkannya”
bisa diartikan sebagai “Aku sama
sekali tidak menganggapnya sebagai lawan jenis”, dan “tidak nol” bisa diartikan sebagai “Aku hanya mengatakannya untuk
menjaga perasaanmu,
tetapi hampir tidak ada kemungkinan”.
Fakta bahwa Takeshi masih bisa
merasa senang dengan hal ini... bagi kedua orang ini, pemikirannya terlalu positif.
Namun,
ada satu orang lagi yang memiliki pandangan positif seperti Takeshi.
“Woahh~ syukurlah
untukmu ya~,
Maruyama-kun.”
“Syukur...?”
Orang
itu, Maria, bertepuk tangan dengan ceria, sementara Alisa memberikan reaksi
skeptis.
“......Entah kenapa, rasanya itu sedikit menusuk hatiku.”
“Yah,
Touya memang tidak melakukannya di depan umum sih... tapi
dari segi mendadak, itu lebih mendadak daripada Maruyama-kun.”
“Mm...”
Ada satu
orang lagi yang sedikit terpicu oleh kenangan kelam masa lalunya.
◇◇◇◇
(Sudut
Pandang Alisa)
“Kamu
benar-benar hebat, seriusan...”
Setelah
itu, Masachika memuji Takeshi yang berhasil mengatur janji kencan meski dalam
situasi yang mendesak, saat mereka berjalan menuju gerbang sekolah.
“Beneran deh... bagaimana mungkin kamu bisa membuat janji kencan setelah kekacauan itu...”
“Yahh,
itu tidak seberapa.”
“Tapi tetap saja, kekacauan
tetaplah kekacauan, tau? Melakukan
pengakuan cinta secara
terbuka seperti itu, bagi orang yang tidak menyukainya akan sangat membencinya... syukurlah
Sayaka tidak kelihatan marah.”
“Haha,
yah, aku juga sedikit merenung soal itu...”
Alisa
berjalan beberapa langkah di
belakang tiga pria yang bersemangat membahas pengakuan Takeshi.
Tanpa
disadari, waktu sudah hampir menjelang malam,
jadi setelah pembicaraan mereda, mereka memutuskan untuk pulang secara
bergiliran... Namun, Yuki dan Ayano sedang menunggu mobil jemputan dari keluarga Suou. Sayaka menunggu mobil jemputan dari keluarga Taniyama, dan Nonoa menemaninya. Touya dan Chisaki merasa
sedikit bertanggung jawab karena telah memprovokasi Takeshi secara tidak
bertanggung jawab, sementara Maria akan mendukung mereka berdua sebelum pulang
bersama, sehingga Alisa memutuskan untuk pulang lebih dulu dengan tiga pria kelas satu tersebut.
Sementara itu, Takeshi ingin pulang bersama Sayaka, tetapi Masachika dan Hikaru
menariknya dengan berkata, “Tenangkan
dirimu sebentar”, lalu menyeretnya pergi.
“Yah,
jika semuanya berakhir dengan baik... kurasa
semuanya baik-baik saja?”
“Pada
akhirnya, kamu berhasil membuat janji kencan... jadi seharusnya itu baik, kan?”
“Iya,
iya,
bener banget~, akhirnya aku bisa
melakukan kencan pertama dalam hidupku! Aku benar-benar merasa terharu!”
“Untuk
kencan pertama, luar biasa sekali jika harapan dan kebahagiaan datang terlebih dahulu sebelum rasa gugup...”
“Ngomong-ngomong,
Takeshi, apa kamu sudah punya
pakaian untuk kencan?”
“Eh?”
““Hah?””
Masachika
yang biasanya begitu peduli pada Alisa yang tidak ikut campur dalam
percakapan, tapi kali ini ia tampak asyik dengan
pembicaraan antara pria. Namun, Alisa menganggap
kalau itu hal yang wajar. Karena Alisa sendiri terjebak
dalam pikiran tentang pengakuan Takeshi sebelumnya.
(Aku tidak menyangka ia
tiba-tiba menyatakan perasaannya
seperti itu...)
Walaupun secara
kebetulan dia terlibat
dalam situasi ini, tapi
pengakuan itu sangat mengejutkan bagi Alisa yang selama ini mengawasi
perjalanan cinta Takeshi. Lagipula, menurut
akal sehat Alisa, pengakuan cinta seharusnya dilakukan dengan lebih
banyak tahapan dan dengan
hati-hati. Dan ketika ini terjadi, pemikiran
yang muncul adalah...
(Kira-kira kapan ya aku harus
mengakui perasaanku
pada Masachika-kun?)
Itulah
yang ada di dalam benaknya.
Karena terbuai oleh cinta pertamanya, dia sebelumnya tidak terlalu memikirkan
hal ini dengan serius... Namun, setelah menyadari perasaannya, acara pengakuan merupakan sesuatu yang tidak bisa
dihindari.
(Bu-Bukannya berarti aku
ingin menjadi pacarnya Masachika-kun...atau
melakukan sesuatu yang spesifik sih)
Sebenarnya,
mereka berdua sudah melakukan kencan bahkan
sekarang. Terutama untuk hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh sepasang kekasih... misalnya
seperti ciuman dan sebagainya, Alisa
tidak merasa ingin melakukannya. Sebenarnya, dia bahkan tidak pernah memikirkan
hal itu.
(Tapi yahh? Kemarin aku sempat terbawa suasana dan memberitahu Masachika-kun kalau ia bisa
menyentuh dadaku...
tetapi aku cuma
menggodanya. Aku tidak benar-benar ingin ia menyentuhku.)
Benar,
dia sama sekali tidak berpikir demikian. Meskipun dia merasakan sensasi geli di dalam
tubuhnya, tapi itu hanya karena melihat Masachika yang panik itu menyenangkan,
dan rasa penasarannya semakin tergelitik. Selain
itu, ada juga perasaan tidak nyaman di sekitar dadanya, tapi itu hanya dorongan
untuk diakui sebagai seorang wanita. Dia sama sekali tidak memiliki perasaan cabul maupun tidak senonoh. Sama
sekali tidak ada.
(Benar, aku tidak memiliki hasrat seperti itu, ‘kan? Yah, kalau Masachika-kun bilang ia ingin menyentuhku sih... eh, bukan begitu! ... Aku sama sekali tidak
ingin melakukan hal-hal semacam
itu...)
Alisa
kembali mengingat sosok Masachika yang sedang berbicara dengan
Yuki kemarin.
Meskipun
ia merasa kesal serta keheranan dengan
perilaku adik perempuannya dan
merespons dengan kasar, tapi tatapan matanya
dipenuhi dengan kasih sayang dan perhatian yang mendalam.
(Aku
juga... ingin dipandang dengan mata itu. Aku ingin menjadi orang yang penting
bagi Masachika-kun.)
Dia menginginkan kasih sayang dan perhatian itu juga diarahkan
kepadanya. Dan,
(Aku
ingin Masachika-kun
menyukaiku seperti aku menyukainya...)
Sambil
menatap dengan penuh semangat wajah samping Masachika yang berjalan di
depannya, Alisa berpikir dengan tenang, “Jadi
kapan aku harus mengakuinya...”
(Masalahnya...
bagaimana caranya supaya kakek Suou itu mau mengakuiku...?)
Benar, Alisa berpikir dengan tenang,
dan sigap melangkah maju. Dia
bahkan melupakan tentang sapaan
kepada orang tua Masachika.
Namun bagi Alisa yang hanya berniat menjalin hubungan serius dengan niat pernikahan, hal ini menjadi masalah yang serius.
Sampai sebelumnya, dia berpikir tidak ada
masalah dengan latar belakang kelarga di antara mereka. Namun
kenyataannya, Masachika adalah putra
sulung dari keluarga Suou yang bahkan dihormati
di Akademi Seirei. Di sisi lain, dia hanya berasal dari keluarga kelas
menengah yang biasa-biasa saja. Selain itu, dia juga keturunan blasteran.
(Sebenarnya aku penasaran, aslinya bagaimana ya... tentang
hal-hal seperti, 'Kami tidak akan membiarkan darah asing masuk ke keluarga
terhormat kami!' Apa hal semacam
itu beneran ada...
Dari pembicaraan kemarin, aku tidak merasakan pandangan diskriminatif seperti
itu...)
Oleh
karena itu, dia berhenti memikirkannya
karena merasa itu sia-sia. Darah yang mengalir dalam tubuhnya tidak bisa
diubah. Dengan pemikiran itu, Alisa
harus mencari cara lain agar
diakui.
(Tentu
saja, aku harus menunjukkan kemampuanku. Lagipula, ayah Masachika-kun juga berasal dari keluarga kelas
menengah dan berhasil menikah
ke keluarga lain,
jadi kemungkinannya bukanlah nol...)
Namun,
mungkin itu karena ayah Masachika menjadi seorang diplomat. Jadi, apa dirinya juga harus menjadi diplomat...?
(Tapi,
mungkin Masachika-kun
yang seharusnya menjadi diplomat, ‘kan?
Aku belum memutuskan apa yang ingin kulakukan di masa depan, tetapi memilih
pekerjaan hanya demi
lawan jenis rasanya tidak tepat... Jadi, apa yang harus kucapai...?)
Jawabannya
sudah jelas. Menunjukkan kemampuan diri dengan jelas dan meraih gelar tertinggi
yang dapat dijangkau oleh dirinya saat ini.
(Aku akan
menjadi ketua OSIS. Dan bergabung dengan Raokoukai.
Itulah titik awalnya.)
Pada akhirnya,
tujuannya masih sama dengan yang selama ini dia
impikan. Sesuatu yang selalu dia inginkan. Namun, sekarang dia menambahkan satu
tekad baru.
(Aku akan
memenangkan pemilihan, menjadi diriku yang tidak memalukan, dan menyatakan perasaanku pada Masachika-kun!)
Alisa merasa
yakin dan tidak diragukan lagi bahwa saat itulah waktu yang terbaik.
Dia akan
menghabiskan lebih banyak waktu untuk memperdalam ikatan mereka... Setelah
mereka meraih kemenangan bersama, dia akan mengungkapkan perasaan cintanya. Sempurna. Ini adalah
skenario yang sempurna, seolah-olah
bisa dijadikan naskah drama.
(Sudah diputuskan)
Alisa
menyisir rambutnya di telinga ketika memikirkan
rencana sempurna di benaknya. Kemudian,
dia mengarahkan pandangannya yang agak lesu ke arah jalanan yang mulai
mengeluarkan nuansa musim dingin.
(Benar, cuma ini
penilaian yang tenang dan rasional... Aku hanya memilih waktu yang memiliki
peluang terbaik untuk diriku.)
Hanya itu saja. Semua
itu tidak ada hubungannya dengan ucapan “mustahil”
dari Sayaka sebelumnya yang membuat
jantungnya berdesir, atau membayangkan dirinya ditolak oleh Masachika membuat
perutnya terasa mual. Tidak ada sama sekali.
(Aku bukannya menunda
pengakuanku, sama sekali bukan begitu.
Apa aku takut ditolak? Atau berharap Masachika yang mengungkapkan perasaannya
terlebih dahulu... sama sekali tidak, iya ‘kan?)
Sambil
membuat-buat alasan dalam pikirannya, Alisa memainkan rambut yang tergerai
di telinganya. Saat itu, kata-kata yang pernah
diucapkan oleh kakaknya beberapa waktu lalu mendadak terlintas
dalam pikirannya.
『Tapi, jika kamu menyukainya, lebih
baik kamu segera menyampaikannya loh~? Semuanya bakalan terlambat jika ia sudah diambil orang lain』
Alisa
kembali tersadar
dan menghentikan jarinya. Sementara dia menunda pengakuan, kemungkinan Masachika
diambil oleh gadis lain... Mengingat gadis-gadis di sekitar Masachika, Alisa
menggelengkan kepalanya.
(...tidak, tidak, mana mungkin,
‘kan? Gadis yang paling memungkinkan ialah Yuki-san, tapi dia adik perempuannya, dan
Ayano-san adalah
pelayan. Kalau Elena-senpai dan Sumire-senpai... mereka punya sikap yang seperti
itu, sedangkan Nonoa-san... Nonoa-san?)
Pada saat
itu, Alisa kembali mengingat pemandangan
Nonoa yang mencoba merayu Masachika
di taman bermain (?). Dia tidak tahu seberapa serius Nonoa saat itu, dan Masachika sudah
tegas menolaknya, dan
sejak saat itu tidak ada tanda-tanda Nonoa
berusaha mendekati Masachika, jadi dia
hampir melupakan hal itu...
(Tidak
apa-apa.... ‘kan? Masachika-kun sepertinya tidak terlalu
mempercayai Nonoa-san... Ia bahkan sampai mengatakan bahwa ia tidak
merasakan daya tariknya
sebagai seorang wanita.)
Mengingat
hal itu, Alisa kembali merasa
percaya diri.
(Benar. Masachika-kun pasti merasakan daya tarik
sebagai seorang wanita terhadapku. Dalam hal itu, aku tidak kalah dari Nonoa-san.)
Dia
teringat saat Masachika menatap dadanya kemarin, dan Alisa tersenyum puas
sendirian. Namun, pada saat yang sama,
“~~~~~~~~~!!”
Dia
merasa malu dengan perilakunya saat itu dan melompat sedikit sambil
mengeluarkan suara tak terdengar di tenggorokannya. Segera setelah itu, dia
menyadari bahwa dia telah melakukan tindakan yang jelas mencurigakan, dan
buru-buru melihat ke arah Masachika yang berjalan di depan.
“Tapi
itu, bagaimana kita akan sampai di sana?
Jaraknya cukup jauh, dan pastinya
memakan waktu cukup lama dari stasiun di sekitar sana, kan?”
“Hehehe, aku
mempunyai rencana rahasia
untuk itu... Tepatnya, kita akan menggunakan kapal pesiar.”
“Hah?”
“Maksudnya kamu ingin bepergian lewat sungai?”
“Bener
banget! Aku pernah
melihatnya di televisi baru-baru ini... Bukannya menyenangkan
bisa bepergian sekaligus jalan-jalan!?”
“Ehh~? Tapi bukankah itu rintangan
yang cukup berat untuk kencan pertama?”
Namun, Masachika
tampaknya tidak menyadari apa pun dan terus berbicara dengan kedua sahabatnya. Alisa menghela napas lega... dan merasa sedikit kesal dengan kenyataan
bahwa dia sama sekali tidak diperhatikan. Kemudian, dengan senyum nakal, dia
mengangkat tangan di samping mulutnya dan membisikkan dalam bahasa Rusia.
【Kalau kamu
terus mengabaikanku... aku akan memelukmu dari belakang, loh?】
Usai mendengar
itu, Masachika tampak seolah-olah baru mengingat
kehadiran di belakangnya, dan terkejut saat
menoleh.
“Alya, apa
kamu tadi mengatakan sesuatu?”
“Enggak kok?
Aku hanya memberikan umpan balik
saja.”
Itulah
percakapan mereka yang biasa. Alisa berpura-pura tidak memperhatikan
dan tersenyum tipis melihat ketidaktahuan Masachika. Biasanya, jal tersebut cuma berakhir
di sana, tapi......
“Sudah kuduga, Alya-san juga berpikiran begitu, ‘kan?”
“Tidak,
tidak, tidak! Tidak ada yang setuju denganmu! Kamu setuju denganku, ‘kan?”
“Eh?”
Tampaknya,
waktunya untuk bersuara dan cara
mengalihkan perhatian dengan ‘memberi
umpan balik’ tidak
tepat. Ketika Hikaru dan Takeshi
berbalik bersama Masachika, meminta persetujuannya, sementara Alisa yang sama
sekali tidak mendengarkan percakapan sebelumnya hanya terbelalak. Namun, dia
tidak bisa jujur mengatakan “aku
tidak mendengarnya”, jadi Alisa
merasa panik. Untungnya, Hikaru kemudian berkata kepada Takeshi dengan senyum
canggung.
“Mana
mungkin, iya ‘kan?
Tidak ada sungai di sini. Musim dingin seperti ini pasti cuacanya juga dingin.”
“Kalau itu
sih tidak masalah jika kita
berpakaian hangat.”
(Kulit, berpakaian hangat...)
Dari
percakapan Hikaru dan Takeshi, Alisa dengan cerdas mencoba menebak isi
pertanyaan. Dalam waktu kurang dari tiga detik, dia berhasil menemukan jawabannya.
(...oh,
kulit? Jaket kulit, mungkin? Tadi mereka berbicara tentang pakaian kencan.)
Ya... dia
benar-benar mendapat jawaban
yang salah. Tanpa menyadari kesalahannya, Alisa membayangkan Takeshi mengenakan
jaket kulit dan menjawab.
“Sebenarnya,
tidak terlalu buruk juga kok?”
“Eh?”
“Betul, ‘kan! Lihat, Alya-san juga sampai bilang begitu! Dari sudut pandang
para gadis, itu masih oke!”
Sambil
menyeringai kecut melihat Takeshi
yang tiba-tiba merasa percaya diri,
Alisa menambahkan untuk memastikan.
“Tentu
saja, itu tergantung jenis kulitnya.”
“Eh,
ah, itu....sungai yang mana, ya?”
“Aku mungkin
merasa eneg kalau sampai memakai kulit
buaya atau ikan hiu...”
“Tidak,
tidak! Apa yang kamu bicarakan, Alya-san! Tidak ada buaya atau hiu di
sungai! Ini Jepang loh!”
“?Jepang? tapi... aku pernah melihatnya di
sekolah."
“Seriusan?! Di mana?!”
“...di
kantin sekolah?”
“Memangnya
ada, ya?!”
“Aku
pernah melihatnya, lho."
“Benarkah...?”
“Sirip
ikan hiu...? Tapi, buaya...? memangnya itu pernah
muncul ya?”
“??”
Alisa menatap keheranan kepada Takeshi
yang setengah tersenyum dan tampak tidak percaya, serta Hikaru yang mengernyitkan dahi dengan
wajah bingung.
(Apa
mereka sebegitu kagetnya? Meskipun aku juga baru
pertama kali melihat dompet kulit hiu atau aksesoris dari kulit
buaya...)
Dan sambil melihat Alisa yang berpikir
demikian,
(Entah kenapa~~ sepertinya
dia salah paham...)
Masachika
hanya memperhatikannya dengan tatapan mata yang datar. (TN: Alya
salah paham karena mengira kalau pembicaraan Kawa ‘川/sungai’ yang merujuk tempak kencannya Takeshi,
malah mengiranya Kawa ‘革/kulit’
karena tidak mendengar percakapan secara menyeluruh dan cuma setengah-setengah,
makanya obrolan mereka jadi kelihatan tidak nyambung. Meskipun pengucapannya
sama-sama ‘Kawa’ tapi maksudnya beda jauh.)
◇◇◇◇
“...”
Setelah
diantar pulang oleh Sayaka dengan mobil
jemputannya dan selesai makan malam, Nonoa berbaring di
tempat tidurnya dan mengingat percakapannya dengan Sayaka.
“Jadi,
sebenarnya apa pendapatmu? Maksudku tentang
pengakuan Takesshi.”
Nonoa
bertanya teus terang aat mereka menuju gerbang sekolah, dan
Sayaka menjawab dengan singkat.
“Sejujurnya,
saat ini aku masih bingung.”
“Hmm~~ yah,
kurasa itu wajar saja. Karena ini baru pertama
kalinya Sayacchi mendapatkan pengakuan cinta yang begitu langsung, iya ‘kan?”
“Yah,.... mungkin benar begitu.”
“Tapi~, aslinya bagaimana? Bagaimana
pendapatmu tentang Takesshi
sebagai pria? Oke? Tidak oke? Karena kamu
tidak menolak ajakan
kencannya, jadi
mungkin itu berarti kamu menganggapnya
tidak terlalu buruk?”
“Sejujurnya,
ia sama sekali bukan tipeku. Cowok idealku
adalah Gideon yang bertangan satu atau Lime-kun
dari Kimi x Kime.”
“Ya,
tetapi kalau kamu membandingkannya dengan karakter dua dimensi, itu agak sulit,
kan~?”
“...Tapi, benar juga.”
Sayaka
kemudian mendorong kacamatanya dan mengalihkan pandangannya sambil
berkata,
“Tanpa
memikirkan status keluarga, dan bahkan setelah mengetahui sebagian dari
diriku yang seperti ini... Ia masih
menyampaikan perasaannya dengan tulus, dan itu membuatku merasa senang”
“...Begitu ya.”
“Aku
merasa seolah menjadi protagonis manga, ya? Meskipun lawanku tidak terlalu
tinggi maupun tampan.”
Meskipun Sayaka menambahkan itu dengan cepat, tapi jelas sekali kalau dia berusaha
menyembunyikan rasa malunya... dan
reaksi Sayaka yang seperti itu adalah sesuatu yang jarang dilihat oleh Nonoa
yang sudah akrab dengannya.
“......”
Tidak ada
kebohongan dengan apa yang pernah dikatakan
Nonoa kepada Masachika di taman bermain
sebelumnya. Jika Sayaka senang, Nonoa juga ikutan
senang. Dia yakin akan merasa seperti itu.
Tapi sekarang, melihat reaksi Sayaka
yang tidak sepenuhnya menolak, emosi
yang muncul di dalam hati
Nonoa ialah...
“...Jadi,
pada akhirnya, aku cuma orang
yang terpinggirkan, ya?”
Dia menggumamkan itu sambil
melengkungkan sudut bibirnya.
“Rasanya
bikin kesepian, ya. Aku juga ingin ikutan.”
Jauh di
lubuk hatinya, dia merasa
gelisah sekaligus bergairah. Sejak taman
bermain, hatinya yang tertekan ini merasa haus akan rangsangan.
Pada
dasarnya, dunia ini begitu
membosankan bagi Nonoa. Apa pun
yang dilihat atau dilakukannya,
hatinya hampir tidak bergerak, jadi wajar saja.
Namun, Nonoa menyadari sesuatu. Ada seseorang
selain Sayaka yang mungkin bisa menggerakkan hatinya. Sosok yang bisa
memberikan sensasi
rangsangan yang belum pernah dialaminya sebelumnya... Setelah dia menyadari hal itu, dirinya tidak bisa berhenti lagi.
(Sabar,
sabar. Aku harus bersabar~ sebentar lagi~.
Tenang, tenang, seharusnya dalam minggu ini semuanya akan mulai bergerak~.)
Persiapan
yang telah dilakukan dengan tekun di belakang
layar kini mulai menunjukkan hasil. Hari di mana
panggung menyenangkan yang akan memuaskan dahaganya segera
dibuka.
(Ah,
benar, aku harus mempersiapkan hal terakhir ini sebelum terlambat.)
Tiba-tiba
terlintas dalam pikirannya, Nonoa mengeluarkan smartphone dan mulai mengirim
pesan ke Ayano. Tiba-tiba,
“Onee,
maaf! Ajarin aku belajar dong!”
Adik
perempuannya, Rea, masuk ke dalam kamar sambil memegang buku pelajaran dan
catatan. Belakangan ini, entah kenapa, adik perempuannya
ini tampak sangat bersemangat untuk belajar, dan sudah beberapa kali dia
meminta seperti ini. Setiap kali itu terjadi, Nonoa biasanya akan membantu,
tetapi... kali ini, dia tidak merasa ingin melakukannya.
“Mm,
hari ini aku capek, jadi lain kali saja ya.”
“Kalau
lain kali sudah terlambat tau~! Ujian
kecilnya mulai besok! Tolong, ya!"
Rea menangkupkan tangan di depan wajahnya dan
mengintip dengan satu mata. Sikapnya yang sangat sadar akan daya tariknya
membuat Nonoa merasa kagum. Namun bagi Nonoa yang
sekarang, hal tersebut
justru menjadi efek yang sebaliknya.
(Ah, dia nyebelin banget~ aku penasaran dia bakalan bereaksi bagaimana kalau
aku mencekik lehernya yang kurus itu, ya~?)
Setelah
berpikir sejenak, Nonoa segera mengalihkan pikirannya dan bangkit dari tempat
tidur.
“Iya deh,
Iya... sebentar
saja, ya.”
“Terima
kasih! Onee, aku sangat berterima kasih!”
Rea duduk
di kursi dengan cara yang terlihat ceria... sambil melihat lehernya dari
samping, Nonoa sedikit mengangkat bahunya.
(Canda deh~. Mana mungkin aku akan
melakukannya, ‘kan?
Mama juga bilang untuk bersikap baik pada adik-adikku, dan aku harus menjaga
hubungan yang baik dengan orang-orang terdekat agar tidak merepotkan.)
Dengan
alasan yang sama, Nonoa juga tidak bisa melakukan hal yang bisa menyakiti
Sayaka. Sayaka adalah orang yang penting baginya dan tidak tergantikan.
Tetapi...
(Sepertinya Kuzecchi tidak akan pernah menjadi
milikku tidak peduli apapun yang kulakukan, ya? Kalau begitu tidak masalah iya 'kan~.)
Nonoa
mengangkat smartphone yang bergetar di tangannya dan memeriksa balasan dari
Ayano... dan dia tersenyum
tipis.
◇◇◇◇
“Sayaka,
Sayaka?”
“Ah,
maaf... ada apa, Shoichi-niisan?”
Pada saat
makan malam, pemikiran Sayaka
yang jarang sekali melamun kembali tersadar saat
mendengar namanya dipanggil
Shoichi, putra sulung keluarga
Taniyama.
Ia merupakan
pria yang berusia dua puluh tujuh tahun. Saat ini, ia bekerja di
perusahaan semikonduktor yang tidak ada hubungannya dengan keluarga Taniyama
untuk mendapatkan pengalaman kerja. Dengan rambut yang rapi dan mengenakan
kacamata bingkai hitam, meskipun ada perbedaan usia, ia memiliki penampilan
yang sangat mirip dengan Sayaka.
“Sepertinya
kamu terlihat galau dengan sesuatu.”
“Apa ada sesuatu yang terjadi di
sekolah?”
Pertanyaan
lembut yang menyusul berasal dari
putra kedua, seorang pemuda dengan rambut agak panjang yang diikat di belakang
lehernya. Ia bernama Itsuki, berusia dua puluh dua tahun, dan saat ini sedang
menempuh tahun keempat di universitas dengan jurusan psikologi.
“Ngomong-ngomong,
sepertinya kamu pulang terlambat hari ini.”
Suara tersebut berasal dari putra ketiga,
seorang pemuda dengan penampilan mencolok, rambut pirang cerah dengan tambahan
merah di beberapa bagian. Meskipun penampilannya mencolok, ia adalah putra
ketiga keluarga Taniyama yang bernama Kaketo. Ia berusia sembilan belas tahun
dan sedang menempuh tahun kedua di universitas seni dengan jurusan lukisan
minyak.
Ketiga
bersaudara ini memiliki suasana yang sangat berbeda-beda, namun tetap
menunjukkan tanda-tanda dibesarkan dengan baik. Mereka adalah tiga bersaudara
yang akan membawa masa depan Taniyama Heavy Industries dan merupakan
kakak-kakak yang sangat dihormati oleh Sayaka.
“Sebenarnya,
itu...”
Dengan
tatapan perhatian dari ketiga kakaknya, Sayaka yang menyadari dirinya terjebak
dalam pikiran yang rumit, akhirnya mengungkapkan masalahnya.
“Hari
ini, ada teman laki-laki... mengungkapkan
perasaannya padaku.”
“““Mengungkapkan perasaannya!?”””
Suara
ketiga saudara itu bergema bersamaan.
Sang adik yang ketiga terlihat jelas mengangkat alisnya, sementara yang kedua
menunjukkan senyuman dingin yang menakutkan. Sementara itu, yang sulung
berusaha terlihat tenang, tetapi dengan jari yang bergetar, ia mendorong
kacamatanya.
Hal tersebut
mungkin sudah bisa ditebak dari reaksi mereka, tapi ketiga saudara ini sebenarnya
sangat memanjakan adik bungsunya. Mereka memanjakannya bak Ojou-sama sejak kecil, sampai-sampai gadis
biasa akan berubah menjadi
gadis yang angkuh, egois,
dan manja.
Namun, bukannya berarti Sayaka merasa senang dengan perlakuan seperti itu. Sejak kecil, sikap Sayaka yang
tenang membuatnya tidak terlalu menunjukkan reaksi berlebihan meskipun dipuji
atau diberikan hadiah oleh kakak-kakaknya.
Namun, bagi kakak-kakaknya, ketidakberdayaan Sayaka dalam menunjukkan
kebahagiaan justru membuat mereka semakin menyukainya. Mereka benar-benar
aneh.
Berita
tentang seorang pemuda yang berani mengungkapkan perasaan kepada adik perempuan
yang mereka sayangi tentu saja membuat mereka tidak tenang. Namun, Sayaka yang
masih terjebak dalam pikirannya sendiri tidak menyadari hal ini dan malah
menambahkan bahan bakar ke dalam api.
“Selanjutnya,
kami berencana untuk... berkencan.”
"““Kencan!?”””
Ketiga
saudara itu sekali lagi berseru bersamaan.
Dari arah lain, suara berat terdengar.
“Kamu bilang, kencan?”
Pemilik
suara itu adalah Taniyama Kazunari,
ayah dari keempat kakak beradik
dan presiden Taniyama Heavy Industries saat ini. Usianya lima puluh lima
tahun. Dengan tatapan tajam dari balik kacamata tebalnya, Kazunari membuat
Sayaka duduk tegak dan dengan ragu bertanya.
“Sebagai
putri keluarga Taniyama, apa aku memang terlalu
gegabah...?”
Mendapat
tatapan penasaran dari putrinya, Kazunari meletakkan sumpitnya dan menyilangkan
tangan. Ia menundukkan wajahnya sedikit dan menutup mata, membuat Sayaka merasa
canggung... Namun, di dalam hati Kazunari,
(Tidak,
Sayaka... Jangan membuat wajah menyesal seperti itu.)
Begitulah
kata batinnya. Sebenarnya, Kazunari sudah menginginkan
seorang putri sejak awal pernikahannya. Namun, setelah tiga anak laki-laki, ia
mulai putus asa ketika akhirnya, menjelang usia empat puluh, lahirlah Sayaka.
Ketika Sayaka lahir, dirinya
sangat senang hingga hampir menjadikan hari lahir putrinya sebagai hari libur
resmi perusahaan, yang kemudian dihentikan oleh istrinya dengan tamparan. Jangan sampai membiarkan istri melakukan hal seperti itu setelah melahirkan.
Pokoknya,
Sayaka adalah putri yang sangat dicintainya, dan sebenarnya ia ingin
memanjakannya... Namun, ada prinsip dalam dirinya bahwa ia tidak boleh
membedakan perlakuan antara anak-anaknya. Merasa bahwa ia harus bersikap lebih
ketat dibandingkan putra-putranya yang sangat menyayangi Sayaka, ia merasa
tertekan. Ia ingin terlihat sebagai ayah yang keren di mata putrinya.
Hasil
dari semua ini... dirinya menjadi
seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya tetapi tidak bisa
mengekspresikannya, menjadikannya sosok yang menyedihkan. Meskipun demikian,
Sayaka tumbuh menjadi gadis yang sangat baik dan tidak memalukan sebagai putri
keluarga Taniyama, meskipun di dalam dirinya terbentuk citra bahwa ayahnya
adalah sosok yang keras. Kini, Kazunari sendiri bahkan tidak tahu bagaimana
cara mengubah citra tersebut.
(Sebenarnya,
aku sama sekali tidak berniat
menjodohkan putriku karena alasan politik...
Mengapa ada kesalahpahaman seperti itu? Aku
tidak ingat pernah menyuruhnya bergabung dengan Raikoukai atau menikah dengan
seseorang yang akan menguntungkan keluarga Taniyama...
Namun, apakah itu juga menjadi tekanan untuk Sayaka agar mendapatkan pasangan
terbaik yang layak untuk putri keluarga Taniyama? Tapi aku tidak ingin dia berpacaran dengan
laki-laki sembarangan...)
Sang ayah
yang menderita sendirian dan sang ibu yang menggelengkan kepala dengan
keheranan melihat suaminya. Di tengah-tengah pasangan tersebut, ketiga saudara
mendekati Sayaka.
“Hei,
siapa dia? Mengungkapkan perasaan dan langsung mengajak
berkencan, jangan bbilang kalau ia orang
yang cuma main-main doang, kan?!”
“Benar,
memang menerima ajakan kencan
itu mungkin terlalu gegabah... Kita
harus benar-benar menindaklanjuti hal ini.”
“Seperti
yang dikatakan Itsuki. Pada hari itu, sebaiknya kita ikutan juga.”
“Tidak,
hal itu pasti akan merepotkan Takeshi-san...”
Sayaka
berusaha menghentikan reaksi berlebihan dari kakak-kakaknya, tetapi... hal itu justru kesalahan besar. Secara
spesifik, dia secara
tidak sengaja menyebut nama orang tersebut.
((((Takeshi...))))
Mata
keempat pria keluarga Taniyama
menyipit.
Tanpa
sepengetahuan Sayaka, momen itu menjadi saat di mana beberapa [bos] muncul dalam perjalanan cinta
Takeshi.
