Chapter 7 — Menunggu di Tempat Itu
Di
pertengahan musim semi di mana suhu dingin
mulai dilupakan, bunga-bunga sakura mulai bermekaran dengan anggun, mendahului
tanaman lainnya, dan dengan aroma harum yang menyebar, mengumandangkan
kedatangan musim semi yang pertama.
Sudah
hampir setahun berlalu sejak
hari itu──
Tubuhku sudah mulai pulih dengan baik, dan
lengan kananku yang paling parah cedera telah melewati rehabilitasi yang
menyakitkan, kini aku bisa menggenggam sesuatu.
Lengan
yang sempat dikatakan mungkin tidak akan bergerak lagi ini bisa pulih sampai
sejauh ini karena──
“Hmm? Ada apa?”
“… Tidak,
bukan apa-apa.”
Satsuki
yang berjalan di sampingku menatap wajahku dengan penasaran. Dalam waktu
singkat satu tahun terakhir,
penampilan Satsuki telah meninggalkan kesan remaja SMA-nya dan kini mengenakan suasana yang
lebih dewasa dan terampil. Dari Ekspresi dan tingkah lakunya memancarkan
kepercayaan diri dan kilau
yang menunjukkan langkah menuju kedewasaan.
“Masa sih~! Kamu terlihat seperti menyembunyikan
sesuatu, ya?”
… tapi pemikiranku terputus sejenak.
Keceriaan yang tulusnya masih ada.
“Kupikir
sudah lama sekali Satsuki dan yang lainnya merepotkan para dokter karena aku
sudah tidak lagi menggunakan kursi rodaku.”
“Apa
salahnya dengan itu?”
“Kamu bohong, kan…?”
Satsuki memiringkan
kepalanya dengan ekspresi keheranan.
Kadang-kadang
aku masih mengingatnya, tetapi rasanya berat ketika lukaku sudah cukup sembuh
hingga aku bisa berhenti menggunakan kursi roda. Aku sangat ingin bisa berjalan
bebas sesegera mungkin, tetapi keempat orang lainnya bersikeras ingin
merawatku.
Shino
bahkan berkata,
“Aku tidak membutuhkan dokter
yang salah dalam penilaian. Sebutkan namamu.”
Dia
benar-benar membuat dokter itu kebingungan.
Itu bahkan bukan kenangan yang baik…
──Hari
ketika Satsuki dan yang lainnya membaca 【Buku Harianku】.
Jika
dipikir-pikir, cerita tentang reinkarnasi dalam permainan adalah sesuatu yang
sering kubaca, termasuk kehidupan sebelumnya, tetapi aku belum pernah mendengar
tentang karakter di dalamnya yang menyadari bahwa dunia yang mereka tinggali adalah
buatan.
Seharusnya,
ingatan tentang membaca 【Buku
Harianku】
pun akan lenyap karena ‘kekuatan paksaan
dunia’, tetapi sekarang setelah dibebaskan dari 【LoD】, mungkin kekuatan paksaan dunia’
tidak mempan kembali pada mereka. Jadi, aku bisa memahami hal itu menjadi
jelas.
Namun,
aku sedikit tertawa ketika dikatakan
bahwa dosa-dosa dunia atas adalah manusia.…
Dan itu juga alasan beratnya rasa
bersalah dan rasa terima kasih mereka yang
berlebihan terhadapku. Tentu saja, jika aku berada di posisi sebaliknya,
mungkin aku juga bisa jatuh ke dalam kegelapan.
Yah, sejujurnya, itu tidak terlalu penting. Yang
terpenting ialah──
“Haah, malu-maluin banget…”
Aku memandang
ke atas langit dan menutupi wajahku.
Tidak,
aku tidak berniat menunjukkannya
kepada siapa pun. Termasuk sisa-sisa 【Buku
Harianku】
yang ditujukan kepada 【Gadis Elok Empat Arah】.
Dan
kalimat terakhir──
“‘Tekad untuk mengorbankan
nyawalah yang membawa kemenangan ──’”
Satsuki
menatapku dengan senyum bangga sambil berbisik
demikian. Kepalaku terasa panas.
“Hentikan…”
“Eh~
Kenapa~!? Aku sangat senang loh!
Tidak banyak orang yang bisa mengatakan hal seperti ini, dan itu membuatku merasa
kalau aku benar-benar
dicintai!”
“Tolong,
jangan mengatakan itu di depan umum!
Kumohon!”
Saat ini,
kami sedang berada di pusat perbelanjaan. Sesuatu yang
biasa disebut kencan. Biasanya kami melakukannya berlima, tetapi
ketiga teman lainnya sepertinya ada urusan lain,
jadi hari ini hanya berdua saja.
Kemudian,
Satsuki perlahan-lahan
melilitkan lengannya di lengan kananku, menatapku dengan ekspresi cemberut dan
tatapan ke atas.
“...
Karena cuma ada kita
berdua saja hari ini, jadi lihatlah aku saja.”
“Ah,
maaf…”
Pacarku
terlalu imut…
Ketika
aku memikirkan ketiga orang lainnya, sepertinya dia bisa membaca pikiranku.
Saat kami berjalan di mal, ada banyak
orang memusatkan perhatian pada kami. Terutama, ada tatapan cemburu yang
mengarah padaku.
“Yah, ini
sudah jauh lebih baik…”
Aku
tersenyum pahit. Jika mengukur kekuatan rasa cemburu, tatapan yang tertuju
padaku itu hanya seperempat dari kekuatannya.
Biasanya,
Reine, Shuna, dan Shino akan bergabung dengan kami di sini.
Aku sudah
terbiasa dengan tatapan yang menganggapku sebagai pria harem yang dikelilingi empat wanita
cantik, dan aku menjadi terkenal di kampus sebagai
sosok mob yang memiliki empat wanita
cantik di sisiku.
Seharusnya
Sano Yuuto lah yang berada di posisi ini, tapi yang namanya kehidupan memang sesuatu yang tidak dapat
diprediksi.
Ngomong-ngomong,
setelah hari itu, Sano sama sekali tidak mengganggu kami.
Mungkin
kemarahan mereka berempat hari itu sangat berpengaruh padanya, karena ia berperilaku baik di
universitas dan tidak berusaha menjalin kontak dengan 【Gadis Elok Empat Arah】.
Mungkin dia benar-benar menyesal.
Jika
begitu, aku ingin Sano memulai ke,bali dari
awal.
ku yakin
beberapa orang akan mengkritikku setelah mengalami hal yang menyakitkan, tetapi
aku sendiri juga merupakan
orang yang buruk di kehidupan sebelumnya, jadi aku tidak bisa terus-menerus
menyimpan dendam padanya.
Dan ini
yang paling penting, 【Gadis Elok Empat
Arah】
hampir tidak punya kesempatan
untuk jatuh ke dalam kegelapan lagi.
Kadang-kadang
mereka mengarahkan perasaan berat kepadaku, tetapi tetap saja, itu tidak ada
apa-apanya dibandingkan dengan awalnya.
Ketenangan
hatiku kini akhirnya terjaga.
“Itu sama sekali tidak benar, Satoshi-kun. Kami tidak jatuh ke
dalam kegelapan karena kami menyadari kalau kamu
mencintai kami.”
“... Tolong berhenti membaca pikiranku secara alami.”
“Fufufu,
kita sudah sering menghabiskan malam yang
panas setiap hari. Jika kami mengetahui seberapa
besar kami dicintai, kekhawatiran kami akan
berkurang.”
“Sudah kubilang berkali-kali, jangan mengatakan hal seperti itu di tempat
umum!?”
Satsuki
menahan pipinya dan mengucapkan pernyataan yang menggoda, tetapi sepertinya dia
tidak akan berhenti. Tatapan
hangat dan penuh cemburu di sekeliling kami saling
bertabrakan, dan aku merasa seperti akan terkena flu.
... Yah, kurang lebih memang begitulah.
Malam hariku biasanya dihabiskan bersama mereka berempat, ya… tetapi belakangan ini,
stamina semakin menurun...
Aku
sedang memikirkan cara untuk mengalihkan perhatian dengan berbagai trik, tapi,
yah, hasilnya seperti yang bisa kalian
tebak.
“Yah, itu
memang kenyataannya.”
“Jangan
bercanda…”
“Yang
terpenting adalah Satoshi-kun telah membantu kami mengatasi kegelapan yang kami
hadapi. Berkat itulah, hati
kami menjadi terasa cerah! Terima kasih,
ya?”
“Yah… itu
sudah seharusnya.”
Satsuki sekarang sudah berhenti menjadi gravure
idol. Karena dia cukup terkenal sehingga pihak agensinya menentangnya, tapi aku
menghadapi mereka dengan sepenuh hati seraya berkata, “Kalian lah yang
mendorong Satsuki untuk menjual dakimakura dirinya sejak awal, jadi kenapa
kalian tiba-tiba berubah pikiran begitu dia populer?”.
Masalah
dengan Reine dengan ibunya,
hubungan perusahaan keluarga Shuna,
perseteruan Shino dengan
keluarganya…
Aku
menyelesaikan masalah yang seharusnya diselesaikan Sano di【LoD】.
Meskipun
begitu, ini bukan hal yang perlu dibanggakan. Jika gadis yang kamu sukai dalam kesulitan, sudah sewajarnya kamu harus
membantunya, kan?
“Hmm?”
Kemudian,
lenganku ditarik.
“Daripada
itu, mari kita nikmati kencan hari ini!
Kita tidak punya banyak waktu sampai malam!”
“Ah, oke.”
“Pertama-tama, ayo kita lihat-lijat dulu! Kita
akan mengelilingi semuanya!”
“Yang benar saja!?”
Ada
sekitar tiga puluh toko di sini…
◇◇◇◇
“Bagaimana
menurutmu dengan yang
ini~?”
“Suasananya seperti musim semi.
Suasananya yang cerah dan lembut sangat cocok untuk Satsuki.”
“Eh~, masa? Kalau begitu, bagaimana yang ini?”
“Secara
keseluruhan terasa sangat lembut. Terutama bagian rok
panjangnya yang berkibar tertium angin itu terasa
sangat musim semi dan bagus.”
Saat Satsuki
keluar dari ruang ganti, dia secara alami mengambil pose yang cocok. Seperti yang diharapkan dari mantan
gravure idol, dia memiliki bakat luar biasa untuk menarik perhatian orang.
Hanya saja, aku mulai khawatir jika orang-orang akan mengenali Satsuki seperti
ini.
Lebih
dari itu, masih ada berapa banyak pakaian yang tersisa? Kami sudah melakukan
ini selama sekitar dua jam…
“Satoshi-kun
sangat pandai memuji ya, aku sampai lupa waktu~. Ini sangat
menyenangkan!”
“Yah, itu
karena aku sudah terlatih.”
Karena
mereka semua berempat wanita, jadi mereka sama-sama tertarik dengan fesyen dan
melihat-lihat pakaian semacam ini sudah
menjadi hal yang lumrah. Namun, saat aku baru mulai berpacaran dengan mereka semua,
keterampilan memujiku sangat buruk.
Satsuki,
Shuna, dan Shino tetap merasa
sangat senang dengan upayaku, tapi cuma Reine yang berbeda.
“Nee? Apa ini tidak cocok?” “Sama
seperti pendapat sebelumnya…” “Fufu, kamu tidak perlu memaksakan
diri…” “Palingan
aku kelihatan jelek…”
Dia mulai
terpuruk. Setiap kali itu terjadi, aku harus memeluk Rei yang tampak ingin
menangis dan menghiburnya.
Di bawah
perhatian banyak orang. Artinya,
keterampilan memujiku didapatkan melalui semacam naluri bertahan hidup.
Masa-masa
itu sangat sulit. Seriusan...
Reine tidak pernah belajar untuk
bergantung pada orang lain sejak kecil, jadi sebagai akibatnya, dia sangat
bergantung pada kami. Dan jika kami mengabaikannya, dia akan terlihat sangat
sedih, jadi kami semua memanjakannya.
Entah
bagaimana, dia terasa seperti adik bungsu. Meskipun dia sama sekali tidak
mengakuinya...
Semua
orang berpikir, “Apa yang dikatakan anak yang tidak bisa tidur di malam hari
tanpa ada orang lain di sampingnya?”
“Kalau
begitu, mari kita pergi ke sana selanjutnya.”
“Ah,
ayo…”
Aku seketika
membeku saat melihat toko yang ditunjuk Satsuki. Karena itu toko pakaian dalam.
“Setidaknya, aku tidak perlu ikutan ke sana…”
“Eh~! Berkat ulah seseorang, ukuranku jadi .....”
“Ahhh! Aku mengerti! Jadi jangan katakan lebih dari itu!”
“...
Bagus, asalkan kamu mengerti.”
Aku setengah
dipaksa dibawa ke dalam seraya
ditemani senyum gelap Satsuki...
◇◇◇◇
Setelah
menyelesaikan tur lingerie yang menyiksa, kami memutuskan untuk pindah ke pusat
permainan.
“Ahahaha!
Satoshi-kun, kamu payah banget!”
“Tunggu,
bermain drum tanppa tangan kanan sih jelas-jelas susah banget tau!?”
Seharusnya
kami bertanding bermain drum,
tapi bukan cuma aku pemula, tapi tangan
kananku juga tidak bisa bergerak sesuai keinginanku. Selain itu, tangan
dominanku adalah tangan kanan. Jadi, aku memukul drum
dengan tangan yang berlawanan, dan tentu saja, tidak mengenai sama sekali.
“Kamu benar-benar buta nada!”
“Tidak, tidak, jika aku memakai tangan kananku, aku bisa sedikit lebih baik…
Lagipula, Satsuki juga tidak jauh berbeda dariku…”
“Menang
tipis tetap saja menang!”
Dia
mengangkat hidungnya tinggi-tinggi dan membusungkan dadanya yang besar.
“Sialan…”
Kalaupun
kita membandingkan apel dengan apel, yang namanya
kalah tetap saja
kalah. Rasanya frustrasi sekali. Kalau
begitu, aku ingin bertanding dalam permainan yang bisa aku menangkan.
Nah,
bagaimana dengan,
“Bagaimana
dengan permainan medal?”
“Ditolak.”
“Kenapa?”
“Aku
tidak punya kenangan indah tentang pertandingan medali karena Shuna…”
“Oh…
begitu ya.”
Sepertinya
Shuna menemukan hobi baru setelah menjadi mahasiswi,
tetapi itulah yang jadi
masalahnya.
Hobinya itu
berjudi. Slot, balapan kuda, balapan perahu, apa saja tidak
masalah asalkan bisa dibuat berjudi...
Aku
tidak akan menghentikannya jika dia bermain dalam
batas wajar. Namun, peruntungannya soal uang sangat buruk
sehingga dia sering pulang tanpa uang sepeser pun.
“Aku
berinvestasi pada hal-hal yang kurasa memiliki potensi~. Nah, tunggu saja ya~ dalam beberapa hari ke depan,
semuanya akan kembali berlipat ganda~.”
Setelah mendengar
kata-kata itu, kamu langsung mengambil alih pengelolaan
uang Shuna. Tentu saja, dia protes keras,
tetapi kami tidak bisa mengirimnya ke bawah tanah, jadi aku harus bersikap
tegas.
Lagipula,
dia seharusnya yang paling mengetahui seberapa menakutkannya perjudian…
Meskipun
Shuna adalah gadis yang
paling penuh kasih dan tenang, dia juga bisa dibilang masalah terbesar.
Meskipun terlihat santai, segala sesuatu yang dia lakukan bisa sangat
menakutkan.
“Kalau
begitu, ayo kita main UFO catcher!”
“Wah,
bagus! Mau pilih yang mana?”
“Aku
ingin boneka untuk di rumah. Bagaimana dengan yang itu?”
Wahana yang
ditunjuk Satsuki adalah permainan yang berisi boneka
teddy bear.
“Bukannya itu terlalu besar…? Apa kita bisa menangkap
yang seperti itu?”
Itu
adalah teddy bear raksasa yang tingginya sekitar delapan puluh sentimeter,
tetapi Satsuki tampaknya sudah bertekad.
“Ini nukan soal bisa atau tidak, tapi kita harus mendapatkannya…!”
“Jangan mengatakan sesuatu yang
terdengar bijak…”
“Ayo!
Kita main bersama! Aku akan menekan tombol ini, jadi Satoshi-kun, tolong tekan
tombol yang itu!”
Karena Satsuki
menekan tombol kanan, aku diminta untuk menekan tombol kiri.
“OK… eh,
sudah meleset!?”
“Eh!?”
Kesimpulannya,
sepertinya kami tidak memiliki bakat dalam permainan. Meskipun kami mendapat bantuan
dari petugas, kami tetap tidak berhasil mendapatkannya.
Yah, jika
kami berjalan-jalan sambil membawa
boneka besar itu pasti akan sangat menarik
perhatian. Jadi, aku tidak merasa kecewa.
◇◇◇◇
“Ini nih~ ini
nih~! Parfait Stroberi☆Deluxe!
Aku sudah lama ingin mencobanya~!”
Mata Satsuki
tampak berbinar-binar saat mengambil
foto.
Kami mengunjungi kafe yang menjadi tujuan Satsuki
untuk mengubah suasana gelap di pusat permainan. Saat masuk, dia masih terbawa kesalahan
sebelumnya, tetapi saat makanan yang diinginkan tiba di meja, suasananya
langsung membaik. Aku merasa lega.
“Satoshi-kun,
fotoin aku ya!”
“Baiklah.”
“Peace~!”
Aku
mengambil foto Satsuki yang tersenyum bahagia di depan parfait besar. Dia
terlihat sangat bahagia, dan melihatnya membuat hatiku terasa tenang.
Hanya
saja──
“Bukannya ini terlalu banyak? Apa kamu bisa menghabiskannya
sendirian?”
“Kamu masih naif sekali,
Satoshi-kun.”
Dia
menggerakkan jari-jemari
dan bibirnya.
“Asal kamu tahu saja, yang namanya parfait
itu, begitu seorang gadis memakannya, kalorinya
akan berkurang setengahnya.”
“Apa-apaan itu…?”
Meskipun dooa menggunakan teori kalori yang
beredar, itu terlalu berlebihan…
“Di~tam~bah~ la~gi…”
Satsuki
dengan dramatis menyendok bagian
parfait yang menumpuk dengan sendoknya
dan mengarahkannya padaku. Saus stroberi yang melimpah di atas krim kocok yang
lembut, dan di bawahnya, es krim berwarna pink cerah terlihat.
“Jika kamu menambahkan faktor [aah~n] di sana, kebahagiaan dan rasa
enaknya akan menjadi bertambah
dua kali lipat. Jadi, ayo aah~n.”
Satsuki
tersenyum dan mengarahkan sendoknya
padaku.
Menyadari
tatapan orang-orang di sekitarku, aku menggigitnya dalam-dalam. Aku mendongak
dan melihat Satsuki menatapku sambil tersenyum.
“Buktinya sudah lengkap, kan?”
“...Memang
benar.”
Walaupun rasanya
tidak berubah, tetapi perasaan bahagia dan rasa malu menyergapku. Aku ingin meminta maaf atas
perkataanku yang dianggap berlebihan.
“Yuk,
sekarang giliran aku! Ayo!”
“Memangnya kamu ini anggota tim bisbol,
ya?”
Kami
saling menyuapi Parfait Stroberi☆Deluxe.
Ternyata faktor [aah~n] bisa
diterapkan tanpa batas. Rasanya semakin nikmat.
ercakapan
ini mengingatkanku pada tren baru-baru ini di rumahku. Akhir-akhir ini,
membicarakan teori okultisme sedang populer di rumah kami, dan Shino menyukai
permainan kata-kata seperti ini.
Sejak
kami menjadi mahasiswa, kami selalu membeli alkohol di rumah dan menghabiskan
malam dengan berfoya-foya.
Anak di
bawah umur? Karena kami mahasiswa, jadi aman, kan? (TN:
Batas minimal usia dewasa yang boleh meminum alkohol di Jepang itu adalah 20
tahun, jadi mereka seharusnya masih belum boleh minum alkohol karena masih
mahasiswa baru yang rata-rata baru berumur 18-19 tahun)
Anehnya,
orang yang paling suka minum ternyata adalah Shino, tetapi
dia juga yang paling lemah.
“Begini
ya, Satoshi-saan~. Kata orang, huruf '人'
itu melambangkan dua orang yang saling mendukung, tapi jika ada cinta [I] di
antara dua orang tersebut, kita
bisa jatuh ke tempat tidur [H], kan? Jadi, mari kita tidur bersama, ya?”
Dia
mengucapkan teori seperti itu sambil memegang sebatang makanan dan minum
highball, serta menepuk punggungku dengan semangat. Meskipun penampilannya tidak
mencerminkan wanita Jepang yang anggun, anehnya aku merasa ada daya tarik yang
sulit dijelaskan…
Ngomong-ngomong,
pernah ada keputusan untuk berhenti minum, tetapi Shino akan merengek sambil
memeluk botol kosong shochu, jadi kami yang akhirnya menyerah.
“Mmm~! Enak banget! Pelayan~! Aku minta tambah~!”
“Oi.”
Aku berusaha
memperingatkannya, tetapi Satsuki sama sekali tidak mendengarkan.
Yah, pada
akhirnya aku menyerah seraya berpikir jika Satsuki bahagia,
mungkin itu sudah cukup bagiku.
◇◇◇◇
“Wah, ada banyak sekali~!”
Satsuki
membawa segudang tas belanjaan
di kedua tangannya. Aku ingin menawarkan diri untuk membawanya, tapi tangan
kananku sedang tidak dalam kondisi prima, jadi aku tidak bisa banyak membantu.
Selama
perjalanan pulang, aku sudah sangat kelelahan. Tidak, kencan itu sangat
menyenangkan. Hanya saja──
“Maaf ya~
Aku terlalu asyik sampai kehilangan tasku.”
“Yah, ya
sudah, lain kali hati-hati saja.”
Dia
menjulurkan lidahnya dan sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda
penyesalan.
Seriusan, aku berharap dia mulai lebih berhati-hati!
Padahal ada
banyak barang penting seperti dompet dan ponsel berada di dalamnya, tetapi mengapa
dia bisa begitu ceria?
Di antara
【Gadis
Elok Empat Arah】,
Satsuki termasuk yang paling bijaksana dari segi kepribadian, tapi dia memiliki kelemahan
yang cukup fatal. Dia
sering kehilangan barang. Kehilangan tiket kereta sudah menjadi hal yang biasa baginya. Dia bahkan sudah akrab dengan
petugas stasiun dan petugas barang hilang di universitas. Dia terlalu sering ke
kantor polisi sampai-sampai ada petugasnya
yang bercanda, “Kamu sengaja datang ke sini untuk ditangkap ya?”.
“Tapi aku adalah penjahat yang terkurung dalam penjara
cinta Satoshi-kun~”
“Sudah kubilang jangan baca
pikiranku…”
Karena
Satsuki yang duduk di sampingku mulai mengganggu lamunanku, aku menghela napas
dan menanggapi.
“Lagipula,
soal tas itu tidak apa-apa── besok juga pasti bakalan sampai di kantor polisi.”
“? ...Oh,
mungkin begitu.”
Tidak
ada gunanya merasa panik sekarang. Selain itu, Satsuki belum
pernah kehilangan barang dan tidak bisa ditemukan dengan cara ajaib, jadi
kata-katanya bisa dipercaya.
Meskipun
begitu, setelah menghabiskan waktu bersama para heroine di 【LoD】, aku menyadari bahwa
mereka memiliki banyak kelemahan yang fatal. Namun, hal itu tidak membuatku membenci atau
merasa kecewa. Justru, itu menambah sisi kemanusiaan mereka dan membuatku
merasa lebih akrab.
Sisi
kemanusiaan mereka yang tidak bisa terlihat hanya dari profil sangat menarik
bagiku.
“Ah, kita sudah sampai!”
Sebuah
apartemen murah mulai terlihat. Di ujung paling belakang, ruanganku menyala.
Meskipun ada lima kamar, rutinitas kami adalah makan malam dan tidur di
ruanganku. Sudah setahun berlalu, dan aku sudah terbiasa.
“Ah,
akhirnya pulang juga~”
“Selamat
datang.”
“Kalian lama sekali ya.”
“Maaf
ya~”
Ketika memasuki apartemen satu kamar itu,
aku disambut dengan sushi,
pizza, dan beragam minuman beralkohol yang tampak mahal. Hidangan mewah pun
tersaji untuk rumahku.
“Memangnya hari ini ada peringatan khusus atau semacamnya?”
“Jadi
kamu benar-benar melupakannya, ya…”
ku baru
saja merayakan ulang tahunku, jadi aku penasaran apakah ada yang lain?
“Hari ini
menandai peringatan satu tahun sejak
Satoshi-kun menyelamatkan kita, kan?”
“Eh, apa
iya?”
Meskipun aku melihat kalender, aku tetap tidak bisa mengingatnya. Karena hati itu adalah hari yang mungkin
bisa membuatku mati, jadi aku punya rasa ingatan, tetapi tidak ingat tanggal
pastinya.
Masa-masa di
mana aku berjuang keras untuk
melakukan sesuatu tentang masa depan yang tak terkendali terasa seperti
kenangan masa lalu yang jauh.
“Terima
kasih sudah menyelamatkan kami pada hari itu, ya?”
Satsuki
dan yang lainnya tersenyum padaku.
Aku menyelamatkan
para heroine hanya demi membalas
dendam. Itu hanya sebuah cara untuk mencapai tujuanku.
Namun,
untukku──
“Mugyu!?”
Reine menggepit pipiku dengan kedua tangannya
seolah-olah merasa cemberut.
“Ya ya. Masa-masa merendahkan diri sudah
selesai. Itu sudah menjadi kebiasaan
buruk Satoshi, oke.”
“Ma-Maaf, maafkan aku.”
Saat Reine melepaskan tangannya dari
pipiku, rasa sakit yang menyenangkan menjalar di
sekujur tubuhku.
“Apapun
yang kamu pikirkan, hal itu tetap tidak mengubah fakta bahwa kamu
telah menyelamatkan kami, oke~?”
“Benar.
Tahun ini adalah yang paling bahagia dalam kehidupanku…”
Shino
mengangguk dengan penuh emosi.
Saat mendengar kata-kata itu, hatiku terasa hangat.
Lagipula,
aku dan keempat gadis itu hanya bersama langsung selama setahun ini. Ketakutan
akan kekecewaan jika mereka mengetahui diriku yang sebenarnya selalu
menghantuiku.
Meski
demikian, aku merasa sangat senang
mereka mengatakan itu.
“...Nah, mari kita mengesampingkan itu,
Satsuki, cepat menjauhlah dari
Satoshi.”
Reine dengan cepat mengulurkan
tangannya berusaha menarikku dari Satsuki.
“Apa yang
kamu lakukan!”
“Bersikap
acuh tak acuh itu rasanya tidak
adil, kan~? Satsuki-chan.”
Shuna
tersenyum seperti biasa. Namun, tekanan yang dia berikan sangat luar biasa. Walaupun suaranya terdengar tenang, tapi itu membuatku merinding.
“Ma-Maksudmu apaan ya~?”
“Jangan berpura-pura bego begitu…”
Shino bergumam dengan ekspresi datar, lalu
mengangkat selembar kertas catatan dengan ujung jarinya.
‘Aku akan
membawakan Satoshi-ku
keluar, jadi aku menyerahkan persiapan
pestanya pada kalian
ya~☆’
...Aku
melihat Satsuki.
Satsuki
mengeluarkan keringat dingin, tampak gelisah dengan tatapan yang mengembara.
Namun, ketika pandangan matanya
bertemu denganku sejenak,
“Maaf ya~☆”
Dia
menyatukan kedua tangannya,
mengedipkan mata sambil menjulurkan lidahnya.
Senyum manis nakalnya yang sangat mematikan
hampir membuat jantungku berhenti, tetapi segera aku tersadar oleh aura
membunuh yang terasa dari belakang.
“Kencan
berduaan itu dilarang. Kita sudah memutuskan
seperti itu dalam [Perjanjian Empat Pihak],
‘kan?”
Shino
menatap Satsuki dengan tatapan tajam yang hampa.
Reine dan Shuna juga memiliki ekspresi
yang sama.
Kami
benar-benar terkepung. Secara
harfiah, Satsuki tidak punya tempat untuk melarikan diri.
──Sepertinya,
sudah saatnya untuk merasa kasihan pada Satsuki.
“Shino.”
“Ya?”
“Kita
pergi ke planetarium bersama dua hari yang lalu. Rasanya
sangat menyenangkan ya.”
“Ya! Rasanya sangat… ah.”
Dia mulai
berbicara, tetapi gerakannya langsung terhenti.
Tiga pasang mata tajam menusuknya, dan Shino segera mengalihkan
tatapannya.
“...Standar
ganda itu sudah jadi ciri khas politik, ya? Kurasa itu pemikiran yang bagus.”
“Eh,
itu... um…”
“Seperti
biasa, perkataan orang kaya memang memiliki bobot yang berbeda~.”
“Ti-Tidak, itu tidak benar...! Itu...
semacam bagian dari pembelajaran...!”
“Bagaimana
kamu bisa begitu berani menyalahkanku?”
“Ugh...”
Shino
mulai terlihat panik. Melihat itu, aku mengalihkan
pandanganku ke arah Shuna.
“Kita benar-benar tidak bisa
menang.”
“Mou~! Itu kejam banget! Sudah
kubilang itu investasi untuk masa depan, kan... ah.”
“Shuna?”
“Kamu
juga, ya...!”
“Hei, hei, apa
yang ada di pikiranmu saat kau terus menyalahkanku selama ini!!?”
Kalau
dalam bahasa laut, aku bisa menang!
Dengan
keyakinan yang tidak jelas itu, aku pergi bermain pachinko dengan Shuna setelah
sekian lama, tapi hasilnya justru berakhir dengan
kekalahan telak.
Dalam
arti ganda, Shuna yang ditanyai habis-habisan malah
berkata,
“──Entahlah~?”
“Lihatlah
ke sini dengan baik, oke?”
Dia
mencoba menghindar dengan senyum dingin, tapi tatapannya sedikit mengalihkan
arah. Ternyata, wajah poker-nya sudah mencapai batas.
Orang yang
tersisa tingglah──
“Hahhh... kalian semua benar-benar tidak mematuhi
aturan, ya.”
Suara
Reine yang dingin membuat semua orang
menatapku, tetapi,
“Aku
tidak bermain berduaan dengan
Reine.”
“Lihat, ‘kan?”
Dia membusungkan dadanya dengan ekspresi puas.
Tentu saja ketiga gadis itu tampak sedikit canggung dan mengalihkan tatapan mereka.
Namun──
“Dia meminta saran kepadaku,
katanya dia ingin lebih dekat dengan kalian bertiga, tapi tidak tahu harus
berbuat apa.”
“Itu...!”
Kulit
putih Reine
tiba-tiba berubah menjadi merah padam seperti udang rebus.
Hening.
“Ra-Rasanya senang sekali bisa
dipikirkan begitu sama Reine...
ahahaha...”
Sambil
tertawa untuk menghilangkan ketegangan, tatapan empat gadis itu kembali
terfokus padaku.
Pada
detik berikutnya, tatapan penuh dendam dari keempat arah tertuju padaku.
...Aku
tidak melakukan kesalahan apa pun.
Lagipula,
aturan yang disebut [Perjanjian Empat Sisi] itu ditetapkan oleh mereka
berempat, dan yang melanggar serta mengajakku semua justru mereka sendiri.
Eh? Jika aku tahu tentang [Perjanjian Empat Sisi],
kenapa aku tidak menolak saja kamu bilang?
Tentu saja
itu mustahil.
...Ya.
Jadi, aku juga bersalah. Ya.
Ngomong-ngomong,
Satsuki yang menuduh ketiga gadis itu sama denganku memiliki rahasia bahwa dia pergi ke kolam malam
berduaan saja denganku.
Sambil
terheran-heran dengan ketebalan wajahnya, tiba-tiba pandangan mataku bertemu dengan
Satsuki.
──Rahasia.
Dengan
sudut yang sempurna, dia mengedipkan mata tanpa terlihat oleh siapa pun. Wajahnya seolah ingin mengatakan
bahwa jika tidak ketahuan, itu bukanlah kesalahan, dan dia sama sekali tidak
merasa bersalah.
...Tapi
aku tidak akan mengatakannya.
Sebenarnya,
ketiga gadis lainnya juga memiliki catatan yang belum diungkapkan, tetapi jika
aku menyelidiki lebih dalam, itu hanya akan menjadi pertikaian yang tidak
berguna.
“Yah,
yah, mari kita anggap ini sebagai pertikaian yang saling menguntungkan, jadi
hari ini kita bakalan berdamai.”
“...Tidak
ada yang keberatan.”
Seseorang
menggumamkan kata itu, dan seolah menjadi isyarat, suasana pun menjadi lebih
ringan.
“Yuk, karena hari ini adalah hari perayaan! Mari
kita bersenang-senang!”
Suara
ceria Satsuki menjadi pemicu, dan semua
orang meraih lenganku dan mencoba menarikku ke arah mereka masing-masing.
Bahkan
saat kakiku terlilit, tiba-tiba aku mendapati diriku merenungkan sebuah pikiran
yang familiar di lubuk hatiku.
Setiap
kali aku melihat adegan ini.
Setiap
kali aku dikelilingi oleh keributan ini.
Berkali-kali.
Berulang
kali.
“Aku menyukainya...”
Kata-kata
itu terucap secara alami dalam bisikan.
“Hmm? Ada
apa?”
Satsuki
menoleh dengan kebingungan.
“...Tidak,
tidak ada apa-apa.”
Untungnya,
sepertinya dia tidak mendengar sepenuhnya maksud dari apa yang kukatakan. Sampai hari akhir hidupku, aku
akan terus berlari untuk
mereka semua.
Karena itulah
arti keberadaanku── [Iriya Satoshi] lahir ke dunia ini.
