
Chapter 7 — Menerima Apa Adanya
Bagi Itsuki,
Amane adalah sosok pria yang seolah-olah perwujudan dari semacam ideal. Bukan
kepribadiannya sendiri atau semacamnya, melainkan lingkungan di sekitarnya.
Namun, Itsuki tetap saja begitu iri padanya.
Dirinya
diberkati dengan keluarga yang sangat baik. Meskipun dirinya anak tunggal, Itsuki
bisa melihat jelas kalau Amane dicintai oleh orang tuanya dan dihormati sebagai
individu.
Amane
berperilaku penuh percaya diri dan menyadari bahwa ia disayangi oleh orang
tuanya karena ia dicintai. Bahkan di saat-saat dirinya kurang percaya diri,
Amane tampak sepenuhnya memahami kasih sayang dari orang tuanya, dan ia tak
pernah menunjukkan sedikit pun keraguan. Terlihat jelas bahwa ia dicintai, dan
ia juga mencintai serta menghormati orang tuanya.
Hubungan mereka
tampak seperti biasa-biasa saja, tetapi sebenarnya tidak biasa, membuat Itsuki
merasa tertekan setiap kali melihat hubungan orang tua dan anak yang begitu
memukau penglihatannya.
Dirinya
tidak pernah merasa tidak iri.
Itsuki
selalu bertanya-tanya mengapa hubungan dengan orang tuanya begitu berbeda
dengan keluarganya Amane, sambil membandingkan wajah Daiki dan Shuuto, dirinya
pernah merasa meringis.
Bukannya
berarti ia tidak merasakan kasih sayang Ayahnya. Itsuki mempercayai bahwa Daiki
menyayanginya dengan caranya sendiri.
Namun, Itsuki
merasa bahwa ketimbang perasaan kasih sayang sebagai keluarga maupun sebagai
individu—Ayahnya justru hanya melihatnya sebagai boneka ideal yang diharapkan.
Bahkan, itu
pun terasa berisiko.
Itsuki
merasa seolah-olah dirinya hanyalah barang cadangan yang disimpan di gudang,
menunggu suatu saat digunakan.
Jika tidak,
tidak ada penjelasan mengapa kakaknya hanya melihatnya setelah hampir melarikan
diri. Jika kakaknya tidak menentang apa yang dikatakan Daiki, mungkin Itsuki
masih akan diabaikan.
Itsuki
tidak percaya pada yang namanya
cinta tanpa syarat dari orang tua. Sejak dirinya
mendapatkan kesadaran diri, ia hanya melihat kakaknya yang
terjebak dalam pendidikan sebagai pewaris,
sementara ayahnya lebih sibuk dengan pendidikan itu dan hampir tidak
memperhatikan Itsuki. Itsuki
berpikir mungkin ayahnya menganggapnya tidak berguna dan lebih baik diabaikan.
Meskipun
ia tidak tahu bagaimana kenyataannya, setidaknya pendidikan Itsuki sangat minim
sampai kakaknya mulai memberontak, dan memang benar bahwa pendidikan yang keras
dimulai setelah kakaknya pergi.
Itsuki
yakin bahwa kasih sayang Ayahnya hanya diberikan kepada
orang-orang yang bisa dia identifikasi. Cinta itu ada hanya untuk melanjutkan
kehidupannya sendiri. Jika ditanya apakah itu cinta tanpa syarat, jawabannya
adalah tidak.
Cinta tanpa
syarat itu seperti cinta orang tua Amane.
Hanya
dengan memikirkan itu saja membuat
pikirannya dan hatinya langsung bergejolak, dipenuhi dengan perasaan kotor yang
berputar-putar.
Itsuki
tidak pernah membenci Amane. Sebaliknya, ia merasa Amane justru orang yang sangat baik.
Meskipun
ada sedikit kebiasaan berbicara kasar, Amane justru
orang yang kalem dan pendiam, meskipun pemalu, ia tetap
peduli dan baik hati, sangat membenci ketidakadilan, dan memiliki kesucian
serta ketulusan yang langka di zaman sekarang.
Itsuki
melihatnya sebagai pemuda yang baik dengan cara yang berbeda dari Yuuta, dan
merasa nyaman berada di dekatnya.
Itsuki
tidak membencinya. Justru sebaliknya, ia menyukainya. Namun—perasaan benci
berkelebat samar-samar di dalam hatinya.
Perasaan tak
berdaya dan tak terkendali itu terasa membara dan menghitam, tapi kembali
mendingin, seperti desisan yang membara.
Bukannya
Amane yang salah. Itsuki-lah yang salah,
karena merasakan emosi negatif saat melihat temannya seperti ini.
Amane
tidak salah. Ia tidak
menyombongkan diri, dirinya hanya
dicintai oleh orang tuanya sebagaimana mestinya, dan dirinya membalas cinta itu dengan
setimpal, cuma itu
saja. Itu adalah hubungan yang indah dan
berharga. Hubungan orangtua-anak ideal yang ingin dimiliki semua orang.
Itsuki
merasa cemburu hanya dengan melihatnya mewujudkan hubungan itu.
Ia
menyadari bahwa itu hanyalah
perasaan yang egois dan sepihak. Meskipun hubungan Itsuki dengan Daiki buruk,
dirinya
justru merasa cemburu dan membenci tanpa alasan.
Itsuki
bahkan pernah merasa begitu bodoh sampai-sampai merasa malu.
Perasaan ini
membuatnya dihadapkan pada kenyataan betapa hina dirinya, dan di samping rasa
cemburu yang mendalam, ada juga segumpal
kebencian pada diri sendirinya
yang terasa lengket.
Alasan
mengapa perasaan itu begitu melekat dan tak kunjung hilang mungkin karena
percakapannya dengan
Shuuto di akhir tahun.
Itsuki
merasa seolah-olah itu adalah gambaran orang tua yang ideal, dan ia diingatkan
tanpa bisa menghindar melalui kata-kata, wajah, dan sikap.
Itu tidak
adil.
Jika
diungkapkan, perasaan itu sangat kekanak-kanakan dan bodoh.
Namun, ia
tetap merasa itu tidak adil. Melihat seseorang memiliki sesuatu yang tampaknya
tidak bisa didapatkannya, itu
membuatnya sangat cemburu.
Meskipun Amane
telah berusaha keras, mendukungnya, dan membantu Itsuki bersama Chitose,
perasaan yang membara di dalam hatinya tetap memberikan noda pada niat baiknya
sebagai teman.
Dirinya memahami bahwa emosinya sangat
kekanak-kanakan, dan menyadari bahwa memiliki perasaan itu merupakan sifat yang jelek dan
menjijikkan, tetapi Itsuki
tetap tidak bisa menghentikannya.
Setiap
kali Daiki melontarkan teguran ke arahnya,
setetes demi setetes perasaan itu jatuh.
Meski Itsuki tahu seharusnya tidak membandingkannya, secara tidak sadar ia malah membandingkan, merasa cemburu,
dan merasakan kebencian terhadap dirinya sendiri.
“Kelihatannya
kamu sedang mengkhawatirkan sesuatu. Apa ada yang
salah?”
Saat dirinya berusaha memendam perasaan keruh di dalam hatinya, suara yang tampak khawatir
datang menghampiri.
Hari ini
Amane tidak bekerja, jadi mereka berdua menghabiskan waktu di restoran cepat
saji, tetapi setelah beberapa saat, Itsuki yang diam membuat Amane khawatir dan
ekspresinya tampak mencermati.
“Apa
itu kelihatan jelas di wajahku?”
“Memang.
Sebaiknya kamu selesaikan atau katakan saja sebelum Chitose mernyadarinya. Kurasa Chitose tidak akan
mengizinkan rahasia berikutnya.”
Meskipun
Amane cepat memahami, tampaknya ia tidak bisa mengetahui apa yang membuat
Itsuki khawatir, dan berasumsi bahwa itu berkaitan dengan Chitose. Secara
logis, memang wajar untuk curiga ke arah itu, dan karena itu muncul saat hanya
berdua dengan Amane semakin memperkuat dugaan
tersebut.
“Umm...
ini sesuatu yang sangat pribadi, sih.”
“Kalau
begitu, mungkin lebih baik aku tidak mendengarnya?”
“Ah,
uh, hmm.”
Jika dibilang lebih baik tidak mendengar,
mungkin itu benar bagi Amane. Siapa yang ingin memberi tahu temannya bahwa
mereka merasa cemburu?
Sekalipun ia
mendengarnya, itu
bukan masalah yang bisa diselesaikan oleh Amane. Sebaliknya, mendengarnya hanya
akan menambah beban yang tidak perlu bagi Amane.
Itsuki
juga tahu bahwa mengungkapkan perasaannya tidak akan membuatnya merasa lebih
baik. Dirinya tidak ingin mengatakan sesuatu
yang bisa merusak persahabatan mereka.
Meskipun
begitu, ia merasa ingin meluapkan perasaan kotor yang dimilikinya kepada
temannya yang memiliki segalanya.
Meskipun
jika dia dibenci karena itu... tidak, mungkin
sudah sepantasnya dibenci, dan mungkin dia merasa tenang dengan
dihukum karena keburukannya.
“Apa-apaan dengan sikapmu itu?”
“Aku
merasa ragu untuk mengatakan ini karena isinya mungkin akan mengubah hubungan kita.”
“Memangnya
itu sesuatu yang penting?”
“Tidak,
ini cuma hal yang remeh. Benar-benar
hal yang sepele.”
Sebuah
masalah yang egois, kecil, dan menyedihkan.
“Jadi begini.”
“Iya?”
“Meski aku
sebenarnya menyukaimu, Amane, tapi....”
Itsuki
tersenyum pahit saat melihat Amane menjauh perlahan dengan ekspresi serius.
“Jangan
menjauh tanpa berkata apa-apa! Maksudku bukan begitu. Aku sudah punya Chii. Jadi aku beneran tidak bermaksud begitu!”
“Mendengarnya
saja sudah bikin merinding”
“Jangan
cepat mengambil kesimpulan. Pembicaraan baru saja dimulai.”
Itsuki
tahu bahwa cara dia mengungkapkan perasaannya bisa menimbulkan kesalahpahaman,
jadi ia merasa tidak adil jika Amane cepat mengambil kesimpulan. Namun, Amane
tetap diam dan menunjukkan sikap mendengarkan.
“Aku memang menyukaimu,
tetapi...”
“Yah,
kalau tidak, kita tidak akan berteman.”
“...Bagaimana
kalau kukatakan ada kalanya aku membencimu?”
Ia sedang
mempertimbangkan untuk mengatakannya atau tidak, kata-kata yang mungkin akan
memicu keretakan terakhir di antara mereka.
Tidak
aneh jika bagian yang ia tanamkan ke dalam dirinya retak dan hancur, dan tidak
aneh jika persahabatan mereka tidak berhasil ke depannya. Itsuki berbicara
dengan malu-malu, berniat menerima hasilnya tanpa mengatakan apa pun.
“Begitu
ya.”
Jawaban
yang diterimanya justru sangat
sederhana. Tidak ada kejutan atau kemarahan, hanya ekspresi Amane yang biasa,
menerima kata-kata Itsuki tanpa penolakan atau persetujuan.
“Reraksimu rasanya datar banget oi.”
“Yah,
bukankah lebih menakutkan ketika seseorang menerimaku sepenuhnya dan mengatakan
mereka mencintaiku, menyayangiku, dan memujaku? Itu membuatku merinding.”
“Ada
benarnya juga.”
Jika
Amane yang biasanya kritis mengatakan hal seperti itu, mungkin Itsuki akan
merasa terkejut atau meragukan keadaan mentalnya.
Itsuki
sendiri yang merasa terkejut karena diterima tanpa keraguan atau rasa sakit,
sementara Amane tetap dengan wajah yang tenang, bahkan sedikit lebih lembut
dari biasanya, sambil mendorong Itsuki untuk melanjutkan.
“…Sejujurnya, aku tidak tahu apakah 'benci'
adalah kata yang tepat. 'Iri'
mungkin terdengar lebih baik, tapi... mungkin 'tidak
adil'?”
“Ah,
kamu sedang membicarakan orang
tuaku, ‘kan?”
“Kurasa
terlalu mudah untuk memahami semuanya.”
“Kurasa bukan cuma itu satu-satunya hal yang bisa membuatmu merasa iri padaku.”
Amane
tertawa ceria, sepertinya dia tidak menyadari situasi ini.
Memang, iri hati terhadap latar belakang keluarga
Amane adalah inti dari pembicaraan, tetapi ada banyak hal lain yang bisa
dicemburui. Meski dalam konteks cemburu, itu bukanlah pokok bahasan utama saat
ini, jadi Itsuki memilih untuk tidak mengungkitnya, meskipun dia merasa Amane
cukup berlebihan.
“Ngomong-ngomong,
'iri'
dan 'tidak adil'
itu berbeda, kan? Ada unsur cemburu di situ.”
“Itu
benar.”
'Iri' berarti menginginkan hal yang
sama, sementara 'tidak adil'
mengandung rasa dengki terhadap orang yang memiliki sesuatu yang diinginkan,
terlepas dari bagaimana mereka mendapatkannya. Hanya berdasarkan fakta bahwa
mereka memilikinya, orang itu dianggap tidak adil.
Walaupun
ia tahu betapa bodohnya perasaan itu, dirinya
tidak bisa menahan emosinya.
“Aku
melihat perbedaan yang tidak bisa diubah oleh usahaku, dan itu membuatku merasa
cemburu dan tidak adil. Itulah perasaan yang sebenarnya. Tapi
bukan berarti itu salah Amane, atau ada yang bisa kulakukan. Jadi, perasaan itu
sulit untuk diatasi. Jika aku bisa mengubah ayahku, aku akan melakukannya, tapi
itu mustahil. Bahkan jika aku langsung
menghadapinya, ayahku tidak akan berubah. Itulah sebabnya perasaan negatif itu
terus berputar di kepalaku.”
“Itu
benar... Ini adalah sesuatu
yang tidak bisa kita ubah.”
Tentu
saja, Itsuki sudah berusaha untuk mengubah
situasi saat ini dengan mengubah dirinya sendiri.
Meski itu masalah yang berbeda, tapi Itsuki sangat cemburu dan merasa
iri terhadap Amane. Jika orang tua Amane adalah orang tuanya, dirinya tidak akan merasakan
penderitaan ini, dan bisa mengalihkan upayanya
terhadap hal lain. Dirinya
bisa menghindari membuat Chitose sedih. Semua itu hanyalah khayalan dan ilusi
yang tidak mungkin terwujud, tapi mau tak mau
Itsuki jadi memikirkan hal itu.
“Tapi
terus-menerus memiliki perasaan seperti itu terhadap teman sangat menyedihkan
dan jelek, dan membuatku merasa benci pada diriku sendiri.”
“Begitu ya. Ngomong-ngomong, kamu juga tidak ingin aku melakukan apa pun tentang ini, kan?”
“Aku
tahu memberitahumu mengenai hal ini
juga tidak baik. Tapi... jika aku tidak mengatakannya dan terus merasa gelisah di dalam diriku, itu juga
menyakitkan. Namun, aku tahu bahwa mengungkapkannya akan membuatmu merasa tidak
nyaman, jadi aku sangat bingung apa aku
harus mengatakannya atau tidak.”
Itsuki
tidak bodoh, jadi dirinya tahu
bahwa Amane akan merasa kesulitan dengan apa yang dikatakannya. Mungkin lebih baik jika Amane
tidak mendengarnya. Ia tahu
bahwa jika temannya yang ia percayai memikirkan hal seperti itu, itu akan
membuatnya menderita, dan ia menyampaikannya dengan egois.
Itulah
sebabnya, Itsuki merasa pasrah jika Amane merasa dihina atau marah, itu adalah
konsekuensi yang harus diterimanya.
Namun, Amane tampak sangat tenang.
“Sebenarnya,
aku tidak merasa terluka atau gimana.
Hanya saja, ya begitulah.”
“Begitulah?”
“Hubungan
antar manusia tidak selalu sederhana. Meskipun kita berteman, bukan berarti hanya ada
perasaan positif saja. Tidak
aneh jika ada hal-hal yang tidak disukai. Lagipula, jika kamu membicarakan sesuatu yang di
luar jangkauanku, aku tidak bisa berbuat apa-apa.”
Jika itu
sesuatu yang bisa dilakukannya,
mungkin ia akan merasa menyesal, tetapi Amane melanjutkan dengan senyum yang
bahkan terasa segar.
“Apa
itu alasanmu ingin memutuskan hubungan denganku atau begitu membenciku sampai-sampai tidak ingin berbicara denganku?”
“Itu
tidak mungkin.”
“Kalau
begitu, tidak masalah, ‘kan? Kamu bisa merasa khawatir sampai kamu menemukan jalan keluarmu sendiri.”
Sikap
Amane yang sangat santai, seolah-olah itu
urusan orang lain, tetapi tetap peduli dan memperhatikan Itsuki, membuatnya ingin menangis.
Dalam
arti tertentu, lebih mudah bagi Itsuki jika dirinya
disalahkan di sini, tetapi Amane tidak menyalahkannya,
dan tidak sepenuhnya menerima segalanya. Ia
hanya tetap berada di samping Itsuki sampai ia
bisa menerima perasaannya sendiri, dan itu membuat Itsuki merasa sangat
frustrasi dan terpesona.
“…Ugh,
rasanya menjengkelkan.”
“Kenapa malah begitu?”
“Entahlah.”
Itsuki
merasa bahwa hal-hal seperti ini juga membuatnya merasa 'tidak adil'.
“Ah...
ampun dah, aku merasa benci pada diriku
sendiri. Entah itu karena sempitnya hatiku, atau keburukanku, atau kebodohanku.”
“Kamu
merasa sangat pesimis hari ini.”
"Tentu
saja pesimis. Karena akulah yang
bodoh.”
“Ya,
kupikir kamu memang
bodoh.”
“Mendengarnya
dari orang lain rasanya nyelekit banget, woi.”
Meskipun Amane secara terang-terangan memanggilnya
bodoh, tapi Itsuki tahu bahwa tidak ada niat
jahat di balik kata-katanya. Melihat
Amane yang tampak senang dan minum milkshake matcha, Itsuki merasa seolah-olah
dia diselamatkan. Terkadang, bersikap santai dan bercanda bisa menjadi hal yang
baik.
Sembari
diam-diam berterima kasih kepada Amane yang memahami, Itsuki menyeruput kopi
yang sudah dingin.
“Ya,
tidak perlu terlalu dipikirkan. Selain itu, aku juga punya hal-hal yang tidak
kusukai dari dirimu, bukan hanya kamu saja.”
Itsuki
melihat Amane yang tampak ingin mengungkapkan sesuatu sambil tertawa, dan ia
merasa mengerti bahwa Amane memang seperti itu. Namun, dirinya juga merasa bingung tentang apa
yang sebenarnya tidak disukai dari Amane yang selalu terlihat toleran.
“Hmm.
Tunggu, biar kutebak. ...Bagian di mana aku terlalu terbawa suasana!”
“Jadi kamu menyadarinya ya...
Tidak sampai benci sih, tapi kadang-kadang aku berpikir ingin memukulmu.”
“Main bogem mentah! Ehm,
jadi bagian yang suka
berisik?”
“Itu juga
benar.”
“Keji!
Jadi, apa sih yang sebenarnya?”
Sebenarnya,
ada banyak kekurangan yang bisa dipikirkan, tetapi Itsuki hanya bisa memikirkan kekurangan
yang dianggap tidak disukai Amane. Dirinya menduga bahwa kekurangan yang
Amane benci jelas akan mempengaruhi dirinya, tetapi tampaknya tidak begitu.
“Bagian
di mana kamu
berasumsi aku akan membencimu, tapi kemudian kau menyerah dan berpikir, 'Mau
bagaimana lagi,' kan? Meskipun aku tidak punya hak untuk mengatakannya, tapi Itsuki, kamu cenderung menetapkan batasan
untuk menyerah dan bersiap secara mental. Kamu
lebih penakut dariku dan
membuat penghalang agar tidak terluka.”
Itsuki
merasa bahwa bagian inilah yang membuatnya
menyukai dan membenci
Amane. Dirinya hanya
bisa menghela tanpa
bisa membalas kata-kata itu, sementara Amane tampak santai dan sedikit
terkejut.
“Fakta bahwa kamu berasumsi kalau aku akan membencimu karena hal
seperti itu menunjukkan kurangnya pemahamanmu terhadapku. Apa aku terlihat
seperti orang yang mudah terluka? Justru kamu
yang berimajinasi dan merasa terluka sendiri.”
“...Menjengkelkan.”
Cuma itu
satu-satunya balasan yang bisa ia berikan.
“Ya ya.
Aku tidak akan terluka karena hal itu.”
“Menjengkelkan.
Bodoh!”
“Kekurangan
kemampuan berbahasa.”
“Kekurangan
empati.”
Jika
Chitose mendengarnya, mungkin
dia akan berkata bahwa mereka seperti bocil,
tetapi mereka berdua mulai tertawa seiring dengan semakin lucunya percakapan
itu.
Memang,
perasaan cemburu terhadap Amane ada dalam dirinya, dan itu masih menusuk lembut
di dalam hatinya. Namun, lebih dari itu, Itsuki merasa suka dan menghormati
Amane sebagai manusia. Karakter Amane yang mampu menerima perasaan menyakitkan
dan mengelolanya dengan lembut sangat menyenangkan.
“Tidak
apa-apa jika kita memiliki perasaan seperti itu saat berteman. Yang namanya teman memang seperti itu, kan?”
“Aku
suka.”
“Menjijikkan.”
“Dasar kejam.”
“Ya, aku
memang orang yang keji. Kamu
boleh membenciku.”
“Dasar
menyebalkan.”
“Baru
sekarang kamu
menyadarinya?”
“Aku
sudah tahu sejak lama!”
Sambil
merasa bersyukur atas percakapan bodoh ini, meskipun
masih sedikit menjengkelkan, Itsuki mengambil kentang goreng yang lembek dan
berpaling, mendengar suara tawa dari luar pandangannya.