Chapter 2 — Sifat ‘Sejati’ Masing-Masing Orang
Keesokan paginya. Setibanya di akademi, aku membuka pintu
kelas dengan sedikit ketegangan.
“Selamat pagi, Tomonari-kun!”
Saat aku menuju tempat dudukku, Asahi-san segera
menyadari keberadaanku dan mendekat.
Tidak masalah, aku telah membayangkan momen ini
berkali-kali. ...Dengan tenang, aku menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan
diriku, lalu melihat Asahi-san seperti biasa.
“Pa-Pagi, Asahi-san.”
“..........................hm?”
Asahi-san memiringkan kepalanya saat menanggapi nada bicaraku
yang berbeda dari biasanya.
“Tomonari-kun, apa hari ini kamu ada tugas OSIS lagi?”
“Ah, ya. Sepertinya akan terus berlanjut sampai festival
budaya selesai.”
“Begitu ya. Serahkan pada kami untuk bagian drama, kami
juga akan berusaha keras!”
“Terima kasih, aku percaya pada kalian semua.”
Asahi-san berbicara dengan semangat yang meluap-luap, sementara
aku berusaha menjawab dengan senyum secerah mungkin.
Namun, Asahi-san menatap wajahku dalam diam dengan mulut
terbuka,
“..........................Fweh.”
Dengan air mata menggenang di sudut matanya, Asahi-san
terdengar seperti hampir menangis.
“Asahi-san!?”
“Tomonari-kun... apa kamu mulai berubah...?”
“Tidak, tidak!! Aku akan menjelaskannya, tolong dengarkan
dulu!!”
Kurasa itu bukan respon yang menunjukkan bahwa aku telah
berubah, tetapi perubahan nada bicaraku tampaknya cukup mengejutkan.
Karena keributan itu, teman-teman sekelas juga mulai
berkumpul, jadi aku menjelaskan keadaan kepada mereka seperti yang kulakukan di
ruang OSIS kemarin. Aku tidak ingin hal sebesar ini terjadi, tetapi... lambat
laun harus dihadapi.
Aku ingin menghindari kebingungan, tetapi tidak mungkin
aku bisa mengumumkan dengan bodoh, “Teman-teman, tolong dengarkan, mulai hari
ini aku ingin mengubah nada bicaraku”. Aku juga memiliki rasa malu. Aku ingin
menyelesaikannya tanpa terlalu menonjol, tetapi tidak ada ide yang muncul, dan
akhirnya aku masuk ke kelas dengan semangat “Apapun yang terjadi, biarlah
terjadi”.
“Heh... bagus juga, ya!”
Setelah menjelaskan situasinya, Taishou berbicara dengan
suara ceria.
“Syukurlah. Rasanya seperti dinding yang menghalangimu telah
menghilang.”
“...Terima kasih, Taishou.”
“Oh, akhirnya kamu memanggilku tanpa embel-embel.
...Hehe, ini agak mengharukan.”
“Maaf, sebenarnya aku sudah memanggilmu tanpa embel-embel
di dalam hati.”
“Seriusan?”
Bukan hanya kemarin, tetapi sudah lama. Bahkan Taishou
terlihat terkejut dengan wajah serius.
Pada dasarnya, aku memanggil teman laki-laki tanpa
embel-embel, sedangkan untuk perempuan, aku memanggil dengan embel-embel.
Inilah kebiasaan yang berlanjut sejak sekolah SMA sebelumnya.
Namun sekarang, pernyataan yang diucapkan Taishou dengan
santai menarik perhatianku.
Rasanya seperti dinding yang menghalangimu telah
menghilang... jika itu yang mereka rasakan, berarti aku memang
merasa ada dinding penghalang sebelumnya.
Mau bagaimana lagi. Betapapun aku berusaha
menyembunyikannya, kurasa sifat sejati seseorang tidak bisa begitu saja
disembunyikan.
Kecuali jika dia adalah seorang jenius akting seperti
Hinako...
(...Entah kenapa, sepertinya aku diterima dengan mudah
lagi.)
Aku mengamati reaksi teman-teman sekelas yang lain, dan
mereka semua menunjukkan sikap positif terhadap perubahanku. Aku pikir tidak
ada orang yang akan menyakiti hal pribadi seperti ini, tetapi tetap saja, ini
terlalu mudah dan membuatku terkejut.
“Ada apa, Tomonari-kun?”
“Tidak, hanya saja... karena rasanya diterima terlalu
mudah, itu malah membuatku jadi khawatir...”
Semua orang tampak tenang, jadi sepertinya aku yang lebih
bingung.
“Kekhawatiran terbesarku adalah orang-orang akan salah
paham dan berpikir, 'Hanya karena ia menjadi wakil ketua OSIS, ia jadi
terlalu sombong...'...”
“Tidak ada yang berpikir begitu, kok."
Iya, ‘kan, Semuanya? Taishou melihat
teman-teman sekelas di sekelilingnya, seolah ingin memastikan.
Teman-teman sekelas lainnya balas mengangguk.
“Kami sudah melihatmu selama enam bulan, jadi...
bagaimana pun juga, kamu pasti mengambil keputusan setelah banyak berpikir,
kan?”
“...Ya, begitulah.”
“Kami mengerti, kok, tentang dirimu.”
Taishou menepuk-nepuk bahuku. Teman-teman sekelas di
sekeliling juga mengangguk seolah mendengar suara hati yang berkata, “Jangan
dijelaskan lebih jauh.”
Entahlah... rasanya membantu, tapi agak rumit.
Apa aku terlihat seperti orang yang selalu ragu-ragu?
...Mungkin tidak sepenuhnya salah, jadi aku tidak bisa membalas.
“Seriusan, sekarang aku merasa kamu sangat mudah
didekati. Asahi juga setuju, ‘kan?”
“Fweh!?”
Bahu Asahi-san tersentak kaget karena dipanggil oleh Taishou.
“Ah, eh, ya. Aku juga berpikir begitu...”
Dia tampak jelas menyembunyikan perasaannya yang
sebenarnya.
“Asahi-san, apa kamu lebih menyukaiku yang dulu?”
“Heh!? Ti-Tidak, sama sekali tidak kok!”
“Tapi, sejak tadi kamu tidak mau menatapku.”
“It-Itu... karena...”
Asahi-san yang mengalihkan pandangannya akhirnya
menatapku dengan putus asa.
“J-Jantungku berdebar sangat kencang!!”
Suara Asahi-san menggema di dalam ruangan kelas.
“Karena Tomonari-kun terlihat lebih maskulin dari
biasanya, jantungku jadi berdebar dan tidak bisa berbicara dengan baik!!”
“Ma-Maaf...”
Aku tidak tahu harus bereaksi bagaimana, jadi aku secara
refleks meminta maaf.
Asahi-san yang menekan dadanya dengan satu tangan
menatapku seolah mengatakan bahwa rona merah di pipinya dan perhatian yang
diterimanya semua karena salahku.
Melihat interaksi kami yang seperti itu, Taishou tampak
serius.
“Tomonari-kun, jangan-jangan kamu... berniat memanfaatkan
daya tarik gap?”
“Ya enggaklah!”
Katanya tadi kamu mengenalku? Selama enam bulan, apa yang
kamu lihat dariku?
Aku menghela napas kecil dan tiba-tiba melihat ke depan,
di mana Hinako menatapku dari kursinya. Aku merasakan suasana yang aneh dan
mendekat untuk menyapa.
“Hi....Konohana-san?”
Hampir saja aku menyebut namanya. Meskipun nada bicaraku
kembali normal, hubungan antara aku dan Hinako tetaplah rahasia.
“Ada apa, Tomonari-kun?”
“...Tidak, kalau tidak ada yang perlu dibicarakan, tidak
masalah.”
Ada ketidaknyamanan kecil yang hanya bisa dipahami olehku
yang selalu bersamanya.
Jika ada yang terlintas dalam pikiranku, mungkin itu
tentang perasaan Hinako terhadap latihan drama? Sejak malam kemarin, ketika aku
menemaninya berlatih, sepertinya ada yang aneh dengan sikap Hinako.
“Aku mendukung latihan drama kalian.”
“Terima kasih.”
Hinako menunduk dengan gerakan yang anggun. Rambut
panjang berwarna amber-nya bergetar lembut. Kesopanan yang terpancar dari
gerakannya sejenak menunjukkan keanggunan yang pantas untuk disebut sebagai
seorang Ojou-sama yang sempurna.
Namun, dari sudut pandangku, ada sesuatu yang masih
terasa janggal.
◆◆◆◆
Sepulang sekolah. Saat berjalan menyusuri koridor menuju
ruang OSIS, aku melihat punggung Narika.
“Narika.”
“Hmm? ...Itsuki!”
Meskipun tujuannya sama, Narika dengan sengaja berlari
kecil kembali ke arahku. ...Seperti anjing setia. Mungkin aku harus menyiapkan
hadiah untuknya.
“Apa kamu juga sedang dalam perjalanan menuju ruang OSIS,
Itsuki?”
“Ya. Sepertinya semua orang di kelas kami bisa
diandalkan.”
“Di kelasmu juga sama. ...Sungguh, aku tidak tahu siapa
yang sebenarnya dibantu.”
Narika tersenyum bahagia.
Aku mengerti apa yang ingin dia katakan. Meskipun aku
terpilih menjadi anggota OSIS, aku berusaha untuk mendukung teman-teman, tetapi
saat semuanya terungkap, aku malah merasakan bahwa mereka yang mendukungku.
Teman-teman sekelas kami juga memperhatikan banyak hal tentangku yang memiliki
pekerjaan OSIS. Informasi bahwa latihan drama berjalan lancar sering kali
disampaikan padaku, mungkin untuk menenangkanku.
Jika ada yang menggangguku, itu adalah sikap Hinako.
Jika memang ada sesuatu, apa itu terkait dengan drama,
atau mungkin hal lain...
“Itsuki, ada apa?”
Saat aku tenggelam dalam pikiranku, Narika memperhatikan
wajahku.
“Aku merasa Konohana-san bertingkah aneh. Mengingat
waktunya, sepertinya itu berhubungan dengan persiapan festival budaya...”
Saat aku mengatakannya, aku menyadari satu hal. Ada satu
peristiwa terbaru yang terjadi.
“...Atau mungkin, ini terkait dengan cara bicaraku yang
kini lebih santai.”
Apa aku telah memberikan ketidaknyamanan kepada Hinako
tanpa kusadari? Jika iya, aku sangat menyesal.
Mendengar dugaanku, Narika berpikir dengan serius.
“...Itsuki, apa kamu berbicara dengan Konohana-san dengan
nada santaimu di luar akademi?”
“Hah?”
Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan tajam, membuatku
terdiam.
Seharusnya ini hal yang harus dirahasiakan, tetapi...
sekarang aku sudah berbicara dengan semua orang dengan nada santai, jadi
mungkin tidak masalah untuk mengatakannya? Lagipula, Narika tahu bahwa aku
tinggal di rumah keluarga Hinako.
Dan yang terpenting, aku bisa mempercayai Narika.
“...Aku ingin kamu merahasiakannya, tapi ya, memang
begitu.”
“Begitu, ya. Yah, wajar saja kalau semuanya akan jadi
seperti itu karena kalian tinggal serumah.”
Meskipun bukan skala rumah yang sebenarnya...
...Sebisa mungkin, aku juga akan merahasiakannya dari
Narika bahwa kami berada di ruangan yang sama.
Jika dipikirkan dengan tenang, aku berbicara dengan Narika
menggunakan nada santai karena aku pernah tinggal di rumah Narika sebelumnya.
Mungkin karena ada kesamaan, jadi lebih mudah untuk dipahami.
“Ini hanya dugaanku saja, tapi... sepertinya Konohana-san
merasa tidak nyaman dengan cara Itsuki yang berbicara santai dengan semua
orang.”
Narika bertanya dengan sedikit gelisah. Namun, aku tidak
bisa memahami alasan tersebut dan menggelengkan kepala.
“Kenapa dia merasa tidak nyaman?”
“Ugh, itu karena...”
Narika sedikit berkeringat dan tampak gelisah.
“Aku... merasa tidak nyaman!”
“Begitu?”
“Habisnya! Selama ini, hanya aku yang mendengar Itsuki
berbicara santai di akademi! Cuma aku satu-satunya yang istimewa, dan
sekarang... Itsuki jadi milik semua orang!”
Milik semua orang...?
Rasanya agak memalukan, tapi aku mengerti apa yang dia
maksud. Mungkin rasanya mirip seperti saat sahabatku tiba-tiba akrab dengan
orang lain?
...Tidak, mungkin dalam kasus Narika tidak seperti itu. Narika,
um... mungkin karena dia menyukaiku, jadi dia lebih sensitif terhadap hal-hal
seperti itu.
Orang yang disukainya menjadi akrab dengan orang lain.
Ketidaknyamanan yang muncul saat itu mungkin jauh lebih dalam daripada sekadar
sahabat. Mungkin...
“...Tidak ada yang berubah, hanya nada bicaraku yang sama
dengan semua orang. Faktanya, hanya Narika yang bisa mendengarkanku berbicara
santai sejak awal.”
“......... Apa kamu mencoba mengalihkan perhatian dengan
ucapan sulit?"
Bukan begitu maksudku. Aku juga mengatakan hal yang
memalukan, jadi percayalah padaku...
“Bagiku, Narika adalah orang yang istimewa, makanya aku
bisa berbicara santai denganmu sejak awal. Hubungan istimewa itu pasti akan
tetap ada.”
“Itsuki...”
Narika menatapku untuk beberapa saat.
Kemudian, tiba-tiba dia menggertakkan giginya,
menunjukkan sikap seolah-olah sedang menahan emosinya.
“Me-Mengatakan kalau aku ini istimewa dan semacamnya... ucapanmu
itu hanya terdengar seperti mengundang kesalahpahaman tau?”
“...Maaf, jujur saja, aku juga berpikir begitu.”
Memilih kata-kata sangat sulit.
“Huff, huff, huff... Hati-hati, aku juga punya batas
kesabaranku sendiri.”
Apa sih yang sedang dia tahan sekarang?
Sekilas, dia menatapku dengan tatapan liar seperti
binatang buas... tapi aku akan menghindari untuk bertanya. Rasanya akan ada
sesuatu yang menakutkan.
Aku berjalan menuju ruang OSIS bersama Narika yang masih
menahan sisa emosinya. Saat ini, jika aku berbicara dengannya, aku merasa akan “dimangsa”
dalam berbagai arti, jadi aku memilih untuk diam, dan keheningan itu
menenangkan pikiranku.
(Apa perilaku Hinako yang aneh benar-benar disebabkan
oleh apa yang dikatakan Narika...?)
Entah kenapa, rasanya bukan hanya itu saja. Karena ini hanya firasat, aku mencoba mencari
berbagai bukti untuk mengubahnya menjadi kepastian, tetapi aku tidak menemukan
apa pun.
“Oh, kalian berdua datang bersama ya.”
Saat
memasuki ruang OSIS,
semua orang kecuali kami sudah berkumpul. Sepertinya tidak ada masalah di kelas
masing-masing.
“Tomonari-san, aku minta maaf atas tambahan ini,
tapi aku
ingin kamu
memilih tamu untuk festival budaya dari daftar ini. Kriterianya bisa sesuai keinginanmu
sendiri.”
“Baiklah...
eh, maksudku,
oke.”
“Hehe,
sepertinya kamu
masih belum terbiasa.”
Aku
merasa sedikit malu saat ditertawakan oleh Tennouji-san. Kebiasaan yang telah terpatri
sulit untuk dibuang meskipun sudah dianggap tidak perlu.
Baiklah,
mengenai pekerjaan... Hmm, tahun ini semua kelas tampaknya ingin mengundang
tamu, tapi sepertinya Tennouji-san ingin membatasi jumlahnya karena
mengundang terlalu banyak akan menjadi tidak terkendali.
Mengingat
citra Akademi Kekaisaran,
sebaiknya anggaran tidak dijadikan patokan. Mungkin bisa dipertimbangkan
berdasarkan persaingan bisnis atau latar belakang, dan hal-hal semacam
itu.
(...
Karena Kagen-san juga memintaku, sepertinya lebih baik
menyelesaikan pekerjaan OSIS
lebih cepat dan melihat keadaan kelas kami.)
Aku
juga ingin memastikan keadaan Hinako. Untungnya, sepertinya beban kerja
hari ini tidak terlalu banyak. Jika aku berkonsentrasi, seharusnya aku bisa menyisihkan waktu untuk
melihat keadaan kelas.
Aku
menepuk pipi dan memantapkan semangat.
“---Baiklah!!”
“Oh,
kelihatannya
kamu sangat
bersemangat sekali ya, Tomonari-san!”
Aku
selalu bersemangat.
Itulah
sebabnya aku duduk di kursi ini.
◆◆◆◆
Entah
seberapa banyak perubahan yang terjadi dengan semangat ini, tetapi aku berhasil
menyelesaikan pekerjaan lebih awal dan segera pergi melihat keadaan Kelas 2A.
Saat
aku berusaha masuk ke dalam kelas
dengan santai, terdengar suara para pemain yang sedang berlatih drama. Karena tidak ingin mengganggu, jadi aku perlahan membuka pintu dan
masuk ke kelas.
Kelas
itu sama seperti sebelumnya di Kelas 2C,
meja dan kursi disusun ke pinggir, dan ruang tengah digunakan sebagai tempat
latihan. Di tengah-tengah ruangan kelas, ada dua siswa sedang berlatih
akting. Salah satunya adalah Hinako. Siswa-siswa di sekitarnya memperhatikan
dengan seksama penampilan keduanya.
Ada
ketegangan yang tepat menyelimuti seluruh kelas. Memang, kemampuan untuk
beradaptasi ini sangat khas bagi siswa Akademi Kekaisaran. Sungguh suatu keputusan
yang tepat karena
telah membuka pintu dengan hati-hati.
Di
hadapan semua orang, Hinako berbicara kepada seorang laki-laki di depannya
sebagai Ophelia.
“'Ayahanda, Pangeran Hamlet telah
menunjukkan cintanya
yang murni padaku berkali-kali.'”
“'Murni?
Haha, itu adalah pemikiran seorang gadis yang naif. Apa kamu benar-benar
percaya pada cinta itu?'”
“'Ayahanda, Pangeran Hamlet bersumpah di
hadapan Tuhan.'”
“'Sumpah
itu hanyalah sebuah hasrat sesaat.'”
Itu
adalah dialog pembuka. Orang yang diajak bicara Ophelia adalah ayahnya, Polonius. Ophelia percaya bahwa dia dan Hamlet
saling mencintai, tetapi ayahnya, Polonius, menganggapnya sebagai kebodohan
Hamlet.
Ophelia yang ingin menegaskan bahwa cintanya adalah nyata, dan
Polonius yang bersikeras itu hanya ilusi. Sayangnya, konflik antara ayah dan
anak ini tidak akan terpecahkan.
Karena
Polonius akan dibunuh.
“Baiklah,
selanjutnya kita akan melompati sedikit adegannya dan berlatih setelah Polonius
mati. Setelah kematian ayahnya, Ophelia
akan berubah menjadi sosok yang malas.”
Seorang
siswa laki-laki yang mengamati latihan keduanya memberi instruksi untuk
berpindah ke latihan adegan berikutnya.
Polonius
akan dibunuh. Oleh Hamlet. Namun, Hamlet juga tidak melakukannya dengan
sengaja. Hamlet salah mengira Polonius sebagai pamannya yang dibenci, dan
membunuhnya.
Namun,
meskipun tidak disengaja, kehilangan sosok ayah
masih
menjadi sesuatu
yang terlalu menyakitkan bagi Ophelia.
Akibatnya,
Ophelia yang sebelumnya suci dan
mulia, kini karakternya berbalik.
“'Ophelia, mengapa kamu tidak keluar
dari kamar?'”
Setelah
kematian Polonius, ada adegan di mana ratu Hamlet, Gertrude, berbicara dengan Ophelia. Sepertinya ini adalah
adegan tersebut.
...
Peran ratu dimainkan oleh Suminoe-san.
Sebuah
pemilihan peran yang pas. Suminoe-san adalah salah satu teman sekelas yang
paling anggun setelah Hinako.
Seandainya saja kalau dia tetap diam sih...
Di
hadapan Suminoe-san, kini Hinako terlihat sangat lelah, seolah-olah dia akan
mencair.
“'Cukup...
aku lelah. Aku tidak ingin pergi ke mana-mana.'”
Aku
bisa merasakan teman-teman sekelas menahan napas. Ada perbedaan suhu yang mencolok
dibandingkan dengan penampilannya yang
sebelumnya. Suara, gerakan, dan suasana semuanya terasa seperti orang yang
berbeda. Kontras yang luar biasa ini pasti akan menarik perhatian
penonton.
Hinako
menutupi mulutnya sambil menguap dan melihat ke luar jendela.
“'Apa
hak untuk berbaring dan hidup hanya dimiliki oleh orang tua? Jika demikian, aku
juga seorang tua. Karena hatiku sangat ingin tidur. Tidur yang dalam, yang
tidak akan pernah terbangun lagi.'”
“'Ophelia, mari kita keluar. Aku punya
banyak hal untuk dibicarakan denganmu.'”
“'Tidak...
aku sudah mau tidur. aku akan tidur sekarang. Aku lebih suka menghabiskan
hari-hariku makan seperti burung dalam sangkar daripada bangun dan
berjalan-jalan...
Selamat malam. Jangan bangunkan aku...'”
Hinako
berbaring di tempat dan menunjukkan akting seolah-olah dia sedang tidur.
Suminoe-san
mengeluarkan desahan kecil. Sepertinya latihan telah selesai.
“Sempurna...
akting yang terlalu sempurna!!”
“Dia
adalah reinkarnasi Audrey Hepburn!!”
Teman-teman
sekelasku yang lainnya sangat terkesan dengan penampilan Hinako.
Aku
juga bertepuk tangan mengikuti mereka...
(...
Dia hanya kembali menjadi dirinya yang biasanya.)
Meskipun
dia menggunakan dialog yang sesuai dengan dunia cerita, sikapnya hampir tidak
berbeda dari Hinako yang ada di rumah. Konten dialognya juga mungkin bukan
sepenuhnya dari hatinya.
“Ketika
aku mengirim videonya
kepada penulis naskah, pihak sana segera
memberi reaksi. Mereka bilang itu
sempurna!”
Ketika
Kita, yang memegang komputer, mengatakannya, suara kegembiraan “Oh!!” bergema di seluruh kelas.
Sepertinya
Kita telah beralih ke belakang layar. Karena keluarganya adalah perusahaan IT
dan dirinya
juga mahir dalam teknologi, mungkin ia memilih peran tersebut sendiri. Karena
jumlah karakter dalam Hamlet tidak terlalu banyak, kita bisa membagi jumlah
orang untuk peran belakang layar dan membuat pertunjukan yang rapi.
Dengan
mendapatkan cap ‘sempurna’ dari penulis naskah, teman-teman
sekelas sangat bersemangat. Namun...
“…
sempurna.”
Hanya
Hinako, yang merupakan pemeran
utama, yang tampak memiliki ekspresi yang agak rumit.
Pertunjukkan akting yang dia latih berjalan dengan baik. Kupikir Hinako akan senang dan
jujur kali ini... tetapi sepertinya dia masih memiliki beberapa masalah yang
mengganggunya.
◆◆◆◆
“Ada
yang aneh dengan keadaan Ojou-sama?”
“Benar
sekali.”
Bunyi mencicit bergema di aula latihan. Aku melangkah tanpa alas kaki
di atas tatami dan mencoba meraih kerah Shizune-san. Namun, Shizune-san yang sudah membaca gerakanku
mundur sedikit untuk menghindar.
“Ngomong-ngomong,
kadang-kadang dia
juga terlihat sedang memikirkan sesuatu saat bersamaku.”
Shizune-san mengulurkan tanganmya ke arah sikuku, tetapi... ini adalah
sebuah tipuan. Target utamanya adalah tangan di sisi yang berlawanan dekat
pinggangku. Seperti yang kuduga, saat aku menghindari tangan yang mengarah ke
siku, Shizune-san
mencoba meraih sabukku dengan tangan yang satunya.
Gerakannya
sudah bisa kutebak, jadi aku mengayunkan tangan itu menjauh.
“Sejak
kapan?”
“Sejak
pagi tadi.”
Shizune-san lah yang pertama memecahkan
kebuntuan.
Dia
maju lurus ke arahku, jadi aku mengulurkan kedua tangan ke depan dengan lembut,
berusaha mencegahnya masuk ke dalam ruang pribadiku. Pada saat itu, Shizune-san dengan kuat menggenggam kedua
pergelangan tanganku.
Sepertinya
dia mengundangku untuk mengulurkan tangan...
“Yosh!”
“Oh?”
Sebelum
Shizune-san
bisa memutar lenganku dan
melemparku, aku maju dan mendekatinya. Dengan jarak yang sedekat ini, teknik
lemparan maupun teknik kuncian tidak mungkin dilakukan.
“Padahal kupikir
itu akan berhasil.”
“Itu
salah satu teknik yang selalu kuwaspadai.”
Karena
kebuntuan ini tampaknya akan berlangsung lama, kita memutuskan untuk mengulang
kembali.
Saat
kita mengambil jarak, aku menghela napas kecil, “Fyuh...”. Setelah sekian lama, aku
diundang untuk berlatih bela diri oleh Shizune-san. Aku khawatir apa aku masih bisa
melakukannya, tetapi sepertinya tidak ada masalah.
Aku
menerima undangannya sebagian karena aku ingin berkeringat sesekali, tapi lebih dari segalanya, aku
ingin berbicara dengannya tentang Hinako. Namun, tampaknya Shizune-san juga tidak mengetahui apa-apa
mengenai hal itu.
“Aku
juga akan memperhatikan keadaan Ojou-sama.”
“Terima
kasih banyak.”
Aku
berpikir
kalau dia
mungkin memiliki masalah yang sulit untuk diungkapkan, tetapi sepertinya
Shizune-san
juga diam tentang hal itu. Mungkin semua ini hanya salah paham dariku...
tetapi, aku merasa naluri sebagai pengurusnya bekerja.
“Ngomong-ngomong,
bagaimana reaksi teman sekelasmu yang lain
setelah kamu mengembalikan nada bicaramu?”
Shizune-san bertanya
demikian sambil
merapikan kerah gi yang berantakan.
“Tidak
ada masalah sama sekali. Tapi mungkin, karena sekarang, aku merasa itu
diperbolehkan.”
“Yang
penting, sepertinya kamu tidak menjadi sombong.”
Shizune-san menggunakan jarinya untuk
menyisir rambut yang menempel di pipinya karena keringat.
“Itulah
takdir seorang pengurus, tetapi selama kamu
berada di samping Ojou-sama,
mau
tak mau kamu pasti
akan menarik perhatian. Ditambah
lagi, posisi Itsuki-san sebagai pewaris perusahaan
menengah tidak begitu bersinar di akademi itu. Bisa dibilang, kamu diakui karena hasil yang dicapai
dalam permainan manajemen dan pemilihan OSIS.”
Aku
setuju dengan pendapat Shizune-san.
Tapi
tidak peduli berapa kali aku mendengarnya, aku hampir tertawa. Di Akademi Kekaisaran, gelar sebagai pewaris perusahaan
menengah berfungsi sebagai kamuflase yang sangat umum.
“Pokoknya,
jika kamu
tidak menghasilkan hasil, kurasa tidak ada kebutuhan untuk mengubah nada bicara
sejak awal.”
“…
Benar juga.”
“Kamu
pasti memiliki pilihan untuk tidak mencolok dan hidup dengan tenang. Sikapmu
yang berani tampil demi Ojou-sama
sangatlah patut dihargai.”
“Aku
sudah cukup dihargai. Terima kasih.”
Shizune-san tegas dalam hal yang perlu
ditegaskan dan memberikan pujian di tempat yang tepat.
Dan
baru-baru ini aku menyadari bahwa Shizune-san
akan terus memuji di tempat yang seharusnya. Dia tidak hanya memuji hal-hal
terbaru, tetapi juga kadang-kadang memuji hal-hal dari masa lalu.
Dengan
begini, jika aku terus bersama Shizune-san,
dia mungkin akan terus memujiku tanpa henti di masa depan.
...
Aku ingin melihatnya sedikit.
Aku
harus berusaha agar tidak dipecat.
Kami
melanjutkan pertandingan. Ketika kami bergulat, perbedaan kekuatan fisik antara
pria dan wanita membuatku diuntungkan, jadi Shizune-san menjaga jarak sambil mengamati
gerakanku.
Dia mengulurkan tangannya, tapi aku menepisnya.
Ketika aku berusaha menangkap pergelangan tangannya, dia
juga menepisnya.
Kami terus melanjutkan pembicaraan sambil mencari petunjuk untuk menyerang
atau menggunakan taktik.
“…
Apa kamu akan tetap seperti itu di hadapanku?”
“Hah?”
“Nada
bicaramu.”
Tanganku yang terulur langsung
ditepis. Aku merasakan kehadiran yang
tampaknya ingin maju, jadi aku bergerak ke kanan untuk menghindari
tangkapan.
“Aku
sudah bersikap jujur sejak awal di depanmu, Shizune-san. Aku memang selalu menggunakan bahasa sopan kepada
orang yang lebih tua atau atasan.”
“Padahal
hubungan kita tidak bisa dianggap semudah itu dengan ungkapan 'yang lebih tua atau atasan'.”
Apa-apaan
ini?
Kenapa
tiba-tiba dia mengucapkan hal yang begitu manis???
Shizune-san berusaha meraih sabukku. Karena bahaya, aku melompat mundur dengan
cepat.
“Memang
benar sih,
tapi...”
“Kurasa
aku menghabiskan lebih banyak waktu bersamamu dibandingkan teman sekelasmu sendiri.”
Itu
juga benar.
Tapi, itu bukanlah sesuatu yang perlu disaingi atau semacamnya...
“…
Apa jangan-jangan, kamu merasa sedikit kesepian?”
“…………………………
Tidak.”
Kurasa
jeda itu bisa diartikan sebagai persetujuan.
Shizune-san bukan tipe yang menunjukkan
emosi di wajahnya, tetapi kali ini, ada sedikit dampak saat kami bergulat.
Perpindahan berat badannya menjadi tidak teratur. Saat ini, aku bisa dengan
mudah menjatuhkannya.
“Sekarang!”
Aku
meraih bahu Shizune-san
dan menariknya, saat dia kehilangan keseimbangan, aku menekan wajahnya dengan
bagian dalam siku dan menjatuhkannya ke belakang.
Shizune-san tidak bisa menahan tubuhnya dan
jatuh dengan anggun di atas tatami.
“…
Apa
itu teknik lemparan? Mengesankan sekali.”
“Aku
tidak terlalu pandai dalam Aikido, tetapi kadang-kadang bisa berhasil.”
Teknik
judo jauh lebih mudah dilakukan, pikirku, dan saat itu, Shizune-san yang terjatuh mengulurkan
tangannya dengan wajah cemberut. Mungkin alasan mengapa dia menunjukkan wajah itu bukan karena dirinya kalah.
Aku
meraih tangan yang terulur dan menarik tubuh Shizune-san untuk membantunya bangkit.
Apa boleh buat... menggunakan bahasa yang lebih santai dengan
Shizune-san
terasa agak menakutkan.
“Bagaimana?
Aku juga sudah menjadi lebih kuat, kan?”
“――!!”
Saat
aku berbicara dengan nada yang lebih santai sesuai permintaannya, seketika ity juga wajah Shizune-san langsung memerah.
“Pa-Padahal kamu cuma Itsuki-san..."
Shizune
buru-buru menjauh dariku.
Tatapan matanya terlihat penuh penyesalan
saat dia menatapku.
“Pa-Padahal cuma Itsuki-san...
ka-kamu
sampai membuatku
merasa seperti ini...”
Apa
yang harus kulakukan...
Pada khirnya,
aku memutuskan untuk terus berbicara dengan Shizune-san menggunakan bahasa formal.
Kami berdua sepertinya akan sama-sama merasa tidak nyaman jika melakukan hal
yang tidak biasa saat bekerja.
◆◆◆◆
Setelah
mandi, aku menuju kamarku untuk bertemu Hinako. ... Sekarang, rasanya memang sedikit aneh, tapi saat mencari Hinako,
tempat pertama yang kutuju adalah kamarku sendiri.
Alasan
kenapa
aku mencarinya
bukan
karena untuk
memeriksa keadaannya, tetapi sebagai pengurus, aku biasanya berada di dekat
Hinako setelah menyelesaikan tugas sehari-hari. Mencari Hinako setelah
menyelesaikan semua persiapan dan ulasan bukan lagi pekerjaan, tetapi sudah
menjadi kebiasaan.
Dalam
perjalanan menuju kamar, aku melihat Kagen-san
berjalan dari ujung koridor. Karena sepertinya kami akan bertemu, aku berhenti
dan bersiap untuk berbincang.
“Kagen-san,
terima kasih atas kerja kerasnya.”
“Waktunya pas
sekali, aku sedang mencarimu.”
Ia sedang mencariku?
Kira-kira ada keperluan apa ya... pikirku, tetapi sepertinya sudah
jelas.
Ini
tentang festival budaya.
“Bagaimana
dengan persiapan pertunjukannya?”
“Sampai
sekarang tidak ada masalah.”
Aku
mengubah pikiranku untuk berfokus pada pekerjaan.
Akhir-akhir
ini, aku mulai memahami cara mengalihkan pikiran seperti yang dilakukan
orang-orang di akademi. Mungkin karena aku telah banyak berpikir dalam
permainan manajemen dan pemilihan OSIS.
Tubuhku mulai terbiasa dengan keadaan fokus pada pekerjaan. Selama aku
mengingat keadaan itu, aku bisa dengan mudah beralih pikiran.
“Pihak OSIS
juga sedang mempersiapkan pengaturan panggung. Setidaknya untuk saat ini, sepertinya kami bisa
mempertahankan kualitas yang sama seperti tahun lalu.”
“Apa
ada kemungkinan untuk menyiapkan tempat duduk khusus?”
“Karena
ada menteri yang akan datang tahun ini, kami juga berencana menyiapkan
beberapa tempat duduk khusus... tapi hanya karena dia adalah kepala dari Konohana Group, aku tidak yakin apakah tempat
itu bisa dijamin."
“…Akademi Kekaisaran benar-benar tempat
yang luar biasa. Biasanya, hanya karena menjadi kepala Konohana Group, semua hal bisa diperbolehkan.”
Aku
juga berpikir begitu. Namun, jika itu dilakukan di Akademi Kekaisaran, hampir semua tamu harus
disediakan tempat duduk istimewa. Karena hampir
semua tamu adalah VIP, jadi memberikan perlakuan istimewa tidak ada
habisnya.
“Takuma-san
terlibat dalam produksi permainan manajemen, ‘kan? Jika itu dijadikan alasan,
mungkin bisa saja...”
“Jangan
sekali-kali melakukannya.”
Suara
yang menunjukkan ketidakpuasan itu menyela
ucapanku. Aku
terkejut melihat Kagen-san
berubah sikap dengan cepat. Dia segera kembali ke dirinya sendiri dan
menjelaskan sambil menyesali ketidaktenangannya.
“Kepala
keluarga angat
membenci Takuma. Bahkan, ia tidak ingin mendengar namanya.”
“…
Baiklah.”
Ketika
aku baru saja menjadi pengurus, Shizune-san pernah
menjelaskannya
padaku. Dia mengatakan bahwa Takuma-san
adalah sosok yang layak mewarisi Konohana Group,
tetapi ada keraguan. Saat itu, aku tidak sepenuhnya memahami subjeknya, tetapi
kini, setelah mendengar pernyataan Kagen-san, aku akhirnya bisa memahami
keseluruhan situasi.
Kepala Keluarga Konohana lah yang tidak mengakui Takuma sebagai
pewaris. Bukan Kagen-san,
tapi melainkan anggota keluarga
Konohana lainnya yang
membenci Takuma.
“Apa
ada kafe selama festival budaya?”
“Ada.
Kafe sangat populer, jadi tujuh kelas berencana untuk mengadakan. Selain itu,
kafe akademi juga akan dibuka.”
“Aku
ingin kamu menyiapkan teh yang kami tentukan di kafe. Ini adalah campuran
Ceylon Uva. Ini adalah komposisi khusus dan biasanya diimpor dari Prancis.”
Mungkin
itu jenis daun teh yang disukai kepala keluarga Konohana.
Kagen-san
mengeluarkan kartu nama dari saku jaketnya.
“Aku
akan memberimu kartu nama yang berisi kontak untuk penghubung. Jika diperlukan, kamu diperbolehkan
menggunakan nama Konohana Group...”
Kagen-san
terdiam sejenak.
"…
Tidak, kamu bisa menggunakan nama Konohana Kagen.”
Aku
menerima kartu nama yang disodorkan tanpa berkata apa-apa.
Aku
memahami apa arti dari pernyataan
yang baru saja dirubahnya. Aku merasakan kehangatan menyebar
di dalam dadaku. Kagen-san mempercayaiku sebagai
individu sampai-sampai dia merasa bisa meminjamkan namanya. Itu sangat
menyenangkan bagiku.
“Aku mengerti, jika diperlukan, aku akan menggunakannya.”
Kagen-san
tersenyum puas dan berjalan pergi di koridor.
Kartu
nama yang kuterima semuanya ditulis dalam bahasa Prancis. Dia mengatakan
penghubung, tetapi itu juga terdengar sangat Prancis. Narika lah yang bertanggung
jawab mengenai hubungan dengan pihak luar akademi, tetapi tergantung situasinya,
mungkin lebih baik meminta orang lain.
...
Sepertinya Tennoji-san bisa berbicara bahasa Prancis dengan baik.
Aku
mungkin juga perlu mulai belajar bahasa.
(Kurasa aku harus menemui Hinako)
Mengingat
tujuan awalku,
aku mulai berjalan di koridor menuju arah yang berlawanan dari Kagen-san.
Ketika
aku membuka pintu kamarku, Hinako sedang tidur dengan posisi terlentang di atas tempat tidur.
“Nghmm...
Itsuki...?”
“Kamu
sudah bangun?”
“Aku baru
saja tidur~...”
Sepertinya
memang
begitu...
karena
selimutnya
berantakan.
“Itsuki, apa kamu bisa ikut menemaniku berlatih lagi untuk pertunjukan...?”
“Ya,
tapi... akhir-akhir ini kamu tampak bersemangat.”
Hinako
menyerahkan naskah yang terletak di samping
bantalnya
padaku.
Hinako
mungkin memiliki sifat malas, tapi
dia tidak suka merepotkan orang lain. Aku yakin yang benar-benar dia inginkan
adalah kebahagiaan semua orang. Termasuk dirinya sendiri di dalamnya mungkin
adalah hal terpenting baginya.
Jadi
aku mengerti bahwa dia merasa bertanggung jawab atas keberhasilan pertunjukkan drama ini, tetapi meskipun begitu, hari
ini Hinako kelihatannya
lebih bersemangat
dari biasanya.
Apa
ada kejadian yang memotivasi dia saat aku bekerja di ruang OSIS?
Hinako
berdiri di depanku, berperan sebagai Ophelia.
Kali
ini, setelah kepribadiannya berbalik... dia berperan sebagai gadis yang menjadi
malas.
“'Ayo
kita bersantai
seperti aku, ya? Makan permen, berguling di tempat tidur, dan jika kita rileks,
begini jadinya. ... Zzz...'”
Sambil
melafalkan dialognya,
Hinako duduk di kursi dan akhirnya bersandar di meja.
Dia
terlihat benar-benar tertidur.
Ketika
aku mendekat karena penasaran, mata Hinako terbuka lebar.
“...
Bagaimana?”
“Wah,
aku terkejut, kupikir kamu benar-benar ketiduran.”
“Triknya
adalah menunggu
sampai detik-detik terakhir sebelum beneran ketiduran....”
Hinako
tersenyum bangga.
Apa
itu aman...?
Bagaimana
jika Hinako tertidur lelap di atas panggung saat pertunjukan
berlangsung...?
“Itsuki.”
Ketika
aku membayangkan kejadian besar yang bisa terjadi di atas panggung, Hinako
menatapku dengan serius.
“Apa
aktingku... sempurna?”
“...?
Ah, kurasa sempurna.”
Bagiku,
akting Hinako sempurna. Sama sempurnanya dengan aktingnya sebagai Ojou-sama sempurna yang dia lakukan
sehari-hari.
Akan tetapi,
Hinako justru terlihat
berpikir keras.
“Hinako,
apa ada sesuatu yang sangat mengganggumu?”
“Umm...
sedikit, ini agak rumit... jadi jangan khawatir.”
Dia
mengakui bahwa dia sedang mengkhawatirkan sesuatu. Narika pernah mengatakan bahwa
mungkin itu karena cara bicaraku, tetapi jika dia mulai khawatir pada saat
seperti ini, sembilan dari sepuluh kemungkinan besar itu berkaitan dengan
akting di pertunjukan drama.
Mungkin
dia belum bisa menganalisis kekhawatirannya dengan baik untuk bisa
menyampaikannya kepada orang lain. Itu juga sering terjadi padaku, jadi mungkin
lebih baik untuk membiarkannya sekarang.
Setelah
tidur semalam, jika dia masih tidak berubah, aku akan bertanya lagi.
Setelah
beberapa kali berlatih pertunjukan, aku memandikan Hinako dan mengantarnya
sampai ke kamarnya.
◇◇◇◇
(Sudut Pandang Hinako)
Setelah
kembali ke dalam kamarnya,
Hinako langsung berbaring di tempat tidur.
Setelah
mandi, tubuhnya yang hangat merasakan sensasi selimut yang sejuk, sangat
nyaman. Tugas yang diberikan ayahnya sudah selesai dikerjakan, dan berkat Itsuki, latihan pertunjukan juga
sudah cukup dilakukan. Hari ini, dia bisa tidur tanpa ada yang mengeluh, tetapi
Hinako tidak menutup matanya, hanya menatap langit-langit dengan kosong.
(…
Itsuki,
dirinya yang asli diterima oleh semua orang)
Dia
kembali
mengingat
pemandangan yang dilihatnya di akademi.
Itsuki menunjukkan cara bicaranya
yang asli kepada semua orang. Itu adalah salah satu hal yang dia sembunyikan
selama enam bulan.
Meskipun
cara bicaranya sedikit lebih santai, kepercayaan mereka kepada Itsuki tidak runtuh. Hinako yang selalu
mengawasi apa yang Itsuki
bangun selama ini bisa membayangkan itu dengan mudah.
Namun,
ketika dia benar-benar melihat teman-teman sekelasnya menerima Itsuki, Hinako tidak bisa menahan
pertanyaan yang muncul di dalam hatinya.
(…
Kira-kira bagaimana reaksi mereka jika itu aku?)
Jika
aku menunjukkan diriku yang asli, apakah semua orang akan menerimaku?
Masa-masa
dia menyembunyikan dirinya jauh lebih lama dibandingkan Itsuki. Sejak jauh sebelum masuk
akademi, Hinako sudah berperan sebagai Ojou-sama
sempurna. Topeng itu kini sudah menjadi sesuatu yang kuat, tidak hanya untuk
orang lain tetapi juga untuk dirinya sendiri, dan dia bahkan tidak bisa
membayangkan masa depan di mana dia akan melepaskannya.
Namun,
baru-baru ini, kesempatan untuk melepaskan topeng itu datang.
Saat
dia berperan sebagai Ophelia.
(Aku
selalu berpikir harus menjadi Ojou-sama sempurna, dan berakting seperti itu. … Tapi
sekarang, diriku yang biasa disebut sempurna…)
Dia
teringat saat-saat setelah sekolah hari ini, ketika dia berlatih pertunjukan di
kelas.
Teman-teman
sekelasnya memuji Hinako yang berperan sebagai Ophelia yang malas dengan kata “sempurna”. Penulis naskah profesional yang
terhubung melalui video call juga memujinya
dengan kata “sempurna”.
Padahal,
dia hanya menunjukkan dirinya yang asli...
Sempurna.
Betapa banyak usaha yang telah dia lakukan untuk mendapatkan satu kata itu.
Dia
berusaha keras sampai menderita demam
demi berperan sebagai Ojou-sama yang sempurna. Dia berpikir bahwa kesempurnaan adalah
imbalan dari usaha tersebut. Namun, sekarang, meskipun dia menunjukkan dirinya
yang asli, kesempurnaan itu datang begitu saja.
Apa
yang seharusnya kulakukan?
(Hmm…
aku jadi bingung…)
Hinako
merasa kebingungan. Topeng yang selama ini dilarang
untuk dilepas, ketika akhirnya dia lepas, tidak ada yang berubah. Apa dia
berharap sesuatu akan terjadi? Bukan begitu. Seharusnya ini adalah situasi yang
membuatnya lega, tapi hatinya justru semakin dibuat bimbang.
(Sempurna
bagi semua orang itu… kira-kira yang mana ya?)
Di
mana letak
kesempurnaanku?
Dia
merasa seperti tersesat.
Saat
itu, smartphone yang terletak di meja samping tempat tidur berdering. Jarang
sekali ada telepon masuk pada jam segini. Dengan sedikit terkejut, Hinako mengangkat telepon.
Di
layar, tertera nama temannya.
“Hirano-san?”
“Oh,
akhirnya terhubung. Apa sekarang aku boleh meneleponmu?”
“Iya, baik-baik
saja...”
Kira-kira ada keperluan apa sampai membuatnya menelepon di waktu seperti ini?
Hinako
mengira itu
urusan mendesak, tetapi suaranya tidak terdengar seperti itu.
“Aku
hanya ingin bertanya manga apa yang sebaiknya kupinjamkan padamu selanjutnya.
Akhir-akhir ini, kau selalu meminjamkan genre yang sama berulang kali, kan?
Kupikir mungkin kamu
ingin membaca sesuatu yang berbeda untuk perubahan.”
Rupanya itu cuma percakapan yang tidak terlalu penting. Jika dipikir-pikir, waktunya memang masih terlalu awal untuk tidur,
dan orang-orang biasa pasti melakukan percakapan ringan seperti ini lewat
telepon.
Apa
percakapan ini sesuai dengan citra Ojou-sama yang sempurna? Mau tak mau Hinako mulai berpikir demikian karena
kebiasaan.
Namun sekarang, nilai dari kebiasaan itu terasa goyah di dalam dirinya. Saat matahari terbenam,
seharusnya dirinya
membersihkan diri dan meresapi ketenangan yang damai, jadi berbicara meriah dengan teman melalui telepon
mungkin tidak mencerminkan citra Ojou-sama yang sempurna. Namun saat ini, nilai-nilai Ojou-sama sempurna itu terasa jauh.
“Manga
yang ingin kubaca... Hmm...”
Memang
benar
kalau belakangan ini dirinya
merasa telah meminjam banyak manga dari genre yang sama.
Alasan
awal Hinako
meminjam manga adalah untuk menarik perhatian pengurus yang kurang peka dan untuk
menghadapi perasaannya sendiri
terhadap pengurus yang kurang peka itu.
Hinako
ingin terus membaca manga shoujo untuk penelitian, tetapi saat ini ada perasaan
lain yang tidak bisa dihadapinya selain cinta. Dirinya ingin tahu lebih banyak tentang
akting yang menjadi tidak jelas.
“Apa
ada manga yang berkaitan dengan akting?”
“Akting? Ada beberapa sih, tapi kamu tiba-tiba menjadi
sangat spesifik.”
“Sebenarnya,
sekarang aku sedang berlatih untuk pertunjukan yang akan dilakukan di festival
budaya. Aku berharap kalau itu bisa dijadikan referensi.”
“Hee~!
Konohana-san,
jadi kamu
ikut pertunjukan, ya!”
Sebenarnya
dirinya adalah pemeran utama, tetapi Hinako merasa sungkan untuk
mengatakannya.
“Aku jadi semakin menantikan hari acara festival budaya sekolah kalian.”
“Ya,
aku akan menunggumu.”
“Aku
akan membawa manga saat aku ke rumahmu. Aku akan mengirimkan judulnya dalam
pesan, jadi jika kamu ingin segera menjadikannya referensi untuk pertunjukan,
silakan lihat baca percobaan di internet.”
Setelah
panggilan
berakhir,
Yuri segera mengirimkan daftar manga yang direncanakan untuk dipinjam melalui
pesan. Hinako
merasakan niat baiknya untuk membantu memenuhi permintaan dirinya yang ingin menggunakan manga
tersebut untuk latihan pertunjukan. Mereka yang berusaha keras menghargai usaha
orang lain. Itu juga bisa dilihat dari Itsuki.
Ngomong-ngomong...
(Baca
percobaan...?)
Itu
adalah kata yang baru didengarnya.
Hinako
kemudian
duduk di depan meja dan mencari tahu tentang baca percobaan melalui laptopnya. Setelah memahami artinya,
Hinako mencari judul manga yang akan dipinjam dan mengunjungi halaman
resminya.
Sepertinya
dirinya juga bisa melanjutkan ke halaman
pembelian dari sini, tetapi... tentu saja, dia memiliki teman yang mau
meminjamkannya. Terkadang, menerima bantuan dengan tulus juga merupakan etika.
Bukan sebagai Ojou-sama yang sempurna, tetapi sebagai teman.
Hinako langsung mencoba membaca percobaan.
Sesuai
dengan harapannya,
manga itu mengangkat tema teater. Tokoh utamanya adalah seorang gadis yang
bercita-cita menjadi aktris. Dia memiliki bakat akting yang luar biasa, dan
cerita dibuka dengan adegan yang menunjukkan bakatnya kepada sutradara. Gadis
ini pasti akan menghadapi persaingan dengan rivalnya dan menaiki tangga menuju
impiannya sebagai aktris.
Hinako
menjauhkan pandangan dari monitor dan menghela napas. Dia merasa telah mendapatkan
pengetahuan yang kucari.
Akting
memiliki nilai.
Akting
tidak pernah menjadi hal yang buruk.
Itulah
sebabnya ayahnya mungkin meminta Hinako untuk berakting.
Karena
itu akan menjadi nilai bagi keluarga Konohana.
(…Eh?
Tapi aku sekarang diminta untuk tidak berakting di akademi…)
Ayahnya juga mengakui hal itu.
Kesuksesan pertunjukan adalah hal yang
terpenting.
Apa dirinya yang sekarang sudah tidak berharga?
…Tidak,
itu salah. Jika begitu, ayahnya
tidak akan mengizinkannya.
Sekarang,
apa yang ditunjukkan
Hinako
di
akademi adalah akting yang tidak berakting.
Selama
ini, dia
selalu berakting di akademi, tetapi sekarang, hanya saat latihan teater, Hinako bisa berakting sebagai dirinya yang tidak berakting...
Dari sudut pandang semua orang, sekarang dirinya cuma berakting sebagai Ophelia dengan
akting yang tidak berakting...
(……………???????)
Dirinya
mulai bingung.
Sudahlah,
aku akan tidur.
Hinako
langsung menaiki tempat tidurnya.
Tidur akan menyelesaikan segalanya. Pikiran yang kusut bisa dilempar jauh-jauh dan dilupakan.
Begitu
dirinya memajamkan mata, sihir tidur segera
membungkus tubuhnya.
Hinako suka dengan sifat tubuhnya yang mudah tertidur.
Namun,
kepalanya
yang biasanya cepat terlelap ini, malam ini malah bermimpi. Ini pasti karena dirinya berpikir tentang hal-hal yang
rumit hingga saat terakhir.
Dalam
mimpinya,
Hinako sedang bersekolah di akademi.
Pagi-pagi
dia bangun terlambat dan terus tidur selama pelajaran. Hinako menunjukkan sikap
malas di akademi. Namun, teman-teman sekelasnya menerima dengan berkata, “Itu membuatku merasa lebih
nyaman,” “Sempurna!!”.
Setelah
pulang ke rumah, Hinako segera kembali ke dalam kamarnya
dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh ayahnya dengan diam-diam. Etika saat
makan pun
sempurna. Ayah dan Shizune memujinya dengan, “Hebat sekali,” “Sempurna.”
Saat
di akademi, dia bisa bersantai dan bermalas-malasan, tapi saat di rumah, dia harus
bersikap serius...
...Eh?
Apa ini benar?
Mana diriku
yang sebenarnya?
...Ah, sudahlah.
Aku
tidak ingin memikirkan hal yang sulit bahkan dalam mimpiku.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
