[LN] Saijou no Osewa Jilid 11 Bab 3 Bahasa Indonesia

Chapter 3 — Ojou-sama yang Sempurna

 

Pagi itu, setelah menyelesaikan pekerjaan sederhana sebagai pelayan seperti biasa, aku menuju kamar Hinako. Belakangan ini, air yang digunakan untuk bersih-bersih mulai terasa dingin.

Kediaman Konohana selalu terlihat bersih, tetapi sekarang aku tahu bahwa di balik itu ada kerja keras yang dilakukan. Untuk membersihkan karpet dan barang-barang, tampaknya diperlukan pengetahuan khusus, dan saat ini aku tidak bisa melakukannya. Pasti ada orang lain yang melakukan pekerjaan berat yang tidak kuketahui, dan aku secara tidak sadar menerima manfaat dari mereka.

Orang-orang di kediaman Konohana yang terutama merasakan manfaat tersebut, tidak sepenuhnya tidak peka terhadap hal itu. Sebaliknya, mereka, termasuk Kagen-san dan Hinako, merasakan keberadaan orang-orang yang mendukung mereka di sekitar, sehingga mereka berusaha menjalani hari-hari dengan semangat. Hinako juga, meskipun ada banyak yang ingin kukatakan, tapi dia berusaha lebih keras dari orang biasa.

Itulah sebabnya, rasanya tidak mengherankan dia memiliki sedikit masalah. …Aku sampai pada kesimpulan itu tadi malam sebelum tidur dan mengetuk pintu kamarnya. 

“Hinako, aku masuk.” 

Aku tidak benar-benar mengharapkan jawaban, tapi aku tetap memberitahu kedatanganku

Sekarang, mari kita mulai dengan membangunkan Hinako hari ini. Saat aku berpikir begitu—. 

“Ya.” 

Aku terkejut mendengar jawaban Hinako dari balik pintu. 

Mustahil, apa dia benar-benar sudah bangun? 

Hinako yang itu? 

(…………Hmm? Tadi dia bilang “ya”?) 

Dalam sekejap, muncul keraguan dalam diriku

Apa aku salah dengar? Mungkin dia masih setengah tertidur. Sembari berpikir demikian, aku membuka pintu. 

“Selamat pagi, Tomonari-kun.” 

Putri yang berambut kuning keemasan itu berdiri dengan sinar matahari pagi di belakangnya. Tirai yang terbuka. Seprai tempat tidur yang rapi. Tidak ada kerutan di selimutnya, dan rambut panjangnya terurai dengan rapi. Di sudut mulutnya tidak ada jejak air liur, dan dia mengenakan sandal rumah dengan baik. 

“Ini pagi yang menyegarkan, ya?” 

“……………………Ha?” 

Apa aku sedang bermimpi? 

Pekerjaan yang akan kulakukan sekarang sudah selesai semua. 

Tidak… masalahnya bukan di situ. 

Apa yang sebenarnya terjadi

Mengapa, Hinako versi Ojou-sama yang sempurna mendadak muncul di sini? 

Ada apa, Tomonari-kun?” 

“Ah, tidak, bukan apa-apa….” 

Aku tiba-tiba merasa tegang dan terdiam. 

Fufufu.” 

Hinako tersenyum manis saat melihatku yang kebingungan

“Hari ini kamu kelihatan menarik ya, Tomonari-kun.” 

Wajahnya yang halus seperti boneka tersenyum lembut bagaikan bunga. Seharusnya aku sudah terbiasa dengan wajah itu, tapi mau tak mau aku masih merasa terpesona ketika melihatnya

(I-Imutnya……) 

Dia memang selalu imut sih… 

Tidak, apa yang kupikirkan? 

Aku langsung membuang perasaan tidak pantas sebagai pengasuh ke dalam tong sampah hatiku dalam sekejap. …Gawat. Aku hampir kehilangan akal sehatku karena kejadian yang luar biasa ini. 

“Ngomong-ngomong, Tomonari-kun…”

Setelah aku bersusah payah menenangkan diri, Hinako berkata dengan canggung. 

“Ehmmaku ingin berganti pakaian…” 

Ak-Aku minta maaf!!” 

Aku berlari keluar dari kamar. 

Setelah menutup pintu, aku mencubit pipiku. …Sakit. Ini bukan mimpi. Reaksiku yang konyol ini menunjukkan seberapa meragukan pemandangan yang baru saja kusaksikan

“Itsuki-san, ada apa?” 

Saat aku masih meragukan apakah ini semua hanyalah mimpi, Shizune-san yang kebetulan lewat menyapaku. 

“S-Shizune-san…!! Hinako berubah menjadi Ojou-sama…!!” 

Ojou-sama memang dari awal seorang Ojou-sama, kan?” 

“Bukan itu maksudku!!” 

Karena aku tidak bisa menjelaskannya dengan baik, aku menunjuk ke arah pintu kamar Hinako. Shizune-san sedikit menundukkan kepalanya sebelum mengetuk pintu. 

Ojou-sama, aku masuk.” 

Karena akan jadi masalah jika dia sedang mengganti pakaian, aku mundur beberapa langkah dari pintu. 

Dari pintu yang terbuka, terdengar percakapan antara mereka berdua. 

Ara, Shizune, selamat pagi. Apa kamu bisa membantuku mengganti pakaian?” 

“…………………………………………Eh?” 

Shizune-san kelihatan hampir sama terkejutnya seperti diriku

Ojou… eh, berganti pakaian… ya, aku akan membantumu…” 

Fufu, hari ini Shizune juga lucu, ya.” 

Senyuman anggun Hinako kembali terbayang di benakku. 

Pintu kamar ditutup, dan Hinako mengganti pakaiannya dari piyama ke seragam sekolah. 

Setelah menunggu beberapa menit, pintu kamarnya kembali dibuka dan Hinako serta Shizune-san pun berjalan keluar. 

“Tomonari-kun, terima kasih sudah menunggu. Mari kita pergi ke ruang makan bersama.” 

Aku tidak bisa menjawab “ya” atau oke”, dan hanya bisa berjalan berdampingan dengan Hinako dalam diam. 

Shizune-san kemudian berbisik pelan di telingaku

“Itsuki-san, apa yang sedang terjadi?” 

“Aku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu.” 

Jarang-jarang aku bisa melihat Shizune-san yang tampak panik, tetapi aku juga sudah bingung hingga batas maksimal, jadi aku tidak berhak mengomentarinya. Kami berusaha berpura-pura tenang, tetapi kami berjalan dengan mulut menganga di koridor.  

Dalam perjalanan menuju ruang makan, kami bertemu dengan pelayan yang membawa gelas kosong. 

Seperti biasa, pelayan itu membungkuk dalam-dalam untuk memberi salam. 

Selamat pagi, Ojou-sama.” 

“Ya, selamat pagi.” 

Pranggg!! 

Pelayan itu menjatuhkan gelas dan memecahkannya. 

Setelah mengkhawatirkan pelayan itu, Hinako kembali melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. 

Kali ini, kami bertemu dengan pelayan yang membawa vas bunga. 

Selamat pagi, Ojou-sama.” 

“Ya, selamat pagi.” 

Prannkkk!! 

Pelayan itu menjatuhkan vas bunga dan memecahkannya. 

Gawat. Kerusakannya semakin meluas. 

Betapa malangnya, pelayan-pelayan yang melakukan kesalahan di depan Hinako tampak begitu terkejut hingga lupa meminta maaf. Shizune-san yang seharusnya berada dalam posisi untuk menegur mereka, juga tampak masih terkejut dan terdiam. 

Prakk!! Gedebuk!! Gebraakkkk! Danggg!!

Hari ini kediaman Konohana sangat ramai sejak pagi. 

Hahahaaku penasaran, kira-kira berapa total kerugiannya ya? Semoga saat aku bangun semuanya sudah kembali seperti semula. 

Sambil berusaha mengosongkan pikiranku, aku berjalan dan tiba-tiba sudah sampai di ruang makan. 

Di seberang meja ada tamu yang sudah datang lebih dulu. 

“Selamat pagi, jarang sekali kita bertemu di waktu seperti ini.” 

Kagen-san melihat kami sambil menikmati sarapan. 

Sebelum aku atau Shizune-san sempat membalas salam, Hinako sudah membuka mulutnya. 

“Selamat pagi, Ayahanda.” 

“………………………………” 

Kagen-san yang hendak memakan salad tiba-tiba berhenti bergerak. Gerakannya tampak kaku seperti robot rusak, kemudian dengan gerakan lambat yang mengeluarkan suara berderit, ia perlahan-lahan menoleh ke arah Hinako. 

“Kagen-sama, umm, tolong tenangkan diri Anda.” 

“……Aku baik-baik saja. Aku tidak akan panik. Lagipula, aku mengemban tanggung jawab Konohana Group, yang memikul nyawa delapan ratus ribu orang. Jika aku terguncang, itu akan memberi contoh yang buruk bagi bawahanku.” 

Kagen-san berkata seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri, lalu kembali ke ekspresi biasanya. 

Tapi… Kagen-san… 

Garpumu…!! 

Garpumu bergetar terlalu kuat sampai-sampai saladnya berceceran…!! 

Hanya di sekitar Kagen-san saja taplak meja kelihatan basah kuyup. 

“……Shizune, jelaskan dengan singkat apa yang sebenarnya terjadi.”  

“Menurut Itsuki-san, sepertinya Ojou-sama sudah bertingkah demikian semenjak dia bangun pagi. Penyebabnya tidak jelas, tetapi setidaknya malam tadi semuanya berjalan normal.” 

Tatapan Kagen-san beralih ke arahku. Sepertinya dia juga ingin penjelasan dariku. 

Ini kesempatan yang baik. Aku ingin bertanya tentang sebuah dugaan. 

“Aku tidak tahu apakah ini yang menjadi penyebabnya, tetapi… dalam beberapa hari terakhir, Hinako sepertinya mengalami kesulitan dengan aktingnya. Mungkin, akting dalam drama membuatnya terpengaruh, sehingga mengganggu aktingnya yang biasa dan menyebabkan keadaan ini.” 

“Terpengaruh…” 

Kagen-san mengulangi kata-kataku. 

Siapapun bisa melihatnya dengan jelas bahwa ada yang tidak beres. Masalahnya justru terletak pada detailnya. Bagaimana sebenarnya keadaan Hinako sekarang? Aku mencoba memprediksi. 

“…………Mungkin dia tidak bisa kembali dari aktingnya sebagai Ojou-sama yang sempurna?” 

Setelah mendengar dugaanku, Kagen-san berpikir sejenak. 

“……Jika itu benar, dia masih bisa pergi ke sekolah.” 

Memang, selama dia terus berperilaku sebagai Ojou-sama yang sempurna, tidak akan ada masalah dengan kondisi fisiknya. 

Namun, aku terkejut dengan penilaian itu. Kagen-san adalah orang yang sangat hati-hati. Aku tidak menyangka dirinya akan membiarkan Hinako yang tidak terduga saat ini tampil di depan umum. 

“Waktu untuk perayaan festival budaya tinggal sedikit. Aku ingin dia tetap berpartisipasi dalam latihan drama.” 

“Tapi, dengan kemampuan Hinako, dia bisa istirahat sehari…” 

“Kegiatan tim sangat dipengaruhi oleh perilaku pemimpin. Ketidakhadiran Hinako pasti akan berdampak buruk.” 

Dirinyaa tidak hanya khawatir tentang Hinako, tetapi juga tentang siswa-siswa di kelas 2A kami.

Seperti yang dikatakan Kagen-san, jika Hinako tidak berpartisipasi dalam pertunjukkan drama kelas 2A saat ini, murid-murid lainnya akan mengalami penurunan semangat. Meskipun semua orang tidak menunjukkan secara jelas, pasti mereka merasa tegang saat akan menampilkan drama yang menjadi sorotan di festival budaya. Pasti ada banyak masalah yang dapat dihindari berkat kehadiran Hinako. 

“Itsuki-kun. Sebagai pengurusnya, bisakah kamu mendukung Hinako di akademi?” 

Tatapan Kagen-san tertuju padaku. 

“……Aku akan mencobanya.” 

“Tolong.” 

Dengan begitu, aku berangkat ke akademi bersama Hinako, yang merupakan seorang Ojou-sama sempurna. 

 

◆◆◆◆

 

Sikap dan perilaku Hinako tidak berubah meski sudah menaiki mobil. Segera setelah mobil melaju, Hinako berkata kepada sopir, “Terima kasih atas kerja kerasmu.” Hal itu hampir menyebabkan kecelakaan. 

Hinako tampak sangat senang seolah-olah dia menantikan akademi, dia tersenyum lebar sambil mengamati pemandangan yang berlalu. Saat aku melihat wajahnya yang tenang, Shizune-san yang duduk di kursi penumpang depan melambai-lambai memanggilku dan aku mendekatinya

Shizune-san berbicara dengan suara pelan agar Hinako tidak mendengarnya. 

“Begitu kalian berdua masuk akademi, kami tidak bisa mengawasi kalian. Jadi mohon laporkan setiap perkembangan.” 

“Baiklah, aku akan bertindak seolah-olah ini adalah hari pertamaku bekerja sebagai pengurus.” 

“Itu sebaiknya sudah cukup. Selama kalian di akademi, kami akan menyelidiki kondisi Ojou-sama.” 

Kami berdua tampaknya mulai mendapatkan kembali ketenangan kami

“Hari ini kalian berdua sepertinya banyak berbicara secara diam-diam, ya?” 

Hinako tiba-tiba mengucapkan hal itu. 

Hinako menatapku dan Shizune-san, lalu menggembungkan pipinya dengan menggemaskan. 

“Aku tidak akan ikut campur urusan kalian, tapi... rasanya kesepian ditinggalkan sendirian.” 

“Ugh.” 

“Kuuh.” 

Aku dan Shizune-san mengerang bersamaan. 

Rasanya sakit di hati… jadi, inilah yang disebut Ojou-sama sempurna. 

Dia adalah seorang jenius yang dihormati karena kemampuan akademis dan olahraganya, sekaligus memiliki kemurnian dan kepolosan yang tak ternoda seperti salju pertama. Aura bersih dan suci itu membuatku merasa semakin dekat, semakin bagian jahat dalam diriku dimurnikan

Mobil berhenti sedikit jauh dari akademi. 

Sekarang giliranku untuk turun. 

“Itsuki-san, tolong selalu perhatikan keadaan Ojou-sama.” 

Baik.” 

Mobil itu meninggalkanku dan melanjutkan perjalanan ke akademi. 

Seperti biasa, aku berencana untuk berjalan sedikit dan bertemu Hinako di dekat gerbang akademi. Namun, perasaan aneh membuatku berjalan lebih cepat menuju tempat pertemuan. 

(Mungkin ini hanya kekhawatiran yang tidak perlu, seperti yang dipikirkan Kagen-san…) 

Sebenarnya, tidak ada masalah selama Hinako tetap dalam keadaan seperti ini. Jika ada masalah, itu hanya karena kami yang mengenal Hinako merasa sangat terguncang, dan dampak eksternal hampir tidak ada. Semua orang di akademi mungkin tidak akan menyadari perubahan Hinako. 

Malahan, Hinako yang sekarang mungkin adalah bentuk kesempurnaan yang sebenarnya. 

Dengan Hinako yang sekarang, tidak ada risiko sifat malasnya muncul secara tiba-tiba. 

Hinako sekarang adalah sosok yang benar-benar sempurna. 

Sejauh menyangkut keluarga Konohana… 

“Konohana-san.” 

Setelah melewati gerbang akademi, aku melihat Hinako dan berusaha memanggilnya. 

“Selamat pagi—” 

“—Selamat pagi, Konohana Hinako!!”

Sebelum aku bisa mendekati Hinako, sudah ada seseorang yang muncul di depan Hinako. 

Dia adalah ketua OSIS kami, seorang gadis berambut pirang dengan ikal yang anggun… Tennouji-san. 

“Tampaknya kamu terpilih lagi sebagai pemeran utama dalam pertunjukkan drama tahun ini. Meskipun aku merasa cemburu, aku percaya bahwa kamu, sebagai rivalku, pasti akan mendapatkan peran itu!! Aku juga akan berusaha menghidupkan festival budaya sebagai ketua OSIS, jadi bersinarlah sepuasnya, ya!!” 

Tennouji-san memberikan semangat kepada Hinako. 

Betapa baiknya dia. Mengingat waktu menuju festival budaya yang semakin sedikit, mungkin saat ini Hinako merasa lelah baik fisik maupun mental, dan itulah sebabnya Tennoji-san datang untuk mendukung Hinako. 

Dalam festival budaya di akademi terhormat ini, posisi sebagai pemeran utama dalam drama adalah tanggung jawab yang berat, yang setara dengan ketua OSIS. Tennouji-san yang sedang merasakan beban tanggung jawab sebagai ketua OSIS tentu ingin menyemangati Hinako sebagai rivalnya yang saling mengasah. 

Sebagai seorang Ojou-sama yang sempurna, Hinako pasti menyadari kebaikan Tennouji-san. 

Namun, Hinako tampak mengedipkan matanya dengan ekspresi enggan

“Ugh… Tennouji-san terlalu berkilau di pagi hari, membuat mataku sakit…” 

“……………………Hah?” 

Tennouji-san terkejut dengan matanya yang terbuka lebar. 

Mungkin aku juga sama terkejutnya dengan dirinya

Apa yang baru saja diucapkan…? 

Apa Hinako yang mengatakannya…? 

Aku mengantuk… aku ingin pulang saja…” 

“Uwooooaahhhhhh!?” 

Aku berteriak keras untuk menutupi situasi. …aku tidak yakin entah itu bisa berhasil atau tidak. 

(Ak-Aku salah paham…!!) 

Aku mengira kalau Hinako tidak bisa kembali dari aktingnya. 

Tapi bukan itu. 

Sifat sempurna Hinako dan keadaan aslinya justru tertukar—!! 

Melihat Tennouji-san yang masih terkejut, aku berpikir dengan cepat. 

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Bagaimana caraku supaya bisa menutupi ini!? 

Ini adalah krisis terbesar yang pernah kualami sejak menjadi pengurusnya

“……Ko-Konohana-san sedang berlatih acting sekarang!!” 

Sambil menyadari ekspresiku yang tegang, aku menjelaskan. 

“Dalam pertunjukkan drama tahun ini, dia harus memerankan karakter yang malas. Perannya sangat berbeda dari tahun lalu, jadi sepertinya dia juga berlatih di siang hari…” 

Aku mengucapkan hal-hal yang tidak jelas karena panik, tetapi setidaknya penjelasanku masih masuk akal. 

Tolong, percayalah padaku…!! 

“Semangatmu sebagai aktris sangat mengagumkan…!! Menakjubkan!!” 

Syukurlah, Tennouji-san ternyata orang yang mudah dibohongi…!! 

Setelah berhasil menutupi situasi ini, aku menghela napas lega yang tak bisa kutahan. 

Baiklah, kalau begitu, kami akan pergi ke kelas sekarang!” 

Aku menatap Hinako, yang masih tampak mengantuk dan menggosok matanya. Supaya tidak menimbulkan kecurigaan lebih jauh, aku menarik tangan Hinako dan cepat-cepat menjauh dari Tennouji-san.

Namun, alih-alih langsung menuju kelas, kami bersembunyi di semak-semak yang ada di belakang taman dan menghubungi Shizune-san. 

“Shizune-san! Gawat, ini serius! Hinako berubah menjadi malas!” 

“Kalau itu sih sudah biasa… tapi, hari ini memang berbeda.” 

Aku membagikan kejadian yang baru saja terjadi kepada Shizune-san. Setelah berpikir sejenak, Shizune-san memberikan instruksi. 

“Sayangnya, Kagen-sama sedang dalam pertemuan bisnis, jadi sepertinya beliau tidak bisa segera dihubungi. Jika kamu berhasil menutupi semuanya, tetaplah berada di dekat Ojou-sama.” 

“Jadi, kami boleh tetap berada di akademi?” 

Sebisa mungkin.” 

Shizune-san sepertinya juga memahami bahwa ini merupakan situasi yang sangat berisiko. Aku memutuskan telepon. …Aku juga ingin memenuhi kepercayaan Kagen-san. 

Aku benar-benar takut, tapi mari kita lihat sedikit lebih lama. 

“……Ruang kelas kita, ada di sebelah mana ya?” 

Setelah memasuki gedung sekolah, Hinako melihat sekeliling dengan bingung. 

Hinako yang asli sangat malas, dan jika mau, dia bisa saja tidak akan berusaha melakukan apapun, dan bahkan dia sampai tidak mau berpikir. Ketika tiba saatnya di mana dia benar-benar harus melakukan sesuatu, dia akan melakukannya dengan enggan, dan jelas terlihat bahwa saat ini bukanlah saat itu bagi Hinako. 

Singkatnya, Hinako yang asli adalah orang yang sangat malas dan suka bergantung pada orang lain

“Ke sini.” 

“Hmm…” 

Aku menarik tangan Hinako dan menuntunnya menuju kelas.

Interaksi kami sepenuhnya mirip seperti saat di kediaman Konohana, tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan… kami sedang berada di akademi. Aku tidak boleh memanggil Hinako dengan nama “Hinako” seperti saat di rumah. 

(Pandangan orang lain terasa menyakitkan…!!) 

Puluhan pasang mata menembus tubuhku. 

Hinako yang sempurna dan sosok yang tak terjangkau sedang digandeng oleh seorang siswa laki-laki. Mungkin terlihat seolah-olah kami sedang bergandeng tangan. Aku ingin segera menjelaskan situasinya, tetapi setiap kali aku merasakan tatapan, menjelaskannya akan menjadi tidak ada habisnya. Pokoknya, aku harus menjelaskan hal ini kepada teman sekelasku, jadi setelah itu, aku berharap berita ini akan menyebar dengan sendirinya. 

“Hmmhehehe… tangan Itsuki rasanya hangat…” 

Hinako tersenyum ruang dan polos seperti anak kecil. Berlawanan dari situasi yang tegang, hatiku mulai terasa tenang. Bagiku, Hinako yang seperti ini adalah teman yang nyaman untuk menunjukkan sisi aslinya. 

Sembari merasa seolah-olah sedang berada di kediaman Konohana, aku mulai mengendurkan bahuku dan menggertakkan gigi untuk mengembalikan ketenanganku

 

◆◆◆◆

 

“—Itulah sebabnya.”

Setelah tiba di dalam kelas, aku segera menjelaskan situasinya dengan cepat agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang lebih besar. 

Begitu rupanya, jadi itu latihan akting ya…” 

Taishou bergumam demikian saat teman-teman sekelas lainnya berkumpul mengelilingiku

....Jika aku tidak mendengar hal itu, mungkin aku sudah pingsan.” 

Taishou dan teman-teman sekelas lainnya langsung menoleh ke belakang. Hinako sedang terkantuk-kantuk di tempat duduknya. 

Hinako biasanya selalu duduk tegak dengan ekspresi yang anggun dan menatap ke depan setiap kali duduk di kursinya. Namun sekarang, dia hanya menyandarkan dagunya di meja dan mengantuk. 

Hanya dalam semalam, seorang Ojou-sama yang dulunya murid teladan yang patut dicontoh semua orang di Akademi Kekaisaran, telah berubah menjadi orang yang malas dan dengan santai melakukan hal-hal yang seharusnya dihindari oleh semua orang di akademi. Melihat teman-teman sekelas yang terkejut dengan perubahan ini, aku mulai meragukan apakah menunjukkan Hinako dalam keadaan seperti ini justru akan berakibat sebaliknya. 

“Ehm, permisi, Konohana-san. Aku minta maaf karena mengganggu latihan aktingmu, tetapi ada bagian dalam pelajaran yang tidak aku mengerti. Bisakah kamu mengajarkannya padaku…?” 

Seorang siswi berbicara kepada Hinako. Meskipun dia mungkin tulus meminta bantuan, sepertinya dia lebih seperti memanggil untuk mengamati keadaan Hinako. 

Hinako, yang merupakan gadis cerdas di akademi, sering mengajarkan pelajaran kepada siswa lain. 

Itu adalah pemandangan yang biasa, tetapi hari ini… 

Enggak mau… ngantuk.” 

Hinako melirik siswi itu dan segera menundukkan wajahnya. Tanggapannya itu seketika membuat seisi kelas menjadi gaduh. 

Me-Menakjubkan… ini tidak terlihat seperti akting…!!” 

“Tahun ini Konohana-san serius…!!” 

Syukurlah, teman-teman sekelas juga mudah dikibuli… 

(…Tidak, mungkin bukan karena mereka mudah dikelabui.) 

Hinako yang sekarang diterima karena akumulasi dari semua yang telah dia tunjukkan sebelumnya. Karena dia selalu menunjukkan perilaku yang baik dan anggun, tidak ada yang menduga bahwa penampilannya saat ini justru sifat aslinya. Semua orang percaya bahwa dia takkan bertindak seperti ini kecuali jika dia sedang berakting. 

Hinako yang sekarang didukung oleh tabungan kepercayaan yang telah dia bangun. Namun, karena ini tabungan, suatu saat pasti akan habis. 

Jika keadaan ini terus berlanjut, orang-orang pada akhirnya akan mulai meragukan… mungkin inilah sifat aslinya? 

(Sebelum keraguan semacam itu muncul, dia harus kembali seperti semula…) 

Sambil melihat Hinako yang tampaknya tertidur, aku mulai berkeringat dingin. 

“Aku mengerti bahwa dia sedang berlatih untuk drama, tapi…” 

Asahi-san berkata sambil melihat punggung Hinako yang membungkuk. 

Apa yang akan dia lakukan dengan pelajaran nanti?” 

Itu… bagaimana ya? 

Pertanyaan yang tidak bisa dijawab oleh siapa pun segera terjawab. 

 

◆◆◆◆

 

Pelajaran pertama, pelajaran Bahasa Jepang. 

Guru wali kelas 2A, Fukushima-sensei, awalnya mengajar seperti biasa, tetapi setelah beberapa menit, dia menyadari ada yang tidak beres. 

“Ehm, Konohana-san…?” 

Fukushima-sensei menghentikan pelajaran dan memanggil Hinako. Sejak pelajaran dimulai, dia terus-menerus membungkuk di meja.

Sebenarnya, ini sudah terjadi sejak sebelum pelajaran dimulai… 

Umm, aku ingin tidak mempercayainyatapi kamu tidak sedang tidur, kan? Konohana-san tidur di dalam kelas… itu tidak mungkin, kan…?” 

Fukushima-sensei mendekati tempat duduk Hinako, berulang kali memeriksanya untuk memastikan

Namun, Hinako tidak menanggapi peringatan Fukushima-sensei, 

“……suyah” 

Aku merasa mendengar suara seperti napas tidur. Fukushima-sensei menggosok matanya dengan kedua tangan. Dia menggosoknya berulang kali, melihat Hinako, menggosok lagi, dan melihat Hinako lagi, tetapi pemandangan di depannya tidak berubah… 

“…………Maaf. Sepertinya mataku mulai aneh, jadi Sensei mau pulang lebih awal.” 

Fukushima-sensei seketika langsung keluar dari kelas. Para siswa mulai berbisik. Meskipun begitu, Hinako tidak terbangun dan tetap tidur nyenyak. 

Ga-awat… 

Hinako yang sudah membuat keributan ini membuat perutku terasa sakit. Aku harus menjelaskan situasinya kepada Fukushima-sensei. Membiarkannya seperti ini pasti sangat menyedihkan. 

Aku keluar dari kelas dan segera mengikuti Fukushima-sensei. 

“Fukushima-sensei!” 

“Tomonari-kun, bisakah kita membicarakan urusanmu lain kali? Aku mau pergi ke dokter mata sekarang.” 

“Tidak, sebenarnya…” 

Aku menjelaskan situasinya kepada Fukushima-sensei yang tampak putus asa. 

“Jadi, begitu ya…………” 

Setelah mendengar bahwa Hinako sedang berlatih akting, Fukushima-sensei menghapus air mata yang mengalir dengan jarinya. 

“Syukurlah… jadi bukan berarti pelajaranku membosankan…” 

Ini buruk. 

Gambaran Hinako yang terlalu baik membuat tidak ada yang berpikir bahwa Hinako bersalah. 

Ketika seorang siswa teladan tiba-tiba bertindak tidak serius, orang-orang cenderung berpikir bahwa itu adalah tanggung jawab mereka… rasanya seperti sedang melihat eksperimen psikologi. 

Entah bagaimana, Fukushima-sensei berhasil menenangkan diri dan melanjutkan pelajaran.

...Setelah itu, aku mengulangi hal yang sama untuk ketiga mata pelajaran selanjutnya sampai waktu makan siang tiba

 

◆◆◆◆

 

Saat istirahat makan siang tiba, Hinako masih tetap duduk di tempatnya dan dengan santai mengeluarkan bekal makan siangnya dari tas. Biasanya, kami makan berdua di atap gedung bekas, tetapi hari ini sepertinya tidak. Jika aku menganggap Hinako yang sekarang adalah Hinako yang sama ketika dirinya berada di rumah, wajar saja jika dia tidak ingin bergerak sama sekali. 

“Ternyata Konohana-san adalah tipe yang membawa bekal sendiri, ya…” 

Kupikir dia selalu memanggil koki…”

Seharusnya dia selalu membawa kotak bento bersamanya.

Aku heran kenapa rumor seperti itu menyebar. ...Hmm, mungkin mereka membayangkan dia hanya memegang mangkuk dan meminta koki untuk mengisinya? 

Sama seperti yang kupikirkan saat berbicara dengan Fukushima-sensei, Hinako memiliki citra yang terlalu baik sehingga orang-orang cenderung membayangkannya dengan cara yang mulia dan tidak wajar, daripada sebagai orang biasa yang alami. Sepertinya orang-orang tidak bisa membayangkan Hinako sebagai sosok yang biasa. 

Ini juga mungkin karena kekuatan aktingnya yang luar biasa… 

Saat aku memikirkan itu, Hinako mendatangi mejaku dengan membawa kotak makan siangnya. 

“Itsuki… seperti biasa, suapi aku dengana~n…” 

Oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi,  oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi, oi!?” 

Aku terlalu panik sampai-sampai aku akhirnya berusaha mengalihkan perhatian dengan cara yang aneh. 

Tatapan teman-teman sekelas seolah-olah menusukku. Pandangan mata Taisho seakan menanyakan, “Apa kamu pengkhianat?”, Sedangkan Asahi-san, entah mengapa dia tampak sangat sedih. Kita terlihat terkejut, dan Suminoe-san menatapku dengan tatapan tajam, “Apa kamu berubah jadi pengkhianat?” Kenapa ini terjadi???? 

“Ki-Kira apa ada adegan seperti itu di pertunjukkan Hamlet, ya!? Haha, ahaha…!!” 

Aku tertawa sambil berusaha mengalihkan perhatian, tetapi keringat dingin membasahi dahiku. 

Memangnya ada adegan seperti itu? Beberapa teman sekelas mulai membaca naskah kembali. Tolong! Semoga ada! Bahkan jika itu mirip, tidak masalah! 

(Shizune-san…!! Tolong bantu aku, Shizune-san…!!) 

Aku sudah tidak sanggup menahannya lebih lama lagi…!! 

Jantungku…!!

 

◆◆◆◆

 

Rasanya pasti sulit.” 

Sepulang sekolah. Di dalam mobil keluarga Konohana, Shizune-san mengucapkan kata-kata penghiburan terlebih dahulu. Meskipun kata-katanya sederhana, wajahnya menunjukkan rasa simpati. Sepertinya dia benar-benar memahami beban pikiranku kali ini. 

“Apa kamu berhasil mengalihkan perhatian?” 

“Entah bagaimana. …Tapi kurasa hal itu tidak akan bertahan lama.” 

Sambil menjawab pertanyaan Shizune-san, aku melirik Hinako yang duduk di sampingku. 

“Ada apa, Tomonari-kun?” 

Tanpa kusadari, Hinako tiba-tiba berubah kembali menjadi versi Ojou-sama yang sempurna. 

Hari ini, aku tidak bekerja di OSIS dan bergabung dengan Hinako lebih awal. Meskipun pekerjaan OSIS akan semakin menumpuk, tapi sekarang aku ingin memprioritaskan Hinako. Semoga aku bisa menemukan penyebabnya… 

“Aku sudah berbicara dengan dokter, dan jelas-jelas ini terkait dengan kondisi mentalnya. Lagipula, Ojou-sama memiliki kecenderungan untuk menunjukkan dampak mentalnya pada fisik…” 

Shizune-san berbisik padaku dengan suara pelan. Sementara itu, kami berdua mengamati Hinako. Biasanya, Hinako akan tidur di mobil, tetapi sekarang dia duduk tegak seperti saat mengikuti pelajaran di akademi. 

“Bagaimana dengan latihan pertunjukkan dramanya?” 

Shizune-san bertanya demikian.

Saat ini, kami memiliki dua tugas. Yang pertama adalah menyembunyikan perilaku aneh Hinako agar tidak ada orang lain yang menyadarinya. Sedangkan yang kedua, memastikan pertunjukan drama sukses. Keduanya sama-sama penting. 

Namun, mengenai pertunjukkan drama… 

“Tidak ada masalah sama sekali.” 

Seusai semua mata pelajaran selesai, aku kembali mengingat latihan drama yang dilakukan di ruamg kelas. Hinako berpartisipasi dalam latihan seperti biasa. Saat berperan sebagai Ophelia, dia tampak berperilaku sebagai Ojou-sama yang sempurna dengan baik. 

Dan, penampilan Ophelia yang lain… akting dari kepribadian malasnya semakin terasah. Berkat itu, teman-teman sekelas juga sekarang memahami bahwa Semua latihannya di siang hari membuahkan hasil!” Dengan penampilannya seperti itu, sepertinya kami bisa menyembunyikan perubahan Hinako untuk sementara waktu. 

Penataan panggung drama juga hampir selesai. Teman sekelas yang bertanggung jawab atas penyutradaraan sepertinya telah mengunjungi teater Shakespeare di London dan berencana untuk mereproduksi suasana aslinya.” 

Skala proyek ini memang luar biasa. Sepertinya beberapa teman sekelas pergi untuk mengunjungi Globe Theatre, tempat di mana drama Shakespeare pernah dipentaskan. Mungkin ada penonton yang datang ke festival budaya Akademi Kekaisaran yang akrab dengan suasana asli. Mereka ingin membuat penonton terkesan. 

Meskipun akting Hinako sudah dinilai sempurna, tapi kemampuannya semakin terampil. Hari ini, aku merasakan semangat teman-teman sekelas yang ingin melanjutkan momentum ini. Meskipun ini hanya hasil analisis, mungkin ada nilai dalam membiarkan Hinako pergi ke sekolah meskipun dengan cara yang agak berlebihan. 

(…Jika Hinako bisa memerankan Ophelia dengan baik, itu berarti berakting dalam sebuah drama adalah sesuatu yang berbeda baginya, kan..…?) 

Pada awalnya, Hinako memiliki dua sisi yang berbeda. Ojou-sama yang sempurna dan keadaan malas. Aku sempat khawatir bahwa akting Ophelia mungkin akan tercampur aduk, tetapi kekhawatiran itu ternyata tidak terjadi. 

Artinya, masalah yang dihadapi Hinako bukanlah akting dalam drama. Akting dalam drama hanyalah menjadi pemicu, dan dia mungkin terombang-ambing antara kesempurnaan dan kemalasan yang selama ini dia perankan. 

Memang benar bahwa dia sedang mengalami kesulitan dalam berakting, tetapi dia menganggap akting dalam drama sebagai hal yang berbeda. 

“Kita sudah sampai.” 

Hinako yang sedang melihat ke luar jendela berkata demikian. Mobil pun berhenti. Sepertinya kami sudah tiba di rumah kediaman Konohana. Sopir membuka pintu, dan kami turun satu per satu dari mobil. 

Saat kami menuju ke rumah, tukang kebun yang sedang merawat taman menyadari Hinako dan memberi hormat dengan sopan. 

“Selamat datang kembali, Ojou-sama.” 

“Ya, aku baru saja kembali.” 

Hinako menjawab dengan senyuman yang memukau. 

Mungkin Kagen-san telah menjelaskan situasi kepada para pelayan. Meskipun tidak ada insiden seperti pagi tadi di mana vas pecah, tukang kebun tetap terlihat sangat terkejut dengan mulut terbuka. 

“…………Cantiknya.” 

Hanya satu kata, tetapi semua perasaan terakumulasi dan dikeluarkan di sana. 

Aku mengerti… aku mengerti perasaan itu.

Meskipun seharusnya aku sudah terbiasa melihatnya, saat ini aku merasakan kecantikan Hinako yang luar biasa. Ada daya tarik yang berbeda dari pesona manisnya yang biasanya. 

Setelah melewati pintu masuk dan memasuki rumah, tatapan mataku bertemu dengan Shizune-san. 

Apa yang harus kita lakukan sekarang? Saat berpikir sambil saling bertukar pandang, Hinako menatapku. 

“Boleh aku pergi ke kamar Tomonari-kun sekarang?” 

“Eh!?” 

Aku terkejut secara refleks. 

“Y-Yah, kalau sekarang sih agak….” 

“Kenapa? Bukankah biasanya begitu?” 

Memang benar sih!! 

Namun, aku merasa sangat ragu untuk membiarkan Hinako masuk ke dalam kamarku. Apa aku bisa menahan detak jantungku…!? Rasanya seperti hatiku tertekan dengan cara yang berbeda saat berada di akademi…!! 

(…Tunggu sebentar?) 

Sebuah ide cemerlang mendadak muncul, dan pikiranku menjadi jernih. 

Bagaimana jika dengan bersikap seperti biasa, Hinako bisa kembali seperti semula? Aku bisa membiarkannya tidur di kamarku sampai makan malam, lalu kita bisa santai saat makan malam, dan mandi bersama… Mungkin dengan begitu, kepribadian malasnya akan kembali? 

Masih ada harapan. 

“...Kalau begitu, mari kita pergi ke kamarku.” 

“Ya.” 

Hinako tersenyum seperti bunga matahari. 

…Harapan ini, meskipun cuma secercah harapan, terasa sangat menyilaukan seperti matahari. Jika dibiarkan terlalu lama, bisa-bisa malah aku yang akan membakar. 

Aku menuju kamarku bersama Hinako. …Sepertinya kali ini aku tidak perlu menggenggam tangannya. Hinako yang sekarang adalah Ojou-sama yang sempurna, jadi mana mungkin dia tersesat. 

Setelah sampai di kamar, aku segera menuju meja. 

Ka-Kalau begitu, aku akan belajar, jadi kamu bisa bersantai di tempat tidur.” 

“? Di tempat tidur, ya?” 

Hinako menatapku dengan bingung sambil duduk di tempat tidurku. 

…Apa-apaan ini? 

Rasanya berdebar-debar saat Hinako duduk di tempat tidurku… 

Jika dipikirkan dengan tenang, wajar saka jika seorang gadis seusia masuk ke kamar seorang pria, jadi rasanya wajar saja kalau jantungku berdebar. Namun, saat berhadapan dengan Hinako yang biasanya malas, aku tidak merasakan hal ini, tetapi sekarang aku tidak bisa menghindari perasaan canggung ini. 

Mendingan aku berkonsentrasi buat belajar saja. Dengan pemikiran begitu, aku mulai menulis rumus di buku catatan. 

Saat pikiranku mulai tenang, tiba-tiba rambutnya yang berwarna amber muncul di sudut pandangku. 

Di sampingku, Hinako sedang mengintip buku catatanku. 

“Hinako!?” 

“Maaf, apa aku mengganggu?” 

Aku menggelengkan kepala tanpa suara. Detak jantungku semakin berpacu dengan cepat. Hatiku… hatiku seperti mau meledak…!! 

“Ah, rumus ini, sedikit salah.” 

“Eh?” 

“Seharusnya… begini.” 

Hinako mengambil pensil mekanik dan mulai menulis di buku catatanku. Ini adalah soal yang cukup sulit, tetapi sepertinya dia langsung menyadari kesalahannya. Otaknya yang dia tunjukkan di akademi masih ada. 

“...Terima kasih.” 

“Sama-sama.”  

Setelah meletakkan pensilnya, Hinako menatap wajahku dengan serius. 

“Tomonari-kun, kamu selalu berusaha sangat keras, ya. …Kupikir itu keren.” 

“...!” 

Detak jantungku semakin cepat. 

Pikiranku hanya bisa memikirkan Hinako. Dalam pikiranku yang kosong, aku merasa bahagia hanya dengan menatap wajahnya. 

(Tenanglah, diriku…!!) 

Ada perasaan yang hampir meledak di dekat jantungku. Aku berusaha keras untuk menahannya. 

Rasa bangga sebagai pengurus. Keinginan seorang pria untuk tidak mudah goyah. …Lebih dari itu, senyum ceroboh yang ditunjukkan Hinako yang sebenarnya melintas sejenak di benakku.

Bukankah memiliki perasaan ini terhadap Hinako sekarang akan menjadi pengkhianatan terhadap dirinya yang sebenarnya? 

Aku tidak bisa sepenuhnya menolak perasaan itu. Saat aku berusaha menahan dadaku, ada ketukan di pintu kamar. Pintu yang terbuka memperlihatkan Shizune-san masuk. 

“Makan malam sudah siap.” 

Oh, sudah waktunya. Aku menutup buku catatanku dan pergi ke ruang makan bersama Hinako. 

Sejujurnya, kedatangan Shizune-san sangat membantuku. Sekarang, berduaan dengan Hinako adalah situasi yang kurang menguntungkan. 

“Selamat datang, kalian berdua.” 

Setibanya di ruang makan, aku melihat Kagen-san sudah duduk di sana. 

Aku pikir ini kebetulan, tetapi Kagen-san belum mulai makan. Sepertinya dia menunggu kami untuk makan bersama. Alasan pastinya, jelas, dirinya pasti ingin melihat keadaan Hinako. 

Aku duduk dekat Kagen-san bersama Hinako. Begitu kami duduk, para pelayan yang menunggu mulai bergerak dan hidangan disajikan satu per satu. 

Makan malam dimulai. 

Hari ini tampaknya hidangan Italia. Sambil menikmati hidangan pembuka klasik, Caprese, aku melihat Hinako. 

Seperti biasa, etika makan Hinako sempurna. Akhir-akhir ini aku juga mulai merasa lebih nyaman, tetapi tetap saja, melihat gerak-gerik Hinako dan Kagen-san terasa seperti melihat sesuatu yang jauh di atasku. 

Etika makan mereka bagaikan seorang pemain alat musik yang anggun. Peralatan makan perak yang dipegang di kedua tangan mereka berkilau indah. Suara lembut piring yang saling bergesekan mengingatkanku pada nada biola. Saat melihat gerak-gerik mereka, bahkan pisau, garpu, gelas, dan hidangan di piring tampak bersinar. Hidangan kelas satu semakin sempurna berkat etika makan yang luar biasa. 

“Hinako, bagaimana dengan latihan dramamu?” 

Kagen-san bertanya sambil menyesap anggur. 

“Semua berjalan lancar. Aku yakin Kakek pasti akan puas.” 

“Begitu, tetapi jangan lengah. Kepala keluar yang jarang keluar dari rumah ini, kali ini sangat menginginkannya. Jangan sampai ada kegagalan, sekecil apa pun.” 

Tatapan Kagen-san terhadap Hinako menjadi sedikit tajam. 

Jika Hinako yang dulu, dia pasti akan menunjukkan wajah malas dan mengeluh. Setelah itu, dia mungkin akan mengeluh sedikit di kamarku atau tidur siang. 

Namun, Hinako yang sekarang— 

“Aku baik-baik saja.” 

Dengan suara yang tegas, Hinako menjawab. 

Karena aku adalah putri dari keluarga Konohana.” 

“……” 

Kagen-san terkejut mendengar jawaban itu. 

Di sana, ada masa depan cerah yang layak untuk memikul tanggung jawab keluarga Konohana di pundaknya. 

 

◆◆◆◆

 

Setelah makan malam selesai, aku melanjutkan belajar di kamarku. Hinako tidak ada di sini. Biasanya setelah makan malam kami menghabiskan waktu bersama sampai tidur, tetapi hari ini Hinako berbeda. 

(Meski sudah menyelesaikan tugasnya, tapi ada beberapa hal yang ingin dia pelajari secara mandiri…ya.)

Jika itu Hinako yang biasanya, dia pasti tidak akan pernah mengucapkan kalimat seperti itu. 

Sekarang setelah dipikir-pikir kembali, Hinako yang telah menjadi Ojou-sama yang sempurna sangatlah kuat. Meskipun gerak-geriknya tenang dan anggun, sulit untuk membayangkan betapa aktifnya dirinya. Dia selalu melakukan sesuatu tanpa henti. Di akademi sebelumnya, dia pasti sering diajak bicara oleh orang lain setiap kali waktu istirahat. 

Aku meletakkan pensil dan mengambil napas sejenak. Berkat Hinako yang mengajarkanku, aku bisa menyelesaikan tugas hari ini lebih awal. 

Aku teringat ekspresi Kagen-san saat makan malam. Tidak diragukan lagi bahwa Hinako memiliki potensi untuk menjadi penerus grup Konohana. Aku penasaran apa yang dipikirkan Kagen-san saat melihatnya. 

(…Mungkin bagi Kagen-san, Hinako yang sekarang adalah sosok putri idealnya.) 

Mungkin bukan hanya Kagen-san yang berpikir demikian. 

Selama satu hari ini, sudah ada berapa banyak pelayan yang terpesona oleh Hinako? …Mungkin tidak sedikit yang merasa, “Sudah cukup seperti ini, bukan?” 

Hinako bisa mempertahankan citra Ojou-sama yang sempurna dari awal hingga akhir, tanpa cela. Pasti ada beberapa orang yang menganggapnya sebagai ideal. 

(…Apa cuma egoku saja yang berpikir kalau semuanya terus begini, hal tersebut takkan menimbulkan hal yang baik?) 

Setelah menyelesaikan belajar… setelah menyelesaikan apa yang harus dilakukan, pikiranku melayang ke berbagai hal. 

Saat itu, aku mendengar ada ketukan di pintu kamarku

Orang yang muncul dari balik pintu adalah Shizune-san. …Hari ini dia sering mengunjungi kamarku. Dengan keadaan Hinako yang seperti itu, jelas bahwa kami berdua tidak dalam keadaan normal. 

“Itsuki-san, Ojou-sama memanggilmu.” 

“? Aku akan segera datang.” 

Hinako sekarang sedang belajar di kamarnya, tapi apa dia punya urusan denganku? 

Aku menuju kamar Hinako dengan rasa penasaran

Setelah mengetuk dan membuka pintu, Hinako sudah berdiri dari kursinya. Alat-alat belajar di mejanya sudah disimpan. Sepertinya dia baru saja selesai belajar. 

“Hinako, ada apa?” 

“Ya. Kupikir sudah saatnya kita masuk.” 

Masuk? …Masuk untuk apa? 

Saat aku mengerutkan dahi, Hinako mulai tertawa kecil. 

“Untuk mandi. Kita selalu mandi bersama, iya ‘kan?” 

Dia mengucapkan sesuatu yang tidak terduga dengan nada seolah-olah itu hal yang paling wajar. Memang, aku berpikir bahwa seharusnya aku bisa menjalani hari seperti biasa, tetapi… 

Apa kita akan mandi…!? 

Bersama Hinako yang sekarang…!? 

Memangnya boleh…!? 

 

◆◆◆◆

 

“……Fyuh.” 

Uap mengepul tepat di depan mata dan hidungku.  Aku mendengar suara percikan air saat aku menurunkan kakiku. Aroma mawar yang familiar menyambutku. Hinako dan aku duduk di tepi bak mandi yang luas dan bersih tanpa adanya setitik pun kotoran atau debu. 

“Rasanya menenangkan, ya.” 

“……Iya, benar.” 

Kami beneran sudah masuk——————————!!! 

Rasa bersalah terus muncul tanpa henti!! 

Apa yang harus kulakukan… Aku tidak berani menatap Hinako.

Di sudut pandangku, aku melihat Hinako mengenakan bikini putih, dan tanpa sadar aku mengalihkan pandanganku. Sesuatu yang sudah sering kulihat kini terasa seperti sesuatu yang seharusnya tidak dilihat. 

Percuma saja!! 

Aku sudah tidak tahan!! 

Ba-Bagaimana dengan suhu airnya!? Apa tidak terlalu panas!?” 

“……Setelah kamu mengatakannya, rasanya mungkin memang sedikit panas.” 

“Aku akan menyesuaikannya!!” 

Jantungku lebih panas daripada airnya. Jika terus begini, aku bisa gila, jadi aku dengan paksa menjauhkan diriku dari Hinako. 

Di panel dekat tempat mengganti pakaian, aku menurunkan suhu air satu derajat. …Sebenarnya, itu adalah suhu yang biasa. Tidak perlu menurunkannya. 

Dengan waktu yang singkat ini, pikiranku tidak bisa tenang, jadi aku berjalan selambat sibut untuk kembali ke sisi Hinako. Punggung Hinako tampak begitu anggun dan membuatku ingin melindunginya. Rambut amber yang basah menempel di bahunya. Tetesan air mengalir di kulitnya yang halus. 

Aku duduk sedikit lebih jauh dari sebelumnya di samping Hinako. 

Hinako yang merasa aneh mulai mendekat ke arahku. 

Tanpa sadar, aku menjauh sedikit dari Hinako. 

Hinako kembali mendekatiku lagi

Aku berusaha menjauh lagi dari Hinako—. 

“Tomonari-kun.” 

Hinako menatapku dengan serius. 

“Kenapa hari ini kamu tidak mau mendekat…?” 

“—!” 

Hinako menatapku dengan wajah seperti anak kecil yang merasa kesepian saat ditinggal orang tua. Aku tidak bermaksud membuat Hinako sedih. Hanya saja, melihat Hinako yang seperti itu membuatku benar-benar berjuang untuk tetap waras. 

(Tenang....aku harus tenangaku yakin kalau aku juga berpikir begitu saat permainan manajemen…!! Aku juga harus menerima Hinako yang seperti ini…!!) 

Saat itu, aku berpikir seperti itu ketika melihat Hinako yang serius mengelola perusahaan. 

Hinako memiliki dua sisi, dan jika aku ingin mendukungnya sebagai pengurus, aku harus mendekati kedua sisi itu. Aku ingin memahami kedua Hinako dan mendapatkan kepercayaan dari keduanya. 

“Bisakah kamu mencucikan rambutku seperti biasa?” 

“…………………………Ya.” 

Aku sampai secara otomatis menggunakan bahasa formal saat berbicara. Meskipun aku berusaha tenang, aku sudah melewati tahap untuk bisa tenang. 

Pikiranku mulai jadi kacau balau. …Dari sini, aku harus menghilangkan perasaanku. 

Jika tidak, jantungku akan meledak. 

Aku berpindah ke belakang Hinako dan dengan lembut mengangkat rambutnya yang lembut seperti sutra. Kulit putihnya yang tersembunyi oleh rambut kini terpampang jelas di hadapanku. Aroma wangi yang tercium sebelum menggunakan sampo dan daya tarik yang terasa dari tengkuknya, semua itu tidak perlu dipikirkan. Jangan dipikirkan, jangan dipikirkan, jangan dipikirkan. 

“Ah… rasanya agak geli.” 

Tolong, hentikan… 

Jangan buat aku semakin gila… 

Sekarang, aku sedang bingung apa harus meminta obat dari Shizune-san agar bagian selangkanganku tidak berdiri tegak… 

“Tomonari-kun tuh selalu membantuku, ya.” 

Tiba-tiba, Hinako berbicara dengan nada yang tenang. 

“……Setidaknya, kamu bisa mencuci rambutmu sendiri, kan?” 

Setidaknya, jika itu Hinako yang sekarang…

Aku selalu merawat Hinako. Namun, terkadang aku tidak yakin apakah aku benar-benar bisa membantunya dengan cara yang berarti. Dengan mencuci rambutnya seperti ini, seberapa banyak aku bisa mendukung kehidupan berat Hinako? 

“Tomonari-kun.” 

Hinako perlahan menggenggam lenganku dan memutar badannya untuk menghadapku

“Lihatlah aku lebih dekat.” 

“Hi-Hinako…?” 

Hinako mendekatkan tubuhnya lebih dekat, membuatku semakin gelisah. Aku bisa melihat wajahku terpantul di mata Hinako. Mungkin, wajah Hinako juga terpantul di mataku.

“Lihatlah aku lebih baik… Apa kamu masih tidak mengerti?” 

“Ap-Apanya…?” 

Hinako memberitahuku yang masih kebingungan dengan maksudnya

“Seberapa banyak aku dibantu olehmu.” 

Hinako tersenyum padaku yang tidak bisa berkata apa-apa. 

“Aku tahu Tomonari-kun selalu memikirkanku. Alasan kenapa kamu tidak mampir ke ruang OSIS hari ini juga karena demi berada di sampingku, kan?” 

“Itu….” 

Aku tidak bisa langsung mengiyakan karena aku tidak ingin dilihat sebagai orang yang mengharapkan balasan. 

Sebenarnya, apa yang dikatakan Hinako itu benar. 

“Aku tahu seberapa keras Tomonari-kun berusaha untuk berdiri di sampingku…” 

Hinako menyatukan kedua tangannya di dekat dada, seolah-olah menghargai harta yang ada di sana. 

“Semua, semua, sudah tersampaikan. …Aku ingin menyampaikan hal itu padamu.” 

Di mata Hinako, hanya ada bayangan diriku

Orang yang mendominasi pandangannya itu tidak lain adalah diriku sendiri. 

Aku yakin hal yang sama juga terjadi padaku

Sekarang, sosok yang bisa kulihat hanyalah Hinako. 

“Aku akan membasuh tubuhku sendiri.” 

Hinako berdiri. Dia berjalan menuju shower dan sekali lagi menoleh ke arahku. 

“……Sebenarnya, aku juga ingin kamu membasuhkan tubuhku.” 

“Ti-Tidak, itu sih terlalu—!? ” 

Aku cuma bercanda.” 

Hinako tertawa kecil. 

“Terima kasih banyak.” 

Aku bisa merasakan rasa terima kasihnya yang tulus.

Orang di hadapanku adalah Hinako yang seharusnya mengenakan topeng Ojou-sama yang sempurna, tetapi kata-katanya pasti berasal dari hati yang tulus. Meskipun Hinako yang sekarang tampak bersandiwara, dan seharusnya itu palsu, emosi yang keluar dari mulutnya jelas-jelas nyata. 

…Dia bukan palsu. 

Aku berencana untuk menerima dua sisi Hinako, tetapi di suatu tempat di hatiku, mungkin aku masih memberi urutan penghormatan pada masing-masing Hinako. 

Tapi, itu salah. Dua-duanya adalah Hinako yang sebenarnya

Ojou-sama sempurna yang ada dalam diri Hinako adalah sebuah peran, tapi itu bukanlah kepalsuan. Aku akhirnya memahami hal itu. Peran yang telah dijalani lama itu memiliki kenangan yang terakumulasi, dan kenangan itu menjadi nilai baru… membuatnya bisa mengungkapkan hal-hal yang tidak bisa diungkapkan oleh dirinya yang asli, atau merasakan hal-hal yang tidak bisa dirasakannya. 

Bagi Hinako, posisi sebagai Ojou-sama yang sempurna mungkin jauh lebih besar daripada yang bisa kubayangkan. 

Saking besarnya sampai-sampai… bisa menggoyahkan jati dirinya yang asli.

 


 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama