Chapter 2 — Kursus Musim Dingin
Ujian
akhir semester berlalu dengan cepat.
Kali ini,
aku bisa mengerjakan soal-soal dengan baik seperti
biasa. Dari perasaanku, sepertinya aku takkan menyerahkan posisi peringkat pertama. Dalam penilaian diri,
aku juga sudah melewati garis target di semua mata pelajaran, dan aku memiliki
cukup waktu untuk meninjau kembali saat ujian.
Setelah
ujian akhir, para siswa memasuki
masa libur ujian selama beberapa hari.
Akhirnya,
aku bisa sedikit bersantai. Aku tidak perlu bangun terlalu pagi, dan aku bisa
melakukan pekerjaan rumah dengan lebih santai.
Suhu cuacanya semakin menurun, dan belakangan
ini suhu maksimum jarang sekali mencapai dua digit. Dengan banyaknya acara yang semakin mendekat, saat
keluar, aku melihat pohon Natal dan iluminasi yang menghiasi kota.
Namun,
terlepas dari suasana meriah itu, ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, dan
terkadang aku teringat akan hal itu.
── Aku
harus berusaha untuk tidak terlalu
memikirkannya.
Dengan
cara begitu, masa libur ujian pun
berakhir, dan tiba saatnya untuk menerima hasil ujian.
◇◇◇◇
“Kamu tidak melihat pengumuman peringkat?”
Saito
bertanya setelah mendengar bahwa hasilnya dipajang di koridor. Aku sudah mengetahui hasil ujian
di semua mata pelajaran. Di
koridor, ada banyak
siswa berkumpul untuk memeriksa peringkat. Namun, aku tetap duduk di mejaku dan
tidak berniat untuk bergerak.
“Tidak
apa-apa. Mungkin aku berada di
peringkat pertama. Jadi aku tidak
perlu terburu-buru melihatnya.”
“Sialan.
Kepercayaan dirimu membuatku kesal.”
Saito segera keluar ke koridor dan kembali
setelah sekitar satu menit. Sepertinya prediksiku benar, ia terlihat kesal saat
kembali ke tempat duduknya.
“Kan?”
“Selamat
untuk peringkat pertama yang jauh di atas. Tapi, kali ini sepertinya sedikit
lebih baik dari biasanya, ya?”
“Tidak
ada kesalahan ceroboh. Tidak ada yang mengejutkan dengan skor rendah, jadi
semuanya berjalan dengan baik.”
Total
nilai kali ini sangat mendekati sempurna. Oleh karena
itu, aku sangat meragukan ada orang lain yang mendapatkan nilai lebih tinggi.
Secara
bertahap, siswa mulai kembali dari koridor. Tsuno, yang sebelumnya aku
kalahkan, melihatku duduk dan mengerutkan wajahnya sebelum berlalu tanpa
melakukan apa-apa. Kemudian, Shindo mendekati kami dengan lambat.
“Namaku
tidak ada di sana.”
“……Aku
tahu. Maksudku, bukannya kamu ada
nilai merah, jadi tidak mungkin tercantum…”
“Tapi,
nama Enami-san hampir saja terdaftar…”
“Eh?”
Setelah
mendengarkan dengan baik, ternyata nama Enami-san ada di urutan ke-100 dari 100
orang yang dipajang. Jujur saja, untuk masuk dalam 100 besar, nilai seseorang harus di atas rata-rata.
“Itulah
sebabnya ada beberapa suara terkejut di koridor. Sampai
baru-baru ini, orang-orang tahu bahwa Enami-san jarang masuk sekolah dan hasil
ujian yang buruk, jadi sepertinya ini mengejutkan.”
Begitu
rupanya. Mungkin reaksi Tsuno saat kembali juga mencakup
hal-hal seperti itu. Di belakangku, tidak ada sosok Enami-san. Dia mungkin
pergi melihat kemungkinan namanya terdaftar.
Saat
ujian tengah semester sebelumnya, dia bersikap acuh tak acuh, jadi ini adalah
perubahan besar.
“Ah,
Okusu-kun!”
Hanasaki
juga datang.
“Nee~nee!
Enami-san menkajubkan sekali!
Kurasa itu semua berkat cara mengajar
Okusu-kun?”
“Kami
baru saja membicarakan hal itu… Serius?”
Ternyata itu bukan lelucon dari Shindo.
Sebenarnya, aku tidak meragukannya.
Aku jadi penasaran apa yang
dipikirkan Enami-san saat melihat hasil itu?
“Ngomong-ngomong,
bagaimana denganmu, Hanasaki?”
“……Peringkat
ke-6. Sedikit turun dari sebelumnya…”
Meskipun
begitu, itu masih peringkat yang sangat tinggi bagi Saito dan Shindo. Mereka mencoba menghiburnya dengan, “Tidak perlu merasa murung hanya karena itu," atau
“Aku mungkin di peringkat bawah”.
Hanasaki
tampak bingung dengan reaksi itu, “I-Iya,” dan
menjawab dengan samar.
“Aku
penasaran apa aku bisa mendapat nilai yang lebih baik juga jika Okusu-kun yang mengajariku?
Tentu saja, ada usaha dari Enami-san sendiri, tetapi aku sering melihat
bagaimana baiknya cara mengajarmu.
Sebagai pengajar, apa itu membuatmu senang?”
“Yah, kalau dibilang senang sih, aku memang merasa senang.”
Sejujurnya,
ini lebih dari yang aku perkirakan. Meskipun aku tahu dia akan melampaui
rata-rata, kupikir nilainya hanya sedikit jauh lebih
baik.
“Meskipun
begitu, sepertinya kamu kelihatan tidak
terlalu senang."
“Apa iya…”
“Ya.
Aku tidak bisa mengatakannya dengan baik… Maaf.”
Aku
merasa sedikit bersalah karena membuat Hanasaki merasa tidak nyaman.
Tidak
diragukan lagi, ada perasaan senang dalam diriku. Aku merasa bangga telah
membantunya. Namun, lebih dari itu, aku
mulai kehilangan makna dari mengajar yang aku lakukan.
Apa Enami-san akan meningkatkan
nilainya dan menggunakannya untuk sesuatu? Apa dia berencana untuk melanjutkan
studi ke jenjang yang lebih tinggi?
Jika
tidak, apa ada gunanya
meningkatkan nilai?
Aku tidak
bisa mengatakan hal seteperti ini. Namun, ada sesuatu yang tidak
jelas dalam pikiranku.
“Mungkin
karena perasaan terkejutku lebih kuat dan berpikir rasanya luar biasa,”
“Benar.
Kurasa aku juga akan segera disalip dalam waktu dekat?”
Tentu
saja itu tidak mungkin. Mengejar nilai Hanasaki pasti sangat sulit.
Kerumunan
di koridor semakin berkurang. Dalam kesempatan ini, aku memutuskan untuk
memeriksa peringkat.
Aku
melangkah melewati siswa-siswa yang tersebar dan tiba di depan kertas besar. Enami-san dan Nishikawa juga
berdiri di dekat situ. Mereka sudah tidak
memperhatikan peringkat lagi dan sedang
membicarakan sesuatu.
“Ah,
Naocchi!”
Dengan
suara ceria, dia menyapaku.
“Lihat ini!
Risa-chan luar biasa, ‘kan?”
Di tempat
yang dia tunjuk, terlihat pemandangan yang sama seperti yang dikatakan Shindo
dan Hanasaki.
Peringkat
100: Enami-san Risa, 577 poin
──Ternyata
benar.
Aku
menghela napas dengan campuran berbagai emosi.
Aku
mengamati Enami-san. Dia juga melihat ke arahku dan kemudian memberikan
senyuman bangga padaku.
◇◇◇◇
Setelah
upacara penutupan, masa liburan musim dingin akhirnya dimulai.
Meskipun
sudah masuk liburan panjang, aku masih terbangun secara alami di pagi hari. Karena ini sudah menjadi kebiasaan.
Cara yang
paling efisien untuk menghindari kelelahan adalah dengan mengulangi pola hidup
yang sama setiap hari. Aku merasa ini sangat sehat.
Di pagi
hari saat libur, aku membiarkan diri untuk makan sesuka hati. Bisa memanggang
roti, atau jika tidak ingin makan, itu juga tidak masalah. Aku sendiri sering
kali tidak memiliki nafsu makan di pagi hari.
──Kurasa aku harus beristirahat sesekali…
Meskipun
ada lebih sedikit hal yang harus dilakukan dibandingkan biasanya, tapi masih banyak yang perlu
dikerjakan. Selain belajar, aku juga harus mencuci dan beres-beres setiap hari. Meski di hari
libur, aku meminta ayah atau Sayaka untuk membersihkan kamar mandi dan
lain-lain…
Aku
terkurung di dalam tempat tidur, bermain dengan smartphone.
Aku
melihat berita hari ini secara sekilas. Tidak ada kejadian besar, tetapi
tampaknya reptil besar yang melarikan diri tidak jauh dari sini sudah berhasil
ditangkap. Selain itu, tidak ada konten penting lainnya. Saat memeriksa ramalan
cuaca, hari ini sepertinya akan
mendung, tetapi tampaknya cuaca cerah akan berlanjut mulai besok.
Di luar
jendela, langitnya memang
terlihat mendung. Karena cuaca yang buruk bisa merepotkan, aku berharap ramalan
cuaca menjadi kenyataan.
“Fyuh.”
Aku
meletakkan smartphone-ku dan
merentangkan tangan dengan santai.
Waktunya masih sekitar jam 8 lebih. Tidur
lagi juga enak, atau berselancar di internet untuk menghabiskan waktu juga
tidak buruk.
Masih ada
sedikit waktu sebelum Natal. Meskipun begitu, aku berencana untuk mengikuti
kursus musim dingin mulai sedikit sebelum Natal. Durasi kursusnya adalah 5
hari, dan akan berlanjut hingga tanggal 26.
──Enaknya tidur lagi saja kali ya?
Ternyata
aku cukup lelah, meskipun aku sudah bangun, rasa kantuk masih tersisa.
Jadi, aku
memejamkan mataku lagi.
◇◇◇◇
Setelah
beberapa saat, aku terbangun dan melihat lampu pemanas di dekat
langit-langit.
Aku
bangkit dan memeriksa waktu di smartphone, sepertinya aku sudah tidur lebih
dari dua jam lagi.
──Ya
sudah, tidak apa-apa.
Istirahat
dengan baik saat ada kesempatan juga sama
pentingnya.
Aku
meregangkan tubuhku. Oh, aku
ingat ada buku yang dipinjam dari Hanasaki yang belum aku baca. Aku merasa
menyesal karena seharusnya sudah membacanya dan mengembalikannya sebelum
liburan musim dingin, tetapi aku mengambil novel itu dari rak buku di kamar dan
kembali ke tempat tidur.
Aku mulai
membalik halaman sambil menyandarkan
kepalaku tempat tidur. Isinya adalah
misteri yang serius. Ini adalah seri terkenal tentang detektif yang
pemikirannya agak aneh yang menyelidiki kasus yang sedikit grotesque.
Setelah
membaca sekitar 20 halaman, ada ketukan di pintu.
“Aniki,
apa kamu ada waktu sekarang?”
“Eh?
Ah, ya, tidak apa-apa…”
Setelah
menjawab, aku menutup novel dan meletakkannya di atas tempat tidur sebelum
membuka pintu.
Di sana, aku melihat Sayaka yang
telah berganti dari piyama ke pakaian rumah. Sepertinya dia masih sedikit
mengantuk karena bermain game hingga larut malam kemarin.
“Ada
laba-laba aneh di kamar… Tolong ambilkan.”
Dia
menghela napas. Sayaka tidak terlalu suka serangga.
“Baiklah,
baiklah. Memangnya sebesar
itu?”
“Umm,
tidak juga.”
Ketika
aku masuk ke dalam kamar Sayaka,
keadaan kamarnya memang
terlihat berantakan. Jika tidak dibersihkan sesekali, pasti akan langsung
seperti ini, jadi ini memang tidak bisa dihindari.
“Di sebelah
mana?”
Kemudian Sayaka
menunjuk ke arah dinding
belakang. Segera, targetnya ditemukan. Laba-laba itu tidak bergerak dan
menempel di dinding. Ukurannya sekitar 1 cm, jadi tidak menimbulkan rasa takut.
Aku mengambil selembar tisu dan dengan cepat menangkapnya, lalu memencetnya
dengan tangan.
“Hebat!”
“Kamu tahu, ini semua karena kamu tidak
membersihkan dengan baik. Di dalam kamarmu ada banyak
barang yang berserakan. Aku yakin kalau kecoa juga akan muncul.”
“Jangan
bicara yang aneh-aneh.
Kalau sudah diambil, cepat keluar!”
Aku
didorong keluar dari kamar dan segera dikeluarkan. Ini sudah menjadi kejadian biasa.
Aku
membuang tisu yang berisi bangkai laba-laba ke tempat sampah di lantai satu dan
kembali ke kamarku.
Ketika
aku mengangkat novel yang masih terbuka di atas tempat tidur, smartphone di
sampingku menunjukkan notifikasi pesan masuk.
──Siapa?
Ketika
aku membuka layar, ada pesan dari Enami-san.
Risa:
Hei, apa kamu akan mengikuti kursus musim dingin?
Aku
terkejut. Bukan hanya karena pesan itu, tetapi juga karena isinya.
Dia
benar-benar tidak bisa dibaca…
Untuk
berjaga-jaga, aku membalas dengan jujur. Segera setelah itu,
tanda sudah dibaca muncul dan balasan pun datang.
Risa: Apa
kamu sudah mendaftar? Kira-kira kalau sekarang
masih bisa
sempat mendaftar enggak ya?
Okusu Naoya:
Tunggu sebentar. Maksudmu, apa kamu berniat mendaftar hal yang sama denganku?
Risa:
Ya.
Aku dengan
terpaksa mencari informasi untuknya.
“Eh?”
Ternyata
batas pendaftarannya adalah
hari ini. Maksudku, sampai jam 12 hari ini. Setelah aku buru-buru memberitahunya, Enami-san
membalas.
Risa:
Senang aku bertanya padamu.
Aku akan segera mendaftar.
Dia
serius… Aku tidak bisa membayangkan mengikuti kursus musim dingin bersama Enami-san.
Sayangnya, kursus musim dingin ini
bisa diikuti oleh orang-orang yang biasanya tidak bersekolah di sini. Mungkin
dia akan mendaftar di cabang yang sama, jadi sulit untuk menghindarinya
sekarang.
Okusu Naoya:
Kenapa kamu tiba-tiba
ingin ikut kursus musim dingin?
Aku tidak
mengerti. Lagipula, kenapa dia perlu mengikuti kursus yang sama denganku?
Risa:
Entahlah?
…Sudah kuduga bakalan begitu
alasannya.
Kursus
yang aku ambil ditujukan untuk ujian tahun depan. Jika dia serius mengikuti
kursus ini, itu berarti Enami-san juga akan ikut ujian tahun depan. Mungkin dia
hanya melihat kursus sebagai tujuan tanpa memikirkan lebih dalam.
Risa:
Tidak juga?
Okusu Naoya:
Bukan itu maksudku. Hanya saja, aku tidak menyangka.
Dia
bilang akan mendaftar untuk kursus yang sama, tetapi tidak memberitahu
alasannya. Dia juga tidak berbagi tentang apa yang ingin dia lakukan di masa
depan. Dia hanya bergerak berdasarkan keinginannya sendiri dan tidak berusaha
berbagi sesuatu dengan orang lain.
Mungkin
ada alasan di balik itu, tetapi saat ini aku hanya bisa menerima apa yang
terjadi di depanku.
Pesan
terputus di situ, tetapi setelah sekitar 5 menit, smartphone-ku bergetar lagi.
Risa: Aku
sudah mendaftar. Eh, ternyata mahal juga ya.
Okusu Naoya:
Lalu, memangnya dikira biayanya berapa?
Risa:
Beberapa ribu yen atau semacamnya.
Okusu Naoya:
Sepertinya tidak ada yang seharga itu.
Meskipun
begitu, dia tampak cukup mampu secara finansial untuk mengeluarkan uang dengan
mudah.
Risa:
Bagaimanapun juga,
terima kasih ya. Aku tidak tahu harus memilih yang mana, tapi kalau itu
pilihanmu, sepertinya tidak akan salah.
Okusu Naoya:
Jujur saja, aku juga tidak begitu paham…
Bukannya aku
tipe yang sering pergi ke bimbingan belajar secara rutin.
Jadi, tentu saja aku tidak tahu banyak tentang situasi bimbingan belajar, aku
hanya mencari informasi secara online dan mendaftar.
Aku juga
tidak yakin apakah kursus ini cocok untuk Enami-san.
Okusu Naoya:
Apa kamu sedang berpikir untuk pergi ke bimbingan belajar?
Risa:
Tidak juga?
Okusu Naoya:
Jika kamu memang sedang
memikirkannya, lebih baik kamu mencari tahu sendiri. Mungkin Nishikawa tahu
banyak.
Risa:
Entahlah. Aku jarang membahas hal seperti itu.
Setidaknya,
sepertinya Enami-san tidak akan memulai topik seperti itu. Karena itu, kejadian
kali ini terasa seperti petir di siang bolong.
Risa: Hanya itu saja urusanku. Terima kasih.
Okusu Naoya:
Ya.
Dengan
itu, percakapan pesan berakhir. Hanya pertukaran pesan yang dingin tanpa stiker
atau emoji. Aku pikir ini juga mencerminkan diri kami.
Aku
meletakkan smartphone dan kali ini mengambil novel. Aku sudah benar-benar
terbangun. Masih ada sedikit waktu sebelum makan siang. Halaman novel masih
banyak yang tersisa, tetapi ada buku lain yang ingin kubaca, jadi aku ingin
membaca ketika ada kesempatan.
Aku
berpikir untuk melanjutkan membaca novel sebelum mempersiapkan makan siang,
lalu aku menundukkan pandangan pada halaman.
◇◇◇◇
“Di
mana celanaku, Naoya?”
“Sudah
aku taruh di rak depan wastafel.”
“Eh?
Tapi… Ah, tidak, ada di bagian belakang.”
Malam.
Setelah selesai makan malam dan mencuci
semua peralatan makan, ayahku yang telanjang bulat
keluar sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk, jadi aku menjawabnya.
“Ya ampun,
tolong keringkan tubuhmu dengan baik sebelum keluar. Lantainya jadi basah.”
“Santai
saja~ santai saja.”
Ayahku
yang sudah mengenakan celana itu masuk ke ruang tamu. Sayaka yang sedang berbaring di sofa
meringis jijik.
“Jijik,
minggir!”
“Ayah
nanti bisa sakit kalau tidak pakai baju.”
“Kalian
berdua terlalu berisik. Terserah aku untuk melakukan apapun yang aku mau.”
Ia
berkata sambil melintasi ruang tamu dan mengambil kaleng bir dari lemari es. Ia menarik tutupnya, membuat suara
‘kashu’, lalu meneguknya.
“Puhaa,
meminun bir setelah mandi memang enak.”
Ngomong-ngomong,
ayahku juga akan segera masuk libur Tahun Baru. Namun, berbeda dengan pelajar,
dirinya harus kembali bekerja di awal
Januari.
“Ah,
dingin ya.”
“Ya,
tentu saja. Meskipun pemanas menyala, ini musim dingin.”
Ayahku
cepat-cepat mengenakan baju dan celana. Akhir-akhir ini, perut buncit ayahku semakin terlihat. Ia tidak berolahraga, jadi itu
adalah konsekuensi yang wajar.
Ia
duduk bersila di samping sofa. Ketika ayahku menyalakan TV dengan remote,
sebuah acara kuis yang tidak terlalu jelas mulai ditayangkan.
Ayahku
berkata,
“Aku
sudah jarang merawat taman…”
Sepertinya
ia tidak melihat TV dan lebih memperhatikan ke luar ruang tamu. Taman kami
tidak terlalu besar. Namun, sebelumnya ada banyak pot yang diletakkan di sana,
dengan berbagai tanaman yang ditanam.
Sekarang
sudah tidak ada, tetapi dulunya ada bunga Sakura
dan Cosmos yang bermekaran dengan indah, serta terong yang
berbuah. Saat ini, pot-potan itu terbalik dan dibiarkan di sudut taman.
Karena
tidak ada lagi yang merawatnya.
Kadang-kadang
kami mencabut rumput liar, tetapi tidak lebih dari itu.
Tidak ada
dari kami yang benar-benar menggunakan taman.
“Tapi,
menanam sesuatu juga merepotkan. Aku juga sudah cukup sibuk.”
“Aku
juga tidak punya keinginan khusus. Aku benci serangga.”
Sayaka juga mengatakannya sambil
menguap.
Sebenarnya,
ayahku adalah orang yang paling malas di rumah ini, jadi mana mungkin ia bisa merawat taman
dengan baik. Ketika aku mengatakannya, ayahku tampak lesu.
“Ya,
memang begitu, tapi rasanya sangat disayangkan.”
Mungkin
dia sedang mabuk. Ayahku memang tidak kuat minum. Pemandangan yang terlihat melalui
jendela terasa sepi.
“Aku
tidak ingin melakukannya sekarang, tapi mungkin sedikit-sedikit bisa dilakukan.
Bunga untuk diletakkan di makam mungkin bisa dipetik dari sini.”
“Seperti
biasa, kamu memang pintar.”
“Namun,
jika kita melakukannya, ayah dan Sayaka
juga harus membantu dengan baik. Tidak baik jika semua dikerjakan olehku. Selain itu, ayah, kenapa kamu tidak
membersihkan kamar mandi hari ini?”
“Uh,
aku lupa!”
Karena
itu, aku terpaksa buru-buru membersihkan sebelum memanaskan air mandi. Inilah
sebabnya aku tidak bisa sepenuhnya mempercayakan hal-hal ini padanya...
“Tolong
lakukan besok ya. Sebagai gantinya, Sayaka tidak perlu melakukan apa-apa
besok."
“Eh,
serius? Asyik~!”
Ayahku
tampak kecewa. Wajahnya kemerahan karena alkohol.
“Ngomong-ngomong,
birnya hanya satu botol. Karena kamu lemah, tahan saja."
“Ya,
ya.”
Jika dia
berada dalam keadaan mabuk dan melakukan sesuatu yang salah, aku yang harus
mengurusnya. Aku tidak ingin menambah pekerjaan lebih banyak.
Setelah
itu, aku memberitahu ayah untuk “jangan
tidur di ruang tamu” dan “jangan ngemil,” lalu aku naik tangga dan kembali
ke kamarku.
◇◇◇◇
“Mulai
hari ini, ya?”
22
Desember. Aku sudah tiba di depan gedung bimbingan belajar yang terletak
satu stasiun jauhnya.
Aku bisa
melihat sosok-sosok siswa SMA yang mungkin juga datang untuk mengikuti kursus
musim dingin. Di pintu masuk, ada kertas besar yang bertuliskan ‘Kursus Persiapan Terakhir &
Kursus Musim Dingin Sedang Berlangsung’.
Bersamaan dengan musim ujian yang semakin
dekat, tulisan ‘kursus
persiapan terakhir’ sangat
ditekankan.
Karena
aku bukan siswa bimbingan belajar, aku jarang datang ke sini. Mengeluarkan
tiket kursus dari tas, aku melangkah masuk dengan sedikit rasa gugup.
Mengikuti
petunjuk pada tiket, aku naik lift dan tiba di ruang kelas yang dituju.
Karena
ini bukan kelas yang sangat populer, tidak banyak orang di dalam ruangan. Jika
penuh, mungkin bisa menampung sekitar 100 orang, tetapi hanya sekitar 20 orang
yang duduk. Selain itu, penempatan kursinya
juga acak, jadi ada banyak
yang sengaja duduk di belakang.
Setelah
mengambil satu selembaran yang diletakkan di depan, aku
duduk di kursi sedikit di depan tengah. Masih ada sekitar 20 menit sebelum
kelas dimulai. Aku mengeluarkan teks yang sudah dibagikan sebelumnya dan mulai
membolak-bolak halamannya sambil menunggu.
…Sekitar
10 menit kemudian.
Tiba-tiba,
suasana di dalam kelas menjadi ramai.
Sambil
membaca teks, aku mendengar suara-suara ini.
(Siapa gadis itu?)
(Artis?)
(Aku
terkejut.)
Tanpa
harus mengangkat wajah, aku bisa memahami apa yang terjadi.
──Inilah
sebabnya, aku tidak menyukainya…
Jumlah
peserta kursus sudah mulai meningkat. Mungkin sudah bertambah sekitar 10 orang
dari sebelumnya. Di antara mereka, ada yang datang tidak sendiri, tetapi
berkelompok. Mungkin mereka sedang berbicara satu sama lain.
Saat
berpura-pura tidak menyadarinya,
aku bisa merasakan langkah kaki yang mendekat. Langkah itu berhenti tepat di
depanku.
Aku
mengangkat wajahku dengan terpaksa.
Di sana ada sosok yang sudah bisa kutebak.
“Hai.”
Enami-san.
Dia mengenakan baju rajutan
hitam dan rok panjang. Akku tidak
bisa menggambarkannya dengan baik, tapi memang
dia terlihat lebih dewasa dibandingkan siswa lainnya...
“Jangan
menatapku seperti itu.”
“Aku
tidak menatap.”
“Hmm.”
Enami-san
melewati belakangku dan duduk di kursi sebelah. Saat itu, aku mendengar suara
samar, “Cih, dia pacarnya?” “Oh,
iya iya”. Aku merasa ingin mati.
Aku dan Enami-san
menyusun teks dan alat tulis di atas meja.
“Kamu
duduk cukup jauh di depan,
ya?”
“Masa?
Sejujurnya, jika duduk terlalu jauh di belakang, aku
jadi kesulitan untuk melihat ke depan.”
Enami-san
berbicara dengan suara pelan. Berkat
itu, sepertinya percakapan kami tidak terdengar.
“Enami-san,
apa kamu pernah mengikuti kursus seperti ini?”
“Tidak
juga. Setidaknya, sejak masuk SMA,
aku belum pernah sekali pun.”
“Aku
juga jarang mengikuti, jadi tidak bisa bilang dengan pasti. Tapi, di kelas
seperti ini, ada guru yang bagus dan ada yang tidak, dan jika duduk terlalu
jauh di belakang, seseorang bisa
jadi target perhatian. Aku tidak pernah jadi target, tapi setelah tahu ada guru
yang seperti itu, aku berusaha duduk di posisi yang pas.”
“Posisi
yang pas?”
“Jika
terlalu depan juga tidak baik. Kamu
juga bisa menjadi
target jika duduk terlalu depan. Lebih
baik berada di tempat yang tidak mencolok.”
Saat aku
mengatakan itu, aku merasa putus asa.
Mana mungkin kami tidak mencolok. Karena orang
yang duduk di sampingku adalah dia, jadi mau
bagaimana lagi.
“Target,
ya. Memangnya ada orang aneh seperti itu?”
“Sejauh
yang aku tahu, ada. Terutama orang yang di pertemuan pertama mengkritik siswa
dengan keras, membuat mereka merasa tidak nyaman, lalu berkata, 'Ikuti aku,
semuanya akan teratasi,' mirip seperti
mencuci otak. Anehnya, orang-orang seperti itu sering kali menjadi guru
populer.”
Sebaliknya,
aku tidak menyukai guru yang seperti itu, jadi aku berusaha
untuk tidak mengikuti kelas yang terlalu populer. Selain itu, aku juga
memeriksa reputasi guru di internet sebelumnya dan memilih orang yang terlihat
aman.
“Yah,
jika ada guru yang melakukan hal seperti itu padaku, aku justru ingin
melihatnya.”
Enami-san
tersenyum menyeringai. Bahkan
guru di sekolah kami pun kesulitan menghadapi siswa seperti itu, jadi tidak
mungkin guru bimbingan belajar yang baru kenal bisa mengatasinya.
"Pastinya,
jika dia merusak kelas bimbingan, itu akan jadi masalah. Lagipula, sepertinya
guru kali ini terlihat tenang, jadi kurasa tidak masalah.”
“Tidak
menarik...”
Aku jadi
penasaran untuk apa dia datang ke sini? Karena penasaran, aku bertanya.
“Ngomong-ngomong,
apa kamu sudah belajar sebelumnya?”
Enami-san
menunjukkan ekspresi bingung dan mengulangi dengan nada seolah baru belajar
bahasa Jepang, “Belajar...?”
“...Ehmm, saat materi dibagikan, di sana tertulis di penjelasan bahwa ada
jadwal pelajaran dan harus menyelesaikan semua contoh sebelum hari
sebelumnya...”
“Eh?
Aku hanya mengambil materi dan membuang semuanya.”
“...Begitu
ya.”
Mengingat
kepribadian Enami-san, hal semacam itu sangat mungkin
terjadi. Aku merasa bersyukur tidak membiarkan orang seperti bom waktu ini
sendirian.
“Pinjam sini.”
“Yang
ini?”
“Bukan
itu. Yang satunya lagi.”
Aku
dengan paksa mengambil teksnya dan menjelaskan kembali. Aku memberitahunya
tentang ruang lingkup pelajaran hari ini dan bagian yang sebenarnya harus
dipelajari sebelumnya.
“Bukannya
itu mustahi kalau mulai dari
sekarang?”
Saat
melihat jam di depan, waktunya memang tersisa
lima menit lagi sebelum
kelas dimulai.
“Memang,
aku juga butuh waktu sekitar 10 menit. Ah, sudah lah.”
Aku
mengambil pensil mekanik dan menyalin jawaban yang kutulis di teksku. Karena
banyak soal simbol, menyalinnya tidak memakan waktu lama. Setelah selesai
menyalin, aku mengembalikan teks itu kepada Enami-san.
“Setelah
hari ini, kerjakan sendiri, ya.”
“……”
Enami-san
menerima teks itu dengan ekspresi seolah-olah terkejut. Dia melihat
halaman-halaman yang aku salin dengan cepat.
“……Ada
apa?”
Karena
keheningan yang berlangsung, aku merasa cemas. Enami-san segera menjawab dengan suara kecil.
“Terima
kasih.”
Kata-katanya
hampir tertutupi oleh bunyi bel yang menandakan kelas dimulai. Suara siswa yang
sedang berbicara menjadi hening, dan pintu paling depan terbuka perlahan.
Guru yang
masuk terlihat tenang, jadi aku merasa lega.
◇◇◇◇
Bel yang
menandakan jadwal bimbel selesai
terdengar dari speaker.
Guru yang
suaranya juga tenang membuatku sedikit mengantuk. Di papan tulis di depan,
huruf-huruf berjejer rapat.
Setelah
guru tersebut pergi, para siswa mulai bersiap
untuk pulang.
Enami-san
yang duduk di sampingku sepertinya serius mendengarkan pelajaran. Dia tampaknya
belum selesai menyalin catatan dan masih menggerakkan pulpennya.
“Terlalu
banyak yang ditulis di papan...”
Aku juga
sepakat dengannya. Namun, jika tidak terlalu memperhatikan
tulisan, tidak akan terlalu sulit. Akhirnya,
setelah selesai menulis, Enami-san meletakkan pen dan menghela napas.
“Kerja
bagus.”
Di depan
kelas ada seorang tutor muda. Setelah memastikan Enami-san selesai, dia mulai
menghapus papan tulis. Suara penghapus papan yang bergesekan terdengar.
Aku
mengangkat tas dan berdiri. Menunggu Enami-san menyelesaikan pekerjaannya.
“Sudah
kuduga, itu keputusan yang tepat.”
Saat itu,
Enami-san mengeluarkan kata-kata itu. Aku merasa
bingung karena tidak mengerti maksudnya, dan saat itu Enami-san
mengangkat pandangannya dan melihatku.
“Maksudku,
bersama denganmu di kursus ini.”
“Ah...”
Mungkin maksdunya dia merassa puas dengan isi pelajaran.
Namun, Enami-san, seolah-olah membaca pikiranku, menggelengkan kepala dan
berkata, “Bukan itu
maksudnya.”
“Ketika
aku mengikuti kursus seperti
ini, ada kemungkinan besar akan ada masalah. Misalnya saja, seseorang yang tidak dikenal berusaha merayuku.
Tapi, karena kamu ada di sini, tidak ada yang berani melakukan apa-apa, ‘kan? Itu sangat membantu.”
Satu-satunya yang tersisa di dalam kelas
hanyalah kami berdua dan tutor. Karena ada kelas berikutnya, aku pikir
orang-orang akan segera masuk lagi.
“Jadi
itu maksudnya. Aku mengira──”
“Mengira?”
“Aku
mengira kalau kamu membutuhkan bantuan
saat mengalami kesulitan.”
Kemudian Enami-san
membuka matanya lebar-lebar, lalu tertawa kecil dengan suara yang lembut.
Apa yang
ada di atas meja sudah dibereskan, dan sepertinya Enami-san juga sudah siap
untuk pulang.
“Yuk,
kita pergi.”
Enami-san
berdiri dan mengatakan itu padaku.
Enami-san
dan aku tidak mendaftar untuk kursus lain. Jadi, kami menekan tombol lift untuk
keluar dari gedung bimbingan
belajar.
Lift
akhirnya tiba beberapa detik kemudian, dan setelah suara
elektronik yang ringan, pintunya
terbuka.
Saat aku hendak masuk ke dalamnya, aku terkejut dan
terdiam.
“Ada
apa?”
Aku bisa
mendengar suara Enami-san dari belakang, tetapi aku tidak
bisa menanggapinya.
Kakiku
yang ingin melangkah terhenti dalam posisi setengah.
Orang di
dalam lift menatapku dengan ekspresi bingung, mengangkat pandangan mereka ke
wajahku, dan juga terkejut.
“O...kusu-kun?”
“Hanasaki?”
Di dalam
lift itu ada Hanasaki. Dan bukan hanya
Hanasaki saja. Di belakang Hanasaki, ada seorang
gadis dengan warna rambut yang terang. Gadis itu juga menyadari dan mengangkat
wajahnya.
“Naocchi?”
...Ya,
itu Nishikawa.
Sepertinya
mereka merasa tidak nyaman untuk berbicara di situasi seperti ini, jadi
Hanasaki dan Nishikawa keluar dari lift. Lift yang seharusnya mengangkut kami
menutup pintunya dan melanjutkan perjalanan.
Di ruang
lift yang sepi, empat orang berkumpul.
Aku, Enami-san,
Hanasaki, dan Nishikawa.
Karena
kejadian mendadak ini, aku tidak bisa berkata-kata.
Orang
pertama yang berbicara adalah Enami-san.
“──Nishikawa,
jadi itulah yang kamu maksud ada
urusan.”
“Ah~
begitulah. Tapi, aku tidak menyangka
Risa-chan juga ikut kursus. Kupikir kamu
pasti tidak akan datang meskipun diajak, jadi aku tidak memberitahumu...”
Dari
situ, sepertinya Nishikawa juga berusaha
mengajaknya untuk mengikuti kursus.
Orang
berikutnya yang berbicara adalah Hanasaki.
“O-Okusu-kun
juga ada di sini. Kamu ambil pelajaran bahasa Inggris?”
“Ya.
Kamu sendiri? Apa berarti kamu selesai pada waktu yang sama?”
“Aku
dan Nishikawa-san mengambil pelajaran matematika di lantai satu.”
Walaupun dia sedang berbicara denganku, Hanasaki
tampak sering memperhatikan Enami-san. Aku berkata,
“Enami-san
juga mengikuti pelajaran yang sama denganku. Jadi, kami pulang bersama.”
“…Jadi, begitu ya.”
Setelah
itu, kami berempat terdiam sejenak.
Matahari perlahan-lahan mulai terbenam, dan cahaya yang masuk melalui
jendela semakin kemerahan. Suara langkah kaki dari peserta kursus lain
terdengar dari arah koridor.
Aku tidak
tahan dengan suasana aneh itu, jadi aku meletakkan satu tangan di kepala dan
mengalihkan pandangan ke arah lain.
◇◇◇◇
Suasananya begitu sunyi.
Aku bisa
mendengar bunyi cangkir dan piring yang bersentuhan. Ada beberapa pelanggan di dalam kafe, tetapi tidak ada suasana
ramai, hanya musik lembut yang mengalun.
Di atas
meja, ada minuman untuk empat orang. Enami-san duduk di sampingku, Hanasaki di
depanku, dan Nishikawa di depan sedikit miring.
“Hyaa~.
Bukan hanya Shio-chan, tapi bahkan
Naocchi dan Risa-chan juga ada di sini,”
Nishikawa
memecah keheningan.
Bukan
hanya Enami-san, Nishikawa dan Hanasaki juga mengenakan pakaian santai.
Nishikawa mengenakan sweater rajutan putih
dan rok high-waist. Hanasaki mengenakan gaun cami di atas atasan. Sementara
aku, hanya mengenakan sweater dan jeans yang sangat sederhana.
“Ya...”
Saat aku
melirik Enami-san, dia tampak menikmati kopi tanpa peduli.
Sebaliknya,
Hanasaki menatapku dengan serius.
“Aku
kadang-kadang bertemu Hanasaki. Rasanya jarang sekali waktu kita bertepatan.
Aku tidak pernah menyangka kita berempat berada di waktu yang sama, haha.”
Bahkan aku
sendiri tidak mengerti mengapa suaraku terdengar canggung. Meskipun situasinya
aneh, aku tidak melakukan kesalahan. Namun, saat seperti ini, aku tidak tahu
bagaimana harus bereaksi, dan semuanya terasa aneh.
Saat aku
bingung harus berbuat apa, Enami-san meletakkan cangkirnya. Secara alami,
tatapan ketiga orang lainnya tertuju padanya.
“Aku
yang memintanya.”
Sepertinya
dia akan menjelaskan dengan jujur. Aku merasa lega.
“Aku
tidak tahu harus mengambil apa, jadi kupikir lebih baik ikut bersama daripada
memilih sembarangan.”
“Lebih
tepatnya, Enami-san menyesuaikan dengan waktuku. Selain itu, sepertinya lebih
baik bersamaku agar tidak terlibat dengan hal-hal aneh.”
Nishikawa
dan Hanasaki tampak setuju setelah mendengar itu.
──Sampai
sekarang, memang begitu.
Pengunjung
di sekitar juga memperhatikan Enami-san. Mungkin bukan hanya Enami-san.
“Begitu
ya~”
Nishikawa
berkata sambil mengangguk besar. Tatapan Hanasaki juga tampak sedikit
melemah.
“Yang
lebih mengejutkan adalah Nishikawa dan Hanasaki bersama-sama. Baik aku maupun
Hanasaki tidak suka mengajak orang saat mengikuti kursus.”
“Ini
sepenuhnya kebetulan. Kan, Shio-chan?”
“Iya.”
Dari
pembicaraan mereka,
sepertinya mereka bertemu secara tidak sengaja di dalam kelas. Kursus yang
diikuti hari ini hanya satu stasiun dari stasiun terdekat sekolah. Oleh karena
itu, siswa dari sekolah kami juga mudah berkumpul di sana.
Sebenarnya,
ada siswa dari sekolah kami yang juga mengikuti kursus yang diikuti aku dan Enami-san. Namun, karena
kami tidak pernah berbicara banyak meskipun di tahun yang sama, tidak ada
percakapan khusus yang terjadi.
“Kalau
begitu, kebetulan yang bertemu adalah Nishikawa,
Hanasaki, dan aku, lalu Enami-san bergabung. Saat melihat di lift, aku sangat
terkejut.”
“Aku
juga. Sebenarnya aku sampai melihat
dua kali untuk memastikan.”
Pokoknya,
aku merasa senang karena tidak ada kesalahpahaman yang
aneh.
Akhirnya,
setelah itu, kami tidak bisa terus berada di ruang lift, jadi kami berempat
menuju kafe terdekat. Mengingat suasana canggung di antara kami membuatku
merinding lagi.
“Oh iya, ngomong-ngomong. Novel yang aku
pinjam dari Hanasaki. Aku akan mengembalikannya lain kali.”
“……Benar.
Aku juga lupa.”
“Aku
membacanya sebelum kursus dimulai. Seperti yang disarankan Hanasaki, itu sangat
menarik. Ternyata kamu juga membaca novel dengan suasana yang menyeramkan.”
“Agak
menakutkan, tapi alur ceritanya kuat dan karakternya bagus, jadi aku cukup
suka. Masih ada kelanjutannya, mau aku pinjamkan?”
“Serius?
Terima kasih. Itu sangat membantu.”
Karena
sudah ada kesempatan untuk bertemu seperti ini, mungkin aku juga akan
meminjamkan sesuatu. Setelah pulang, aku bisa mencari di rak buku.
Tiba-tiba,
aku merasakan tatapan dari sebelah kiri, dan ketika aku melihat ke arah itu, Enami-san
sedang menatapku tanpa ekspresi.
Namun,
dia tidak mengatakan apa-apa dan tetap diam, jadi aku memutuskan untuk tidak
membahasnya.
“Kesanku
setelah membaca semuanya merasa bahwa
akhir yang tidak memuaskan ternyata cukup bagus. Trik dari kejadian itu,
tentang mayat yang dibongkar, terasa cukup menakutkan.”
“Benar.
Tapi, karena alurnya masuk akal, jadi bisa diterima. Di bagian awal, ada
petunjuk di dekat perapian.”
“Ya,
benar. Besok, rencanamu masih tidak
berubah, ‘kan? Aku
akan membawanya besok.”
“Ya.
Aku juga akan membawanya.”
Saat aku mendiskusikan tentang novel dengan Hanasaki,
Nishikawa juga melihat kami dengan rasa ingin tahu. Kemudian, dia bersandar
pada pipinya dan berkata,
“Kalian
berdua ternyata lebih akrab dari yang kukira~”
“Karena kami
sudah saling mengenal
sejak kelas satu...”
Tahun
lalu dan tahun ini, kami menjadi anggota komite yang sama. Oleh karena itu, secara alami, kami
memiliki banyak kesempatan untuk berbicara.
“Tahun
lalu, aku dan Okusu-kun juga samapsama menjadi
anggota komite perpustakaan. Jadi, ketika kami tahu bahwa kami
sama-sama suka membaca novel, kami mulai meminjamkan buku satu sama lain.”
Rasanya
nostalgia. Kebetulan, kami memiliki hari
tugas yang sama. Dari situ, kami mulai berbicara sedikit demi sedikit.
Hanasaki
memiliki sifat yang baik sejak kelas satu,
sehingga mudah bagi orang seperti aku untuk berbicara dengannya. Meskipun ada
berbagai masalah, kami berhasil mengatasi semuanya dan membangun hubungan yang
akrab seperti sekarang.
Pada hari
hujan. Di pintu masuk yang sepi, Hanasaki berkata,
(…Aku ingat ada urusan yang harus kulakukan)
Tanah di
lapangan basah dan suara air yang menetes besar terus bergema.
Hanasaki
berdiri dengan lesu, suaranya bergetar, dan wajahnya tertutup oleh poni.
Bayangan
seukuran tubuhnya membentang dari kakinya──.
Aku masih
ingat dengan jelas saat itu.
“Lebih
jauh lagi, aku tidak menyangka kami akan berada di kelas yang sama dan menjadi perwakilan kelas bersama. Dalam hal
belajar, dia juga menjadi
rival yang baik, jadi kami sering memiliki kesempatan untuk berbicara.”
“Meski kamu
menyebutku sebagai rival, tapi aku sama sekali tidak
pernah bisa mengalahkan Okusu-kun...”
“Begitu
ya. Aku tidak tahu karena aku tidak sekelas dengan Shio-chan dan Naocchi.”
“Tahun
lalu, Nishikawa dan Enami-san sekelas, kan?”
Nishikawa
dan Enami-san saling memandang sebelum mengangguk.
Pada
tahun lalu, Enami-san sudah menjadi terkenal. Meskipun begitu, saat kelas satu, aku tidak pernah mendengar
bahwa dia tidak serius dan sering terlambat. Namun, penampilannya tidak
berubah, dan aku mendengar bahwa dia telah menarik perhatian banyak
laki-laki.
“Kalian
berdua sepertinya sudah bersama sejak saat itu.”
“Ya,
ya. Aku dan Risa-chan juga sudah berkenalan sejak kelas satu~”
Kemampuan
komunikasi Nishikawa sudah terlihat sejak saat itu.
“Risa-chan
sudah memiliki sifat seperti ini sejak kelas
satu, jadi sangat sulit untuk bisa berbicara dengan
baik.”
“…Aku
tidak ingat.”
“Betul, dari dulu selalu begini.”
Aku hanya
bisa tersenyum pahit. Jika Enami-san memiliki sifat seperti Nishikawa, itu jauh
lebih menakutkan.
“Jadi,
aku terkejut bahwa Naocchi bisa dengan mudah akrab dengan Risa-chan.
Sebenarnya, suasananya tidak seperti itu."
“Sudah
kuduga, sejak waktu itu.”
Hanasaki
berbisik.
Hanasaki
pasti juga menyaksikan itu. Dari sudut pandang siapa pun, tidak mungkin
berpikir bahwa situasi ini akan terjadi. Namun, kenyataannya, kami sudah
mengikuti kursus musim dingin bersama.
Meskipun
begitu, masih ada banyak
misteri tentang Enami-san.
“Kira-kira,
apa ada sesuatu yang kamu sukai dari
Naocchi?"
“Tidak juga... Dia terlihat sangat putus
asa. Sama seperti Nishikawa.”
Enami-san
menyeruput kopi sambil mengalihkan pandangannya. Setelah beberapa saat, Enami-san
meletakkan cangkirnya dan menyilangkan tangan.
“Lagipula,
tidak ada yang perlu disukai. Aku bukan orang yang berpikiran sempi, hanya saja ada banyak hal yang menjengkelkan di dunia ini.”
“Bukan orang
yang berpikiran sempit...?”
“Ya.”
“Serius?”
“Dasar kurang
ajar.”
Meskipun
nada bicaranya seperti itu, Enami-san tidak terlihat marah padaku. Nishikawa
juga tampak terkejut seperti aku.
“Kalau
begitu, bagaimana kalau kamu menjadi lebih
akrab dengan Hanasaki?”
Saat aku
mengatakan itu, bahu Hanasaki
tersentak karena terkejut.
Meskipun dia sedikit takut pada Enami-san, Hanasaki bukan tipe orang yang
dibenci orang lain.
“…Itu...”
“Itu?”
“Aku
akan berusaha. Maksudku, itu bukan urusan yang perlu kamu campuri.”
Mungkin Enami-san
juga merasa kesulitan untuk mengukur jarak. Hanasaki merasa
sedikit lega dengan kata-kata Enami-san.
“Ini
bukan salah Shio-chan, ya~. Aku juga sangat kesulitan, karena tingkat kesulitan
Risa-chan sangat tinggi.”
“U-uh,
ya. Tapi, aku juga ingin akrab dengan Enami-san, jadi aku selalu menyambut
baik.”
Sepertinya
Enami-san tidak ingin bersikap dingin pada Hanasaki. Dia mengangguk kecil
dengan tampak canggung pada kata-kata Hanasaki.
“Tap rasanya lebih menyenangkan jika kita berempat berkumpul seperti ini daripada
hanya mengikuti kursus musim dingin biasa. Dalam hal itu, ini bagus.”
Nishikawa
berkata sambil tersenyum. Aku juga setuju dengan itu.
◇◇◇◇
Keesokan
harinya.
Aku pergi mengunjungi lembaga
bimbingan belajar seperti kemarin. Dan, seperti sebelumnya, Enami-san masuk ke
kelas sekitar sepuluh menit lebih awal.
“Apa
kamu sudah belajar dengan baik hari ini?”
Saat aku
bertanya, Enami-san menjawab, “Tentu
saja.”
Ketika
aku melihat teksnya, sepertinya dia telah menyelesaikan soal-soal seperti yang
kukatakan.
“Tidak,
karena ini mengenau Enami-san, aku berpikir
kemungkinan 'aku lupa' mungkin ada. Ngomong-ngomong, soal ini dan ini,
mungkin salah.”
“Eh?
Bukannya kamu yang salah?”
“Aku
rasa aku benar.”
Ketika
aku menjelaskan alasanku, Enami-san segera setuju. Soal itu berdasarkan materi
pelajaran kemarin, tetapi ada sedikit jebakan di dalamnya.
“Sepertinya
lebih cepat jika aku memintamu
mengajarkan itu nanti daripada datang ke sini.”
“Jangan
bilang begitu. Sepertinya yang lain sudah benar, jadi tidak masalah.”
Sedikit
demi sedikit, Enami-san juga mulai belajar. Dari apa yang kulihat kemarin, dia
adalah guru yang tenang, tetapi sepertinya dia kadang-kadang bertanya kepada
siswa tentang jawaban soal. Aku berharap dia bisa mengatasi semuanya sendiri ke
depannya.
“Enami-san,
apa kamu merasa mengantuk?”
Dia
terlihat kurang bersemangat dibandingkan kemarin. Enami-san menjawab, “Ya.”
“Sepertinya
tidak butuh waktu lama untuk mengerjakan soal kuis
itu, ‘kan? Apa
kamu bekerja paruh waktu?”
“Ya.
Karena aku ingin menabung uang.”
“Apa itu untuk mendapatkan SIM? Tapi,
kenapa kamu terburu-buru?”
Namun,
tiba-tiba Enami-san menjadi ragu untuk menjawab. Dia hanya menjawab “Entahlah” seperti sebelumnya.
"…Terlalu rahasia banget.”
“Yang
namanya uang tidak pernah cukup, iya ‘kan? Daripada menghabiskan waktu
dengan sia-sia, lebih baik kerja paruh waktu dan mendapatkan uang.”
Liburan
musim dingin memang waktu yang tepat untuk menghasilkan uang. Mungkin
sebenarnya dia ingin menggunakan waktu kursus musim dingin untuk bekerja.
“Tapi,
jangan sampai ketiduran di kelas. Itu jauh lebih
mencolok daripada di sekolah.”
“Aku
tahu.”
Apa dia
benar-benar memahaminya? Melihat
Enami-san yang tampak hampir tertidur membuatku khawatir.
Dan,
firasat buruk itu menjadi kenyataan.
“──Jadi,
dalam hal ini, 'on' adalah preposisi yang tepat. Awalnya, gambaran dari
preposisi 'on' adalah…”
Suara tenang
dari depan bisa terdengar.
Sejak kemarin, aku merasa suara itu bisa membuatku mengantuk, dan sekarang
dengan berkurangnya ketegangan hari pertama, perasaan itu semakin kuat. Materi
pelajarannya cukup padat dan
menarik, tetapi jika aku lengah, aku juga bisa terbawa suasana.
“Jika
kamu sudah memahaminya sampai sini, halaman ini sudah selesai. Mari kita lanjut
ke halaman berikutnya──”
Suara
serentak saat membalik halaman terdengar. Aku pun ikut membalik halaman dan
menyadari sesuatu.
Di
sebelahku terasa sangat sunyi.
Aku menoleh
dengan hati-hati, dan seperti yang kuduga, Enami-san sudah
terkantuk-kantuk. Dia memegang pensil mekanik dengan cekatan, sementara
kepalanya bergerak maju mundur.
Aku
segera menepuk bahunya untuk membangunkannya, dan dia mengangkat pandangannya
seolah mengerti, lalu terlambat membalik halaman. Dia menggosok bawah matanya
dan meluruskan punggungnya. Dia berusaha mencatat dengan baik sambil mencoba
berkonsentrasi pada pelajaran.
“…Apa
kamu baik-baik saja?”
Saat aku
berbicara pelan dengannya,
Enami-san mengangguk dan menjawab, “Aku baik-baik saja.”
Namun,
keadaan itu tidak bertahan lama. Dalam waktu lima menit, tubuh Enami-san mulai
goyang lagi. Dia berusaha untuk tetap terjaga, tetapi itu hanya masalah
waktu.
Saat itu,
pensil mekanik yang dipegang Enami-san hampir terjatuh dari meja.
Aku
cepat-cepat mengambilnya, tetapi suara kursi dan meja yang bergesekan dengan
lantai membuat suara berisik.
Sedikit
perhatian tertuju padaku. Enami-san juga tampak khawatir.
“…Jangan
terlalu berisik. Nah, bagian ini sedikit sulit, tetapi seharusnya jika diterjemahkan
langsung akan memiliki arti seperti ini, tetapi untuk yang ini tidak akan
seperti itu──”
Beruntungnya,
dia melewatkannya.
Aku
memberikan pena itu kembali kepada Enami-san.
“Terima
kasih.”
Sepertinya
dia sudah terbangun, dan setelah itu Enami-san berhasil mengikuti pelajaran
tanpa melawan rasa kantuk. Saat bel tanda akhir pelajaran berbunyi, aku merasa
lega.
◇◇◇◇
“Jadi,
itulah yang terjadi.”
Dalam
perjalanan pulang. Setelah bertemu Nishikawa dan Hanasaki, kami membicarakan
kejadian hari ini. Enami-san mendengarkan dengan wajah yang tampak
canggung.
Nishikawa
berkata,
“Sepertinya
itu memang khas
Risa-chan banget. Yah, kurasa
tidak masalah kalau tidak terjadi apa-apa, kan?”
Besok
adalah tanggal 24. Malam Natal, jadi kota ini dipenuhi suasana Natal.
Toko-toko
di jalan utama dihias, dan orang-orang yang lewat tampak dalam suasana ceria.
Di depan stasiun, ada pohon Natal raksasa yang dihias. Karyawan yang mengenakan
kostum Sinterklas muncul di depan toko dan
membagikan brosur.
“Begitu,
tapi... Enami-san, di belakangmu."
“Eh?”
Di
belakang Enami-san yang tampak melamun, ada sebuah sepeda. Ketika Enami-san
menghindar, sepeda itu melintas begitu saja. Hanasaki juga terlihat
khawatir.
“Apa ada sesuatu yang terjadi, Enami-san...?”
Enami-san
menggelengkan kepala. Dia mengikat kembali syalnya yang terlepas.
“Ada
beberapa hal yang membuatku lelah. Tidak perlu khawatir. Setelah pulang, aku
akan beristirahat dengan baik...”
“Kalau
begitu, tidak masalah...”
Kelelahannya mungkin juga disebabkan oleh
keadaan keluarga. Itulah yang kupikirkan, tapi aku tidak bisa menggali lebih
dalam.
“Natal
ya~”
Nishikawa
terlihat senang sambil melihat sekeliling.
“Naocchi, apa kamu ada rencana?”
“Kalau
aku, ada banyak hal yang harus dilakukan di rumah. Kue sudah dipesan, jadi aku
berpikir untuk membeli ayam pada hari itu dan membuat beberapa hal lainnya.”
Aku sudah
meminta Sayaka untuk
mengambil kue yang dipesan, dan ayahku untuk berbelanja. Meskipun terdengar
merepotkan, sebenarnya aku juga menantikannya.
“Begitu
ya~. Naocchi memang hebat dalam hal
itu."
“Entah
kenapa aku merasa sedang tidak dipuji.”
Tentu
saja, aku mengerti bahwa pertanyaan Nishikawa mengarah pada hal yang lebih
menarik. Namun, karena itu tidak ada, aku tidak bisa memberikan jawaban
lain.
“Kalau Shio-chan?”
“Aku
juga mungkin mirip dengan Okusu-kun.
Sepertinya aku akan menghabiskan waktu
bersama keluargaku.”
“Eh?
Benarkah~?”
Hanasaki adalah gadis yang populer. Aku sangat mengetahui itu dengan baik.
Penampilannya
sempurna, dan yang terpenting, kepribadiannya ramah
dan mudah didekati. Aku mendengar bahwa dia pernah beberapa kali menerima
pengakuan cinta. Jadi, rasanya tidak
mengheran jika ada orang seperti itu.
Saat kami berjalan mendekati stasiun, suasana
semakin berkilau dan megah. Di atap dek, ada karangan bunga Natal yang
menggantung, dan lampu hias berwarna kuning melilit tiang-tiang. Di beberapa
tempat, warna-warna berubah setiap beberapa detik, menghiasi pemandangan kota
yang mulai gelap dengan cerah.
Hanasaki
yang berjalan di sampingku tersenyum canggung kepada Nishikawa, lalu secara
tiba-tiba bertemu pandang denganku dan segera mengalihkan tatapannya dengan
malu.
“Oh,
iya benar juga.”
Aku
mengacak-acak isian tasku dan
mengeluarkan sebuah buku. Aku menyerahkannya kepada Hanasaki.
“Aku
mau mengembalikan buku yang aku
pinjam. Terima kasih.”
“Ah,
maaf. Aku juga lupa.”
Hanasaki
juga memberikan buku volume berikutnya. Aku akan membacanya malam ini.
Setelah
menyimpan novel itu ke dalam tas, aku menyadari bahwa Enami-san, yang
seharusnya mengikuti di belakang, tidak ada di sana.
“...
eh?”
Nishikawa
dan Hanasaki tampaknya memahami situasi setelah melihat ekspresiku. Ketika aku
mundur sedikit, aku menemukan Enami-san berdiri terpaku di tengah dek,
sepertinya sedang menatap pemandangan di luar dek.
“...”
Cahaya buatan menerangi wajah Enami-san dari samping. Ekspresinya memiliki
aura misterius yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Aku juga mengikuti
tatapan Enami-san, tetapi tidak ada yang mencolok terlihat. Dia lebih terlihat
seperti merenung kosong daripada sedang melihat sesuatu.
Aku
bisa mendengar lagu Natal yang samar-samar dari
jauh. Mungkin dari bawah dek. Meskipun dikelilingi
suasana meriah, dia tampak terbungkus dalam sesuatu yang berbeda, menyatu
dengan pemandangan yang suram.
Wajah Enami-san
perlahan-lahan berbalik ke arah kami saat mendengar langkah kaki kami.
Kemudian,
Enami-san menengok.
“Ada
apa?”
“Seharusnya itu yang menjadi pertanyaanku.”
Aku memberi
tahu bahwa aku kembali setelah menyadari dia tidak mengikuti. Enami-san
tersenyum dan berkata, “Maaf,
maaf,” lalu mulai berjalan bersama kami
lagi.
── Apa
yang terjadi?
Mungkin Enami-san
lebih lelah dari yang aku kira. Namun, dia kembali menjadi dirinya yang biasa,
dan kami segera naik kereta untuk pulang.
◇◇◇◇
Kursus
musim dingin hari berikutnya tidak jauh berbeda dari kemarin. Enami-san masih
tampak mengantuk. Sesekali, dia tampak melamun, dan aku khawatir dia akan
melakukan sesuatu selama pelajaran. Namun, mungkin dia lebih fokus daripada
kemarin, karena dia tidak menjatuhkan pulpen
atau menggerakkan tubuhnya.
Setelah bergabung
dengan Nishikawa dan Hanasaki, kami memulai perjalanan pulang. Karena hari ini
adalah malam Natal, sepertinya masing-masing memiliki rencana. Aku juga ingin
segera bersiap-siap, jadi aku pulang tanpa mampir ke mana-mana.
◇◇◇◇
“Yah, tolong ambilkan piring di sana. Untuk
tiga orang.”
“Oh,
paella nya kelihatan sangat lezat.
Hanya saja, rasanya lebih
baik jika udang sudah dikupas sebelumnya, itu sedikit disayangkan.”
“Ya,
seharusnya kamu bisa melakukannya sendiri.”
Aku
menyajikan paella di piring besar yang diletakkan di ruang masak, berusaha
untuk membaginya secara merata. Ini adalah karya andalanku yang dibuat dengan
bahan dasar seafood.
Ada
berbagai hidangan yang sudah
tersaji di atas meja makan. Ada
ayam panggang, salad empat warna, sup labu, dan lain-lain. Menu yang lebih
meriah dari biasanya membuat Sayaka juga bersemangat.
“Kelihatannya
sangat enak! Aniki, khusus hari ini saja aku akan memujimu.”
“Kamu
boleh mengunggahnya di Instagram dan memamerkannya.”
Sayaka
sedang mengambil foto hidangan dengan kamera ponselnya. Namun, sepertinya dia
tidak berniat mengunggahnya ke Instagram, dan dia berkata, “Jangan terlalu songong begitu.” Tapi, yang terpenting adalah dia
tampak puas.
“Baiklah.”
Aku
kembali menatap keseluruhan hidangan dengan seksama. Aku merasa semua usaha
yang kulakukan terbayar. Meskipun sudah agak larut, dengan hidangan sebanyak
ini, tidak ada yang bisa mengeluh. Aku juga mengambil ponsel dari kamar dan
mengambil foto. Kemudian, ayahku mengintip dari belakang dan dengan sengaja
menggunakan istilah gaul yang baru dia pelajari, “Keren banget, ya.”
“Sepertinya
aku juga akan mengunggahnya di Twitter kali ya.”
Ayahku
berkata begitu. Aku dan Sayaka hanya bisa menunjukkan ekspresi masam.
“Mengunggah
di Twitter? Akun yang menyebalkan itu?” “Tolong jangan.”
Setelah
menerima ‘serangan’ semacam itu, ayahku
menggaruk-garuk rambutnya yang di belakang dengan canggung.
“Menyebalkan?
Aku pikir itu akun yang keren dan menyenangkan.”
“Oh
ya, jika aku berbicara dari sudut pandang orang muda saat ini, rasanya mirip seperti om-om tua yang berusaha
keras dan malah jadi konyol.”
“Benarkah...?”
Ayahku
tampak terkejut. Namun, memberi nasihat seperti ini tidak akan banyak mengubah
keadaan. Aku pernah mengatakan hal serupa di masa lalu, tetapi tidak ada yang
berubah.
Saat aku
bingung, tiba-tiba ayahku mengangkat wajahnya dan berkata.
“Yah,
tidak apa-apa. Lebih baik kita ambil foto kenang-kenangan.”
“Foto
kenangan?”
“Benar.
Jika kita tidak mengabadikan momen seperti ini, kita mungkin akan menyesal.”
“Sayaka,
kamu masih punya tongkat selfie?”
“Sebentar...”
Aku ingat
Sayaka membeli satu beberapa tahun yang lalu. Dia sendiri tidak terlalu peduli
dengan reaksi di media sosial, tetapi sepertinya dia membelinya untuk bergaul
dengan teman-temannya. Biasanya, dia hampir tidak pernah menggunakannya, dan alat itu cuma tersimpan
di dalam kamarnya.
Setelah
naik ke lantai dua, Sayaka kembali dengan tongkat selfie dan menyerahkannya
dengan tampang tidak suka.
“Apa
kita benar-benar perlu mengambil foto seperti itu?"
“Sudah,
sudah, tidak ada salahnya,
‘kan? Wajah kita juga akan terlihat, jadi bukan untuk
dipamerkan. Aku hanya ingin mengabadikan momen ini.”
“Kalau
begitu, tidak masalah.”
Sayaka
menjelaskan kepada ayah cara menggunakan tongkat selfie. Dia hanya perlu
menjepit ponsel di holder dan memasukkan konektor ke jack earphone. Setelah
itu, cukup tekan tombol di tangan, dan secara otomatis itu akan memicu shutter foto.
Aku juga
belum pernah menggunakannya, jadi ini menjadi informasi
baru bagiku.
“Baiklah,
aku akan ambil foto...”
Dengan
gerakan yang canggung, ayahku
menarik tongkat selfie dan membungkukkan tubuhnya ke belakang untuk
menyesuaikan sudut. Aku dan Sayaka berdiri di samping ayah agar terlihat di
layar.
“Sedikit
lebih ke kanan.”
“Tidak,
terlalu jauh. Mungkin sedikit lebih jauh lagi...”
Tangan
ayah bergetar. Setelah beberapa saat, akhirnya ayahku berhasil menemukan posisi terbaik dan
berkata,
“3,
2, 1.”
Saat
tombol ditekan, kami yang ada di layar berhenti sejenak. Foto pun berhasil
diambil.
“Bagus.
Tapi, tongkat selfie ini cukup menarik juga ya.
Mungkin aku juga harus membelinya.”
“Mendingan jangan,
ayah akan menggunakannya untuk hal-hal yang tidak baik...”
Karena makanannya akan dingin, jadi aku memutuskan untuk segera mulai
makan. Saat aku duduk di kursi, ayahku
menggerakkan tangan kanannya ke depan.
“Naoya,
bolehkan aku minum bir? Hanya satu botol.”
“Ya
sudah, tidak masalah.”
Hari ini,
aku akan melonggarkan
sedikit aturan. Namun, aku harus berhati-hati supaya
ia tidak memberi terlalu banyak, karena itu bisa berakibat
buruk.
Ayahku dengan
ceria mengambil bir kaleng dari dalam kulkas
dan menuangkannya ke dalam gelas hingga penuh. Busa putih menutupi setengah
bagian atas gelas. Setelah semua orang duduk, aku berkata,
“Bersulang!”
Aku dan Sayaka
mengangkat gelas berisi jus, sementara ayah mengangkat gelas bir yang hampir
tumpah. Seolah tidak sabar, Sayaka langsung memasukkan paella ke mulutnya.
“Ah,
enak banget!”
“Jangan
terlalu terburu-buru memakannya... Ah, astaga, kan sudah aku bilang."
Sebagian
paella dari piring Sayaka terjatuh. Dia buru-buru mengambilnya dengan tisu.
“Kamu benar-benar
seperti anak kecil. Tidak perlu terburu-buru, semua sudah dibagi masing-masing,
jadi tidak akan ada yang mengambil.”
“Cerewet.
Aku tahu kok.”
Dia
merasa kesal diperlakukan seperti anak kecil. Namun, dia memang masih anak-anak, jadi
wajar saja.
Sementara
itu, ayah juga kesulitan mengupas kulit udang. Sebenarnya, dia hanya perlu
mengupas dari pangkal kaki, tetapi tangannya yang canggung membuat serpihan
kecil terlepas sedikit demi sedikit. Paling
banter, dia bisa saja memakan kulitnya, tetapi itu
sangat tidak menyenangkan.
Omong-omong,
salad yang diletakkan di tengah masih belum tersentuh. Jelas sekali bahwa tidak
ada permintaan untuk itu dibandingkan dengan menu lainnya. Mungkin karena ada
ayam dan paella di depan, jadi orang-orang tidak tertarik, tetapi aku berharap
setidaknya mereka mau mencicipinya.
Saat aku
menunjuk salad dan berkata “Hei,” Sayaka mulai makan dengan
enggan. Ayah yang akhirnya selesai mengupas kulit udang tampaknya tidak
mendengar kata-kataku dan langsung melahap ayam dengan lahap. Ketika aku
menatapnya, dia mengalihkan pandangan.
“Aku
sangat beruntung memiliki anak seperti kamu. Aku bisa makan sebanyak yang aku
mau.”
“Kalau
begitu, silakan makan sebanyak yang kamu mau. Saladnya.”
“...Aku
tahu.”
Akhirnya
ayahku mulai mengambil salad dengan
sumpit. Aku sudah mengurangi porsi lebih sedikit dari biasanya, jadi aku
berharap dia bisa menahan diri.
“Aku akan
segera mendapatkan libur kerja, jadi
rasanya menyenangkan... Tidur sampai siang, bangun dan makan
masakan Naoya, lalu tidur lagi setiap hari... Aku sudah mengeluarkan kotatsu,
jadi aku akan bermalas-malasan seharian.”
“Karena
ukurannya tidak terlalu besar, jadi jangan menduduki kotatsunya sendirian...”
Aku
melihat kotatsu di depan televisi dan berkata begitu. Bahkan hanya berdua, kaki
kami sudah saling bertabrakan.
“Belakangan
ini, aku menerima banyak perintah yang tidak masuk akal dari atasan. Meski kita kekurangan baik
secara teknologi maupun finansial, hal itu
jelas sekali bahwa kemungkinan besar kita akan gagal kalau
hanya mengandalkan idealisme, tapi aku tidak bisa mengeluh, jadi aku tidak punya pilihan selain
melakukannya...”
Ia
jelas-jelas sudah mabuk. Telinganya sudah
memerah. Gelas birnya masih setengah penuh, tetapi bagi ayah yang tidak tahan
alkohol, hanya meminum segitu saja sudah
membuatnya teler.
“Ampun dah, aku benar-benar merasa muak dengan
semua orang bodoh itu. Geup.”
Sayaka
meringis jijik mendengar sendawa ayahnya.
“Hei,
meskipun tidak perlu minum bir, bukannya Ayah
mungkin bakalan gampang mabuk meski meminum minuman
non-alkohol juga?”
“Itu
mungkin saja, jadi mungkin aku akan minta untuk membeli yang itu lain kali...”
Ngomong-ngomong, meskipun disebut bir
non-alkohol, tidak semuanya bebas alkohol. Jika kadar alkoholnya di bawah 1%, minuman tersebut masih bisa
dikategorikan sebagai non-alkohol.
“Naoya,
beberapa tahun lagi kamu juga akan bisa
minum alkohol. Jika itu karena warisan genetikku, kamu pasti akan mirip denganku, jadi kamu
tidak bisa mengolok-olokku.”
“Alkohol,
ya. Mungkin aku juga akan lemah dalam hal itu...”
“Jika
Ayah dan Aniki mabuk, aku akan
meninggalkan kalian berdua.”
Namun,
meskipun aku bisa minum, kurasa aku tidak akan banyak minum alkohol.
“Tapi,
kamu juga hanya selisih satu tahun dariku. Baik dari segi penampilan maupun
karakter, kamu tidak banyak berkembang.”
“Berisik. Bagian terakhir sama sekali tidak perlu.”
Sementara
kami berbicara, makanan perlahan-lahan berkurang. Salad yang sebelumnya ditolak
juga, tanpa disadari, sudah habis. Jika aku berpikir bahwa masakanku disukai, hal itu sedikit membuatku senang.
...Di
sisi lain, ayahku semakin
mabuk.
“Ah,
Naoya... Satu botol lagi, satu botol lagi saja...”
“Ayah
ngelantur apaan dalam keadaan seperti itu...?”
Ayahku saat ini terkulai ke depan,
dengan lidahnya yang tidak bisa berbicara dengan jelas mengulang hal-hal yang
tidak masuk akal. Jika ia mulai dengan botol kedua dalam keadaan seperti ini,
kemungkinan besar akan berakhir buruk, jadi aku tidak akan memberikannya.
“Sayang
sekali. Sepertinya ayah tidak akan mendapatkan kue hari ini...”
“Eh?!”
Sepertinya
dia menyadari bahwa ini tidak baik, jadi ia berusaha untuk tetap sadar dengan
mengangkat tubuhnya. Ayahku sangat
menyukai makanan manis, jadi ia sangat menantikan kue hari ini.
Melihat
wajahnya yang bersinar cerah, aku merasa harus memberikan sesuatu supaya dirinya tidak berulah, jadi aku
memutuskan untuk menyiapkan tiga porsi dengan baik. Kue yang diambil Sayaka
disimpan dalam kotaknya di dalam kulkas.
Setelah
membawa piring dari meja makan ke wastafel, aku mengeluarkan kue. Karena ini
adalah kue utuh, aku memotongnya dengan pisau menjadi ukuran yang pas untuk
dibawa. Batang cokelat yang bertuliskan ‘Selamat Natal’ kuletakkan di
kue ayah. Aku dan Sayaka tidak terlalu peduli, tetapi ayah selalu
menginginkannya.
“Ah,
ini dia. Enak sekali.”
Aku
setuju. Aku juga menyukai
makanan manis. Namun, karena sudah terlalu banyak makan sebelumnya, perutku
sudah terlalu kenyang. Kurasa aku tidak bisa makan lagi. Bersamaan dengan Natal dan Tahun Baru yang
akan datang, aku harus sedikit menahan diri agar tidak terlalu gemuk.
“Aku akan
menyimpan sisanya di dalam kulkas,
jadi silakan makan sendiri. Tapi, jangan sampai makan terlalu banyak sendirian.”
Setelah
selesai makan, aku mulai membersihkan. Aku menggosok banyak piring dengan spons
dan menghapus kotoran yang ada.
“Oke, oke, terima
kasih banyak hari ini, Naoya.”
“Tak
masalah. Ini hal biasa.”
Aku sendiri lumayan suka memasak.
Aku tidak keberatan jika orang lain menikmati masakanku atau memuji makanan
yang aku buat.
“Ngomong-ngomong,
bagaimana dengan pacar yang itu?”
Pertanyaannya
terlalu tiba-tiba, sehingga aku tidak segera memahami bahwa itu ditujukan
kepadaku. Aku membalikkan piring yang sudah dicuci dan meletakkannya di rak
pengering.
“...Pacar?”
“Ya, gadis yang pernah dibicarakan Sayaka.”
“Hah...”
Mungkin
yang dimaksud adalah Enami-san. Aku pernah mengatakan bahwa dia bukan pacarku, tapi Ayahku masih tidak mengerti. Aku
mencoba mengulang penjelasan itu, tetapi ayah tetap tidak bisa menerima.
“Karena ini mengenai kamu, Naoya, mungkin kamu berusaha menyembunyikannya agar kami tidak merasa canggung,
tetapi kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau. Kamu juga masih anak remaja, jadi itu wajar. Tentu saja, jika kamu
terlibat dalam hubungan yang terlalu jauh, aku punya banyak hal yang ingin kukatakan,
tetapi kurasa itu tidak akan terjadi denganmu, kan?”
“Kami berdua
beneran tidak mempunyai hubungan apa-apa. Jadi tidak ada yang perlu
dikhawatirkan.”
Namun,
ayah menatapku dengan pandangan curiga.
Kenapa dia begitu meragukanku?
“Tapi
Naoya, kadang-kadang kamu keluar malam secara diam-diam, kan?”
Aku
terkejut. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku ketahuan. Aku berusaha untuk
tidak membuat suara sebisa mungkin.
“Bukannya
itu untuk bertemu dengan
pacarmu?”
"Tidak,
itu...”
Aku tidak
bisa menemukan alasan yang baik. Itu adalah fakta. Bahkan Sayaka pun, sambil
menggigit garpu, ikut menekan.
“...
Kencan?”
“Tidak,
bukannya begitu. Aku hanya dipanggil
sebentar.”
“Eh,
apa kamu benar-benar bertemu dengan Enami-san yang
itu?”
... Hal
seperti ini disebut orang sebagai ‘senjata
makan tuan’.
Karena
aku terlalu jelas dalam sikapku untuk menutupi dengan kebohongan, aku akhirnya terpaksa mengakui, “Ya.”
“Instingku
juga tidak bisa diremehkan. Memang benar, ‘kan?”
“Memang
benar kalau aku bertemu dengannya, tetapi aku tidak melakukan sesuatu yang
mencurigakan.”
Namun,
sambil berbicara begini,
aku menyadari bahwa argumenku sendiri terdengar
tidak masuk akal. Sulit untuk menyampaikan bahwa aku bertemu diam-diam dan
tidak ada hubungan apapun dengan orang itu.
“Uwahh...
Ya sudah, terserah kamu.”
Tatapan
meremehkan dari Sayaka terasa menyakitkan. Aku merasa sudah tidak peduli
lagi.
“Ya
sudah, ya. Jika Naoya melakukan itu, pasti ada alasan yang mendesak.”
Dukungan
dari ayahku sangat berarti.
“Tapi,
karena dia adalah pacar yang penting bagimu, jadi jangan perlakukan dia dengan
sembarangan. Terkadang ada hal-hal yang harus diprioritaskan lebih dari kita.
Jika besok kamu ingin pergi
bersamanya, kamu tidak perlu mengkhawatirkan kami dan
silakan bersenang-senang sepuasmu.”
Ia
mengatakan itu sampul mengacungkan jempol. Sudah kuduga, orang ini tidak mengerti
apa-apa...
── Semuanya salah Enami-san.
Aku
diam-diam mengumpat Enami-san dalam hatiku.
◇◇◇◇
Smartphone-ku
tiba-tiba bergetar.
Sekitar
pukul 11 pagi. Masih ada banyak waktu sebelum pergi ke bimbingan belajar. Jadi aku sedang belajar di
kamarku.
Ketika
aku mengambil smartphone yang diletakkan di depan lampu meja, ada notifikasi
dari aplikasi pesan. Aku menggeser untuk memeriksa detailnya.
Risa: Aku mungkin mengalami
masalah.
Ternyata
dari Enami-san. Sepertinya dia membutuhkan bantuan segera, jadi aku buru-buru
membalas.
Okusu Naoya: Ada apa?
Risa:
Mungkin aku kehilangan buku teks.
Itu
adalah sesuatu yang tidak terduga. Aku segera memikirkan berbagai solusi.
Okusu Naoya: Jika itu masalahnya, ada
banyak cara untuk mengatasinya. Sebelumnya, aku bisa membuat salinan dan
memberikannya, atau bahkan jika tidak perlu sampai segitu, ada kemungkinan bisa
meminjam di bimbingan belajar. Tapi sebaiknya coba cari dulu.
Aku agak
ingat bahwa di bimbingan belajar ada salinan teks cadangan.
Risa: Ah,
begitu. Jadi, tidak perlu terlalu khawatir.
Enami-san
sepertinya tampak sedikit tenang
setelah balasanku.
Namun, tumben sekali dia sampai kelihatan sesuatu.
Jika itu masih ada di dalam tas, tidak mungkin hilang.
Okusu Naoya: Apa kamu yakin membawanya
pulang kemarin?
Risa:
Tidak tahu.
Mungkin
saja dia meninggalkannya di meja. Dalam hal itu, umumnya akan diambil oleh
seseorang, jadi jika dia bertanya, mungkin bisa dikembalikan.
Risa:
Ketika aku mencoba untuk belajar untuk hari ini, aku tidak bisa menemukannya.
Sejak pulang ke rumah, aku belum melihatnya, jadi mungkin benar seperti yang
kamu katakan.
Okusu Naoya: Mengerti, jadi
kemungkinan itu cukup tinggi.
Risa:
Terima kasih.
Lalu pertukaran
pesan berhenti di situ. Enami-san
kemarin terlihat lebih tidak fokus dari biasanya. Mungkin aku juga harus lebih
memperhatikannya ke depannya.
◇◇◇◇
Enami-san
berdiri di depan minimatket
dekat stasiun.
Masih ada waktu sekitar 30 menit sebelum
pelajaran hari ini dimulai. Aku mendekati Enami-san dan menyapa.
“Maaf
sudah membuatmu menunggu.”
“Itu
tidak masalah. Terima kasih sudah datang.”
Setelah
itu, Enami-san menghubungiku lagi melalui aplikasi pesan. Setelah mengonfirmasi
dengan bimbingan belajar melalui telepon, ternyata barang yang hilang tidak
dilaporkan, dan tidak ada salinan cadangan yang tersedia untuk dipinjam. Itulah
sebabnya dia meminta bantuanku.
Enami-san
melepas earphone nirkabelnya. Sepertinya dia sedang mendengarkan musik lagi.
Dari suara yang terdengar, sepertinya band yang cukup keras.
“Ah,
ini?”
Setelah
mengutak-atik smartphone dan menghentikan musik, Enami-san menunjukkan layar
padaku. Sejujurnya, aku tidak mengenal band itu.
Bahkan setelah melihat judul lagunya, aku tidak merasa familiar.
“Musik
barat?”
“Mau
mendengarkan?”
Salah
satu earphone Enami-san dimasukkan ke telingaku. Aku berpikir bahwa Enami-san
tidak terlalu keberatan dengan hal seperti ini, dan aku pun tidak keberatan,
jadi aku mendengarkan saja.
Suara
gitar listrik. Kemudian, snare drum dipukul berulang kali, dan suara bass
bergabung. Akhirnya, suara vokal menyatu dalam gelombang itu. Terbenam dalam
aliran suara.
Musik ini
lebih bertenaga dibandingkan lagu-lagu yang biasanya aku dengar. Karena aku
tidak mendengarkan musik barat selain lagu-lagu terkenal, aku tidak mengenali
suaranya.
Segera,
aku mengembalikan earphone kepada Enami-san.
“Aku
tidak begitu mengerti. Lagipula, aku tidak terlalu sering mendengarkan musik.
Apa ini artis yang cukup terkenal?”
“Entahlah.
Aku juga tidak begitu tahu.”
“...
Bukankah kamu mendengarkan musik barat karena kamu menyukai?”
“Aku
memang menyukainya, tapi
aku hanya mengunduh lagu yang kebetulan menarik perhatianku. Ini salah satunya.
Jadi, aku tidak tahu siapa yang membentuk band ini dan lagu-lagu apa yang
biasanya mereka mainkan.”
“Hee,
rupanya kamu aneh juga.”
Setelah
memasukkan smartphone ke dalam saku, Enami-san masuk ke dalam minimarket.
Alasan
kami bertemu di sini hari ini adalah untuk memberinya salinan teks. Di rumahku sebenarnya ada mesin fotokopi,
tetapi karena tinta habis, aku merasa repot dan memutuskan untuk menggunakan mesin fotokopi yang ada di minimarket.
Sepertinya
dia juga sudah memberi tahu pihak bimbel
sebelumnya, jadi sepertinya mereka takkan
mengeluh jika kami menggunakan teks salinan. Enami-san
memasukkan uang, aku mengoperasikan mesin fotokopi, dan kami mencetak semua
materi untuk hari ini dan besok.
“Apa
ini sudah semuanya?”
Aku
membolak-balik halaman, tetapi tidak menemukan bagian lain yang tampaknya
diperlukan.
“Jika
kamu juga ingin meninjau ulang,
mungkin lebih baik jika semua disalin, bagaimana?”
Namun, Enami-san
menggelengkan kepalanya.
“Tidak usah.
Karena aku tidak begitu serius sampai harus mengulasnya.”
Aku
berpikir bahwa tidak terlalu sering orang mengulang pelajaran dari teks
bimbingan musim dingin.
“Karena
kamu sudah melakukan banyak hal, aku ingin mentraktirmu. Kopi atau semacamnya.”
“Sudahlahm
tidak usah. Lagipula itu
bukan masalah besar.”
“Jangan
sungkan-sungkan. Lagipula aku juga akan
membeli.”
Aku
akhirnya terpaksa setuju. Enami-san memesan dua cangkir di kasir dan membawa
dua cangkir itu. Dengan gerakan yang terampil, dia menekan tombol mesin dan
menuangkan kopi panas. Dia menutupnya dengan tutup dan memberikannya
padaku.
“...
Terima kasih.”
“Ngomong-ngomong,
kamu biasanya tidak bisa minum kopi tanpa gula, ‘kan? Kamu
bisa menambahkan itu sendiri.”
“Kamu yakin?
Karena aku sudah menerima
traktiran begini.”
“Kamu
terlalu ngotot.”
Ngomong-ngomong,
aku benar-benar tidak bisa minum kopi hitam, jadi aku menambahkan gula dan susu
lalu mengaduknya. Uapnya mengapung di sekitar hidungku, mengeluarkan aroma yang
menyenangkan.
Kami
berdua keluar dari minimarket.
Saat aku menyeruput kopi
dari cangkir, rasanya sangat enak dan menghangatkan tubuhku yang
kedinginan.
Enami-san
juga berdiri di tempat parkir minimarket,
perlahan-lahan menyeruput kopinya.
“Rasanya
dingin ya.”
Dia
memegang cangkir dengan kedua tangan. Napasnya terlihat berwarna putih.
Kami
berdiri berdampingan, menghadap ke depan. Di trotoar di luar tempat parkir, ada banyak orang yang berpakaian mantel berlalu-lalang.
Pohon-pohon yang telah kehilangan daun berdiri hampir berjarak sama, bergoyang
sepi terkena angin.
Jari-jariku
terasa sakit. Sepertinya ada sedikit darah yang keluar dari kuku jari telunjuk
tangan kananku. Saat aku menggosoknya dengan ibu jari, Enami-san berkata.
“Aku
sebenarnya tidak menyukai
Natal.”
Perkataannya
terlalu mendadak sekali.
Hari ini
tanggal 25. Kami merayakannya kemarin, tetapi pasti banyak orang yang
merayakannya hari ini. Jumlah orang yang lewat lebih banyak dari biasanya
karena mereka pergi berbelanja atau berkencan dengan pasangan. Ada dekorasi di depan minimarket, dan cangkir yang kami pegang
pun bertema Natal.
“Begitu
ya. Kenapa?”
“Habisnya
aku tidak tahu apa yang harus dirayakan.”
“Katanya
itu adalah perayaan kelahiran Kristus. Aku juga tidak tahu banyak tentang itu, sih.”
Namun,
maksud Enami-san bukan itu. Pada akhirnya, kebanyakan orang
tidak benar-benar memikirkan apa yang harus dirayakan saat merayakan
Natal.
“Merayakan
tanpa ingin merayakannya membuat hati tidak bisa mengikuti.”
“Pada
akhirnya, itu hanya sebuah acara.”
Perayaan
lebih berfungsi sebagai alasan untuk bersenang-senang atau melakukan hal-hal
khusus. Pemandangan yang menghiasi kota menciptakan suasana istimewa dan
meningkatkan semangat.
Terlepas apa ada makna besar di balik itu atau
tidak, semuanya sama saja.
“Hanya
karena itu perayaan Natal, bukannya
berarti ada hal
baik yang akan terjadi. Meskipun seseorang berpikir demikian, berbagai hal akan
terjadi dengan cara yang sama sekali tidak berhubungan. Tidak perlu semua orang
berjalan seirama pada waktu yang sama.”
Enami-san
jarang sekali berbicara panjang lebar. Mungkin dia kesal karena kehilangan buku teks.
“Sebenarnya,
tidak peduli apakah itu Natal atau sejensinya,
orang-orang yang tidak terlalu tertarik bisa
menjalani kesehariannya
dengan biasa saja.”
“...
Tidak menarik.”
“Tapi,
kenyataannya memang begitu, ‘kan?”
Enami-san
tidak membantah hal itu. Pada akhirnya, ini hanyalah keluhan dan mungkin dia
hanya ingin mendapatkan empati.
“Aku
mungkin harus meminta kembali uang kopi.”
“Apa?
Jadi, uang itu untuk mendengarkan keluhanmu?”
“Dasar
kurang ajar. Aku bukan orang yang lemah sampai harus membayar untuk itu.”
“Aku hanya
bercanda. Jika Enami-san orang yang
seperti itu, kebanyakan orang bisa dibilang seperti mikroskopis.”
Enami-san
menyelipkan tangan kirinya ke dalam saku mantel.
“Apa-apaan itu? Kamu pikir aku ini siapa?”
“Menurutku
kamu orang yang sangat menakutkan.”
Enami-san
mendengus dan mendecakkan lidahnya.
Aku hanya bisa tersenyum kecut melihatnya.
“Semua
orang hanya terlalu takut. Jika ada yang menjengkelkan, aku bisa marah, tapi
jika tidak, aku berusaha untuk bersikap biasa.”
Memang, Enami-san
sudah berubah menjadi lebih lembut
dibandingkan sebelumnya. Namun, dalam penilaian umum, dia masih tergolong
menakutkan. Terlebih lagi, penampilannya sudah membuatnya memberi tekanan hanya
dengan diam.
“Kamu
masih takut?”
“Pada
akhirnya, karena aku tidak
begitu memahami Enami-san, jadi itu bukan masalah bagiku.
Tapi, sekarang aku merasa kalau kamu tidak begitu menakutkan.”
“Hmm.”
Enami-san
mengalihkan pandangannya. Satu-satunya
suara yang terdengar hanyalah suaranya yang sedang
menyeruput kopi.
“Selama
Natal belum berakhir, jika ada yang ingin kamu lakukan, lakukanlah. Misalnya,
beli kue dan makan.”
“...
Aku tidak begitu suka makanan manis. Lagipula, tidak ada yang ingin aku
lakukan.”
“Apa
kamu bekerja paruh waktu kemarin?”
“Tentu
saja tidak. Biasanya terlalu sibuk, jadi tidak ada gunanya pergi.”
“Begitu
ya.”
Ukuran
kopi ini seharusnya mungkin lebih kecil lagi. Aku minum sedikit-sedikit, tetapi
masih tersisa setengah. Enami-san juga terlihat serupa. Namun, aku merasa bahwa memesan
dua kopi ini adalah untuk menciptakan waktu berbicara seperti ini.
Dia
berbicara tentang dirinya dengan cara yang tidak langsung. Hanya saja, itu
bersyarat dan tidak sepenuhnya terbuka. Dia menjaga batas tertentu dan sedikit
membuka pintu. Ini mungkin adalah bentuk persahabatan maksimal bagi Enami-san.
──Lalu bagaimana dengan
Nishikawa?
Enami-san
sering bersama Nishikawa. Apakah hubungan mereka juga terbatas?
“Kamu
suka Natal?”
Aku tidak
bisa menemukan jawaban yang bagus untuk pertanyaan itu.
Menurutku
itu menyenangkan. Begitu juga kemarin. Makanan mewah dibuat, dan aku
menghabiskan waktu bersama keluarga. Tapi jika ditanya apakah itu karena Natal,
aku bingung. Membuat makanan mewah bisa dilakukan kapan saja. Menghabiskan
waktu dengan keluarga juga sama. Santa tidak lagi datang ke rumahku, dan aku
tidak melakukan hal-hal khusus untuk Natal.
Jadi,
setelah ragu-ragu sejenak, aku
berkata begini,
“Mungkin biasa saja. Aku
tidak begitu membencinya seperti Enami-san.”
“Ah,
begitu.”
“Karena ada
banyak yang harus dilakukan, dan itu cukup merepotkan. Karena di rumahku cuma ada
orang-orang yang malas.”
Itu sudah
biasa. Pada akhirnya, itu hanya perpanjangan dari kehidupan sehari-hari. Dalam
artian itu, tidak ada yang terjadi
seperti yang dikatakan Enami-san.
“Entahlah,
semua orang mungkin sama saja, kan?”
“Yah, mungkin.”
Saat aku masih benar-benar mempercayai Siterklas,
aku mungkin bisa bermimpi lebih
banyak. Tapi sekarang, sebagai seorang siswa SMA, perasaan khusus itu semakin
sulit muncul.
Pintu
otomatis terbuka dan pelanggan keluar. Mereka melewati kami, masuk ke dalam sedan yang diparkir di tempat
parkir, dan melaju ke jalan.
Enami-san
menenggak seluruh isi cangkirnya sekaligus dan membuangnya ke tempat sampah
yang ada di minimarket. Dia
menoleh ke arahku dan tersenyum nakal.
“Itu,
hadiah Natalku.”
Aku juga
baru saja mau menghabiskan sisa kopiku.
──Apa
itu?
Meskipun
begitu, cangkirnya bertema Natal, jadi bisa dibilang memang sesuai.
Aku
menghela napas besar lalu menghabiskan sisa kopiku dan berbisik, “Selamat Natal.”
Enami-san
juga berkata “Selamat
Natal” dengan nada menyindir.
◇◇◇◇
Namun,
apa yang kulakukan di tempat bimbingan
belajar pada hari Natal ini? Pasti guru yang mengajar juga ingin beristirahat,
dan ini tidak bermanfaat bagi masyarakat. Bahkan aku yang rajin belajar pun
meragukan hal ini, jadi peserta lain pasti lebih berpikir begitu.
Ngomong-ngomong,
suasana Natal di bimbingan belajar ini tidak terlalu terasa. Ada pohon Natal
yang dihias, tetapi terasa seperti sebuah kewajiban. Mungkin mereka menganggap
dekorasi yang berlebihan itu tidak perlu.
“Hei,
Okusu-kun.”
Aku
sedang duduk santai di kursi di dalam bimbingan belajar ketika ada yang memanggil namaku. Setelah
pelajaran selesai, aku
hendak pulang tapi saat melihat
hujan gerimis mulai turun, jadi aku memutuskan untuk menunggu sebentar. Cuaca
tidak terlalu buruk dan sinar matahari terlihat dari balik awan, jadi aku
mengira ini hanya hujan sebentar.
Hanasaki
duduk di sebelahku dan tersenyum ke arahku.
“Karakter
ini kelihatan lucu sekali, iya kan?”
“Eh?”
Sejujurnya,
aku tidak mendengarkan pembicaraannya. Ternyata, Hanasaki sedang menunjukkan foto di ponselnya. Di
situ ada makhluk misterius.
“Apa
ini? Penampilannya mirip seperti
cumi-cumi, tapi ada banyak kaki.”
“Ini
sedang jadi perbincangan akhir-akhir ini. Seseorang mempostingnya di Twitter
dan menjadi viral. Aku juga berpikir itu bagus saat pertama kali melihatnya,
tapi apa Okusu-kun juga berpikiran
begitu?”
“Um,
sejujurnya, mungkin terlihat agak
menjijikkan...”
Setelah mendengar
itu, Hanasaki tampak kecewa.
Enami-san
dan Nishikawa yang duduk di seberang tampaknya sependapat denganku, mereka
mengangguk kecil.
“Aku
juga sempat melihatnya karena viral, tapi sepertinya itu tidak sesuai dengan seleraku~”
“Tapi,
matanya itu lucu, ‘kan?
Terlihat hancur dan agak menyeramkan...”
“Maksudmu jenis
'kimo-kawaii' begitu? Aku sih tidak terlalu bisa memahaminya.
Sepertinya alisnya terlalu tebal, dan terlihat terlalu realistis tanpa alasan,
jadi lebih terasa menjijikkan.”
“Ugh.
Tapi, di Twitter juga ada pro dan kontra, jadi pasti ada banyak orang yang
berpikir seperti itu.”
“Mungkin
adik perempuanku akan menyukainya. Dia punya beberapa boneka
dengan bentuk aneh, jadi tidak mengherankan
jika dia menyukainya.”
“Ah,
begitu ya. Aku
jadi ingin bertemu adikmu. Bukannya dia bersekolah di tempat yang
sama dengan kita?”
“Ya.
Sekarang dia kelas satu. Jadi, jika mau bertemu
dengannya, kamu bisa menemuinya kapan saja.”
Nishikawa
mengerutkan bibirnya dan menghela napas.
“Jadi,
Naocchi punya adik perempuan, ya.
Apa kamu tahu itu,
Risa-chan?”
“Iya, tahu.”
Enami-san
menjawab begitu seolah-olah itu hal yang
normal. Namun, perkataannya
itu mengejutkanku.
Sejujurnya,
aku tidak ingat pernah membicarakannya. Tapi, mungkin dia tahu dengan cara
tertentu yang mirip dengan masa laluku.
“Hee,
adikmu kayak gimana?”
“Dia
cukup terlihat baik di luar. Di dalam rumah, situasinya tidak bisa diceritakan
pada orang lain, tapi di depan umum dia berperilaku cukup normal. Kupikir suatu saat nanti sifat aslinya pasti
akan terbongkar.”
“Semua
orang juga sama begitu,
‘kan? Apa kamu tidak mempunyai fotonya?”
“Yah... “
Aku mnegingat kalau kami mengambil
foto untuk kenang-kenangan kemarin. Ketika
aku menunjukkan foto itu, Hanasaki dan Nishikawa mengatakan hal yang sama.
““Imutnya!””
Berbeda
dengan makhluk yang mirip
cumi-cumi sebelumnya, pendapat mereka sepertinya sejalan.
Aku juga
mengakui itu. Dari segi penampilan, wajah
adikku lumayan imut. Tapi sayangnya, dia sangat ceroboh dan
masih memiliki sifat kekanak-kanakan.
“Adik perempuan Okusu-kun ternyata secantik
ini... Dan masakannya luar biasa...”
“...jadi kamu yang memasaknya, ya.”
Masakanku
juga terlihat dalam foto itu. Menanggapi pertanyaan Enami-san, aku hanya
berkata, “Ya.”
Nishikawa
semakin membulatkan matanya.
“Eh?
Ini semua?”
“Iya...”
“Termasuk
paella ini? Sup ini?”
“Ya...
benar.”
Rasanya memalukan jika dilihat terlalu banyak.
Suara pujian terus masuk ke dalam telingaku,
tetapi aku hanya berpikir ingin menutup foto itu secepatnya.
“Jadi kamu
memasak semua ini setelah itu ya...
Sepertinya aku juga harus berusaha
lebih keras agar bisa menyusul Okusu-kun.”
“Hanasaki
juga sudah cukup pandai memasak. Kebetulan saja aku berhasil, jadi jangan
terlalu menganggapnya hebat.”
Aku
menyimpan ponsel ke dalam saku.
Ada
tetesan air kecil yang menempel di kaca jendela.
Cuacanya masih belum banyak berubah.
Sekarang
aku duduk di tempat istirahat di lantai satu. Ada tiga meja, dan di dekat
jendela ada deretan kursi, dengan mesin penjual otomatis sedikit menjauh.
Namun, ada juga siswa bimbingan belajar yang sedang belajar, jadi kami tidak
bisa berbicara terlalu keras.
Ketika
aku menunjukkan sikap memperhatikan sekeliling, ketiga orang itu akhirnya
merendahkan suara mereka.
“Ada
yang melihat ya. Maaf,
maaf.”
Nishikawa
berkata dengan suara berbisik. Meskipun begitu, suara mereka bertiga tidak terlalu keras. Mungkin
mereka sedang diperhatikan dengan cara lain. Tanpa perlu berpikir keras, aku
merasa tidak nyaman berada di antara anggota yang begitu mencolok.
Selain Enami-san, aku juga
berpikir kalau Nishikawa dan Hanasaki memiliki
penampilan yang cukup mencolok. Jika dilihat oleh siswa di sekolah kami,
mungkin itu akan menjadi bahan gosip lagi.
“Ramalan
cuaca hari ini tidak bilang akan hujan, kan? Aku tidak membawa payung.”
Namun,
aku tidak menyangka kalau semua
orang tidak membawa payung.
Di dekat
pintu masuk, ada orang yang juga menunggu hujan reda seperti kami. Untungnya,
kami bisa duduk lebih awal, tetapi banyak peserta yang tidak bisa duduk dan
terjebak berdiri. Namun, hujan ini tidak terlalu besar, jadi ada juga yang
memilih untuk berlari pergi.
“Ah.”
Pada saat
itulah, aku teringat.
Pakaian
yang dijemur masih tergantung. Aku buru-buru mengirim pesan lewat ponsel.
Karena ada grup chat keluarga, aku menulis di sana, “Tolong ambil jemuran! Sekarang juga.”
“Hah...
Sepertinya aku harus menjemur ulang.”
“Okusu-kun?
Ah, apa jangan-jangan tentang jemuran pakaian?”
“Ya.”
Aku
benar-benar melupakan hal itu. Karena ramalan cuaca bilang cerah, aku merasa
tidak perlu khawatir dan jadi lengah.
“Mungkin
ini hanya hujan lokal. Mungkin saja di tempatmu tidak hujan.”
“Semoga
saja begitu. Ah, ada balasan.”
Balasan
dari ayahku.
〇〇▽▽Papa
Okusu♡
di sini☆☆◇◇:
Aku sudah mengambil jemurannya saat hujan turun~♪♪
...Ah,
ini menyebalkan.
Aku juga
melupakan hal ini. Ketidakmampuan ayahku dalam memilih nama dan rasa tidak
nyaman saat menerima pesan seperti ini. Tanpa sengaja, aku melihat pesan itu di
depan ketiga orang ini, dan mereka semua terlihat terkejut.
“Ayahmu kelihatan menarik, ya...
Maaf sudah melihat tanpa izin.”
“Bukannya
begitu. Ayahku ingin menunjukkan bahwa dia masih muda, jadi dia berusaha
menggunakan hal-hal seperti ini. Dia sebenarnya bukan orang yang aneh.”
“Uh...”
Aku
merasakan pentingnya kekuatan persuasi.
Aku hanya
membalas dengan singkat, “Terima
kasih,” dan memasukkan ponsel ke dalam
saku.
"Sepertinya masalah jemuran pakaian bisa aman.”
Berbeda
dengan Sayaka, aku bukan orang yang bisa
menunjukkan banyak perasaan. Aku khawatir tentang bagaimana ayahku diperlakukan
di tempat kerja.
“Naocchi,
kamu sepertinya jadi ketua kelas di rumah juga, ya.
Jika tahun depan kita sekelas, aku akan merekomendasikanmu, Naocchi.”
“Tolong jangan
lakukan itu... Tapi yah, mungkin
saja aku akan melakukannya lagi
tahun depan.”
Aku tidak
tahu bagaimana dengan sekolah lain, tetapi di sekolah kami, ketua kelas hampir
selalu bertanggung jawab untuk tugas-tugas sepele.
Dalam arti itu, menjadi ketua kelas di rumah dan di sekolah tidaklah
salah.
“Meski tidak
bisa menjadi ketua kelas, bukannya
kamu bisa menjadi
anggota OSIS? Bukankah ada pemilihan di awal semester tiga?”
“OSIS?
Orang yang pendiam sepertiku seharusnya tidak melakukannya. Lebih baik orang
yang lebih berani. Lagipula, itu terlalu merepotkan.”
Mungkin aku
bisa saja melakukannya kalau aku mengejar rekomendasi, tetapi
aku tidak terlalu peduli dengan nilai internal. Keuntungan terbesar bergabung
dengan OSIS hanyalah itu, jadi
aku tidak seharusnya melakukannya.
“Menurutku
Naocchi bisa sampai ke posisi yang cukup baik.”
“Pertama-tama,
aku tidak terlalu pandai berbicara di depan umum, jadi aku tidak ingin
melakukannya. Nishikawa, bagaimana kalau kamu yang
mencobanya?”
“Eh,
itu pasti tidak mungkin.”
Aku pikir
juga begitu. Setiap tahun, hanya satu
atau dua orang yang mencalonkan diri, dan tahun lalu hanya ada pemilihan untuk
kepercayaan atau ketidakpercayaan.
“Shio-chan
juga bisa, kan?”
“Sepertinya
aku juga sama seperti Okusu-kun... Berbicara di depan umum agak
menakutkan.”
“Kalau Risa-chan...
sepertinya tidak mungkin.”
Enami-san
melihat Nishikawa dengan mata sedikit terbuka dan tertawa pelan.
“Jika
aku terpilih, aku pasti aku
tidak akan melakukan apa-apa. Bahkan dalam manifesto pun aku akan bilang
begitu.”
“Aku
hanya bisa berharap kamu tidak terpilih...”
Meskipun
begitu, Enami-san tidak mungkin mencalonkan diri. Jika itu yang terjadi, guru-guru akan pingsan.
Saat aku melihat jam, sudah hampir 20
menit sejak pelajaran berakhir. Mungkin hujan sudah turun setidaknya 15 menit.
Jika terus berlanjut seperti ini, mungkin aku harus memikirkan cara lain.
Saat itu,
Nishikawa berkata,
“Risa-chan,
kamu baik-baik saja? Apa ada yang
sakit?”
Kepala Enami-san
bergerak naik turun dengan bulu mata panjangnya. Dia terlihat tertegun dan
terdiam.
“Aku baik-baik
saja.”
“Benarkah?
Sungguh?”
Memang,
sejak tadi Enami-san jarang berbicara. Dia bukan tipe yang banyak bicara,
tetapi seharusnya dia lebih banyak berbicara dalam situasi biasa. Mungkin
Nishikawa secara teratur mengajaknya berbicara karena khawatir tentang hal
itu.
“Enami-san
bilang dia tidak suka Natal.”
Dia memelototiku sejenak, tetapi segera berubah
menjadi desahan halus.
“Berisik
sekali.”
“Risa-chan memang kelihatan seperti
begitu, ya~. Apa kamu terpengaruh suasana Natal?”
“Yah,
bisa dibilang begitu.”
Dia
mengatakannya dengan nada bercanda, sehingga aku tidak yakin apakah dia serius
atau tidak.
“Tidak
perlu merayakan Natal di tempat bimbingan belajar. Orang-orang lain juga
tampaknya senang.”
Mungkin
ada orang yang pergi bermain setelah ini. Kami menahan suara, tetapi ada
beberapa yang bersenang-senang dengan suara sedikit keras. Suasana di kota juga tampaknya ramai. Sayaka juga bilang dia akan pergi
hari ini, jadi tidak aneh jika dia terjebak di antara orang-orang itu.
Enami-san tiba-tiba berdiri. Ketika aku penasaran apa yang terjadi,
“Aku
pulang.” Ucapnya.
Dia
mengangkat tas bahu berisi buku pelajaran dan catatan, lalu mulai berjalan
sambil mengucapkan satu kata sederhana, “Sampai
jumpa.”
“Eh?
Tunggu...”
Semua ini
terlalu tiba-tiba. Apalagi
di luar masih hujan.
Dia
mendorong kerumunan orang yang berkumpul di dekat pintu masuk dan keluar
melalui pintu otomatis tanpa membawa payung.
“Apa
yang harus kita lakukan...”
Nishikawa
terlihat kebingungan. Tidak ada minimarket di dekat sini, jadi kami tidak bisa membeli payung dengan
cepat. Ada orang yang pergi dengan risiko basah seperti Enami-san, tetapi Enami-san
bahkan tidak terlihat berlari.
(Aku
tidak menyukai Natal.)
Tiba-tiba,
wajah Enami-san muncul di pikiranku saat dia mengucapkan kata-kata itu. Mungkin
dia memiliki kenangan buruk tentang Natal.
Tidak
diragukan lagi, ada yang aneh dengan dirinya.
Dia berbeda dari Enami-san yang biasanya. Namun, dia tetap berusaha
menyembunyikannya dan tidak mengungkapkannya.
Kurasa tidak masalah kalua memang begitu. Mungkin dia hanya ingin pulang
lebih cepat.
Namun,
aku masih tidak bisa mengalihkan pandanganku dari arah Enami-san yang berjalan pergi.
Aku
sendiri tidak tahu mengapa aku sangat peduli.
Tubuhku
bergerak sendiri tanpa
izin.
“Maaf,
aku juga mau pulang duluan.”
Tanpa
menunggu reaksi Nishikawa atau Hanasaki, aku bergegas
keluar.
Tetesan
hujan gerimis menghantam wajahku. Bersamaan dengan angin dingin, hujan itu melilit
tubuhku di atas dada.
Sekitar
setengah orang membawa payung dan setengahnya tidak. Karena banyak orang
berjalan di trotoar, aku tidak bisa segera menemukan Enami-san. Aku berjalan
cepat ke arah stasiun.
Aku
bertanya-tanya, apa yang dia lakukan.
Perasaan
itu bukan hanya untuk Enami-san, tetapi juga untuk diriku sendiri.
Jika dia
ingin pulang sendiri, aku bisa membiarkannya saja.
Itu bukan urusanku. Hujannya tidak
begitu deras dan itu bukan masalah besar. Aku tidak
perlu basah-basah mengejar Enami-san. Bahkan jika aku menemukannya, aku tidak
bisa melakukan apa-apa.
Namun,
aku terus melangkah, memutar kepalaku
untuk mencari Enami-san, dan ketika aku menemukan Enami-san beberapa puluh
meter dari tempat bimbingan belajar, aku merasa lega.
“Enami-san!”
Suaraku
membuat Enami-san berhenti. Dia perlahan menoleh ke arahku.
Wajahnya
tampak aneh. Wajahnya kelihatan sedikit
pucat. Dia mengerutkan kening seolah marah, tetapi mulutnya bergerak gelisah
seperti ikan mas. Ketika dia mengangkat kelopak matanya yang setengah terbuka,
pipinya menegang, dan mulutnya yang gelisah juga terkatup. Enami-san, yang
menyibakkan rambut depan yang sedikit basah, sedikit membuka kakinya.
“...Ada
apa?”
“...”
Aku penasaran,
apa yang sebenarnya terjadi? Perasaan seolah-olah aku kembali sadar tiba-tiba
menyerangku.
Namun, Enami-san
juga merasakannya. Aku ingin membalas kata-katanya, tetapi Enami-san adalah
orang yang cukup sembrono sehingga "entah kenapa" bisa
diterima. Sementara itu, aku tidak bisa bersikap seberani itu.
“Ah,
tidak, eh...”
Mataku mengembara tidak karuan. Aku
berusaha keras mencari alasan di benakku, tetapi tidak bisa menemukannya.
“Jadi,
ini semacam impulsif, atau terlalu tiba-tiba, dan tubuhku bergerak sebelum aku
sempat berpikir...”
“...”
Ekspresi wajahnya
berubah seolah-olah dia tidak mengerti. Wajar saja
dia tidak memahami perkataanku karena aku sendiri juga tidak bisa memahaminya.
“Begini,
ada yang menepuk di bawah lutut, kaki kita otomatis terangkat. Itu semacam
pemeriksaan refleks. Sama seperti itu, aku hanya bereaksi tanpa kehendak
sendiri. Jadi, tidak ada alasan yang begitu penting, dan jika ditanya
alasannya, itu akan merepotkan.”
Gawat,
semakin aku banyak berbicara,
situasinya menjadi semakin
kacau.
Aku
menyerah dan terdiam. Enami-san tampak tertegun sejenak, tetapi perlahan-lahan
dia mulai menggoyangkan bahunya dan akhirnya tertawa kecil. Ekspresi rumit yang
tadi menghilang, dan dia kembali menjadi Enami-san yang biasa seperti saat di
sekolah.
Ketika
aku terus diam, Enami-san berkata,
“Kamu kenapa
sih? Kamu sendiri yang
sengaja mengejarku dan mengajakku bicara, kan?”
“Ya,
begitu sih...”
Aku
merasa lega setelah melihat
senyuman Enami-san. Karena
aku mendengar cerita seperti itu di depan
minimarket. Meskipun tidak diucapkan, sekarang aku merasa
mengerti alasan mengapa aku mengejarnya.
Enami-san
memandang sekeliling dengan tatapan seakan mencari
sesuatu.
“Nishikawa
dan Hanasaki di mana?”
“Keduanya
masih di bimbingan belajar. Cuma aku satu-satunya yang mengejarmu.”
“Hmm...”
Enami-san
memiringkan kepalanya.
“Stalker?”
“Jangan
sembarangan menuduh orang... Aku
hanya khawatir karena kamu tiba-tiba pergi.”
“Kamu
khawatir?”
Entah
mengapa, aku merasa malu jika hanya karena itu aku mengejarnya. Jadi, pikiranku
yang terus mencari alasan akhirnya menemukan satu kesimpulan.
“Bukan
hanya itu saja.”
Aku
membuka saku kecil di dalam
tas. Aku membawa tas yang sama seperti yang digunakan di sekolah ke bimbingan
belajar. Jadi, di dalamnya ada barang itu.
Setelah
mengambil barang yang dimaksud, aku melemparkannya ke arah Enami-san. Melintasi
gerimis, benda itu meluncur dengan lintasan parabola lembut dan jatuh di
tangannya.
Enami-san
menangkapnya dengan baik.
Lalu, dia
membuka telapak tangannya.
“Permen?”
“Ya.”
Itu
adalah permen yang aku terima sebelumnya. Hanya itu yang aku miliki.
Hujan gerimis
hampir mengenai mataku, dan aku secara refleks berkedip untuk menghindarinya.
Aku berkata,
“Ini
balasan dariku.”
“Ah,
untuk kopi tadi.”
Enami-san
mengamati kemasannya dengan seksama. Sejujurnya, aku bahkan tidak ingat
rasanya.
Kemudian,
Enami-san berkata,
“Sudachi...
Sepertinya tidak terlalu enak.”
Bagaimanapun,
itu adalah barang murah yang ada di ruang guru. Jika itu permen mahal,
Shiroyama-sensei pasti tidak
akan memberikannya kepada kami. Jadi, aku tidak bisa membantah hal itu.
Enami-san
terus berbicara.
“Selain
itu, harganya tidak sebanding.”
“Kamu
banyak mengeluh.”
“Habisnya,
kalau tiba-tiba diberikan barang seperti ini, ya...”
“Ugh...”
Tindakan
yang terlintas di pikiranku. Sebaliknya, jika aku berada di posisinya, mungkin
aku akan bingung.
“Kamu
suka permen, ‘kan?”
“Ya,
bukan begitu.”
“Kalau
begitu, sama saja seperti dipaksa menerima sesuatu yang tidak diinginkan.”
“Aku
tidak bermaksud begitu.”
Aku
mengulurkan tangan ke Enami-san.
“Tidak
apa-apa jika kamu tidak
mau. Kembalikan saja."
Namun,
meskipun sikapnya penuh keluhan, Enami-san tidak berniat mengembalikan permen
itu. Dia langsung memasukkan permen ke saku mantel.
“Karena
mengembalikannya juga merepotkan, aku akan menerimanya.”
“...Gitu ya.”
Aku
menurunkan tanganku. Seharusnya dia bisa mengatakannya dengan jujur dari
awal.
“Mungkin
tidak ada hadiah Natal semurah ini, ya? Ini benar-benar seperti khas dirimu.”
“Apa
maksudnya 'seperti diriku'?”
“Entahlah.”
Tapi
mendengar suara Enami-san seperti itu, aku merasa senang telah
memberikannya.
“Kamu
datang jauh-jauh hanya untuk ini?”
Di dalam
saku Enami-san, kemasan permen mengeluarkan suara berkerut.
“Ketika sudah menerima hadiah, aku harus
membalasnya dengan baik.”
“Apa-apaan itu?”
Aku sadar
itu adalah logika yang aneh. Barang yang diterima adalah kopi, dan itu juga
sebagai ucapan terima kasih untuk membantunya
untuk menyalin bukus. Hanya saja, aku hanya memberi alasan untuk
tindakan yang aku lakukan.
“Terima
kasih, ya.”
Berbeda
denganku, sulit untuk membaca emosi Enami-san dari ekspresinya. Sejak tadi,
tidak ada perubahan besar pada wajahnya, dan dia hanya berbicara dengan wajah
datar. Meskipun begitu, suasana di sekitar memberi tahu bahwa pilihanku tidak
salah.
“Hujan
sudah berhenti."
Ketika
aku mengulurkan tangan seperti Enami-san, aku tidak merasakan lagi tetesan
hujan yang sebelumnya turun. Orang-orang di sekitar juga mulai menutup payung
mereka.
“Kamu mau pulang?”
Aku
mengangguk.
Ketika Enami-san
menghadap ke depan, aku juga melangkah maju. Kota ini masih dihiasi dengan
suasana Natal yang dibenci Enami-san,
tetapi entah mengapa, pemandangan itu terasa sedikit lebih cerah dibandingkan
sebelumnya.
Sebelumnya Selanjutnya



