Chapter 2 — Kesalahpahaman
“Haah...”
Keesokan
harinya, di Akademi Sihir Kerajaan.
Setelah
pelajaran teori pagi selesai dan waktu istirahat tiba, aku yang terkulai lemas di mejaku sendiri, didekati oleh Ian, sahabatku
yang masih bersikap baik padaku meskipun aku sedang menjadi sorotan karena duel
Elise dan yang lainnya.
“Loh,
kamu kenapa, Ash? Kamu kelihatan lesu begitu. Apa kamu capek setelah lama
tidak ke sekolah?”
“Ah...
ya, kira-kira begitu.”
Aku
menjawab Ian dengan nada kosong, lalu mengambil posisi yang sama lagi untuk
memulihkan sedikit tenaga.
...Kelelahan
yang menumpuk akibat jadwal padat hingga kemarin saat menyambut Aisha hampir
tidak berkurang sama sekali, ditambah lagi semalam aku hampir tidak tidur, jadi
rasa kantukku sangat luar biasa.
“Ngomong-ngomong,
sebentar lagi waktu festival sekolah, ya. Kamu ingin
melakukan apa buat tahun ini?”
“Ah,
kalau dipikir-pikir, memang sudah saatnya ya..."
Di
Akademi Sihir Kerajaan, festival sekolah diadakan setahun sekali dengan
mengundang tamu dari luar, di mana siswa-siswa memamerkan karya dan presentasi
penelitian serta mengadakan turnamen.
“Tapi
festival sekolah, ya... Hmmm, bagaimana
ya...”
“Kupikir
kamu akan berkolaborasi dengan Fine-chan
untuk melakukan suatu acara, apa aku salah?”
“Fine...”
“Jangan-jangan,
kamu bertengkar dengan Fine-chan?”
“Tidak,
bukannya begitu...”
Namun,
masalah yang menggangguku adalah hal yang sama sekali berbeda... yaitu
bagaimana hubunganku dengan Fine.
“Jadi,
mulai sekarang, izinkan aku berbagi
beban bersamamu. Kesedihanmu, dan juga kebahagiaanmu.”
Aku masih
mengingat apa yang dikatakan Fine kepadaku saat dia memelukku di hari
aku menguburkan anggota keluargaku. Dan kupikir mungkin pada saat itulah perasaanku terhadap Fine telah
berubah menjadi perasaan cinta.
Namun, Fine
Staudt
adalah orang yang secara alami baik kepada siapa pun dan berusaha sekuat tenaga
untuk membantu orang yang menderita, seorang gadis yang sangat baik hati.
Hal ini
juga terlihat jelas ketika dalam pertemuan sosial sebelumnya, dia membantu Agnes
Valen, gadis yang menjadi teman dekat Fine dalam permainan, yang mengalami
perundungan akibat kerusakan cerita oleh Elise, dan juga membantu sihir mimpi,
Aldy, untuk membalas dendamnya.
Jadi,
kebaikan Fine padaku juga berasal dari niat baik yang tulus... tidak, mari kita
berhenti mencari alasan.
Aku belum
bisa menguatkan tekad yang diungkapkan Aisha. Karena aku tidak akan tahan jika
ditolak oleh Fine, hanya karena alasan yang sangat memalukan itu.
“Haah...”
Kemudian
aku menghela napas panjang lagi.
Tidak
kusangka aku bisa selemah ini...
Apalagi
sejak pagi ini, aku merasa Fine seolah-olah sedang
menghindariku, dan dia bahkan memberiku kotak bekal untuk dimakan bersama Agnes.
Seharusnya
aku turut merasa senang karena dia mendapatkan teman baik yang bergaul dengannya, tetapi
sangat menyakitkan ketika aku menyadari perasaan itu. Ditambah lagi, aku
memiliki catatan buruk karena pergi dari rumah tanpa memberitahu Fine sama sekali. Jika dia membenciku, itu
mungkin hal yang wajar.
Ah, aku
mulai merasa ingin menangis karena betapa merepotkannya diriku sendiri dan
betapa tidak berdayanya diriku.
“Hei,
Ash. Apa kamu baik-baik saja? Sepertinya kamu memancarkan aura negatif dari
seluruh tubuhmu,” tanya
Ian.
“Aku
mungkin sudah tidak bisa lagi. Ian, jika terjadi sesuatu, tolong ambilkan
tulangku,” jawabku.
“Ja-Jangan ngomongin sesuatu yang
menakutkan seperti itu. Serius, apa kamu baik-baik saja? Mau pergi ke ruang UKS?”
“Tidak,
tidak perlu sampai segitunya...”
Saat itu,
aku teringat sesuatu. Ian adalah salah satu dari sedikit teman pria yang bisa
kutemukan dan ia memiliki banyak teman. Dirinya
jauh lebih baik daripada diriku yang
ditinggalkan oleh orang tua, tidak bisa menjalin hubungan sosial yang baik, dan
hanya mengandalkan pengetahuan dari kehidupan sebelumnya untuk menjelajahi
dungeon. Jadi...
“...Hei,
Ian. Apa rencanamu untuk makan siang?”
“Rencanaku?
Aku berencana pergi ke kantin dan membeli menu paket makanan
atau roti, tapi... eh, apa!?”
Setelah
mendengar itu, aku langsung berdiri dan menundukkan kepala dalam-dalam kepada
Ian.
“Ian!
Aku akan mentraktirmu makan siang apa pun, jadi tolong bantu aku!”
“Eh,
hah?”
※※※※
Di atap
gedung terpisah Akademi Sihir Kerajaan terdapat taman besar dengan bangku, air
mancur, dan gazebo yang digunakan sebagai tempat bersosialisasi, seperti saat
siswa mengadakan pesta teh.
Namun, belakangan ini, tidak ada orang di sana karena dampak dari insiden
Elise, fenomena aneh yang terjadi di pertemuan sosial sebelumnya, dan persiapan
festival sekolah.
Merasa
nyaman dengan cuaca yang semakin sejuk di musim gugur, aku dan Ian duduk di
bangku terdekat.
“Asal kamu
tahu saja, kurasa tidak ada gunanya kamu berkonsultasi denganku karena pengetahuan dan
pengalamanmu lebih banyak dariku,”
kata Ian sambil menikmati sandwich daging sapi goreng yang paling mahal dari traktiranku, sambil memandangku dengan
curiga.
Namun,
aku menangkap kata ‘pengalaman’ yang keluar dari mulut Ian
dengan makna yang berbeda dan tidak bisa menahan diri untuk batuk.
“Ad-Ada apa?”
“...Tidak,
bukan apa-apa. Jangan dipikirkan.”
Setelah
mengatakan itu, aku perlahan-lahan meminum teh hangat yang kubeli
bersamaan dengan sandwich daging sapi goreng, berusaha menenangkan diriku, lalu
menarik napas dalam-dalam sebelum membuka mulut.
“Pokoknya,
aku sangat tidak paham tentang hubungan antar manusia. Jadi, aku butuh saran
dari orang yang punya banyak teman
seperti kamu.”
“Memang
benar kamu tidak terlalu dekat dengan siapa pun selain aku, tapi bukannya itu karena kamu punya tujuan
tertentu?”
“...Tidak. Aku hanya merasa bersosialisasi itu merepotkan dan tidak tahu bagaimana caranya berinteraksi dengan orang lain,
jadi tidak ada tujuan atau maksud tertentu.”
Anak-anak
bangsawan di dunia ini, terutama yang dari keluarga bangsawan tingkat tinggi,
biasanya belajar dari guru privat atau bertemu dengan anak-anak dari kalangan
yang sama di pertemuan sosial. Sementara anak-anak bangsawan tingkat rendah
sepertiku dulu belajar tentang hubungan sosial sejak kecil di lembaga
pendidikan swasta.
Namun,
aku tidak memiliki ingatan dari kehidupan sebelumnya selain pengetahuan tentang
[Kizuyoru], dan
karena aku sepenuhnya diabaikan oleh orang
tua, aku tidak pernah mengikuti hal-hal seperti itu. Aku juga tidak peduli dan
lebih memilih menyelam ke dalam area tersembunyi untuk mencari uang, jadi
pengetahuanku tentang hubungan antar manusia hanya berasal dari buku.
Yang
terpenting, aku adalah tipe orang yang merasa bergaul dengan orang lain itu
merepotkan. Jadi, aku tidak pernah merasa kesulitan dengan hal itu hingga saat
ini.
“Eh,
oh. Rupanya alasannya jauh lebih sederhana daripada
yang kubayangkan... Lalu kenapa kamu sering bergaul denganku”
“Hah?
Karena menyenangkan berada di samping sahabat,”
jawabku.
Setelah
aku mengatakannya, Ian berhenti makan sandwich dan membalikkan wajahnya.
“Be-Begitu
ya.”
Entah
mengapa, kupikir telinganya terlihat sedikit kemerahan ketika ia melirikku...
“Eh?
Ada apa?”
“Ti-Tidak, bukan apa-apa. Aku juga tidak memiliki
banyak teman, tapi jika itu baik-baik saja, aku akan mendengarkan. Jadi, kamu ingin berkonsultasi tentang apa?”
“…Apa kamu tahu cara membedakan apakah
perasaan seorang gadis itu bersifat persahabatan atau cinta?”
“Kamu
bertanya tentang hal yang cukup sulit, ya... Kenapa kamu ingin tahu tentang
itu?”
“…Bisakah
kamu merahasiakannya dari siapa
pun?”
“Oh tentu saja, karena aku sudah ditraktir
olehmu.”
Usai mendengar
janjinya, aku menarik napas dalam-dalam
dan memutuskan untuk berbicara.
“Aku
tidak ingin Fine pergi bersama orang lain.
Aku ingin dia selalu ada di sampingku. Jadi, aku berencana untuk mengungkapkan
perasaanku, tetapi aku tidak tahu bagaimana perasaan Fine tentangku, jadi aku
tidak bisa memantapkan hati.”
Setelah
mendengar itu, Ian memegang kepalanya.
“…Kamu
serius bilang begitu?”
“Kalau
Ian bilang begitu, berarti memang aku tidak serasi
dengan
Fine...”
“Bukan
gitu! Maksudku, bukannya kamu dan Fine-chan itu berpacaran!?”
“Sebaliknya,
kenapa kamu bisa sampai berpikir
begitu...?”
“Yah, habisnya, jika kalian terlihat mesra
seperti itu, wajar saja kalau orang lain
akan berpikir demikian!”
Aisha
juga mengatakan bahwa kami terlihat mesra, tetapi ternyata Ian juga berpikir
begitu...
“Ah,
aku sudah bersiap-siap dengan wajah serius, jadi aku merasa buang-buang waktu saja.
Cepatlah ungkapkan perasaanmu. Itu akan menyelesaikan semuanya.”
“Tapi,
aku belum bisa memastikan perasaan Fine...”
“Siapa
yang membuat bekalmu itu?”
“Fine sih?”
Hari ini,
menu makan siangnya adalah Scotch egg, tomat ceri, selada, asparagus yang
dibungkus bacon, dan onigiri kecil berbentuk gumpalan, yang merupakan bekal terbaik
dengan keseimbangan nutrisi dan rasa yang sangat diperhatikan.
“Dengerin
baik-baik, Ash. Biasanya, gadis-gadis
tidak akan membuat bekal rumit seperti itu untuk seseorang yang tidak mereka
sukai. Jadi, jika kamu mengaku perasaanmu dengan jujur, dia pasti akan menerimamu. Jika kamu sudah mengerti,
segera pergi dan ungkapkan perasaanmu.”
“Tapi….”
“Cepetan pergi dan ungkapkan perasaanmu.
Paham?”
“Ba-Baik.”
Di bawah
tekanan Ian, aku tidak bisa menahan diri untuk menjawab seperti itu, sambil mengambil
tomat ceri dengan sumpit dan memikirkan dua kata: pengakuan.
(…Tapi,
lebih baik menyesal setelah melakukannya daripada menyesal tidak
melakukannya.)
Jika aku
terus merasa takut dan tidak menyatakan
perasaanku, waktu akan terus berlalu,
dan jika Fine berakhir dengan orang lain yang lebih baik, aku pasti akan
menyesalinya seumur hidup.
Kalau
begitu, aku harus berani mengambil risiko. Aku berpikir seperti itu sambil
menikmati bekal buatan Fine.
※※※※
(Sudut
Pandang Agnes Valen)
“...Agnes-san, apa boleh aku menyukai Ash-san dalam
artian romantis?”
Kami berdua
duduk di teras yang berada di ujung kantin Akademi Sihir
Kerajaan.
Aku,
Agnes Valen, sedang menerima konsultasi dari Fine-chan,
yang merupakan orang yang sangat berjasa dalam hidupku.
(Kenapa
bisa jadi begini…?)
Melihat
wajah Fine-chan yang benar-benar kelihatan cemas, aku
juga merasa bingung tentang bagaimana menjawabnya, sambil mengingat kembali
bagaimana situasi ini bisa terjadi.
…Awal
mula masalah ini berakar dari saat majikan dan teman serumah Fine-chan, Weiss-san, pergi dari ibu kota karena
urusan mendesak.
“Ah, Fine-chan!
Selamat pagi──”
Pagi itu,
ketika aku bertemu Fine-chan di
koridor dalam perjalanan menuju
kelas, aku melambai dan berusaha menyapa, tetapi aku terpaksa berhenti.
“Haah…”
Fine
memancarkan aura negatif yang tidak biasa dari biasanya yang ceria, sambil
menghela napas berat, dan siswa lain yang berpapasan
dengannya pun tampak terkejut dan menghindar.
Mau dilihat
bagaimanapun, mana mungkin Fine-chan
yang normal bisa seperti ini.
Familiarku,
Aldy, masih tertidur karena kehabisan tenaga setelah menggunakan sihir besar
untuk membalas dendam demi diriku di pertemuan sosial.
Jadi, aku
harus mengambil keputusan.
“Fine-chan!
Ayo makan siang bersama!”
“...Ah,
Agnes-san. Tentu, dengan senang hati.”
Saat
istirahat makan siang, aku mengajak Fine-chan
untuk makan bersama. Dia berusaha tersenyum, tetapi suasana hatinya
tetap sangat suram seperti pagi tadi saat ia datang dengan kotak bekal.
“Umm, apa
ada sesuatu yang terjadi? Wajahmu terlihat pucat, apa
kamu tidak enak badan…?”
“Ti-Tidak,
bukan begitu. Hanya saja ada sedikit hal
yang membuatku sedih… Itu juga masalah pribadi yang sangat pribadi, jadi tolong
tidak perlu khawatir, Agnes-san──”
“Jangan mengatakan hal yang menyedihkan
seperti itu! Fine-chan telah membantuku meskipun aku orang asing! Jadi aku juga ingin membantu Fine-chan
seperti saat itu!”
“Agnes-san…
Kalau begitu, boleh aku bercerita padamu?”
“Tentu
saja!”
Ketika
aku menjawab dengan ceria, Fine-chan
tampak sangat senang dan tersenyum sambil menahan air matanya. Kami pun menuju atap gedung
terpisah yang sepi, lalu duduk di bangku yang ada.
“Jadi, Fine-chan,
kenapa kamu merasa sedih?”
Aku
bertanya dengan suara lembut supaya Fine-chan tidak
merasa tertekan. Sementara
itu, Fine-chan
menundukkan wajahnya dan menjawab dengan nada yang sedikit rendah.
“Sebetulnya──Ash-san
harus pergi meninggalkan rumah karena urusan mendesak, dan aku harus
sendirian menjaga rumah.”
...Eh?
Hanya itu?
Ta-Tapi, jika Fine-chan sampai merasa begitu sedih,
pasti ada hal lain yang mengganggunya. Mungkin, misalnya, mereka akan terpisah
selama enam bulan atau lebih──.
“...Eh,
jadi, berapa lama Ash-san akan pergi?”
“Dia
bilang sekitar tiga hari...”
Hah? Apa
aku salah dengar?
“Eh,
boleh aku bertanya sekali lagi berapa lama Ash-san akan pergi?”
“? Tiga
hari, kok...?”
Tiga
hari, tiga hari ya...? Seharusnya itu cepat
berlalu jika kita menjalani hari-hari biasa.
Tapi Fine-chan benar-benar tampak serius dan
sedih. Jadi, aku harus menghadapi Fine-chan
dengan baik...!
“Aku tidak mempercayai kalau aku tidak
bisa dibelai oleh Ash-san, tidak bisa dipuji saat memasak, tidak bisa duduk
santai di sofa setelah mandi, tidak bisa mengucapkan selamat malam, dan tidak
bisa mengucapkan selamat pagi selama tiga hari
berturut-turut...”
Fine-chan tidak sedang bercanda; dia benar-benar depresi dan mulai
bercerita dengan serius tentang hal-hal yang sangat romantis.
Aku
mendengar dia bekerja sebagai pengurus di rumah Ash-san, tapi bukannya itu sudah seperti pasangan
yang tinggal bersama? Setidaknya, ini jelas-jelas
bukan hubungan antara majikan dan pekerja!
Aku
merasa ingin melontarkan berbagai komentar padanya,
tapi karena Fine-chan sedang
sedih dan kebingungan, aku memutuskan untuk
menghiburnya, berusaha menahan semua perasaanku dan tersenyum.
“Ka-Kalau begitu, bagaimana kalau
setelah sekolah hari ini kita pergi bermain bersama? Aku mungkin tidak bisa
menggantikan Ash-san, tapi pasti lebih baik daripada sendirian!”
“...Agnes-san,
terima kasih...!”
Setelah
mendengar saranku, Fine-chan
tiba-tiba memelukku dan menguburkan wajahnya di dadaku sambil mengucapkan
terima kasih dengan suara bergetar.
...Sungguh,
meskipun alasannya terdengar konyol, aku sangat senang bisa diandalkan oleh Fine-chan dan bisa membantunya.
Namun,
ada sesuatu yang sedikit menggangguku.
(Aku tahu
ini salah, tapi aku berharap Fine-chan
bisa mengarahkan perasaannya itu padaku,
bukan kepada Ash-san...)
Sambil menepuk-nepuk
punggung Fine yang sangat imut, aku berusaha keras menahan perasaan yang tidak
seharusnya muncul. Kemudian,
selama Ash-san tidak ada, kami berusaha menghabiskan waktu bersama sebisa
mungkin.
Kondisi Fine-chan semakin membaik seiring berjalannya
waktu, dan aku merasa senang melihatnya kembali menjadi dirinya yang ceria
seperti sebelumnya, tetapi...
※※※※
“Haah...”
Tiga hari
kemudian, aku memasuki ruang kelas dan merasakan dejà vu yang
kuat.
Fine-chan duduk di kursinya, menundukkan wajahnya,
menggenggam rok dengan erat, dan tampak bergetar. Dia terlihat lebih sedih
daripada saat Ash-san pergi dari rumah.
“...Eh, Fine-chan,
ada apa lagi?”
“Agnes-san...”
Saat
waktu istirahat tiba, aku memanggil Fine-chan. Dia menatapku dengan mata yang
berkaca-kaca, seolah-olah akan menangis, dan memanggil namaku dengan suara
lemah.
“Eh, aku
tidak tahu harus bagaimana lagi... aku sudah tidak mengerti apa-apa...”
Tidak,
dia sepertinya sudah mulai menangis.
“Tu-Tunggu!
Ayo kita pergi ke kantin dulu! Oke!?”
“...Ya...”
Aku
segera menarik tangan Fine-chan
dan membawanya ke kantin di gedung terpisah. Setelah itu, aku mengantarkan Fine-chan ke tempat duduk yang sepi di
teras kantin yang teduh, lalu buru-buru membeli set teh herbal yang menenangkan,
meletakkannya di nampan, dan kembali dengan cepat.
“Fine-chan,
minum ini dan tenangkan dirimu!”
“...Terima
kasih. Ah, uangnya──”
“Kalau hanya segini biar aku yang
traktir. Ayo, minum saja.”
“...Sekali
lagi, terima kasih banyak. Aku akan menerimanya.”
Fine-chan mengambil cangkir teh dan mulai
meminum teh herbal itu.
Syukurlah,
sepertinya dia masih punya nafsu makan.
“Jadi,
apa yang terjadi? Apa seseorang mengatakan hal yang tidak menyenangkan
padamu!?”
“Ti-tTdak,
bukan itu. Bukan masalah seperti itu. Hanya saja aku merasa sangat tidak suka
dengan diriku sendiri...”
Setelah
meletakkan cangkir teh di atas meja,
Fine-chan mulai menceritakan bagaimana dia
bisa sampai pada kondisi ini.
“...Sebenarnya,
aku harus menjaga keponakan Ash-san di rumah selama beberapa waktu.”
Keponakan
Ash-san? Apa itu orang dari keluarga Leben
yang baru saja dieksekusi?
“Jadi,
eh... aku tidak bermaksud untuk menguping! Aku hanya mendengar pembicaraan
antara Ash-san dan keponakannya. Mungkin aku salah dengar, tetapi keponakan
Ash-san bertanya apakah aku dan Ash-san sedang berpacaran...”
...Aku
tidak tahu berapa usia keponakan itu, tapi jika dia bertanya langsung apakah
mereka berpacaran, itu berarti mereka juga terus
bermesra-mesraan di rumah.
“Te-Tentu
saja Ash-san membantahnya! Hanya saja setelah itu, ketika dia disarankan untuk
cepat berpacaran, Ash-san berkata, ‘Aku tidak tahu apa yang dipikirkan Fine
tentangku,’ dan... Setelah mendengar itu, wajahku menjadi panas.”
A-Ash-san!!???? Kenapa kamu malah merasa ragu di situ!? Setelah
semua kemesraan itu!?
“Setelah
itu, bahkan saat tidur di tempat tidur, aku tidak bisa menyingkirkan wajah Ash-san yang malu dari
pikiranku... Pagi ini, aku diliputi keinginan duniawi ketika melihat Ash-san, dermawan besarku, dan aku
mencoba menyembunyikannya dengan bersikap dingin saat menyerahkan bekal padanya...”
Tapi saat
menyerahkan bekal saja sudah cukup panas dan manis, bukan!?
Aku
hampir menyemprotkan teh herbal dan hampir terbatuk-batuk.
“Ap-Apa kamu baik-baik saja?”
“Aku
baik-baik saja... Sa-Sebenarnya, Ash-san bukan orang
yang akan memikirkan hal seperti itu, jadi menurutku Fine-chan tidak perlu terlalu memikirkan hal ini!”
“Benarkah...?”
“Pastinya! Jadi, kamu tidak perlu merasa sedih, Fine-chan!”
Saat aku
menggenggam kedua tangan Fine-chan
dan mendekat, dia yang terlihat sangat imut dengan mata berkaca-kaca itu
mengangguk pelan sambil tampak tertekan.
──Sebagai
catatan, menurut cerita yang aku dengar setelahnya, sepertinya Ash-san sangat gelisah karena Fine-chan memperlakukannya berbeda dari
biasanya.
Untungnya,
masalah itu tidak menimbulkan masalah, tetapi aku benar-benar menyadari bahwa
kita harus berhati-hati dengan apa yang kita katakan.
Kembali
ke topik.
“...Ngomong-ngomong,
apa Fine-chan benar-benar tidak
berpacaran dengan Ash-san?”
“Ah,
tolong jangan bilang hal yang jahat seperti itu, Agnes-san...! Aku dan Ash-san
tidak memiliki hubungan seperti itu──”
“Kalau
begitu, apa kamu tidak menyukai Ash-san dalam artian begitu?”
“Tidak,
bukan begitu... Tapi, Agnes-san, apa boleh
aku menyukai Ash-san dalam artian romantis?”
“Hah?”
“Ha-Habisnya, aku hanyalah seorang
rakyat biasa, dan Ash-san adalah bangsawan yang terhormat, dia bahkan bisa
menikahi putri sungguhan.
Jika dipikir-pikir, aku tidak punya hak untuk menyukai Ash-san...”
Mendengar
kata-kata yang lemah itu, aku langsung berdiri
dari kursi dan meletakkan tanganku di kedua pipi Fine-chan yang kemerahan sambil
mendekatinya.
“Wah!?
“Dengar, Fine-chan. Ash-san menyukaimu, dan kamu juga menyukai Ash-san. Jadi, tidak ada pilihan lain selain bertindak! Sebenarnya, kamu tidak perlu izin untuk menyukai seseorang!”
“Ta-Tapi,
Ash-san adalah penyelamat hidupku, dan aku belum bisa membalas budi padanya, jadi aku tidak boleh mengikuti
keinginanku──”
“Ah,
sudah cukup! Jika kalian berdua tidak melakukan apa-apa dan tetap saling
menyukai tanpa tindakan, kalian akan menyesalonya
seumur hidup! Aku akan bilang berkali-kali, jangan ragu untuk mengungkapkan
perasaanmu! Dalam cinta, yang penting adalah mengambil langkah pertama!”
“Y-Ya.”
Setelah
akhirnya berhasil membuat Fine-chan
berkomitmen, aku mengelus wajahnya sebelum melepaskan tanganku dari pipinya dan
duduk kembali di kursi.
“Aku akan
mengatakannya sekali lagi! Segera ungkapkan perasaanmu! Oke!?”
“Y-ya!”
“Kalau
begitu, sekarang fokuslah pada bagaimana cara mengungkapkan perasaanmu kepada
Ash-san, bukan merendahkan diri! Apa jawabannya!?”
“Y-ya!
Aku akan memikirkan cara untuk mengungkapkan perasaanku kepada Ash-san!”
Aku
memastikan Fine-chan tidak
ragu-ragu.
Fine
adalah anak yang tidak bisa berbohong, menipu, atau melanggar janji, dan dia
tidak akan melakukan hal yang menyakiti orang lain dengan sengaja. Jadi, jika
aku sudah mengatakannya sampai sejauh ini, dia tidak akan menyakiti dirinya
sendiri seperti diriku di
dunia mimpi itu.
“Ehmm,
baiklah, pertama-tama aku harus benar-benar memikirkan apa
yang kusukai dari Ash-san... Tapi, ada
terlalu banyak hal yang kusukai...!”
Jika saja
aku memberanikan diri dan berusaha membantu Fine-chan tahun lalu, mungkin masa depan kita akan berbeda.
Tidak
ada gunanya menyesalinya sekarang.
Aku melarikan diri dari pilihan.
Karena
itu, aku takkan pernah bisa bersatu dengan Fine-chan,
yang telah membebaskanku dari mimpi buruk, yang merupakan penyelamat dan
pahlawanku.
Dan
karena itulah, aku
tidak ingin Fine-chan
merasakan hal yang sama seperti yang aku alami.
Mungkin
ini terlalu mencampuri urusan orang lain, tetapi aku merasa begitu, jadi aku
menahan perasaan yang tidak seharusnya muncul sambil mengamati Fine-chan yang sedang berpikir tentang
kata-kata pengakuan.
(Rasanya
manis, tetapi juga pahit...)
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya