Roshidere Jilid 11 Chapter 2 Bahasa Indonesia

Chapter 2 — Temukan Dalangnya

 

Maaf kalau pagi-pagi sekali sudah menganggumu, Tsukamoto-senpai. 

“Ah, tidak, aku tidak keberatan sama sekali... 

Keesokan harinya, wakil ketua klub piano, Tsukamoto Aoi, dipanggil ke ruang OSIS sejak pagi. Dia terlihat canggung dan menyusutkan bahunya saat menatap Alisa. 

Meskipun dia sendiri telah dimanfaatkan oleh Nonoa dan seseorang yang menjadi tangan kanannya, dia telah menuduh Alisa dan Ayano dengan tuduhan yang tidak benar demi melindungi klub piano. Setelah majelis siswa berakhir dan keberlangsungan klub piano telah ditentukan sementara, mungkin hanya rasa bersalah yang tersisa dalam dirinya. 

“Umm, sekali lagi maafkan aku, Kujou-san. Aku hampir menuduhmu dengan tuduhan yang tidak benar dalam majelis siswa itu. 

Alisa menatap Aoi yang membungkuk dalam-dalam dan meminta maaf. 

“Soal itu, aku akan menganggapnya selesai dengan membantu menangkap orang yang menghasut Senpai. Aku juga minta maaf karena telah menekan Senpai meskipun untuk mengungkap konspirasi. 

Ah, tidak, itu... akulah yang mengajak bertengkar lebih dulu...

Aoi semakin terlihat canggung ketika mendengar permintaan maaf Alisa. Melihat situasi itu, Masachika berpikir bahwa jika dibiarkan terus-menerus, mereka akan terjebak dalam siklus permintaan maaf, lalu ia menyela di antara mereka. 

Baiklah, karena waktu yang kita miliki terbatas, aku ingin segera memulai... Bisakah kamu melihat daftar nama siswa ini dan memberitahu kami siapa siswi yang menghasut Senpai?

Aoi kelihatan sedikit terintimidasi di hadapan tumpukan daftar nama seluruh siswa tingkat atas yang diletakkan di atas meja. Dia kemudian menatap Masachika dengan ragu dan berkata, 

“Umm, seperti yang sudah kukatakan kemarin, aku hanya bertemu dengan orang itu sekali... jadi aku tidak begitu ingat wajahnya dengan jelas... maksudku, seharusnya ada kontrak bahwa aku akan bergabung dengan klub piano jika aku mengikuti instruksi, tetapi sekarang sepertinya itu sudah dilupakan...

Aoi merenungkan seberapa konyol dirinya yang tertipu oleh siswi misterius yang sejak pertemuan itu tidak pernah muncul lagi. 

“Akan tetapi, satu-satunya orang yang berhubungan dengan siswi tersebut saat ini, selain delapan pelaku, hanyalah Tsukamoto-senpai. Jadi, cukup dengan 'Mungkin orang ini mirip?' juga tidak masalah. Kita harus mencobanya satu per satu.

Ah, begitu, ya...? Baiklah, kalau gitu aku akan melihatnya, tetapi... jangan terlalu berharap, ya?”

Dengan penuh perhatian, Aoi mengambil daftar nama siswa dan mulai memeriksa foto-foto wajah yang tertera di dalamnya. Sambil memperhatikannya, Masachika melihat ke arah Sumire, yang tampaknya lebih bersemangat dengan rambut keritingnya yang bergelombang di pagi hari. 

Komite kedisiplinan sudah mulai menyelidiki di bawah pimpinan Sarashina-senpai,kan, Violet-senpai?” 

“Namaku Sumire, tau!

Setelah memberikan tanggapan khasnya, Sumire menjawab dengan menghela napas. 

"Kemarin kami mempersempit jumlah pelaku menjadi delapan orang, dan berdasarkan kesaksian mereka, kami telah mengidentifikasi dalangnya. Sekarang, kami membagi tugas untuk menyelidiki kandidat tersebut." 

“Kalian bertindak gesit ya... 

Selain itu, Yuki dan Ayano juga membantu dalam penyelidikan itu. Namun, karena delapan pelaku adalah anggota ekstremis yang mendukung Yuki, Masachika dan Alisa memutuskan untuk tidak bergabung dan meminta bantuan Aoi untuk melakukan penyelidikan secara mandiri... meskipun ini hanyalah setengah dari alasan sebenarnya. 

Sebenarnya, Masachika dan Alisa bergerak secara independen untuk mengidentifikasi siswi misterius sebelum siapa pun. Dan mereka ingin meminta siswi itu untuk tidak bekerja sama dengan Nonoa sebagai imbalan untuk tidak melaporkannya. 

(Jika kita melaporkan, ada kemungkinan reaksi berantai yang mengungkapkan kalau Nonoa lah dalang sejatinya... Meskipun, aku meragukan kalau Nonoa akan membiarkan orang yang menjadi tangan kanannya memegang bukti penting.) 

Namun, Masachika yang tidak ingin pengkhianatan Nonoa terungkap secara publik, merasa tidak nyaman jika harus melaporkan siswi itu atau jika siswi itu ditangkap oleh orang lain. 

Dengan alasan yang sama, mereka ingin menghindari campur tangan orang lain dalam penyelidikan ini, tetapi... karena mereka tidak bisa menjelaskan tujuan sebenarnya, pihak mereka tidak bisa menolak ketika Sumire mengatakan, Aku ingin mencocokkan informasi Tsukamoto-san dan delapan pelaku,. Tentu saja, mereka sudah mengambil langkah pencegahan ketika mengetahui Sumire akan datang. 

Ngomong-ngomong... kenapa Yushou-san ada di sini?

Melihat Yusho yang dipanggil oleh Masachika, Sumire sedikit memiringkan kepalanya. Menanggapi itu, Yushou menjawab sambil menyisir rambutnya. 

Kenapa? Sebagai ketua klub piano, wajar saja jika aku ingin menangkap orang yang berniat jahat kepada kami, iya ‘kan, Sumire-neesan? 

...Yushou-san, memangnya kamu tipe orang sepeduli itu? 

Benar, jika Sumire mengatakan kalau dirinya akan datang, Yushou pasti akan muncul. Dan dengan memanggil Yushou, mereka bisa membagi tugas secara alami, sehingga Sumire dapat menyelidiki bersama Yushou. Dengan cara ini, Masachika dan Alisa bisa bergerak secara independen. 

Setelah tiga puluh menit berlalu, Aoi yang telah melihat semua foto dengan cepat mengangkat wajahnya dengan ragu. 

Untuk saat ini, aku sudah memilih yang kelihatan mirip... 

Terima kasih. Ada berapa orang?

Totalnya ada dua belas orang.

Alisa yang sedang memotret pilihan Aoi dengan ponselnya, menjawab pertanyaan Masachika sambil memeriksa gambar-gambar tersebut

Siapa saja mereka?

Ah... ini orang-orangnya.

Sumire melihat layar ponsel Alisa dan menempatkan tangannya di mulutnya dengan ekspresi berpikir. 

Hmm... pihak kami justru mempersempit pilihan menjadi sembilan orang yang kami curigai.

Oh, jadi kemungkinan dalangnya bukan beberapa orang, tetapi satu orang yang lebih besar.

Benar. Dengan banyaknya kesaksian yang cocok.

Untuk berjaga-jaga, bisakah kamu memberitahuku siapa sembilan orang itu?

Ya, tentu saja. 

Setelah menyelesaikan pertukaran informasi, Masachika berusaha berbicara dengan nada santai dan mengusulkan, 

Kalau begitu, sebaiknya kita tidak datang dengan terlalu banyak orang agar mereka tidak curiga, jadi gimana kalau kita membagi pencariannya menjadi dua tim?”

Itu ide yang bagus. Ah, apa Kiryuuin-senpai akan menyelidikinya bersama salah satu anggota komite kedisiplinan...?

Segera setelah Alisa mengatakan itu, Sumire menggelengkan kepalanya. 

Tidak? Informasi saat ini sudah kubagikan kepada Onee-sama dan anggota komite lainnya, jadi kami tidak perlu bergabung. 

Kalau begitu, boleh aku meminta SKiryuuin-senpai untuk menyelidiki bersama Yushou-san? 

Ya, kurasa itu tidak masalah. Ayo, Yushou-san.”

Masachika mengepalkan tinjunya dalam hati karena gembira mendengar persetujuan Sumire. Namun, Yushou menunjukkan gerakan yang tidak terduga. Sambil tersenyum kecil, ia menyisir rambutnya dan tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah Aoi. 

Jadi, bisakah kita mendapatkan bantuanmu dalam penyelidikan kami? Wakil ketua.

Eh? Aku sih tidak mau.

Aoi dengan cepat menolak ajakannya. Yushou terlihat terkejut dengan ujung mulutnya yang sedikit berkedut. Sumire menatap Yushou dengan bingung sebelum segera berbalik. 

Ayo, kita harus mencari beberapa orang sebelum pelajaran pagi dimulai. 

…Tapi, tanpa wakil ketua yang pernah bertemu langsung dengan pelaku, kita tidak bisa menyelidiki siapa yang bersalah... 

“Kita bisa tahu siapa yang mencurigakan hanya dengan melihat reaksinya, ‘kan?”

Sumire-neesan mungkin bisa menyadarinya, tapi biasanya jika tidak terlalu mencolok, sulit untuk mengetahui... 

Jangan banyak bicara terus, ayo kita pergi.

Baik.

Saat Sumire mendesak Yushou untuk keluar dari ruang OSIS, Masachika bergumam pada dirinya sendiri. 

“Ampun dah, kenapa orang itu berpikir ia bisa mendapat persetujuan?

Entahlah? Mungkin ia berpikir jika ia mengajak perempuan, mereka akan otomatis setuju.

Tsukamoto-senpai, kamu sangat ketus terhadap Kiryuuin, ya. 

Tentu saja? Tidak ada faktor yang membuatku menyukainya.

Ahaha...

Mengingat situasi Aoi, mungkin wajar saja jika Masachika merasa sedikit kasihan pada Yushou setelah mendengar pernyataannya

Yah, pokoknya... dua belas orang. Mungkin ada siswa yang tidak hadir hari ini, jadi ada kemungkinan kita tidak bisa memeriksa semuanya dalam satu hari.

Kita harus membagi beberapa hari untuk menyelidiki satu per satu... Mungkin kita mulai dari siswa kelas dua yang paling mungkin.

"Hmm~... tahun angkatan bisa dipalsukan dengan mengganti pita, jadi itu tidak terlalu bisa diandalkan... bagaimana jika kita mulai dari kelompok yang lebih sedikit? 

Yah, kurasa itu juga bisa. Baiklah, mari kita mulai dari siswa kelas satu. Apa kamu tidak masalah dengan itu, Tsukamoto-senpai? 

Ya, sepertinya tidak masalah... 

Setelah percakapan itu, Masachika dan Alisa memutuskan untuk mulai menyelidiki para tersangka satu per satu bersama Aoi.

 

◇◇◇◇

 

“Umm, permisi, maaf kalau kami tiba-tiba mengganggu. Boleh aku bertanya sebentar?

Ya? Aku... ara, bukannya kamu Kujou-san?

Ya. Sebenarnya, aku ingin bertanya... Apa kamu mengenal seseorang yang terkenal pandai berdandan?

Orang yang pandai berdandan...?

Siswa kelas 1-A yang kebetulan ada di koridor menunjukkan ekspresi bingung mendengar pertanyaan mendadak dari Alisa. Namun, pertanyaan ini memang ada artinya.

Berdasarkan kesaksian Aoi, diketahui bahwa siswi misterius itu memiliki riasan yang cukup mencolok, yang jarang ditemukan di sekolah ini, di mana riasan tipis yang tidak menarik perhatian guru merupakan hal yang umum. Mungkin riasan itu juga berfungsi sebagai penyamaran, tetapi sulit untuk membayangkan dia mempercayakannya kepada orang lain. Dengan demikian, bisa diasumsikan bahwa siswi misterius itu pandai berdandan... dan karena tidak mungkin Alisa mengatakan langsung Aku curiga kamulah pelakunya, maka dia bertanya dalam bentuk penyelidikan. 

(Akan tetapi, jika dia pelakunya, pasti ada reaksi tertentu saat melihat Tsukamoto-senpai...) 

Sambil memikirkan hal itu, Alisa dengan hati-hati mengamati reaksi siswi dari belakang, tetapi siswi itu tidak menunjukkan reaksi mencurigakan ketika melihat Masachika dan Aoi di hadapannya. Setelah berpikir serius tentang pertanyaan mendadak dari orang yang hampir tidak dikenalnya, dia menyebutkan tiga nama. 

Baiklah. Terima kasih.

Sama-sama... Kujou-san, apa kamu tertarik pada riasan? Dengan kecantikanmu, sepertinya kamu tidak perlu berdandan.

Oh tidak, itu bukan aku... Tapi terima kasih banyak. 

Tidak masalah, aku senang bisa membantu. 

Siswi itu tersenyum dan membungkuk sebelum pergi. 

…Dia orang yang sangat baik.

“Memang. Jadi... Tsukamoto-senpai, bagaimana menurutmu?

Menanggapi pertanyaan Alisa, Aoi perlahan menggelengkan kepalanya. 

Kurasa bukan dia. Cara bicaranya, suaranya, semuanya sangat berbeda... Selain itu, aku merasa siswi yang aku temui sedikit lebih ramping secara keseluruhan.

Kalau begitu, sepertinya bukan dia... yah, dia tidak memalingkan wajahnya atau melihat ke arah lain atau melakukan hal aneh apa pun ketika melihat kita. 

Masachika-kun, bagaimana dengan tiga orang yang baru saja kita dengar pandai berdandan?

Untuk saat ini, aku sudah mencatat namanya, dan kita bisa memeriksa foto mereka nanti. Lagipula, masih ada sebelas orang lagi... 

Masachika merasa sedikit murung dengan panjangnya daftar itu, tetapi sebenarnya tidak perlu memeriksa sebelas orang itu. 

Karena Aoi hanya melihat foto setengah badan untuk memilih kandidat, saat melihat langsung, ternyata ada beberapa orang yang jelas memiliki postur tubuh yang berbeda atau wajah yang cukup berbeda dari foto. Secara spesifik, beberapa orang terlihat lebih berisi dibandingkan foto, atau memiliki jerawat yang tidak bisa disembunyikan dengan riasan... Dengan demikian, dari dua belas kandidat, hanya tiga orang dari kelas satu yang tersisa. Satu dari dua orang lainnya sudah jelas bukan kandidat, dan lima belas menit sebelum pelajaran pagi dimulai, mereka sudah selesai memeriksa semua siswa kelas satu. 

Rupanya lebih cepat dari yang kubayangkan... Jadi selanjutnya, kita akan mencari siswa kelas tiga?

Ya. Apa kita akan melakukannya saat istirahat siang?

Tidak, saat istirahat siang semua orang keluar kelas dan kita tidak tahu mereka berada di mana... Jika bisa, aku ingin memanfaatkan waktu istirahat sepuluh menit untuk menyelidiki. Tentu saja, aku tidak mengatakan harus setiap jam...

Masachika mengamati wajah Alisa dan Aoi dengan ragu-ragu, lalu keduanya mengangguk dan setuju untuk melakukan penyelidikan selama sepuluh menit istirahat antara jam kedua dan ketiga. 

Kalau begitu, sepertinya lebih baik kita pergi ke kelas dua sambil mengingat waktu perjalanan. Lagi pula, inilah target utama kita.

Memang, itu juga benar.

Aku juga tidak keberatan dengan itu... atau lebih baik kita pergi sekarang? Masih ada sekitar tiga belas menit.

Masachika dan Alisa juga mengangguk setuju dengan saran Aoi, dan ketiganya buru-buru menuju lantai di mana kelas dua berkumpul. Kemudian di tengah perjalanan, 

Oh? Alya-chan dan Kuze-kun? Ada apa kalian di sini?

Secara kebetulan, mereka bertemu Maria di tangga. 

Selamat pagi, Masha-san. Tidak, aku sedang mencari seseorang terkait majelis siswa kemarin.

Karena waktu yang terbatas, Masachika cepat-cepat mengatakan itu dan berusaha pergi, tetapi... sayangnya, dia tidak bisa menghindari Maria. 

Mencari seseorang? Apa kalian mencari siswa kelas dua?

Ya, kurang lebih begitu...

Kalau begitu, aku mungkin bisa membantu~. Jadi, kalian sedang mencari siapa?

Eh?

Terkejut dengan tawaran yang tak terduga, Masachika langsung menatap Alisa, yang juga tampak sedikit bingung sambil menunjukkan layar ponselnya kepada Maria. Setelah melihat gambar daftar nama yang ditampilkan, Maria mengangguk. 

Oh, Miume-chan, ya? Kebetulan sekali. Dia itu temanku, mau aku kenalkan?

Eh, beneran?

Alisa terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. Masachika merasakan hal yang sama, tetapi jika demikian, tidak ada salahnya meminta bantuan. 

Tidak, tidak perlu dikenalin segala... aku hanya ingin melihat Masha-san berbicara dengan orang itu dari belakang.

Eh? Cuma itu saja? 

Ya, aku hanya ingin memastikan wajah dan suaranya.

Hmm~? Aku tidak begitu mengerti, tetapi baiklah. Kalau begitu, ayo ikut aku.

Sambil saling bertukar pandangan dengan Alisa dan Aoi, mereka bertiga mengikuti Maria. Maria masuk ke dalam ruang kelas lain dan menyapa siswi yang menjadi target mereka. 

Selamat pagi, Miume-chan~ 

Eh? Owalah~ Masha toh! Selamat pagi, ada apa? 

Keduanya saling menggenggam tangan dengan hangat dan bertukar salam yang akrab. Namun, siswi itu kemudian memperhatikan ketiga orang yang berdiri di belakang Maria dan berkedip beberapa kali. 

“Umm, siapa ketiga orang itu? Adik dan pasangannya...? 

Oh, kamu tidak perlu menghiraukan mereka! Mereka hanya pengamat.

Pengamat? Apa maksudnya...?

Meskipun tersenyum, Maria mengucapkan sesuatu yang agak aneh, tetapi siswi itu tampaknya sudah terbiasa dan kembali menatap Maria. Dari situ, Maria mengobrol ringan sebelum akhirnya tersenyum manis. 

Terima kasih sudah mengobrol! Senang sekali bisa berbicara dengan Miume-chan setelah sekian lama~

“Begitu? Terima kasih.

Ya, sampai jumpa lagi~”

Maria melambaikan dengan kedua tangannya, dan siswi itu membalas dengan senyuman. Setelah keluar ke koridor, Maria menatap Masachika dan sedikit memiringkan kepalanya. 

Apa begini sudah cukup?

Tidak, ini sudah lebih dari cukup... Tsukamoto-senpai, bagaimana menurutmu?

Menanggapi konfirmasi Masachika, Aoi menggelengkan kepalanya dengan wajah serius. 

“Kurasa dia juga bukan. Aku tidak bisa memastikannya melalui foto karena rambutnya menutupi, tetapi menurutku orang yang aku temui tidak memiliki rahang sebesar itu.

Begitu ya... kalau begitu, kita lanjut ke yang berikutnya.

Masih ada lagi? Siapa?

“Umm, orang ini...

Saat Alisa menunjukkan ponselnya lagi, Maria kembali mengangguk. 

“Ah, dia juga temanku. Ayo ke sini.

Eh, beneran?

“Serius? 

Meninggalkan tiga orang yang masih terkejut, Maria melangkah ringan ke kelas sebelah, melihat sekeliling kelas, bertanya kepada siswa terdekat, lalu segera kembali. 

Maaf, sepertinya dia belum datang.

Ah, tidak apa-apa...

“Aku akan memperkenalkannya nanti. Jadi, masih ada yang lain?

“Umm, ini...

Saat Alisa menunjukkan ponselnya, Maria kembali mengangguk. 

Ya, dia juga temanku~. 

“Bukannya kamu terlalu punya banyak teman, Masha-san!? 

“Masa? Yah, aku memang berusaha makan di kantin dengan orang yang sama sekali tidak aku kenal sekali seminggu, mungkin itu alasannya. 

Kamu benar-benar perwujudan keterampilan komunikasi...!!

Masachika merasa terkejut usai mendengar cerita tentang kemampuan sosial yang disampaikan dengan santai. Alisa juga tampaknya tidak tahu tentang hal ini, membuka matanya lebar-lebar saat menatap kakaknya... tetapi kejutan mereka belum berakhir. Setelah itu, ketika Maria melihat foto orang keempat dan berkata, Hmm, aku tidak tahu orang ini, Masachika dan yang lainnya merasa lega. Namun, Maria tidak ragu-ragu mendekati siswi yang baru dikenalnya dan berbincang selama dua atau tiga menit, langsung akrab.  

“Dia benar-benar perwujudan keterampilan komunikasi... 

...

“Kakakmu benar-benar luar biasa.” 

Beberapa menit setelah baru saja memperkenalkan diri, Maria sudah asyik berbincang-bincang dengan ceria. Ketiga orang itu mengamati pemandangan itu dari belakang, setengah melupakan tujuan awal mereka dan hanya merasa kagum dengan kemampuan berkomunikasinya

Dengan demikian, berkat bantuan Maria yang sangat dapat diandalkan, Masachika dan yang lainnya berhasil menghubungi semua lima kandidat dari kelas dua selama pagi dan istirahat siang. Namun, masalahnya adalah semua delapan orang yang mereka temui sejauh ini bukanlah orang yang mereka cari. 

“Itu berarti masih ada sisa empat orang dari kelas tiga... Kalau dengan kecepatan ini, sepertinya kita bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu istirahat sore.

“Bagaimana jika kita masih belum bisa menemukannya?

Yah, mungkin kita perlu mengadakan rapat strategi...

Dengan perasaan tidak enak, mereka berempat memutuskan untuk mengunjungi kelas tiga saat istirahat sore. Masachika dan yang lainnya sekali lagi diperlihatkan seberapa luas lingkaran pertemanan Maria, dan mereka menuju salah satu siswi yang merupakan teman Maria dari sisa empat kandidat. 

Wah~ sudah lama tidak bertemu~ Takatsudo-senpai~!

Eh? Marsha-chan? Dan, adikmu, dan...?

Tatapan siswi yang dipanggil Maria beralih ke ketiga orang di belakangnya... dan suara Ah terdengar. 

Apa ini jangan-jangan tentang pencarian dalang yang terkenal itu?

!?

Ah, jadi benar begitu.

Melihat wajah Alisa yang bereaksi secara langsung, siswi itu tertawa. Karena hal ini tak bisa diabaikan begitu saja, jadi Masachika melangkah beberapa langkah ke depan dan berdiri di samping Maria. 

Maaf jika aku tiba-tiba mengganggu. Namaku Kuze dari divisi umum OSIS. Memangnya ada rumor apa saja yang beredar? 

Eh? Oh, ya, rumor tentang majelis siswa kemarin sudah menyebar, dan ada kabar bahwa komite kedisiplinan dan pasangan Suou-san sedang mencari dalangnya.

Begitu ya. 

Tampaknya, mereka yang bergerak secara terpisah sudah tidak menyembunyikan tujuan mereka... atau mungkin tidak bisa menyembunyikannya. 

(Yah, jika mereka membawa pelaku dan bertanya di sana-sini, pasti akan ada yang bisa menebak tujuan mereka... atau mungkin...) 

Mungkin Yuki sengaja melakukan penyelidikan secara terbuka untuk membuktikan ketidakbersalahannya. Memikirkan hal ini, Masachika merasa kemungkinan itu lebih besar. 

Eh? Jadi, apa itu berarti aku juga dicurigai? 

Dengan nada sedikit lucu dan tanpa menunjukkan tanda-tanda tersinggung, senior itu menunjuk wajahnya sendiri, dan Masachika dengan jujur menjawab. 

Maaf, saat ini kami sedang mencari siswa yang mirip dengan dalang itu... 

Wah, seriusan? Duh~ gimana nih, apa aku harus memberikan alibi atau sesuatu?

Siswi itu menggaruk kepalanya sambil tertawa, tanpa menunjukkan sedikit pun emosi negatif. Masachika mengalihkan pandangannya ke arah Aoi. Aoi menunjukkan sedikit keraguan sebelum menggelengkan kepalanya kecil-kecil. 

(Bukan juga ya... Yah, jika dia memang pelakunya tapi masih bisa bersikap seperti ini, berarti dia adalah seorang aktris yang luar biasa.) 

Sambil memikirkan hal itu, Masachika memutuskan untuk bertanya lebih banyak kepada senior yang memiliki kepribadian menyenangkan ini. 

Boleh aku bertanya, tentang rumor apa saja yang beredar mengenai majelis siswa kemarin?

Eh? Kalau ditanya rumor apa saja sih... hmm, ada seorang siswa yang mencoba memanipulasi hasil pemungutan suara untuk menjatuhkan reputasi anggota OSIS? Dan ada dalang yang menghasut siswa-siswa itu, dan sekarang mereka sedang mencarinya... seperti itu?

“Apa kamu bisa menceritakannya lebih detail?

Lebih detail? Hmm... oh, ya. Target dari siswa yang ditangkap itu adalah Kujou-san yang ada di sana, dan mereka melakukan itu untuk membuat Suou-san terpilih, kan? Itulah yang aku dengar. 

“....bagaimana pendapatmu setelah mendengar cerita itu? 

“Pendapatku? Hmm... yah, kadang-kadang penggemar yang terlalu bersemangat bisa bertindak di luar kendali. 

Ada desas-desus bahwa sebenarnya Suou Yuki sendiri yang menghasut para pendukung itu."

Hah? Tidak mungkin. Siapa yang akan mengatakan hal seperti itu? 

Gadis senior itu tertawa setelah mendengar Masachika menyebutkan teori konspirasi yang belum menjadi rumor. 

Aku juga tidak terlalu mengenalnya, tapi Suou-san bukan tipe yang melakukan hal-hal licik seperti itu. Jika dia benar-benar dalangnya, dia tidak akan mencari pelaku bersama komite kedisiplinan. Lagipula, kamu yang dulu menjadi pasangannya seharusnya mengetahui hal itu. 

…Yah, memang benar sih.

Ketika Masachika tersenyum getir, siswi itu mengalihkan pandangannya kepada Alisa. 

Yah, sepertinya semuanya cukup sulit... tetapi semangat ya. Secara pribadi, aku mendukungmu, Kujou-san.

“Hah? Oh, terima kasih... tapi, kenapa?

Hmm? Aku merasa kamu berjuang keras. Berani melawan Suou-san saja sudah luar biasa... yah, aku akan lulus bulan April tahun depan, jadi aku tidak bisa memberikan suara sih. 

…Tidak, dukungan moral saja sudah sangat berarti, terima kasih.

Yah, semangat ya~... eh, sepertinya aku tiba-tiba memotong pembicaraan. Apa kamu baik-baik saja? 

Meskipun sebenarnya tidak ada kewajiban untuk mendengarkan, Masachika tersenyum kepada senior yang peduli ini dan dengan tulus membungkuk. 

Tidak, ini sudah cukup. Terima kasih atas informasinya yang berharga.

Terima kasih telah meluangkan waktu.

“Makasih banyak ya, Takatsudo-senpai~. Mari kita berbincang lagi lain waktu~.

Ya, sampai jumpa.

Setelah mengucapkan selamat tinggal kepada senior yang melambaikan tangannya, Masachika dan yang lainnya keluar dari kelas 3D sambil membungkuk. 

…Dia benar-benar senior yang baik. Kami bisa mendengar banyak hal. 

Benar. 

“Iya ‘kan~? Aku juga sangat menyukai Takatsudo-senpai 

Masachika tidak bisa menahan senyumannya saat mendengar Maria yang mengungkapkan perasaannya tanpa ragu. Tiba-tiba, Maria menunjukkan ekspresi terkejut dan terlihat gelisah sebelum melambai-lambaikan tangannya kepada Masachika. 

Ada apa?”

Ah, ayo ke sini sebentar... 

Eh?

Sambil memberi isyarat, Maria bergerak sedikit menjauh, sedikit mencondongkan tubuh ke depan dan berbisik di telinga Masachika. 

(Meskipun aku bilang aku menyukainya, perasaan suka itu berbeda dengan perasaan skuaku terhadap Sa-kun, oke?) 

Eh!?

(Perasaan sukaku terhadap Saku-kun itu sangat~~ istimewa. Paham?)

Mendengar Maria mengatakan hal itu dengan nada serius dan emosional membuat otak Masachika terasa seperti meleleh, dan dia tidak bisa menghentikan darah yang mengalir ke kepalanya. Dia merasa seolah akan mati. 

Hei, apa yang sedang kalian lakukan?

Saat itu, Alisa mendekat dengan ekspresi cemas. Dia menatap kakaknya yang menjauh dengan tatapan curiga, lalu mengarahkan pandangannya tajam ke Masachika yang perlahan memerah. 

Ada apa? Apa yang kalian lakukan?

“Tidak, bukan apa-apa kok...

Kejutan yang melanda otaknya terlalu besar, sehingga Masachika tidak bisa langsung menemukan alasan yang baik. Namun, Maria dengan senyuman biasa-biasa saja berkata tanpa beban. 

Ah, itu bukan sesuatu yang serius kok~. Aku cuma mengatakan bahwa meskipun dia senior yang baik, jangan sampai jatuh cinta padanya, ya? Karena Takatsudo-senpai sudah punya pacar.

Apa-apaan itu...? Itu bukan sesuatu yang perlu dibicarakan secara diam-diam juga.

Eh~? Aku pikir lebih baik tidak terlalu keras menyebutkan perasaan cinta seorang anak laki-laki tau~...

Tidak usah sebut-sebut perasaan cinta segala kali... Aku tidak mengatakannya dengan maksud seperti itu saat mengomentari 'dia senior yang baik'...

“Kamu juga sama, kenapa wajahmu sampai memerah seperti itu? 

Alisa menatap Masachika yang mengibaskan wajahnya dengan tangan, tampak setengah bingung dan setengah curiga. Maria pun dengan bangga mengangkat dadanya. 

“Tuh, ‘kan! Bagi anak laki-laki, berbicara tentang siapa yang mereka sukai itu rasanya memalukan!

…Benarkah? 

…Yah, bisa dibilang itu bukan topik yang ingin dibicarakan di depan lawan jenis.

“Hmm~ begitu.

Alisa menunjukkan tanda-tanda setuju usai mendengar penjelasan dari Maria dan Masachika. Di sisi lain, Aoi melihat mereka dengan ekspresi tidak bisa dijelaskan, seolah-olah dia sudah bisa merasakan sesuatu. Masachika kemudian membersihkan tenggorokannya dan mengalihkan perhatiannya pada Aoi. 

Maaf. Jadi, bagaimana dengan senior yang tadi, Tsukamoto-senpai?

Setelah beberapa detik berpikir, Aoi tampak ingin mengatakan sesuatu, lalu menutup matanya sejenak dan mengeluarkan napas berat sebelum menjawab dengan wajah serius. 

“Kurasa dia juga bukan... Meskipun wajah dan postur tubuhnya mirip, suasananya sangat berbeda... 

Begitu. Yah, dari caranya berbicara, aku juga merrasa dia mungkin bukan orang yang sama.

Ya...

Kemudian, Masachika menoleh ke arah Alisa dan berkata dengan nada sedikit nakal, 

Alisa, bagus deh. Senior yang tadi mendukungmu.

Mendengar kata-kata Masachika yang bercanda, Alisa yang masih menunjukkan ekspresi sedikit cemberut menjawab sambil menatap ke arah atas. 

Ya, yah... begitulah. Entah kenapa, meskipun orang itu benar-benar asing... tidak, justru karena mereka orang yang benar-benar asing, membuatku merasa lebih termotivasi untuk berusaha lebih keras.

Mendengar respons jujur dari Alisa, Masachika membuka matanya sejenak sebelum mengubah senyumnya menjadi lebih lembut. 

…Begitu ya.

Kemudian, dia menoleh ke arah Aoi dan melanjutkan. 

Jadi, sekarang tersisa tiga orang... Tsukamoto-senpai, mohon bantuannya terus.

Ah, ya. Baiklah... 

Dengan dukungan dari senior, mereka kembali bersemangat untuk melanjutkan penyelidikan... namun, 

Aku tidak pernah menyangka kalau ketiga orang terakhir ini juga bukanlah dalangnya. 

Dengan akhir yang terkesan menggantung, Masachika tidak bisa menahan diri untuk mengucapkan itu. 

Maafkan aku.

Tidak, Tsukamoto-senpai tidak melakukan kesalahan apa pun.

Memang, setelah semua upaya mereka, rasa kekecewaan semakin kuat, tetapi Aoi sudah langsung mengatakan itu bukan dia saat melihat sekilas. Selain itu, Masachika pun bisa membayangkan alasan di baliknya... secara spesifik, satu orang sangat tinggi, satu orang sangat gelap, dan satu orang... secara keseluruhan terlihat cukup gemuk. 

Pada akhirnya, setelah memeriksa semua dua belas orang, tidak ada satu pun siswa yang membuat Aoi berkata, “Dialah orangnya! dan tidak ada juga siswa yang menunjukkan reaksi mencurigakan di mata Masachika. Untungnya, tidak ada kabar dari Sumire atau Yuki mengenai penangkapan pelaku, sepertinya penyelidikan mereka juga mengalami kesulitan. 

“Aku benar-benar minta maaf... 

Tidak apa-apa, aku mengerti. Mencari seseorang yang hanya pernah kita temui sekali berdasarkan ingatan saja mana mungkin bisa berjalan lancar. 

Itu adalah pernyataan yang tulus. Sebenarnya, Masachika sudah merasa sekitar tujuh puluh persen tidak akan menemukan orang tersebut. 

“Jadi, selanjutnya mau bagaimana...? Apa kita akan memeriksa foto di ruang OSIS lagi setelah sepulang sekolah?

Hmm... tidak, sebelum itu, mari kita coba pergi ke klub teater, seperti yang dibahas saat kita mencari siswa kelas satu.

Itu adalah jawaban untuk pertanyaan Apa kamu mengenal siswa yang pandai berdandan? yang dijawab dengan Mungkin orang-orang dari klub teater? Meskipun tidak benar-benar serius saat bertanya, jawaban itu sangat masuk akal dan teringat jelas di benaknya. 

Aku kenal ketua klub teater, jadi kupikir aku akan meminta sedikit waktu mereka sebelum latihan dimulai...

…Baiklah. Tolong.

Apa Tsukamoto-senpai juga bisa ikut bergabung dengan kami? 

Ah, ya. Tidak masalah.

Terima kasih.

“Bagaimana kalau aku ikutan juga~? 

Oh tidak, Masha-san sih bisa ikut atau tidak..." 

“Hmph! Kenapa aku tidak diundang? 

Eh! Tidak, bukan itu maksudnya... Kalau begitu, mau ikut bersama kami? 

“Tentu! 

Entah apa yang membuatnya begitu senang, wajah Maria yang awalnya cemberut kini berubah menjadi senyuman ceria, dan Masachika bertukar pandang dengan Alisa sambil tersenyum kecil. 

Dengan begitu, setelah mengatur pertemuan dengan ketua klub teater, keempatnya mengunjungi aula tempat klub teater berkumpul sepulang sekolah. 

Baiklah, semuanya, berkumpul!" 

““““““Ya!!””””””

Menanggapi panggilan ketua klub, sekitar dua puluh anggota klub membentuk lingkaran dan berdiri tegak dengan tangan di belakang tubuh. 

Melihat pemandangan yang lebih mirip suasana olahraga dari sisi panggung, ketua klub menatap ke arah mereka dan berkata, 

Sebelum kita memulai latihan, hari ini kita kedatangan beberapa tamu. 

““““““??””””””

Saat anggota klub yang lain diam namun menunjukkan reaksi kebingungan, Masachika dan yang lainnya maju ke panggung setelah mendengar suara ketua yang berkata Silakan masuk.

““““Permisi.”””” 

Suara keempat orang itu menarik perhatian anggota klub... 

(Hmm?) 

Pada saat itu, Masachika melihat salah satu anggota wanita yang melihat ke arah mereka dan cepat-cepat membalikkan wajahnya. 

Maaf mengganggu kalian sebelum latihan, kami ingin bertanya sedikit, apa kalian tidak keberatan?

Tidak masalah. Tapi, hanya lima menit saja. 

Terima kasih. Itu sudah cukup.

Masachika melihat sekilas ke arah Alisa dan Aoi yang menunjukkan bahwa mereka juga melihat hal yang sama. Maria? Sepertinya tidak menyadari apa-apa, jadi ia membiarkannya saja. 

(Reaksinya setelah melihat wajah kami... jangan-jangan, dia tidak ingin Tsukamoto-senpai melihat wajahnya...? Apa pun itu, reaksinya jelas-jelas mencurigakan.) 

Tanpa aba-aba, Mereka bertikag melangkah menuju anggota wanita yang membalikkan wajahnya. Masachika bertanya melalui tatapannya kepada Aoi, Aoi mengangguk dengan ekspresi tegang. 

(Jadi, postur tubuhnya tidak terlalu jauh dari yang kami cari... mungkin, mungkin saja?) 

Sambil berusaha tidak menunjukkan ketegangannya, Masachika mengajak anggota wanita itu bicara. 

“Umm, permisi.

“Iy-Iya!

Suara yang anehnya melengking tinggi, seolah-olah sengaja dibuat. Wajahnya tetap tidak mau menatap ke arah mereka. 

“Umm...? 

Namun, saat Alisa memanggilnya lagi, anggota wanita itu perlahan menatap mereka dengan tatapan ragu. 

Wajahnya yang terlihat biasa-biasa saja sangat berbeda dari deskripsi gadis cantik yang menonjol yang didengar Aoi. 

(Tidak, mungkin wajah seperti ini lebih bisa berubah dengan makeup...?) 

Meski begitu, Masachika tetap waspada. Dia memperhatikan saat mata anggota wanita itu menangkap sosok Alisa— 

Ah, wajahnya cantik banget! 

Ketika dia mengatakannya, anggota wanita itu hampir terjatuh mundur sambil terkejut. Masachika dan Alisa tertegun. 

Ehm, jadi...? 

Suara yang indah! Memukau banget!

Sambil cepat-cepat melontarkan pendapatnya, anggota wanita itu berusaha bersembunyi di belakang anggota lain. Saat itu, Masachika akhirnya memahami kenapa dia membalikkan wajahnya. Ia mengerti dan menatapnya dengan wajah tertegun. Setelag melihat sekeliling, anggota klub drama lainnya menyaksikan situasi yang terjadi dengan tatapan serupa. 

“Umm, jadi... kamu siapa...? 

Alisa berusaha menanyakan namanya meski dalam keadaan kebingungan. Namun, anggota wanita itu membuka matanya lebar-lebar dan berteriak dengan ekspresi melengkung. 

Aku penggemarmuuuu~~~~~~~!!!

“Fwahh...?

“Iyaaaa~~~~~~~~~!!! Maaf! Pertemuan majelis siswa kemarin, sangat keren dan membuatku terharu!! 

Ah... te-terima kasih?

“Uwahhhh~~~~~~~!!! Wajahmu bagus banget~~~~~~~!!! Terlalu cantik~~~~~~!!! 

Sambil hampir terjatuh, anggota wanita itu berteriak dengan wajah yang tampak ingin menangis, membuat Alisa melihat Masachika dengan ekspresi putus asa. Namun, Masachika juga menatapnya dengan ekspresi kebingungan

Bagaimana kalau kamu berjabat tangan dengannya? 

“Aku bukan selebriti, jadi apa gunanya...

“Ehh!!! Apa boleh!? 

Ah, orangnya sendiri malah ingin melakukannya...

Tiba-tiba, anggota wanita itu berdiri dengan semangat dan mengulurkan tangan kanannya. Alisa, meski sedikit ragu, mengulurkan tangan kanannya juga. Anggota wanita itu kemudian membungkus tangan Alisa dengan kedua tangannya dan mengangkat wajahnya dengan penuh emosi. 

Terima kasih! Aku mendukungmu! Tahun depan pasti akan memberikan suaraku!!

“Te-Terima kasih...

Di belakang Alisa yang tertegun, Masachika berbicara pelan kepada Aoi. 

(Bagaimana? Apa ada wanita lain yang cocok?)

(Hmm...)

Aoi melihat sekeliling wajah anggota teater dan mengerutkan alisnya. 

(Maaf. Aku pikir anggota itu mungkin terlihat berbeda setelah berdandan, tapi setelah berpikir begitu, semua anak jadi terlihat seperti itu...)” 

(Ah...)

Pada akhirnya, yang mereka ketahui setelah mengunjungi klub teater hanyalah bahwa Alisa ternyata memiliki penggemar yang antusias. Selain itu, sepertinya respons terhadap penggemar tersebut juga meningkatkan popularitas Alisa di dalam klub teater. 

 

◇◇◇◇

 

Ahh... pada akhirnya, semuanya sia-sia, ya?

Setelah mengunjungi klub teater, Masachika dan yang lainnya berpisah dengan Aoi dan pergi ke ruang OSIS untuk beristirahat. 

Setelah mengelilingi berbagai tempat untuk penyelidikan sejak majelis siswa kemarin, Masachika ambruk ke atas sofa dan meregangkan tubuhnya. 

Ugh...! Ah...

Dirinya merasa nyaman saat semua otot-ototnya meregang, lalu bersantai sambil memeriksa ponselnya. 

Tidak ada kabar dari sisi komite kedisiplinan... sepertinya mereka juga belum menangkap siapa pun.

Sepertinya begitu.

Yah, rasanya memang sulit... 

Sambil berkata demikian, Masachika bangkit dari sofa dengan semangat. 

Marsha-san, terima kasih banyak untuk hari ini, kamu sangat membantu pencarian kami... 

“Hmm~? Tidak masalah kok~. Oh, aku akan menyeduh teh.

Maria yang sangat bisa diandalkan itu tersenyum ceria dan mulai menyiapkan teh. Masachika semakin menghormati seniornya karena sikapnya yang penuh perhatian. Namun, saat Maria mengambil kaleng teh, dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan bertanya. 

Ngomong-ngomong, apa yang sedang kamu selidiki hari ini?

Eh?!

Pertanyaan yang terlambat itu membuat Masachika hampir tersedak. Rasa hormat yang meningkat juga seolah menghilang. 

Masha... kamu melakukan semua ini tanpa mengetahuinya...?

“Habisnya~ tidak ada yang menjelaskannya padaku sih~. 

Itu mungkin benar sih, tapi...

Meskipun begitu, biasanya orang akan bertanya di tengah jalan, pikir Alisa, sambil menyentuh pelipisnya dan mengerutkan kening. Kemudian, dia menghela napas lelah dan berdiri. 

Aku akan pergi membeli sesuatu yang manis. Masachika-kun, tolong jelaskan pada Masha.

“Hahhh...? 

Ah, Alya-chan. Tolong belikan untuk Onee-chan juga ya~. Aku mau puding.

Iya, iya.

Alisa dengan santai menyerahkan tugas menjelaskan kepada Masachika dan berjalan keluar meninggalkan ruang OSIS. Lalu, Maria menyeduh teh sambil bertanya pada Masachika. 

Jadi, apa yang sedang kaliab berdua selidiki?

Yah, gimana bilangnya ya... aku ingin Masha-san tetap terus seperti itu...

Begitu? Kalau Kuze-kun bilang begitu, aku akan melakukannya.

Entah kenapa, Masachika merasa tidak ingin menjelaskan tentang dalang atau konspirasi kepada seniornya yang ini, dan Maria pun mengangguk tanpa menunjukkan tanda-tanda menghiraukannya. 

Ah, aku secara tidak sengaja menyeduh teh untuk bagian Alya-chan juga. Hmm, apa aku harus menutupnya?

Kan bisa diseduh lagi nanti? Kalau mau, aku bisa minum dua cangkir. 

Benarkah? Kalau begitu, aku akan minta tolong padamu ya. 

Maria berkata demikian dan membawa nampan berisi teko dan tiga cangkir teh. 

Silakan dinikmati.” 

Terima kasih. 

Saat menerima cangkir teh, Masachika merasa sedikit bersalah karena telah meminta Maria menyeduh teh. 

“Aku benar-benar minta maaf... padahal Masha-san sudah ikut membantu dalam penyelidikan.

Ehh~? Jangan khawatir. Aku melakukannya karena menyukainya, kok.  

Tidak, aku pasti akan membalas budi nanti.

Sambil mengatakan itu dengan tegas, Masachika menyesap tehnya. Maria kemudian duduk di sebelah kanan dan mendekatkan tubuhnya. 

(Huh? Bukannya dia duduk terlalu dekat?) 

Namun pemikirannya itu tidak bertahan lama karena Maria tiba-tiba menempelkan tubuhnya dan berbisik di telinga kanan Masachika. 

(Bagaimana? Apa rasanya enak?) 

Eh, ya, enak sih... tapi kenapa sampai berbisik-bisik segala? 

(Hmm~? Aku cuma berpikir kalau telingan Sa-kun mungkin agak sensitif.)

Tidak, bukan sensitif... siapa pun juga akan merasakannya.

Masachika sedikit menggigil saat merasakan hembusan napas Maria di telinga kanannya, ia lalu menjauhkan  tubuhnya ke kiri. Namun, semakin dirinya menjauh, Maria justru semakin mendekat, sehingga tubuh mereka semakin dekat. 

Enggak, enggak, enggak, apa-apaan ini? Permainan macam apaan ini? 

(Hmm, permainan berbisik?)

Apa-apaan itu!?

Sambil berusaha mengalihkan perhatian dari kehadiran besar yang menempel di lengan kanannya, Masachika meletakkan cangkir teh di meja. Namun, bisikan Maria tetap berlanjut tanpa mempedulikan reaksinya

(Hmm, permainan berbisik, kedengarannya seperti kita melakukan hal yang nakal, ya?)

Tapi menurutku ini sudah nakal banget!?

(Hehe, Sa-kun tuh aneh banget.)

Ugh!

Masachika merasakan tubuhnya menggigil saat Maria tertawa kecil dan menghembuskan napas yang mengenai telinganya. Dirinya tidak bisa menahan diri untuk bangkit—dan saat itulah. 

Aww, duhh~ Sa-kun, kamu imut banget deh~

Eh, tunggu!?

Maria melompat dan memeluknya dari samping, membuat Masachika kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke kiri. 

Kyah──

Ah, bahaya──!?

Masachika merasa dirinya melayang sejenak, tapi beruntungnya mereka hanya terjatuh ke sofa. Kepalanya mendarat di sandaran tangan, jadi ia tidak merasakan sakit sama sekali

“Tadi itu hampir saja...

Hehehe, maafin aku ya. 

Sambil menjulurkan lidah sebagai permintaan maaf, Maria mencondongkan tubuh ke arah Masachika, sekali lagi meletakkan tangannya di samping mulutnya dan mendekatkannya ke telinga Masachika. 

Kenapa kamu masih saja berbisik-bisik di saat seperti ini!?

(Karena Sa-kun itu imut?) 

“Uwiiiiii, rasanya bikin merinding!

Sensasi geli merayap di sepanjang tulang punggung Masachika, dan saat dirinya menggeleng-gelengkan kepalanya, Maria memanyunkan bibirnya sebelum tersenyum seolah-olah mendapatkan ide. 

Ah, benar. Tadi kamu bilang ingin membalas budi, iya ‘kan? 

Eh? Ah, ya... jangan bilang...

Seakan-akan mendapat firasat buruk, Masachika merasakan getaran berbeda di sepanjang punggungnya. Ia menatap Maria yang tersenyum nakal, namun ada sesuatu yang menggoda di dalam senyumnya. 

Kalau begitu, sebagai ucapan terima kasih, sampai Alisa-chan kembali... kita terus seperti ini, ya? 

Kamu pasti bercanda!? Aku bisa mati, tau! 

Baiklah~, kalau begitu──

Senyum Maria yang terasa lebih menggoda dari biasanya perlahan mendekat... dan saat napas hangatnya menyentuh telinga Masachika── 

(Aku mulai, ya?) 

Higgh── 

Masachika menekuk lehernya, membulatkan tubuhnya, berusaha menahan rasa gatal yang seperti menjilati sumsum tulang belakangnya. 

(Hmmgfufufu, kamu gemetaran? imutnya)

(Uwoooaahhhhh apa-apaan dengan ASMR langsung ini!?) 

Kekuatan ini tidak bisa dibandingkan dengan suara ASMR yang pernah ia dengar melalui earphone. Yang satu ini, Masachika bisa merasakan napas secara fisik. Bahkan, dari tubuh Maria yang menempel di sisi kanannya, dirinya bisa merasakan panas, sentuhan, dan aroma. Semua informasi fisik tentang wanita yang dikenal sebagai Maria datang dengan intensitas yang sangat kuat. 

(Hei, saat kita berbisik seperti ini, bukannya itu mengingatkanmu pada masa lalu?)

(Uwooohhhhhhhh! Alya-san, cepatlah kembali sekarang jugaaaaaaaaaaaaa!!!) 

Dengan kerinduan yang belum pernah ada sebelumnya untuk kehadiran rekannya, Masachika memejamkan matanya dan mengeratkan giginya untuk bertahan. 

“Kugh!~~~~~~~~”

Ia mati-matian menahan suara manis dan menenangkan yang membelai telinganya, menggetarkan gendang telinganya, dan menggelitik otaknya──── 

Aku sangat mencintaimu, Sa-kun~

…………………

…………………

…………………

Beberapa belas menit kemudian. 

“Aku kembali...? 

Oh, selamat datang kembali, Alya-chan♪

……

Saat Alisa kembali ke ruang OSIS, dia melihat Masachika yang tampak lemas seolah-olah jiwanya diambil dari telinga, dan Maria yang entah mengapa justru tampak penuh semangat.

 

 

 

Sebelumnya  |  Daftar isi  |  Selanjutnya

Posting Komentar

Budayakan berkomentar supaya yang ngerjain project-nya tambah semangat

Lebih baru Lebih lama