Chapter 2 — Temukan Dalangnya
“Maaf
kalau pagi-pagi sekali sudah menganggumu, Tsukamoto-senpai.”
“Ah,
tidak, aku tidak keberatan sama sekali...”
Keesokan
harinya, wakil ketua klub piano, Tsukamoto Aoi,
dipanggil ke ruang OSIS sejak
pagi. Dia terlihat canggung dan
menyusutkan bahunya saat menatap Alisa.
Meskipun dia sendiri telah dimanfaatkan oleh Nonoa dan seseorang yang
menjadi tangan kanannya, dia telah
menuduh Alisa dan Ayano dengan tuduhan yang tidak benar demi melindungi klub
piano. Setelah majelis
siswa berakhir dan keberlangsungan klub piano telah ditentukan sementara,
mungkin hanya rasa bersalah yang tersisa dalam dirinya.
“Umm,
sekali lagi maafkan aku, Kujou-san.
Aku hampir menuduhmu dengan tuduhan yang tidak benar dalam majelis siswa itu.”
Alisa
menatap Aoi yang membungkuk dalam-dalam dan meminta maaf.
“Soal
itu, aku akan menganggapnya selesai dengan membantu menangkap orang yang
menghasut Senpai. Aku juga minta maaf karena telah menekan Senpai meskipun
untuk mengungkap konspirasi.”
“Ah,
tidak, itu... akulah yang mengajak bertengkar lebih
dulu...”
Aoi
semakin terlihat canggung ketika mendengar
permintaan maaf Alisa. Melihat situasi itu, Masachika berpikir bahwa jika
dibiarkan terus-menerus, mereka
akan terjebak dalam siklus permintaan maaf, lalu ia menyela di antara
mereka.
“Baiklah,
karena waktu yang kita miliki
terbatas, aku ingin segera memulai... Bisakah kamu melihat daftar nama siswa
ini dan memberitahu kami siapa siswi yang menghasut Senpai?”
Aoi
kelihatan sedikit terintimidasi di hadapan tumpukan
daftar nama seluruh siswa tingkat atas yang diletakkan di atas meja. Dia kemudian menatap Masachika
dengan ragu dan berkata,
“Umm,
seperti yang sudah kukatakan
kemarin, aku hanya bertemu dengan orang itu sekali... jadi aku tidak begitu
ingat wajahnya dengan jelas... maksudku, seharusnya ada kontrak bahwa aku akan
bergabung dengan klub piano jika aku mengikuti instruksi, tetapi sekarang
sepertinya itu sudah dilupakan...”
Aoi
merenungkan seberapa konyol dirinya yang tertipu oleh siswi misterius yang sejak pertemuan itu
tidak pernah muncul lagi.
“Akan tetapi,
satu-satunya orang yang berhubungan dengan siswi tersebut
saat ini, selain delapan pelaku, hanyalah Tsukamoto-senpai.
Jadi, cukup dengan 'Mungkin
orang ini mirip?' juga tidak masalah. Kita harus
mencobanya satu per satu.”
“Ah,
begitu, ya...? Baiklah, kalau gitu aku akan melihatnya, tetapi...
jangan terlalu berharap, ya?”
Dengan
penuh perhatian, Aoi mengambil daftar nama siswa dan mulai memeriksa foto-foto
wajah yang tertera di dalamnya. Sambil memperhatikannya, Masachika melihat ke arah Sumire, yang tampaknya lebih
bersemangat dengan rambut keritingnya yang bergelombang di pagi hari.
“Komite
kedisiplinan sudah mulai menyelidiki di bawah
pimpinan Sarashina-senpai, ‘kan,
Violet-senpai?”
“Namaku
Sumire, tau!”
Setelah
memberikan tanggapan khasnya, Sumire
menjawab dengan menghela napas.
“"Kemarin
kami mempersempit jumlah pelaku menjadi delapan orang, dan berdasarkan
kesaksian mereka, kami telah mengidentifikasi dalangnya. Sekarang, kami membagi
tugas untuk menyelidiki kandidat tersebut."
“Kalian
bertindak gesit ya...”
Selain
itu, Yuki dan Ayano juga membantu dalam penyelidikan itu. Namun, karena delapan
pelaku adalah anggota ekstremis yang mendukung Yuki, Masachika dan Alisa
memutuskan untuk tidak bergabung dan meminta bantuan Aoi untuk melakukan
penyelidikan secara mandiri... meskipun ini hanyalah setengah dari alasan
sebenarnya.
Sebenarnya,
Masachika dan Alisa bergerak secara independen untuk mengidentifikasi siswi
misterius sebelum siapa pun. Dan mereka ingin meminta siswi itu untuk tidak
bekerja sama dengan Nonoa sebagai imbalan untuk tidak melaporkannya.
(Jika
kita melaporkan, ada kemungkinan reaksi
berantai yang mengungkapkan kalau Nonoa lah dalang sejatinya... Meskipun, aku
meragukan kalau
Nonoa akan membiarkan orang yang menjadi tangan kanannya memegang bukti
penting.)
Namun,
Masachika yang tidak ingin pengkhianatan Nonoa terungkap secara publik, merasa
tidak nyaman jika harus melaporkan siswi itu atau jika siswi itu ditangkap oleh
orang lain.
Dengan
alasan yang sama, mereka ingin menghindari campur tangan orang lain dalam
penyelidikan ini, tetapi... karena mereka tidak bisa menjelaskan tujuan
sebenarnya, pihak mereka tidak bisa menolak ketika
Sumire mengatakan, “Aku ingin mencocokkan informasi Tsukamoto-san dan delapan
pelaku,”.
Tentu saja, mereka sudah mengambil langkah
pencegahan ketika mengetahui Sumire
akan datang.
“Ngomong-ngomong...
kenapa Yushou-san ada di
sini?”
Melihat
Yusho yang dipanggil oleh Masachika, Sumire
sedikit memiringkan
kepalanya. Menanggapi itu, Yushou
menjawab sambil menyisir rambutnya.
“Kenapa?
Sebagai ketua klub piano, wajar saja
jika aku ingin menangkap orang yang berniat jahat kepada kami, iya ‘kan, Sumire-neesan?”
“...Yushou-san, memangnya
kamu tipe orang sepeduli itu?”
Benar,
jika Sumire mengatakan kalau dirinya akan
datang, Yushou pasti
akan muncul. Dan dengan memanggil Yushou,
mereka bisa membagi tugas secara alami, sehingga Sumire dapat menyelidiki bersama Yushou. Dengan cara ini, Masachika dan Alisa
bisa bergerak secara independen.
Setelah
tiga puluh menit berlalu, Aoi yang telah melihat semua foto dengan cepat
mengangkat wajahnya dengan ragu.
“Untuk
saat ini, aku sudah memilih yang kelihatan
mirip...”
“Terima
kasih. Ada berapa orang?”
“Totalnya ada dua belas orang.”
Alisa yang
sedang memotret pilihan Aoi dengan ponselnya, menjawab pertanyaan Masachika
sambil memeriksa gambar-gambar tersebut.
“Siapa
saja mereka?”
“Ah...
ini orang-orangnya.”
Sumire melihat layar ponsel Alisa dan menempatkan
tangannya di mulutnya dengan ekspresi berpikir.
“Hmm...
pihak kami justru mempersempit pilihan menjadi sembilan
orang yang kami curigai.”
“Oh,
jadi kemungkinan dalangnya bukan beberapa orang, tetapi satu orang yang lebih
besar.”
“Benar.
Dengan banyaknya kesaksian yang cocok.”
“Untuk
berjaga-jaga, bisakah kamu memberitahuku siapa sembilan orang itu?”
“Ya,
tentu saja.”
Setelah
menyelesaikan pertukaran informasi, Masachika berusaha berbicara dengan nada
santai dan mengusulkan,
“Kalau
begitu, sebaiknya kita tidak datang dengan terlalu banyak orang agar mereka
tidak curiga, jadi gimana kalau kita membagi
pencariannya menjadi dua tim?”
“Itu
ide yang bagus. Ah, apa Kiryuuin-senpai akan menyelidikinya bersama salah satu anggota
komite kedisiplinan...?”
Segera
setelah Alisa mengatakan itu, Sumire
menggelengkan kepalanya.
“Tidak?
Informasi saat ini sudah kubagikan kepada Onee-sama
dan anggota komite lainnya, jadi kami tidak
perlu bergabung.”
“Kalau
begitu, boleh aku meminta SKiryuuin-senpai
untuk menyelidiki bersama Yushou-san?”
“Ya, kurasa itu tidak masalah. Ayo, Yushou-san.”
Masachika
mengepalkan tinjunya dalam hati karena gembira mendengar persetujuan Sumire.
Namun, Yushou
menunjukkan gerakan yang tidak terduga. Sambil tersenyum
kecil, ia menyisir rambutnya dan tiba-tiba mengulurkan tangan ke arah Aoi.
“Jadi,
bisakah kita mendapatkan bantuanmu dalam penyelidikan kami? Wakil ketua.”
“Eh?
Aku sih tidak mau.”
Aoi dengan cepat menolak ajakannya. Yushou terlihat terkejut dengan ujung mulutnya yang sedikit berkedut. Sumire menatap Yushou dengan bingung sebelum segera
berbalik.
“Ayo,
kita harus mencari beberapa orang sebelum pelajaran pagi dimulai.”
“…Tapi,
tanpa wakil ketua yang pernah bertemu langsung dengan pelaku, kita tidak bisa
menyelidiki siapa yang bersalah...”
“Kita
bisa tahu siapa yang mencurigakan hanya
dengan melihat reaksinya, ‘kan?”
“Sumire-neesan mungkin bisa menyadarinya, tapi biasanya jika tidak
terlalu mencolok, sulit untuk mengetahui...”
“Jangan
banyak bicara terus, ayo
kita pergi.”
“Baik.”
Saat
Sumire mendesak Yushou untuk
keluar dari ruang OSIS, Masachika bergumam pada dirinya sendiri.
“Ampun dah,
kenapa orang itu berpikir ia bisa mendapat
persetujuan?”
“Entahlah?
Mungkin ia berpikir jika ia mengajak perempuan, mereka akan otomatis setuju.”
“…Tsukamoto-senpai,
kamu sangat ketus terhadap Kiryuuin, ya.”
“Tentu
saja? Tidak ada faktor yang membuatku menyukainya.”
“Ahaha...”
Mengingat
situasi Aoi, mungkin wajar saja
jika Masachika merasa sedikit kasihan pada Yushou
setelah mendengar pernyataannya.
“Yah,
pokoknya... dua belas orang. Mungkin ada
siswa yang tidak hadir hari ini, jadi ada kemungkinan kita tidak bisa memeriksa semuanya
dalam satu hari.”
“Kita
harus membagi beberapa hari untuk menyelidiki satu per satu... Mungkin kita
mulai dari siswa kelas dua yang paling mungkin.”
"Hmm~... tahun angkatan bisa dipalsukan dengan
mengganti pita, jadi itu tidak terlalu bisa diandalkan... bagaimana jika kita
mulai dari kelompok yang lebih sedikit?”
“Yah, kurasa itu juga bisa.
Baiklah, mari kita mulai dari siswa kelas satu. Apa kamu tidak masalah dengan itu, Tsukamoto-senpai?”
“Ya,
sepertinya tidak masalah...”
Setelah
percakapan itu, Masachika dan Alisa memutuskan untuk mulai menyelidiki para
tersangka satu per satu bersama Aoi.
◇◇◇◇
“Umm,
permisi, maaf kalau kami
tiba-tiba mengganggu. Boleh aku bertanya sebentar?”
“Ya?
Aku... ara,
bukannya kamu Kujou-san?”
“Ya.
Sebenarnya, aku ingin bertanya... Apa kamu
mengenal seseorang yang terkenal pandai berdandan?”
“Orang
yang pandai berdandan...?”
Siswa
kelas 1-A yang kebetulan ada di koridor
menunjukkan ekspresi bingung mendengar pertanyaan mendadak dari Alisa. Namun, pertanyaan
ini memang ada artinya.
Berdasarkan
kesaksian Aoi, diketahui bahwa siswi misterius itu memiliki riasan yang cukup
mencolok, yang jarang ditemukan di sekolah ini, di mana riasan tipis yang tidak
menarik perhatian guru merupakan
hal yang umum. Mungkin riasan itu juga berfungsi sebagai penyamaran, tetapi
sulit untuk membayangkan dia mempercayakannya kepada orang lain. Dengan
demikian, bisa diasumsikan bahwa siswi misterius itu pandai berdandan... dan
karena tidak mungkin Alisa mengatakan langsung “Aku curiga kamulah pelakunya”, maka dia
bertanya dalam bentuk penyelidikan.
(Akan tetapi, jika
dia pelakunya, pasti ada reaksi tertentu saat melihat Tsukamoto-senpai...)
Sambil memikirkan
hal itu, Alisa dengan hati-hati mengamati reaksi siswi dari belakang, tetapi
siswi itu tidak menunjukkan reaksi mencurigakan ketika melihat Masachika dan
Aoi di hadapannya. Setelah berpikir serius
tentang pertanyaan mendadak dari orang yang hampir tidak dikenalnya, dia
menyebutkan tiga nama.
“Baiklah.
Terima kasih.”
“Sama-sama...
Kujou-san, apa kamu tertarik pada riasan? Dengan
kecantikanmu,
sepertinya kamu tidak
perlu berdandan.”
“Oh
tidak, itu bukan aku... Tapi terima
kasih banyak.”
“Tidak
masalah, aku senang bisa membantu.”
Siswi itu
tersenyum dan membungkuk sebelum pergi.
“…Dia
orang yang sangat baik.”
“Memang.
Jadi... Tsukamoto-senpai, bagaimana menurutmu?”
Menanggapi
pertanyaan Alisa, Aoi perlahan menggelengkan kepalanya.
“…Kurasa bukan dia. Cara bicaranya,
suaranya, semuanya sangat berbeda... Selain itu, aku merasa siswi yang aku
temui sedikit lebih ramping secara keseluruhan.”
“Kalau
begitu, sepertinya bukan dia... yah, dia
tidak memalingkan wajahnya atau melihat ke arah lain atau melakukan hal aneh
apa pun ketika melihat kita.”
“Masachika-kun,
bagaimana dengan tiga orang yang baru saja kita dengar pandai berdandan?”
“Untuk
saat ini, aku sudah mencatat namanya, dan kita bisa memeriksa foto mereka
nanti. Lagipula, masih ada sebelas orang lagi...”
Masachika
merasa sedikit murung dengan panjangnya daftar itu, tetapi sebenarnya tidak
perlu memeriksa sebelas orang itu.
Karena
Aoi hanya melihat foto setengah badan untuk memilih kandidat, saat melihat
langsung, ternyata ada beberapa orang yang jelas memiliki postur tubuh yang
berbeda atau wajah yang cukup berbeda dari foto. Secara spesifik, beberapa
orang terlihat lebih berisi dibandingkan foto, atau memiliki jerawat yang tidak
bisa disembunyikan dengan riasan... Dengan demikian, dari dua belas kandidat,
hanya tiga orang dari kelas satu yang tersisa. Satu dari dua orang lainnya
sudah jelas bukan kandidat, dan lima belas menit sebelum pelajaran pagi
dimulai, mereka sudah selesai memeriksa semua siswa kelas satu.
“Rupanya
lebih cepat dari yang kubayangkan...
Jadi selanjutnya, kita akan mencari siswa kelas tiga?”
“Ya.
Apa kita akan melakukannya saat istirahat siang?”
“Tidak,
saat istirahat siang semua orang keluar kelas dan kita tidak tahu mereka berada
di mana... Jika bisa, aku ingin memanfaatkan waktu istirahat sepuluh menit
untuk menyelidiki. Tentu saja, aku tidak mengatakan harus setiap jam...”
Masachika
mengamati wajah Alisa dan Aoi dengan ragu-ragu, lalu
keduanya mengangguk dan setuju untuk melakukan penyelidikan selama sepuluh
menit istirahat antara jam kedua dan ketiga.
“Kalau
begitu, sepertinya lebih baik kita pergi ke kelas dua sambil mengingat waktu perjalanan. Lagi
pula, inilah target utama kita.”
“Memang,
itu juga benar.”
“Aku
juga tidak keberatan dengan itu... atau lebih baik kita pergi sekarang? Masih
ada sekitar tiga belas menit.”
Masachika
dan Alisa juga mengangguk setuju dengan saran Aoi,
dan ketiganya
buru-buru menuju lantai di mana kelas dua berkumpul. Kemudian di tengah perjalanan,
“Oh?
Alya-chan dan Kuze-kun? Ada apa kalian di sini?”
Secara
kebetulan, mereka bertemu Maria di tangga.
“Selamat
pagi, Masha-san. Tidak, aku sedang mencari seseorang terkait majelis siswa kemarin.”
Karena
waktu yang terbatas, Masachika cepat-cepat mengatakan itu dan berusaha pergi,
tetapi... sayangnya,
dia tidak bisa menghindari Maria.
“Mencari
seseorang? Apa kalian mencari siswa
kelas dua?”
“Ya,
kurang lebih begitu...”
“Kalau
begitu, aku mungkin bisa
membantu~. Jadi, kalian sedang
mencari siapa?”
“Eh?”
Terkejut
dengan tawaran yang tak terduga, Masachika
langsung menatap Alisa, yang
juga tampak sedikit bingung sambil menunjukkan layar
ponselnya kepada Maria. Setelah melihat gambar daftar nama
yang ditampilkan, Maria mengangguk.
“Oh,
Miume-chan, ya? Kebetulan sekali. Dia itu temanku, mau aku kenalkan?”
“Eh,
beneran?”
Alisa
terkejut dan membuka matanya lebar-lebar. Masachika merasakan hal yang sama,
tetapi jika demikian, tidak ada salahnya meminta bantuan.
“Tidak,
tidak perlu dikenalin segala... aku
hanya ingin melihat Masha-san berbicara dengan orang itu dari belakang.”
“Eh?
Cuma itu saja?”
“Ya,
aku hanya ingin memastikan wajah dan suaranya.”
“Hmm~? Aku tidak begitu mengerti,
tetapi baiklah. Kalau begitu, ayo
ikut aku.”
Sambil
saling bertukar pandangan
dengan Alisa dan Aoi, mereka bertiga
mengikuti Maria. Maria masuk ke dalam ruang kelas
lain dan menyapa siswi yang menjadi target mereka.
“Selamat
pagi, Miume-chan~♪”
“Eh?
Owalah~ Masha toh! Selamat pagi, ada apa?”
Keduanya
saling menggenggam tangan dengan hangat dan bertukar salam yang akrab. Namun, siswi
itu kemudian memperhatikan ketiga orang yang berdiri di belakang Maria dan
berkedip beberapa kali.
“Umm,
siapa ketiga orang itu? Adik dan pasangannya...?”
“Oh,
kamu tidak perlu menghiraukan mereka! Mereka
hanya pengamat.”
“Pengamat?
Apa maksudnya...?”
Meskipun
tersenyum, Maria mengucapkan sesuatu yang agak aneh, tetapi siswi itu tampaknya
sudah terbiasa dan kembali menatap Maria. Dari situ, Maria mengobrol ringan
sebelum akhirnya tersenyum manis.
“Terima
kasih sudah mengobrol! Senang sekali bisa berbicara dengan Miume-chan setelah sekian lama~♪”
“Begitu?
Terima kasih.”
“Ya,
sampai jumpa lagi~”
Maria
melambaikan dengan kedua tangannya, dan
siswi itu membalas dengan senyuman. Setelah keluar ke koridor, Maria menatap
Masachika dan sedikit memiringkan
kepalanya.
“Apa
begini sudah cukup?”
“Tidak,
ini sudah lebih dari cukup... Tsukamoto-senpai,
bagaimana menurutmu?”
Menanggapi konfirmasi Masachika,
Aoi menggelengkan kepalanya dengan wajah serius.
“Kurasa
dia juga bukan. Aku tidak bisa memastikannya melalui foto karena rambutnya
menutupi, tetapi menurutku orang yang aku
temui tidak memiliki rahang sebesar itu.”
“Begitu
ya... kalau begitu, kita lanjut ke yang berikutnya.”
“Masih
ada lagi? Siapa?”
“Umm,
orang ini...”
Saat Alisa
menunjukkan ponselnya lagi, Maria kembali mengangguk.
“Ah,
dia juga temanku. Ayo ke sini.”
“Eh,
beneran?”
“Serius?”
Meninggalkan
tiga orang yang masih terkejut, Maria melangkah ringan ke kelas
sebelah, melihat sekeliling kelas, bertanya kepada siswa terdekat, lalu segera
kembali.
“Maaf,
sepertinya dia belum datang.”
“Ah,
tidak apa-apa...”
“Aku akan
memperkenalkannya nanti.
Jadi, masih ada yang lain?”
“Umm,
ini...”
Saat Alisa
menunjukkan ponselnya, Maria kembali mengangguk.
“Ya,
dia juga temanku~.”
“Bukannya
kamu terlalu punya banyak teman, Masha-san!?”
“Masa?
Yah, aku memang berusaha makan di kantin dengan orang yang sama sekali tidak aku
kenal sekali seminggu, mungkin itu alasannya.”
“Kamu
benar-benar perwujudan
keterampilan komunikasi...!!”
Masachika
merasa terkejut usai mendengar
cerita tentang kemampuan sosial yang disampaikan dengan santai. Alisa juga
tampaknya tidak tahu tentang hal ini, membuka matanya lebar-lebar saat menatap
kakaknya... tetapi kejutan mereka belum berakhir. Setelah itu, ketika Maria
melihat foto orang keempat dan berkata, “Hmm,
aku tidak tahu orang ini,”
Masachika dan yang lainnya merasa lega. Namun, Maria tidak ragu-ragu mendekati
siswi yang baru dikenalnya dan berbincang selama dua atau tiga menit, langsung
akrab.
“Dia
benar-benar perwujudan
keterampilan komunikasi...”
“...”
“Kakakmu benar-benar
luar biasa.”
Beberapa
menit setelah baru saja memperkenalkan diri, Maria sudah asyik
berbincang-bincang dengan ceria. Ketiga orang itu mengamati pemandangan itu
dari belakang, setengah melupakan tujuan awal mereka dan hanya merasa kagum dengan kemampuan berkomunikasinya.
Dengan
demikian, berkat bantuan Maria yang sangat dapat diandalkan, Masachika dan yang
lainnya berhasil menghubungi semua lima kandidat dari kelas dua selama pagi dan
istirahat siang. Namun, masalahnya adalah semua delapan orang yang mereka temui
sejauh ini bukanlah orang yang mereka cari.
“Itu berarti
masih ada sisa empat orang dari kelas tiga... Kalau dengan
kecepatan ini, sepertinya kita bisa menyelesaikannya hanya dalam waktu
istirahat sore.”
“Bagaimana jika kita masih belum bisa menemukannya?”
“Yah,
mungkin kita perlu mengadakan rapat strategi...”
Dengan
perasaan tidak enak, mereka berempat
memutuskan untuk mengunjungi kelas tiga saat istirahat sore. Masachika dan yang lainnya sekali lagi diperlihatkan
seberapa luas lingkaran pertemanan Maria, dan
mereka menuju salah satu siswi yang merupakan teman Maria dari sisa empat
kandidat.
“Wah~ sudah lama tidak bertemu~ ♪ Takatsudo-senpai~!”
“Eh?
Marsha-chan? Dan, adikmu, dan...?”
Tatapan
siswi yang dipanggil Maria beralih ke ketiga orang di belakangnya... dan suara “Ah”
terdengar.
“Apa
ini jangan-jangan tentang pencarian dalang
yang terkenal itu?”
“!?”
“Ah,
jadi benar begitu.”
Melihat
wajah Alisa yang bereaksi secara langsung, siswi itu tertawa. Karena hal ini tak bisa diabaikan begitu saja,
jadi Masachika melangkah beberapa langkah ke depan dan berdiri di samping Maria.
“Maaf
jika aku tiba-tiba mengganggu.
Namaku Kuze dari divisi umum OSIS. Memangnya ada rumor apa saja yang beredar?”
“Eh?
Oh, ya, rumor tentang majelis siswa
kemarin sudah menyebar, dan ada kabar bahwa komite kedisiplinan dan pasangan Suou-san
sedang mencari dalangnya.”
“Begitu
ya.”
Tampaknya,
mereka yang bergerak secara terpisah sudah tidak menyembunyikan tujuan
mereka... atau mungkin tidak bisa menyembunyikannya.
(Yah,
jika mereka membawa pelaku dan bertanya di sana-sini, pasti akan ada yang bisa
menebak tujuan mereka... atau mungkin...)
Mungkin
Yuki sengaja melakukan penyelidikan secara terbuka untuk membuktikan
ketidakbersalahannya. Memikirkan hal ini, Masachika merasa kemungkinan itu
lebih besar.
“Eh?
Jadi, apa itu berarti aku juga dicurigai?”
Dengan
nada sedikit lucu dan tanpa menunjukkan tanda-tanda tersinggung, senior itu
menunjuk wajahnya sendiri, dan Masachika dengan jujur menjawab.
“Maaf,
saat ini kami sedang mencari siswa yang mirip dengan dalang itu...”
“Wah,
seriusan? Duh~
gimana nih, apa aku harus memberikan alibi atau sesuatu?”
Siswi itu
menggaruk kepalanya sambil tertawa, tanpa menunjukkan sedikit pun emosi
negatif. Masachika mengalihkan pandangannya ke arah Aoi.
Aoi menunjukkan sedikit keraguan sebelum menggelengkan kepalanya
kecil-kecil.
(Bukan juga ya... Yah, jika dia memang pelakunya tapi masih bisa
bersikap seperti ini, berarti dia adalah seorang aktris yang luar biasa.)
Sambil memikirkan
hal itu, Masachika memutuskan untuk bertanya lebih banyak kepada senior yang
memiliki kepribadian menyenangkan ini.
“Boleh
aku bertanya, tentang rumor apa saja yang
beredar mengenai majelis
siswa kemarin?”
“Eh?
Kalau ditanya rumor apa saja sih... hmm, ada seorang siswa yang
mencoba memanipulasi hasil pemungutan suara untuk menjatuhkan reputasi anggota OSIS? Dan ada dalang yang menghasut
siswa-siswa itu, dan sekarang mereka sedang mencarinya... seperti itu?”
“Apa kamu bisa
menceritakannya lebih detail?”
“Lebih
detail? Hmm... oh, ya. Target dari siswa yang ditangkap itu adalah Kujou-san yang ada di sana, dan mereka melakukan itu
untuk membuat Suou-san
terpilih, kan? Itulah yang aku
dengar.”
“....bagaimana
pendapatmu setelah mendengar cerita itu?”
“Pendapatku?
Hmm... yah, kadang-kadang
penggemar yang terlalu bersemangat bisa
bertindak di luar kendali.”
“Ada
desas-desus bahwa sebenarnya Suou
Yuki sendiri yang menghasut para pendukung
itu."
“Hah?
Tidak mungkin. Siapa yang akan mengatakan hal seperti itu?”
Gadis senior
itu tertawa setelah mendengar Masachika menyebutkan teori
konspirasi yang belum menjadi rumor.
“Aku
juga tidak terlalu mengenalnya,
tapi Suou-san bukan tipe yang melakukan
hal-hal licik seperti itu. Jika dia benar-benar dalangnya, dia tidak akan mencari pelaku
bersama komite kedisiplinan. Lagipula, kamu yang dulu
menjadi pasangannya seharusnya mengetahui hal
itu.”
“…Yah,
memang benar sih.”
Ketika
Masachika tersenyum getir,
siswi itu mengalihkan pandangannya kepada Alisa.
“Yah,
sepertinya semuanya cukup sulit... tetapi semangat ya. Secara pribadi, aku
mendukungmu, Kujou-san.”
“Hah?
Oh, terima kasih... tapi, kenapa?”
“Hmm?
Aku merasa kamu berjuang keras. Berani melawan
Suou-san saja sudah luar biasa...
yah, aku akan lulus bulan April tahun depan, jadi aku tidak bisa memberikan
suara sih.”
“…Tidak, dukungan moral saja sudah sangat berarti, terima
kasih.”
“Yah,
semangat ya~... eh,
sepertinya aku tiba-tiba memotong pembicaraan. Apa kamu baik-baik saja?”
Meskipun
sebenarnya tidak ada kewajiban untuk mendengarkan, Masachika tersenyum kepada
senior yang peduli ini dan dengan tulus membungkuk.
“Tidak,
ini sudah cukup. Terima kasih atas informasinya
yang berharga.”
“Terima
kasih telah meluangkan waktu.”
“Makasih
banyak ya, Takatsudo-senpai~. Mari kita berbincang lagi lain
waktu~.”
“Ya,
sampai jumpa.”
Setelah
mengucapkan selamat tinggal kepada senior yang melambaikan tangannya, Masachika dan yang lainnya
keluar dari kelas 3D sambil membungkuk.
“…Dia
benar-benar senior yang baik. Kami bisa mendengar banyak hal.”
“Benar.”
“Iya ‘kan~? Aku juga sangat menyukai
Takatsudo-senpai♡”
Masachika tidak bisa menahan senyumannya saat mendengar
Maria yang mengungkapkan perasaannya tanpa ragu. Tiba-tiba, Maria menunjukkan
ekspresi terkejut dan terlihat gelisah sebelum melambai-lambaikan tangannya
kepada Masachika.
“Ada
apa?”
“Ah,
ayo ke sini sebentar...”
“Eh?”
Sambil
memberi isyarat, Maria bergerak sedikit menjauh, sedikit mencondongkan tubuh ke
depan dan berbisik di telinga Masachika.
“(Meskipun
aku bilang aku menyukainya,
perasaan suka itu berbeda dengan perasaan skuaku terhadap Sa-kun, oke?)”
“Eh!?”
“(Perasaan sukaku terhadap Saku-kun itu
sangat~~ istimewa. Paham?)”
Mendengar
Maria mengatakan hal itu
dengan nada serius dan emosional
membuat otak Masachika terasa seperti meleleh, dan dia tidak bisa menghentikan
darah yang mengalir ke kepalanya. Dia merasa seolah akan mati.
“Hei,
apa yang sedang kalian lakukan?”
Saat itu,
Alisa mendekat dengan ekspresi cemas. Dia menatap kakaknya yang menjauh dengan
tatapan curiga, lalu mengarahkan pandangannya tajam ke Masachika yang perlahan
memerah.
“Ada
apa? Apa yang kalian lakukan?”
“Tidak, bukan apa-apa kok...”
Kejutan
yang melanda otaknya terlalu besar, sehingga Masachika
tidak bisa langsung menemukan alasan yang baik. Namun, Maria dengan senyuman
biasa-biasa saja berkata tanpa beban.
“Ah,
itu bukan sesuatu yang serius kok~.
Aku cuma mengatakan bahwa meskipun
dia senior yang baik, jangan sampai jatuh cinta
padanya, ya? Karena Takatsudo-senpai
sudah punya pacar.”
“Apa-apaan itu...? Itu bukan sesuatu yang
perlu dibicarakan secara diam-diam juga.”
“Eh~? Aku pikir lebih baik tidak
terlalu keras menyebutkan perasaan cinta seorang anak laki-laki tau~...”
“Tidak
usah sebut-sebut perasaan cinta segala kali...
Aku tidak mengatakannya dengan maksud seperti itu saat mengomentari 'dia senior
yang baik'...”
“Kamu juga
sama, kenapa wajahmu
sampai memerah seperti itu?”
Alisa
menatap Masachika yang mengibaskan wajahnya dengan tangan, tampak setengah
bingung dan setengah curiga. Maria pun dengan bangga mengangkat dadanya.
“Tuh, ‘kan!
Bagi anak laki-laki, berbicara tentang siapa yang mereka sukai itu rasanya memalukan!”
“…Benarkah?”
“…Yah,
bisa dibilang itu bukan topik yang
ingin dibicarakan di depan lawan jenis.”
“Hmm~ begitu.”
Alisa
menunjukkan tanda-tanda setuju usai mendengar
penjelasan dari Maria dan Masachika. Di sisi lain, Aoi melihat mereka dengan
ekspresi tidak bisa dijelaskan, seolah-olah dia
sudah bisa merasakan sesuatu. Masachika kemudian
membersihkan tenggorokannya dan mengalihkan
perhatiannya pada Aoi.
“Maaf.
Jadi, bagaimana dengan senior yang tadi, Tsukamoto-senpai?”
Setelah
beberapa detik berpikir, Aoi tampak ingin mengatakan sesuatu, lalu menutup
matanya sejenak dan mengeluarkan napas berat sebelum menjawab dengan wajah
serius.
“Kurasa dia juga bukan... Meskipun wajah dan
postur tubuhnya mirip, suasananya sangat berbeda...”
“Begitu.
Yah, dari caranya
berbicara, aku juga merrasa dia
mungkin bukan orang yang sama.”
“Ya...”
Kemudian,
Masachika menoleh ke arah Alisa dan berkata dengan
nada sedikit nakal,
“Alisa,
bagus deh. Senior yang tadi mendukungmu.”
Mendengar
kata-kata Masachika yang bercanda, Alisa yang masih menunjukkan ekspresi
sedikit cemberut menjawab sambil menatap ke arah atas.
“Ya,
yah... begitulah. Entah kenapa, meskipun orang itu benar-benar asing... tidak,
justru karena mereka orang yang benar-benar asing, membuatku merasa lebih
termotivasi untuk berusaha lebih keras.”
Mendengar
respons jujur dari Alisa, Masachika membuka matanya sejenak sebelum mengubah
senyumnya menjadi lebih lembut.
“…Begitu
ya.”
Kemudian,
dia menoleh ke arah Aoi dan
melanjutkan.
“Jadi,
sekarang tersisa tiga orang... Tsukamoto-senpai,
mohon bantuannya terus.”
“Ah,
ya. Baiklah...”
Dengan
dukungan dari senior, mereka kembali bersemangat untuk melanjutkan penyelidikan...
namun,
“…Aku tidak pernah menyangka kalau ketiga
orang terakhir ini juga bukanlah dalangnya.”
Dengan
akhir yang terkesan menggantung, Masachika tidak bisa menahan diri untuk
mengucapkan itu.
“Maafkan aku.”
“Tidak,
Tsukamoto-senpai tidak melakukan
kesalahan apa pun.”
Memang,
setelah semua upaya mereka,
rasa kekecewaan semakin kuat, tetapi Aoi sudah langsung mengatakan “itu bukan dia” saat melihat sekilas. Selain
itu, Masachika pun bisa membayangkan alasan di baliknya... secara spesifik,
satu orang sangat tinggi, satu orang sangat gelap, dan satu orang... secara
keseluruhan terlihat cukup gemuk.
Pada akhirnya,
setelah memeriksa semua dua belas orang, tidak ada satu pun siswa yang membuat
Aoi berkata, “Dialah
orangnya!” dan
tidak ada juga siswa yang menunjukkan reaksi mencurigakan di mata Masachika.
Untungnya, tidak ada kabar dari Sumire atau Yuki mengenai penangkapan pelaku,
sepertinya penyelidikan mereka juga mengalami kesulitan.
“Aku benar-benar
minta maaf...”
“Tidak
apa-apa, aku mengerti. Mencari seseorang yang hanya pernah kita temui sekali
berdasarkan ingatan saja mana
mungkin bisa berjalan lancar.”
Itu
adalah pernyataan yang tulus. Sebenarnya, Masachika
sudah merasa sekitar tujuh puluh persen tidak akan menemukan orang
tersebut.
“Jadi,
selanjutnya mau bagaimana...? Apa kita akan memeriksa foto
di ruang OSIS lagi
setelah sepulang sekolah?”
“Hmm...
tidak, sebelum itu, mari kita coba pergi ke klub teater, seperti yang dibahas
saat kita mencari siswa kelas satu.”
Itu
adalah jawaban untuk pertanyaan “Apa
kamu mengenal siswa
yang pandai berdandan?”
yang dijawab dengan “Mungkin orang-orang dari klub teater?” Meskipun tidak benar-benar
serius saat bertanya, jawaban itu sangat masuk akal dan teringat jelas di
benaknya.
“Aku
kenal ketua klub teater, jadi kupikir aku akan meminta sedikit waktu mereka sebelum latihan dimulai...”
“…Baiklah.
Tolong.”
“Apa Tsukamoto-senpai juga bisa ikut bergabung dengan kami?”
“Ah,
ya. Tidak masalah.”
“Terima
kasih.”
“Bagaimana
kalau aku ikutan juga~?”
“Oh
tidak, Masha-san sih bisa
ikut atau tidak..."
“Hmph! Kenapa aku
tidak diundang?”
“Eh!
Tidak, bukan itu maksudnya... Kalau begitu, mau ikut bersama kami?”
“Tentu!”
Entah apa
yang membuatnya begitu senang, wajah Maria yang awalnya cemberut kini berubah
menjadi senyuman ceria, dan Masachika bertukar pandang dengan Alisa sambil
tersenyum kecil.
Dengan
begitu, setelah mengatur pertemuan dengan ketua klub teater, keempatnya
mengunjungi aula tempat klub teater berkumpul sepulang sekolah.
“Baiklah, semuanya,
berkumpul!"
““““““Ya!!””””””
Menanggapi
panggilan ketua klub, sekitar
dua puluh anggota klub membentuk lingkaran dan berdiri tegak dengan tangan di
belakang tubuh.
Melihat
pemandangan yang lebih mirip suasana olahraga dari sisi panggung, ketua klub
menatap ke arah mereka dan berkata,
“Sebelum
kita memulai latihan, hari ini kita kedatangan beberapa tamu.”
““““““??””””””
Saat
anggota klub yang lain diam namun menunjukkan reaksi kebingungan, Masachika dan yang lainnya maju
ke panggung setelah mendengar suara ketua yang berkata “Silakan masuk.”
““““Permisi.””””
Suara
keempat orang itu menarik perhatian anggota klub...
(Hmm?)
Pada saat
itu, Masachika melihat salah satu anggota wanita yang melihat ke arah mereka dan cepat-cepat membalikkan
wajahnya.
“Maaf
mengganggu kalian sebelum
latihan, kami ingin bertanya sedikit, apa kalian
tidak keberatan?”
“Tidak
masalah. Tapi, hanya lima menit saja.”
“Terima
kasih. Itu sudah cukup.”
Masachika
melihat sekilas ke arah Alisa dan Aoi yang menunjukkan bahwa mereka juga
melihat hal yang sama. Maria? Sepertinya tidak menyadari apa-apa, jadi ia membiarkannya saja.
(Reaksinya setelah melihat wajah kami...
jangan-jangan, dia tidak ingin Tsukamoto-senpai
melihat wajahnya...? Apa pun itu, reaksinya
jelas-jelas
mencurigakan.)
Tanpa
aba-aba, Mereka bertikag melangkah menuju anggota wanita
yang membalikkan wajahnya. Masachika
bertanya melalui tatapannya kepada
Aoi, Aoi mengangguk dengan ekspresi tegang.
(Jadi,
postur tubuhnya tidak terlalu jauh dari yang kami cari... mungkin, mungkin
saja?)
Sambil
berusaha tidak menunjukkan ketegangannya,
Masachika mengajak anggota wanita itu bicara.
“Umm,
permisi.”
“Iy-Iya!”
Suara
yang anehnya melengking tinggi,
seolah-olah sengaja dibuat. Wajahnya tetap tidak mau menatap ke arah
mereka.
“Umm...?”
Namun,
saat Alisa memanggilnya lagi, anggota wanita itu perlahan menatap mereka dengan
tatapan ragu.
Wajahnya
yang terlihat biasa-biasa
saja sangat berbeda dari deskripsi “gadis
cantik yang menonjol” yang
didengar Aoi.
(Tidak,
mungkin wajah seperti ini lebih bisa berubah dengan makeup...?)
Meski
begitu, Masachika tetap waspada. Dia memperhatikan saat mata anggota wanita itu
menangkap sosok Alisa—
“Ah,
wajahnya cantik banget!”
Ketika dia
mengatakannya, anggota wanita itu hampir terjatuh mundur sambil
terkejut. Masachika dan Alisa tertegun.
“Ehm, jadi...?”
“Suara
yang indah! Memukau banget!”
Sambil
cepat-cepat melontarkan pendapatnya, anggota wanita itu berusaha bersembunyi di
belakang anggota lain. Saat
itu, Masachika akhirnya memahami kenapa dia membalikkan wajahnya. Ia mengerti
dan menatapnya dengan wajah tertegun.
Setelag melihat sekeliling, anggota klub
drama lainnya menyaksikan situasi yang terjadi dengan tatapan serupa.
“Umm,
jadi... kamu siapa...?”
Alisa
berusaha menanyakan namanya meski dalam keadaan
kebingungan. Namun, anggota wanita itu membuka matanya
lebar-lebar dan berteriak dengan ekspresi melengkung.
“Aku
penggemarmuuuu~~~~~~~!!!”
“Fwahh...?”
“Iyaaaa~~~~~~~~~!!!
Maaf! Pertemuan majelis siswa
kemarin, sangat keren dan membuatku terharu!!”
“Ah...
te-terima kasih?”
“Uwahhhh~~~~~~~!!!
Wajahmu bagus banget~~~~~~~!!!
Terlalu cantik~~~~~~!!!”
Sambil
hampir terjatuh, anggota wanita itu berteriak dengan wajah yang tampak ingin
menangis, membuat Alisa melihat Masachika dengan ekspresi putus asa. Namun,
Masachika juga menatapnya dengan ekspresi kebingungan.
“…Bagaimana kalau kamu berjabat
tangan dengannya?”
“Aku bukan
selebriti, jadi apa gunanya...”
“Ehh!!! Apa boleh!?”
“Ah, orangnya sendiri malah ingin
melakukannya...”
Tiba-tiba,
anggota wanita itu berdiri dengan semangat dan mengulurkan tangan kanannya. Alisa,
meski sedikit ragu, mengulurkan tangan kanannya juga. Anggota wanita itu
kemudian membungkus tangan Alisa dengan kedua tangannya dan mengangkat wajahnya
dengan penuh emosi.
“Terima
kasih! Aku mendukungmu! Tahun depan pasti akan memberikan suaraku!!”
“Te-Terima
kasih...”
Di
belakang Alisa yang tertegun, Masachika berbicara pelan kepada Aoi.
“(Bagaimana?
Apa ada wanita lain yang cocok?)”
“(Hmm...)”
Aoi
melihat sekeliling wajah anggota teater dan mengerutkan alisnya.
“(Maaf.
Aku pikir anggota itu mungkin terlihat berbeda setelah berdandan, tapi setelah
berpikir begitu, semua anak jadi terlihat seperti itu...)”
“(Ah...)”
Pada
akhirnya, yang mereka ketahui setelah mengunjungi klub
teater hanyalah bahwa Alisa ternyata memiliki penggemar yang antusias. Selain
itu, sepertinya respons terhadap penggemar tersebut juga meningkatkan
popularitas Alisa di dalam klub teater.
◇◇◇◇
“Ahh...
pada akhirnya, semuanya sia-sia, ya?”
Setelah
mengunjungi klub teater, Masachika dan yang lainnya
berpisah dengan Aoi dan pergi ke ruang OSIS
untuk beristirahat.
Setelah mengelilingi berbagai tempat untuk
penyelidikan sejak majelis
siswa kemarin, Masachika ambruk ke atas
sofa dan meregangkan tubuhnya.
“Ugh...!
Ah...”
Dirinya merasa nyaman saat semua otot-ototnya meregang, lalu bersantai
sambil memeriksa ponselnya.
“Tidak
ada kabar dari sisi komite kedisiplinan... sepertinya mereka juga belum
menangkap siapa pun.”
“Sepertinya
begitu.”
“Yah,
rasanya memang sulit...”
Sambil
berkata demikian, Masachika bangkit dari sofa dengan semangat.
“Marsha-san, terima kasih banyak untuk hari ini, kamu sangat membantu pencarian kami...”
“Hmm~? Tidak masalah kok~.
Oh, aku akan menyeduh teh.”
Maria
yang sangat bisa diandalkan itu tersenyum ceria dan mulai menyiapkan teh.
Masachika semakin menghormati seniornya karena sikapnya yang penuh perhatian.
Namun, saat Maria mengambil kaleng teh, dia tiba-tiba menyadari sesuatu dan
bertanya.
“Ngomong-ngomong,
apa yang sedang kamu selidiki hari ini?”
“Eh?!”
Pertanyaan
yang terlambat itu membuat Masachika hampir tersedak. Rasa hormat yang
meningkat juga seolah menghilang.
“Masha... kamu melakukan semua ini
tanpa mengetahuinya...?”
“Habisnya~ tidak
ada yang menjelaskannya padaku sih~.”
“Itu
mungkin benar sih, tapi...”
Meskipun
begitu, biasanya orang akan bertanya di tengah jalan,
pikir Alisa, sambil menyentuh pelipisnya dan mengerutkan kening. Kemudian, dia
menghela napas lelah dan berdiri.
“Aku
akan pergi membeli sesuatu yang manis. Masachika-kun, tolong jelaskan pada Masha.”
“Hahhh...?”
“Ah,
Alya-chan. Tolong belikan untuk Onee-chan juga ya~. Aku mau puding.”
“…Iya, iya.”
Alisa
dengan santai menyerahkan tugas menjelaskan kepada Masachika dan berjalan keluar meninggalkan ruang OSIS.
Lalu, Maria menyeduh teh sambil bertanya pada Masachika.
“Jadi,
apa yang sedang kaliab berdua
selidiki?”
“Yah,
gimana bilangnya ya... aku ingin Masha-san tetap terus seperti itu...”
“Begitu?
Kalau Kuze-kun bilang begitu, aku akan melakukannya.”
Entah
kenapa, Masachika merasa tidak ingin menjelaskan tentang dalang atau konspirasi
kepada seniornya yang ini, dan
Maria pun mengangguk tanpa menunjukkan tanda-tanda menghiraukannya.
“Ah,
aku secara tidak sengaja menyeduh teh untuk bagian Alya-chan juga. Hmm, apa aku harus
menutupnya?”
“Kan
bisa diseduh lagi nanti? Kalau mau, aku bisa minum dua cangkir.”
“Benarkah? Kalau begitu, aku akan minta tolong padamu ya.”
Maria
berkata demikian dan membawa nampan berisi teko dan tiga cangkir teh.
“Silakan dinikmati.”
“Terima
kasih.”
Saat menerima
cangkir teh, Masachika merasa sedikit bersalah karena telah meminta Maria
menyeduh teh.
“Aku
benar-benar minta maaf... padahal
Masha-san sudah ikut membantu dalam penyelidikan.”
“Ehh~? Jangan
khawatir. Aku melakukannya karena menyukainya, kok.”
“Tidak,
aku pasti akan membalas budi nanti.”
Sambil
mengatakan itu dengan tegas, Masachika menyesap
tehnya. Maria kemudian duduk di sebelah
kanan dan mendekatkan tubuhnya.
(Huh?
Bukannya dia duduk terlalu dekat?)
Namun
pemikirannya itu tidak bertahan lama karena Maria tiba-tiba menempelkan tubuhnya dan
berbisik di telinga kanan Masachika.
“(Bagaimana?
Apa rasanya enak?)”
“Eh,
ya, enak sih... tapi kenapa sampai berbisik-bisik segala?”
“(Hmm~? Aku cuma berpikir
kalau telingan Sa-kun mungkin agak sensitif.)”
“Tidak,
bukan sensitif... siapa pun juga akan merasakannya.”
Masachika
sedikit menggigil saat merasakan
hembusan napas Maria di telinga kanannya, ia lalu
menjauhkan tubuhnya ke kiri. Namun, semakin dirinya menjauh, Maria justru semakin mendekat, sehingga tubuh
mereka semakin dekat.
“Enggak, enggak, enggak, apa-apaan ini? Permainan macam apaan
ini?”
“(Hmm,
permainan berbisik?)”
“Apa-apaan itu!?”
Sambil
berusaha mengalihkan perhatian dari kehadiran
besar yang menempel di lengan kanannya, Masachika
meletakkan cangkir teh di meja. Namun, bisikan Maria tetap berlanjut tanpa
mempedulikan reaksinya.
“(Hmm,
permainan berbisik, kedengarannya seperti
kita melakukan hal yang nakal, ya?)”
“Tapi
menurutku ini sudah nakal banget!?”
“(Hehe,
Sa-kun tuh aneh banget.)”
“Ugh!”
Masachika
merasakan tubuhnya menggigil saat Maria tertawa kecil dan menghembuskan napas yang mengenai
telinganya. Dirinya tidak
bisa menahan diri untuk bangkit—dan saat itulah.
“Aww, duhh~ Sa-kun, kamu imut banget deh~♡”
“Eh, tunggu!?”
Maria
melompat dan memeluknya dari samping, membuat Masachika kehilangan keseimbangan
dan terjatuh ke kiri.
“Kyah──”
“Ah,
bahaya──!?”
Masachika merasa dirinya melayang sejenak, tapi beruntungnya mereka hanya terjatuh
ke sofa. Kepalanya mendarat di sandaran tangan, jadi ia tidak merasakan sakit sama sekali.
“Tadi itu hampir
saja...”
“Hehehe,
maafin aku ya.”
Sambil
menjulurkan lidah sebagai permintaan maaf, Maria mencondongkan tubuh ke arah
Masachika, sekali lagi meletakkan tangannya di samping mulutnya dan
mendekatkannya ke telinga Masachika.
“Kenapa
kamu masih saja berbisik-bisik di saat seperti ini!?”
“(Karena
Sa-kun itu imut?)”
“Uwiiiiii,
rasanya bikin merinding!”
Sensasi geli
merayap di sepanjang tulang punggung Masachika, dan saat dirinya menggeleng-gelengkan kepalanya,
Maria memanyunkan bibirnya sebelum tersenyum
seolah-olah mendapatkan ide.
“Ah,
benar. Tadi kamu bilang ingin membalas budi, iya ‘kan?”
“Eh?
Ah, ya... jangan bilang...”
Seakan-akan
mendapat firasat buruk, Masachika merasakan getaran
berbeda di sepanjang punggungnya. Ia
menatap Maria yang tersenyum nakal, namun ada sesuatu yang menggoda di dalam
senyumnya.
“Kalau
begitu, sebagai ucapan terima kasih,
sampai Alisa-chan kembali... kita terus seperti
ini, ya?”
“Kamu
pasti bercanda!? Aku bisa mati, tau!”
“Baiklah~, kalau begitu──”
Senyum
Maria yang terasa lebih menggoda dari biasanya perlahan mendekat... dan saat
napas hangatnya menyentuh telinga Masachika──
“(Aku mulai, ya?)”
“Higgh──”
Masachika
menekuk lehernya, membulatkan tubuhnya, berusaha menahan rasa gatal yang
seperti menjilati sumsum tulang belakangnya.
“(Hmmgfufufu, kamu gemetaran? imutnya♡)”
(Uwoooaahhhhh apa-apaan dengan ASMR
langsung ini!?)
Kekuatan
ini tidak bisa dibandingkan dengan suara ASMR yang pernah ia dengar melalui
earphone. Yang satu ini, Masachika
bisa merasakan napas secara fisik. Bahkan, dari tubuh Maria yang menempel di
sisi kanannya, dirinya bisa merasakan panas, sentuhan, dan aroma.
Semua informasi fisik tentang wanita yang dikenal sebagai Maria datang dengan intensitas yang
sangat kuat.
“(Hei,
saat kita berbisik seperti ini, bukannya itu
mengingatkanmu pada masa lalu?)”
(Uwooohhhhhhhh! Alya-san, cepatlah kembali sekarang jugaaaaaaaaaaaaa!!!)
Dengan
kerinduan yang belum pernah ada sebelumnya untuk kehadiran rekannya, Masachika memejamkan matanya dan mengeratkan giginya untuk bertahan.
“Kugh!~~~~~~~~”
Ia
mati-matian menahan suara manis dan menenangkan yang membelai telinganya,
menggetarkan gendang telinganya, dan menggelitik otaknya────
【Aku sangat
mencintaimu, Sa-kun~♡】
…………………
…………………
…………………
Beberapa
belas menit kemudian.
“Aku
kembali...?”
“Oh,
selamat datang kembali, Alya-chan♪”
“……”
Saat
Alisa kembali ke ruang OSIS, dia melihat Masachika yang tampak lemas
seolah-olah jiwanya diambil dari telinga,
dan Maria yang entah mengapa justru
tampak penuh semangat.
Sebelumnya | Daftar isi | Selanjutnya
