Chapter 2 — Tanaka-san Memiliki Payudara Besar
Izinkan aku
bertanya pada kalian semua. Apa
yang disukai anak laki-laki SMA?
Benar
sekali—gadis-gadis cantik. Yang berwajah imut. Nah, apa lagi yang mereka
butuhkan agar lebih populer?
Yup, kalian
sudah bisa menebaknya—payudara.
Bahkan
gadis yang berpenampilan biasa pun bisa melihat popularitasnya meroket jika dia
memiliki payudara yang besar. Dengan kata lain, gadis cantik dengan dada yang
besar adalah kombinasi terbaik.
“Wah,
payudara Fuyusora-san benar-benar bergoyang hebat hari
ini~”
“Terima
kasih banyak, terima kasih banyak.”
“Gah!
Tatapan tajam yang dia berikan kepada kita itu yang terbaik!"
“Kuh~!
Gadis cantik dengan dada besar adalah yang terbaik, bukan? Fuyusora-san.”
Sebagai
bukti, orang yang paling banyak mendapat sorakan selama lari ketahanan olahraga
adalah Fuyusora Reno, alias “Fuyuhime”, yang memiliki dada terbesar di
antara Shikihime.
Gadis itu
sendiri tampak sangat kesal, mengingat kebenciannya pada laki-laki, tapi
meskipun dia memperingatkan mereka, mustahil bagi mereka untuk tidak melihat
payudara besar pada gadis cantik berambut panjang dan hitam itu. Dia hanya
harus menerimanya.
Kalian bertanya
bagaimana denganku?
Tentu
saja, aku juga menatapnya dengan saksama.
Yah,
setidaknya sampai tahun lalu.
Penampilan
Fuyusora adalah favoritku di antara Shikihime, jadi selama kelas satu, aku diam-diam meliriknya
bersama dengan para pria lainnya. Tapi itu semua sudah berlalu.
Sekarang,
pandanganku tertuju pada orang lain.
“Hah,
hah… ini sulit…”
Seorang
gadis cantik berambut cokelat, berlari sedikit di belakang Fuyusora. Benar. Orang itu
adalah Tanaka-san.
Mataku
benar-benar terpaku padanya. Tak satu pun dari gadis-gadis lain yang terlintas
di pikiranku. Teman-teman sekelasku, yang selalu fokus pada Shikihime saat
pelajaran olahraga, belum menyadarinya, tetapi payudara Tanaka-san bahkan lebih
menakjubkan daripada 'o-mune-sama' Fuyusora yang terkenal. (TN: “o-mune-sama” (お胸様) adalah julukan
bercanda yang berarti “Dada Terhormat”)
Cara
payudaranya yang montok bergoyang—boing boing—dengan
setiap langkah sungguh menakjubkan. Selain itu, wajahnya yang memerah karena
latihan yang intens sangat menggoda! Terlalu sempurna.
Mengapa tidak
ada yang memperhatikan Tanaka-san padahal dia begitu memikat? Aku tidak
mengerti. Dia adalah si cantik montok yang kalian sukai, bukan!? Seluruh kelas
seharusnya bersorak untuknya!
“Ayo,
Fuyusora-san!”
“Haruno-san,
satu putaran lagi! Kamu bisa!”
Namun sayangnya, tidak peduli seberapa banyak aku memprotes dalam hati, para cowok di
kelasku, yang terobsesi dengan heroine utama,
tidak hanya mengabaikan Tanaka-san—mereka bahkan tidak meliriknya.
“Kamu
bisa melakukannya, Tanaka-san!”
teriakku, memastikan suaraku tidak tenggelam oleh suara orang lain.
Seolah
suaraku tersampaikan padanya, Tanaka-san menoleh
kepadaku dengan terkejut. Detik berikutnya, senyum terukir di wajahnya, dan dia
membalas dengan bisikan pelan, “Ya”.
Yup, manis sekali. Senyuman lebarnya lebih dari sekadar tidak adil; mirip seperti kode cheat. Sambil merasa terpikat sepenuhnya, aku terus bersorak mati-matian
sampai dia menyelesaikan larinya.
Aku ingin
sekali pergi dan memujinya setelah itu, tapi sebelum aku bisa, guru olahraga
meneriaki kami dan berkata, “Baiklah, kalian semua, cukup
bersorak! Kembali ke posisi kalian!”
jadi aku harus menyerah.
Sialan!
Tapi,
kalau dipikir-pikir lagi, menyemangatinya
satu hal, tapi bertemu dengannya di garis finis itu agak menyeramkan. Ya.
Aku berhasil
menenangkan diri saat bersiap lari, jadi kupikir itu yang terbaik. Kalau aku
pergi menemuinya, dia mungkin akan tahu kalau aku punya perasaan padanya.
Lebih
penting lagi, lain ceritanya kalau cowok tampan yang melakukannya, tapi seorang
gadis pasti tidak akan senang kalau cowok biasa-biasa saja tiba-tiba muncul di
kelompoknya. Citraku pasti akan tercoreng; mereka akan mengira ada cowok mesum
dan gila cewek yang muncul.
Tanaka-san
yang baik hati dan agak ceroboh, mungkin tidak keberatan, tapi pendapat teman-temannya
bisa menurunkan kesannya padaku. Aku sangat senang aku berhasil menghentikan diriku sendiri.
Eh? Memangnya aku boleh melihat dadanya? tanyamu.
Dasar
bodoh! Menatap payudara itu normal bagi seorang pria, jadi tidak apa-apa!
Lagipula, aku memperhatikan lingkungan sekitarku dan memilih momenku dengan
hati-hati. Jadi tidak
masalah.
Saat aku
sedang mencari alasan dalam hati, peluit berbunyi—“Pritttttttt!”—menandai dimulainya lari
ketahanan. Aku mengalihkan fokus dan berkonsentrasi pada lari.
Sejak
awal, aku langsung meninggalkan kelompok. Ini bukan aku mencoba bersikap keren;
aku memang cukup atletis. Meskipun aku selalu berada di klub yang langsung pulang saja, hasil tes kebugaran
fisikku setara dengan para pemain sepak bola atau bisbol.
Selain
itu, aku telah melakukan latihan kekuatan dan lari setiap pagi karena aku ingin
Tanaka-san menganggapku keren. Jadi, berlari dengan kecepatan yang cukup cepat
bukanlah masalah bagiku.
“Hah,
hah… Nakayama-kun, larimu lumayan
cepat, ya.” seseorang terengah-engah di
sampingku.
“Hah…
yah, aku memang sedang berlatih akhir-akhir ini,”
jawabku.
Yang bisa
mengimbangi kecepatanku adalah dua anggota klub atletik dan protagonis harem
yang tampan, Kaisei, yang merupakan saudara tiri dari “Natsuhime,” Natsuse Rino-san. Sama seperti aku, Kaisei termasuk dalam
klub pemalas, tetapi berkat perlindungan ilahi dari penulis, kemampuan
atletiknya luar biasa. Ia bisa
memenangkan pertarungan lima lawan satu melawan berandal dan berprestasi
sebaik, atau bahkan lebih baik daripada, orang-orang yang benar-benar tergabung
dalam klub olahraga. Dirinya benar-benar
karakter yang dipenuhi spek curang.
Aku
mengerti bahwa dirinya kuat
karena ia berlatih untuk melindungi teman masa kecilnya, Haruno-san, tetapi
serius, itu benar-benar konyol. Karena itulah,
beberapa orang membencinya karena membiarkan bakatnya terbuang sia-sia, tapi
aku tidak membencinya.
Bahkan,
aku cukup menyukainya. Aku selalu menyukai protagonis yang bekerja keras untuk
sang heroine.
Yang
terpenting, karena sudah pasti dirinya
akan bersama heroine utama, dia tidak akan pernah mendekati Tanaka-san. Dalam artian tertentu, ia
adalah orang yang paling kupercaya di kelas kami.
“Ayo,
Kaisei!”
“Percepat
langkahmu! Kamu tidak
akan mendapatkan juara pertama seperti itu!”
“Ayo,
Natsuse-kun!”
“Baiklah,
aku akan pergi duluan,” katanya, lalu, “Eh? Tunggu, kamu masih mempercepat larimu!?”
Yah,
meskipun begitu, tetap saja menyebalkan melihatnya disorak-sorai oleh semua
gadis cantik itu. Karena aku sama sekali tidak ingin kalah, aku mempercepat
lariku untuk menjauh darinya.
“Hah,
hah… berat…”
Tapi,
jelas, berlari lebih cepat juga berarti lebih
badan juga menjadi cepat lelah. Entah bagaimana aku berhasil
menciptakan jarak antara kami, tetapi napasku secara bertahap menjadi lebih
sulit, dan dengan satu putaran tersisa, aku mencapai batasku.
Aku
menoleh ke belakang dan melihat masih ada jarak sekitar tiga meter antara aku
dan kelompok Kaisei. Jika aku melambat, mereka pasti akan menyalipku.
Tunggu?
Mengapa aku berusaha begitu keras lagi?
Dalam
keadaan pikiranku yang kabur, pemikiran
itu tiba-tiba terlintas di benakku. Ini bukan tes kebugaran fisik atau ujian,
hanya kelas biasa. Ini mungkin sedikit memengaruhi rapor internal sekolahku, tapi
meskipun aku melambat di sini, aku tetap mendapatkan nilai tertinggi. Kalau
begitu, bukankah sebaiknya aku melupakan dendam kecilku terhadap tokoh utama
dan bersantai saja?
Begitu
aku memikirkan itu, kakiku mulai melambat, dan tepat saat kakiku hampir
berhenti—
“Ayo,
Nakayama-kun! Tinggal satu
putaran lagi!”
—sebuah
suara memanggil.
“!”
Dasar
idiot sialan!?
Aku
langsung mengertakkan gigiku,
semangat juangku, yang seharusnya sudah padam, kembali berkobar. Dan aku mulai
berlari lagi. Meskipun aku tidak memiliki sedikit pun stamina yang tersisa.
Meskipun
kakiku terasa sakit sekali dan sangat
menyakitkan. Tapi tetap saja, aku tidak bisa membiarkan gadis yang kusukai
melihatku dalam keadaan yang menyedihkan.
Mengingat
fakta sederhana itu, aku terus menggerakkan tubuhku hanya dengan tekad semata.
Berapa lama aku bertahan? Tiga puluh detik, satu menit, dua menit, aku bahkan
tidak tahu lagi.
“SORRRYYAAAAAAA—!”
Tapi,
entah bagaimana aku berhasil menyelesaikan putaran terakhir tanpa disusul siapa
pun, dan begitu aku melewati garis finis, badanku langsung ambruk ke samping. Aku tidak
bisa bernapas. Sisi tubuhku sakit. Aku bisa merasakan darah di mulutku. Tapi,
anehnya, hatiku terasa lega.
Aku
senang aku tidak menunjukkan sisi menyedihkanku pada Tanaka-san!
Rasa lega
karena tidak mempermalukan diriku di depan gadis yang kucintai bagaikan selimut
yang menenangkan seluruh tubuhku. Saat aku mengatur napasku yang
tersengal-sengal sambil menatap langit, sebuah bayangan tiba-tiba jatuh
menutupi diriku.
“Kerja
bagus, Nakayama-kun.”
“Itu
luar biasa~~ Nakayama.”
Apa-apaan ini, ada seorang bidadari (Tanaka-san) telah turun,
bersama temannya, untuk memujiku.
“Hah,
hah… terima kasih.”
Aku merasa sangat terharu sampai-sampai ingin menangis, tetapi jika aku
melakukannya, dia pasti akan merasa aneh. Atau lebih tepatnya, jujur saja,
aku bahkan tidak punya energi untuk itu. Entah bagaimana aku berhasil menjawab
dan melambaikan tangan kecil.
“Hei,
hei, kenapa kamu begitu
bersemangat hari ini?” Teman
Tanaka-san, si gyaru berambut pirang yang
bernama Norimizu Mikoto, bertanya sambil menatapku dengan
mata besarnya yang seperti boneka.
Tapi aku
tidak bisa jujur mengatakan
alasannya di sini. Karena jika aku mengatakan sesuatu seperti, “Aku ingin menunjukkan sisi
kerenku pada gadis yang kusukai,”
aku mungkin akan memberi Tanaka-san kesan yang salah.
“Kaisei…
hanya… membuatku merasa jengkel.”
Jadi
untuk saat ini, aku melontarkan sedikit kebenaran yang kumiliki, dan Norimizu
tertawa terbahak-bahak.
“Ahaha!
Begitu ya. Yah, tidak menyenangkan bagi seorang pria melihat dirinya
disorak-sorai oleh Shikihime seperti itu~ Kukira kamu dewasa, Nakayama, tapi kamu ternyata punya sisi
kekanak-kanakan yang mengejutkan.”
“Ah,
um, maaf kalau sorakanku tidak pada tempatnya,”
kata Tanaka-san sambil menundukkan kepalanya meminta maaf.
Rupanya,
aku berhasil mengalihkan pertanyaan itu. Norimizu menatapku sambil menyeringai,
tapi ini sedikit berbeda dari yang kuharapkan. Aku tidak memaksakan diri begitu
keras hanya untuk membuat Tanaka-san merasa bersalah. Aku ingin dia memujiku.
Aku ingin dia tersenyum dan mengatakan aku luar biasa. Itulah mengapa aku
berusaha begitu keras.
“Tidak,
aku… benar-benar… bahagia,”
kataku, meskipun kata-kataku terbata-bata.
“Begitu…
ya. Kalau
begitu, aku senang.”
Mendengar itu, mata Tanaka-san melebar karena terkejut, sebelum dia tersenyum malu-malu.
Ya, ya,
inilah yang ingin kulihat. Sambil merasa puas, aku menyerah pada
rasa pencapaian yang tak terlukiskan dan menutup kelopak mataku.
“Kalian,
jangan lupa catat waktu kalian,”
guru olahraga memanggil.
“Nakayama.
Mana kertasnya? Kamu tidak akan bisa bergerak untuk sementara waktu, ‘kan? Kami akan mencatatnya
untukmu,” Norimizu menawarkan bantuan, merasa kasihan pada keadaanku
yang tidak bisa bergerak.
Staminaku
belum pulih sepenuhnya, dan bahkan bergerak pun terasa menyakitkan, jadi jujur saja,
aku sangat bersyukur.
“Terima
kasih banyak. Aku meninggalkannya di sana, tolong.”
“Oke.
Aku akan mengambilnya. Taa-chan, ayo?”
“Ya. Beristirahatlah,
Nakayama-kun,” ucap
Tanaka-san, dan keduanya berlari ke arah yang kutunjuk tanpa menunjukkan
sedikit pun ketidakpuasan.
Tanaka-san.
Dia mirip seperti bidadari. Dia
imut, setia, punya selera bagus dalam berteman… dia benar-benar yang terbaik,
bukan?
Meskipun
mereka pasti masih lelah setelah berlari, aku sangat bersyukur. Saat aku sedang
mengagumi mereka dalam hati, Tanaka-san berlari kembali dengan kertas itu.
“Ini
dia, Nakayama-kun.”
“Terima
kasih,” kataku, sambil duduk untuk mengambilnya
darinya.
“Tidak,
tidak, bukan apa-apa,” jawabnya
dengan rendah hati.
Kupikir
dia akan kembali ke temannya, tetapi entah kenapa, dia malah berlama-lama. Dia
mulai gelisah, pandangannya melirik ke sana kemari, sebelum akhirnya dia tampak
mengambil keputusan. “Ah, um!”
“Hm?”
“Aku
belum sempat mengatakannya tadi, tapi aku juga sangat senang kamu menyemangatiku.”
“Begitu ya, yah,
aku senang mendengarnya.”
Rupanya,
dia ingin berterima kasih padaku. Tapi Tanaka-san yang biasanya akan mengatakan
hal seperti ini tanpa ragu-ragu. Saat aku memiringkan kepala, bertanya-tanya
mengapa dia begitu malu, jawabannya dengan cepat menjadi jelas.
“Ta-Tapi,
aku tahu kamu laki-laki,
Nakayama-kun, jadi aku mengerti itu tidak bisa dihindari, tapi, um, rasanya memalukan jika kamu menatap… dadaku, jadi akan
sangat membantu jika kamu bisa
menahan diri mulai sekarang…”
“Eh?”
Kabar
tragis. Rupanya, dia menyadari aku menatap dadanya.
Eh,
tidak, aku seharusnya memperhatikan dari kejauhan agar dia tidak menyadarinya?
Eh, huh!? Mungkinkah aku tanpa sadar mengikutinya dengan mataku bahkan ketika
aku dekat dengannya!?
Di depan
Tanaka-san yang pipinya memerah, aku, yang benar-benar berpikir aku telah
bersikap bijaksana, berada dalam keadaan terkejut sehingga aku benar-benar
membeku. Saat aku berdiri di sana, tidak dapat memberikan penjelasan apa pun,
Tanaka-san berbicara lebih dulu.
“Tapi,
bukannya berarti aku mulai membencimu
atau apa pun, Nakayama-kun! Hanya saja, yah, rasanya
memalukan, dan kupikir milik Fuyusora-san bentuknya lebih bagus daripada
milikku, jadi lebih baik kamu melihat
miliknya. Itu saja. Maaf!”
Setelah
mengatakan yang sebenarnya, Tanaka-san kembali ke sisi Norimizu. Yang bisa
kulakukan hanyalah melihatnya mundur dengan sangat terkejut.
Sial, aku
telah membuat kesalahan—!
Beberapa
saat setelah sosoknya menghilang sepenuhnya, kesadaranku akhirnya kembali dan,
diliputi rasa malu dan penyesalan yang luar biasa, aku menutupi wajahku dengan kedua tanganku
saat itu juga.
Sebelumnya | Selanjutnya
